Anda di halaman 1dari 20

UJIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA

Disusun Untuk Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul

Diajukan kepada :
dr. Vista Nurasti Pradanita, M.Kes,Sp.KJ

Disusun oleh :
Yoga Pribadi utomo
20110310180

SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA


RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016
LEMBAR PENGESAHAN

LONG CASE

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian
Ilmu Kedokteran Jiwa
RSUD Panembahan Senopati Bantul

Disusun oleh :
Yoga Pribadi Utomo
20110310180

Telah disetujui dan dipresentasikan pada tanggal: Januari 2017

Pembimbing

dr. Vista Nurasti Pradanita, M.Kes,Sp.KJ

2
STATUS PSIKIATRI

1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Sdr. G B S
Jenis Kelamin : Laki - laki
Umur : 20 tahun
Agama : Katolik
Pendidikan : D1 Asisten apoteker
Pekerjaan : Tidak bekerja
Bangsa/suku : Indonesia/Jawa
Alamat : Ngireng-ngireng, Sidomulyo, Bambanglipuro
No. RM :108676
Tanggal diperiksa : 29 Desember 2016

2. PENDAMING PASIEN
Nama : Bp. A
Jenis Kelamin : Laki - laki
Umur : 56 tahun
Agama : Katolik
Pekerjaan : Petani
Bangsa/suku : Indonesia/Jawa
Alamat : Ngireng-ngireng, Sidomulyo, Bambanglipuro
Status : Ayah
Lama kenal : 20 tahun

2.1. Tanggal diperiksa : 29 Desember 2016


2.2. Sebab Dibawa ke Rumah Sakit (Keluhan Utama)
Pasien datang ke poli Jiwa dengan keluhan kambuh lagi sejak kurang lebih 1 bulan
terakhir.

2.3. Riwayat Perjalanan Penyakit (Riwayat Penyakit Sekarang)


Autoanamnesis ( 29-12-2016)
Pasien datang ke poli Jiwa bersama Ayah nya untuk kontrol ke Rumah sakit,
pasien mengatakan menjadi pelupa dan sering bingung ketika menaruh barang

3
tetapi tidak mengetahui hal-hal yang menyebabkan dia menjadi pelupa. Tidak ada
masalah dengan tidur malam. Pasien selalu dapat tidur sekitar jam 9 malam dan
terbangun saat pagi hari sekitar jam 5 sampai jam 6.
Pasien teringat akan kejadian ingin bunuh diri beberapa bulan yang lalu karena
merasa di ejek oleh teman-temannya, tetapi dapat di cegah oleh kedua orang
tuanya. Pasien terkadang merasa sedih jika teringat masalah dengan teman-
temannya. Pasien juga mengatakan saat kuliah pernah di paksa temannya bernama
Rudy untuk masuk islam.
Hampir setiap malam, pasien melihat nyi blorong jalan mondar-mandir di
depan rumahnya, dan pasien mengikutinya. Pasien tidak mengerti kenapa
mengikuti nyi blorong. Dan setelah beberapa saat di ikuti, nyi blorong akan terbang
menghilang.
Pasien mengatakan beberapa bulan yang lalu, pasien sempat mati suri. Saat
mati suri, pasien melihat kakeknya masuk surga firdaus sedangkan neneknya
masuk neraka. Setelah terlahir kembali, pasien merasa memiliki indera ke enam
yang berfungsi untuk mengawasi orang baik dan jujur. Pasien juga merasa dirinya
adalah anak Tuhan karena jiwa raganya sudah dirasuki Gusti Allah SWT.
Pasien juga mengatakan bahwa kedua orang tua dan adiknya adalah orang
kafir, karena di kalungi, kalung dajal. Pasien merasa sering mendengar suara-suara
geremeng yang tidak jelas asal-usulnya, serta mencium bau bunga kamboja. Bau
juga tercium saat di ruang pemeriksaan.

Alloanamnesis (Ayah pasien)


Kejadian diawali sejak bulan Juli 2016 dimana ayah dan ibu pasien mendapati
anaknya terkadang bertingkah laku aneh seperti senyum-senyum sendiri, tetapi
orang tua tidak terlalu menanggapi tingkah laku pasien. Pada bulan September,
tiba- tiba pasien menangis dan bercerita kepada ayah nya bahwa selama sekolah di
SMP,SMA dan kuliah dia sering di ganggu dan di bully oleh teman-temannya.
Sebelumnya pasien belum pernah bercerita kepada orang tuanya bahwa selama di
sekolah ada masalah dengan teman-temannya. Ayah pasien mengatakan anaknya
adalah anak yang pendiam, selalu minder dan tidak suka bercerita apabila ada
masalah. Di lingkungan sekolah dan rumah, pasien tidak memiliki teman akrab.
Pasien juga jarang bersosialisasi dengan tetangganya.

4
Sejak saat itu pasien sering mengurung diri di dalam kamar dan terlihat
bingung serta mengatakan melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh orang lain.
Pasien juga pernah mengatakan pada orang tuanya bahwa dia mempunyai penyakit
kanker stadium 4 dan sudah tidak bisa disembuhkan. Hampir setiap malam pasien
sering berjalan mondar-mandir sendiri tanpa tujuan.
Ayah pasien mengatakan Rudy adalah teman dekat pasien di tempat kuliah dan
sering main ke rumah. Ayah pasien membenarkan bahwa Rudy mengajak anaknya
untuk masuk Islam tetapi tidak ada paksaan.
Pasien datang ke poli Jiwa karena kambuh lagi sejak kurang lebih 1 bulan
terakhir. Pasien tidak minum obat sejak 1 bulan terakhir karena sang ayah merasa
anaknya sudah membaik.

2.4. Anamnesis Sistem (Keluhan Fisik dan Dampak terhadap Fungsi Sosial dan
Kemandirian) didapat secara autoanamnesis dan alloanamnesis
Sistem Saraf : Demam (-) nyeri kepala (-) kejang (-) tremor (-)
Sistem Kardiovaskular : Edem kaki (-) nyeri dada (-) jantung berdebar-debar (-)
Sistem Respirasi : Terlihat sesak nafas (-), batuk (-), pilek (-)
Sistem Gastrointestinal : BAB normal, muntah (-), diare (-), nyeri perut (-)
Sistem Urogenital : BAK normal
Sistem Integumentum : Warna biru pada kuku (-), gatal pada kulit (-)
Sistem Muskuloskeletal : Edema (-), bengkak sendi (-), kelemahan otot (-), nyeri
sendi (-), kaku (-)

2.5. Grafik Perjalanan Penyakit

Gejala

Juli Okt Nov Des


2016 o 201 201

Fungsi

5
Hal-Hal yang Mendahului Penyakit dan Riwayat Penyakit Dahulu
2.5.1. Hal-Hal yang Mendahului Penyakit alloanamnesis
Faktor Organik
Panas, kejang, dan trauma fisik satu tahun sebelum mengalami gangguan
disangkal oleh pasien.
Faktor Psikososial (Stressor Psikososial)
- Kepribadian pasien yang pendiam dan tidak mudah bergaul
- Riwayat pem-bully-an oleh teman-teman saat SMP, SMA, dan kuliah
Faktor Predisposisi
- Riwayat dijauhi dan di-bully oleh teman-temannya saat SMP dan
SMA
Faktor Presipitasi
- Pasien tidak rutin kontrol dan minum obat.
2.5.2. Riwayat Penyakit Dahulu alloanamnesis
Riwayat Penyakit Serupa Sebelumnya
- Pasien belum pernah mengalami keluhan serupa
Riwayat Sakit Berat/Opname
Riwayat sakit berat hingga opname disangkal

2.6. Riwayat Keluarga alloanamnesis


2.6.1. Pola Asuh Keluarga
Pola asuh keluarga adalah pola asuh permisif. Keluarga mendukung setiap
kegiatan positif yang di lakukan pasien
2.6.2. Riwayat Penyakit Keluarga
Dari hasil alloanamnesis ayah pasien, nene pasien yang sudah meninggal
pernah mengalami gangguan jiwa sementara setelah mengalami perdarahan
saat melahirkan

6
2.6.3. Silsilah Keluarga

1960 1971

199 2006
Keterangan :
6

= Laki laki = Gangguan Jiwa

= Perempuan

= Meninggal

2.7. Riwayat Pribadi (autoanamnesis)


2.7.1. Riwayat Kelahiran
Pasien lahir normal dengan bantuan bidan
2.7.2. Latar Belakang Perkembangan Mental
Pasien tumbuh menjadi anak yang pendiam dan kurang terbuka pada
kedua orang tuanya sejak kecil.
2.7.3. Perkembangan Awal
Pasien tumbuh sesuai anak-anak lainnya. Namun saat usia 2 tahun
belum bisa berbicara lebih dari 2 kata dan diperiksa di poli saraf RSUP
dr.Sardjito namun tidak ditemukan kelainan pada pasien. Tidak di
lakukan terapi wicara

7
2.7.4. Riwayat Pendidikan
Pendidikan terakhir pasien adalah D1 asisten apoteker
2.7.5. Riwayat Pekerjaan
- Pasien pernah bekerja sebagai penagih hutang di koperasi simpan
pinjam selama 9 hari pada bulan November. Setelah kondisi
kejiwaan memburuk lagi, pasien memutuskan berhenti.
- Pasien sering di marahi pengawasnya.
2.7.6. Riwayat Perkembangan Psikoseksual
Pasien tidak pernah mengalami kekerasan seksual semasa kanak-kanak.
2.7.7. Sikap dan Kegiatan Moral Spiritual
- Agama Katolik
- Pasien tidak tahu apa itu agama,dan mengatakanTuhannya dalah
Allah SWT
2.7.8. Riwayat Perkawinan
Pasien belum pernah menikah
2.7.9. Riwayat Kehidupan Emosional (Riwayat Kepribadian Premorbid)
- Tidak suka bercerrita tentang masalah yang dihadapi
- Pendiam
- Tidak mudah bergaul
2.7.10. Hubungan Sosial
Pasien tidak memiliki teman dekat sejak kecil. Pasien jarang
bersosialisasi dengan tetangga sekitar rumah karena lebih sering
menyendiri di rumah.
2.7.11. Kebiasaan
Pasien mengatakan tidak memiliki kebiasaan yang spesifik seperti
merokok, mengkonsumsi alkohol maupun obat-obatan (kecuali yang
diberikan dokter).
2.7.12. Status Sosial Ekonomi
Pasien tidak bekerja sehingga kehidupan sehari-hari ditopang oleh
ayahnya yang bekerja sebagai petani dengan hasil panen yang tidak
menentu. Orang tua pasien kadang bisa menabung untuk kebutuhan
keluarga. Keluarga pasien tidak memiliki hutang
2.7.13. Riwayat Khusus
Pengalaman militer (-)

8
Urusan dengan polisi (-)
2.8. Tingkat Kepercayaan Autoanamnesis
Autoanamnesis : dapat dipercaya karena pasien konsisten dalam menjawab
Alloanamesis : dapat dipercaya
2.9. Kesimpulan Autoanamnesis
Dihadapkan seorang laki-laki usia 20 tahun dan ayahnya yang berusia
56 tahun datang dengan keluhan pasien kambuh karena sudah tidak minum
obat 1 bulan.

3. PEMERIKSAAN FISIK
3.1. Status Pemeriksaan Fisik
3.1.1. Status Internus
Tanggal Pemeriksaan: 29 Desember 2016
Keadaan Umum : Compos Mentis
Bentuk Badan : tidak ditemukan kelainan
Berat Badan : 55 kg
Tinggi Badan : 173 cm
Tanda Vital
- Tekanan Darah : 110/60 mmHg
- Nadi : 82x/menit
- Respirasi : 20x/menit
- Suhu : 36,6oC
Kepala
- Inspeksi wajah : tidak ditemukan adanya kelainan
- Mata : conjunctiva anemis (-), sklera ikterik (-)
Leher
- Inspeksi : leher tampak bersih, benjolan (-)
- JVP : meningkat (-)
Thorax
- Sistem Kardiovaskuler : S1 S2 reguler
- Sistem Respirasi : wheezing (-), RBK (-), vesikuler (+)
Abdomen

9
- Tidak ada nyeri tekan abdomen
- Sistem Gastrointestinal : bising usus (+), nyeri tekan epigastrik (-)
- Sistem Urogenital : tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas
Sistem Muskuloskeletal : kelemahan anggota gerak (-), parkinsonism (-)
Sistem Integumentum : tidak ditemukan kelainan
Kesan Status Internus : tidak terdapat gangguan pada sistem-sistem organ
tubuh

3.1.2. Status Neurologis : tidak dilakukan pemeriksaan


3.1.3. Hasil Pemeriksaan Penunjang
EKG : tidak dilakukan pemeriksaan
EEG : tidak dilakukan pemeriksaan
CT Scan : tidak dilakukan pemeriksaan
Foto Rontgen : tidak dilakukan pemeriksaan
LAB darah : tidak dilakukan pemeriksaan

3.2. Status Psikiatri


Tanggal Pemeriksaan: 29 Desember 2016
3.2.1. Kesan Umum
Pria usia 20 tahun, tampak sesuai umur, tidak tampak sedih maupun senang,
kooperatif, berpakaian sesuai jenis kelamin dengan rawat diri baik.

Status Psikiatri Hasil Keterangan


Kesadaran Kuantitatif: GCS E4V5M6 Pasien sadar penuh

Kualitatif : Compos mentis


Gambaran Umum
Penampilan/rawat diri Baik Pakaian pasien rapi, dan cukup
bersih
Perilaku dan aktivitas Baik Berjalan baik, duduk dengan tenang,
dan gerakan tubuh tidak kaku
Sikap terhadap Kooperatif Pasien dapat diajak berbicara ketika
pemeriksa diwawancarai dan memandang ke
arah pemeriksa.

10
Pembicaraan Kuantitas : Secukupnya Pasien berbicara hanya ketika

Kualitas : koheren dan ditanya. Pembicaraan terkadang sulit

relevan dipahami, kata-kata yang keluar dan


jawaban yang dikatakan sesuai
dengan pertanyaan.
Perhatian Mudah ditarik, mudah Pasien memperhatikan pewawancara.
dicantum
Mood dan Afek
Mood Tidak bisa dirasakan Pasien tidak bisa menjelaskan
suasana hatinya sedang senang atau
sedih.
Afek Terbatas, appropriate Ekspresi wajah pasien terbatas
Sensorium dan
Kognitif
Orientasi Orang: baik Pasien dapat mengenali dokter yang
memeriksa
Waktu: baik Pasien dapat mengetahui tanggal dan
jam hari itu saat diperiksa
Tempat: baik Pasien dapat menunjukkan rumah
sakit tempat pasien periksa

Situasi : baik Pasien dapat mengatakan kondisi


saat itu sepi
Daya Ingat Memori segera (immediate) Pasien dapat mengingat nama
pemeriksa yg baru dikenalnya.
Memori jangka pendek Pasien dapat mengingat menu
(recent) sarapan pagi ini

Memori jangka menengah Pasien ingat saat pertama kali ke poli


(recent past) Jiwa
Memori jangka panjang Pasien ingat tahun terjadinya gempa
(remote) jogja

Kosenrasi & Konsentrasi : baik Pasien dapat melakukan


perhatian pengurangan 100-7 secara
berurutan

11
Perhatian : baik Pasien dapat mengeja huruf dari
belakang dari kata Bayu
Kapasitas Membaca Membaca : baik Pasien dapat membaca sebuah
& Menulis kalimat dengan baik
Menulis : baik Pasien dapat menulis dengan baik
Pikiran absrak Kurang Pasien tidak dapat mengerti
peribahasa air susu dibalas dengan
air tuba
Pengetahuan Umum Baik Pasien mengetahui siapa presiden
Indonesia saat ini
Persepsi Halusinasi auditorik (+) Pasien mengatakan mendengar

Halusinasi visual (+) bisikan-bisikan yang tidak jelas.


Pasien mengatakan tiap malam
Halusinasi olfaktorik (+)
melihat Nyi blorong mondar-mandir
Ilusi (-)
Pasien sering mencium bau bunga
kamboja dan menciumnya juga di
ruang periksa
Pikiran Bentuk pikir: non-Realistik Pasien mengatakan punya indera ke
Isi pikir: enam yang berfungsi untuk

Waham magic mistik, mengawasi orang baik dan jujur.

waham curiga, waham Pasien mengatakan pernah mati suri


kendali dan gagasan bunuh dan melihat kakeknya masuk surga,
diri (+) sedangkan neneknya masuk
neraka.
Pasien mengatakan dirinya adalah
keturunan Tuhan karena jiwa
raganya telah dirasuki Gusti Allah
SWT.
Pasien mengatakan tangannya pernah
bergerak-gerak sendiri tanpa dapat
dikendalikan karena digerakkan
oleh Tuhan
Pasien mengatakan jika ada orang-
orang yang berkuruman, pasien

12
merasa kumpulan orang tersebut
akan memcelakainya.
Pasien juga mengatakan pernah mau
bunuh diri dengan minum obat
nyamuk karena merasa diejek oleh
teman-temannya namun di cegah
oleh kedua orang tuanya.
Insight Derajat 1 Pasien sama sekali tidak mengetahui
terhadap kondisi sakitnya. Pasien
mengatakan bahwa obat yang
diminumnya adalah obat anti-pusing
dan vitamin.

3.2.2. Gangguan Intelegensi Sesuai Umur / Pendidikan


Tidak ada.

3.3. Hasil Pemeriksaan Psikologis


3.3.1. Kepribadian
Tidak dilakukan
3.3.2. IQ
Tidak dilakukan tes
3.3.3. Lain-lain
Tidak ada

4. RANGKUMAN DATA YANG DIDAPATKAN PADA PENDERITA


4.1. Gejala (symptom)
a. Penampilan
Pasien tampak tidak sakit jiwa, kooperatif, pakaian terlihat bersih dengan rawat
diri baik.
b. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Cara berjalan baik, gerakan tubuh tidak kaku.
c. Pembicaraan
Menjawab hanya jika ditanya, kecepatan produksi bicara cukup, isi pembicaraan
relevan dan koheren cenderung magic mistik.

13
4.2. Tanda tanda (Sign)
a. Terdapat waham magic mistic, waham curiga, waham kendali
b. Terdapat halusinasi visual, auditorik dan olfaktorik
c. Mudah ditarik, mudah dicantum
d. Mood tidak bisa dirabarasakan
e. Afek appropriate
f. Terdapat riwayat gagasan tentang bunuh diri

4.3. Kumpulan Gejala (Sindrom)


Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan status mental yang dilakukan, didapatkan
bahwa pada pasien ini didapatkan sindrom depresi dan Skizofrenia, yaitu :
Delusion of Passivity
Delusional Perception : pengalaman indra yang tidak wajar
Halusinasi auditorik
Halusinasi visual
Halusinasi olfaktorik
Riwayat mood depresif.

5. DIAGNOSIS BANDING
- F 25.1 Skizoafektif tipe Depresif
- F32.3 Episode Depresif berat dengan gejala psikotik
- F 20 Skizofrenia

14
6. PEMBAHASAN
Pedoman menurut DSM V
DSM-V mempunyai kriteria diagnosis resmi dari American Psychiatric Association
untuk episode depresi. Kriteria diagnosis episode depresif mayor menurut DSM-V
adalah:
A. Sebuah periode penyakit yang tidak terinterupsi yang berlangsung selama adanya
episode mood mayor (depresif atau manik mayor) bersamaan dengan Kriteria A
skizofrenia.
Catatan : episode depresif mayor harus mengikutsertakan Kriteria A1 : mood depresi.
B. Delusi atau halusinasi selama 2 minggu atau lebih saat absennya episode mood mayor
(depresif atau manik) selama durasi penyakit tersebut.
C. Gejala yang memenuhi kriteria dari episode mood mayor ada selama sebagian besar
dari total durasi porsi aktif dan residual dari penyakitnya.
D. Gangguan tidak terkait dengan efek suatu zat (misalnya kecanduan obat , atau
pengobatan) atau kondisi medis yang lain

Spesifikasikan apakah :

295.70 (F25.0) tipe bipolar : sub tipe berlaku apabila episode manik merupakan bagian dari
gejalanya. Gejala depresif mayor juga mungkin saja berlaku.

295.70 (F25.1) tipe depresif : sub tipe ini berlaku hanya jika episode depresif mayor merupakan
bagian dari presentasinya.

Spesifikasikan jika :

Penspesifikasi berikut ini hanya digunakan jika gangguan telah berlangsung selama 1 tahun dan
jika tidak kontraindikasi dengan kriteria diagnostik.

Episode pertama, sedang dalam episode akut : manifestasi pertama dari gangguan sesuai
dengan gejala diagnostik dan kriteria waktu. Sebuah episode akut adalah periode waktu yang
mana gejala kriteria terpenuhi.

episode pertama, sedang dalam tahap remisi parsial : remisi parsial adalah suatu periode
waktu sepanjang ada peningkatan setelah episode sebelumnya ditangani dan dimana kriteria
definitif dari gangguan tersebut hanya setengah terpenuhi.

Episode pertama, sedang dalam remisi penuh : remisi penuh adalah suatu periode waktu
setelah episode sebelumnya dimana tidak ada gejala spesifik dari gangguan tersebut yang
muncul/Nampak.

15
Banyak Episode, sedang dalam episode akut : episode multipel dapat ditentukan setelah
minimal dari 2 episode (misalnya, setelah episode pertama, sebuah remisi dan minimal sekali
relaps)

Banyak episode, sedang dalam remisi parsial

Banyak episode, sedang dalam remisi penuh

Kontinyu , gejala memenuhi kriteria diagnostik dari gangguan yang tersisa adalah gejala mayor
dari gangguan, dengan periode gejala subthreshold menjadi relatif singkat dari keseluruhan
perlangsungan gangguan tersebut.

Tidak terspesifikasi.

Spesifikasikan derajat keparahan saat ini :

Keparahan dinilai dengan penilaian kuantitatif dari gejala primer psikosis, termasuk delusi,
halusinasi , bicara yang tidak terorganisasi , perilaku psikomotor abnormal , dan gejala negative.
Masing-masing dari gejala ini dapat dinilai untuk keparahannya saat ini (paling parah dalam 7
hari terakhir) dalam skala 5 poin yang bervariasi mulai dari 0 (tidak ada gejala) sampai 4 (ada dan
parah). (lihat bab mengukur penilaian).

Catatan : diagnosa skizoafektif dapat ditegakkan tanpa menggunakan

penspesifikasi ini.

Pedoman menurut PPDGJ III


Dalam PPDGJ III dijelaskan bahwa untuk menegakkan diagnosis episode depresif tanpa
gejala psikotik.
Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif
adanya skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang
bersamaan (simultaneously), atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang
lain, dalam satu episode penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi
dari ini, episode penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun
episode manik atau depresif.
Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan
gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit yang berbeda.
Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami
suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi Pasca Skizofrenia).
Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang, baik berjenis

16
manik (F25.0) maupun depresi (F25.1) atau campuran dari keduanya (F25.2).
Pasien mengalami satu atau dua episeode skizoafektif terselip antara episode
manik atau depresif.
F25.1 Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif
Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe depresi yang
tunggal, dan untuk gangguan berulang dimana sebagian besar episode didominasi
oleh skizoafektif tipe depresif.
Afek depresif harus menonjol, deisertai oleh sedikitnya dua gejala khas, baik
depresif maupun kelainan perilaku terkait sepert tercantum dalam uraian untuk
episode depresif (F32)
Dalam episode yang sama, sedikitnya harus jelas ada satu, sebaiknya ada dua,
gejla khas skizofrenia (sebagaimana ditetapkan dalam pedoman diagnostik
skizofrenia, F20.-, (a) sampai (d)

7. RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG (Laboratorium, EKG, EEG, CT Scan)


Tidak perlu dilakukan karena pasien tidak menunjukkan gejala-gejala patologik pada
organ.

8. DIAGNOSIS
AKSIS I (Gangguan jiwa, kondisi yang menjadi fokus perhatian)
F.25.1 Gangguan Skizoafektif tipe Depresi
AKSIS II (Gangguan kepribadian, retardasi mental)
Gambaran Kepribadian Skizoid
AKSIS III (Kondisi Medik Umum)
Tidak ada
AKSIS IV (Stressor Psikososial)
Masalah dengan teman Sekolah
AKSIS V (Fungsi Sosial)
GAF 60-51 Gejala Sedang (moderate), disabilitas sedang

9. RENCANA TERAPI/PENATALAKSANAAN
9.1. Farmakoterapi
Risperidon 2 x 2 mg
Fluoxetin 1 x 10 mg

17
9.2. Non-farmakoterapi
a. Terapi keluarga
Terapi keluarga bertujuan membantu mengurangi kemungkinan kambuh dan
menghadapi stress pada pasien depresif. Terapi keluarga diindikasikan jka
gangguan membahayakan fungsi keluarga pasien atau jika gangguan mood berawal
atau dipertahankan oleh situasi keluarga.
b. Terapi Kognitif
Tujuan dari terapi ini adalah memperbaiki depresi dan mencegah kekambuhannya
dengan membantu pasien mengidentifikasi dan menguji kognitif negatif,
mengembangkan skema alternatif dan lebih fleksibel, serta melatih kognitif dan
respon perlakuan. Mengubah cara berpikir orang dapat memperbaiki gangguan
depresif.
c. Terapi psikososial dan Rehabilitasi
Program pelatihan ketrampilan sosial untuk skizofrenik meliputi ketrampilan
bercakap-cakap, ketrampilan manajemen konflik, ketrampilan keasertifan,
ketrampilan hidup di dalam komunitas, ketrampilan berteman dan berkencan,
ketrampilan bekerja dan kejuruan, serta ketrampilan manajemen pengobatan.

18
10. PROGNOSIS
FAKTOR PREMORBID Indikator Pada Pasien Prognosis
1. Introvert/Skizoid Jelek
Faktor kepribadian Ada Jelek
2. Demokratis Baik
Faktor genetik Tidak ada Baik
3. Ada Jelek
Pola asuh Ekonomi cukup Baik
4. Jelas Baik
Faktor organik Belum menikah Jelek
5. Tidak Rutin Jelek
Dukungan keluarga
6.
Sosioekonomi
7.
Faktor pencetus
8.
Status perkawinan
9.
Kegiatan spiritual
FAKTOR MORBID

10. Dewasa muda Jelek


Onset usia Kronik Jelek
11. Depresi dan Dubia
Perjalanan penyakit psikotik
12. Tidak ada Baik
Jenis penyakit
Tidak Jelek
13.
Riwayat peningkatan gejala Tidak Jelek
14. Baik Baik
Riwayatprognosis:
Kesimpulan disiplin minum
Dubia ad bonam

11. RENCANA FOLLOW UP

19
Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya serta efektivitas serta
keteraturan meminum obat, dan kemungkinan munculnya efek samping dari terapi yang
diberikan. Memastikan pasien mendapat psikoterapi keluarga, terapi psikososial, dan
terapi kognitif untuk menghadapi gejala dan dorong untuk tetap beraktivitas normal.

Daftar Pustaka
Maslim Rusdi, (2001). Buku Saku Diagnosa Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas Dari
PPDGJ III. Nuh Jaya. Jakarta.

20