Anda di halaman 1dari 105

ANALISIS KINERJA SISTEM DISTRIBUSI JARINGAN

AIR BERSIH PDAM TIRTA MEULABOH


(Studi Kasus Pada Zona Layanan Kecamatan
Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat)

TESIS

Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat


Yang Diperlukan Untuk Memperoleh
Ijazah Magister Teknik

Oleh

CUT SUCIATINA SILVIA


NIM. 1209200060049

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK SIPIL


PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM-BANDA ACEH
2014
PENGESAHAN TESIS

Judul Tesis : ANALISIS KINERJA SISTEM DISTRIBUSI JARINGAN


AIR BERSIH PDAM TIRTA MEULABOH (Studi Kasus
Pada Zona Layanan Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten
Aceh Barat)

Nama Mahasiswa : Cut Suciatina Silvia


NIM : 1209200060049
Program Studi : Magister Teknik Sipil
Bidang Studi : Manajemen Sumberdaya Air

Darussalam, Desember 2014


Disetujui Oleh,
Komisi Pembimbing
Ketua, Anggota,

Dr. Ir. Masimin, MSc Dr. Azmeri, ST, MT


NIP. 195209081986031001 NIP. 197308201998032001

Diketahui/Disahkan oleh,

Prodi Magister Teknik Sipil Program Pascasarjana


Universitas Syiah Kuala Universitas syiah Kuala
Ketua, Direktur,

Dr. Ir. M. Isya, M.T Prof. Dr. Ir. Darusman, M. Sc


NIP. 196204111989031002 NIP. 196210091987021001

i
PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Cut Suciatina Silvia
NIM : 12092000060049
Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa :
1. Di dalam tesis saya tidak terdapat bagian atau satu kesatuan yang utuh dari
tugas akhir/skripsi, tesis, disertasi, buku atau bentuk lain yang saya kutip dari
karya orang lain tanpa saya sebutkan sumbernya yang dapat dipandang
sebagai tindakan penjiplakan.
2. Sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat reproduksi karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain yang dijadikan
seolah-olah karya asli saya sendiri.
3. Apabila ternyata terdapat dalam tesis saya bagian-bagian yang memenuhi
unsur penjiplakan, maka saya menyatakan kesediaan untuk dibatalkan
sebagian atau seluruhnya hak atas gelar kesarjanaan saya

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk dapat dipergunakan
seperlunya.

Darussalam, Desember 2014


Saya yang membuat pernyataan,

Cut Suciatina Silvia


NIM. 1209200060049

ii
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang
telah melimpahkan karunia-Nya sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan
pada waktunya.
Tesis ini berjudul ANALISIS KINERJA SISTEM DISTRIBUSI
JARINGAN AIR BERSIH PDAM TIRTA MEULABOH (Studi Kasus Pada Zona
Layanan Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat) , ditulis dalam
rangka melengkapi dan memenuhi salah satu syarat yang diperlukan untuk
menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Magister Teknik Sipil, Program
Pascasarjana Universitas Syiah Kuala.
Dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan tugas akhir ini, penulis telah
memperoleh bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak terutama komisi
pembimbing. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang tulus kepada
Bapak Dr. Ir. Masimin, MSc sebagai ketua komisi pembimbing dan Ibu
Dr. Azmeri, ST, MT sebagai anggota komisi pembimbing.
Selanjutnya, pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan terima kasih
kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Darusman, M. Sc selaku Direktur Program Pasca
Sarjana Unsyiah;
2. Bapak Dr. Ir. Muhammad Isya, M.T selaku Ketua Prodi Magister Teknik
Sipil Unsyiah;
3. Bapak Dr. Ir. Mochammad Afifuddin, M.Eng selaku Sekretaris Prodi
Magister Teknik Sipil Unsyiah;
4. Ibu Dr. Ir. Eldina Fatimah, M. Sc, selaku Ketua Bidang Manajemen
Sumberdaya Air Prodi Magister Teknik Sipil Unsyiah;
5. Tenaga pengajar Program Studi Magister Teknik Sipil Unsyiah;
6. Bapak pembahas, Dr. Ir. Alfiansyah Yulianur BC dan Ibu Dr. Ir. Eldina
Fatimah, M. Sc yang telah memberikan banyak masukan untuk perbaikan
tesis ini;

iii
7. Ayahanda HT. Idris Sardi, Ibunda Hj. Cut Nurhayati yang selalu
memberikan doa dan dukungan kepada penulis dengan ikhlas dan suami
tercinta Aharis Mabrur, SHI, serta anak saya Najwa Harvyanda yang
selalu memberikan motivasi dan doa yang tiada henti untuk keberhasilan
penulis.
8. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Magister Teknik Sipil khususnya
bidang Manajemen Sumber Daya Air angkatan 2012 yang tidak dapat saya
sebutkan satu persatu, dimana telah memberikan kontribusi dan
kebersamaannya sejak awal perkuliahan hingga akhir penulisan tesis ini.
Akhirnya kepada Allah SWT jugalah penulis berserah diri dan berharap
semoga tulisan ini dapat berguna bagi pembaca, amin.

Darussalam, Desember 2014


Penulis,

Cut Suciatina Silvia


NIM. 1209200060049

iv
ANALISIS KINERJA SISTEM DISTRIBUSI JARINGAN
AIR BERSIH PDAM TIRTA MEULABOH
(Studi Kasus Pada Zona Layanan Kecamatan
Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat)

Oleh :
Cut Suciatina Silvia
NIM. 1209200060049

Komisi Pembimbing :
1. Dr. Ir. Masimin, MSc
2. Dr. Azmeri, ST, MT

ABSTRAK

Air bersih merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia oleh karena itu pemanfaatan
kebutuhan air pun tidak terbatas. PDAM Tirta Meulaboh sebagai perusahaan daerah
pengelola air bersih belum mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat,
dimana tingkat pelayanan yang dihasilkan belum berjalan dengan baik dan optimal.
Untuk itu perlu dilakukan studi terkait dengan kinerja sistem pelayanan distribusi air
bersih, dimana studi ini bertujuan untuk melihat kondisi nyata dari kinerja jaringan
distribusi air bersih dan permasalahan kehilangan air yang terjadi pada PDAM Tirta
Meulaboh. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei dan
kuantitatif yang didukung oleh data primer dan data sekunder. Berdasarkan hasil analisis
didapat debit pemakaian rata-rata yang dihasilkan hanya 106,93 liter/orang/hari, dimana
kekurangan kebutuhan air bersih rata-rata setiap pelanggan >23 liter/orang/hari. Analisis
dari tingkat kehilangan air pada tahun 2013, didapat kehilangan air mencapai 35,07%
dengan kehilangan air 783.967,00 m3/tahun. Berdasarkan hasil analisis program NRW
dengan metode ILI didapat nilai ILI sebesar 38,5, dimana menurut Tabel Matriks Target
disimpulkan bahwa kebocoran atau kehilangan air di zona layanan PDAM Tirta
Meulaboh Kecamatan Johan Pahlawan termasuk ke dalam golongan D dengan ILI >16
dengan tingkat kebocoran >200 liter/sambungan/hari. Dari kondisi tersebut maka didapat
kehilangan air yang tidak dapat diuangkan adalah sebesar 403.106 m3/tahun atau sebesar
51,42%. Sedangkan hasil analisis terhadap kinerja sistem jaringan distribusi air bersih,
didapat tingkat keandalan sebesar 58,59% dengan lamanya sistem berada pada kondisi
gagal selama 4,65 bulan dan rata-rata frekuensi terjadinya kegagalan sebanyak 2 kali, dan
rata-rata terjadinya defisit sebesar 12,55%, maka sistem kinerja jaringan dikatakan belum
memuaskan.

Kata Kunci : Kinerja jaringan distribusi, Kehilangan Air, Non Revenued Water

v
ANALYSIS OF PERFORMANCE OF FRESH WATER NETWORK
DISTRIBUTION SYSTEM OF PDAM TIRTA MEULABOH
(Case Study in Service Zone of Johan Pahlawan
Sub-district Aceh Barat District)

by:
Cut Suciatina Silvia
Student Reg.No. 1209200060049

Committee of Supervisory:
1. Dr. Ir. Masimin, MSc
2. Dr. Azmeri, ST, MT

ABSTRACT

Fresh water is a basic human need, hence, utilization of water needs was not limited.
PDAM Tirta Meulaboh as local government water management company has not
been able to fullfill the needs of fresh water for the community, where the level of
service that is generated has not run properly, neither optimally. Therefore, it is
necessary to conduct studies related to the performance of the water distribution
service system, where the study was aimed to see the real circumstance of the
performance of water distribution network and the problem of water loss that occurs
in PDAM Tirta Meulaboh. The method that is applied in this research is survey and
quantitative methods which is supported by the primary and secondary data. Based on
the analysis results obtained that the discharge of average usage which is produced is
just in 106.92 liters/person/day, where the shortage of fresh water needs of each
customer on average >23 liters/person/day. Analysis of the rate of water loss in 2013
obtained that water loss reached 35,07% with water loss 783.967,00 m3/year. Based
on the results of the NRW program analysis with ILI method obtained that ILI value
of 38,5, which according to the Table of Target Matrix concluded that leakage or loss
of water in service zone of Johan Pahlawan of PDAM Tirta Meulaboh included in the
group D with ILI >16 and the leakage rate of >200 liters/connection/day. From these
circumstances, water loss that can not be cashed of 403.106 m3/year or 51,42%.
While the results of the analysis of the performance of fresh water distribution
network system, obtained that 58.59% reliability level for the duration of the system
is in the failed state for 4,65 months and the average frequency of occurrence of
failure as much as 2 times, then the system is not yet satisfactory network
performance.

Keywords: Performance of distribution network, Water Loss, Non Revenued Water

vi
v
DAFTAR ISI

PENGESAHAN .......... i
PERNYATAAN .................. ii
KATA PENGANTAR ........ iii
ABSTRAK ........................... v
ABSTRACT ......................... vi
DAFTAR ISI ............................ vii
DAFTAR TABEL ............................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ........................ x

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................ 3
1.3 Maksud Penelitian ......................................................................... 3
1.4 Tujuan Penelitian ........................................................................ 3
1.5 Metodologi dan Ruang Lingkup Penelitian ................................ 4
1.6 Hasil Penelitian dan Manfaat Hasil Penelitian ............................ 5

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN......................................................... 6


2.1 Umum............................................................................................ 6
2.2 Proyeksi Jumlah Penduduk ... ...................................................... 6
2.3 Persyaratan Dalam Penyediaan Air Bersih.................................... 7
2.3.1 Persyaratan kebutuhan air bersih........................................ 7
2.3.2 Persyaratan kuantitas (debit)............................................... 9
2.3.3 Persyaratan kontinuitas....................................................... 9
2.3.4 Persyaratan kecepatan aliran dan tekanan air.................... 10
2.3.5 Fluktuasi kebutuhan air bersih ......................................... 11
2.3.6 Kehilangan air................................................................... 12
2.4 Sampling Pelanggan ..................................................................... 16
2.5 Sistem Distribusi dan Sistem Pengaliran Air Bersih.................... 17
2.5.1 Sistem distribusi air bersih................................................ 17
2.5.2 Sistem pengaliran air bersih.............................................. 18
2.6 Kinerja Pengoperasian Jaringan Air Bersih................................. 19
2.6.1 Keandalan (reliability)...................................................... 19
2.6.2 Kelentingan (resiliency).................................................... 20
2.6.3 Kerawanan (vulnerability)................................................ 22
2.7 Penelitian Terdahulu ................................................................. 23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN...................................................... 26


3.1 Pengenalan Daerah Studi ......................................................... 26
3.1.1 Gambaran umum PDAM Tirta Meulaboh ..................... 26
3.1.2 Letak Geografis PDAM Tirta Meulaboh........................ 27
3.1.3 Lokasi, waktu dan jenis penelitian.................................. 28

vii
3.2 Metode Pengumpulan Data ....................................................... 28
3.2.1 Pengumpulan data primer ............................................. 29
3.2.2 Pengumpulan data sekunder .......................................... 30
3.3 Prosedur Penelitian .................................................................... 30
3.4 Proses Pengolahan dan Analisis Data Penelitian ........................ 32
3.4.1 Kajian terhadap daerah studi ......................................... 32
3.4.2 Pengolahan dan analisis data primer .............................. 32
3.4.3 Pengolahan dan analisis data sekunder .......................... 34

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................... 38


4.1 Hasil Kajian Daerah Studi PDAM Tirta Meulaboh .................. 39
4.1.1 Ketersediaan sumber air baku ........................................ 39
4.1.2 Kondisi bangunan intake ................................................ 39
4.1.3 Kapasitas produksi WTP Lapang dan reservoir ............ 40
4.1.4 Sistem distribusi dari WTP Lapang................................ 40
4.2 Hasil Analisis Data Primer ....................................................... 41
4.2.1 Hasil analisis debit air .................................................... 41
4.2.2 Hasil analisis tekanan air................................................. 44
4.2.3 Hasil analisis kontinuitas aliran ..................................... 46
4.2.4 Hasil analisis fluktuasi kebutuhan air bersih ................. 46
4.3 Hasil Analisis Data Sekunder ................................................... 48
4.3.1 Hasil analisis proyeksi jumlah penduduk........................ 48
4.3.2 Hasil analisis kebutuhan air............................................. 49
4.3.3 Hasil analisis tingkat kehilangan air .............................. 53
4.3.4 Hasil analisis neraca air .................................................. 55
4.3.5 Hasil analisis NRW (Non Revenued Water) .................. 57
4.3.6 Hasil analisis keandalan, kelentingan dan kerawanan..... 59
4.4 Hasil Analisis Kinerja Jaringan Distribusi Air Bersih .............. 61

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN........................................................ 63


5.1 Kesimpulan ............................................................................. 63
5.2 Saran ........................................................................................ 64

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 65

LAMPIRAN

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Gambar A.3.1 Peta Lokasi Instalasi Pengolahan Air Bersih PDAM Tirta
Meulaboh .............................................................................. 67
Gambar A.3.2 Peta Lokasi Intake PDAM Tirta Meulaboh untuk WTP Lapang
di Dusun Pasie Mesjid ........................................................... 68
Gambar A.3.3 Peta Jaringan Distribusi Air Bersih PDAM Tirta Meulaboh 69
Gambar A.3.4 Lokasi Intake PDAM Tirta Meulaboh di Dusun Pasie Mesjid 70
Gambar A.3.5 Lokasi WTP PDAM Tirta Meulaboh di Lapang .................. 70
Gambar A.3.6 Lokasi Reservoir WTP PDAM Tirta Meulaboh di Lapang .. 71
Gambar A.3.7 Lokasi Pompa WTP PDAM Tirta Meulaboh di Lapang....... 71
Gambar A.3.8 Meteran Air Pelanggan.......................................................... 72
Gambar A.3.9 Pembacaan Debit Air di Meter Pelanggan ............................ 73
Gambar A.3.10 Pembacaan Waktu untuk Analisis Tekanan Air ................... 74
Tabel B.3.1 Kebutuhan Sarana dan Prasarana Berdasarkan Jumlah Penduduk
Kecamatan Johan Pahlawan Tahun 2009-2013 ..................... 75
Tabel B.3.2 Data Eksisting PDAM Tirta Meulaboh IPA Lapang ............. 76
Tabel B.3.3 Data Unit Air Baku PDAM Tirta Meulaboh IPA Lapang ..... 77
Tabel B.3.4 Data Unit Produksi PDAM Tirta Meulaboh IPA Lapang...... 78
Tabel B.3.5 Data Unit Distribusi PDAM Tirta Meulaboh IPA Lapang .... 79
Tabel B.3.6 Data Jumlah 99 Sampel Pelanggan yang Berada di Zona layanan
Kecamatan Johan Pahlawan................................................... 80
Tabel B.3.7 Total Penggunanan Debit Air Pada Zona Layanan 1............. 81
Tabel B.3.8 Total Penggunanan Debit Air Pada Zona Layanan 2............. 82
Tabel B.3.9 Total Penggunanan Debit Air Pada Zona Layanan 3............. 83
Tabel B.3.10 Tinggi Tekanan Pada Zona Layanan 1 .................................. 84
Tabel B.3.11 Tinggi Tekanan Pada Zona Layanan 2 .................................. 85
Tabel B.3.12 Tinggi Tekanan Pada Zona Layanan 3 .................................. 86
Tabel B.3.13 Fluktuasi Kebutuhan Air Pada Zona Layanan 1 ................... 87
Tabel B.3.14 Fluktuasi Kebutuhan Air Pada Zona Layanan 2 .................... 88
Tabel B.3.15 Fluktuasi Kebutuhan Air Pada Zona Layanan 3 .................... 89
Tabel B.3.16 Data Debit Air Tahun 2013 Dari 99 Sampel Pelanggan ........ 90
Tabel C.4.1 Fluktuasi Kebutuhan Air Rata-Rata Pada Zona Layanan 1 ... 91
Tabel C.4.2 Fluktuasi Kebutuhan Air Rata-Rata Pada Zona Layanan 2 ... 92
Tabel C.4.3 Fluktuasi Kebutuhan Air Rata-Rata Pada Zona Layanan 3 ... 93
Tabel C.4.4 Kebutuhan Sarana dan Prasarana Berdasarkan Jumlah Penduduk
Kecamatan Johan Pahlawan Tahun 2014-2032 ..................... 94
Tabel C.4.5 Tingkat Layanan dan Kegagalan Pelayanan Jaringan Distribusi
Air Bersih Tahun 2013........................................................... 95

ix
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air bersih merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia, oleh karena itu
pemanfaatan kebutuhan air pun tidak terbatas. Dalam upaya penyediaan air bersih,
sistem distribusi merupakan hal yang sangat penting, karena tujuan dari sistem
distribusi adalah menyalurkan air bersih dari instalasi pengolahan ke masyarakat
dengan kualitas, kuantitas dan kontinuitas yang diinginkan serta tekanan yang
mencukupi.
Kebutuhan air bersih akan meningkat seiring dengan adanya pertambahan
penduduk. Penanganan akan pemenuhan kebutuhan air bersih dapat dilakukan
dengan berbagai cara, disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang ada. Dengan
sistem pengolahan dan sistem jaringan perpipaan yang ada, PDAM Tirta
Meulaboh sebagai perusahaan daerah pengelola air bersih seharusnya mampu
untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat. Evaluasi dari BPPSPAM,
2009 menyatakan bahwa kinerja dari PDAM Tirta Meulaboh tergolong pada
kondisi PDAM yang tidak sehat, dimana kinerja teknis PDAM, kinerja
manajemen dan kinerja keuangannya dikatakan rendah.
Pelayanan untuk kebutuhan air bersih masyarakat Kecamatan Johan
Pahlawan, sumber air baku yang digunakan adalah berasal dari sungai Krueng
Meureubo. Sungai Krueng Meureubo sebagai sumber air baku tersedia dalam
jumlah cukup besar yang memiliki debit rata-rata sungai sebesar 100 m/detik,
dimana jumlah debit air yang baru dimanfaatkan oleh PDAM Tirta Meulaboh
untuk Kecamatan Johan Pahlawan melalui Instalasi Pengolahan Air (IPA) Lapang
adalah sebesar 80 liter/detik.
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa kinerja PDAM Tirta Meulaboh
dari segi teknis, yang difokuskan hanya pada wilayah kota Meulaboh yaitu

1
Kecamatan Johan Pahlawan yang memiliki luas kecamatan 44,91 km, karena
tingkat pelayanan jaringan distribusi air bersih yang dihasilkan oleh PDAM Tirta
Meulaboh terhadap pelanggan di wilayah Kecamatan Johan Pahlawan belum
berjalan dengan baik dan optimal (Syahputra, 2005). Belum baik dan belum
optimalnya tingkat pelayanan yang diberikan oleh PDAM Tirta Meulaboh sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pertumbuhan penduduk, karakteristik
masyarakat, tingkat ekonomi dan status sosial masyarakat yang beragam, perilaku
atau pola penggunaan air oleh masyarakat serta terjadinya tingkat kehilangan air
yang cukup tinggi.
Kehilangan air merupakan tolak ukur penting terhadap optimal dan
tidaknya sistem layanan penyediaan air bersih yang dilakukan oleh PDAM, karena
jika semakin tinggi angka kehilangan air maka akan semakin besar beban kerugian
yang dialami oleh PDAM maupun konsumen. Kerugian yang diderita oleh PDAM
dapat berupa kerugian secara ekonomis dan finansial, sedangkan kerugian yang
diderita konsumen berupa terganggunya kapasitas dan kontinuitas terhadap
pelayanan. Untuk mengurangi dan meminimalkan tingkat kehilangan air tersebut
digunakan metode pengendalian NRW (Non Revenued Water) dan neraca air.
Neraca air merupakan alat audit untuk menghitung kehilangan air yang
berfungsi untuk melakukan kontrol pada tiga titik utama yang menjadi indikator
sehat atau tidaknya sistem pelayanan PDAM yaitu input sistem, konsumsi dan
kehilangan air (Syahputra, 2005). Neraca air dihitung berdasarkan jumlah debit air
yang masuk, konsumsi bermeter berekening, ketidak akuratan meter pelanggan,
kehilangan air dan kehilangan fisik. NRW dapat didefinisikan sebagai air yang
hilang dan dapat diukur serta diketahui besarnya, namun tidak dapat
direkeningkan atau tidak dapat menjadi penghasilan, namun dapat
dipertanggungjawabkan. Salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui
besarnya NRW adalah metode ILI (Infrastructure Leakage Index) (Siregar, 2014).
Berdasarkan faktor tersebut di atas, maka perlu dilakukan studi
menyangkut kinerja sistem pelayanan distribusi air bersih. Studi ini dilakukan agar
didapatkan gambaran nyata terkait kondisi dari penyediaan air bersih dan
permasalahan tentang kehilangan air atau tingkat kebocoran yang terjadi pada

2
wilayah layanan PDAM Tirta Meulaboh. Dari hasil kajian serta analisa dari
penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberi masukan terhadap sistem
pelayanan pemenuhan kebutuhan air bersih dan menjadi kontribusi bagi PDAM
Tirta Meulaboh terhadap peningkatan pelayanannya bagi pelanggan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka


rumusan masalah pada penelitian ini meliputi:
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem distribusi air bersih pada PDAM
Tirta Meulaboh sehingga kinerjanya belum dapat berjalan baik dan opti-
mal
2. Tingkat kehilangan air yang terjadi pada PDAM Tirta Meulaboh sehingga
menyebabkan layanan kebutuhan belum berjalan baik dan optimal
3. Kinerja sistem jaringan distribusi air bersih PDAM Tirta Meulaboh yang
ada belum mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat

1.3 Maksud Penelitian

Maksud penelitian ini adalah untuk meninjau kondisi kinerja sistem


pelayanan distribusi air bersih yang dihasilkan oleh PDAM Tirta Meulaboh
terhadap pelanggan PDAM di wilayah Kecamatan Johan Pahlawan yang belum
berjalan dengan baik dan optimal.

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan maksud di atas, maka tujuan penelitian ini adalah melihat


gambaran nyata terkait kondisi dari kinerja sistem pelayanan distribusi air bersih
dan permasalahan tentang kehilangan air atau tingkat kebocoran yang terjadi pada
wilayah layanan PDAM Tirta Meulaboh dengan menganalisa:

3
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem distribusi air bersih PDAM Tirta
Meulaboh seperti debit aliran, tekanan, kontinuitas aliran, fluktuasi
kebutuhan air bersih.
2. Tingkat kehilangan air pada PDAM Tirta Meulaboh dengan menggunakan
metode pengendalian NRW (Non Revenued water).
3. Kinerja sistem jaringan distribusi air bersih PDAM Tirta Meulaboh yang
sudah ada dengan melihat indikator seperti keandalan (reliability),
kelentingan (resiliency) dan kerawanan (vulnerability).

1.5 Metodologi dan Ruang Lingkup Penelitian

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dan
kualitatif, dengan jenis metode surveri lapangan yang didukung oleh data primer
dan data sekunder. Data yang sudah terkumpul dianalisis untuk mengetahui
analisa kinerja jaringan air bersih PDAM Tirta Meulaboh dalam hal pemenuhan
layanan kebutuhan air bersih. Penelitian ini dibatasi hanya pada lingkup zona
Kecamatan Johan Pahlawan, dikarenakan selain cakupan layanan yang cukup
luas, wilayah Kecamatan Johan Pahlawan memiliki jumlah pelanggan yang cukup
besar dibandingkan dengan zona layanan lainnya.
Ruang lingkup penelitian ini meliputi:
1. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi sistem distribusi air bersih
dengan melihat debit aliran, kondisi tekanan, kontinuitas aliran dan
fluktuasi kebutuhan air bersih.
2. Analisis tingkat kehilangan air pada PDAM Tirta Meulaboh dengan
menggunakan metode pengendalian NRW (Non Revenued water)
3. Analisis kinerja sistem jaringan distribusi air bersih dengan melihat
beberapa indikator seperti keandalan (reliability), kelentingan (resiliency)
dan kerawanan (vulnerability).

4
1.6 Hasil Penelitian dan Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini untuk mengkaji dan menganalisa faktor-faktor yang


mempengaruhi sistem distribusi air bersih PDAM Tirta Meulaboh dalam hal
pemenuhan layanan kebutuhan air bersih termasuk di dalamnya menganalisa
tingkat kehilangan air pada PDAM Tirta Meulaboh dan meminimalkan kehilangan
air dengan menggunakan metode pengendalian NRW (Non Revenued Water).
Manfaat dari hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi PDAM Tirta
Meulaboh terhadap perbaikan kinerja dari sistem jaringan distribusi dalam hal
pemenuhan kebutuhan layanan air bersih dan dapat menjadi kontribusi bagi
PDAM Tirta Meulaboh terhadap peningkatan pelayanan kebutuhan air bersih bagi
pelanggan yang ada di Kecamatan Johan Pahlawan.

5
BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Umum

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:


416/Menkes/PER/IX/1990, air bersih adalah air yang memenuhi persyaratan
dalam sistem penyediaan air minum, sehingga air bersih yang digunakan untuk
keperluan sehari-hari harus memenuhi syarat-syarat kesehatan dan dapat
diminum setelah dimasak sebelumnya. Persyaratan dalam sistem penyediaan air
bersih tersebut dlihat dari segi kualitas air yang meliputi kualitas fisik, kimia,
biologis dan radiologis, sehingga jika dikonsumsi tidak akan menimbulkan efek
samping serta melihat juga dari segi kuantitas. Namun pada penelitian ini dibatasi
hanya kepada penyediaan air bersih dari segi kuantitas saja.

2.2 Proyeksi Jumlah Penduduk


Metode proyeksi penduduk berdasarkan tingkat pertumbuhan penduduk
mengasumsikan bahwa pertambahan penduduk setiap tahunnya yang konstan.
Pada penelitian ini digunakan metode Geometrik dalam menentukan proyeksi
jumlah penduduk, dimana mengasumsikan bahwa jumlah pertambahan penduduk
menunjukkan peningkatan yang pesat dari waktu ke waktu. Pada proyeksi
pertambahan jumlah penduduk dengan metode Geometrik diperlukan juga laju
pertumbuhan penduduk, dimana laju pertumbuhan penduduk setiap tahunnya
dianggap sama. Persamaan Geometrik diperlihatkan pada persamaan 2.1 dan 2.2
di bawah ini (Fitriadi, 2013):

Pn Po (1 r ) n (2.1)
P 1/ t
(2.2)
r t 1 x100 %
Po

6
dimana : Pn = Jumlah penduduk pada proyeksi tahun ke- n
Po = Jumlah penduduk pada awal tahun data
Pt = Jumlah penduduk pada akhir tahun data
r = laju pertumbuhan penduduk (%)
t = Selang waktu tahun data
n = Jumlah tahun proyeksi

2.3 Persyaratan Dalam Penyediaan Air Bersih

Sistem jaringan air bersih merupakan struktur yang sangat vital bagi
masyarakat. Terganggunya sistem ini menimbulkan keresahan masyarakat dalam
jangka waktu yang dekat, dimana masyarakat tidak percaya pada kinerja
perusahaan air minum, dan dalam jangka panjangnya adalah menurunnya
kesehatan masyarakat (Ardiansyah, 2012). Kinerja penyediaan air bersih untuk
setiap daerah yang dilayani oleh PDAM belum tentu memiliki kualitas dan
kuantitas yang sama dengan daerah lainnya. Beberapa acuan dari kriteria teknis
dalam pelayanan dan penyediaan air bersih dengan sistem perpipaan seperti
(Agustina, 2007) : 1) Air tersedia secara terus menerus selama 24 jam; 2) Tekanan
di ujung pipa minimal 1 2 atm; 3) kualitas air harus memenuhi standar yang
ditetapkan. Persyaratan dalam penyediaan air bersih dapat dilihat dalam beberapa
hal yaitu:

2.3.1 Persyaratan kebutuhan air bersih


Dalam persyaratan kebutuhan air bersih, Badan Penelitian dan
Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum (2006) telah menetapkan kriteria
dari pemakaian air bersih untuk setiap Kota/Kabupaten. Kriteria dari pemakaian
air yang dimaksud meliputi kebutuhan air domestik dan kebutuhan air non
domestik seperti yang diperlihatkan pada tabel 2.1 dan tabel 2.2 di bawah ini.

7
Tabel 2.1 Kebutuhan Air Domestik

Kategori Kota Berdasarkan Jumlah Penduduk (jiwa)


I II III IV V
No Uraian 500.000- 100.000- 20.000-
>1.000.000 <20.000
1.000.000 500.000 100.000
Metro Besar Sedang Kecil IKK & Desa
Konsumsi unit sambungan
1 rumah (SR) ltr/org/hr
190 170 150 130 30
Konsumsi unit hidran
2 umum (HU) ltr/org/hr
30 30 30 30 30
Konsumsi unit non
3 domestik (%)
20-30 20-30 20-30 20-30 20-30
4 Kehilangan air (%) 20-30 20-30 20-30 20-30 20
5 Faktor Maksimum Day 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1
6 Faktor Peak Hour 1.5 1.5 1.5 1.5 1.5
Jumlah jiwa per sambungan
7 rumah 5 5 6 6 10
Jumlah jiwa per hidran
8 umum 100 100 100 100-200 200
Sisa tekan dijaringan
9 distribusi 10 10 10 10 10
10 Jam operasi 24 24 24 24 24
11 Volume reservoir (%) 20 20 20 20 20
50:50 s/d 50:50 s/d 80:20 s/d
12 SR : HU
70:30 80:20 80:20
70 30
13 Cakupan pelayanan (*) **)90 **)90 **)90 **)90 ***)70
*) tergantung survei sosial ekonomi
**) 60% perpipaan, 30% non perpipaan
***) 20% perpipaan, 45% non perpipaan
Sumber: BPPDU (2006)

Tabel 2.2 Kebutuhan Air Non Domestik

Kategori Kota Berdasarkan Jumlah Penduduk (jiwa)


No Uraian Keterangan
I II III IV V
1 Sekolah 10 10 10 10 5 ltr/murid/hr
2 Rumah Sakit 200 200 200 200 200 ltr/bed/hr
3 Puskesmas 2 2 2 2 1.2 m3/hr
4 Masjid >2 >2 >2 >2 >2 m3/hr
5 Kantor 10 10 10 10 ltr/peg/hr
6 Pasar 12 12 12 12 m3/ha/hr
7 Hotel 150 150 150 150 90 ltr/bed/hr
ltr/tempat
8 Rumah Makan 100 100 100 100 ddk/hr
9 Komplek Militer 60 60 60 60 ltr/org/hr
10 Kawasan Industri 0.2-0.8 0.2-0.8 0.2-0.8 0.2-0.8 ltr/det/ha
11 Kawasan Pariwisata 0.1-0.3 0.1-0.3 0.1-0.3 0.1-0.3 ltr/det/ha
Sumber: BPPDU (2006)

8
Kebutuhan air domestik yang dimaksud adalah kebutuhan air bersih yang
digunakan untuk keperluan rumah tangga yang dilakukan melalui Sambungan
Rumah (SR) dan kebutuhan umum yang disediakan melalui fasilitas Hidran
Umum (HU). Kebutuhan air domestik dihitung berdasarkan jumlah penduduk dan
laju pertumbuhan penduduk yang ada pada suatu daerah/wilayah yang menjadi
daerah layanan . Sedangkan kebutuhan air non domestik merupakan kebutuhan air
bersih yang dibutuhkan untuk berbagai fasilitas sosial dan komersial seperti
rumah sakit, sekolah dan lain-lain. Besarnya pemakaian air untuk kebutuhan non
domestik 20% dari kebutuhan domestik (Fitriadi, 2013). Untuk cakupan layanan
minimal akan kebutuhan air bersih bagi masyarakat untuk mendukung program
MDGs sampai dengan tahun 2015 yaitu minimal 60%. Dalam rancangan RPJMN
2015-2019, bidang Cipta Karya menargetkan yang dikenal dengan 100%-0%-
100%. Indikator 100% yang dimaksud ialah, Indonesia bisa memenuhi 85%
Standart Pelayaan Minumum (SPM) dan 15% memenuhi kebutuhan dasar. Dalam
memenuhi SPM di sektor air minum setidaknya setiap warga bisa mendapatkan
akses sebanyak 60 liter/orang/detik.

2.3.2 Persyaratan kuantitas (debit)


Dalam hal penyediaan air bersih, persyaratan kuantitasnya dilihat dari
banyaknya sumber air baku yang tersedia, dimana air baku tersebut dapat
memenuhi kebutuhan sesuai dengan kebutuhan dari jumlah penduduk yang akan
dilayani. Kebutuhan akan air bersih masyarakat sangat dipengaruhi oleh
pertumbuhan penduduk, karakteristik masyarakat, tingkat ekonomi dan status
sosial masyarakat yang beragam, serta perilaku atau pola penggunaan air oleh
masyarakat.

2.3.3 Persyaratan kontinuitas


Kontinuitas ini diartikan bahwa air bersih dari sumber air baku harus
tersedia setiap saat atau harus tersedia 24 jam per hari. Kontinuitas aliran terhadap
standar minimal pengaliran air memang belum memiliki standar yang pasti, tetapi
jika ditinjau dari jam-jam aktivitas konsumen terhadap prioritas pemakaian air,

9
maka dapat diketahui bahwa pelanggan sangat membutuhkan air paling tidak
dengan harapan air mengalir minimal selama 12 jam sehari yaitu pada pukul
06:00 sampai dengan pukul 18:00, sedangkan menurut PDAM pengaliran air
dikatakan baik apabila standar minimal 8 jam sehari terpenuhi (Suhardi, 2007)
Sistem jaringan perpipaan didesain untuk membawa suatu kecepatan aliran
tertentu, dimana kecepatan pipa tidak boleh melebihi 0,6-1,2 m/det. Ukuran pipa
tidak boleh melebihi dimensi yang diperlukan dan juga tekanan dalam sistem
jaringan harus terpenuhi. Setiap aliran air di dalam pipa harus memenuhi azas
kontinuitas, dimana debit yang masuk dalam sisi 1 sama dengan debit yang keluar
pada sisi 2 yaitu Q1=Q2, dengan persamaan debit seperti di bawah ini
(Triatmodjo, 2013):
Q = V. A (2.3)
dimana:
Q = Debit (m3/det);
V = Kecepatan Aliran (m/det);
A = Luas Penampang Pipa (m2).

2.3.4 Persyaratan kecepatan aliran dan tekanan air


Dalam pendistribusian air agar terjangkau untuk seluruh area layanan dan
untuk memaksimalkan tingkat pelayanan, maka yang harus diperhatikan adalah
sisa tekanan air. Sisa tekanan air paling rendah adalah 5 mka (meter kolom air)
atau setara dengan 0,5 atm (1 atm = 10 mka), dan sisa tekanan air paling tinggi
adalah 22 mka (Agustina, 2007).
Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Depertemen Pekerjaan
Umum (2006), kecepatan izin dalam pipa distribusi berkisar antara 0,3-2,5 m/det.
Ukuran pipa tidak boleh melebihi dimensi yang diperlukan, dan tekanan dalam
sistem harus cukup. Air yang dialirkan ke pelanggan dari pipa transmisi dan pipa
distribusi, dirancang agar dapat melayani pelanggan hingga yang terjauh, dengan
tekanan air minimum sebesar 1 atm. Tekanan ini harus dijaga, tidak boleh terlalu
tinggi dan tidak boleh terlalu rendah. Jika tekanannya terlalu tinggi, maka akan
merusak pipa atau membuat pipa menjadi pecah dan dapat merusak alat-alat

10
plambing dan jika tekanannya terlalu rendah, maka akan menyebabkan terjadinya
kontaminasi air selama mengalir dalam pipa distribusi.
Air yang mengalir dalam pipa memiliki beberapa macam energi, yaitu
energi kinetik, energi potensial dan kehilangan energi. Dari ketiga energi tersebut,
dapat dinyatakan dalam sebuah persamaan Hukum Bernoulli seperti di bawah ini
(Triatmodjo, 2013):

P1 V12 P2 V 22 (2.4)
h1 h2 h f
2g 2g
2
Tinggi energi kinetiknya adalah: h V (2.5)
2g

dimana:
P = Tekanan (atm atau mka);
g = Gravitasi (m/det2);
V = Kecepatan aliran (m/det)
h = Elevasi (m);
= Berat jenis air (kg/m3).

2.3.5 Fluktuasi kebutuhan air bersih


Fluktuasi merupakan persentase jumlah pemakaian air pada tiap jam
tergantung dari kebiasaan masyarakat serta pola pemakaian air oleh masyarakat,
sehingga kebutuhan air menjadi berubah setiap waktunya (Rosadi, 2011). Dalam
distribusi layanan air bersih kepada pelanggan, maka tolak ukur yang digunakan
dalam perencanaan maupun evaluasi terhadap layanan adalah kebutuhan air jam
puncak (Qpeak) dan kebutuhan air harian maksimum (Qmax) dengan mengacu
pada kebutuhan air rata-rata.
Kebutuhan air rata-rata harian (Qav) merupakan jumlah air per hari yang
dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan non domestik. Kebutuhan
harian maksimum (Qmax) merupakan jumlah air terbanyak yang dibutuhkan
dalam satu hari untuk waktu satu tahun berdasarkan nilai kebutuhan air rata-rata
harian, seperti terlihat pada persamaan di bawah ini (Rosadi, 2011):

11
Qmax = Fmax x Qav (2.6)
Q peak (2.7)
Fpeak
Qmax
dimana :
Qmax = Kebutuhan air harian maksimum (ltr/det);
Fmax = Faktor harian maksimum ( 1<Fmax hour<1,5);
Qav = Kebutuhan air rata-rata harian (ltr/det).
Kebutuhan air jam puncak (Qpeak) merupakan jumlah air terbanyak yan
dibutuhkan pada jam-jam tertentu. Faktor fluktuasi kebutuhan air jam maksimum
dapat dilihat pada persamaan di bawah ini (Rosadi, 2011):
Qpeak = Fpeak x Qmax ( 2.8)
Q max (2.9)
Fmax
Qav
dimana :
Fpeak = Faktor jam puncak ( 1,5-2,5);
Qpeak = Kebutuhan air jam puncak (ltr/det).

2.3.6 Kehilangan air


Dalam standar kriteria desain sistem penyediaan air bersih, kehilangan air
merupakan tidak sampainya air yang diproduksi kepada pelanggan dimana batasan
dari faktor kehilangan air yang diperbolehkan tidak melebihi angka toleransi
sebesar 20% dari kapasitas debit produksi (Fitriadi, 2013). Angka kebocoran atau
kehilangan air menurut kriteria desain yang ditetapkan oleh Dirjen Cipta Karya
tahun 1998 sebesar 15-30% (Nugraha, 2010).
Kehilangan air merupakan selisih antara banyaknya air yang disediakan
dengan jumlah air yang dikonsumsi. Kehilangan air terjadi akibat faktor teknis
maupun faktor non teknis. Faktor teknis yang menyebabkan kehilangan air
diakibatkan oleh adanya lubang atau celah pada pipa sambungan, pecahnya pipa
pada jaringan distribusi, kurang baiknya pemasangan meteran air, dan kurang
baiknya pemasangan perpipaan kerumah pelanggan. Sedangkan faktor non teknis
yang menyebabkan kehilangan air diakibatkan oleh kesalahan membaca meter air,

12
kesalahan dalam pencatatan hasil meteran air, serta kesalahan membaca angka
yang ditunjukkan oleh meter air berkurang akibat adanya aliran udara dari rumah
konsumen ke pipa distribusi meter air (Putrabahar, 2010).
Tingkat kehilangan air dihitung persentasenya berdasarkan selisih antara
jumlah air yang didistribusikan (m3) dengan jumlah air yang tercatat dalam
rekening. Djamal, dkk (2009) dalam Fitriadi (2013), menyatakan besarnya tingkat
kehilangan air adalah persentase perbandingan antara kehilangan air dengan
jumlah air yang dipasok ke dalam jaringan perpipaan air, yang dinyatakan dalam
persamaan 2.10 di bawah ini:

kehilangan air
Tingkat kehilangan air x100% (2.10)
Jumlah air yang dipasok

Dalam suatu penyediaan air minum tidak seluruhnya air yang diproduksi
oleh instalasi sampai kepada pelanggan, diakibatkan oleh adanya kebocoran yang
disebut dengan kehilangan air. Untuk menghitung persentase nilai kehilangan air
dari setiap meter pelanggan dapat digunakan persamaaan 2.11 di bawah ini:

Kehilangan air dari


(2.11)
Total selisih angka water meter
meter pelanggan x100%
Jumlah sampel pelanggan

Kehilangan air merupakan tolak ukur penting terhadap optimal dan


tidaknya sistem layanan penyediaan air bersih yang dilakukan oleh PDAM, karena
jika semakin tinggi angka kehilangan air maka akan semakin besar beban
kerugian yang dialami oleh PDAM. Sehingga untuk mengendalikan laju
kehilangan air ini harus dikendalikan, salah satunya dengan menggunakan neraca
air. Neraca air merupakan alat audit untuk menghitung kehilangan air yang
berfungsi untuk melakukan kontrol pada tiga titik utama yang menjadi indikator
sehat atau tidaknya sistem pelayanan PDAM yaitu input sistem, konsumsi dan
kehilangan air (Syahputra, 2005). Neraca air dihitung berdasarkan jumlah debit air
yang masuk, konsumsi bermeter berekening, ketidak akuratan meter pelanggan,
kehilangan air dan kehilangan fisik (Siregar, 2014). Untuk perhitungan neraca air

13
yang digunakan berdarkan usulan neraca air internasional atau International
Water Associations (IWA) pada konferensi di Berlin tahun 2001 seperti yang
diperlihatkan pada Tabel 2.3 di bawah ini:

Tabel 2.3 Tabel Neraca Air Internasional (International Water


Associations/IWA)
8. Konsumsi bermeter
berekening
4. bermeter 9. Konsumsi tak Air
berekening bermeter berekening = Berekening
estimasi meter
pelanggan rusak
10. Konsumsi
2.
bermeter tak
Konsumsi
berekening =
resmi
pemakaian pada
berekening
5. Konsumsi instansi tertentu
tak bermeter 11. Konsumsi tak
berekening bermeter tak
berekening =
1.
penggunaan air oleh
Volume
pemadam kebakaran
suplai
dan pencucian pipa
input ke
12. Konsumsi tak
dalam
resmi = pemakaian
sistem 6. Air Tak
ilegal
Kehilangan Berekening
13. Ketidak akuratan
non teknis
meter pelanggan dan
/komersial
kesalahan penanganan
data
3.
14. Kebocoran pada
Kehilangan
pipa transmisi dan
air
pipa induk
7. 15. Kebocoran dan
Kehilangan limpahan pada tanki
fisik/teknis reservoir
16. Kebocoran pada
pipa dinas hingga
meter pelanggan
Sumber: International Water Association (IWA) , siregar (2014)

14
Dalam suatu penyediaan air minum tidak seluruhnya air yang diproduksi
oleh instalasi sampai kepada pelanggan, diakibatkan oleh adanya kebocoran yang
disebut dengan kehilangan air. Untuk mengurangi dan meminimalkan tingkat
kehilangan air tersebut digunakan metode pengendalian NRW (Non Revenued
Water). NRW dapat didefinisikan sebagai air yang hilang dan dapat diukur serta
diketahui besarnya, namun tidak dapat direkeningkan atau tidak dapat menjadi
penghasilan, namun dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu metode yang
digunakan untuk mengetahui besarnya NRW adalah metode ILI (Infrastructure
Leakage Index). Nilai ILI yang dihasilkan dibandingkan kebocoran berdasarkan
nilai tekanan seperti yang diperlihatkan pada Tabel 2.4 Matriks Target di bawah
ini:
Tabel 2.4 Matriks Target

Kebocoran Berdasarkan Nilai Tekanan


Kategori Kinerja Nilai (liter/sambungan/hari)
Teknik ILI
10 m 20 m 30 m 40 m 50 m

A 1-2 < 50 < 75 < 100 < 125

50 - 100 - 125 -
B 2-4 75 - 150
100 200 250
Negara Maju
100 - 150 - 200 - 250 -
C 4-8
200 300 400 500

D >8 > 200 > 300 > 400 > 500

A 2-4 < 50 < 100 < 150 < 200 < 250

50 - 100- 200- 250-


Negara B 4-8 150-300
100 200 400 500
Berkembang
100- 200- 400- 500-
C 8-16 300-600
200 400 800 1000
D > 16 > 200 > 400 > 600 > 800 > 1000
Sumber: Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta (Siregar, 2014)

Untuk dapat menghitung nilai NRW dapat menggunakan persamaan ILI


seperti diperlihatkan pada persamaan 2.12, dan untuk menghitung MAAPL dapat
dilihat pada persamaan 2.13 seperti di bawah ini (Siregar, 2014):

15
CAPL (2.12)
ILI
dimana: MAAPL
ILI = Infrastructure Leakage Index;
CAPL = Current Annual Physical Losses (sama dengan kehilangan saat ini)
(liter/tahun);
MAAPL = Minimum Achhievable Annual Physical Losses (kehilangan fisik
tahunan yang dapat dicapai secara minimal) (liter/hari).
(2.13)
MAAPL ((18 xLM ) (0,8 xNC ) (25 xLP)) xP

dimana:
LM = Panjang pipa induk (m);
NC = Jumlah sambungan rumah
LP = Panjang pipa dinas dari batas persil ke meter pelanggan dikalikan
dengan jumlah SR (m);
P = Tekanan rata-rata (m)

2.4 Sampling Pelanggan

Sampling merupakan suatu proses memilih sebagian dari unsur populasi


yang jumlahnya mencukupi secara statistik, dimana dengan mempelajari sampel
serta memahami karakteristik-karakteristiknya akan diketahui informasi tentang
keadaan populasi. Sampel sendiri merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi tersebut. Pada penelitian ini digunakan teknik
sampling dengan probability sampling yaitu metode pengambilan sampel secara
acak dengan menjamin bahwa setiap anggota populasi memiliki peluang yang
sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Dan metode yang digunakan pada
penelitian ini adalah cluster random sampling. Metode cluster sampling ini
digunakan untuk menentukan jumlah sampel apabila memiliki data yang sangat
luas, dan pengambilan sampelnya juga didasarkan pada daerah populasi yang
telah ditetapkan secara acak.

16
Berdasarkan jumlah pelanggan di wilayah studi yaitu di Kecamatan Johan
Pahlawan Kabupaten Aceh Barat tahun 2013 yaitu sebanyak 5.522 pelanggan.
Pelanggan tersebut terbagi atas 3 zona layanan. Untuk menentukan ukuran sampel
data pelanggan pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus Slovin,
dikarenakan jumlah populasi/jumlah pelanggannya sudah diketahui seperti terlihat
pada persamaan 2.14 di bawah ini (Idris, 2012) :
N (2.14)
n 2
1 Nxe
dimana:
n = Jumlah sampel;
N = Ukuran populasi;
e = Nilai kritis/batas ketelitian ( biasa digunakan 10%)

2.5 Sistem Distribusi Air Bersih dan Sistem Pengaliran Air Bersih

2.5.1 Sistem distribusi air bersih


Sistem distribusi merupakan sistem yang secara langsung berhubungan
dengan pelanggan, dimana berfungsi untuk mendistribusikan air yang telah
memenuhi untuk semua daerah layanan. Sistem distribusi ini meliputi unsur
sistem perpipaan dan perlengkapannya, hidran kebakaran, tekanan tersedia, sistem
pemompaan dan reservoir distribusi (Damanhuri, 1989).
Ketersediaan jumlah air yang cukup serta tekanan air yang memenuhinya
merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam sistem pendistribusian air
bersih, dimana tugas pokok dari sistem distribusi air bersih adalah memenuhi
kebutuhan air bersih kepada pelanggan yang akan dilayani, dengan tetap
memperhatikan faktor kualitas air, kuantitas air dimana tersedianya air setiap
waktu dan tekanan air sesuai dengan perencanaan awal.
Yang termasuk ke dalam sistem distribusi air bersih adalah distribusi dari
reservoirnya yang digunakan saat kebutuhan air lebih besar dari supply instalasi,
meteran air yang digunakan untuk menentukan banyaknya air yang akan
digunakan, pipa-pipa, katup-katup, keran serta pompa yang digunakan untuk

17
membawa aliran air dari instalasi pengolahan air bersih ke daerah-daerah layanan
yang membutuhkan air. Sistem distribusi air minum kepada pelanggan dengan
kualitas, kuantitas dan tekanan yang cukup memerlukan sistem perpipaan yang
baik, reservoir, pompa dan peralatan lainnya.
Dalam sistem suplai air minum ke pelanggan/konsumen memiliki dua
sistem yaitu Continous System dan Intermitten System. Continous System
mensuplai air ke konsumen secara terus menerus selama 24 jam, dengan
keuntungan konsumen dapat memperoleh air bersih dari jaringan pipa di posisi
manapun. Namun kerugian dari sistem ini adalah pemakaian air yang cenderung
lebih boros dan bila terjadi sedikit kebocoran, maka akan banyak jumlah air yang
hilang. Sedangkan Intermitten System, air yang disuplai tidak selama 24 jam,
hanya pada jam-jam tertentu, 2-4 jam di pagi hari dan 2-4 jam di sore hari. Sistem
ini memiliki kerugian dimana pelanggan tidak dapat menggunakana/mendapatkan
air setiap saat, dan pelanggan membutuhkan tempat penyimpanan air. Dimensi
pipa yang digunakan dengan sistem ini juga membutuhkan dimensi pipa yang
lebih besar, karena kebutuhan air yang disuplai tidak dialirkan selama 24 jam,
hanya dalam beberapa jam saja. Namun keuntungan dengan Intermitten System
adalah terjaganya pemborosan penggunaan air, dan kondisi ini sangat cocok untuk
daerah dengan sumber air terbatas (Agustina, 2007).
Metode dari sistem distribusi air tergantung pada kondisi topografi dari
sumber air dan posisi para konsumen berada. Sistem distribusi air memiliki
rangkaian yaitu sumber air baku pipa utama reservoir/layanan penyimpanan
pipa induk pipa distribusi. Pipa utama mengalirkan air pada tingkat yang
konstan, sedangkan pipa induk mengalirkan air dengan kebutuhan air yang
bervariasi/fluktuatif (Masimin dan Ariff, 2012).

2.5.2 Sistem pengaliran air bersih


Sistem pengaliran yang digunakan adalah cara gravitasi, pompa dan
gabungan keduanya (Agustina,2007).

18
a. Cara Gravitasi.
Cara pengaliran dengan gravitasi digunakan apabila elevasi sumber air
memiliki perbedaan cukup besar dengan elevasi daerah pelayanan,
sehingga tekanan yang diperlukan dapat dipertahankan. Cara pengaliran
ini dianggap cukup ekonomis, karena hanya memanfaatkan perbedaan
ketinggian lokasi.
b. Cara Pemompaan
Cara pengaliran air dengan sistem pemompaan digunakan untuk
meningkatkan tekanan yang diperlukan dalam mendistribusikan air dari
reservoir distribusi kepada konsumen/pelanggan. Sistem pengaliran
dengan cara ini digunakan jika elevasi antara sumber air atau instalasi
pengolahan dengan daerah pelayanan tidak dapat memberikan tekanan
yang cukup.
c. Cara Gabungan
Pada pengaliran dengan sistem gabungan ini, reservoir digunakan untuk
mempertahankan tekanan yang diperlukan selama periode pemakaian
tinggi dan pada kondisi darurat, seperti saat terjadi kebakaran. Selama
periode pemakaian rendah, sisa air dipompakan dan disimpan dalam
reservoir distribusi yang berfungsi sebagai cadangan air selama periode
pemakaian tinggi/pemakaian puncak, maka pompa dapat dioperasikan
pada kapasitas debit rata-rata.

2.6 Kinerja Pengoperasian Jaringan Air Bersih

Sistem kinerja jaringan air bersih pada suatu kota atau kawasan dapat
dinilai dari hasil analisa kegagalan jaingan pipa dan pengoperasiannya dalam
memenuhi kebutuhan pelanggan. Indikator kinerja jaringan harus dapat
memberikan indikasi seberapa besar intensitas kegagalan dan berapa lama
kegagalan itu terjadi, sehingga kinerja jaringan air bersih dapat diketahui.
Parameter kinerja tersebut meliputi keandalan (reliability), kelentingan
(resiliency), serta kerawanan (vulnerability) (Restu, 2003).

19
2.6.1 Keandalan (reliability)
Parameter keandalan menunjukkan kemampuan dari suatu jaringan pipa
untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Secara matematis, keandalan dapat
didefinisikan dimana nilai variable Zt ditentukan dengan persamaan di bawah ini:

Z
t
1 untuk Rt Dt
0 untu Rt Dt
(2.15)
dimana:
Zt = Indikator untuk menghitung kejadian, dimana RtDt;
Rt = Besarnya debit layanan pipa pada periode waktu tertentu (m3/bulan);
Dt = Kebutuhan air pada periode waktu (t), dalam hal ini kebutuhan airnya
merupakan debit keluaran minimum yang seharusnya sampai kepada
pelanggan.

Perhitungan batas normal kebutuhan air/pelanggan/bulan dengan anggapan


jumlah penduduk satu pelanggan terdiri dari 6 orang per KK dan kebutuhan air
tiap orang per hari 130 liter/orang/hari, maka kebutuhan pelanggan setiap
bulannya adalah 23,4 m3/pelanggan /bulan (BPPDU, 2006). Dan yang perlu
diketahui dalam definisi keandalan ini adalah kegagalan ditafsirkan jika Rt < Dt.
Dalam jangka panjang, untuk unjuk kerja keandalan () di perlihatkan pada
persamaan di bawah ini:
1
lim n
n
n
t 1 .Z t (2.16)
dimana:
= Unjuk kerja keandalan dalam jangka anjang;
n = Lama atau jangka waktu pengoperasian (bulan).

Nilai rerata merupakan jumlah total waktu dimana jaringan pipa mampu
memenuhi kebutuhannya, sehingga jumlah total waktu dimana jaringan pipa
mengalami kegagalan adalah n
t 1 (1 Z t ) .

20
2.6.2 Kelentingan (resiliency)
Kinerja kelentingan (resiliency) adalah untuk mengukur kemampuan
jaringan pipa dari keadaan gagal agar dapat kembali ke keadaan tidak gagal
atau ke keadaan memuaskan (satisfactory). Semakin cepat jaringan pipa dapat
kembali ke keadaan memuaskan, maka konsekuensi akibat kegagalan tersebut
akan semakin kecil, sehingga perlu diketahui kapan jaringan pipa mengalami ma-
sa transisi dari keadaan gagal ke keadaanmemuaskan ataupun sebaliknya, di-
mana dalam jangka panjang, masa transisi jaringan pipa dari keadaan gagal ke
keadaan memuaskan akan sama dengan masa transisi dari keadaan memuas-
kan ke keadaan gagal.
Dengan menggunakan definisi dari kegagalan di atas, maka untuk menghi-
tung masa transisi dari keadaan gagal ke keadaan memuaskan dapat
digunakan persamaan di bawah ini, dimana menggunakan variable Wt.

W t 1 untuk Rt 1 Dt 1 dan Rt Dt
0 otherwise
(2.17)
dimana:
Wt = Masa transisi jaringan pipa dari keadaan gagal ke keadaan memuaskan;
Rt-1 = Debit layanan jaringan pipa pada periode t-1 (m3/bulan);
Dt-1 = Kebutuhan air minimum yang diharapkan pada periode t-1 (m3/bulan);
Otherwise = keadaan dimana kondisi (Rt-1 < Dt-1 dan Rt Dt) tidak dipenuhi

Dalam jangka panjang, nilai rerata Wt akan menunjukkan jumlah rerata


terjadinya masa transisi jaringan pipa dari keadaan gagal ke keadaan
memuaskan. Jumlah rata-rata jangka panjang terjadinya masa transisi ini dapat
dilihat pada persamaan di bawah ini:
i n
lim n .Wt
n t 1
(2.18)
dimana:
= Probabilitas atau rerata frekwensi masa transisi jaringan pipa dari keadaan
gagal ke keadaan memuaskan pada bulan sekarang;
n = lamanya waktu pengoperasian.
Jangka waktu rata-rata jaringan pipa berada dalam keadaan gagal secara
berurutan dapat diketahui dari jumlah total waktu rata-rata jaringan pipa

21
mengalami kegagalan dibagi dengan frekwensi rata-rata terjadinya jaringan
transisi, sehingga lamanya jaringan pipa berada dalam keadaan gagal secara
berurutan dapat diperlihatkan pada persamaan di bawah ini:

n
(1 Z t ) (2.19)
T gagal t 1


n
Wt
dimana: t 1

Tgagal = Jangka waktu rata-rata jaringan pipa berada dalam keadaan gagal
secara berurutan (bulan).

Dalam jangka panjang, waktu rata-rata jaringan pipa berada dalam keadaan
gagal secara berurutan adalah:
1

E Tgagal
(2.20)

dimana:
E[Tgagal] = Jangka waktu rata-rata jaringan pipa berada dalam keadaan gagal
secara berurutan dalam jangka panjang (bulan);
E = Operator expected;
1- = Kinerja jaringan pipa berada dalam keadaan gagal dalam jangka
panjang.
Indikator kinerja kelentingan (resiliency) dapat diartikan sebagai nilai
kebalikan (inverse) dari jangka waktu rata-rata jaringan pipa berada dalam
keadaan gagal. Semakin lama waktu ata-rata jaringan pipa berada dalam
keadaan gagal, maka kinerja kelentingannya akan semakin kecil atau jaringan
pipa akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk kembali ke kondisi semula
(recovery). Kinerja kelentingan dapat dilihat pada persamaan di bawah ini:
1 (2.21)


E T gagal 1
dimana:
= Kinerja kelentingan.

2.6.3 Kerawanan (vulnerability)


Jika terjadi kegagalan, maka kinerja kerawanan menujukkan seberapa
besar suatu kegagalan itu terjadi. Dalam mengukur tingkat kerawanan

22
(vulnerability), dapat digunakan variabel kekurangan (deficit) seperti yang
diperlihatkan pada persamaan di bawah ini:
DEFt DtRt jikaRt Dt
0 jikaRt Dt
(2.22)
dimana:
DEFt = Kekurangan (deficit) pada periode t (m3/bulan)

Kinerja kerawanan dapat didefinisikan dengan beberapa pengertian,


seperti:
1. Nilai maksimum deficit
V1 = max DEFt (2.23)
dimana:
V1 = Nilai maksimum deficit (m3/bulan);
DEFt = Kekurangan (deficit) pada periode t (m3/bulan).
2. Nilai maksimum deficit-ratio)
DEFt
V2 max (2.24)
Dt

dimana:
V2 = Nilai maksimum deficit-ratio (%).
3. Nilai rata-rata deficit-ratio
DEFt

n

V3
t 1
Dt (2.25)

n
W
t 1 t

dimana:
V3 = Nilai rata-rata deficit-ratio (%);
n = Jangka waktu pengoperasian (bulan).

2.7 Penelitian Terdahulu

Untuk lebih jelasnya rekap penelitian terdahulu terkait dengan originalitas


penelitian dapat dilihat pada tabel 2.3 di bawah ini:

23
Tabel 2.3 Rekap Penelitian Terdahulu
N Peneliti Judul Metode Aat yang Hasil
o digunakan
1. Benny Pengaruh Survei Software Hasil running jaringan
Syahputra Penambahan Debit dan Waternet eksisting
(2005) Kebutuhan Pada analisis versi 1.6 menggunakan
Zona Pelayanan data Waternet dengan
Air Bersih di beberapa perlakuan
PDAM Tirta dengan penambahan
Meulaboh debit kebutuhan pada
zona layanan PDAM
Tirta Meulaboh dan
optimasi kondisi
pengembangan
jaringan sampai tahun
2013
2. Mochamad Analisa Hidrolis Survei Hasil perhitungan
Ibrahim Pada Komponen dan Waternet berupa analisa
Sistem Distribusi analisis dan kebutuhan air bersih
Air Bersih dengan data Watercad pada jaringan pipa air
Waternet dan versi 8 bersih untuk wilayah
Watercad versi 8 studi dan melihat
(studi kasus perbandingan nilai
Kampung kehilangan energi
Digiouwa, yang diakibatkan oleh
Kampung Mawa gesekan dengan pipa
dan Kampung pada pipa jenis PE
Ikebo, Distrik dan pipa Galvanis
Kamu, Kabupaten
Dogiyai)
3. Fakhrurrazi Analisa Kinerja Survei Epanet 2.0 Hasil dari penelitian
Idris (2012) Jaringan Distribusi dan ini:
Air Bersih di analisis - faktor penyebab
Perumnas Lingke data yang mempengaruhi
Kecamatan Syiah sistem distribusi air
Kuala Kota Banda bersih
Aceh - Analisa kinerja
jaringan berupa
keandalan,
kelentingan dan
kerawanan di wilayah
studi.
- analisa kinerja
jaringan distribusi
menggunakan Epanet
2.0
4. Fitriadi Rancangan Survei - - Hasil dari penelitia ini
(2013) Strategi dan berupa rencana
Peningkatan analisis peningkatan
Kapasitas Produksi data kapasitas produksi
Pada Sistem PDAM Tirta
Produksi Air Meulaboh sampai

24
PDAM Tirta tahun 2021 serta
Meulaboh perancangan strategi
Kabupaten Aceh yang direncanakan
Barat dalam mendukung
peningkatan
kapasitas produksi
pada PDAM Tirta
Meulaboh
5. Nikmad Evaluasi Survei - - Hasil dari penelitian
Arsad Kehilangan Air dan berupa tingkat
Siregar (Water Losses) analisis ehilangan air pada
(2014) PDAM Tirtanadi data PDAM Tirtanadi
Padangsidimpuan Padangsisimpuan
Di Kecamatan menggunakan tabel
Padangsidimpuan matriks target
Selatan
6. Penelitian Analisa Kinerja Survei - - Penelitian ini akan
Ini Jaringan Distribusi dan meninjau kondisi
Air Bersih PDAM analisis sistem distribusi air
Tirta Meulaboh data bersih dari PDAM
Terhadap Tirta Meulaboh
Pemenuhan berupa:
Layanan - - faktor-faktor yang
Kebutuhan Air mempengaruhi
Bersih Pada Zona sistem distribusi air
Layanan Wilayah bersih
Kecamatan Johan - - Tingkat kehilanagan
Pahlawan,Kabupat air pada PDAM
en Aceh Barat Tirta Meulaboh
- - Analisa kinerja
jaringan distribusi
air bersih
berdasarkan
keandalan,
kelentingan dan
kerawanan untuk
wilayah studi.

25
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini disajikan secara sistematis bahasan dari metodologi penelitian
tentang Analisis Kinerja Sistem Distribusi Jaringan Air Bersih PDAM Tirta
Meulaboh Pada Zona Layanan Kebutuhan Air Bersih Di Kecamatan Johan Pah-
lawan. Bahasan yang dibahas pada bab ini meliputi:
1. Pengenalan daerah studi yaitu gambaran umum PDAM Tirta Meulaboh,
letak geografis, lokasi, waktu dan jenis penelitian.
2. Metode pengumpulan data yaitu sumber data dan jenis data penelitian;
3. Prosedur penelitian;
4. Proses pengolahan dan analisis data penelitian berdasarkan data primer
dan data sekunder.

3.1 Pengenalan Daerah Studi Penelitian

3.1.1 Gambaran umum PDAM Tirta Meulaboh


PDAM Tirta Meulaboh Kabupaten Aceh Barat dibangun pada tahun 1982
dan baru mulai beroperasi tahun 1983. PDAM Tirta Meulaboh dibentuk
berdasarkan surat keputusan Bupati Aceh Barat, nomor 690/194-IV/1983 yang
berisi tentang pembentukan Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Aceh
Barat. Kemudian ditetapkan lagi dengan Peraturan Daerah Aceh Barat, nomor 11
Tahun 1993 dengan nama Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Meulaboh.
PDAM Tirta Meulaboh memiliki tiga sistem sarana WTP (Water
Treatment Plant) yaitu WTP Rantau Panjang, WTP Kaway XVI dan WTP
Lapang. Sumber air baku yang digunakan oleh PDAM Tirta Meulaboh pada
sistem pelayanan bersumber dari sungai Meureubo dan sungai Beureugang. WTP
Rantau Panjang dan WTP Lapang bersumber dari air baku sungai Krueng
Meureubo.

26
WTP Rantau Panjang memiliki kapasitas instalasi 2x10 liter/detik,
dikarenakan WTP lama rusak akibat bnecana gempa dan Tsunami pada tanggal 26
Desember 204, dengan kapasitas reservoir sebesar 350 m3. WTP Rantau Panjang
bersumber dari air baku sungai Krueng Meureubo, dengan wilayah layanan
Kecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat. Panjang pipa distribusi WTP
Rantau Panjang lebih kurang 26 km. WTP Kaway XVI bersumber dari air baku
sungai Beureugang. WTP ini memproduksi air bersih 5 liter/detik dengan jam
operasi per hari adalah 6 jam produksi dan 4 jam distribusi yang dibagi 2 jam pagi
dan 2 jam sore. Reservoir dari WTP Kaway XVI ini memiliki kapasitas 100 m 3
yang terdiri dari 2 reservoir. WTP Lapang merupakan sarana instalasi pengolahan
air bersih untuk wilayah Kecamatan Johan Pahlawan, dimana sumber air bakunya
berasal dari sungai Meureubo yang memiliki debit rata-rata sungai 100 m/detik.
Pengambilan air baku dari sungai Meureubo menggunakan bangunan
sadap/intake, kemudian dipompa ke WTP dengan menggunakan dua unit pompa
intake (Submersible Pump) dengan kapasitas pompa masing 40 liter/detik dengan
head 25 meter. Kapasitas desain WTP Lapang sebesar 80 liter/detik dan panjang
pipa distribusi lebih kurang 92 km. Infrastruktur pelayanan air bersih yang ada
sampai saat ini meliputi sumber air, bangunan sadap, pemompaan, instalasi
pengolahan air dan jaringan distribusi.
Sistem distribusi air dan pengaliran air dari WTP Lapang ke seluruh zona
layanan PDAM di Kecamatan Johan Pahlawan menggunakan Continous System
dan cara pemompaan. Sistem distribusi dimana pengalirannya dilakukan secara
terus menerus selama 24 jam, sedangkan sistem pengaliran air nya menggunakan
cara pemompaan untuk meningkatkan tekanan yang diperlukan dalam
mendistribusikan air dari reservoir distribusi kepada konsumen/pelanggan, dan
juga elevasi antara sumber air atau instalasi pengolahan dengan daerah pelayanan
tidak dapat memberikan tekanan yang cukup.

3.1.2 Letak geografis PDAM Tirta Meulaboh


PDAM Tirta Meulaboh terletak di Kota Meulaboh Kecamatan Johan
Pahlawan Kabupaten Aceh Barat yang terletak pada geografis 04006 - 04047 LU

27
dan 95052 - 96030 BT memiliki tiga daerah layanan yaitu daerah layanan
Kecamatan Johan Pahlawan, Kecamatan Meureubo dan Kecamatan Kaway XVI.
Batas-batas wilayahnya terdiri dari:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Aceh Jaya dan Pidie
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tengah dan Nagan
Raya
c. Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia
d. Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia dan Nagan Raya

3.1. 3 Lokasi, waktu dan jenis penelitian


Lokasi penelitian ini dibatasi dan dilakukan hanya pada wilayah layanan
Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat unit WTP Lapang dengan luas
wilayah 44,91 km2, dikarenakan wilayah layanan Kecamatan Johan Pahlawan
memiliki jumlah pelanggan yang lebih besar dibandingkan dengan wilayah
layanan Meureubo dan Kaway XVI. Peta lokasi instalasi pengolahan air bersih
PDAM Tirta Meulaboh dan peta lokasi intake PDAM Tirta Meulaboh yang
berada di Dusun Pasie Mesjid di perlihatkan pada Lampiran A Gambar A.3.1
halaman 67 dan Gambar A.3.2 halaman 68. Sedangkan peta jaringan distribusi
wilayah studi Kecamatan Johan Pahlawan dapat dilihat pada Lampiran A Gambar
A.3.3 halaman 69. Pada penelitian tentang Analisa Kinerja Jaringan Distribusi Air
Bersih PDAM Tirta Meulaboh Terhadap Pemenuhan Layanan Kebutuhan Air
Bersih Pada Zona Layanan Wilayah Kecamatan Johan Pahlawan ini,
waktu/jadwal penelitian dilakukan pada bulan April 2014. Penelitian ini
menggunakan jenis metode penelitian dengan survei dan analisa data secara
kuantitatif.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Pada penelitian ini, metode pengumpulan data meliputi sumber data dan
jenis data yang digunakan. Sumber dan jenis data yang digunakan adalah data
primer yang diperoleh melalui observasi lapangan dan data sekunder yang

28
diperoleh dari PDAM Tirta Meulaboh. Data primer maupun data sekunder
membutuhkan jumlah data dari sampling pelanggan yang ada di wilayah layanan
Kecamatan Johan Pahlawan.

Wilayah layanan Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat


terbagi atas 3 zona layanan. Zonasi tersebut merupakan wilayah pelayanan yang
dibagi berdasarkan lokasi gampong-gampong yang ada dalam Kecamatan Johan
Pahlawan. Zonasi tersebut ditujukan untuk mempermudah penyelenggaraan
pelayanan administratif kepada pelanggan, mempersempit area pelayanan dalam
rangka perbaikan dan deteksi kebocoran, mengurangi resiko pencurian air dan
memudahkan dalam mengambil kebijakan ketika ada daerah yang bermasalah
dalam suplai air. Adapun zona 1 mencakup wilayah utara dan timur, zona 2
mencakup wilayah barat, dan zona 3 mencakup wilayah selatan kota Meulaboh.
Dengan jumlah populasi pelanggan sebanyak 5.522 pelanggan di wilayah
Kecamatan Johan Pahlawan, maka pengambilan jumlah sampel yang akan
digunakan pada penelitian ini menggunakan rumus Solvin dari persamaan 2.14
halaman 15, yaitu:

5522
n 98 , 2 99 Pelanggan
1 5522 x ( 0 ,1 2 )

Jumlah sampel pada tiap jalan/lorong yang mewakili masing-masing zona


layanan ditentukan secara proporsional berdasarkan total sampel sebanyak 99
pelanggan. Jumlah sampel untuk masing-masing zona layanan dapat dilihat pada
Lampiran B Tabel B.3.6 halaman 80.

3.2.1 Pengumpulan data primer


Data primer ini dilakukan terhadap 99 sampel pelanggan yang ada pada
zona layanan PDAM untuk Kecamatan Johan Pahlawan dengan mencatat debit air
yang mengalir ke pelanggan. Data primer yang didapat dari survei lapangan
meliputi data debit aliran air ke pelanggan dan data tekanan air. Pencatatan debit

29
ini dilakukan sebanyak 5 kali selama seminggu yaitu pada pukul 06:00, 10:00,
14:00, 18:00 dan pukul 22.00.
Pada saat melakukan pencatatan debit pemakaian air pada waktu-waktu
tersebut, maka dilakukan juga pencatatan data tekanan, mengingat tekanan aliran
air sangat dipengaruhi juga oleh frekuensi pemakaian air. Data debit air dan
tekanan air ini digunakan untuk melihat perilaku atau pola penggunanaan air oleh
masyarakat.

3.2.2 Pengumpulan data sekunder


Data sekunder yang digunakan adalah data yang diperoleh dari PDAM
Tirta Meulaboh. Data-data sekunder tersebut dibutuhkan untuk menganalisa
pertumbuhan penduduk terhadap tahun perencanaan, menganalisa kebutuhan air
sampai tahun perencanaan, menganalisa tingkat kehilangan air dan menganalisa
kinerja sistem jaringan distribusi air bersih.
Data-data sekunder tersebut meliputi:
1. Data jumlah penduduk Kecamatan Johan Pahlawan dari tahun 2009
sampai tahun 2013;
2. Data teknis PDAM Tirta Meulaboh meliputi data eksisting PDAM, data
unit air baku, data unit produksi dan data unit distribusi;
3. Peta jaringan PDAM.
4. Data laporan produksi, distribusi air dan data jumlah air yang terjual tahun
2013;
5. Data sampel pelanggan dan data rekening pelanggan;
6. Data debit sampel pelanggan selama tahun 2013.

3.3 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tentang Analisa Kinerja Jaringan Distribusi Air Bersih


PDAM Tirta Meulaboh Terhadap Pemenuhan Layanan Kebutuhan Air Bersih
Pada Zona Layanan Wilayah Kecamatan Johan Pahlawan ini, dapat dilihat
berdasarkan Gambar 3.1 diagram alir penelitian di bawah ini:

30
Mulai

- Pengenalan Daerah Studi


- Latar Belakang dan Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Pengumpulan Data

Data Primer, meliputi data Data Sekunder, meliputi data


: :

- Data tekanan air - Data proyeksi jumlah Data dari PDAM


- Data debit penduduk sampai 2032 seperti data pelang-
- Peta jaringan PDAM gan, data rekening,
- Data teknis PDAM data debit selama 1
- Data laporan produksi, tahun dan data pela-
distribusi dan jumlah yanan air minum
air terjual
Analisis data debit dan tekanan
- Grafik pola pemakaian air
pelanggan berdasarkan debit
Grafik kondisi tekanan real
lapangan (maksimum maupun - Analisis kehilangan air Analisis kinerja sistem
minimum) - Analisis neraca air distribusi air bersih
- Analisis NRW dengan berdasarkan debit yang
metode ILI meliputi Keandalan, Ke-
lentingan dan Kerawanan
- Hasil analisis debit dan
tekanan nyata di lapangan
- Hasil kontinuitas aliran Hasil analisis kehilangan Hasil analisa kinerja jaringan
- Hasil fluktuasi kebutuhan air air dengan metode NRW distribusi air bersih berdasar-
kan Keandalan, Kelentingan
dan Kerawanan

Hasil analisa kinerja jaringan distribusi

Pembahasan

Rekomendasi

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

31
3.4 Proses Pengolahan dan Analisis Data Penelitian

Sebagaimana yang telah dijabarkan pada diagram alir di atas, maka


sebelum melakukan proses dan pengolahan data baik yang bersumber dari data
primer maupun data sekunder, maka perlu dilakukan terlebih dahulu kajian
terhadap daerah studi dari PDAM Tirta Meulaboh.

3.4.1 Kajian terhadap daerah studi


Kajian terhadap daerah studi meliputi ketersediaan air baku yang
digunakan oleh PDAM Tirta Meulaboh untuk WTP lapang, kondisi bangunan
sadap/intake saat ini, kapasitas produksi dari WTP Lapang, kondisi reservoir, dan
sistem distribusi kepada pelanggan dari WTP Lapang.

3.4.2 Pengolahan dan analisis data primer


Proses pengolahan data dan analisis dari data primer adalah sebagai
berikut:
1. Data debit aliran air
Pencatatan debit aliran air dilakukan pada 99 sampel pelanggan yang ada
pada zona layanan Kecamatan Johan Pahlawan. Debit air yang dicatat
adalah angka yang muncul pada meteran air pelanggan. Pencatatan debit ini
akan dilakukan selama seminggu (7 hari), dimana dalam 1 hari dilakukan
pencatatan sebanyak 5 kali yaitu pada pukul 06:00, 10:00, 14:00, 18:00 dan
pukul 22.00. Hasil analisa dari data debit ini nantinya untuk melihat
perilaku/kondisi pola pemakaian air oleh pelanggan disetiap zona layanan
yang ada di Kecamatan Johan Pahlawan. Pengolahan dan analisa data debit
pemakaian air untuk 3 zona Layanan Kecamatan Johan Pahlawan selama
seminggu diperlihatkan pada Lampiran B Tabel B.3.7 halaman 81 sampai
dengan Lampiran B Tabel B.3.9 halaman 83.
2. Data tekanan air.
Pada saat melakukan pencatatan debit pemakaian air, dilakukankan juga
pencatatan data tekanan dengan menggunakan alat tes tekanan (Pressure
Gauge), mengingat tekanan aliran air sangat dipengaruhi oleh frekuensi

32
pemakaian air. Hasil analisa dari data tekanan air disetiap sampel pelanggan
yang ada di Kecamatan Johan Pahlawan ini untuk melihat kondisi nyata
tekanan air yang terjadi di lapangan baik tekanan maksimum dan tekanan
minimum. Pengolahan dan analisa data tekanan air untuk 3 zona Layanan
Kecamatan Johan Pahlawan selama seminggu diperlihatkan pada Lampiran
B Tabel B.3.10 halaman 84 sampai dengan Lampiran B Tabel B.3.12
halaman 86.
3. Analisa kontinuitas aliran.
Untuk melihat kontinuitas aliran pada wilayah studi, maka pengamatannya
akan dilakukan selama satu bulan. Pengamatan kontinuitas aliran pada
minggu pertama dilakukan pada 3 zona layanan yang ada di Kecamatan
Johan Pahlawan, dengan melihat kondisi apakah air mengalir atau tidak di
waktu yang sama saat melakukan pencatatan debit dan tekanan air.
Sedangkan pengamatan pada 3 minggu berikutnya dilakukan pada intake
yang ada di Dusun Pasie Mesjid yang menyatakan air dalam satu hari
mengalir selama 24 jam atau tidak.
4. Analisa fluktuasi kebutuhan air bersih
Untuk menganalisa fluktuasi kebutuhan air bersih pada wilayah studi, maka
tolak ukur data yang dibutuhkan adalah kebutuhan air harian maksimum
(Qav) dan kebutuhan air jam puncak (Qpeak) pada wilayah studi. Data pola
pemakain air dilakukan pada 3 sampel pelanggan yang ada di 3 zona
layanan berbeda selama 24 jam dalam seminggu. Dari data tersebut, dapat
dilihat kebutuhan air harian maksium dan kebutuhan air jam maksium
kemudian dapat dihitung nilai faktor harian maksimum dan nilai faktor jam
puncak dengan menggunakan persamaan 2.7 dan 2.9 halaman 12. Data
fluktuasi pemakaian air dari sampel 3 pelanggan selama seminggu di 3 zona
layanan Kecamatan Johan Pahlawan dapat dilihat pada Lampiran B Tabel
B.3.13 halaman 87 sampai dengan Tabel B.3.15 halaman 89.

33
3.4.3 Pengolahan dan analisis data sekunder
Proses pengolahan data dan analisis terhadap data sekunder yang diperoleh
dari PDAM Tirta Meulaboh adalah sebagai berikut:
1. Data jumlah penduduk.
- Data jumlah penduduk tahun 2009 sampai tahun 2013 diperlihatkan pada
Tabel 3.1 di bawah ini. Tabel tersebut menunjukkan bahwa perbandingan
jumlah penduduk dengan cakupan pelayanan yang dihasilkan oleh PDAM
Tirta Meulaboh untuk Kecamatan Johan Pahlawan fluktuatif tiap
tahunnya. Jumlah penduduk yang terlayani pada tahun 2013 berdasarkan
tabel di bawah menunjukkan bahwa cakupan penduduk yang terlayani
hanya sebesar 47%, dimana cakupan layanan akan kebutuhan air bersih
masih rendah dari cakupan pelayanan air bagi masyarakat untuk
mendukung program MDGs yaitu cakupan pelayanan minimal 60%
sampai tahun 2015. Sedangkan dalam rancangan RPJMN 2015-2019,
bidang Cipta Karya menargetkan 100% cakupan layanan air bersih,
dimana memenuhi 85% Standart Pelayaan Minumum (SPM) dan 15%
memenuhi kebutuhan dasar.
- Tabel ini digunakan untuk perhitungan proyeksi pertumbuhan penduduk
sampai perencanaan 20 tahun yang akan datang. Dari data tersebut maka
akan dihitung proyeksi jumlah penduduk Kecamatan Johan Pahlawan dari
tahun 2013 sampai tahun 2032 dengan menggunakan metode Geometrik
pada persamaan 2.1 halaman 7.
- Metode proyeksi ini dihitung berdasarkan perhitungan laju pertumbuhan
penduduk. Perhitungan laju pertumbuhan penduduk didapat dari
pertumbuhan penduduk dibagi dengan jumlah penduduk tahun sebelumnya
seperti yang tertera pada persamaan 2.2 halaman 7.

34
Tabel 3.1 Perbandingan Jumlah Penduduk dan Cakupan Pelayanan
Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat
Jumlah Jumlah %
Jumlah Demand
no Tahun penduduk penduduk penduduk
pelanggan (liter/detik)
(jiwa) terlayani terlayani
1 2009 56.223 6.252 39.580 69 78,61
2 2010 57.035 6.406 40.504 72 83,54
3 2011 65.473 8.858 55.028 75 102,29
4 2012 72.984 7.114 45.222 62 86,36
5 2013 75473 5.522 35.832 47 73,90
Sumber: PDAM Tirta Meulaboh Kabupaten Aceh Barat Tahun 2013

- Data proyeksi jumlah penduduk ini dibutuhkan untuk menganalisa jumlah


penduduk yang terlayani selama tahun perencanaan, menganalisa jumlah
sistem pelayanan baik untuk Sambungan Rumah dan Hidran Umum,
menganalisa jumlah kebutuhan air domestik dan non domestik serta kebu-
tuhan air rata-rata yang dibutuhkan selama perencanaan sampai 20 tahun
mendatang.
2. Data teknis PDAM dan Peta jaringan PDAM.
Data-data ini digunakan untuk mengetahui kapasitas produksi dan kapasi-
tas distribusi dari WTP Lapang, jenis/diameter/panjang pipa distribusi dan
lokasi sampel pelanggan pada wilayah studi. Untuk data teknis PDAM
diperlihatkan pada Lampiran B Tabel B.3.1 halaman 75 sampai dengan
Tabel B.3.5 halaman 79 sedangkan peta jaringan PDAM diperlihatkan
pada Lampiran A Gambar A.3.3 halaman 69.
3. Data laporan produksi, distribusi dan jumlah air terjual pada tahun 2013.
Data-data produksi air, distribusi air dan jumlah air terjual selama tahun
2013 diperlihatkan pada tabel 3.2 di bawah ini. Data ini digunakan untuk
menghitung tingkat kehilangan air yang terjadi pada tahun 2013.

35
Tabel 3.2 Data Jumlah Air Produksi dan Air Distribusi PDAM Tirta
Meulaboh pada tahun 2013

Air Yang Air Yang


Air Yang Air Yang
No Bulan Diproduksi Didistribusikan
Terjual (m3) hilang (m3)
(m3) (m3)
1 Januari 197.172,00 175.860,00 120.959,00 54.901,00
2 Februari 237.221,67 160.710,00 118.852,00 41.858,00

3 Maret 200.060,00 182.250,00 121.611,00 60.639,00


4 April 203.085,00 168.080,00 125.005,00 43.075,00
5 Mei 201.166,00 205.550,00 120.152,00 85.398,00
6 Juni 191.855,00 171.240,00 124.111,00 47.129,00
7 Juli 207.934,00 188.260,00 119.944,00 68.316,00

8 Agustus 237.851,67 206.690,00 118.685,00 88.005,00


9 September 209.250,00 181.990,00 115.888,00 66.102,00

10 Oktober 196.108,00 210.220,00 119.332,00 90.888,00


11 Nopember 199.639,00 178.610,00 124.294,00 54.316,00
12 Desember 241.537,67 206.010,00 122.670,00 83.340,00

JUMLAH 2.522.880,00 2.235.470,00 1.451.503,00 783.967,00


Sumber : PDAM Tirta Meulaboh

4. Analisis tingkat kehilangan air.


Analisis tingkat kehilangan air mengacu pada jumlah air yang
didistribusikan dengan jumlah air yang dikonsumsi. Tingkat kehilangan air
dapat dihitung berdasarkan persamaan 2.10 pada halaman 13.
5. Analisis perhitungan neraca air.
Neraca air dilakukan untuk melakukan monitoring laju kehilangan air
dengan menggunakan data-data seperti data debit yang masuk selama
tahun 2013, data konsumsi bermeter berekening, ketidak akuratan
pembacaan pada meter pelanggan, kehilangan air yang terjadi selama
tahun 2013 dan kehilangan fisik air. Analisa perhitungan neraca air yang
digunakan berdasarkan usulan neraca air internasional atau International
Water Associations (IWA) pada konferensi di Berlin tahun 2001, seperti
yang diperlihatkan pada Tabel 2.3 halaman 14.

36
6. Analisis NRW (Non Revenued Water)
Analisis NRW (air tak berekening) digunakan untuk meminimalkan
tingkat kehilangan air yang terjadi akibat air hasil produksi PDAM yang
tidak mendatangkan income sehinffa PDA merugi. Besarnya nilai NRW
didapatkan dengan menggunakan metode ILI (Infrastructure Leakage
Index) dan MAAPL (Minimum Achievable Annual Physical Losses)
seperti yang terlihat pada persamaan 2.12 dan 2.13 pada halaman 15.
Data-data yang dibutuhkan untuk mendapatkan nilai NRW dengan
menggunakan metode ILI adalah: data panjang pipa induk (LM), jumlah
sambungan rumah (NC), tinggi tekanan rata-rata (P), panjang rata-rata
pipa dinas ke meter pelanggan (LP) yang dikalikan dengan jumlah
sambungan rumah.
7. Data pelanggan, data rekening, data debit selama tahun 2013 dari sampel
pelanggan.
- Data-data ini dibutuhkan untuk menganalisa kinerja sistem distribusi air
bersih yang meliputi keandalan, kelentingan dan kerawanan berdasarkan
debit pemakaian air yang sampai ke pelanggan. Data debit pemakaian air
selama tahun 2013 (januari sampai desember 2013) didapat dari 99 sampel
pelanggan yang ada di zona layanan Kecamatan Johan Pahlawan
diperlihatkan pada Lampiran B Tabel B.3.16 halaman 90. Persamaan yang
digunakan untuk menganalisa kinerja jaringan distribusi air bersih sudah
dibahas pada Bab II sebelumnya.
- Dari data debit pemakaian air, debit yang digunakan dalam menganalisis
kinerja jaringan distribusi air bersih adalah debit minimum. Asumsi
dasarnya adalah air yang tercatat pada meter air di tiap-tiap pelanggan
tersebut mencerminkan kemampuan layanan jaringan air bersih. Debit
minimum sebagai perhitungan batas normal kebutuhan
air/pelanggan/bulan untuk Kabupaten Aceh Barat adalah 23,4 m/bulan,
dengan anggapan jumlah penduduk pada satu pelanggan berjumlah 6 jiwa
dan kebutuhan air tiap orang per hari sebesar 130 liter ( BPPDU, 2006).

37
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini disajikan hasil dan pembahasan penelitian berdasarkan


metodologi penelitian yang telah dijabarkan pada Bab III sebelumnya. Hasil dan
pembahasan penelitian ini menyangkut dengan belum baik dan belum optimalnya
pelayanan kebutuhan air bersih yang diberikan oleh PDAM Tirta Meulaboh pada
zona layanan Kecamatan Johan Pahlawan. Sehingga dari hasil pembahasan
penelitian ini nantinya akan menjadi masukan bagi PDAM Tirta Meulaboh
terhadap perbaikan dan peningkatan kinerja dari sistem jaringan distribusi dalam
hal pemenuhan kebutuhan layanan air bersih kepada pelanggan yang ada di zona
layanan Kecamatan Johan Pahlawan.
Hasil dan pembahasan pada bab ini meliputi:
1. Daerah studi dari PDAM Tirta Meulaboh seperti: ketersedian sumber air
baku PDAM, bangunan intake, kapasitas produksi dari WTP Lapang dan
reservoir, dan sistem distribusi dari WTP Lapang.
2. Hasil analisis data primer yang didapat adalah:
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi sistem layanan air bersih,
seperti, debit aliran air, tekanan air, kontinuitas aliran serta fluktuasi
kebutuhan air bersih.
3. Hasil analisis data sekunder yang didapat adalah:
Hasil analisis tingkat kehilangan air serta pengendalian tingkat
kehilangan air dengan metode NRW.
Hasil analisis kinerja sistem jaringan distribusi air bersih PDAM Tirta
Meulaboh yang menyangkut keandalan, kelentingan dan kerawanan.

3837
4.1 Hasil kajian Daerah Studi PDAM Tirta Meulaboh

4.1.1 Ketersediaan sumber air baku


Sumber air baku yang digunakan oleh PDAM Tirta Meulaboh utuk
pelayanan kebutuhan air bersih bersumber dari air permukaan yaitu Sungai
Krueng Meureubo dan Sungai Beureugang. Namun untuk wilayah layanan zona
Kecamatan Johan Pahlawan, air bakunya bersumber dari Sungai Krueng
Meureubo, Sedangkan sumber air baku dari Sungai Beuregang untuk wilayah
layanan Kecamatan Kaway XVI. Debit air yang dihasilkan oleh kedua sungai
tersebut sangat besar, sehingga sangat berpotensi bila dijadikan sumber air baku
untuk pengembangan. Debit rata-rata sungai yang dihasilkan oleh sungai Krueng
Meureubo sebesar 100 m3/detik atau sebesar 100.000 liter/detik, dengan
kedalaman sungai mencapai 15 m.
Dari segi kuantitas, sumber air baku yang digunakan oleh PDAM Tirta
Meulaboh dari sungai Krueng Meureubo sangat mencukupi untuk memenuhi
pasokan air baku pada instalasi pengolahan air bersih yang ada di WTP Lapang.
Sedangkan dari segi kualitas, berdasarkan hasil dari pemeriksaan yang dilakukan
oleh PDAM Tirta Meulaboh, tingkat pencemaran lingkungan yang ada di sungai
Krueng Meureubo masih jauh di bawah ambang yang diizinkan, karena sumber
pencemaran air sungai akibat limbah rumah tangga yang ditimbulkan dari
aktivitas masyarakat/penduduk yang tinggal disekitar sungai Krueng Meureubo.
Selain itu, perubahan tata guna lahan yang ada di Kabupaten Aceh Barat
juga berpengaruh terhadap ketersediaan debit air baku sebagai sumber air bersih
masyarakat. Sehingga dibutuhkan pola tata guna lahan yang baik, karena akan
sangat mempengaruhi terhadap ketersediaan sumber air bersih untuk masyarakat
dimasa-masa mendatang.

4.1.2 Kondisi bangunan intake


Pengambilan sumber air baku dari sungai Krueng Meureubo ke bangunan
sadap (intake) yang dipompa ke WTP Lapang dengan mengguakan dua unit
pompa Submersible yang memiliki kapasitas masing-masing 40 liter/detik dengan
head 25 meter. Sistem produksi yang digunakan dalam pendistribusian air ke

39
WTP Lapang menggunakan sumber energi Tenaga Listrik dari PLN Cabang
Meulaboh dan dibantu oleh satu genset yang digunakan jika terjadi pemadaman
listrik oleh PLN.

4.1.3 Kapasitas produksi WTP Lapang dan reservoir


WTP Lapang sampai saat ini memiliki kapasitas desain sebesar 2x40
liter/detik atau sebesar 80 liter/detik. Jam operasi produksi dan operasi distribusi
kebutuhan air bersih dari WTP Lapang berjalan selama 24 jam per hari. Dari hasil
kebutuhan layanan masyarakat yang ada di kecamatan Johan pahlawan dari PDA
Tirta Meulaboh, untuk tahun 2013 kapasitas produksi yang dihasilkan oleh WTP
Lapang dapat mencukupi terhadap layanan kebutuhan air bersih bagi pelanggan
yang ada di zona layanan Kecamatan Johan Pahlawan. Untuk pemenuhan layanan
kebutuhan masyarakat berdasarkan tahun perencanaan sampai dengan tahun 2032
dapat dilihat pada analisa kebutuhan masyarakat berdasarkan tahun perencanaan
pada lampiran Tabel 4.6 halaman 52.
Reservoir yang ada saat ini pada sistem pelayanan kebutuhan air bersih
adalah reservoir distribusi yang pengalirannya dengan menggunakan sistem
pemompaan dari unit instalasi pengolahan air bersih. Reservoir yang ada pada
WTP Lapang memiliki 3 (tiga) unit reservoir dengan kapasitas 250 m3, 400 m3,
dan 450 m3. Dan sampai saat ini, reservoir yang ada pada WTP Lapang masih
berfungsi dengan baik secara optimal dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.

4.1.4 Sistem distribusi dari WTP Lapang


Sistem distribusi layanan kebutuhan air bersih dari WTP Lapang
menggunakan sistem perpipaan. Panjang keseluruhan dari pipa distribusi dari
WTP Lapang 92,55 km. Proses pendistribusian dan pengaliran air bersih dari
WTP Lapang menggunakan Continous System dan cara pemompaan, dikarenakan
air dialirkan ke pelanggan secara terus menerus selama 24 jam per hari dan cara
pemompaan digunakan karena perbedaan elevasi antara sumber air atau WTP
dengan daerah layanan Kecamatan Johan Pahlawan tidak dapat memberikan
tekanan yang cukup. Sistem distribusi air bersih menggunakan 4 (empat) buah

40
pompa yaitu pompa dengan kapasitas 75 liter/detik, 90 liter/detik, 60 liter/detik
dan 30 liter/detik. Dalam pengoperasiannya, untuk beban puncak menggunakan
pompa dengan kapasitas yang besar, dan pada waktu beban rendah maka
digunakan pompa dengan kapasitas yang kecil. Ini digunakan hanya untuk
pengisian pipa agar tidak terjadi kehilangan tekanan yang cukup besar.
Sistem distribusi air bersih yang ada pada PDAM Tirta Meulaboh yaitu
sumber air baku pipa utama reservoir pipa induk pipa distribusi.
Sedangkan infrastruktur yang ada mencakup sungai sebagai sumber air baku -
bangunan sadap/intake WTP reservoir jaringan distribusi.

4.2 Hasil Analisis Data Primer

4.2.1 Hasil analisis debit air


Data pengukuran debit dilakukan pada 99 sampel pelanggan yang tersebar
pada 3 zona layanan PDAM Tirta Meulaboh yang ada di Kecamatan Johan
Pahlawan. Lokasi penelitian pada wilayah studi dapat dilihat pada Lampiran A
Gambar A.3.3 halaman 69. Pengamatan debit aliran air pada 99 sampel pelanggan
dilakukan selama seminggu atau 7 hari dimulai hari Minggu tanggal 20 April
2014 sampai dengan Sabtu 26 April 2014, dengan melakukan pencatatan debit air
dalam 1 hari sebanyak 5 kali pengamatan, yaitu pada pukul 06:00, pukul 10:00,
pukul 14:00, pukul 18:00 dan pukul 22:00, untuk melihat kondisi pemakaian air
oleh pelanggan.
Hasil analisis data debit pemakaian air dari 99 sampel pelanggan yang ada
di zona layanan Kecamatan Johan Pahlawan menunjukkan bahwa debit yang
sampai kepada pelanggan sangat berhubungan dengan kondisi jaringan distribusi
air bersih. Data pemakaian air dari sampel pelanggan disetiap zona layanan untuk
melihat kondisi nyata debit yang dihasilkan di lapangan seperti yang diperlihatkan
pada Lampiran B Tabel B.3.7 halaman 81 sampai dengan Tabel B.3.9 halaman 83.
Berdasarkan hasil analisis data debit pemakaian air dari kondisi nyata di lapangan,
didapatkan volume pemakaian air rata-rata yang sampai kepada pelanggan pada 3

41
zona layanan PDAM Kecamatan Johan Pahlawan diperlihatkan pada Tabel 4.1
dan Grafik 4.1 di bawah ini:

Tabel 4.1 Hasil Analisis Pemakaian Air Rata-Rata Pada Zona Layanan
Kecamatan Johan Pahlawan

Volume Rata-Rata Hasil Lapangan Volume Volume


Lokasi (m3/jiwa) Total Total
No (Liter/
Penelitian (m3/Org/
6:00 10:00 14:00 18:00 22:00 Org/hari)
hari)
1 Zona Layanan 1 0,027 0,027 0,025 0,025 0,025 0,130 129,759

2 Zona Layanan 2 0,021 0,019 0,021 0,019 0,019 0,099 99,000

3 Zona Layanan 3 0,022 0,017 0,017 0,018 0,018 0,092 92,000

Grafik 4.1 Grafik Debit Air Rata-Rata Pada Zona Layanan


Kecamatan Johan Pahlawan

Grafik pola pemakaian air di atas menunjukkan kondisi real pemakaian air
rata-rata selama satu minggu pengamatan di lapangan zona layanan Kecamatan
Johan Pahlawan, dimana pemakaian air harian antara hari satu dengan hari lainnya
berbeda untuk setiap lokasi pengamatan/lokasi studi. Dari grafik di atas terlihat
jelas bahwa volume pemakaian air pada zona layanan Kecamatan Johan Pahlawan

42
yang tertinggi adalah pada zona layanan 1, dimana zona layanan 1 ini lebih dekat
dengan WTP yang berada di Lapang, sehingga debit air yang mengalir pada
pelanggan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 2 zona layanan lainnya. Volume
pemakaian air rata-rata di zona layanan 1 sebesar 0,130 m3/orang, zona layanan 2
sebesar 0,099 m3/orang dan pada zona layanan 3 sebesar 0,092 m3/orang.
Pada zona layanan 1 menunjukkan pemakaian airnya tertinggi yaitu pada
pukul 06:00 dan 10:00, pada zona layanan 2 pemakaian air tertinggi pada pukul
06: 00 dan 14:00 dan pada zona layanan 3 pemakaian airnya tertinggi yaitu pada
pukul 06:00. Dapat disimpulkan bahwa waktu penggunaan air tertinggi
merupakan waktu puncak pemakaian air. Pada zona layanan 1 Kecamatan Johan
Pahlawan, waktu puncaknya terjadi pada pagi hari, untuk zona layanan 2 pada
pagi dan siang hari, dan malam hari untuk zona layanan 3. Ini menunjukkan
bahwa masyarakat menjalankan aktifitasnya pada waktu-waktu tersebut. Kondisi
nyata dari setiap pelanggan yang diperlihatkan pada Lampiran B Tabel B.3.7
halaman 81 sampai dengan Tabel B.3.8 halaman 83. Data pemakaian air 99
sampel pelanggan di lapangan memperlihatkan adanya debit pemakaian 0 m3 dari
waktu-waktu pengamatan, dimana pemakaian 0 m3 dapat disimpulkan
kemungkinan tidak adanya air dalam jaringan pipa sehingga tidak mampu
melayani kebutuhan air pelanggan, kemungkinan adanya kebocoran, dan
kerusakan serta penyempitan pada pipa distribusi di lokasi pengamatan sampel
pelanggan.
Secara keseluruhan dapat diambil kesimpulan bahwa debit rata-rata yang
sampai ke pelanggan atau volume pemakaian air rata-rata selama waktu
pengamatan untuk Kecamatan Johan Pahlawan sebesar 0,107 m3/jiwa atau sebesar
106,92 liter/orang/hari. Ini berarti konsumsi kebutuhan air bersih nyata dari
sampel pelanggan rata-rata sebesar 106,92 liter/orang/hari tersebut kurang dari
130 liter/orang/hari konsumsi unit sambungan rumah menurut kriteria pemakaian
air bersih setiap kota/kabupaten. Sehingga dengan kondisi tersebut maka PDAM
Tirta Meulaboh belum mampu memenuhi kebutuhan pelanggan, dimana
kekurangan kebutuhan air bersih rata-rata setiap pelanggan > 23 liter/orang/hari.

43
4.2.2 Hasil analisis tekanan air
Hasil pengamatan tekanan dengan menggunakan Pressure Gauge, tekanan
yang dihasilkan secara acak pada sampel pelanggan yang ada di zona layanan
Kecamatan Johan Pahlawan tidak mencapai 1 atm. Dimana persyaratan
penyediaan air bersih terhadap tekanan dirancang untuk dapat melayani pelanggan
hingga yang terjauh adalah minimal 1 atm.
Dengan kondisi tersebut, maka analisa terhadap tekanan air dilakukan
dengan menampung air pada sebuah wadah 1 liter yang mengalir pada pipa
pelanggan berdiameter 1/2 inchi dengan mencatat waktu air mengalir disamping
stand meter. Hasil dari kecepatan aliran tersebut kemudian dikonversikan ke
dalam perhitungan tekanan dari persamaan 2.4 dan 2.5 halaman 11. Hasil tekanan
untuk setiap sampel pelanggan yang ada di setiap zona layanan dapat dilihat pada
Lampiran B Tabel B.3.10 halaman 84 sampai dengan Lampiran B Tabel B.3.12
halaman 86. Hasil analisis dari data tekanan air disetiap sampel pelanggan yang
ada di Kecamatan Johan Pahlawan ini untuk melihat kondisi nyata tekanan air
yang terjadi di lapangan baik tekanan maksimum dan tekanan minimum, seperti
yang diperlihatkan pada Tabel dan Grafik di bawah ini.

Tabel 3 Hasil Analisis Tekanan Air Maksimum dan Minimum di Zona


Layanan Kecamatan Johan Pahlawan
Lokasi Tinggi Tekanan Air Harian (m) Maksimum
No
Penelitian Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu
1 Zona layanan 1 0,031 0,032 0,026 0,032 0,026 0,030 0,031
2 Zona layanan 2 0,014 0,014 0,012 0,012 0,015 0,010 0,013
3 Zona layanan 3 0,007 0,007 0,006 0,008 0,007 0,007 0,008

Lokasi Tinggi Tekanan Air Harian (m) Minimum


No
Penelitian Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu
1 Zona layanan 1 0,017 0,013 0,011 0,012 0,018 0,017 0,017
2 Zona layanan 2 0,010 0,009 0,010 0,011 0,009 0,010 0,010
3 Zona layanan 3 0,005 0,005 0,006 0,004 0,004 0,004 0,004

44
Grafik 3 Grafik Tinggi Tekanan Air di 3 Zona Layanan Kecamatan Johan
Pahlawan

Hasil analisis ini menunjukkan bahwa pola tekanan air di tiap zona
layanan sangatlah beragam, dimana tekanan tersebut menunjukkan perbedaan
antara waktu yang satu dengan waktu lainnya dan perbedaan antara hari yang satu
dengan hari lainnya. Dari tabel dan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa tinggi
tekanan air maksimum tertinggi di zona layanan 1 adalah pada hari selasa dan
kamis dengan tinggi tekanan 0,032 m, sedangkan tinggi tekanan air minimum
adalah pada hari rabu dan jumat dengan tinggi tekanan 0,026 m. Untuk zona
layanan 2, tekanan air maksimum tertinggi di hari Jumat dengan tekanan
maksimum 0,015 m dan tinggi tekanan air minimum pada hari sabtu dengan
0,010 m. Sedangkan pada zona layanan 3, tekanan air maksimum tertinggi di hari
kamis dan minggu dengan tekanan maksimum 0,008 m dan tinggi tekanan air
minimum pada hari rabu dengan 0,006 m. Ini menyatakan bahwa selama
pengamatan dalam 1 hari untuk 5 kali pengamatan, air dinyatakan bertekanan dan
ada air mengalir pada waktu tersebut.
Analisis dari tekanan air yang dihasilkan ini belum mencapai persyaratan
tekanan air untuk sampai ke pelanggan sebesar 1 atm, dimana tinggi tekanan air
rata-rata maksimum untuk Kecamatan Johan Pahlawan sebesar 0,03 m. Ini
diakibatkan karena kapasitas pipa yang digunakan tidak memadai, sehingga
menyebabkan pelanggan tidak memperoleh air dalam tekanan yang cukup.
Penggunaan pompa air oleh pelanggan sekitarnya mengakibatkan terjadinya
penarikan tekanan disetiap titik, sehingga pada titik lain menjadi hilang.

45
4.2.3 Hasil analisis kontinuitas aliran
Hasil pengamatan kontinuitas aliran air dari PDAM Tirta Meulaboh pada
minggu pertama saat pencatatan debit dan tekanan dapat dikatakan ada air
mengalir pada waktu tersebut dan air mengalir selama 24 jam. Pengamatan
kontinuitas aliran 3 minggu berikutnya pada intake juga dinyatakan mengalir
secara terus menerus selama 24 jam dan tidak terjadi pemadaman listrik.
Kontinuitas ini berkaitan dengan kebiasaan pemakaian air, karena pada jam-jam
puncak pemakaian terjadi pemakaian air secara bersama-sama.

4.2.4 Hasil analisis fluktuasi kebutuhan air bersih


Analisis terhadap fluktuasi kebutuhan air bersih pada zona layanan
Kecamatan Johan Pahlawan dilakukan dengan melihat jumlah pemakaian air pada
tiap jam dimana kebutuhan air berubah untuk setiap jamnya. Untuk analisis
fluktuasi kebutuhan air bersih dilakukan random 1 sampel pelanggan yang ada
disetiap zona layanan PDAM Kecamatan Johan Pahlawan. Data kebutuhan air
harian maksimum, kebutuhan air pada jam puncak dan kebutuhan air rata-rata dari
sampel 3 pelanggan selama seminggu di 3 zona layanan Kecamatan Johan
Pahlawan dapat dilihat pada Lampiran C Tabel C.4.1 halaman 91 sampai dengan
Tabel C.4.3 halaman 93.
Berdasarkan Tabel tersebut terlihat bahwa fluktuasi kebutuhan pemakaian
air harian maksimum terbesar terdapat pada zona layanan 1 dibandingkan dengan
dua zona layanan lainnya. Dari hasil analisis terlihat bahwa pada zona layanan 1,
memiliki nilai faktor harian maksimum dan faktor jam puncaknya lebih tinggi
dibandingkan dengan 2 zona layanan lainnya. Pada zona layanan 1, fluktuasi
kebutuhan pemakaian air harian maksimum sebesar 0,810 m3/jam dengan nilai
kebutuhan air harian rata-rata sebesar 0,682 m3/jam, sehingga nilai faktor harian
maksimum sebesar 1,19. Sedangkan untuk besarnya nilai kebutuhan air jam pun-
cak berdasarkan hasil analisa pengamatan di lapangan, didapat nilai rata-rata
kebutuhan air jam puncak terbesar pada pukul 09.00-10.00 yaitu sebesar
103.714,29 liter/detik dengan nilai faktor jam puncak sebesar 1,59. Dimana nilai

46
faktor jam puncak 1,59 dan faktor harian maksimum 1,19 telah sesuai dengan
kriteria pemakaian air menurut BPPDU untuk wilayah perkotaan.
Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa pola pemakaian air
dan keseragaman aktivitas penggunanan air disetiap zona layanan sangat
mempengaruhi besarnya nilai faktor pemakaian air. Hasil analisis fluktuasi
pemakaian air pada sampel pelanggan di 3 zona layanan kecamatan Johan
Pahlawan diperlihatkan pada Tabel 4.3 di bawah ini:

Tabel 4.3 Hasil Analisis Fluktuasi Pemakaian Air Pada Sampel


Pelanggan di 3 Zona Layanan Kecamatan Johan Pahlawan

Total
Pemakaian Air (liter/detik) selama seminggu Pemakaian Air
No Jam Rata-Rata
Zona 1 Zona 2 Zona 3 Liter/detik
1 10.00-11.00 113.142,86 77.142,86 51.428,57 80.571,43
2 11.00-12.00 113.142,86 77.142,86 51.428,57 80.571,43
3 12.00-13.00 105.428,57 51.428,57 0 52.285,71
4 13.00-14.00 113.142,86 72.000,00 51.428,57 78.857,14
5 14.00-15.00 128.571,43 77.142,86 36.000,00 80.571,43
6 15.00-16.00 102.000,00 77.142,86 51.428,57 76.857,14
7 16.00-17.00 113.142,86 77.142,86 36.000,00 75.428,57
8 17.00-18.00 128.571,43 77.142,86 46.285,71 84.000,00
9 18.00-19.00 128.571,43 77.142,86 51.428,57 85.714,29
10 19.00-20.00 132.000,00 77.142,86 46.285,71 85.142,86
11 20.00-21.00 102.857,14 51.428,57 61.714,29 72.000,00
12 21.00-22.00 128.571,43 77.142,86 51.428,57 85.714,29
13 22.00-23.00 102.857,14 51.428,57 46.285,71 66.857,14
14 23.00-00.00 87.428,57 77.142,86 46.285,71 70.285,71
15 00.00-01.00 72.000,00 77.142,86 56.571,43 68.571,43
16 01.00-02.00 0 0 61.714,29 20.571,43
17 02.00-03.00 102.857,14 51.428,57 51.428,57 68.571,43
18 03.00-04.00 0 51.428,57 36.000,00 29.142,86
19 04.00-05.00 128.571,43 0 0 42.857,14
20 05.00-06.00 138.857,14 87.428,57 46.285,71 90.857,14
21 06.00-07.00 128.571,43 77.142,86 61.714,29 89.142,86
22 07.00-08.00 77.142,86 51.428,57 56.571,43 61.714,29
23 08.00-09.00 77.142,86 77.142,86 46.285,71 66.857,14
24 09.00-10.00 164.571,43 51.428,57 51.428,57 89.142,86
Kebutuhan Air Harian
Maksimum 164.571,43 87.428,57 61.714,29 70.928,57
(liter/detik)
Kebutuhan Air Harian
103.714,29 63.428,57 45.642,86
Rata-Rata (liter/detik)

47
Grafik 4.3 Grafik Pola Pemakaian Air Rata-Rata Pada Zona Layanan
Kecamatan Johan Pahlawan

4.3 Hasil Analisis Data Sekunder

Hasil analisis data sekunder ini mencakup analisis kehilangan air dengan
analisis NRW menggunakan metode ILI dan analisis kinerja sistem distribusi air
bersih berdasarkan keandalan, kelentingan dan kerawanan.

4.3.1 Hasil analisis proyeksi jumlah penduduk

Metode proyeksi penduduk ini dihitung berdasarkan perhitungan laju


pertumbuhan penduduk dengan menggunakan persamaan 2.2 halaman 7. Dari
hasil perhitungan laju pertumbuhan penduduk, untuk Kecamatan Johan Pahlawan
rata-rata laju pertumbuhan penduduknya adalah 2,99 %. Hasil dari perhitungan
proyeksi jumlah penduduk dari tahun 2013 sampai dengan 2032 untuk Kecama-
tan Johan Pahlawan dapat dilihat pada Tabel 4.4 di bawah ini:

48
Tabel 4.4 Proyeksi Jumlah Penduduk Kecamatan Johan Pahlawan
Kabupaten Aceh Barat dari Tahun 2014 sampai dengan 2032
No Tahun Jumlah penduduk (jiwa) no Tahun Jumlah penduduk (jiwa)
1 2014 77.726 11 2024 104.312
2 2015 80.047 12 2025 107.426
3 2016 82.437 13 2026 110.633
4 2017 84.898 14 2027 113.937
5 2018 87.433 15 2028 117.338
6 2019 90.043 16 2029 120.841
7 2020 92.731 17 2030 124.449
8 2021 95.500 18 2031 128.165
9 2022 98.351 19 2032 131.991
10 2023 101.288

4.3.2 Hasil analisis kebutuhan air

Perhitungan kebutuhan air pada wilayah studi dilakukan berdasarkan


jumlah penduduk dari hasil perhitungan proyeksi penduduk Kecamatan Johan
Pahlawan dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2032. Pada perhitungan
kebutuhan air ini dibagi atas dua kelompok pemakai air yaitu pemakai air untuk
kebutuhan rumah tangga (domestik) dan kebutuhan non domestik. Kebutuhan air
domestik dihitung berdasarkan standar kebutuhan air minum untuk Sambungan
Rumah (SR) 80% dan kebutuhan Hidran Umum (HU) 20%.
Untuk pemakaian air bersih dilihat berdasarkan hasil perhitungan proyeksi
penduduk seperti yang diperlihatkan pada Tabel 4.4 di atas. Dari tabel proyeksi
penduduk Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat dari tahun 2014
sampai dengan tahun 2022 berdasarkan Badan Penelitian dan Pengembangan
Departemen PU (2006) dari Tabel 2.2 halaman 9, maka digolongkan ke dalam
golongan IV dengan kategori kecil, dimana kisaran penduduknya 20.000-100.000
jiwa. Dengan kategori tersebut, kebutuhan air domestik dilihat terhadap konsumsi
unit sambungan rumah (SR) pada tahun tersebut sebesar 130 liter/orang/hari atau
sebesar 23,4 m3/bulan. Sedangkan dari tahun 2023 sampai dengan tahun 2032
berdasarkan Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen PU (2006) dari
Tabel 2.2 halaman 9, maka digolongkan ke dalam golongan III dengan kategori
sedang, dimana kisaran penduduknya 100.000-500.000 jiwa. Dengan kategori

49
tersebut, kebutuhan air domestik dilihat terhadap konsumsi unit sambungan rumah
(SR) pada tahun tersebut sebesar 150 liter/orang/hari atau sebesar 27 m3/bulan
Pada awal tahun rencana 2013 berdasarkan Tabel 2.1 halaman 7, jumlah
penduduk pada Kecamatan Johan Pahlawan sebesar 75.473 jiwa dengan cakupan
pelayanan kebutuhan air bersih baru tercapai 47%, sehingga diharapkan sampai
tahun proyeksi 2032 PDAM Tirta Meulaboh dapat memenuhi layanan kebutuhan
air bersih bagi pelanggan Kecamatan Johan Pahlawan sebesar 100% sesuai
dengan target bidang PU Cipta Karya. Kebutuhan air bersih rata-rata merupakan
akumulasi dari jumlah kebutuhan air bersih domestik dan kebutuhan air bersih
non domestik. Hasil perhitungan cakupan pelayanan kebutuhan air bersih yang
terlayani oleh Sambungan Rumah dan Hidran Umum diperlihatkan pada Tabel 4.5
di bawah.

Tabel 4.5 Hasil Analisis Cakupan Pelayanan Kebutuhan Air Bersih dari
Tahun 2014 Sampai 2032
Jumlah Jumlah % Jumlah Sistem
No Tahun Penduduk Penduduk Penduduk Pelayanan
(jiwa) Terlayani Terlayani SR 80% HU 20%
1 2014 77.726 62.181 80% 49.745 12.436
2 2015 80.047 80.047 90% 64.038 16.009
3 2016 82.437 82.437 100% 65.949 16.487
4 2017 84.898 84.898 100% 67.918 16.980
5 2018 87.433 87.433 100% 69.946 17.487
6 2019 90.043 90.043 100% 72.035 18.009
7 2020 92.731 92.731 100% 74.185 18.546
8 2021 95.500 95.500 100% 76.400 19.100
9 2022 98.351 98.351 100% 78.681 19.670
10 2023 101.288 101.288 100% 81.030 20.258
11 2024 104.312 104.312 100% 83.449 20.862
12 2025 107.426 107.426 100% 85.941 21.485
13 2026 110.633 110.633 100% 88.507 22.127
14 2027 113.937 113.937 100% 91.149 22.787
15 2028 117.338 117.338 100% 93.871 23.468
16 2029 120.841 120.841 100% 96.673 24.168
17 2030 124.449 124.449 100% 99.559 24.890
18 2031 128.165 128.165 100% 102.532 25.633
19 2032 131.991 131.991 100% 105.593 26.398

50
Hasil perhitungan kebutuhan air bersih domestik, kebutuhan air bersih
non domestik dan kebutuhan air bersih rata-rata dari tahun 2014-2032 untuk
Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat diperlihatkan pada Tabel 4.6
dan Tabel 4.7 di bawah ini:

Tabel 4.6 Kebutuhan Air Bersih Domestik dan Non Domestik Tahun 2014
Sampai 2032

Jumlah Sistem Standard Kebutuhan Kebutuhan Kebutuhan


Pelayanan Air Air Air Non
Sambungan Hidran Domestik Domestik
Hidran Rumah Umum (Qd) = (Qnd)
no Tahun Sambungan SR+HU =20%. Qd
Umum (SR) (HU)
Rumah
(HU)
(SR) 80% liter/orang/ liter/orang liter/orang liter/orang
20%
hari /hari /hari /hari
1 2014 49.745 12.436 6.466.830 373.086 6.839.917 1.367.983
2 2015 64.038 16.009 8.324.880 480.282 8.805.162 1.761.032
3 2016 65.949 16.487 8.573.428 494.621 9.068.049 1.813.610
4 2017 67.918 16.980 8.829.397 509.388 9.338.785 1.867.757
5 2018 69.946 17.487 9.093.008 524.597 9.617.604 1.923.521
6 2019 72.035 18.009 9.364.489 540.259 9.904.748 1.980.950
7 2020 74.185 18.546 9.644.075 556.389 10.200.464 2.040.093
8 2021 76.400 19.100 9.932.009 573.001 10.505.010 2.101.002
9 2022 78.681 19.670 10.228.540 590.108 10.818.648 2.163.730
10 2023 81.030 20.258 12.154.527 607.726 12.762.254 2.552.451
11 2024 83.449 20.862 12.517.413 625.871 13.143.284 2.628.657
12 2025 85.941 21.485 12.891.134 644.557 13.535.690 2.707.138
13 2026 88.507 22.127 13.276.012 663.801 13.939.812 2.787.962
14 2027 91.149 22.787 13.672.381 683.619 14.356.000 2.871.200
15 2028 93.871 23.468 14.080.584 704.029 14.784.613 2.956.923
16 2029 96.673 24.168 14.500.975 725.049 15.226.023 3.045.205
17 2030 99.559 24.890 14.933.916 746.696 15.680.612 3.136.122
18 2031 102.532 25.633 15.379.784 768.989 16.148.773 3.229.755
19 2032 105.593 26.398 15.838.964 791.948 16.630.912 3.326.182

51
Tabel 4.7 Kebutuhan Air Bersih Rata-Rata Tahun 2014 Sampai 2032

Kebutuhan
Kebutuhan Kebutuhan Air Rata-Rata (Qr)
Air Non
Air Domestik
Domestik
no Tahun (Qd) =
(Qnd) =20%. Qd Qnd Qr total
SR+HU
Qd
Liter/hari Liter/hari Liter/detik Liter/detik Liter/hari
1 2014 6.839.917 1.367.983 79,17 15,83 8.207.900
2 2015 8.805.162 1.761.032 101,91 20,38 10.566.194
3 2016 9.068.049 1.813.610 104,95 20,99 10.881.659
4 2017 9.338.785 1.867.757 108,09 21,62 11.206.542
5 2018 9.617.604 1.923.521 111,31 22,26 11.541.125
6 2019 9.904.748 1.980.950 114,64 22,93 11.885.697
7 2020 10.200.464 2.040.093 118,06 23,61 12.240.557
8 2021 10.505.010 2.101.002 121,59 24,32 12.606.012
9 2022 10.818.648 2.163.730 125,22 25,04 12.982.378
10 2023 12.762.254 2.552.451 147,71 29,54 15.314.704
11 2024 13.143.284 2.628.657 152,12 30,42 15.771.941
12 2025 13.535.690 2.707.138 156,66 31,33 16.242.828
13 2026 13.939.812 2.787.962 161,34 32,27 16.727.775
14 2027 14.356.000 2.871.200 166,16 33,23 17.227.200
15 2028 14.784.613 2.956.923 171,12 34,22 17.741.536
16 2029 15.226.023 3.045.205 176,23 35,25 18.271.228
17 2030 15.680.612 3.136.122 181,49 36,30 18.816.735
18 2031 16.148.773 3.229.755 186,91 37,38 19.378.528
19 2032 16.630.912 3.326.182 192,49 38,50 19.957.094

Dengan melihat kebutuhan air bersih rata-rata untuk setiap tahun


perencanaan dari tahun 2014 sampai tahun 2032 berdasarkan perhitungan pada
Tabel 4.7 di atas, didapat bahwa kebutuhan air rata-rata (kebutuhan air domestik
dan non domestik) untuk setiap tahun perencanaan sebesar 170 liter/detik. Dari
kebutuhan air rata-rata tersebut jelas pelanggan dari tahun ke tahun
membutuhkan air yang jauh lebih besar, dimana melebihi kapasitas produksi air
yang dihasilkan oleh WTP Lapang sebesar 80 liter/detik.
Dengan kebutuhan tersebut, menunjukkan bahwa dengan kapasitas
produksi dari WTP lapang yang hanya mampu berproduksi sebesar 80 liter/detik,

52
maka belum mampu melayani kebutuhan air bersih kepada pelanggan sampai
tahun perencanaan 2032. Ini diakibatkan oleh pengaruh pertumbuhan jumlah
penduduk, sehingga akan mempengaruhi pula terhadap kebutuhan (demand) akan
layanan air bersih sampai 20 tahun mendatang. Untuk itu PDAM Tirta meulaboh
harus meninjau kembali kondisi kapasitas produksi dari WTP Lapang yang ada
saat ini, dan harus merencanakan kembali peningkatan kapasitas produksi air
bersih di WTP Lapang, dimana nantinya mampu melayani kebutuhan air bersih
dimasa mendatang untuk wilayah Kecamatan Johan Pahlawan. Jika melihat dari
tahun perencanaan sampai tahun 2032, terlihat jelas bahwa kapasitas produksi dari
WTP Lapang harus ditingkatkan menjadi 2 (dua) unit dimana akan mampu
memenuhi permintaan rata-rata kebutuhan air bersih mencapai lebih dari 170 liter
per detik.

4.3.3 Hasil analisis tingkat kehilangan air

Kapasitas sumber air baku yang tersedia dari sungai Meureubo cukup
mampu memenuhi kebutuhan air untuk wilayah Kecamatan Johan Pahlawan,
dimana memiliki debit rata-rata 100 m/detik atau sebesar 100.000 liter/detik.
Kapasitas produksi dari bangunan Intake dan Water Treatment Plant (WTP)
Lapang saat ini adalah sebesar 2x 40 liter/detik atau 80 liter/detik atau sebesar
2.522.880 m/tahun. Data kapasitas produksi dan distribusi air bersih dari WTP
Lapang untuk Kecamatan Johan Pahlawan pada Tahun 2013 diperlihatkan pada
Tabel 3.2 halaman 36.
Tabel 3.2 tersebut memperlihatkan bahwa pada tahun 2013 debit air yang
diproduksi oleh WTP Lapang untuk zona layanan Kecamatan Johan Pahlawan
sebesar 2.522.800 m/tahun. Namun yang mampu didistribusikan kepada
pelanggan hanya sebesar 2.235.470 m/tahun dan air yang terjual pada tahun 2013
hanya sebesar 1.451.503 m/tahun. Data tersebut di atas memperlihatkan bahwa
terjadi kehilangan air yang cukup besar pada tahun 2013 yaitu sebesar 783.967
m/tahun, maka tingkat kehilangan air yang terjadi selama tahun 2013 dengan
menggunakan persamaan 2.10 halaman 13 pada zona layanan Kecamatan Johan
Pahlawan adalah sebesar 35,07%. Besarnya nilai kehilangan air tersebut melebihi

53
dari batas angka toleransi kehilangan air sebesar 20%, sehingga dengan tingginya
angka kehilangan air ini menyebabkan kinerja PDAM Tirta Meulaboh belum
mampu berjalan secara optimal dalam pemenuhan layanan kebutuhan bagi
masyarakat dan PDAM akan terus merugi dari tahun ke tahun.
Kehilangan air tersebut disebabkan oleh kehilangan air akibat faktor teknis
maupun non teknis. Kehilangan air yang cukup tinggi ini disebabkan jaringan pipa
yang sudah berumur tua dan belum pernah digantikan semenjak PDAM Tirta
Meulaboh ini beroperasi dari tahun 1983 dan setelah terjadinya Tsunami tahun
2004. Selain kondisi pipa yang sudah usang, kondisi meteran pelanggan yang
tidak akurat atau tidak berfungsi juga mempengaruhi kehilangan air, dimana
konsumsi pelanggan jauh lebih kecil dari pada yang tercatat ataupun sebaliknya.
Analisis tingkat kehilangan air dan kebocoran yang terjadi dapat dilihat pada
Tabel 4.8 di bawah ini:

Tabel 4.8 Jumlah Tingkat Kehilangan Air dan Kebocoran Yang Terjadi
Pada Tahun 2013

Jumlah Air Jumlah Air yang Kebocoran


Jumlah Air Tingkat
yang Tercatat Dalam Yang
Yang Hilang Kehilangan
Didistribusikan Rekening Tagihan Terjadi
(M/tahun) Air (%)
(M/tahun ) (M/tahun) (M/hari)
1 2 3 4 =3/1 5

2.235.470 1.451.503 783.967 35,07% 2.177,69

Analisis total kehilangan air pada PDAM Tirta Meulaboh yang terjadi
selama tahun 2013 di wilayah Kecamatan Johan Pahlawan dapat dilihat pada
Tabel 4.9 di bawah ini:

54
Tabel 4.9 Analisis Kehilangan Air Pada Tahun 2013

Debit rata-rata yang masuk sebesar


= 186.289,17
(m3/bulan)

Total air yang terjual selama tahun 2013 = 1.451.503/12 bulan


(m3/bulan) = 120.958,58

Debit rata-rata per bulan (m3/bulan) = 0,95% x186.289,17 m3/bulan


akibat ketidak akuratan meter pelanggan = 1.768,81 m3/bulan

Tingkat kebocoran/kehilangan air = 35,07% x 186.289,17


(m3/bulan) = 65.330,58

Dari Tabel 4.9 di atas dapat disimpulkan bahwa, tingkat kehilangan air
yang terjadi pada PDAM Tirta Meulaboh adalah sebesar 65.330,58 m3/ bulan.

4.3.4 Hasil analisis neraca air

Neraca air dilihat berdasarkan data-data seperti data debit yang masuk
selama tahun 2013, data konsumsi bermeter berekening, ketidak akuratan pem-
bacaan pada meter pelanggan, kehilangan air yang terjadi selama tahun 2013 dan
kehilangan fisik air. Hasil dari analisis terhadap neraca air dapat dilihat pada
Tabel 4.10 di bawah ini :

55
Tabel 4.10 Analisis Neraca Air Pada Tahun 2013

Data Tahun 2013


Debit yang masuk selama januari sampai dengan
= 2.235.470,00
desember (m3/tahun)
Konsumsi bermeter rekening (m3/tahun) = 1.451.503,00
= 1.768,81 m3/bulan
Kehilangan non teknis (m3/tahun)
= 21.225,67 m3/tahun
= 2.235.470,00
Kehilangan air = debit yang masuk dikurangi dengan
1.451.503,00
konsumsi air resmi (m3/tahun)
= 783.967,00
= 783.967,00
Kehilangan fisik = kehilangan air dikurangi
21.225,67
kehilangan non teknis (m3/tahun)
= 762.741,33

Berdasarkan data debit yang masuk dengan air yang terjual/debit konsumsi
bermeter rekening selama tahun 2013, didapat kehilangan air yang terjadi sebesar
783.967 m3/tahun. Nilai kehilangan fisik merupakan nilai kehilangan air dengan
kehilangan non teknis akibat ketidakakuratan meter pelanggan. Dari Tabel di atas,
didapat kehilangan fisik air sebesar 762.741,33m3/tahun. Sebagai bahan untuk
audit/laju kontrol kehilangan air, maka pada Tabel 4.11 di bawah ini menunjukkan
perhitungan untuk neraca air.
Neraca air ini sangat diperlukan sebagai laju kontrol dalam menghitung
kehilangan air baik kehilangan fisik maupun kehilangan non fisik. Namun dari
Tabel neraca air di bawah menunjukkan bahwa, ada beberapa data dari besarnya
air tak berekening (ATR) belum ada seperti konsumsi tak bermeter berekening
termasuk di dalamnya estimasi meter pelanggan rusak dan estimasi pemakaian
pada instansi tertentu, pemakaian ilegal, kebocoran pada pipa transmisi dan pipa
induk serta kebocoran dan limpahan pada tanki reservoir. Ini dikarenakan pihak
PDAM tidak memiliki data rekapitulasi hasil survei jumlah dan alokasi
ketidakakuratan meter air pelanggan. Ketidakakuratan meter pelanggan dapat
menyumbang kehilangan air dan menyebabkan pendapatan PDAM hilang.

56
Tabel 4.11 Perhitungan Neraca Air
8. Konsumsi bermeter
4. bermeter berekening = 1.451.503
berekening = m/tahun
1.451.503 9. Konsumsi bermeter tak
2. Konsumsi m/tahun berekening = estimasi meter
resmi pelanggan rusak
berekening = 10. Konsumsi bermeter tak
1.451.503 berekening = pemakaian pada
m/tahun 5. Konsumsi instansi tertentu
bermeter tak 11. Konsumsi tak bermeter tak
berekening berekening = penggunaan air
1. Volume oleh pemadam kebakaran dan
suplai input pencucian pipa
ke dalam
6. 12. Konsumsi tak resmi =
sistem =
Kehilangan pemakaian ilegal
2.235.470
non teknis/
m/tahun 13. Ketidak akuratan meter
komersial =
pelanggan dan kesalahan
21.225.67
penanganan data = 21.225.67
m/tahun
3. Kehilangan m/tahun
air = 783.967 14. Kebocoran pada pipa
m/tahun transmisi dan pipa induk
7.
15. Kebocoran dan limpahan
Kehilangan
pada tanki reservoir
fisik/teknis =
16. Kebocoran pada pipa dinas
762.741,33
hingga meter pelanggan =
m/tahun
762.741,33 m3/tahun x 10% =
76.274,13 m3/tahun

4.3.5 Hasil analisis NRW (Non Revenued Water)

Dalam mengurangi atau meminimalisir tingkat kehilangan air sebesar


35,07% dibutuhkan suatu metode pengendalian tingkat kehilangan air yang
disebut dengan NRW (Non Revenued Water). Nilai NRW dapat diperhitungkan
dengan menggunakan metode ILI (Infrastructure Leakage Index) yang dihitung
berdasarkan kehilangan fisik dikurang dengan kehilangan non teknis dengan
menggunakan Tabel Matriks Target yang dikeluarkan oleh Badan Regulator
Pelayanan Air Minum DKI Jakarta.

57
Analisis NRW menggunakan metode metode ILI (Infrastructure Leakage
Index ) atau menganalisa seberapa besar indikator kehilangan fisik, seperti yang
sudah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya.
Data di wilayah studi Kecamatan Johan Pahlawan:
Panjang pipa induk (LM) = 39 km= 39.000 m
Jumlah sambungan rumah (NC) = 5.522 SR
Tekanan air rata-rata (P) = 0,03 m
Panjang rata-rata pipa dinas (LP) = 8 m x 5.522 SR = 44.176 m

Berdasarkan neraca air didapat nilai CAPL/kehilangan fisik saat ini


sebesar 762.741,325 m3/tahun atau sebesar 762.741.325 liter/tahun. Sedangkan
nilai MAAPL/kehilangan fisik yang dapat dicapai secara minimal didapat sebesar
19.828.452,72 liter/tahun berdasarkan persamaan 2.12 halaman 14 di bawah ini:

MAAPL ((18 xLM ) (0,8 xNC ) (25 xLP)) xP


((18x39.000 ) (0,8x5.522) (25x44.176 ))x0,03
54.324,53 liter/hari 19.828.452,72 liter/tahun

Setelah mendapatkan nilai CAPL dan nilai MAAPL, maka nilai ILI
berdasarkan persamaan 2.11 halaman 14 didapat sebesar:

CAPL 762.741.325 liter/tahun


ILI 38,5
MAAPL 19.828.452,72 liter/tahun

Dari analisis besarnya nilai ILI yang dihasilkan 38,5 dan dibandingkan dengan
tekanan rata-rata hanya 0,03 m, maka berdasarkan Tabel 3.3 Matriks Target
halaman 15 pada bab 2, dapat disimpulkan bahwa kebocoran atau kehilangan air
di zona layanan PDAM Tirta Meulaboh Kecamatan Johan Pahlawan termasuk ke
dalam golongan D dengan nilai ILI >16 dan tingkat kebocoran >200
liter/sambungan/hari. Jika dibandingkan dengan kehilangan air sebesar 783.967
m3/tahun, maka berdasarkan analisis NRW dengan metode ILI didapat kehilangan
air adalah di atas 403.106 m3/tahun atau di atas 51,42% air yang hilang namun
dapat diukur dan dipertanggung jawabkan, tapi tidak dapat diuangkan.

58
4.3.6 Hasil analisis keandalan, keletingan dan kerawanan

Analisis kinerja pada jaringan distribusi air bersih ini dilakukan terhadap
pemakaian debit dari 99 sampel pelanggan yang ada di Kecamatan Johan
Pahlawan. Data jumlah 99 sampel pelanggan serta debit pemakaian selama tahun
2013 (Bulan Januari sampai dengan Desember 2013) dapat dilihat pada Lampiran
B Tabel B.3.16 halaman 90. Debit minimum yang digunakan sebagai dasar dalam
menganalisa kinerja jaringan distribusi air bersih adalah sebesar 23,4 m/bulan.
Dengan anggapan bahwa jumlah penduduk dalam satu pelanggan terdiri atas 6
orang dan jumlah kebutuhan air untuk tiap orang per harinya adalah 130 liter.
Analisis terhadap tingkat layanan air bersih kepada pelanggan dilakukan
berdasarkan debit aliran yang sampai ke pelanggan, dengan asumsi dasar bahwa
air yang tercatat pada meteran air pelanggan merupakan kemampuan layanan
jaringan air bersih. Hasil analisis kinerja jaringan distribusi air bersih pada 99
pelanggan yang ada di Kecamatan Johan Pahlawan dapat dilihat pada Lampiran C
Tabel C.4.4 halaman 94. Dari hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa dari 99
sampel pelanggan, yang mengalami kejadian gagal/kurang sebanyak 41 sampel,
dimana mendapatkan debit air kurang dari kebutuhan minimal yang harus
terpenuhi sebesar 23,4 m3/bulan. Kegagalan ini dapat disebabkan oleh kondisi
jaringan distribusi yang tidak baik, adanya penyambungan ilegal yang
menyebabkan tingginya kehilangan air, dan pengaruh pompa yang digunakan oleh
masyarakat disekitar wilayah studi juga mengakibatkan terjadinya kehilangan
tekanan yang cukup besar, sehingga debit tidak sampai kepada pelanggan, dan
menyebabkan kebutuhan minimal pelanggan tidak terpenuhi.
Hasil dari analisis kinerja jaringan distribusi air bersih yang meliputi
keandalan, kelentingan dan kerawanan pada wilayah studi zona layanan
Kecamatan Johan Pahlawan dapat dilihat pada Tabel 4.12 di bawah ini:

59
Tabel 4.12 Analisis Kinerja Jaringan Distribusi Air Bersih Di Kecamatan
Johan Pahlawan Tahun 2013
No Parameter Nilai unit
1 KEANDALAN
Kejadian "kekurangan" 41,41 %
Keandalan 58,59 %
2 KERAWANAN
A Defisit Maksimum
Kekurangan rerata 8,7 m/bulan
Kekurangan maksiumm 13,4 m/bulan
Kekurangan minimum 1,4 m/bulan
Rasio kekurangan rerata 37,18 m/bulan
Rasio kekurangan maksimum 57,26 %
Rasio kekurangan minimum 5,98 %
B Defisit rerata
Kekurangan rerata 2,94 m/bulan
Kekurangan maksimum 5,07 m/bulan
Kekurangan minimum 1,23 m/bulan
Rasio kekurangan rerata 12,55 %
Rasio kekurangan maksimum 21,65 %
Rasio kekurangan minimum 5,27 %
3 KELENTINGAN
Lama rerata dalam keadaan gagal secara kontinuitas 4,65 Bulan
Frekuensi terjadinya 2 Kali

Berdasarkan Tabel tersebut, analisis kinerja jaringan distribusi air bersih


dari jumlah sampel sebanyak 99 pelanggan di zona layanan Kecamatan Johan
Pahlawan menunjukkan bahwa didapatkan debit andalan sebesar 58,59% dengan
kejadian kekurangannya sebesar 41,41%. dimana debit minimum rerata
bulanannya kurang dari nilai batas normal sebesar 23,4 m3/bulan. Untuk analisis
tingkat kerawanan diukur dari seberapa besar terjadinya kekurangan/defisit rerata
debit maksimum maupun debit minimum. Berdasarkan hasil analisis tingkat
kerawanan didapatkan nilai defisit rerata sebesar 2,94 m3/bulan, dimana nilai
defisit maksimumnya adalah 5,07 m3/bulan dengan rasio defisit maksimumnya
sebesar 21,65%. Sedangkan untuk nilai defisit minimumnya adalah sebesar 1,23

60
m3/bulan dengan rasio defisit minimumnya sebesar 5,27%. Dengan nilai analisis
tingkat kerawanan tersebut,maka secara rata-rata terjadi defisit/kekurangan air
terhadap 99 sampel pelanggan yang ada di zona Kecamatan Johan Pahlawan
adalah sebesar 12,55%.
Dari analisis kejadian kegagalan berdasarkan Lampiran C Tabel C.4.4
halaman 94, dapat dilihat bahwa lamanya rerata kejadian gagal terbesar adalah
sebanyak 11 bulan pada 4 pelanggan yang ada di lokasi studi. Jumlah kejadian
gagal sebanyak 5 kali terjadi hanya pada 5 pelanggan, kejadian gagal yang paling
sedikit adalah 1 kali gagal yang terjadi pada 15 pelanggan, dan lama rerata
kegagalan terkecil terjadi pada 15 pelanggan. Jika melihat terhadap kinerja
kelentingan berdasarkan hasil analisa tersebut, maka secara keseluruhan lamanya
rerata sistem mengalami defisit/kekurangan air adalah sekitar 4,65 bulan dengan
frekuensi terjadinya kegagalan secara rerata adalah sebanyak 2 kali. Ini berarti
bahwa setiap terjadinya kegagalan, maka sistem akan terus berada dalam kondisi
gagal sekitar 2,33 bulan. Sehingga indeks kelentingan sistem atau kemampuan
sistem untuk kembali pada kondisi normal adalah 0,43.
Dengan tingkat keandalan dari kinerja jaringan distribusi air bersih oleh
PDAM Tirta Meulaboh untuk zona Kecamatan Johan Pahlawan hanya sebesar
58,59%, dan dengan lamanya sistem berada pada kondisi gagal selama 4,65 bulan,
maka sistem kinerja jaringan distribusi air bersih pada zona layanan Kecamatan
Johan Pahlawan dikatakan belum memuaskan. Sistem kinerja jaringan akan
dikatakan memuaskan jika tingkat keandalan minimumnya terpenuhi sebesar
80%.

4.4 Hasil Analisis Kinerja Jaringan Distribusi Air Bersih

Berdasarkan maksud dan tujuan penelitian ini sebelumnya adalah untuk


meninjau kondisi kinerja dari sistem pelayanan distribusi air bersih yang
dihasilkan oleh PDAM Tirta Meulaboh terhadap layanan kebutuhan pelanggan
yang belum berjalan baik dan optimal melalui beberapa analisis dari data primer
maupun data sekunder. Hasil analisis meliputi data debit pemakaian air rata-rata
dari pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa debit rata-rata yang memenuhi

61
kebutuhan dari sampel pelanggan sebesar 106,92 liter/orang/hari, dimana
kekurangan air yang sampai kepada pelanggan sebesar >23 liter/orang/hari
menurut kriteria pemakaian air bersih setiap kota/kabupaten dengan tekanan rata-
rata hanya 0,03 m jauh dari persyaratan tekanan air tertinggi untuk sampai ke
pelanggan sebesar 1 atm. Tekanan yang dihasilkan di lapangan jauh lebih kecil
dikarenakan terjadinya kehilangan air yang cukup besar, sehingga menyebabkan
pengurangan sisa tekanan pada wilayah distribusi. Pengaruh pompa juga
mengakibatkan terjadinya penarikan tekanan disetiap titik, sehingga
mengakibatkan tekanan pada titik lainnya menjadi hilang.
Hasil analisis tingkat kehilangan air pada PDAM Tirta Meulaboh, didapat
besarnya nilai kehilangan air melebihi dari batas angka toleransi kehilangan air
sebesar 20% yaitu 35,07 %, dengan tingkat kehilangan air yang terjadi pada
PDAM Tirta Meulaboh adalah sebesar 65.330,58 m3/bulan. Untuk mengurangi
dan meminimalkan tingkat kehilangan air dengan metode NRW melalui
pendekatan metode ILI, didapat nilai ILI yang didapat 38,5. Menurut Tabel
Matriks Target didapat kebocoran/kehilangan air pada PDAM Tirta Meulaboh
rata-rata >200 liter/sambungan/hari. Berdasarkan analisis NRW dengan metode
ILI didapat kehilangan air yang tidak dapat diuangkan adalah sebesar 403.106
m3/tahun atau sebesar 51,42% air yang hilang.
Analisis berdasarkan tingkat keandalan hanya sebesar 58,59 % atau kurang
dari keandalan minimum 80% dengan lamanya sistem berada pada kejadian gagal
selama 4,65 bulan dan rata-rata frekuensi terjadinya kegagalan sebanyak 2 kali.
Dari hasil analisis tersebut, maka sistem kinerja jaringan PDAM Tirta Meulaboh
dikatakan belum memuaskan serta belum berjalan baik dan optimal dalam hal
pemenuhan layanan kebutuhan bagi pelanggan.

62
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari beberapa hasil analisis terhadap kinerja jaringan sistem distribusi


jaringan air bersih PDAM Tirta Meulaboh pada zona layanan Kecamatan Johan
Pahlawan dapat diambil beberapa kesimpulan, seperti:
1. Hasil analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi sistem distribusi
air bersih, didapat bahwa dengan kontinuitas aliran yang selalu ada selama
24 jam, tekanan yang dihasilkan cukup kecil hanya sebesar 0,03 m dimana
belum memenuhi persyaratan tekanan air tertinggi untuk sampai ke
pelanggan sebesar 1 atm. Tekanan yang dihasilkan di lapangan jauh lebih
kecil dikarenakan terjadinya kehilangan air yang cukup besar, sehingga
menyebabkan pengurangan sisa tekanan pada wilayah distribusi. Debit
pemakaian rata-rata yang dihasilkan hanya 106,92 liter/orang/hari, dimana
kurang dari 130 liter/orang/hari konsumsi unit sambungan rumah untuk
wilayah perkotaan menurut kriteria pemakaian air bersih setiap
kota/kabupaten. Sehingga dengan kondisi tersebut maka PDAM Tirta
Meulaboh belum mampu memenuhi kebutuhan pelanggan, dimana
kekurangan kebutuhan air bersih rata-rata setiap pelanggan >23
liter/orang/hari.
2. Hasil analisis terhadap tingkat kehilangan air, didapat bahwa tingkat
kehilangan air yang terjadi selama tahun 2013 pada PDAM Tirta
Meulaboh mencapai 35,07%, dengan tingkat kehilangan air yang terjadi
pada PDAM Tirta Meulaboh adalah sebesar 65.330,58 m3/bulan. Dengan
keadaan itu kemampuan suplai air bersih dari PDAM akan semakin
menurun, pelayanan kebutuhan akan air bersih pun tidak berjalan baik dan
optimal, dan PDAM akan terus merugi dari tahun ke tahun.

63
3. Hasil analisis program NRW untuk mengurangi dan meminimalkan tingkat
kehilangan air dengan menggunakan metode ILI dengan tekanan rata-rata
hanya 0,03 m didapat nilai ILI sebesar 38,5. Menurut Tabel Matriks
Target disimpulkan bahwa kebocoran atau kehilangan air di zona layanan
PDAM Tirta Meulaboh Kecamatan Johan Pahlawan termasuk ke dalam
golongan D dengan ILI >16 dan tingkat kebocoran >200
liter/sambungan/hari. Berdasarkan analisis NRW dengan metode ILI
didapat kehilangan air yang tidak dapat diuangkan adalah di atas 403.106
m3/tahun atau di atas 51,42% dari total kehilangan air 783.967 m3/tahun.
Diharapkan dengan upaya pengendalian NRW untuk Kabupaten Aceh Barat
dapat mengurangi kebocoran dari kelas D ke kelas A.
4. Hasil analisis terhadap kinerja sistem jaringan distribusi air bersih, didapat
tingkat keandalan sebesar 58,59% dengan lamanya sistem berada pada
kondisi gagal selama 4,65 bulan dan rata-rata frekuensi terjadinya
kegagalan sebanyak 2 kali, maka sistem kinerja jaringan dikatakan belum
memuaskan. Tingkat kerawanan didapat dari nilai defisit rerata sebesar
3,41 m3/bulan, dimana nilai defisit maksimumnya 5,07 m3/bulan dan nilai
defisit minimumnya 1,23 m3/bulan, sehingga rata-rata terjadi defisit di
zona Kecamatan Johan Pahlawan adalah sebesar 12,55%.

5.2 Saran
1. PDAM harus melakukan kajian dan perencanaan ulang terhadap kondisi
jaringan distribusi air bersih saat ini dengan melakukan upaya
pengendalian NRW dengan metode Step Test dan Sounding untuk mencari
titik-titik kebocoran, agar pihak PDAM dapat dengan segera melakukan
perbaikan pada jaringan-jaringan yang mengalami kebocoran secara
berkala.
2. Adanya tim penurunan NRW atau ATR yang turun ke lapangan secara
berkala untuk mendata jumlah dan lokasi meter air yang rusak yang
menyebabkan ketidak akuratan meter air pelanggan sebagai upaya
pengendalian kehilangan air non teknis.

64
DAFTAR PUSTAKA

Agustina, D.V., 2007, Analisa Kinerja Sistem Distribusi Air Bersih PDAM
Kecamatan Banyumanik di Perumnas Banyumanik (Studi Kasus)
Perumnas Banyumanik Kel. Srondol Wetan), Tesisi, Program Pasca
Sarjana Magister Teknik Sipil Universitas Diponegoro Semarang.
Ardiansyah, 2012, Analisa Kinerja Sistem Distribusi Air Bersih Pada PDAM Di
Kota Ternate, Volume 3, Nomor 2, Desember 2012, Halaman 211-220
Badan penelitian dan Pengembangan Departemen PU 2006, Pedoman /Petunjuk
Teknik dan Manual,Bagian: 6 Volume VI Petunjuk Teknik Air Minum
Perkotaan, Departemen PU, Jakarta.
Damanhuri, E., 1989, Pendekatan Sistem Dalam Pengendalian dan
Pengoperasian Sistem Jaringan Distribusi Air Minum, Jurusan Teknik
Lingkungan ITB, Bandung.
Fitriadi, 2013, Rancangan Strategi Peningkatan Kapasitas Produksi Pada Sistem
Distribusi Produksi Air PDAM Tirta Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat,
Magister Teknik Industri Universitas Sumatera Utara, Medan.
Ibrahim, M., Analisa Hidrolis Pada Komponen Sistem Distribusi Air Bersih
Dengan Waternet dan Watercad Versi 8 (Studi Kasus Kampung Digiouwa,
Kampung Mawa dan Kampung Ikebo, Distrik Kamu Kabupaten Dogiyai),
Magister Teknik Pengairan Universitas Brawijaya, Malang.
Idris, F., 2012, Analisa Kinerja Jaringan Distribusi Air Bersih Di Perumnas
Lingke Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh, Magister Teknik Sipil
Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Maisimin dan Ariff, Z.A., 2012 , An Overview of Water Supply Provision for the
City of Banda Aceh, Proceedings of Water Supply Management System
And Social Capital, Volume 3, PP. 205-213.
Nugraha, W.D, 2010, Studi Kehilangan Air Akibat Kebocoran Pipa Pada Jalur
Distriusi PDAM Kota Magelang (Studi Kasus: Perumahan Armada Estate

65
Dan Depkes, Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, Volume 7, No.
2, September 2010, ISSN 1907-187X.
Putrabahar, A., 2010, Teori dan Konsep Sistem Penyaluran Air Minum, Jurusan
Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut
Teknologi Sepuluh Nopember,Surabaya.
Restu, A., 2003, Analisa Pelayanan Air Bersih PDAM di Kampung Pejaten
Kelurahan Rejomulyo Semarang, Jurnal Tesis, Program Magister Teknik
Sipil Universitas Diponegoro, Semarang.
Rosadi, M.I., 2011, Perencanaan Pengembangan Sistem Jaringan Distribusi
PDAM IKK Durenan Kabupaten Trenggalek, Jurnal Tesis, Teknik Sipil
Institut teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
Siregar, N.A., 2014, Evaluasi Kehilangan Air (Water Losses) PDAM Tirtanadi
Padangsidimpuan Di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Fakultas
Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara, Medan.
Suhardi, 2007, Kajian Spasial Tingkat Pelayanan Air Bersih di Perumahan
Limbangan Baru Kabupaten Banjar Negara, Tesis, Program Pasca
Sarjana Universitas Diponegoro, Semarang.
Syahputra, B., 2005, Pengaruh Penambahan Debit Kebutuhan Pada Zona
Layanan Air Bersih Di PDAM Tirta Meulaboh, Fakultas Teknik Jurusan
Teknik Lingkungan Universitas Islam Sultan Agung, Semarang.
Triadmaja R., 2008, Studi Beberapa Kriteria Hydraulic Critical Index (Link
Importance) Pada Jaringan Pipa, Magister Pengelolaan Sumberdaya Air
Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta.
Triatmodjo, B 2003, Hidraulika I dan II, Edisi Ketiga, Beta Offset, Jakarta.

66
LAMPIRAN A

Sumber : Fitriadi (2013)

Gambar A.3.1 Peta Lokasi Instalasi Pengolahan Air Bersih PDAM Tirta Meulaboh

67
LAMPIRAN A

Sumber : Google Earth

Gambar A.3.2 Peta Lokasi Intake PDAM Tirta Meulaboh untuk WTP Lapang di
Dusun Pasie Mesjid

68
PEMERINTAH KABUPATEN ACEH BARAT
D :\ DA TA R EN CA NA P EN GE MB AN GA N SR \2 22 .jpg

PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM


'' TIRTA MEULABOH ''

LAMPIRAN A
R EN CA NA G OR

D ES A LE UH AN
LEGEND AND NOTES

Jalan Utam a/ Nasional


Sungai

300 m m L = 2471 M
250 m m L = 876 M
200 m m L = 2292 M
160 m m L = 5555 M
110 m m L = 3617 M
90 m m L = 65750 M

ZONA I R ES ER VO IR
60 m m L = 11984 M

G
ang
Jo
mblo
R EN CA NA G OR

REVISIONS
DATE NO DESCRIPTION

ZONA II

OW
K RU EN G ME RB

Jln.
N asional

SCALE 1:20.000
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000 M

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 CM

SAB-SAS
ZONA III
J ln . Te uk u Umar

J ln . Ch ik A li A kbar
J ln .
Te uk
u Umar

L r.

elati
lr. M
H. Ham
dah
L r.
k elinci

g Kalak
Ujun g pulo
J ln .
. Blan
J ln
gkung

L r.
T omat
L r. Kan
J ln .

ak Arif
J ln . Ny
J ln .

Te uk
Dipo negoro

u Umar

ayam
L r. B

L r. I ntan
L r.
Sawi

L r. Be rlian
Kacang
L r.
Selada
L r.

ngan
L r. Ba id uri L r.S ena

id uri
L r. Ba J ln . Me sjid

ata
L r.P erm
J ln . Su dirman
J ln. Cu
tn
yak di

J ln. Me rdeka
en
J ln
. Dipo
negoro

Dahlan
A hm ad
J ln . K. H.

J ln . Ch ik
Dit iro

Sumber: PDAM Tirta Meulaboh


LAPANG (M EULABOH) W .S SYSTEM
P elab uh an B arang
J ln.
Per
. Aceh
J ln. Me rdeka

J ln . Dr
. Sutomo
J ln
. Pa
cut
Ba
ren
J ln
.Kes
atria

DRAW ING TITLE


J l. Dau d Da riy ah

PETA PEMBAGIAN ZONA


J l. T ha mrin

K E L U R A H A N S U AK INDRAPURI

KECAM ATAN JOHAN PAHLAW AN

CONTRA CT NO. DRA W ING NO.

007/PMS/SPK/XII/2005 RJP-LP-LO-01
DATE B RA NCH.

MARCH 2006 LAPANG

Gambar A.3.3 Peta Jaringan Distribusi Air Bersih PDAM Tirta Meulaboh

68
LAMPIRAN A

Gambar A.3.4 Lokasi Intake PDAM Tirta Meulaboh di Dusun Pasie


Mesjid

LAMPIRAN A

Gambar A.3.5 Lokasi WTP PDAM Tirta Meulaboh di Lapang

70
LAMPIRAN A

Gambar A.3.6 Lokasi reservoir WTP PDAM Tirta Meulaboh di Lapang

Gambar A.3.7 Lokasi Pompa WTP PDAM Tirta Meulaboh di Lapang

71
LAMPIRAN A

Gambar A.3.8 Meteran Air Pelanggan

72
LAMPIRAN A

Gambar A.3.9 Pembacaan debit/pemakaian air di meter pelanggan

73
LAMPIRAN A

Gambar A.3.10 Pembacaan waktu untuk analisa tekanan air

74
LAMPIRAN B

Tabel B.3.1 Kebutuhan Sarana dan Prasarana Berdasarkan Jumlah


Penduduk Kecamatan Johan Pahlawan Tahun 2009-2013

No Uraia n Satuan 2009 2010 2011 2012 2013

1 Jumlah Penduduk Jiwa 57.045 56.223 73.285 72.984 75.473


2 Pelayanan Penduduk % 69% 72% 75% 62% 47%
3 Penduduk Terlayani Jiwa 39.580 40.504 55.028 45.222 35.832
4 Pelayanan SR % 80 80 80 80 80
5 Jumlah Jiwa Jiwa 31.664 32.403 44.022 36.178 28.666
6 Jumlah Jiwa/ SR Jiwa/ Unit 6 6 6 6 6
7 Jumlah SR Unit 5.277 5.401 7.337 6.030 5.450
Liter/Orang
8 Pemakaian Air 130 130 130 130 130
/ Hari

9 Jumlah Kebutuhan Air Liter/ Detik 48 49 66 54


43,13
10 Pelayanan Umun % 20 20 20 20 20
11 Jumlah Jiwa Jiwa 7.916 8.101 11.006 9.044 7.166
12 Jumlah Jiwa/ HU Jiwa/ Unit 100 100 100 100 100
13 Jumlah HU Unit 79,16 81,01 110,06 90,44 71,66
Liter/Orang
14 Pemakaian Air 30 30 30 30 30
/ Hari
15 Jumlah Kebutuhan Air Liter/ Detik 2,75 2,81 3,82 3,14 2,49
Total Kebutuhan
16 Liter/ Detik 50,39 51,57 70,06 57,57 45,62
Dosmestik
% Kebutuhan Non
17 % 20 20 20 20 20
Dosmestik
Total Kebutuhan Non
18 Liter/ Detik 10,08 10,31 14,01 11,51 9,12
Dosmestik
19 Jumlah Kebutuhan Air Liter/ Detik 60,47 61,88 84,07 69,09 54,74
20 % Kehilangan Air % 30 35 30 25 35
21 Kehilangan Air Liter/ Detik 18,14 21,66 25,22 17,27 19,16
Kebutuhan Air Rata
22 Liter/ Detik 78,61 83,54 109,29 86,36 73,90
Rata
Faktor Harian
23 Faktor 1,10 1,10 1,10 1,10 1,10
Maximum
Kebutuhan Air Harian
24 Liter/ Detik 86,47 91,89 120,22 95,00 81,29
Maximum
25 Faktor Jam Puncak Faktor 1,50 1,50 1,50 1,50 1,50
Kebutuhan Air Jam
26 Liter/ Detik 117,92 125,31 163,94 129,54 110,86
Puncak
Sumber: PDAM Tirta Meulaboh Kabupaten Aceh Barat Tahun 2013

75
LAMPIRAN B

Tabel B.3.2 Data Eksisting PDAM Tirta Meulaboh IPA Lapang

NO KOMPONEN DATA SATUAN UNIT KETERANGAN


IPA
Lapang
DATA EKSISTING
PDAM / UMUM
1 Tahun Pembangunan 1996
2 Total Kapasitas Terpasang Liter/detik 80
3 Kapasitas Produksi Liter/detik 80
4 Kapasitas Terdistribusi Liter/detik 80
5 Kapasitas Terjual Liter/detik 80
6 Kapasitas Belum Liter/detik -
Termanfaatkan
7 Jumlah Pelanggan Unit 5.450
8 Jumlah ( HU ) Unit 72
9 Jumlah Penduduk Terlayani Jiwa 35.832
10 Prosentase Pelayanan % 55,00
11 Kehilangan Air % 30,00
12 Sistem Pengaliran Gravity/po Pompa
mpa
13 Jam Operasi Produksi Jam/hari 24
14 Jam Operasi Distribusi Jam/hari 24
15 Sumber Daya PLN/Gens PLN
et
16 Meter Induk ada/tidak ada
Sumber: PDAM Tirta Meulaboh Kabupaten Aceh Barat Tahun 2013

76
LAMPIRAN B

Tabel B.3.3 Data Unit Air Baku PDAM Tirta Meulaboh IPA Lapang

NO KOMPONEN DATA SATUAN UNIT KETERANGAN

IPA Lapang
UNIT AIR BAKU
1 Jenis Sumber ( Sungai,MA,SB ) S/MA/SB S Sungai
2 Jenis Intake ( Bangunan
Phontom,Jembatan,Sumuran,Bebas ) Sadap

3 Bangunan Prasedimentasi Ada/tidak ada


4 Kapasitas Air Baku Liter/detik 1.000
5 Kapasitas Pengambilan / Intake Liter/detik 80
6 Sistem Pengaliran G/P P Pompa
7 Alat ukur debit ada/tidak ada Sistem V Not
8 Pompa intake
a. Jenis Pompa Submersible
(Submersible/Centrifugal)
b. Kapasitas pompa Liter/detik 80
c. Banyaknya pompa Unit 2
d. Nead pompa Meter 75
e. Putaran Rpm 5.000
9 Ganset/PLN/Panel daya
a. Daya Kw 200 PLN
b. Voltase V PLN
c. Ampere Amp 1.000 PLN
10 Kualitas Air Baku
a. Kekeruhan/Turbidhy NTU 120
(hujan/kemarau )
b. pH 7,5
11 Pipa Transmisi
a. Jenis Pipa PVC
(GIP/PVC/HDPE/Stell/dll)
b. Diameter Mm 250
c. Panjang Meter 2.700

Sumber: PDAM Tirta Meulaboh Kabupaten Aceh Barat Tahun 2013

77
LAMPIRAN B

Tabel B.3.4 Data Unit Produksi PDAM Tirta Meulaboh IPA Lapang

UNIT
NO KOMPONEN DATA SATUAN KETERANGAN
IPA Lapang
UNIT PRODUKSI
1 Tahun Pembangunan 1996
Kapasitas Instalasi Pengolahan
Air (SPL/IPA Liter/detik
2 Lengkap/SPC/Lainnya) 80
Jenis Pengolahan (SPL/IPA
3 Lengkap/SPC/Lainnya) IPA Lengkap
4 Bangunan (Beton/baja/fibre) Baja
Proses Pengaliran
Pompa
5 (Gravitasi/Presure)
6 Alat ukur debit masuk ke instalasi ada/tidak ada
7 Jumlah Bangunan Pengolahan Unit 2
8 Perlengkapan Laboratorium
a. Bak Pembubuh bahan kimia Unit 2
b. Pompa dossing Alum/tawas Unit 2
b.1.Daya kw 0,25
b.2.Kapasitas Liter/Hari 90
c. Pompa dossing soda Ash Unit -
c.1.Daya kw -
c.2.Kapasitas Liter/Hari -
d. Pompa dossing Alum/tawas Unit 2
d.1.Daya kw 0,25
d.2.Kapasitas Liter/detik 90
9 Peralatan Laboratorium (standar)
a.Alat jar Test lengkap ada/tidak ada
b.Turbiditymeter lengkap ada/tidak ada
c.Komparator pH (pH meter) ada/tidak ada
Komparator sisa khlor ada/tidak ada
Sumber: PDAM Tirta Meulaboh Kabupaten Aceh Barat Tahun 2013

78
LAMPIRAN B

Tabel B.3.5 Data Unit Distribusi PDAM Tirta Meulaboh IPA Lapang

UNIT
NO KOMPONEN DATA SATUAN KETERANGAN
IPA Lapang
UNIT DISTRIBUSI
1 Reservoir (unit/kapasitas) Unit 3
2 Sistem Pengaliran Gravity/pompa Pompa
3 Pompa Distribusi Unit
a. Jenis Pompa
Submer/Centrif Centrifugal
(Submersible/Centrifugal)
b. Kapasitas pompa Liter/detik 90,75,60, 30
c. Banyaknya pompa Unit 4
d. Head pompa Meter 70
e. Putaran Rpm 8000
Jaringan Distribusi Utama
4 (JDU)
Data Master Plan
a. Jenis/Diameter/Panjang PVC/mm/meter PVC/300/3600
SAB-SAS
Data Master Plan
b. Jenis/Diameter/Panjang PVC/mm/meter PVC/250/1770
SAB-SAS
Data Master Plan
c. Jenis/Diameter/Panjang PVC/mm/meter PVC/200/1560
SAB-SAS
Data Master Plan
d. Jenis/Diameter/Panjang PVC/mm/meter PVC/150/3.420
SAB-SAS
Data Master Plan
e. Jenis/Diameter/Panjang PVC/mm/meter PVC/100/19.606
SAB-SAS
Data Master Plan
f. Jenis/Diameter/Panjang PVC/mm/meter PVC/75/18.048
SAB-SAS
Data Master Plan
g. Jenis/Diameter/Panjang PVC/mm/meter PVC/50/21.748
SAB-SAS
Sumber: PDAM Tirta Meulaboh Kabupaten Aceh Barat Tahun 2013

79
LAMPIRAN B

Tabel B.3.6 Data Jumlah 99 Sampel Pelanggan Yang Berada Di Zona Layanan Kecamatan Johan Pahlawan

80
LAMPIRAN B

Tabel B. 3.7 Total Penggunaan Debit Air Pada Zona Layanan 1

Pencat Volume Pemakaian Air (m3 /SR)


atan Waktu
Rata-
Ke Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu
Rata
1 6:00 0,173 0,169 0,158 0,142 0,169 0,171 0,168 0,164
2 10:00 0,164 0,170 0,166 0,172 0,153 0,163 0,155 0,163
3 14:00 0,145 0,152 0,140 0,167 0,139 0,155 0,156 0,150
4 18:00 0,154 0,140 0,154 0,141 0,160 0,140 0,147 0,148
5 22:00 0,141 0,146 0,147 0,160 0,158 0,152 0,165 0,153

Total Pemakaian
0,811 0,776 0,778 0,765 0,781 0,778 0,781 0,790
Air Harian
Volume
Pemakaian 0,187 0,173 0,170 0,166 0,172 0,169 0,171 0,168
Maksimum
Volume
Pemakaian 0,141 0,141 0,140 0,140 0,141 0,139 0,140 0,147
Minimum

LAMPIRAN B

81
LAMPIRAN B

Tabel B. 3.8 Total Penggunaan Debit Air Pada Zona Layanan 2

Pencat Volume Pemakaian Air (m3/jiwa)


atan Waktu Rata-
Ke Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu
Rata
1 6:00 0,116 0,105 0,119 0,129 0,098 0,158 0,144 0,124
2 10:00 0,131 0,123 0,102 0,073 0,135 0,107 0,126 0,114
3 14:00 0,108 0,123 0,126 0,120 0,108 0,122 0,158 0,124
4 18:00 0,117 0,122 0,118 0,108 0,125 0,104 0,116 0,116
5 22:00 0,101 0,113 0,117 0,117 0,129 0,122 0,000 0,100
Total
Pemakaian Air 0,572 0,586 0,582 0,547 0,595 0,613 0,544 0,577
Harian
Volume
Pemakaian
0,131 0,123 0,126 0,129 0,135 0,158 0,158 0,124
Maksimum

Volume
Pemakaian
0,101 0,105 0,102 0,073 0,098 0,104 0,000 0,100
Minimum

82
LAMPIRAN B

Tabel B. 3.9 Total Penggunaan Debit Air Pada Zona Layanan 3

Volume Pemakaian Air (m3/jiwa)


Pencat
atan Waktu
Rata-
Ke Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu
Rata
1 6:00 0,124 0,162 0,113 0,132 0,137 0,160 0,106 0,133
2 10:00 0,102 0,096 0,107 0,078 0,117 0,093 0,124 0,102
3 14:00 0,099 0,097 0,104 0,106 0,100 0,097 0,119 0,103
4 18:00 0,100 0,125 0,095 0,097 0,115 0,105 0,115 0,107
5 22:00 0,084 0,106 0,126 0,135 0,129 0,108 0,088 0,111

Total Pemakaian
0,508 0,586 0,544 0,548 0,599 0,564 0,552 0,557
Air Harian
Volume
Pemakaian
0,124 0,162 0,126 0,135 0,137 0,160 0,124 0,133
Maksimum

Volume
Pemakaian
0,084 0,096 0,095 0,078 0,100 0,093 0,088 0,102
Minimum

83
LAMPIRAN B

Tabel B. 3.10 Tabel Tinggi Tekanan Pada Zona Layanan 1

84
LAMPIRAN B

Tabel B. 3.11 Tinggi Tekanan Pada Zona Layanan 2

85
LAMPIRAN B

Tabel B. 3.12 Tinggi Tekanan Pada Zona Layanan 3

86
LAMPIRAN B

Tabel B.3.13 Fluktuasi Kebutuhan Air Pada Zona Layanan 1

Total
Pemakaian Air (m3/jam) selama seminggu Pemakaian Air
No Jam Rata-Rata
Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu m3/jam
1 10.00-11.00 0,1 0 0 0,02 0,05 0,05 0 0,031
2 11.00-12.00 0 0 0,1 0,05 0 0,02 0,05 0,031
3 12.00-13.00 0,005 0 0,05 0,05 0 0 0,1 0,029
4 13.00-14.00 0 0,1 0 0 0,02 0,05 0,05 0,031
5 14.00-15.00 0,05 0,05 0,1 0 0 0,05 0 0,036
6 15.00-16.00 0,1 0 0,05 0 0,02 0 0,028
7 16.00-17.00 0,1 0,02 0 0 0 0,1 0 0,031
8 17.00-18.00 0,05 0 0,05 0 0,05 0 0,1 0,036
9 18.00-19.00 0 0 0,1 0,05 0 0 0,1 0,036
10 19.00-20.00 0,1 0 0 0,02 0,1 0 0,037
11 20.00-21.00 0 0 0 0,05 0,05 0 0,1 0,029
12 21.00-22.00 0,1 0 0,1 0 0,05 0 0 0,036
13 22.00-23.00 0 0,15 0 0 0 0,05 0 0,029
14 23.00-00.00 0 0 0,1 0 0 0,05 0 0,021
15 00.00-01.00 0 0 0 0,02 0 0,1 0 0,017
16 01.00-02.00 0 0 0 0 0 0 0 0,000
17 02.00-03.00 0 0 0 0 0,1 0,1 0 0,029
18 03.00-04.00 0 0 0 0 0 0 0 0,000
19 04.00-05.00 0 0,15 0,05 0 0 0,05 0 0,036
20 05.00-06.00 0 0 0 0,1 0,02 0 0,15 0,039
21 06.00-07.00 0 0 0 0,1 0,05 0 0,1 0,036
22 07.00-08.00 0 0 0 0,05 0 0,1 0 0,021
23 08.00-09.00 0,1 0 0 0 0,05 0 0 0,021
24 09.00-10.00 0,1 0,05 0 0,1 0,05 0 0 0,043

Total pemakaian
0,705 0,620 0,650 0,660 0,590 0,740 0,750 0,674
air (m3/jam)

87
LAMPIRAN B

Tabel B.3.14 Fluktuasi Kebutuhan Air Pada Zona Layanan 2

Total
Pemakaian Air (m3/jam) selama seminggu Pemakaian Air
No Jam Rata-Rata
Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu m3/jam
1 10.00-11.00 0,05 0 0 0 0,05 0,05 0 0,021
2 11.00-12.00 0 0,05 0 0 0,05 0 0,05 0,021
3 12.00-13.00 0 0 0,05 0 0,05 0 0 0,014
4 13.00-14.00 0,05 0 0,02 0 0 0,02 0,05 0,020
5 14.00-15.00 0 0,05 0 0,05 0 0,05 0 0,021
6 15.00-16.00 0 0,1 0 0 0 0 0,05 0,021
7 16.00-17.00 0 0,05 0 0,05 0 0,05 0 0,021
8 17.00-18.00 0 0 0 0,05 0 0 0,1 0,021
9 18.00-19.00 0,05 0 0 0 0,05 0,05 0 0,021
10 19.00-20.00 0 0 0,1 0 0 0 0,05 0,021
11 20.00-21.00 0 0 0,05 0 0 0,05 0 0,014
12 21.00-22.00 0,1 0 0,05 0 0 0 0 0,021
13 22.00-23.00 0 0 0 0,05 0 0,05 0 0,014
14 23.00-00.00 0 0 0 0,05 0,1 0 0 0,021
15 00.00-01.00 0 0,15 0 0 0 0 0 0,021
16 01.00-02.00 0 0 0 0 0 0 0 0,000
17 02.00-03.00 0 0 0 0,05 0 0,05 0 0,014
18 03.00-04.00 0 0 0 0 0 0 0,1 0,014
19 04.00-05.00 0 0 0 0 0 0 0 0,000
20 05.00-06.00 0 0 0,1 0 0,05 0 0,02 0,024
21 06.00-07.00 0,1 0,05 0 0 0 0 0 0,021
22 07.00-08.00 0,05 0 0 0,05 0 0 0 0,014
23 08.00-09.00 0 0 0 0 0,05 0,1 0 0,021
24 09.00-10.00 0,05 0 0 0 0,05 0 0 0,014

Total pemakaian
0,450 0,450 0,370 0,350 0,450 0,470 0,420 0,423
air (m3/jam)

88
LAMPIRAN B

Tabel B.3.15 Fluktuasi Kebutuhan Air Pada Zona Layanan 3

Total
Pemakaian Air (m3/jam) selama seminggu Pemakaian Air
No Jam Rata-Rata
Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu m3/jam
1 10.00-11.00 0,05 0 0 0 0 0,05 0 0,014
2 11.00-12.00 0,05 0 0 0 0 0,05 0 0,014
3 12.00-13.00 0 0 0 0 0 0 0 0,000
4 13.00-14.00 0 0 0 0,05 0,05 0 0 0,014
5 14.00-15.00 0 0,05 0 0 0,02 0 0 0,010
6 15.00-16.00 0 0,05 0 0,05 0 0 0 0,014
7 16.00-17.00 0,05 0 0 0 0,02 0 0 0,010
8 17.00-18.00 0,02 0 0 0,02 0 0,05 0 0,013
9 18.00-19.00 0 0,05 0 0 0 0,05 0 0,014
10 19.00-20.00 0 0 0,02 0 0 0,02 0,05 0,013
11 20.00-21.00 0 0,05 0 0,05 0,02 0 0 0,017
12 21.00-22.00 0 0 0,05 0 0,05 0 0 0,014
13 22.00-23.00 0,05 0 0 0 0,02 0 0,02 0,013
14 23.00-00.00 0 0,02 0,02 0 0 0 0,05 0,013
15 00.00-01.00 0 0 0,02 0,02 0 0,02 0,05 0,016
16 01.00-02.00 0 0 0,05 0 0,02 0 0,05 0,017
17 02.00-03.00 0 0,1 0 0 0 0 0 0,014
18 03.00-04.00 0 0,02 0 0,05 0 0 0 0,010
19 04.00-05.00 0 0 0 0 0 0 0 0,000
20 05.00-06.00 0 0 0 0 0,05 0,02 0,02 0,013
21 06.00-07.00 0,05 0 0,02 0,05 0 0 0 0,017
22 07.00-08.00 0,05 0 0 0,01 0,05 0 0 0,016
23 08.00-09.00 0,02 0 0,05 0,02 0 0 0 0,013
24 09.00-10.00 0 0 0,05 0 0 0,05 0 0,014

Total pemakaian air


0,340 0,340 0,280 0,320 0,300 0,310 0,240 0,304
(m3/jam)

89
LAMPIRAN B

Tabel B.3.16 Data Jumlah 99 Sampel Pelanggan Yang Berada Di Zona Layanan Kecamatan Johan Pahlawan

90
LAMPIRAN C

Tabel C.4.1 Fluktuasi Kebutuhan Air Rata-Rata Pada Zona Layanan 1


Total Pemakaian Air
Pemakaian Air (m3/jam) selama seminggu
No Jam Rata-Rata Fpeak
Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu m3/jam liter/detik
1 10.00-11.00 0,1 0 0 0,02 0,05 0,05 0 0,031 113142,86 1,09
2 11.00-12.00 0 0 0,1 0,05 0 0,02 0,05 0,031 113142,86 1,09
3 12.00-13.00 0,005 0 0,05 0,05 0 0 0,1 0,029 105428,57 1,02
4 13.00-14.00 0 0,1 0 0 0,02 0,05 0,05 0,031 113142,86 1,09
5 14.00-15.00 0,05 0,05 0,1 0 0 0,05 0 0,036 128571,43 1,24
6 15.00-16.00 0,1 0 0,05 0 0,02 0 0,028 102000,00 0,98
7 16.00-17.00 0,1 0,02 0 0 0 0,1 0 0,031 113142,86 1,09
8 17.00-18.00 0,05 0 0,05 0 0,05 0 0,1 0,036 128571,43 1,24
9 18.00-19.00 0 0 0,1 0,05 0 0 0,1 0,036 128571,43 1,24
10 19.00-20.00 0,1 0 0 0,02 0,1 0 0,037 132000,00 1,27
11 20.00-21.00 0 0 0 0,05 0,05 0 0,1 0,029 102857,14 0,99
12 21.00-22.00 0,1 0 0,1 0 0,05 0 0 0,036 128571,43 1,24
13 22.00-23.00 0 0,15 0 0 0 0,05 0 0,029 102857,14 0,99
14 23.00-00.00 0 0 0,1 0 0 0,05 0,02 0,024 87428,57 0,84
15 00.00-01.00 0 0 0 0,02 0 0,1 0,02 0,020 72000,00 0,69
16 01.00-02.00 0 0 0 0 0 0 0 0,000 0,00 0,00
17 02.00-03.00 0 0 0 0 0,1 0,1 0 0,029 102857,14 0,99
18 03.00-04.00 0 0 0 0 0 0 0 0,000 0,00 0,00
19 04.00-05.00 0 0,15 0,05 0 0 0,05 0 0,036 128571,43 1,24
20 05.00-06.00 0 0 0 0,1 0,02 0 0,15 0,039 138857,14 1,34
21 06.00-07.00 0 0 0 0,1 0,05 0 0,1 0,036 128571,43 1,24
22 07.00-08.00 0 0 0 0,05 0 0,1 0 0,021 77142,86 0,74
23 08.00-09.00 0,1 0 0 0 0,05 0 0 0,021 77142,86 0,74
24 09.00-10.00 0,1 0,05 0 0,1 0,05 0 0,02 0,046 164571,43 1,59
Total pemakaian
0,705 0,620 0,650 0,660 0,590 0,740 0,810 0,682 103714,29
air (m3/jam)
Fmax harian 1,03 0,91 0,95 0,97 0,86 1,08 1,19

91
LAMPIRAN C

Tabel C.4.2 Fluktuasi Kebutuhan Air Rata-Rata Pada Zona Layanan 2

Pemakaian Air (m3/jam) selama seminggu Total Pemakaian Air


No Jam Fpeak
Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu m3/jam liter/detik
1 10.00-11.00 0,05 0 0 0 0,05 0,05 0 0,021 77142,86 1,22
2 11.00-12.00 0 0,05 0 0 0,05 0 0,05 0,021 77142,86 1,22
3 12.00-13.00 0 0 0,05 0 0,05 0 0 0,014 51428,57 0,81
4 13.00-14.00 0,05 0 0,02 0 0 0,02 0,05 0,020 72000,00 1,14
5 14.00-15.00 0 0,05 0 0,05 0 0,05 0 0,021 77142,86 1,22
6 15.00-16.00 0 0,1 0 0 0 0 0,05 0,021 77142,86 1,22
7 16.00-17.00 0 0,05 0 0,05 0 0,05 0 0,021 77142,86 1,22
8 17.00-18.00 0 0 0 0,05 0 0 0,1 0,021 77142,86 1,22
9 18.00-19.00 0,05 0 0 0 0,05 0,05 0 0,021 77142,86 1,22
10 19.00-20.00 0 0 0,1 0 0 0 0,05 0,021 77142,86 1,22
11 20.00-21.00 0 0 0,05 0 0 0,05 0 0,014 51428,57 0,81
12 21.00-22.00 0,1 0 0,05 0 0 0 0 0,021 77142,86 1,22
13 22.00-23.00 0 0 0 0,05 0 0,05 0 0,014 51428,57 0,81
14 23.00-00.00 0 0 0 0,05 0,1 0 0 0,021 77142,86 1,22
15 00.00-01.00 0 0,15 0 0 0 0 0 0,021 77142,86 1,22
16 01.00-02.00 0 0 0 0 0 0 0 0,000 0,00 0,00
17 02.00-03.00 0 0 0 0,05 0 0,05 0 0,014 51428,57 0,81
18 03.00-04.00 0 0 0 0 0 0 0,1 0,014 51428,57 0,81
19 04.00-05.00 0 0 0 0 0 0 0 0,000 0,00 0,00
20 05.00-06.00 0 0 0,1 0 0,05 0 0,02 0,024 87428,57 1,38
21 06.00-07.00 0,1 0,05 0 0 0 0 0 0,021 77142,86 1,22
22 07.00-08.00 0,05 0 0 0,05 0 0 0 0,014 51428,57 0,81
23 08.00-09.00 0 0 0 0 0,05 0,1 0 0,021 77142,86 1,22
24 09.00-10.00 0,05 0 0 0 0,05 0 0 0,014 51428,57 0,81
Total pemakaian air
0,450 0,450 0,370 0,350 0,450 0,470 0,420 0,423 63428,57
(m3/jam)
Fmax harian 1,06 1,06 0,88 0,83 1,06 1,11 0,99

92
LAMPIRAN C

Tabel C.4.3 Fluktuasi Kebutuhan Air Rata-Rata Pada Zona Layanan 3

Pemakaian Air (m3/jam) selama seminggu Total Pemakaian Air


No Jam Fpeak
Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu m3/jam liter/detik
1 10.00-11.00 0,05 0 0 0 0 0,05 0 0,014 51428,57 1,13
2 11.00-12.00 0,05 0 0 0 0 0,05 0 0,014 51428,57 1,13
3 12.00-13.00 0 0 0 0 0 0 0 0,000 0,00 0,00
4 13.00-14.00 0 0 0 0,05 0,05 0 0 0,014 51428,57 1,13
5 14.00-15.00 0 0,05 0 0 0,02 0 0 0,010 36000,00 0,79
6 15.00-16.00 0 0,05 0 0,05 0 0 0 0,014 51428,57 1,13
7 16.00-17.00 0,05 0 0 0 0,02 0 0 0,010 36000,00 0,79
8 17.00-18.00 0,02 0 0 0,02 0 0,05 0 0,013 46285,71 1,01
9 18.00-19.00 0 0,05 0 0 0 0,05 0 0,014 51428,57 1,13
10 19.00-20.00 0 0 0,02 0 0 0,02 0,05 0,013 46285,71 1,01
11 20.00-21.00 0 0,05 0 0,05 0,02 0 0 0,017 61714,29 1,35
12 21.00-22.00 0 0 0,05 0 0,05 0 0 0,014 51428,57 1,13
13 22.00-23.00 0,05 0 0 0 0,02 0 0,02 0,013 46285,71 1,01
14 23.00-00.00 0 0,02 0,02 0 0 0 0,05 0,013 46285,71 1,01
15 00.00-01.00 0 0 0,02 0,02 0 0,02 0,05 0,016 56571,43 1,24
16 01.00-02.00 0 0 0,05 0 0,02 0 0,05 0,017 61714,29 1,35
17 02.00-03.00 0 0,1 0 0 0 0 0 0,014 51428,57 1,13
18 03.00-04.00 0 0,02 0 0,05 0 0 0 0,010 36000,00 0,79
19 04.00-05.00 0 0 0 0 0 0 0 0,000 0,00 0,00
20 05.00-06.00 0 0 0 0 0,05 0,02 0,02 0,013 46285,71 1,01
21 06.00-07.00 0,05 0 0,02 0,05 0 0 0 0,017 61714,29 1,35
22 07.00-08.00 0,05 0 0 0,01 0,05 0 0 0,016 56571,43 1,24
23 08.00-09.00 0,02 0 0,05 0,02 0 0 0 0,013 46285,71 1,01
24 09.00-10.00 0 0 0,05 0 0 0,05 0 0,014 51428,57 1,13
Total pemakaian
0,340 0,340 0,280 0,320 0,300 0,310 0,240 0,304 45642,86
air (m3/jam)
Fmax harian 1,12 1,12 0,92 1,05 0,99 1,02 0,79

93
LAMPIRAN C

Tabel C.4.4 Kebutuhan Sarana dan Prasarana Berdasarkan Jumlah Penduduk Kecamatan Johan Pahlawan 2014 - 2032

No Uraia n Satuan 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032

110.63 113.93 117.33


1 Jumlah Penduduk Jiwa 77.726 80.047 82.437 84.898 87.433 90.043 92.731 95.500 98.351 101.288 104.312 107.426
3 7 8
120.841 124.449 128.165 131.991
2 Pelayanan Penduduk % 80% 90% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
110.63 113.93 117.33
3 Penduduk Terlayani Jiwa 62.181 72.042 82.437 84.898 87.433 90.043 92.731 95.500 98.351 101.288 104.312 107.426
3 7 8
120.841 124.449 128.165 131.991
4 Pelayanan SR % 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80
5 Jumlah Jiwa Jiwa 49.745 57.634 65.949 67.918 69.946 72.035 74.185 76.400 78.681 81.030 83.450 85.941 88.506 91.150 93.870 96.673 99.559 102.532 105.593
6 Jumlah Jiwa/ SR Jiwa/ Unit 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6
7 Jumlah SR Unit 8.291 9.606 10.992 11.320 11.658 12.006 12.364 12.733 13.113 13.505 13.908 14.323 14.751 15.192 15.645 16.112 16.593 17.089 17.599
Liter/Orang
8 Pemakaian Air 130 130 130 130 130 130 130 130 130 150 150 150 150 150 150 150 150 150 150
/ Hari
9 Jumlah Kebutuhan Air Liter/ Detik 74,85 86,72 99,23 102,19 105,24 108,39 111,62 114,95 118,39 140,68 144,88 149,20 153,66 158,25 162,97 167,83 172,85 178,01 183,32
10 Pelayanan Umun % 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
11 Jumlah Jiwa Jiwa 12.436 14.408 16.487 16.980 17.487 18.009 18.546 19.100 19.670 20.258 20.862 21.485 22.127 22.787 23.468 24.168 24.890 25.633 26.398
12 Jumlah Jiwa/ HU Jiwa/ Unit 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
13 Jumlah HU Unit 124,36 144,08 164,87 169,80 174,87 180,09 185,46 191,00 196,70 202,58 208,62 214,85 221,27 227,87 234,68 241,68 248,90 256,33 263,98
Liter/Orang
14 Pemakaian Air 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
/ Hari
15 Jumlah Kebutuhan Air Liter/ Detik 4,32 5,00 5,72 5,90 6,07 6,25 6,44 6,63 6,83 7,03 7,24 7,46 7,68 7,91 8,15 8,39 8,64 8,90 9,17
Total Kebutuhan Dosmes-
16 Liter/ Detik 79,17 91,72 104,95 108,09 111,31 114,64 118,06 121,59 125,22 147,71 152,12 156,66 161,34 166,16 171,12 176,23 181,49 186,91 192,49
tik
% Kebutuhan Non
17 % 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
Dosmestik
Total Kebutuhan Non
18 Liter/ Detik 15,83 18,34 20,99 21,62 22,26 22,93 23,61 24,32 25,04 29,54 30,42 31,33 32,27 33,23 34,22 35,25 36,30 37,38 38,50
Dosmestik
19 Jumlah Kebutuhan Air Liter/ Detik 95,00 110,06 125,95 129,71 133,58 137,57 141,67 145,90 150,26 177,25 182,55 188,00 193,61 199,39 205,34 211,47 217,79 224,29 230,98
20 % Kehilangan Air % 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35
21 Kehilangan Air Liter/ Detik 33,25 38,52 44,08 45,40 46,75 48,15 49,59 51,07 52,59 62,04 63,89 65,80 67,76 69,79 71,87 74,02 76,23 78,50 80,84
Kebutuhan Air Rata -
22 Liter/ Detik 128,25 148,59 170,03 175,10 180,33 185,71 191,26 196,97 202,85 239,29 246,44 253,79 261,37 269,18 277,21 285,49 294,01 302,79 311,83
Rata
23 Faktor Harian Maximum Faktor 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18
Kebutuhan Air Harian
24 Liter/ Detik 152,62 176,82 202,33 208,37 214,59 221,00 227,60 234,39 241,39 282,37 290,80 299,48 308,42 317,63 327,11 336,87 346,93 357,29 367,96
Maximum
25 Faktor Jam Puncak Faktor 1,59 1,59 1,59 1,59 1,59 1,59 1,59 1,59 1,59 1,53 1,53 1,53 1,53 1,53 1,53 1,53 1,53 1,53 1,53
Kebutuhan Air Jam
26 Liter/ Detik 203,92 236,25 270,34 278,41 286,72 295,29 304,10 313,18 322,53 366,12 377,05 388,30 399,90 411,84 424,13 436,79 449,84 463,27 477,10
Puncak

94
LAMPIRAN C

Tabel C.4.5 Tingkat Layanan dan Kegagalan Pelayanan Jaringan Distribusi Air Bersih Tahun 2013

95