Anda di halaman 1dari 16

http://www.republika.co.

id/berita/shortlink/85973

Polda Minta BPKP Audit Kasus


Investasi PT KAI
Red:

BANDUNG--Untuk mengetahui berapa nilai kerugian negara dalam kasus


proyek investasi PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) dengan PT Optima Karya
Capital Manajemen (OKCM), penyidik Satuan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)
Polda Jabar berkoordinasi dengan BPKP. Permohonan untuk mengaudit
proyek tersebut, sudah diajukan penyidik beberapa waktu lalu. Kami sudah
berkoordinasi dengan BPKP untuk melakukan audit,kata Kabid Humas Polda
Jabar, Kombes Pol Drs Dade Achmad, Jumat (30/10).

Dikatakan Dade, dengan adanya audit maka akan diketahui berapa kerugian
negara akibat kasus tersebut. Biasanya, imbuh dia, hasil audit tersebut
memakan waktu berbulan-bulan. Ia berharap BPKP bisa melakukan audit
secara cepat sehingga kasus ini semakin jelas. Kita belum tahu kapan BPKP
akan menyampaikan hasil auditnya. Mudah-mudahan tidak lama,kata dia.

Sebagaimana diberitakan Republika, dana investasi yang ditanamkan PT KAI


ke PT OKCM jumlahnya Rp 100 miliar. Menurut Kasat Tipikor Polda Jabar,
AKBP Drs Sony Sonjaya, dana investasi tersebut sampai saat ini belum
dikembalikan oleh pihak PT OKCM. Kalau dikembalikan tentunya tak ada
kerugian negara, sampai saat ini belum ada dana yang dikembalikan,ujar
dia.

Kasus Perdata

Sementara itu, kuasa hukum tersangka Ahmad Kuncoro (Direktur Keuangan


PT KAI), Triweka Rinanti, SH, MH, menilai kasus proyek investasi merupakan
persoalan perdata. Kata dia, antara PT KAI dengan PT OKCM tentang
pengembalian dana Rp 100 juta sudah dituangkan dalam kesepakatan
bersama. Jadi sangat tidak tepat kalau penyidik mempersoalkan masalah
ini sebagai kasus pidana. Ini jelas perdata,kata dia.

Dokumen perjanjian pembayaran utang-piutang itu, lanjut Triweka, bisa


menjadi bukti kuat bahwa persoalan tersebut merupakan kasus perdata.
Selain masalah tersebut, ia juga mempertanyakan penahanan kliennya.
Sedangkan tersangka dari PT OKCM sampai saat ini tidak ditahan. Sangat
tidak adil cara seperti ini. Uang itu berada di PT OKCM, kok malah tidak
ditahan,ujar dia. jok/ahi

http://www.antikorupsi.org/id/content/rp-50-miliar-dana-pt-ka-
dikorup

Rp 50 Miliar Dana PT KA Dikorup


Polisi sedang menyelidiki dugaan korupsi di PT Kereta Api (KA) yang
merugikan negara sekitar Rp50 miliar. Penyelewengan dana dilakukan lewat
investasi Badan Usaha milik Negara (BUMN) itu melalui PT Optima Karya
Capital Management (OKCM) pada 2008.

"Itu berdasaran penyelidikan sementara kami setelah mendengarkan


keterangan beberapa saksi serta memeriksa sejumlah dokumen yang kami
sita," kata Kepala Satuan Tindak Pidana Korupsi Polda Jabar Ajun Komisaris
Besar Sony Sonjaya usai penyitaan dokumen di kantor pusat PT KA di
Bandung, Rabu (14/10).

Untuk memperoleh angka pasti kerugian negara dalam kasus itu, Satuan
Tipikor Polda Jabar meminta bantuan Badan Pengawas Keuangan dan
Pembangunan (BPKP) dan Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan
(PPATK) melakukan audit.

"Untuk BPKP, kami minta bantuan investigasi audit. Sementara kepada


PPATK, kami minta bantuan untuk menelusuri aliran dana dari PT KA ke PT
OKCM," katanya.

Penyidik Satuan Tipikor Polda Jabar menyita sekitar 50 berkas kasus dugaan
korupsi PT KA terkait dengan investasi ke PT OKCM. "Dokumen tersebut
antara lain surat penawaran transaksi, keputusan, permohonan, termasuk
surat undangan rapat," ujar Sony.

Dokumen yang disita akan diperiksa untuk mendapatkan gambaran asal


mula proses investasi tersebut. "Dalam pemeriksaan berkas dan dokumen
ini, PT KA cukup kooperatif," ucapnya.

Polisi kini sudah menetapkan dua tersangka, yaitu salah seorang pejabat PT
KA dan pejabat PT OKCM. "Dari pemeriksaan 20 saksi, kami menetapkan dua
tersangka yang akan diperiksa besok (Kamis) di Mapolda Jabar," katanya.
Namun, polisi tidak menyebutkan nama tersangka dan inisial tersangka
tersebut. "Lihat saja besok di Mapolda Jabar," katanya.

Penyitaan dan pemeriksaan dokumen tersebut dilakukan Satuan Tipikor


Polda Jabar di Kantor Pusat PT KA di Bandung mulai 11.00 hingga 15:00 WIB.
"Pemeriksaan untuk hari ini sudah cukup. Nanti kami akan periksa kembali
terkait kasus ini," kata Sony.

Tidak satu pun pejabat PT KA yang bersedia dikonfirmasi sejumlah wartawan


yang datang ke kantor mereka.

Informasi yang diperoleh Jurnal Nasional menyebutkan, dua direksi PT KA


pada hari Kamis (15/10), rencananya kembali menjalani pemeriksaan di
Polda Jabar.

"Tergantung hasil pemeriksaan besok, bisa saja muncul tersangka lainnya,"


kata Sony.

Pejabat PT KA yang telah diperiksa sebagai saksi antara lain Hekinaus


Manao, Komisaris dan Komite Audit PT KA yang juga Irjen Departemen
Keuangan, mantan Dirut PT KA Ronni Wahyudi, Direktur Keuangan PT KA
Ahmad Kuntjoro, dan beberapa staf PT KA. [by : Robby Sanjaya]

Sumber: Jurnal Nasional, 15 Oktober 2009

Berita
http://www.lodaya.web.id/?p=4779

PENYERAHAN TERSANGKA DAN BARANG BUKTI KASUS KORUPSI


PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)
Feb 12 09

Telah terjadi dugaan tindak pidana korupsi sehubungan dengan adanya


kerjasama pengelolaan investasi antara PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
dengan PT. Optima Kharya Capital Management (PT. OKCM), dimana pada
tanggal 24 Juni 2008 PT. Kereta Api Indonesia (Persero) melakukan kerjasama
dengan PT. OKCM sesuai dengan kontrak kerjasama investasi Nomor :
02/KPD-OKCM /VI/2008 (137/HK/UM/2008) tanggal 24 Juni 2008. Atas dasar
perjanjian tersebut maka Direksi PT. KAI memindahbukukan dana PT. KAI
sebesar Rp. 100 Milyar kepada rekening PT. OKCM untuk dikelola dalam
bentuk perjanjian investasi. Perjanjian itu sendiri berjangka waktu selama 6
(enam) bulan atau jatuh tempo tanggal 24 Desember 2008 dengan imbal
investasi sebesar 11,5 % Netto. Dalam perjanjian tersebut PT. OKCM
diwajibkan memberikan jaminan berupa porto folio investasi senilai 120 %
dari total dana yang diinvestasikan atau sebesar Rp. 120 Milyar.
Jenis kegiatan tersebut tidak terdapat di dalam anggaran dasar Nomor 2
tahun 1999 maupun dalam RKAP PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tahun
2008, sehingga penyidik berpendapat telah terjadi pelanggaran terhadap
Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Dalam
perjanjian tersebut PT. OKCM tidak pernah menyerahkan jaminan sesuai
yang dipersyaratkan dalam kontrak kerjasama investasi sehingga
mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp. 100 Milyar.
Sementara itu, ijin Komisaris baru keluar pada tanggal 27 Juni 2008, dimana
Komisaris Utama mengirim surat Nomor : 387/S/KOM/VI/2008 tanggal 27 Juni
2008 perihal ijin kerjasama pengelolaan dana perusahaan oleh Manager
Investasi. Surat tersebut isinya sesuai dengan surat sebelumnya yaitu surat
nomor : 383/S/KOM/VI/2008 tanggal 13 Juni 2006 perihal kerjasama
pengelolaan dana perusahaan oleh PT. OKCM selaku Manager Investasi. Pada
tanggal 24 Desember 2008 pihak PT. OKCM tidak bisa memenuhi
kewajibannya sesuai dengan perjanjian awal investasi pada tanggal 24 Juni
2008 yaitu selama 6 (enam) bulan.
Pada tanggal 31 Agustus 2009, Penyidik Polda Jabar telah membuat laporan
polisi Nopol : LP/402/VIII/2009/Dit Reskrim tanggal 31 Agustus 2009 dimana
penyelidikannya telah dilaksanakan pada bulan Juni dan Juli 2009. Laporan
hasil audit investigatif BPKP Perwakilan Jawa Barat Nomor : LHAI-
9641/PW10/5/2009 tanggal 22 Desember 2009 menyimpulkan bahwa
kegiatan penempatan dana PT. Kereta Api (Persero) pada tahun 2008 sebesar
Rp. 100 Milyar yang diinvestasikan melalui Manager Investasi PT. OKCM telah
menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga
mengakibatkan terjadinya kerugian keuangan Negara total loss sebesar
Rp. 100 Milyar, karena sesuai dengan AD/ART PT. Kereta Api (Persero) dan
pada saat jatuh tempo tanggal 24 Desember 2008 pokok investasi sebesar
Rp. 100 Milyar tidak diterima kembali oleh pihak PT. Kereta Api (Persero).
Dari hasil penyidikan terhadap kasus tersebut, telah ditetapkan 2 (dua)
orang tersangka a.n. AK selaku Direktur Keuangan PT. Kereta Api Indonesia
(Persero) dan RW Direktur Operasional/Umum PT. Kereta Api Indonesia
(Persero) dan barang bukti atas perkara tersebut ialah berupa hasil audit dari
BPKP yaitu AD/ART PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan bukti-bukti
transaksi.
Penyidik telah mengajukan berkas perkara a.n. tersangka AK dan telah
dinyatakan lengkap oleh JPU (P-21) dengan Nomor : B-
3821/0.2.5/Ft.1/09/2011 tanggal 7 September 2011. Sedangkan untuk
tersangka a.n. RW telah dinyatakan lengkap oleh JPU (P-21) dengan Nomor :
B-134/0.2.5/Ft.1/01/2012 tanggal 4 Januari 2012. Penyerahan tersangka dan
barang bukti tersebut dilaksanakan hari Rabu tanggal 8 Februari 2012 dari
penyidik Polda Jabar ke Kejaksaan Tinggi Jawa Barat.
Sumber : Siaran Pers Bid Humas Polda Jabar
http://nasional.tempo.co/read/news/2012/05/21/063405194/dua-bekas-pejabat-pt-
kai-jalani-sidang-pertama

Dua Bekas Pejabat PT KAI Jalani Sidang


Pertama
Senin, 21 Mei 2012 | 18:57 WIB
Mantan Dirut PT Kereta Api Indonesia, Ronny Wahyudi, menjalani sidang perdana dugaan
korupsi senilai Rp 100 miliar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Bandung, Jawa Barat, Senin
(21/5).TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Bandung -Dua bekas petinggi PT KAI mulai menjalani persidangan di


Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Bandung Jawa Barat. Keduanya adalah bekas Direktur
Utama PT KAI Ronny Wahyudi dan Direktur Keuangan Achmad Kuntjoro.

Ronny dan Achmad diduga melakukan tindak pidana korupsi senilai Rp 100 miliar karena tanpa
izin menyerahkan dana perusahaan untuk dikelola manajer investasi dari PT Optima Kharya
Capital Management dalam bisnis spekulatif investasi jenis discretionary fund.

Tim jaksa penuntut mendakwa kedua eks anggota Dewan Direksi PT Kereta ini antara lain
dengan pasal 2 ayat (1) dan pasal 3 jo pasal 18 Undang-Undang Antikorupsi Nomor 31 Tahun
1999 jo pasal 55 ayat (1) jo pasal 55 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. "Ancaman
hukumannya pasal 2 itu maksimal penjara seumur hidup dan minimal 4 tahun penjara. Kalau
pasal 3 minimal 1 tahun penjara maksimal 20 tahun penjara," ujar jaksa penuntut Rachman
Firdaus usai sidang di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin 21 Mei 2012.

Rachman menjelaskan, kedua terdakwa melanggar peraturan perundangan. Sebab PT Kereta


tidak boleh melakukan kerjasama usaha pengelolaan dana perusahaan dengan manajer investasi
dan pihak non-perbankan. "Bidang usaha pengelolaan dana oleh manajer investasi bahkan tidak
tercantum dalam anggaran dasar perusahaan maupun dalam rencana kerja anggaran perusahaan
tahun 2008,"katanya menjelaskan.

Rachman menganggap Ronny dan Achmad menyalahi pasal 50 Undang-Undang tentang Badan
Usaha Milik Negara, pasal 63 Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas, serta Anggaran Dasar
Perusahaan PT Kereta Nomor 2 Tahun 1999 pasal 3, 11, dan 17. Kesalahan diperparah dengan
gagalnya investasi oleh manajer investasi sehingga PT Optima tak mampu mengembalikan duit
PT Kereta Rp 100 miliar pada saat kontrak kerjasama kedua pihak jatuh tempo pada 24
Desember 2008.

"Sehingga terjadi kerugian keuangan negara dalam hal ini PT Kereta sebesar Rp 100 miliar
sesuai hasil audit investigatif BPKP Jawa Barat,"kata Rachman. Ia mengakui adanya kesepakatan
antara PT Kereta yang diwakili kuasanya, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara,
dengan PT Optima pada 2009 bahwa pengembalian dana investasi PT Kereta diubah menjadi
perjanjian hutang-pituang. "Itu 'kan, urusan perdatanya, silakan. Tapi perkara pidananya juga kan
harus tetap jalan,"katanya berdalih.

Dalam dakwaan yang dibacakan Rachman cs, kasus bermula ketika pada 2006 dan 2007 Achmad
mendapat penawaran kerja sama pengelolaan dana lewat produk discretionary fund dari manajer
investasi PT Optima. Namun hal itu tak bisa dilakukan kecuali dengan mengubah dulu anggaran
dasar perusahaan dengan persetujuan Dewan Komisaris dan pemegang saham agar dana PT
Kereta boleh dikelola manajer investasi.

Pada Februari 2008, PT Optima kembali mengajukan penawaran serupa kepada Achmad. Kali ini
penawaran bisnis spekulatif. Optima bersambut. Acmad disokong Ronny, Komite Audit, bahkan
lampu hijau dari Dewan Komisaris PT Kereta. Tanpa menunggu terbit dan diterimanya surat izin
resmi dari Komisaris Utama PT Kereta, terdakwa menjalin kerja sama investasi dengan PT
Optima. Perjanjian kerjasama ini diteken pada 24 Juni 2008 oleh Ronny dan Direktur Utama PT
Optima, Harjono Kesuma.

Isi perjanjian antara lain bahwa PT Kereta memberikan kuasa penuh kepada PT Optima untuk
mengelola dana secara full discretionary. PT Kereta menempatkan dana Rp 100 miliar di PT
Optima mulai 24 Juni hingga jatuh tempo pada 24 Desember 2008. Para pihak sepakat, indikasi
imbal hasil investasi kepada PT Kereta sebesar 11,5% nett per tahun dari nilai nominal investasi.
PT Optima memberi jaminan kepada PT Kereta berupa portofolio investasi senilai 120% dari
total dana investasi.

Oleh PT Optima, pada 25 Juni 2008, duit PT Kereta dibelikan Unit Penyertaan Reksa Dana
Optima Stabil sebesar Rp 55 miliar ke rekening atas nama PT. OKCM QQ PT Kereta Api
Indonesia di Bank Niaga Cabang Graha Niaga Jakarta. Sisanya digunakan sebagai penyertaan
modal atas nama Hardjono Kesuma sebesar Rp 44,55 miliar ke PT. Optima Kharya Mulia dan Rp
450 juta PT. Optima Kharya Capital Securities.

Nahas, pengelolaan dana Rp 100 miliar oleh PT Optima ini gagal menuai keuntungan buat PT
Kereta selaku pemilik dana. Dalaam laporan PT Optima kepada PT Kereta, pada Oktober 2008
terjadi penurunan nilai total aktiva bersih atau investasi sebesar Rp 13,8 miliar dari semula Rp
100 milair pada 24 Juni. Alih-alih siap mengembalikan duit PT Kereta 100 miliar pada saat jatuh
tempo 24 Desember, PT Optima malah menawarkan perpanjangan kerjasama.

Kecewa, lewat surat 8 Desember 2008, PT Kereta menolak permohonan tersebut dan
menegaskan menegaskan kembali permintaan agar PT Optima mengembalikan dana PT. Kereta
pada 24 Desember. "Hingga saat berakhirnya perjanjian kerjasama pada 24 Desember 2008, PT
Optima tidak dapat mengembalikan pokok investasi senilai Rp 100 miliar PT Kereta. Alasannya,
akibat adanya krisis keuangan dunia dan pasar modal,"kata Rachman.

Menjelang penutupan sidang, terdakwa Ronny sempat mempertanyakan kebenaran materi


dakwaan dan kesiapan jaksa penuntut mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan. Atas
pertanyaan terdakwa ini, jaksa Racman lalu menegaskan tekatnya. "Saya siap bertanggungjawab
di hadapan Allah,"katanya sambil berdiri dan mengacungkan tangan kanan langsung di depan
Ronny.

Seusai sidang, penasehat hukum Ronny, Wa Ode Nur Zainab membantah kliennya telah
melakukan korupsi atas dana Rp 100 miliar milik PT Kereta. "Ini masalah perdata murni,
masalah perseroan. Kerjasama investasi PT Kereta dengan PT Optima sudah melalui mekanisme
yang berlaku dan seizin komisaris. Sebelum jatuh tempo 24 Desember, Pak Ronny juga sudah
menolak perpanjangan kerjasama dan meminta dana PT Kereta mengemblikan dana,"katanya.

ERICK P. HARDI
http://dokumen.tips/documents/kasus-55a0c679876a7.html

Banyak Kasus di KRL, PT KAI Dinilai Masih Belum Perbaiki Layanan


Jakarta - Kereta Rel Listrik (KRL), transportasi umum alternatif di Jakarta, menyimpan
segudang cerita yang memilukan. Mulai dari pelecehan seksual, penumpang kesetrum, terjatuh
dari KRL, kecopetan, hingga jari hancur seperti yang dialami Ari DN.
Meski banyak kasus yang sering terjadi di KRL, PT KAI atau Kereta Commuter Jakarta dinilai
masih belum memperbaiki pelayanannya.
"Kejadian yang seperti ini bukan pertama kali terjadi. Sudah sering dan banyak kasus. Bahkan
kita sudah pernah diskusikan ini ke PT KAI dan KCJ tapi hingga kini belum ada perbaikan," ujar
anggota KRL-Mania, Rosmana, saat dihubungi detikcom, Kamis (28/4/2011).
Menurut Rosmana, kasus yang terjadi terhadap Ari DN tersebut bermula pada pegangan kereta
yang susah. Sedangkan kereta penuh sesak. Dalam kondisi terdesak, penumpang tentu mencari
pegangan apa saja.
"Dia terpaksa memegang di sayap pembatas yang ada kipas angin. Kalau rem mendadak kadang
tangan bisa saja masuk seperti itu," ujarnya.
Rosmana mengaku komunitasnya sudah sering berkomunikasi dengan pihak PT KAI untuk
membicarakan sejumlah masalah keselamatan penumpang di dalam KRL. Namun hingga kini
memang belum ada yang terealisasikan dari hasil diskusi dengan PT KAI.
"Kita juga sering kasih masukan KRL ekonomi yang pegangannya susah. Itu urgent karena
saking penuhnya," ungkapnya.
Rosmana yang juga setiap hari menumpang KRL ini menilai tidak hanya masalah pegangan yang
menjadi masalah. Pintu KRL ekonomi yang selalu tidak ditutup juga sangat membahayakan
penumpang.
"Sekarang kenapa nggak diperbaiki. Pintunya harusnya ditutup. Pegangannya diperbanyak.
Kipas angin ditutup. Ya entah bagaimanalah caranya agar tidak membahayakan penumpang,"
jelasnya.
Sebelumnya seorang penumpang KRL ekonomi Ari DN mengalami kerusakan pada jari manis
kirinya karena kesabet kipas angin yang tidak ada tutupnya. Jari manis Ari hancur. Ari pun
masih dirawat di rumah sakit. Menurut dokter, jari manis Ari harus diamputasi atau diberi pen.
Kasus Direktur PT HIA Disidangkan Kamis
Depan
Sabtu, 08 Oktober 2011
SIANTAR-Direncanakan persidangan terhadap kasus yang melibatkan Direktur PT Horas Insani
Abadi (HIA), dr PY akan digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kota Pematangsiantar, Kamis
(13/10).
Rencana persidangan perdana ini terkait dugaan pemalsuan akta autentik tentang perseroan
terbatas di PT HIA. Di mana sebelumnya, kasus ini dilaporkan Polentyno Girsang, yang juga
salah satu pemegang saham di PT HIA.
Sebelumnya, pengaduan ini Polentyno Girsang dibuat secara tertulis dengan bukti pengaduan No
162/DIR/RSHI/Eks/LP/IX/2009 tanggal 8 September 2009, ditujukan ke Kapolres
Pematangsiantar, saat itu dijabat AKBP Andreas Kusmaedi.
Polres Pematangsiantar lalu menerbitkan LP No 505/IX/2009/STR tanggal 9 September 2009.
Dalam pengaduannya, para terlapor sebagaimana isi surat Polentyno ada enam orang, yaitu dr
PY selaku Direktur PT HIA dan lima orang lainnya diantaranya pemegang saham, seorang
notaris dan pengacara perusahaan.
Panitera Muda Pidana PN , Ripin Sitepu, Jumat (7/10) menuturkan sidang akan digelar Kamis
pekan depan. Majelis hakimnya antara lain Dinahayati Syofian, Asad Rahim, dan
Halimatussakdiah.
Sementara itu, pelapor Polentyno Girsang melalui kuasa hukumnya Jansius Sinaga telah
mengajukan permohonan kepada ketua pengadilan agar terdakwa yang juga merupakan
pimpinan
Rumah Sakit Horas Insani (RSHI) ditahan selama berlangsungnya pemeriksaan perkara.
Polentyno Girsang mengatakan, penyelesaian perkara dugaan pemalsuan akta ini dengan
sendirinya akan mengakhiri prahara di perusahaan tersebut. Menurutnya, saat ini tercatat ada 15
kasus perdata dan 35 pidana terkait PT HIA. Falsus ini uno, falsus in omnibus. Salah di dasar,
akibatnya salah seterusnya, ujar Girsang.(en/int)
seharusnya dibayar tanggal 1 Januari 2006 tetapi telah dibayar per 31 Desember 2005
diperlakukan sebagai uang muka biaya gaji, yang menurut Komite Audit harus dibebankan pada
tahun 2005.
Beberapa hal yang diidentifikasi turut berperan dalam masalah pada laporan keuangan PT Kereta
Api, adalah :
1. Auditor internal tidak berperan aktif dalam proses audit, yang berperan hanya auditor
eksternal.
2. Komite audit tidak ikut dalam proses penunjukkan auditor sehingga tidak terlibat dalam
proses audit.
3. Manajemen (termasuk auditor internal) tidak melaporkan pada komite audit, dan komite
audit juga tidak menanyakannya.
4. Adanya ketidakyakinan manajemen akan laporan keuangan yang telah disusun, sehingga
ketika komite audit mempertanyakannya, manajemen merasa tidak yakin.
KESIMPULAN
1. Perselisihan antara Dewan Komisaris dan Direksi sebenarnya dapat diselesaikan dengan
cara yang lebih elegan.
2. Dewan Komisaris merupakan suatu dewan, sehingga akan sangat ideal apabila Dewan
Komisaris mempunyai satu orang juru bicara yang mengatasnamakan seluruh Dewan Komisaris
sehinnga Dewan Komisaris memiliki satu suara.
3. Komunikasi Auditor Eksternal dengan Komite Audit merupakan faktor yang sangat
menentukan dalam proses audit suatu perusahaan.
4. Komunikasi antara Komite Audit dengan Internal Auditor yang belum tercipta dengan baik
merupakan salah satu fakttor yang turut memiliki andil dalam memicu kasus ini.
5. Terkait dengan prinsip konsistensi yang harus diterapkan dalam akuntansi, perlu
ditekankan bahwa pelaksanaan prinsip konsistensi dengan tetap berpegang pada pengetahuan dan
prinsip akuntansi yang berlaku.
6. Beberapa hal teknis yang perlu dipertimbangkan untuk dikembangkan adalah PSAK yang
khusus mengatur mengenai PSO (Public Service Obligation), IMO (Infrastrukture Maintenance
and Operation), TAC (Track Access Charges), dan BPYBS serta komputerisasi akuntansi dan
penyederhanaan chart of account atau penyederhanaan sistem akuntansi.
SARAN
1. Komite Audit tidak memberikan second judge atas opini Auditor Eksternal, karena opini
sepenuhnya merupakan tanggung jawab Auditor Eksternal.
2. Harus ada upaya untuk membenarkan kesalahan tahun-tahun lalu, karena konsistensi yang
salah tidak boleh dipertahankan.
3. Komite Audit tidak bicara pada publik, karena esensinya Komite Audit adalah organ
Dewan Komisaris sehingga pendapat dan masukan Komite Audit harus disampaikan kepada
Dewan Komisaris.
4. Komite Audit dan Dewan Komisaris sebaiknya melakukan inisiatif untuk membangun
budaya pengawasan dalam perusahaan melalui proses internalisasi, sehingga pengawasan
merupakan bagian tidak terpisahkan dari setiap organ dan individu dalam organisasi.
5. Komite Audit berperan aktif dalam mengkoordinasikan seluruh tahapan proses auditing,
mulai dari penunjukan, pembuatan program, mengevaluasi dan memberikan hasil evaluasi
kepada Dewan Komisaris, yang akan mengkomunikasikannya kepada Direksi.
6. Manajemen menyusun laporan keuangan secara tepat waktu, akurat, dan full disclosure.
7. Komite Audit menjebatani agar semua pihak di perusahaan trlibat aktif dalam pengawasan.
Polda Minta BPKP Audit Kasus Investasi PT KAI
By Republika Newsroom
Jumat, 30 Oktober 2009 pukul 14:45:00
BANDUNG--Untuk mengetahui berapa nilai kerugian negara dalam kasus proyek investasi PT
Kereta Api Indonesia (PT KAI) dengan PT Optima Karya Capital Manajemen (OKCM),
penyidik Satuan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polda Jabar berkoordinasi dengan BPKP.
Permohonan untuk mengaudit proyek tersebut, sudah diajukan penyidik beberapa waktu lalu.
Kami sudah berkoordinasi dengan BPKP untuk melakukan audit,kata Kabid Humas Polda
Jabar, Kombes Pol Drs Dade Achmad, Jumat (30/10).
Dikatakan Dade, dengan adanya audit maka akan diketahui berapa kerugian negara akibat kasus
tersebut. Biasanya, imbuh dia, hasil audit tersebut memakan waktu berbulan-bulan. Ia berharap
BPKP bisa melakukan audit secara cepat sehingga kasus ini semakin jelas. Kita belum tahu
kapan BPKP akan menyampaikan hasil auditnya. Mudah-mudahan tidak lama,kata dia.
Sebagaimana diberitakan Republika, dana investasi yang ditanamkan PT KAI ke PT OKCM
jumlahnya Rp 100 miliar. Menurut Kasat Tipikor Polda Jabar, AKBP Drs Sony Sonjaya, dana
investasi tersebut sampai saat ini belum dikembalikan oleh pihak PT OKCM. Kalau
dikembalikan tentunya tak ada kerugian negara, sampai saat ini belum ada dana yang
dikembalikan,ujar dia.
Kasus Perdata
Sementara itu, kuasa hukum tersangka Ahmad Kuncoro (Direktur Keuangan PT KAI), Triweka
Rinanti, SH, MH, menilai kasus proyek investasi merupakan persoalan perdata. Kata dia, antara
PT KAI dengan PT OKCM tentang pengembalian dana Rp 100 juta sudah dituangkan dalam
dipastikan bahwa GCG bagi perusahaan hanya sebagai pemenuhan peraturan (formalitas) dan
belum dapat dianggap sebagai bagian dari sistem pengawasan yang efektif.
Mengamati kasus-kasus yang terjadi baik di BUMN maupun Perusahaan Publik, mungkin dapat
disimpulkan sementara bahwa penerapan proses GCG masih setengah hati, belum dipahami dan
diterapkan seutuhnya, terutama oleh top management sebagai pengambil keputusan stratejik.
Terlebih lagi pemahaman pemegang saham atas GCG yang masih belum memadai. Pembedahan
kasus yang terjadi di perusahaan BUMN atas proses pengawasan yang efektif akan dapat
menjadi suatu pembelajaran yang menarik dan kiranya dapat kita hindari apabila kita dihadapkan
pada situasi yang sama.
Dalam kasus audit umum yang dialami oleh PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI), menunjukkan
bagaimana proses tata kelola yang dijalankan dalam suatu perusahaan, dan bagaimana peran dari
tiap-tiap organ pengawas didalam memastikan penyajian laporan keuangan tidak salah saji dan
mampu menggambarkan keadaan keuangan perusahaan yang sebenarnya.
Sebagai perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pelayanan publik, PT. KAI memiliki
business environment yang berbeda dengan perusahaan swasta lainnya dan merupakan
pembelajaran yang menarik bagi perusahaan lainnya terutama mengenai bagaimana mambangun
pengawasan yang efektif. Kasus ini juga dapat menjadi pembelajaran bagi departemen teknis
maupun Kementerian BUMN sebagai wakil pemegang saham untuk menerapkan public
governance.
PEMBAHASAN KASUS PT. KERETA API INDONESIA
Kasus PT. KAI bermuara pada perbedaan pandangan antara Manajemen dan Komisaris,
khususnya Komisaris yang merangkap sebagai Ketua Komite Audit dimana Komisaris tersebut
menolak menyetujui dan menandatangani laporan keuangan yang telah diaudit oleh Auditor
Eksternal. Dan Komisaris meminta untuk dilakukan audit ulang agar laporan keuangan dapat
disajikan secara transparan dan sesuai dengan fakta yang ada.
Perbedaan pandangan antara Manajemen dan Komisaris bersumber pada perbedaan pendapat
atas 4 (empat) hal, yaitu :
1. Masalah piutang PPN.
Piutang PPN per 31 Desember 2005 senilai Rp. 95,2 milyar, menurut Komite Audit harus
dicadangkan penghapusannya pada sudah ikut untuk melihat apakah auditor eksternal layak
dipilih dan melihat fairness proses

pemilihan. Yang akan bicara kepada Direksi adalah Dewan Komisaris, bukan Komite Audit.
Jangan sampai Komite Audit over duties (berlebih-lebihan).
3. Mereview transaksi-transaksi besar untuk dilaporkan kepada Dewan Komisaris, kemudian
Dewan Komisaris berkomunikasi dengan Direksi.
Agar pengawasan Dewan Komisaris dapat berjalan dengan baik, Komite Audit dapat membantu
Dewan Komisaris untuk memberikan nasehat dengan cara :
1. Mereview sistem internal control, ada pemisahan fungsi atau tidak (internal control setting)
bagus atau tidak. Hal ini dilaporkan kepada Dewan Komisaris.
2. Komunikasi antara Komite Audit, Dewan Komisaris dan manajemen. Seharusnya Komite
Audit membantu Dewan Komisaris dalam menelaah/mereview laporan manajemen karena tidak
selalu 100 % laporan keuangan dipahami oleh Dewan Komisaris, terutama karena latar belakang
yang bukan keuangan. Jadi fungsi Komite Audit adalah mentransformasikan angka-angka
kedalam suatu bentuk usulan kepada Dewan Komisaris agar Dewan Komisaris dapat
memberikan advise kepada Direksi.
Kasus PT. KAI menarik untuk dicermati karena kasus ini dapat terjadi di perusahaan lainnya.
Apapun permasalahan yang terjadi apabila diantara Direksi dan Komisaris terjadi perbedaan
pendapat yang rugi adalah perusahaan, dimana social and political costnya sangat tinggi. Selain
itu masing-masing pihak yang sedang berselisih pendapat (yaitu Direksi maupun Komisaris)
akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu sehingga akan sangat merugikan perusahaan, yang
pada akhirnya akan mengganggu keberlangsungan (sustainability) perusahaan.
Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kasus PT. KAI adalah karena rumitnya laporan
keuangan PT. KAI. Hal ini karena terdapat ratusan stasiun, puluhan depo dan gudang yang
seluruhnya memiliki laporan keuangan yang terpisah, sehingga yang berpotensi menyebabkan
masalah maupun perbedaan pendapat di kemudian hari. Hal ini ditambah lagi dengan kenyataan
bahwa baru sebagian kecil proses akuntansi dilaksanakan dengan komputer. Sebenarnya sistem
akuntansi PT. KAI cukup modern untuk penyusunan laporan keuangan dan informasi
manajemen, namun karena kedua hal tersebut diatas maka sistem akuntansi tersebut tidak dapat
berfungsi dengan baik.
Keterkaitan antara realisasi anggaran dengan akuntansi juga merupakan masalah yang rumit
karena sistem otorisasi anggaran yang kompleks. Kenyataan lain yang turut mendorong
terjadinya kasus laporan keuangan PT. Kereta Api adalah bahwa proses akuntansi dan laporan
keuangan adalah hanya urusan bagian akuntansi, unit lain kurang terlibat dan tidak memiliki
sense of belonging, sehingga hal ini jelas menyulitkan bagi bagian akuntansi.
Selain beberapa hal teknis tersebut diatas, beberapa hal yang diidentifikasi turut berperan dalam
masalah pada laporan keuangan PT. Kereta Api adalah :
1. Auditor Internal tidak berperan aktif dalam proses audit, yang berperan hanya Auditor
Eksternal.
2. Komite Audit tidak ikut dalam proses penunjukan auditor sehingga tidak terlibat dalam proses
audit.
3. Manajemen (termasuk auditor internal) tidak melaporkan kepada Komite Audit dan Komite
Audit juga tidak menanyakannya.
4. Adanya ketidakyakinan manajemen akan laporan keuangan yang telah disusun, sehingga
ketika Komite Audit mempertanyakannya manajemen merasa tidak yakin.
Beberapa aktifitas bisnis PT. Kereta Api yang juga berpotensi menimbulkan masalah di
kemudian hari adalah :
Adanya transaksi antara PT. Kereta Api dan Negara yang kebijakan dan sistem perhitungannya
belum dipahami dan disepakati dengan baik (PSO : Public Service Obligation, IMO :
Infrastructure Maintenance and Operation, TAC : Track Access Charges)
Transaksi masa sebelumnya yang masih belum terselesaikan (BPYBDS, perubahan status
perusahaan)
Perubahan peraturan pemerintah (termasuk peraturan perpajakan)

Penyelesaian Past Service Liability /PSL Pensiun Pegawai


RUU Perkeretaapian dengan kemungkinan Unbundling dari aktifitas perusahaan dan
keikutsertaan swasta

SOLUSI DAN REKOMENDASI


Dengan pembahasan kasus audit umum PT. Kereta Api Indonesia, beberapa pelajaran berharga
dapat dipetik dari kasus tersebut, diantaranya adalah :
Pertama, perselisihan antara Dewan Komisaris dan Direksi sebenarnya dapat diselesaikan
dengan cara yang lebih elegan. Apabila Dewan Komisaris merasa Direksi tidak capable

memimpin perusahaan, Dewan Komisaris dapat mengusulkan kepada pemegang saham untuk
mengganti Direksi. Hal ini akan jauh lebih baik dan tentunya mampu menghindarkan perusahaan
dari social cost yang tidak perlu. Social cost seringkali timbul karena public judgement yang
sudah terlanjur dijatuhkan dan seringkali public judgement ini tidak fair bagi perusahaan.
Kedua, Dewan Komisaris merupakan suatu dewan, sehingga akan sangat ideal apabila Dewan
Komisaris mempunyai satu orang juru bicara yang mengatasnamakan seluruh Dewan Komisaris
sehingga Dewan Komisaris memiliki satu suara. Namun demikian bukan berarti tidak
diperkenankan adanya perbedaan pendapat dalam Dewan Komisaris. Perbedaan pendapat
diakomodir dengan jelas dalam dissenting opinion yang harus dicatat dalam risalah rapat. Untuk
itulah perlunya kebijaksanaan (wisdom) dari anggota Dewan Komisaris untuk memilah-milah
informasi apa saja yang merupakan public domain dan informasi yang merupakan private
domain. Hal ini terkait dengan pelaksanaan prinsip GCG yaitu transparansi, karena transparansi

bukan berarti memberikan seluruh informasi perusahaan kepada semua orang, namun harus tepat
sasaran dan memberikan nilai tambah bagi perusahaan 1. Komite Audit tidak memberikan
second judge atas opini Auditor Eksternal, karena opini

sepenuhnya merupakan tanggung jawab Auditor Eksternal.


2. Harus ada upaya untuk membenarkan kesalahan tahun-tahun lalu, karena konsistensi yang
salah tidak boleh dipertahankan. Kesalahan-kesalahan sudah terakumulasi dari tahun-tahun
sebelumnya sehingga terdapat dua alternatif, yaitu di restatement atau dikoreksi. Keputusan
mengenai opsi yang dipilih sepenuhnya tergantung dari Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik
BP2AP), karena kasus PT. Kereta Api sedang diproses disana.

3. Komite Audit tidak berbicara kepada publik, karena esensinya Komite Audit adalah organ
Dewan Komisaris sehingga pendapat dan masukan Komite Audit harus disampaikan kepada
Dewan Komisaris. Apabila Dewan Komisaris tidak setuju dengan Komite Audit namun Komite
Audit tetap pada pendiriannya, Komite Audit dapat mencantumkan pendapatnya pada laporan
komite audit yang terdapat dalam laporan tahunan perusahaan.
4. Komite Audit dan Dewan Komisaris sebaiknya melakukan inisiatif untuk membangun budaya
pengawasan dalam perusahaan melalui proses internalisasi, sehingga pengawasan merupakan
bagian tidak terpisahkan dari setiap organ dan individu dalam organisasi.
5. Komite Audit berperan aktif dalam melakukan risk mapping, mengkoordinasikan seluruh
tahapan proses auditing, mulai dari penunjukan, pembuatan program, mengevaluasi dan
memberikan hasil evaluasi kepada Dewan Komisaris, yang akan mengkomunikasikannya kepada
Direksi

(BP2AP), karena kasus PT. Kereta Api sedang diproses disana.


3. Komite Audit tidak berbicara kepada publik, karena esensinya Komite Audit adalah organ
Dewan Komisaris sehingga pendapat dan masukan Komite Audit harus disampaikan kepada
Dewan Komisaris. Apabila Dewan Komisaris tidak setuju dengan Komite Audit namun Komite
Audit tetap pada pendiriannya, Komite Audit dapat mencantumkan pendapatnya pada laporan
komite audit yang terdapat dalam laporan tahunan perusahaan.
4. Komite Audit dan Dewan Komisaris sebaiknya melakukan inisiatif untuk membangun budaya
pengawasan dalam perusahaan melalui proses internalisasi, sehingga pengawasan merupakan
bagian tidak terpisahkan dari setiap organ dan individu dalam organisasi.
5. Komite Audit berperan aktif dalam melakukan risk mapping, mengkoordinasikan seluruh
tahapan proses auditing, mulai dari penunjukan, pembuatan program, mengevaluasi dan
memberikan hasil evaluasi kepada Dewan Komisaris, yang akan mengkomunikasikannya kepada
Direksi.
6. Manajemen menyusun laporan keuangan secara tepat waktu, akurat dan full disclosure.
7. Komite Audit menjembatani agar semua pihak di perusahaan terlibat aktif dalam pengawasan.
Kunci untuk merekatkan semua pihak dijalankan oleh Auditor Internal yang berkomunikasi
intens dengan Komite Audit.
Pembelajaran menarik dalam aspek public governance pada kasus ini adalah mengenai Bantuan
Pemerintah Yang Belum Ditentukan Statusnya (BPYBDS). Sebagai perwakilan pemegang
saham (yaitu Pemerintah), departemen teknis terkait dan Kementerian BUMN seharusnya tegas
dalam menentukan BPYBDS ini, apakah merupakan penyertaan modal atau hutang. Fakta yang
terjadi saat ini adalah BPYBDS statusnya tetap dibiarkan tidak jelas sampai bertahun-tahun
sehingga nilainya di beberapa BUMN mencapai triliunan rupiah. Hal ini jelas akan berpotensi
menimbulkan masalah di masa yang akan datang, karena akan menyulitkan perusahaan dalam
mengelompokkannya, apakah termasuk aset atau kewajiban (liability).
Terlepas dari kasus audit umum PT. Kereta Api Indonesia, concern yang mengemuka terkait
dengan Auditor Eksternal adalah merebaknya praktek penipuan dan manipulasi yang dilakukan
oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mengatasnamakan Kantor Akuntan Publik
yang ada atau memalsukan/membuat nama Kantor Akuntan Publik yang sebenarnya tidak
terdaftar sebagai akuntan publik Secara prinsip Komite Audit sangat tergantung pada akuntan
publik. Terkait dengan praktek
penipuan tersebut, untuk meningkatkan citra profesi IAI Kompartemen Akuntan Publik telah
membentuk Dewan Review Mutu untuk mereview mutu pekerjaan akuntan publik. Untuk itu
peran aktif pengguna jasa akuntan publik sangat dibutuhkan karena hanya dengan pengaduan
suatu tindakan penipuan atau manipulasi dapat ditindaklanjuti oleh IAI

Anda mungkin juga menyukai