Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN KASUS

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WALED 
SMF TELINGA HIDUNG TENGGOROK KEPALA LEHER
Jl. PrabuKiansantang No. 4, Waled Kota Babakan Cirebon

Nama Mahasiswa : Meidita wahyu S dan Yuny Hafitry
NIM : 111170045 dan 1111700
Dokter Pembimbing : dr. H. Edy Riyanto B, Sp.THT-KL

2.1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 31 tahun
Alamat : Cigobang
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Status : Sudah Kawin
Tanggal Masuk : 10 Oktober 2016
Tanggal Pemeriksaan : 10 Oktober 2016

2.2. ANAMNESIS
alloanamnesa tanggal 10 Oktober 2016 pukul 11.00 WIB di Poli THT.
2.2.1. Keluhan utama
Nyeri menelan.
2.2.2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien perempuan datang diantar oleh keluarganya ke RSUD
waled dengan keluhan nyeri menelan. Keluhan nyeri menelan sudah
dirasakan sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. Nyeri menelan sudah
dirasakan 2 kali selama 1 bulan ini. Nyeri menelan dirasakan hilang
timbul. Nyeri menelan paling dirasakan saat pasien menelan makanan dan

setelah pasien makan es. nyeri menelan disertai dengan perasaan
mengganjal di tenggorokan pasien sehingga pasien merasakan tidak
nyaman.
. Menurut keluarga pasien, pasien sering mendengkur saat tidur.
Nyeri menelan tidak disertai dengan batuk, pilek ataupun demam.
Keluhan kering pada tenggorokan, sesak saat bernapas, napas yang terasa
bau, nyeri dan keluar cairan dari telinga, sariawan, dan sulit menelan
disangkal
2.2.3. Riwayat penyakit dahulu dan riwayat pengobatan
Pasien memiliki riwayat nyeri menelan yang hilang timbul sejak
pasien berumur 9 tahun.keluhan nyeri menelan sering disertai batuk dan
pilek tetapi hanya diobati dengan obat warung . 1bulan sebelum ke pol
Pasien sebelumnya telah berobat ke dokter. Setelah diperiksa, pasien
diberitahukan bahwa amandelnya membesar pasien diberikan obat minum
dan dokter tersebut menyarankan untuk operasi jika keluhan berulang.
Keluhan dibiarkan saja dan lama kelamaan keluhan hilang sendiri.
Pasien tidak memliki riwayat alergi seperti alergi makanan, obat-
obatan, bersin pada pagi hari dan gatal-gatal pada kulit. Riwayat asma dan
pengobatan paru disangkal.
2.2.4. Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada riwayat alergi dalam keluarga seperti alergi makanan,
obat-obatan, bersin pada pagi hari dan gatal-gatal pada kulit. Riwayat
asma dan pengobatan paru dalam keluarga disangkal.
2.2.5. Riwayat kebiasaan
Pasien Suka mengkonsumsi makanan pedas dan asam

2.3. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan tanggal 10 Oktober 2016 pukul 11.00 WIB di Poli THT.
2.3.1. Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Berat badan : 60 kg
Tinggi Badan : 155 cm
Status Gizi : Cukup

2.3.2. Tanda vital
Nadi : 88 x/menit
Tekanan darah : 120/80
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : 36,5 °c

 Kepala
Bentuk lonjong, simetris, warna rambut hitam, rambut mudah rontok (-),
deformitas (-)
 Mata
Conjungtiva pucat -/-, Sklera ikterik -/-
 Thoraks :
 Inspeksi :
Pernapasan simetris kanan dan kiri, tidak ada yang tertinggal, retraksi
IC (-), iktus kordis tidak terlihat.
 Palpasi :
Nyeri tekan (-), fremitus taktil simetris kanan = kiri, iktus cordis teraba
di ICS V linea midlavicularis sinistra
 Perkusi :
Sonor pada kedua lapangan paru
Batas jantung : batas atas : linea parasternalis sinistra ICS II, batas
kanan : linea parasternalis dextra ICS V, batas kiri: linea midclavicula
sinistra ICS V
 Auskultasi :
Vesikuler (+/+) normal, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
S1 = S2 reguler murni, murmur (-), gallop (-)
 Abdomen
Inspeksi : datar, luka/bekas luka (-), sikatrik (-)
Palpasi : nyeri tekan (-), soepel, Hepar dan Lien tak teraba
Perkusi : timpani seluruh lapang abdomen
Auskultasi : bising usus (+) 5 kali / menit normal
 Ekstremitas :

3. telapak tangan pucat (-). nyeri normal. Telinga 1. Membran timpani Intak. CAE Serumen (+). perforasi (-). sianosis (-). Retraksi (-). clubbing finger (-).1. furunkel (-). hematoma (-). hiperemis (-). otorhea furunkel (-).3. edema (-). hiperemi (-). Pemeriksaan hidung . cone of light (+) 2. edema (-). edema (-). clubbing finger (-). Pemeriksaan telinga No Pemeriksaan Telinga kanan Telinga kiri . pigmentasi normal. hiperemi (-). bulging (-). edema (-) 2. nyeri tarik aurikula (-) tarik aurikula (-) 3. hematoma (-). cone of light (+) perforasi (-). Auricula Bentuk dan ukuran dalam batas Bentuk dan ukuran dalam batas normal.3. pigmentasi normal. nyeri tekan (-) 2.3. Retraksi (-). Ekstremitas atas: edema (-/-). nyeri tekan (-) Ekstremitas bawah: Edema (-/-). sianosis(-). telapak tangan pucat (-). Tragus Nyeri tekan (-). hiperemis (-).3. Serumen (+). bulging (-). edema (-). Status Lokalis 2. Intak. otorhea (-) (-) 4.2. edema (-) Nyeri tekan (-).3.

dalam batas normal. hipertrofi(-) (-) Mukosa konka Hiperemis(+). hiperemi (-) Faring Mukosa hiperemi (-). hiperemis (-).3. berlubang (-) Ginggiva Warna merah muda. hipertrofi(-) Meatus inferior Hiperemis(-).3. polip (-) (-). berwarna merah muda (N) Mulut Mukosa mulut basah berwarna merah muda. stomatitis (-) Geligi Warna kuning gading. hipertrofi (-) Hiperemis(-). polip (-) 2. eksudat (-) . hipertrofi(-) inferior (-) Meatus media Hiperemis(-). luka (-) Uvula Bentuk normal. hipertrofi Hiperemis(+). sama dengan daerah sekitar Lidah Tidak ada ulkus.Pemeriksaan hidung Dextra Sinistra Hidung Bentuk normal Bentuk normal Sekret Mukoserous Mukoserous Mukosa konka media Hiperemis(+). hipertrofi Hiperemis(+). membrane (-). edema (-) Palatum mole Ulkus (-). hipertrofi (-) Hiperemis(-). hipertrofi(-) Septum Deviasi (-) Deviasi (-) Massa (-).4 pemeriksaan tenggorokan Bibir Mukosa bibir basah. reflex muntah (+). pseudomembrane (-). gangren(-). caries (-).

dan lainnya yang dapat mengiritasi tenggorokan.  Sarankan keluarga untuk mempertimbangkan untuk melakukan operasi pengangkatan amandel atau tonsilektomi  jelaskan indikasi. dan komplikasinya. Begitu pula dengan minuman dingin.  Menjaga higiene mulut.5.6. manis. . RENCANA TERAPI Farmakologi  Obat kumur + desinfektan  Cefixime 2 x 200mg  Asam mefenamat 3 x 500mg Non-Farmakologi  Untuk sementara hindari makanan yang berminyak. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Darah lengkap 2.4. pedas.Tonsila palatine Kanan Kiri Ukuran T3 T3 Warna Hiperemis (-) Hiperemis (-) Permukaan Tidak rata Tidak rata Kripte Melebar Melebar Detritus (+) (+) Eksudat (-) (-) Peri Tonsil Abses (-) Abses (-) Fossa Tonsillaris hiperemi (-) hiperemi (-) dan Arkus Faringeus 2. DIAGNOSIS Tonsilitis Kronis hipertropikan 2.

Foto pasien .

6 kehidupan janin. 1. Kapsul dan jaringan ikat lain tumbuh pada bulan ke 5 dan berasal dari mesenkim. Kripta tumbuh pada bulan ke 3 . ANATOMI . Bagian yang mengalami invaginasi akan membagi lagi dalam beberapa bagian. Pada bulan ke 3 tumbuh limfosit di dekat epitel tersebut dan terjadi nodul pada bulan ke 6. berasal dari epitel permukaan. yang kemudian ditutupi epitel. BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. sehingga terjadi kripta. dengan demikian terbentuklah massa jaringan tonsil. Selanjutnya terbentuk fosa tonsil pada bagian dorsal kantong tersebut. yang akhirnya terbentuk jaringan ikat limfoid. terjadi invaginasi kantong brakial ke II ke dinding faring akibat pertumbuhan faring ke lateral. ANATOMI CINCIN WELDEYER EMBRIOLOGI Pada permulaan pertumbuhan tonsil.

Satu pertiga bagian atas atau nasofaring adalah bagian pernafasan dari faring dan tidak dapat bergerak kecuali palatum molle bagian bawah. menunjukkan daerah jalan nafas bagian atas yang terpisah dari saluran pencernaan bagian atas. Tonsila palatina. Bagian terpentingnya adalah tonsil palatina dan tonsil faringeal (adenoid). gugus limfoid lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid yang tersebar dalam fosa Rosenmuller. terdiri dari Tonsila pharingeal (adenoid). di bawah mukosa dinding posterior faring dan dekat orifisium tuba eustachius. faring dibagi menjadi 3 bagian utama: nasofaring. diliputi epitel skuamosa dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus didalamnya . . tonsila palatina (tonsil faucium). Bagian tengah faring disebut orofaring. Unsur yang lain adalah tonsil lingual. Cincin waldeyer merupakan jaringan limfoid yang mengelilingi faring. sedang tonsila faringeal lebih dikenal sebagai adenoid. Untuk kepentingan klinis. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsila faringeal (adenoid). dan tonsila lingualis yang ketiga-tiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. dan laringofaring. meluas dari batas bawah palatum molle sampai permukaan lingual epiglotis. dan Tonsila lingualis. Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid yang terdapat di dalam faring. orofaring. Bagian bawah faring dikenal dengan nama hipofaring atau laringofaring. terdapat cincin jaringan limfoid yang melingkar dikenal dengan Cincin Waldeyer. Pada orofaring yang disebut juga mesofaring. Dalam pengertian sehari-hari yang dimaksud dengan tonsil adalah tonsila palatina.

Pharyngeal tonsil. 2. Palatine tonsil . Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti suatu segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau . Gambar 1. 1. Lingual tonsil. 3. Anatomi cincin waldayer Tonsila Faringeal (adenoid) Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. 4. Epiglottis Gambar 2.

Darah vena dialirkan sepanjang pleksus faringeus ke dalam V. Jumlahnya bervariasi. Pada permukaannya terdapat kripta yang dangkal dengan jumlah yang sedikit. Vagus. adenoid mengandung sedikit sekali kripta dan letak kripta tersebut dangkal. Jaringan limfoid ini menyebar ke arah lateral dan ukurannya mengecil. Sel-sel limfoid ini sering mengalami degenerasi disertai deskuamasi sel-sel epitel dan bakteri. Lobus ini tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah. Tonsila Lingualis Merupakan kumpulan jaringan limfoid yang tidak berkapsul dan terdapat pada basis lidah diantara kedua tonsil palatina dan meluas ke arah anteroposterior dari papilla sirkumvalata ke epiglottis. walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius Pada masa pubertas adenoid ini akan menghilang atau mengecil sehingga jarang sekali dijumpai pada orang dewasa. konstriktor superior sehingga pada waktu adenoidektomi sukar mengangkat jaringan ini secara keseluruhan. Dipisahkan dari otot-otot lidah oleh suatu lapisan jaringan fibrosa. Sedangkan persarafan sensoris melelui N. Adenoid terletak pada nasofaring yaitu pada dinding atas nasofaring bagian belakang. Maksilaris. Berlainan dengan tonsil. Ukuran adenoid bervariasi pada masing-masing anak. antara 30-100 buah.kantong diantaranya. yang akhirnya membentuk detritus. Jaringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan posterior. Nasofaringeal yaitu cabang dari saraf otak ke IX dan juga melalui N. Karotis interna dan sebagian kecil dari cabang-cabang palatina A. Adenoid mendapat darah dari cabang-cabang faringeal A. . Tidak ada jaringan khusus yang memisahkan adenoid ini dengan m. Jugularis interna. Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian akan mengalami regresi. dikenal sebagai bursa faringeus. Apabila adenoid membesar maka akan tampak sebagai sebuah massa yang terdiri dari 4-5 lipatan longitudinal anteroposterior serta mengisi sebagian besar atas nasofaring.

Darah vena dialirkan sepanjang V. juga karena tersedianya substansi makanan di daerah tersebut. dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Berat tonsil pada laki-laki berkurang dengan bertambahnya umur. Kripta dengan ukuran terbesar terletak pada pole atas tonsil dan disebut kripta superior.. palatoglosus  Posterior : M. sedangkan pada wanita berat bertambah pada masa pubertas dan kemudian menyusut kembali. tebal 15 mm. Permukaan tonsil merupakan permukaan bebas dan mempunyai lekukan yang merupakan muara dari kripta tonsil. Lingualis yang merupakan cabang dari A. palatofaringeus . IX. Beberapa kripta ada yang berjalan kearah dalam substansia tonsil dan berakhir dibawah permukaan kapsul. Lingualis ke V. bakteri. daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar Tonsil terletak di lateral orofaring. dan berat sekitar 1. Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring. Kripta superior sering menjadi tempat pertumbuhan kuman karena kelembaban dan suhunya sesuai untuk pertumbuhan kuman. Aliran limfe menuju ke kelenjar servikalis profunda. Tonsila Palatina Tonsil terletak di bagian samping belakang orofaring. Jumlah kripta tonsil berkisar antara 20-30 buah. konstriktor faring superior  Anterior : M. Karotis eksterna. berbentuk celah kecil yang dilapisi oleh epitel berlapis gepeng. dalam fossa tonsilaris. limfosit.Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris. lebar 15-20 mm. Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm. Dibatasi oleh:  Lateral : M. berbentuk oval dengan ukuran dewasa panjang 20-25 mm. Persarafannya melalui cabang lingual N. Tonsila lingualis mendapat perdarahan dari A. dan sisa makanan. normalnya mengandung sel-sel epitel. Jugularis interna.5 gram.

konstriktor faringeus. Plika ini penting karena sikatrik yang terbantuk setelah proses tonsilektomi dapat menarik folikel tersebut ke dalam fossa tonsilaris. dimana pada bagian bawahnya terdapat folikel yang kadang-kadang membesar. Pada plika ini terdapat massa kecil lunak. Permukaan lateral tonsil ditutupi oleh kapsula fibrosa yang kuat dan berhubungan dengan fascia faringobasilaris yang melapisi M. Pada saat tonsilektomi.  Superior : Palatum mole  Inferior : Tonsil lingual Secara mikroskopik tonsil terdiri atas 3 komponen yaitu jaringan ikat. disebut sebagai plika semilunaris. folikel germinativum (merupakan sel limfoid) dan jaringan interfolikel (terdiri dari jaringan limfoid). Kutub bawah tonsil melekat pada lipatan mukosa yang disebut plika triangularis. Fossa tonsilaris di bagian depan dibatasi oleh pilar anterior (arkus plalatina anterior). membentuk septa yang mengandung pembuluh darah dan saraf tonsil. sedangkan di bagian belakang dibatasi oleh pilar posterior (arkus palatina posterior). jaringan areolar yang lunak antara tonsil dengan fosa tonsilaris mudah dipisahkan. Bagian atas fossa tonsilaris kosong dinamakan fossa supratonsiler yang merupakan jaringan ikat longgar. Kapsul tonsil tersebut masuk ke dalam jaringan tonsil. . Palatina membentuk palatum molle. Pole atas tonsil terletak pada cekungan yang berbentuk bulan sabit. sehingga dapat dikelirukan sebagai sisa tonsil. letaknya dekat dengan ruang supratonsil dan disebut glandula salivaris mukosa dari Weber. yang kemudian bersatu di pole atas dan selanjutnya bersama- sama dengan m. yang penting peranannya dalam pembentukan abses peritonsil.

Ketiga ruang potensial tersebut adalah : 1. palatoglosus .Potongan sagital rongga hidung. rongga mulut. Gambar 3.Anterior : m. Ruang peritonsil (ruang supratonsil) Berbentuk hampir segitiga dengan batas-batas : . palatofaringeus . Di sekitar tonsil terdapat 3 ruang potensial yang secara klinik sering menjadi tempat penyebaran infeksi dari tonsil. dan laring.Lateral & posterior : m. faring.

temporalis. Bila terjadi abses hebat pada daerah ini akan menimbulkan gejala utama trismus disertai sakit yang amat sangat. sementara pada bagianpostero-medialnyaterdapat m. Adapun batas-batas ruang ini adalah . lebih kecil. 3. Ruang parafaring (ruang faringomaksila . Pterygoideus interna dan bagian posterior kelenjar parotis . ruang pterygomandibula) Merupakan ruang yang lebih besar dan luas serta banyak terdapat pembuluh darah besar. lebih besar. karies gigi atau tindakan operatif. menjadi abses peritonsil. Konstriktor faringeus superior . sehingga sulit dibedakan dengan abses peritonsil. 2. abses dapat timbul oleh karena : radng tonsil. sehingga bila terjadi abses. berbahaya sekali.Inferior : Os hyoid . . yang bila terinfeksi dapat menyebar ke ruang peritonsil. Ruang post-styloid. Ruang pre-styloid. Vagus dan saraf-saraf simpatis. Ruang retromolar Terdapat tepat di belakang gigi molar 3.Dasar segitiga : pole atas tonsil Dalam ruang ini terdapat kelenjar salivarius Weber.Posterior : Otot-otot prevertebra Ruang parafaring ini terbagi 2 (tidak sama besar) oleh prosesus styloideus dan otot-otot yang melekat pada prosesus styloideus tersebut : .Superior : Basis kranii dekat foramen jugulare . V. karotis interna. Buccinator. di dalamnya terdapat : A. . .Lateral : Ramus ascendens mandibula. Jugularis. Pterygoideusinternus dan bagian atas terdapatfasikuluslongus M. berbentuk oval. Di sebelah medial terdapat m.Medial : M. N. merupakan sudut yang dibentuk oleh ramus dan korpus mandibula. mastoiditis. parotitis. tempat m.

di belakang dan di bawah arkus mendibula.Posterior : fascia prevertebralis .Superior : basis cranii . . yang kemudian membentuk pleksus pada permukaan luar tonsil dan berjalan menembus M.Ruang parafaring ini hanya dibatasi oleh fascia yang tipis dengan ruang retro faring. Kemudian aliran limfe ini dilanjutkan ke nodulus limfatikus daerah dada.Lateral : parafaringeal space Aliran Limfe Tonsil Tonsil tidak mempunyai sistem limfatik aferen. Konstriktor superior .Inferior : mediastinum setinggi bifurkasio trakea . Konstriktor faringeus superior. untuk selanjutnya bermuara ke dalam duktus torasikus. Ruang retrofaring Batas-batasnya adalah sebagai berikut : .Anterior : fascia m. Aliran limfe dari parenkim tonsil ditampung pada ujung pembuluh limfe eferen yang terletak pada trabekula. selanjutnya menembus fascia bukofaringeus dan akhirnya menuju kelenjar servikalis profunda yang terletak sepanjang pembuluh darah besar leher.

cabang A. Palatina Ascenden. Fasialis.Vaskularisasi Tonsil Tonsil diperdarahi oleh beberapa cabang pembuluh darah. memperdarahi daerah antero-inferior . Faringeal Ascenden. Maksilaris Interna. A. memperdarahi daerah antero-media . Palatina Mayor dan A. memperdarahi daerah postero-superior .A. Fasialis. yaitu : . Palatida Descenden dan cabangnya. Jugularis . cabang A.A. cabang A.A. Palatina Minor. cabang A. Tonsilaris. Lingualis dan pleksus venosus faringeal. memperdarahi daerah antero-superior Daerah vena dialirkan melalui pleksus venosus perikapsular ke V. yang kemudian bermuara ke V.A. memperdarahi bagian postero inferior . Karotis Eksterna. Lingualis Dorsalis.A.

II.2.Interna. FISIOLOGI DAN HISTOLOGI TONSIL Fungsi jaringan limfoid faring adalah memproduksi sel-sel limfosit tetapi peranannya sendiri dalam mekanisme pertahanan tubuh masih diragukan. Penelitian menunjukkan bahwa tonsil memegang peranan penting dalam fase- . glossopharingeus. Nervus trigeminus mempersarafi bagian atas tonsil melalui cabangnya yang melewati ganglion sphenopaltina yaitu n. palatina. Gambar 4. Pembuluh vena tonsil berjalan dari palatum. menyilang bagian lateral kapsula dan selanjutnya menembus dinding faring. Bagian bawah tonsil dipersarafi n.Vaskularisasi Tonsil Persarafan Tonsil Persarafan tonsil berasal dari saraf trigeminus dan saraf glossopharingeus.

terjadi kemunduran fungsi tonsil yang disertai proses involusi. makrofag. Setelah antibodi dari ibu habis. sel dendrit. Proporsi limfosit B dan T pada tonsil adalah 50%:50%. Kuman-kuman patogen yang terdapat dalam flora normal tonsil dan faring tidak menimbulkan peradangan. yaitu : . Tonsil merupakan organ limfotik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. 0. sedangkan di darah 55-75%:15-30%. Juga terdapat sel limfosit B. Hasil penelitian mengenai kadar antibodi pada tonsil menunjukkan bahwa perenkim tonsil mempunyai kemampuan untuk memproduksi antibodi. Terdapat 2 bentuk mekanisme pertahanan tubuh. 2) sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.2% dari keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. biasanya ukurannya kecil. limfosit T. Pada tonsil terdapat sistem imun kompleks yang terdiri atas sel M (sel membran). fase permulaan kehidupan terhadap infeksi mukosa nasofaring dari udara pernafasan sebelum masuk ke dalam saluran nafas bagian bawah. barulah mulai terjadi pembesaran tonsil dan adenoid. Sewaktu baru lahir tonsil secara histologis tidak mempunyai centrum germinativum. Penelitian terakhir menyatakan bahwa tonsil memegang peranan dalam memproduksi Ig-A. karena pada daerah ini terdapat mekanisme pertahanan dan hubungan timbal balik antara berbagai jenis kuman. dan APCs yang berperan dalam transportasi antigen ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis imunoglobin spesifik. yang menyebabkan jaringan lokal resisten terhadap organisme patogen.1-0. yamg pada permulaan kehidupan masa kanak-kanak dianggap normal dan dipakai sebagai indeks aktifitas sistem imun. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu 1) menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif. sel plasma dan sel pembawa IgG. Pada waktu pubertas atau sebelum masa pubertas. Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit.

2. Sel basofil yang terutama adalah sel basofil dalam sirkulasi (sel basofil mononuklear) dan sel basofil dalam jaringan (sel mastosit). . adenoid. yaitu atopi. 1. dapat diketahui bahwa IgE dihasilkan dari plasma sel terutama dari epitel yang menutupi permukaan tonsil. dan kripta tonsil. dan angioedema. Bila ada alergen. Dengan masuknya kuman ke dalam lapisan mukosa. IgA merupakan barier untuk mencegah reaksi imunologi serta untuk menghambat proses bakteriolisis. Selanjutnya sel fagosit akan membunuh kuman dengan proses oksidasi dan digesti. Disamping itu. Oleh karena itu. yaitu histamin. Proses ini akan menyebabkan keluarnya histamin sehingga timbul reaksi hipersensitivitas tipe 1. tonsil dan adenoid juga dapat menghasilkan IgE yang berfungsi untuk mengikat sel basofil dan sel mastosit. sehingga dalam proses netralisasi dari infeksi virus. bukanlah menghancurkan antigen akan tetapi mencegah substansi tersebut masuk ke dalam proses imunologi. Pada beberapa tempat lapisan mukosa tonsil sangat tipis sehingga menjadi tempat yang lemah terhadap masuknya kuman ke dalam jaringan tonsil. Sedangkan mekanisme kerja IgA. Mekanisme pertahanan non spesifik Berupa kemampuan sel limfoid untuk menghancurkan mikroorganisme. dalam hal ini adalah elemen tonsil. maka kuman ini akan ditangkap oleh sel fagosit. maka alergen tersebut akan bereaksi dengan IgE sehingga permukaan sel membrannya terangsang dan terjadilah proses degranulasi. dimana sel-sel tersebut mengandung granula yang berisi mediator vasoaktif. IgA mencegah terjadinya penyakit autoimun. Tonsil dapat memproduksi IgA yang akan menyebabkan resistensi jaringan lokal terhadap organisme patogen. Mekanisme pertahanan spesifik Merupakan mekanisme pertahanan yang penting dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap udaran pernafasan sebelum masuk ke dalam saluran nafas bawah. urtikaria. anafilaksis. Dengan teknik immunoperoksida.

Apabila terjadi peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin waldeyer. Gambar 5. maka dapat terjadi pembesaran tonsil. berikut pembagian menurut Thane & Cody : T1 : batas medial tonsil melewati pilar anterior sampai ¼ jarak pilar anterior uvula T2 : batas medial tonsil melewati ¼ pilar anterior-uvula sampai ½ jarak pilar anterior-uvula T3 : batas medial tonsil melewati ½ pilar anterior-uvula sampai ¾ jarak pilar anterior-uvula T4 : batas medial tonsil melewati ¾ pilar anterior-uvula sampai uvula atau lebih.Pembesaran Tonsil .

Hiperplasia dan pembentukan fibrosis dari jaringan ikat parenkim dan jaringan limfoid mengakibatkan terjadinya hipertrofi tonsil.3 TONSILITIS a.18. Epidemiologi Tonsilitis paling sering terjadi pada anak-anak. Jaringan interfolikel terdiri dari jaringan limfoid dalam berbagai tingkat pertumbuhan. tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring atau Gerlach’s tonsil) (Soepardi. II. jaringan interfolikuler. tonsil palatina (tonsil faucial). tonsil lingual (tonsil pangkal lidah). saluran limfatik efferent. Pada tonsilitis kronis terjadi infiltrasi limfosit ke epitel permukaan tonsil. Definisi Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian daricincin Waldeyer. Sedangkan menurut Reeves (2001) tonsilitis merupakan inflamasi atau pembengkakan akut pada tonsil atau amandel. merupakan sel induk pembentukan sel-sel limfoid. Tonsilitis yang disebabkan oleh spesies Streptococcus biasanya terjadi pada anak usia 5-15 tahun.jaringan germinativum. namun jarang terjadi pada anak-anak muda dengan usia lebih dari 2 tahun.16.Histologi tonsil Secara mikroskopis tonsil memiliki tiga komponen yaitu jaringan ikat. b. syaraf. Jaringan ini mengandung pembuluh darah. Permukaan bebas tonsil ditutupi oleh epitel statified squamous. 2007). Trabekula merupakan perluasan kapsul tonsil ke parenkim tonsil. Jaringan germinativum terletak dibagian tengah jaringan tonsil. Jaringan ikat berupa trabekula yang berfungsi sebagai penyokong tonsil.16.1. sedangkan . Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu tonsil faringeal (adenoid). Peningkatan jumlah sel plasma di dalam subepitel maupun di dalam jaringan interfolikel.

12 Data epidemiologi menunjukkan bahwa penyakit Tonsilitis Kronis merupakan penyakit yang sering terjadi pada usia 5-10 tahun dan dewasa muda usia 15-25 tahun. usia tersering penderita Tonsilitis Kronis adalah kelompok umur 14-29 tahun.9 c. Sedangkan Kisve pada penelitiannya memperoleh data penderita Tonsilitis Kronis terbanyak sebesar 294 (62 %) pada kelompok usia 5-14 tahun. Streptokokus beta hemolitikus grup A. Pada penderita tonsilitis kronis jenis kuman yang paling sering adalah Streptokokus beta hemolitikus grup A (SBHGA). dan 0. Staphylococcus aureus. Iban 20%. Selain itu infeksi juga dapat disebabkan Haemophilus influenzae. Menurut penelitian yang dilakukan di Skotlandia. Dalam suatu penelitian prevalensi karier Group A Streptokokus yang asimptomatis yaitu: 10. atau kerusakan ini dapat terjadi bila fase resolusi tidak sempurna.9 Suku terbanyak pada penderita Tonsilitis Kronis berdasarkan penelitian yang dilakukan di poliklinik rawat jalan di rumah sakit Serawak Malaysia adalah suku Bidayuh 38%. Beberapa organisme dapat menyebabkan infeksi pada tonsil. Malay 25%. dan Chinese 14%.9% pada usia kurang dari 14 tahun. jamur. Etiologi penyakit ini dapat disebabkan oleh serangan ulangan dari Tonsilitis Akut yang mengakibatkan kerusakan permanen pada tonsil. Dari hasil penelitian Suyitno dan Sadeli (1995) kultur apusan tenggorok didapatkan bakteri gram positif sebagai penyebab tersering Tonsilofaringitis Kronis yaitu Streptokokus alfa kemudian diikuti Staphylococcus aureus.6 % usia 45 tahun keatas. Staphylococcus epidermidis dan . virus. S. Pneumoniae dan Morexella catarrhalis. Namun dapat menjadi pathogen infeksius yang memerlukan pengobatan. 2. termasuk bakteri aerobik dan anaerobik. Streptokokus grup A adalah flora normal pada orofaring dan nasofaring. 2.tonsilitis virus lebih sering terjadi pada anak-anak muda.3% usia 15-44 tahun. yakni sebesar 50 % . dan parasit. Etiologi Tonsilitis terjadi dimulai saat kuman masuk ke tonsil melalui kriptanya secara aerogen yaitu droplet yang mengandung kuman terhisap oleh hidung kemudian nasofaring terus masuk ke tonsil maupun secara foodborn yaitu melalui mulut masuk bersama makanan9.

Pseudomonas aeruginosa. dan herpes simpleks (pada remaja). d. Infeksi virus biasanya ringan dan dapat tidak memerlukan pengobatan yang khusus karena dapat ditangani sendiri oleh ketahanan tubuh. sakit pada sendi .panas. Dimulai dengan sakit tenggorokan ringan sehingga menjadi parah.dan kelenjar getah bening melemah didalam daerah submandibuler.amandel berperan sebagai filter. pasien hanya mengeluh merasa sakit tenggorokannya sehingga berhentimakan. Klebsiella dan E. Selain itu infeksi virus juga termasuk infeksi dengan coxackievirus A. menyelimuti organism yang berbahaya tersebut sel-sel darah putih ini akan menyebabkan infeksi ringan pada amandel.kuman gram negatif berupa Enterobakter. influenza A.Infeksi tonsil yang ini adalah peradangan di tenggorokan terutama dengan tonsil yang abses (absesperitonsiler).Infeksi tonsil jarang menampilkan gejala tetapi dalam kasus yang ekstrim pembesaran ini dapat menimbulkan gejala menelan.Infeksi bakteri dari virus inilah yang menyebabkan tonsillitis. Penyebab penting dari infeksi virus adalah adenovirus. Abses secara perlahan-lahan mendorong tonsil menyeberang ke tengah tenggorokan. Bakteri atau virus menginfeksi lapisan epitel tonsil-tonsil epitel menjadikan terkikis dan terjadi peradangan serta infeksi pada tonsil. Abses besar yang terbentuk dibelakang tonsil menimbulkan rasa sakit yang intens dan demam tinggi (39C-40C). dapat menyebabkan pembesaran tonsil secara cepat sehingga mengakibatkan obstruksi jalan napas yang akut Infeksi jamur seperti Candida sp tidak jarang terjadi khususnya di kalangan bayi atau pada anak-anak dengan immunocompromised. yang menyebabkan timbulnya vesikel dan ulserasi pada tonsil.bengkak. Tonsilitis dapat menyebabkan kesukaran menelan.Hal ini akan memicu tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi yang akan datang akan tetapi kadang-kadang amandel sudah kelelahan menahan infeksi atau virus. coli. Epstein-Barr yang menyebabkan infeksi mononukleosis. Patofisiologi Saat bakteri atau virus memasuki tubuh melalui hidung atau mulut.

Hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut biasanya berakhir setelah 72 jam.sakit kepala dan biasanya sakit pada telinga.Patofisiologi tonsillitis . Gambar 6.dan otot.Sekresi yang berlebih membuat pasien mengeluh sukar menelan.belakang tenggorokan akan terasa mengental.kedinginan. seluruh tubuh sakit.

Macam-macam tonsillitis 1. Klasifikasi Bagan 1. Klasifikasitonsilitis f. .Tonsillitis akut .Patogenesis tonsillitis kronik e. Gambar 7.

alur . streptococcus viridian dan streptococcus piogenes. c. . yaitu a. bakteri yang mulai mati. Tonsilitis Bakterial Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A stereptococcus beta hemoliticus yang dikenal sebagai strept throat. Tonsilitis Lakunaris :Bila bercak detritus ini memjadi satu membentuk alur. Tonsilitis Folikularis : Adalah tonsillitis akut dengan detritus yang jelas d. b. Tonsilitis viral Ini lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorok. Gambar 7. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus . Tonsilitis akut Dibagi lagi menjadi 2. Penyebab paling tersering adalah virus Epstein Barr. pneumococcus.Detritus merupakan kumpulan leukosit.

Perbedaan tonsillitis bakteridan viral Gambar 9. tonsillitis folikularis dan tonsillitis lakunaris 2. Gambar 8. faring dan laring. Tonsilitis Difteri Penyebabnya yaitu oleh kuman Coryne bacterium diphteriae. kuman yang termasuk Gram positif dan hidung di saluran napas bagian atas yaitu hidung. .Sering dituemukan pada anak berusia< 10 tahun dan frekuensi tertinggi pada usia 2 – 5 tahun walaupun pada orang dewasa masih mungkin menderita penyakit ini . Dari kiri kekanan. Tonsilitis membranosa a.

Oleh karena di Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan cara pasteurisasi sebelum diminum maka penyakit ini jarang ditemukan. 3.TonsilitisDifteri b. Tonsilitis kronis merupakan salah satu penyakit yang paling umum dari daerah oral dan ditemukan terutama di . Angina Plout Vincent Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang didapatkan pada penderita dengan higiene mulut yang kurang dan defisiensi vitamin C. badan lemah dan kadang gangguan pecernaan. nyeri kepala . Gambar 10. 4. Tonsilitis kronik merupakan peradangan pada tonsil yang persisten yang berpotensi membentuk formasi batu tonsil. Gejala berupa demam sampai 39° C. Tonsilitis Septik Penyebab streptococcus hemoliticus yang terdapat dalam susu sapi sehingga menimbulkan epidemi. Terdapat referensi yang menghubungkan antara nyeri tenggorokan yang memiliki durasi 3 bulan dengan kejadian tonsilitis kronik.

disfagia (sakit saat menelan). .  Tonsilitis membranosa : . nyeri abdomen.  Tonsillitis akut : Seperti gejala common cold. kriptus membesar dan terisi detritus. nyeri kepala. otalgia. hygiene mulut yang buruk. nyeri waktu menelan atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan bila menelan.terasa kering dan pernafasan berbau. g. Kondisi ini mungkin memiliki dampak sistemik. tonsil membengkak. tenggorokan terasa kering. pasien mengeluh ada penghalang di tenggorokan. odynophagia. sakit kepala. lesu. letargi. pernafasan bau. muntah. Data dalam literatur menggambarkan tonsilitis kronis klinis didefinisikan oleh kehadiran infeksi berulang dan obstruksi saluran napas bagian atas karena peningkatan volume tonsil. Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kronik ialah rangsangan yang menahun dari rokok. mudah lelah. suara serak (bila laring terkena). mual dan muntah. nyeri sendi odinafagia. beberapa jenis makanan. tidak enak badan. halitosis dan limfadenopati servikal dan submandibula. Kondisi ini karena peradangan kronis pada tonsil. nafsu makan menurun . kelompok usia muda. pengaruh cuaca. adanya rasa sakit (nyeri) yang terus- menerus pada tenggorokan (odinofagi). pada pemeriksaan tonsil membesar dengan permukaan tidak rata.Demam. pucat. terutama ketika dengan adanya gejala seperti demam berulang. anoreksia. tidak nafsu makan. kelelahan fisik dan pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat. rasa gatal/ kering ditenggorokan. demam. sulit menelan. Manifestasi Klinis Pada umumnya penderita sering mengeluh oleh karena serangan tonsilitis akut yang berulang ulang. Gejala umum yang dikeluhkan : Nyeri seringkali dirasakan di telinga (karena tenggorokan dan telinga memiliki persyarafan yang sama ).

nafasberbau. Anamnesis 1) Kaji adanya riwayat penyakit sebelumnya (tonsilitis) 2) Apakah pengobatan adekuat 3) Kapan gejala itu muncul 4) Bagaimana pola makannya 5) Apakah rutin atau rajin membersihkan mulut b. rasa nyeri di mulut.  Angina Plaut Vincent : Demam sampai 39°C. gigi dan gusi mudah berdarah. Fokus pengkajian menurut Firman (2006) yaitu : a. nyeri kepala. Diagnosis 1.  Tonsilitiskronik : Rasa mengganjal di tenggorokan. kelumpuhan otot palatum dan pernafasan.  Tonsilitis membranosa : Tonsil membengkak ditutupi bercak putih. Pemeriksaan fisik  Tonsilitis akut : Tonsilitis tampak hiperemis. detritus (+) berbentuk folikel atau lacuna atau tertutup membrane semu. nyeri tenggorok . nyeri kepala. KGB membengkak (bull neck). membengkak.  Tonsilitis kronik : . gigi dan gusi mudah berdarah . badan lemah. hipersalivasi. h. hipersaliva. kelenjar submandibular membengkak dan nyeri tekan . badan lemah dan terkadnag terdapat gangguan pencernaan. demam. tenggorokterasakering.

Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan kejaringan sekitar. b. jika mengalami kesulitan menelan. dengan mengukur jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil. . kripta yang melebar. mengeriput. 3) Tonsilitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 3 tahun. 2) Tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 2 tahun. maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi : T0 : Tonsil masuk di dalam fossa T1 :<25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T4 :>75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaringi. diberikan antibiotik peroral (melalui mulut ) selama 10 hari. Pengangkatan tonsil (Tonsilektomi ) dilakukan jika: 1) Tonsilitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih /tahun . Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil. terdapat dua macam gambaran tonsil dari Tonsilitis Kronis yang mungkin tampak. kadang-kadang seperti terpendam di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis. Penatalaksanaan Penatalaksanaan tonsillitis secara umum: a. 2. yakni : 1. tonsil ditutupi oleh eksudat yang purulen atau seperti keju. Jika penyebab bakteri. h. Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring. bisa diberikan dalam bentuk suntikan. Pada pemeriksaan. kripta yang melebardan ditutupi eksudat yang purulen.

Penatalaksanaan tonsillitis adalah: a. nyeritelan yang berat. untuk menghindari komplikasi kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapan tenggorok 3 kali negatif 4) Pemberian antipiretik b. kortikosteroid untuk mengurangi edema pada laring dan obat simptomatik.4) Tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibiotik. Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal. TONSILEKTOMI Tonsilektomi didefinisikan sebagai operasi pengangkatan seluruh tonsil palatina. 2) Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi konservatif tidak berhasil. Indikasi Absolut (AAO)  Tonsil yang besarhinggamengakibatkangangguanpernafasan. gangguantidurataukomplikasipenyakit- penyakitkardiopulmonal. 2) Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder. Penatalaksanaan tonsillitis kronik 1) Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur / hisap. Penatalaksanaan tonsillitis akut : 1) Antibiotik golongan penelitian atau sulfanamid selama 5 hari dan obat kumur atau obat isap dengan desinfektan. bila alergi dengan diberikan eritromisin atau klidomisin.  Absesperitonsiler (Peritonsillar abscess) yang tidakmenunjukkanperbaikandenganpengobatan . Menurut The American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium tahun 1995 menetapkan indikasi tonsilektomi : 1. 3) Pasien diisolasi karena menular. tirah baring.

hemofiliadanpurpura b.  Kontraindikasirelatif: . Hipertensi 2. 2. penyakitjantungdansebagainya. operasi dapat dilaksanakan dengan tetap memperhitungkan imbang “manfaat dan risiko”. anemia aplastik. Penyakitdarah: leukemia. namun bila sebelumnya dapat diatasi. Indikasi Relatif (AAO)  Jika mengalami tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun dan tidak menunjukkan respon sesuai harapan dengan pengobatan medikamentosa yang memadai.  Tonsillitis yang mengakibatkankejangdemam. albuminuria. Penyakitsistemik yang tidakterkontrol: diabetes melitus.  Bau mulut atau bau nafas tak sedap yang menetap pada tonsillitis kronis yang tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan. Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat 3.  Kontraindikasiabsolut: a.  Tonsillitis kronis atau tonsilitis berulang yang diduga sebagai carrier kuman Streptokokus yang tidak menunjukkan repon positif terhadap pengobatan dengan antibiotika. Infeksi akut yang berat 5.  Tonsil yang diperkirakanmemerlukanbiopsijaringanuntukmenentukangambaranpatolog isjaringan. Gangguan perdarahan.  Pembesaran tonsil di salah satu sisi (unilateral) yang dicurigai berhubungan dengan keganasan (neoplastik) Kontraindikasi: Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan sebagai kontraindikasi. Anemia 4. Keadaan tersebut adalah: 1. Demam.

Poliomielitisepidemik d. Infeksiakutsalurannafasatau tonsil (tidaktermasukabsesperitonsiler) c. Anemia (Hb<10 gr% atau HCT <30%) b.Tonsilektomi TehnikTonsilektomi .a. Usia di bawah 3 tahun (sebaiknyaditunggusampai 5 tahun) Gambar .

Abses biasanya terdapat pada daerah antara kapsul tonsil dan otot-otot yang mengelilingi faringeal bed. Komplikasi jauh terjadi secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul endocarditis. pruritus. urtikaria. sinusitis atau otitis media secara percontinuitatum. uvetis iridosiklitis. . nefritis. Hal ini paling sering terjadi pada penderita dengan serangan berulang. Diagnosa dikonfirmasi dengan melakukan aspirasi abses.Komplikasi Radang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa rhinitis kronik. Gejala penderita adalah malaise yang bermakna. artritis. dan furunkulosis. Infeksi dapat meluas menuju kapsul tonsil dan mengenai jaringan sekitarnya. myositis. odinofagi yang berat dan trismus. Beberapa literature menyebutkan komplikasi tonsillitis kronis antara lain a) Abses peritonsil. dermatitis.

selanjutnya dilakukan tonsilektomi. Biasanya diikuti dengan penutupan kripta pada Tonsilitis Folikular akut. . e) Kista tonsilar. Hal ini didiagnosa dengan mudah dengan melakukan palpasi atau ditemukannya permukaan yang tidak rata pada perabaan. c) Abses intratonsilar. Dijumpai nyeri lokal dan disfagia yang bermakna. demam tinggi dan pembengkakan dinding lateral faring sehingga menonjol kearah medial. Batu tersebut dapat membesar secara bertahap dan kemudian dapat terjadi ulserasi dari tonsil. Gambar. Gejala utama adalah trismus. Penatalaksanaan yaitu dengan pemberian antibiotika dan drainase abses jika diperlukan. Tonsililith dapat ditemukan pada Tonsilitis Kronis bila kripta diblokade oleh sisa-sisa dari debris. Abses peritonsil b) Abses parafaring. indurasi atau pembengkakan di sekitar angulus mandibula. Merupakan akumulasi pus yang berada dalam substansi tonsil. Garam inorganik kalsium dan magnesium kemudian tersimpan yang memicu terbentuknya batu. d) Tonsilolith (kalkulus tonsil). Tonsil terlihat membesar dan merah. Abses dapat dievakuasi melalui insisi servikal. Tonsilolith lebih sering terjadi pada dewasa dan menambah rasa tidak nyaman lokal atau foreign body sensation.

bahkan bila penderita telah mengalami perbaikan dalam waktu yang singkat. Pada kasus-kasus yang jarang. antibiotika tersebut harus dikonsumsi sesuai arahan demi penatalaksanaan yang lengkap. infeksi yang sering terjadi yaitu infeksi pada telinga dan sinus. Sangat sering terjadi tanpa disertai gejala. Disebabkan oleh blokade kripta tonsil dan terlihat sebagai pembesaran kekuningan diatas tonsil. Menangani gejala-gejala yang timbul dapat membuat penderita Tonsilitis lebih nyaman. Dapat dengan mudah didrainasi. PROGNOSIS Tonsilitis biasanya sembuh dalam beberapa hari dengan beristrahat dan pengobatan suportif. f) Fokal infeksi dari demam rematik dan glomerulonephritis. Tonsilitis dapat menjadi sumber dari infeksi serius seperti demam rematik atau pneumonia. Hasil ini megindikasikan kemungkinan infeksi tonsil menjadi patogenesa terjadinya penyakit Glomerulonefritis. Bila antibiotika diberikan untuk mengatasi infeksi.9 . I. Gejala-gejala yang tetap ada dapat menjadi indikasi bahwa penderita mengalami infeksi saluran nafas lainnya. Dalam penelitiannya Xie melaporkan bahwa anti-streptokokal antibodi meningkat pada 43% penderita Glomerulonefritis dan 33% diantaranya mendapatkan kuman Streptokokus beta hemolitikus pada swab tonsil yang merupakan kuman terbanyak pada tonsil dan faring.