Anda di halaman 1dari 23

Pemahaman Mengenai Thalassemia pada Anak

Nur Tasya Ruri

10.2013.259

A3

Email : nurtasyaruri.tatemba@yahoo.co.id

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510. Telephone : (021) 5694-2061, fax : (021)
563-1731
tu.fk@ukrida.ac.id
Pendahulan
Hemoglobin merupakan molekul protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen
dari paru-paru ke jaringan tubuh dan karbondioksida dari jaringan ke paru-paru. Hemoglobin
terdiri dari empat molekul protein (globulin rantai) yang tehubung bersama-sama. Hemoglobin
dewasa normal (Hbg) molekul mengandung rantai 2-globulin akfa dan 2 rantai beta-globulin.
Pada janin bayi, hanya ada beberapa rantai beta dan molekul hemoglobin terdiri dari 2 rantai alfa
dan 2 rantai gamma. Saat bayi tumbuh, rantai gamma secara bertahap diganti dengan rantai beta.
Setiap rantai globulin berisi struktur pusat penting yang disebut molekul heme. Tertanam dalam
molekul heme adalah besi yang mengangkut oksigen dan karbondioksida dalam darah. Besi yang
terkandung dalam hemoglobin juga bertanggung jawab untuk warna merah darah. Hemoglobin
memainkan peran penting dalam mempertahankan sel darah merah. Struktur hemoglobin
abnormal bisa menggangu sel darah merah dan menghambat fungsi dan mengalir melalui
pembulu darah.1akan terdapat kelainan yang disebut thalassemia dimana akan dibahas mengenai
aspek dasar thalassemia, epidemiologi, fenotip, genotip, pathogenesis, dasar molekuler dan
patofisiologi, dengan memahami aspek dasar thalassemia, aspek klinis thalassemia dapat lebih
dihayati, karena aspek genotip thalassemia memberikan gambaran klinis atau fenotip yang
khusus dan beragam.2

1
Anamnesis

Anamnesis adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara. Anamnesis dapat dilakukan
langsung kepada pasien, yang disebut autoanamnesis, atau dilakukan terhadap orang tua, wali,
orang yang dekat dengan pasien, atau sumber lain, disebut sebagai aloanamnesis. Termasuk
didalam aloanamnesis adalah semua keterangan dokter yang merujuk, catatan rekam medik, dan
semua keterangan yang diperoleh selain dari pasiennya sendiri. Oleh karena sebagian besar anak
belum dapat memberikan keterangan secara lengkap dan jelas, maka dalam bidang kesehatan
anak aloanamnesis menduduki tempat yang jauh lebih penting dari pada autanamnesis.3

Dalam keadaan tertentu anamnesis merupakan cara yang tercepat dan satu-satunya kunci menuju
diagnosis, baik dari kasus-kasus dengan latarbelakang faktor biomedis, psikososial, maupun
keduanya.

Yang perlu dilakukan pada anamnesis anak adalah sebagai berikut:

1. IDENTITAS
a. Nama ( +nama Keluarga)
b. Umur/ Usia
o Neonatus/ bayi
o Balita/prasekolah
o Sekolah
o Pubertas
c. Jenis kelamin
d. Nama Orang Tua
e. Alamat
f. Umur/ Pendidikan Orang Tua
g. Agama dan suku bangsa

2. RIWAYAT PENYAKIT
Keluhan utama
Keluhan utama adalah keluhan terpenting yang membawa pasien minta pertolongan
dokter atau petugas kesehatan lainnya. Keluhan utama biasanya dituliskan secara singkat beserta
lamanya.

Pada thalasemia mayor yang gejala klinisnya jelas, gejala tersebut telah terlihat sejak
anak berumur kurang dari 1 tahun. Sedangkan pada thalasemia minor yang gejalanya lebih
ringan, biasanya anak baru datang berobat pada umur sekitar 4 6 tahun.

Keluhan/ gejala yang menyebabkan pasien dibawa berobat: Pucat, perut


membesar, anak tampak lemas.
2
Tidak harus sejalan dengan diagnosis utama

3. RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT


Cerita kronologis, rinci, jelas tentang keadaan pasien sebelum ada keluhan sampai
dibawa berobat
Pengobatan sebelumnya dan hasilnya (macam obat dll)
Tindakan sebelumnya (suntikan, penyinaran)
Reaksi alergi
Perkembangan penyakit gejala sisa/ cacat
Riwayat penyakit pada anggota keluarga, tetangga
Riwayat penyakit lain yang pernah diderita sebelumnya
4. HAL-HAL YANG PERLU TENTANG KELUHAN/ GEJALA:

Lama keluhan
Mendadak, terus-menerus, perlahan-lahan, hilang timbul, sesaat
Keluhan lokal: lokasi, menetap, pindah-pindah, menyebar
Bertambah berat/ berkurang
Yang mendahului keluhan
Pertama kali dirasakan/ pernah sebelumnya
Keluhan yang sama adalah pada anggota keluarga, orang serumah,
sekelilingnya
Upaya yang dilakukan dan hasilnya
Beberapa keluhan yang sering dijumpai:
Pucat
Pucat seringkali terlihat pada pasien anemia. Pasien yang lama tinggal di rumah
sakit, pasien dengan penyakit kronik, dan pasien syok juga tampak pucat
meskipun kadar hemoglobinnya normal. Pucat paling baik dinilai pada telapak
tangan/kaki, kuku, mukosa mulut, dan konjungtiva.3
Perut Membesar
Perlu dicurigai adanya Hepatomegali, Splenomegali, asites, atau kelainan pada
organ lainnya3,4

3
5. RIWAYAT KEHAMILAN
o Kesehatan ibu saat kehamilan
o Pernah sakit panas (rubella dsb)
o Makan obat-obatan
o Tetanus toxoid
6. RIWAYAT KELAHIRAN
o Tanggal lahir
o Tempat lahir
o Ditolong oleh siapa
o Cara kelahiran
o Kehamilan ganda
o Keadaan stlh lahir, pasca lahir, hari-hari 1 kehidupan
o Masa kehamilan
o Berat badan dan panjang badan lahir (apakah sesuai dengan masa kehamilan,
kurang atau besar)

7. RIWAYAT PERTUMBUHAN
o Kurva berat badan dan panjang badan menurut umur.

8. RIWAYAT PERKEMBANGAN
o Patokan perkembangan (milestones)
o Pada bidang: motor kasar, motor halus, sosial-personal, bahasa pada balita
o Prestasi belajar pada anak usia sekolah
o Masa pubertas
9. Riwayat imunisasi
10. Riwayat makanan
11. Riwayat penyakit yang pernah diderita
12. Riwayat Keluarga
Penyakit yang pernah diderita oleh orang tua, saudara kandung
Riwayat kelainan darah pada silsilah keluarga
4
Pemeriksaan
Pemeriksaan Tanda Vital

Nadi

Umur Laju Denyut per Menit


Istirahat Istirahat Aktif (demam)
(bangun) (tidur)
Baru Lahir 100-180 80-160 Sampai 220
1 Minggu- 3 Bulan 100-220 80-200 Sampai 220
3 Bulan 2 Tahun 80-150 70-120 Sampai 200
2-10 Tahun 70-110 60-90 Sampai 200
>10 Tahun 55-90 50-90 Sampai 200

Tekanan darah

Usia Sistolik (mmHg) Diastolok (mmHg)


Neonatus 80 45
6-12 Bulan 90 60
1-5 Tahun 95 65
5-10 Tahun 100 60
10-15 Tahun 115 70

Pernafasan
Dalam keadaan normal, tipe pernapasan bayi adalah abdominal atau
diaphragmatika. Terdapat pernapasan thorakal pada bayi dan anak kecil
menunjukkan adanya kelainan paru, kecuali bila pasien sangat kembung. Makin
besar anak, makin jelas komponen thorakal pada pernapasan, dan pada umur 7-8
komponen thorakal menjadi predominan (thorakoabdominal).3

Umur Rentang Rata-rata waktu tidur


Neonatus 30-60 35

5
1 bulan-1 tahun 30-60 30
1 -2 Tahun 25-50 25
3-4 Tahun 20-30 22
5-9 Tahun 15-30 18
10 Tahun atau > 15-30 15

Suhu
Suhu tubuh diukur dengan mempergunakan termometer badan. Pada umumnya
yang diukur adalah suhu aksilla. Pada bayi dibawah umur 2 tahun suhu dapat pula
diukur di rektum atau lipat paha tetapi jarang dilakukan. Pada anak diatas umur 6
tahun, suhu dapat pula diukur di mulut (suhu oral). Suhu rektum menggambarkan
suhu tubuh pasien (core temperature), yang lebih tinggi dibandingkan suhu di
tempat lain. Semua pengukuran suhu harus diukur selama 3 menit. Pada
umumnya suhu aksila 1oC lebih rendah dari pada suhu rektum, sedang suhu mulut
0,5oC lebih rendah dari pada suhu rektum. Dalam keadaan normal, suhu aksila
adalah antara 36oC-37oC.3
Keadaan Umum : Kesadaran, Status Gizi, BB, TB
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi

Inspeksi dapat dibagi menjadi inspeksi umum dan inspeksi khusus. Pada inspeksi umum
pemeriksa melihat perubahan yang terjadi secara umum, sehingga dapat diperoleh kesan
keadaan umum pasien. Pada inspeksi lokal, dilihat perubahan-perubahan lokal sampai
yang sekecil-kecilnya. Untuk bahan pembanding perlu dilihat pada keadaan sisi lainnya. 3

6
Untuk inspeksi ukuran dan bentuk perut, karena otot abdomen
anak masih tipis dan waktu berdiri anak kecil cenderung
menunjukkan posisi lordosis, maka perut anak kecil tampak
agak membuncit ke depan (pot belly). Perut yang buncit
dapat simetris atau asimetris. Buncit yang simetris terdapat
pada pelbagai keadaan termasuk otot perut yang hipotonik
atau atonik misalnya hipokalemia, hipotiroidea, atau rakitis, penimbunan
lemak dinding perut, dan lain lain. Perut yang asimetris dapat disebabkan oleh otot
perut yang paralitik misalnya poliomyelitis, pembesaran organ intraabdominal,
konstipasi, dan sebagainya.
Palpasi
Yaitu pemeriksaan dengan meraba, menggunakan telapak tangan dan memanfaatkan alat
peraba yang terdapat pada telapak dan jari tangan. Dengan palpasi dapat ditentukan
bentuk, besar, tepi, permukaan serta konsistensi organ. Ukuran organ dapat dinyatakan
dalam satuan sentimeter.
Palpasi Hati:

Yang perlu diketahui adalah ukuran hati, konsistensi, tepi, permukaan, dan terdapatnya
nyeri tekan. Dalam keadaan normal anak Indonesia sampai umur 5-6 tahun hati masih
dapat teraba sampai berukuran 1/3-1-3, dengan tepi tajam, konsistensi kenyal, permukaan
rata, dan tidak terdapat nyeri tekan. Pembesaran hati (hepatomegali) terdapat pada
pelbagai keadaan, diantaranya pada penyakit infeksi (mis. Hepatitis, sepsis), anemia (mis.
Anemia sicle cell, talasemia), gagal jantung kongestif,perikarditis konstriktiva, beberapa
penyakit metabolik, penyumbatan saluran empedu, penyakit keganasan,kista hati, SLE,
hemosiderosis, dan malnutrisi.3
Palpasi Limpa:
Pada neonatus, limpa mungkin masi teraba sampai 1-2 cm dibawah arcus costaoleh
karena proses hematopoesis ekstramedular yang masih berlangsung sampai anak berumur
3 bulan.

Besarnya limpa diukur menurut cara Schuffner. Jarak mximum dari umbilikus ke garis
singgung pada arcus kosta kiri dibagi menjadi 4 bagian yang sama; garis ini diteruskan
kebawah sehingga memotong lipat paha, garis dari pusat ke lipat paha ini pun dibagi
menjadi 4 bagian yang sama. Pembesaran limpa dinyatakan dengan memproyeksikan ke

7
dalam bagian-bagian ini. Limpa yang membesar sampai umbilikus dinyatakan sampai
Schuffner IV, sampai lipat paha Schuffner VIII. 3

Splenomegali terdapat pada pelbagai penyakit infeksi misalnya sepsis, demam tifoid,
malaria, toxoplasmosis. Penyakit darah seperti Thalasemia atau anemia sel sabit juga
menyebabkan limpa membesar.4,5
Perkusi
Tujuan perkusi ialah untuk mengetahui perbedaan suara ketuk, sehingga dapat ditentukan
batas-batas suatu organ misalnya paru, jantung hati, atau mengetahui batas-batas massa
yang abnoemal di rongga abdomen.

Perkusi abdomen terutama ditujukan untuk menentukan adanya cairan bebas (asites) atau
udara dalam rongga abdomen. Perkusi juga dapat dilakukan untuk membantu
menentukan batas hati, serta batas batas massa intraabdominal. Asites pada anak dapat
disebabkan oleh penyakit hati kronik seperti sirosis hepatis, penyakit ginjal seperti
sindrom nefrotik, gagal jantung kongestif, peritonitis tuberkulosa, dan chilous ascites
akibat kebocoran system limfatik abdominal, suatu keadaan yang jarang terjadi.3
Auskultasi
Pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop. Dengan cara auskultasi dapat didengar
suara pernafasan, bunyi dan bising jantung, peristaltic usus, dan aliran darah dalam
pembuluh darah. 3

Working Diagnosa : Thalasemia

Thalasemia adalah penyakit hemoglobinopaty dimana penderita thalassemia memiliki kelainan


pada darahnya yang diwarisi dari orang tuanya dan menyebabkan anemia ringan (mild) sampai
parah (severe). Anemia ini disebabkan berkurangnya hemoglobin dan jumlah sel darah merah.
Hemoglobin adalah protein pada sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh.4,5
Thalassemia berasal dari Yunani Thalasso yang berarti laut dan hemia yang berarti darah.
Pada penderita thalassemia, gen-gen yang mengkode hemoglobin berubah (berbeda dari gen
normal) atau hilang. Atau yang diakibatkan akibat gangguan sintesis hemoglobin akibat mutasi
dalam atau dekat gen globin. Dari mutasi ini dapat menimbulkan dua perubahan dalam rantai
globin yakni:2

8
a. Perubahan struktur rangkaian asam amino rantai globin tertentu, disebut hemoglobinopati
structural
b. Perubahan kecepatan sintesis atau kemampuan produksi rantai globin tertentu disebut
thalassemia.
Hemoglobinopati yang ditemukan secara klinis baik pada anak-anak atau orang dewasa,
disebabkan oleh mutasi gen globin atau . Sedangkan mutasi berat gen globin , , dan dapat
menyebabkan kematian paa awal gestasi. Table 1 menunjukan kelainan-kelainan yang termasuk
kedalam hemoglobinopati.2
Thalassemia diketahui melalui pemeriksaan darah, termasuk complete blood count (CBC) dan
pemeriksaan hemoglobin khusus .
Complete blood count memberikan informasi jumlah Hb dan macam sel-sel darah,
misalnya sel darah merah. Penderita Thalassemia menunjukkan jumlah Hb dan sel darah
merah kurang dari normal. Seorang karier hanya menunjukkan jumlah sel darah merah
sedikit berkurang.
Pemeriksaan hemoglobin khusus
Cooleys anemia pada umumnya didiagnosa pada awal kanak-kanak dari tanda-tanda dan
gejalanya serta anemia parah. Sedang tipe ringan didiagnosa setelah pemeriksaan darah rutin.
Dokter mencurigai adanya thalassemia bila seorang anak menderita anemia dan berasal dari etnis
tertentu yang memiliki resiko tinggi untuk menderita thalassemia.4,5,6
Untuk membedakan anemia kurang besi dan thalassemia, dapat dilakukan tes untuk mengetahui
jumlah Fe dalam darah.
Studi family genetik juga membantu dalam mendiagnosa Thalassemia, termasuk family history
dan melakukan tes darah pada anggota keluarga yang lain.
Prenatal diagnosis dapat mengetahui bayi yang dikandung menderita thalasemia atau tidak serta
derajat keparahannya.

Manifestasi Klinis Thalasemia

9
Secara klinis thalasemia dibagi dalam beberapa tingkatan sesuai beratnya gejala klinis : mayor,
intermedia, dan minor atau troit (pembawa sifat). Batas diantara tingkatan tersebut saling tidak
jelas.4,5

a. Thalasemia mayor

Anemia berat menjadi nyata pada umur


3-6 bulan sampai dengan 2 tahun dengan
klinis anemia berat, bila anak tersebut
tidak diobati dengan hipertransfusi akan
terjadi peningkatan splenomegaly,
icterus perubahan tulang yang nyata
karena rongga sumsum tulang
mengalami ekspansi akibat hyperplasia
eritroid yang ekstrim.2 Pembesaran hati
dan limfa terjadi karena penghancuran sel darah merah berlebihan, haemopoesis ekstra
medular dan kelebihan beban besi. Limpa yang membesar meningkatkan kebutuhan
darah dengan menambah penghancuran sel darah merah dan pemusatan (pooling) dan
dengan menyebabkan pertambahan volume plasma. Perubahan pada tulang karena
hiperaktivitas sum-sum merah berupa detormitas dan fraktur spontan, terutama kasus
yang tidak atau kurang mendapat tranfuse darah. Deformitas tulang, disamping
mengakibatkan muka mongoloid, dapat menyebabkan pertumbuhan berlebihan tulang
frontal dan zigomantion serta maksila. Pertumbuhan gigi biasanya buruk. Gejala lain
yang tampak ialah lemah, pucat, perkembangan fisik tidak sesuai dengan umur, berat
badan kurang, perut membuncit. Jika pasien tidak sering mendapat tranfuse darah kulit
menjadi kelabu serupa dengan besi akibat penimbunan besi dalam jaringan kulit.

Gambaran Radiologi
Pada gambaran radiologi menunjukan gambaran yang khas yaitu hair on end.
Tulang panjang menjadi tipis akibat ekspansi sumsum tulang yang dapat berakibat
fraktur patalogis.2

Gambaran Labarotoris
10
Gadar hb rendah menjadi 3 atau 4g%. eritrosit hipokrom, sangat poikilositosis,
termasuk sel target, sel teardrop, dan eliptosis. Fragmen eritrosit dan
mikrosferiosit terjadi akibat ketidak-seimbangan sintesis rantai globin. Pada darah
tepi ditemukan eritrosit stippled dan banyak sel eritrosit bernukleus. MCV
terentang antara 50-60Fl. Sel darah khas berukuran merah dan sangat tipis. Hitug
retikulosit biasanya 1%-8% dimana nilai ini kurang berkaitan dengan hyperplasia
eritroid dan hemolysis yang terjadi, HbF meningkat HbA2 juga mengalami sedikit
peningkatan, HbA menurun atau tidak ada sama sekali.2

b. Thalasemia Intermedia

Keadaan klinis lebih baik dan gejala lebih ringan daripada thalasemia mayor, anemia
sedang (hemoglobin 7 10,09/dl). Gejala detormitas tulang, hepatomegali dan
spienomegali, eritropoesis ekstra medular dan gambaran kelebihan beban besi nampak
pada masa dewasa. Pada pasien yang tidak mendapatkan transfuse darah dapat
mengalami komplikasi jantung dan endokrin muncul 10-20 tahun kemudian.2

Gambaran Laboratoris
Mirip dengan thalassemia mayor. Elektroforesis Hb dapat menunjukan HbF 2-
100%, HbA2 sampai 7%, dan HbA 0-80% bergantung pada fenotip penderita.2

c. Thalasemia Minor atau troit (pembawa sifat)


Umumnya tidak dijumpai gejala klinis yang khas, ditandai oleh anemia mikrositik,
bentuk heterozigot tetapi tanpa anemia atau anemia ringan. Pada saat dilahirkan Hb
Barts dalam rentang 2-10%. Biasanya pada penderita dewasa tidak ditemukan HbH.2

Diferential Diagnosis :

Anemia Defisiensi Besi


Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi untuk
eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) yang pada akhirnya
11
mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang. ADB ditandai oleh anemia hipokrom
mikrositer dan hasil laboratorium yang menunjukkan cadangan besi kosong. Anemia defisiensi
besi dapat disebabkan oleh karena rendahnya masukan besi, gangguan absorbsi, serta kehilangan
besi akibat perdarahan menahun:6

o Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun dapat berasal dari


a. saluran cerna : akibat dari tukak peptik, pemakaian salisilat atau NSAID, kanker
lambung, kanker kolon, divertikulosis, hemoroid dan infeksi cacing tambang.
b. Saluran kemih : hematuria
c. Saluran napas : hemoptoe.
o Faktor nutrisi : akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan, atau kualitas besi
(bioavailabilitas) besi yang tidak baik (makanan banyak serat, rendah vitamin C, dan
rendah daging).
o Kebutuhan besi meningkat : seperti pada prematuritas.
o Gangguan absorbsi besi : gastrektomi, tropical sprue atau kolitis kronik.
Gejala anemia defisiensi besi dapat digolongkan menjadi 3 golongan besar, yaitu:

Gejala umum: disebut sebagai sindrom anemia dijumpai pada anemia defisiensi besi apabila
kadar hemoglobin turun di bawah 7-8 g/dl. Gejalanya berupa badan lemah, lesu, cepat lelah,
mata berkunang-kunang, serta telinga mendenging. Anemia bersifat simtomatik jika hemoglobin
telah turun di bawah 7 g/dl. Pada pemeriksaan fisik dijumpai pasien yang pucat, terutama pada
konjungtiva dan jaringan di bawah kuku.6

Gejala khasnya adalah koilonychia (yaitu kuku sendok, kuku menjadi rapuh, bergaris-
garis vertikal dan menjadi cekung), atrofi papil lidah (permukaan lidah menjadi licin dan
mengkilap karena papil lidah menghilang), stomatitis angularis/cheilosis (adanya keradangan
pada sudut mulut sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan), disfagia (nyeri
menelan karena kerusakan epitel hipofaring), atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan
akhloridia, pica (keinginan untuk memakan bahan yang tidak lazim). Anemia hipokromik
mikrositer pada hapusan darah tepi, atau MCV <80 fl dan MCHC <31 % dengan salah satu dari
a,b,c,d:

12
- dua dari tiga parameter di bawah ini : besi serum <50 mg/dl , TIBC >350 mg/dl, saturasi
transferin <15%,

- feritin serum <20 mg/l,

- pengecatan sumsum tulang dengan biru prusia menunjukkan cadangan besi (butir-butir
hemosiderin) negatif,

- dengan pemberian sulfas ferosus 3x200 mg/hari (atau preparat besi lain yang setara) selama 4
minggu disertai kenaikkan kadar hemoglobin lebih dari 2 g/dl.

Etiologi

a. Mutasi gen --globin pada kromosom 16 dan kromoson 11.


b. Adanya Pasangan suami istri yang membawa gen/carier thalasemia
c. Adanya mutasi DNA pada gen sehingga produksi rantai atau dari HB berkurang
d. Berkurangnya sintesis HBA dan eritropoesis yang tidak efektif diertai
penghancuran sel-sel eritrosit intramuscular

2.5. Epidemiologi

Di seluruh dunia, 15 juta orang memiliki presentasi klinis dari thalassemia. Fakta ini mendukung
thalassemia sebagai salah satu penyakit turunan yang terbanyak; menyerang hampir semua
golongan etnik dan terdapat pada hampir seluruh negara di dunia.3,4,6
Beberapa tipe thalassemia lebih umum terdapat pada area tertentu di dunia. Talasemia o
ditemukan terutama di Asia Tenggara dan kepulauan Mediterania, talasemia + tersebar
diAfrika, Mediterania, Timor Tengah, India dan Asia Tenggara. Angka kariernya mencapai 40-
80%.Thalassemia memiliki distribusi sama dengan thalassemia
Dengan kekecualian dibeberapa negara, frekuensinya rendah di Afrika, tinggi di mediterania dan
bervariasi di Timor Tengah, India dan Asia Tenggara. HbE yang merupakan varian thalassemia
sangat banyak dijumpai di India, Birma dan beberapa negara Asia Tenggara. Adanya interaksi
HbE dan thalassemia menyebabkan thalassemia HbE sangat tinggi di wilayah ini.Yayasan
Thalassemia Indonesia menyebutkan bahwa setidaknya 100.000 anak lahir didunia dengan
Thalassemia mayor. Di Indonesia sendiri, tidak kurang dari 1.000 anak kecil menderita penyakit
13
ini. Sedang mereka yang tergolong thalassemia trait jumlahnya mencapai sekitar 200.000 orang.
Di RSCM sampai dengan akhir tahun 2003 terdapat 1060 pasien thalassemia mayor yang berobat
jalan di Pusat Thalassemia Departemen Anak FKUI-RSCM yang terdiri dari 52,5 % pasien
thalassemia homozigot, 46,2 % pasien thalassemia HbE, serta thalassemia 1,3%. Sekitar 70-
80 pasien baru, datang tiap tahunnya.

Gambar 1. Daerah Penyebaran Thalassemia


2.6. Patofisiologi

Pada keadaan normal disentesis hemeglobin A (adult : A1) yang terdiri dari dua rantai alfa dan
dua rantai beta. Kadarnya mencapai kurang lebih 95 % dari seluruh hemoglobin. Sisanya terdiri
dari hemoglobin A2 yang mempunyai dua rantai alfa dan dua rantai delta sedangakan kadarnya
tidak lebih dari 2 % pada keadaan normal (lihat table).7

Susunan Hb

Hb A 97% (22)

Hb A2 2-3% (22)

Hb 1% (22)

Hemeglobin F (fetal) setelah lahir fetus senantiasa menurun pada usia 6 bulan mencapai kadar
seperti orang dewasa, yaitu tidak lebih dari 4 % pada keadaan normal. Haemoglobin F terdiri
dari dua rantai alfa dan dua rantai gamma. 6,7,8

14
Pada thalasemia, terjadi gangguan sintesis satu atau lebih rantai globin. Defek genetic
mengakibatkan pengurangan atau peniadaan sintesis satu atau lebih rantai globin HbA. Keadaan
ini dapat mengakibatkan:8

1. Pembentukan tetramer Hb berkurang sehingga terjadi anemia mikrositik hipokrom.


2. Kelebihan rantai globin yang tidak terpakai akan akan bebas akibat tidak adanya
pasangan, bersifat tidak larut (insoluble) dan tidak mampu mengikat oksigen. Akumulasi
rantai globin yang bebas ini akan mengendap pada dinding eritrosit. Keadaan ini
menyebabkan lisis eritrosit intrameduler (eritropoesis tidak efektif)8

Pada thalasemia beta produksi rantai beta terganggu, mengakibatkan kadar Hb menurun
sedangkan produksi Hb A2 dan atau Hb F tidak terganggu, karena tidak memerlukan rantai beta
dan justru memproduksi lebih banyak daripada keadaan normal, mungkin sebagai usaha
kompensasi. Eritropoesis di dalam susunan tulang sangat giat, dapat mencapai lima kali lipat dari
nilai normal, dan juga serupa apabila ada eritropoesisi ekstra medular hati dan limfa. Dekstruksi
eritrosit dan prekusornya dalam susunan tulang (ertropoesis tidak efektif) dan masa hidup
eritrosit memendek dan hemolisis.8,4,5

Secara molekuler thalassemia dibedakan atas thalasemia alfa dan beta, sedangkan secara klinis
dibedakan atas thalasemia mayor dan minor.
Hemoglobin terdiri dari dua jenis rantai protein rantai alfa globin dan rantai beta globin. Jika
masalah ada pada alfa globin dari hemoglobin, hal ini disebut thalassemia alfa. Jika masalah ada
pada beta globin hal ini disebut thalassemia beta. kedua bentuk alfa dan beta mempunyai bentuk
dari ringan atau berat. Bentuk berat dari Beta thalassemia sering disebut anemia CooleyS.3,4,6

A. Thalasemia Alfa
15
Empat gen dilibatkan di dalam membuat globin alfa yang merupakan bagian darihemoglobin,
Dua dari masing-masing orangtua.Thalassemia alfa terjadi dimana satuatau lebih varian gen ini hilang..
Orang dengan hanya satu gen mempengaruhi disebut silent carriers dan tidak punya tanda
penyakit.- Orang dengan dua gen mempengaruhi disebut thalassemia trait atau thalassemia alfa
akan menderita anemia ringan dan kemungkinan menjadi carrier - Orang dengan tiga gen yang
yang dipengaruhi akan menderita anemia sedangsampai anemia berat atau disebut penyakit
hemoglobin H. Bayi dengan empat gen dipengaruhi disebut thalassemia alfa mayor atau
hydropsfetalis. Pada umumnya mati sebelum atau tidak lama sesudah kelahiran.- Jika kedua
orang menderita alfa thalassemia trait ( carriers) memiliki seorang anak,bayi bisa mempunyai
suatu bentuk alfa thalassemia atau bisa sehat.6,8

B. Thalasemia Beta
Anemia Cooleys, atau beta thalassemia mayor jarang terjadi. Suatu survei tahun1993
ditemukan 518 pasien anemia Cooleys di Amerika Serikat. Kebanyakan dari mereka
mempunyai bentuk berat dari penyakit, tetapi mungkin kebanyakan darimereka tidak
terdiagnosis .Jika dua orang tua dengan beta thalassemia trait (carriers) mempunyai
seorang bayi, salah satu dari tiga hal dapat terjadi.
Bayi bisa menerima dua gen normal ( satu dari masing-masing orangtua) dan mempunyai darah normal
( 25 %).
Bayi bisa menerima satu gen normal dan satu varian gen dari orangtua
yangthalassemia trait ( 50 persen).
Bayi bisa menerima dua gen thalassemia ( satu dari masing-masing orangtua) dan
menderita penyakit bentuk sedang sampai berat (25 persen).6

16
Mekanisme Penurunan Thalasemia secara Genetik

1. Jika kedua orang tua tidak menderita Thalassemia trait/bawaan, maka tidak mungkin
mereka menurunkan Thalassemia trait/bawaan atau Thalassemia mayor kepada anak-anak
meraka. Semua anak-anak mereka akan mempunyai darah yang normal.

2. Apabila salah seorang dari orang tua menderita Thalassemia trait/bawaan,sedangkan yang
lainnya tidak maka satu dibanding dua (50%) kemungkinannya bahwa setiap anak-anak
mereka akan menderita Thalassemia trait/bawaan, tetapi tidak seseorang diantara anak-
anak mereka Thalassemia mayor.

17
3. Apabila kedua orang tua menderita Thalassemia trait/bawaan, maka anak-anak mereka
mungkin akan menderita thalassemia trait/bawaan atau mungkin juga memiliki darah yang
normal, atau mereka mungkin menderita Thalassemia mayor.

Penatalaksanaan

Penyakit thalassemia adalah penyakit keturunan jadi tidak dapat disembuhkan.


Terapi yang digunakan pada penderita thalassemia bersifat simptomatik
(mengobati simptom yang muncul). Penanganan secara suportif yang dapat
dilakukan antara lain :3,4,6,7

18
Transfusi darah yang teratur perlu dilakukan untuk mempertahankan hemoglobin
diatas 10g/dl setiap saat. Hal ini biasanya membutuhkan 2-3 unit tiap 4-6
minggu. Darah segar yang telah disaring untuk memisahkan leukosit,
menghasilkan eritrosit dengan ketahanan yang terbaik dan reaksi paling sedikit.
Heosiderosis adalah akibat terapi transfuse jangka panjang yang tidak dapat
dihindari karena setiap 500 ml darah membawa kira-kira 200 mg besi ke
jaringan yang tidak dapat diekskresikan secara
fisiologis.

1. Pemberian parenteral obat pengkhelasi besi (iron chelating


agent) dapat mencegah penimbunan besi akibat transfuse
darah jangka panjang. Deferoksamin membentuk kompleks
besi yang dapat diekskresikan terutama melalui urin, tetapi
hingga sepertiganya juga diekskresikan dalam tinja.
Sayangnya deferoksamin tidak aktif bila diberikan secara
oral. Jika pasien patuh dengan regimen khelasi besi yang intensif ini, harapan hidup
penderita talasemia mayor yang mendapat transfuse darah yang teratur membaik secara
nyata. Deferoksamin memiliki efek samping, khususnya pada anak yang kadar feritin
serumnya relative rendah, berupa tuli nada tinggi, kerusakan retina, kelainan tulang, dan
retardasi pertumbuhan.

2. Vitamin C meningkatkan ekskresi besi yang disebabkan oleh deferoksamin.

3. Asam folat diberikan 2-5 mg/hari untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat jika
asupan diet buruk.

4. Splenektomi, dengan indikasi limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi gerak
penderita, menimbulkanpeningkatan tekanan intraabdominal dan bahaya terjadinya
ruptur 2 serta hipersplenisme ditandai dengan peningkatan kebutuhan transfusi darah atau
kebutuhan suspensi eritrosit (PRC) melebihi 250 ml/kg berat badan dalam satu tahun.
Splenektomi dilakukan pada anak dengan usia lebih dari 2 tahun. Pasca splenektomi,
frekuensi transfuse biasanya berkurang.

19
5. Dua cara yang dapat ditempuh untuk mengobati talasemia adalah transplantasi sumsum
tulang dan teknologi sel punca (stem cell). Transplantasi susum tulang alogenik memberi
prospek kesembuhan yang permanen.(2-4) Tingkat kesuksesannya adalah lebih dari 80%
pada pasien muda yang mendapat khelasi secara baik tanpa disertai adanya fibrosis hati
atau hepatomegali.(kapita selekta hematologi) Sedangkan pada tahun 2009, seorang
penderita talasemia dari India berhasil sembuh setelah memperoleh ekstrak sel punca dari
adiknya yang baru lahir.

6. Koenzim Q10 dan Talasemia

Adanya kerusakan sel darah merah dan zat besi yang menumpuk di dalam tubuh akibat
talasemia, menyebabkan timbulnya aktifasi oksigen atau yang lebih dikenal dengan
radikal bebas. Radikal bebas ini dapat merusak lapisan lemak dan protein pada membram
sel, dan organel sel, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan dan kematian sel.
Biasanya kerusakan ini terjadi di organ-organ vital dalam tubuh seperti hati, pankreas,
jantung dan kelenjar pituitari. Oleh sebab itu penggunaan antioksidan, untuk mengatasi
radikal bebas, sangat diperlukan pada keadaan talasemia.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Siriraj Hospital, Universitas Mahidol , Bangkok,
Thailand, ditemukan bahwa kadar koenzim Q 10 pada penderita talasemia sangat rendah.
Pemberian suplemen koenzim Q 10 pada penderita talasemia terbukti secara signifikan
mampu menurunkan radikal bebas pada penderita talasemia. Oleh sebab itu pemberian
koenzim Q 10 dapat berguna sebagai terapi ajuvan pada penderita talasemia untuk
meningkatkan kualitas hidup.

Komplikasi

Akibat anemia yang lain dan berat, sering terjadi gagal jantung. Transfuse darah yang berulang-
ulang dari proses hemolesis menyebabkan kadar besi dalam darah tinggi\, sehingga tertimbun
dalam berbagai jaringan tubuh seperti hepar, limpa, kulit, jantung, dan lain-lain. Hal ini dapat

20
mengakibatkan gangguan fungsi. Limpa yang basar mudah ruptur akibat trauma yang ringan,
kematian terutama disebabkan oleh infeksi dan gagal jantung.7,8

Preventif

a. Pencegahan Primer

Penyuluhan sebelum perkawinan (marriage conseling) untuk mencegah perkawinan


diantara pasien thalasemia agar tidak mendapatkan keturunan yang homozigot. Perkawinan
antara dua heterozigot (carrier) menghasilkan : 25 % thalasemia (homozigot), 30 % carrier
(hetrozigot), dan 25 % normal.8

b. Pencegahan Sekunder

Pencegahan kelahiran bagi homozigot dari pasangan suami isteri dengan thalasemia
heterozigot salah satu jalan keluar adalah inseminasi buatan dengan sperma berasal dari donor
yang bebas dan thalasemia troit. Kelahiran kasus homozigot terhindar, tetapi 50 % dari anak
yang lahir adalah carrier, sedangkan 50 % lainnya normal. Diagnosa prenatal melalui
pemeriksaan DNA cairan amnion merupakan suatu kemajuan dan digunakan untuk mendiagnosa
kasus homozigot intrauterin sehingga dapat dipertimbangkan tindakan abortus provokotus.8

Prognosis

Prognosis bergantung pada tipe dan tingkat keparahan dari thalassemia. Seperti dijelaskan
sebelumnya, kondisi klinis penderita thalassemia sangat bervariasi dari ringan bahkan
asimtomatik hingga berat dan mengancam jiwa, tergantung pula pada terapi dan komplikasi
yang terj adi. Ba yi dengan thalassemia ma yor keban yakan lahir mati atau lahir
hidup dan meninggal dalam beberapa jam. Anak dengan thalassemia dengan transfuse darah
biasanya hanya bertahan sampai usia 20 tahun, biasanya meninggal karena penimbunan besi.7,8

Thalassemia adalah gangguan pembuatan hemoglobin yang diturunkan. Thalassemia


ditemukan tersebar di seluruh ras di Mediterania, Timur Tengah, India sampai AsiaTenggara.

21
Thalassemia memiliki dua tipe utama berdasarkan rantai globin yang hilang pada hemoglobin
individu yaitu Thalassemia- dan thalassemia.
Thalassemia diturunkan berdasarkan hukum Mendel, resesif atau ko-dominan. Heterozigot
biasanya tanpa gejala, sedangkan homozigot atau gabungan heterozigot gejalanya lebih berat dari
thalassemia dan . Gejala klinis biasa berupa tanda-tanda anemia seperti pucat, lemah, letih,
lesu, tidak aktif beraktifitas atau jarang bermain dengan teman seusianya, sesak nafas, kurang
konsentrasi, sering pula disertai dengan kesulitan makan, gagal tumbuh, infeksi berulangdan
perubahan tulang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan facies Cooley, conjungtiva anemis, bentuk
tulang yang abnormal, pembesaran lien dan atau hepar.3,4,6,7

22
Daftar Pustaka

1. Aiman. Talasemia. Oktober 2010. Diunduh dari http://id.shvoong.com/medicine-and-


health/1683408-talasemia/, diunduh 24 april 2016.
2. Editor: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setiohadi B, Syam AF. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. ed: 6 jilid 2. Jakarta; Interna Publishing.2014.p.2623
3. Matondang C S, Wahidiyat I, Sastroasmoro S. Diagnosis Fisik pada Anak. Edisi kedua.
Jakarta: CV Sagung Seto; 2003.
4. Hoffbrand AV, Pettit JE, Moss PAH. Kapita Selekta Hematologi. Edisi 4. Jakarta; EGC.
2005.p.66-82
5. Behrman RE, Kliegman RM, arvin Am. Ilmu kesehatan anak Nelson. Dalam : A.Samik
Wahab, editor. Edisi ke-15. Jakarta: EGC; 2000.p. 1708-12.
6. Cooleys Anemia Foundation. About Thalassemia. Diunduh dari http://www.thalassemia.org.
23 April 2016

7. Diunduh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Talasemia, 23 april 2016


8. Thalasemia. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/47005309/Thalassemi . 23 April
2016

23