Anda di halaman 1dari 11

BAB II

ORIENTASI UMUM

2.1 Sejarah Perusahaan

PT Pertamina Geothermal Energy merupakan salah satu anak perusahaan PT

Pertamina (Persero) dengan PT Pertamina Dana Ventura. Perusahaan ini bergerak di

bidang pemanfaatan energy panas bumi. Perusahaan ini mempunyai peran penting

bagi masyarakat dalam menyediakan sumber energy alternatif yang ramah

lingkungan dan terbarukan, khususnya di Indonesia. Pemanfaatan energy panas bumi

telah dilakukan sejak tahun 1980-an.

Sejak tahun 1974 Pertamina telah melakukan kegiatan eksplorasi dan

eksploitasi dengan mengidentifikasi sebanyak 70 wilayah panas bumi dengan

temperature tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energy listrik.

Wilayah tersebut tersebar di seluruh Indonesia antara lain Sumatera, Jawa, Bali, Nusa

Tenggara, Maluku, dan Sulawesi. Upaya ini menunjukkan keberhasilan dengan

diresmikannya lapangan Kamojang di daerah Jawa Barat pada tanggal 29 Januari

1983. Energi panas bumi lapangan tersebut digunakan untuk menggerakkan

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang Unit 1 dengan kapasitas

pembangkitan sebesar 30 MW. Di pulau Sumatera untuk pertama kali beroperasi

PLTP Mono blok 2 MW di daerah Sibayak-Brastagi. Pada 2004, PLTP pertama di

Sulawesi dengan kapasitas 20 MW beroperasi di daerah Lahendong. Dengan

diberlakukannya Keppres Nomor 76 Tahun 2000, maka Pertamina tidak lagi

5
memiliki hak monopoli pengelolaan energy panas bumi di Indonesia. Oleh sebab itu,

Pertamina mengembalikan 16 dari 31 Wilayah Kerja Pengusahaan (WKP) panas

bumi yang dikelolanya kepada pemerintah.

Pada tanggal 17 September 2003 Pertamina berubah bentuk menjadi PT

Pertamina (Persero). Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2003, PT

Pertamina (Persero) diamanatkan untuk mengalihkan usaha panas bumi yang selama

ini dikelola untuk dialihkan kepada Anak Perusahaan paling lambat dua tahun setelah

perseroan terbentuk. Untuk itu, PT Pertamina (Persero) membentuk PT Pertamina

Geothermal Energy (Perusahaan) sebagai Anak Perusahaan yang akan mengelola

kegiatan usaha di bidang panas bumi. Perusahaan akhirnya didirikan berdasarkan

Akta Nomor 10 tanggal 12 Desember 2006 dan telah mendapat pengesahan dari

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan

Nomor W7-00089HT.01.01-TH.2007 tertanggal 3 Januari 2007.

Maksud didirikannya Perusahaan ini adalah untuk menyelenggarakan usaha di

bidang energy panas bumi dari sisi hulu dan / atau sisi hilir, baik di dalam maupun di

luar negeri serta kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha di

bidang panas bumi tersebut dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

2.2 Wilayah Kerja Perusahaan

Total kapasitas terpasang dari 4 daerah panas bumi adalah 437 MW. Profil

masing-masing area antara lain:

6
- Area Kamojang terletak di WKP Kamojang - Darajat di Jawa Barat, memiliki

total kapasitas terpasang 235 MW yang dihasilkan dari empat unit PLTP.

- Area Lahendong terletak di WKP Lahendong Sulawesi Utara, memiliki total

kapasitas terpasang 80 MW dari empat unit PLTP .

- Area Sibayak di WKP dari Gunung Sibayak - Gunung Sinabung, Sumatera

Utara memiliki satu Unit Monoblok dengan kapasitas terpasang 2 dan dua

unit PLTP 2x5 MW. Total saat ini kapasitas terpasang untuk Area Sibayak

adalah 12 MW.

- Area Ulubelu di WKP dari Gunung Way Panas, Provinsi Lampung memiliki

dua unit PLTP dengan kapasitas masing-masing yang telah terpasang 55 MW.

Komitmen perusahaan dalam peran strategis dibentuk melalui percepatan

pengembangan energi panas bumi di Indonesia. Dalam hal ini, Perusahaan secara

konsisten membangun dan mengembangkan proyek Listrik Tenaga Panas Bumi

(PLTP) Nasional.

- Ulubelu Unit 3 dan 4. Selain dua unit PLTP di Ulubelu (Unit 1 dan 2) yang

telah beroperasi, ada juga dua unit tambahan dengan total kapasitas 2x55

MW. Unit 3 dan 4 saat ini dalam tahap Engineering Procurement

Construction dan Commissioning (EPCC) dan pengeboran. PLTP

direncanakan akan beroperasi secara komersial pada tahun 2016 (Unit 3) dan

2017 (Unit 4).

- Lumut Balai Unit 1 dan 2. Proyek Lumut Balai Unit 1 dan 2 dengan total

kapasitas 2x55 MW yang terletak di WKP Lumut Balai dan Margabayur,

7
Provinsi Sumatera Selatan. Status saat ini untuk Unit 1 adalah pada tahap

EPCC. Sementara Unit 2 adalah pada tahap infrastruktur dan persiapan

pengeboran. PLTP diproyeksikan siap komersial pada tahun 2016 (Unit 1)

dan 2018 (Unit 2).

- Lumut Balai Unit 3 dan 4. Dua unit tambahan PLTP untuk proyek Lumut

Balai masing-masing memiliki kapasitas 55 MW dan masih dalam proses

pembangunan. Saat ini pada tahap izin. Kedua unit direncanakan untuk dapat

beroperasi secara komersial pada tahun 2022.

- Lahendong Unit 5 dan 6. Lahendong di WKP Lahendong, Provinsi Sulawesi

Utara. Generator ditargetkan beroperasi dengan kapasitas 2x20 MW. Unit 5

saat ini pada tahap EPCC dan Unit 6 telah dilakukan EPCC dan pengeboran.

Kedua unit yang direncanakan untuk dapat beroperasi secara komersial pada

tahun 2016 (Unit 5) dan 2017 (Unit 6).

- Karaha Unit 1. Terletak di WKP Karaha Cakrabuana, proyek ini merupakan

kelanjutan dari pengembangan Proyek Karaha Bodas yang ditugaskan oleh

Pemerintah Indonesia. Proyek ini terletak di Provinsi Jawa Barat. Perusahaan

berencana membangun PLTP Unit 1 dengan kapasitas 1 x 30 MW. Karaha

Unit 1 diharapkan beroperasi secara komersial pada tahun 2017.

- Hululais Unit 1 dan 2. Terletak di WKP Hululais, sekitar 180 km dari kota

Bengkulu, di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu yang memiliki potensi

kapasitas 300 MW. Status saat ini adalah pada penyelesaian infrastruktur

pengeboran dan uji produksi. Perseroan menargetkan untuk membangun dua

8
unit PLTP dengan kapasitas 2 x 55MW, direncanakan beroperasi secara

komersial pada tahun 2018.

- Sungai Penuh Unit 1 dan 2. Terletak di WKP Sungai Penuh, Provinsi Jambi.

Potensi panas bumi diperkirakan 200 MW. Melihat potensi yang sangat besar

ini, Perseroan berencana membangun dua unit PLTP yang memiliki total

kapasitas 2 x 55 MW. Status saat ini adalah tahap pengeboran dan tes

produksi. Keduanya diharapkan dapat beroperasi secara komersial pada tahun

2019.

2.3 Lokasi Pemboran

LMB-C Injection well adalah sumur di lapangan Lumutbalai yang terletak di

Sumatra Selatan yang digunakan untuk sumur injeksi. Sumur LMB-C1 di desain

sebagai sumur berarah atau directional well dan sumur di programkan akan dibor

sampai kedalaman total 3000 mMD/ 2528.6 mTVD

Tujuan dari pengeboran pada lapangan LMB C ini sendiri adalah untuk

reinjeksi brine kedalam reservoir lapangan lumut balai dari sumur sumur produksi

,menjaga kelangsungan produksi fluida geothermal dan tekanan reservoir Lumut

Balai pada jarak yang ideal yaitu antara 3-4 km sehingga terhindar dari kembalinya

fluida reinjeksi terlalu cepat masuk ke dalam zona produksi, untuk mendapatkan

permeabilitas dari struktur berarah yang berasal dari zona patahan di bagian utara

Lapangan Lumut Balai

9
Gambar 2.1 Lokasi Lapangan LMB-C

2.4 Well Data

Tabel 2.1 Data Sumur LMB-C1

Sumur (Cluster) LMB-C/1.R


Tujuan Sumur Reinjeksi
Tipe Sumur Big Hole
Rig Pemboran PDSI#39.3/D1500-E
Tinggi Lantai Bor 9.4m
Koordinat Pemukaan X = 348,388.28 mE
Y = 9,541,614.81 mN
Z = +930 masl
Kedalaman Akhir 3000 mMD/ 2528.6 mTVD
Titik Belok 300 mMD
Build up Rate 3.14 per 30 m
Inklinasi 36
Azimuth N 230E

10
End of Build 650 mMD/ 627.4 mTVD
Horizontal Displacement 1487.7 m
Koordinat Kedalaman Akhir X =347,270.37 mE
Y = 9,540,675.84 mN
Z = -1,498 masl
Waktu Pelaksanaan 65.30 Hari
Estimasi Cost US$ 10,087,129.67
Tanggal Tajak Maret 2016

2.5 Struktur Organisasi, Tugas dan Tanggung Jawab

Secara umum struktur organisasi drilling rig di lapangan Lumut Balai terdiri

dari tiga bagian utama, yaitu oil company, drilling service companies, dan drilling

contractor. Oil company ada pengeboran di lapangan Sukowati adalah PT Pertamina

Geothermal Energy, drilling contractor adalah PDSI, dan beberapa service

companies seperti Schlumberger yang menangani bagian cementing dan lumpur.

Scientific Drilling yang mengani masalah directional drilling, dll. Di lokasi

pengeboran yang bertanggung jawab pada operasi pengeboran adalah Company man,

dibantu oleh ATL ( Ahli Teknik Lapangan ), Rig Supertintendent, Tool Pusher,

Driller, dan Rig Crew.

Dari Jabatan Jabatan yang telah di pegang terdapat tugas dan tanggung

jawab dari jabatan jabatan tersebut, tugas dan tanggung jawab dari jabatan jabatan

itu meliputi :

11
Tabel 2.2 Tugas dan Tanggung Jawab

No Posisi/Jabatan Tugas dan tanggung jawab


1 Rig Superintendent Menutup HCR valve dan remote control, check
danTool Pusher flow SIDP, SICP, apabila kondisi untuk penangan
lebih lanjut segera hubungi Companyman via
intercom atau HT
2 Driller Handle brake, angkat tool joint sampai di
permukaan tool joint 3 feet dengan cepat sambil
mengamati weight indicator
3 Asisten Driller Segera menuju choke manifold bersama 1 orang
Floorman, periksa BOP stack jika ada kebocoran
dan menunggu instruksi selanjutnya
4 Derrickman Menuju mud pump bersama 1 orang Roustabout
dan menunggu instruksi selanjutnya
5 Mekanik Menuju accumulator dan tunggu perintah
selanjutnya
6 Floorman #1 Membantu Asisten Driller di choke manifold

7 Floorman #2 Bertugas di Rig Floor dan membantu Driller

8 Floorman #3 Bertugas di Rig Floor dan membantu Driller

9 Floorman #4 Bertugas di Rig Floor dan membantu Driller

10 Roustabout #1 Segera menuju ruangan Company man dan


melaporkan kejadian
11 Roustabout #2 Segera menuju flare pit dan kembali ke BPM
melapor api masih menyala
12 Roustabout #3 Menghidupkan blower di dekat top drive engine
bersama Electric Helper

12
13 Senior Mud Boy Stand by di shale shaker untuk menjaga ada atau
tidaknya return. Kalau tidak ada return segera
melapor ke Supervisor terdekat
14 Mud Boy Stand by di mud hopper sambil menunggu
perintah dari Mud Engineer untuk mixing,
menaikkan berat jenis lumpur

Struktur organisasi yang terdapat pada lapangan LMB C sendiri adalah

sebagai berikut :

Gambar 2.2 Struktur Organisasi

2.6 Sarana dan Fasilitas Pemboran

Dalam proses pemboran di Area Lumut Balai terdapat sarana dan fasilitas atau

peralatan pemboran seperti berikut:

13
a. Portacamp

Portacamp biasanya digunakan sebagai office, sleeper, kitchen, dan toilet.

b. Dog house

Dog house merupakan ruangan kecil yang digunakan sebagai pos driller dan

untuk menyimpan alat-alat kecil

c. BOP

BOP (Blow Out Preventer) merupakan alat yang berguna untuk menutup

sumur seperti saat terjadi kick.

d. Driller console

Driller console merupakan panel pusat instrumentasi dari rotary drilling rig

yang digunakan untuk mengontrol proses dalam setiap sub-sub bagian utama.

e. Mud lab

Mud lab merupakan tempat untuk analisa lumpur pemboran yang akan

dipakai

f. Drill pipe

Drill pipe merupakan pipa baja yang dipasang pada bagian atas dan tengah

drill stem.

g. Drill collar

Drill collar merupakan pipa baja penyambung berdinding tebal yang terletak

dibagian bawah drill steam di atas bit.

14
h. Bit

Bit merupakan ujung dari drill string yang menyentuh formasi, diputar dan

diberi beban untuk menghancurkan batuan serta menembus formasi.

i. Mud tank

Mud tank berfungsi sebagai penampung dan mengatur lumpur pemboran

setelah keluar dari lubang.

j. Rotary house

Rotary hose adalah suatu selang karet bertulang anyaman baja yang lemas dan

sangat kuat, yang menghubungkan stand pipe dengan swivel.

k. Mud pump

Mud pump berfungsi memberikan daya hydraulis berupa tekanan dan volume

aliran/debit lumpur, dengan mengalirkan lumpur dari tangki masuk ke drill

stem, melalui nozzle bit dengan mengefektifkan jet velocity nya atau bit HHP-

nya atau Impact forcenya. Dan kemudian mengembalikan lumpur itu ke

permukaan melalui annulus dengan membawa serbuk bor.

l. Solid control equipment

Solid Control equipment merupakanperalatan peralatan yang digunakan

untuk proses pemisahan antara lumpur pemboran dengan cutting cutting

yang terbawa dari dasar sumur, cutting tersebut di pisahkan dengan berbagai

macam ukuran dari yang tebesar hingga yang berbentuk silt.

15