Anda di halaman 1dari 21

SekilasTeoriStrukturalismeLeviStrauss

Teori strukturalisme pada intinya berpendapat bahwa dalam segala


keanekaragaman budaya tentu ada sebuah struktur pembentuk yang sifatnya universal,
sama dimanapun dan kapanpun. Claude Levi-Strauss sendiri dikenal sebagai Bapak
Strukturalisme, karena memang beliaulah yang pertama kali menjelaskannya secara
lebih rinci dan detail.

A. Biografi dan Karya Lvi-Strauss

Claude Lvi-Strauss adalah seorang antropolog sosial Perancis dan filsuf


strukturalis. Ia lahir di Brussels, Belgia, pada 28 Nopember 1908 sebagai seorang
keturuan Yahudi. Namun pada tahun 1909 orang tuanya pindah ke Paris, Perancis.
Ayahnya bernama Raymond Lvi-Strauss dan ibunya bernama Emma Levy. Sejak
kecil Lvi-Strauss sudah mulai bersentuhan dengan dunia seni, yang kelak akan
banyak ditekuninya ketika dewasa, karena memang ayahnya adalah seorang pelukis.
Sesungguhnya pendidikan formal dan minat Lvi-Strauss pada awalnya
bukanlah Antropologi. Pada tahun 1927, Lvi-Strauss masuk Fakultas Hukum Paris
dan pada saat yang sama itu pula, ia pun mempelajari filsafat di Universitas Sorbonne.
Studi hukum diselesaikannya hanya dalam waktu satu tahun. Sedangkan dari studi
filsafat, aliran materialisme menjadi aliran yang banyak mempengaruhi pemikirannya.
Salah satu argument materialisme adalah segala sesuatu harus bisa diukur,
diverifikasi, dan diindera. Namun pada suatu saat Levi-Strauss mengungkapkan
kebosanannya dalam mengajar. Kemudian setelah membaca buku Primitive
Social karya Robert Lowie, seorang ahli antropologi. Bermula dari membaca buku
Robert Lowie itulah ketertarikannya akan dunia antropologi muncul. Akhirnya, Levi-
Strauss semakin jelas berpaling kepada Antropologi ketika mengajar di Sao Paulo,
Brazil, dan melakukan studi antropologi yang lebih luas di pusat Brazil. Selama
mengajar di Brazil itulah ia mulai banyak melakukan ekspedisi di daerah-daerah
pedalaman Brazil. Heddy Shri dalam bukunya menyebutkan, ekspedisi pertamanya
adalah ke daerah Mato Grosso. Dari ekspedisi itu Levi-Strauss merasa mendapatkan
pengalaman batin yang menginspirasikan banyak hal, yang tertuang dalam
bukunya Trites Tropique. Itulah karya pertamanya dan sekaligus mengukuhkan
dirinya masuk kedalam bidang antropologi.
Dalam prosesnya melakukan penelitian dan pengamatan banyak terbentur
hambatan. Hal ini salah satunya tidak lepas dari karena ia termasuk keturunan Yahudi,
yang saat itu dalam pergolakan pembantaian oleh Jerman. Sampai ia akhirnya harus
mengalami pemecatan. Pada tahun 1947, ia kembali ke Perancis dan pada tahun
berikutnya ia diangkat sebagai maitre de recherch selama beberapa bulan di CNRS
(Center National de la Recherche Scintifique/Pusat Penelitian Ilmiah Nasional). Pada
tahun yang sama, ia menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Sorbonne,
dengan disertasi Les Structures elementaires de la parente. Levi-Strauss dianggap
sebagai pendiri strukturalisme, sebuah paham yang memegang bahwa kode terstruktur
adalah sumber makna dan bahwa unsur-unsur struktur yang harus dipahami melalui
hubungan timbal balik mereka. Lebih lanjut, bahwa struktur sosial
adalahkebebasan dari kesadaran manusia dan ditemukan dalam mitos dan ritual.
Secara singkat, itulah inti dari teori strukturalisme menurut pendapat Levi-Strauss.
Levi-Strauss banyak menghasilkan karya-karya tulis besar yang sangat
menarik banyak perhatian banyak kalangan, baik dari intelektual maupun awam.
Karya-karya terbesar tersebut antara lain: The Elementary Structures of
Kinship (1949), Structural Anthropology (1958),The Savage Mind (1962), and
the Mythologics, 4 vols. (196472). Mythologics sendiri terdiri dari tetralogi The Raw
and The Cooked, From Honey to Ashes, The Origin of Table Manners, dan The Naked
Man.
Dalam tahun 1968 ia dianugerahi medali emas untuk jasanya memajukan
ilmu-ilmu sosial di Perancis dari CNRS (Centre Nationale de la Recherche
Scientifique), dan dalam tahun 1976 ia menerima hadiah Bintang Viking untung ilmu
antropologi.
B. Metode Segitiga Kuliner

Levi-Strauss menaruh perhatian besar terhadap makanan dan rupa-rupanya


karena makanan adalah kebutuhan alamiah pokok dari binatang maupun
manusiaMemasak makanan merupakan bentuk budaya yang sangat penting, karena ia
memasak merupakan transisi dari alam (nature) ke budaya (culture). Menurut
Edmund Leach (1985: 34), memasak merupakan cara yang universal untuk
mentransformasikan alam ke dalam budaya. Penelitian ini diarahkan untuk menelusuri
bagaimana pandangan struktural Levi-Strauss dapat diterapkan untuk melihat sistem
makanan (food system), karena pendekatan struktural memandang semua fenomena
kultural sebagai suatu sistem.
Manusia berbeda dengan binatang dalam mengkonsumsi makanannya.
Apabila binatang langsung memakan makanannya yang berasal dari alam secara
mentah, manusia secara universal memproses terlebih dahulu makanan yang akan
disantapnya.Walaupundemikianadajugamanusiayangmenyukaimakananmentah,
tanpadimasakterlebihdahulu.Berbagaijenismakananyangdisantapmanusiatidak
sematamata bertujuan untuk membuat kenyang dan menghasilkan energi, namun
terdapat jenisjenis makanan dimasak dan dihidangkan dengan tujuan tertentu.
Makanan dapat diberi makna sosial, keagamaan, dan pada pokoknya makanan
tersebutmempunyaiartisimbolik.
Makananmanusiaterdiridari3jenis,yaitu(a)makananmentah,(b)makanan
melalui proses pemasakan, dan (c) makanan melalui proses fermentasi. Makanan
mentahadalahmakananyangbebasdarisegalammacamproses(nonelabore).
Berdasarkan akal dan keperluannya sejumlah makanan manusia ada yang
bebasdaripenggarapantanganmanusia,artinyabebasdariproses,danyanglainnya
adayangharuskenaprosespenggarapantanganmanusia.LeviStraussselanjutnya
menyatakan bahwadalam golonganmakananyangkenaprosesdibagidualagi,
yaitumakananyangdimasakdanmakananyangterkenaprosesfermentasi.Kedua
jenismakanantersebutberasaldarisuasanayangberbeda,makananyangdimasak
artinyaterkenakebudayaanmanusia,sedangkanmakananfermentasiadalahmakanan
yangterjadikarenaprosesalami.
Manusia kemudian mencoba menghubungkan antara makanan yang telah
terkena tindakan kebudayaan dan makanan yang dapat dikonsumsi karena proses
pematangan alam (fermentasi). Maka kemudian manusia mendapatkan golongan
makanan mentah yang terletak di antara dua ekstrim, yaitu bahwa makanan itu
mentahkarenatidakadacampurtanganmanusia,namundapatjugadigolongkanyang
terkenatindakankebudayaankarenasumbermakanantersebutberasaldaritumbuh
tumbuhanyangditanamdandarihewanyangdipeliharamanusia.Dengandemikian
seiring dengan kemajuan kebudayaan manusia, terdapat konsep segitiga kuliner
dalammenghasilkanmakananyangdikonsumsinya.

C.AnalisaSistemKekerabatan

Levi-Strauss dalam masa karir akademisnya ia menjadi seorang ahli filsafat,


terutamaa h l i f i l s a f a t y a n g b e r f i k i r t e n t a n g m a s a l a h a s a s - a s a s c a r a
b e r f i k i r s i m b o l i k d a r i manusia sebagai makhluk kolektif yang berinteraksi
dalam masyarakat. Levi-Straussmenganggap ilmu antropologi sebagai ilmu
yang dapat memberikan data etnografis mengenai masyarakat primitif,
yang dianggapnya perlu untuk mengembangkangagasan-gagasan dan
konsep filsafatnya. Masyarakat bersahaja dianggap sebagai contoh dari
masyarakat elementer, dan manusia yang kehidupan didalamnya tentu juga berpikir
secara elementer, atau dengan istilahnya berpikir secara bersahaja.
Masyarakat bersahaja biasanya didominasi oleh system kekerabatan, dan
warga-warganya berinteraksi didalamnya berdasarkan system simbolik yang
menentukan sikap mereka terhadap paling sedikit tiga kelas kerabat, yaitu kerabat
karena hubngan darah, karena hubungan kawin, dan karena hubungan keturunan.
D a l a m u s a h a n ya m e n g a n a l i s a s e g a l a m a c a m s y s t e m k e k e r a b a t a n ,
seperti j u g a Brown, Levi-strauss, berpangkal kepada keluarga inti.
Ketiga m a c a m h u b u n g a n d a l a m r a n g k a k e l u a r g a i n t i a d a l a h : ( 1 . )
h u b u g a n a n t a r a s e o r a n g individu E dengan saudara-saudara sekandungnya
yang berup hubungan darah. (2) hubungan antara E dengan istrinya berupa hubungan
karena kawin, yang menghubungkan kelompok saudara sekandungnya dengan
saudara sekandung istrinya. (3.) hubungan yang lain yaitu hubungan antara E dan
istrinya dengan anak-anak mereka, yang merupakan hubungan keturunan. Dalam
kenyataan, kehidupan kekerabatan yang oleh Levi-Strauss dianggap hubugan positif
adalah hubungan berdasarkan sikap bersahabat, mesra, dan cinta-
mencintai,sedangkan apa yang dianggapnya hubungan negatif adalah hubungan
berdasarkan s i k a p sungkan, resmi, dan menghormati. Kedua
hipotesis tadi secara l o g i k a memungkinkan enam kombinasi yang
olehnya di ilustrasikan dengan data dari enam s u k u b a n g s a , ya i t u s u k u
b a n g s a Tr o b r i a n ya n g t e l a h d i d e s k r i p s i o l e h M a l i n o w s k i , b a n g s a -
bangsa Siuai di Kepulauan Solomon, Melanesia, suku bangsa
D o b u d i kepulauan dekat Trobrian, suku-suku bangsa Kobutu di Papua Nugini,
suku bangsacherkess, suku bangsa Tonga di Polynesia. K a l a u k i t a t e l i t i d a t a
etnografi Levi-Strauss lebih mendalam, maka
t a m p a k subyektifnya ia meniai suatu hubungan kekerabatan itu sebagai positif atau
negative,dan tampak pula bahwa tidak jarang ia membawa ukuran kebudayaan
sendiri, yaitu kebudayaan perancis, untuk membuat penilaian tadi. Kecuali itu, dari
data keenam s u k u b a n g s a i t u m e n u r u t m e t o d o l o g i p e n e l i t i a n L e v i -
s t a u s s s e b e n a r n y a b e l u m membuktikan kebenaran dari kedua hipotesanya itu,
karena ia hanya memilih enam contoh saja untuk mengilustrasikan tiap kemungkinan
kombinasi sikap antara kaumkerabat inti yang mungkin ada.

D. Azas Klasifikasi Elementer

Mengenai azas klasifikasi elementer, Levi-Strauss mengatakan bahwa untuk


mengetahui kategori-kategori yang secara elementer dipergunakan akal manusia
dalam mengklasifikasikan seluruh alam semesta beserta segala isinya, maka dapat
dipelajari dari studi tentang totemisme. Menurutnya, arti kata totem (yang secara
lengkap berbunyi ototeman dalam bahasa Ojibwa) adalah dia adalah kerabat pria
saya. Memang hampir secara universal manusia dalam akal pikirannya merasakan
dirinya sebagai kerabat atau berhubungan dengan hal-hal tertentu dalam alam semesta
sekelilingnya, atau dengan manusia-manusia tertentu dalam lingkungan sosial-
budayanya, sehingga manusia ber-ototeman dengan hal-hal itu. Dalam hubungan itu,
manusia mengklasifikasikan lingkungan alam serta sosial budayanya ke dalam
kategori-kategori yang elementer. Suatu hal yang paling pokok dalam pandangan ini
adalah membagi alam semesta ke dalam dua golongan berdasarkan ciri-ciri yang
saling kontras bertentangan, atau merupakan kebalikannya, yaitu suatu cara yang
disebut binary opposition(oposisi berpasangan). Dua golongan ini bersifat mutlak
(mis: bumilangit, priawanita), bisa pula bersifat relatif (mis: kirikanan, orang
dalamorang luar). Pada oposisi tipe pertama tiap pihak dalam pasangan saling
menempatikedudukanyangtetapdanmutlak.Sedangkanpadaoposisitiperelatif,
satupihakdalampasanganmenempatikedudukantertentuterhadappihaklawannya,
tetapi bisa juga menempati kedudukan lawannya itu terhadap pihak ketiga. Tipe
klasifikasikedalamduagolonganberoposisiinisecarauniversaladadalamhampir
semuakebudayaandidunia.

Konsep elementer dua golongan yang relative telah menimbulkan konsep akan
adanya golongan ketiga yang bisa menempati kedua kedudukan dalam kedua pihak
dari suatu pasangan binary. Pihak ketiga itu dalam cara berpikir bersahaja dianggap
merupakan suatu golongan antara yang memiliki ciri-ciri dari kedua belah pihak,
namun tidak tercampur, melainkan saling terpisah dalam keadaan yang berlainan.
Contoh dari gagasan rangkaian tiga adalah misalnya; manusia/roh halus/dewa, kerabat
darah/kerabat karena nikah/bukan kerabat, hidup/maut/kehidupan akhirat,
bumi/gunung/langit, dsb.

Artikel 2

C.Pembahasan

1.1KonsepdanPendukungTeori

LeviStraussdianggapsebagaipendiristrukturalisme,sebuahpahamyangmemegang
bahwakodeterstrukturadalahsumbermaknadanbahwaunsurunsurstrukturyang
harusdipahamimelaluihubungantimbalbalikmereka.Lebihlanjut,bahwastruktur
sosial adalah kebebasan dari kesadaran manusia dan ditemukan dalam mitos dan
ritual. Secara singkat, itulah inti dari teori strukturalisme menurut pendapat Levi
Strauss.

LeviStrauss banyak menghasilkan karyakarya tulis besar yang sangat menarik


banyakperhatianbanyakkalangan,baikdariintelektualmaupunawam.Karyakarya
terbesartersebutantaralain:TheElementaryStructuresofKinship(1949),Structural
Anthropology(1958),TheSavageMind(1962),andtheMythologics,4vols.(1964
72).MythologicssendiriterdiridaritetralogiTheRawandTheCooked,FromHoney
toAshes,TheOriginofTableManners,danTheNakedMan.

Selainstruktursosial,LeviStraussjugamencetuskanteoriyangmemusatkan
perhatiannyapadamakanan.Makananmerupakanunsurpentingdalamkehidupan.
DalambukubukunyayangbesarLeviStraussmenguraikanberbagaimacamunsur
kebudayaanmanusiadengansebuahmetodeanalisakhasyangjugadiambilnyadari
ilmulinguistikyangdisebutmetodesegitigakuliner (triangleculinaire).Metode
tersebut diterapkannya terhadap unsur makanan. LeviStrauss membuat sebuah
karangandenganjudulLeCrueetelCuit(1964),yangartinyaHalyangMentahdan
Hal yang Masak. Menurut salah seorang komentatornya, E Leach, menyatakan
bahwaLeviStraussbanyakmenaruhperhatiannyaterhadapmakanankarenamakanan
ialah kebutuhan alamiah pokok dari binatang atau manusia dan karena makanan
manusia menjadi unsur kebudayaan yang diolah dengan api. Salah satu unsur
kebudayaan dan sumber energi manusia yang sangat dini. Oleh karena itulah
sebabnyaunsurmakananpalingcocokuntukmengilustrasikanperbedaanantaraalam
dankebudayaan(Leach,1970:9697).

Bahwasannyamakananmanusiaterdiridaritigajenisyaitumakananmelalui
prosespemasakan,melaluiprosesfermentasidanmakananyangmentah(bebasdari
salah satu proses). Makanan tersebut digolongkan menjadi makanan yang kena
prosesdanmakananyangbebasproses.Selaingolonganyangtelahdisebutkan,ada
lagi golongan makanan yaitu makanan yang dimasak dan makanan yang terkena
prosesfermentasi.Golonganyangsatumerupakangolongankebudayaandanyang
kedua ialah golongan alam. Golongan makananmakanan mentah itulah yang
dimaksud golongan alam karena tidak terkena campur tangan manusia. Walaupun
demikian termasuk golongan kebudayaan juga, karena sumber makanan berupa
tumbuhtumbuhanyangditanamataubinatangyangdipeliharamaupundiburu.

BEBASdariPROSESKEBUDAYAANALAM

MENTAH

KENA PROSES DIMASAK


FERMENTASI

SegitigaKuliner

TeoriStrukturalismedanPenelitianLviStrauss

Secara umum,istilahstrukturalisme banyakdikenal dalam FilsafatSosial.Filsafat


Eropamodernseringmenyebutbahwastrukturalismeadalahsebuahfenomenasosial.
Lebihlanjutdikatakanbahwafenomenaitutidakpeduliseberapadangkalberagam
wujudnya.Secarasingkat,strukturalismeadalahfenomenasosialyangsecarainternal
dihubungkandandiatursesuaidenganbeberapapolayangtidakdisadari.

Hubunganhubunganinternaldanpolamerupakanstruktur,danmengungkapstruktur
strukturiniadalahobjekstudimanusia.Padaumumnya,sebuahstrukturbersifatutuh,
transformasionaldanmeregulasidirisendiri(selfregulatory).Strukturalismeadalah
metodologiyangmenekankanstrukturdaripadasubstansidanhubungandaripadahal.
Halinimenyatakanbahwasesuatuselalukeluarhanyasebagaielemendaripenanda
suatusistem.

MetodologiStrukturalsesungguhnyaberasaldaristrukturallinguistikdariSaussure,
yangmenggambarkanbahwabahasasebagaisebuahtandadariaturansistemsosial.
Baru pada tahun 1940, ia mengusulkan bahwa fokus yang tepat penyelidikan
antropologi berada di mendasari polapola pemikiran manusia yang menghasilkan
kategori budaya yang mengatur pandangan dunia sampai sekarang dipelajari.
Kemudianpadatahun1960,ClaudeLeviStraussmelanjutkanmetodologiini,tidak
hanyauntukantropologi(strukturalismeantropologi),tetapimemanguntukpenanda
semua sistem. Namum memang LeviStrausslah pada umumnya yang dianggap
sebagaipendiristrukturalismemodern.Melaluikaryanya,strukturalismemenjaditren
intelektualutamadiEropaBarat,khususnyaPerancisdansangatmempengaruhistudi
tentangilmuilmumanusia.

MenurutStrauss,untukmengetahuimaknastrukturdalambidangantropologi,perlu
diketahuiterlebihdahuluprinsipdasardaristrukturitusendiri.Prinsipdasarstruktur
yangdimaksuddisiniadalah bahwastruktursosialtidak berkaitandenganrealitas
empiris,melainkanberkaitandenganmodelmodelyangdibangunmenurutrealitas
empiris tersebut. Struktur menjadi penting untuk diketahui karena memberikan
banyak informasi terhadap makna. Bangunan dari modelmodel itu yang akan
membentukstruktursosial.

MenurutLeviStraussadaempatsyaratmodelagarterbentukstruktursosial

1. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. Struktur terdiri atas


elemenelemensepertisebuahmodifikasiapasaja,yangsalahsatunyaakan
menyeretmodifikasiseluruhelemenlainnya.
2. Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi, di mana
masingmasingberhubungandengansebuahmodeldarikeluargayangsama,
sehinggaseluruhtransformasiinimembentuksekelompokmodel.
3. Sifatsifatyangtelahditunjukansebelumnyatadimemungkinkankitauntuk
memprakirakandengancaraapamodelakanberaksimenyangkutmodifikasi
salahsatudarisekianelemennya.
4. Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga
keberfungsiannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang
diobservasi.

Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik, perlu


disampaikanbeberapatokohyangcukupberpegaruhterhadaplahirnyateoriini.Di
antara mereka yang sangat berpengaruh terhadap pandangan LeviStrauss adalah
FerdinandeSaussure,RomanJakobsondanNikolayTrobetzkoy.Dariketigapemikir
linguistik ini, LeviStrauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan
denganmodellinguistikyaituyangbersifatstruktural.

Strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep


pendekatanlain.Beberapaasumsidasartersebutadalahsebagaiberikut

1. .Dalam strukturalisme ada angapan bahwa upacaraupacara, sistemsistem


kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal, pakaian dan sebagianya,
secaraformalsemuanyadapatdikatakansebagaibahasabahasa.
2. Parapenganutstrukturalismeberanggapanbahwadalamdirimanusiaterdapat
kemampuandasaryangdiwariskansecaragenetissehinggakemampuanini
ada pada semua manusia yang normal. Kemampuan tersebut adalah
kemampuanuntukstructuring,untukmenstruktur,menyususunsuatustruktur
atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejalagejala yang
dihadapinya.Dalamkehidupanseharihariapayangkitadengardansaksikan
adalahperwujudandariadanyastrukturdalamtadi.Akantetapiperwujudan
ini tidak pernah kompolit. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial
terhadapsuatugejala,sepertihalnyasuatukalimat dalambahasaIndonesia
hanyalahwujuddarisecuilstrukturbahasaIndonesia.
3. MengikutipandangandarideSaussureyangberpendapatbahwasuatuistilah
ditentukan maknanya oleh relasirelasinya pada suatu titik waktu tertentu,
yaitu secara sinkronis. Dengan istilahistilah yang lain, para penganut
strukturalismeberpendapatbahwarelasirelasisuatufenomenabudayadengan
fenomenafenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang
menentukanmaknafenomenatersebut.Hukumtransformasiadalahregulasi
yang tampak melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi
konfigurasistrukturalyanglain.
4. Relasirelasiyangadapadastrukturdalamdapatdiperasataudisederhanakan
lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition). Sebagai serangkaian
tandatandadansimbolsimbol,fenomenabudayapadadasarnyajugadapat
ditangapi dengan cara seperti di atas. Dengan metode analisis struktural
maknamaknayangditampilkandariberbagaifenomenabudayadiharapakan
akandapatmenjadilebihutuh.

Keempatasumsidasarinimerupakanciriutamadalampendekatanstrukturalisme.
Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme LeviStrauss
menekankan pada aspek bahasa. Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial
masyarakat.Disampingitujugakebudayaandiyakinimemilikistruktursebagaimana
yangterdapatdalambahasayangdigunakandalamsuatumasyarakat.

1.2BiografidanPendukungTeori

LeviStrauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles, Belgia. Ia adalah


keturunanYahudi.AyahnyabernamaRaymondLeviStraussseorangartisdanjuga
anggota keluarga intelektual YahudiPerancis (Intelectual French Jewishfamilily).
Sedangkan ibunya bernama Emma Levy. Minat utama LeviStrauss sebenarnya
adalahilmuhukum.IamempelajarihukumdifakultashukumParispadatahun1927.
DitahunyangsamaiajugamempelajarifilsafatdiuniversitasSorbonne.Iapernah
sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang
hukum.Penguasaandalambidanghukummengenaialiranaliranfilsafatmaterialisme
historisiniturutmendorongkesuksesannyadalambidangantropologi.

Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang
antropologiadalahketikaiamembacabukuPrimitiveSocietyyangditulisolehRobert
Lowie. Buku itu cukup mengesankan bagi LeviStrauss dan mendorongnya untuk
mengadakanbeberapastudimengenaimasyarakatprimitif.Bahkaniamenjadibosan
mengajardiMontdeMarsanlyceedanberkeinginanuntukmengadakanperjalanan
kelilingdunia.

Apa yang diharapkan oleh LeviStrauss, akhirnya terkabulkan setelah ia


berkesempatanmenjadipengajardiUniverstiasSaoPaulo,Brazil.Diuniversitasiniia
memiliki kesempatan untuk keliling ke daerahdaerah pedalaman Brazil, serta
mengunjungiberbagaisukuIndianyangselamaitubolehdikatakanbelumterjamah
olehperadabanBarat.DariekpedisiyangdidukungolehMuseede1Hummeddan
museumdikotaSaoPauloinimemberikesempatankepadanyauntukmempelajari
orangorangIndianCaduveodanBororo.

Pengalaman perjalanannya menjelajah daerahdaerahterpencil ituditulisnya dalam


sebuahbukuyangberjudul TristesTropique.Bukuiniberceritatentangpenderitaan
orangorangIndiandibelantaraAmazone.Berawaldaribukuinilahyangmenjadikan
LeviStrauss terkenal sampai kenegara asalnya yakni Prancis. Ia bahkan telah
menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang antropologi yang
sesungguhnyasangatjauhdaristudiformalyangdimilikinya.

Karir LeviStrauss sempat mengalami kendala saat ia diberi kewajiban militer. Ia


ditugaskandibagianpostelekomunikasidibidangsensortelegram.Sampaiakhirnya
iadiangkatmenjadi liaisonofficer,yaitupetugaspenghubung.Namundalamsituasi
yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang
professor.Iapunakhirnyadibebaskandarikewajibanmilitersetelahmenjadiseorang
professor.Halangantidakhanyasempaidisitu,iajugamengalamidiskriminasiras.Ia
dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. Akhirnya LeviStrauss
diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller yang memiliki program
penyelamatan ilmuwan dan pemikirpemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika
Serikat.DariprograminiLeviStraussberhasildatangkeNewYorkdanselamatdari
pembantaiantentaraNaziyangantiterhadaporangorangYahudi.

DidaerahGreenwichVillage,LeviStrausstinggal.DikotaNewYorkinilahLevi
Strausssemakinbanyakmemilikipeluangmengembangkankeilmuannya.Iabanyak
berkomunikasidenganparailmuanbuangandariPrancis,sepertiMazErnst,Franz
Boas,RuthBenedict,A.L.KroeverdanRalphLinton.Iapunberkesempatanmengajar
matakuliahetnologidiNewYorkEcoleLibredesHautesEtudes,yangdidirikanoleh
paraintelektualpelariandariPrancis.

SelamahidupnyaLeviStrausspernahmendukijabatanjabatanstrategisterutamadi
bidang pendidikan. Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang
ProfessordiUniversitasSaoPaoloyangkemudianmelakukanbeberapaekspedisike
Brazil.Padatahun1942sampai1945iadiangkatsebagaiprofessordiNewSchoolfor
SocialReseach.Padatahun1959iamenjadidirekturTheEcolePractiquedesHautes
Etude, yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Sicial
AntropologypadaCollegedeFrance.

KetikaPerangDuniaIIpecahLeviStraussmasukdinastentara,namunketikatentara
Nazi Jerman menduduki Perancis dalam tahun 1940, ia keluar lagi dan berhasil
meninggalkannegerinyauntukkeAmerikaSerikat.

1.3KritikdanImplementasi

1.3.1Kritik

Secaraumum,strukturalismemenuaibanyakkritikdarisisiepistemology.Validitas
penjelasanstrukturaltelahditentangdenganalasanbahwametodestrukturalisyang
tidaktepatdantergantungpadapengamat.Artinyaunsursubjektivismesangaterat
dalam penelitian strukturalisme. Satu peneliti dan menghasilkan hasil yang sama
sekalilaindenganpenelitilainnya.

Paradigmastrukturalismeterutamaberkaitandenganstrukturjiwamanusiadantidak
membahas aspek sejarah atau perubahan budaya. Pendekatan sinkronis yang
menganjurkan sebuahkesatuanpsikisdarisemuapikiran manusia,telah dikritik
karenatidakmemperhitungkantindakanmanusiaindividuhistoris.Dalampemikiran
strukturalis,ideideyangbertentangansecarainherenadadalambentukoposisibiner,
namun konflikkonflik ini tidak menemukan resolusi. Dalam pemikiran Marxis
struktural,pentingnyaperubahanabadidalammasyarakatadalahmencatat:Ketika
kontradiksi internal antara struktur atau dalam struktur tidak bisa diatasi, struktur
tidakmereproduksitetapidiubahatauberevolusi.

Selanjutnya, yanglaintelah mengkritik strukturalisme karenakurangnyaperhatian


dengan individualitas manusia. Budaya relativis sangat kritis terhadap ini karena
mereka percaya struktural rasionalitas melukiskan pemikiran manusia sebagai
seragamdanseragam.Budayaselalumengandungunsurrelativedidalamnya dan
tidakbisadisamakanataudiseragamkan.

Selainmerekayangmemodifikasiparadigmastrukturalisdankritikadareaksilain
yangdikenalsebagaiMeskipunpoststructuralistsdipengaruhiolehideidestrukturalis
diajukanolehLeviStrausspascastrukturalisme.,Pekerjaanmerekamemilikilebih
berkualitas refleksif. Pierre Bourdieu adalah pascastrukturalis yang melihat
struktur sebagai sebuah produk ciptaan manusia, meskipun para peserta mungkin
tidak sadar akan struktur. Daripada gagasan strukturalis dari universalitas proses
pemikiran manusia yang ditemukan dalam struktur pikiran manusia, Bourdieu
mengusulkan bahwa proses berpikir dominan adalah produk dari masyarakat dan
menentukanbagaimanaorangbertindak.

Lain reaksi terhadap strukturalisme didasarkan pada penyelidikan ilmiah. Dalam


setiapbentukpenyelidikanyangbertanggungjawab,teoriharusdifalsifikasi.analisis
strukturaltidakmemungkinkaniniatauuntukvalidasieksternal.

ImplementasiTeori

Pada masa ini kita masih bisa banyak menemukan penelitianpenelitian yang
menggunakanteoristrukturalisme.Kitabisamengambilcontohpenelitiyangingin
mengetahuistrukturpemikiranorangSurabayasehinggadalambudayanyacenderung
kasar,misalnyabahasa.Penelititersebutmembandingkandenganstrukturpemikiran
yangadadidalambudayaYogyakartayangcenderunglebihramah.AntaraSurabaya
danYogyakartayangwalaupunkelihatannyaberbedasebenarnyaadasebuahstruktur
samadidalambudaya.

Dengan memahami struktur dalam budaya peneliti akan mengetahui sebuah


keuniversalan dalam budaya. Mungkin itulah yang akan dikatakan oleh para ahli
strukturalisme. Strukturalisme membantu memetakan polaperilaku manusiadalam
budaya.

Selainitupengaruhstrukturalismeterlihatterutamapadametodeanalisis,dandi
sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme LviStrauss sebagai sebuah
paradigma. Jikalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan
metodeanalisisnya,strukturalismeLviStraussjustruterlihatmembedakandirinya
dariyanglainmelaluimetodeanalisisini.StrukturalismeLviStraussmulaiterlihat
digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah
dianalisissecarastruktural.Initerlihatpadatesisdandisertasidijurusanantropologi
UGM.

Analisisstrukturaltelahdigunakanuntukmengungkapstrukturyangadapadarumah
LimasPalembang(Purnama,2000),rumahtradisionalSumba(Purwadi,2002).Kalau
Dadang H. Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan
mengaitkannyadenganstrukturpemikiranorangPalembang,Purwadilebihtertarik
untuk mengungkap prinsipprinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional
Suma di Umaluhu. Oleh karena itu, analisis Purnama kemudian menuntut
digunakannyakonseptransformasi,dandengankonsepinipuladiadapatmenyajikan
rangkaiantransformasiyangadadalambudayamasyarakatPalembang.

D.Kesimpulan

Pertama, yaitu bahwa argument utama strukturalisme adalah bahwa dalam setiap
budaya terdapat sebuah struktur yang universal, sama dimanapun dan kapanpun.
Banyakpenelitianyangmenggunakanteoristrukturalismetersebut.Tujuannyauntuk
memahamipoladalamkebudayaan.

Kedua, nyatanyateoristrukturalismemendapatkanbanyakkritikdansorotanyang
tajam.Salahsatunyayangmengenaadalahbahwamanusiamerupakanmaklukyang
komplek. Kekomplekan itu juga terbawa dalam perilaku budaya yang mereka
hasilkanpula.Jikamanusiakompleksmakausahauntukmenyeragamkanmanusia
dengan sebuah struktur yang pasti sungguh sangat terdengar naf. Strukturalisme
memang baik sebagai sebuah metodologi memahami manusia dan budaya.
Strukturalismeadalahalatdanbukantujuandalammemahamimanusiadengansegala
kekomplekannya.

1. Penutup

Demikianyangdapatkamipaparkanmengenaimateriyangmenjadipokokbahasan
dalammakalahini,tentunyamasihbanyakkekurangandankelemahannya, kerena
terbatasnyapengetahuandankurangnyarujukanataureferensiyangadahubungannya
denganjudulmakalahini.

Kami banyak berharap para pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang
membangunkepadakamidemisempurnanyamakalahinidanpenulisanmakalahdi
kesempatankesempatanberikutnya.Semogamakalahinibergunabagikitasemua.

Artikel 3

B. Pendekatan Strukturalisme Lvi-Strauss


Analisis struktural merupakan pendekatan yang bertujuan melihat

sesuatu fenomena kebudayaan sebagai teks yang dapat dibaca. Menurut model

pendekatan tekstual, fenomena budaya apapun bentuknya dapat dipahami sebagai

sebuah peristiwa yang dapat dibaca dan ditafsirkan keberadaannya memalui sistem

analisis struktural. Keberadaan teks tersebut akan dilihat dari unsur-unsur yang

saling terkait. Kesatuan hubungan antar unsur-unsur hanya akan bermakna dalam

hubungannya dengan unsur-unsur lain.

Secara umum, dalam pendekatan strukturalisme sebuah teks dipandang

sebagai sebuah struktur yang terdiri dari unsur-unsur yang saling terjalin dan

kemudian membangun teks sebagai sebuah keutuhan. Dengan demikian dapat

dipahami bahwa analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan

memaparkan secermat, seteliti, semendetail, dengan sedalam mungkin keterkaitan

dan keterjalinan semua aspek fenomena budaya yang pada akhirnya secara

bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh.

Dijelaskan oleh Ahimsa Putra bahwa pengertian struktur menurut Lvi-

Strauss adalah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami atau

menjelaskan segala gejala kebudayaan yang dianalisisnya, yang tidak ada kaitannya

dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri. Model ini merupakan relasi-relasi

yang berhubungan satu sama lain atau saling mempengaruhi. Dengan kata lain

struktur adalah relations of relations atau system of relations.1[3]

Claude Lvi-Strauss lahir di Brussles, Belgia pada tanggal 28 Nopember

1908, merupakan keturunan Yahudi, anak seorang pelukis dan cucu seorang rabi.

Ia tumbuh menjadi seorang anak yang kesepian, karena introspeksinya, karena

pemikirannya, dan karena bacaannya. Lvi-Strauss kecil banyak menghabiskan

waktu untuk bersepkulasi tentang alam dengan selalu mengumpulkan benda-

1
benda aneh seperti batu, kerikil, dan tanaman yang disebutnya bricolage.2[4]

Kegemaran inilah yang mengantarkannya menjadi peneliti dalam bidang

antropologi.

Sebenarnya pendidikan awal Lvi-Strauss bukanlah antropologi, karena

pada tahun 1927 Lvi-Strauss masuk Fakultas Hukum Paris dan pada saat yang

sama juga belajar filsafat di Universitas Sorbonne. Karir Lvi-Strauss dibidang

antropologi dimulai pada tahun 1935, sewaktu dia mendapat kesempatan menjadi

pengajar pada bidang sosiologi di Universitas Sao Paulo Brazil. Selama menjadi

pengajar di Brazil itulah Lvi-Strauss mendapat kesempatan untuk mengadakan

ekspedisi ke daerah-daerah pedalaman Brazil.

Pada tahun 1940 saat perang dunia ke II, Lvi-Strauss pindah ke Amerika

dan menetap di New York. Kepindahannya ke Amerika lebih disebabkan oleh

persoalan rasial (Lvi-Strauss seorang Yahudi). Saat itu Prancis dikuasai oleh

Jerman yang anti Yahudi. Ketika di New York, kecenderungan struktural yang

sudah lama ada dalam diri Lvi-Strauss berkembang dan menjadi matang, berkat

pertemuannya dengan ahli bahasa dari Rusia, Roman Jakobson. 3


[5]

Persentuhan Lvi-Strauss dengan Roman Jakobson ini membawanya lebih

dalam untuk mempelajari linguistik struktural, yang akhirnya menjadi dasar dari

teori antropologi budaya Lvi-Strauss. Analisis struktural ala Lvi-Strauss tersebut

bersumber pada ilmu bahasa struktural (structural linguistics) Ferdinand de

Saussure.

Diterangkan oleh Edith Kurzweil bahwa kajian bahasa stuktural Saussure

dipandang oleh Lvi-Strauss sebagai sebuah sistem mandiri yang mendalilkan

adanya suatu hubungan dinamis antara komponen setiap tanda linguistik, yaitu

2
3
sistem bahasa (langue) dan tuturan individu (parole), serta antara citra bunyi

(signifier) dan konsep (segnified). Berdasarkan atas dualisme tersebut, Lvi-Strauss

menerapkan dengan sungguh-sungguh model analisis fonemik (yang dilakukan

Jakobson), yang dalam lingustik struktural bertujuan untuk membuktikan bahwa

struktur semua bahasa selalu mengikuti garis biner konstruksi paralel.4[6]

Ahimsa Putra juga menerangkan hal yang sama dengan Edith Kurzwei,

bahwa ada dua aspek yang menjadi dasar teori Lvi-Strauss yang diambil dari

linguistik struktural, yaitu: 1) aspek bahasa (langue) dan tuturan individu (parole),

dan 2) perbedaan antara aspek paradigmatik dan aspek sintagmatik dari bahasa.

Menurut Lvi-Strauss, sebagaimana halnya fenomena bahasa, fenomena

sosial budaya juga dapat dikatakan memiliki aspek bahasa (langue) dan aspek

tuturan individu (parole). Langue adalah aspek sosial dari bahasa, atau aspek

struktural dari bahasa. Adanya aspek inilah yang memungkinkan kita

menggunakan bahasa dalam komunikasi kita dengan orang lain yang mengenal

bahasa yang sama. Aspek dari bahasa, dengan demikian tidak lain adalah tata-

bahasa atau aturan-aturan yang ada pada ranah fonologis, morfemis, sintaksis dan

simantis, yang pada umumnya bersifat tidak disadari atau tidak diketahui oleh

pemakai bahasa itu sendiri. Walau tidak disadari bukan berarti aturan-aturan dari

bahasa itu tidak ada. Parole atau tuturan merupakan aspek individual atau

statistikal dari bahasa. Setiap orang akan memiliki parole yang berbeda-beda.

Parole dapat dikatakan sebagai gaya atau style, seseorang individu menggunakan

suatu bahasa.

Aspek paradigmatik dan aspek sintagmatik dari bahasa adalah faribel

berikut yang juga mempengaruhi Lvi-Strauss. Suatu bahasa diwujudkan secara

berurutan. Kata-kata diucapkan tidak pernah bersama-sama dan tidak pernah ada

4
dua kata diucapkan sekaligus. Aspek bertutur secara linier dalam bahasa inilah

yang disebut dengan sintagmatik. Aturan-aturan yang mengendalikan dalam aspek

ini merupakan suatu yang nir sadar.

Aspek paradikmatik terdapat dalam hubungan asosiatif antara kata-kata

yang ada dalam suatu kalimat atau tuturan dengan kata lain yang ada di luar

kalimat tersebut. Dicontohkan oleh Ahimsa Putra dengan kata desa. Dalam

kalimat saya tinggal di desa, kata desa dapat digantikan dengan kata kota,

kampung dan lain sebagainya. Dengan contoh itu dapat dipahami bahwa pada

dasarnya bahasa mengandung aspek sintagmatik dan paradikmatik sekaligus.

Dasar teori ini juga dapat dipergunakan dalam melihat fenomena budaya yang lain,

contohnya karya seni.5[7]

Menurut Lvi-Strauss fenomena kebudayaan dapat dilihat sebagai suatu

fenomena kebahasaan. Alasan yang paling mendasari kenapa model pendekatan

linguistik dapat digunakan untuk melihat fenomena kebudayaan, adalah karena; 1)

bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat dianggap sebagai refleksi dari

keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. 2) karena bahasa bagian

dari kebudayaan, atau bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan, dan

3) bahwa bahasa merupakan kondisi dari kebudayaan.

Bahasa sebagai kondisi bagi kebudayaan ini dapat berarti dua hal pula

yakni; 1) dalam arti diakronis, maksudnya bahasa mendahului kebudayaan karena

melalui bahasalah manusia mengetahui budaya masyarakat, dan 2) dalam arti

bahasa merupakan kondisi bagai kebudayaan karena material yang digunakan

untuk membangun bahasa pada dasarnya adalah material yang sama tipe/jenisnya

dengan materi yang membentuk kebudayaan itu sendiri.

5
Dari ketiga alasan kenapa linguistik dapat dipakai untuk pengamatan

fenomena budaya tersebut, Lvi-Strauss lebih tertarik pada alasan yang ketiga

bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. Adanya semacam korelasi

antara bahasa dan kebudayaan bukanlah karena adanya semacam hubungan

sebab akibat (kausalitas) antara bahasa dan kebudayaan, tetapi karena keduanya

merupakan produk atau hasil dari aktivitas nalar manusia.6[8]

Dengan dasar teori struktural bahasa itulah Lvi-Strauss berhasil melihat

sesuatu di balik penampakan karya manusia. Sesuatu di balik benda (wujud karya)

tersebut bukan lagi berupa visi atau misi, melainkan berupa nilai atau makna yang

secara tidak sadar telah membentuk ide, gagasan, atau pemikiran seseorang.

Dengan dimikian dapat dikatakan apapun yang ada di dunia ini, menurut

pandangan Lvi-Strauss merupakan sistem yang memiliki struktur-struktur yang

mengaturnya. Dijelaskan bahwa, arti timbul dari keadaan tanpa arti, dan arti itu

sekedar hasil sekunder dari permainan diferensial tanda-tanda dan penanda-

penanda (signifiant). Dalam Strukturalisme tatanan signifiant atau penanda

mendahului makna, dengan kata lain bahwa berbicara tentang adanya manusia

sebenarnya bukanlah sebagai subjek, sebaliknya adanya dan struktur itu sendiri

berbicara tentang dirinya melalui pembicaraan manusia tentang adanya.7[9]

Dalam analisis struktural itu, Lvi-Strauss membedakan struktur menjadi

dua macam; struktur luar (surface structure) dan struktur dalam (deep structure).

Struktur luar adalah relasi-relasi antar unsur yang dapat kita buat atau bangun

berdasar atas ciri-ciri luar atau ciri-ciri empiris dari relasi-relasi tersebut,

sedangkan struktur dalam adalah susunan tertentu yang kita bangun berdasarkan

atas struktur lahir yang telah berhasil kita buat, namun tidak selalu tampak pada

6
7
sisi empiris dari fonomena yang kita pelajari. Struktur dalam ini dapat disusun

dengan menganalisis dan membandingkan berbagai struktur luar yang berhasil

diketemukan atau dibangun. Lebih jauh dijelaskan bahwa struktur dalam inilah

yang lebih tepat dipakai sebagai model memahami fenomena yang diteliti, karena

melalui struktur inilah peneliti kemudian dapat memahami berbagai fenomena

budaya yang dipelajarinya.8[10]

Konsep pemikiran Lvi-Strauss sangat berbeda dengan konsep pemikiran

Radcliffe-Brown dengan teori struktural fungsionalnya. Apabila Radcliffe-Brown

mencari struktur itu di dalam kenyataan yang dapat diamati, sedangkan Lvi-

Strauss mencari di balik kenyataan yang dapat diamati. Struktur diamati melalui

keteraturan hakiki yang memberikan bentuk pada kenyatan yang terlihat susunan

(konfigurasi) gejala-gejala tertentu sebagai keteraturan yang khas. Lvi-Strauss

melihat struktur sebagai sesuatu yang menerangkan mengapa konfigurasi itu

demikian, sedangkan Radeliffe-Brown melihat struktur adalah apa yang terlihat

dari luar pada keterkaitan dalam konfigurasi itu.9[11]

Selain konsep strukutur, Lvi-Strauss juga memakai konsep transformasi.

Transformasi yang dimaksud disini perlu dibedakan dengan pengertian

transformasi sebagaimana umumnya diketahui. Secara umum dikenal pengertian

transformasi sebagai perubahan, sedangkan transformasi yang dimaksud Lvi-

Strauss adalah alih rupa. Perbedaan yang paling nyata antara keduanya adalah

bahwa dalam konsep perubahan terkandung pengertian proses berubahnya sesuatu

ke sesuatu dalam ruang dan waktu tertentu. Adapun alih rupa adalah suatu

8
9
perubahan yang terjadi pada tataran muka, sedangkan pada tataran yang lebih

dalam perubahan tersebut tidak terjadi.10[12]

C. Lvi-Strauss: Segitiga Kuliner, Sistem Kekerabatan dan Azas Klasifikasi


Elementaer
1. Metode Segitiga Kuliner

Dalam metode-metode yang dikembangkan oleh Lvi-Strauss, dikenal

metode segitiga kuliner (triangle culinaer). Metode ini diterapkan untuk mengamati

unsur-unsur makanan yang dikonsumsi manusia. Beberapa pengamat mengatakan,

alasan ketertarikan Lvi-Strauss mengamati makanan adalah karena makanan

merupakan kebutuhan alamiah manusia maupun binatang. Makanan dipakai oleh

Lvi-Strauss untuk menjelaskan antara sesuatu yang alami dan produk budaya.

Dalam pengamatannya, Lvi-Strauss menjelaskan bahwa makanan

manusia terdiri dari tiga jenis, yaitu; 1) makanan melalui proses pemasakan, 2)

melalui proses fermentasi, dan 3) makan yang mentah, jadi yang bebas dari salah

satu proses (non-labor). Akal manusia akan memilih untuk memanfaatkan

makanan yang ingin dikonsumsinya, baik yang bebas dari proses ataupun yang

memalui proses.

Lvi-Strauss menjelaskan, makanan yang melalui proses ada dua yaitu;

proses fermentasi dan proses di masak. Makanan yang melalui proses fermentasi

adalah merupakan sesuatu yang alami, dan yang melalui proses dimasak

merupakan kebudayaan, sedangkan makanan yang mentah ditempatkan oleh Lvi-

Strauss sebagai bagian dari alam dan kebudayaan. Makanan mentah digolongkan

pada makanan alam karena ia tidak melalui proses pengolahan oleh manusia, dan

digolongkan pada makanan yang diproses adalah karena sumber makanan berupa

tumbuhan harus terlebih dahulu ditanam dan makanan berupa hewan harus lebih

10
dahulu diperlihara atah diburu.11[13] Berikut di bawah ini dapat diamati bagan

segitiga kuliner yang ditulis Koentjaraningrat.

Bebas Dari Proses Kebudayaan Alam


(non- labor)
Mentah

11