Anda di halaman 1dari 6

Nama : Isna Linoviani

NIM : 03031381419140
Shift : Senin Siang/13.00
Kelompok :3

ANTI DANDRUFF

Ketombe ialah pengelupasan sel-sel kulit mati yang berlebihan pada kulit
kepala. Ketombe bukan sebuah organisme macam kutu rambut, tapi hanya
merupakan kulit mati yang menumpuk secara berlebihan pada kulit kepala.
Ketombe dapat disebabkan oleh bentuk dari suatu kondisi kulit yang disebut
eksim, yang menyebabkan peningkatan penumpahan sel-sel kulit kepala yang
normal. Ketombe juga dapat disebabkan oleh infeksi jamur dan makanan.
Perubahan hormonal atau musiman juga dapat membuat ketombe parah. Hal
lainnya yang dapat memicu ketombe adalah menggunakan perawatan rambut
yang tidak cocok, sisa sampo yang tidak bersih dibilas, dan karena terlalu sering
keramas dengan sampo anti ketombe. Menggunakan sampo setiap hari justrus
akan menjadi pemicu munculnya ketombe karena bahan kimia yang ada di dalam
sampo. Sebaiknya keramar dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu.
Sampo anti ketombe (anti dandruff) bekerja melalui tiga mekanisme.
Bahan-bahan seperti tar batubara bersifat anti keratostatik dan mereka bertugas
menghambat pembelahan sel keratinosit. Deterjen dalam sampo bersifat
keratolitik yaitu mereka bertugas untuk membongkar tumpukan kerak. Akhirnya
agen anti jamur seperti ketoconazole bertugas menghambat pertumbuhan jamur.
Masalah ketombe atau dandruff hampir dapat selalu dikendalikan, namun
perawatan terhadap ketombe yang muncul memerlukan sedikit ketekunan dan
juga kesabaran. Secara umum, ketombe (dandruff) yang tergolong ringan masih
dapat diatasi dengan cara keramas secara teratur dengan menggunakan sampo
yang lembut untuk mengurangi kadar minyak dan tumbuhnya sel kulit baru di
kepala. Namun ketika sampo biasa gagal mengatasi masalah ketombe, maka dapat
diatasi dengan menggunakan sampo anti ketombe yang banyak dijual bebas.
Tidak semua sampo anti ketombe sama, boleh jadi harus mencoba beberapa jenis
sampo sampai menemukan yang cocok untuk mengatasi ketombe yang dialami.
Untuk mengatasi masalah dandruff atau ketombe pada kulit kepala, dapat
digunakan bahan aktif obat sebagai berikut dalam campuran suatu sampo. Zinc
pyrithione, senyawa ini sering digunakan sebagai media dalam pembuatan sampo
untuk mengatasi masalah ketombe. Senyawa zinc pyrithione sendiri berguna
untuk membasmi jamur dan bakteri yang ada di kulit kepala. Jadi jika persoalan
ketombe yang kita hadapi diakibatkan karena adanya infeksi bakteri atau jamur,
maka sampo yang paling tepat untuk digunakan adalah sampo yang mengandung
zinc pyrithione. Zinc Pyrithione merupakan agen anti bakteri dan anti jamur serta
agen yang dapat menekan pertumbuhan lapisan epidermis. ZPT (Zinc Pyrithione)
menghambat pembelahan sel epidermis dan mengurangi kecepatan kematiannya.
ZPT (Zinc Pyrithione) berikatan kuat dengan rambut dan epidermis tetapi
tidak terpenetrasi ke dermis sehingga tidak toksik. Keefektifan dari penggunaan
ZPT sebagai anti ketombe sangat tergantung dari seberapa luas ikatannya dengan
rambut dan lapisan epidermis, lama kerjanya, suhu, konsentrasi serta seringnya
pemakaian/pemberian. Efek samping ZPT yaitu iritasi ringan pada kulit kepala
jika terjadi reaksi hipersensitifitas namun hal ini sangat jarang terjadi, sehingga
tidak dapat diberikan pada pasien hipersensitifitas terhadap ZPT. Dosis Zinc
Pyrithione biasanya digunakan 1-2%, seperti pada sampo normal satu hingga tiga
kali seminggu dan pada waktu pemakaiannya didiamkan 1-5 menit sebelum
dibilas. Pada beberapa kasus, Zinc Pyrithione dapat merusak lingkungan.
Coal Tar, senyawa ini berfungsi sebagai anti jamur ringan. Mekanisme
kerja dari Tar adalah memperlambat kematian jaringan sel di kulit kepala dan
pengelupasan kulit kepala digunakan untuk memperlambat kematian pada
jaringan kulit kepala, seperti yang diketahui bahwa ketombe sebenarnya masalah
pengelupasan kulit kepala yang tidak wajar dan berlangsung secara terus-menerus.
Serpihan kulit ini semakin hari semakin banyak dan biasa dikenal dengan nama
ketombe. Jika masalah yang kita hadapi tidak disebabkan oleh jamur atau kurap
maka carilah produk anti ketombe yang menggunakan tar dalam pembuatannya.
Tar dapat digunakan untuk mencegah dan menghalangi serpihan ketombe.
Tar juga dapat berfungsi sebagai anti gatal. Penggunaan Tar membantu mengatasi
masalah ketombe, seborrheic dermatitis, dan juga psoriasis. Efek sampingnya
yaitu kemungkinan karsinogenik dan mutagenic. Tar tidak dapat diberikan pada
pasien yang hipersensitifitas terhadap senyawa tar dan juga senyawa turunannya.
Konsentrasi dari penggunaan tar yang biasanya digunakan adalah antara 0,5-5%.
Selenium sulfide, sama dengan senyawa tar yang berguna untuk
memperlambat kerusakan atau pada sel kulit kepala dengan cara menghambat
pembelahan mitosis secara langsung dan dapat mengurangi jamur malassezia
dengan menghambat aksinya dan mendesak aktifitas pembelahan sel jamur,
selenium sulfida merupakan salah satu alernatif bahan kimia yang sering
digunakan pada kebanyakan sampo untuk menggantikan fungsi dari senyawa tar.
Selain dapat mengurangi ketombe, selenium sulfida juga berguna untuk
menghitamkan kembali rambut yang telah beruban. Senyawa selenium sulfide ini
aman jika digunakan secara topikal, akan tetapi dapat meninggalkan sisa yang
berbau seperti hidrogen sulfida dan membuat kepala berminyak. Senyawa ini
tidak dapat diberikan pada ibu hamil dan juga menyusui (tetapi bagian produksi
memperbolehkan pemakaian senyawa ini pada trimester I kehamilan), senyawa ini
juga tidak direkomendasikan untuk anak-anak dibawah umur 5 tahun.
Selenium sulfide biasanya digunakan dalam konsentrasi 1-2,5%, diberikan
satu hingga dua kali seminggu selama lima hingga sepuluh menit. Selenium
sulfide dapat melunturkan rambut yang diwarnai, jadi pastikan untuk
menggunakannya sesuai petunjuk dan bilas dengan baik setelah keramas.
Pewarnaan dan pengeritingan rambut tidak boleh dilakukan, paling tidak lakukan
2 hari setelah penggunaan sampo yang mengandung senyawa selenium sulfide
serta hindari senyawa ini agar tidak kontak dengan mata pada saat keramas.
Asam salisilat, senyawa ini lebih dikenal sebagai zat yang ditujukan untuk
mengeringkan dan juga mengatasi masalah jerawat, namun sebenarnya asam
salisilat ini juga dapat digunakan dalam sampo anti ketombe yang berfungsi untuk
mengangkat semua sel kulit mati. Namun perlu diwaspadai saat mengunakannya,
karena zat ini bisa menyebabkan kulit kepala mengalami kekeringan yang parah
sehingga serpihan sel kulit mati atau ketombe justru akan bertambah parah.
Dan yang terakhir adalah senyawa ketokonazol, merupakan senyawa
antimikotik golongan imidazole. Merupakan suatu pilihan jika sampo dengan
kandungan zat aktif anti-dandruff lain telah gagal, karena ketoconazole
merupakan senyawa anti jamur yang mempunyai spektrum yang sangat luas.
Sampo yang mengandung ketokonazol bersifat sangat keras dan mampu
melenyapkan semua jenis jamur, bakteri dan kuman-kuman pada kulit kepala.
Mekanisme kerja dari senyawa ketoconazole sebagai anti jamur yaitu
dengan menghambat replikasi dari sel jamur dengan mengganggu sintesis
ergosterol yang merupakan komponen vital dari membran sel jamur. Penggunaan
ketoconazole diindikasikan untuk mengobati infeksi pada kulit, rambut, dan kuku
(kecuali kuku kaki) yang disebabkan oleh dermatofit dan atau ragi
(dermatophytosis, onychomycosis, candida perionyxixs, pityriasis versicolor,
pityriasis capitis, pityrosporum, folliculitis, chronic mucocutaneus candidosis).
Pada penggunaan secara topikal terutama pada sampo anti ketombe
dimana konsentrasi ketoconazole yang digunakan relatif kecil, tidak terdapat efek
samping yang ditimbulkan dan sangat jarang terjadi iritasi kulit. Jangan berikan
sampo dengan kandungan senyawa ini pada pasien yang hipersensitifitas terhadap
ketoconazole. Untuk penggunaan topikal, ketoconazole dapat diberikan pada
wanita hamil sedangkan di kontra indikasikan jika penggunaan secara oral.
Interaksi pada pemberian peroral ketoconazole tidak boleh diberikan
bersama-sama dengan terfenadin, astemizol, cisaprid dan triazolam. Sedangkan
pada penggunaan topikal tidak terjadi interaksi. Ketoconazole digunakan dalam
konsentrasi 1-2% pada sampo anti ketombe, diberikan 1-3 kali seminggu
didiamkan selama 3-5 menit. Jika terjadi reaksi alergi, hentikan pemakaian.
Zat-zat yang telah disebutkan diatas merupakan agen anti ketombe yang
paling sering digunakan pada produk-produk perawatan anti ketombe (anti
dandruff). Selain zat-zat diatas terdapat beberapa agen anti dandruff yang
biasanya digunakan dalam sebagian kecil produk perawatan anti ketombe yang
beredar di pasaran. Zat-zat tersebut antara lain adalah mikonazol dan econazol
yang merupakan turunan golongan azol, dan merupakan antimikotik.
Efeknya, 2% senyawa mikonazol nitrat sebanding dengan senyawa
selenium sulfide sebesar 2,5%. Sulfur, resorsinol dan asam salisilat mempunyai
efek keratolitik, yaitu kemampuan suatu senyawa untuk menghancurkan keratin
dalam lapisan tanduk atau kulit ari sehingga dapat membantu menghilangkan
lapisan ketombe yang ada pada kulit kepala, namun efek sampingnya dapat
menyebabkan kulit kepala menjadi kering. Asam salisilat biasanya digunakan
dengan konsentrasi sebesar 1,6-3 %, sulfur 2-5%, dan resorsinol 2-3%.
Zinc omadine dan zinc undecylinate berperan sebagai antiseptik dan anti
jamur. Piroctone olamine (octopirox) berperan sebagai anti jamur. Heksaklorofen
dan povidone iodine berfungsi sebagai antiseptik, biasanya dipakai dua kali dalam
seminggu, dan untuk perawatan cukup satu kali per minggu. Benzoyl olamine
berfungsi sebagai anti bakterial, biasanya digunakan dalam konsentrasi 2,5%.
Ciclopirox olamine merupakan turunan hydroxy-pyridone dan berfungsi sebagai
anti jamur dengan konsentrasi 1%. Dan terakhir urea 40% dan bifonazol 1%.
Gangguan ketombe tidak akan bisa sembuh seratus persen. Ini karena
luruhnya sel-sel kulit kepala yang mati adalah proses alami, maka tidak bisa
dihilangkan sama sekali. Karena itu, untuk mengatasi masalah ketombe cukup
dikendalikan dengan memperbaiki gaya hidup. Berikut adalah solusi agar
ketombe di kepala dapat dikontrol dan diminimalisir. Pertama, bila seseorang
tidak memiliki ketombe berlebihan, maka cukup melakukan keramas satu atau
dua kali sehari. Kedua, bila memiliki masalah ketombe yang amat berlebihan,
sebaiknya dikonsultasikan kepada seorang dermatologis (Dokter ahli kulit).
Ketiga, hindari menggunakan kuku saat menggaruk kepala karena dapat
menyebabkan infeksi. Sebaiknya gunakan bantalan jari saat menggaruk. Gunakan
topi saat pergi ke luar rumah saat udara dingin sekali, berangin dan panas dalam
jangka waktu tertentu. Batasi penggunaan produk pemulas rambut yang dapat
menyebabkan kulit kepala menjadi kering dan memicu pertumbuhan jamur kulit.
Penuhi asupan vitamin B6 yang berfungsi sebagai pencegah munculnya
ketombe seperti kuning telor, kacang-kacangan, biji-bijian dan sayuran berwarna
hijau tua. Pijat kulit kepala dengan gerakan melingkar agar sirkulasi rongga-
rongga kulit kepala menjadi lebih baik. Selanjutnya yaitu hindari stres, walaupun
bukan sebagai penyebab langsung ketombe, tetapi stres dapat menyebabkan
menurunnya daya tahan tubuh untuk mengatasi ketombe.
Biasakan mengkonsumsi makanan yang megandung zinc untuk
memelihara aktifitas kelenjar minyak dan sistem kekebalan, misalnya ikan,
kuning telor, daging, kedelai dan biji-bijian. Sempatkan berjemur sinar matahari
sejenak di waktu pagi dan sore hari, agar kesehatan rambut dan kulit tetap terjaga
karena sedikit paparan sinar matahari dapat membantu mengatasi ketombe.
DAFTAR PUSTAKA

Fauziah, L. 2012. Formulasi Shampo. (Online): http://purplepharmacy.co.id/2012/


03/laporan-kosmetologi-formulasi-shampo.html. (Diakses tanggal 10
Februari 2017).
Franchimont, C.P., U hoda , E., Loussouarn, G., L ger, D.S., P irard, GE. 2003.
Pengaruh waktu tinggal di kemanjuran shampo antidandruff. Sci Int J
Cosme t. 2003 Desember; 25 (6) :267-71.
Kit, D. 2004. Seborrheic Dermatitis Dandruff Research Update. (Online):
http://www.pgbeatygroomingscience.com/assets/files/research_updates/Da
n%20Kit%20July%2028_1.pdf. (Diakses tanggal 10 Februari 2017).
Maqassary, A. 2014. Faktor Penyebab Ketombe. (Online): http://www.e-
jurnal.com/2014/02/faktor-penyebab-ketombe.html. (Diakses tanggal 10
Februari 2017).
Toruan, T. 1989. Ketombe dan Penanggulangannya. Jakarta : Pustaka.