Anda di halaman 1dari 10

KONSEP DESENTRALISASI FISKAL

OLEH :
KELOMPOK 13
Larasani Hillary
Mellya Dewi Fajar 1410531013

FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016
A. PENGERTIAN DAN TUJUAN DARI DESENTRALISASI FISKAL
1. Pengertian
Desentralisasi fiskal dapat didefinisikan sebagai devolusi (penyerahan)
tanggungjawab fiskal dari pemerintah pusat kepada tingkatan pemerintahan yang ada
dibawahnya. Desentralisasi fiskal juga dapat diartikan sebagai penyerahan urusan fiskal ke
bawah, dimana jenjang pemerintahan yang lebih tinggi menyerahkan sebagian
kewenangannya mengenai anggaran dan keputusan-keputusan finansial kepada jenjang
yang lebih rendah.
Desentralisasi fiskal merupakan komponen utama dari desentralisasi. Apabila
Pemerintah Daerah melaksanakan fungsinya secara efektif dan mendapat kebebasan dalam
pengambilan keputusan pengeluaran di sektor publik, maka mereka harus mendapat
dukungan sumber-sumber keuangan yang memadai baik yang berasal dari Pendapatan Asli
Daerah (PAD), Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak, Pinjaman, maupun Subsidi / Bantuan
dari Pemerintah Pusat. Pelaksanaan desentralisasi fiskal akan berjalan dengan baik kalau
didukung faktor-faktor berikut:
Pemerintah Pusat yang mampu melakukan pengawasan dan enforcement;
SDM yang kuat pada Pemda guna menggantikan peran Pemerintah Pusat;
Keseimbangan dan kejelasan dalam pembagian tanggung jawab dan kewenangan
dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi daerah

2. Tujuan Desentralisasi Fiskal


a. Mengurangi kesenjangan antar pemerintah pusat dan pemerintah daerah (vertical
fiscal imbalance).
Baik Dana Bagi Hasil (DBH), baik pajak maupun non pajak (SDA), DAU, DAK,
Dana Otsus maupun dana insentif bagi daerah berkinerja baik merupakan transfer
keuangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, sehingga dengan demikian otomatis
kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah dapat lebih kecil dengan semua instrumen ini,
karena semua dana masuk ke daerah dan mengurangi alokasi di pusat. Dengan kata lain,
vertical fiscal imbalance dapat dikurangi.

b. Mengurangi kesenjangan antar daerah (horizontal fiscal imbalance).


Instrumen subsidi (grants) khususnya dalam konteks Indonesia adalah melalui Dana
Alokasi Umum (DAU). DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan
kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi, atau dengan kata lain mengurangi horizontal fiscal
imbalance. Implikasinya, subsidi yangdialokasikan kepada setiap daerah dalam rangka
menjalankan kewenangan pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan publik kepada
masyarakatberbeda-beda. DAU ditransfer pemerintah pusat kepada daerah bersifat block
grant, yang berarti daerah diberi keleluasaan dalam penggunaannya sesuai dengan
prioritas dan kebutuhan daerah dengan tujuan untuk menyeimbangkan kemampuan
keuangan antardaerah.
a. Kesinambungan kebijakan fiskal (fiscal sustainability) secara makro.
b. Meningkatkan akuntabilitas, efektivitas & efisiensi Pemda.
c. Meningkatkan kualitas pelayanan publik
d. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembuatan keputusan

B. PEMBAGIAN KEWENANGAN DAN FUNGSI PEMERINTAHAN


Sesuai Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, Daerah diberikan kewenangan untuk
menyelenggarakan seluruh fungsi pemerintahan, kecuali kewenangan pemerintahan dalam
bidang pertahanan keamanan, politik luar negeri, fiskal dan moneter, peradilan, agama, dan
adminsitrasi pemerintahan yang bersifat strategis. Dengan pembagian kewenangan/fungsi
tersebut pelaksanaan pemerintahan di Daerah dilaksanakan berdasarkan asas desentralisasi,
asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Implikasi langsung dari kewenangan/fungsi
yang diserahkan kepada Daerah sesuai Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah
kebutuhan dana yang cukup besar. Untuk itu, telah diatur hubungan keuangan antara Pusat
dan Daerah yang dimaksudkan untuk membiayai pelaksanaan fungsi yang menjadi
kewenangannya.
Dalam konteks kegiatan ini, pengertian kewenangan daerah propinsi dan
kabupaten/kota mengacu pada UU No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Pasal
1 ayat 2 Undang-undang No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah menyatakan
bahwa: Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan
urusan dalam skala provinsi yang meliputi:
1. Perencanaan dan pengendalian pembangunan;
2. Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;
3. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat;
4. Penyediaan sarana dan prasarana umum;
5. Penanganan bidang kesehatan;
6. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial;
7. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota;
8. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota;
9. Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah termasuk lintas
kabupaten/kota;
10. Pengendalian lingkungan hidup;
11. Pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota;
12. Pelayanan kependudukan, dan catatan sipil;
13. Pelayanan administrasi umum pemerintahan;
14. Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota;
15. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh
kabupaten/kota;
16. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.
Dalam melaksanakan desentralisasi fiskal, prinsip (rules) money should follow
function merupakan salah satu prinsip yang harus diperhatikan dan dilaksanakan Artinya,
setiap penyerahan atau pelimpahan wewenang pemerintahan Artinya, setiap penyerahan
atau pelimpahan wewenang pemerintahan membawa konsekuensi pada anggaran yang
diperlukan untuk melaksanakan kewenangan tersebut. Kebijakan perimbangan keuangan
pusat dan daerah merupakan derivatif dari kebijakan otonomi daerah, melalui pelimpahan
sebagian wewenang pemerintahan dari pusat ke daerah. Artinya, semakin banyak
wewenang yang dilimpahkan, maka kecenderungan semakin besar biaya yang dibutuhkan
oleh daerah (Bahl,2000:19).
Salah satu fungsi utama pemerintah adalah fungsi distribusi (Musgrave 1959).
Kekuatan dan mekanisme pasar diyakini tidak akan pernah menghasilkan distribusi
pendapatan yang merata. Padahal, distribusi pendapatan yang (relatif) merata merupakan
satu fenomena yang diinginkan oleh masyarakat secara umum. Karenanya, tugas
pemerintah adalah memastikan bahwa terdapat pembagian pendapatan yang lebih merata
di antara kelompok-kelompok masyarakat.
Dari sisi praktis, peranan pemerintah daerah di Indonesia dapat dianggap sangat
dominan sejak digulirkannya era otonomi daerah pada tahun 2001. Sebagai implikasi dari
pemberian kewenangan yang semakin luas kepada daerah, daerah dituntut untuk dapat
secara mandiri melaksanakan pembangunan, baik dari sisi perencanaan maupun
pelaksanaannya sesuai prinsip-prinsip otonomi daerah. Untuk mendanai penyelenggaraan
urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah tersebut, pada dasarnya dilakukan
dengan prinsip money follow function. Dalam implementasinya, seiring dengan
pelimpahan kewenangan Pusat kepada yang Daerah, kepada daerah diberikan sumber-
sumber pendanaan, terutama melalui transfer yang jumlahnya cukup besar.
Selaras dengan esensi otonomi daerah, maka besarnya sumber pendanaan untuk
daerah tersebut juga dibarengi dengan diskresi yang luas untuk membelanjakannya sesuai
kebutuhan dan prioritas daerah. Dengan demikian, diharapkan agar local government
spending akan benar-benar bermanfaat dan menjadi stimulus fiskal bagi perekonomian di
daerah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, keberhasilan
suatu daerah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat sangat tergantung pada
Pemerintah Daerah dalam mengalokasikan belanjanya pada program dan kegiatan yang
berorientasi pada kebutuhan masyarakat (kepentingan publik), sehingga dapat menciptakan
lapangan kerja dan mengurangi jumlah penduduk miskin.

C. MANFAAT DAN MASALAH DESENTRALISASI FISKAL


a. Manfaat Desentralisasi Fiskal
Menurut Bahl (2008), terdapat dua manfaat desentralisasi fiscal. Manfaat
desentralisasi fiskal adalah:
1. Efisiensi ekonomis.
Anggaran daerah untuk pelayanan publik bisa lebih mudah disesuaikan dengan
preferensi masyarakat setempat dengan tingkat akuntabilitas dan kemauan bayar
yang tinggi.
2. Peluang meningkatkan penerimaan pajak dari pajak daerah.
Pemerintah daerah bisa menarik pajak dengan basis konsumsi dan aset yang tidak
bisa ditarik oleh pemerintah Pusat.

Desentralisasi akan lebih mampu menyukseskan tujuan-tujuan pembangunan lewat


pemberian hak kontrol kepada masyarakat yang memiliki informasi dan insentif untuk
membuat keputusan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pemberian tanggung jawab dan kewenangan yang lebih kepada daerah dapat
meningkatkan kualitas dan efisiensi dari layanan public.
b. Masalah Desentralisasi Fiskal
Kelemahan desentralisasi fiskal adalah:
Lemahnya kontrol pemerintah pusat terhadap ekonomi makro.
Sulitnya menerapkan kebijakan stabilitas ekonomi.
Sulitnya menerapkan kebijakan pembangunan ekonomi dengan pemerataan.
Besarnya biaya yang harus ditanggung pemerintah daerah daripada keuntungan
yang didapat.
D. DESENTRALISASI FISKAL DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Pembangunan dalam bidang ekonomi ditujukan agar dapat menciptakan
pertumbuhan yang tinggi. Kuncoro (2004) menyatakan bahwa tolak ukur keberhasilan
ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi, struktur ekonomi, semakin kecilnya
ketimpangan pendapatan antar penduduk, antar daerah dan antar sektor. Pertumbuhan
ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita (Boediono 1985). Secara tradisional,
pembangunan ekonomi ini ditujukan untuk peningkatan yang berkelanjutan Produk
Domestik Bruto/PDB atau Produk Domestik Regional Bruto/PDRB (Saragih 2003,
Kuncoro 2004). Namun demikian, dalam realita penggunaan indikator ini saja kurang
mencerminkan makna pertumbuhan yang sebenarnya. Sebagai alternatif digunakan
pendapatan per kapita (Income Per Capita). Indikator ini menekankan kemampuan suatu
negara/daerah untuk meningkatkan PDB/PDRB agar dapat melebihi tingkat pertumbuhan
penduduk. Gambaran ini menunjukkan bahwa terdapat kemungkinan daerah mengalami
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun tingkat pendapatan per kapitanya rendah
dikarenakan laju pertumbuhan penduduk yang lebih tinggi. Dengan menggunakan dua
indikator itu, dapat dikembangkan 4 (empat) tipologi daerah untuk mengetahui gambaran
pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah (Kuncoro 2004). Keempat
tipologi daerah itu adalah sebagai berikut

1. Daerah Cepat Maju dan Tumbuh (High Growth and High Income) Adalah daerah
yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang
lebih tinggi dibanding rata-rata kabupaten dan kota
2. Daerah Maju dan Tertekan (High Income but Low Growth) Adalah daerah yang
memiliki tingkat pendapatan per kapita lebih tinggi, namun pertumbuhan
ekonominya lebih rendah dibanding rata-rata kabupatan dan kota
3. Daerah Berkembang Cepat (High Growth but Low Income) Adalah daerah yang
memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, namun tingkat
pendapatan per kapitanya masih lebih rendah dibanding rata-rata kabupaten dan
kota.
4. Daerah Relatif Tertinggal (Low Growth, Low Income) Adalah daerah yang
memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan rata-rata pendapatan perkapita lebih
rendah dibanding rata-rata kabupaten dan kota.

Desentralisasi fiskal mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan


ekonomi suatu daerah. Beberapa alasan yang mendasari adalah. sebagai berikut :

1. Pemerintah daerah mempunyai kewenangan lebih besar untuk berinvestasi dan


membelanjakan lebih banyak untuk berbagai sektor produktif (Lin dan Liu 2000,
Brodjonegoro dan Vasques 2002).
2. Pemerintah daerah mampu menyediakan barang-barang publik dan jasa yang
dibutuhkan. Bagaimanapun pemerintah lokal tetap akan lebih sensitif terhadap
kondisi ekonomi lokal. Pemberian kewenangan (otonomi) yang lebih besar,
membuat pemda lebih leluasa melakukan alokasi yang efisien pada berbagai
potensi lokal sesuai dengan kebutuhan publik (Lin dan Liu 2000, Mardiasmo 2002,
Wong 2004). Hal ini pada gilirannya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi
lokal dan pendapatan per kapita.
3. Adanya pemberdayaan dan penciptaan ruang bagi publik untuk berpartisipasi
dalam pembangunan (Mardiasmo 2002).

Bohte dan Meier (2000) menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan
lebih tinggi ternyata terjadi pada pemerintahan yang terdesentralisasi. Oates (1995)
menyatakan, desentralisasi fiskal mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan
pertumbuhan ekonomi (PDB/PDRB) per kapita.

Menurut Pose et all (2007), terdapat banyak litetatur yang menyatakan bahwa
desentralisasi fiskal memberikan perubahan yang signifikan terhadap kesejahteraaan dan
keuntungan ekonomi. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa pemerintah daerah (dengan
asumsi lebih dekat dengan rakyat) lebih cakap dalam membuat kebijakan yang
menentukan barang publik yang dibutuhkan di daerahnya. Dengan demikian pemerintah
daerah menghasilkan fungsi alokasi yang lebih efisien. Pendapat yang sama juga
dikemukakan oleh Ebel dan Yilmaz (2002), Slinko (2002), dan Vasquez dan Mc Nab
(2001).
World Bank (1997) menyatakan desentralisasi dapat mempengaruhi pertumbuhan
ekonomi secara tidak langsung.
Ada tiga cara desentralisai fiskal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara tidak
langsung.
Argumen pertama adalah desentralisasi akan meningkatkan efisiensi pengeluaran publik,
sehingga efek dinamisnya akan mempengaruhi pertubuhan ekonomi. Oleh karena itu
teradapat hubungan positif antara pertumbuhan ekonomi dan desentralisasi.
Selanjutnya bahwa desentralisasi dapat mempengaruhi stabilitas makroekonomi, yang
mana akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, sehingga didapat hubungan yang negatif
antara pertumbuhan ekonomi dan desentralisasi. Argumen yang berikutnya adalah bahawa
negara sedang berkembang (NSB) memiliki sistem kelembagaan dan perekonomian yang
berbeda dengan negara berkembang (NB), sehingga negara sedang berkembang tidak akan
mendapat keuntungan dari desentralisasi. Hal ini terjadi karena susunan kelembagaan di
negara-negara sedang berkembang tidak perlu memberikan sub insentif kepada pemerintah
untuk menggunakan keuntungan informasi dalam merespon tindakan yang dilakukan.
Alasan lain adalah karena pemerintah daerah di negara-negara sedang berkembang tidak
memiliki sumber daya ekonomi yang cukup, seperti misalnya
peagwai pemerintah yang terlatih dalam mengelola anggaran yang lebih besar.

Vasquez dan Mc Nab (2001) memberikan penjelasan yang lebih rinci tentang
bagaimana hubungan antara desentralisasi fiskal terhadap efisiensi dan stabilitas
makroekonomi mampu mempengaruhi pertumbuhan.
Yang pertama tentang pengaruh efisiensi terhadap pertumbuhan. National account
(PDB/PDRB) mengukur output pemerintah berdasarkan tingkat pengeluaran, tanpa melihat
tingkat pemerintah mana yang menegeluarkannya. Tapi bila pada tingkat pengeluaran yang
sama, pemerintah daerah (yang dalam sisteme desentralisasi diberikan kewenangan dalam
mengatur pengeluaran) mampu menghasilkan output yang lebih besar (atau lebih
berkualitas) dibandingkan pemerintah pusat, maka terciptalah efisiensi produksi yang lebih
besar di tingkat pemerintah daerah. Akhirnya, kuantitas dan kualitas yang lebih baik dari
pelayanan publik yang disediakan pemerintah daerah aka menghasilkan peningkatan
pendapatan.
Selanjutnya mengenai dampak desentralisasi terhadap stabilitas makroekonomi.
Meskipun jelas bahwa tidak ada hubungan antara desentralisasi dan stabilitas
makroekonomi, namun sudah menjadi kesepakatan umum bahwa sistem desentralisasi
yang tidak dirancang dengan baik dapat mengakibatkan ketidakstabilan makroekonomi
(mis: mengijinkan pemerintah daerah untuk melakukan pinjaman, tanpa adanya kontrol
dari pemerintah pusat) (Vasquez dan Mac Nab, 2001).