Anda di halaman 1dari 6

NAMA : M.

QORRIE RAFFAEL
KELAS : VII. J

SEJARAH KERAJAAN BALI

Sejarah Kerajaan Bali ~ Kerajaan Bali Kuno terletak di Pulau Bali yang berada di sebelah
timur Provinsi Jawa Timur. Kerajaan Bali mempunyai hubungan sejarah yang erat dengan
kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur, seperti kerajaan Singasari dan
Majapahit. Nah, pada kesempatan kali ini Zona Siswa akan menampilkan penjelasan
mengenai kehidupan politik, ekonomi, dan sosial-budaya dari Kerajaan Bali. Semoga
bermanfaat. Check this out!!!

A. Kehidupan Politik

Berita tertua mengenai Bali bersumber dari Bali sendiri, yakni berupa beberapa buah cap
kecil dari tanah liat yang berukuran 2,5 cm yang ditemukan di Pejeng, Bali. Cap-cap itu
dibuat pada abad ke-8 M. Adapun prasasti tertua di Bali berangka tahun 882 M,
memberitakan perintah membuat pertapaan dan pasanggrahan di Bukit Cintamani. Di dalam
prasasti tersebut tidak ditulis nama raja yang memerintah pada masa itu. Demikian juga
prasasti yang berangka tahun 911 M, yang isinya memberikan izin kepada penduduk Desa
Turunan untuk membangun tempat suci bagi pemujaan Bhattara Da Tonta.

Munculnya Kerajaan Bali dapat diketahui dari prasasti Blancong (Sanur) yang berangka
tahun 914 M. Prasasti tersebut ditulis dengan huruf Pranagari dan Kawi, sedang bahasanya
ialah Bali kuno dan Sanskerta. Raja Bali yang pertama ialah Kesari Warmadewa. Ia bertakhta
di istana Singhadwala dan ialah raja yang mendirikan Dinasti Warmadewa. Dua tahun
kemudian, Kesari Warmadwa digantikan oleh Ugrasena (915-942). Raja Ugrasena bertakhta
di istana Singhamandawa. Masa pemeritahannya sezaman dengan pemerintahan Empu
Sendok dari keluarga Isana di Jawa Timur (Baca: Kerajaan Mataram Dinasti Isana). Raja
Ugrasena meninggalkan 9 prasasti, yang umumnya berisi tentang pembebasan pajak untuk
daerah-daerah tertentu.

Raja yang memerintah setelah Ugrasena adalah Aji Tabanendra Warmadewa ( 955-967). Raja
ini memerintah bersama-sama permaisurinya yang bernama Sri Subadrika Dharmadewi.
Pengganti berikutnya ialah Jaya singha Warmadewa (968-975). Raja ini membangun sebuah
pemandian dari sebuah mata air yang ada di Desa Manukaya. Pemandian itu disebut Tirtha
Empul yang terletak di dekat Tampaksiring.

Raja Jayasingha digantikan oleh Janasadhu Warmadewa (975-983). Pada tahun 983 muncul
seorang raja wanita yang bernama Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Pengganti Sri Wijaya
Mahadewi ialah Udayana Warmadewa. Ia memerintah bersama permaisurinya, yaitu
Gunapriya Dharmapatni yang lebih dikenal sebagai Mahendradatta. Udayana memerintah
bersama permaisurinya sampai tahun 1001 M, sebab pada tahun itu Mahendradatta
meninggal. Udayana meneruskan pemerintahannya sampai tahun 1011 M.

Raja Bali selanjutnya adalah Udayana. Berdasarkan namanya Udayana diduga merupakan
raja yang besar wibawa dan pengaruhnya. Udayana berarti penyampai wahyu, seperti
matahari yang memberikan sinar terang kepada umat manusia. Udayana menikah dengan
Mahendradatta (ada yang menyebutnya Sri Gunaprya Darmapatni), saudara perempuan
Darmawangsa Teguh dari Medang Kamulan di Jawa Timur. Perkawinan mereka
membuahkan beberapa putra: Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Airlangga sebagai
anak sulung menikahi salah seorang puteri Raja Darmawangsa Teguh (Airlangga mengawini
sepupunya sendiri). Setelah Dharmawangsa tewas akibat pemberontakan Wura-wuri,
Airlangga mengambil alih kekuasaan Medang Kamulan dan memindahkan ibukota ke
Kahuripan.

Setelah meninggal Udayana dimakamkan di Banuwka, ia digantikan oleh puteranya,


Dharmawangsa Marakata. Marakata wafat pada tahun 1025 M dan dimakamkan di Camara di
kaki Gunung Agung. Sedangkan ibunya, Mahendradatta, wafat pada tahun 1010 dan
dimakamkan di Burwan dekat Gianyar yang diarcakan sebagai Dewi Durga.

Sepeninggal Marakata, takhta Bali dipegang oleh Anak Wungsu, adiknya. Anak Wungsu
mulai memerintah pada 1049. Selama pemerintahannya, ia meninggalkan 28 buah prasasti, di
antaranya Prasasti Gua Gajah, Gunung Penulisan, dan Sangit. Menurut pemberitaan prasasti-
prasasti tersebut, Anak Wungsu dicintai rakyatnya dan dianggap penjelmaan Dewa Wisnu. Ia
memerintah selama 28 tahun, sampai tahun 1077, dan wafat pada tahun 1080 M dan
dimakamkan di Candi Padas Tampaksiring.
Anak Wungsu kemudian digantikan oleh Sri Maharaja Walaprabu yang diduga memerintah
tahun 1079-1088. Berbeda dengan raja-raja Bali sebelumnya yang memakai gelar Sang Ratu
atau Paduka Haji, Walaprau malah menggunakan gelar Sri Maharaja yang berbau Sansekerta.
Raja yang terkenal dari Bali adalah Jayapangus yang berkuasa dari tahun 1177 hingga 1181.
Sebanyak 35 prasasti tentang Jayapangus telah ditemukan. Dalam menjalankan roda
pemerintahannya, Jayapangus dibantu oleh dua orang permasyurinya, yaitu Sri Prameswari
Indujaketana dan Sri Mahadewi Sasangkajacinhna. Kitab yang digunakan sebagai hukum
adalah Manawakamandaka, yang sering disebut pula Manawasasana Dharma.
Raja Bali yang terakhir adalah Paduka Bhatara Parameswara Sri Hyang ning Hyang
Adedewalancana (1260-1324). Tahaun 1282, Bali diserang oleh raja Singasari, Kretanegara.
Setelah itu Bali berada dalan kekuasaan Majapahit. Pada masa runtuhnya Majapahit banyak
bangsawan, pendeta, pedagang, seniman, dan rakyat lainnya yang pindah ke Bali untuk
menghindari islamisasi di Jawa. Maka dari itu, hingga sekarang mayoritas penduduk Bali
penganut Hindu sebagai pengaruh Majapahit yang Hindu.

B. Kehidupan Ekonomi

Kegiatan ekonomi masyarakat Bali dititikberatkan pada sektor pertanian. Hal itu didasarkan
pada beberapa prasasti Bali yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bercocok
tanam. Beberapa istilah itu, antara lain sawah, parlak (sawah kering), kebwan (kebun), gaga
(ladang), dan kasuwakan (irigasi).

Di luar kegiatan pertanian pada masyarakat Bali juga ditemukan kehidupan sebagai berikut.
1. Pande (Pandai = Perajin)
Mereka mempunyai kepandaian membuat kerajaan perhiasan dari bahan emas dan perak,
membuat peralatan rumah tangga, alat-alat pertanian, dan senjata.
2. Undagi
Mereka mempunyai kepandaian memahat, melukis, dan membuat bangunan.
3. Pedagang
Pedagang pada masa Bali Kuno dibedakan atas pedagang laki-laki (wanigrama) dan
pedagang perempuan (wanigrami). Mereka sudah melakukan perdagangan antarpulau
(Prasasti Banwa Bharu).

C. Kehidupan Sosial-Budaya

Struktur masyarakat yang berkembang pada masa Kerajaan Bali Kuno didasarkan pada hal
sebagai berikut.
1. Sistem Kasta (Caturwarna)
Sesuai dengan kebudayaan Hindu di India, pada awal perkembangan Hindu di Bali
sistem kemasyarakatannya juga dibedakan dalam beberapa kasta. Namun, untuk
masyarakat yang berada di luar kasta disebut budak atau njaba.
2. Sistem Hak Waris
Pewarisan harta benda dalam suatu keluarga dibedakan atas anak laki-laki dan anak
perempuan. Anak laki-laki memiliki hak waris lebih besar dibandingkan anak
perempuan.
3. Sistem Kesenian
Kesenian yang berkembang pada masyarakat Bali Kuno dibedakan atas sistem kesenian
keraton dan sistem kesenian rakyat.
4. Agama dan Kepercayaan
Masyarakat Bali Kuno meskipun sangat terbuka dalam menerima pengaruh dari luar,
mereka tetap mempertahankan tradisi kepercayaan nenek moyangnya. Dengan demikian,
di Bali dikenal ada penganut agama Hindu, Buddha, dan kepercayaan animisme.

Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Bali


Berikut akan saya jelaskan peninggalan dari kerajaan Bali yang paling
besar dan juga menarik sampai sekarang pun ramai di kunjungi. Berikut
sejarah dan perkembangan dari peninggalan kerajana bali Hindu-Budha:

1. Pura Goa Gajah

Gambar Pura Goa Gajah

Jika anda berkunjung ke Bali, maka sudah seharusnyaanda datang ke Goa


Gajah yang merupakan suatu peninggalan terunik dair keajaan bali, dari
mulai kita bisa meninkamti keindahannya, kita juga bisa meninkmati
suasanya yang sangat sejuk dan juga damai, berwisata ke tempat seperti
ini yang di sucikan oleh para penganut agamanya tersebut ini
memberikan banyak nilai spiritual dan juga terasa sejarahnya yang
pernah ada dan juga sangat berharga.

Lokasi dari peninggalan bersejarah ini yaitu terletak di sebuah Desa yang
dinamakan dengan Desa Bedulu, di Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten
Gianyar dan jaraknya sekitar 26 km dari Kota Denpasar Bali. Lokasi yang
tepatnya sangat di sebut unik yaitu di sebuah tepi jurang dan juga
merupakan pertemuan dari sebuah sungai kecil yang tepatnya memang
ada di Desa tersebut.

Asal muasal dari nama Pura Goa Gajah ini yaitu : kata Goa Gajah di
percaya oleh mereka dari asal kata yang muncul dalam suatu kitab
Negarakertagama yang kata nya sih dari kata LWA GAJAH yang artinya itu
berarti Wihara dimana tempat pemujaan para Bhiksu waktu itu yang
tentunya dari agama Budha. Lalu pada Lontar Negarakertagama yang
telah di susun oleh Sang Mpu Prapanca pada tahun ke 1365 masehi di
dapati sebuah nama tersebut. Sedangkat kata Lwa juga berarti sungai,
maka dari itu di simpulkanlah bahwa nama dari Pura Gowa Gajah ini
menjadi Pertapaan yang terletak di tepi sungai.
Jika kita simak lebih dalam lagi, maka kita akan sampai pada sejarah pura goa gajah ini, goa
ini di bangun pada sekitaran abad ke 11 m, tepatnya saat Raja Sri Astasura Ratna Bumi
Banten yang sedang meduduki tahta di Kerajaan Bali ini, yang dulunya katanya tempat ini
digunakan oleh beliau untuk bertapa, dan selain dari Goa ini, ada juga Tujuh Kolah Suci
dengan tujuh Patung Bidadari yang terlihat memancarkan airnya di sekitara gua.

Patung patung ini konon katanya merupakan sebuah symbol dari tujuh sungai yang suci
tempat lahirnya adanya agama corak hindu dan juga budha yang ada di India sekarang.
Memang banyak sekali yang menjadi peninggalan dari kerjaan bali ini yang tentunya benda
benda bersejarah ini hanya dapat di lihat di kompleks yang mereka anggap suci ini.

Gambar 7 patung Bidadari di Kolam SUCI

Apa kalian penasaran apa saja isi dari Pura Goa Gajah ini? Ya berikut di bawah ini
penjelasannya:

1. Kompleks Bangunan suci Hindu yang dibangun pada sekitar abad yang ke 10 masehi
2. Bangunan suci Hindu yang berbentuk pura pura yang kecil atau di sebut dengan Pelinggih
3. Bangunan peninggalan Budha yang kira kira di bangun pada abad ke 8 bersamaan juga
dengan di bangunnya CANDI BOROBUDUR di Jawa Tengah.
4.3 LINGGA Besar yang ada di bagian Timur Goa ini, berikut gambarnya
Gambar 3 Lingga Besar

5. ARCA GANESHA yang ada di sebelah Barat


6. KELUWAN yang ada di posisi Tengahnya

Gambar Tengah tengah dari Goa Gajah

7. TEBEN di depan Gua Gajah tersebut yang juga merupakan patung yang bentuknya Tubuh
Manusia dan kepalanya Gajah, anak dari SIWA dan PARWATI
8. Kolam Suci yang ada 7 Bidadari nya.