Anda di halaman 1dari 8

PENDEKATAN KULTURAL DALAM PRAKTEK

KEPERAWATAN PROFESIONAL DI RUMAH SAKIT


JOGJA INTERNATIONAL HOSPITAL

Siti Lestari 1,Widodo2, Sumardino3.


1,2,3
Jurusan Keperawatan, Poltekkes Surakarta,
Jln Letjen Sutoyo Mojosongo Surakarta
email : lestaristi@yahoo.com.

ABSTRAK
Perawat merupakan petugas kesehatan yang mempunyai peran dominan dalam membantu pasien
sembuh dari penyakit yang dideritanya. Terkait dengan budaya perawat perlu mengetahui dan menilai
keanekaragaman budaya, mempunyai kapasitas untuk mengkaji budaya, menyadari bahwa budaya
bersifat dinamis dan mempunyai adaptasi yang terus menerus dikembangkan dalam upaya mereeksikan
dan memahami keanekaragaman budaya. JIH, merupakan salah satu rumah sakit internasional
yang memiliki knsumen dari berbagai ragam latar budaya. Oleh karenanya perlu kiranya diketahui
bagaimana pendekatan budaya yang dilakukan perawat di rumah sakit tersebut. Tujuan penelitian
adalah untuk mengetahui bagaimana pendekatan cultural dalam praktek keperawatan professional.
Metode kualitatif dengan 18 narasumber yang diambil secara purposive sampling. Analisa data
dilakukan dengan model miles dan Huberman, yang meliputi data reduksi, penyajian dan konklusion.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat perlu mempunyai pengetahuan tentang budaya dalam
memberikan asuhan keperawatan. Perawat bersikap positif dalam menghadapi perbedaan budaya.
Perawat akan membiarkan bila tidak mempengaruhi kesehatan, bernegosiasi atau bahkan akan
melarang bila mengganggu kesehatan atau dilarang dokter. Hambatan yang sering ditemukan adalah
dalam hal komunikasi dan pendekatan budaya dalam praktek keperawatan profesional dilakukan me
lalui identikasi, analisa situasi, menyusun strategi dan mengevaluasi
Kata Kunci: budaya, praktek keperawatan profesional.

ABSTRACT
Nurses are health professional who have dominant role to help client for healing the deseas. In relating
to the culture, they must understand and valuing cul tural diversity background , have capability to asess
cultural and aware that cultur is dinamic. Furthermore, nurses must adapt continuesly in order to reect
and understand about cultural diversity. Jogja International Hospital is a international hospital that
has consuments with many and different cultural background. So, it is important for understanding how
implementing a culturral in professional nursing practice. The purpose of the study is for describing
implemetation of cultur in professional nursing practice. . The qualitative research with 18 sample is
designed to answer the purpose of study. Analize of data is using Mile and Hubermans model, The
results show that Nurses need to knowledge of other culture inorder to provide professional nursing
practice. Nurses also should think positively when they care client with different culture group.Nurse
Jurnal KesMaDaSka - Januari 2014

will maintenance the culture when it is not inuence the clients health, or negotiating event they will
probihited when the cultur will inuence the health status. The barrier during work with client in different
cultur background was communication and language. Professional Nursing Practice with cultur was
conducted via cultur identication, analizing of situation , making intervention and evaluation.
Key words: Culture, proffessional nursing practice.

PENDAHULUAN perawat kesehatan harus mampu membuat


kongurasi berbagai disiplin ilmu yang di-
Kultur merupakan pengetahuan yang
butuhkan dengan fakta real yang pada setiap
dipelajari dan disebarkan mengenai kultur
pasien yang mempunya kasus, latar belakang
tertentu dengan nilai, kepercayaan, aturan
berbeda-beda ( multikausal ).
perilaku dan praktek gaya hidup yang men-
jadi acuan bagi kelompok tertentu dalam ber- Menurut Cross, T., Bazron, B. Dennis,
kir dan bertindak dengan cara yang terpola K. dan Issac, M., terdapat lima element bu-
(Smelzer, 2001). Sebagai pengetahuan yang daya yang perlu diketahui dan mampu diim-
dipelajari dan disebarkan, kultur menjadi plemetasikan oleh seorang perawat dalam
suatu petunjuk bagi seseorang dalam berkir, intervensi keperawatan yaitu menilai kea-
bersikap dan bertindak sehingga menjadi sua- nekaragaman budaya, mempunyai kapasitas
tu pola yang mengekspresikan siapa mereka. untuk meng-assessment budaya, menjadari
Hal tersebut diturunkan dari satu generasi ke bahwa budaya bersifat dinamis dan inherent
generasi berikutnya. Karena begitu banyak dalam ketika terjadi interaksi budaya, mem-
perilaku dan sikap manusia yang dibentuk punyai pengetahuan budaya yang sudah di-
dan dipengaruhi kultur, maka perawat harus lembagakan, mempunyai adaptasi yang terus
menyadari bahwa pasien akan bertindak dan menerus dikembangkan dalam upaya mere-
berpeilaku dengan berbagai cara berdasarkan eksikan dan memamahami keanekaraga-
latar belakang kulturalnya. man budaya (Cross, 1989).
Perawat merupakan petugas keseha- Setelah melakukan penjelajahan umum
tan yang mempunyai peran dominan dalam pada beberapa rumah sakit di Wilayah Sura-
membantu pasien sembuh dari penyakit yang karta dan Jogjakarta maka yang ditetapkan
dideritanya. Perawat sebagai ujung tombak sebagi tempat penelitian adalah JIH . Seb-
pelayanan di rumah sakit, sebagai aktor yang agai situasi social, pada JIH RS bertaraf in-
langsung berhadapan dengan pasien dalam ternasional ( place) terdapat perawat-perawat
waktu yang lama. Kondisi yang seperti itu (actor) yang melakukan interaksi / kegiatan
menuntut totalitas seorang perawat dalam merawat pasien (activity). Fokus penelitian
menjalankan fungsinya. Profesionalitas men- diarahkan pada pertama, persepsi perawat
jadi tuntutan yang harus selalu ditingkatkan. tentang pentingnya memiliki pengetahuan
Profesionalitas akan terus tumbuh dan ber- tentang suatu budaya. Kedua, sikap pera-
kembang bila seorang perawat mempunyai wat dalam mengahadapi perbedaan budaya
kemauan untuk mengembangkan berbagai dengan kliennya.Ketiga, hambatan hamba-
pengetahuan yang berhubungan dengan pro- tan ketika berhadapan dengan pasien yang
fesi keperawatan. Profesi keperawatan ber- memiliki latar belakang budaya yang berbe-
sifat multikausal dan multidisiplin. Seorang da dan yang terakhir adalah bagaimana pe-

2
Jurnal KesMaDaSka - Januari 2014

nerapan pendekatan kultural dalam praktek memandang dan menafsirkan dunia dari pen-
keperawatan profesional. diriannya (Sugiyono, 2001) .
Adapun rumusan masalah dalam Sampel sumber data adalah perawat
masalah penelitian ini adalah Bagaimana yang memilki pengalaman berinteraksi den-
persepsi perawat tentang pentingnya pen- gan klien yang memiliki pandangan atau latar
getahuan budaya bagi seorang perawat. belaknag budaya yang berbeda. Dalam pene-
Bagaimana sikap perawat dalam meng- litian ini, sumber data yang digunakan adalah
hadapi perbedaan budaya dengan kliennya. 18 orang perawat yang bekerja di beberapa
Bagaimana hambatan yang dihadapi perawat bagian seperti Unit Gawat Darurat, Intensive
dalam menghadapi perbedaan budaya den- Care Unit, Bangsal Rawat Inap, dan Rawat
gan klien. Bagaimana pendekatan kultural Jalan, dengan alasan yang telah disebutkan
dalam praktek keperawatan profesional di diatas. Sumber data yang digunakan di sini
Jogja International Hospital ?. Adapun tujuan tidak mewakili populasinya tetapi lebih cen-
penelitian penelitian ini adalah untuk menge- derung mewakili informasinya. Karena pen-
tahui bagaimana pendekatan cultural dalam gambilan sampel didasarkan atas berbagai
praktek keperawatan professional. Namun pertimbangan tertentu, maka pengertiannya
secara specik tujuan penelitian adalah (1) sejajar dengan jenis teknik samepl yang di-
Untuk mengetahui persepsi perawat tentang kenal sebagai purposive sampling, dengan
pentingnya pengetahuan berkaitan denga bu- kecenderungan peneliti untuk memilih sum-
daya bagi seorang perawat . (2).mendapatkan ber yang dianggap mengetahui informasi dan
gambaran sikap perawat dalam menghadapi masalahannya secara mendalam dan dapat
pasien yang memiliki perbedaan kultur/ bu- dipercaya untuk menjadi sumber data yang
daya. (3) Mengetahui hambatan yang dira- mantap.
sakan perawat dalam menghadapi perbe- Tehnik pengumpulan data digunakan
daan budaya dengan pasien. (4) Mengetahui adalah Focus Group Discussion (FGD), yang
bagaimana penerapan pendekatan kultural dilakukan dalam 3 tahap atau 3 kelompok,
dalam perawatan pasien di JIH masing-masing kelompok terdiri atas 4 7
perawat. Menurut Krueger, FGD sebaiknya
METODOLOGI PENELITIAN terdiri atas 4-6 orang. FGD dilakukan dengan
Penelitian ini dilakukan di Jogja In- kondisi yang tidak terstruktur ketat, akrab,
ternational Hospital (JIH) Yogyakarta, den- kekeluargaan dan tidak formal dengan jami-
gan metode penelitian kualitatif. Penelitian nan rasa aman bagi narasumbernya sehingga
kualitatif pada hakekatnya bertujuan untuk data yang diperoleh akan cukup lengkap dan
menjelaskan pengalaman dan activitas se- mendalam (Krueger, 1988).
cara natural (Krueger, 1988). Sumber dan Instrumen penelitian yang utama ada-
tehnik pengumpulan data dalam penelitian lah peneliti sendiri. Akan tetatpi setelah fokus
ini disesuaikan dengan fokus dan tujuan penelitian menjadi jelas maka dikembangkan
penelitian. Dalam penelitian kualitatif, sam- instrumen penelitian (alat bantu atau guide
pel sumber data dipilih dan mengutamakan interview) yang akan mempertajam hasil
prespektif emic, artinya mementingkan pan- penelitian. Alat bantu lain yang digunakan
dangan informan, yakni bagaimana mereka adalah kamera, kaset, tape recorder dan buku
catatan lapangan. Pengembangan validitas

3
Jurnal KesMaDaSka - Januari 2014

(kesahihan) data yang diperoleh pada pene- neliti akan kembali ke lapangan untuk men-
litian ini dengan cara triangulasi. Teknik tri- cari jawabannya. Dalam hal ini nara sumber
angulasi yang dipakai yaitu (1) triangulasi di telpon kembali untuk menjelaskan atau
sumber dan (2) triangulasi waktu. Triangu- mengklarikasi lagi. Dengan demikian data
lasi sumber dilakukan dengan cara menany- yang diperoleh akan menjadi semakin len-
akan hal yang sama melalui sumber yang gkap. Model analisis yang dipakai dalam
berbeda,sedangkan triangulasi waktu artinya penelitian ini adalah analisis interaktif Miles
pengumpulan data dilakukan pada berbagai & Huberman. Proses analisis meliputi reduk-
kesempatan, pagi, siang atau sore. Dalam si data, sajian data dan penarikan kesimpu-
hal ini triangulasi waktu dilakukan pada na- lan/verikasi (Miles, 1984).
rasumber dengan memanfaatkan tehnologi
komunikasi telepon. Dari beberapa cara ter- HASIL PENELITIAN DAN
sebut akan bisa dipertimbangkan beragam PEMBAHASAN
fenomena yang muncul, dan selanjutnya bisa Pengambilan data dilakukan di JIH, da-
ditarik kesimpulan yang lebih mantap dan le- lam rentang waktu antara tanggal17 Septem-
bih bisa diterima kebenarannya. Selanjutnya, ber sampai 12 November 2008. Sebanyak 3
diskusi teman sejawat juga dilakukan dengan orang peneliti (1 team) melakukan pengum-
mendiskusikan hasil penelitian yang masih pulan data kepada sumber data yang telah
bersifat sementara tersebut kepada dosen- diidentikasi sebelumnya sesuai dengan tu-
dosen yang terutama mengampu mata kuliah juan atau permasalahan penelitian yang ter-
sosiologi kesehatan dan Transcultural Nur- kait dengan budaya. Hasil penelitian dapat
sing. Melalui diskusi ini banyak pertanyaan dilihat pada tabel dibawah ini.
dan saran yang belum terjawab sehingga pe-

Tabel 1. Hasil Penelitian


No Pertanyaan Hasil
1 Persepsi perawat tentang Agar dapat mengerti pasien
alasan perlunya pengeta- Agar perawat mampu menempatkan diri atau menyesuaikan diri dengan pa-
huan budaya bagi perawat siennya
Agar dapat memberikan pelayanan yang terbaik
Untuk mengurangi komplain pasien atau keluarga dan rasa tak nyaman men-
cegah kesalahpahaman atau misunderstanding
2 Sikap perawat dalam men- Menghargai budaya pasien
gahadapi perbedaan bu- Memahami budaya pasien
daya dengan kliennya Melarang pasien bila tak tidak terjamin keamanannya atau tidak diijinkan
dokter
Negosiasi dengan pasien atau keluarga
Memberikan inform consent yang wajib ditandatangani oleh pasien maupun
keluarga bila tidak diperoleh kesepahaman
3 Hambatan perawat berhu- Bahasa
bungan perbedaan budaya Komunikasi
4 Pendekatan Kultural Pengkajian saat wawancara sudah mencoba mengidentikasi budaya pasien
Penyusunan intervensi memperhatikan aspek budaya pasien
Implementasi dilakukan dengan melibatkan keluarga
Evaluasi memperhatikan keluhan, tak ada keluhan dapat dimaknai harapan
klien terpenuhi

4
Jurnal KesMaDaSka - Januari 2014

1. Persepsi terhadap pentingnya penge- perawat akan berakibat pada penurunan kual-
tahuan tentang budaya itas pelayanan yang diberikan.
Sebagian besar perawat mempunyai Selain itu sumber data lainnya me-
persepsi yang sama yaitu bahwa merupakan nyampaikan alasan mengapa perawat perlu
hal yang sangat penting bagi perawat-per- mempunyai pengetahuan tentang suatu buda-
awat memiliki pengetahuan tentang budaya ya. Alasannya adalah mengurangi komplain,
. Alasan yang mereka sampaikan sangat ber- rasa tak nyaman atau mencegah kesalahpa-
variasi. Misalnya adalah agar mereka dapat haman atau misunderstanding juga merupak-
mengerti/memahami dan menempatkan diri an salah satu alasan. Komplain sebetulnya
atau menyesuaikan diri dengan pasiennya. merupakan hal biasa dalam bisnis jasa, tidak
Cultural Shock akan dialami oleh klien pada terkecuali jasa pelayanan keperawatan. Kom-
suatu keadaan dimana perawat tidak mampu plain akan terjadi manakala harapan tidak
beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya sesuai dengan kenyataan atau ada masalah.
dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebab- Sumber masalah di pelayanan keperawatan
kan munculnya rasa ketidaknyamanan dan tentu saja sangat bervariasi, bisa bersumber
beberapa mengalami disorientasi dari perawat, pasien-keluarga atau rumah
Memberikan pelayanan yang terbaik sakit tempat pasien dirawat.
juga menjadi alasan pentingnya perawat Misunderstanding dapat terjadi aki-
memiliki pengetahuan budaya. Perbedaan bat perbedaan budaya dan nilai-nilai antara
budaya, etnis dan bahasa berdampak pada pasien dan perawat. Menurut Galant pen-
bagaimana seseorang atau kelompok mem- getahuan tentang budaya dapat membantu
peroleh dan menggunakan atau memanfaat- menghindari misunderstanding dan dapat
kan pelayanan kesehatan atau social. Selain memberikan pelayanan lebih baik (Galanti,
itu perbedaan-perbedaan tersebut juga akan 2000).
mengakibatkan kendala bagi efektitas in- Jadi pengetahuan tentang budaya
tervensi perawatan kesehatan . Hal ini benar merupakan factor penting pada semua tingkat
ketika para praktisi kesehatan atau perawat praktek keperawatan. Adanya konik kul-
melakukan misinterpretasi, membuat asum- tural ataupun stress kultural merekesika ad-
si yang salah atau sebaliknya salah dalam anya kurang pengetahuan perawatan kultural
melakukan sesuatu terhadap seseorang atau untuk memberikan perawatan , rasa aman,
kelompok yang dipandang berbeda istilah tanggungjawab yang kongruen dengan kebu-
menurut latar belakang (budaya) dan pengal- dayaan. Pengetahuan tentang suatu budaya
amannya mereka. Jadi hal tersebut akan men- dan dampaknya terhadap interaksi dengan
gakibatkan pelayanan keperawatan menjadi pelayanan kesehatan merupakan hal esensial
tidak efektif dan tidak berkualitas (Galanti, bagi perawat, karena pengetahuan dan ket-
2000). Hal tersebut tentu saja akan dapat di- rampilan tersebut akan makin menguatkan
hindari apabila perawat yang memilki penge- dan meluaskan system pemberian pelayanan
tahuan budaya menyadari dan mampu mene- kesehatan. Perawat perlu mengetahui tentang
mukan perbedaan budaya, mengintegrasikan bagaimana kelompok budaya tertentu me-
pengetahuan budaya dengan cara yang tepat mahami proses kehidupan, mendenisikan
akan membuat perawatan menjadi efektif 1 sehat-sakit, mempertahankan kesehatan dan
.Selanjutnya, kebutaan budaya yang dialami keyakinan mereka tentang penyebab penya-
kit dan sebagainya (Anonim, 1990).

5
Jurnal KesMaDaSka - Januari 2014

2. Sikap perawat terhadap klien dengan mereka melakukan suatu kegiatan yang tidak
budaya yang berbeda terjamin keamanannya atau tidak diijinkan
Perawat bersikap menghargai budaya dokter. Negosiasi atau akomodasi perawatan
kliennya atau keluarganya. Mereka berusaha kultural mengacu pada semua bantuan, fasili-
untuk memahami budaya budaya klien tas dan dukungan atau pembuatan keputusan
yang sangat variatif, walaupun budaya san- dan tindakan profesional yang menolong ma-
gat berbeda jauh. Menurut Leninger, manu- syarakat sesuai adaptasi kebudayaan mereka
sia mempunyai hak untuk difahami, dihargai, untuk mencapai hasil kesehatan yang men-
dimengerti dan digunakan budayanya dalam guntungkan. Selanjutnya, menurut Leninger,
perawatan. Oleh karena itu seorang perawat perawat perlu melakukan restrukturisasi bu-
kesehatan seyogyanya mempunyai kemam- daya bila budaya yang dimilikinya merugi-
puan untuk mengerti dan memahami pasien- kan status kesehatan dan apabila hal tersebut
pasiennya (Leinager, 1989). Ketidakmam- tidak berhasil, perawat akan memberikan in-
puan perawat untuk memahami pasien bisa form consent yang wajib ditandatangani oleh
berakibat masalah. Sumber utama masalah pasien maupun keluarga. Restrukturisasi bu-
dalam merawat pasien dari latar belakang daya perlu dilakukan untuk menolong klien
budaya yang berbeda adalah adanya ketida- mengubah atau memodikasi cara hidup
kmengertian dan tidak adanya rasa toleransi klien agar lebih baik dan memperoleh pola
5
. Sehingga adanya pengertian dari perawat perawatan yang lebih menguntungkan den-
dan upaya penyesuaian diri akan mengurangi gan menghargai keyakinan dan nilai yang
atau mencegah permasalahan-permasalahan dimiliki klien sesuai budayanya.
yang tidak perlu terjadi. Selanjutnya, ANA 3. Hambatan
menjelaskan bahwa perawat harus memper-
Merawat pasien yang memiliki latar be-
timbangkan factor budaya yang mempenga-
lakang budaya yang berbeda memungkinkan
ruhi kliennya dan menggunakan pengetahuan
terjadi kendala. Dalam diskusi disampaikan
tentang budayanya untuk mengembang-
bahwa komunikasi bahasa merupakan salah
kan atau menyusun nursing care plan dan
satu hambatan yang dialami perawat JIH
mengimplementasikan tindakan perawatan
dalam menjalankan fungsinya. Komunikasi
(Anonim, 1990).
adalah suatu proses ketika individu sebagai
Kadang-kadang perawat juga mem- komunikan mengalihkan rangsang dalam
biarkan keluarga melakukan suatu ritual bentuk lambang atau gerak untuk mengubah
tertentu untuk kesembuhan pasiennya.Hal tingkah laku yang lain Komunikasi dapat
tersebut sesuai dengan teori Leinenger. terjalin melalui kata, bahasa tubuh dan tan-
Menurut Leninger, budaya pasien perlu di- da linguistic lainnya seperti suara, nada dan
pertahankan bila budaya pasien tidak berten- kekerasan. Prinsip tersebut sangat berperan
tangan dengan kesehatan. Perencanaan dan dalam interaksi perawat-klien.
Implementasi keperawatan diberikan sesuai
Dalam proses keperawatan, Komuni-
nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki
kasi sangat penting. Misalnya, dalam proses
klien sehingga klien dapat meningkatkan
pengkajian, untuk mendapatkan data yang
atau mempertahankan status kesehatannya.
diperlukan dan akurat, langkah pertama un-
Tetapi perawat juga akan bernegosiasi dan
tuk membuka jalan adalah dengan komu-
atau melarang keluarga atau pasien apabila
nikasi. Bila komunikasi telah terjalin, dan

6
Jurnal KesMaDaSka - Januari 2014

kepercayaan klien terhadap perawat berkem- dapi tantangan ketika budaya pasien ternyata
bang, maka data yang didapatkan akan lebih beda dengan perawat. Namun demukian per-
lengkap. Selanjutnya perawat akan dapat me- awat seharusnya mampu menyesuaikan diri
nyusun nursing care plan untuk selanjutnya dlam situasi tersebut.
mengimplementasikan. Selanjutnya, Meyer, 1996, memberi-
Lebih lanjut, perbedaan system nilai kan tuntutan empat hal yang harus dipun-
dan cultural antara perawat dan pasien akan yai seorang perawat sebagai provider dalam
menghambat komunikasi yang efektif bah- mengimplmentasikan asuhan keperawatan
kan menimbulkan anggapan yang negative yaitu mempunyai kapabilitas menghadapi
terhadap lawan bicaranya. Kebenaran suatu tantangan langsung perbedaan klinis dari
budaya sangat relative, hal tersebut memung- klien yang bebeda suku dan ras, mempunyai
kinkan terjadinya pertentangan kebudayaan kemmapuan komunikasi dalam menghadapi
(cultural conict ). Hal ini terjadi akibat kon- klien yang beraneka ragam latarbelakang,
ik langsung antar kebudayaan. Faktor-fak- mempunyai kapabilitas dalam bidang ethics
tor yang menimbulkan konik kebudayaan dan menumbuhkan kepercayaan.
adalah keyakinan-keyakinan yang berbeda
sehubungan dengan berbagai masalah akti- KESIMPULAN
tas berbudaya. Konik ini bisa terjadi dian- 1. Pengetahuan budaya sangat diperlukan
tara anggauta-anggota kebudayaan yang satu oleh perawat dalam memberikan asuhan
dengan anggota-anggota yang lainnya. keperawatan. Hal tersebut dapat memu-
4. Pendekatan Budaya dahkan perawat untuk menyesuaikan
diri, menghindari misunderstanding,
Identikasi budaya merupakan bagian
mencegah komplain dan rasa tidak nya-
dan langkah awal ketika seorang perawat
man serta memberikan pelayanan keper-
akan melakukan pengkajian. Hal tersebut ses-
awatan yang lebih baik.
uai dengan pendapat Cross, dkk bahwa mem-
2. Sikap perawat terhadap klien atau ke-
berikan acuan lima elemen budaya yang per-
luarga yang melakukan suatu ritual/pen-
lu diketahui dan mampu diimplementasikan
gobatan yang sesuai keyakinannya akan
oleh perawat dalam intervensi keperawatan,
dibiarkan saja sejauh hal tersebut tidak
yaitu menilai keanekaragaman budaya, me-
mempengaruhi kesembuhan atau kes-
miliki kapasitas assessment budaya, me-
ehatan pasien. Akan tetapi perawat juga
nyadari budaya bersifat dinamis, mempunyai
melakukan negosiasi atau bahkan melar-
pengetahuan budaya dan mempunyai adaptsi
ang apabila aktivitas tersebut menggang-
yang terus menerus dikembangkan dalam
gu kesehatan dan tidak diijinkan oleh
upaya mereeksi dan memahami keanek-
dokter.
aragaman budaya (Cross, 1989). Dalam ke-
3. Hambatan komunikasi bahasa dan perbe-
giatan pengkajian perawat sekaligus mengin-
daan persepsi dirasakan oleh perawat di
dentikasi pasien sehingga minimal dapat
rumah sakit, terutama apabila berhada-
diketahui latar belakang budaya pasien. Den-
pan dengan klien dari mancanegara yang
gan demikian secara otomatis perawat akan
tidak mampu berbahasa Indonesia mau-
dapat menyusun perencanaan keperawatan
pun bahasa Inggris.
sesuai dengan latar belakang budaya pasien.
Selanjutnya, perawat mungkin akan mengha-

7
Jurnal KesMaDaSka - Januari 2014

4. Pendekatan budaya dalam praktek keper- Bogdan, R. C. & Biklen, S. K., 1982. Quali-
awatan dilakukan dengan beberapa tahap tative Research For Education: An Intro-
yaitu identikasi, analisa situasi, menyu- duction To Theory and Methods. Boston,
sun strategi dan mengevaluasi. Mass: Allyn and Bacon, Inc.
Cross, T., Bazron, B., Denis,K. And Issacs,
SARAN M., 1989. Toward a culturrally compe-
Untuk meningkatkan pengetahuan bu- tent system of Care . Volume 1. Washing-
daya, perlu kiranya dilakukan sosialisasi, ton DC: Georgetown Universty.
training, seminar atau workshop terkait bu- Galanti, G A , 2000. An introduction to cul-
daya. Perlu tetap mengasah ketrampilan ber- tural differences. West J Med 2000;
interaksi dan bersosialisasi dengan klien/ke- 172:335-336.
luarga yang memiliki latar belakang budaya
Krueger, R.A, 1988. Focus Group, A prac-
yang berbeda, agar terbentuk sikap positif
tical Guide for Applied Research, Sage
terkait budaya. Mengingat pentingnya ko-
Publication, The International Profes-
munikasi bahasa dalam perawatan, perawat
sional Publisher, Newbury Park, London.
harus memahami tehnik komunikasi. Selain
itu, perawat harus memiliki pengetahuan Leininger M., 1989. Transcultural Nursing:
latar belakang budaya pasien agar dapat quo vadis ( where goeth the eld?) . J
memahami nilai-nilai yang dipegang klien Transcult Nurs, 1989.
dan menghindari misinterpretasi. Kalau me- Miles, M. B. & Huberman, A. M., 1984.
mungkinkan mempekerjakan seorang inter- Qualitative Data Analysis: A Sourcebook
preter (penterjemah) dapat membantu per- of New Methods. Beverly Hills, CA:
awat dalam melaksanakan fungsinya. Sage Publications.
Smelzer, SC. and Bare B, 2001. Bruner and
DAFTAR PUSTAKA Suddarts Textbook of Medical-Surgical.
Anonim, 1990. American Nurses Associa- Philadelphia: Lippincott Raven Pub-
tion, 1990. Cultural Diversity in Nurs- lisher.
ing, ANA House of Delegates. Sugiyono,2001. Memahami Penelitian Kual-
itatif. Bandung: Alfabetha
http://www.culturediversity.org/about.htm

-oo0oo-