Anda di halaman 1dari 16

Akuntansi Keuangan Lanjutan

3.1. Disosiasi,Pembubaran,Terminasi dan

Likuidasi Sebuah Persekutuan

KUHPer, Bagian 4, Bab VIII, Pasal 1646-1652, membahas secara khusus mengenai
terminasi (berakhirnya) dan pembubaran persekutuan (dissolution). Pada umumnya
likuidasi persekutuan menyangkut hal-hal :

Mengkonversi aktiva nonkas menkadi kas

Mengakui keuntungan dan kerugian dan biaya likuiditas yang timbul selama masa
likuidasi

Menyelesaikan seluruh kewajiban

Mendistribusikan kas kepada sekutu berdasarkan saldo akhir modal mereka

Disosiasi, Pembubaran, Terminasi, Dan Likuidasi Sebuah Perusahaan

Pengunduran diri atau disosiasi adalah konsep hukum untuk pengunduran diri sekutu
karena : (a) sekutu meninggal, (b) sekutu secara suka rela mengundurkan diri (pensiun),
atau (c) keputusan pengadilan. Namun, tidak seluruh disosiasi menimbulkan pembubaran
persekutuan. Banyak disosiasi yang hanya melibatkan pembelian sekutu yang
mengundurkan diri.

Pembubaran (dissolution) merupakan pengakhiran persekutuan. Kejadian-kejadian yang


dapat menyebabkan pembubaran dan terminasi bisnis persekutuan adalah :
1. Sewaktu-waktu, seorang sekutu mengeluarkan pemberitahuan pengunduran diri
dari persekutuan.
2. Pada persekutuan yang didirikan dengan batas waktu dan tujuan tertentu,
pembubaran dapat terjadi karena : (a) seorang sekutu meninggal atau
mengundurkan diri, (b) ketika seluruh sekutu setuju untuk menghentikan
persekutuan, atau (c) ketika batas waktu atau tujuan yang dimaksud telah
terpenuhi atau selesai.
3. Adanya keputusan pengadilan.

Terminasi dan likuidasi persekutuan dimulai setelah pembubaran persekutuan. Proses


terminasi mencakup transaksi-transksi yang diperlukan untuk melikuidasi persekutuan,
seperti penagihan piutang, termasuk piutang sekutu, konversi aset nnon kas menjadi kas,

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 1


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-
pembayaran kewajiban persekutuan, dan distribusi saldo bersih yang tersisa kepada para
sekutu dalam bentuk kas sesuai proporsi kepemilikan modal.

Aturan dalam mendistribusikan aktiva dalam likuidasi persekutuan dibuat bertingkat


sesuai prioritas :

1. Jumlah yang dipinjam dari kreditur yang bukan sekutu


2. Jumlah yang dipinjam dari sekutu selain untuk modal dan laba
3. Jumlah yang harus diberikan kepada sekutu sesuai kepemilikannya

Seluruh saldo laba atau rugi dan prive harus ditutup ke perkiraan modal sebelum
distribusi dilakukan.

LIKUIDASI PERSEKUTUAN SEDERHANA

Likuidasi persekutuan yang sederhana mengkonversi seluruh aktiva sekutu menjadi kas
dan mendistribusikan kas kepada sekutu pada penyelesaian akhir persekutuan. Jumlah
kas yang didistribusikan kepada sekutu sam dengan saldo modal masing-masing setelah
seluruh kerugian yang terjadi dari likuidasi diakui. Keuntungan dan kerugian atas
likuidasi merupakan penyesuaian atas laba sebelumnya yang akan dibagikan dengan rasio
pembagian laba sisa, jika telah diakui sebelum disolusi.

Aturan pembayaran :

1. Untuk kreditur atas hutang dagang xxx


2. Untuk sekutu X atas pinjaman xxx
3. Untuk sekutu X atas modal xxx
Untuk sekutu Y atas modal xxx
Total yang didistribusikan xxx

Dalam melikuidasi persekutuan yang likuid, sumber dana yang tersedia dipakai untuk
membayar kreditur dan sisanya dibagikan untuk sekutu. Tetapi proses likuidasi bisa saja
menghasilkan kerugian yang menyebabkan perkiraan modal sekutu menjadi bersaldo
kredit.

Ayat jurnal untuk mencatat likuidasi :


Mencatat penjualan persediaan
Kas xxx
Persediaan xxx

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 2


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-
Mencatat penjualan aktiva tetap
Kas xxx
Aktiva tetap neto xxx
Mencatat penagihan piutang dagang
Kas xxx
Piutang dagang neto xxx
Mencatat pembayaran hutang di luar sekutu
Hutang dagang xxx
Kas xxx
Mencatat pembayaran pinjaman kepada A (misal)
Pinjaman dari A xxx
Kas xxx

Mencatat pendistribusian kas hasil likuidasi persekutuan


Modal X xxx
Modal Y xxx
Kas xxx

3.2 Likuidasi Sekaligus


Likuidasi persekutuan secara sekaligus (lump-sum liquidation) merupakan suatu
proses likuidasi di mana seluruh aktiva dikonversikan menjadi kas dalam waktu yang
sangat pendek,kreditor eksternal dibayar, dan pembayaran tunggal secara gabungan
dilakukan kepada para sekutu atas bagian modal yang disetorkan.
REALISASI AKTIVA
Pada umumnya,sebuah persekutuan mengalami kerugian ketika menjualnya assetnya.
Piutang usaha umumnya ditagihkan oleh persekutuan. Kadang kala persekutuan
menawarkan potongan tunai dalam jumlah besar untuk pembayaran piutang yang tepat
waktu yang penagihannya dapat menunda proses terminasi persekutuan. Alternatif lain
adalah piutang usaha tersebut dijual kepada perusahaan anjak piutang (factor), yaitu
perusahaan yang mengkhususkan diri dalam pembelian piutang usaha dengan segera
membayar uang tunai kepada pihak penjual piutang.
Secara umum, pihak anjak piutang hanya membeli piutang usaha perusahaan yang
palingbaik dengan harga dibawah nilai tercatat, namun beberapa anjak piutang masih
berminat untuk membeli seluruh piutang dan membayar dengan harga yang jauh dibawah
harga nilai tercatatnya.
Sebelum dilakukan distribusi asset kepada para sekutu ,baik kewajiban atau kreditor
eksternal harus dibayar secara penuh atau dana yang diperlukan untuk itu ditempatkan

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 3


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-
dalam sebuah akun penampungan. Pihak penampungan biasanya adalah bank,
menggunakan dana tersebut hanya untuk pembayaran kewajiban persekutuan.
BEBAN LIKUIDASI
Proses likuidasi biasa yang dimulai dengan menjadwalkan asset dan laibilitas persekutuan
yang diketahui,nama dana alamat kreditor dan jumlah terutang dari masing-masing pihak
harus dicatat. Kreditor yang belum terjadwal akan diketahui selama proses likuidasi.
Proses likuidasi melibatkan beban dan biaya hukum dan akuntansi tambahan. Beban
perusahaan menanggungbiaya pengehentian usaha, seperti biaya iklan khusus dan biaya
mencari agen dialokasikan terhadap akun modal para sekutu dalam rasio distribusi laba
dan rugi.

3.3. Likuidasi Bertahap


Pengertian :

Terjadi karena proses penjualan tidak sekaligus/bertahap, sehingga pembayaran


kepada anggota juga bertahap sesuai uang kas yang tersedia. Tentunya
pembayaran ke kreditur sudah dilakukan terlebih dahulu.
Prinsip-prinsip Umum dalam Likuidasi Bertahap :
Likuidasi persekutuan yang likuid dilakukan dengan mendistribusikan kas yang
tersedia dengan cara yang biasa sampai seluruh aktiva nonkas dikonversi menjadi
kas. Kewajiban selain kepada sekutu harus dibayar sebelum pendistribusian
apapun kepada sekutu. Saat kas tersedia untuk didistribusikan kepada sekutu,
jumlah yang didistribusikan kepada masing-masing sekutu bisa ditentukan dengan
menyiapkan skedul pembayaran yang aman untuk tiap distribusi yang dilakukan.

Ada dua metode untuk menentukan besarnya tiap pembayaran kembali hak penyertaan
anggota :

1. Pembayaran kambali hak penyertaan ditentukan secara periodik.


Disini harus dihindari terjadinya pembayaran dalam jumlah yang berlebihan
kepada anggota-anggota tertentu dengan mengorbankan hak-hak anggota lain.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 4


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-

Caranya dengan mengusahakan agar hak-hak penyertaan para anggota


menunjukan posisi sebanding dengan perbandingan laba(rugi) saat proses
likuidasi berlangsung.

Contoh:

ABD adalah anggota-anggota persekutuan yang membagi R/L 3 : 2 : 5.

Neraca per 31 Desember 1998 yang disusun sesaat sebelum likuidasi adalah sbb :

Persekutuan ABD
Neraca
Per 31 Desember 1998
(dalam ribuan rupiah)
Kas Rp. 1.000 Hutang Dagang Rp. 2.500
Aktiva non kas Rp. 12.000 Hutang kepada A Rp. 1.000
Modal A Rp. 2.000
Modal B Rp. 3.000
Modal D Rp. 4.500
Total aktiva Rp. 13.000 Total Hutang & Modal Rp.13.000

Apabila proses likuidasi berlangsung sejak tanggal 1 Januari 1999 adalah sbb :

Bulan Nilai buku aktiva yang dijual Harga Jual


Januari Rp. 5.000.000,- Rp. 3.000.000,-
Februari Rp. 4.000.000,- Rp. 2.000.000,-
Maret Rp. 3.000.000,- Rp. 1.000.000,-

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 5


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-
Maka laporan likuidasi menjadi : (dalam ribuan rupiah)

3 : 2 : 5
Keterangan Kas Aktiva Hutang Hutang Modal
non kas Dagan kepada A A B D

g
Saldo sebelum likuidasi 1.000 12.000 2.500 1.000 2.000 3.000 4.500
Jan : Realisasi aktiva non kas 3.000 (5.000) (600) (400) (1.000)
4.000 7.000 2.500 1.000 1.400 2.600 3.500
Byr. Hutang kpd kreditur (2.500) (2.500)
1.500 7.000 - 1.000 1.400 2.600 3.500
Distribusi kas (Skedul 1) (1.500) (300) (1.200

)
7.000 - 700 1.400 1.400 3.500
Feb : Realisasi aktiva non kas 2.000 (4.000) (600) (400) (1.000)
2.000 3.000 - 700 800 1.000 2.500
Distribusi kas (Skedul (2.000) (600) (400) (1.000)

2)
- 3.000 - 100 800 600 1.500
Mar : Realisasi aktiva non kas 1.000 (3.000) (600) (400) (1.000)
1.000 100 200 200 500
Distribusi Kas (1.000) (100) (200) (200) (500)

Skedul 1 (Skedul Pembayaran Kas) ( dalam ribuan rupiah)

3 2 5
Keterangan A B C
Saldo modal sebelum Distribusi Kas 1.400 2.600 3.500
Hutang kepada anggota 1.000
Hak para anggota 2.400 2.600 3.500
Pembebanan kemungkinan rugi krn Akt. Non Kas tak

terealisasi (2.100) (1.400) (3.500)


Distribusi Kas 300 1.200 -
Pengembalian hutang kepada anggota 300 -
Pengembalian modal - 1.200 -
Total kas yang diterima sekutu 300 1.200 -

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 6


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-
Skedul 2 (Skedul Pembayaran Kas) (dalam ribuan rupiah)

3 2 5
Keterangan A B C
Saldo modal sebelum Distribusi Kas 800 1.000 2.500
Hutang kepada anggota 700
Hak para anggota 1.500 1.000 2.500
Pembebanan kemungkinan rugi krn aktiva non kas tak

terealisasi (900) (600) (1.500)


Distribusi Kas 600 400 1.000
Pengembalian hutang kepada anggota 600 - -
Pengembalian modal - 400 1.000
Total kas yang diterima sekutu 600 400 1.000

Apabila konposisi hak para anggota menunjukkan perbandingan yang sama dengan rasio

pembagian R/L maka boleh tidak menyusun skedul pendukung. Jadi bagian tiap anggota

sesuai dengan rasio R/L nya dikali kas yang tersedia.

Berdasarkan soal diatas dapat dibuat jurnal sebagai berikut:

a) Mencatat realisasi aktiva non kas menjadi kas pada bulan Januari 1999

Kas 3.000.000

Modal A 600.000

Modal B 400.000

Modal D 1.000.000

Aktiva non kas 5.000.000

b) Mencatat pembayaran hutang kepada kreditur

Hutang Dagang 2.500.000

Kas 2.500.000

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 7


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-

c) Mencatat pembayaran kembali hak penyertaan anggota tahap I (DK).

Hutang kepada A 300.000

Modal B 1.200.000

Kas 1.500.000

d) Mencatat realisasi aktiva non kas pada bulan Februari 1999.

Kas 2.000.000

Modal A 600.000

Modal B 400.000

Modal D 1.000.000

Aktiva non kas 4.000.000

e) Mencatat distribusi kas (DK)

Hutang kepada A 600.000

Modal B 400.000

Modal D 1.000.000

Kas 2.000.000

f) Mencatat realisasi aktiva non kas pada bulan Maret 1999.

Kas 1.000.000

Modal A 600.000

Modal B 400.000

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 8


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-
Modal D 1.000.000

Aktiva non kas 3.000.000

g) Mencatat Distribusi Kas

Hutang kepada A 100.000

Modal A 200.000

Modal B 200.000

Modal D 500.000

Kas 1.000.000

2. Penyusunan rencana prioritas pembayaran sebelum proses likuidasi berlangsung.

Tahap-tahapnya :

(1) Menentukan jumlah kerugian maximum yang dapat ditanggung oleh masing-

masing anggota, dengan cara membagi total hak sekutu dengan rasio R/L sekutu yang

bersangkutan.

(2) Menentukan hak prioritas pembayaran, yaitu sebesar persentase pembagian R/L

dikalikan dengan selisih lebih kemampuan menanggung kerugian.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 9


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-
(3) Atas dasar point 2 diatas, bila tersedia kas setelah semua hutang kepada kreditur

telah lunas, maka kas akan dibagikan / didistribusikan kepada anggota dengan

menyusun skedul pembayaran kas (SPK).

Berdasarkan contoh ad 1 maka penyusunan rencana prioritas sampai dengan laporan

likuidasi adalah sbb :

Persekutuan ABD
Rencana Prioritas Pembayaran Kas
(dalam ribuan rupiah)

Ker. max yg dpt

Keterangan ditanggung Pembayaran Kepada


. . . Jumla

A B D A . B . D . h
Saldo modal sebelum likuidasi 2.000 3.000 4.500
Saldo hutang kpd anggota

(loan) 1.000 - -
Hak para anggota 3.000 3.000 4.500
Rasio pembagian R/L 30% 20% 50%
Kerugian max yg dpt

ditanggung 10.000 15.000 9.000


Prioritas I : kepada B (5.000) - 1.000 1.000
10.000 10.000 9.000
Prioritas II : kepada A dan B (1.000) (1.000) 300 200 500
9.000 9.000 9.000
Prioritas III : kepada ABD
sesuai rasio

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 10


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-
pembagian
Rugi/Laba

Jadi hanya sampai prioritas III.

(krn saldo utk menaggung keru-


gian max para anggota sama).

Persekutuan ABD
Daftar Likuidasi
(dalam ribuan rupiah)
2 :3 5:
Keterangan Kas Aktiva Hutang Hutang Modal
Non kas Dagang kepada A A B D
Saldo sebelum likuidasi 1.000 12.000 2.500 1.000 2.000 3.000 4.500
Tahap I (bulan Januari)
a) Reslisasi aktiva non kas 3.000 (5.000) (600) (400) (1.000)
4.000 7.000 2.500 1.000 1.400 2.600 3.500
b) Pembyran hutang kpd kreditur (2.500) (2.500)
1.500 7.000 - 1.000 1.400 2.600 3.500
c) DK (Skedul 1) (1.500) (300) (1.200)
- 7.000 - 700 1.400 1.400 3.500
Tahap II (bulan Februari)
d) Reslisasi aktiva non kas 2.000 (4.000) (600) (400) (1.000)
2.000 3.000 - 700 800 1.000 2.500
e) DK (Skedul 2) (2.000) (600) (400) (1.000)
- 3.000 - 100 800 600 1.500
Tahap III (bulan Maret)
f) Realisasi aktiva non kas 1.000 (3.000) (600) (400) (1.000)
1.000 - - 100 200 200 500
g) DK (Skedul 3) (1.000) (100) (200) (200) (500)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 11


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-
Persekutuan ABD
Skedul Pembayaran Kas
(dalam ribuan rupiah)

Keterangan : 2 : 5
A B C
Tahap I (bulan Januari)
Tersedia Kas 1.500
Prioritas I sampai dengan jumlah Rp. 1.000,- kpd B (1.000) 1000
Prioritas II sampai dengan jumlah Rp. 500,- kpd A & B (500) 300 200
Distribusi Kas (Skedul 1) 300 1.200

Tahap II (bulan Februari)


Tersedia Kas 2.000
Prioritas III : dibagi sesuai rasio R/L (2.000) 600 400 1.000
Distribusi Kas (Skedul 2) 600 400 1.000

Tahap III (bulan Maret)


Tersedia Kas 1.000
Prioritas III : dibagi sesuai rasio R/L (1.000) 300 200 500
Distribusi Kas (Skedul 3) 300 200 500

Jurnal :

a) Kas 3.000.000

Modal A 600.000

Modal B 400.000

Modal D 1.000.000

Aktiva non kas 5.000.000

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 12


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-
b) Hutang Dagang 2.500.000

Kas 2.500.000

c) Hutang kepada A 300.000

Modal B 1.200.000

Kas 1.500.000

d) Kas 2.000.000

Modal A 600.000

Modal B 400.000

Modal D 1.000.000

Aktiva non kas 4.000.000

e) Hutang kepada A 600.000

Modal B 400.000

Modal D 1.000.000

Kas 2.000.000

f) Kas 1.000.000

Modal A 600.000

Modal B 400.000

Modal D 1.000.000

Aktiva non kas 3.000.000

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 13


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-

g) Hutang kepada A 100.000

Modal A 200.000

Modal B 200.000

Modal D 500.000

Kas 1.000.000

3.4. Rencana Distribusi Kas


Skedul pembayaran aman merupakan metode efektif untuk menghitung jumlah
pembayaran aman kepada sekutu dan mencegah pembayaran yang berlebihan kepada
sekutu.Tetapi pendekatannya tidak efisien jika distribusi bertahap dilakukan berkali-kali
dan skedul pembayaran aman juga tidak cukup baik sebagai alat perencanaan.
Kekurangan dari pendekatan skedul pembayaran aman ini bias diatasi dengan
menggunakan rencana distribusi kas pada awal proses likuidasi.
Pembentukan rencana distribusi kas (juga disebut sebagai rencana sebelum distribusi
kas) untuklikuidasi persekutuan berhubungan dengan urutan sekutu berdasarkan
kerentanannya terhadap kerugian, pengguna urutan yang paling mudah mengalami
kerugian untuk membuat skedul asumsi kerugian yang bias ditanggung, dan pembuatan
rencana distribusi kas dari skedul kerugian yang dapat ditanggung.

3.5. Pengubahan Persekutuan Menjadi Perseroan


Perbedaan prinsipil antara Perseroan Komanditer atau dikenal dengan sebutan CV
(Commanditaire vennootschap) dengan Perseroan Terbatas (PT) terdapat pada status
badan hukumnya, karena CV merupakan persekutuan yang tidak berbadan hukum dan

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 14


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-
tanggungjawab dari para sekutu pengurus hanya sampai kepada harta pribadinya.
Sedangkan Perseroan Terbatas (PT) merupakan perseoran berbadan hukum dan
tanggungjawabnya terbatas.Perubahan CV menjadi Perseroan Terbatas (PT) dilakukan
melaluinotaris tanpa harus membubarkan CV terlebih dahulu. Perubahan CV
menjadi Perseroan Terbatas (PT) berarti akan mengubah status perusahaan yang awalnya
tidak berbadan hukum menjadi badan hukum. Untuk itu terdapat hal-hal yang perlu
diperhatikan dan disesuaikan agar dapat memperoleh status badan hukum sebagaimana
yang diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
(UUPT).
Adapun hal-hal yang perlu disesuaikan berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas adalah sebagai berikut :

1. Menyelesaikan terlebih dahulu perikatan yang telah terjadi antara para pengurus
CV dengan pihak ketiga.

2. Menyesuaikan Anggaran Dasar CV. Hal ini dilakukan karena pada Anggaran
Dasar CV tidak ada ketentuan mengenai Modal Dasar, Modal Ditempatkan, dan
Modal Disetor. Sedangkan untuk menjadi Perseroan Terbatas harus memenuhi
ketentuan mengenai Modal Dasar Perseroan Terbatas, yakni minimal Rp.
50.000.000 (Berdasarkan Pasal 32 ayat (1) UUPT), dan 25% dari modal dasar
harus ditempatkan dan disetor penuh (Berdasarkan Pasal 33 ayat (1) UUPT).
Dengan demikian, Anggaran Dasar CV harus disesuaikan dengan ketentuan
tersebut.

3. Membuat Akta pendirian (akta notaris) yang memuat Anggaran Dasar dan
keterangan lain berkaitan dengan pendirian Perseroan Terbatas (Berdasarkan
Pasal 7 ayat (1) jo. Pasal 8 ayat (1) UUPT).

4. Para pendiri bersama-sama mengajukan permohonan pengesahan badan hukum


melalui jasa teknologi informasi sistem administrasi badan hukum secara
elektronik kepada Menteri Hukum dan HAM (Berdasarkan Pasal 1 angka 16 jo.
Pasal 9 ayat (1) UUPT.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 15


Akuntansi Keuangan Lanjutan
-
5. Setelah dilakukan pengesahan, Menteri akan melakukan pendaftaran Perseroan
Terbatas (Berdasarkan Pasal 29 ayat (1) UUPT).

6. Pengumuman di Tambahan Berita Negara RI oleh Menteri (Berdasarkan Pasal 30


ayat (1) UUPT).

Dan perubahan itu dapat dilakukan melalui cara berikut ini :

1. Seluruh sekutu harus setuju akan keinginan itu dan melakukan rapat dengan atau
tanpa kehadiran notaris yang kemudian akan menghasilkan putusan perubahan itu
dalam bentuk berita acara.

2. Seluruh aset bergerak maupun tidak bergerak Perseroan Komanditer (CV) harus
di taksasi (penilaian dalam jumlah rupiah) sebaiknya dilakukan oleh independen
auditor.

3. Dari total aset lalu ditentukan berapa besar bagian masing-masing dan apakah
seluruhnya atau sebagian akan di inbreng (dimasukkan) ke dalam Perseroan
Terbatas sebagai modal yang akan disetor oleh masing-masing pendiri Perseroan
Terbatas (PT).

4. Datang ke Notaris untuk membuat Akta Pendirian Perseroan Terbatas (PT)


dengan sudah menentukan nama, kedudukan, maksud dan tujuan, pemegang
saham, susunan pengurus dan modal Perseroan Terbatas (PT).

5. Setelah proses pendirian Perseroan Terbatas (PT) tentu saja harus mengubah
seluruh administrasi dan keuangan yang ada karena telah beralih status dari badan
usaha menjadi badan hukum

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 16