Anda di halaman 1dari 16
MEMAHAMI KONSEP TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG SEHAT (GOOD CORPORATE GOVERNANCE) Oleh Dr. Ir. A. H. Rahadian, M.Si.' ABSTRACT Good Corporate Governance (GCG) pada intinya suatu sistem, proses, dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders), dalam arti sempit hubungan antara pemegang sahaim, dewan komisaris, dan dewan direksi demi tercapainya tujuan organisasi. ksanakan Corporate Governance, manfaat yang bisa dipetik antara lain: meningkatkan kinerja perusahaan; mengembalikan kepercayaan investor; dan pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan. Prinsip-prinsip GCG yaitu perlakuan yang setara (equitable treatment atau fairness), transparansi (eransparency), akuntabilitas (accountability), dan _responsibilitas (responsibility) Model board structures perusahaan-perusahaan di Inggris, Amerika, dan negara yang dipengaruhi Anglo-Saxon, pada umumnya berbasis single-board system. Perusahaan- perusahaan di Indonesia umumnya berbasis two-tier board system atau two-board system seperti kebanyakan perusahaan di Eropa. Secara konseptual model two-tier system dengan tegas memisahkan keanggotaan dewan, yakni antara keanggotaan Dewan Komisaris sebagai pengawas dan Dewan Direksi sebagai eksekutif korporasi. Banyak negara mengembangkan perangkat governance-nya dengan melakukan penyesuaian/modifikasi dalam mengadopsi teori, model, dan sistemnya guna membangun praktik-praktik GCG yang baik. Keywords: Good Corporate Governance (GCG) Adalah dosen Prograra Pascasarjana $2 STIAMI Jakarta, pada tahun 2003 ~ 2008 ‘menjabat Komisaris Utama PT. Perkebunan Nusantara XI] (Persero) dan pada tahun 2000-2007 menjabat Komisaris Utama PT. Duta Karya Swasta (Penerbit Tabloid Sinar Tani), 75 PENDAHULUAN Pada kunjungan kerja Presiden SBY ke PT. Pertamina tanggal 12 Februari 2009, Presiden menegaskan agar BUMN penyumbang devisa terbesar tersebut bisa menjadi perusahaan yang baik sesuai prinsi-prinsip good corporate governance dan tidak hanya bersih juga tesponship serta kapabel, schingga dapat menjadi perusahaan kelas dunia. Perhatian dunia terhadap good corporate governance mulai meningkat sejak negara-negara Asia dilanda krisis moneter pada tahun 1997 dan sejak kejatuhan perusahaan-perusahaan raksasa dunia pada awal dekade 2000an. Hasil analisis yang dilakukan banyak organisasi internasional dan regulator pemerintah menemukan sebab ‘tama tragedi ekonomi/bisnis di atas adalah lemahnya corporate governance di banyak sekali perusahaan, termasuk perusahaan-perusahaan publik. Kata governance diambil dari kata Latin gubernance yang artinya mengarahkan dan mengendalikan. Dalam ilmu manajemen bisinis kata tersebut diadaptasi menjadi corporate governance dan diartikan sebagai upaya mengarahkan (directing) dan mengendalikan (control) kegiatan organisasi, termasuk perusahaan. Sebagai reaksi terhadap tragedi ckonomi/bisnis tersebut di atas berbagai organisasi intemasional, termasuk the Organization for Economic Development (CECD) dan pemerintah berbagai negara menciptakan pedoman standard corporate governance yang dapat diterima dunia bisnis secara internasional dan nasional. Memasuki abad ke-21 isu pentingnya penerapan praktik-praktik corporate governance di seluruh sektor semakin meningkat seiring dengan perlunya peningkatan daya saing dalam menghadapi pasar global. Dari sudut pandang institusi bisnis di Indonesia, sebagai suatu sub sistem dari sistem perekonomian secara menyeluruh, penerapan praktik- praktik corporate governance secara baik diharapkan dapat memacu pemulihan ekonomi. Dengan dasar demikian menjadi sangat penting untuk memahami berbagai aspek penerapan konsep corporate governance di Indonesia, terutama aplikasinya pada institusi bisnis. Era globalisasi dan pasar terbuka (termasuk libefalisasi pasar finansic! dan modal) menuntut dikembangkannya sistem dan paradigma baru dalam pengelolaan bisnis dan industri pasar uang. Dunia bisnis tidak 76 dapat lagi mengandalkan proteksi, subsidi dan kedekatan dengan pemerintah yang hanya berujung pada Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN}. Buruknya kinerja dan rendahnya daya saing perusahaan akan berakibat pada rendahnya nilai perusahaan di mata calon investor atau permodalan. Modal asing sulit mengalir ke berbagai industri di dalam negeri apabila kondisi politik, keamanan, dan penegakan hukum masih menjadi masalah karena tidak memberikan jaminan bagi para calon investor untuk mewujudkan kepentingan dan investasinya. Tidak ada jalan lain bagi perusahan-perusahaan publik maupun perusahaan terbuka di pasar modal harus mulai melihat good corporate governance bukan sebagai aksesoris belaka tetapi menjadi suatu sistem nilai dan best practice yang sangat fundamental bagi peningkatan nilai perusahaan dan menuntut pendekatan holistik dalam penerapan. KORPORASI DAN CORPORATE GOVERNANCE Konsep Dengan perkembangan isu corporate governance yang semula hanya bersifat marginal pada saat ini telah menjadi isu central. Untuk itu dibutuhkan pemahaman yang memadai tentang corporate governance. Merupakan hal yang sia-sia bahkan berbahaya bila hanya mengikuti trend atau kepatuhan terhadap regulasi tanpa memahami makna dan manfaat Good Corporate Governance (GCG). Praktek dan sistem yang baik (GCG) hanya akan menjadi retorika, slogan atau aksesoris yang tidak berguna. Perkembangan konsep corporate governance sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum isu corporate governance menjadi kosakata yang paling hangat di kalangan para eksekutif bisnis. Oleh sebab itu, pembicaraan tentang corporate governance tidak dapat dipisahkan dengan kosep dan sistem corporate itu sendiri, korporasi sebagaimana definisi Hunger dan Wheelen (2000), dikemukakan: A coporate is a mechanism established tc allow different parties to contribute capital, expertise, and labor, for their mutual benefit. (Korporasi adalah mekanisme yang dibapgun agar berbagai pihak dapat memberikan. kontribusi berupa modal, keahlian (expertise), dan tenaga, demi manfaat bersama). Definisi di atas secara implisit menyinggung mengenai pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder) dengan terbentuknya suatu korporasi: para investor (shareholders) yang memberi kontribusi berupa kapital yang adakalanya diperoleh dari para kreditor (perbankan, misalnya), para manajer (management) yang memberi kontribusi berupa keahlian, dan para karyawan dengan kontribusi tenaga. Lebih lanjut tentang para pemegang saham Hunger dan Wheelen menjelaskan bahwa para pemegang saham atau para investor turut serta dalam keuntungan perusahaan tanpa harus bertanggung jawab atas operasional perusahaan. Para pemegang saham ini akan menunjuk Dewan Komisaris yang memiliki kewajiban hukum (legal duty) untuk mewakili para pemegang saham dan melindungi kepentingan mereka. Sedangkan tentang manajemen dikatakan bahwa mereka adalah para profesional yang: menjalankan perusahaan tanpa harus bertanggung Jawa secara pribadi atas penyediaan dana korporasi. Biasanya para professional tersebut bukan pemilik, bahkan sebagian jajaran manajemen puncak perusahaan masa kini hanya memiliki saham nominal dalam perusahaan yang mereka kelola Konsep pemisahan antara kepemilikan (ownership) para pemegang saham dan pengendalian (control) para manajemen dalam korporasi telah menjadi kajian sejak tahun 1930-an. Permasalahan yang kemudian timbul dari pemisahan ini adalah apakah Dewan Komisaris maupun Dewan Direksi benar-benar bertindak bagi kepentingan para pemegang saham? Akan hal ini argumen yang dikembangkan oleh para penganjur teori agensi (agency theory) di tahun 1970-an mengatakan bahwa Dewan Komisaris (yakni yang mewakili para pemegang saham) secara rasional akan bertindak bagi kepentingan mereka, dan bukan dengan bijaksana dan adil bertindak bagi kepentingan para pemegang saham. Oleh sebab itu, diperlukan suatu sistem checks and balances untuk mencegah potensi penyalahgunaan kekuasaan. (Tricker, 1994). 78 Definisi Corporate Governance Forum for Corporate Governance In Indonesia (FCGI, 2001) mendefinisikan corporate governance sebagai .» Seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan intemal dan ekstemnal lairnya yang berkaitan dengan hak,hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan. Tujuan utama Corporate Governance ialah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders). Corporate governance dapat didefinisikan. dalam perspektif yang luas (perspetif stakeholder) seperti definisi yang dirumuskan oleh FCGI di atas atau dalam perspektif sempit (perspektif shareholder), seperti diungkapkan oleh Donaldson and Davis yang mendefinisikan corporate governance sebagai “the structure whereby managers at the organizational apex are controlled through the board of directors, its associated structures, executives incentive, and other schemes of monitoring and bonding." Istilah "corporate governance" itu sendiri untuk pertama kali diperkenalkan oleh Cadbury Committee di tahun 1992 yang menggunakan istilah tersebut dalam laporan mereka yang kemudian dikenal sebagai Cadbury Report Laporan ini dipandang sebagai titik balik (turning point) yang sangat menentukan bagi praktik corporate governance di seluruh dunia. Cadbury Report (1992) mendefinisikan corporate governance sebagai: ...the system by which organisations are directed and controlled (Suatu sistem yang berfungsi untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi.) Definisi di atas hanyalah salah satu dari bermacam-macam definisi corporate governance. Sebagaimana terlihat pada ilustrasi di bawah ini: Corporate Governance dalam Perspektif Pemerintah Kreditor (regulator) CG dalam ft) arti luas Pelanggan CG dalam Pemusok ce ) j] arti sempit Manajemen Cooa) [*}__ korporasi [ Manse Manajer | Manajer |] Manajer Kelompok lain Masyarakat SSS Oe Karyawan Sumber: FCGI (2002) RUPS : Rapat umum Pemegang Saham BoC: Board of Commissioners Bod: Board of Director Definisi lain dari Cadbury Committee memandang corporate governance sebagai: A set of rules that define the relationship between shareholders, managers, creditors, the government, employees and other internal and external stakehclders in respect to their rights and responsibilities. (Seperangkat aturan yang merumuskan hubungan antara para pemegang saham, manajer, kreditor, pemerintah, karyawan, dan pihak-pikak yang berkepentingan Jainnya baik internal maupun eksternal sehubungan dengan hak-hak dan tanggung jawab mereka.) a 80 Organization for Economic Cooperation and Development (OECD, 2004) mendefinisikan corporate governance sebagai: "The structure through which shareholders, directors, managers set of the board objective of the company, the means of attaining those objectives and monitoring performance." (Struktur yang olehnya para pemegang saham, komisaris, dan manajer menyusun tujuan-tujuan perusahaan dan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut dan mengawasi Kinerja.) Melengkapi definisi di atas kami merasa perlu memberikan beberapa definisi lain dari kalangan akademisi yakni definisi yang diberikan Monks dan Minow (1995): The term "corporate governance" refers to the relationship among these three groups in determining the direction and performance of the corporation (Istilah “corporate governance" merujuk pada ‘aubungan antara ketiga kelompok ini yaitu shareholders, board of directors, dan top management - penulis dalam menentukan arah dan kinerja korporasi.) Dan Wahyudi Prakarsa dari Universitas Indonesia (2000): ".. mekanisme administratif yang mengatur hubungan- hubungan antara manajemen perusahaan, komisaris, direksi, pemegang saham dan kelompok-kelompok kepentingan (stakeholders) yang lain. Hubungan-hubungan ini dimanifestasikan dalam bentuk berbagai aturan permainan dan sistem insentif sebagai framework yang diperlukan untuk menentukan tujuan-tujuan perusahaan dan cara-cara Pencapaian tujuan-tujuan serta pemantauan kinerja yang dihasilkan." Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat kita simpulkan balwa corporate governance pada intinya adalah mengenai suatu sistem, proses, dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders) terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang saham, dewan kémisaris, dan dewan direksi demi tercapainya tujuan organisasi. Corporate governance dimaksudkan untuk mengatur hubungan-hubungan ini dan mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan (mistakes) signifikan dalam strategi korporasi dan untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki dengan segera LATAR BELAKANG, TUJUAN, MANFAAT DAN PRINSIP-PRINSIP. CORPORATE GOVERNANCE Tujuan Corporate Governance Good Corporate Governance mempunyai lima mazam tujuan utama. Kelima tujuan tersebut adalah (OECD, 2004): 1) Melindungi hak dan kepentingan pemegang saham; 2) Melindungi hak dan kepentingan para anggauta the stakeholders non pemegang saham; 3) Meningkatkan nilai perusahaan dan para pemegang saham; Peningkatan nilai perusahaan antara lain ditandai oleh peningkatan nilai modal sendiri. Modal sendiri adalah sumber dana perusahaan yang dimiliki para pemegang saham, terdiri dari modal yang disetor dan laba yang ditahan. Semakin besar jumlah modal sendiri dari tahun ke tahun semakin tinggi pula nilai perusahaan; Meningkatkan efektivitas kerja Dewan Direksi atau Board of Directors dan manajemen perusahaan; meningkatkan efektivitas kerja Dewan Pengurus dan manajemen perusahaan merupakan tujuan lain Good Corporate Governance dalam perusahaan dengan good corporate governance, Chairman dan para anggauta Board of Directors secara kolektif maupun individual mempunyai pengetahuan yang dalam tentang bidang usaha perusahaannya. Dengan demikian mereka dapat membimbing anggauta manajemen perusahaan secara lebih efektif: Meningkatkan mutu hubungan Board of directors dengan manajemen senior perusahaan + 5 Manfaat Penerapan Corporate Governance Dengan melaksanakan Corporate Governance, ada beberapa manfaat yang bisa dipetik antara lain (FCGI, 2001): 1) Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, nf€ningkatkan efisiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepada Stakeholders; 82 2) Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah dan tidak rigid (Karena faktor kepercayaan) yang pada akhimnya akan meningkatkan Corporate Value; Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia; Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan Shareholders’s Value dan deviden. Khusus bagi BUMN akan dapat membantu penerirnaan bagi APBN terutama dari hasil privatisasi. 4) Prinsip-prinsip Good Corporate Governance Dalam konteks tumbuhnya kesadaran akan arti penting Corporate Governance ini, Organization for Economie Corporation and Development (OECD) telah mengembangkan seperangkat prinsip — prinsip Good Corporate Governance dan dapat diterapkan secara luwes (fleksibel) sesuai dengan keadaan, budaya, dan tradisi di masing-masing negara, seperti terlihat pada gambar prinsip-prinsip dasar GCG. Prinsip-prinsip ini diharapkan menjadi titik rajukan bagi para regulator (pemerintah) dalam membangun framework bagi penerapan corporate governance. Bagi para pelaku usaha dan pasar modal prinsip-prinsip ini dapat menjadi guidance atau pedoman dalam mengelaborasi best practices bagi peningkatan nilai (valuation) dan keberlangsungan (sustainability) perusahaan. Prinsip-prinsip OECD (2004) mencakup lima bidang utama: hak-hak para pemegang saham (shareholders) dan perlindungannya; peran para karyawan dan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) lainnya; pengungkapan (disclosure) yang akurat dan tepat waktu serta transparansi sehubungan dengan struktur dan operasi korporasi; tanggung jawab dewan (maksudnya Dewan Komisaris maupun Direksi) terhadap perusahaan, pemegang saham, dan pihak-pihak vang berkepentingan lainnya. Atau secara ringkas prinsip-prinsip tersebut dapat dirangkum sebagai: perlakuan yang setara (equitable treatment atau _fairness), transparansi (transparency), akuntabilitas (accountability), dan responsibilitas (responsibility) Prinsip — Prinsip Dasar GCG Be Ses fairness Transparency Accountability “Se |. Prinsip-prinsip di atas terkait langsung dengan permasalahan yang dihadapi dunia usaha pada umummya yakni masalah korupsi dan ketidakjujuran (corruption and bribery), tanggung jawab sosial dan etika korporasi (corporate social responsibility and ethics), tata kelola sektor Publik (public sector governance), dan reformasi aukum (regulatory reform) Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI 2001) sebuah organisasi profesional non-pemerintah (NGO), menjabarkan prinsip- prinsip di atas sebagai berikut: 1). Fairness (Kewajaran) Ferlakuan yang sarna terhadap para pemegang saham, terutama kepada pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing, dengan keterbukaan informasi yng penting serta melarang pembagian untuk pihak sendiri dan perdagangan saham oleh orang, dalam (insider trading), Prinsip ini diwujudkan antara lain dengan membuat peraturan Korporasi yang melindungi kepentingan minoritas: membuat pedoman perilaku perusahaan (corporate conduct) dan atau kebijakan-kebijakan yang melindungi korporasi terhadap perbuatan buruk orang dalam, self-dealing, dan konflik kepentingan; menctapkan peran dan tanggung jawab Dewan Komisaris, Direksi, dan Komite, termasuk sistem remunerasi; menyajikan informasi secara wajar/pengungkapan penuh material apa*pun; mengedepankan Equal Job Opportunity 84 2. Disclosure dan Transparency (Transparansi) Hak-hak para pemegang saham, yang harus diberi irformasi dengan benar dan tepat pada waktunya mengenai perusahaan, dapat ‘kut berperan serta dalam pengambilan keputusan mengenai perubahan—- perubahan yang mendasar atas perusahaan, dan turut memperoleh bagian dari keuntungan perusahaan Pengungkapan yang akurat dan tepat pada waktunya serta transparansi mengenai semua hal yang penting bagi kinerja perusahaan, kepemilikan, serta para pemegang kepentingan (stakeholders). Prinsip ini diwujudkan antara lain dengan mengembangkan sistem akuntansi (accounting system) yang betbasiskan standar akuntansi dan best practices yang menjamin adanya laporan keuangan dan pengungkapan yang berkualitas mengembangkan Information Technology (IT) dan Management Information System (MIS) untuk merjamin adanya pengukutan kinerja yang memadai dan proses pengambilan keputusan yang efektif oleh Dewan Komisaris dan Direksi mengembangkan enterprise risk management yang memastikan bahwa semua risiko signifikan telah diidentifikasi, diukur, dan dapat dikelola pada tingkat toleransi yang jelas; merigumumkan jabatan yang kosong secara terbuka. 3, Accountability (Akuntabilitas) Tanggung jawab manajemen melalui pengawasan yang efektif (effective oversight) berdasarkan balance of power antara manajer, pemegang saham, Dewan Komisaris, dan auditor. Merupakan bentuk pertanggungjawaban manajemen kepada perusahaan dan para pemegang saham. Prinsip ini diwujudkan amara lain dengan menyiapkan Laporan Keuangan (Financial Statement) pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat mengembangkan Komite Audit dan Risiko untuk mendukung fungsi pengawasan oleh Dewan Komisaris menigembangkan dan merumuskan kembali peran dan fungsi Internal Audit sebagai mitra bisnis strategik berdasarkan best practices (bukan sekedar audit). Tranformasi menjadi "Risk-based" Audit; merjaga manajemen kontrak yang bertanggung jawab dan merangani pertentangan (dispute) penegakase hukum (sistem penghargaan dan sanksi); menggunakan External Auditor yang mernenuhi syarat (berbasis profesionalisme). 85 4, Responsibility (Responsibilitas) Peranan pemegang saham harus diakui sebagaimana ditetapkan oleh hukum dan kerja sama yang aktif antara perusahaan serta para pemegang kepentingan dalam menciptakan kekayaan, lapangan kerja, dan perusahan yang sehat dari aspek keuangan. Ini merupakan tanggung jawab korporasi sebagai anggota masyarakat_ yang tunduk kepada hukum dan bertindak dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan masyarakat sekitarnya. Prinsip ini diwujudkan dengan kesadaran bahwa tanggung jawab merupakan konsekuensi logis dari adanya wewenang menyadari akan adanya tanggung jawab sosialj menghindari penyalahgunaan kekuasaan menjadi profesional dan menjunjung etika memelihara lingkungan bisnis yang sehat. MODEL-MODEL GOVERNANCE (SINGLE-BOARD SYSTEM DAN TWO-BOARD SYSTEM) Model board structures perusahaan-perusahaan di Inggris dan Amerika serta negara-negara lain yang dipengaruhi langsung oleh model Anglo- Saxon, pada umumnya berbasis single-board system di mana kearggotaan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi tidak dipisahkan. Dalam model ini anggota Dewan Kkomisaris juga merangkap anggota Dewan Direksi dan kedua dewan ini dirujuk sebagai board of directors. Perusahaan-perusahaan di Indonesia pada umumnya berbasis fvo-tier board system atau two-board system seperti kebanyakan perusahaan di Eropa. Secara konseptual model tmo-tier system dengan tegas memisahkan keanggotaan dewan, yakni antara keanggotaan Dewan Komisaris sebagai pengawas dan Dewan Direksi sebagai cksekutif korporasi. Pada umumya undang-undang perusahaan di seluruh dunia yang menganut model single-board system tidak membedakan berbagai gaya (styles) dan sebutan (titles) direktur. Semua direktur, yang telah ditunjuk secara sah oleh para pemegang saham, bertanggung jawab atas governance korporasi. Bahkan, dalam banyak hal, siapa pun yang menyebut dirinya direktur harus bertanggung jawab Namun, dalam praktik, kita perlu membedakan anttra para direktur yang menempati posisi manajemen dan para komisaris yang mengawasi (oversight) mereka. Berkaitan dengan hal itu, two-tier board system 86 memiliki beberapa kelebihan dibandinigkan single-board system: (Tricker 1994). 1 N ww Pengaruh pemegang saham dalam two-tier system dapat dijalankan melalui dewan komisaris schingga tidak harus mengganggu (interference) aktivitas normal manajemen, dar» memungkinkan pemegang saham meningkatkan pengaruhnya tanpa harus menunggu terjadinya skandal publik atau ketidaksepakatan publik. Dalam hal ini persepsi manajemen mengenai pengaruh pemegang saham tidak harus menunggu saat-saat krisis. Sebaliknya, two-tier system memungkinkan tekanan terhadap manajemen untuk menghasilkan kinerja yang baik. Dewan direksi (top management) dapat mempertahankan tingkat independensi yang lebih besar pada aras operasional. Pemisahan antara para amatir dan para profesional dalam pengelolaan, atau lebih halusnya antara dewan komisaris dan clewan eksckutif, merupakan hal yang cukup penting. Ini sulit dilakukan dalam model single-board system, karena dalam model ini seseorang dapat menjalankan salah satu atau kedua peran itu sekaligus. Dewan direksi, karena pengaruh pemegang saham yang kuat melalui dewan komisaris, harus memperhatikan dengan serius pandangan para pemegang saham. Memungkinkan masuknya lebih banyak komisaris indeperiden, tanpa harus mengganggu kerja normal perusahaan. Tidak mungkin bagi sescorang untuk berperan sebagai presiden komisaris sekaligus presiden direktur sebuah perusahaan, dan kedua posisi dalam kedua dewan tersebut tidak saling mendominasi sebagaimana terjadi dalam one-tier system di mana chairman (Presiden Komisaris) dan Chief Executive Officer (CEO) mungkin dijabat oleh satu orang. Perusahaan-perusahaan Amerika telah memperkenalkan istilah- istilah yang membingungkan seperti "Chairman and Chief Executive Officer" atau "President and Chief Executive Officer." Two-board system sangat memungkinkan penghapusan konsep yang menggabungkan chairman dan managing director seperti itu, sehingga memungkinkan chairman (Presiden Komisaris) melakukan tugas pengawasan (oversight) dan manajemen harus benar-benar memperhatikan suara dewan komisaris sebelum membuat keputusan sebagaimana direkomendasikan oleh Cadbury Code of Conduct maupun prinsip-prinsip international best practices yang dikembangkan OECD. 6. Karakter yang cenderung tidak shat pada perusahaan keluarga dapat dicegah bahkan ketika perusahaan dihadapkan pada masalah ketidakmampuan manajerial generasi keluarga yang mengelola. Permasalahan akut dalam perusahaan keluarga yang sedang bertumbuh adalah ketika suatu generasi keluarga benar-benar tidak kompeten untuk menjalankan bisnis pada skala yang telah dicapai Perusahaan. Dengan struktur two-board system bahaya ini dapat dihindari karena Dewan Direksi yang profesional dapat menutupi kelemahan tersebut 7. Two-board system merupakan mekanisme yang telatif sederhana dalam menjawab kebutuhan publik akan pengendalian seraya tetap mempertahankan independensi manajemen, Governance Model —<— Penyesuaia Model Anglo f}->| Y a Model Keterangan: Saxon Continental = Se RUPS=Ra pat at Umum J Bus RUPS Pernegang ae tenes — Commissioner ff} CBO = Chep saree Executive Director Officer Management Single Board System Two Board Syatem Masyarakat Eropa (Uni Eropa) semula mengusulkan agar two-tier board ini diterapkan perusahaan-perusahaan di seluruh negara anggota, Namun usul ini ditolak oleh terutama oleh Inggris dan Amerika Serikat serta perusahaan-perusahaan mereka di Eropa. Pemikiran yang kemudian. banyak diterima adalah menerapkan fvo-tier board system maupun singie-board system dengan catatan lebih banyak melibatkan outside directors (atau semacam kornisaris independen). Pilihan lainnya adalah singie-board system dengan badan perwakilan karyawan (staturor employee council). 88 PENUTUP Corporate governance merupakan konsep lama yang dipopulerkan kembali untuk mengantisipasi perubahan lir gkungan kosporasi moderen. Dari perkembangannya dapat dipahami bahwa konsepsi governance lebih tnengarah pada konsep divergensi dengan prinsip terbuka untuk menerima perbedaan model dan sistem governance yang dianut oleh korporasi di lintas negara. Namun demikian, prinsip-prinsip dasar yang dianut terlepas dari model dan sistem yang dianut tetap sama untuk setiap institusi_ (publik maupun swasta, atau BUMN) yang menerapkannya. Perbedaan terdapat di dalam aplikasi sistem governance Karena sangat dipengaruhi oleh berbagai hal yang bersifat konteks spesifik. Dengan tujuan akhir untuk meningkatkan kinerja korporasi serta mengurangi konflik kepentingan antara berbagai pihak yang berhubungan dengan korporasi tersebut, penerapan governance secara lebih baik diharapkan dapat berpengaruh pada kondisi perekonomian secara umum. Banyak negara mengembangkan perangkat governance-nya dengan melakukan penyesuaian/modifikasi dalam mengadopsi tori, model, dan sistem governance-nya guna membangun praktik-praktik governance yang baik. Hal ini disesuaikan dengan kondisi spesifik negara tersebut, contohnya negara Malaysia. Kita membutuhkan praktik~praktik governance yang dapat memberikan solusi terhadap kendala-kendala yang dimiliki perusabaan beik terhadap kinerja maupun_ korflik kepentingan dalam mengelola perusahaan secara profesional, transparan, bertanggung jawab, dan efisien serta efektif. Apabila kita tidak secara cerdas mengadopsi berbagai teori, model, dan sistem governance serta mekanisme governance yang banyak diterapkan diberbazai negara maka efektifitas corporate governance akan memiliki dampak yang sangat sedikit. Daya saing negara yang kuat dan industri yang tinggi di pasar global yang selalu kita dambakan akan sulit kita wujudkan di masa yang akan datang 89 DAFTAR PUSTAKA A. G. Monks dan N. Monow. 1995. Corporate Governance, Balkwell Business, Cambridge, Mass. him. 8 - 32. Cadbury Report, 1992, The Report of the Cadbury Committee on Financial Aspects of Corporate Governance: The Code of Best Practise, Cadbury-Schweppes. Donaldson, L & J. H. Davis, (= ) Boards and Company Performance: Research Chanllenges the Conventional Wisdom (Washington DC). FCGI, 2001, Corporate Governance, Jakarta: Publikasi FCGI. Hunger & Wheelen, 2000. Stretegic Management, 7 edition, Addison Wesley Longman, 2 Hlm. 26 OECD, 2004, Principles of Corporate Governance, Paris, France, OFCD Publication Service. Tricker, 1994. International Corporate Governance: Text, Reading and Cases, Singapore: Prentice Hall and Simon Schuter Asia, Pte., Ltd., him. 5. Wahyudi Prakarsa. 2000, “Corporate Governance: Suatu Keniscayaan”, dalam Jurnal Reformasi Ekonomi, Vol 1. No. 2, him. 20. 90