Anda di halaman 1dari 10

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI ROKOK DENGAN KEJADIAN

PENYAKIT TUBERCULOSIS (TBC) DI PUSKESMAS KAWANGU


KECAMATAN PANDAWAI KABUPATEN SUMBA TIMUR
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

ABSTRAK

Pendrita. Melkianus K.H. 1) Tanto Hariyanto, S.Kep. Ns. M.Kes. 2) Lasri, S.Psi., MAP 3)
1)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Tribhuwana Tunggadewi
2)
Dosen Program Studi Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang
3)
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Tribhuwana Tunggadewi
Alamat. Jl. Telaga Warna Tlogomas Malang, 65144
Telp. 0341-565500; Fax 0341565522
E-mail: melkikabonju@yahoo.co.id

Menurut Global Adults Tobacco Survey (GATS) tahun 2011, Indonesia memiliki jumlah
perokok aktif dengan prevalensi 67% laki-laki dan 2,7% wanita dan data TBC Indonesia
menurut depkes RI tahun 2010 sebanyak 294.731 kasus TBC. Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui hubungan antara konsumsi rokok dengan kejadian penyakit
tuberculosis (TBC) di puskesmas kawangu kecamatan pandawai kabupaten sumba timur
provinsi NTT. Desain penelitian mengunakan desain cross sectional dengan
pendekatan Kohort retrospektif. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 69 pasien di
puskesmas kawangu kecamatan pandawai kabupaten sumba timur provinsi NTT dan
sampel penelitian menggunakan total sampling. Teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah kuesioner. Metode analisa data yang di gunakan yaitu uji sperman
rank dengan menggunakan SPSS. Hasil penelitian membuktikan bahwa sebanyak 30
(43,5%) responden mengalami konsumsi rokok sedang dan sebanyak 40 (58,0%)
responden mengalami penyakit TBC positif, sedangkan hasil sperman rank didapatkan
nilai p value = 0,000 < (0,05) atau H1 diterima, artinya ada hubungan antara
konsumsi rokok dengan kejadian penyakit tuberculosis (TBC) di puskesmas kawangu
kecamatan pandawai kabupaten sumba timur provinsi nusa tenggara timur 2015.
Dengan demikian yang perlu dilakukan penderita TBC yaitu mengurangi perilaku
merokok yang berlebihan.

Kata kunci : Kejadian Penyakit Tuberculosis (TBC), Konsumsi Rokok.


Corelation The Consumption Of Cigarettes With Incident Of Tuberculosis (Tb) In
The Health District Kawangu Pandawai Sumba East District East Nusa Tenggara
Province

ABSTRACT

According to the Global Adults Tobacco Survey (GATS) in 2011, Indonesian has a
number of active smokers with a prevalence of 67% of men and 2.7% of women and TB
of prevalence according to the department of health RI Indonesia in 2010 as many as
294.731 cases of TB. The purpose of this study to determine the corelation the
consumption of cigarettes with the incidence of tuberculosis (TB) in the sub-district
health centers kawangu Pandawai Sumba district in the eastern province of NTT.
Design research using cross sectional design with a retrospective cohort approach. The
population in this study were 69 patients in the clinic kawangu eastern districts of
Sumba district Pandawai NTT and sample using total sampling. Collection techniques
used were questionnaires. The analysis method in use is Spearman rank test using SPSS.
The research shows that as many as 30 (43.5%) of respondents experienced a moderate
consumption of cigarettes and 40 (58.0%) of respondents experienced a positive
tuberculosis, while the results obtained Spearman rank p value = 0,000 < (0.05) or H1
accepted, meaning "there is a relationship between consumption of cigarettes with the
incidence of tuberculosis (TB) in the sub-district health centers Pandawai kawangu
district east of Sumba, east Nusa Tenggara 2015". Thus the TB patient needs to be done
is to reduce excessive smoking behavior.

Keywords: The Consumption Of Cigarettes, Incident Of Tuberculosis (Tb)


PENDAHULUAN pertahanan respirasi. Produk-produk
asap rokok diketahui merangsang
Tuberculosis adalah penyakit pembentukan mucus dan menurunkan
menular langsung yang disebabkan oleh pergerakan silia. Dengan demikian
kuman Microbacterium Tuberculosis terjadi penimbunan mucus dan
(TBC). Sebagian besar kuman TBC peningkatan resiko pertumbuhan
menyerang paru-paru, tetapi dapat juga bakteri. Batuk-batuk yang terjadi pada
mengenai organ tubuh lainnya. Kuman perokok (smokers cough) adalah usaha
TBC ini berbentuk batang, mempunyai untuk mengeluarkan mucus kental ini,
sifat khusus yaitu tahan terhadap asam yang sulit didorong ke saluran nafas.
pada pewarnaan. Oleh karena itu Merokok juga suatu masalah kesehatan
disebut juga sebagai Basil Tahan Asam pada masyarakat merupakan ancaman
(BTA). Kuman TBC cepat mati dengan besar bagi kesehatan di dunia.
sinar matahari langsung, tetapi dapat Konsumsi tembakau terus menerus
bertahan hidup beberapa jam di tempat dapat menjadi penyebab utama
yang gelap dan lembab. Dalam jaringan kematian di dunia yang sebenarnya
tubuh kuman ini dapat tertidur lama dapat dicegah. Tahun 2005 diperkirakan
selama beberapa tahun. terdapat 1,1 milyar penduduk yang
Penyakit ini ditularkan oleh penderita berusia 15 tahun atau lebih merupakan
TB dewasa dengan BTA positif melalui perokok, dan kematian akibat
udara dalam bentuk percikan dahak penggunaan tembakau terdapat 4,9 juta
pada waktu penderita batuk/ bersin. orang per tahun. Jika pola merokok ini
Kuman TB akan masuk ke tubuh tetap berlanjut, jumlah kematian akan
manusia lain melalui saluran pernapasan meningkat menjadi sepuluh juta orang
dan hidung di area paru. Penyakit ini per tahun pada Tahun 2020.
menjadi salah satu penyakit yang mudah Kebiasaan merokok akan merusak
menjangkiti kaum banyak. Apabila hidup mekanisme pertahanan paru yang di
serumah dan kontak langsung dengan sebut muccociliary clearance. Bulu
penderita TB melalui luka lecet di kulit bulu getar dan bahan lain di paru tidak
atau dari percikan dahak pada TB yang mudah membuang infeksi yang sudah
mengandung basil positif sehingga masuk karena buluh getar dan alat lain
dapat menyebabkan tingginya risiko di paru rusak akibat kebiasaan merokok.
tertular TB. Selain itu, kebiasaan asap rokok
Risiko penularan tergantung dari meningkatkan tahanan jalan napas dan
tingkat paparan percikan dahak, dan menyebabkan mudah bocornya
kontak langsung dengan penderita TB pembuluh darah di paru, juga akan
paru yang BTA positif. Di indonesia merusak makrofag yang merupakan sel
risiko penularan menurut Annual Risk yang dapat memfagositosis bacteri
of Tuberculosis Infection (ARTI) pathogen.
berkisar antara 1-3% dengan proporsi Asap rokok juga diketahui dapat
penduduk yang berisiko terinfeksi menurunkan respons terhadap antigen
selama satu tahun sebesar 1% dari 10 sehingga kalau ada benda asing masuk
orang per 1000 penduduk terinfeksi ke paru tidak lekas dikenali dan
setiap tahunnya. Infeksi ini dibuktikan dilawan. Secara biokimia asap rokok
dengan adanya perubahan dari uji juga meningkatkan sintesa elastase dan
tuberkulin negatif menjadi positif. menurunkan produksi antiprotease
Merokok merupakan hal yang sehingga merugikan tubuh kita.
mengganggu efektivitas mekanisme Pemeriksaan canggih seperti gas
chromatography dan mikroskop menggunakan rokok maupun
elektron lebih menjelaskan hal ini menggunakan pipa. Temparatur
dengan menunjukkan adanya berbagai sebatang rokok yang tengah dibakar
kerusakan tubuh di tingkat biomolekuler adalah 90 derajat Celcius untuk ujung
akibat rokok. rokok yang dibakar, dan 30 derajat
Tuberkulosis dan merokok Celcius untuk ujung rokok yang terselip
merupakan dua masalah kesehatan di antara bibir perokok (Istiqomah,
masyarakat yang signifikan. Kaitan 2003).
antara rokok pasif dan infeksi TB Paru Munculnya perilaku dari organisme
menjadi bahan pemikiran yang sangat ini dipengaruhi oleh faktor stimulus
penting, mengingat tingginya prevalensi yang diterima, baik stimulus internal
merokok dan tuberculosis pada Negara maupun stimulus eksternal. Seperti
berkembang. Pada Tahun 2005 halnya perilaku lain, perilaku merokok
diperkirakan 5 juta kematian disebabkan pun muncul karena adanya faktor
oleh asap rokok, tanpa intervensi Tahun internal (faktor biologis dan faktor
2020 kematian dan beban karena rokok psikologis, seperti perilaku merokok
diperkirakan akan meningkat dua kali dilakukan untuk mengurangi stres) dan
lipat. Laporan WHO Tahun 2004 faktor eksternal (faktor lingkungan
menyebutkan bahwa terdapat 8,8 juta sosial, seperti terpengaruh oleh teman
kasus baru tuberculosis, pada Tahun sebaya). Sari dkk (2003) menyebutkan
2002 dengan kasus BTA (Basil Tahan bahwa perilaku merokok adalah
Asam) positif sebanyak 3,9 juta. aktivitas menghisap atau menghirup
Sepertiga penduduk dunia telah asap rokok dengan menggunakan pipa
terinfeksi kuman tuberculosis dan atau rokok.
diperkirakan angka kematian akibat TB Berdasarkan hasil cakupan program
adalah 8000 setiap hari atau 2 3 juta TBC Dinas Kesehatan Kabupaten
setiap tahun. Pada Global Report WHO Sumba Timur, pada Tahun 2013
2010 didapat data TBC Indonesia total menunjukan bahwa yang suspek 4067
seluruh kasus TBC sebanyak 294.731 Kasus, kasus baru BTA Positif 308
kasus. Hasil penelitian dari 100 orang kasus, yang di obati BTA Positif 297
yang diteliti, ditemukan yang merokok Kasus, kesembuhan 265 Kasus
dan menderita TB sebanyak 33 orang , sedangkan angka pengobatan lengkap
perokok pasif dan menderita TB 5 orang 30 kasus dan pada tahun 2014
dan yang terkena polusi udara dan penderita TBC suspek 3732 Kasus,
menderita TB 5 orang. Besarnya kasus baru BTA positif 261 kasus,
prevalensi merokok penduduk yang diobati 245 Kasus, kemudian
Indonesia sebanyak 31,5 %, dengan kesembuhan 213 Kasus dan pengobatan
prevalensi terbesar perokok adalah laki- lengkap 39 kasus. Berdasarkan laporan
laki sebesar 62,2 %. yang di dapat dari Puskesmas Kawangu
Perilaku merokok adalah aktivitas Kecamatan Pandawai di mana jumlah
seseorang yang merupakan respons TBC pada tahun 2013 sebayak 30
orang tersebut terhadap rangsangan dari kasus, tahun 2014 sebayak 39 kasus.
luar yaitu faktor-faktor yang Tujuan penelitian ini untuk
mempengaruhi seseorang untuk mengetahui hubungan antara
merokok dan dapat diamati secara konsumsi rokok dengan kejadian
langsung. Sedangkan menurut penyakit tuberculosis (TBC) di
Istiqomah merokok adalah membakar Puskesmas Kawangu Kecamatan
tembakau kemudian dihisap, baik
Pandawai Kabupaten Sumba Timur konsumsi rokok kategori berat
Provinsi NTT. berjumlah 20 (29,0%) responden di
Puskesmas Kawangu Kecamatan
Pandawai Kabupaten Sumba Timur.
DESAIN PENELITIAN 2. Distribusi Kejadian Penyakit TBC
Hasil penelitian tentang data
Desain penelitian mengunakan kejadian penyakit TBC dilakukan
desain cros sectional dengan kepada 69 pasien yang mengunjungi
pendekatan Kohort retrospektif. Puskesmas Kawangu Kecamatan
Populasi dalam penelitian ini sebanyak Pandawai Kabupaten Sumba Timur,
69 pasien di Puskesmas Kawangu disajikan pada tabel berikut.
Kecamatan Pandawai Kabupaten
Sumba Timur Provinsi NTT dan sampel Tabel 2: Distribusi Kejadian Penyakit
penelitian menggunakan total sampling. TBC di Puskesmas Kawangu
Teknik pengumpulan data yang Kecamatan Pandawai
digunakan adalah kuesioner. Metode Kabupaten Sumba Timur
analisa data yang di gunakan yaitu uji
sperman rank dengan menggunakan Penyakit Presentase
Jumlah
SPSS. TBC (%)
Positif 40 orang 58,0

HASIL DAN PEMBAHASAN Negatif 29 orang 42,0


Total 69 orang 100,0
1. Distribusi Konsumsi Rokok
Dari tabel 2 didapatkan responden
Hasil penelitian tentang data
yang mengalami Penyakit TBC positif
konsumsi rokok dilakukan kepada 69
sebanyak 40 (58,0%) responden dan
pasien yang mengunjungi Puskesmas
sebanyak 29 (42,0%) responden
Kawangu Kecamatan Pandawai
mengalami Penyakit TBC negatif di
Kabupaten Sumba Timur, disajikan
Puskesmas Kawangu Kecamatan
pada tabel berikut.
Pandawai Kabupaten Sumba Timur.
Tabel 1: Distribusi Konsumsi Rokok di 3. Uji Sperman Rank
Puskesmas Kawangu Penelitian ini mengunakan uji
Kecamatan Pandawai sperman rank untuk menentukan
Kabupaten Sumba Timur hubungan antara Konsumsi Rokok
Dengan Kejadian Penyakit Tuberculosis
Konsumsi Presentase
Jumlah (TBC) di Puskesmas Kawangu
Rokok (%) Kecamatan Pandawai Kabupaten
Ringan 19 orang 27,5 Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara
Sedang 30 orang 43,5 Timur, sedangkan keapsahaan data
Berat 20 orang 29,0 dilihat dari tingkat signifikasi ()
Total 69 orang 100,0 sebesar atau kurang dari 0,050, adapun
data dapat dilihat pada table berikut:
Dari tabel 1 didapatkan jumlah
responden yang mengkonsumsi rokok Tabel 3: Uji sperman rank.
ringan sebanyak 19 (27,5%), konsumsi
rokok sedang berjumlah 30 (43,5%) Variabel N p value r value
responden dan responden yang
Hubungan Pandawai Kabupaten Sumba Timur.
konsumsi rokok Berdasarkan data juga didapatkan umur
dengan kejadian 69 0,000 0,565 responden lebih dominan berkisar 40
penyakit tahun ke atas sebanyak 34 (79,0%)
tuberculosis (TBC) responden dan lebih domina memiliki
Dari tabel 3 didapatkan hasil uji jenis kelamin laki-laki sebanyak 47
sperman rank dapat dilihat bahwa p = (68,1%) responden serta lebih dominan
0,000 sehingga dapat disimpulkan memiliki pendidikan tingkatan SD
bahwa hasil uji sperman rank terdapat sebanyak 33 (47,8%) responden di
hubungan yang signifikan Antara Puskesmas Kawangu Kecamatan
Konsumsi Rokok Dengan Kejadian Pandawai Kabupaten Sumba Timur.
Penyakit Tuberculosis (TBC) di Diketahui rata-rata sebanyak 30
Puskesmas Kawangu Kecamatan (43,5%) responden mengalami
Pandawai Kabupaten Sumba Timur konsumsi rokok sedang, perilaku
Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal ini merokok merupakan suatu kegiatan atau
sesuai dengan ketentuan bahwa H0 aktivitas membakar rokok kemudian
ditolak jika P < 0,05, dimana hasilnya P menghisapnya dan menghembuskan
= 0,000 < 0,050. Dari nilai r value keluar dan dapat menimbulkan asap
sebesar 0,565 artinya konsumsi rokok yang dapat terhisap oleh orang-orang
memiliki hubungan yang searah disekitarnya. Menurut Departemen
terhadap kejadian penyakit tuberculosis Kesehatan Dalam Gizi dan Promosi
(TBC) yang diderita responden di Masyarakat, Indonesia manyatakan
Puskesmas Kawangu Kecamatan negara memiliki tingkat konsumsi rokok
Pandawai Kabupaten Sumba Timur dan produksi rokok yang tinggi. Variasi
Provinsi Nusa Tenggara Timur. produk dan harga rokok di Indonesia
telah menyebabkan Indonesia menjadi
salah satu produsen sekaligus konsumen
PEMBAHASAN rokok terbesar di dunia. Hal ini
dibuktikan menurut Global Adults
Tobacco Survey (GATS) tahun 2011,
1. Identifikasi Konsumsi Rokok Pada Indonesia memiliki jumlah perokok
Responden Di Puskesmas aktif terbanyak dengan prevalensi 67%
Kawangu Kecamatan Pandawai laki-laki dan 2,7% wanita (Depkes RI,
Kabupaten Sumba Timur Provinsi 2010).
NTT. Faktor yang mempengaruhi
Berdasarkan data diketahui bahwa perilaku merokok yaitu umur, jenis
konsumsi rokok pada responden di kelamin, pendidikan dan pekerjaan.
Puskesmas Kawangu Kecamatan Apabila umur semakin bertambah akan
Pandawai Kabupaten Sumba Timur memberi minat bagi para perokok untuk
sebagian besar mengalami konsumsi mengkonsumsi rokok untuk menghilang
rokok sedang, hal ini didapatkan pada rasa stres dan mengurangi rasa ngantuk
30 (43,5%) responden, sedangkan akibat pekerjaan, hal ini lebih dominan
sebanyak 19 (27,5%) responden didapatkan pada kaum laki-laki yang
mengalami konsumsi rokok ringan dan memiliki pengetahuan rendah terhadap
sebanyak 20 (29,0%) responden bahaya merokok (Aditama, 2009).
konsumsi rokok kategori berat di Kebiasaan merokok akan memberi
Puskesmas Kawangu Kecamatan dampak negatif bagi kesehatan karena
merokok memiliki resiko yang banyak
seperti menyebabkan mutasi, kanker Berdasarkan data didapatkan
dan sebagai penyebab kejadian TBC. bahwa responden yang mengalami
Dari hal tersebut yang harus diketahui Penyakit TBC positif sebanyak 40
responden agar mampu mengurangi (58,0%) responden dan sebanyak 29
kebiasaan merokok karena asap rokok (42,0%) responden mengalami Penyakit
diperkirakan mengandung lebih dari TBC negatif di Puskesmas Kawangu
4.000 senyawa kimia, yang secara Kecamatan Pandawai Kabupaten
farmakologi terbukti aktif, beracun Sumba Timur. Faktor terjadinya
dapat menyebabkan mutasi (mutgenic), penyakit TBC yaitu Host, Imun dan
dan kanker (carcinogenic) (Budirto, Lingkungan. Menurut Depkes RI (2010)
2011). Tuberkulosis adalah penyakit menular
Didapatkan sebanyak 20 langsung yang disebabkan oleh kuman
(29,0%) responden mengkonsumsi TB (Mycobacterium tuberculosis).
rokok berat, hal ini bisa diakibatkan sebagian besar kuman TB menyerang
oleh adanya faktor psikologis dimana paru, tetapi dapat juga mengenai organ
merokok dapat menjadi sebuah cara tubuh lainnya.
bagi individu untuk santai dan Diketahui sebagian besar
kesenangan, tekanan-tekanan kerja, sebanyak 40 (58,0%) responden
penampilan diri, sifat ingin tahu, stress, mengalami Penyakit TBC positif, faktor
kebosanan dan ingin kelihatan gagah risiko yang mempengaruhi
merupakan hal-hal yang dapat kemungkinan seseorang menjadi
mengkontribusi terjadinya merokok penderita tuberkulosis paru adalah
perokok berat. Selain itu, individu karena daya tahan tubuh yang lemah,
dengan gangguan cemas bisa diantaranya karena gizi buruk,
menggunakan rokok untuk HIV/AIDS dan akibat perilaku merokok
menghilangkan kecemasan. Sedangkan yang berlebihan. Tanda dan gejala
faktor lain seperti faktor biologis karena tuberkulosis paru biasanya timbul batuk
sudah kecanduan nikotin. Proses terus menerus dan berdahak selama tiga
biologinya yaitu nikotin diterima minggu atau lebih, sehingga
reseptor asetilkotin-nikotinik yang menimbulkan batuk dengan dahak
kemudian membagi ke jalur imbalan bercampur darah, sesak nafas dan rasa
dan jalur adrenergenik. Pada jalur nyeri dada, badan lemah dan nafsu
imbalan, perokok akan merasakan makan menurun, malaise atau rasa
nikmat, memacu sistem dopaminergik. kurang enak badan, berat badan
Hasilnya perokok akan merasa lebih menurun, berkeringat malam walaupun
tenang, daya pikir serasa lebih tanpa kegiatan dan demam meriang
cemerlang, dan mampu menekan rasa lebih dari satu bulan.
lapar. Didapatkan sebanyak 19 (27,5%) Risiko tertular penyakit TBC
responden mengalami perokok ringan tergantung dari tingkat pajanan dengan
hal ini bisa dicegah dengan dukungan percikan dahak. Penderita TB paru
keluarga untuk mendorong individu dengan BTA positif memberikan
agar bisa berhenti merokok. kemungkinan risiko penularan lebih
besar, risiko penularan setiap tahunnya
2. Identifikasi Kejadian Penyakit di tunjukkan dengan Annual Risk of
Tuberculosis di Puskesmas Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu
Kawangu Kecamatan Pandawai proporsi penduduk yang berisiko
Kabupaten Sumba Timur Provinsi terinfeksi TB selama satu tahun sebesar
NTT. 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara
1000 penduduk terinfeksi TB setiap akan merusak mekanisme pertahanan
tahun (Depkes RI, 2010). paru yang disebut muccociliary
Didapatkan sebanyak 29 (42,0%) clearance. Bulu-bulu getar dan
responden dinyatakan tidak mengalami komponen lain di paru tidak mudah
Penyakit TBC atau negatif di membuang infeksi yang sudah masuk
Puskesmas Kawangu Kecamatan karena bulu getar dan komponen lain di
Pandawai Kabupaten Sumba Timur, dari paru rusak akibat asap rokok. Selain itu,
hal tersebut maka cara mencegah asap rokok meningkatkan tahanan jalan
penyakit TBC salah satunya dengan napas (airway resistance) dan
menghentikan aktivitas merokok yang menyebabkan mudah bocornya
berlebihan, mengurangi kontak dengan pembuluh darah di paru, juga akan
penderita penyakit TBC aktif, menjaga merusak makrofag yang merupakan sel
standar hidup yang baik, dengan yang dapat me-"makan" bakteri
makanan bergizi, lingkungan yang pengganggu. Asap rokok juga diketahui
sehat, dan berolahraga serta pemberian dapat menurunkan respons terhadap
vaksin BCG (untuk mencegah kasus antigen sehingga kalau ada benda asing
TBC yang lebih berat). masuk ke paru tidak lekas dikenali dan
dilawan. Secara biokimia asap rokok
3. Hubungan Konsumsi Rokok juga meningkatkan sintesa elastase dan
Dengan Kejadian Penyakit menurunkan produksi antiprotease
Tuberculosis (TBC). sehingga merugikan tubuh (Aditama,
2009).
Berdasarkan analisis data dengan
Merokok berat biasa disebut
mengunakan uji sperman rank
perokok aktif dan dapat diketahui dari
didapatkan P Value = 0,000 sehingga
adanya bau mulut pada saat berbicara
dapat disimpulkan bahwa hasil ada
maupun bernafas, gigi menguning,
hubungan yang signifikan Antara
ujung jari menguning seperti
Konsumsi Rokok Dengan Kejadian
menguningnya kertas rokok. Merokok
Penyakit Tuberculosis (TBC) di
sebatang setiap hari akan meningkatkan
Puskesmas Kawangu Kecamatan
tekanan sistolik 10-25 mmHg dan
Pandawai Kabupaten Sumba Timur
menambah detak jantung 5-20 kali per
Provinsi Nusa Tenggara Timur. Adapun
menit (Sitepoe, 2000). Hasil penelitian
didapatkan sebanyak 30 (43,5%)
diketahui sebanyak 30 (43,5%)
responden mengalami konsumsi rokok
responden mengalami konsumsi rokok
sedang dan sebanyak 40 (58,0%)
sedang, kebiasaan merokok merupakan
responden mengalami Penyakit TBC
kebiasaan yang tidak baik dimana selain
positif.
merugikan diri sendiri berdampak
Berdasarkan hasil penelitian
merugikan orang lain. Hal ini dapat
didapatkan ada hubungan yang
dibuktikan apa bila perokok membeli
signifikan Antara Konsumsi Rokok
rokok sehari satu bungkus maka jatah
Dengan Kejadian Penyakit Tuberculosis
pembelian bahan pangan akan
(TBC) di Puskesmas Kawangu
berkurang. Proses melakukan
Kecamatan Pandawai Kabupaten
pemberhentian merokok, sebaiknya
Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara
perokok lebih sering duduk didekat
Timur, kebiasaan merokok merupakan
orang yang tidak suka mencium bau
faktor dalam progresivitas tuberkulosis
asap rokok. Atau cari pasangan yang
paru dan terjadinya fibrosis. Secara
tidak suka dengan orang yang merokok.
umum, perokok lebih sering mengalami
Ini akan sangat membantu untuk
tuberkulosis karena kebiasaan merokok
mengurangi aktivitas merokok yang Penelitian tentang Hubungan
berlebihan. Diharapkan bagi perokok Antara Konsumsi Rokok Dengan
agar tidak marah apabila ketika ada Kejadian Penyakit Tuberculosis (TBC)
orang yang mengibaskan tangannya di Puskesmas Kawangu Kecamatan
didepan hidungnya saat ada asap rokok, Pandawai Kabupaten Sumba Timur
itu hanya isyarat untuk menyuruh Provinsi Nusa Tenggara Timur 2015,
perokok mematikan rokok atau menjauh menyimpulkan bahwa:
darinya sehingga berdampak akan 1. Sebagian besar 30 (43,5%)
mengurangi kebiasan merokok. responden mengalami konsumsi
Hasil penelitian juga didapatkan rokok sedang di Puskesmas
sebanyak 40 (58,0%) responden Kawangu Kecamatan Pandawai
mengalami Penyakit TBC positif, hal ini Kabupaten Sumba Timur Provinsi
sesuai dengan data Global Report WHO Nusa Tenggara Timur 2015.
2010 didapat data TBC Indonesia total 2. Sebagian 40 (58,0%) responden
seluruh kasus TBC sebanyak 294.731 mengalami Penyakit TBC positif di
kasus. Penyakit TBC merupakan suatu Puskesmas Kawangu Kecamatan
penyakit infeksi yang disebabkan Pandawai Kabupaten Sumba Timur
bakteri mikobakterium Provinsi Nusa Tenggara Timur 2015.
tuberkulosa,bakteri ini berbentuk batang 3. Hasil analisis data dengan
dan bersifat tahan asam sehingga mengunakan uji kolerasi sperman
dikenal juga sebagai Batang Tahan rank didapatkan p value = 0,000
Asam (BTA). Selain karena bakteri < (0,050) artinya ada Hubungan
sebagai penyebab utama, faktor Antara Konsumsi Rokok Dengan
lingkungan yang lembab, kurangnya Kejadian Penyakit Tuberculosis
sinar matahari pada suatu ruang dan (TBC) di Puskesmas Kawangu
kurangnya sirkulasi udara juga sangat Kecamatan Pandawai Kabupaten
berperan dalam penyebaran bakteri Sumba Timur Provinsi Nusa
mikobakterium tuberkulosa ini sehingga Tenggara Timur 2015.
sangat mudah menjangkiti bagi orang
yang hidup dalam kondisi lingkungan DAFTAR PUSTAKA
yang tidak sehat. Tercatat di Indonesia
bahwa penyakit TBC ini terus Aditama. 2009. Rokok dan kesehatan,
berkembang stiap tahunnya dan sampai edisi 3. Jakarta : Penerbit Universitas
tahun 2010 tercatat angka kejadian TBC Indonesia
sebanyak 250 juta kasus dan 140 ribu Arikunto, S. (2010). Prosedur
diantaranya menyebabkan kematian. Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Dengan angka ini memposisikan Budirto, E. 2011. Biostatistik untuk
Indonesia menjadi negara terbesar kedokteran dan kesehatan
ketiga di dunia untuk penderita penyakit masyarakat. Editor, palupi
TBC (Depkes RI, 2010). Dengan widyastuti: jakarta : EGC
semakin meningkatnya jumlah kejadian Brunner & suddart. Keperawatan
TBC di Indonesia maka salah satu cara medikal bedah. Edisi 8 volume
pencegahannya dengan melakukan 2. Jakarta : EGC. (2002)
pemberhentian mengkonsumsi rokok
Berry, JW., Pootinga, YPEH., Segall,
dari sekarang.
M.H., Dasen, P.R., 1992.Cross-
cultural Psychology: Research
KESIMPULAN
& Applications. Cambridge:
Cambridge Press University.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku dan R & D. CV. Bandung :
Patofisiologi. Jakarta : EGC Alfabeta
Stuart, G dan Sundeen, (1995),
Daud, A dan Anwar. (2005). Dasar- Principles and Practice of
dasar kesehatan lingkungan. psiciatric Nursing, 5 th Edition,
Makassar : CV. Healthy and Mosby Years Book, Missiouri.
sanitatation.
Departemen Kesehatan Republik Syaifudin. (2010). Anatomi Fisiologi
Indonesia. 2010. Pedoman Untuk Mahasiswa
nasional : Penanggulangan Keperawatan/Penulis. Jakarta :
tuberkulosis. Jakarta : Cetakan EGC
ke-2. Depkes RI;2008.hal.8-14
Depkes. (2011). Mediakom: info sehat Sitepoe, M. 2000. Kekhususan Rokok
untuk semua. Edisi XXVIII Indonesia. Jakarta : Gramedia
februari 2011. Widiasarana Indonesia.
Hidayat, A. Aziz Alimul. Medote
WHO, Treatment of Tuberculosis
penelitian keperawatan dan
Guidelines for National
teknik analisis data. Jakarta:
Programmes, Third edition,
salemba medika. (2008)
World Health Organization,
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi
Geneva, 2003, page 47-52.
Penelitian dan Kesehatan.
Jakarta : Rineka Cipta. Zubaidi Yusuf, Tuberkulostatik dan
Nursalam. (2011). Konsep dan Leprostatik, dalam
Penerapan Metodologi Farmakologi dan Terapi, edisi 4,
Penelitian Ilmu Keperawatan : Sulistia G. Ganiswarna, bagian
Pedoman Skripsi, Tesis, dan Farmakologi, Fakultas
Instrumen Penelitian Kedokteran Universitas
Keperawatan. Jakarta : Salemba Indonesia, Jakarta, 1995, hal
Medika 597-610.
Sugiyono, (2007). Metodologi
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif