Anda di halaman 1dari 24

UJIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA

Disusun Untuk Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul

Disusun oleh:

Aisyah Nur Ramadhani

20110310044

Diajukan kepada:

dr. Vista Nurasti Pradanita, Sp.KJ

SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA


RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016
STATUS PSIKIATRI

1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. S
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 40 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Buruh
Bangsa/suku : Indonesia/Jawa
Alamat : Pandak
Tanggal diperiksa : 6 Agustus 2016

2. ALLOANAMNESIS
Nama : Tn. E
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 50 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : PNS
Bangsa/suku : Indonesia/Jawa
Alamat : Pandak
Hubungan : Kakak Kandung
Lama kenal : Sejak lahir

2.1. Sebab Dibawa ke Rumah Sakit (Keluhan Utama)


Pasien datang ke Poli Jiwa RSUD Panembahan Senopati bantul diantar oleh
kakak kandung pasien, pasien mengatakan sudah 3 hari susah tidur, bisikan muncul
sejak 3 hari ini menyuruhnya untuk marah-marah, namun pasien mengaku tidak
menuruti perintah bisikan itu. Kakak pasien mengatakan, pasien sudah lebih baik,
tidak sering mengamuk dan keluyuran lagi.
2.2. Riwayat Perjalanan Penyakit (Riwayat Penyakit dari Awal sampai Sekarang)
Alloanamnesis
Dari alloanamnesis diketahui pasien pernah mondok 2 kali di RS Grhasia
karena sering mengamuk, Mondok pertama kali tahun 2009, awalnya pasien suka
mengamuk dan menghancurkan barang-barang dirumahnya. Pernah juga pasien
mengamuk tanpa alasan yang jelas dan sampai mencekek ayahnya, kejadian itu
diketahui oleh ibu dan kakak kandung pasien. Setelah kejadian itu pasien menjadi
mudah tersinggung dan emosi jika diberi nasihat-nasihat. Pasien di bawa ke RS
Grhasia dan di pondokkan. Setelah pulang dari RS Grhasia pasien tidak rutin
minum obat terkadang masih suka marah-marah sendiri.
Pada tahun 2012 pasien mulai keluyuran keluar dari rumah, sulit tidur,
berkeliling kampung, tidak ada tujuan yang jelas, pernah tetangganya dipukul
dengan kayu, mengancam akan membunuh tetangganya, pasien juga pernah naik
ke atas atap berteriak-teriak tanpa alasan, pernah minum obat hingga keracuan,
sempat mondok di PKU Muhammadiyah Bantul 5 hari. Semenjak mulai
meresahkan warga, pasien dibawa lagi ke RS Grhasia, kemudian mondok lagi.
Setelah mondok tahun 2012, pasien sudah mulai membaik, rutin rawat jalan,
tiap bulan, sudah mau minum rutin obat, terkadang pasien terlihat berbicara
sendiri, namun sudah tidak mengamuk dan keluyuran lagi. Menurut kakaknya
adiknya ini memang dulu punya teman dekat wanita, tapi setelah temannya
menikah sikap adiknya mulai berubah.
Kakak pasien menyangkal adanya masalah keluarga ataupun pekerjaan.
Menurutnya adiknya sering bertengkar dengan ayahnya. Ayahnya memang tegas
dan suka menghukum jika ada anaknya yang tidak menurut. Pasien tidak pernah
mengkonsumsi obat-obatan (napza) ataupun meminum alkohol. Pasien adalah
perokok, yang menghabiskan lebih kurang 1 bungkus rokok perhari, pasien masih
merokok hingga sekarang.

Autoanamnesis
Pasien membenarkan apa yang dikatakan kakaknya, pasien pernah mondok
di RS Grhasia sebanyak 2 kali, pada tahun 2009 pasien mengatakan sering
mendengar bisikan-bisikan yang menyuruhnya untuk meghancurkan barang-
barang. Bisikan itu mengatakan bahwa dia adalah tuhan. Pasien menyangkal
pernah mencekek ayahnya. Pasien tidak tau mengapa dia dipondokan saat itu,
pasien juga mengaku tidak mau meminum obat karena merasa dirinya tidak sakit.
Pada tahun 2012 pasien mengatakan bisikan-bisikan masih ada sering
menyuruhnya untuk berjalan mencari wangsit. Namun jika pasien sedang berjalan
dan ada orang lain yang berbicara dia merasa orang-orang tersebut mengejeknya,
yang terkadang membuat dia marah dan memukulnya. Pasien juga pernah mencoba
bunuh diri dengan minum pil bodrex 24 butir, pasien juga tidak sadar mengapa dia
sampai minum obat hingga 24 butir. Pada pertengahan tahun 2011 pasien di
pondokan lagi ke RS Grhasia.
Setelah mondok pasien menyadari bahwa bisikan-bisikan dan bayangan
yang sering muncul adalah halusinya. Pasien sudah mau untuk minum obat rutin.
Pasien mengaku sekarang sudah lebih bisa mengontrol emosinya. Sudah tidak
mudah marah-marah.
Pasien mengatakan mempunyai hubungan yang kurang baik dengan ayahnya
dulu, menurutnya didikan ayahnya tidak baik karena jika anaknya salah dihukum.
Ditambah lagi sikapnya orang yang galak dan suka memukul. Pasien mengaku
sering adu mulut dengan ayahnya sejak kecil.
6 bulan yang lalu pasien bercerita mengaku punya pacar, tapi setelah 3 bulan
ini, pacarnya sulit ditemui, pacarnya kemudian memutus hubungan dengannya
dengan sebelah pihak, pasien mengaku belum bisa moveon. Awal sebelum dia
sakit tahun 2009 pasien menceritakan dulu pernah mempunyai pacar, namun
pacarnya meninggalkannya, dan memilih menikah dengan lelaki lain. Perasaan
pasien saat itu sedih, kecewa dan marah. Menurut pasien, setelah kejadian itu
sering mendengar bisikan-bisikan ditelinganya.
Sekarang pasien tinggal dengan ibunya, ayahnya sudah meninggal tahun
2014. Pasien bekerja sebagai buruh, pengakut beras dipasar. Pasien sudah
mengikuti kegiatan dikerja bakti dikampungnya. Pasien adalah perokok, 1 hari bisa
menghabiskan rokok 2 bungkus rokok yang berisi 12 batang. 3 hari ini pasien
susah tidur, pasien mengatakan 3 hari ini susah untuk memulai tidur. Jika malam
bisikan-bisikan yang menyuruhnya untuk marah terdengar ditelinganya.
2.3. Anamnesis Sistem (Keluhan Fisik dan Dampak terhadap Fungsi Sosial dan
Kemandirian) didapat secara autoanamnesis

Sistem Saraf : demam (-) nyeri kepala (-) kejang (-) tremor (+)
Sistem Kardiovaskular : edem kaki (-) nyeri dada (-) jantung berdebar-debar (-)
Sistem Respirasi : terlihat sesak nafas (-), batuk (-), pilek (-)
Sistem Digestiva : BAB normal, muntah (-), diare (-), sulit makan (-) nyeri
perut (-)
Sistem Urogenital : BAK normal
Sistem Integumentum : warna biru pada kuku (-), gatal pada kulit (-)
Sistem Muskuloskeletal : edema (-), bengkak sendi (-), kelemahan otot (-), nyeri
sendi (-)
Kesimpulan secara organik tidak terdapat kelainan pada sistem-sistem organ.
Pasien mengatakan mulai gemetaran sejak 1 tahun yang lalu, sekarang gemetarnya
lebih jauh berkurang.

2.4. Hal-Hal yang Mendahului Penyakit dan Riwayat Penyakit Dahulu


2.4.1. Hal-Hal yang Mendahului Penyakit
Faktor Organik
Panas, kejang, dan trauma fisik satu tahun sebelum mengalami gangguan
disangkal oleh pasien.
Faktor Psikososial (Stressor Psikososial)
Pasien merasa tidak nyaman dengan didikan ayahnya yang menurutnya
seseorang yang galak dan suka memukul
Faktor Predisposisi
Penyakit herediter diduga ada keterkaitan, kakek dari ayah kandung
pasien memiliki riwayat gangguan jiwa.
Faktor Presipitasi
Pasien mempunyai hubungan dekat dengan seseorang wanita, namun
ternyata wanita tersebut memilih menikah dengan lelaki lain dan
meninggalkannya.
2.4.2. Riwayat Penyakit Dahulu autoanamnesis
Riwayat Penyakit Serupa Sebelumnya
Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
Riwayat Sakit Berat/Opname
- Pernah dirawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah karena
keracunan obat bodrex 24 butir yang diminumnya sendiri
- Pernah dirawat di RSJ Grhasia sebanyak lebih dari 2 kali masing-
masing selama 1 bulan.
2.5. Riwayat Keluarga
2.5.1. Pola Asuh Keluarga
Autoanamnesis
Pasien merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Sejak kecil tinggal
bersama orang tua, kakak dan adiknya. Sosok ayah merupakan ayah yang
tegas, galak, suka menghukum dan memukul, ayahnya bekerja sebagai
tukang becak dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Setaip anak di
keluarganya di didik untuk hidup secara mandiri.

2.5.2. Riwayat Penyakit Keluarga


Dari hasil alloanamnesis dengan kakak pasien, dikatakan bahwa kakek dari
ayah kandung pasien juga mengalami keluhan serupa dengan pasien.

2.5.3. Silsilah Keluarga

75th 70th

48 th 38 th 45th 40th 32th 30th

Keterangan :
: Laki-laki : Perempuan
2.6. Riwayat Pribadi
2.6.1. Riwayat Kelahiran
Menurut kakaknya semua anak dikeluarganya ditolong kelahirannya
didukun.

2.6.2. Latar Belakang Perkembangan Mental


Menurut pengakuan dari kakaknya, tidak ada kelainan perkembangan mental
adiknya sejak kecil adiknya bergaul biasanya dengan tetangga-tetangganya.
Sering bermain dengan adik dan kakaknya. Namun sifat pasien, menurut
kakaknya sering ingin menang sendiri dan tidak mau mengalah.

2.6.3. Perkembangan Awal


Menurut keterangan dari kakak pasien, tidak ada keterlambatan pada tumbuh
kembang pasien.

2.6.4. Riwayat Pendidikan


Pasien menyelesaikan pendidikannya hingga SMP karna keadaan sosial
ekonomi dikeluarganya yang tidak mampu.
SD : lulus
SMP : lulus
Prestasi yang dicapai oleh pasien selama sekolah tergolong cukup baik,
pasien dapat menyelesaikan sekolah dengan baik, tidak pernah tinggal kelas.

2.6.5. Riwayat Pekerjaan


Semenjak lulus SMP pasien bekerja serabutan mulai dari tukang bangunan,
tukang becak, tukang ojek, tukang koran pasien mengaku sering bergonta
ganti pekerjaan.

2.6.6. Riwayat Perkembangan Psikoseksual


Pasien pernah mempunyai pacar saat umurnya 27 tahun, hubungan dengan
pacarnya baik-baik saja, namun setelah 1 tahun berhubungan, sikap
pacarnya mulai berubah, diketahui pacarnya sudah memiliki lelaki lain.
Dan pacarnya memutuskan untuk menikah dengan lelaki itu. Perasaan
pasien saat itu putus asa, marah, kecewa, sedih.
Sekitar 6 bulan yang lalu, pasien mengaku mempunyai pacar, namun
sekitar 3 bulan ini, pasiennya sulit ditemui, kemudian pacarnya
memutuskan hubungan dengannya secara sebelah pihak. Pasien mengaku
belum bisa move on.

2.6.7. Sikap dan Kegiatan Moral Spiritual


Agama Islam
Tidak rutin menjalankan salat

2.6.8. Riwayat Perkawinan


Pasien belum pernah menikah.

2.6.9. Riwayat Kehidupan Emosional (Riwayat Kepribadian Premorbid)


Mudah tersinggung
Tidak sabar

2.6.10. Hubungan Sosial


Menurut penjelasan kakak pasien, hubungan sosial pasien dengan teman-
temannya sebelum sakit baik. Hubungan dengan tetangga tempat tinggal
pasien juga baik. Pasien sering mengikuti acara dan kegiatan di kampungnya.
Pasien mengaku tidak pernah mempunyai masalah dengan tetangga dan
teman-temannya.

2.6.11. Kebiasaan
Pasien mengaku memiliki hobi merokok, bisa menghabiskan 2 bungkus
rokok sehari, 1 bungkus = 12 batang. Pasien pernah mencoba mengkonsumsi
alkohol namun sekarang tidak lagi, terakhir kali sebelum taun 2009. Pasien
tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan (kecuali yang diberikan dokter).

2.6.12. Status Sosial Ekonomi


Keluarga pasien bisa dikatakan merupakan keluarga yang dikategorikan
rendah. Sumber penghidupannya didapat dari pasien sendiri. Terkadang
dibantu kakak dan adiknya. Ibu pasien sudah tua berusia 70 tahun, tidak
bekerja terkadang membantu pekerjaan rumah yang ringan.

2.6.13. Riwayat Khusus


Pengalaman militer (-)
Urusan dengan polisi (-)

2.6.14 Tingkat Kepercayaan Alloanamnesis


Autoanamnesis dan Alloanamnesis : dapat dipercaya

2.7 Kesimpulan Alloanamnesis


Laki-laki 40 tahun menunjukkan perubahan perilaku sejak tahun 2009
Pasien suka mengamuk mulai merusak barang, pernah mencoba mencekek
ayahnya.
Pasien dirawat inap di RSJ Grhasia selama 1 bulan. Setelah keluar pasien tidak
melanjutkan pengobatan, tidak mau minum obat
Pasien kambuh lagi tahun 2012 mulai keluyuran keluar dari rumah, sulit tidur,
berkeliling kampung, tidak ada tujuan yang jelas, pernah tetangganya dipukul
dengan kayu, mengancam akan membunuh tetangganya, pasien juga pernah naik
ke atas atap berteriak-teriak tanpa alasan, pernah minum obat hingga keracuan.
Pasien dirawat inap lagi di RSJ Grahasia 1 bulan
Pasien berobat rutin sejak tahun 2012, minum obat secara teratur, keadaannya
mulai membaik, keluhan-keluhan halusinasi mulai menghilang
Pasien memiliki kebiasaan merokok, 1 hari habis 2 bungkus = 24 batang, pasien
mengaku terakhir meminum alkohol tahun 2009, tidak mengkonsumsi obat
diluar resep dokter.
Tidak terdapat kelainan pada sistem-sistem organ.
Terdapat stressor psikososial dari ayahnya, pasien merasa tidak nyaman dengan
ayahnya yang menurutnya seseorang yang galak dan suka memukul.
Mempunyai riwayat psikoseksual yang buruk, pernah menjalin hubungan
dengan seseorang, namun pacarnya tersebut meninggalkanny dan
mengecewakannya.
Pasien saat ini tinggal bersama ibunya.
Pasien bisa dikatakan memiliki ekonomi yang rendah.
Pasien memiliki pola asuh keluarga yang keras.
Pasien mempunyai sifat mudah tersinggung dan tidak sabar
Pasien sekarang bekerja menjadi buruh, pengangkat beras dipasar, sebelum sakit
pasien merupakan pekerja serabutan, pernah menjadi, tukang bangunan, tukang
becak, tukang koran.
Pasien belum menikah.
Pasien tidak menjalankan kegiatan moral spiritual dengan rutin (sholat &
mengaji).

3 PEMERIKSAAN FISIK
3.7 Status Pemeriksaan Fisik
3.1.1. Status Internus
Tanggal Pemeriksaan: 6 Agustus 2016
Keadaan Umum : Compos Mentis
Bentuk Badan : tidak ditemukan kelainan
Berat Badan : 75 kg
Tinggi Badan : tidak dilakukan pengukuran
Tanda Vital
- Tekanan Darah : 110/90 mmHg
- Nadi : 76 x/menit
- Respirasi : 20 x/menit
- Suhu : Afebris
Kepala
- Inspeksi wajah : tidak ditemukan adanya kelainan
- Mata : conjunctiva anemis (-), sklera ikterik (-)
Leher
- Inspeksi : leher tampak bersih
- JVP : tidak dilakukan pemeriksaan
Thorax
- Sistem Kardiovaskuler : S1 S2 reguler
- Sistem Respirasi : vesikuler (+), wheezing (-), Ronki (-),
Abdomen
Sistem Gastrointestinal : bising usus (+), nyeri tekan (-)
Sistem Urogenital : tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas
- Sistem Muskuloskeletal : tidak ditemukan kelainan, tremor (-), kaku (-)
Sistem Integumentum : tidak ditemukan kelainan

Kesan Status Internus : Dalam batas normal, meskipun beberapa


pemeriksaan tidak dilakukan.

Status Neurologis
Kepala dan Leher : tidak dilakukan
Tanda Meningeal : tidak dilakukan
Kekuatan Motorik : tidak dilakukan
Sensibilitas : tidak dilakukan
Refleks Fisiologis : tidak dilakukan
Refleks Patologis : tidak dilakukan
Gerakan Abnormal : tidak dilakukan
Gangguan Keseimbangan dan Koordinasi Gerakan : tidak dilakukan

3.1.2. Hasil Pemeriksaan Penunjang


EKG : tidak dilakukan pemeriksaan.
EEG : tidak dilakukan pemeriksaan.
CT Scan : tidak dilakukan pemeriksaan.
Foto Rontgen : tidak dilakukan pemeriksaan.
LAB darah : tidak dilakukan pemeriksaan.

3.8 Status Psikiatri


Tanggal Pemeriksaan: 6 Agustus 2016
3.2.1. Kesan Umum
Laki-laki 40 tahun sesuai umur, tidak tampak sakit jiwa, kooperatif,
berpakaian sesuai jenis kelaminnya, dan rawat diri kurang.

Status Psikiatri Hasil Keterangan


Kesadaran Kuantitatif: GCS E4V5M6 Pasien sadar penuh

Kualitatif : Compos mentis


Gambaran Umum
Penampilan/rawat diri Kurang Pakaian pasien terlihat lusuh, rambut
tidak disisir.
Perilaku dan aktivitas Normoaktif Perilaku dan aktivitas normal
Sikap terhadap Kooperatif Pasien dapat diajak bekera sama
pemeriksa ketika diwawancarai
Pembicaraan Kuantitas : bicara cukup Pasien berbicara cukup, dapat

Kualitas : relevansi dimengerti, menjawab sesuai dengan


yang ditanyakan saat wawancara
Perhatian Mudah ditarik, mudah Pasien memperhatikan pemeriksa
dicantum saat ditanya dan tetap fokus
Mood dan Afek
Mood Eutimik Suasana perasaan dalam rentang
normal
Afek Appropriate Ekspresi wajah pasien sesuai dengan
apa yang diungkapkannya.
Sensorium dan
Kognitif
Orientasi Orang: baik Pasien dapat mengenali siapa saja
yang tinggal dengannya
Waktu: baik Pasien dapat mengetahui tanggal dan
jam hari itu saat diperiksa
Tempat: baik Pasien dapat menunjukkan rumah
sakit tempat pasien periksa
Situasi : baik Pasien dapat mengatakan kondisi
saat itu tidak terlalu ramai.
Daya Ingat Memori segera (immediate) Pasien dapat mengingat nama
pemeriksa yg baru dikenalnya.
Memori jangka pendek Pasien dapat menceritakan aktivitas
(recent) apa yang tadi pagi dilakukan.
Memori jangka menengah Pasien ingat kejadian beberapa bulan
(recent past) yang lalu.
Memori jangka panjang Pasien ingat berapa lama dia
(remote) diopname.
Kosenrasi &
Konsentrasi : baik Pasien dapat melakukan
perhatian
pengurangan 90-7 secara berurutan

Perhatian : baik Pasien diminta untuk mengeja huruf


dari belakang dari kata Wanita
Pasien dapat membaca sebuah

Kapasitas Membaca Membaca : baik kalimat dengan baik

& Menulis Pasien dapat menulis dengan baik

Menulis : baik
Pasien tidak mengerti makna dari
Pikiran absrak Kurang baik peribahasa besar pasak daripada
tiang.
Pasien dapat menjawab ibukota dari
Pengetahuan Umum Baik Indonesia
Persepsi Halusinasi auditorik (+) Pasien mengatakan bisikan-bisikan
itu menyuruhnya untuk marah-marah
Pikiran Bentuk pikir: realistik Apa yang disampaikan oleh pasien
sesuai dengan kenyataan.

Isi pikir:
Waham (-), Fobia (-),
gagasan bunuh diri (-)
Insight Derajat 4 Pasien menyadari dirinya sakit dan
butuh bantuan tetapi tidak
memahami penyebab sakitnya.

3.2.2. Gangguan Intelegensi Sesuai Umur / Pendidikan


Tidak ada.

3.9 Hasil Pemeriksaan Psikologis


3.3.1. Kepribadian
Tidak dilakukan tes
3.3.2. IQ
Tidak dilakukan tes
3.3.3. Lain-Lain
Tidak ada

4 RANGKUMAN DATA YANG DIDAPATKAN PADA PENDERITA


4.1. Tanda-Tanda (Sign)
a. Penampilan
Pasien tampak sehat, kooperatif, penampilan sesuai umur, berpakaian sesuai
jenis kelamin dan rawat diri kurang.
b. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Cara berjalan biasa, gerakan tubuh biasa, semua dalam batas normal.
c. Pembicaraan (kuantitas, kecepatan produksi bicara, kualitas)
Bicara cukup, relevan dan koheren : Dalam batas normal

4.2. Gejala (Simtom)


a. Halusinasi (+) dan ilusi tidak ada.
b. Orientasi orang, waktu, tempat dan situasi baik.
c. Mood eutimik.
d. Afek appropriate.

4.3. Kumpulan Gejala (Sindrom)


Pada saat anamnesis, pasien terlihat lebih tenang dan dapat bercerita tentang
dirinya, gejala yang muncul saat ini adalah halusinasinya, pasien masih mendengar
bisikan-bisikan yang menyuruhnya untuk marah, pasien juga mengeluhkan sulit
untuk memulai tidur, saat ini pasien sudah bisa bekerja dan melakukan aktivitas
seperti biasa.

5 DIAGNOSIS BANDING
- F 20. 3 Skizofrenia tak terinci
- F 20. 0 Skizofrenia Paranoid
- F 20. 5 Skizofrenia Residual

6 RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG (Laboratorium, EKG, EEG, CT Scan)


Tidak perlu dilakukan karena pasien tidak menunjukkan gejala-gejala patologik pada
organ.

7 DIAGNOSIS
AKSIS I (Gangguan jiwa, kondisi yang menjadi fokus perhatian)
F20.3 Skizofrenia Tak Terinci Remisi dengan ekstrapiramidal sindrome

AKSIS II (Gangguan kepribadian, retardasi mental)


Z 03.2

AKSIS III (Kondisi Medik Umum)


Tidak ada

AKSIS IV (Stressor Psikososial)


Masalah psikososial & psikoseksual
Masalah ekonomi

AKSIS V (Fungsi Sosial)


GAF 70-61 Beberapa gejala ringan dan menetap, diabilitas ringan dalam fungsi,
secara umum masih baik

8 RENCANA TERAPI/PENATALAKSANAAN
Farmakoterapi
Risperidon 2mg -0-1
Trihexiphenidil 2mg -0-1
Clozapine 1x50mg (malam)

Psikoterapi
o Terapi keluarga
Peran keluarga dalam perawatan pasien skizofrenia, memberikan pendidikan dan
informasi tentang skizofrenia pada keluarga pasien (misalkan tanda-tanda awal dari
kekambuhan, peran pengobatan, dan efek samping obat yang diberikan). Terapi ini
juga untuk mencegah munculnya ekspresi emosi yang meningkat dari pasien.
o Terapi kelompok
Terapi kelompok biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam
kehidupan nyata. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial dan
meningkatkan rasa persatuan. Pasien dengan gejala negative, meskipun mereka
tampak tidak berpartisipasi aktif tapi biasanya mereka tetap mendengarkan.

9 PROGNOSIS

Indikator Pada Pasien Prognosis


FAKTOR PREMORBID
1. Ada Jelek
Faktor genetik Keras Jelek
2. Tidak ada Baik
Pola asuh Ada Baik
3. Ekonomi rendah Jelek
Faktor organik Ada Jelek
4. Belum menikah Jelek
Dukungan keluarga Jarang Jelek
5.
Sosioekonomi
6.
Faktor pencetus
7.
Status perkawinan
8.
Kegiatan spiritual
9. Lansia Jelek
Onset usia Kronik Jelek
10. Skizofrenia Jelek
FAKTOR

Kesimpulan prognosis: Dubia ad malam

10 RENCANA FOLLOW UP
Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya serta efektivitas obat,
dan kemungkinan munculnya efek samping dari terapi yang diberikan.
Memastikan pasien mendapat psikoterapi keluarga dan kelompok.

11 DISKUSI
Pedoman menurut DSM IV
DSM-IV mempunyai kriteria diagnosis resmi dari American Psychiatric Association
untuk skizofrenia. Kriteria diagnosis skizofrenia menurut DSM-IV adalah:
a) Gejala karakteristik: dua (atau lebih) berikut, masing-masing ditemukan untuk bagian
waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan
berhasil):
1. Waham
2. Halusinasi
3. Bicara terdisorganisasi (misalnya, sering menyimpang atau inkoheren)
4. Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas
5. Gejala negatif, yaitu, pendataran afektif, alogia, atau tidak ada kemauan
(avolition)
Catatan: hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau atau
halusinasi terdiri dari suara yang terus-menerus mengkomentari perilaku atau pikiran
pasien, atau dua atau lebih suara yang saling bercakap satu sama lainnya.
b) Disfungsi sosial atau pekerjaan: untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset
gangguan, satu atau lebih fungsi utama, seperti pekerjaan, hubungan interpersonal,
atau perawatan diri, adalah jelas di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset (atau
jika onset pada masa anak-anak atau remaja, kegagalan untuk mencapai tingkat
pencapaian interpersonal, akademik, atau pekerjaan yang diharapkan).
c) Durasi: tanda gangguan menetap terus-menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan.
Periode 6 bulan ini harus termasuk sekurangnya 1 bulan gejala (atau kurang jika
diobati dengan berhasil) yang memenuhi kriteria A (yaitu, gejala fase aktif) dan
mungkin termasuk periode gejala prodormal atau residual. Selama periode prodormal
atau residual, tanda gangguan mungkin dimanifestasikan hanya oleh gejala negatif
atau dua atau lebih gejala yang dituliskan dalam kriteria A dalam bentuk yang
diperlemah (misalnya, keyakinan yang aneh, pengalaman persepsi yang tidak lazim).
d) Penyingkiran gangguan skizoafektif dan gangguan mood: Gangguan skizoafektif dan
gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan karena:
1. Tidak ada episode depresif berat, manik, atau campuran yang telah terjadi
bersama-sama dengan gejala fase aktif; atau
2. Jika episode mood telah terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya adalah
relatif singkat dibanhdingkan durasi periode aktif dan residual.
e) Penyingkiran zat/kondisi medis umum: Gangguan tidak disebabkan oleh efek
fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya obat yang salah digunakan, suatu
medikasi) atau suatu kondisi medis umum.
f) Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif: jika terdapat riwayat adanya
gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasif lainnya, diagnosis tambahan
skizofrenia dibuat hanya jika waham atau halusinasi yang menonjol juga ditemukan
untuk sekurangnya 1 bulan (atau kurang jika diobati secara berhasil).

Pedoman menurut PPDGJ III


Dalam PPDGJ III dijelaskan bahwa untuk menegakkan diagnosis skizofrenia harus ada
sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila
gejala-gejala itu kurang tajam atau jelas).
1. Salah satu dari:
- thought echo : isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda; atau
- thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar
dirinya (withdrawal); dan
- thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau
umum mengetahuinya;
2. Salah satu dari:
- delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan
tertentu dari luar; atau
- delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan
tertentu dari luar; atau
- delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya : secara jelas merujuk ke pergerakan
tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus);
- delusional perception : pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna
sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;

3. Halusinasi auditorik:
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien,
atau
- Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara
yang berbicara), atau
- Jenis suara halusinasi lain yang berasala dari salah satu bagian tubuh
4. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik
tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu
mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

Atau paling sedikit dua gejala ini yang harus selalu ada secara jelas:
5. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham
yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang
jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau
apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus-
menerus;
6. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang
berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;
7. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu
(posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;
8. Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respon
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya mengakibatkan penarikan diri
dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua
hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

Adanya gejala-gejala khas tersebut di atas telah berlangsung selama kurun waktu satu
bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodormal);
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
(overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatau, sikap
larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.

Diagnosis Banding
Skizofrenia Paranoid (F 20.0)
Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia. Sebagai tambahan :
- halusinasi dan/ atau waham harus menonjol;
a. suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi
auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit, mendengung, atau bunyi tawa.
(Terpenuhi)
b. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa atau bersifat seksual, ata lain-lain
perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol. (Tidak
terpenuhi)
c. Waham dapat berupa hampir setiap jenis tetapi waham dikendalikan, dipengaruhi,
atau passivity, dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam adalah yang paling
khas. (Tidak terpenuhi)
- gangguan afektif, dorongan kehendak, pembicaraan, serta gejala katatonik secara
relatif tidak nyata/ tidak menonjol.

Skizofrenia Residual (F 20.5)


Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus dipenuhi
semua :

a. gejala negatif dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan psikomotor,


aktivitas menurun, afek yang tumpul, sikap pasif dan ketidaan inisiatif, kemiskinan
dalam kualitas atau isi pembicaraan, komunikasi non verbal yang buruk seperti
dalam ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri
dan kinerja sosial yang buruk. (Tidak terpenuhi)

b. Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang
memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia. (Terpenuhi)

c. Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan
frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang
(minimal) dan telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia. (Terpenuhi)

d. Tidak terdapat dimentia atau penyakit/gangguan otak organik lain, depresi kronik
atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut.
(Terpenuhi)

Menurut saya pasien ini menderita skizofrenia tak terinci (F 20.3),


Skizofrenia tak terinci merupakan suatu tipe yang seringkali dijumpai pada
skizofrenia. Pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam
salah satu tipe dimasukkan dalam tipe ini.
PPDGJ III mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak terinci.
Kriteria diagnostic menurut PPDGJ III yaitu:
Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia (Terpenuhi)
Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau
katatonik. (Terpenuhi)
Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia.
(Terpenuhi)
Kriteria diagnostic menurut DSM-IV yaitu:
Suatu tipe skizofrenia di mana ditemukan gejala yang memenuhi kriteria A tetapi tidak
memenuhi kriteria untuk tipe paranoid, terdisorganisasi atau katatonik.
Kriteria Diagnostik A:
Gejala karakteristik: dua atau lebih berikut, masing masing ditemukan untuk bagian
waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan
berhasil):
1) Waham
2) Halusinasi
3) Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau inkoheren)
4) Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas
5) Gejala negative yaitu, pendataran afektif, alogia atau tidak ada
kemauan(avolition)
Catatan: hanya satu gejala criteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau
atau halusinasi terdiri dari suara yang terus menerus mengkomentari perilaku
atau pikiran pasien, atau dua atau lebih suara yang saling bercakap satu sama
lainnya.
Pada pasien ini memenuhi kriteria untuk skizofrenia tetapi tidak memenuhi untuk diagnosis
skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau katatonik. Sehingga pasien ini digolongkan dalam
skizofrenia tak terinci.

Penanganan Terapi Farmakalogi pada pasien dengan skizofrenia adalah dengan obat
antipsikotik Obat antipsikotik dibagi menjadi antipsikotik tipikal (antipsikotik
konvensional/antipsikotik klasik) dan antipsikotik atipikal (novel antipsychotics), dimana
terdapat perbedaan mekanisme kerja dan profil efek samping di antara kedua golongan
tersebut.
Tabel di bawah ini memperlihatkan klasifikasi antipsikotik yang umum dipergunakan
beserta dosis pemakaiannya
Antipsikotik Group Kimia Dose Anjuran
(mg/hari p.o)
Typical
Chlorpromazine (Larga ctil) Phenothiazine (aliphatic) 150 600
Thioridazine (Melleni) Phenothiazine (piperidine) 150 600
Trifluoperazine (Stelazine) Phenothiazine (peperazine) 10 15
Butyrophenone 5 15
Haloperidol (Serenace)
Diphenilbutylpiperidine 24
Pimozide (Orap Forte)
Atypical
Dibenzodiazepine 25 100
Clozapine (Clozaril) Dibenzodiazepine 10 20
Qlazapine (Zyprexa) Dibenzodiazepine 50 400
Quetiapine (Seroquel) Benzisoxazole 26
Benzamide 300 600
Risperidone (Risperdal)
Sulpiride (Dogmatil forte)

Antipsikotik tipikal mempunyai mekanisme kerja dengan memblokade dopamin pada


reseptor pascasinaptik di jalur limbik dan ekstrapiramidal otak. Blokade ini dipikirkan
memperantarai efikasi antipsikotik tipikal dalam kemampuan mengurangi atau
menghilangkan simtom positif psikotik.
Efek terapetik antipsikotik atipikal dapat diterangkan dengan mekanisme kerja
sebagai berikut: 1) Blokade reseptor D2 pada jalur mesolimbik akan mengurangi simptom
positif; 2) Peningkatan pembebasan dopamin dan blokade reseptor 5 HT2A pada jalur
mesokortikal akan mengurangi simtom negatif; 3) Ikatan dengan reseptor lain memberi
kontribusi terhadap efikasi dalam pengobatan simtom kognitif, agresif dan depresi; 4)
Antagonisme 5 HT2A pada jalur nirostriatal akan mengurangi simtom ekstrapiramidal dan
diskinesia tardif; 5) Antagonisme 5 HT2A pada jalur tubulo infundibular akan mengurangi
hiperprolaktinemia.
Pada pasien ini menggunakan terapi obat Risperidon 2mg yang diberikan pagi 1/2 tab
siang (-) malam 1 tab yang berfungsi untuk mengatasi gejala positif dari pasien dan
Clozapine 50 mg yang diberikan pada malam hari berfungsi untuk membantu tidur pasien,
karena clozapine ini mempunyai efek sedasi besar daripada Risperidon. Dan penggunaan
Trihexypenidil adalah untuk mengatasi gejala efek samping ekstramidal sindrom yang terjadi
pasien.
Selain terapi obat-obatan juga bisa diterapkan terapi psikososial yang terdiri dari
terapi perilaku : terapi berorientasi keluarga, terapi kelompok, psikoterapi visual. Terapi
perilaki, latihan keterampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan
menolong diri sendiri, dan komunikasi interpersonal. Terapi berorientasi keluarga cukup
berguna dalam pengobatan skizofrenia. Terapi kelompok biasanya memusatkan pada rencana,
masalah dan hubungan dalam kehidupan nyata. Psikoterapi, terapi religius dan perilaku perlu
diberikan pada pasien ini.
Prognosis untuk pasien ini adalah dubia ad malam, karena dilihat dari diagnosis
penyakit, perjalanan penyakit, ciri kepribadian, stressor psikososial, usia pasien, ekonomi
yang kurang.
Daftar Pustaka
1. Maslim Rusdi, (2001). Buku Saku Diagnosa Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas Dari PPDGJ
III. Nuh Jaya. Jakarta
2. Syamsulhadi dan Lumbantobing. Skizofrenia. Jakarta: FK UI. 2007. 26-34
3. Goodman dan Gilman. Dasar Farmakologi Terapi Vol 1. Jakarta ; EGC. 2009.475,480-482