Anda di halaman 1dari 29

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Teknik mesin adalah ilmu teknik yang mengetahui aplikasi dan prinsip
untuk menganalisis, desain, manufaktur, dan pemeliharaan sebuah system
mekanik. Teknik mesin tidak terlepas dari semua hal yang berhubungan
dengan penemuan metode baru mengembangkan alat baru ataupun
penemuan baru dalam bidang teknik mesin. Ilmu metrologi mempelajari
semua prinsip kerja kemudian di tuangkan kedalam suatu perhitungan dalam
praktikum metrologi industri kita di tuntut untuk mempelajari, memahami,
mengerti, dan bisa menggunakan alat ukur yang akan di gunakan dalam
praktik.
Pada praktikum pengenalan jangka sorong kita di tuntut untuk dapat
melakukan, menggunakan pengukuran jangka sorong maupun jangka
sorong jam. Serta kita harus dapat mengetahui cara kalibrasi jangka sorong
dan megetahui kerusakan kerusakan pada jangka sorong.
Pada Pengenalan Praktikum Pengenalan micrometer kita di tuntut
untuk dapat melakukan ,menggunakan pengukuran micrometer serta kita
harus dapat mengetahui cara kalibrasi micrometer dan mengetehahui
kerusakan- kerusakan pada micrometer.
Pada parktikum pengukuran sudut dan ketinggian kita di tuntut
untuk dapat melakukan ,meunggunakan pengukuran dengan menggunakan
bevel protector dan mistar ingsut ketinggian.

1.2 Tujuan Praktikum


1.2.1 Pengenalan Jangka Sorong
1. Dapat mengetahui pengukuran dengan jangka sorong.
2. Mengetahui kerusakan kerusakan atau kelainan kelainan yang dapat
terjadi pada alat ukur jangka sorong.
3. Mengetahui kalibrasi alat ukur jangka sorong.
1.2.2 Pengenalan Micrometer
1. Dapat melakukan pengukuran dengan micrometer.
2. Mengetahui kerusakan kerusakan yang terjadi pada micrometer.
3. Mengetahui cara cara kalibrasi alat ukur/micrometer.
1.2.3 Pengukuran Sudut dan Ketinggian
1. Mengenal penggunaan alat ukur sudut/bevel protector.
2. Mengenal dan penggunaan mistar ingsut ketinggian.
1.3 Metode Praktikum
1.3.1 Jangka Sorong
A. Pengukuran
Melakukan pengukuran pada benda seperti pada gambar 1.1 ( modul

1
A) dengan menggunakan :
1. Jangka sorong nonius
2. Jangka sorong jam
Mencatat hasil pengukuran pada tabel 1.1(modul A)
B. Kalibrasi
1. Pemeriksaan kelurusan sensor
Pemeriksaan kelurusan sensor dilakukan dengan menggunakan pisau
lurus (straight knife). Tempelkan pisau lurus pada sensor ukur dengan latar
belakang yang terang. Amati kerusakan dengan melihat celah yang ada
antara pisau lurus dan sensor ukur. Gambarkan hasil pengamatan pada tabel
1.2 (modul A)
2. Memeriksa kebenaran skala utama
Sebelum melakukan kalibrasi terlebih dahulu mengisi kolom
toleransi dari blok ukur. Blok ukur yang digunakan adalah dari kelas dengan
toleransi =
Memeriksa kebenaran skala utama dengan menggunakan blok ukur
dan mencatat penyimpangannya. Kalibrasi ini dilakukan untuk semua sensor
ukur yang ada pada mistar ingsut tersebut lihat gambar 1.2 (modul A)
1. Sensor ukur luar (o), dikalibrasi dengan menggunakan blok ukur
standar.
2. Sensor ukur dalam (i), dikalibrasi dengan blok ukur standar yang
dilengkapi dengan pemegang blok ukur.
3. Sensor (d), dikalibrasi dengan blok ukur, dilakukan diatas meja rata.
Hasil kalibrasi diisikan pada tabel 1.3 dan plot grafik kesalahannya
pada grafik kesalahan.
1.3.2 Mikrometer
Hitunglah diameter maksimum dan minimum menurut toleransinya,
kemudian masukan ke dalam kolom yang tersedia tabel 2.1 (modul
B)
Lakukan pengukuran diameter poros (a s/d i) pada posisi 1 dan 2,
beri tanda silang bila pengukuran keluar dari daerah toleransi.
Kalibrasi micrometer (prosedur).

a. Pemeriksaan kedudukan nol dari micrometer.


Merapatkan sensor micrometer sampai jam ukur menunjukan nol.
Lihat skala ukur, apabila skala micrometer tidak menunjukan nol
maka lakukan penyetelan dengan memutar silinder skala.
b. Pemeriksa kedataran kedua permukaan sensor (mulut ukur).
Tempelkan optical flat pada mulut ukur (Hati hati dalam

2
pemakaian optical flat jangan sampai permukaannya tergores).
Dekatkan pada sumber cahaya monokromatis. Hitung jumlah
garis garis interferensi menanadakan ketidak dataran dari mullut
ukur.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk kedua mulut ukur (landasan
tetap dan landasan gerak).
c. Pemeriksaan kesejajaran mulut ukur.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan 4 buah optical
flat dengan ukuran 12,00 mm s/d 12,37 mm, selipkan optical flat
diantara sensor secara perlahan (agar tidak tergores permukaan
optical flat). Amati garis interferensi yang ada pada sensor tetap
dan sensor gerak. Ketidak sejajaran adalah jumlah kedua
interferensi tersebut (sensor tetap dan sensor gerak).
d. Pemeriksaan kebenaran skala micrometer dengan bantuan bok
ukur.
Untuk memeriksa kebenaran skala micrometer ini seharusnya
kalibrasi dilakukan bagi sepanjang kapasitas ukur dari
micrometer. Dalam praktikum ini hanya dilakukan antara skala
10,00 mm s/d 20,00 mm (atau ditentukan oleh asisten, sepanjang
10,00 mm).
Pasangkan micrometer pada dudukannya atau blok ukur sesuai
dengan ketinggian yang diminta (kenaikan 1 mm). ukur benda
dari tebal ukur secara berurutan.
1.3.3 Pengukuran Sudut dan Ketinggian
1. Pengukuran sudut.
Ukur sudut a,b,c dan ddengan menggunakan bevel protector.
Jumlahkan ke empat harga sudut yang terukur kemudian bandingkan
dengan harga teoritis (360 derajat). Berapakah kesalahannya ?
2. Pengukuran ketinggian
a. Untuk melatih penggunan mistar ingsut ketinggian, ukurlah
dimensi a sepuluh kali pada tempat yang berbeda. Kemudian
hitunglah harga rata-rata dan standar deviasinya.
b. Ukurlah dimensi a,b,c,d,e,dan fpada dua sisi yang berbeda.
Periksalah kecermatan pengukuran yang anda lakukan dengan
cara membandingkan harga a dengan (d+e). apakah kesalahannya
tidak melebihi dua kali harga deviasi standar yang anda hitung di
atas ?

3
1.4 Lokasi Praktikum
Waktu praktikum dimulai pada pukul 15:30 s/d 18:00 dan bertempat
di Laboratorium Metrologi Industri, Teknik Mesin, Fakultas Teknik,
Universitas Jendral Ahmad Yani.

1.5 Sistematika Penulisan


Adapun sistematika penulisan laporan akhir ini adalah sebagai
berikut :
BAB 1 : PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi tentang pendahuluan yang membahas tentang
latar belakang, tujuan, metode praktikum, lokasi praktikum, serta
sistematika penulisan.
BAB 2 : LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisi tentang teori-teori yang digunakan penulis serta
sebagai referensi dalam melakukan praktikum metrologi.
BAB 3 : TAHAPAN PRAKTIKUM
Pada bab ini akan dibahas tentang tahapan praktikum dengan
menggunakan skema proses beserta penjelasan skema proses.

BAB 4 : DATA DAN PEMBAHASAN


Pada bab ini berisi tentang data praktikum yang telah diperoleh dari
bab-bab sebelumnya serta dilakukan pembahasan dari data tersebut.
BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab terakhir ini berisi tentang kesimpulan dari bab sebelumnya dan
pada bab ini penulis juga menambahkan saran yang mungkin berguna bagi
pembaca.

4
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1. JANGKA SORONG
Jangka sorong adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur
suatu benda dengan tingkat ketelitian seperseratus milimeter. Terdiri dari
dua pasang rahang. Pasangan rahang pertama digunakan untuk mengukur
diameter dalam, sedangkan pasangan yang kedua digunakan untuk
mengukur diameter luar. Secara umum bagian bagian dari jangka sorong
ditampilkan pada gambar berikut ini.
Gambar2.1 jangka sorong

Jangka sorong berfungsi untuk mengukur panjang, ketebalan,


diameter dalam dan diameter luar suatu benda sekaligus dapat digunakan
untuk mengukur kedalaman suatu benda. Manfaat jangka sorong
dibandingkan alat ukur panjang lainnya adalah jangka sorong dapat
mengukur (panjang, ketebalan, diameter dalam, diameter luar dan
kedalaman) benda yang berukuran kecil dengan ketelitian yang cukup
bagus. Namun, jangka sorong tidak dapat digunakan pada benda yang lebih
besar.
Prinsip kerja jangka sorong adalah benda ukur ditahan pada salah satu
sisi/permukaannya oleh rahang ukur tetap, kemudian rahang geser
digeserkan sehingga rahang ukur gerak menempel pada sisi lainnya. Pada
saat benda ukur dijepit seperti ini pengukur dapat membaca posisi garis
indeks pada skala ukur, bila perlu dikunci, kemudian baru dibaca hasil
pengukurannya.

Cara menggunakan jangka sorong adalah sebagai berikut :


1. Mengukur panjang benda
Untuk mengukur panjang benda dapat dilakukan dengan langkah berikut :
a. Geser rahang geser jangka sorong sedikit kekanan sedemikian sehingga
benda yang akan diukur dapat masuk diantara kedua rahang

5
b. Geser rahang geser kekiri sehingga benda tepat terjepit oleh kedua rahang

2. Mengukur ketebalan benda


Untuk mengukur ketebalan benda dapat dilakukan dengan langkah berikut :
a. Geser rahang geser jangka sorong sedikit kekakan sehingga benda yang
akan diukur ketebalannya dapat masuk diantara kedua rahang
b. Geser rahang geser kekiri sehingga benda terjepit oleh kedua rahang

3. Mengukur diameter dalam benda


Untuk mengukur diameter dalam suatu benda dapat dilakukan dengan
langkah berikut :
Menggeser rahang geser jangka sorong sedikit kekanan
Letakkan benda/cincin yang akan diukur sedemikian sehingga kedua
rahang jangka sorong masuk kedalam benda/cincin tersebut
Geser rahang geser kekanan sedemikian sehingga kedua rahang jangka
sorong menyentuh kedua dinding dalam benda/cincin.

4. Mengukur diameter luar benda


Untuk mengukur diameter luar benda dapat dilakukan dengan
langkah berikut :
a. Menggeser rahang jangka sorong kekanan sehingga benda yang diukur
dapat masuk diantar kedua rahang.
b. Letakkan benda yang akan diukur diantara kedua rahang.
c. Geser rahang geser kekiri sedemikian sehingga benda yang diukur terjepit
oleh kedua rahang

5. Mengukur kedalaman benda


Untuk mengukur kedalaman suatu benda dapat dilakukan dengan langkah
berikut :
a. Letakkan benda atau tabung yang akan diukur dalam posisi tegak
b. Putar jangka sorong yang dalam keadaan tegak kemudian letakkan ujung
jangka sorong ke permukaan tabung yang akan diukur dalamnya.
c. Geser rahang geser kebawah sehingga ujung batang pada jangka sorong
mengenai dasar tabung

Cara membaca hasil pengukuran jangka sorong adalah sebagai berikut:


1. Bacalah skala utama yang berhimpit atau skala terdekat tepat didepan titik

6
nol skala nonius
2. Baca skala nonius yang tepat berhimpit dengan skla utama
3. Hasil pengukuran dinyatakan dengan persamaan
Hasil = skala utama + (skala nonius yg berhimpit x skala terkecil jangka
sorong)
Contohnya :
Skala utama berhimpit di angka 2,4 sebelum angka nol pada skala nonius.
Dan skala nonius berimpit dengan skala utama pada angka 7 sehingga
hasilnya adalah 2,4 + (7 x 0,01) = 2,47 cm
Cara menulis hasil pengukuran diatas adalah dengan menambahakan
ketelitian dari jangka sorong. Ketelitian dari jangka sorong adalah setengah
dari skala terkecil sehingga x = x 0,01 = 0,005. Karena x = 0,005 (tiga
desimal), maka hasil pembacaannya (xo) harus juga dinyatakan dalam tiga
desimal.
L = xo x
L = (2,470 0,005) cm
Cara mengkalibrasi jangka sorong :
Jangka sorong dikalibrasi dengan cara mendorong rahang geser hingga
menyentuh rahang tetap. Apabila rahang geser berada pada posisi yang tepat
di angka nol, yaitu angka nol pada skala utama dengan angka nol pada skala
nonius saling berhimpit pada satu garis lurus, maka jangka sorong tersebut
sudah terkalibrasi dan siap digunakan.

2.2 PENGENALAN MIKROMETER


Mikrometer sekrup adalah alat ukur panjang yang memiliki tingkat
ketelitian tertinggi. Tingkat ketelitian mikrometersekrup mencapai 0,01 mm
atau 0,001 cm. Dengan ketelitiannya yang sangat tinggi, mikrometersekrup
dapat digunakan untuk mengukur dimensi luar dari benda yang sangat kecil
maupun tipis seperti kertas, pisau silet, maupun kawat. Secara umum,
mikrometer sekrup digunakan sebagai alat ukur dalam teknik mesin elektro
untuk mengukur ketebalan secara tepat dari blok-blok, luar dan garis tengah
dari kerendahan dan batang-batang slot.Alat ini biasanya difungsikan untuk
mengukur diameter benda-benda berukuran milimeter atau beberapa
centimeter saja.

7
Gambar 2.2
mikrometer

Mikrometer sekrup terdiri atas rahang utama sebagai skala utama


dan rahang putar sebagai skala nonius. Skala nonius terdiri dari 50 skala.
Setiap kali skala nonius diputar 1 kali, maka skala nonius bergerak maju
atau mundur sejauh 0,5 mm. Ketelitian micrometer sekrup adalah setengah
dari skala terkecilnya. Satu skala nonius memiliki nilai 0,01 mm. Hal ini
dapat diketahui ketika kita memutar selubung bagian luar sebanyak satu kali
putaran penuh, akan diperoleh nilai 0,5 mm skalautama. Oleh karena itu,
nilai satu skala nonius adalah0,5/50mm = 0,01 mm.

2.2.1 Kegunaan Mikrometer Sekrup


Adapun kegunaan dari mikrometer sekrup adalah sebagai alat ukur
panjang dengan tingkat ketelitian tinggi. Dengan ketelitiannya yang sangat
tinggi, mikrometersekrup dapat digunakan untuk mengukur dimensi luar
dari benda yang sangat kecil maupun tipis seperti kertas, pisau silet, maupun
kawat. Alat ini biasanya difungsikan untuk mengukur diameter benda-benda
berukuran milimeter atau beberapa centimeter saja.
2.2.2 Bagian-Bagian Mikrometer Sekrup
Adapun bagian-bagian mikrometer sekrup adalah sebagai berikut:
1. Bingkai (Frame)
Bingkai ini berbentuk huruf C terbuat dari bahan logam yang tahan panas
serta dibuat agak tebal dan kuat. Tujuannya adalah untuk meminimalkan
peregangan dan pengerutan yang mengganggu pengukuran. Selain itu,
bingkai dilapisi plastik untuk meminimalkan transfer panas dari tangan
ketika pengukuran karena jika Anda memegang bingkai agak lama sehingga
bingkai memanas sampai 10 derajat celcius, maka setiap 10 cm baja akan
memanjang sebesar 1/100 mm.

2. Landasan (Anvil)
Landasan ini berfungsi sebagai penahan ketika benda diletakan diantara
anvil dan spindle.
3. Spindle (gelendong)
Spindle ini merupakan silinder yang dapat digerakan menuju landasan.
4. Pengunci (lock)
Pengunci ini berfungsi sebagai penahan spindle agar tidak bergerak ketika

8
mengukur benda.
5. Sleeve
Tempat skala utama.
6. Thimble
Tempat skala nonius berada
7. Ratchet Knob
Untuk memajukan atau memundurkan spindel agar sisi benda yang akan
diukur tepat berada diantara spindle dan anvil.
2.2.3 Skala pada Mikrometer Sekrup
Skala pada mikrometer sekrup ada dua yaitu ;
Skala Utama (SU), yaitu skala pada pegangan yang diam (tidak berputar)
ditunjuk oleh bagian kiri pegangan putar dari mikrometer sekrup.
Skala Nonius (SN), skala pada pegangan putar yang membentuk garis lurus
dengan garis mendatar skala diam dikalikan 0,01 mm.

2.2.4 Prinsip Kerja Mikrometer Sekrup


Mikrometer sekrup memiliki ketelitian sepuluh kali lebih teliti
daripada jangka sorong. Ketelitiannya sampai 0,01 mm. Bentuk mikrometer
sekrup ditunjukkan pada gambar 1. Alat ukur ini mempunyai batang
pengukur yang terdiri atas skala dalam milimeter, dan juga sekrup berskala
satu putaran sekrup besarnya sama dengan 0.5 mm dan 0.5 mm pada skala
utama dibagi menjadi 100 skala kecil yang terdapat pada sekrup.
2.2.5 Cara Mengkalibrasi Mikrometer Sekrup
Kalibrasi merupakan prosesverifikasi bahwa suatu akurasi alat
ukur sesuai dengan rancangannya. Kalibrasi biasa dilakukan dengan
membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar
nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Sistem manajemen kualitas memerlukan sistem pengukuran yang efektif,
termasuk di dalamnya kalibrasi formal, periodik dan terdokumentasi, untuk
semua perangkat pengukuran. ISO 9000dan ISO 17025 memerlukan sistem
kalibrasi yang efektif.
Kalibrasi diperlukan untuk:
1. Perangkat baru
2. Suatu perangkat setiap waktu tertentu
3. Suatu perangkat setiap waktu penggunaan tertentu (jam operasi)
4. Ketika suatu perangkat mengalami tumbukan atau getaran yang
berpotensi mengubah kalibrasi
5. Ketika hasil pengamatan dipertanyakan
Pada umumnya, kalibrasi merupakan proses untuk menyesuaikan keluaran
atau indikasi dari suatu perangkat pengukuran agar sesuai dengan besaran
dari standar yang digunakan dalam akurasi tertentu.. Contohnya
termometer dapat dikalibrasi sehingga kesalahan indikasi atau koreksi dapat

9
ditentukan dan disesuaikan (melalui konstanta kalibrasi), sehingga
termometer tersebut menunjukan temperatur yang sebenarnya
dalam celcius pada titik-titik tertentu di skala.
Di beberapa negara termasuk Indonesia, terdapat direktorat metrologi yang
memiliki standar pengukuran (dalam SI dan satuan-satuan turunannya) yang
akan digunakan sebagai acuan bagi perangkat yang dikalibrasi. Direktorat
metrologi juga mendukung infrastuktur metrologi di suatu negara dengan
membangun rantai pengukuran dari standar tingkat tinggi/internasional
dengan perangkat yang digunakan.
Hasil kalibrasi harus disertai pernyataan traceable uncertainity untuk
menentukan tingkat kepercayaan yang di evaluasi dengan seksama dengan
analisis ketidakpastian. Setelah digunakan dalam jangka waktu yang lama
mikrometer perlu dikalibrasi untuk mendapatkan tingkat kecermatan sesuai
dengan standarnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengkalibrasi
mikrometer adalah sebagai berikut :
1. Menggerakan silinder putar poros harus dapat berputar dengan baik
dan tidak terjadi goyangan karena ausnya ulir utama.
2. Kedudukan nol. Apabila mulut ukur dirapatkan maka garis referensi
harus menunjukkan nol.
3. Kerataan dan kesejajaran muka ukur (permukaan sensor).
4. Kebenaran dari hasil pengukuran. Hasil pengukuran dibandingkan
dengan standar yang benar.
5. Bagian bagian seperti gigigelincir dan pengunci poros ukur harus
berfungsi dengan baik.
Adapun syarat-syarat kalibrasi adalah sebagai berikut :
1. Kalibrasi dilakukan dalam suhu 200C10C dan kelembaban relatif
55 % 10 %
2. Untuk pemeriksaan digunakanoptical flat atau optical parallel
dengan kerataan kurang dari 0,1 m.
3. Untuk pemeriksaan kesejajaran digunakan optical parallel dengan
kerataan kurang dari 0,1 m dan kesejajaran kurang dari 0,2 m, dan
gauge block kelas 0 atau kelas 1 (ISO3650) atau yang setara.
4. Untuk pengukuran kesalahan penunjukan digunakan balok ukur
kelas 0 atau kelas 1 (ISO3650) atau yang setara.
Adapun prosedur-prosedur dalam pengkalibrasian mikrometer sekrup adalah
sebagai berikut :
1. Pengukuran kerataan muka mikrometer luar dan mikrometer kepala
2. Meletakkan sebuah optical flat pada permukaan ukur. Kemudian
menghitung banyaknya interferensi merah yang timbul dari cahaya
putih pada permukaan kontak muka ukur. Satu garis merah dapat
diasumsikan sama dengan 0,3 m.
3. Melakukan pemeriksaan kerataan pada kedua muka ukur.
4. Pengukuran kesejajaran muka ukur mikrometer luar
Menggunakan Optical Parallel

10
1. Meletakkan sebuah Optical Parallel atau gabungan sebuah balok
ukur yang diapit dua Optical Parallel pada muka ukur tetap
sedemikian sehingga pola interferensi menjadi satu warna saja atau
timbul pola kurva tetutup.
2. Memutar ratchet hingga muka ukur spindle merapat pada
permukaaan optical flat.
3. Menghitung banyaknya garis interferensi merah yang timbul dari
cahaya puih pada permukaan kontak muka ukur spindle.
4. Melakukan pemeriksaan di atas sedikitnya pada empat nilai ukur
masing-masing terpaut 104 putaran spindle.

Menggunakan balok ukur


1. Meletakkan sebuah balok ukur di tengah kedua muka ukur dan
memutar ratchet dan melakukan pembacaan. Lalu melakukan hal
yang sama dengan posisi balok ukur di empat tepi muka ukur.
2. Menghitung selisih pembacaan yang terbesar.
2.2.6 Cara Menggunakan Mikrometer Sekrup
Adapun langkah langkah untuk menggunakan mikrometer sekrup
adalah :
1. Memutar bidal (pemutar) berlawananarah dengan arah jarum jam
sehinggga ruang antara kedua rahang cukup untuk ditempati benda
yang akan diukur.
2. Meletakkan benda diantara kedua rahang, yaitu rahang tetap dan
rahang geser.
3. Memutar bidal (pemutar besar) searah jarum jam sehingga benda
yang akan diukur terjepit oleh rahang tetap dan rahang geser.
4. Memutar pemutar kecil(roda bergerigi) searah jarum jam sehingga
skala nonius pada pemutar besar sudah tidak bergeser lagi.
2.2.7 Cara Membaca Hasil Pengukuran pada Mikrometer Sekrup
Untuk membaca hasil pengukuran pada mikrometer sekrup dapat dilakukan
dengan langkah sebagai berikut :
1. Menentukan nilai skala utama yang terdekat dengan selubung
silinder (bidal) dari rahang geser ( skala utama yang berada tepat di
depan/berimpit dengan selubung silinder luar rahang geser).
2. Menentukan nilai skala nonius yang berimpit dengan garis mendatar
pada skala utama.

Hasil pengukuran dinyatakan dalam persamaan :


Hasil = Skala Utama + (Skala Nonius x skala terkecil mikrometer sekrup)
= Skala Utama + (Skala Nonius yang berimpit x 0,01 mm)

11
Contoh pembacaan hasil pengukuran dengan mikrometer sekrup :
Contoh 1
Hasil = Skala Utama + (Skala Nonius yang berimpit x 0,01 mm)
Skala Utama = 3,5 mm
Skala Nonius x 0,01 mm = 20 x 0,01 mm = 0,20 mm
Jadi hasil pengukuran = 3,5 mm + 0,2 mm = 3,70 mm
Contoh 2
Hasil = Skala Utama + (Skala Nonius yang berimpit x 0,01 mm)
Skala Utama = 6,5 mm
Skala Nonius x 0,01 mm = 9 x 0,01 mm = 0,09 mm
Jadi hasil pengukuran = 6,5 mm + 0,09 mm = 6,59 mm
2.3 PENGUKURAN SUDUT DAN KETINGGIAN
2.3.1 Mistar ingsut ketinggian (Kaliber tinggi / Height gauge )
Suatu jenis mistar ingsut yang berfungsi sebagai pengukur ketinggian
disebut sebagai mistar ingsut ketinggian lihat gambar 2.3 Alat ukur ini
dilengkapi dengan rahang ukur yang bergerak vertikal pada batang berskala
yang tegak lurus dengan landasannya.
Permukaan rahang ukur dibuat sejajar dengan alas (permukaan bawah
landasan), sehingga garis ukur akan tegak lurus dengan permukaan di atas
mana landasan diletakkan.
Oleh karena itu, dalam pemakaiannya mistar ingsut ketinggian ini
memerlukan permukaan rata sebagai acuan, yang dalam hal ini bisa
dipernuhi dengan meja rata.
Pada meja rata inilah mistar ingsut ketinggian bersama-sama dengan benda
ukur diletakkan.
Proses pengukuran dilakukan dengan menggeserkan (memindahkan) mistar
ingsut ketinggian ke beberapa tempat sesuai dengan lokasi beberapa objek
ukur pada benda ukur.

Masalah pengukuran jarak dua permukaan pada benda ukur dalam hal ini
diubah menjadi masalah penentuan ketinggian suatu permukaan relatif
terhadap permukaan lain.
Karena menggunakan acuan yang sama (permukaan meja rata) berarti
perbedaan jarak (ketinggian) permukaan dapat diketahui dengan mengukur
ketinggian masing-masing permukaan lalu mencari selisihnya.

12
Gambar 2.3Bagian-bagian utama dari mistar ingsut ketinggian

Pada umumnya skala utama pada batang ukur bersifat tetap namun ada juga
jenis yang dapat diukur ketinggiannya dengan menggunakan penyetel yang
terletak di puncaknya.
Bagi jenis yang skalanya bisa diatur ini pembacaan ukuran, bila
dikehendaki, dapat diatur mulai dengan bilangan bulat sehingga
memudahkan perhitungan hasil pengukuran misalnya dalam hal penentuan
jarak dua permukaan seperti yang dibahas di atas.
Berarti, bagi jenis dengan posisi skala yang bisa distel, ketinggian sensor
tidak lagi ditunjukkan relatif terhadap permukaan meja rata, namun
berubah-ubah sesuai dengan penyetelan posisi batang skala, atau dikatakan
memiliki titik nol yang mengambang (floating zero).
Jenis yang lain dilengkapi dengan jam ukur besefrta penunjuk berangka
mekanik ataupun elektronik yang pada umumnya memiliki kemampuan
untuk mengubah posisi nol (floating zero) lihat gambar 2.4

13
Gambar 2.4 Mistar ingsut ketinggian dengan penunjuk berangka mekanik dan
eletronik

Pada saat memulai pengukuran, yaitu ketika sensor telah disinggungkan


pada suatu permukaan benda ukur (permukaan pertama), angka pada
penunjuk digital dapat distel nol.
Dengan demikian, ketika sensor dipindahkan dan disinggungkan pada
permukaan kedua, jarak antara permukaan kedua dengan pertama akan
otomatis tertayangkan pada penunjuk digitalnya.
Perlu diketahui, untuk pengubah digital, arah gerakan positif bisa diubah ke
atas atau ke bawah (mengubah polarisasi), dan pengguna memilihnya sesuai
dengan perbedaan ketinggian permukaan kedua terhadap permukaan
pertama benda ukur sehingga hasil akhir akan ditanyangkan selalu positif,
lihat gambar 2.4
Dengan peralatan lain yang dipasang pada peluncur, mistar ingsut
ketinggian ini dapat dipakai untuk bermacam-macam pengukuran antara
lain :
1.Mengukur ketinggian (gambar 2.5)
Tinggi suatu permukaan relatif terhadap bidang datar (permukaan meja
rata) ataupun terhadap permukaan yang lain dan benda ukur dapat diketahui
harganya.
Permukaan rahang ukur harus dengan hati-hati ditempelkan pada
permukaan benda ukur, jikalau perlu gunakan penyetel halus/cermat.
Penekanan yang terlalu kuat atau benturan yang keras akan menyebabkan
terjadinya kesalahan ukuran (kesalahan sistematik) karena rahang ukur
melentur atau mistar ingsut ketinggian ini menjadi sedikit miring yang tak
disadari pemakai.

14
Gambar 2.5 ragam pengukuran mistar ingsut pada meja rata

1. Membuat garis gores (gambar 2.5 b.).


Ujung rahang ukur biasanya runcing dibuat dari karbida yang sangat
keras sehingga dapat digunakan untuk membuat garis pada benda kerja pada
suatu kedudukan (ketinggian) tertentu. Goresan garis ini diperlukan bagi
pekerjaan selanjutnya, karena dalam banyak hal gambar gores pada
permukaan benda kerja akan membantu operator mesin perkakas untuk
menyetel posisi pahatnya relatif terhadap benda kerja.

2. Alat ukur pembanding (gambar 2.5 c).


Rahang ukur dapat diganti dengan jam ukur (dial comparator)
sehingga selisih ketinggian dari dua permukaan yang hampir sama tinggi
dapat dibaca pada jam ukur. Pupitas (sejenis jam ukur) dapat pula dipasang
pada peluncur yang memungkinkanpengukuran secara cermat. Pupitas ini
bisa berfungsi sebagai penepat yang menjaga ketepatan tekanan
pengukuran supaya keterulangan proses pengukuran bisa dijaga. Pada setiap
penempelan sensor ke permukaan objek ukur, pembacaan skala mistar
ingsut selalu dilakukan setelah jarum pupitas menunjuk angka nol pada
skala pupitas. Pupitas bisa berfungsi sebagai alat ukur pembanding, ketika

15
mistar ingsut ketinggian hanya dimanfaatkan sebagai dudukan pemindah
(transfer stand)

3. Alat ukur kemiringan (gambar 2.5 d).


Busur bilah (alat ukur sudut, dapat dipasang pada peluncur, sehingga
kemiringan suatu permukaan relatif terhadap bidang dasar (meja rata) dapat
diukur dengan busur bilah.
2.3.2 Alat Ukur Sudut (Busur Bilah)
Untuk pengukuran sudut antara dua permukaan benda ukur dengan
kecermatan lebih kecil daripada satu derajat, dapat digunakan busur blah.
Konstruksi busur bilah ini serupa dengan busur baja.
1. Bagian-bagian utama dari busur bilah adalah
a. Badan/ piring dasar; berupa lingkaran penuh dengan diameter sekitar
55 mm. Permukaan bawah piringdasar ini rata, sehingga busur bilah
dapat diletakkan pada meja rata dengan baik tak bergoyang. Pada
tepi permukaan atas terdapat skala dengan pembagian dalamderajat
dan beri nomor 0o 90o 0o 90o(skala kiri dan kanan).
b. Pelat dasar; bersatu dengan piring dasar. Panjang, lebar dan tebal
pelat dasar, sekitar 90 x 15 x 7 mm. Sisi kerja pelat dasar dibuat rata
dan lurus, dengan toleransi kerataan 0.01 mm untuk sepanjang sisi
kerja.
c. Piring indeks; mempunyai titik pusat putaran berimpit dengan pusat
piringan dasar. Pada piringan ini tercantum gais indeks dan skala
nonius sudut (skala nonius kiri dan kanan), biasanya dengan
kecermatan sampai 5 menit. Kadang dilengkapi dengan pemutar
halus/cermat.
d. Bilah utama; dapat diatur kedudukannya dengan kunci yang terletak
pada piringan indeks. Panjang, lebar dan tebal dari bilah utama,
sekitar 150/300 x 13 x 2 mm, dan kedua ujungnya dibuat menyudut
masing-masing sebesar 45o dan 60o. Ke dua tepi dibuat lurus
dengan toleransi kerataan sebesar 0.02 sampai 0.03 mm untuk
keseluruhan panjangnya.
Piringan indeks dapat berputar bersama-sama dengan bilah utama dan
dapat dikunci/dimatikan kedudukannya relatif terhadap piringan dasar.
Dengan demikian, sudut antara salah satu sisi bilah utama dengan sisi kerja
pelat dasar dapat dibaca pada skala piringan dasar dengan bantuan garis
indeks dan skala nonius.
Busur bilah universal mempunyai bilah bantu yang dipasangkan tegak lurus
terhadap pelat dasar. Kedudukan bilah banntu ini dapat diatur, sehingga
memungkinkan pengukuran sudut antara dua permukaan dengan lebih
mudah. Jenis yang lain dari busur bilah memakai sistem optik untuk
pembacaan skala sudutnya, dengan kecermatan pembacaan sampai 2 menit.
2. Pemakaian busur bilah
Harga sudut yang ditunjukkan oleh skala pada busur bilah adalah
sudut antara sisi bilah utama dan sisi kerja pelat dasar, jadi bukan sudut

16
sesungguhnya dari objek ukur. Oleh sebab itu, pemakaian harus dilakukan
dengan seksama supaya sudut busur bilah betul-betul sesuai dengan sudut
benda ukur. Tiga hal penting yang harus diperhatkan adalah pemakaian
busur bilah adalah :
1. Permukaan benda ukur dan permukaan kerja busur bilah harus
bersih. Adanya debu atau geram yang menyebabkan kesalahan
pengukuran ataupun dapat merusakkan busur bilah. Aturlah
kedudukan bilah utama dengan memakai kunci bilah.
2. Bidang busur bilah harus berimpit atau sejajar dengan bidang sudut
yang diukur (bidang normal). Apabila kondisi ini tidak dipenuhi,
harga sudut yangdibaca pada busur bilah mungkin lebih kecil
daripada sudut enda ukur.
3. Sisi kerja pelat dasar dan salah bilah utama harus betul-betul
berimpit dengan permukaan benda ukur, tidak boleh terjadi celah
untuk mempermudah pengukuran benda ukur yang besar, kunci
piringan indeks dapat dikendorkan, kemudian busur bilah digeserkan
(dengan sisi kerja pelat dasar berimpit dengan permukaan benda
ukur) menuju permukaan yang menyudut sampai bilah utama
terputar dan berimpit dengan permukaan tersebut. Bacalah harga
sudut pada kedudukan ini, atau kunci terlebih dahulu piringan
indeks, keudian baru dibaca harga sudutnya dengan cara
memiringkan busur bilah untuk mempermudah pembacaan skala
memiringkan busurbilah untuk mempermudah pembacaan skala
noniusnya(atau untuk mengintip melalui okuler busur bilah optik).
Pengukuran dan pembacaan harga sudut sebaiknya diulang untuk
beberapa kalisampai merasa pasti akan harga sudut yang diperoleh. Sudut
antara dua kali pertemukaan benda ukur dapat secara langsung diukur
dengan melingkupi sudut tersebut dengan bilah utama dan pelat dasar atau
dengan meletakkan benda ukur pada meja rata. Untuk sudut yang kecil
ataupun yang besar, pembacaan harga sudut pada skala adalah jelas, yaitu
secara langsung ataupun dengan mengurangkan terhadap 180o (sudut
pelurusnya). Sedang untuk sudut benda kerja yang hampir sama dengan
45o (misalnya 44o atau 46o) maka mungkin timbul keraguan. Untuk itu harus
diperhatikan arah pemutaran bilah utama apabila posisi semula adalah 90o.
Bagi yang pertama kali memakai busur bilah nonius, mungkin
timbul keraguan dalam menentukan pemakaian skala nonius kanan atau
nonius kiri. Keraguan ini dapat dihindari dengan cara melihat arah kenaikan
angka pada skala utama. Apabila garis nol nonius terletak di daerah angka
skala utama yang membesar ke kanan, maka skala nonius kanan yang
dipakai atau sebaliknya.
Untuk sudut benda ukur yang kecil kadang tak mungkin dilingkupi
oleh busur bilah (karena bilah utama da pelat dasar kurang panjang). Dalam
hal ini sudut ukur mungkin masih bisa diukur dengan meletakkannya pada
meja rata, atau dengan memakai bilah bantu. Pemasangan bilah bantu
tersebut dapat dilaksanakan dengan dua cara, bergantung pada jenis busur

17
bilah. Untuk busur bilah universal, harga sudut dapat langsung dibaca,
sedangkan bagi busur bilah dengan kedudukan bilah bantu tegak lurus pelat
dasar, harga sudut merupakan penyiku dari harga sudut yang terbaca
(Rachim, 2001).

Start

BAB 3
TAHAPAN PRAKTIKUM
3.1 Skema Proses

Kalibrasi

Pengukuran
1.Menggunkan jangka sorong
2. Menggunakan micrometer
3. Menggunakan bevel protector dan mistar ingsut
ketinggian

Hasil pengukuran

Kesimpulan

Saran

end
Dokumen

18
1.1 Penjelasan Skema Proses

1. Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran


konvensional nilai penunjukan alat ukur dan bahan ukur dengan cara
membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur ke
standar nasional maupun internasional.
2. Proses pengukuran : disini kita melakukan 3 kali proses pengukuran
dengan menggunakan alat yang berbeda beda yaitu:
a. jangka sorong.
b. mikrometer skrup .
c. pengukuran sudut dan ketinggian.
3. Hasil pengukuran berisi: analisa hasil dari proses pengukuran
terhadap benda ukur yang kita lakukan.
4. Kesimpulan dan saran: berisi tentang hasil akhir dari analisis yang
kita lakukan dalam proses praktikum.
5. Dokumen berisi hasil akhir dari laporan praktikum.

19
BAB 4
DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Praktikum
4.1.1 Pengenalan Jangka Sorong (Modul A)
Tabel 4.1Hasil Pengukuran Jangka Sorong
Pengamat A Pengamat B
Objek ukur
J.S Nonius J.S Jam J.S Nonius J.S Jam
D1 10,50 11,25 10,40 10,42
Diameter
D2 10,44 11,25 10,45 10,44
L1 23,50 24,60 59,80 60,52
L2 50,56 60,50 49,35 50,22
Panjang L3 23,14 23,00 59,65 60,52
A 20,00 20,25 19,20 20,04
B 20,14 20,25 19,60 20,24
B1 56,68 57,30 57,25 57,28
B2 56,54 57,30 57,35 57,22
Lebar
E 23,34 23,25 23,25 23,24
F 22,76 24,60 23,65 23,64
K1 = L2- ( A+B ) 10,42 20 10,55 9,94
K2= B - ( E+F ) -25,96 -27,6 -27,3 -26,64
Selisih K1 dan K2 -15,54 -7,6 -16,75 -16,7

Tabel 4.2 Kelurusan sensor


Sisi Ukur Pengamat A & B
L Lurus/Rata
R Lurus/Rata

Tabel 4.3 Hasil Kalibrasi dengan Blok Ukur


Hasil Pengukuran
Tinggi Blok Toleransi Mistar
Pengamat A Pengamat B
Ukur (mm) Ingsut (m)
I o D I o D
0 51 0 0 0 0 0 0
5 51 5,12 5,2 5,4 5,12 5,2 5,4
10,9
10 51 6 10 10,20 10,96 10 10,22
15 51 15,2 15 15,40 15,2 15 15,42
20 51 20,2 20,4 20,32 20,2 20,4 20,30
25 51 25,4 25,2 25,10 25,4 25,5 25,11

20
Grafik 1.1 Kesalahan skala utama mistar ingsut
0.1

0.08

0.06
Y-Values
ketelitian jangka sorong nonius
0.04

0.02

0
0 10 20 30

Blok Ukur

4.1.2. Modul B Pengenalan Mikrometer


Tabel 4.4 Data Hasil pengukuran
Toleransi Pengamat A Pengamat B
Diameter
Maks Min Posisi I Posisi II Posisi I Posisi II
A 0,02 0,05 20,328 20,316 20,342 20,342
B 0,02 0,05 20,329 20,327 20,328 20,337
C 0,02 0,05 30,463 30,482 30,446 30,446
D 0,02 0,05 30,478 30,435 30,768 30,765
E 0,02 0,05 18,356 18,353 18,343 18,343
F 0,02 0,05 18,376 18,354 18,376 18,376
G 0,02 0,05 12,585 12,584 12,562 12,565
H 0,02 0,05 14,595 14,92 14,592 144,92
I 0,02 0,05 18,365 18,393 18,382 18,393
J 0,02 0,05 18,364 18,383 30,344 30,324
k 0,02 0,05 30,399 30,428 30,382 30,382
L 0,02 0,05 30,386 30,344 35,423 35,433
M 0,02 0,05 20,455 20,524 20,452 20,472
N 0,02 0,05 20,462 20,526 20,471 20,478
O 0,02 0,05 20,374 20,339 20,253 20,236

21
4.6 Tabel kalibrasi Mikrometer
Objek Hasil Pengukuran (Pengamat A & Pengamat B
Kedudukan
Nol

Sensor tetap
Harga=1,28 m
4
Kedataran
mulut ukur
Sensor gerak
Harga=1,6 m
5
Jumlah garis
Ukuran interferensi Ketidak
Optica Flat Landasan Landasan Sejajaran(m)
Kesejajaran tetap gerak
Mulut Ukur 25,00 0,64 0,96 -0,32
25,12 0,64 0,64 0
25,25 0,64 0,96 -0,32
25,37 0,64 0,96 -0,32

Tabel 4.2.3 Hasil Pengukuran Kebenaran Skala Utama Mikrometer


No Blok ukur Kesalahan No Blok ukur Kesalahan
1 20 20,504 6 5 5,550
2 10 10,351 7 6 6,563
3 9 9,502 8 7 7,555
4 8 8,325 9 2 2,501
5 3 3,506 10 4 4,509

22
Grafik 2.2 kesalahan kisar komulatif

Y-Values
Micrometer

00 0000
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65

Blok Ukur

4.1.3. Modul C Pengukuran Sudut dan Ketinggian


Tabel 4.3.1 Hasil Pengukuran Sudut
Objek Ukur Pengamat A Pengamat B
Sudut Nonius Nonius
A 69o40 69o40
B 79 o 78 o50
C 100o45 100o55
D 110o25 110o15
Jumlah 359o50 359o40
Teorotis 360o 360o
Kesalahan
Sudut 0.10 0.20

E=180-(a+b) 32o40 32o30


E=(d+c)-180 31o10 31o10
Selisih 1o30 1o20
Tabel 4.3.2 Hasil Pengukuran Ketinggian

Pengukuran
Ketinggian Pengamat A Pengamat B
(Dimensi)

Ketelitian 57 57,10 56,20 56,22


mampu ulang 57 57,10 56,22 56,08
Dimensi a diukur 10 57 57,10 56,10 56,14

23
57 57,10 56,16 56,18
kali 57,10 57,10 56,18 56,20
Rata-rata 57,06 56,168
Deviasi standar 0.051 0.052
Posisi 1 Posisi 2 Posisi 1 Posisi 2
A 57,10 57,00 56,78 56,80
B 75,40 75,40 74,80 75,00
C 35,18 35,24 35,30 35,30
D 23,80 23,78 23,74 23,76
E 33,20 33,22 33,04 33,02
F 11,00 11,16 11,04 11,05
D+E 57,00 57,00 56,78 56,78
A-D+E 0,10 0 0 0,02

4.2 Pembahasan
4.2.1 Modul A Pengenalan Jangka Sorong
Analisa Hasil Pengukuran
Dalam Praktikum ini kita melakukan pengukuran dengan
menggunakan jangka sorong nonius dan jangka sorong jam. Jangka sorong
nonius dengan ketelitian 0,05 mm dan jangka sorong jam 0,02 mm.
Kemudian kita melakukan pengukuran pada benda kerja dengan
menggunakan jangka sorong tersebut. Setelah selesai melakukan
pengukuran pada benda benda kerja kita mengkalibrasikan jangka sorong
tersebut dan juga memeriksa kebenaran skala utama dengan menggunakan
blok ukur. Apakah masih layak digunakan atau tidak
Hasil pengukuran dicatat di dalam tabel dan dapat dilihat apakah ada
perbedaan antara pengamatan 1 dengan yang ke 2. Hasil dari percobaan itu
ternyata ada perbedaan yang disebabkan oleh beda ketelitian dari kedua
jangka sorong tersebut dan juga kebersihan atau kerataan benda kerja itu
yang membuatJangka sorong tidak menempel dengan baik. Selain itu suhu
ruangan juga cukup panas.
4.2.2 Modul B Pengenalan Mikrometer
Analisa Hasil Pengukuran
Dalam praktikum kali ini kita melakukan pengukuran dengan
menggunakan micrometer.Micrometer yang digunakan adalah micrometer
dengan ukuran 0-25 mm dan 25-50 mm. kemudian kita menghitung
diameter maksimum dan minimum suatu benda kerja menurut
toleransinya.Dan hasil perhitungan tersebut dicatat di dalam tabel yang telah
disediakan.
Hasil pengukuran dicatat di dalam tabel dan dapat dilihat apakah ada
perbedaan antara pengamatan 1 dengan yang ke 2.Hasil dari percobaan itu
ternyata ada perbedaan yang disebabkan oleh kerataan dan kebersihan benda
kerja yang membuat mulut ukur micrometer tidak menempel dengan baik

24
dan juga suhu ruangan yang cukup panas.
4.2.3 Modul C Pengukuran Sudut dan Ketinggian
Analisa Hasil Pengukuran

Dalam praktikum ini menggunakan jenis alat ukur yaitu alat ukur
sudut atau bevel protektor dan juga menggunakan mistar ingsut ketinggian.
Pada saat pengukuran dapat dilihat ukuran-ukuran sudut dan
ketinggian dari benda kerja yang sudah di sediakan, namun pada saat
mengukur sudut ada kesalahan yaitu benda tersebut sudutnya tidak sesuai
dengan teoritis yang sudah ada itu di sebabkan ketelitian pada saat
pengukuran tidak optimal, dan juga dapat di sebakan oleh alat ukur yang
kurang baik, suhu ruangan yang sangat panas hampir mencapai 35C dan itu
menyebabkan benda kerja bisa mengkerut dan juga suhu tersebut dapat
menyebabkan konsentrasi dari si pengukur menjadi terganggu. Oleh karena
itu pada saat nanti pengukuran usahakan situasi dan kondisi untuk
melakukan pengukuran baik dan pada saat mengukur merasa nyaman.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
a.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum diatas terjadi banyak kesalahan yang dikarenakan
dari pembacaaan skala yang kurang tepat, kesalahan skematik, dan banyak
kesalahan lainnya untuk itu dalam melakukan pengukuran kita harus benar
benar memahami berbagai alat pengukuran yang kita gunakan dan juga kita
harus melakukan kalibrasi pada alat tersebut serta juga memperhatikan suhu
pada ruangan.
a.2 Saran
Dalam praktikum ini diharapkan untuk benar benar memahami segala
jenis pengukuran untuk menjadi ilmu saat berada di dunia kerja.

DAFTAR PUSTAKA
Modul praktikum Metrologi Industry. Jurusan Teknik Mesin. Fakultas
Teknik. UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD
YANIhttp://www.scribd.com/doc/47930001/32/Alat-Ukur-Tinggi-Height-

25
Gauge
http://en.wikipedia.org/wiki/Protractor
http://mahasiswa-sibuk.blogspot.com/2012/01/jangka-sorong.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Micrometrer
http://prmpramono.wordpress.com

26
LAMPIRAN
1. Adakah perbedaan antara hasil pengukuran dengan menggunakan
jangka sorong nonius dengan hasil pengukuran menggunakan
jangka sorong jam ? jelaskan mengapa demikian !
- Ada, karena perbedaan ketelitian. Dimana jangka sorong nonius
ketelitiannya 0,05 mm, sedangkan jangka sorong jam 0,02
mm.Sehingga ketelitian tiap jangka sorong dalam menentukan ukuran
berbeda.
2. Bandingkan hasil pengukuran pengamat A dengan hasil pengukuran
pengamat B. Jika ada perbedaan terangkan mengapa demikian !
- Ya, ada perbedaan. Bisa karena adanya faktor kesalahan pengamatan,
karena suhu di ruangan . Sehingga mengganggu konsentrasi. Beda
penempatan jangka sorong pada benda kerja sehingga hasilnya
3. Apakah A + D2 + B = L2 dan apakah E + D2 + F = B2 ? Terangkan
berbeda dan juga karena benda kerja tersebut tidak rata.
bila tidak sama!
- Tidak sama, dari ketelitian, dari kebersihan benda kerja tersebut
bisa mempengaruhi hasil pengukuran sehingga hasilnya berbeda.

4. (Kalibrasi jangka sorong) apakah pengaruh ketidak lurusan batang


utama pada hasil pengukuran ? Jelaskan !
- Karena jika batang utama tidak lurus akan mempengaruhi hasil
pengukuran. Sehingga hasil pengukuran benda kerja tidak akan
sesuai dengan ukuran asli benda kerja tersebut.

Gambar benda kerja


Modul A pengenalan jangka sorong

27
Modul B pengenalan micrometer

Modul C pengukuran sudut dan ketinggian

28
29