Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Kondiloma akuminata ialah vegetasi oleh human papilloma virus tipe tertentu,
bertangkai dan permukaannya berjonjot (Djuanda, 2009).
Kondiloma Akuminata merupakan salah satu jenis penyakit menular seksual
(sexually transmitted disease). Kondiloma akuminata pada laki-laki sering terjadi di
penis, skrotum, meatus uretra, dan area perianal sedangkan pada perempuan di daerah
vulva, perineum, area perianal. Kadang-kadang muncul pada servik, dinding vagina pada
wanita serta daerah pubis atau daerah inguinal. (Holmes, 2008).

2.2 Epidemiologi
Penyakit ini termasuk infeksi menular seksual (IMS). Frekuensinya pada pria dan
wanita sama. Tersebar kosmopolit dan transmisi melalui kontak kulit langsung dan kontak
seksual (Djuanda, 2009).

2.3 Etiologi
Human Papilloma Virus (HPV) ialah virus yang menyebabkan proliferasi sel
epitel mukosa dan kutaneus jinak. Infeksi papillomavirus tidak akan menyebabkan reaksi
lokal akut ataupun gejala sistemik melainkan menimbulkan akumulasi lokal keratinosit
yang lambat, biasa disebut kutil (Holmes, 2008).
Human Papilloma Virus (HPV) termasuk virus DNA yang tergolong dalam famili
virus Papova. Sampai saat ini telah dikenal sekitar 100 tipe HPV, namun tidak seluruhnya
dapat menyebabkan kondiloma akuminata. Tipe yang pernah ditemui pada kondiloma
akuminata adalah tipe 6, 11, 16, 18, 30, 31, 33,35, 39, 41, 42, 44, 51, 52, dan 56 (Holmes,
2008).
Pada referensi lain menyebutkan, lebih dari 120 subtipe yang berbeda dari HPV
yang telah diidentifikasi, dengan 40 subtipe yang mampu menginfeksi traktus anogenital.
Jenis ini dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu low risk, intermediate risk, dan high risk.
HPV tipe 6 dan 11 jarang menimbulkan kanker serviks sehingga disebut subtipe low risk.
Infeksi dari genotif ini bertanggung jawab sekitar 90% pada formasi genital warts.
Sebaliknya tipe 16 dan 18 sangat berhubungan dengan displasia serviks sehingga
dianggap high risk, subtipe onkogenik. Penelitian menunjukkan infeksi pada genotif ini
adalah sampai 70% terjadi Squamous Cell Carcinoma (SCC) dari serviks. HPV tipe 31,
33, 45, 51, 52, 56, 58, dan 59 adalah tipe intermediate risk, sering ditemukan pada

3
neoplasma skuamosa, tetapi jarang dihubungkan dengan SCC serviks. Pasien dengan
kondiloma akuminata dapat terinfeksi stimultan oleh beberapa jenis HPV (Valarie, 2012).
Beberapa tipe HPV tertentu mempunyai potensi onkogenik yang tinggi, yaitu tipe
16 dan 18. Tipe ini merupakan jenis virus yang paling sering dijumpai pada kanker
serviks. Sedangkan tipe 6 dan 11 lebih sering ditemui pada kondiloma akuminata dan
neoplasia intraepitelial serviks derajat ringan (Bakardzhiev dkk, 2012).
Kondiloma juga dapat menjadi koinfeksi yang high risk HPV seperti HPV tipe
16. Merupakan penyakit menular seksual, dengan transmisi rata-rata 60% di antara
partner seksual (Lacey dkk, 2011).

2.4 Faktor Resiko


a. Usia dan jenis kelamin
Usia adalah faktor risiko independen pada kondiloma akuminata, 80%
penderita kondiloma akuminata terjadi pada usia 17-33 tahun, puncak usia menderita
penyakit ini di usaia 20-24 tahun. Pria rata-rata diusia 22 tahun bisa menderita
kondiloma akuminata dan wanita 19 tahun, pria wanita proporsi adalah 1 1,4
(Holmes, 2008).

b. Status perkawinan dan kehamilan


Data menunjukan perceraian, suami istri tidak serumah, janda atau duda,
belum nikah adalah paling mudah menderita kondiloma akuminata, karena keadaan
diatas mudah terjadi perilaku seksual yang berisiko tinggi. Penyakit ini tidak
mempengaruhi kesuburan, hanya pada masa kehamilan pertumbuhannya makin cepat,
dan jika pertumbuhannya terlalu besar dapat menghalangi lahirnya bayi dan dapat
timbul perdarahan pasca persalinan. Selain itu dapat juga menimbulkan kondiloma
akuminata atau papilomatosis laring (kutil pada saluran nafas) pada bayi baru lahir
(Valerie, 2012).

c. Fungsi kekebalan tubuh lemah


Kekebalan tubuh lemah individual seperti tumor ganas, kemoterapi
imunosupresif dan mengunakan dexamethasone. Persentase menderita kondiloma
akuminata serta persentase kambuh juga tinggi dan jumlah kutil pun bertambah
banyak (Valerie, 2012).

d. Merokok dan minum alkohol


Merokok dapat menurunkan daya tahan tubuh, dan persentase menderita
penyakit ini pun bertambah berdasarkan lama merokok dan jumlah batang rokok yang
dihisap per hari. Minum alkohol juga bisa menghambat kekebalan tubuh. Merokok
4
dan alkohol bisa menghambat sistem saraf tengah, mengurangi kecemasan,
meningkatan libido, resiko seksual pun bertambah, sehingga meningkatkan
kekambuhan akuminata mudah (Holmes, 2008).

e. Hubungan seksual
Berdasarkan hasil penelitian dan statistik menunjukan, penyebab terjadinya
kondiloma akuminata karena memiliki banyak pasangan yang menderita kondiloma
akuminata, dan tingkat kekambuhan lebih tinggi dibandingkan pasangan seksual
tunggal (Holmes, 2008).

f. Menderita penyakit lain


Penyebab terjadinya kondiloma akuminata ada hubungannya dengan penyakit
menular seksual lainnya seperti alat kelamin, kencing nanah dan AIDS. Banyak
penderita kondiloma akuminata bisa menyebabkan penyakit kelamin lainnya, dan
beberapa patogen penyakit menular seksual merusak mukosa, sehingga kemampuan
tubuh melawan HPV pun menurun (Valerie, 2012).

2.5 Patofisiologi
Kondiloma akuminata dapat disebabkan kontak dengan penderita yang terinfeksi
HPV. HPV ini masuk melalui mikro lesi pada kulit, biasanya pada daerah kelamin dan
melakukan penetrasi pada kulit sehingga menyebabkan abrasi permukaan epitel. Human
Papilloma Virus adalah epiteliotropik; yang sifatnya mempunyai afinitas tinggi pada sel-
sel epitel. Replikasinya tergantung pada adanya diferensiasi epitel skuamosa. Virus DNA
(Deoxyribonucleic Acid) dapat ditemukan pada lapisan terbawah dari epitel. Protein
kapsid dan virus infeksius ditemukan pada lapisan superfisial sel-sel yang berdiferensiasi.
HPV dapat masuk ke lapisan basal, menyebabkan respon radang. Pada wanita
menyebabkan keputihan dan infeksi mikroorganisme. HPV yang masuk ke lapisan basal
sel epidermis dapat mengambil alih DNA dan mengalami replikasi yang tidak terkendali.
Fase laten virus dimulai dengan tidak adanya tanda dan gejala yang dapat berlangsung
sebulan bahkan setahun. Setelah fase laten, produksi virus DNA, kapsid dan partikel
dimulai. Sel dari tuan rumah menjadi infeksius dari struktur koilosit atipik dari kondiloma
akuminata (morphologic atypical koilocytosis of condiloma acuminate) berkembang
(Valarie, 2012).
Lamanya inkubasi sejak pertama kali terpapar virus sekitar 3 minggu sampai 8
bulan atau dapat lebih lama. HPV yang masuk ke sel basal epidermis ini dapat
menyebabkan nodul kemerahan di sekitar genitalia. Penumpukan nodul merah ini

5
membentuk gambaran seperti bunga kol. Nodul ini bisa pecah dan terbuka sehingga
terpajan mikroorganisme dan bisa terjadi penularan karena pelepasan virus bersama epitel
(Holmes, 2008).
HPV yang masuk ke epitel dapat menyebabkan respon radang yang merangsang
pelepasan mediator inflamasi yaitu histamin yang dapat menstimulasi saraf perifer.
Stimulasi ini menghantarkan pesan gatal ke otak dan timbul impuls elektrokimia
sepanjang nervus ke dorsal spinal cord kemudian ke thalamus dan dipersepsikan sebagai
rasa gatal di korteks serebri. Pada wanita yang terinfeksi HPV dapat menyebabkan
keputihan dan disertai infeksi mikroorganisme yang berbau, gatal dan rasa terbakar
sehingga tidak nyaman pada saat melakukan hubungan seksual (Djuanda, 2010).

2.6 Manifestasi Klinis

Masa inkubasi kondilomata akuminata berlangsung antara 2-9 bulan (rata-rata 2-3
bulan). HPV masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi pada kulit, sehingga kondiloma
akuminata sering timbul pada daerah yang mudah mengalami trauma pada saat
melakukan hubungan seksual (Holmes, 2008).
Untuk kepentingan klinis kondilomata akuminata dibagi dalam 4 bentuk yaitu
bentuk akuminata, papul, flat, dan keratosis (Fitzpatricks, 2008).

1. Bentuk akuminata
Terutama dijumpai pada lipatan dan lembab. Terlihat vegetasi bertangkai
dengan permukaan yang berjonjot seperti jari. Beberapa kutil dapat bersatu
membentuk lesi yang lebih besar sehingga tampak seperti kembang kol. Lesi yang
besar ini sering dijumpai pada wanita yang mengalami fluor albus, pada wanita hamil,
dan pada keadaan imunitas terganggu (Fitzpatricks, 2008).

2. Bentuk papul
Lesi bentuk papul biasanya terdapat pada daerah epitel dengan keratinisasi
sempurna, seperti batang penis, vulva bagian lateral, daerah perianal dan perineum.
Kelainannya berupa papul dengan permukaan yang halus dan licin, multipel dan
tersebar secara diskret (Fitzpatricks, 2008).

3. Bentuk flat (datar)

6
Secara klinis, lesi bentuk ini terlihat sebagai makula atau bahkan sama sekali
tidak tampak dengan mata telanjang (infeksi subklinis), dan baru terlihat setelah
dilakukan tes asam asetat. Dalam hal ini penggunaan kolposkopi sangat menolong
(Fitzpatricks, 2008).

4. Bentuk keratosis
Lesi keratosis mempunyai sifat tebal, lapisan yang berbentuk seperti krusta dan
menyerupai kutil secara umum atau keratosis seboroik (Fitzpatricks, 2008).

1 2

3a 3b

Gambar 2.1 Gambar 1. Bentuk keratosis, gambar 2. Bentuk akuminata, gambar 3a.
Bentuk flat, gambar 3b Bentuk papul

Kebanyakan pasien dengan kondiloma akuminata datang dengan keluhan ringan.


Keluhan yang paling sering adalah ada bejolan atau terdapat lesi di perianal (Lacey, 2011).
1. Gejala
Kebanyakan pasien hanya mengeluhkan adanya lesi, yang dinyatakan tanpa
gejala. Jarang terdapat gejala seperti gatal, perdarahan, atau dispaurenia. Tetapi
terkadang lesi dapat menimbulkan ketidaknyamanan, rasa panas, dan pruritus. Lesi
yang besar dapat berdarah dan iritasi bila kontak dengan pakaian atau selama hubungan
seksual (Lacey, 2011).

7
2. Tanda-Tanda Fisik
Kondiloma biasanya pada jaringan yang lembab pada area anogenital. Lesi
sering ditemukan di daerah yang mengalami trauma selama hubungan seksual. Pada
pria tempat predileksinya di perineum dan sekitar anus, sulkus koronarius, glands
penis, muara uretra eksterna, korpus dan pangkal penis. Pada wanita di daerah vulva
dan sekitarnya, introitus vagina, kadang-kadang pada porsio uteri. Terkadang dapat
berkembang di mulut atau tenggorokam setelah kontak seksual secara oral yang
terinfeksi dari partnernya. Kondiloma akuminata memiliki bentuk yang sangat
bervariasi, mungkin flat (datar), dome-shaped (seperti kubah), cauliflower-shape
(kembang kol) atau pedunculated. Kondiloma dapat bermanifestasi sebagai soliter
keratotik papul atau plak. Awalnya dalam bentuk kecil, ukuran 1-2 mm flesh-colored
papule dari kulit dan bentuk ini dapat bertahan selama infeksi (Valarie, 2012).
Kelainan kulit berupa vegetasi yang bertangkai dan berwarna kemerahan kalau
masih baru, jika telah lama agak kehitaman. Permukaannya berjonjot (papilomatosa)
sehingga pada vegetasi yang besar dapat dilakukan percobaan sondase. Jika timbul
infeksi sekunder warna kemerahan akan berubah menjadi keabu-abuan dan berbau
tidak enak (Djuanda, 2009).

Gambar 2.2
Terdapat lesi pada
penis, gambaran
multiple kembang
kol pada batang dan kulit penis

8
Gambar 2.3 Kondiloma Akuminata pada Vulva. Multiple papuls pada labia
yang berwarna pink-coklat.

Vegetasi yang besar disebut sebagai giant condyloma (Buschke) yang pernah
dilaporkan menimbulkan degenerasi maligna, sehingga harus dilakukan biopsi. Sering
terdapat pada gland penis, daerah perianal (Djuanda, 2009).

Gambar 2.4 A) Giant condyloma di daerah inguinal, scrotal, perineal, dan perianal.

B) hasil skin graft pada giant condyloma

Giant condyloma dari Buschke-Lowenstein atau Buschke-Loewenstein tumor


(BLT) pertama kali ditemukan oleh Buschke pada tahun 1886. Oleh Buschke dan
Loewenstein tahun 1925, kemudian dinamai oleh Loewenstein carcinoma-like
condyloma acuminata pada penis. Pertumbuhannya sangat lambat tumor verukosa dan
mencapai ukuran besar. Beberapa penulis menyebutkan bahwa etiologinya adalah HPV
low risk yaitu tipe 6 dan 11, sementara yang lain melaporkan pentingnya munculnya HPV
risiko tinggi onkogenik yaitu tipe 16 dan 18. Faktor risikonya adalah kebersihan yang
buruk, pasien yang tidak disirkumsisi, seks bebas iritasi kronik, imunosupresi karena
infeksi virus HIV (Braga, 2012).

2.7 Diagnosis
Menurut Zubier, 2009 kondiloma akuminata dapat ditegakkkan dengan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang:
9
2.7.1 Anamnesis
Pasien dengan kondiloma akuminata datang dengan keluhan ringan. Keluhan
yang paling sering adalah ada benjolan atau terdapat lesi di perianal. Kebanyakan
pasien hanya mengeluhkan adanya lesi, yang dinyatakan tanpa adanya gejala. Jarang
terdapat gejala seperti gatal maupun perdarahan.

2.7.2 Pemeriksaan Fisik


Penyakit ini terutama terdapat di lipatan tubuh yang lembab, misalnya di
daerah genitalia eksterna. Pada pria tempat predileksinya di perineum dan sekitar
anus, sulkus koronarius, glans penis, muara uretra eksterna, korpus dan pangkal penis.
Pada wanita di daerah vulva dan sekitarnya, introitus vagina, serviks dan pada porsio
uteri.

2.7.3 Pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan untuk menunjang penegakan
diagnosis pada pasien kondilomata akuminata yaitu tes asam asetat, tes kolposkopi
dan tes sitologi.
a. Tes asam asetat
Tes asam asetat menggunakan asam asetat 5% yang dioleskan
menggunakan lidi kapas pada lesi yang dicurigai. Pemeriksaan dinyatakan positif
jika setelah 1-5 menit lesi berubah warna menjadi putih (acetowhite). Perubahan
warna pada lesi di daerah perianal perlu waktu lebih lama sekitar 15 menit
(Zubier, 2009).
Tes ini dapat mendeteksi infeksi HPV subklinis atau untuk menentukan
batas pada lesi datar. Pemeriksaan ini menolong dalam membatasi infeksi HPV ke
serviks dan anus. Sensitivitas acetowhitening pada infeksi HPV cukup baik dan
untuk beberapa lesi hasil pemeriksaan tersebut lebih baik dibandingkan dengan
hasil pemeriksaan histopatologi pada biopsi rutin. Acetowhitening pada lesi genital
eksterna tidak spesifik untuk kondiloma akuminata.

10
James WD, Berger TG, Elston DM. Andrews Disease Of The
Skin Clinical Dermatology. 10th edition. Canada: Saunders Elsevier;
2006.p.407-11.

b. Kolposkopi
Pemeriksaan kolposkopi merupakan tindakan yang rutin dilakukan di
bagian kebidanan, namun belum digunakan secara luas di bagian penyakit kulit.
Pemeriksaan ini terutama berguna untuk melihat lesi subklinis. Kolposkopi
menggunakan sumber cahaya yang kuat dan lensa binokular sehingga lesi dari
infeksi HPV dapat diidentifikasi. Biasanya kolposkopi digunakan bersama asam
asetat untuk membantu visualisasi dari jaringan yang terkena. Walaupun awalnya
kolposkopi didisain untuk memeriksa alat kelamin wanita, aplikasi dari
kolposkopi sudah dikembangkan untuk memeriksa penis dan anus. Servikal
kolposkopi dan anoskopi resolusi tinggi biasanya dilakukan setelah tes sitologi
yang abnormal pada skrining dari kanker serviks dan anus (Zubier, 2009).

c. Tes sitologi
Tes pap adalah dasar dari skrining kanker serviks dan Cervikal
Intraepithelial Neoplasia (CIN). Tes ini terbukti sangat bermanfaat penerapannya
karena sukses menurunkan insiden dan mortalitas kanker serviks. Penggunaan tes
sitologi tidak berperan untuk mendiagnosa kutil kelamin, tetapi wanita yang
terkena kutil kelamin tetap harus diskrining dengan tes pap. US Centers for
Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan pada dokter untuk
melakukan tes pap serviks saat melakukan pemeriksaan pelvik untuk skrining
Infeksi Menular Seksual (IMS) pada wanita yang tidak pernah melakukan tes pap
selama 12-36 bulan. Hal tersebut dikarenakan wanita yang datang ke klinik
pelayanan IMS memiliki prevalensi mengalami CIN 5 kali lebih tinggi dari pada
wanita yang datang ke klinik pelayanan keluarga berencana, dan riwayat IMS
adalah faktor resiko kanker serviks yang invasive (Chang, 2004).
Gambaran pemeriksaan sitologi serviks bisa normal ataupun abnormal.
Yang termasuk kategori abnormal adalah High-grade squamous intraepithelial
lesion (HSIL), low-grade squamous intraepithelial lesions (LSIL), atypical

11
squamous mungkin yang undetermined significance (ASC-US), atau yang
mencurigakan sebagai HSIL (ASC-H).
Sama dengan hubungan antara kondiloma akuminata dengan CIN, terdapat
resiko dari anal intra epithelial neoplasia pada pria dan wanita dengan kutil
anogenital. Pada kelompok tertentu seperti homoseksual, pria dan wanita
terinfeksi HIV tanpa memperhatikan seksual orientasinya, wanita dengan riwayat
kanker vulva atau kanker serviks, dan penerima transplantasi merupakan
kelompok dengan resiko terbesar mengalami anal intraepithelial neoplasia dan
kanker anus dan harus diskrining dengan tes sitologi (Zubier, 2009).

d. Pemeriksaan Histopatologi

Gambaran mikroskopiknya adalah proliferasi berlebihan epitel skuamosa


berlapis yang ditopang oleh papilla fibrovaskular. Sel epitel yang terletak di
permukaan memiliki nukleus hiperkromatik ireguler yang dikelilingi oleh halo
jernih perinukleus, suatu perubahan yang disebut sebagai koilositosis. Crum CP,
Lester SC, Cotran RS. Sistem genitalia perempuan dan payudara.
Dalam: Kumar V, Cotran RS, Robbins Sl, editor. Buku Ajar Patologi.
Edisi ke-7. Jakarta: EGC; 2007.h.762.

Gambar 5. Histopatologi kondiloma akuminata (akantosis, hyperkeratosis,


dan vakuolisasi sitoplasma)

12
1. Pemeriksaan ini juga diindikasikan untuk mengkonfirmasikan SCCIS atau squamous
cell carcinoma invasive. Pada kondiloma akuminata didapatkan akantosis dan
papillomatosis pada lapisan Malpighi, dengan penebalan dan elongasi rete ridge. Pada
lapisan Malpighi bagian atas didapatkan banyak sel vakuolisasi, tetapi distribusinya
terbatas dan tidak ditemukan pada seluruh bagian, pembuluh darah kapiler berliku-liku
dan meningkat. Lapisan tanduk mengalami parakeratosis, terutama pada lesi di
permukaan mukosa. Stratum korneum tidak terlalu tebal. Dapat pula diperoleh gambaran
mitosis, koilositosis nukleus, dobel nukleus dan apoptosis keratinosit. Murtiastutik D,
Barakbah J, Lumintang H, Martodihardjo S. Buku Ajar Infeksi Menular
Seksual. Surabaya: Airlangga University Press; 2008.h.165-79.

2.8 Diagnosa Banding


a. Veruka vulgaris
Veruka vulgaris merupakan kelainan kulit berupa hiperplasi epidermis yang
disebabkan oleh Human Papilloma Virus tipe tertentu. Virus ini bereplikasi pada sel-
sel epidermis. Penyakit ini juga menular dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh
pasien yang sama dengan cara autoinokulasi. Veruka vulgaris dengan klinis lesi
hiperkeratotik, eksotipik dan berbentuk kubah, papula atau nodul terutama terletak
pada jari, tangan, lutut, siku atau lainnya pada situs trauma. Pemeriksaan histopatologi
menunjukkan adanya hiperplasia epidermis yang sering bergelombang, yang
cenderung mengenai lapisan epidermis yang lebih superfisial, menimbulkan halo
kepucatan di sekitar nukleus yang terinfeksi.
Androphy EJ, Lowy DG. Warts. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest
BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatricks Dermatology in General
Medicine. 7th edition. United States of America: Mc Graw Hill; 2008.p.1914-22.
Murphy G. Kulit. Dalam: Kumar V, Cotran RS, Robbins Sl, editor. Buku Ajar
Patologi. Edisi ke-7. Jakarta: EGC; 2007.h.893-4.
Kutil ini terutama terdapat pada anak, tetapi juga terdapat pada dewasa dan
orang tua. Tempat predileksinya terutama di ekstremitas bagian ekstensor, walaupun
demikian penyebarannya dapat ke bagian lain tubuh termasuk mukosa mulut dan
hidung. Kutil ini bentuknya bulat berwarna abu-abu, dasarnya lentikular atau kalau
berkonfluensi berbentuk plakat, permukaan kasar (verukosa). Dengan goresan dapat
timbul autoinokulasi sepanjang goresan (fenomen Kbner). Dikenal pula induk kutil
yang pada suatu saat akan menimbulkan anak-anak kutil dalam jumlah yang banyak.
(Djuanda, 2009).

13
Gambar 2.5 Veruka vulgaris: papul-papul
datar, keras, dengan permukaan kasar, sebagian berkonfluensi.

b. Kondiloma latum

Merupakan salah satu bentuk sifilis stadium II. Lesi berupa papul-papul
dengan permukaan yang lebih halus, bentuknya lebih bulat daripada kondiloma
akuminata, besar, berwarna putih atau abu-abu, lembab, lesi datar, plakat yang erosif,
ditemukan banyak spirochaeta pallidum. Terdapat pada daerah lipatan yang lembab
seperti anus dan vulva. Kelainan kulit dapat menyerupai berbagai penyakit kulit
sehingga disebut the great imitator. Selain memberi kelainan pada kulit, sifilis
sekunder dapat juga memberi kelainan pada mukosa, kelenjar getah bening, mata,
hepar, tulang, dan saraf.15

Kelainan kulit yang membasah (eksudatif) pada sifilis sekunder sangat


menular. Gejala yang penting untuk membedakannya dengan berbagai penyakit kulit
yang lain ialah: kelainan kulit pada sifilis sekunder umumnya tidak gatal, sering
disertai limfadenitis generalisata, pada sifilis sekunder dini kelainan kulit juga terjadi
pada telapak tangan dan kaki. Lesi dapat berbentuk roseola, papul, dan pustule, atau
bentuk lain.15

Roseola ialah eritema macular, berbintik-bintik, atau berbercak-bercak,


warnanya merah tembaga, bentuknya bulat atau lonjong. Roseola akan menghilang
dalam beberapa hari atau minggu, dapat pula bertahan hingga beberapa bulan. Bentuk
lain ialah terdiri atas papul-papul lentikular, permukaannya datar, sebagian
berkonfluensi, terletak pada daerah lipatan kulit; akibat gesekan antar-kulit
permukaannya menjadi erosif, eksudatif, sangat menular.

14
Natahusada EC, Djuanda A. Sifilis. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S,
editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-5. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI; 2007.h.395-7.

Gambar 2.6 Sifilis stadium 2 bentuk kondiloma lata di daerah penis, skrotum, dan
inguinalis
c. Karsinoma sel skuamosa
Karsinoma sel skuamosa adalah suatu proliferasi ganas dari keratinosit epidermis
yang merupakan tipe sel epidermis yang paling banyak dan merupakan salah satu dari
kanker kulit yang sering dijumpai setelah basalioma. Terdapat banyak faktor yang dapat
menyebabkan pertumbuhan karsinoma sel skuamosa pada kulit yaitu faktor sinar
matahari, arsen, hidrokarbon, suhu, radiasi kronis, virus. Faktor predisposisi karsinoma
sel skuamosa antara lain radiasi sinar ultraviolet, bahan karsinogen, arsenik dan lain-lain.
Vegetasi yang seperti kembang kol, mudah berdarah, dan berbau. Kadang-kadang sulit
dibedakan dengan kondiloma akuminata. Pada lesi yang tidak memberikan respon pada
pengobatan perlu dilakukan pemeriksaan histopatologi. Umur yang paling sering ialah
40-50 tahun dengan lokalisasi yang tersering di tungkai bawah dan secara umum
ditemukan lebih banyak pada laki-laki daripada wanita.
Rata IG. Tumor kulit. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2007.h.236-7.

15
Gambar 2.7 Karsinoma sel skuamosa: vegetasi papilomatosa seperti bunga kol.

Tumor ini dapat tumbuh lambat, merusak jaringan setempat dengan kecil
kemungkinan bermetastasis. Sebaliknya tumor ini dapat pula tumbuh cepat,
merusak jaringan disekitarnya dan bermetastasis jauh, umumnya melalui saluran
getah bening. Tumor yang terletak di daerah bibir, anus, vulva, penis lebih cepat
mengadakan invasi dan bermetastasis dibandingkan dengan daerah lainnya.
Secara histopatologi karsinoma sel skuamosa terdiri dari massa yang iregular
dari sel-sel epidermis yang berproliferasi dan menginvasi ke dermis. Karsinoma sel
skuamosa yang berdiferensiasi baik menunjukkan keratinisasi yang cepat dari
lapisan sel skuamosa. Sel-sel tumor tersusun secara fokal dan konsentris disertai
massa keratin, sehingga terbentuklah mutiara tanduk (horn pearls). Pada karsinoma
sel skuamosa diferensiasi buruk menunjukkan keratinisasi yang terbatas atau kurang
sel-sel atipik dengan gambaran mitosis yang abnormal. Tidak dijumpai interseluler
bridge.
Rata IG. Tumor kulit. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2007.h.236-7.

d. Moluskum Kontagiosum

16
Penyakit yang disebabkan oleh pox virus, klinis berupa papul-papul, pada
permukaannya terdapat lekukan, berisi massa yang mengandung badan moluskum.
Penyakit ini merupakan penyakit akibat hubungan seksual. Transmisinya melalui
kontak kulit

langsung. Lokalisasi di daerah muka, badan dan esktremitas, sedangkan pada orang
dewasa di daerah pubis dan genitalia eksterna (Siregar, 2005).

Gambar 2.8 Moluskum kontangiosum

2.9 Penatalaksanaan
Banyak metode pengobatan kondiloma akuminata tetapi secara umum dapat
dibedakan menjadi kemoterapi, dan bedah.

1. Kemoterapi
a. Podophyllin
Podophyllin pertama direkomendasikan untuk pengobatan kondiloma oleh
Culp dan Kaplan pada tahun 1942, bahan ini adalah agen sitotoksik yang berasal
dari resin podofilum emodi dan peltatum podofilum yang mengandung senyawa
lignin biologis aktif, termasuk podofilox, yang merupakan komponen paling aktif
terhadap kondiloma akuminata. Podophyllin memiliki keuntungan menjadi mudah
digunakan dan sangat murah. Yang digunakan iaah tingtura podofilin 25%. Kulit
disekitarnya dilindungi dengan vaselin atau pasta agar tidak terjadi iritasi. Jika
17
belum ada penyembuhan dapat diulangi setelah 3 hari. Setiap kali pemberian
jangan melebihi 0,3 cc karena akan diserap dan bersifat toksik. Gejala toksisitas
ialah mual, muntah, nyeri abdomen, gangguan alat napas, dan keringat yang
disertai kulit dingin. Dapat pula terjadi supresi sumsum tulang yang disertai
trombositopenia dan leukopenia. Pada wanita hamil sebaiknya jangan diberikan
karena dapat terjadi kematian fetus (Holmes, 2008).
Beberapa kelemahan, termasuk keterbatasan penggunaan dan toksisitas
sistemik. Podophyllin harus dicuci setelah 6 jam karena sangat mengiritasi kulit
normal di sekitarnya dan menyebabkan reaksi lokal yang parah berupa dermatitis,
nekrosis, dan jaringan parut (Chang, 2004).

b. Podophyllotoxin 0,5% solution atau gel dan 0,15% cream


Podophyllotoxin adalah ekstrak dari tanaman podophyllum, dimana dapat
mengikat mikrotubulus selular, menghambat pembelahan mitosis dan menginduksi
dari nekrosis warts dimana maksimal 3-5 hari setelah pemberian. Erosi yang
dangkal dapat terjadi sebagai lesi nekrotik dimana dapat sembuh dalam beberapa
hari. Ini merupakan pilihan pengobatan yang dianggap aman (Holmes, 2008).
Podophyllotoxin tersedia dalam bentuk solutio, krim atau gel dan digunakan
2 kali sehari selama 3 hari berturut dalam seminggu, maksimal sampai 4 minggu.
Untuk jenis solutio pada lesi di penis, sedangkan krim atau gel pada lesi di anal
atau vaginal. Efek sampingnya adalah sakit, inflamasi, erosi, rasa panas, gatal. Hal
ini terjadi bila penggunaan pengobatan berlebihan. Meskipun profil obat ini secara
signifikan aman, tapi podophyllotoxin belum dievaluasi secara menyeluruh untuk
teratogenik dan tidak direkomendasikan pada kehamilan (Valerie, 2012).
c. Imiquimod 5% cream
Krim Imiquimod (imidazoquinolinamine) 5% adalah agen topikal
imunomodulator, dimana pertama kali digunakan pada kondiloma tahun 1997.
Meskipun mekanisme kerjanya masih belum jelas, tapi dapat mengaktifkan
kekebalan sel dengan mengikat membranous toll-like receptor. Ini menyebabkan
sekresi sitokin multipe, seperti interferon-, interleukin-6, TNF- yang sangat
penting dalam induksi respon inflamasi. Selain itu, telah terbukti memiliki
penurunan viral-load yang diukur dengan HPV DNA, penurunan mesengger RNA
(mRNA) ekspresi untuk penanda proliferasi keratinosit dan peningkatan mRNA
untuk penanda supresi tumor (Holmes, 2008).
Pemberiannya sebelum tidur, 3 kali dalam seminggu sampai 16 minggu. Efek
samping adalah inflamasi lokal seperti gatal, eritema, panas, iritasi, nyeri, ulserasi.

18
Kadang-kadang pasien mengalami efek samping sistemuk seperti sakit kepala,
nyeri otot, kelelahan dan malaise. Tingkat kekambuhan kecil yaitu sekitar 13%
(Valerie, 2012).

d. Bichloracetic Acid atau Trichloracetic Acid


Bichloracetic Acid adalah keratolitik kuat dan telah berhasil digunakan untuk
terapi kondiloma akuminata. Seperti podophyllin, Bichloracetic Acid atau
Trichloracetic Acid murah dan mudah diterapkan. Namun, juga dapat
menyebabkan iritasi kulit lokal dan seringkali memerlukan kunjungan beberapa
kali, umumnya pada interval mingguan. Dalam sebuah studi oleh Swerdlow dan
Salvati, bichloracetic acid dan trichloracetic acid lebih nyaman digunakan oleh
pasien dan memiliki kemungkinan kekambuhan yang minimal dibandingkan yang
lain. Mempunyai efek kaustik dengan menimbulkan koagulasi dan nekrosis pada
jaringan superfisial terutama pada bentuk hiperkeratotik (Holmes, 2008).
e. 5-fluorourasil
Konsentrasinya antara 1-5% dalam krim. Bersifat sebagai antimetabolit yang
dapat mengganggu sintesis DNA, dipakai terutama pada lesi di meatus uretra. 5-
FU krem 1 % digunakan 2 kali sehari secara periodik selama 2-6 minggu, dan
krem 5% digunakan 4 kali sehari secara periodik selama 10 minggu. Sebaiknya
penderita tidak miksi selam 2 jam setelah pengobatan (Djuanda, 2009).
2. Bedah Terapi
a. Elektrokauterisasi
Elektrokauterisasi adalah cara yang efektif untuk menghancurkan kondiloma
akuminata di anus internal dan eksternal tetapi teknik ini memerlukan anestesi
lokal dan tergantung pada keterampilan operator untuk mengontrol kedalaman dan
lebar kauterisasi tersebut. Mengontrol kedalaman luka penting untuk mencegah
jaringan parut dan luka pada sfingter ani mendasarinya. Luka bakar melingkar
harus dihindari untuk mencegah stenosis ani. Jika penyakit ini sangat luas atau
melingkar, upaya-upaya harus dilakukan untuk mempertahankan kontinuitas kulit
(Chang, 2004).
b. Eksisi bedah
Eksisi bedah telah lama digunakan untuk mengobati kondiloma akuminata
dengan tingkat keberhasilan tinggi. Kombinasi eksisi dan elektrokauter dianggap
sebagai gold standard untuk pengobatan kondiloma akuminata (Holmes, 2008).
c. Cryotheraphy
Cryotheraphy dapat dilakukan dengan menggunakan open spray atau aplikator
cotton-tipped selama 10-15 detik dan dapat diulang sesuai dengan kebutuhan.

19
Cryotheraphy untuk pengobatan lini pertama sangat baik, terutama untuk lesi
perianal. Efek sampingnya adalah nyeri saat treatment, erosi, ulserasi, dan
hipopigmentasi post inflamasi dari kulit. Cryotheraphy aman selama kehamilan.
Cryotheraphy juga memiliki keuntungan yaitu sederhana, murah dan jarang
menyebabkan jaringan parut. Pada penelitian dilaporkan tingkat kekambuhan
adalah 21%-42% pada 1-3 bulan. Cryotheraphy adalah proses dimana jaringan
abnormal beku melalui penggunaan Cooling agent seperti nitrous oxide atau
liquid nitrogen. Suhu harus dingin sehingga menyebabkan permanen dermal dan
kerusakan pembuluh darah. Umumnya, pengobatan ini paling efektif bila
digunakan untuk multiple small warts pada penile shaft atau vulva. Cryotheraphy
dianggap cukup murah dan lebih berkhasiat dibandingkan dengan TCA. Tingkat
kekambuhan sekitar 25-40%. Efek sampingnya adalah destruksi jaringan lokal,
seperti nyeri, ulserasi, infeksi, risiko jaringan parut (Holmes, 2008).
3. Terapi Laser
Terapi laser karbon dioksida untuk menghancurkan kondiloma pertama kali
dilaporkan oleh Baggish pada tahun 1980. Sebuah tingkat keberhasilan keseluruhan
dari 88 sampai 95% telah dilaporkan. Ini mirip dengan elektrokauter, namun ablasi
laser memiliki tingkat kekambuhan tinggi dan menimbulkan nyeri pasca operasi,
keuntunganya luka lebih cepat sembuh, dan meninggalkan sedikit jaringan parut
(Chang, 2004).
4. Interferon
Dapat diberikan dalam bentuk suntikan (i.m atau intralesi) dan topikal (krim).
Interferon alfa diberikan dengan dosis 4-6 mU. i.m 3 kali seminggu selama 6 minggu
atau dengan dosis 1-5 mU i.m selama 6 minggu. Interferon beta diberikan dengan
dosis 2x106 unit i.m selama 10 hari berturut-turut (Djuanda, 2009).
Interferon tidak direkomendasikan sebagai modalitas pengobatan utama.
Diproduksi secara alami oleh protein dengan antivirus, antitumor dan
immunomodulatory actions.
5. Imunoterapi
Pada penderita dengan lesi yang luas dan resisten terhadap pengobatan dapat
diberikan pengobatan bersama imunostimulator (Djuanda, 2009).

3.0 Pencegahan

Menurut Markowitz, 2014 pencegahan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

20
1. Pasien wanita harus diberitahu tentang skrining sitologi serviks sesuai dengan
pedoman lokal/nasional. Rekomendasi di Inggris adalah bahwa perempuan dengan
kondiloma akuminata harus diskrining sesuai dengan pedoman standar
2. Konseling tentang PMS (Penyakit Menular Seksual) dan pencegahan penularannya.
3. Analisis apakah kondom melindungi terhadap penularan HPV yang lebih kompleks
dengan hasil yang beragam. Namun data terbaru menunjukkan bahwa penggunaan
kondom laki-laki dapat melindungi perempuan terhadap penularan HPV.
4. Vaksinasi
Ada 2 jenis vaksin yang beredar yaitu vaksinasi terhadap HPV 16 dan 18, yang
ditujukan untuk pencegahan terjadinya kanker dan pre kanker. Jenis lain ialah untuk 4
jenis HPV yaiu 6, 11, 16 dan 18 untuk terjadinya kanker dan penelitian sebelumnya
telah membuktikan dengan pemberian vaksin untuk jenis virus tersebut akan
meningkatkan imunogenitas terhadap virus tersebut sehingga kejadian infeksi HPV
dapat dicegah dan secara epidemiologi menekan kejadian infeksi HPV. Ada banyak
pilihan vaksin yang bisa kita jumpai yaitu:
1. Monovalent (vaksin Hepatitis A, vaksin Hepatitis B, vaksin Rabies, vaksin Polio
inactivated, vaksin influenza)
2. Dwivalent (tipe 16 dan 18)
3. Quadrivalent (tipe 6,11,16,18)
ACIP (Immunization Practices Advisory Committee) merekomendasikan vaksinasi
HPV rutin pada umur 11 atau 12 tahun (tetapi bisa dimulai sejak umur 9 tahun). Vaksinasi
direkomedasikan bagi perempuan berumur 13-26 tahun dan laki-laki umur 13-21 tahun
bagi yang belum pernah divaksin sebelumnya ataupun yang belum menerima vaksin
lengkap sebanyak 3 dosis. Laki-laki umur 22 sampai 26 tahun masih memungkinkan
untuk divaksinasi apabila laki-laki tersebut berhubungan seksual dengan laki-laki atau
mempunyai penyakit immunokompresan, termasuk didalamnya infeksi HIV yang
sebelumnya belum pernah mendapatkan vaksinasi atau tidak melakukan vaksinasi secara
lengkap (Markowitz, 2014).
Vaksinasi untuk perempuan yang direkomendasikan adalah bivalen dan quadrivalen,
vaksinasi untuk laki-laki yang direkomendasikan adalah vaksin quadrivalen. Vaksin
bivalen dan quadrivalen dapat memproteksi serangan HPV tipe 16 and 18. Vaksin
bivalent mempunyai target untuk kanker, 15% diantaranya untuk kanker serviks dan
vaksin quadrivalent dapat memproteksi serangan HPV 6 and 11, dimana HPV tipe ini

21
dapat menyebabkan warts anogenital. Cara pemberian vaksin bivalen dan quadrivalen
diberikan sebanyak 3 dosis (3 kali). Dosis kedua diberikan setelah 1-2 bulan pemberian
dosis pertama dan dosis ketiga diberikan paling lambat 6 bulan setelah dosis pertama. Jika
dalam pemberian vaksin terjadi keterlambatan atau jadwalnya tidak sesuai, maka tidak
perlu dilakukan pengulangan vaksinasi dari awal. Vaksin yang beredar dipasaran adalah
Gardasil untuk HPV 6,11,16, dan 18 , dengan dosis 3x20 40g, diberikan 3 kali (0,2, dan
6 bulan) intramuskular dan Glaxo Smith Kline (GSK) atau Cervarix untuk HPV 16 dan
18 dengan dosis 3x20g (0, 1, 6 bulan) intramuskuler (Holmes, 2008).

PROGNOSIS
Walaupun sering mengalami residif, prognosisnya baik. Faktor predisposisi dicari,
misalnya hygiene, adanya fluor albus, atau kelembaban pada pria akibat tidak
disirkumsisi. Tingkat kekambuhan lebih dari 50% sesudah 1 tahun dan dapat terjadi
karena infeksi ulang dari kontak seksual, masa inkubasi HPV yang panjang , lokasi virus
pada lapisan kulit superfisial yang jauh dari kelenjar limfe, menetapnya virus pada kulit
di sekitar lesi, folikel rambut atau tempat yang tidak dapat dijangkau oleh intervensi
yang digunakan, lesi yang tidak dijumpai atau lesi yang dalam, lesi subklinis , dan
keadaan imunosupresi yang mendasari.

22