Anda di halaman 1dari 17

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT III

ROBEKAN JALAN LAHIR

Tugas ini disusun untuk memenuhi nilai tugas semester lima mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat
III
Dosen : Hartati

Disusun Oleh :
1. Amilatul Kamilah (P17420313006)
2. Fitri Fauziah Apriliani (P17420313060)
3. Nurul Febriana Hidayah (P17420313077)
4. Silvia Anggarwati P.P (P17420313043)

POLTEKKES KEMENKES SEMARANG


PRODI D III KEPERAWATAN PEKALONGAN
TAHUN 2015

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum. Wr. Wb.
Segala puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang mana telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayahNya, sehingga makalah Keperawatan Gawat Darurat III dengan
judul Asuhan Keperawatan Robekan Jalan Lahir. Guna untuk memenuhi nilai tugas
Keperawatan Gawat Darurat III semester V.
Terimaksih kami ucapkan kepada Ibu Hartati, yang mana telah membantu kami dalam
menyusun dan menyelesaikan makalah ini. Dan juga pihak pihak lain yang telah membantu
kami dalam menyusun makalah ini.
Kami sadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi kita dalam mengembangkan profesionalisme keperawatan di Indonesia. Saya
ucapkan terimakasih.
Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Pekalongan, 5 November 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persalinan sering kali mengakibatkan perlukaan jalan lahir. Luka-luka biasanya
ringan, tetapi kadang-kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Setelah
persalinan harus selalu dilakukan pemeriksaan vulva dan perinium. Pemeriksaan vagina
dan serviks dengan spekulum perlu dilakukan setelah pembedahan pervaginam.
Sebagai akibat persalinan, terutama pada seorang primipara, bisa timbul luka
pada vulva di sekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam akan tetapi kadang-
kadang bisa timbul perdarahan banyak, khususnya pada luka dekat klitoris.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah bagaimana tinjauan
mengenai robekan jalan lahir baik dari segi pengertian, etiologi, tanda dan gejala,
patofisiologi, penatalaksanaan, serta asuhan keperawatan.

C. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah mengenai tinjauan mengenai robekan jalan
lahir baik dari segi pengertian, etiologi, tanda dan gejala, patofisiologi,
penatalaksanaan, serta asuhan keperawatan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Landasan Teori
1. Pengertian
Perdarahan dalam keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik,
dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir. Perlukaan
jalan lahin terdiri dari :
a. Robekan Perinium
Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga
pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengan dan
bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil
daripada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukuran yang lebih
besar daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika.
Perinium merupakan kumpulan berbagai jaringan yang membentuk perinium
(Cunningham,1995). Terletak antara vulva dan anus, panjangnya kira-kira 4 cm
(Prawirohardjo, 1999). Jaringan yang terutama menopang perinium adalah diafragma
pelvis dan urogenital. Diafragma pelvis terdiri dari muskulus levator ani dan muskulus
koksigis di bagian posterior serta selubung fasia dari otot-otot ini. Muskulus levator ani
membentuk sabuk otot yang lebar bermula dari permukaan posterior ramus phubis
superior, dari permukaan dalam spina ishiaka dan dari fasia obturatorius.
Serabut otot berinsersi pada tempat-tempat berikut ini: di sekitar vagina dan
rektum, membentuk sfingter yang efisien untuk keduanya, pada persatuan garis tengah
antara vagina dan rektum, pada persatuan garis tengah di bawah rektum dan pada
tulang ekor. Diafragma urogenitalis terletak di sebelah luar diafragma pelvis, yaitu di
daerah segitiga antara tuberositas iskial dan simpisis phubis. Diafragma urogenital
terdiri dari muskulus perinialis transversalis profunda, muskulus konstriktor uretra dan
selubung fasia interna dan eksterna (Cunningham, 1995).
Persatuan antara mediana levatorani yang terletak antara anus dan vagina
diperkuat oleh tendon sentralis perinium, tempat bersatu bulbokavernosus, muskulus
perinialis transversalis superfisial dan sfingter ani eksterna. Jaringan ini yang
membentuk korpus perinialis dan merupakan pendukung utama perinium, sering
robek selama persalinan, kecuali dilakukan episiotomi yang memadai pada saat yang
tepat. Infeksi setempat pada luka episiotomi merupakan infeksi masa puerperium
yang paling sering ditemukan pada genetalia eksterna. Luka perinium adalah
perlukaan yang terjadi akibat persalinan pada bagian perinium dimana muka janin
menghadap (Prawirohardjo S,1999).
Luka perinium, dibagi atas 4 tingkatan :
Tingkat I : Robekan hanya pada selaput lender vagina dengan atau tanpa mengenai
kulit perinium.
Tingkat II : Robekan mengenai selaput lender vagina dan otot perinea transversalis,
tetapi tidak mengenai spingter ani.
Tingkat III : Robekan mengenai seluruh perinium dan otot spingter ani.
Tingkat IV : Robekan sampai mukosa rektum.
b. Robekan Serviks
Robekan serviks paling sering terjadi pada jam 3 dan 9. bibir depan dan bibir
belakang servik dijepit dengan klem fenster kemudian serviks ditariksedidikit untuk
menentukan letak robekan dan ujung robekan. Selanjutnya robekan dijahit dengan
catgut kromik dimulai dari ujung untuk menghentikan perdarahan.
c. Rupture Uteri
Ruptur uteri merupakan peristiwa yang paling gawat dalam bidang
kebidanan karena angka kematiannya yang tinggi. Janin pada ruptur uteri yang terjadi
di luar rumah sakit sudah dapat dipastikan meninggal dalam kavum abdomen.
Ruptura uteri masih sering dijumpai di Indonesia karena persalinan masih banyak
ditolong oleh dukun. Dukun sebagian besar belum mengetahui mekanisme persalinan
yang benar, sehingga kemacetan proses persalinan dilakukan dengan dorongan pada
fundus uteri dan dapat mempercepat terjadinya rupturauteri.
Menurut Sarwono Prawirohardjo pengertian ruptura uteri adalah robekan atau
diskontinuitas dinding rahim akiat dilampauinya daya regang mio metrium. Penyebab
ruptura uteri adalah disproporsi janin dan panggul, partus macet atau traumatik.
Ruptura uteri termasuk salahs at diagnosis banding apabila wanita dalam persalinan
lama mengeluh nyeri hebat pada perut bawah, diikuti dengan syok dan perdarahan
pervaginam. Robekan tersebut dapat mencapai kandung kemih dan organ vital di
sekitarnya.
Resiko infeksi sangat tinggi dan angka kematian bayi sangat tinggi pada
kasus ini. Ruptura uteri inkomplit yang menyebabkan hematoma pada para metrium,
kadang-kadang sangat sulit untuk segera dikenali sehingga menimbulkan komplikasi
serius atau bahkan kematian. Syok yang terjadi seringkali tidak sesuai dengan jumlah
darah keluar karena perdarhan heat dapat terjadi ke dalam kavum abdomen. Keadaan-
keadaan seperti ini, sangat perlu untuk diwaspadai pada partus lama atau kasep.
Ruptur Uteri adalah robekan atau diskontinuita dinding rahim akibat
dilampauinya daya regang miomentrium. ( buku acuan nasional pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal ). Rupture uteri adalah robeknya dinding uterus pada saat
kehamilan atau dalam persalinan dengan atau tanpa robeknya perioneum visceral.
( Obstetri dan Ginekologi ).
Ruptur uteri dapat dibagi menurut beberapa cara :
1) Menurut waktu terjadinya
a) Rupure uteri Gravidarum terjadi Waktu sedang hamil, Sering lokasinya pada
korpus
b) Rupture uteri Durante Partum terjadi Waktu melahirkan anak, Ini yang
terbanyak
2) Menurut lokasinya:
a) Korpus uteri, ini biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami
operasi seperti seksio sesarea klasik ( korporal ), miemoktomi.
b) Segmen bawah rahim ( SBR ), ini biasanya terjadi pada partus yang sulit dan
lama tidak maju, SBR tambah lama tambah regang dan tipis dan akhirnya
terjadilah ruptur uteri yang sebenarnya.
c) Serviks uteri ini biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsipal
atau versi dan ekstraksi sedang pembukaan belum lengkap
d) Kolpoporeksis, robekan-robekan di antara serviks dan vagina
3) Menurut robeknya peritoneum
a) Ruptur uteri Kompleta : robekan pada dinding uterus berikut peritoneumnya
( perimetrium ) ; dalam hal ini terjadi hubungan langsung antara rongga perut
dan rongga uterus dengan bahaya peritonitis
b) Ruptur uteri Inkompleta : robekan otot rahim tanpa ikut robek peritoneumnya.
Perdarahan terjadi subperitoneal dan bisa meluas ke liglatum
4) Pembagian rupture uteri menurut robeknya dibagi menjadi :
a) Ruptur uteri kompleta
Jaringan peritoneum ikut robek
Janin terlempar ke ruangan abdomen
Terjadi perdarahan ke dalam ruangan abdomen
Mudah terjadi infeksi
b) Ruptura uteri inkompleta
Jaringan peritoneum tidak ikut robek
Janin tidak terlempar ke dalam ruangan abdomen
Perdarahan ke dalam ruangan abdomen tidak terjadi
Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma

2. Etiologi
a. Robekan perinium
Umumnya terjadi pada persalinan
1) Kepala janin terlalu cepat lahir
2) Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya
3) Jaringan parut pada perinium
4) Distosia bahu
b. Robekan serviks
1) Partus presipitatus
2) Trauma krn pemakaian alat-alat operasi
3) Melahirkan kepala pada letak sungsang secara paksa, pembukaan belum lengkap
4) Partus lama

c. Ruptur Uteri
1) riwayat pembedahan terhadap fundus atau korpus uterus
2) induksi dengan oksitosin yang sembarangan atau persalinan yang lama
3) presentasi abnormal ( terutama terjadi penipisan pada segmen bawah uterus ).
( Helen, 2001 )
4) panggul sempit
5) letak lintang
6) hydrosephalus
7) tumor yg menghalangi jalan lahir
8) presentasi dahi atau muka

3. Patofisiologi
a. Robekan Perinium
Robekan perineum terjadi pada semua persalinan pertama dan tidak jarang juga
pada persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan
menjaga jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan cepat,
sebaliknya kepala janin yang akan lahir jangan ditahan terlampau kuat dan lama, karena
akan menyebabkan asfiksia dan pendarahan dalam tengkorok janin, dan melemahkan
otot-otot dan fasia pada dasar panggul karena diregangkan terlalu lama.
Robekan perineum umumnya terjadi digaris tengah dan bias menjadi luas apabila
kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil dari pada biasa sehingga
kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang daripada biasa, kepala janin melewati
pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia
suboksipito-bregmatika, atau anak dilahirkan dengan pembedahan vaginial.
b. Robekan Serviks
Persalinan selalu mengakibatkan robekan serviks, sehingga serviks seorang
multiparaberbeda daripada yang belum pernah melahirkan per vaginam. Robekan
serviks yang luas mengakibatkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah
uterus. Apabila terjadi perdarahan yang tidak berhenti meskipun plasenta sudah lahir
lengkap dan uterus berkontraksi baik, perlu dipikirkan perlukaan jalan lahir, khususnya
robekan serviks uteri.
c. Rupture Uteri
1) Ruptura uteri spontan
a) Terjadi spontan pada sebagian besar pada persalinan
b) Terjadi gangguan mekanisme persalinan sehingga menimbulkan ketegangan
segmen bawah rahim yang berlebihan
2) Ruptur uteri trumatik
a) Terjadi pada persalinan
b) Timbulnya ruptura uteri karena tindakan seperti ekstraksi farsep, ekstraksi
vakum, dll
3) Rupture uteri pada bekas luka uterus
Terjadinya spontan atau bekas seksio sesarea dan bekas operasi pada uterus.
4. Tanda dan Gejala
a. Robekan jalan lahir
Tanda dan Gejala yang selalu ada :
1) Pendarahan segera
2) Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir
3) Uterus kontraksi baik
4) Plasenta baik
Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada
1) Pucat
2) Lemah
3) Menggigil

b. Rupture Uteri
Tanda dan gejala ruptur uteri dapat terjadi secara dramatis atau tenang.
Dramatis. Nyeri tajam, yang sangat pada abdomen bawah saat kontraksi hebat
memuncak. Penghentian kontraksi uterus disertai hilangnya rasa nyeri. Perdarahan
vagina ( dalam jumlah sedikit atau hemoragi). Terdapat tanda dan gejala syok, denyut
nadi meningkat, tekanan darah menurun dan nafas pendek ( sesak ). Temuan pada
palpasi abdomen tidak sama dengan temuan terdahulu. Bagian presentasi dapat
digerakkan diatas rongga panggul. Janin dapat tereposisi atau terelokasi secara
dramatis dalam abdomen ibu. Bagian janin lebih mudah dipalpasi. Gerakan janin
dapat menjadi kuat dan kemudian menurun menjadi tidak ada gerakan dan DJJ sama
sekali atau DJJ masih didengar. Lingkar uterus dan kepadatannya ( kontraksi ) dapat
dirasakan disamping janin ( janin seperti berada diluar uterus ). Kemungkinan terjadi
muntah. Nyeri tekan meningkat diseluruh abdome. Nyeri berat pada suprapubis.
Kontraksi uterus hipotonik. Perkembangan persalinan menurun. Perasaan ingin
pingsan. Hematuri ( kadang-kadang kencing darah ). Perdarahan vagina ( kadang-
kadang ). Tanda-tanda syok progresif. Kontraksi dapat berlanjut tanpa menimbulkan
efek pada servik atau kontraksi mungkin tidak dirasakan. DJJ mungkin akan hilang.

5. Penatalaksanaan Medis
PENJAHITAN ROBEKAN SERVIKS
a. Tinjau kembali prinsip perawatan umum dan oleskan larutan anti septik ke vagina dan
serviks
b. Berikan dukungan dan penguatan emosional. Anastesi tidak dibutuhkan padasebasian
besar robekan serviks. Berikan petidin dan diazepam melalui IV secara perlahan
(jangan mencampur obat tersebut dalam spuit yang sama) atau gunakan ketamin
untuk robekan serviks yang tinggi dan lebar.
c. Minta asisten memberikan tekanan pada fundus dengan lembut untuk membantu
mendorong serviks jadi terlihat
d. Gunakan retraktor vagina untuk membuka serviks, jika perlu
e. Pegang serviks dengan forcep cincin atau forcep spons dengan hatihati. Letakkan
forcep pada kedua sisi robekan dan tarik dalam berbagai arah secara perlahan untuk
melihat seluruh serviks. Mungkin terdapat beberapa robekan.
f. Tutup robekan serviks dengan jahitan jelujur menggunakan benang catgut kromik
atau poliglokolik 0 yang dimulai pada apeks(tepi atas robekan) yang seringkali
menjadi sumber pendarahan.
g. Jika bagian panjang bibir serviks robek, jahit dengan jahitan jelujur menggunakan
benang catgut kromik atau poliglikolik 0.
h. Jika apeks sulit diraih dan diikat, pegang pegang apeks dengan forcep arteri atau
forcep cincin. Pertahankan forcep tetap terpasang selama 4 jam. Jangan terus
berupaya mengikat tempat pendarahan karena upaya tersebut dapat mempererat
pendarahan. Selanjutnya :
1) Setelah 4 jam, buka forcep sebagian tetapi jangan dikeluarkan.
2) Setelah 4 jam berikutnya, keluarkan seluruh forcep.

PENJAHITAN ROBEKAN VAGINA DAN PERINIUM


Terdapat empat derajat robekan yang bisa terjadi saat pelahiran, yaitu :

a. Tingkat I : Robekan hanya pada selaput lender vagina dan jaringan ikat
b. Tingkat II : Robekan mengenai mukosa vagina, jaringan ikat, dan otot dibawahnya
tetapi tidak menenai spingter ani
c. Tingkat III : robekan mengenai trnseksi lengkap dan otot spingter ani
d. Tingkat IV : robekan sampai mukosa rectum.

PENJAHITAN ROBEKAN DERAJAT I DAN II

Sebagian besar derajat I menutup secara spontan tanpa dijahit.

a. Tinjau kembali prinsip perawatan secara umum.


b. Berikan dukungan dan penguatan emosional. Gunakan anastesi lokal dengan
lignokain. Gunakan blok pedendal, jika perlu.
c. Minta asisten memeriksa uterus dan memastikan bahwa uterus berkontraksi.
d. Periksa vagina, perinium, dan serviks secara cermat.
e. Jika robekan perinium panjang dan dalam, inspeksi untuk memastikan bahwa tidak
terdapat robekan derajat III dan IV.
Masukkan jari yang memakai sarung tangan kedalam anus
Angkat jari dengan hati-hati dan identifikasi sfingter.
Periksa tonus otot atau kerapatan sfingter
Ganti sarung tangan yang bersih, steril atau DTT
Jika spingter cedera, lihat bagian penjahitan robekan derajat III dan IV.
Jika spingter tidak cedera, tindak lanjuti dengan penjahitan

PENJAHITAN ROBEKAN PERINEUM DERAJAT III DAN IV


Jahit robekan diruang operasi

Tinjau kembali prinsip perawatan umum

a. Berikan dukungan dan penguatan emosional. Gunakan anastesi lokal dengan


lignokain. Gunakan blok pedendal, ketamin atau anastesi spinal. Penjahitan dapat
dilakukan menggunakn anastesi lokal dengan lignokain dan petidin serta diazepam
melalui IV dengan perlahan ( jangan mencampurdengan spuit yang sama ) jika semua
tepi robekan dapat dilihat, tetapi hal tersebut jarang terjadi.
b. Minta asisten memeriksa uterus dan memastikan bahwa uterus berkontraksi.
c. Periksa vagina, perinium, dan serviks secara cermat.
d. Untuk melihat apakah spingter ani robek.
Masukkan jari yang memakai sarung tangan kedalam anus
Angkat jari dengan hati-hati dan identifikasi sfingter.
Periksa permukaan rektum dan perhatikan robekan dengan cermat.
Ganti sarung tangan yang bersih, steril atau yang DTT
Oleskan larutan antiseptik kerobekan dan keluarkan materi fekal, jika ada.
Pastikan bahwa tidak alergi terhadap lignokain atau obat-obatan terkait.
Masukan sekitar 10 ml larutan lignokain 0,5 % kebawah mukosa vagina, kebah
kulit perineum dan ke otot perinatal yang dalam.
o Pada Pegang setiap ujung sfingter dengan klem Allis ( sfingter akan
beretraksi jika robek ). Selubung fasia disekitar sfingter kuat dan tidak robek
jika ditarik dengan klem.
o Jahit sfingter dengan dua atau tiga jahitan putus-putus menggunakan benang
2-0.
akhir penyuntikan, tunggu selama dua menit kemudian jepit area robekan denagn
forcep. Jika ibu dapat merasakan jepitan tsb, tunggu dua menit algi kemudian
lakukan tes ulang.
Jahit rektum dengan jahitan putus-putus mengguanakan benang 3-0 atau 4-0
dengan jarak 0,5 cm untuk menyatukan mukosa.
Jika spingter robek
Oleskan kembali larutan antiseptik kearea yang dijahit.
Periksa anus dengan jari yang memakai sarung tangan untuk memastikan
penjahitan rektum dan sfingter dilakukan dengan benar. Selanjutnya, ganti sarung
tangan yang bersih, steril atau yang DTT.
Jahit mukosa vagina, otot perineum dan kulit.

PERBAIKAN RUPTURE UTERUS


a. Tinjau kembali indikasi.
b. Tinjau kembali prinsip prawatan umum, prinsipperawatan operasi dan pasang infus
IV.
c. Berikan dosis tunggal antibiotik profilaksis.
Ampisilin 2g melalui IV.
Atau sefazolin 1g melalui IV
Buka abdomen
Buat insisi vertikalgaris tengah dibawah umbilikus sampai kerambut pubis
melalui kulit sampai di fasia.
Buat insisi vertikal 2-3 cm di fasia.
Pegang tepi fasia dengan forcep dan perpanjang insisi keatas dan kebawah
dengan menggunakan gunting.
Gunakan jari atau gunting untuk memisahkan otot rektus (otot dinding abdomen )
Gunakan jari untuk membuka peritoneum dekat umbilikus. Gunakan gunting
untuk memperpanjang insisi ke atas dan ke bawah guna melihat seluruh uterus.
Gunakan gunting untuk memisahkan lapisan peritoneum dan membuka bagian
bawah peritoneum dengan hati-hati guna mencegah cedera kandung kemih.
Periksa area rupture pada abdomen dan uterus dan keluarkan bekuan darah.
Letakkan retraktor abdomen.
Lahirkan bayi dan plasenta.
Infuskan oksitoksin 20 unit dalam 1L cairan IV ( salin normal atau laktat ringer )
dengan kecepatan 60 tetes permenit sampai uterus berkontraksi, kemudian
kurangi menjadi 20 tetes permenit.
Angkat uterus keluar panggul untukmelihat luasnya cedera.
Periksa bagian depan dan belakang uterus.
Pegang tepi pendarahan uterus denganklem Green Armytage ( forcep cincin )
Pisahkan kandungan kemih dari segmen bawah uterus dengan diseksi tumpul atau
tajam. Jika kandung kemih memiliki jaringan parut sampai uterus, gunakan
gunting runcing.
RUPTURE SAMPAI SERVIKS DAN VAGINA
a. Jika uterus robek sampai serviks dan vagina, mobilisasi kandung kemih minimal
2cm dibawah robekan.
b. Jika memungkinkan, buat jahitan sepanjang 2cm diatas bagian bawah robekan
serviks dan pertahankan traksi pada jahitan untuk memperlihatkan bagian-bagian
robekan jika perbaikan dilanjutkan

RUPTURE MELUAS SECARA LATERAL SAMPAI ARTERIA UTERINA


a. Jika rupture meluas secara lateral sampai mencederai satu atau kedua arteri uterina,
ikat arteri yang cedera.
b. Identifikasi arteri dan ureter sebelum mengikat pembuluh darah uterus.

RUPTURE DENGAN HEMATOMA LIGAMENTUM LATUM UTERI


a. Jika rupture uterus menimbulkan hematoma pada ligamentum latum uteri, pasang
klem, potong dan ikat ligamentum teres uteri.
b. Buka bagian anterior ligamentum atum uteri.
c. Buat drain hematoma secara manual, bila perlu.
d. Inspeksi area rupture secara cermat untuk mengetahui adanya cedera pada arteria
uterina atau cabang-cabangnya. Ikat setiap pembuluh darah yang mengalami
pendarahan.

PENJAHITAN ROBEKAN UTERUS


a. Jahit robekan dengan jahitan jelujur mengunci (continous locking ) menggunakan
benang catgut kromik (atau poliglikolik)0. Jika perdarahan tidak terkandali atau jika
ruptur melalui insisi klasik atau insisi vertikal terdahulu, buat jahitan lapisan kedua.
b. Jika rupture terlalu luas untuk dijahit, tindak lanjuti dengan histerektomi.
c. Kontrol pendarahan dalam, gunakan jahitan berbentuk angka delapan.
d. Jika ibu meminta ligasi tuba, lakukan prosedur tsb pada saat ini.
e. Pasang drain abdomen
f. Tutup abdomen.
Pastikan tidak ada pendarahan. Keluarkan bekuan darah dengan menggunakn
spons.
Pada semua kasus, periksa adanya cedera pada kandung kemih. Jka
teridentifikasi adanya cedera kandung kemih, perbaiki cedera tsb.
Tutup fasia engan jahitan jelujur menggunakan benang catgut kromik
(poliglikolik) 0.
Jika terdapat tanda-tanda infeksi, tutup jaringan subcutan dengan kasa dan buat
jahitan longgar menggunakan benang catgut ( poligkolik ) 0. Tutup kulit
dengan penutupan lambat setelah infeksi dibersihkan.
Jika tidak terdapat tanda-tanda infeksi, tutup kulit dengan jahitan matras
vertikal menggunakan benang nelon ( sutra ) 3-0 dan tutup dengan balutan
steril.

B. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian fokus
Pengkajian fokus pada perdarahan post portum meurut Dongoes dan Marylin E, (2001)
sebagai berikut :
a. Alasan dan keluhan pertama masuk Rumah Sakit
Apa yang dirasakan saat itu ditujukan untuj mengenali tanda atau gajala yng
berkaitan dengan perdarahan post portum misalnya antonio uteri, retensio
plasenta robekan jalan lahir, vagina, perineum, adanya sisa selaput plsenta dan
biasanya ibu nampak perdarahan banyak > 500 CC2
b. Riwayat kesehatan sekarang
Dikaji untuk mengetahui apakah seorang ibu menderita penyakit yang bisa
menyebabkan perdarahan post portum seperti aspek fisiologis dan
psikososialnya.
c. Riwayat kesehatan dahulu
Dikaji untuk mengrtahui apakah seorang ibu perah menderita
penyakit yang lain yang menyertai dan bisa memperburuk keadaan atau
mempersulit penyambuhan. Seperti penyakit diabetus melitus dan jantung
d. Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga pasien ada yang
mempunyai riwayat yang sama Pola pengkajian kesehatan menurut (Dongoes
dan Marilyn E,2001)
Sebagai berikut :
1) Aktivitas istirahat
Insomia mungkin teramat.
2) Sirkulasi
kehilangan darah selama proses post portum
3) Integritas ego
Peka rangsang, takut atau menangis sering terlihat kira-kira 3hari
setelah melahirkan post portum blues
4) Eliminasi
BAK tidak teratur sampai hari ke 2dan ke 5
5) Makan dan cairan
Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan kira-kira sampai hari
ke 5
6) Persepsi sensori
Tidak ada gerakan dan sensori
7) Nyeri dan ketidaknyamanan
Nyeri tekan payudara dan pembesaran dapat terjadi diantara hari ke 3
sampai hari ke 5 post partum
8) Seksualitas
- Uterus diatas umbilikus pada 12 jam setelah kelahiran menurun
satu jari setiap harinya
- Lochea rubra berlanjut sampai hari ke 2
- Payudara produksi kolostrum 24 jam pertama
9) Pengkajian Psikologis
- Apakah pasien dalam keadaan stabil
- Apakah pasien biasanya cemas sebelum persalinan dan masa
penyembuhan
10) Data pemeriksaan Penunjang, meliputi :
Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit darah, leukosit.
2. Pengkajian Dasar Data Klien
a. Sirkulasi : Rembesan kontinu atau perdarahan tiba-tiba. Dapat tampak pucat, anemik.
b. Ketidaknyamanan : Nyeri tekan uterus (fragmen-fragmenplasenta tertahan)
Ketidaknyamanan vagina/pelvis, sakit punggung (hematoma)
c. Keamanan : Pecah ketuban dini
d. Seksuaitas : Tinggi fundus atau baan uterus gagal kembali pada ukuran dan fungsi
kehamilan (Subinvorusi) Leukorea mungkin ada.
3. Pemeriksaan Diagnostik
a. Golongan darah : Menentukan Rh, golongan ABO dan pencocokan silang
b. Jumlah darah lengkap
c. Kultur uterus dan vaginal : Mengesampingkan infeksi pasca partum
d. Urinalisis : Memastikan kerusakan kandung kemih
e. Profil koagulasi : Peningkatan degeradasi kadar produk fibrin/ produk spilit fibrin
(SDP/FSP)
f. Sonografi : Menentukan adanya jaringan plasenta yang tertahan.
4. Diagnosa keperawatan

Rumusan diagnosa keperawatan menurut North American Nursing Diagnosa


Association (2005) adalah sebagai berikut :
a. Defisit volume cairan b. d kehilangan aktif volume cairan
b. Nyeri akut b. d agen injuri fisik
c. Resiko onfeksi b. d prosedur invasif
d. Defisit perawatan diri b. d kelemahan fisik

5. Fokus intervensi dan rasional


Rencana keperawatan McCloskey, J.C, Buluechek, G.M (2000) Nursing intervention
Classification (NIC).
a. Defisit volume cairan b/d kehilangan aktif voluma cairan
Tujuan : Tidak terjadi perdarahan
Kriteria hasil :
- Perdarahan berhenti
- Hb diatas normal
- Tanda vital diatas normal

Rencana tindakan keperawatan


a. Monitor jumlah pendarahan pasien
Rasional : kehilangan darah akibat perdarahan bisa berakibat syok.
b. Monitor hasil laboratorium pasien
Rasional : Anemi akibat kehilangan darah dapat terjadi. Terapi pengantian
darah mungkin diperlukan.
c. Tidurkan pasien dengan posisi kaki lebih tinggi sedang badanya tetap
terlentang.
Rasional : dengan kaki lebih tinggi akan meningkatan aliran darah ke otak dan
organ lain.
d. Monitor tanda vital
Rasional : perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan semakin berat
e. Monitor intake dan output setiap 1 jam
Rasional : Perubahan output merupakan tanda adanya gangguan sirkulasi
darah.
f. Lakukan message uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakkan
diatas simpisis.
Rasional : Message uterus merangsang kontraksi uterus dan membantu
pelepasan plasenta, satu tangan diatas simpisis mencegah terjadinya inversio
uteri.
g. Batasi pemeriksaan vagina dan rektum
Rasional : Trauma yang terjadi di daerah vagina dan rektum meningkatkan
terjadinya perdarahan yang lebih hebat, bila terjadi laserasi pada serviks /
perineum
h. Berikan infus atau cairan intravana
Rasional : cairan intravana dapat meningkatkan volume intravasculer
i. Kolaborasi dengan tim medis dengan pemberian anti perdarahan
Rasional : Anti perdarahan mencegah perdarahan yang lebih hebat dan
mengetahu

b. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (luka jahitan perineum)T
Tujuan : Nyeri hilanh atau brkurang
Kriteria hasil :
- Skala nyeri berkurang atau hilang
- Pasien tampak tenang

Rencana tindakan keperawatan


a. Kaji nyeri setiap 6 jam, baik skala, intensitas, lokasi, frekuensi
Rasional : Untuk mengetahui derajat dan tingkat nyeri yang
dialami dan untuk dapat melakukan intervensi selanjutnya
b. Ajarkan teknik relaksasi
Rasional : untuk mengalihkan perhatian pasien dari nyerinya.
c. Kaji tanda vital
Rasional : Mengetaui perubahan tanda vital dan untuk dapat melakukan
intervensi selanjutya
d. Pemberian dengan tim medis dengan pemberian analgeti.
Rasional : mengurangi rasa nyeri
c. Resiko infeksi sehubungan dengan prosedur invasif
Tujuan : tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil :
- Lochea tidak berbau dan
- Tanda vital dalam batas vital

Rencana tindakan keperawatan


a. Catat perubahan tanda vital
Rasional : Perubahan tanda vital (suhu) merupakan indikasi terjadinya infeksi.
b. Obsevasi luka dan jahitan perineum tiap ganti balut.
Rasional : mengetahui seberapa besar resiko untuk infeksi dan menentuakan

intervensi selanjutnya.
c. Monitor involusi uterus dan pengeluaran lochea
Rasional : infeksi uterus menghambat involusi dan terjadi pengeluaran lochea
yang berkepanjangan
d. Perhatikan kemungkinan infeksi ditempat lain, misalnya infeksi di saluran nafas,
mastitis dan saluran kencing
Rasional : Infeksi ditempat lain memperburuk keadaan
e. Berikan perawatan perineal, dan pertahankan agar pembalut Jangan sampai
terlalu basah
Rasional : pembalut yang terlalu basah bisa menyebabkan iritasi dan dapat
menjadi media untuk pertumbuhan bakteri, peningkatan resiko infeksi
f. Kolaborasi dengan tim medis dengan pemberian zat besi dan antibuotika.
Rasional : Anemi memperberat keadaan dan antibiotika yang tepat diperlukan
untuk keadaan infeksid.

d. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik


Tujuan : Kebutuhan akan aktifitas fisik pasie terpenuhi
Kriteria hasil :
- Pasien dapat melakukan aktivitas dengan bantuan
- Pasien menyatakan kenyamanan terhadap kemempuan melakukan aktivitas
- Klien terbebasdari bau badan

Rencana tindakan keperawatan


a. Monitor kemampuan klien untuk perawatan diri yang mandiri.
Rasional : Kemampuan pasien dalam perawatan diri dan meningkatakan rasa
percaya diri
b. Mitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk kebersihan diri, berpakaian
berhias, toileting dan makan.
Rasional : Membantu meningkakan kemampuan aktivitas pasien
c. Sediakan bantuan sampai klien mampu scara utuh untuk melakukan selfcare
Rasional : Meningkatakan kemampuan melakukan perawatan diri mandiri yang
optimal sesuai kemampuan.
d. Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi beri bantuan ketika klien tidak
mampu melakukannya
Rasional : Kemampuan individu untuk meningkatkan rasa percaya diri
e. Ajarkan klien atau keluarga untuk mendorong kemandirian, untuk memberikan
bantuan hanya jika pasien tidak mampu untuk melakukannya.
Rasional : Memberikan dukungan kepada keluarga dan pasien dalamperawatan
diri yang mandiri

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kami dapat menyimpulkan bahwa perlukaan pada jalan lahir, sebagai akibat persalinan,
terutama pada seorang primipara. Baik itu berupa robekan perinium, robekan serviks atau rupture
uteri. Hal ini dapat diatasi apabila seorang tenaga kesehatan dapat mengelolanya dengan baik.

B. Saran
Diharapakan mampu mengerti tentang robekan jalan lahir dan dapat memberikan pelayanan yang
terbaik bagi klien serta mampu memberikan asuhan secara komprehensif.
Daftar Pustaka

Mohammad Hakim, PhD, 1990, Harry Oxon Ilmu Kebidanan Patologis dan Fisiologi
Persalinan, Human Labor and Birth, Yayasan Essentia Medica

Mochtar, R, 1998, Sinopsis Obstetri, EGC, Jakarta

A. Budi Marjono, 1999, Cakul, Obgin Plus + FKUI, Catatan Kuliah Obstetri Ginekologi,
Edisi Pertama