Anda di halaman 1dari 8

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Gagal Ginjal Kronik


Sasaran : Keluarga Tn. S
Tempat : Rumah Tn. S Kelurahan Arjowinagun Rt. 10 Rw. 09
Hari/Tanggal : Minggu, 28 Agustus 2016, 10.00 WIB
Waktu : 1 x 30 menit

A. TUJUAN
1. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Pada akhir proses penyuluhan, pasien dan keluarga dapat
memahami penyakit Gagal Ginjal Kronik
2. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan 1x30 menit diharapkan
pasien dan keluarga dapat:
a. Mengerti dan mampu mengungkapkan kembali pengertian
Gagal Ginjal
b. Mengerti dan mampu menyebutkan kembali tentang penyebab
GGK.
c. Mengerti dan mampu menyebutkan kembali tentang tanda dan
GGK.
d. Mengerti dan mampu menyebutkan kembali komplikasi dari
CAPD.
e. Mengerti dan mampu menyebutkan kembali kelebihan dan
kekurangan dari CAPD.
f. Mengerti dan mampu menyebutkan kembali pencegahan GGK
g. Mengerti pentingnya DIIT

B. MATERI PENYULUHAN
a Pengertian Gagal Ginjal Kronik
b Penyebab Gagal Ginjal Kronik
c Tanda dan Gejala Gagal Ginjal Kronik
d komplikasi dari CAPD
e kelebihan dan kekurangan dari CAPD
f pencegahan GGK
g Mengerti pentingnya DIIT
C. METODE
a. Penyuluhan
b. Diskusi
c. Tanya jawab
D. MEDIA
a. Leaflet
b. Lembar balik
E. SETTING TEMPAT
1 Pasien dan keluarga duduk ditempat yang telah disediakan dengan
posisi menghadap kedepan
2 Penyaji berada di depan pasien dan keluarga
F. PENGORGANISASIAN
1 Moderator: Endah Yunikasari
2 Penyaji : Endah Yunikasari
3 Observer : Endah Yunikasari
4 Fasilitator : Endah Yunikasari
Kegiatan Waktu Aktifitasperawat/ Aktifitas Metode Pemater
Penyuluh peserta i
Pendahulu 5 Perkenalan Memperhatika Cerama Endah
an menit Latar belakang n h, tanya Yunikas

masalah penyuluh jawab ari

penyuluhan dan
diskusi
Penyajian 10 Menjelaskan : Memperhatika Cerama Endah
menit 1 Pengertian Gagal n penjelasan h, Yunikas
Ginjal Kronik
perawat diskusi ari
2 Penyebab Gagal
Ginjal Kronik (penyuluh)
3 Tanda dan Gejala
Gagal Ginjal
Kronik
4 Komplikasi dari
CAPD
5 kelebihan dan
kekurangan dari
CAPD
6 pencegahan GGK
7 Mengerti
pentingnya DIIT

Evaluasi 10 Meyimpulkan Mengajukan Cerama Endah


menit materi pertanyaan h, tanya Yunikas
Memberi Menjawab jawab ari
dan
kesempatan pertanyaan diskusi
bertanya pada dengan
peserta benar
Evaluasi
Penutup 5 Salam penutup Endah
menit Yunikas
ari
G. KEGIATAN PENYULUHAN
H. EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
Anggota keluarga hadir dalam penyuluhan
Pelaksanaan penyuluhan berjalan sesuai dengan jadwal yang
telah ditentukan sebelumnya
Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di rumah Tn. S
Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan
sebelumnya
2. Evaluasi Proses
Keluarga antusias terhadap materi penyuluhan
Keluarga tidak meninggalkan tempat penyuluhan
Keluarga mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan
secara benar
Keluarga mengikuti kegiatan sampai selesai.
3. Evaluasi Hasil
Sebanyak 90 % pasien dan keluarga mengerti tentang
penjelasan yang diberikan perawat (penyuluh)
Sebanyak 90 % pasien dan keluarga mampu menjawab
pertanyaan dengan benar

I. MATERI PENYULUHAN
Terlampir
Gagal Ginjal Kronik

A. DEFINISI

Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan gangguan fungsi ginjal yang


progresif (cepat) dan irreversibel (menetap) dimana kemampuan tubuh
gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan
elektrolit sehingga terjadi ureum (tingginya kadar ureum dalam darah).
Gagal ginjal kronik atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan
gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana
kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan
keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea
dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Brunner & Suddarth, 2001).
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah penurunan fungsi ginjal yang
bersifat persisten dan irreversible. Sedangkan gangguan fungsi ginjal
yaitu penurunan laju filtrasi glomerulus yang dapat digolongkan dalam
kategori ringan, sedang dan berat (Mansjoer, 2007).
CRF (Chronic Renal Failure) merupakan gangguan fungsi ginjal
yang progresif dan irreversible, yang menyebabkan kemampuan tubuh
gagal untuk mempetahankan metabolisme dan keseimbangan cairan
maupun elektrolit, sehingga timbul gejala uremia yaitu retensi urea
dan sampah nitrogen lain dalam darah (Smeltzer, 2001).

B. KLASIFIKASI CKD
Sesuai dengan topik yang saya tulis didepan Cronic Kidney
Disease (CKD). Pada dasarnya pengelolaan tidak jauh beda dengan
cronoic renal failure (CRF), namun pada terminologi akhir CKD lebih
baik dalam rangka untuk membatasi kelainan klien pada kasus secara
dini, kerena dengan CKD dibagi 5 grade, dengan harapan klien
datang/ merasa masih dalam stage stage awal yaitu 1 dan 2. secara
konsep CKD, untuk menentukan derajat (stage) menggunakan
terminology CCT (clearance creatinin test) dengan rumus stage 1
sampai stage 5. sedangkan CRF (cronic renal failure) hanya 3 stage.
Secara umum ditentukan klien datang dengan derajat 2 dan 3 atau
datang dengan terminal stage bila menggunakan istilah CRF.
1. Gagal ginjal kronik / Cronoic Renal Failure (CRF) dibagi 3 stadium :
a. Stadium I : Penurunan cadangan ginjal
Kreatinin serum dan kadar BUN normal
Asimptomatik
Tes beban kerja pada ginjal: pemekatan kemih, tes GFR
b. Stadium II: Insufisiensi ginjal
Kadar BUN meningkat (tergantung pada kadar protein dalam
diet)
Kadar kreatinin serum meningkat
Nokturia dan poliuri (karena kegagalan pemekatan)
Ada 3 derajat insufisiensi ginjal:
1) Ringan : 40% - 80% fungsi ginjal dalam keadaan normal
2) Sedang : 15% - 40% fungsi ginjal normal
3) Kondisi berat : 2% - 20% fungsi ginjal normal
c. Stadium III: gagal ginjal stadium akhir atau uremia
kadar ureum dan kreatinin sangat meningkat
ginjal sudah tidak dapat menjaga homeostasis cairan dan
elektrolit
air kemih/ urin isoosmotis dengan plasma, dengan BJ 1,010
2. KDOQI (Kidney Disease Outcome Quality
Initiative) merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium
dari tingkat penurunan LFG (Laju Filtrasi Glomerolus) :
a. Stadium 1 : Kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria
persisten dan LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2)
b. Stadium 2 : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG
antara 60 -89 mL/menit/1,73 m2)
c. Stadium 3 : Kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59
mL/menit/1,73m2)
d. Stadium 4 : Kelainan ginjal dengan LFG antara 15-
29mL/menit/1,73m2)
e. Stadium 5 : Kelainan ginjal dengan LFG <
15 mL/menit/1,73m2 atau gagal ginjal terminal.

C. ETIOLOGI
Gagal ginjal kronik terjadi setelah berbagai macam penyakit yang
merusak nefron ginjal. Sebagian besar merupakan penyakit parenkim
ginjal difus dan bilateral.
1. Infeksi, misalnya Pielonefritis kronik.
2. Penyakit peradangan, misalnya Glomerulonefritis.
3. Penyakit vaskuler hipertensif, misalnya Nefrosklerosis benigna,
nefrosklerosis maligna, stenosis arteri renalis.
4. Gangguan jaringan penyambung, seperti lupus eritematosus
sistemik (SLE), poli arteritis nodosa, sklerosis sistemik progresif.
5. Gangguan kongenital dan herediter, misalnya Penyakit ginjal
polikistik, asidosis tubuler ginjal.
6. Penyakit metabolik, seperti DM, gout, hiperparatiroidisme,
amiloidosis.
7. Nefropati toksik, misalnya Penyalahgunaan analgetik, nefropati
timbale.
8. Nefropati obstruktif
a. Sal. Kemih bagian atas: Kalkuli neoplasma, fibrosis,
netroperitoneal.
b. Sal. Kemih bagian bawah: Hipertrofi prostate, striktur uretra,
anomali congenital pada leher kandung kemih dan uretra.
CAPD
CAPD merupakan sebuah kateter yang dipasang di dalam perut, ke
dalam rongga peritoneum. Pemasangan ini dilakukan melalui tindakan
operasi. Setelah kateter tersebut terpasang, lalu digunakan cairan
dialisat, yang sering dipakai adalah Dianel Baxter dari Kalbe untuk
membilas rongga peritoneum tempat bersarang kateter. Ini berfungsi
sebagai sarana cuci darah, yang berlangsung sepanjang hari.

Salah satu kelebihan dari CAPD adalah sifatnya yang praktis dan
efisien. Penderita tidak perlu datang ke rumah sakit untuk melakukan
cuci darah. Karena dengan teknik CAPD, penderita sendiri yang akan
melakukan cuci darah setelah diajarkan.
Tujuan Diit
Mencukupi kebutuhan protein untuk menggantikan protein yang
hilang dalam dialisis dan menjaga keseimbangan nitrogen.

Mengatur asupan kalium

Membatasi asupan fosfor untuk mengontrol hiperfosfstemia dan


osteodistrofi renal.

Makanan yang di perbolehkan :

Sumber Karbohidrat: nasi, bihun, mie makaroni, jagung, roti,


kwethiau, kentang, tepung-tepungan, madu, sirup, permen, dan gula.
Sumber protein hewani: telur, susu, daging, ikan, ayam.

Sumber lemak: minyak kelapa sawit, minyak jagung, minyak kedele,


minyak kacang tanah, margarin tendah garam, mentega.

Sumber vitamin dan mineral: Semua sayur dan buah, kecuali jika
pasien mengalami perlu menghindari buah dan sayur tinggi kalium
dan perlu pengelolaan khusus yaitu dengan cara merendam sayur
dan buah dalam air hangat selama 2 jam, setelah itu air rendaman
dibuang, sayur/ buah dicuci kembali dengan air yang mengalir dan
untuk buah dapat dimasak menjadi setup buah/ cocktail buah.

Makanan yang Tidak diperbolehkan dikonsumsi

Sumber Protein: Kacang-kacangan dan hasil olahannya, seperti


tempe dan tahu.

Sumber lemak: kelapa, santan, minyak kelapa, margarin, mentega


biasa dan lemak hewan.

Sumber vitamin dan mineral: sayuran dan buah tinggi kalium pada
pasien dengan hiperkalemia.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8
vol 3. Jakarta: EGC
Carpenito. 2001. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan,
Diagnosa keperawatan dan masalah kolaboratif. Jakarta: EGC
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Kasuari. 2002. Asuhan Keperawatan Sistem Pencernaan dan
Kardiovaskuler Dengan Pendekatan Patofisiology. Magelang.
Poltekes Semarang PSIK Magelang
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta:
Media Aesculapius
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification
(NIC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Nanda. 2005. Nursing Diagnoses Definition dan Classification.
Philadelpia
Rab, T. 2008. Agenda Gawat Darurat (Critical Care). Bandung: Penerbit
PT Alumni
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-
2006. Jakarta: Prima Medika
Udjianti, WJ. 2010. Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba
Medika