Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

KONTROL

PRAKTIKUM FLOW CONTROL

DISUSUN OLEH :
NAMA / NIM : 1. Syarifuddin Husain ( 14 614 003 )
2. Fachri ( 14 614 013 )
3. Putriani ( 14 614 014 )
4. Dwi Asriyanti ( 14 614 019 )
JENJANG : D3
KELAS : IV B
KELOMPOK : 2 (Dua)

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI D3
PETRO DAN OLEO KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
2016/2017
1
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


Memahami sistem pengendalian flow
Mengetahui pengaruh mode PID (Proportional Integral Derivative)

1.2 Dasar Teori


1.2.1 Definisi Pengendalian Proses
Pengendalian proses adalah bagian dari pengendalian secara automatik yang
diterapkan di bidang teknologi proses untuk menjaga kondisi proses agar sesuai dengan
yang diinginkan. Seluruh komponen yang terlibat dalam pengendalian proses disebut
sistem pengendalian atau sistem kontrol.

1.2.2 Jenis Variabel


Jenis variabel yang mendapatkan perhatian penting dalam bidang pengendalian
proses adalah variabel proses (process variable, PV) atau disebut juga variabel terkendali
(controlled variable). Variabel proses adalah besaran fisik atau kimia yang menunjukkan
keadaan proses. Variabel ini bersifat dinamik artinya nilai variabel dapat berubah spontan
atau oleh sebab lain baik yang diketahui maupun tidak. Diantara banyak macam variabel
proses , terdapat empat macam variabel dasar, yaitu : suhu (T), tekanan (P), laju alir (F)
dan tinggi permukaan cairan (L).
Dalam teknik pengendalian proses , titik berat permasalahan adalah menjaga agar
nilai variabel proses tetap atau berubah mengikuti alur (trayektori) tertentu. Variabel yang
digunakan untuk melakukan koreksi atau mengendalikan variabel proses disebut variabel
termanipulasi (manipulated variable, MV) atau variabel pengendali. Sedang nilai yang
diinginkan dan dijadikan acuan atau referensi variabel proses disebut nilai acuan (setpoint
value, SV). Selain ketiga jenis variabel tersebut masih terdapat variabel lain yaitu

2
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
gangguan (disturbance) baik yang terukur (measured disturbance) maupun tidak terukur
(unmeasured disturbance) dan variabel keluaran tak terkendali (uncontrolled output
variable). Variabel gangguan adalah variabel masukan yang mampu mempengaruhi nilai
variabel proses, tetapi tidak digunakan untuk mengendalikan. Variabel keluaran tak
terkendali adalah variabel keluaran yang tidak dikendalikan secara langsung.

Gangguan terukur Variabel terkendali

Variabel tak terukur Sistem Proses

Variabel Termanipulasi Variabel tak terkendali

Gambar 1. Jenis variabel dalam sistem proses

Sebagai contoh proses destilasi fraksionasi dalam kolom piring memiliki jenis
variabel sebagai berikut :
- Gangguan terukur : laju alir umpan
- Gangguan tak terukur : komposisi umpan
- Variabel termanipulasi : - laju refluks
- laju kalor ke pendidih ulang
- laju destilat
- laju produk bawah
- laju alir pendingin
- Variabel terkendali : - komposisi destilat
- komposisi produk bawah
- tinggi permukaan akumulator refluks
- tinggi permukaan kolom bawah
- tekanan kolom

3
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
- Variabel tak terkendali : suhu tiap piring sepanjang kolom.

1.2.3 Jenis Sistem Pengendalian


1.2.3.1 Sistem Pengendalian Simpal terbuka dan Tertutup
Berdasarkan atas ada atau tidak adanya umpan balik, sistem pengendalian
dibedakan atas sistem pengendalian simpal terbuka (open loop control system) dan
sistem pengendalian simpal tertutup (closed loop control system).
Sistem pengendalian simpal terbuka bekerja tanpa membandingkan variabel
proses yang dihasilkan dengan nilai acuan yang diinginkan. Sistem ini bekerja semata
mata bekerja atas dasar masukan yang telah dikalibrasi. Sebagai contoh sederhana adalah
keran air yang terkalibrasi. Dengan memandang keran sebagai suatu sistem, maka bukaan
keran (sudut putaran keran) adalah sebagai masukan dan laju alir air sebagai keluaran
sistem. Berdasarkan hukum dinamika fluida, laju air tergantung pada beda tekanan yang
melintas keran. Misal pada posisi keran X1 dengan beda tekanan P2 mengalir air pada
laju Q2 (gambar 2.2). Jika oleh sebab tertentu tiba tiba beda tekanan berubah menjadi
P1, maka posisi keran tetap X1 dan menghasilkan laju alir Q1. Dengan demikian sistem
pengendalian simpal terbuka tidak dapat mengatasi perubahan beban atau gangguan yang
terjadi.
Meskipun dari uraian di atas, sistem simpal terbuka merupakan sistem yang
buruk, karena tidak mampu mengatasi gangguan, tetapi memiliki keuntungan sebagai
berikut :
Lebih murah dan sederhana dibandingkan sistem simpal tertutup
Jika sistem mampu mencapai kestabilan sendiri, maka akan tetap stabil
Untuk mengatasi kekurangan sistem simpal terbuka , operator pabrik akan
mengatur kembali besarnya gangguan agar diperoleh sasaran yang diinginkan. Tetapi
dengan tinadakan operator ini berarti telah membuat sistem simpal tertutup.Berbeda
dengan sistem simpal terbuka , pada sistem pengendalian simpal tertutup terdapat
tindakan membandingkan nilai variabel proses dengan nilai acuan yang diinginkan.

4
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
Perbedaan ini digunakan untuk melakukan koreksi sedemikian rupa sehingga nilai
variabel proses sama atau dekat dengan nilai acuan. Dengan demikian terdapat
mekanisme umpan balik. Sehingga sistem pengendalian simpal tertutup lebih dikenal
dengan sistem pengendalian umpan balik.

P1
Q1
P2

Q2
P3

Q3
keran

X1 Keran air
X terkalibrasi Q

Gambar 2. Sistem Pengendalian Simpal Terbuka

Meskipun sistem simpal tertutup mampu mengatasi gangguan atau perubahan


beban tetapi memiliki kelemahan sebagai berikut :
Lebih mahal dan kompleks dibanding sistem simpal terbuka
Dapat membuat sistem tidak stabil, meskipun sebenarnya tanpa umpan balik sistem
dapat mencapai kestabilan sendiri.

1.2.3.2 Sistem Pengaturan dan Pengendalian


Berdasarkan nilai acuan, sistem pengendalian umpan balik dibedakan atas dua
jenis yaitu sistem pengendalian dengan nilai acuan tetap (dibidang elektro sering disebut
sistem pengaturan) dan sistem pengendalian dengan nilai acuan berubah (dibidang
mekanik sering disebut sistem pengendalian, sistem servo atau tracking). Tujuan utama

5
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
sistem pengaturan adalah mempertahankan agar nilai variabel proses tetap pada nilai
yang diinginkan. Sedangkan pada sistem pengendalian, tujuan utamanya adalah
mempertahankan agar nilai variabel proses mengikuti perubahan nilai acuan.
Di bidang teknologi proses termasuk teknik kimia, meskipun hampir semuanya
bekerja dengan titik acuan tetap tetapi lebih populer dengan istilah sistem pengendalian
dan bukan sistem pengaturan. Hal ini disebabkan karena istilah pengendalian lebih
mencerminkan kondisi dinamik.

1.2.3.3 Sistem Pengendalian Umpan balik


Prinsip mekanisme kerja sistem pengendalian umpan balik adalah mengukur
variabel proses dan kemudian melakukan koreksi bila nilainya tidak sesuai dengan yang
diinginkan. Ciri utama pengendalian umpan balik negatif. Artinya jika nilai variabel
proses berubah terdapat umpan balik yang melakukan tindakan untuk memperkecil
perubahan itu.

1.2.4 Langkah Pengendalian


Langkah langkah pengendalian adalah sebagai berikut :
a. Mengukur
Tahap pertama dari langkah pengendalian adalah mengukur atau mengamati nilai
variabel proses
b. Membandingkan
Hasil pengukuran atau pengamatan variabel proses (nilai terukur) dibandingkan dengan
nilai acuan (setpoint)
c. Mengevaluasi
Perbedaan antara nilai terukur dan nilai acuan dievaluasi untuk menentukan langkah
atau cara melakukan koreksi atas perbedaan itu
d. Mengoreksi
Tahap ini bertugas melakukan koreksi variabel proses agar perbedaan nilai terukur dan

6
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
nilai acuan tidak ada atau sekecil mungkin.

1.2.5 Instrumentasi Proses


Pelaksanaan keempat langkah pengendalian seperti yang telah dijelaskan pada point 1.2.4
memerlukan instrumentasi berikut :
a. Unit Pengukuran
Bagian ini bertugas mengubah nilai variabel proses yang berupa besaran fisik atau
kimia seperti laju alir, tekanan, suhu, pH, konsentrasi dan sebagainya menjadi sinyal
standar. Bentuk sinyal standar yang populer di bidang pengendalian proses adalah berupa
sinyal pneumatik (tekanan udara) dan sinyal listrik. Unit pengukuran terdiri atas dua
bagian besar yaitu :
1. Sensor yaitu elemen perasa yang langsung bersentuhan dengan variabel proses
2. Transmiter yaitu bagian yang berfungsi mengubah sinyal dari sensor (gerakan
mekanik, perubahan hambatan, perunahan tegangan atau arus) menjadi sinyal standar.
Dalam bidang pengendalian proses, istilah transmiter lebih populer dibandingkan
dengan tranduser. Meskipun keduanya berfungsi serupa, tetapi transmiter mempunyai
makna pengirim sinyal pengukuran ke unit pengendali yang biasanya terletak jauh dari
tempat pengukuran, ini lebih sesuai dengan keadaan sebenarnya di pabrik.
b. Unit Pengendali
Bagian ini bertugas membandingkan, mengevaluasi, dan mengirimkan sinyal ke
unit kendali akhir. Evaluasi yang dilakukan berupa operasi matematika seperti
penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian , integrasi dan diferensiasi. Hasil
evaluasi berupa sinyalkendali yang dikirim ke unit kendali akhir. Sinyal kendali berupa
sinyal standar yang serupa dengan sinyal pengukuran.
c. Unit kendali akhir
Bagian ini bertugas menerjemahkan sinyal kendali menjadi aksi atau tindakan
koreksi melalui pengaturan variabel termanipulasi. Unit ini terdiri atas dua bagian besar,
yaitu aktuator dan elemen kendali akhir. Aktuator adalah penggerak elemen kendali

7
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
akhir. Bagian ini dapat berupa motor listrik, solenoida dan membran pneumatik.
Sedangkan elemen kendali akhir biasanya berupa katup kendali (control valve) atau
elemen pemanas.

1.2.6 Diagram Blok


Penggambaran suatu sistem atau komponen dari sistem dapat berbentuk blok
(kotak) yang dilengkapi dengan garis sinyal masuk dan keluar. Sinyal dapat berupa arus
listrik, tegangan (voltase), tekanan, aliran cairan, tekanan cairan, suhu, pH, kecepatan,
posisi dan sebagainya. Sinyal yang perlu digambarkan hanyalah sinyal masuk dan sinyal
keluar yang secara langsung berperan dalam sistem. Sedangkan sumber energi atau massa
yang masuk biasanya tidak digambarkan.
Diagram blok lengkap sistem pengendalian flow digambarkan sebagai berikut :

W-
r+ e U M+ C
GC GV GP

y-

Gambar 3. diagram blok lengkap pengendalian flow


Keterangan gambar :
r+ = nilai acuan atau setpoint value (SV)
e = sinyal galat (error) dengan e = r y
y = sinyal pengukuran
u = sinyal kendali
M+ = variabel termanipulasi
W- = variabel gangguan
C = variabel proses

8
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
GC = komputer
GV = katub pengendali
GP = sistem proses
H = transmitter

Fungsi Alih

9
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
Diagram Instrumentasi Pengendalian Proses Control Flow

FIC FT

GV

Gambar 4. Diagram Instrumentasi Pengendalian Proses Control Flow

Keterangan :
FC : Unit Pengendalian Flow (flow controller)
FT : Unit Pengukuran (flow transmitter)
GV : Unit Control Akhir (pompa A)

Flow dideteksi oleh sensor dan dikirim oleh bagian transmitternya (FT) ke unit
pengendali flow (FC). Didalam unit pengendali flow akan dibandingkan dengan acuan
yang diharapkan. Jika tidak sesuai dengan acuan, maka unit pengendali akan memberi
sinyal ke unit kendali akhir untuk melakukan aksi.

10
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
BAB II
METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan adalah PCT-40
Bahan yang digunakan adalah air

2.2 Prosedur Kerja

1. Memastikan bahwa peralatan telah terhubung dengan benar, seperti kabel USB dan
selang pembuangan di bawah tangki.
2. Menyalakan Komputer dan alat.
3. Mengklik dua kali ikon PTC-40.
4. Pilih Section 9 : Flow Control lalu klik load.
5. Mengklik ikon View Graph lalu klik Format dan pilih Graph Data.
6. Pindahkan Run 1 Pump A Speed N1 dari kotak kiri ke kanan dengan mengkil panah yang
berada diantara 2 kotak tersebut.
7. Mengklik ikon View Diagram
8. Mengklik ikon PID lalu setting:
Proportional Band (P) : 2
Integral Time (I) :0
Derivative Time (D) :0
Set Point : 175
Pilih Mode of Operation Automatic
Klik OK
9. Menutup valve SOL 1 dengan mengklik ikon SOL 1.
10. Klik ikon GO.
11. Mengamati respon yang terjadi dengan membuka grafik dan table data dengan cara klik

11
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
ikon graphics.
12. Mengulangi langkah 6 hingga 10 dengan memvariasi nilai Proportional Band dengan
nilai 5, 8, 12, 25, dan 50
13. Mengulangi langkah 6 hingga 10 dengan Proportional Band : 12 ; dan nilai Integral
Time dengan variasi 5, 10, 15, 20, 25 dan 30.
14. Mengulangi langkah 6 hingga 10 dengan Proportional Band : 12 ; dan nilai Integral
Time : 10 ; dan nilai Derivative Time dengan variasi 5, 10, 15, 20, 25 dan 30.
15. Menyimpan semua data dalam bentuk Microsoft Excel (.xls)

12
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan

Grafik-grafik hasil praktikum dapat dilihat pada lampiran.

3.2 Pembahasan

Praktikum kali ini adalah control flow merek PTC-40. Ada pun tujuan dari praktikum
kali ini adalah mengenal peralatan yang digunakan dalam control flow, mengetahui prinsip
kerja dari sensor, mengamati prinsip kerja sistem control flow, mengamati respon dari mode
pengendalian P, PI, dan PID.

Pada unit ini yang merupakan variable proses adalah laju alir pada sistem proses
yaitu pipa. Variabel termanipulasi pada proses ini adalah laju alir dari control valve. Dalam
pengendalian ini terdapat variabel gangguan sehingga variabel proses tidak sesuai atau
bahkan jauh dari setpoint, yaitu laju alir dari pompa.

Pada praktikum ini nilai yang diinginkan atau dicapai (Setpoint) yaitu 700.
Pengendalian dengan mode P (Proportional) dilakukan dengan nilai 5%, 10%, 20%, 30%,
40% dan 80%. Pada Proportional Band 5%, tanggapannya merupakan osilasi kontinu sama
halnya pada Proportional Band 10%, tetapi nilai flownya berbeda yaitu pada PB 5% nilai
flownya 500-700 sedangkan pada PB 10% nilai flownya 500-600. Pada Proportional Band
20% terjadi tanggapan osilasi teredam. Sama halnya pada Proportional Band 30%, 40%
dan 80% tetapi yang berbeda yaitu nilai flownya dan tingkatan terjadinya osilasi teredam (
PB mencapai 20% menghasilkan tanggapan osilasi teredam hingga keadaan stabil pada
waktu yang semakin singkat/cepat dan semakin jauh dari nilai setpointnya). Sehingga dapat

13
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
disimpulkan Semakin besar Proportional Band (PB) semakin cepat stabil tapi semakin jauh
dari setpoint dan offsetnya semakin besar.

Pada mode pengendalian PI (Proportional Integral) dilakukan dengan nilai Integral


Time 0,1%, 1%, 0,3%, 0,7%, 1,2% dan 1,5% dengan nilai Propotional Band tetap yaitu
20%. Pada PB 20% terjadi osilasi teredam dan nilai jauh dari setpoint, tetapi ketika
ditambah Integral Time terjadi osilasi yang cenderung kontinu atau tidak stabil dan nilai
semakin mendekati nilai setpointnya sehingga offsetnya kecil. Pada semua variasi yang
dimasukkan pada Integral Time, semakin besar nilai TI (Integral Time) maka semakin besar
jumlah pick sehingga semakin besar TI maka respon cenderung semakin cepat.

Pada mode pengendalian PID (Proportional Integral Derivatif) dilakukan dengan


Derivatif Time yaitu 0,1%, 1,5%, 1%, 2%, 3% dan 4% dengan PB 20% dan TI 1,2%. Pada
Pengendalian mode PB 20%d an TI 1,2% terjadi tanggapan osilasi kontinu dan dekat
dengan nilai setpointnya tetapi ketika ditambahan Derivatif Time (TD) terjadi tanggapan
osilasi teredam, sehingga semakin besar nilai TD maka semakin cepat terjadinya kondisi
konstan/tetap (settling time semakin cepat) dan offset semakin kecil.

Dari percobaan yang dilakukan, pengendalian yang paling optimal yaitu pada mode
pengendalian P (Proportional) dengan nilai PB 5% TI 0% TD 0%. Hal ini dikarenakan,
settling time sangat kecil dan terjadi pada kondisi konstan pada nilai yang diinginkan
(Setpoint).

14
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

Semakin besar Proportional Band (PB) semakin cepat stabil tetapi semakin jauh dari
setpoint dan offsetnya semakin besar.
Semakin besar TI maka respon cenderung semakin cepat dan semakin mendekati nilai
setpointnya.
Semakin besar nilai TD maka semakin cepat terjadinya kondisi konstan/tetap (settling
time semakin cepat) dan offset semakin kecil.
Pada mode pengendalian P (Proportional) dengan nilai PB 5% TI 0% TD 0% yang
paling optimal.

15
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
DAFTAR PUSTAKA

Thahrir, Ramli dkk. 2012. Penuntun Praktikum Laboratorium Instrumentasi dan


Kontrol.Samarinda : Polnes

16
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
LAMPIRAN

Proportional Band_5

17
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
Proportional Band_5, 10_, _15, Dan 30

PB_5
PB_10
PB_15
PB_30
Setpoint Value (Sv)

18
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
Proportional Band_15, Dan Integral Time_1

19
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
Proportional Band_15, Dan Integral Time_1_3_5_10_15_20

PB_15_TI_1
PB_15_TI_3
PB_15_TI_5
PB_15_TI_10
PB_15_TI_15
PB_15_TI_20
Setpoint Value (Sv)

20
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
Proportional Band_15, Integral Time_10, Dan Integral Derivative_1

21
LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN KONTROL
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA