Anda di halaman 1dari 7

Masalah-masalah yang muncul di lingkup puskesmas

Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan bagi masyrakat karena cukup

efektif membantu masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama dengan standar pelayana

kesehatan. Pelayanan kesehatan yang dikenal murah seharusnya menjadikan puskesmas sebagai

tempat pelayanan kesehatan utama bagi masyarakat, namun pada kenyataannya banyak

masyarakat yang lebih memilih pelayanan kesehatan pada dokter praktek swasta atau petugas

kesehatan praktek lainnya. Kondisi ini didasari oleh pemikiran negative dari masyarakat terhadap

pelayanan puskesmas, misalanya anggapan bahwa mutu pelayanan yang terkesan seadanya,

artinya puskesmas tidak cukup memadai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, baik

dilihat dari sarana dan prasarana maupun dari tenaga medis atau anggaran yang digunakan untuk

menunjang kegiatannya sehari-hari. Sehingga banyak sekali pelayanan yang diberikan tidak

dengan standar operating procedur (SOP) yang telah ditetapkan. Misalnya sikap tidak displin

petugas medis pada unit pelayan puskesmas. Adanya perlakuan kurang baik dari petugas

kesehatan misalnya petugas yang dinilai arogan, berdalih persedian obat-obatan terbatas

sehinnga banyak pasien yang membeli obat di apotek luar. Hal tersebut, tentu telah merusak citra

puskesmas sebagai pemberi pelayann kesehatan kepada masyarakat yang dianggap dapat

membantu dalam memberikan pertolongan utama yang sesuai dengan standar pelayanan

kesehatan. Selai itu, tidak berjalannya tugas edukatif di puskesmas yang berkaitan dengan

penyuluhan kesehatan yang seklaigus berkaitan dengan tugas promotif. Kemudian, perawat

puskesmas biasanya aktif dalam peeriksaan kelilng dan puskesmas pembantu. Jelas dalam tugas

tersebut, perawat melakukan pemeriksaan pasien, melakukan pengobatan pada pasien dengan

membuat resep pada pasien. Namun, ketika melakukan tugas tersebut tidak ada supervise dari

siapapun, khususnya penanggung jawab dalam tindakan pengobatan/medis. Tenaga perawat


solah tidak menghargai kegiatan-kegiatan formalnya sendiri, karena mungkin tugas kuratif lebih

penting. Hal ini berdampak kepada ststua kesehatan masyrakat, status gizi, penyakit infeksi

menular, dan mungkin upaya kesehatan ibu dan anak tidak mendapatkan porsi yang sesuai

sehingga berdampak pada kondisi kesehatan masyarakat (Alhada, 2011).

Faktor yang menghambat pelaksanaan program puskesmas

Dalam realitanya pelayanan puskesma sekarang banyak memiliki masalah-masalah yang

diakibatkan oleh faktor-faktor sebagai berikut (Abidin & Tjiptoherijanto, 1993):

1. Faktor internal
a. Pelaksanaan manajemen
Pelaksanaan manajemen merupakan hal yang penting yang menentukan dalam

menvcapai tujuan yang efisien dan efektif dari tujuan puskesmas. Dimana fungsi

manajemen itu untuk planning, organizing, leading, dan controlling. Pada kegiatan

perencanaan setiap tahunnya sering kali tidak berjalan sehingga kegiatan berjalan apa

adanya sesuai kebiasaan yang dianggap baik/sudah biasa. Bahkan terasa sekali bahwa

tidak pernah adanya upaya pengembangan. Serta tidak pernah terpikir untuk

mempersoalkan kendali mutu pelayanan yang disebabkan kurangnya pengetahuan,

peralatan, dan perhatian tersita pada upaya pengobatan. Dapat dikatakan bahwa

kepala puskesmas lebih sibuk pada masalah-masalah manajerial daripada kasus-kasus

klinik. Dapat dikatakn juga bahwa kurangnya pengaturan para kepala puskesmas dan

rendahnya displin/etos kerja staff, menjadikan unsure manajemen ini tidak berjalan.

Tentu hal ini menghambat kinerja puskesmas untuk melayani masyarakat dalam
bidang kesehatan. Misalnya administrasi yang lama, petugas yang sering terlambat

dan pulang cepat.


b. Sarana dan prasarana.
Sarana dan prasarana merupakan suatu aspek terpenting dalam mencapai targer dari

program-program puskesmas. Tetapi apa yang terjadi pada puskesmas di Indonesia

terkesan tidak diperhatikan oleh pemerintahdengan alasan wilayah geografis yang

sulit untuk dijangkau, sehingga sarana dan prasarana yang ada dalam puskesmas

sangat terbatas, baik berupa alat medis maupun obat-obatan. Hal ini terjadi akibat dari

sumber keuangan yang dimiliki puskesmas terbatas sehingga mutu pelayanan

puskesmas pun menjadu rendah karena tidak sesuai dengan standar kesehtan.

Misalnya: petugas atau stok yang ada di puskesmas hanya obat-obat standard an

sisanya jika ingin obat yang lebih bagus lagi harus membeli di apotik.
c. Tenaga medis
Jumlah tenaga medis yang sangat sedikit mengakibatkan ketidakmampuannya

melaksanakan program Dinas Kesehatan. Misalanya program posyandu yang tidak

tepat sasaran. Jumlah tenaga medis sedikit karena intensif dari pemerintah daerah.

Faktor kesejahteraan pegawai memang hal penting karena berkaitan dengan satu-

satunya pendapatan resi mereka adalah gaji. Untuk mencapai penyelenggaraan

pelayanan kesehatan di puskesmas diperlukan pimpinan yang mau memotivasi

pegawainya dengan cara memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan tenaga dokternya untuk

puskesmas yang ada di ibukota provinsi justru dokter ada banyak bahkan ada yang

sampai spesialis. Namun di pedalaman, kabupaten, dan daerah yang jauh dari kota,

dokter sangat langka. Hanya ada pada jam tertentu atau pada hari-hari tertentu. Selain

karena jumlah, dalam manajemen puskesmas diperlukan tenaga medis yang memiliki

keterampilan dan kompetisi yang baik sehingga perkesmas dapat terlaksanakan


dengan optimal. Untuk meningkatkan keterampilan dan kompetisi diperlukan adanya

pelatihan yang berhubungan dengan puskesmas.


d. Sumber keuangan puskesmas
Sumber keungana dari pemerintah pusat maupun daerah yang didapat tidak sebanding

dengan pengeluaran operasional puskesmas sehingga biaya pelayanan puskesmas pun

mahal padahal sama yang terdapat disana tidak sebanding dengan apa yang harus

dibayar sehingga hal ini berdampak kepada masyarakat untuk beralih pergi kerumah

sakit saja yang fasilitasnya lebih baik daripada puskesmas.


Adapun sumber keuangan puskesmas:
1) Pemerintah
Sumber biaya beraslah dari pemrintah kabupaten yang dibedakan atas dana

pembangunan dan daa anggaran rutin. Dana ini diturunkan secra bertahap ke

puskesmas melalui Dinas Kesehatan Kabupaten.


2) Retribusi
Merupakan salah satu sumber pendapatan puskesmas yang mebiayai upaya

kesehtan perorangan yang pemanfaatnnya dan besarnya ditentukan oleh

pemerintah daerah.
3) PT ASKES
Puskesmas menerima dana dari PT ASKES yang peruntukannya sebagai imbal

jasa kepada peserta ASKES yaitu pegawai negeri sipil (PNS).


4) PT JAMSOSTEK
Diperuntukannya sebagai imbal jasa kepada peserta JAMSOSTEK yaitu

pegawai/karyawan yang berada dibawah naungan Dinas Tenaga Kerja.


5) BPP (Badan Penyantunan Puskesmas)
Dengan memberdayakan potensi yang dimiliki masyrakat dalam rangka

meningkatkan derajat kesehtan. Sumber-sumber keungan puskesmas ini ternyata

tidak dapat membiayai operasional dari program-program puskesmas. Hal ini

diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu, birokrasi penyaluran keuangan dari

pemerintah sampai ke puskesmasnya dan rendahnya responsibilitas pengelola

manajemen puskesmas.
e. Psiko-sosial antara tenaga medis dengan penduduk
Perbedaan psikososial antara tenaga medis dan penduduk menimbulkan hambatan

dalam penyelenggaraan program pelayanan kesehatan puskesmas. Tenaga-tenaga

yang diperbantukan dipuskesmas biasabya terdiri dari orang-orang terpelajar dan

bukan berasal dari daerah tersebut, sehingga penduduk menganggapnya sebagai orang

asig. Apalagi jika bahasa yang digunakan adalah bahasa ang tidak dimengerti oleh

penduduk, maka akibatnya penduduk segan untuk datang ke puskesmas.


2. Faktor eksternal
a. Kondisi geografis
Puskesmas umumnya terletak pada daerah plosok atau setingkat dengan kecamatan.

Dimana kecamatan tiap-tiap daerah memiliki kedaan yang berbeda-beda dalam

memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan puskesmas. Memang ada kecamatan-

kecamatan yang hanya dengan satu puskesmas sudah dapat menjangkau seluruh

penduduk. Tetapi ada juga puskesmas yang hanya dapat dijangkau oleh penduduk

yang bermukim di dekatnya karna penduduk yang lain bertempat tinggal jauh dari

puskesmas. Hal ini terkait pada dana yang tidak cukup untuk menggunakan alat-alat

transportasi atau memang tempat tinggalnya terpencil sehingga penduduknya lebih

senang tinggal dirumahnya daripada pergi ke puskesmas.


b. Peran pemerintah daerah
Pemrintah daerah yang terkesan gagap ini terlihat atas pemahaman pembangunan

kesehatan setengah-setengah dari pihak legislative dan eksekutif yang tercermin dari

dijadikannya pelayanan kesehatan sebagai tulang punggung pendapatan daerah.

Padahal upaya menyehatkab masyarakat sejatinya termaksuk dalam hakikat dan

semangat UU No. 22 dan UU No. 25 tahun 1999 yang pada intinya adalah untuk

meningkatkan kualitas playanan public dan mengembangkan demokrasi menuju

peningkatan kesejahteraan rakyat. Disamping itu alokasi anggaran kesehatan berbagai


daerah mencerminkan kurangnya perhatian terhadap investasi hak-hak dasar

pembangunan manusia diantaranya pelayanan kesehatan dasar.


c. Keadaan ekonomi penduduk
Keadaan ekonomi penduduk membrikan andil dalam situasinya mengupayakan

pelayanan kesehatan pada masyrakat. Jumlah warga Negara Indonesia mayoritas

bermata pencarian petani dan nelayan yang mana kondisi ekonominya kurang

memadai. Walaupun ada ketentuan yang emeprbolehkan mereka yang tidak mampu

untuk tidak usah membayar retribusi di puskesmas, namun kenyataannya orang-orang

yang demikian justru enggan datang ke puskesmas.


d. Kondisi pendidikan penduduk
Masalah pendidikan penduduk juga berperan dalam menghambat pelayanan yang

dihadapi oleh puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan pada tingkat pertama,

karena pada umumnya pendidikan masyarakat desa masih rendah, maka pola piker

mereka sangat sederhana dan kurang atau bahkan belum paham akan arti keehatan.

Mereka cenderung mengikuti sifat-sifat tradisional yang sejak dulu dipegang oleh

masyrakat dan lingkungannya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia

memiliki tingkat pendidikan yang rendah yang mana sebagian besar penduduk

Indonesia lulusan SD terutama didaerah plosok-plosok Indonesia, sehingga hal ini

berdampak pada rendahnya partisipasi masyarakat dalam mewujudkan masyarakat

Indonesia sehat terutama pada lembaga puskesmas yang letaknya dekat dengan

masyarakat tersebut. Selain itu juga disebabkan rumah sakit lebih baik sarana dan

prasarananya, padahal puskesmas merupakan pelayanan kesehatan paling dasar dalam

lingkungan masyarakat setempat.


e. Dinas kesehatan
Dinas kesehatan yang berada dipropinsi bekerja pada aspek melayani penyembuhan

penyakit yang sudah diderita oleh penduduk sebagai upaya pencegahan timbulnya
suatu penyakit pada penduduk. Dengan kata lain pelayanan kesehatan puskesmas

lebih banyak ditekankan pada tindakan kuratif, dibandingkan pada tindakan preventif

apalagi promotif. Selain itu Dinas Kesehatan juga kurang melakukan koordinasi dan

pengwasan terhadap pelaksanaan program-program puskesmas yang sudah ada

sehingga tidak terwujudnya pelayanan kesehatan di tingkat basis.


f. Peran dinas kesehatan
Dinas kesehatan kurang melakukan koordinasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan

program-program puskesmas yang sudah ada.

Sumber:

Abidin & Tjiptoherijanto. (1993). Reformasi Administrasi dan PembangunanNasional. Fakultas


Ekonomi Universitas Indonesia.
Alhada. (2011). Keefektifan puskesmas bagi masyarakat Indonesia. Departemen sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga.