Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebutuhan kayu dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kebutuhan kayu yang
semakin meningkat tersebut bila tidak diimbangi dengan usaha penanaman kembali maka
degradasi hutan tidak dapat dihindari. Oleh karena itu perlu digalakkan usaha-usaha
penanaman hutan terutama Hutan Tanaman Industri (HTI).
Salah satu hasil kekayaan hutan adalah kayu. Kayu banyak dimanfaatkan di bidang
properti, seperti rumah dan meubel. Disamping komoditi dalam negeri, kayu juga merupakan
komoditi ekspor, penghasil devisa, maka kualitas kayu harus diperharikan agar mempunyai
daya kompetitif (Suryana, 2005). Kayu telah digunakan sebagai bahan konstruksi untuk
tempat tinggal, kapal, dan jembatan. Ketersediaan dan kemudahan dalam pengelolaannya
pada awalnya telah membuat kayu menjadi pilihan yang logis untuk bahan konstruksi.
Pemilihan kayu juga disebabkan oleh biayanya yang rendah dan rasio kekuatan terhadap
berat yang tinggi dibandingkan dengan bahan dari logam dan semen (Falk, et al.,1990).
Kayu merupakan bahan yang memiliki keragaman dalam sifatnya. Sifat-sifat
struktural kayu tidak hanya tergantung pada arah orientasinya ketika dipotong dari bentuk log
tetapi juga pada distribusi, ukuran dan bentuk karakteristik yang dapat mengurangi kekuatan
dan sel pembentuk kayu yang bervariasi antar jenis. Disamping itu, kondisi lingkungan
dimana kayu digunakan akan mempengaruhi 2 kadar air kayu yang akan berpengaruh pula
pada sifat-sifat mekanis dan kerentanannya terhadap degradasi oleh pembusukan (Falk, et
al.,1990).
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui sifat fikia dan kimia kayu.
2. Untuk mengetahui jenis tanaman penghasil kayu.
3. Untuk mengetahui pemanfaatan tanaman kayu.
BAB II
PEMBAHASAN

Kayu adalah suatu karbohidrat yang tersusun terutama atas karbon, hidrogen dan
oksigen. Kayu mengandung senyawa anorganik yang tetap tinggal setelah terjadi pembakaran
pada suhu tinggi pada kondisi oksigen yang melimpah, residu semacam ini dikenal sebagai
abu.
Tabel 1: Komposisi Kayu

Sumber: Haygreen (1993)

2.1 Sifat Fisika dan Kimia Kayu


Unsur-Unsur penyusun kayu tergabung dalam sejumlah senyawa organik: selulosa,
hemiselulosa dan lignin. (Haygreen,1993) Kayu yang berasal dari berbagai jenis pohon
memiliki sifat yang berbeda-beda, bahkan dalam satu pohon bagian ujung dan pangkalnya
berbeda. Oleh karena itu sebelum kayu digunakan untuk kepentingan industri ada baiknya
jika sifat-sifat kimia dan fisika dari kayu tesebut diketahui.
a. Sifat-sifat fisika kayu
Beberapa hal yang tergolong sifat fisika kayu antara lain: berat jenis, warna, dan
higroskopik.
1. Berat jenis kayu, kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda, makin besar berat jenis
suatu kayu umumnya makin kuat kayunya. Berat jenis ditentukan oleh tebal dinding sel,
kecilnya rongga sel yang membentuk pori-pori. Umumnya berat jenis kayu ditentukan
berdasarkan berat kayu kering tanur atau kering udara dan volume kayu yang mengandung
kadar air.
2. Warna. Warna yang terdapat pada kayu berbeda-beda hal ini disebabkan oleh zat-zat
pengisi warna dalam kayu. Warna suatu jenis kayu dapat dipengaruhi oleh: tempat di
dalam lingkaran tahunan, umur pohon, kelembaban udara.
3. Higroskopik. Kayu memiliki sifat higroskopik, dapat menyerap atau melepaskan air.
Makin lembab udara disekitarnya, akan makin tinggi kelembaban kayu, sampai tercapai
keseimbangan dengan lingkungannya. Masuk keluarnya air dari kayu menyebabkan kayu
itu basah atau kering.
b. Sifat-sifat kimia kayu
Komponen kimia di dalam kayu memiliki arti penting, karena menentukan kegunaan
sesuatu jenis kayu. Komposisi kimia kayu dapat menentukan pengolahan kayu sehingga
diperoleh hasil yang maksimal. Menurut Dumanauw (1993) pada umumnya komponen kimia
kayu ada 3 bagian yaitu:
1. Karbohidrat : selulosa dan hemiselulosa
2. Non karbohidrat: lignin
3. Komponen yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan: zat ekstraktif
Selulosa dibuat langsung dari unit-unit glukosa. Sebagai langkah pertama dalam
proses tersebut, pohon mengangkut glukosa ke pusat-pusat pengolahan yang terletak pada
pucuk-pucuk cabang dan akar dan ke lapisan kambium yang menyelubungi batang utama,
cabang dan akar. Glukosa mengalami modifikasi secara kimia dengan dipindahkannya satu
molekul air dari setiap unit dan terbentuklah satu anhidrid glukosa: C6H12O6 H2O =
C6H10O5 (anhidrid glukosa). Anhidrid glukosa kemudian saling bersambungan ujung-
ujungnya membentuk polimer berantai panjang yaitu selulosa (C6H10O5)n dengan n derajat
polimerisasi sama dengan 500-1000. Pada selulosa unit-unit anhidrid glukosa dihubungkan
dengan ikatan kimia tipe ; komponen-komponen karbohidrat seperti pati dihubungkan tipe
. Selulosa merupakan kualitas selulosa yang paling tinggi, yang memenuhi syarat untuk
digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan propilen dan atau bahan peledak.
Sedangkan selulosa kualitas dibawahnya digunakan sebagai bahan baku industri kertas dan
industri kain (serat rayon).
Glukosa adalah gula terpenting yang dihasilkan oleh proses fotosintesis. Disamping
itu, gula-gula lain dengan 6-karbon seperti galaktosa dan manosa dan gula-gula dengan 5-
karbon seperti xilosa dan arabinosa juga diproduksi didalam daun. Gula-gula ini, dan gula-
gula yang lain, bersama-sama dengan glukosa, dipergunakan untuk mensintesiskan polimer-
polimer dengan berat molekul yang relatif rendah yang disebut hemiselulosa. Sebagian besar
hemiselulosa merupakan polimer-polimer dengan rantai bercabang, berbeda dengan polimer
rantai selulosa yang berantai lurus, dan umumnya tersusun atas 150 anhidrid gula sederhana
atau lebih rendah.
Lignin merupakan zat organik polimer yang banyak dan penting dalam dunia
tumbuhan. Lignin menaikkan sifat sifat kekuatan mekanik tanaman. Lignin merupakan
komponen kimia dengan morfologi yang karakteristik dari jaringan tumbuhan. Lignin adalah
suatu polimer yang sangat kompleks dengan berat molekul yang tinggi, tersusun atas unit-
unit fenilpropan. Meskipun tersusun atas karbon, hidrogen, dan oksigen, lignin bukanlah
suatu karbohidrat dan bahkan tidak ada hubungannya dengan golongan senyawa tersebut.
Lignin adalah suatu fenol. Lignin sangat stabil dan sukar dipisahkan dan mempunyai bentuk
yang bermacam-macam akibatnya susunan lignin di dalam kayu tetap tidak menentu. Lignin
terdapat di antara sel-sel, lignin yang berfungsi sebagai perekat untuk mengikat sel-sel
bersama-sama. Dalam dinding sel, lignin sangat erat kaitannya dengan selulosa dan berfungsi
untuk memberikan ketegaran pada sel. (Haygreen,1993). Dalam pembuatan pulp dan
pengelantangan, lignin dilepaskan dari kayu dalam bentuk terdegredasi dan berubah yang
merupakan sumber karbon lebih dari 35 juta ton tiap tahun diseluruh dunia yang sangat
potensial untuk keperluan kimia dan energi. (Fengel,1995).
Zat ekstraktif merupakan komponen non struktural pada kayu dan kulit tanaman
terutama berupa bahan organik yang terdapat pada lumen dansebagian dinding sel. Dengan
menggunakan air dingin atau air panas dan bahan pelarut organik netral seperti alkohol atau
eter maka dapat dilakukan ekstrasi. Jumlah dan jenis zat ekstraktif terhadap tanaman
tergantung pada letaknya dan jenis tanaman. Pada kayu konvensional, zat ekstraktif banyak
terdapat pada kayu teras. Getah, lemak, resin, gula, lilin, tanin, alkaloid merupakan beberapa
contoh zat esktraktif (Higuchi 1985).
Dumanaw (2003) menyatakan bahwa zat ekstraktif memiliki peranan dalam kayu
karena dapat mempengaruhi sifat keawetan, warna, bau, rasa sesuatu jenis kayu, dapat
digunakan untuk mengenal jenis kayu. Zat ekstraktif yang bersifat racun menyebabkan
ketahanan terhadap pelapukan kayu. Hal ini dibuktikan bahwa ekstrak dari kayu teras lebih
bersifat racun daripada ekstrak dari kayu gubal pada pohon yang sama. Serta ketahanan
terhadap pelapukan kayu teras akan berkurang jka diekstrasi dengan air panas atau dengan
pelarut organik.

2.1.1 Klasifikasi Tumbuhan Kayu


Klasifikasi tumbuhan kayu terbagi menjadi dua kelompok yaitu kayu keras dan kayu
lunak. Pohon kayu keras dan kayu lunak memiliki perbedaan. Berdasarkan klasifikasi
tumbuhan keduanya sama-sama termasuk ke dalam divisi tumbuhan spermatophyta
(tumbuhan yang menghasilkan biji), tetapi kayu keras dan kayu lunak berbeda pada subdivisi.
Kayu keras berada pada subdivisi Angiospermae, sedangkan kayu lunak berada pada
subdivisi Gymnospermae. Tumbuhan pada subdivisi Angiospermae ditandai dengan produksi
biji di dalam ovarium, sedangkan Gymnospermae menghasilkan biji yang tidak memiliki
lapisan penutup. Perbedaan kayu lunak dan kayu keras tidak hanya dalam hal penampakan
luarnya saja, tetapi kayu-kayu yang dibentuknya juga berbeda dalam struktur dan
morfologinya. Selain itu, tipe sel dan jumlah serta penyusunnya juga terdapat perberbedaan
(Shmulsky, dkk, 2011).
Pohon kayu lunak memiliki ciri yaitu daunnya seperti jarum (daun jarum). Tidak
semua jenis pohon kayu lunak memiliki daun yang seperti jarum. Contohnya Agathis sp.
memiliki bentuk daun laset dan cukup lebar. Istilah daun jarum pada kayu lunak ditentukan
berdasarkan pemeriksaan ada tidaknya pembuluh pada penyusun batang pohon tersebut. Pada
kayu lunak tidak memiliki pembuluh dan serat-serat kayunya banyak mengandung trakeida-
trakeida. Pohon kayu lunak dikenal sebagai evergreen karena sebagian besar tetap hijau
sepanjang tahun dan setiap tahunnya hanya sedikit saja daun yang berjatuhan. Pohon kayu
lunak memiliki buah yang bersisik berbentuk kerucut (cone) sehingga disebut dengan konifer.
Pada umumnya batang pohon jenis kayu lunak bentuknya silindris, percabangannya
monopodial dan bentuk tajuk meruncing. Klasifikasi tumbuhan kayu lunak yaitu termasuk
dalam ordo Coniferales, subdivisi Gymnospermae. Famili yang termasuk dalam ordo ini
adalah Cupreceae (cedar, juniper), Taxaeae (yew), Pinaceae (pinus, spruce). Contoh tanaman
penghasil kayu lunak dapat dilihat pada gambar 1, yang merupakan bentuk dari pohon pinus
(Muhdi, 2004).

Gambar 1. Pohon kayu lunak berdaun seperti jarum, termasuk famili Pinaceae (Pinus).
Berbeda dengan kayu lunak, kayu keras memiliki daun lebar (umumnya berubah
warna dan jatuh pada musim gugur di daerah beriklim sedang). Pohon kayu keras
menghasilkan biji di dalam acorns, pods (kulit buah) atau badan buah lainnya. Selain itu,
pohon kayu keras lebih banyak memilki cabang dan tajuk berbentuk bulat. Tidak semua
pohon kayu keras menggugurkan daun pada musim gugur dan pada daerah tropis seperti jenis
Acacia sp dan Albizia sp tidak pernah menggugurkan daunnya. Kayu keras memiliki
pembuluh pada penyusun batang pohonnya, hal ini yang membuat adanya perbedaan pokok
antara kayu lunak dengan kayu keras (Muhdi, 2004).

2.2 Pemanfaatan Kayu


Pemanenan kayu sebagai usaha pemanfaatan kayu dengan mengubah tegakan pohon
berdiri menjadi sortimen kayu bulat dan mengeluarkannya dari hutan untuk dimanfaatkan
sesuai peruntukkannya. Sedangkan tujuan dari pemanenan kayu adalah memaksimalkan nilai
kayu, mengoptimalkan pasokan kayu industry, meningkatkan kesempatan kerja serta
mengembangkan ekonomi regional.
Setiap kayu memiliki sifat dan ciri tersendiri baik dalam segi keindahan serat, kadar
air, keawetan, berat jenis, kerapatan, dan kekuatan. Maka dalam memilih kayu yang akan
dipergunakan ada baiknya kita mengenal jenis dan ciri kayu yang sering digunakan sebagai
bahan konstruksi. Selain agar kita dapat mengetahui kayu yang cocok dengan kriteria dan
spesifikasi yang kita inginkan, tentunya juga agar kita tidak tertipu dengan jenis-jenis kayu
lainnya. Berikut beberapa macam kayu yang sering digunakan sebagai bahan konstruksi:
1. Kayu Jati
Kayu jati sering dianggap sebagai kayu dengan serat dan tekstur paling indah.
Karakteristiknya yang stabil, kuat dan tahan lama membuat kayu ini menjadi pilihan
utama sebagai material bahan bangunan. Kayu jati juga terbukti tahan terhadap jamur,
rayap dan serangga lainnya karena kandungan minyak di dalam kayu itu sendiri. Pohon
Jati bukanlah jenis pohon yang berada di hutan hujan tropis yang ditandai dengan curah
hujan tinggi sepanjang tahun. Sebaliknya, hutan jati tumbuh dengan baik di daerah kering
dan berkapur di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Jawa adalah daerah penghasil pohon
Jati berkualitas terbaik yang sudah mulai ditanam oleh Pemerintah Belanda sejak tahun
1800 an, dan sekarang berada di bawah pengelolaan PT Perum Perhutani.

2. Kayu Merbau
Kayu Merbau termasuk salah satu jenis kayu yang cukup keras dan stabil sebagai alternatif
pembanding dengan kayu jati. Merbau juga terbukti tahan terhadap serangga. Warna kayu
merbau coklat kemerahan dan kadang disertai adanya highlight kuning. Merbau memiliki
tekstur serat garis terputus putus. Pohon merbau termasuk pohon hutan hujan tropis.

3. Kayu Kelapa
Dewasa ini, pemanfaatan atau penggunaan kayu kelapa tidak hanya terbatas untuk
pembuatan kuda-kuda dan pilar saja. Tapi kini banyak juga industri-industri perkayuan
(mebel) yang menggunakan kayu kelapa sebagai kayu pertukangan, yakni digunakan sebagai
bahan baku untuk membuat aneka jenis handycraft dan furniture.
Kayu Kelapabermanfaat sebagai bahan bangunan yaitu dijadikan sebagai lantai rumah
bagi masyarakat yang menggunakan rumah panggung. Kayu dari kelapa ini disebut dengan
glugu dan menjadi pilihan masyarakat menengah sebagai papan rumah yang nantinya
dijadikan sebagai tembok sebelum mereka mampu membangun tembok dari batako maupun
batu bata. Kayu kelapa ini tidak mudah dimakan rayap karena memiliki serat-serat yang
cukup keras. Sehingga kayu kelapa bisa dijadikan sebagai bahan bangunan rumah baik papan
rumah maupun lantai rumah. Kayu Kelapatidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan
rumah namun juga bermanfaat untuk perabotan rumah tangga. Kayu kelapa bisa diolah
menjadi perabotan rumah tangga seperti meja kursi maupun almari.
4. Kayu Ulin
Kayu ini banyak digunakan untuk bahan bangunan rumah, kantor, gedung, serta
bangunan lainnya. Berdasarkan catatan, kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan
tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan
Kalimantan. Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m
dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m.
Kayu ulin berwarna gelap dan tahan terhadap air laut. Kayu ulin banyak digunakan sebagai
konstruksi bangunan berupa tiang bangunan, sirap (atap kayu), papan lantai,kosen, bahan
untuk banguan jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat
khusus awet dan kuat. Kayu ulin termasuk kayu kelas kuat I dan Kelas Awet I.
Kesimpulan

1. Sifat-sifat fisika kayu: berat jenis kayu, warna, higroskopik. Sifat kimia kayu: pada
umumnya komponen kimia kayu ada 3 bagian yaitu: karbohidrat (selulosa dan
hemiselulosa), non karbohidrat (lignin), komponen yang diendapkan dalam kayu
selama proses pertumbuhan: zat ekstraktif.
2. Jenis tanaman penghasil kayu diantaranya: tanaman jati, kelapa, merbau, dan tanaman
ulin.
3. Beberapa macam kayu yang sering digunakan sebagai bahan konstruksi, lemari,
lantai, kerangka rumah, alat dapur, dan sebagainya.
Daftar Rujukan

Dumanauw, J. F. 1993. Mengenal Kayu. Yogyakarta: Kanisius.


Fengel, D. dan Wegener, G. 1995. Kayu: Kimia, Ultrastruktur, Reaksi-Reaksi. Terjemahan
Hardjono Sastrohamidjojo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Haygreen, J. G. dan J. L. Bowyer. 1993. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Yogyakarta: Gadjah
Mada University.
Muhdi. 2004. Pohon Jenis Daun Jarum dan Pohon Jenis Daun Lebar. [Skripsi]. Medan: Ilmu
Kehutanan-Fakultas Pertanian USU.
Shmulsky R, Jones PD, Lilley K. 2011. Forest Products and Wood Science An Introduction
Edisi ke-6. USA: Wiley-Blackwell.
Suryana, A., 2005. Evolusi Pemikiran Kebijakan Ketahanan Pangan. Jakarta: Kapita Selekta