Anda di halaman 1dari 30

Analisis Kadar Abu

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Abu merupakan residu anorganik yang didapat dengan cara mengabukan komponen-
komponen organik dalam bahan pangan. Jumlah dan komposisi abu dalam mineral
tergantung pada jenis bahan pangan serta metode analisis yang digunakan.
Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik atau mineral yang terdapat
pada suatu bahan pangan. Bahan pangan terdiri dari 96% bahan anorganik dan air, sedangkan
sisanya merupakan unsur-unsur mineral. Unsur juga dikenal sebagai zat organik atau kadar
abu.
Penentuan kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain untuk
menentukan baik atau tidaknya suatu pengolahan, mengetahui jenis bahan yang digunakan,
dan sebagai penentu parameter nilai gizi suatu bahan makanan. Untuk melakukan analisis
kadar abu suatu bahan pangan dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode kering dan
metode basah.
Oleh karena itu praktikum ini dilakukan untuk mengetahui kadar abu suatu bahan pangan
dengan menggunakan metode pengabuan kering..
1.2 Tujuan
- Untuk mengetahui cara analisis kadar abu bahan pangan dan hasil pertanian.
- Utuk mengukur kadar abu bahan pangan dan hasil pertanian dengan metode pengabuan
kering.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Metode Pengabuan Kering dan Basah
Metode pengabuan ada dua yaitu metode pengabuan kering (langsung) dan metode
pengabuan basah (tidak langsung).
a. Pengabuan kering
Prinsip dari pengabuan cara langsung yaitu dengan mengoksidasi semua zat organik pada suhu
tinggi, yaitu sekitar 500 600 oC dan kemudian melakukan penimbangan zat yang tertinggal setelah
proses pembakaran tersebut (Sudarmadji, 1996). Pengabuan dilakukan melalui 2 tahap yaitu :
- Pemanasan pada suhu 300oC yang dilakukan dengan maksud untuk dapat melindungi kandungan
bahan yang bersifat volatil dan bahan berlemak hingga kandungan asam hilang. Pemanasan
dilakukan sampai asap habis.
- Pemanasan pada suhu 800oC yang dilakukan agar perubahan suhu pada bahan maupun porselin
tidak secara tiba-tiba agar tidak memecahkan krus yang mudah pecah pada perubahan suhu yang
tiba-tiba.
b. Pengabuan basah
Pengabuan basah memberikan benerapa keuntungan. Suhu yang digunakan tidak
dapat melebihi titik didih larutan dan pada umumnya karbon lebih cepat hancur daripada
menggunakan cara pengabuan kering. Cara pengabuan basah pada prinsipnya adalah
penggunaan asam nitrat untuk mendestruksi zat organik pada suhu rendah dengan maksud
menghindari kehilangan mineral akibat penguapan (Apriantono, 1989).
Prinsip dari pengabuan cara tidak langsung yaitu memberikan reagen kimia tertentu
kedalam bahan sebelum dilakukan pengabuan. Senyawa yang biasa ditambahkan adalah
gliserol alkohol ataupun pasir bebas anorganik selanjutnya dilakukan pemanasan pada suhu
tinggi. Pemanasan mengakibatkan gliserol alkohol membentuk kerak sehingga menyebabkan
terjadinya porositas bahan menjadi besar dan dapat mempercepat oksidasi. Sedangkan pada
pemanasan untuk pasir bebas dapat membuat permukaan yang bersinggungan dengan oksigen
semakin luas dan memperbesar porositas, sehingga mempercepat proses pengabuan.
(Sudarmadji, 1996).
2.2 Bahan Baku
2.2.1 Ikan Asin
Menurut Adawyah (2007), ikan yang sudah melalui proses penggaraman dan
pengeringan,sebagai bahan makanan yang mengandung protein tinggi dan mengandung asam
amino essensial, ikan asin sangat diperlukan oleh tubuh, disamping itu nilai biologisnya
mencapai 90 persen, dengan jaringan pengikat sedikit sehigga mudah dicerna.
Standart Internasional kadar abu pada ikan asin kurang dari 2% (Bastaman 1989).
2.2.2 Kakao
Theobroma cacao adalah nama biologi yang diberikan pada pohon kakao oleh
Linnaeus pada tahun 1753. Tempat alamiah dari genus Theobroma adalah di bagian hutan
tropis dengan banyak curah hujan, tingkat kelembaban tinggi, dan teduh. Dalam kondisi
seperti ini Theobroma cacao jarang berbuah dan hanya sedikit menghasilkan biji (Spillane,
1995). Berdasarkan daerah asalnya kakao tumbuh dibawah naungan pohon-pohon yang
tinggi. Habitat seperti itu masih dipertahankan dalam budi daya kakao dengan menanam
pohon pelindung. Kakao mutlak membutuhkan naungan sejak tanam sampai umur 2 - 3
tahun.
2.2.3 Kopi
Kopi merupakan salah satu hasil komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis
yang cukup tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting sebagai
sumber devisa negara. Kopi tidak hanya berperan penting sebagai sumber devisa melainkan
juga merupakan sumber penghasilan bagi tidak kurang dari satu setengah juta jiwa petani
kopi di Indonesia (Rahardjo, 2012).
Kopi instan dibuat dari kopi bubuk yang diekstrak dengan menggunakan air (Clarke,
1988). Di dalam Encyclopedia Britanica (1983), disebutkan bahwa pada pembuatan kopi
instan, sejumlah konsentrasi kopi cair dipekatkan. Hal ini dilakukan dengan menggunakan
pengeringan semprot dari konsentrasi kopi tersebut, menggunakan udara panas,
mengeringkannya pada keadaan vacuum, atau dengan lyophilization (pengeringan dingin).
Operasi dari pembuatan kopi instan lebih kompleks dan beragam pada berbagai perusahaan
yang memproduksinya.
Menurut Siswoputranto (1992), kopi instan dihasilkan dari ekstraksi kopi bubuk, hasil
biji kopi yang telah disangrai, melalui percolator-percolator ukuran pabrik yang diameternya
bisa mencapai 6,5 m. ekstraksi dilakukan dengan air panas dan tekanan. Diperoleh produk
agak padat yang disebut liquor yang kemudian disaring melalui filter dan kemudian
dikeringkan. Cara ekstraksi ini bisa mencapai rendemen antara 35-50 %.
2.2.4 Susu Jahe Anget Sari
Jahe (Zingiber officinale Roscoe) merupakan salah satu tanaman temu-temuan yang
tergolong tanaman apotek hidup. Menurut Ariviani (1999), jahe memiliki berbagai
kandungan zat yang diperlukan oleh tubuh. Beberapa kandungan zat yang terdapat pada jahe
adalah minyak atsiri (0,5 - 5,6%), zingiberon, zingiberin, zingibetol, barneol, kamfer,
folandren, sineol, gingerin, vitamin (A, B1,dan C), karbohidrat (20 60%) dammar (resin)
dan asam asam organik (malat, oksalat).
Susu jahe Anget Sari adalah salah satu brand produk minuman dari Forisa. Produk
minuman ini berupa serbuk dengan bahan dasar dari jahe. Anget Sari terbuat dari bahan alami
yang berkualitas tinggi. Produk ini juga diproduksi melalui serangkaian proses yang higienis.
Cita rasa Anget Sari sangat enak, juga dapat menghangatkan tenggorokan dan badan. Anget
sari sangat sesuai diminum pada saat kondisi cuaca dingin atau pada saat bersantai. susu jahe
anget sari mengandung gula dan ekstrak jahe. Komposisi dari susu jahe anget sari adalah
gula, krimer nabati, susu bubuk dan ekstrak jahe.
2.2.5 Sereal Ginseng
Kandungan Gizi Sereal Ginseng
Nilai gizi rata-rata
Per 100 g Per porsi*
energi kal 425 148
Protein g 6 2,1
Lemak g 10 3,5
Serat kasar g 4 1,4
mineral g 3 1,1
*1 sachet : 35 g + 150 cc air panas

2.3 Prinsip Analisa Kadar Abu


Analisa kadar abu saat praktikum menggunakan metode analisa pengabuan cara
langsung (cara kering). Prinsip dari pengabuan secara langsung yaitu dengan mengoksidasi
semua zat organic pada suhu tinggi, yaitu sekitar 500-6000C dan kemudian melakukan
penimbangan zat yang tertinggal setelah proses pembakaran tersebut (Sudarmadji, 1996).
2.4 Manfaat Penentuan Kadar Abu
Penentuan kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan antara lain:
1. Menentukan baik tidaknya suatu pengolahan
Dalam penggilingan gandum, misalnya apabial masih banyak katul atau lembaga yang terikut
maka tepung gandum tersebut akan memiliki kadar abu yang tingggi.
2. Mengetahui jenis bahan yang digunakan
Penentuan kadar abu dapat digunakan untuk memperkirakan kandungan buah yang
digunakan dalam marmalade atau jelly. Kandungan abu juga dapat dipakai untuk menentukan
atau membedakan fruit vinegar (asli) atau sintesis
3. Penentuan parameter nilai gizi pada bahan makanan
Adanya kandungan abu yang tidak larut dalam asam yang cukup tinggi menunjukkan adanya
pasir atau kotoran yang lain (Fauzi 2006).
BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
a. Tanur
b. Kurs Porselin
c. Neraca OHAUS
d. Spatula
e. Eksikator
f. Penjepit
g. Oven
h. Pisau
i. Telenan
3.1.2 Bahan
a. Ikan asin
b. Biji Kakao
c. Ginseng Sereal
d. Susu bubuk jahe
e. Kopi torabika
f. Kopi kapal api
3.2 Prosedur Analisa
Pertama Kurs porselen dioven selama 15 menit untuk menghilangkan kandungan air
yang ada pada kurs porselen. Kemudian dieksikator selama 5 menit untuk menstabilkan
kelembabab (RH). Kurs porselen ditimbang sebagai a gram dan ditambahkan 3-10 gram
bahan. Kemudian dimasukkan ke dalam tanur untuk proses pengabuan. Nyalakan tanur dan
dilakukan pengaturan suhu pada skala 30 40 (menunjukkan suhu 300 400 oC) selama 1
jam atau sampai asapnya hilang. Hal ini dilakukan agar porselen tidak retak atau pecah
apabila suhu langsung dinaikkan, selain itu hal ini juga bertujuan untuk menghilangkan
senyawa-senyawa organik yang terdapat pada bahan. Selanjutnya suhu dinaikkan sampai
skala 60 80 (menunjukkan suhu 600 800 oC) selama 4 jam, dimana waktu dan suhu
tersebut adalah waktu dan suhu yang optimal untuk proses pengabuan.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
4.2 Pembahasan
Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa kadar abu tertinggi terdapat pada bahan ikan
asin dengan kadar abu sebesar 22,213 % sedangkan menurut literatur kadar abu ikan asin
adalah 1,4%. Perbedaan yang sangat signifikan antara literatur dengan hasil praktikum dapat
disebabkan karena ikan yang digunakan pada saat praktikum adalah ikan yang mutunya
kurang bagus sehingga diperoleh kadar abu yang tinggi.. Sedangkan nilai SD dari ikan asin
adalah sebesar 0,564. Hal ini menunjukkan bahwa data yang diperoleh sudah akurat karena
nilai SD < 1.
Kadar abu dalam susu bubuk jahe pada hasil praktikum sebesar 0,823%. Sedangkan
menurut literatur, kadar abu pada jahe segar adalah 3,5%. Perbedaan ini dapat disebabkan
karena karakteristik bahan yang berbeda. Pada saat praktikum jahe yang digunakan
merupakan bentuk bubuk jahe. Untuk Nilai SD pada susu bubuk jahe sebesar 0,099. Hal ini
menunjukkan bahwa data yang diperoleh sudah akurat karena nilai SD < 1.
Kadar abu pada ginseng sereal adalah sebesar 8,866% sedangkan menurut literatur adalah
sebesar 3%. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh penggunaan bahan yang memiliki mutu
berbeda. Sedangkan untuk nilai SD, dari praktikum diperoleh nilai sebesar 12,125%. Hal ini
menunjukkan bahwa data yang diperoleh kurang akurat karena nilai SD > 1.
Kadar abu pada biji kakao sebesar 3,418%, sedangkan pada literatur kadar abu pada biji
kakao adalah 2,5%. Perbedaan tersebut dapat dikarenakan pada saat praktikum, kulit biji
kakao belum dibuang sehingga mempengaruhi kadar abunya. Nilai SD yang diperoleh
sebesar 0,231%, Hal ini menunjukkan bahwa data yang diperoleh sudah akurat karena nilai
SD < 1.
Kadar abu dalam kopi, secara berturut-turut kopi tora bika dan kopi kapal api sebesar
1,511% , 1,1%. Sedangkan menurut literatur kadar abu kopi bubuk maksimal adalah 4,8 %.
Perbedaan yang sangat signifikan ini dapat disebabkan karena kopi yang digunakan saat
praktikum merupakan kopi yang sudah siap saji/instan yang mengalami pengolahan yang
lebih lanjut. Sedangkan kopi pada litaratur merupakan kopi bubuk yang masih segar. Nilai
SD pada kopi torabika adalah sebesar 0,051 dan pada kopi kapal api 0,047.Hal ini
menunjukkan bahwa data yang diperoleh sudah akurat karena nilai SD < 1.
BAB 5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
a. Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik atau mineral yang terdapat pada
suatu bahan pangan
b. Metode pengabuan ada dua yaitu metode pengabuan kering (langsung) dan metode
pengabuan basah (tidak langsung).
c. Prinsip dari pengabuan cara langsung yaitu dengan mengoksidasi semua zat organik pada
suhu tinggi, yaitu sekitar 500 600 oC dan kemudian melakukan penimbangan zat yang
tertinggal setelah proses pembakaran tersebut (Sudarmadji, 1996).
d. Kadar abu tertinggi pada saat praktikum adalah pada bahan ikan asin.
5.2 Saran
Sebaiknya praktikan harus lebih teliti dan cermat saat melakukan praktikum agar
diperoleh hasil yang akurat dan sesuai dengan literatur.

http://heniprahesti.blogspot.sg/2014/08/analisis-kadar-abu.html

Laporan analisa kimia pangan-Pengujian kadar abu

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan merupakan salah satu bahan pangan terdiri dari sebagian besar air
dan merupakan penyusun utama dalam tubuh, yaitu terdiri dari 96% bahan
anorganik dan air, sedangkan sisanya merupakan unsur-unsur mineral (Winarno,
1992). Unsur juga dikenal sebagai zat organik atau kadar abu. Bahan pangan
termasuk bahan yang menganduk banyak air dan berguna sebagai sumber
nutrisi, namun air yang terdapat dalam bahan tesebut juga sangat berpengaruh
pada lama penyimpanan bahan. Kadar abu tersebut dapat menunjukkan total
mineral dalam suatu bahan pangan. Bahan-bahan organik dalam proses
pembakaran akan terbakar tetapi komponen anorganiknya tidak, karena itulah
disebut sebagai kadar abu. Bahan pangan yang terdapat di alam juga
mengandung mineral yang berupa abu. Jumlah mineral tersebut hanya dapat
diketahui jika dilakukan perlakuan khusus yaitu dengan teknik pengabuan. Kadar
abu tersebut berpengaruh terhadap mutu suatu bahan, jika mengandung banyak
kadar abu maka bahan pangan tersebut tidak baik untuk dikonsumsi untuk
tubuh. Setiap bahan pangan harus diteliti terlebih dahulu sebelum dikonsumsi
untuk tubuh. Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik atau
mineral yang terdapat pada suatu bahan pangan.

Penentuan kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara
lain untuk menentukan baik atau tidaknya suatu pengolahan , mengetahui jenis
bahan yang digunakan, dan sebagai penentu parameter nilai gizi suatu bahan
makanan. Abu adalah zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik.
Penentuan kadar abu berhubungan erat dengan kandungan mineral yang
terdapat dalam suatu bahan, kemurnian serta kebersihan suatu bahan yang
dihasilkan. Praktikum kali ini membahas tentang bagaimana cara menentukan
kadar abu. Melihat bahwa pentingnya hal tersebut untuk diketahui oleh praktikan
maka dilakukanlah praktikum tersebut.

1.2 Tujuan

Untuk megetahui kandungan kadar abu pada ikan asap.

1.3 Manfaat

Kegunaan dilakukannya praktikum ini adalah sebagai bahan pembelajaran


dan informasi mengenai bagaimana sebenarnya cara untuk menentukan kadar
abu pada suatu bahan khususnya pada ikan asap.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Analisis Kadar Abu

Abu merupakan residu anorganik yang didapat dengan cara mengabukan


komponen-komponen organik dalam bahan pangan. Jumlah dan komposisi abu
dalam mineral tergantung pada jenis bahan pangan serta metode analisis yang
digunakan. Abu dan mineral dalam bahan pangan umumnya berasal dari bahan
pangan itu sendiri (indigenous). Tetapi ada beberapa mineral yang ditambahkan
ke dalam bahan pangan, secara disengaja maupun tidak disengaja. Abu dalam
bahan pangan dibedakan menjadi abu total, abu terlarut dan abu tak larut.
(Puspitasari, et.al, 1991) Analisis gravimetrik merupakan bagian analisis
kuantitatif untuk menentukan jumlah zat berdasarkan pada penimbangan dari
hasil reaksi setelah bahan/analit yang dihasilkan diperlakukan terhadap pereaksi
tertentu. (Widodo, 2010)

Kadar abu suatu bahan ditetapkan pula secara gravimetri. Penentuan


kadar abu merupakan cara pendugaan kandungan mineral bahan pangan secara
kasar. Bobot abu yang diperoleh sebagai perbedaan bobot cawan berisi abu dan
cawan kosong. Apabila suatu sampel di dalam cawan abu porselen dipanaskan
pada suhu tinggi sekitar 650C akan menjadi abu berwarna putih. Ternyata di
dalam abu tersebut dijumpai garam-garam atau oksida-oksida dari K, P, Na, Mg,
Ca, Fe, Mn, dan Cu, disamping itu terdapat dalam kadar yang sangat kecil seperti
Al, Ba, Sr, Pb, Li, Ag, Ti, As, dan lain-lain. Besarnya kadar abu dalam daging ikan
umumnya berkisar antara 1 hingga 1,5 %. (Yunizal, et.al, 1998) Standar mutu
ikan segar berdasar SNI 01-2354.1-2006, ialah memiliki kadar abu kurang dari
2%.Kadar abu/mineral merupakan bagian berat mineral dari bahan yang
didasarkan atas berat keringnya. Abu yaitu zat organik yang tidak menguap, sisa
dari proses pembakaran atau hasil oksidasi. Penentuan kadar abu ada
hubungannya dengan mineral suatu bahan.

Mineral yang terdapat dalam pangan terdiri dari 2 jenis garam, yaitu:

1. Garam-garam organik, misalnya garam dari as. malat, oxalate, asetat, pektat
dan lain-lain

2. Garam-garam anorganik, misalnya phospat, carbonat, chloride, sulfat nitrat dan


logam alkali. (Anonim, 2011)

Selain kedua garam tersebut, kadang-kadang mineral dapat terbentuk


sebagai senyawa yang kompleks yang bersifat organis. Apabila akan ditentukan
jumlah mineralnya dalam bentuk aslinya adalah sangat sulit. Menurut Winarno
(1991), kadar abu yang yang terukur merupakan bahan-bahan anorganik yang
tidak terbakar dalam proses pengabuan, sedangkan bahan-bahan organik
terbakar. Untuk menentukan kandungan mineral pada bahan makanan, bahan
harus dihancurkan/didestruksi terlebih dahulu. Cara yang biasa dilakukan yaitu
pengabuan kering (dry ashing) atau pengabuan langsung dan pengabuan basah
(wet digestion). Pemilihan cara tersebut tergantung pada sifat zat organik dalam
bahan, sifat zat anorganik yang ada di dalam bahan, mineral yang akan dianalisa
serta sensitivitas cara yang digunakan. (Apriyantono, et.al, 1989).

Penetapan Kadar Abu dengan Metode Oven (AOAC, 1984) Sampel


sebanyak 4-5 gram ditimbang dalam cawan yang bobotnya konstan. Dibakar
sampai tidak mengeluarkan asap di atas Bunsen dengan api kecil, kemudian
dimasukkan ke dalam tanur pada suhu 600oC sampai menjadi abu. Cawan
didinginkan dalam desikator selama 15 menit kemudian ditimbang. Pengabuan
diulangi, dengan cara dimasukkan ke dalam tanur pada suhu 600 oC selama satu
jam sampai didapat bobot yang tetap. Presentase kadar abu dapat dihitung
dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
%KadarAbu=

Keterangan :

A : Berat cawan berisi abu sampel (g)

B : Berat cawan (g)

C : Berat sampel (g)

2.2 Metode Pengabuan

2.2.1 Metode Pengabuan Kering

Prinsip dari pengabuan cara kering yaitu dengan mengoksidasi semua zat
organik pada suhu tinggi, yaitu sekitar 500600C dan kemudian melakukan
penimbangan zat yang tertinggal setelah proses pembakaran tersebut
(Sudarmadji, 1996).

Mekanisme pengabuan pada percobaan ini adalah pertama-tama krus


porselin dioven selama 1 jam. Krus porselin adalah tempat atau wadah yang
digunakan dalam pengabuan, karena penggunaannya luas dan dapat mencapai
berat konstan maka dilakukan pengovenan. Kemudian didinginkan selama 30
menit, setelah itu dimasukkan eksikator. Lalu timbang krus sebagai berat a
gram. Setelah itu masukkan bahan sebanyak 3 gram kedalam krus dan catat
sebagai berat b gram. Pengabuan di anggap selesai apabila di peroleh
pengabuan yang umumnya berwarna putih abu-abu (Tamiang, 2011).

Pengabuan yang dilakukan didalam muffle dilakukan melalui 2 tahap


yaitu:

1. Pemanasan pada suhu 300C yang dilakukan dengan maksud untuk dapat
melindungi kandungan bahan yang bersifat volatile dan bahan berlemak hingga
kandungan asam hilang. Pemanasan dilakukan sampai asap habis.

2. Pemanasan pada suhu 800C yang dilakukan agar perubahan suhu pada bahan
maupun porselin tidak secara tiba-tiba agar tidak memecahkan krus yang mudah
pecah pada perubahan suhu yang tiba-tiba. Setelah pengabuan selesai maka
dibiarkan dalam tanur selama 1 hari. Sebelum dilakukan penimbangan, krus
porselin dioven terlebih dahulu dengan tujuan mengeringkan air yang mungkin
terserap oleh abu selama didinginkan dalam muffle dimana pada bagian
atas muffle berlubang sehingga memungkinkan air masuk, kemudian krus
dimasukkan dalam eksikator yang telah dilengkapi zat penyerap air berupa silica
gel. Setelah itu dilakukan penimbangan dan catat sebagai bera c gram.

Beberapa kelemahan maupun kelebihan yang terdapat pada pengabuan


dengan cara lansung. Beberapa kelebihan dari cara langsung, antara lain:

a. Digunakan untuk penentuan kadar abu total bahan makanan dan bahan hasil
pertanian, serta digunakan untuk sampel yang relatif banyak,

b. Digunakan untuk menganalisa abu yang larut dan tidak larut dalam air, serta
abu yang tidak larut dalam asam, dan

c. Tanpa menggunakan regensia sehingga biaya lebih murah dan tidak


menimbulkan resiko akibat penggunaan reagen yang berbahaya.

Sedangkan kelemahan dari cara langsung, antara lain :

1. Membutuhkan waktu yang lebih lama,

2. Tanpa penambahan regensia,

3. Memerlukan suhu yang relatif tinggi, dan

4. Adanya kemungkinan kehilangan air karena pemakaian suhu tinggi (Apriantono,


1989).

2.2.2 Metode Pengabuan Basah

Senyawa yang biasa ditambahkan adalah gliserol alkohol ataupun pasir


bebas anorganik selanjutnya dilakukan pemanasan pada suhu tunggi.

Sedangkan pada pemanasan untuk pasir bebas dapat membuat


permukaan yang bersinggungan dengan oksigen semakin luas dan memperbesar
porositas, sehingga mempercepat proses pengabuan. Mekanisme pengabuannya
adalah pertama-tama krus porselin dioven selama 1 jam. Kemudian didinginkan
selama 30 menit, setelah itu dimasukkan ke dalam eksikator (Sudarmadji, 1996).
Lalu timbang krus sebagai berat a gram. Setelah itu masukkan bahan sebanyak
3 gram kedalam krus dan catat sebagai berat b gram. Kemudian ditambahkan
gliserol alkohol 5 ml dan dimasukkan dalam tanur pengabuan sampai warna
menjadi putih keabu-abuan. Setelah terjadi pengabuan, abu yang terbentuk
dibiarkan dalam muffle selama 1 hari. Sebelum dilakukan penimbangan, krus
porselin dioven terlebih dahulu dengan tujuan mengeringkan air yang mungkin
terserap oleh abu selama didinginkan dalam muffle dimana pada bagian
atas muffle berlubang sehingga memungkinkan air masuk, kemudian krus
dimasukkan dalam eksikator yang telah dilengkapi zat penyerap air berupa silica
gel.

Setelah itu dilakukan penimbangan dan catat sebagai berat c gram. Suhu
yang tinggi menyebabkan elemen abu yang bersifat volatile seperti Na, S, Cl, K
dan P menguap. Pengabuan juga menyebabkan dekomposisi tertentu seperi
K2CO3 dan CaCO3. pengeringan pada metode ini bertujuan untuk mendapatkan
berat konstan. Sebelum sampel dimasukkan dalam krus, bagian dalam krus
dilapisi silica gel agar tidak terjadi pengikisan bagian dalam krus oleh zat asam
yang terkandung dalam sampel dan utnuk menyerap air yang kemungkinan ada
pada kurs.

Kelebihan dari cara tidak langsung, meliputi :

1. Waktu yang diperlukan relatif singkat,

2. Suhu yang digunakan relatif rendah,

3. Resiko kehilangan air akibat suhu yang digunakan relatif rendah,

4. Dengan penambahan gliserol alkohol dapat mempercepat pengabuan

5. Penetuan kadar abu lebih baik

Sedangkan kelemahan yang terdapat pada cara tidak langsung, meliputi :

a. Hanya dapat digunakan untuk trace elemen dan logam beracun,

b. Memerlukan regensia yang kadangkala berbahaya, dan

c. Memerlukan koreksi terhadap regensia yang digunakan.

2.3 Penjelasan Bahan Baku

2.3.1 Ikan Teri

Ikan teri terutama berukuran kecil dengan panjang sekitar 6-9 cm, namun
ada pula yang mempunyai ukuran relatif panjang hingga mencapai 17,5 cm. Ikan
teri mempunyai ciri ciri antara lain bentuk tubuhnya panjang (fusiform) atau
termampat samping (compressed), disamping tubuhnya terdapat selempeng
putih keperakan memanjang dari kepala sampai ekor. Gigi giginya terdapat pada
rahang, langit langit dari pelatin dan mempunyai lidah (Hoetomo et
al.1987dalam Wahyuni 1999)

Adapun sistematika dan klasifikasi ikan teri nasi menurut Saanin (1984)
adalah sebagai berikut:

Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Kelas : Pisces

Subkelas: Teleostei

Ordo : Malacopterygii

Famili : Clupeidae

Genus : Stolephorus

Spesies : Stolephorus sp.

Menurut (Winarno, 1991) , Komposisi Kimia pada ikan teri yaitu :


KOMPOSISI KIMIA JUMLAH

Air 79.98%

Protein 17.20%

Lemak 0.03%

Abu 0.97%

2.3.2 Ikan Cakalang

Ikan cakalang adalah ikan bernilai komersial tinggi, dan dijual dalam
bentuk segar, beku, atau diproses sebagai ikan kaleng, ikan kering, atau ikan
asap. Dalam makanan Manado, cakalang diawetkan dalam bentuk cakalang fufu
(cakalang asap) (Anonim, 2010). Ikan cakalang bisa berperan sebagai inang
perantara dalam siklus hidup cacing-cacing tertentu seperti Anisakidae. Pada
tubuh ikan cakalang (K. pelamis) cacing berada dalam stadium larva, namun bila
manusia makan daging ikan mentah atau kurang masak, larva cacing dapat
masuk ke tubuh manusia melalui mukosa lambung dan usus halus (Yman, 2003).

Klasifikasi Ikan Cakalang menurut Saanin, H. (1984) adalah:

Filum : Vertebrata

Subfilum : Craniata

Superclass : Gnatnostomata

Series : Pisces

Class : Teleostomi

Subclass : Actinopterygii

Order : Perciformes

Suborder : Scombroidei

Family : Scombridae

Subfamily : Scombrinae

Genus : Katsuwonus

Spesies : K. Pelamis

Menurut (Saanin, H. 1984), Komposisi Kimia pada ikan Cakalang yaitu :

KOMPOSISI KIMIA JUMLAH

Air 68,1%

Protein 20,9%
Lemak 9,4%

Abu 5,0%

2.3.3 Ikan Julung-julung

Ikan julung-julung adalah salah satu ikan air laut. Panjang total maksimal
45.0 dan panjang total pada umumnya 30.0 cm. ikan ini berkembang biak di
muara sungai. Makanan ikan ini berupa rumput laut, ganggang hijau dan
diatom. Ikan ini banyak ditemukan di daerah pantai yang kaya akan vegetasi.

Berikut adalah klasifikasi dari ikan julung-julung menurut Tadanugi, F. A. (2004):

Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Actinopterygii

Order: Beloniformes

Family: Hemiramphidae

Genus : Hemiramphus

Spesies : Hemiramphus far

Menurut (Saanin, H. 1984), Komposisi Kimia pada ikan Julung-julung yaitu :

KOMPOSISI KIMIA JUMLAH

Air 79.98%

Protein 18.02%

Lemak 1.45%

Abu 0.01%

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Waktu pelaksanaan praktikum ini yaitu Kamis, 19 Desember 2013 Pukul
08.30 WITA sampai dengan selesai bertempat di LPMHP

3.2 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam paraktikum ini adalah
sebagai berikut.

- Kamera

- ATK

- Blender

- Tapis-tapis

- Alumunium Foil

- Cawan Penguap

- Neraca Analitik

- Tungku pengabuan

- Desikator

- Ikan Teri Kering

- Ikan Julung-julung Asap

- Ikan Cakalang Asap


3.3 Cara Praktikum
Adapun cara praktikum yang dilakukan

yaitu sebagai berikut:


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil

Tabel hasil praktikum pengujian kadar abu

N SAMPEL Berat Berat cawan Berat sampe Kadar Abu


O cawan berisi sampel l (g) (%)
kosong (g) (g)

Ikan julung-
1 43.2272 43.4266 2.0082 9.9293
julung Asap

Ikan Cakalang
2 24.4359 24.4672 0.0211 1.5487
Asap

3 Ikan Teri Asap 23.8942 24.0617 2.0070 8.3458

cat:

Kadar abu di peroleh dari perhitungan berikut:


%KadarAbu=

Keterangan :

A : Berat cawan berisi abu sampel (g)

B : Berat cawan kosong (g)

C : Berat sampel (g)

4.2 Pembahasan

4.2.1 Ikan Julung-julung Asap

Dari tabel diatas didapat kandungan kadar abu berbagai macam ikan. Dari
setiap ikan mempunyai nilai kandungan kadar abu yang berbeda-beda. Bahan
yang digunakan saat praktikum yaitu ikan julung-julung asap, ikan cakalang
asap, ikan teri kering. Kandungan kadar abu yang terdapat pada bahan ikan
julung-julung asap lumayan besar yaitu sebesar 9.9293%. Sedangkan menurut
literatur Syarat Standar mutu ikan segar berdasar SNI 01-2354.1-2006, ialah memiliki
kadar abu kurang dari 2%. Perbedaan antara literatur dengan hasil data yang
didapat pada saat praktikum sangatlah jauh hal ini mungkin disebabkan karena
ikan julung-julung yang digunakan pada saat praktikum adalah ikan yang
mutunya kurang bagus sehingga kadar abunya tinggi. Selain itu juga pengolahan
tidak hygiene sehingga terkontaminasi oleh abu dari sisa pembakaran dari sabut
kelapa atau kayu, dan terkontaminasi oleh pasir. Semakin banyak kadar abu
dalam bahan, maka mutunya semakin jelek.

4.2.2 Ikan Cakalang Asap


Kadar abu adalah sisa hasil mineral dalam bahan pangan karena proses
pembakaran. Kadar abu pada bahan pangan menggambarkan kandungan
mineral dari sampel bahan makanan. Hal ini dipertegas oleh anonim (2010) yang
menyatakan bahwa apabila akan ditentukan jumlah mineralnya dalam bentuk
aslinya adalah sangat sulit, oleh karenanya biasanya dilakukan dengan
menentukan sisa-sisa pembakaran garam mineral tersebut, yang dikenal dengan
pengabuan.

Dari tabel diatas didapat hasil yang diperoleh dalam penentuan kadar abu
pada ikan cakalang asap yaitu 1.5487%. Hasil ini didapat dari proses
pembakaran yang telah dilakukan 16 jam dan penimbangan sehingga mencapai
berat yang konstan. Kadar abu dapat ditentukan dengan berat ikan cakalang
asap pada cawan setelah mengalami pembakaran yaitu 24.4672 gram dikurangi
dengan berat cawan kosong yaitu 24.4359 gram di bagi dengan berat sampel
yaitu 0.0211 gram kemudian dikalikan 100 %, maka diperoleh kadar abu adalah
1,5487%. Hasil yang didapat dari proses pengujian tersebut dapat membuktikan
bahwa dalam segi kandungan kadar abu bahan pangan tersebut masih layak
untuk dikonsumsi karena tidak melewati batas maksimum. Hal ini dipertegas
pada Standar mutu ikan segar berdasar SNI 01-2354.1-2006, ialah memiliki kadar abu
kurang dari 2%.

4.2.3 Ikan Teri Kering

Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik atau mineral


yang terdapat pada suatu bahan pangan. Bahan pangan terdiri dari 96% bahan
anorganik dan air, sedangkan sisanya merupakan unsur-unsur
mineral. Penentuan kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan,
antara lain untuk menentukan baik atau tidaknya suatu pengolahan, mengetahui
jenis bahan yang digunakan, dan sebagai penentu parameter nilai gizi suatu
bahan makanan.

Dari tabel diatas didapat nilai kandungan kadar abu ikan ikan teri kering
yaitu sebanyak 8.3458 %. Kandungan kadar abu yang terdapat pada bahan ikan
teri kering lumayan besar yaitu sebesar 8.3458 %%. Sedangkan menurut
literatur Syarat Standar mutu ikan segar berdasar SNI 01-2354.1-2006, ialah memiliki
kadar abu kurang dari 2%. Perbedaan antara literatur dengan hasil data yang
didapat pada saat praktikum sangatlah jauh hal ini mungkin disebabkan karena
ikan teri yang digunakan pada saat praktikum adalah ikan yang mutunya kurang
bagus sehingga kadar abunya tinggi. Perbedaan ini juga disebabkan karena
penggunaan bahan yang memiliki mutu dan kualitas yang kurang baik.

Selain itu juga bahan yang digunakan tidak hygiene sehingga


terkontaminasi oleh debu pada saat pengeringan. Semakin banyak kadar abu
dalam bahan, maka mutunya semakin jelek. Hasil pengujiannya bahan tersebut
pun sudah tidak layak dikonsumsi.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Kadar abu yang di peroleh pada ikan julung-julung asap yaitu 9.9293%, pada
ikan cakalang asap yaitu 1.5487 % dan ikan teri kering yaitu 8.3458 %.

2. Penentuan kadar abu diperoleh pada ikan julung-julung asap dan ikan teri
kering tidak layak dikonsumsi sedangkan pada ikan cakalang asap bisa
dikonsumsi sesuai standarSNI 01-2354.1-2006.

5.2 Saran

1. Diharapkan kepada praktikan agar pada saat menjalankan praktek dalam


keadaan diam (tidak ribut)

2. Diharapkan praktikan agar bisa mengetahui materi agar pada saat praktikum
bisa mengetahui prosedur praktikum

http://ednanabas.blogspot.sg/2013/12/laporan-analisa-kimia-pangan-
pengujian.html

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Abu adalah residu anorganik dari proses pembakaran atau oksidasi komponen
organik bahan pangan. Kadar abu total adalah bagian dari analisis proksimat
yang bertujuan untuk mengevalusi nilai gizi suatu produk/bahan pangan
terutama total mineral. Kadar abu dari suatu bahan menunjukkan total mineral
yang terkandung dalam bahan tersebut (Aprilianto, 1988). Mineral itu sendiri
terbagi menjadi 4, yaitu:
1. Garam organik: garam-garam asam malat, oksalat, asetat, pektat
2. Garam anorganik: garam fosfat, karbonat, klorida, sulfat, nitrat
3. Senyawa komplek: klorofil-Mg, pektin-Ca, mioglobin-Fe, dll
4. Kandungan abu dan komposisinya tergantung macam bahan dan cara
pengabuannya.
Penentuan kandungan mineral dalam bahan pangan dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu dengan penentuan abu total dan penentuan individu komponen
mineral (makro &trace mineral) menggunakan titrimetrik, spektrofotometer, AAS
(atomic absorption spectrofotometer). ( Aprilianto, 1988)
Pengabuan merupakan tahapan persiapan contoh yang harus dilakukan
dalam anailisis elemen-elemen mineral (individu). Metode pengabuan terdiri dari
dua cara yaitu pengabuan basah dan pengabuan kering.
Pada praktikum kali ini, akan dilakukan penentuan kadar abu dengan metode
pengabuan kering. Sedangkan sampel yang akan digunakan adalah makanan
sereal ENERGEN dan CEREVITA. Metode pengabuan kering adalah metode
pengabuan dengan menggunakan tanur ( 500 0C 600 0C) selama 3 jam.

1.2 Tujuan
A. Untuk mengetahui cara analisa kadar abu dalam bahan pangan
B. Untuk mengukur kadar abu dalam bahan pangan dengan menggunakan metode
kering

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Metode pengabuan kering dan pengabuan basah


2.1.1 Pengabuan Kering
Pengabuan ini menggunakan panas tinggi dan adanya oksigen. Biasanya
digunakan dalam analisis kadar abu . Metode pengabuan cara kering banyak
dilakuakan untuk analisis kadar abu. Caranya adalah dengan mendestruksi
komponen organik contoh dengan suhu tinggi di dalam suatu tanur (furnace)
pengabuan, tanpa terjadi nyala api sampai terbentuk abu berwarna putih
keabuan dan berat tetap (konstan) tercapai. Oksigen yang terdapat di dalam
udara bertindak sebagai oksidator.Oksidasi komponen organik dilakukan pada
suhu tinggi 500-6000C. Residu yang tertinggal ditimbang dan merupakan total
abu dari suatu contoh. (Fauzi, 2006)
Sampel yang digunakan pada metode pengabuan kering ditempatkan dalam
suatu cawan pengabuan yang dipilih berdasarkan sifat bahan yang akan
dianalisis serta jenis analisis lanjutan yang akan dilakukan terhadap abu. Jenis-
jenis bahan yang digunakan untuk pembuatan cawan antara lain adalah
kuarsa, vycor, porselen, besi, nikel, platina, dan campuran emas-platina. Cawan
porselen paling umum digunakan untuk pengabuan karena beratnya relatif
konstan setelah pemanasan berulang-ulang dan harganya yang murah.Meskipun
demikian cawan porselen mudah retakk, bahkan pecah jika dipanaskan pada
suhu tinggi dengan tiba-tiba.
Sebelum diabukan, sampel-sampel basah dan cairan biasanya dikeringkan
lebih dahulu di dalam oven pengering. Pengeringan ini dapat pula dilakukan
menentukan kadar air sampel. Pra-pengabuan dilakukan di atas api terbuka,
terutama untuk sampel-sampel yang seluruh sampel mengering dan tidak
mengasap lagi. Setelah perlakuan ini, baru sampel dimasukkan ke dalam tanur
(furnace)Apabila pengabuan yang berkepanjangan tidak dapat menghasilkan
abu bebas karbon (carbon free ash), residu harus dibasahi lagi dengan air,
dikeringkan dan kemudian diabukan sampai didapat abu berwarna putih ini,
residu dapat pula diperlakukan dengan hidrogen peroksida, asam nitrat dan
atau asam sulfat, tetapi perlu diingat bahwa perlakukan ini akan mengubah
bentuk mineral yang ada di dalam abu.(Fauzi, 2006) Jika diperlukan, dapat pula
residu yang belum bebas karbon dilarutkan dalam sejumlah kecil air dan
kemudian disaring dengan kertas saring berkadar abu rendah. Kedua bagian ini
kemudian diabukan kembali secara terpisah

1.2.2 Pengabuan Basah


Pengabuan ini menggunakan oksidator-oksidator kuat (asam kuat).Biasanya
digunakan untuk penentuan individu komponen mineral. Pengabuan merupakan
tahapan persiapan contoh.Pengabuan cara basah ini dilakukan dengan
mendestruksi komponen-komponen organik (C, H, dan O) bahan dengan
oksidator seperti asam kuat. Pengabuan cara ini dilakukan untuk menentukan
elemen-elemen mineral. Cara ini lebih baik dari cara kering karena pengabuan
cara kering lama dan terjadi kehilangan mineral karena suhu tinggi. (Fauzi, 2006)
Prinsip pengabuan cara basah adalah memberi reagen kimia (asam kuat)
pada bahan sebelum pengabuan. Bahan tersebut dapat berupa:
a. Asam sulfat yang berfungsi sebagai bahan pengoksidasi kuat yang dapat
mempercepat reaksi oksidasi.
b. Campuran asam sulfat & potasium sulfat. K 2SO4 menaikkan titik didih
H2SO4menyebabkan suhu pengabuan tinggi sehingga pengabuan berlangsung
cepat.
c. Campuran asam sulfat & asam nitrat .Campuran ini banyak digunakan selain
itu capuran ini merupakan oksidator kuat. Memiliki suhu difesti dibawah 350 0C.
d. Campuran asam perklorat & asam nitrat untuk bahan yang sulit mengalami
oksidasi campuran ini baik untuk digunakan karena pengabuan sangat cepat
10 menit. Perklorat bersifat mudah meledak. ( Sudarmadji , 2003)

2.2 Penjelasan bahan baku

2.2.1 ENERGEN
Energen adalah minuman susu dan sereal yang cocok untuk
menghilangkan rasa lapar. Minuman ini juga mengandung karbohidrat, paduan
vitamin, mineral dan protein yang dibutuhkan tubuh dalam komposisi yang
tepat.Energen adalah susu dan sereal yang diperkaya sigmavit, yaitu paduan
vitamin, mineral dan protein dalam jumlah dan komposisi yang tepat yang
dibutuhkan tubuh dalam fase pertumbuhan, perkembangan dan pemeliharaan
kesehatan. Di dalam energen terkandung berbagai macam minerl yang
memungkinkan kita untuk meneliti kadar abu didalamnya.
2.2.2 CEREVITA
Cerevita Cerealdikenal juga sebagai serealatau biji-bijian yang merupakan
sekelompok tanaman yang ditanam untuk dipanen biji/bulirnya sebagai sumber
karbohidrat/pati.Di Malaysia disebut sebagai bijirin.Kebanyakan serealia
merupakan anggota dari suku padi-padian dan disebut sebagai serealia sejati.
Anggota yang paling dikenal dan memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga dikenal
sebagai serealia utama adalah padi, jagung, gandum, gandum durum, jelai,
haver, dan gandum hitam. Beberapa tanaman penghasil bijian yang bukan padi-
padian juga sering disebut serealia semu (pseudocereals); mencakup buckwheat,
bayam biji (seed amaranth), dan kinoa.Beberapa serealia juga dikenal sebagai
pakan burung berkicau, seperti jewawut dan berbagai jenis milet.Walaupun
menghasilkan pati, tanaman seperti sagu, ketela pohon, atau kentang tidak
digolongkan sebagai serealia karena bukan dipanen bulir/bijinya. Serealia
dibudidayakan secara besar-besaran di seluruh dunia, melebihi semua jenis
tanaman lain dan menjadi sumber energi bagi manusia dan ternak. Di sebagian
negara berkembang, serealia seringkali merupakan satu-satunya
sumberkarbohidrat. Istilah "serealia" diambil dari nama dewi pertanian bangsa
Romawi: Ceres.OAT (Gandum) Zat Gizi: Magnesium, Seng, Zat Besi, Asam Folat,
Vit. B5, Silikon Manfaat: Menurunkan kolesterol darah, menstabilkan gula darah,
mengatasi sembelit STRAWBERRY Zat Gizi: Provitamin A, Vitamin B1, B & C,
Antioksidan Folat, Potassium, Asam Ellagic Manfaat: Melawan zat radikal,
menyusutkan kadar kolesterol, meredam gejala stroke, anti alergi dan anti
radang, menghaluskan kulit dan mencerahkan warna kulit, memutihkan dan
membersihkan permukaan gigi.(Winarno, 1997)

2.2.3 INDOMIE

Indomie merupakan mi instan tanpa kuah yang sejenis dengan mi goreng tradisional yang
dapat ditemui di restoran-restoran atau penjaja makanan di pinggiran jalan di Indonesia. Mi instan
ini dapat ditemui di supermarket pada bagian pasta dan beras, atau pada toko-toko grosir di Asia
Pasifik dan jaringan supermarket lokal lainnya. Mi Goreng tersedia di negara-negara yang memiliki
populasi Asia terbanyak, seperti Australia. Mi ini juga populer di negara-negara Teluk
Persia sepertiQatar, dan mulai memasuki Amerika Serikat.

Setiap kemasan Mi Goreng Biasa memiliki berat bersih/netto 85g, dan berisi 2 bumbu
sachet, yang terdiri dari bumbu dalam bentuk "bubuk" dan "cair". Sachet pertama terbagi menjadi
3 bagian yang terdiri dari: kecap manis, saus cabe dan minyak bumbu. Sachet kedua terbagi
menjadi 2: bumbu dalam bentuk bubuk dan bawang goreng

Indomie diklaim sebagai makanan yang sehat dan bergizi oleh


produsennya. Produk mi instan ini disebut memiliki berbagai kandungan gizi
sepertienergi, protein, niasin, asam folat, mineral zat besi, natrium, dan
berbagai vitamin seperti vitamin A, B1, B6, dan B12. Meskipun begitu, konsumsi
Indomie yang terlalu sering tidak dianjurkan, sebab Indomie mengandung
pewarna tartrazine yang tidak baik bagi kesehatan apabila dikonsumsi dalam
jangka panjang.
Komposisi :
Mi: Tepung terigu, minyak sayur, tepung tapioka, garam, pemantap (nabati dan
natrium tripolifosfat), pengatur keasaman, mineral (zat besi), pewarna (tartrazin
CI 19140), antioksidan (TBHQ).
Bumbu: Gula, garam, penguat rasa mononatrium glutamat (MSG), bubuk
bawang putih, bubuk bawang bombay, perisa ayam (mengandung penguat rasa
dinatrium inosinat dan guanilat), bubuk lada dan vitamin (A, B1, B6, B12, Niasin,
Asam Folat, Pantotenat).
Minyak: Minyak sayur dan bawang merah.
Kecap Manis: Gula (mengandung sulfit), air, kedelai, gandum, garam, bumbu
dan rempah-rempah, pengawet (natrium benzoat), minyak nabati.
Saus Cabe: Cabe, air, gula, garam, pengental, pengatur keasaman, bumbu,
penguat rasa (mononatrium glutamat, dinatrium inosinat dan guanilat), perisa,
pengawet (natrium benzoat dan natrium metabisulfit).
Bawang Goreng (mengandung antioksidan TBHQ) (Slamet,dkk, 1989 )

2.2.4 MIE SEDAP


Mie Goreng Sedaap adalah bahan makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat
Indonesia. Mie Goreng mengandung energi sebesar 117 kilokalori, protein 1,9 gram,
karbohidrat 15,6 gram, lemak 5,1 gram, kalsium 5,6 miligram, fosfor 0 miligram, dan zat besi
0,44 miligram. Selain itu di dalam Mie Goreng juga terkandung vitamin A sebanyak 34 IU,
vitamin B1 0,04 miligram dan vitamin C 0 miligram. Hasil tersebut didapat dari melakukan
penelitian terhadap 25 gram Mie Goreng dengan jumlah yang dapat dimakan.

.
2.4.5 Milo

Milo adalah sebuah merek minuman dengan rasa cokelat dan malt.
Minuman ini diproduksi oleh Nestl, minuman ini sebenarnya berasal
dariAustralia namun saat ini sudah diproduksi di berbagai negara,
termasuk Singapura, Filipina, Selandia
Baru, India, Vietnam, AfrikaSelatan,Jamaika, Jepang, Cile, Thailand, Malaysia, Ind
onesia, Nigeria, Kenya, Syria, dan Ghana. Nama Milo berasal dari Milo of Croton,
seorang atletYunani yang terkenal.

2.4.6 Anget Sari


Anget Sari adalah salah satu brand produk minuman dari Forisa. Produk minuman ini
berupa serbuk dengan bahan dasar dari jahe. Anget Sari terbuat dari bahan alami yang berkualitas
tinggi. Produk ini juga diproduksi melalui serangkaian proses yang higienis. Cita rasa Anget Sari
sangat enak, juga dapat menghangatkan tenggorokan dan badan. Anget sari sangat sesuai
diminum pada saat kondisi cuaca dingin atau pada saat bersantai. Minuman serbuk ini tersedia
dalam varian rasa yaitu, susu jahe, kopi jahe, teh jahe, wedang jahe, jahe jeruk nipis. Untuk
menyajikannya, tinggal menuang satu sachet Anget Sari ke dalam secangkit air panas. Saat ini
ANGET SARI hadir dalam kategori kopi jahe, susu jahe dan wedang jahe.

2.4.7 Good Day

Good Day Cappucino merupakan satu produk dari PT. Santos Jaya Abadi.
PT. Santos Jaya Abadi adalah perusahaan multinasional yang memproduksi
minuman yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Beralamat di Jalan Taman
Jatibaru Barat no. 1-3 Jakarta Pusat. Perusahaan ini mewarisi tradisi sekental
kopinya. Sebagai usaha keluarga pemilik merk kopi terbesar di Indonesia, akar
perusahaan ini mulai tumbuh dari sebuah industri rumah tangga (Kopi instan &
cappuccino Good Day,kopi gaul paling enak) sederhana di Surabaya. Di
mana lebih dari 79 tahun silam pada tahun 1927, Sang Pelopor Go Soe Loet
memproduksi kopi terkenalnya.

2.3 Prinsip analisa


Prinsip analisa kadar abu dengan cara kering tau dengan di tanur yaitu
jumlah mineral atau abu merupakan sisa pembakaran bahan bahan organik
maupun anorganik bahan pangan dan hasil pertanian pada suhu 500-600 derajat
celcius.Pengabuan cara kering digunakan untuk penentuan total abu, abu larut,
tidak larut air dan tidak larut asam. Waktu pengabuan lama, suhu yang
diperlukan tinggi, serta untuk analisis sampel dalam jumlah banyak. Ada
beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengabuan cara kering,
yaitu mengusahakan suhu pengabuan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi
kehilangan elemen secara mekanis karena penggunaan suhu yang terlalu tinggi
dapat menyebabkan terjadinya penguapan beberapa unsur, seperti K, Na, S, Ca,
Cl, dan P.

2.4 Manfaat menganalisa Kadar Abu


1. Menentukan baik tidaknya suatu pengolahan
Dalam penggilingan gandum, misalnya apabila masih banyak katul atau lembaga
yang terikut maka tepung gandum tersebut akan memiliki kadar abu yang tinggi

2. Mengetahui jenis bahan yang digunakan


Penentuan kadar abu dapat digunakan untuk memperkirakan kandungan buah
yang digunakan dalam marmalade atau jelly. Kandungan abu juga dapat dipakai
untuk menentukan atau membedakan fruit vinegar (asli) atau sintesis

3. Penentuan parameter nilai gizi pada bahan makanan


Adanya kandungan abu yang tidak larut dalam asam yang cukup tinggi
menunjukkan adanya pasir atau kotoran yang lain.
4. untuk mengethuim kandungan mineral yang terkandung dalam suatu
bahan pangan. (Irawati , 2008)
BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Alat dan bahan
Dalam analisa kadar abu dalam bahan pangan alat yang digunaka n yaitu
kurs porselin, eksikator, oven, neraca analitik, spatula, gunting , tanur dan spidol.
Sedangkan bahan yang digunakan sebagai sampel analisis yaitu energen,
cerevira, good day , milo, indomie , mie sedaap, dan gingseng .

3.2 Prosedur analisa


Analisis kadar abu pada bahan panagn diawali dengan menyiapkan kurs
porselin. Kurs tersebut kemudian di oven selama 15 menit menggunakan suhu
50 C. perlakuan ini bertujuan untuk menghilangkan kemungkinan adanya air
dalam pori pori kurs porselin. Selanjutnya kurs dieksikator selama 5 menit untuk
mempertahan RH. Kemudian kurs ditimbang sebagai berat A. kemudian sampel
ditimbang seberat 3 gr dengan 3 kali pengulangan dan dimasukan ke dalam
kurs. Alat dan bahan tersebut kemudiian ditimbang dan didapat berat B. setelah
ditimbang sampel dikeringkan denagn cara ditanur. Pentanuran ini dilakukan 2
tahap. Tahap pertama denagn skala 30-40 dengan tujuan agar senyawa senyawa
volatile dalam bahan tidak hilang, kemudian skala dinaikan denagn skala 60-80
untuk mendapatkan abu yang baik. Pentanuran dilakukan dengan 2 tahap agar
tidak merusak alat yang digunakan . kemudian sampel ditimbang untuk
mendapatkan berat C.

http://selembarharapanku.blogspot.sg/2014/03/analisa-kadar-abu-pada-bahan-
pangan.html
Kadar Abu

Sebagian besar bahan makanan, yaitu sekitar 96% terdiri dari bahan organik dan air. Sisanya

terdiri dari unsur-unsur mineral. (Winarno, 1992)

Abu merupakan residu anorganik yang didapat dengan cara mengabukan komponen-

komponen organik dalam bahan pangan. Jumlah dan komposisi abu dalam mineral

tergantung pada jenis bahan pangan serta metode analisis yang digunakan. Abu dan mineral

dalam bahan pangan umumnya berasal dari bahan pangan itu sendiri (indigenous). Tetapi ada

beberapa mineral yang ditambahkan ke dalam bahan pangan, secara disengaja maupun tidak

disengaja. Abu dalam bahan pangan dibedakan menjadi abu total, abu terlarut dan abu tak

larut. (Puspitasari, et.al, 1991)

Analisis gravimetrik merupakan bagian analisis kuantitatif untuk menentukan jumlah zat

berdasarkan pada penimbangan dari hasil reaksi setelah bahan/analit yang dihasilkan

diperlakukan terhadap pereaksi tertentu. (Widodo, 2010)

Kadar abu suatu bahan ditetapkan pula secara gravimetri. Penentuan kadar abu merupakan

cara pendugaan kandungan mineral bahan pangan secara kasar. Bobot abu yang diperoleh
sebagai perbedaan bobot cawan berisi abu dan cawan kosong. Apabila suatu sampel di dalam
cawan abu porselen dipanaskan pada suhu tinggi sekitar 650C akan menjadi abu berwarna

putih. Ternyata di dalam abu tersebut dijumpai garam-garam atau oksida-oksida dari K, P,

Na, Mg, Ca, Fe, Mn, dan Cu, disamping itu terdapat dalam kadar yang sangat kecil seperti Al,

Ba, Sr, Pb, Li, Ag, Ti, As, dan lain-lain. Besarnya kadar abu dalam daging ikan umumnya

berkisar antara 1 hingga 1,5 %. (Yunizal, et.al, 1998)

Kadar abu/mineral merupakan bagian berat mineral dari bahan yang didasarkan atas berat

keringnya. Abu yaitu zat organik yang tidak menguap, sisa dari proses pembakaran atau hasil

oksidasi. Penentuan kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan.

Mineral yang terdapat dalam pangan terdiri dari 2 jenis garam, yaitu
1. Garam-garam organik, misalnya garam dari as. malat, oxalate, asetat, pektat dan
lain-lain

2. Garam-garam anorganik, misalnya phospat, carbonat, chloride, sulfat nitrat dan


logam alkali. (Anonim, 2011)

Selain kedua garam tersebut, kadang-kadang mineral dapat terbentuk sebagai


senyawa yang kompleks yang bersifat organis. Apabila akan ditentukan jumlah
mineralnya dalam bentuk aslinya adalah sangat sulit.

Menurut Winarno (1991), kadar abu yang yang terukur merupakan bahan-bahan anorganik

yang tidak terbakar dalam proses pengabuan, sedangkan bahan-bahan organik terbakar.

Untuk menentukan kandungan mineral pada bahan makanan, bahan harus

dihancurkan/didestruksi terlebih dahulu. Cara yang biasa dilakukan yaitu pengabuan kering

(dry ashing) atau pengabuan langsung dan pengabuan basah (wet digestion). Pemilihan cara

tersebut tergantung pada sifat zat organik dalam bahan, sifat zat anorganik yang ada di dalam
bahan, mineral yang akan dianalisa serta sensitivitas cara yang digunakan.

(Apriyantono, et.al, 1989).

Prinsip dari pengabuan cara langsung yaitu dengan mengoksidasi semua zat organik pada

suhu tinggi, yaitu sekitar 500 600 oC dan kemudian melakukan penimbangan zat yang

tertinggal setelah proses pembakaran tersebut. (Sudarmadji, 1996)

Pengabuan dilakukan melalui 2 tahap yaitu :

a. Pemanasan pada suhu 300oC yang dilakukan dengan maksud untuk dapat melindungi

kandungan bahan yang bersifat volatil dan bahan berlemak hingga kandungan asam hilang.

Pemanasan dilakukan sampai asap habis.

b. Pemanasan pada suhu 800oC yang dilakukan agar perubahan suhu pada bahan maupun

porselin tidak secara tiba-tiba agar tidak memecahkan krus yang mudah pecah pada

perubahan suhu yang tiba-tiba.

Pengabuan kering dapat diterapkan pada hampir semua analisa mineral, kecuali mercuri dan

arsen. Pengabuan kering dapat dilakukan untuk menganalisa kandungan Ca, P, dan Fe akan

tetapi kehilangan K dapat terjadi apabila suhu yang digunakan terlalu tinggi. Penggunaan

suhu yang terlalu tinggi juga akan menyebabkan beberapa mineral menjadi tidak larut.

Beberapa kelemahan maupun kelebihan yang terdapat pada pengabuan dengan cara lansung.

Beberapa kelebihan dari cara langsung, antara lain :

a. Digunakan untuk penentuan kadar abu total bahan makanan dan bahan hasil pertanian, serta

digunakan untuk sample yang relatif banyak,

b. Digunakan untuk menganalisa abu yang larut dan tidak larut dalam air, serta abu yang tidak

larut dalam asam, dan

c. Tanpa menggunakan regensia sehingga biaya lebih murah dan tidak menimbulkan resiko

akibat penggunaan reagen yang berbahaya.

Sedangkan kelemahan dari cara langsung, antara lain :


a. Membutuhkan waktu yang lebih lama,

b. Tanpa penambahan regensia,

c. Memerlukan suhu yang relatif tinggi, dan

d. Adanya kemungkinan kehilangan air karena pemakaian suhu tinggi (Apriantono, 1989)

Prinsip dari pengabuan cara tidak langsung yaitu memberikan reagen kimia tertentu kedalam

bahan sebelum dilakukan pengabuan. Senyawa yang biasa ditambahkan adalah gliserol

alkohol ataupun pasir bebas anorganik selanjutnya dilakukan pemanasan pada suhu tinggi.

Pemanasan mengakibatkan gliserol alkohol membentuk kerak sehingga menyebabkan

terjadinya porositas bahan menjadi besar dan dapat mempercepat oksidasi. Sedangkan pada

pemanasan untuk pasir bebas dapat membuat permukaan yang bersinggungan dengan oksigen

semakin luas dan memperbesar porositas, sehingga mempercepat proses pengabuan.

(Sudarmadji, 1996)

Beberapa kelebihan dan kelemahan yang terdapat pada pengabuan cara tidak langsung.

Kelebihan dari cara tidak langsung, meliputi :

a. Waktu yang diperlukan relatif singkat,

b. Suhu yang digunakan relatif rendah,

c. Resiko kehilangan air akibat suhu yang digunakan relatif rendah,

d. Dengan penambahan gliserol alkohol dapat mempercepat pengabuan, dan

e. Penetuan kadar abu lebih baik.

Sedangkan kelemahan yang terdapat pada cara tidak langsung, meliputi :

a. Hanya dapat digunakan untuk trace elemen dan logam beracun,

b. Memerlukan regensia yang kadangkala berbahaya, dan

c. Memerlukan koreksi terhadap regensia yang digunakan. (Apriantono, 1989)

Penentuan kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan, yaitu:
1. Menentukan baik tidaknya suatu pengolahan
Dalam penggilingan gandum, misalnya apabila masih banyak katul atau lembaga
yang terikut maka tepung gandum tersebut akan memiliki kadar abu yang tinggi.

2. Mengetahui jenis bahan yang digunakan


Penentuan kadar abu dapat digunakan untuk memperkirakan kandungan buah yang
digunakan dalam marmalade atau jelly. Kandungan abu juga dapat dipakai untuk
menentukan atau membedakan fruit vinegar (asli) atau sintesis.

3. Penentuan parameter nilai gizi pada bahan makanan

Rumusan dari penentuan kadar abu sebagai berikut:

Keterangan:

A adalah berat cawan kosong dinyatakan dalam g

B adalah berat cawan + contoh awal, dinyatakan dalam g

C adalah berat cawan + abu, dinyatakan dalam g.

http://chittaputri.blogspot.sg/2012/05/kadar-abu.html