Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sesuai dengan strategi Indonesia sehat tahun 2010 dan kebutuhan pembangunan sektor
kesehatan di era desentralisasi ini, Departemen Kesehatan Republik Indonesia sudah
menetapkan visi dan misi Puskesmas. Visi pembangunan kesehatan melalui Puskesmas
adalah terwujudnya Kecamatan sehat tahun 2010. Kecamatan sehat merupakan gambaran
masyarakat kecamatan masa depan yang hidup di lingkungan yang sehat dan prilaku hidup
masyarakat yang juga sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang ada di
wilayahnya serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Pencapaian visi Indonesia 2010 dapat dicapai dengan menggerakan Puskesmas sebagai
pelaksana teknis Dinas Kesehatan terbawah yang memiliki enam kewajiban yang harus
dilaksanakan, yaitu upaya promosi kesehatan, kesehatan lingkungan (kesling), kesehatan ibu
anak dan keluarga berencana, perbaikan gizi masyarakat, pencegahan dan pemberantasan
penyakit menular, serta pengobatan.
Program Kesehatan Lingkungan pada masyarakat adalah bagian dari program
pembangunan kesehatan nasional. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan derajat
kesehatan dan kemandirian masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan dengan titik berat
pada upaya peningkatan kualitas hidup dan pencegahan penyakit disamping pengobatan dan
pemulihan. Indikator yang akan dicapai adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang
pola hidup bersih dan sehat, meningkatnya industri dan tempat-tempat umum yang sehat,
menurunnya angka penyakit diare, demam berdarah dan penyakit akibat kurang sehatnya
lingkungan di sekitar masyarakat.
Di Puskesmas Jati program Kesling yang dilaksanakan secara umum yaitu pengawasan
terhadap tempat-tempat umum (TTU), pengawasan terhadap tempat pengolahan makanan
(TPM) dan pengawasan terhadap industri rumah tangga. Program yang dituangkan dalam
tugas intregasi kepada petugas Kesling adalah melaksanakan program UKS, melaksanakan
kunjungan TK, melaksanakan kunjungan SD, melaksanakan kunjungan rumah,
melaksanakan kunjungan TTU, melaksanakan kunjungan TPM, serta penanggulangan
Demam Berdarah Dengue (DBD).
Kegiatan yang dilakukan untuk penanggulangan DBD di wilayah kerja Puskesmas Jati
adalah penyelidikan epidemiologi (PE), pemeriksaan jentik di rumah pada daerah adanya
kasus, fogging, dan pemberiaan bubuk abate. di Puskesmas Jati dilaksanakan apabila
terjadi kasus. Seharusnya menurut Departemen Kesehatan harus dilakukan PJB dan
penyuluhan 3M minimal setiap 3 bulan sekali oleh Puskesmas sebagai upaya
penanggulangan DBD.
Berdasarkan observasi dan wawancara, maka penulis merasa perlu untuk meningkatkan
mutu pelaksanaan program penangulangan DBD oleh Puskesmas Jati, terutama program
pemeriksaan jentik berkala (PJB), mengingat kasus demam berdarah sudah termasuk KLB
di Kota Probolinggo.

1.2 Tujuan Kegiatan


1.2.1 Tujuan umum
Optimalisasi pelaksanaan kegiatan PJB di lingkungan kerja Puskesmas Jati.
1.2.2 Tujuan khusus
1. Teridentifikasinya masalah di kegiatan PJB, wawancara dan observasi.
2. Teranalisisnya setiap permasalahan yang ada di kegiatan PJB.
3. Diperolehnya penyebab timbulnya masalah utama yang dihadapi dalam
pelaksanaan kegiatan PJB, pendekatan/metode wawancara dan
observasi.
4. Diperolehnya beberapa solusi dan alternative pemecahan masalah pada
kegiatan PJB.
BAB II
ANALISA SITUASI

2.1 Kesehatan Lingkungan

A. KEADAAN UMUM

Puskesmas Jati berada di Kelurahan Jati Kecamatan


Mayangan Kota Probolinggo. Puskesmas Jati memiliki 3 wilayah
kelurahan, yaitu :
Kelurahan Mangunharjo : 17 RW

Kelurahan Jati : 8 RW

Kelurahan Wiroborang : 4 RW

Luas Wilayah dalam lingkup Puskesmas Jati adalah 5, 892Km 2,


dibatasi oleh :

Sebelah Barat : Kelurahan Mangunharjo- Kelurahan

Tisnonegaran
Sebelah Timur : Kec Dringu- Kabupaten Probolinggo

Sebelah Utara : Kelurahan Mayangan Selat


Madura

Sebelah Selatan : Kelurahan Sukoharjo- Kelurahan

Kebonsari kulon.
Puskesmas Jati terletak di perkotaan dan merupakan daerah
yang mudah dijangkau oleh alat transportasi umum sehingga
memudahkan masyarakat berkunjung / berobat.
B. DATA KEPENDUDUKAN

Total jumlah penduduk wilayah Puskesmas Jati tahun 2015


sebanyak 38.354 Jiwa

KELURAHAN LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH

JATI 6.016 6.327 12.343

MANGUNHARJO 9.476 9.813 19.289

WIROBORANG 3.405 3.317 6.722

TOTAL 18.897 19.457 38.354

C. DATA KEPEGAWAIAN

Jumlah karyawan di Puskesmas Jati tahun 2015 sebanyak 49


orang dengan rincian sebagai berikut
Jumlah KETERA
NO Jenis Ketenagaan
PNS PTT KONTRAK MAGANG NGAN

A STRUKTURAL

1 Kepala Puskesmas 1
Sub. Bag. Tata
2 1
Usaha
Staf Umum
3 6 5
(Administrasi)
4 Satpam 1

5 Cleaning Serice 2 1

B FUNGSIONAL

1 Dokter Umum 3

2 Dokter Gigi 1

3 Perawat 6

4 Perawat Gigi 2

5 Bidan 5 2 3

6 Nutrisionis 1

7 Sanitarian 1

8 Asisten Apoteker 2

9 Asisten Analis Lab 1

10 Tenaga Penyuluh 1

11 Akupunkturis 1

12 Fisioterapis 1

33 2 3 8

TOTAL 46
D.DATA SARANA KESEHATAN

a. Sarana Gedung
No BANGUNAN JUMLAH
Puskesmas Induk :
1 Rawat Inap -
Rawat Jalan 1
2 Puskesmas Pembantu 3
3 Poskesdes 1

b. Upaya Kesehatan Perorangan

Upaya Kesehatan
No JUMLAH YANG BERIJIN KET.
Perorangan

Dokter praktek swasta 2 2


1
spesialis

2 Dokter praktek swasta 13 13

3 Bidan Praktek swasta 8 8

E.Data Kunjungan pasien tahun 2015:


GRATIS BPJS TOTA
BULAN BAYAR UKS
L

JANUARI 58 2.736 1.161 4 3.959

FEBRUARI 88 2.683 1.575 6 4.352

MARET 59 2.794 1.245 5 4.103

APRIL 67 2.624 1.401 6 4.098

MEI 52 2.485 1.275 2 3.814

JUNI 57 2.434 1.191 4 3.595

JULI 41 1.491 964 2.496


AGUSTUS 62 1.837 1.319 4 3.222

SEPTEMBER 59 2.250 1.383 3 3.695

OKTOBER 72 2.583 1.343 8 4.006

NOPEMBER 86 2.346 1.400 4 3.836

DESEMBER 62 2.248 1.393 3.703

44.97
TOTAL 763 28.511 15.650 46
0

DATA 10 PENYAKIT TERBANYAK BULAN TAHUN 2015

Kod
J 00 J 06 J 10 M 13 E 11 L 24 L 23 R 50 K 29 M 10
e

Com ISPA Dara Peny DM Pen Pen De Gastri gout


mon h jarin yaki y ma tis
cold ting gan (NII t kulit m
gi otot DM) Kulit aler yan
infe gi g
ksi tida
k
dike
tahu
i

Jml 447 398 3345 3233 235 206 203 163 1308 901
4 7 4 4 7 7

DATA KIA

Persalinan
No Kematian Kematian PUS WUS
Nakes
ibu Bayi balita
683 1 13 0 7833 11054

DATA PERAN SERTA MASYARAKAT


Posyandu : 39 posyandu

Posyandu Pratama : 2 posyandu

Posyandu Madya : 15 posyandu

Posyandu Purnama : 13 posyandu

Posyandu Mandiri : 9 posyandu

Posyandu Lansia : 8 posyandu

Kader posyandu aktif : 195 orang

Kader Usila : 32 orang

Kader Tiwisada : 72 orang

Kader Kesehatan Remaja : 24orang

Guru UKS : 22 orang

Dukun Bayi : 4 orang

Penjual Jamu Gendong : 16 orang

2.2 Demam Berdarah Dengue


Demam berdarah dengue (DBD) atau dengue haemorrhagic fever (DHF) adalah
penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan
sendi, yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama. Uji tourniquet dengan atau tanpa
ruam disertai beberapa atau semua gejala perdarahan sepeti petekie spontan yang timbul
serentak, purpura, ekimosis, epitaksis, hematemesis, melena, trombositopenia, masa
perdarahan dan masa protrombin yang memanjang, hematokrit meningkat dan gangguan
maturasi megakariosit. Etiologi dari penyakit ini adalah virus dengue yang tergolong dalam
famili/suku/grup flaviviridae dan dikenal ada 4 serotipe.
Vektor utama dengue di Indonesia adalah nyamuk Aedes aegypti, disamping juga
dilaporkan Aedes albopictus sebagai vektor. Vektor ini bersarang di bejaa-bejana yang
berisi air jernih, tidak mengalir dan tawar seperti bak mandi, drum penampung air, kaleng
bekas dan lain-lain. Adanya vektor tersebut berhubungan dengan beberapa faktor, antara
lain :
1. Kebiasaan masyarakat menampung air bersih untuk keperluan sehari-hari.

2. Sanitasi lingkungan yang kurang baik

3. Penyediaan air bersih yang langka

Daerah yang terserang DBD adalah wilayah yang ada penduduknya, karena :

1. Antar rumah jaraknya berdekatan, yang memungkinkan penularan karena jarak


terbang Aedes aegypti berkisar antara 40-100 meter.
2. Aedes aegypti betina mempunyai kebiasaan menggigit berulang (multiple bitters), yaitu
menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu yang singkat.

2.3 Pengendalian Vektor DBD


Pengendalian vektor DBD adalah semua kegiatan yang bertujuan untuk menekan
kepadatan nyamuk dan jentik nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit DBD di rumah
atau bangunan yang meliputi perumahan, perkantoran, tempat umum, sekolah, gudang, dan
sebagainya.
Untuk memutuskan rantai penularan, pemberantasan vektor dianggap cara paling
memadai saat ini. Vektor demam berdarah dengue khususnya Aedes aegypti sebenarnya
mudah diberantas karena sarang-sarangnya terbatas di tempat yang berisi air bersih dan
jarak terbang maksimal dari nyamuk ini hanya 100 meter. Tetapi karena vektor tersebar luas
maka untuk keberhasilan pemberantasan perlu dilakukan total coverage (meliputi seluruh
wilayah) agar nyamuk tak dapat berkembang biak lagi.
Langkah-langkah kegiatan berhubungan dengan pengendalian vektor demam berdarah
dengue yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI, yaitu :

1. Surveilans tempat perindukan vektor

Pendataan rumah/bangunan di wilayah kerja

Pemeriksaan tempat perindukan vektor pada rumah/bangunan

Pengolahan data hasil pemeriksaan tempat perindukan vektor


Rekomendasi kepada petugas kesehatan dan sektor terkait

Laporan kepada atasan langsung dan sektor terkait

Penyebarluasan (sosialisasi, diseminasi informasi) hasil surveilans/pengamatan kepada


lintas program dan lintas sektor maupun swasta dan masyarakat.

2. Pengendalian vektor

Investigasi rumah/bangunan dan lingkungan yang potensial jentik di wilayah kerja melalui
survey lingkungan, sosekbud, dan survei entomologi.
Menentukan jenis pengendalian vektor sesuai dengan permasalahan di wilayah kerja.

Melakukan pemberantasan vektor sesuai dengan jenisnya.

3. Penyuluhan dan penggerakan masyarakat

Melakukan identifikasi masalah sesuai dengan sasaran

Menentukan jenis media penyuluhan sesuai dengan sasaran

Menentukan materi penyuluhan pengendalian vektor

Melaksanakan penyuluhan dan penggerakan masyarakat dalam rangka pengendalian


vektor khususnya tempat perindukan
Menghimpun feed back (umpan balik) yang diberikan oleh sasaran.

4. Sosialisasi, advokasi, dan kemitraan

Melakukan pertemuan untuk sosialisasi terhadap lintas program, lintas sektor terkait,
swasta dan masyarakat.
Menentukan jumlah dan jenis peraturan/pedoman yang akan disosialisasikanMelakukan
advokasi terhadap pengambil keputusan di tingkat kec.maupun kab/kota
Menjalin jejaring kerjasama baik thp lintas sektor maupun swasta

Hasil sosialisasi dilaporkan kepada atasan langsung dan sektor terkait.

5. Monitoring dan evaluasi

Pemantauan secara terus menerus terhadap hasil survailans tempat perindukan

Pembinaan teknis terhadap pemerintah (dinas kesehatan, puskesmas), swasta dan


masyarakat.

6. Peningkatan SDM

Menentukan jenis pelatihan yang sesuai dengan peserta yg dilatih

Melaksanakan pelatihan pengendalian vektor.

Langkah-langkah kegiatan penanggulangan kasus demam beradarah dengue di wilayah


kerja Puskesmas meliputi penyelidikan epidemiologi (PE) yaitu pencarian
penderita/tersangka DBD lainnya dan pemeriksaaan jentik di rumah penderita/tersangka
dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter (di rumah penderita dan 20 rumah sekitarnya)
serta tempat-tempat umum yang diperkirakan menjadi sumber penularan. Dari hasil PE bila
ditemukan penderita DBD lain atau ada jentik dan penderita panas tanpa sebab yang jelas >
3 orang maka dilakukan kegiatan penyuluhan mengenai 3 M Plus, tindakan
larvasidasi,pengasapan/fogging focus. Apabila tidak ditemukan maka hanya melakukan
penyuluhan dan kegiatan 3M Plus.
Dalam hal pemberantasan vektor, langkah kegiatannya meliputi pemberantasan sarang
nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) dengan cara 3 M Plus dan pemeriksaan jentik
berkala (PJB) tiap 3 bulan sekali tiap desa/kelurahan endemis pada 100 rumah/bangunan
dipilih secara acak (random sampling) yang merupakan evaluasi hasil kegiatan PSN DBD
yang telah dilakukan masyarakat. Kegiatan in harus ditunjung dengan pelaksanaan promosi
kesehatan dalam bentuk penyuluhan tentang penyakit demam berdarah dengue serta
kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara aktif yaitu melalui supervisi dan
secara pasif melalui laporan hasil kegiatan.

2.4 Upaya Peningkatan Mutu


Upaya peningkatan mutu ini dimulai dengan mendapatkan topik permasalahan yang
kemudian dilakukan observasi kegiatan terhadap topik permasalahan yaitu dibidang Kesling
dan bidang P2PL Puskesmas JatiMetode yang digunakan dalam upaya peningkatan mutu
ini adalah metodePlan, Do, Check, and Action (PDCA cycle) yang didasari atas masalah
yang dihadapi (problem-faced) ke arah penyelesaian masalah (problem solving).
Konsep PDCA cycle pertama kali diperkenalkan oleh Walter Shewhart pada tahun 1930
yang disebut dengan Shewhart cycle. Selanjutnya konsep ini dikembangkan oleh Dr.
Walter Edwards Deming yang kemudian dikenal dengan The Deming
Wheel. PDCA cycle berguna sebagai pola kerja dalam perbaikan suatu proses atau sistem.
Ada beberapa tahap yang dilakukan dalam PDCA cycle, yaitu:1
a. Plan
1. Mengidentifikasi output pelayanan, siapa pengguna jasa pelayanan, dan harapan
pengguna jasa pelayanan tersebut melalui analisis suatu proses tertentu.
2. Mendeskripsikan proses yang dianalisis saat ini

. Pelajari proses dari awal hingga akhir, identifikasi siapa saja yang terlibat
dalam prose tersebut.

Teknik yang dapat digunakan : brainstorming


3. Mengukur dan menganalisis situasi tersebut

Menemukan data apa yang dikumpulkan dalam proses tersebut


Bagaimana mengolah data tersebut agar membantu memahami kinerja
dan dinamika proses
Teknik yang digunakan : observasi
Mengunakan alat ukur seperti wawancara
4. Fokus pada peluang peningkatan mutu

Pilih salah satu permasalahan yang akan diselesaikan


Kriteria masalah : menyatakan efek atas ketidakpuasan,
adanya gap antara kenyataan dengan yang diinginkan, spesifik, dapat
diukur.
5. Mengidentifikasi akar penyebab masalah

Menyimpulkan penyebab
Teknik yang dapat digunakan : brainstorming
Alat yang digunakan : fish bone analysis Ishikawa
6. Menemukan dan memilih penyelesaian

Mencari berbagai alternatif pemecahan masalah


Teknik yang dapat digunakan : brainstorming
b. Do
1. Merencanakan suatu proyek uji coba

Merencanakan sumber daya manusia, sumber dana, dan sebagainya.


Merencanakan rencana kegiatan (plan of action)
2. Melaksanakan Pilot Project
Pilot Project dilaksanakan dalam skala kecil dengan waktu relatif singkat ( 2 minggu)
c. Check
1. Evaluasi hasil proyek

Bertujuan untuk efektivitas proyek tersebut


Membandingkan target dengan hasil pencapaian proyek (data yang
dikumpulkan dan teknik pengumpulan data harus sama)
Target yang ingin dicapai 80%
Teknik yang digunakan: observasi dan survei
Alat yang digunakan: kamera dan kuisioner
2. Membuat kesimpulan proyek

Hasil menjanjikan namun perlu perubahan


Jika proyek gagal, cari penyelesaian lain
Jika proyek berhasil, selanjutnya dibuat rutinitas
d. Action
1. Standarisasi perubahan
Pertimbangkan area mana saja yang mungkin diterapkan
Revisi proses yang sudah diperbaiki
Modifikasi standar, prosedur dan kebijakan yang ada
Komunikasikan kepada seluruh staf, pelanggan dan suplier atas
perubahan yang dilakukan.
Lakukan pelatihan bila perlu
Mengembangkan rencana yang jelas
Dokumentasikan proyek
2. Memonitor perubahan

Melakukan pengukuran dan pengendalian proses secara teratur


Alat yang digunakan untuk dokumentasi
BAB III
IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS MASALAH

3.1 Identifikasi masalah


Proses identifikasi masalah dilakukan dengan cara :
1. Observasi.

2. Wawancara dengan staff dengan staf di bagian Kesling dan P2PL.

3. Wawancara mengenai pola penyakit DBD dengan pengunjung Puskemas mengenai 3M


plus.

4. Data sekunder mengenai evaluasi program kerja Puskesmas Jati mengenai DBD,
khususnya kegiatan pemeriksaan jentik berkala.
Dari data-data tersebut teridentifikasikan beberapa masalah, yaitu :
Tabel 3.1 Masalah yang ditemukan pada program Kesling P2PL bidang penyelidikan
epidemiologi dan pemberantasan penyakit menular di Puskesmas Jati.

Aspek yang Metode Identifikasi


No dinilai Masalah Evidance Base Masalah

Kegiatan Pemeriksaan Jentik Dari laporan hasil evaluasi


survailans Berkala (PJB) tidak Puskesmas Jati diketahui Wawancara dan data
1 epidemiologi berjalan optimal kegiatan jarang dilakukan sekunder

14 dari 20 pengunjung yang


di wawancarai tidak dapat
Kurangnya promosi menyebutkan apa itu
Promosi mengenai 3 M plus 3M plus.Tidak ada media
kesehatan dan Pola penyakit promosi mengenai 3M + Wawancara dan
2 lingkungan DBD. Plus dan pola penyakit DBD observasi

Berdasarkan permasalahan yang ditemukan ditetapkan satu prioritas masalah dengan


metode scoring yang menggunakan pertimbangan 4 aspek yaitu:
1. Urgensi/kepentingan

nilai 1 tidak penting


nilai 2 penting
nilai 3 sangat penting
2. Solusi

nilai 1 tidak mudah


nilai 2 mudah
nilai 3 sangat mudah
3. Perkembangan

nilai 1 tidak mudah


nilai 2 mudah
nilai 3 sangat mudah
4. Biaya

nilai 1 tinggi
nilai 2 sedang
nilai 3 rendah

3.2 Penentuan prioritas masalah


Penetuan prioritas masalah dibuat ke dalam tabel penentuan prioritas masalah sebagai
berikut :
Tabel 3.2 Penentuan prioritas masalah pada bidang Keling P2P program penyelidikan
epidemiologi dan pemberantasan penyakit menular di Puskesmas Harapan Raya.

Perkembanga
Kriteria Masalah Urgensi Solusi n Biaya Total Rank

Pemeriksaan Jentik
Berkala (PJB) tidak
dilakukan secara
optimal 3 2 2 1 12 I
Kurangnya promosi
mengenai 3 M plus
dan Pola penyakit
DBD 2 2 2 1 8 II

Dari 2 masalah tersebut, didapatkan 1 prioritas masalah yang ditentukan berdasarkan


pembobotan nilai dengan seleksi yang terdiri dari dua unsur yaitu kriteria masalah dan skor.

Berdasarkan tabel penentuan prioritas masalah dapat disimpulkan bahwa yang menjadi
prioritas masalah dan selanjutnya akan dicari altenatif pemecahan masalah yaitu tidak
optimalnya pelaksaanaan program Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) demam berdarah
dengue di Puskesmas Jati.
3.3 Identifikasi penyebab masalah
Berdasarkan tabel penentuan prioritas masalah di atas, di dapatkan prioritas masalah
utama pada kegiatan ini adalah optimalisasi program Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB)
demam berdarah dengue di Puskesmas Jati. Beberapa hal yang menjadi penyebab masalah
tersebut antara lain terlihat dari bebrbagai aspek dibawah ini :
Tabel 3.3 Identifikasi Penyebab Masalah

Masalah Penyebab Timbulnya Masalah Evidence Base

Pemeriksaan ManKurangnya petugas pelaksana Kesling P2P Berdasarkan wawancara,


Jentik Berkala untuk pelaksanaan pemeriksaan jentik berkala petugas Kesling dan
(PJB) tidak (PJB) khususnya. petugas P2P dilapangan
dilakukan Penanggung jawab kegiatan tidak ada. masing-masing hanya 1
secara orangDari wawancara
optimal Method diketahui tidak ada
Tidak ada protap mengenai pelaksanaan kegiatan penanggung jawab
pemeriksaan jentik berkala di Puskesmas Jati. kegiatan
Berdasarkan wawancara,

Kurangnya kerjasama lintas sektoral dan protap mengenai

pemberdayaan masyarakat di wilayah kerja pemeriksaan jentik

Puskesmas Jati untuk melakukan kegiatan secara berkala tidak ada.

bersama.
Berdasarkan wawancara,

Money belum adanya koordinasi


dengan pihak terkait

Berdasarkan wawancara,
Kurangnya dana yang di alokasikan khusus tidak adanya dana khusus
terhadap kegiatan pemeriksaan jentik berkala pelaksanaan kegiatan PJB

Time Wawancara, diketahui


Kurangnya waktu yang dimilki petugas Kesling dan bahwa petugas Kesling
P2P untuk pelaksaanaan kegiatan PJB, karena dan P2P juga memegang
petugas tersebut juga diberdayakan untuk kegiatan lain di luar
pelaksanaan kegiatan lain di Puskesmas. bidangnya.

Di bawah ini dapat dilihat hubungan antara keempat faktor tersebut dengan
menggunakan fishbone Analysis Ishikawa.

Gambar 1 Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa)


BAB IV
PEMECAHAN MASALAH

No Prioritas Masalah Penyebab Masalah Alternatif Solusi Solusi Terpilih


1. kurangnya petugas 1. Pengajuan tenaga 1. Pembentukan Tim
1 Kegiatan Pemeriksaan pelaksana tambahan paramedic PJB di wilayah kerja
Jentik Berkala (PJB) ke Dinkes Puskesmas.
tidak dilaksanakan 2. SOP tentang PJB
secara optimal belum ada 2. Penerbitan SOP PJB 2. Penerbitan SOP PJB
3. Tidak adanya alokasi 3. Penganggaran dana
dana untuk kegiatan untuk kegiatan PJB 3. Memberikan Reward

PJB dan Punishment

4. Kurangnya 4. Pembentukan Tim

Kerjasama lintas sector PJB di wilayah kerja

dan program Puskesmas

5. kurangnya kesadaran
5. Meningkatkan
masyarakat untuk
kerjasama dengan
PHBS
masyarakat untuk
6. Tidak adanya reward
kegiatan PJB
dan punishment untuk
petugas
6. Memberikan Reward
dan Punishment
7. Padatnya kegiatan di
lingkungan Puskesmas
7. Penjadwalan
Kegiatan PJB

BAB V
PENUTUP

4.1 Simpulan
Pelaksanaan kegiatan pemeriksaan jektik berkala (PJB) yang merupakan bagian dari
survailans penanggulangan dan pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di
Puskesmas Jati belum optimal, dimana ditunjukkan dari data evaluasi program Puskesmas
Jati mengenai program penanggulangan dan pemberantasan penyakit menular DBD
khususnya kegiatan pemeriksaan jentik berkala diketahui pelaksanaan kegiatan tidak
regular. Hal ini menggambarkan bahwa kegiatan ini tidak berjalan secara efektif meskipun
sudah ditetapkan sebagai salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas Jati.
Dari hasil wawancara, observasi dan data sekunder yang telah diterangkan di BAB
sebelumnya, dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang menyebabkan tidak berjalannya
dengan baik kegiatan tersebut yaitu :
1. Kurangnya petugas Kesling dan P2P di lapangan.

2. Penanggung jawab kegiatan tidak ada.

3. Tidak adanya protap mengenai pelaksanaan kegiatan.

4. Kerjasama lintas sektoral dalam pelaksanaan kegiatan masih kurang

5. Tidak adanya alokasi dana khusus untuk pelaksanaan kegiatan.

6. Kurangnya waktu yang dimiliki petugas Kesling dan P2P

Dari berbagai masalah di atas, telah dibuat rekomendasi strategi pemecahan masalah yang
dihadapi, meskipun belum ada perubahan yang dapat dilihat dalam pelaksanaan kegiatan
PJB ini.

4.2 Saran

1. Dinas Kesehatan Kota


Diharapkan kepada Dinas Kesehatan Kota untuk lebih memperhatikan pelaksanaan
kegiatan PJB vector DBD oleh Puskesmas yang ada di Probolinggo. Hal ini dikarenakan oleh
DBD masih merupakan masalah kesehatan di kota Probolinggo.

2. Puskesmas Jati

Diharapkan kepada pihak Puskesma Jati untuk mengupayakan pelaksanaan kegiatan PJB
vector DBD ini, dengan melihat jumlah penderita DBD di wilayah kerja Puskesmas Jati
masih cukup tinggi. Alangkah baiknya dilakukan tindakan preventif untuk keadaan ini
dengan pelaksanaan kegiatan PJB dengan benar.