Anda di halaman 1dari 12

1.

REAKSI METABOLISME ASAM AMINO


Tahap awal reaksi metabolisme asam amino, ,melibatkan pelepasan gugus amino,
kemudian baru perubahan kerangka karbon pada molekul asam amino. Dua proses
utama pelepasan gugus asam amino, yaitu transaminasi dan deaminasi.

1. Transaminasi
Transaminasi ialah proses katabolisme asam amino yang melibatkan pemindahan gugus
amino dari satu asam amino kepada asam amino lain. Dalam reaksi transaminasi ini
gugus asam amino dari suatu asam amino dipindahkan kepada salah satu dari tiga
senyawa keto, yaitu asam piruvat, ketoglutarat atau oksaloasetat, sehingga senyawa
keto ini diubah menjadi asam amino, sedangkan asam amino semula diubah menjadi
asam keto. Ada dua enzim penting dalam reaksi transaminasi yaitu alanin transaminase
dan glutamat transaminase yang bekerja sebagai katalis dalam reaksi berikut :

Reaksi transaminasi bersifat reversible. Pada reaksi ini tidak ada gugus amino yang
hilang, karena gugus amino yang dilepaskan oleh asam amino diterima oleh asam keto.
Alanin transaminase merupakan enzim yang mempunyai kekhasan terhadap asam
piruvat-alanin sebagai satu pasang substrat, tetapi tidak terhadap asam-asam amino
yang lain. Dengan demikian alanin transaminase dapat mengubah berbagai jenis asam
amino menjadi alanin, selama tersedia asam piruvat. Glutamat transaminase merupakan
enzim yang mempunyai kekhasan terhadap glutamat-ketoglutarat sebagai satu pasang
substrat, karena itu enzim ini dapat mengubah asam amino menjadi asam glutamat.

Enzim yang bekerja sebagai katalis dalam reaksi tersebut ialah alanin-glutamat
transaminase.

Dari reaksi-reaksi diatas dapat dilihat bahwa walaupun ada beberapa jalur reaksi
transaminasi, namun asam ketoglutarat merupakan akseptor gugus amino yang terakhir.
Dengan demikian hasil reaksi transaminasi keseluruhan ialah asam glutamat.

Reaksi transaminasi ini terjadi dalam mitokondria maupun dalam cairan sitoplasma.
Semua enzim transaminase tersebut dibantu oleh piridoksalfosfat sebagai koenzim. Telah
diterangkan bahwa piridoksalfosfat tidak hanya merupakan koenzim pada rekasi
transaminasi, tetapi juga pada reaksi-reaksi metabolisme yang lain. (Poedjiaji.2006:
301-302)
1. Deaminasi
Pada reaksi ini dapat dijumpai dua tipe atau sub jalur yaitu yang bersifat oksidatif dan
lainnya non-oksidatif. Yang pertama masih dibedakan atas dasar koenzim yang
membantu aktivitas enzim yaitu NAD+ (atau NADP+) atau FAD (atau FMN). Enzim yang
dibantu oleh NAD bernama dengan akhiran dehidrogenase sedangkan yang dibantu
dengan gugus prostetis FAD/FMN dinamakan oksidase. (Martoharsono. 2006 : 58)
Deaminasi oksidatif
L-Glutamat yang berhasil mengumpulkan gugus amino pada reaksi transaminasi dapat
melepaskannya melalui reaksi deaminasi oksidatif. Enzim yang mengkatalisis reaksi ini
adalah L-glutamat dehidrogenase yang dibantu oleh NAD (atau NADP+). Reaksinya
diduga berlangsung dalam dua tahap yaitu dehidrogenasi dan hidrolisis.
NADH yang terbntuk pada tahap pertama diosidasi melalui rantai transport elektron-
oksigen. Hasil energi oksidasi ini disimpan dalam ATP.

L-Glutamat dehidrogenase adalah enzim allosetrik yang dihambat oleh modulatorspesifik


yaitu ATP, GTP, dan NADH dan dipacu aktivitasnya oleh ADP, GDP dan bebrapa asam
amino, aktifitasnya juga dipengaruhi oleh homon tiroksin dan beberapa hormon steroid.
(Martoharsono. 2006 : 58)

Deaminasi non-oksidatif
Deaminasi non oksidatif ialah perubahan L-serin menjadi asam piruvat yang di katalis
oleh serin dehidratase, perubahan treonin menjadi -ketobutirat oleh treonin dehidratase
dan lain-lain reaksi yang sejenis . golongan enzim ini mengandung piridoksal-P sebagai
gugug prostetisnya.

1. PENGUBAHAN ASAM AMINO

Jalur ketoglutarat
Jalur ini memuat pengubahan arginin, prolin, histidin, dan glutamin menjadi asam
glutamat yang selanjutnya senyawa terakhir di deaminasi menghasilkan asam
ketoglutarat. Asam-asam amino tersebut di atas termasuk dalam golongan senyawa
glikogenat.

Arginin oleh enzim arginase dipecah menjadi ornitin dan urea. Dengan jalan
transaminasi ornitin yang terbentuk diubah menjadi glutamat semialdehida, yang
selanjutnya mengalami dehidrogenasi menjadi asam glutamat. Enzim pertama adalah
ornitin transaminase dan yang kedua adalah dehidrogenase yang dibantu oleh NAD+.
Prolin oleh prolin oksidase diubah menjadi pirolinkarboksilat yang karena tidak mantap
langsung berubah menjadi glutamat semialdehida dan kemudian menjadi asam glutamat
melalui reaksi dehidrogenasi.

Enzim histidase (histidin amoniak liase), urokanat hidratase dan imidazolon propionase
bersama-sama membuka cincin imidazol pada histidin menjadi N-formimino glutamat.
Senyawa ini kemudian melepaskan gugus formimino dalam suatu reaksi transfer yang
dikatalisis oleh glutamat-formimino transferase dan berubah menjadi asam glutamat.

Glutamin dapat membebaskan gugus NH3, pada reaksi hidrolisis yang dikatalisis oleh
glutaminase, menjadi asam glutamat. Senyawa tersebut juga dapat diubah menjadi
asam glutamat karena kegiatan enzim glutamat sintase.
Reaksi pengubahan asam amino yang disebutkan di atas menjadi asam ketoglutarat
diterangkan melalui gambar berikut ini :

Jalur ketoglutarat lain yang akan diberitahukan adalah histidin menjadi asam glutamat.
Tahap pengubahannya seperti berikut ini :

(Martoharsono,2006:60-62)

Jalur piruvat
Kelompok asam amino yang dapat diubah menjadi asam piruvat adalah alanin, glisin,
serin, sistin dan sistein. Bagan perubahannya adalah sebagai berikut

Glisin dapat diubah menjadi serin melalui reaksi transfer. Enzim yang mengkatalisis
reaksi tersebut adalah serin hidroksimetil transferase yang dibantu
oleh tetrahidrofolat (FH4).
Serin yang terbentuk pada reaksi transfer di atas diubah menjadi asam piruvat oleh serin
dehidrase yang dibantu oleh gugus prostesis piridoksal-P.

Alanin dapat diubah menjadi asam piruvat melalui reaksi transaminasi, yaitu:

Alanin + - ketoglutarat piruvat + glutamat


Enzim alanin transaminase ini membutuhkan bantuan piridoksal-fosfat yang terikat erat
pada bagian apoenzimnya.
Asam piruvat yang dihasilkan oleh jalur piruvat ini diubah ke asetil-KoA oleh
kompleks piruvat dehidrogenase. Asetil-KoA oleh kompleks piruvat dehidrogenase.
Asetil-KoA ini dapat menghasilkan energi melalui siklus asam trikarboksilat.
Jalur aseto-asetil KoA
Fenilalanin, triptofan, tirosin, lisin, dan leusin dapat diubah menjadi asetil KoA melalui
aseto-asetil KoA. Diagram konversi asam amino di atas adalah sebagai berikut

Fenilalanin berbeda dari Triptofan hanya pada kandungan gugus OH. Penempelan gugus
pada Fenilalanin membentuk triptofan yang dikatalisis oleh fenilalanin 4-mono-
oksigenase (atau fenilalanin hidroksilase sebuah enzim oksigenase fungsi campuran)
yang dibantu oleh koenzim NADPH dan oksigen. Pembukaan cincin benzena yang ada
pada fenilalanin atau triptofan dilakukan bersama sama oleh enzim transainase dan
dioksigenase yang dapat dilihat urutan pada reaksi ini.
Pada jalur pemecahan fenilalanin atau triptofan dijumpai enzim yang
bernama oksigenase atau fenilalanin 4-mono-oksigenase, 4-OH fenilpiruvat
dioksigenase dan homogentisat 1,2 dioksigenase. Enzim 4-mono-oksigenase adalah
salah satu contoh dari yang mempunyai fungsi campuran yaitu menempelkan 1 atom
oksigen yang berasal dari O2 pada cincin benzena (fenilalanin) dan mengkaitkan atom
oksigen lainnya pada hidrogen sehingga terbentuklah air. Hidrogen yang mereduksi
secara tidak langsung berasal dari NADPH melalui dihibrobiopterin.
NADPH + H+ + dihibrobiopterin NADP+ + tetrahibrobiopterin
L-fenilalanin + tetrahidrobiopterin dihidrobiopterin + L-tirosin

Jalur suksinat
Asam amini methionin, isoleusin dan valin menempuh jalur yang sama pada proses
degradasinya menjadi asam suksinat.

Metionin yang masuk ke dalam jalur, pertama kali dipisahkan gugus metilnya. Caranya
ialah dengan mengubah methionin menjadi S-Adenosil methionin dengan bantuan ATP
dan enzim methioninadenosil transferase. Senyawa yang terbentuk ini kemudian
bertindak sebagai donor metil pada reaksi transmetilasi.
Enzim yang mengkatalisis reaksi terakhir ini adalah homosistein metiltransferase.
Dengan reaksi transaminasi, valin diubah menjadi senyawa asam -ketoisovalerat.
Senyawa ini kemudian didekarboksilasi dengan bantuan enzim kompleks
dehidrogenase dan NAD+ yang selanjutnya berberubah menjadi bentuk aktif karena
KoASH. Enzim -ketoisovalerat dehidrogenase mempunyai fungsi dekarboksilasi dan
oksidasi yang menghasilkan isobutiril-KoA (konversi ini diperkirakan sama dengan reaksi
oksidasi asam piruvat atau -ketoglutarat)., yang akhirnya diubah menjadi propionil-
KoA. Setelah reaksi karboksilasi senyawa ini menjadi metilmalonil-KoA dan selanjutnya
menjadi suksinil KoA. (Martoharsono. 2006: 60-74)
1. METABOLISME BEBERAPA ASAM AMINO
Asam amino dibedakan menjadi asam amino esensial dan nonesensial.

1). Asam amino esensial : tak dapat disintesis oleh tubuh, hanya bisa didapat dari luar/
makanan

2). Asam amino non esensial: dapat disintesis oleh tubuh oleh senyawa lain.

1. Asam Amino Non Esensial


Alanin
Alanin dapat diubah menjadi asam piruvat melalui proses transaminasi sebagai berikut

Reaksi tersebut bersifat reversible. Asam piruvat merupakan senyawa yang terbentuk
pada jalur metabolisme karbohidrat. Dengan demikian reaksi metabolisme alanin ini
merupakan hubungan antara metabolisme protein dengan metabolisme karbohidrat.
Alanin adalah asam amino nonesensial yang dapat dibuat didalam tubuh melalui reaksi
transaminasi piruvat dengan asam glutamat atau asam amino lain.

Glisin
Glisin dapat mengalami reaksi deaminasi oksidatif oleh glisin oksidase, yaitu enzim yang
terdapat dalam jaringan hati dan ginjal. Dalam reaksi ini glisin akan diubah menjadi
asam glioksilat dan amonia. Asam glioksilat yang terbentuk dapat diuraikan lebih lanjut
menjadi formaldehida dan karbondioksida.

Asam glioksilat dapat juga dibah menjadi asam malat yang menjalani metabolisme
melalui siklus asam sitrat. Di samping itu glisin dapat diubah pula menjadi serin dengan
adanya 5-formiltetrahidrofolat. Dalam reaksi ini 5-formiltetrahidrofolat berfungsi sebagai
donor gugus formil kepada glisin
Glisin dapat berfungsi dalam proses penawar racun , misal apabila asam benzoat atau
derifatnya termasuk dalam makanan maka glisin akan bergabung dengan zat-zat
tersebut sehingga terbentuk asam hipurat yang tidak bersifat racun.

Sistin dan Sistein


Sistin dan Sistein adalah dua senyawa yang saling dapat diubah dari yang satu kepada
yang lain dan mengalami metabolisme yang sama dalam tubuh.

Dalam metabolisme sistein dapat diubah menjadi asam piruvat melalui tiga cara :

1. Reaksi pengubahan sistein dengan enzim sistein desulfhidrase.


2. Melalui pembentukan asam sisteinsulfinat, kemudian diubah menjadi asam
sulfinilpiruvat sehingga membentuk asam piruvat.
3. Melalui reaksi transaminasi membentuk asam tiolpiruvat, kemudian diubah
menjadi asam piruvat.
Sistin dan Sistein adalah asam amino nonesensial yang dibuat dari asam amino esensial
metionin. Metionin terlebih dahulu diubah menjadi homosistein, kemudian homosistein
bereaksi dengan serin membentuk homoserin dan sistein.

Serin
Metabolisme serin berlangsung melalui reaksi deaminasi dan menghasilkan asam
piruvat. Metabolisme ini terjadi dengan menggunakan treonin aldolase selaku katalis.
Biosintesis serin dimulai dari asam fosfogliserat yang terbentuk pada proses glikolisis dan
berlangsung melalui beberapa tahap reaksi sehingga terbentuk serin.

Tirosin
Tirosin dapat diubah menjadi asam p-hidroksifenilpiruvat dengan cara transaminasi.
Reaksi ini berlangsung dengan bantuan enzim tirosin ketoglutarat transaminase dan
piridoksal fosfat sebagai koenzim. Selanjutnya melalui beberapa tahap reaksi asam p-
hidroksifenilpiruvat diubah menjadi asam fumarat dan asam asetoasetat. Asam
asetoasetat pada akhirnya diubah menjadi asetil KoA dan asam asetat.

Tirosin dapat dibentuk dari fenilalanin dengan bantuan enzim fenilalanin hidroksilae
sebagai katalis. Dalam reaksi ini O2 diubah menjadi H2O dan untuk ini ada dua kegiatan
yang berlangsung yaitu kegiatan II reduksi dihidrobiopterin oleh NADPH menjadi
tetrahidrobiopterin dan kegiatan I reduksi O2 menjadi H2O dan pengubahan fenilalanin
menjadi tirosin, sedangkan tetrahidropterin berubah menjadi dihidrobiopterin kembali.
Asparagin dan Asam Aspartat
Dalam metabolsmenya, asparagin diubah menjadi asam aspartat dengan bantuan enzim
asparaginase. Kemudian asam aspartat diubah menjadi asam asam oksaloasetat oleh
enzim transaminase. Di samping itu asam aspartat dapat membentuk beberapa buah
asam amino esensial melalui beberapa tahap reaksi . Asam amino esensial yang
terbentuk dari asam aspartat adalah lisin, metionin, treonin, dan isoleusin. Sebaliknya
asam aspartat dapat dibentuk dari asam oksaloasetat dengan reaksi transaminasi. Dari
asam aspartat dapat dibentuk asparagin dengan enzim asparagin sintetase. Dalam
reaksi ini diperlukan donor gugus amino dan ATP sebagai sumber energi yang diubah
menjadi AMP. Sebagai kofaktor diperlukan ion Mg+.
Donor gugus amino untuk reaksi yang terjadi pada binatang mammalia adalah glutamin,
sedangkan pada bakteri digunakan amonia. Asparagin dapat pula dibentuk dari asam
ketosuksinat.

Glutamin dan Asam Glutamat


Asam glutamat banyak terlihat dalam reaksi transaminasi dengan bantuan enzim
glutamat transaminasi dengan bantuan enzim glutamat transaminase, suatu enzim yang
mempunyai aktivitas tinggi dan terdapat banyak pada jaringan hewan. Dalam reaksi
transaminasi asam glutamat diubah menjadi asam -ketoglutarat. Selain dengan reaksi
transaminasi, asam ketoglutarat dapat pula dibentuk dari asam glutamat dengan
reaksi deaminasi oksidatif. Dalam reaksi ini yang bekerja sebagai katalis ialah glutamat
dehidrogenase dengan bantuan koenzim NAD+ atau NADP+ . Oleh karena transaminasi
maupun deaminasi oksidatif tersebut adalah reaksi yang reversibel, maka kedua reaksi
tersebut dapat merupakan reaksi katabolisme maupun biosintesis asam glutamat. Dalam
otak asam glutamat dapat diubah menjadi asam amino butirat dengan reaksi
dekarboksilasi oleh enzim glutamat dekarboksilase. Asam amino butirat ini dapat
diubah kembali menjadi asam glutamat oleh asam ketoglutarat.
Glutamin dapat diubah menjadi asam glutamat oleh enzim glutaminase dalam reaksi
deaminasi yang tidak bersifat reversibel. Biosintesis glutamin dari asam glutamat
berlangsung dengan bantuan enzim glutamin sintetase serta ATP dan Mg++. Enzim
tersebut terdapat dalam ginjal, otak, dan retina.
Mekanisme reaksi berlangsung sebagai berikut :

1. Asam Amino Esensial


Valin
Melalui beberapa tahap reaksi, valin dapa diubah menjadi suksinil KoA yang kemudian
masuk ke dalam siklus asam sitrat. Dalam metabolisme ini mula-mula valin diubah
menjadi asam ketoisovalerat dengan cara transaminasi. Selanjutnya asam ketoisovalerat
diubah berturut-turut menjadi isobutiril KoA dan suksinil KoA.

Biosintesis valin, suatu asam amino esensial, hanya terjadi dalam tumbuhan dan
organisme mikro. Biosintesis ini diawali dari asam piruvat yang berturut-turut diubah
menjadi aseto laktat , , dihidroksi isovalerat, ketoisovalerat dan kemudian valin.

Leusin
Leusin dapat diubah menjadi asam keto melalui transaminasi oksidatif. Kemudian asam
keto ini melalui beberapa tahap reaksi diubah menjadi asetil KoA.

Salah satu senyawa yang terbentuk dalam tahap reaksi tersebut ialah hidroksi metil
glutamil KoA (HMG CoA), yang juga merupakan salah satu zat antara dalam biosintesis
kolesterol.

Isoleusin
Dalam metabolismenya isoleusin juga mengalami reaksi transaminasi oksidatif sehingga
terbentuk asam keto, yaitu asam keto metil valerat. Kemudian asam ini melalui
beberapa tahap reaksi diubah menjadi asetil KoA dan propionil KoA. Asetil KoA dapat
langsung masuk ke dalam siklus asam sitrat, sedangkan propionil KoA diubah menjadi
suksinil KoA baru kemudian masuk ke dalam siklus asam sitrat .

Isoleusin juga merupakan asam amino esensial yang disintesis dalam organisme mikro.
Biosintesis isoleusin ini dimulai dari asam , ketobutirat yang dapat dibentuk dari
treonin. Melalui beberapa tahap reaksi asam ketobutirat diubah menjadi isoleusin.

Treonin
Treonin mengalami metabolisme yang serupa dengan serin. Asam ketobutirat kemudian
diubah menjadi propionil KoA yang selanjutnya diubah menjadi suksinil KoA.

Di samping metabolisme tersebut treonin juga dapat diubah menjadi glisin dan
asetaldehida dengan cara pemecahan molekulnya.

Fenilalanin
Sebagaimana telah diuraikan pada metabolisme tirosin, fenilalanin dapat diubah menjadi
tirosin yang kemudian melalui beberapa tahap reaksi dapat diubah menjadi asam formiat
dan asam asetoasetat. Reaksi pembentukan tirosin dan fenilalanin adalah reaksi tidak
reversibel, artinya fenilalanin tidak dapat dibentuk dari tirosin dan karenanta fenilalanin
adalah asam amino esensial sedangkan tirosin adalah asam amino nonesensial.

Biosintesis fenilalanin terjadi pada organisme mikro dan dapat dibentuk dari asam
fosfoenol piruvat dan eritrosa-4-fosfat. Kedua jenis ini melalui beberapa tahap reaksi
dapat membentuk asam fenilpiruvat yang selanjutnya dengan reaksi transaminasi
terbentuk fenilalanin.

Triptofan
Triptofan adalah suatu asam amino esensial dan satu-satunya asam amino esensial yang
mengandung cincin indol. Metabolisme triptofan berlangsung antara lain melalui jalur
kinurenin-antranilat, yaitu suatu metabolisme melalui beberapa tahap reaksi yang
menghasilkan asam , ketoadipat yang kemudian membentuk asetoasetil KoA. Dalam
metabolisme ini kinurenin dan asam 3-hidroksi antranilat merupakan senyawa-senyawa
antara.

Metionin
Metionin dapat diubah menjadi sistein , tetapi sistein tidak dapat diubah kembali menjadi
metionin. Homoserin yang terbentuk pada reaksi pengubahan metionin menjadi sistein
dapat diubah menjadi asam ketobutirat.

Biosintesis metionin berawal dari asam aspartat. Asam ini dapat diubah berturut-turut
menjadi aspartilfosfat, aspartatsemialdehida, homoserin,sistationin, homosistin, dan
metionin.

Biosintesis ini terjadi pula pada tumbuhan atau organisme mikro.


Lisin
Lisin adalah suatu asam diamino monokarboksilat. Lisin dapat memberikan juga amino
kepada asam amino lain, tetapi tidak dapat dibentuk lisin kembali artinya tidak dapat
terjadi proses reaminasi setelah lisin mengalami reaksi deaminasi. Melalui beberapa
tahap reaksi lisin dapat diubah menjadi asam glutarat.

Lisin dapat terbentuk dari asam aspartat melalui beberapa tahap reaksi. Asam aspartat
diubah menjadi aspartat semialdehida yang kemudian bereaksi dengan asam piruvat
dan pada reaksi tahap akhir membentuk lisin. Biosintesis lisin ini terjadi dalam bakteri.
Ragi dapat memproduksi lisin dari asam ketoglutarat dengan asetil KoA.

Arginin
Dalam siklus urea, yaitu siklus reaksi-reaksi yang menghasilkan urea dari CO2dan
NH3, arginin merupakan salah satu senyawa pada siklus tersebut. Arginin diubah oleh
enzim arginase menjadi ornitin dan urea. Selanjutnya sebagian dari ornitin dapat diubah
menjadi prolin dan asam glutamat yang kemudian dapat pula diubah menjadi asam
ketoglutarat yang masuk dalam siklus asam sitrat. Arginin dapat dibuat dalam tubuh
tetapi bagi bayi tidak cukup untuk pertumbuhan sel, sedangkan bagi orang dewasa telah
cukup untuk proses penggantian sel-sel yang rusak. Jadi kecepatan produksi arginin
dalam tubuh orang dewasa telah dapat mengimbangi kekurangan yang terjadi oleh
kerusakan protein. Pada bayi atau anak-anak kecepatan produksi belum optimal,
sehingga diperlukan tambahan arginin dalam protein makanan.

Histidin
Seperti arginin, histidin diperlukan dalam protein makanan untuk binatang muda (tikus)
karena asam amino ini tidak diproduksi dengan kecepatan yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan. Namun bagi orang dewasa histidin yang diproduksi dalam tubuh telah cukup
untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen, sehingga tidak diperlukan tambahan
histidin yang berasal dari protein dalam makanan.

Selain fungsinya sebagai pembentuk protein dalam tubuh, histidin dapat diubah menjadi
histamin dengan cara dekarboksilasi. Histamin adalah suatu senyawa yang dapat
memperkecil tekanan darah, dan juga meningkatkan pengeluaran cairan lambung. Enzim
yang bekerja sebagai katalis dalam reaksi pembentukan histamin ialah asam amino
aromatik dekarboksilase yang terdapat dalam ginjal, otak, dan hati.
Metabolisme histidin sebagian besar terjadi dalam hati. Melalui beberapa tahap reaksi,
histidin diubah menjadi asam glutamat oleh enzim histidase dan urokinase.

Biosintesis histidin yang berlangsung pada organisme mikro terdiri atas beberapa tahap
reaksi yang berawal dari reaksi kondensasi antara fosforibosil pirofosfat dengan ATP,
yang dibantu oleh ATP fosforilase sebagai katalis.

(Poedjiadi,2006:314-321)

1. SIKLUS UREA
Senyawa yang tergolong di dalamnya sebenarnya merupakan hasil akhir dari satu rantai
reaksi yang bilamana tidak diekskresikan akan membahayakan sel atau jasad hidup itu
sendiri. Senyawa ber-N misalnya adalah NH3 yang karena sifatnya yang toksis kemudian
diubah menjadi urea atau asam urat. Sebagian besar hewan yang hidup di air (akuatik)
mengekskresikannya dalam bentuk amoniak. Oleh karena zat itu langsung terkena air
makan senyawa tersebut akan terencerkan sehingga tidak membahayakan dirinya. Jasad
hidup yang demikian itu tergolong dalam hewan amonotelat. Hewan yang
mengekskresikan urea dinamakan ureotelat dan yang membuang sekretnya berupa
asam urat adalah urikotelat (burung, reptilia) (Martoharsono. 2006: 75).
Dari uraian tentang metabolisme asam amino telah diketahui bahwa NH3dapat dilepaskan
dari asam amino melalui reaksi transaminasi dan deaminasi. Pada reaksi transaminasi
gugus NH2 yang dilepaskan diterima oleh suatu asam keto, sehingga terbentuk asam
amino baru dan asam keto lain, sedangkan pada reaksi deaminasi, gugus
NH2 dilepaskan dalam bentuk amonia yang kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh
dalam bentuk urea dalam urin. Amonia dalam kadar tinggi meruapakan racun bagi tubuh
manusia (Anna)
Urea adalah zat yang netral tidak toksis yang dikeluarkan dari jasad bersama urine.
Senyawa itu terbentuk dari dua molekul amoniak dan satu molekul karbondioksida.
Penggabungan ini memerlukan energi yang cukup besar, yang berasal dari ATP.
Pengikatan NH3 sehingga menjadi urea terjadi melalui siklus urea (Martoharsono. 2006:
75)
Siklus urea di atas mencakup beberapa siklus, yaitu:

Reaksi 1. Sintesis karbamil fosfat

Dalam reaksi pembentukan karbamil fosfat ini, satu mol amonia bereaksi dengan satu
mol karbondioksida dengan bantuan enzim karbamilfosfat sintetase. Reaksi ini
membutuhkan energi, karenanya reaksi ini melibatkan dua mol ATP yang diubah menjadi
ADP.
Di samping itu sebagai kofaktor dibutuhkan Mg++ dan N-asetil-glutamat.
Reaksi 2. Pembentukan sitrulin

Karbamil fosfat yang terbentuk bereaksi dengan ornitin membentuk sitrulin. Dalam
reaksi ini bagian karbamil bergabung dengan ornitin dan memisahkan gugus fosfat.
Sebagai katalis pada pembentukan sitrulin adalah ornitin transkarbamilase yang terdapat
pada bagian mitokondria sel hati.

Reaksi 3. Pembentukan asam argininosuksinat

Selanjutnya sitrulin beraksi dengan asam aspartat membentuk asam argininosuksinat


sintetase. Dalam reaksi tersebut ATP meruapakan sumber energi dengan jalan
melepaskan gugus fosfat dan berubah menjadi AMP.

Reaksi 4. Penguraian asam argininosuksinat

Dalam reaksi ini asam argininosuksinat diuraikan menjadi arginin dan asam fumarat.
Reaksi ini berlangsung dengan bantuan enzim argininosuksinase, suatu enzim yang
terdapat dalam hati dan ginjal.

Reaksi 5. Penguraian arginin

Reaksi terakhir ini melengkapi tahap reaksi pada siklus urea. Dalam reaksi ini arginin
diuraikan menjadi urea dan ornitin. Enzim yang bekerja sebagai katalis dalam reaksi
penguraian ini ialah arginase yang terdapat dalam hati. Ornitin yang terbentuk dalam
reaksi hidrolisis ini bereaksi kembali dengan karbamilfosfat untuk membentuk sitrulin
(reaksi2).