Anda di halaman 1dari 6

BAB III

TATA LAKSANA

Tata laksana Pelayanan Instalasi Bedah Sentral , meliputi :


A. Penjadwalan Operasi
Penjadwalan pasien yang akan di operasi di kamar bedah agar dapat dilaksanakan
sesuai jadwal yang telah ditentukan. Prosedur penjadwalan dapat dilihat di SPO IBS.
B. Penerimaan Dan Penyerahan Pasien
Menerima pasien yang akan dilakukan tindakan operasi yang diantar petugas, baik
rawat inap, IGD, poliklinik. Agar tidak terjadi kesalahan pasien dan kesalahan
diagnosa / tindakan, maka perawat pre operasi memeriksa kelengkapan pasien :
1. Nama pasien, tanggal lahir ( berdasarkan e-KTP ).
2. Daerah operasi yang akan dilakukan tindakan operasi telah ditandai
3. Riwayat penyakit ( ashma, alergi obat, dan riwayat penggunaan obat steroid
dalam tiga bulan terakhir).
4. Terpasang gigi palsu atau tidak, bila ya, petugas anesthesi membantu untuk
melepaskannya
5. Menanggalkan semua perhiasan pasien dan menyerahkannya ke keluarga pasien.
6. Pastikan kuku dan bibir pasien bebas dari zat pewarna ( cutek dan lipstick ) bila
masih ada, petugas anesthesi membantu membersihkannya.
7. Dokumen pasien : ( Informed consend, hasil pemeriksaan Laboratorium, hasil
pemeriksaan Radiologi jika ada, hasil pemeriksaan fisik terakhir ).
C. Manajemen intra operatif
1. Monitor pasien
Monitor status fisiologis pasien selama pembedahan di kamar operasi:
a. Tujuan
Mengupayakan fungsi vital pasien dalam batas-batas normal selama menjalani
pembedahan dan menjaga pasien tidak merasa nyeri dan cemas di kamar operasi.
b. Kegiatan
1) Monitor status fisiologis pasien selama pembedahan di kamar operasi
dilakukan oleh dokter spesialis anastesi.
2) Keamanan status fisiologis pasien selama pembedahan memerlukan
pemantauan yang terus menerus atau berkala yang dicatat dengan baik pada
rekam medis.
3) Prosedur pembedahan dapat diubah jika kondisi pasien mengarah pada
keadaan yang membahayakan jiwa.
4) Sarana obat darurat harus digunakan secara maksimal.

c. Aspek keperawatan
1) Mencatat semua tindakan anestesi dan pembedahan.
2) Berespon dan mendokumentasikan semua perubahan fungsi vital tubuh pasien
selama pembedahan. Pemantauan meliputi system pernafasan, sirkulasi, suhu,
keseimbangan cairan, perdarahan dan produksi urin.
3) Melaporkan kepada dokter yang melakukan pembedahan tentang perubahan
fungsi vital tubuh pasien dan tindakan yang diberikan selama pembedahan.
4) Mengatur dosis obat anastesi atau obat darurat atas pelimpahan wewenang
dokter.
5) Menanggulangi keadaan gawat darurat.
2. Monitor status fisiologis pasien selama pembedahan di rawat jalan.
a. Tujuan
Mengupayakan fungsi vital pasien dalam batas-batas normal selama menjalani
pembedahan dan menjaga agar pasien tidak merasa nyeri dan cemas di rawat
jalan.
b. Syarat pembedahan di rawat jalan
1) Status fisik ASA 1 atau 2
2) Usia
3) > 1 tahun dan < 60 tahun
4) Pasien kooperatif, ada yang mengantar
5) Lama pembedahan < 2 jam
6) Contoh: kuretase, polip, kista bartolini, ekstraksi gigi, odontektomi,
alveolektomi.
c. Kegiatan
1) Monitoring status fisiologis pasien selama pembedahan dirawat jalan
dilakukan oleh dokter yang melakukan pembedahan.
2) Karena pasien akan tetap sadar selam pembedahan maka perlu di beri
penjelasan yang teliti agar tidak takut atau gelisah. Jika pasien terpaksa harus
diberi sedative maka satu keuntngan teknik regional berkurang (risiko depresi
napas, depresi sirkulasi dan aspirasi muncul kembali)
3) Keamanan status fisiologis pasien selama pembedahan memerlukan
pemantauan yang terus menerus atau berkala yang dicatat dengan baik pada
rekam medis.
4) Prosedur pembedahan dapat diubah jika kondisi pasien mengarah pada
keadaan yang membahayakan jiwa.
5) Sarana obat darurat harus digunakan secara maksimal.
6) Semua perubahan fungsi vital tubuh pasien selama pembedahan, pemantauan
meliputi system pernapasan, sirkulasi, suhu, keseimbangan cairan, perdarahan,
produksi urine dan lain-lain terdokumentasikan dengan baik dalam rekam
medis.
7) Menanggulangi keadaan gawat darurat.
3. Monitoring anastesi dan sedasi
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh tim bedah:
1) Mengkomunikasikan risiko sebelum memulai prosedur
2) Memastikan kompetensi yang meliputi : memasukkan obat sesuai level anastesi
yang diminta, memonitor pasien untuk mempertahankan level anestesinya,
memberhentikan anestesi dan menyelamatkan pasien jika mereka masuk terlalu
dalam
3) Menyiapkan obat-obatan emergensi dan antidotum
4) Mempersiapkan efek-efek samping obat (medication error)
5) Memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, frekuensi denyut jantung dan ritme,
frekuensi pernapasan, saturasi oksigen, akses intarvena yang adekuat, nyeri).
6) Mempertimbangkan pemanfaatan teknologi untuk teknik anestesi
7) Menggunakan mnemonic:
a. Circulation, capnograph, color (saturasi)
b. Oksigen
c. Ventilasi dan Vaporasi
d. Endotracheal tube
e. Review monitor dan peralatan
f. Air way
g. Breathing
h. Circulation
i. Drugs
j. A wareness
k. Swift check (pasien, dokter bedah, proses dan respon)
8) Awareness anestesi : kasus-kasus dimana pasien bangun di tengah-tengah anestesi
(intra operatif)
a. Mengidentifikasi pasien-pasien berisiko
b. Perawatan peralatan
c. Monitoring pasien
4. Memasukkan obat
Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengurangi risio:
1) Mengidentifikasi pasien dan mengkonfirmasi alergi obat yang dimiliki
2) Menverifikasi obat sebelum pemberian obat
3) Menggunakan perintah verbal terstruktur
4) Mengidentifikasi penggunaan obat-obatan high-alert:
a. Menstandarisasi preparasi obat-obatan yang dilarutkan agar siap digunakan
b. Menghindari pelarutan obat dilapangan operasi, pelarutan obat-obatan sebissa
mungkin digunakan oleh apoteker terdaftar
c. Menggunakan hanya larutan premixed
d. Klinis diruang operasi harus mengkomunikasikan semua dosis obat yang akan
dimasukkan dan mengklarifikasi dosis maksimal dengan dokter anestesi dan
dokter bedah
e. Mengedukasi perawat dan anggota lain yang bekerja diruang operasi tentang
penanganan dan pemberian obat-obat high alert
f. Mengkaji dan memvalidasi kompetensi klinis tentang penggunaan dan
pemberian obat-obat high alert
Hal-hal lain yang perlu dimonitor secara ketat selama operasi:
a. Kadar glukosa
b. Suhu tubuh
c. Penggunaan darah
5. Menghindari masalah dalam ruang operasi
Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menghindari masalah dalam ruang operasi:
a. Meminimalkan distraction dan interupsi
b. Mencegah trauma benda tajam:
1) Keselamatan alat (scalpel yang terlindungi, jarum berujung tumpul, dll)
2) Keselamatan teknik
D. Kerjasama antar Disiplin
a. Pre Operasi
a. Persiapan Operasi, Pasien diperiksa di IRJ, IGD, atau ranap oleh SMF dan
konsultasi ke SMF yang diperlukan. Setelah memenuhi standar pelayanan
anestesi, pasien dikonsulkan ke SMF Anestesi
b. Evaluasi Pra bedah, Dokter operator harus melakukan evaluasi pra bedah
untuk menentukan kemungkinan pemeriksaan tambahan dan konsultasi SMF
lain untuk membuat suatu asesmen pra bedah. Semua informasi yang diberikan
pada pasien, mengenai kondisi pasien, rencana tindakan, alternatif
tindakan,tingkat keberhasilan, kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan
rencana pengelolaan pasca bedah harus didokumentasi lengkap dan disertakan
dalam rekam medis pasien dan ditandatangani oleh dokter bedah yang
bersangkutan.
c. Pendaftaran operasi, Poliklinik mendaftar ke IBS dan IBS menentukan
jadwal operasi serta mempersiapkan instrumen, alat-alat, obat dan alkes yang
diperlukan. Unsur yang terkait disini adalah bagian instrumen, linen, depo
farmasi, anestesi, teknisi, kebersihan, CSSD. Jadwal rencana operasi
didistribusikan ke Perawat Kontrol, INSTALASI RAWAT INAP terkait,
Instalasi Anestesi-Reanimasi, SMF terkait (dokter operator ybs.), SMF
Patologi Anatomi
b. Durante Operasi
a. Premedikasi dilakukan oleh SMF Anestesi .
b. Bila timbul penyulit selama operasi dokter operator minta konsul kepada
dokter dari SMF yang diminta melalui perawat sirkuler (onloop) dan
diteruskan kepada PJ Pelayanan.
c. PJ Pelayanan menghubungi dokter konsulen yang bertugas di IBS saat itu dan
dokter ybs menjawab konsultasi tersebut. Bila Dokter yang ada di IBS tidak
dapat menangani konsul tersebut, konsul diteruskan ke Ka SMFnya. Ka SMF
bertanggung jawab untuk menjawab konsul.
d. Bila harus dilakukan operasi bersama maka tanggungjawab utama terhadap
pasien tetap berada pada operator pertama.
e. Prosedur umum durante operasi
Melakukan Aseptik dan antiseptik pada area operasi.
Tutup area non steril dengan linen operasi steril.
Membantu pelaksanaan operasi, sebagai scrub nurse dan Sirkuler
Menutup luka operasi
c. Post Operasi
a. Pasien diantar ke ruang pulih oleh penata anestesi dan perawat sirkuler dan
diobservasi di Ruang pulih dibawah tanggung jawab SMF Anestesi
b. Memonitoring keadaan pasien yang telah dilakukan tindakan operasi dengan
mengukur tanda tanda vital dan mencatat pada lembar pengawasan, apabila
kondisi pasien menurun menunjukan ke arah yang lebih buruk atau tidak stabil
maka dilakukan re operasi atau dilakukan pengawasan di HCU.
c. Pasien dipindahkan ke Instalasi rawat inap sesudah mendapat persetujuan SMF
Anestesi dan diserah terimakan kepada perawat Instalasi rawat inap yang
menjemput pasien.
d. Bila perlu di rawat di HCU, pasien diantar langsung dari OK ke HCU oleh
SMF Anestesi dan perawat sirkuler.