Anda di halaman 1dari 15

FOLLOW INSTAGRAM : raturezeki_balinesecollection OR satriawarla

Situs : raturezekicollecti.wixsite.com/raturezeki

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Agama Hindu bersumber pada Wahyu Tuhan. Dimana Agama Hindu selalu mengajarkan
umatnya untuk mengamalkan ajaran dharma dan senantiasa menjalankan kewajban- kewajiban
sebagai Umat Hindu.
Dalam kesehariannya, Umat Hindu khususnya Umat Hindu di Bali) tidak pernah terlepas
dari yang namanya yadnya, dimana yadnya juga berkaitan dengan adanya ritual. Sehingga ritual
yang merupakan suatu budaya selalu bersumber pada ajaran agama.Selain ritual Umat Hindu
juga tidak pernah lepas dari yang namanya seni,baik itu seni tari, seni suara, seni arsitekrur,dll
karena hal itu merupakan bagian dari ajaran agama. Sehingga sering masyarakat non hindu
mengatakan bahwa agama Hindu adalah agama budaya. Padahal jelas sekali agama berbeda
dengan budaya. Dimana agama Hindu bersumber dari Wahyu Tuhan. Sedangkan Kebudayaan
adalah esensi kehidupan manusia. Dimana budaya merupakan hasil daya cipta, rasa, dan karsa
manusia yang diperoleh melalui proses belajar namun tetap bersumber pada ajaran agama.
Sehingga ajaran agama merupakan jiwa dari budaya Hindu, dengan kata lain kebudayaan Hindu
merupakan ekspresi dari ajaran Hindu.

1.2 Rumusan Masalah


Dari uraian latar belakang di atas , maka ada beberapa pokok permasalahan yang akan
kami bahas dalam makalah ini. Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.2.1 Apakah pengertian agama dan kebudayaan ?
1.2.2 Bagaimanakah hubungan antara agama dan kebudayaan Hindu ?
1.2.3 Apa bukti bahwa budaya Hindu merupakan ekspresi dari ajaran Hindu ?
1.2.4 Bagaimanakah cara kita untuk mempertahankan budaya dan Agama Hindu ?

1.3 Tujuan Penulisan

1
Adapun beberapa tujuan dari penulisan makalah ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1.3.1 Untuk mengetahui pengerrtian dari agama dan kebudayaan.
1.3.2 Untuk lebih memahami tentang keterkaitan ( hubungan ) antara agama dan kebudayaan.
1.3.3 Untuk lebih memahami bahwa budaya Hindu merupakan ekspresi dari ajaran Hindu
melalui beberapa bukti yang ditemukan dalam realita kehidupan bermasyarakat umat Hindu.
1.3.4 Untuk memberikan sedikit inspirasi bagi Umat Hindu tentang cara untuk
mempertahankan budaya dan Agama Hindu.

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Menambah wawasan tentang hubungan antara agama dan kebudayaan Hindu.
1.4.2 Menambah wawasan tentang Agama Hindu dan bagaimana cara mempertahankannya.
1.4.3 Menambah wawasan tentang keragaman budaya Bali

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN

2.1.1 Agama
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan
(kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta tata kaidah yang
berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai
dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan,muncul keyakinan akan
adanya penguasa tertinggi dari sistem jagat raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai
salah satu bagian alam ini. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup
bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada
penguasa alam semesta. Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan
kebudayaan. Agama( bahasa ingggris: Religion, yang berasar dari bahasa latin religare, yang
berarti "menambatkan"), adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat
manusia.

Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, agama yang berarti "tradisi" atau "A" berarti
tidak; "GAMA" berarti kacau. Sehingga agama berarti tidak kacau atau teratur. Dapat juga
diartikan suatu peraturan yang bertujuan untuk mencapai kehidupan manusia ke arah dan tujuan
tertentu.

mile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang
terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Kita sebagai umat
beragama semaksimal mungkin berusaha untuk terus meningkatkan keimanan kita melalui
rutinitas beribadah, mencapai rohani yang sempurna kesuciannya.

3
Selain definisi dan pengertian agama berasal dari bahasa Sansekerta, agama dalam bahasa
Latin disebut Religion, dalam bahasa-bahasa barat sekarang bisa disebut Religion dan Religious,
dan dalam bahasa Arab disebut Din.

Harun Nasution mengatakan bahwa agama dilihat dari sudut muatan atau isi yang
terkandung di dalamnya merupakan suatu kumpulan tentang tata cara mengabdi kepada Tuhan
yang terhimpun dalam suatu kitab, selain itu beliau mengatakan bahwa agama merupakan suatu
ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi.

Tajdab,dkk (1994) menyatakan bahwa agama berasala dari kata a, berati tidak dan gama,
berarti kacau, kocar-kacir. Jadi, agama artinya tidak kacau, tidak kocar-kacir, atau teratur. Maka,
istilah agama merupakan suatu kepercayaan yang mendatangkan kehidupan yang teratur dan
tidak kacau serta mendatangkan kesejahteraan dan keselamatan hidup manusia.

Menurut A.M. saefuddin (1987), menyatakan bahwa agama merupakan kebutuhan


manusia yang paling esensial yang besifat universal. Karena itu, agama merupakan kesadaran
spiritual yang di dalamnya ada satu kenyataan di luar kenyataan yang namfak ini, yaitu bahwa
manusia selalu mengharap belas kasihan-Nya, bimbingan-Nya, serta belaian-Nya, yang secara
ontologis tidak bisa diingkari, walaupun oleh manusia yang mengingkari agama (komunis)
sekalipun.

Menurut Sutan Takdir Alisyahbana (1992), agama adalah suatu system kelakuan dan
perhubungan manusia yang pokok pada perhubungan manusia dengan rahasia kekuasaan dan
kegaiban yang tiada terhingga luasnya, dan dengan demikian member arti kepada hidupnya dan
kepada alam semesta yang mengelilinginya.

Menurut Sidi Gazalba (1975), menyatakan bahwa religi (agama) adalah kecendrungan
rohani manusia, yang berhubungan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna
yang terakhir, hakekat dari semuanya itu.

Dari ketiga pendapat tersebut, kalau diteliti lebih mendalam, memiliki titik persamaan.
Semua menyakini bahwa agama merupakan:
1. Kebutuhan manusi yang paling esensia atau mendasar.
2. Adanya kesadaran di luar diri manusia yang tidak dapat dijangkau olehnya.

4
3. Adanya kesabaran dalam diri manusia, bahwa ada sesuatu yang dapat membimbing,
mengarahkan, dan mengasihi di luar jangkaiannya.

Agama Hindu
Agama Hindu adalah agama yang bersumber pada kitab suci Veda yang merupakan
himpunan wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Dari kitab suci Vedalah mengalir semua ajaran Agama
Hindu baik yang menyangkut ajaran Sradh (keyakinan/kepercayaan), Tata-susila (etika) dan
cra (ritual dan lain-lain).
Ciri khas dari Agama Hindu adalah memperkenalkan kebebasan mutlak terhadap pikiran
rasional manusia. Agama Hindu tidak pernah menuntut suatu pengekangan yang tidak
semestinya terhadap kemerdekaan dari kemampuan berpikir, kemerdekaan dari pemikiran,
perasaan dan pemikiran umat manusia. ,serta dengan memandang pertanyaan-pertanyaan yang
mendalam terhadap hakekat Tuhan Yang Maha Esa, jiwa penciptaan, bentuk pemujaan dan
tujuan kehidupan ini. Ia memperkenalkan kebebasan yang paling luas dalam masalah keyakinan
dan kepercayaan. . Ia memperkenalkan kepada setiap orang untuk merenungkan, menyelidiki,
mencari dan memikirkannya, oleh karena itu, segala macam keyakinan Sradh, bermacam-
macam bentuk pemujaan atau Sdhana, bermacam-macam ritual atau adat-istiadat yang berbeda
semuanya memperoleh tempat yang terhormat secara berdampingan dalam Hindu dan
dibudayakan serta dikembangkan dalam hubungan yang selaras antara yang satu dengan yang
lain.

2.1.2 Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan
dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal
dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Kebudayaan adalah esensi kehidupan
bangsa. Mengenal kebudayaan bangsa berarti mengenal aspirasinya dalam segala aspek
kehidupnya. Oleh karena itu masalah kebudayaan menjadi sangat menarik, terutama dalam era
globalisasi yang telah memasuki seluruh penjuru dunia dalam bidang politik, ekonomi, sosial
budaya dan komunikasi.

5
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan
Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat
ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu
adalah Cultural-Determinism.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai
sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan
lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu
masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks,
yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat,
dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil
karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah
sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang
terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat
abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia
sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata,
misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain,
yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan
bermasyarakat.

2.2 HUBUNGAN ANTARA AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU


Agama Hindu merupakan agama yang diyakini oleh masyarakat Hindu, yang bersumber
dari Ida Sang Hyang Widi Wasa. Weda merupakan kitab suci agama Hindu yang diwahyukan
melalui pendengaran rohani para Maha Rsi. Umat Hindu yakin dan percaya bahwa dunia dan
segala isinya diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena Cinta Kasih Beliau. Cinta
Kasih Tuhan untuk menciptakan sekalian makhluk sering juga disebut dengan Yadnya.
Weda sebagai kitab suci agama Hindu diyakini kebenarannya dan menjadi pedoman
hidup Umat Hindu, sebagai sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari ataupun untuk waktu-waktu tertentu.

6
Dalam kenyataan hidup bermasyarakat maka antara adat/budaya dan agama sering
kelihatan kabur dan bahkan sering tidak dimengerti dengan baik. Tidak jarang suatu adat-budaya
yang dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat dianggap merupakan suatu kegiatan keagamaan,
ataupun sebaliknya, suatu kegiatan keagamaan dianggap adalah kigiatan budaya.
Sesungguhnya antara budaya dan agama terdapat segi-segi persamaannya tetapi lebih
banyak segi-segi perbedaannya. Segi persamaannya dapat dilihat dalam hal bahwa kedua norma
tersebut sama-sama mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat agar tercipta suasana
ketentraman dan kedamaian. Tetapi disamping adanya segi persamaan, terdapat juga segi-segi
perbedaan. Segi perbedaan itu akan tampak jika dilihat dari segi berlakunya, dimana perwujudan
adat-budaya tergantung pada tempat, waktu, serta keadaan (desa, kala, dan patra), sedangkan
agama bersifat universal.
Kalau diperhatikan, maka agama dengan ajarannya itu mengatur rohani manusia agar
tercapai kesempurnaan hidup. Sedangkan adat budaya lebih tampak pengaturannya dalam bentuk
perbuatan lahiriah yaitu mengatur bagaimana sebaiknya manusia itu bersikap, bertindak atau
bertingkah laku dalam hubungannya dengan manusia lainnya serta lingkungannya, agar tercipta
suatu suasana yang rukun damai dan sejahtera.
Dalam agama Hindu, antara agama dan adat-budaya terjalin hubungan yang selaras/erat
antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi. Karenanya tidak jarang dalam
pelaksanaan agama disesuaikan dengan keadaan setempat. Penyesuaian ini dapat dibenarkan dan
dapat memperkuat budaya setempat, sehingga menjadikan kesesuaian adat-agama
ataupunbudaya-agama, artinya penyelenggaraan agama yang disesuaikan dengan budaya
setempat.
Kalau dilihat dari fakta sejarah, wujud budaya agama itu dari zaman ke zaman
mengalami perubahan bentuk, namun tetap memiliki konsep yang konsisten. Artinya, prinsip-
prinsip ajaran agama itu tidak pernah berubah yakni bertujuan menghayati Ida Sang Hyang Widi
Wasa. Kepercayaan terhadap Ida Sang Hyang Widi Wasa, menjadi sumber utama untuk tumbuh
dan berkembangnya budaya agama dan ini pula yang melahirkan variasi bentuk budaya agama.
Variasi bentuk itu disesuaikan dengan kemampuan daya nalar dan daya penghayatan umat pada
waktu itu. Budaya agama yang dilahirkan dapat muncul seperti upacara agama.
Upacara agama pada hakikatnya tidak semata-mata berdimensi agama saja, tetapi juga
berdimensi sosial, seni budaya, ekonomi, manajemen dan yang lainnya. Melalui upacara agama,

7
dapat dibina kerukunan antar sesama manusia, keluarga, banjar yang satu dengan banjar yang
lain. Upacara agama juga melatih umat untuk bisa berorganisasi dan merupakan latihan-latihan
manajemen dalam mengatur jalannya upacara.
Lewat upacara agama ditumbuhkan juga pembinaan etika dan astetika. Upacara agama
merupakan motivator yang sangat potensial untuk melestarikan atau menumbuhkembangkan seni
budaya, baik yang sakral maupun yang profan. Bahkan upacara agama merupakan salah satu
daya tarik pariwisata dan dapat menunjang kehidupan manusia. Keseluruhan budaya agama
dalam bentuk upacara agama tersebut merupakan usaha manusia mendekatkan diri kepada Ida
Sang Hyang Widi wasa untuk mewujudkan kedamaian dan kebahagiaan yang abadi.
Seperti halnya manusia, tubuh merupakan hasil budaya agama itu sendiri, sedangkan
agama Hindu merupakan jiwa atau rohnya agama tersebut. Satu contoh misalnya, budaya agama
Hindu pada masyarakat Hindu di Bali dan budaya-budaya Hindu di daerah yang lainnya yang
ada di Indonesia.
Dari kitab suci Weda oleh para Rsi, Pandita atau orang-orang suci Hindu di Indonesia
dengan mengambil jiwa atau idealisme yang dikandungnya kemudian dimodifikasi sehingga
lahirlah kitab-kitab sastra yang pada hakikatnya adalah ajaran Hindu yang terdapat dalam kitab
suci Weda.
Satu contoh tentang keyakinan akan gunung sebagai tempat suci, beristananya para Dewa
dan para roh suci leluhur atau orang-orang suci. Dalam konsep keyakinan umat Hindu, terdapat
keyakinan atau ajaran tentang penghormatan kepada roh suci leluhur. Dalam kitab suci Weda
Smerti (Manawadharma Sastra Bab II, 81) disebutkan:
Swadiyayanarcaret samsimnhomair dewa nya thawidhi,
Pitrcm craddhaicca nrrnan naibhutani balikarmana
Artinya:
Hendaklah ia sembahyang yang sesuai menurut peraturan kepada Rsi dengan pengucapan
Weda, kepada Dewa dengan haturan yang dibakar, kepada para leluhur dengan Sraddha, kepada
manusia dengan pemberian makanan, dan kepada para Bhuta dengan upacara kurban.
Seperti juga disebutkan dalam kitab Upanisad, maka seorang Rsi adalah seorang Acarya,
yang patut dihormati seperti dewa. Acarya Dewa Bhawa (Tatirya Upanisad I, 11.1). Atas dasar
sraddha inilah umat Hindu menghormati para Rsi, orang-orang suci, baik ketika ia masih hidup
maupun setelah meninggal nanti.

8
Demikianlah misalnya umat Hindu di India memuja dan menghormati maha Rsi Vyasa,
Agastya, Parasara, Sangkara Carya, Sri Rama Krama, Swami Wiwekananda dan lain-lain. Hal
inilah yang melatar belakangi timbulnya pemujaan leluhur dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang
Widhi Wasa terdapat pada suatu tempat suci atau pura di Indonesia.
Dalam kitab Ramayana yang umurnya mungkin lebih tua dari kelompok masyarakat
Indonesia yang memiliki kepercayaan penghormatan kepada para leluhur. Pada kitab tersebut
diceritakan bagaimana figur ideal orang Hindu yang taat beragama, yang ditokohkan sang
Dasaratha bahwa Beliau ahli dalam weda, bhakti kepada Tuhan dan tidak pernah lupa memuja
leluhur. Dalam kitab Rg Weda VIII.6.28 disebutkan:
Di tempat-tempat yang tergolong hening, di gunung-gunung, pada pertemuan dua sungai,
disanalah para Maha Rsi mendapatkan inspirasi yang jernih.
Gunung bukanlah hasil karya manusia, namun merupakan buah karya dari Ida Sang
Hyang Widhi Wasa. Tetapi gunung dipakai oleh umat Hindu sebagai arah atau kiblat
penghayatan untuk mendapatkan kehidupan yang direstui Tuhan. Sesungguhnya yang dituju
adalah Amerta. Amerta, artinya hidup yang sempurna umat Hindu yang dirasakan secara
langsung. Gunung dapat memberikan kehidupan, gunung adalah waduk yang dapat menampung
bermilyar-milyar kubik air hujan yang turun dari langit. Air itu lalu mengalir menciptakan sungai
yang mengalirkan air sepanjang tahun untuk memberikan kehidupan kepada makhluk. Gunung
dijadikan arah dan sebagai lambang singgasana Tuhan dan para roh suci leluhur.
Dalam ajaran Hindu antara budaya dan agama terdapat benang merah, yang satu sisi
dapat saling mengisi satu dengan yang lainnya, budaya atau adat bukanlah musuh atau saingan
yang harus dibasmi dan dicurigai, dalam artian adat budaya yang positif dapat mendukung
pelaksanaan acara agama dan ternyata prinsip Hindu yang merangkul budaya dan adat-istiadat
lokal nampaknya sejalan dengan program pemerintah yang berusaha membangkitkan segala
bentuk adat dan budaya daerah.

2.3 BUKTI BAHWA BUDAYA HINDU MERUPAKAN EKSPRESI DARI AJARAN


HINDU
Mengingat bahwa kebudayaan merupakan hasil daya cipta , rasa, karsa manusia, maka
dalam kehidupan sehari- hari kita akan menjumpai berbagai bentuk dan wujud kebudayaan. Jadi
kebudayaan tidak hanya berkisar antara kesenian saja namun juga terbentuk dari banyak unsur

9
yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, konsep ( ide dan gagasan ), adat istiadat, bahasa,
cerita, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Dimana semua hal yang termasuk dalam
kebudayaan tersebut dijiwai oleh Agama.
Kebudayaan Hindu yang bernafaskan agama tertanam sangat kuat dalam kehidupan
beragama dan bermasyarakat di Bali. Setiap bagian dari kebudayaan Hindu merupakan ekspresi
dari ajaran Agama Hindu. Dan untuk lebih jelasnya kalau bagian dari kebudayaan Hindu
merupakan ekspresi dari ajaran Hindu dapat di aplikasikan dalam berbagai contoh :
Berbusana ke pura : pakaian di Bali di bagi menjadi dua yaitu pakaian untuk pria dan pakaian
untuk wanita. Pakaian untuk pria yaitu destar, senteng, saput, dan kamen. Dan pakaian wanita
yaitu kamen, senteng, dan sabuk lilit, pusung lukluk, pusung tagel, pusung tegeh .
Bangunan : bangunan harus sesuai dengan asta kosala kosali. Asta kosala kosali itu sendiri
adalah cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci. penataan Bangunan yang
dimana di dasarkan oleh anatomi tubuh yang punya.
Angkul-angkul yaitu entrance yang berfungsi seperti candi bentar pada pura yaitu sebagai
gapura jalan masuk.
Aling-aling adalah bagian yang berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga jalan masuk
tidak lurus kedalam tetapi menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak
langsung lurus ke dalam.
Natar atau halaman tengah sebagai ruang luar
Merajan ini adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. Dan pada perkampungan
tradisional bisaanya setiap keluarga mempunyai pamerajan yang letaknya di Timur Laut pada
sembilan petak pola ruang
Umah Meten( Gedong ) yaitu ruang yang bisaanya dipakai tidur kapala keluarga sehingga
posisinya harus cukup terhormat
Bale tiang sanga bisaanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu
Bale Sakepat, bale ini bisaanya digunakan untuk tempat tidur anakanak atau anggota keluarga
lain yang masih junior.
Bale Dangin bisaanya dipakai untuk duduk-duduk membuat bendabenda seni atau merajut
pakaian bagi anak dan suaminya.
Paon(Dapur) yaitu tempat memasak bagi keluarga.

10
Jineng (Lumbung) sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil
kebun .
Dharma Gita : Setiap upacara keagamaan atau ritual ritual penting lainnya selalu di selingi
dengan dharma gita baik itu berupa kidung, kakawin, sloka, ataupun palawakya untuk
menambah kesan religi dalam setiap upacara dan juga sebagai salah satu media untuk
menyampaikan syair syair pujian kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Itu merupakan bentuk
rasa syukur kita kepada Beliau atas segala karunia-Nya.

Tari-tarian : Dalam Agama Hindu dikenal istilah Siwa Nata Raja yang merupakan gelar Dewa
Siwa ketika Beliau sedang menari. Tari-tarian di Bali juga tidak pernah terlepas dari agama.
Setiap tarian di Bali memiliki fungsi dan tujuan tertentu yang kaitannya sangat erat dengan
ajaran agama. Misalnya dalam pelaksanaan upacara yadnya sering dipersembahkan tari- tarian
yang bersifat sakral. Contohnya, Tari Rejang Dewa bisaanya dipersembahkan saat pelaksanaan
upacara Dewa Yadya, yang tujuannya adalah sebagai penuntun Ida Betare turun ke dunia.
Karya Seni : Banyak sekali contoh karya senii yang bernafaskan agama. Misalnya seni patung.
Contoh produknya adalah Patung Dewi Saraswati, dimana Dewi Saraswati merupakan sakti-Nya
Dewa Brahma dan dalam ajaran Agama Hindu Beliau merupakan lambang Ilmu pengetahuan.
Jadi Patung Dewi saraswati merupakan media untuk mengkoomunikasikan ajaran agama bahwa
manusia akan hidup layak dan berbahagia apabila memiliki ilmu pengetahuan dan seni budaya.
Cerita : Ajaran Hindu juga ada yang dijabarkan dalam bentuk cerita. Contohnya cerita
Lubdaka, yang menceritakan kisah seorang pemburu yang akhirnya masuk surga karena secara
tidak sadar ia melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa. Disini cerita digunakan sebagai ekspresi
ajaran agama bahwa umat Hindu harus senantiasa berbakti pada Tuhan YME.
Seni Ogoh- Ogoh : Seperti yang kita ketahui bersama , setiap perayaan Hari Raya Nyepi
selalu identik dengan pawai ogoh- ogoh. Selain dijadikan sebagai ajang kreativitas remaja
setempat, Ogoh- ogoh ini merupakan symbol dari Butha Kala (unsur negative) untuk itu pada
saat nyepi perlu dilakukan penyucian diri dan lingkungan dari pengaruh- pengaruh negative
tersebut. Hal inni seuai dengan ajaran agama yaitu selalu mendekatkan diri dengan Sang Maha
Pencipta.
Upacara Agama ( Ritual ) : Setiap upacara agama di Bali selalu berdasarkan atas ajaran
agama. Misalnya pada upacara Manusa Yadnya yaitu Mapandes /Metatah ( Potong gigi ). Budaya

11
potong gigi ini merupakan suatu keharusan yang dilakukan sebagai symbol pengendalian sifat-
sifat yang merupakan musuh yang ada dalam diri manusia. Hal ini sesuai dengan ajaran agama
Hindu yaaitu pengendalian Sad Ripu.

Selain itu masih banyak bagian bagian dari kebudayaan Hindu yang berkaitan dengan
agama. Dimana semua itu dalam kesehariannya juga sering diperlombakan. Terbukti dengan
adanya berbagai lomba yang diadakan di daerah daerah di Bali, mulai dari tingkat kecamatan,
tingkat kabupaten, tingkat provinsi bahkan Nasional.

2.4 CARA KITA UNTUK MELESTARIKAN BUDAYA DAN AJARAN HINDU


Tentu ada semacam daya tarik tersendiri yang dimiliki oleh pulau kita tercinta yang
bernama Bali. Sebuah tempat yang sedemikian memikatnya sehingga jutaan orang dari
mancanegara rela mengeluarkan banyak uang untuk bisa datang ke tempat ini. Namun sayangnya
setelah Bali menjadi terkenal seperti sekarang ini, setelah taraf kehidupan ekonomi masyarakat
Bali meningkat, justru yang terjadi adalah orang Bali yang terbuai dan hanyut dalam gelimangan
materi. Mereka lupa akan jati dirinya sebagai orang Bali, mereka lupa akan asal darimana semua
ini bermula. Untuk itu kita sebagai orang Bali, marilah kita tanamkan cinta tanah kelahiran kita
serta agama dan budaya kita sejak dini . Untuk itu ada beberapa hal yang perlu dimilki dan
ditanamkan dalam hati orang- orang Bali adalah sebagai berikut :
Bangga Sebagai Orang Bali : Kita harus bangga karena pulau yang kecil ini begitu luar bisaa.
Bangga karena pulau Bali mempunyai potensi yang sangat berlimpah. Bali memiliki bahasa
sendiri, tulisan sendiri, budaya sendiri, kesenian yang kaya, sistem pemerintan tersendiri dari
tingkat subak, banjar, desa pakraman hingga ke tingkat provinsi, aparat pemerintahan sendiri
dimana hal- hal tersebut telah ada sejak beratus- ratus tahun yang lalu. Untuk itu banggalah kita
sebagai orang Bali.

Bangga Sebagai Orang Hindu: Hindu adalah agama Weda, dan Weda adalah sebuah wahyu,
bukan produk budaya manusia. Ciri Weda adalah wahyu salah satunya adalah Weda itu mampu
mengayomi, mengangkat dan memaknai budaya lokal.Agam Hindu bisa dilaksanakn dengan
kebudayaan Sumatra, Kalimantan, Papua, dan lainnya . Meskipun dilaksanakan dengan
kebudayaan yang berbeda namun intinya tetap sama yaitu melaksanakan ajaran Weda. Disinilah

12
keindahanAgama. Hal lain adalah agama Hindu sangat menghargai umat manusia dan tidak
mengintervensi atau mempengaruhi orang untuk masuk ke agama Hindu. Hal berikutnya yang
membuat kita bangga adalah Agama Hindu adalah agama yang mampu mengantarkan bangsa
Indonesia untuk memasuki jaman sejarah. Buktinya adalah adanya Tujuh Yupa di kerajaan Kutai
yang menjadi bukti sejarah peninggalkan jaman pra-sejarah dengan mulai dikenalnya huruf.
Melestarikan Kebudayaan Luhur Bali : Kebudayaan Bali yang bernafaskan ajaran Weda
sudah ada sejak dahulu kala. Dan perlu diingat bahwa kebudayaan menjadikan Bali dikenal
banyak orang. Kebudayaan Bali tidak hanya berkutat dengan tarian namun meliputi seluruh
aspek seni dan aktivitas masyarakat Bali. Sehingga kita sebagai orang bali harus melestarikan
kebudayaan luhur kita, dan tidak hanya soal tarian tapi termasuk didalamnya penggunaan bahasa
bali,pengenalan tulisan Bali, organisasi di bali, dan lain sebagainya. Jadi jangan sampai nantinya
ada orang asing yang mengklaim bahwa salah satu bagian dari kebudayaan Bali merupakan
kebudayaan yang berasal dari negaranya sendiri.
Mengamalkan Ajaran agama : Seperti yang kita ketahui bersama bahwa agama Hindu
merupakan Agama Weda dimana ajarannya selalu mengingatkan umat-Nya untuk selalu
mengamalkan Dharma, mencintai sesama makhluk ciptaan Tuhan, serta senantiasa mendekatkan
diri dengan Sang Maha Kuasa . Jadi kita sebagai umat Hindu dalam kaitannya dengan menjaga
budaya luhur kita, harus selalu mengamalkan ajaran agama karena dengan pemahaman yang baik
tentang ajaran agama secara ottomatis kebudayaan kita juga ikut terjaga sebab pikiran kita akan
terbuka dan tidak mudah terpengaruh dengan hal- hal negative, serta timbul rasa cinta Budaya
dan agama kita.Selain itu mengamalkan ajaran agama akan membawa kita lebih dekat dengan
Sang Pencipta dan tujuan hidup kita yaitu mokshartam jagadhita ya ca iti dharma).
Menjaga Etika Kita Sebagai Orang Hindu dan Warga Bali : Untuk menjaga kelestarian
agama dan budaya kita, tentu kita harus menjaga nama baik diri kita sendiri, keluarga,
lingkungan serta agama kita. Untuk itu kita harus mempunyai etika yang baik yang memang
berasal dari hati dan diri kita sendiri. Sehingga kita dapat menjaga jati diri kita sebagai orang
Bali yang, berbudipekerti luhur, mengasihi sesama makhluk ciptaan Tuhan, ramah, cerdas,
bersemangat , adil , selalu bekerja keras dan taat pada ajaran agama.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Banyak definisi mengenai Agama, setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda.
Salah satunya agama didefinisikan sebagai sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan)
dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta tata kaidah yang berhubungan dengan
pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Dalam agama Hindu, antara agama dan
adat-budaya terjalin hubungan yang selaras/erat antara satu dengan yang lainnya dan saling
mempengaruhi. Kebudayaan merupakan hasil daya cipta , rasa, karsa manusia, maka dalam
kehidupan sehari- hari kita akan menjumpai berbagai bentuk dan wujud kebudayaan. Jadi
kebudayaan tidak hanya berkisar antara kesenian saja namun juga terbentuk dari banyak unsur
yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, konsep ( ide dan gagasan ), adat istiadat, bahasa,
cerita, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Dimana semua hal yang termasuk dalam
kebudayaan tersebut dijiwai oleh Agama. Oleh karena itu kita patut untuk menanamkan cinta
tanah kelahiran kita serta menjaga kelestarian agama dan budaya kita sejak dini .

14
DAFTAR PUSTAKA

http://www.e-jurnal.com/2013/11/pengertian-agama-menurut-para-ahli.html

http://www.hindu-dharma.org/2009/06/hubungan-agama-dan-budaya-dalam-hindu/
https://www.academia.edu/5532563/BUDAYA_HINDU

https://www.e-jurnal.com/2010/12/budaya-sebagai-ekspresi-ajaran-hindu.html

15