Anda di halaman 1dari 31

1

LAPORAN KASUS
EPULIS GRANULOMATOSA PADA LIDAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Ilmu Kedokteran Klinik
di RSUD Blambangan Banyuwangi

Oleh:
Aminatus Sakdiyah 091611101014
Ardian Pradana 101611101064
Ade ivin Defrigunawan 101611101065
Dio Ariestanto Leksono 101611101067
Putri Kharisma Dewi 101611101090
Arini Tri Kusumawati 101611101091

Pembimbing:
drg. M. Ilyas Erdiansyah

ILMU KEDOKTERAN KLINIK


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2016

BAB 1. PENDAHULUAN
2
3

BAB 2. RIWAYAT KASUS

2.1. Identitas Pasien


Nama : An. IN
Usia : 13 thn
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku Bangsa : WNI
Alamat : Krajan 2/1 Bengkak Wongsorejo, Banyuwangi
No. RM : 131538

2.2. Anamnesa
Keluhan utama
Benjolan pada lidah sebelah kiri terasa tidak nyaman

Riwayat penyakit
Pasien datang ke bagian Poli Gigi RSUD Blambangan mengeluhkan benjolan pada
lidah sebelak kiri. Pasien mengeluhkan tidak nyaman saat makan. Pasien mulai
menyadari benjolan ini kurang lebih sejak 4 tahun yang lalu. Awalnya benjolan ini
kecil, tapi kemudian terasa agak membesar tapi dalam waktu yang lama dan tidak
cepat. Tidak ada rasa sakit sama sekali pada benjolan tersebut. Lidah masih dapat
merasakan semua cita rasa dan dapat bergerak normal. Pasien tidak pernah mengobati
benjolan tersebut sebelumnya. Sebelumnya pasien tidak pernah melakukan perawatan
gigi dan mulut. Pasien tidak dicurigai memiliki riwayat penyakit sistemik atau alergi.
Orang tua pasien tidak pernah memiliki benjolan seperti pasien.

2.3. Pemeriksaan
2.3.1. Pemeriksaan Fisik
Kondisi fisik : Baik
Vital Sign :
- Tekanan darah : 120/80 mmHg
- Nadi : 88x/menit
- Respirasi : 20x/menit
4

2.3.2. Pemeriksaan Klinis


Ekstra oral
Wajah: simetris
Kelenjar limfe:
Submandibula sinister : tidak teraba, tidak sakit
Submandibula dexter : tidak teraba, tidak sakit
Submental : tidak teraba, tidak sakit
Intra Oral
Pada tepi lidah sisi kiri terdapat penonjolan dengan bentuk oval, warna merah
keunguan, konsistensi kenyal, batas tegas, tidak dapat digerakkan dan fluktuasi
negatif, nyeri tekan negatif.

Gambar 1.1 Gambaran intra oral benjolan pada lidah sisi kiri
2.3.3. Pemeriksaan Penunjang
a. Urin Lengkap
pH : 7,0
Berat Jenis : 1.020
Albumin :-
Reduksi Sewaktu / Nuchler / PP :-/-/-
Urobilin :-
Bilirubin :-
Sediment leukosit / eritrosit / epithil / kristal : 1 2 LPB / 1 2 LPB / 1+ LPK / -
b. Faal Hati
SGOT : 23,2 unit
SGPT : 37,4 unit
c. Kadar Gula
Glukosa acak : 119 mg%
5

d. Hematologi

Gambar 1.2 Hasil Pemeriksaan Hematologi

2.4. Kesimpulan
Berdasarkan anamnesis didapatkan pasien mengeluhkan benjolan pada lidah
yang dirasakan sejak 4 tahun yang lalu, membesar tetapi tidak cepat, tidak pernah
terasa sakit. Pemeriksaan klinis menunjukkan terdapat penonjolan pada tepi lidah kiri
berwarna merah keunguan, bentuk oval, konsistensi kenyal, fluktuasi negatif, dan
nyeri tekan negatif.

2.5. Diagnosa
Diagnosa kasus tersebut adalah epulis granulomatosa.

2.6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada kasus ini adalah ekstirpasi.
6

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Lidah


2.1.1. Anatomi Lidah
Lidah adalah salah satu dari panca indera yang berfungsi sebagai alat pengecap.
Lidah terletak didasar mulut dan melekat pada tulang hioid. Lidah berwarna merah
dan permukaannnya tidak rata. Korpus lidah mengandung otot intrinsik dan ekstrinsik
dan merupakan otot terkuat didalam tubuh (Irianto, 2012).
Otot intrinsik berfungsi untuk melakukan semua gerakan lidah, otot ekstrinsik
berfungsi mengaitkan lidah pada bagian-bagian sekitarnya serta membantu
melakukan gerakan menekan makanan pada langit-langit dan gigi, kemudian
mendorongnya masuk ke faring (Sufitni 2008).
Pada permukaan atas atau dorsal lidah terdapat alur berbentuk V yaitu sulkus
terminalis, ujung Vnya mengarah ke posterior. Sulkus ini membagi lidah menjadi
bagian anterior dan bagian posterior. Sebagian besar lidah terdiri atas serat serat otot
rangka diliputi lendir dan kelenjar. Serat otot lidah yang intrinsik, yaitu yang terdapat
didalam lidah dan ekstrinsik yaitu yang lainnya yang berorigo diluar terutama pada
mandibula, tulang hioid, dan berinsersi pada lidah. Diantara serat-serat otot, terdapat
kelenjar. Kelenjar utama tersebut bersifat seperti mukosa terdapat pada pangkal lidah,
dengan saluran keluar bermuara di belakang sulkus terminalis. Kelenjar serosa
terletak pada badan lidah, dengan saluran keluar bermuara di depan sulkus,
sedangkan asini campur terletak di ujung lidah, dengan salurannya bermuara pada
permukaan bawah lidah (Don W 2002).
Membran mukosa pada permukaan bawah lidah sifatnya licin dan di bawahnya
terdapat tunika submukosa. Pada permukaan atas terlihat banyak tonjolan-tonjolan
kecil disebut papila lidah. Tonjolantonjolan kecil pada permukaan lidah (papilla)
terdapat sel-sel reseptor (tunas pengecap). Terdapat lebih dari 10.000 tunas pengecap
pada lidah manusia, sel-sel ini tumbuh seminggu setelah itu digantikan oleh sel-sel
7

yang baru. Sel-sel inilah yang bisa membedakan rasa manis asam, pahit, dan asin
(Evelyn 2009).

Gambar 2.1. Otot intrinsik dan ektrinsik lidah

Taste buds mengandung sel reseptor kecap (gustatoris), terletak di dalam epitel
mulut (berlapis gepeng), terutama pada papilla, tetapi dapat juga dijumpai di tempat
lain dalam rongga mulut, palatum, dan epiglotis (Roland 1996). Taste buds memiliki
beberapa tipe reseptor rasa, setiap tipe ini akan mendeteksi satu jenis rasa dari 5 rasa
dasar yaitu, asam, asin, manis, pahit, dan umami. Seluruh rasa ini dapat dirasakan
oleh seluruh permukaan lidah, tetapi satu jenis rasa akan lebih sensitif pada daerah
tertentu (Jacewicz 2008).
Taste buds merupakan sel epitel yang telah dimodifikasi, beberapa diantaranya
disebut sebagai sel sustentakular dan lainnya disebut sebagai sel reseptor. Sel-sel
reseptor ini terus-menerus digantikan melalui pembelahan mitosis dari sel-sel epitel
di sekitarnya dengan waktu paruh sekitar sepuluh hari (Guyton 2009). Taste buds
terdapat tiga jenis sel epitel: 1) Sel penyokong atau sel sustentakular, terletak
terutama di bagian perifer taste buds; 2) Sel pengecap neuroepitel yang biasanya
8

hanya berjumlah 10 sampai 14 sel pada tiap taste buds; 3) Sel basal letaknya di
perifer dekat lamina basal, dianggap sebagai sel induk (stem) sel jenis lainnya.
Pergantian sel di dalam taste buds berlangsung relatif cepat, masa hidup pada
umumnya 10 hari, dan sel sustentakular mungkin merupakan suatu tahap perantara
dalam perkembangan diferensiasi sel sensorik. Rangsang kimiawi sampai pada sel
sensoris dan diteruskan oleh neurotransmiter ke ujung akhir saraf yang berbentuk
putik dan terletak diantara sel-sel. Akhir akhir ini telah dapat diperlihatkan bahwa
satu kuncup kecap (satu papilla) dapat merasakan keempat macam rasa dasar;
tentunya tak ada perbedaan struktural yang ditemukan untuk menjelaskan perbedaan
dalam rasa dasar tersebut. Saraf dari taste buds yang letaknya pada dua pertiga bagian
depan lidah berjalan di dalam chorda thympani, cabang saraf fasialis; sedangkan dari
taste buds pada sepertiga bagian belakang lidah berjalan dalam saraf glosofaringues
yang membawa rasa kecap dari epiglotis dan faring bawah berjalan dalam saraf vagus
(C.Roland 1996).

Gambar 2.2. Taste bud pada lidah


9

Vaskularisasi lidah berasal dari arteri carotis interna, arteri ini bercabang
menjadi arteri sublingualis yang akan memberi vaskularisasi pada musculus
mylohyoid, glandula sublingualis, dan mukosa membran mulut menuju vena jugularis
interna. Terdapat tiga vena yang menjadi percabangan dari nervus hypoglossi yaitu
vena lingualis profundus, vena lingualis dorsalis dan vena comitantens. Vena lingualis
inilah yang mendampingi arteri lingualis menuju vena lingualis intern (Irianto 2012).
Tergantung lokasinya pada lidah, taste buds dapat disarafi oleh akson sensoris
oleh nervus kranialis fasialis (N.VII), glossofaringeus (N.IX), atau vagus (N.X).
Pensarafan sensoris umum lidah, anterior dari sulkus terminalis melalui cabang
lingual dari mandibularis (N.V), sementara sensasi gustatoris daerah ini, kecuali
untuk papilla sirkumvalata, adalah melalui cabang chorda thympani dari nervus
fasialis (N.VII), yang menyertai nervus lingualis. Taste buds pada papilla
sirkumvalata dan bagian faringeal lidah disarafi cabang lingual dari nervus
glossopharingeus (N.XI). Taste buds pada epiglottis dan bagian paling posterior lidah
disarafi oleh cabang laringeal superior dari nervus vagus (N.X) (Don W 2002, Evelyn
2009).

2.1.2. Fisiologi Lidah


Terdapat 4 tipe rasa dasar pada lidah yaitu asam, asin, manis, dan pahit. Seluruh
rasa ini dapat dirasakan oleh seluruh permukaan lidah. Rasa manis dan rasa asin
dirasakan pada ujung lidah, asam pada samping lidah dan pahit pada daerah sekitar
papilla sirkumvalata. Keempat rasa ini dikenal dengan istilah sensasi rasa primer
(Don W 2002). Selain itu, ada rasa kelima yang telah teridentifikasi yakni umami
yang dominan ditemukan pada glutamat (Marya, 2002).
a. Rasa Manis
Gula atau pemanis buatan tidak langsung masuk sel rasa, tetapi memicu dulu
perubahan di dalam sel. Senyawa tersebut akan terikat reseptor pada permukaan sel
rasa yang digandeng dengan molekul G-protein. Dinamakan G-protein karena untuk
aktivitasnya protein ini diatur oleh Guanin Trifosfat (Irianto 2012). Beberapa jenis zat
10

kimia yang menyebabkan rasa ini meliputi gula, glikol, alkohol, aldehida, keton,
amida, ester, asam amino, asam sulfonat, asam halogen, dan garam anorganik dari
timah hitam dan berilium. Hampir semua zat yang menyebabkan rasa manis
merupakan zat kimia organik, satu-satunya zat anorganik yang menimbulkan rasa
manis merupakan garam-garam tertentu dari timah hitam dan berillium (Guyton
2009).

b. Rasa Asam
Ion hidrogen dalam larutan dapat menyebabkan sensasi rasa asam. Ion ini
bereaksi terhadap sel rasa dalam tiga cara yaitu, dapat masuk ke dalam sel secara
langsung, memblokir kanal ion kalium pada mikrovili, dan mengikat kanal bukaan di
mikrovili, sehingga ion-ion positif dapat masuk dalam sel rasa. Muatan positif ini
akan berakumulasi dan mendorong terjadinya depolarisasi yang dapat melepaskan
neurotransmiter dan menyalurkan sinyal ke otak (Irianto 2012).

c. Rasa Asin
Garam dapur atau Natrium Klorida (NaCl) adalah satu contoh dari garam yang
dapat menimbulkan sensasi rasa asin. Ion natrium masuk melalui kanal ion pada
mikrovili bagian apikal, atau lewat kanal pada basolateral (sisi) sel rasa, hal inilah
yang akan membangunkan sel rasa tersebut (Irianto 2012). Kualitas rasa asin sedikit
berbeda dari satu garam dengan garam lainnya karena beberapa jenis garam juga
mengeluarkan rasa lain di samping rasa asin (Guyton 2009).

d. Rasa Pahit
Seperti rasa manis, rasa pahit tidak disebabkan suatu jenis agen kimia.
Pembagian kelas zat yang sering menyebabkan rasa pahit adalah zat organik rantai
panjang yang berisi nitrogen dan alkaloid yang terdiri dari banyak obat yang
digunakan dalam kedokteran seperti kuinin, kafein, strikmin, dan nikotin (Irianto
2012), misalnya kuinin, zat ini bereaksi melalui G-protein bersama reseptor dan
second messenger. Namun, hanya second messenger yang mampu mendorong
11

pelepasan ion kalsium dari retikulum endoplasma. Depolarisasi pun terjadi akibat
terakumulasinya ion kalsium, dan terjadi juga pelepasan neurotransmiter (Guyton
2009).

e. Rasa Umami
Umami berasal dari bahasa Jepang yang berarti Meaty atau Savory (enak,
sedap, lezat). Rasa umani ditimbulkan oleh glutamat, yaitu asam amino yang banyak
terdapat pada protein daging dan ikan. Zat ini bereaksi melalui G-protein bersama
reseptor atau second messenger. Namun, belum diketahui tahapan antara second
messenger dan pelepasan neurotransmiter (Irianto 2012).

Gambar 2.3. Letak reseptor rasa pada lidah

Terdapat 4 jenis papilla pada manusia, yaitu:


a. Papilla filiformis
Terdapat di atas seluruh permukaan lidah, umumnya tersusun dalam barisan
barisan sejajar dengan sulkus terminalis (Jacob 2010). Papilla filiformis bentuknya
kurang lebih seperti kerucut, langsing dan tingginya 2-3 mm. Bagian tengahnya
terdiri atas jaringan ikat lamina propria. Jaringan ikat ini juga membentuk papila
12

sekunder. Epitel yang meliputi papila sebagian mengalami pertandukan yang cukup
keras sifat nya (C.Roland 1996).

b. Papilla fungifornis
Letaknya tersebar di antara deretan papilla filiformis, dan jumlahnya makin
banyak ke arah ujung lidah, bentuknya seperti jamur dengan tangkai pendek, dan
bagian atas yang lebih lebar. Jaringan ikat di tengah-tengah papilla membentuk
papilla sekunder sedangkan epitel di atasnya tipis sehingga pleksus pembuluh darah
di dalam lamina propria menyebabkannya berwarna merah atau merah muda. Taste
buds terdapat di dalam epitel (C.Roland 1996). Papila ini diinervasi oleh nervus facial
(N.VII) (Jacob 2010). Sebuah penelitian di China mengungkapkan bahwa adanya
hubungan antara kepadatan papilla fungiform dengan pemeriksaan rasa manis
menggunakan larutan sukrosa pada pria dewasa muda. Penelitian ini menyimpulkan
bahwa anatomi papilla sangat erat hubungannya dengan ambang sensitivitas rasa
khususnya pada papilla fungiformis (Zhang Gen-H et al. 2008).

c. Papilla sirkumvalata
Pada manusia jumlahnya hanya 10 sampai 14, dan letaknya di sepajang sulkus
terminalis. Papilla ini sensitif terhadap rasa asam dan pahit di 1/3 posterior lidah yang
diinervasi oleh nervus glossopharyngeal (IX) (Jacob 2010). Tiap papilla menonjol
sedikit di atas permukaan dan dibatasi oleh suatu parit melingkar banyak taste buds
pada epitel dinding lateralnya. Saluran keluar kelenjar serosa (kelejar ebner)
bermuara pada dasar alur itu. Kelenjarnya sendiri terletak pada lapisan yang lebih
dalam. Sekret serosa cair kelenjar tersebur membersihkan parit dari sisa bahan
makanan, sehingga memungkinkan penerimaan rangsang kecap baru oleh taste buds
(C.Roland 1996).

d. Pipilla foliata
13

Terletak pada bagian samping dan belakang lidah, berbentuk lipatan-lipatan


mirip daun, dengan taste buds di dalam epitel lekukan yang terdapat di lipatan. Sama
seperti pada papilla sirkumvalata, kelenjar-kelenjar serosa bermuara pada dasar alur.
Sensitivitas papila ini lebih dominan terhadap rasa asam yang diinervasi oleh nervus
glossopharyngeal (IX) (Jacob 2010). Semua papilla mengandung banyak saraf
sensorik untuk rasa sentuhan dan taste buds terdapat pada semua papilla kecuali
papilla filiformis (C.Roland 1996).

Gambar 2.4. Letak papilla pada lidah

2.2. Epulis
2.2.1. Definisi Epulis
Epulis adalah suatu tumor yang bersifat jinak non neoplastik. Epulis ini dapat
bersifat fibrous, hiperplastik, maupun granulatif (Manovijay dkk., 2015). Epulis
merupakan berbagai pertumbuhan dan penonjolan pada mukosa rongga mulut, baik
yang merupakan neoplasma sejati maupun yang hanya disebabkan oleh hiperplasia
akibat iritasi atau yang merupakan jaringan granulasi akibat radang.
14

Epulis dapat dibedakan berdasarkan etiologi terjadinya antara lain :


1. Epulis Kongenital
2. Epulis Fibromatosa
3. Epulis Granulomatosa
4. Epulis Fissuratum
5. Epulis Gravidarum
6. Epulis Angiomatosa
7. Epulis Gigantoselulare

1. Epulis Kongenital/Tumor Sel Granular/Tumor Neumans


Epulis Kongenital biasa disebut Congenital Granular Cell Tumor (CGCT).
Epulis ini terdapat pada mukosa bayi yang baru lahir. Etiologinya secara jelas belum
diketahui namun diduga berasal dari sel epitel bakal benih gigi (odontogenik). Epulis
ini terlihat seperti benjolan yang muncul pada alveolar ridge dalam rongga mulut. Hal
ini menghambat pernafasan dan asupan makanan bayi. Secara klinis massa
peduncullated kadang multilobuler dan berwarna merah muda lunak. Konsistensinya
lunak dan biasanya dapat mengecil secara spontan seiring berjalannya waktu
sehingga terapi dengan jalan eksisi dilakukan hanya jika dibutuhkan. Predileksi
terbanyak ditemukan pada maksila region anterior.

2. Epulis Fibromatosa
Epulis ini terjadi pada rongga mulut terutama pada tepi gingiva dan juga sering
terjadi pada pipi dan lidah. Etiologinya berasal dari iritasi kronis yang menyebabkan
reaksi hiperplasia dari jaringan fibrous. Tanda klinis yang terlihat antara lain
bertangkai, dapat pula tidak, warna merah muda agak pucat, konsistensi kenyal dan
padat, batas tegas, padat dan kokoh. Epulis ini tidak mudah berdarah dan tidak
menimbulkan rasa sakit.

3. Epulis Granulomatosa
Epulis granulomatosa adalah tumor jinak berupa hiperplasia jaringan. Faktor
penyebab lesi ini yaitu trauma dan iritasi kronik yang terkadang sulit diidentifikasi.
15

Daerah trauma akan terisi oleh gumpalan darah yang berisi sel-sel pertahanan,
neutrofil, dan makrofag yang berfungsi untuk fagositosis. Fungsi makrofag untuk
menghilangkan debris nekrotik dan akumulasi eksudat. Jika terjadi trauma terus
menerus, tahap awal proses penyembuhan akan terhambat. Komponen seluler yang
terdiri sel inflamasi akan berubah menjadi jaringan hiperplastik dan berlanjut menjadi
jaringan granulasi. Epulis jenis ini berupa benjolan massa irregular, warna
kemerahan/kebiruan, bertangkai, konsistensi lunak atau lembek sehingga mudah
berdarah. Epulis ini memiliki differential diagnosis dengan tanda klinis yang mirip
dengan granuloma pyogenik.

4. Epulis Fissuratum
Epulis ini tampak sebagai lipatan jaringan fibrous satu atau lebih pada
vestibulum yang tidak disertai tanda keradangan, tidak menimbulkan rasa sakit
kecuali bila terjadi infeksi sekunder, fibrous hyperplasia, proliferasi epitel atau ulkus.
Iritasi kronis yang diakibatkan oleh pemakaian gigi tiruan yang tidak adekuat dalam
jangka waktu yang lama dalam hal ini akibat basis/sayap protesa. Epulis fissuratum
merupakan lesi reaktif hiperplastik yang konsistensinya kenyal. Penampakan
histologis dapat bervariasi dan frekuensinya kebanyakan tampaknya fibrous
hyperplasia. Apabila terdapat reaksi radang maka akan muncul sel fibroblas dan
proliferasi pembuluh darah. Mukosa glandula selalu muncul pada specimen dan akan
menimbulkan sialadenitis kronis. Kadang glandula akan memiliki hubungan dengan
lymphoid hyperplasia dan papillary ductal hyperplasia. Epithelium yang atropi atau
hiperplastik dan kadang memunculkan pseudoepitheliomatous hyperplasia. Ulserasi
dapat muncul pada dasar lipatan. Metaplasia kondroid atau tulang dapat berkembang
seiring munculnya benjolan.

5. Epulis Gravidarum (Epulis Pregnancy)


16

Epulis gravidarum adalah reaksi jaringan granulomatik yang berkembang pada


gusi selama kehamilan. Tumor ini adalah lesi proliferatif jinak pada jaringan lunak
mulut dengan angka kejadian berkisar dari 0,2 hingga 5% dari ibu hamil.
Epulis tipe ini berkembang dengan cepat, dan ada kemungkinan berulang pada
kehamilan berikutnya. Tumor kehamilan ini biasanya muncul pada trimester pertama
kehamilan namun ada pasien yang melaporkan kejadian ini pada trimester kedua
kehamilannya. Perkembangannya cepat seiring dengan peningkatan hormone
estrogen dan progesteron pada saat kehamilan. Hormon progesteron pengaruhnya
lebih besar terhadap proses inflamasi/keradangan. Pembesaran gingival akan
mengalami penurunan pada kehamilan bulan ke-9 dan beberapa hari setelah
melahirkan. Keadaannya akan kembali normal seperti sebelum hamil.
Epulis gravidarum tampak sebagai tonjolan pada gingiva dengan warna yang
bervariasi mulai dari merah muda, merah tua hingga papula yang berwarna keunguan,
paling sering dijumpai pada gingiva anterior rahang atas. Umumnya pasien tidak
mengeluhkan rasa sakit namun lesi ini mudah berdarah saat pengunyahan atau
penyikatan gigi. Pada umumnya lesi ini berukuran diameter tidak lebih dari 2 cm
namun pada beberapa kasus dilaporkan ukuran lesi yang jauh lebih besar sehingga
membuat bibir pasien sulit dikatupkan. Factor penyebab epulis gravidarum dapat
dibagi menjadi dua, yakni penyebab primer dan penyebab sekunder.
a. Penyebab primer
Iritasi lokal seperti plak merupakan penyebab primer epulis gravidarum sama
halnya seperti pada ibu yang tidak hamil, tetapi perubahan hormonal yang menyertai
kehamilan dapat memperberat reaksi keradangan pada gusi oleh iritasi lokal. Iritasi
lokal tersebut adalah kalkulus/plak yang telah mengalami pengapuran, sisa-sisa
makanan, tambalan kurang baik, gigi tiruan yang kurang baik.
b. Penyebab sekunder
Kehamilan merupakan keadaan fisiologis yang menyebabkan perubahan
keseimbangan hormonal, terutama perubahan hormon estrogen dan progesterone.
Peningkatan konsentrasi hormon estrogen dan progesterone pada masa kehamilan
17

mempunyai efek bervariasi pada jaringan, diantaranya pelebaran pembuluh darah


yang mengakibatkan bertambahnya aliran darah sehingga gingiva menjadi lebih
merah, bengkak, dan mudah mengalami perdarahan.

6. Epulis Angiomatosa (Epulis Telangiecticum)


Merupakan respon granulasi yang berlebihan yang merupakan reaksi endotel
(proliferasi) dan etiologinya disebabkan oleh trauma atau tidak diketahui namun
diduga karena hemangioma gingiva. Dikatakan respon berlebihan karena
pertumbuhan cepat, berbatas jelas, konsistensi lunak seperti spons, merah cerah dan
mudah berdarah. Epulis angiomatosa seringkali di differential diagnosis dengan
epulis granulomatosa dan epulis gravidarum.

7. Epulis Gigantoselulare (Peripheral Giant Cell Granuloma)


Epulis gigantoselulare terjadi akibat trauma pada jaringan lunak gingiva yang
dapat diakibatkan oleh ekstraksi gigi, iritasi denture, maupun infeksi kronik yang
banyak terjadi pada wanita dan anak-anak. Secara klinis epulis ini dapat mengenai
jaringan periodontal atau pada daerah edentulous ridge yang dengan ukuran yang
bervariasi diameternya antara 0,5 1,5 bahkan lebih besar dan dapat juga mengalami
ulserasi Dungkul ini bertangkai lebar dengan warna merah tua hingga ungu,
konsistensinya lunak dan mudah berdarah sehingga kadang disertai rasa sakit. Pada
pemeriksaan histopatologis diperoleh sel fibroblast yang sedang mengalami
proliferasi dan membentuk stroma yang berisi banyak sekali sel-sel raksasa benda
asing.

Secara histopatologis, epulis dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar


sebagai berikut.
1. Gambaran hiperplasi granulomatosa pada epulis gravidarum, epulis angiomatosa,
epulis telangiecticum, pyogenik granuloma, hemangioma kapiler, dan
hemangioma cavernosum.
18

2. Gambaran hiperplasi fibrous pada epulis fibromatosa, epulis fissuratum, lesi


fibroepitelial.
3. Hiperplasi giant cell

2.2.2. Etiologi Epulis


Faktor penyebab lesi ini yaitu trauma dan iritasi kronik yang terkadang sulit
diidentifikasi, namun kenyataannya iritan seperti kalkulus, tambalan yang
overhanging, dan material makanan yang lokasinya dekat dengan margin gingival
harus dihilangkan sebelum lesi ini dieksisi (Greenberg, 2003).

2.2.3. Patogenensis Epulis


Penyembuhan akibat trauma biasanya berlangsung dengan cepat jika jaringan
lunak sekitarnya mengalami minimal trauma. Pada saat proses penyembuhan akan
berlangsung proses regenerasi epitel dan jaringan ikat digantikan oleh jaringan
fibrovascular (Gnepp, 2004).
Awalnya, daerah trauma akan terisi oleh gumpalan darah yang berisi sel-sel
pertahanan, neutrofil, dan makrofag yang berfungsi untuk fagositosis. Fungsi
makrofag untuk menghilangkan debris nekrotik dan akumulasi eksudat. Jika terjadi
trauma terus menerus, tahap awal proses penyembuhan akan terhambat. Komponen
seluler yang terdiri sel inflamasi akan berubah menjadi jaringan hiperplastik dan
berlanjut menjadi jaringan granulasi (Gnepp, 2004).

2.3. Epulis Granulomatosa

Epulis granulomatosa adalah pertumbuhan berlebih jaringan hiperplastik yang


bersifat jinak yang timbul akibat trauma atau iritasi kronik. Setelah terjadi trauma,
akan terjadi proses regenerasi jaringan yang diikuti dengan penggantian jaringan ikat
19

fibrovascular. Pertumbuhan epulis granulomatosa sama seperti tumor (Manovijay


dkk., 2015)

Epulis jenis ini terjadi dari suatu reaksi jaringan granulomatik karena iritasi
kronik, misalnya oklusi gigi yang terus menerus, sisa akar, post ekstraksi gigi, tepi
karies, tumpatan yang overhanging atau klamer yang tajam. Gambaran klinisnya
merupakan suatu dungkul bertangkai dengan warna kemerahan dan mudah berdarah,
dengan permukaan granuler, konsistensi lunak, dan nyeri tekan dan kadang-kadang
dapat disertai ulserasi. Lokasi terbanyak di gingiva tetapi dapat juga terjadi di seluruh
rongga mulut, misalnya bibir bawah. Lidah, dan palatum (Australian Institute of
Health and Welfare, 2008)

Pada pemeriksaan histologi menunjukkan dungkul berlapis epitel skuamous


yang dibawahnya terdapat jaringan granulasi dengan proliferasi kapiler dan jaringan
ikat muda serta sebukan sel radang kronik. Eliminasi faktor penyebab dan eksisi
dapat memberikan prognosa yang baik untuk epulis jenis ini (Australian Institute of
Health and Welfare, 2008).

2.4. Pemeriksaan pada Epulis


Pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa epulis adalah
berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang. Gejala klinis yang
ditemukan pada pemeriksaan fisik epulis adalah sebagai berikut:
a. Massa yang berupa tonjolan
b. Terlokalisasi dengan batas tegas
c. Konsistesi keras atau lunak
d. Dapat bertangkai atau tidak bertangkai
e. Dapat berulserasi
f. Kadang-kadang berlobus
g. Berwarna merah muda hingga merah keunguan
h. Dapat berdarah spontan atau pada trauma ringan
20

i. Ukuran bervariasi dari beberapa millimeter hingga beberapa centimeter dan dapat
mencapai ukuran yang sangat besar.

Pemeriksaan yang dilakukan ialah biopsi yaitu pengambilan sebagian jaringan


yang meliputi jaringan patologis dan jaringan sehat. Kemudian jaringan ini difiksasi
dengan formal saline dan dikirim ke bagian Patologi Anatomi untuk didiagnosa.
Pemeriksaan laboraturium untuk epulis granulomatosa adalah pemeriksaan
histopatologi (Greenberg, 2003).
Pada pemeriksaan histopatologis epulis ditemukan jaringan ikat yang dilapisi
epitel gepeng berlapis disertai infiltrasi sel-sel berbentuk bulat dan spindle serta sel-
sel radang PMN, leukosit dan sel plasma. Selain itu juga ditemukan sel-sel raksasa
multinuklear yang merupakan ciri khas dari giant cell epulis. Beberapa epulis banyak
mengandung pembuluh darah dan proliferasi fibroblast serta sejumlah serat kolagen
(Greenberg, 2003).
Saat ini dapat juga dilakukan pemeriksaan imunositokimia, yaitu pemeriksaan
yang memanfaatkan reaksi antigen antibodi untuk mengetahui reaksi imunitas sel
terhadap antigen. Prognosis epulis umumnya baik apabila pasien selalu menjaga
kebersihan mulutnya setelah dilakukan eksisi sempurna. Bedah eksisi yang dilakukan
harus mengambil seluruh bagian sampai dasar epulis tersebut dari sekitar jaringan
gusi walupun berasal dari periosteum tulang alveolar untuk mencegah kekambuhan
(Greenberg, 2003).

2.5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan epulis granulomatosa adalah dengan dilakukannya eksisi.
Eksisi didefinisikan salah satu cara tindakan bedah yaitu membuang jaringan (tumor)
dengan cara memotong. Tindakan ini dilakukan untuk berbagai tujuan antara lain
pemeriksaan penunjang (biopsi), pengobatan lesi jinak ataupun ganas dan
memperbaiki penampilan secara kosmetis (Partogi, 2008)
Keuntungan eksisi adalah sebagai berikut.
21

1. Seluruh specimen dapat diperiksa untuk diagnosis histologis dan sekaligus


melaksanakan eksisi total.
2. Pasien-pasien tidak memerlukan follow up yang berkepanjangan setelah ekisi
karena angka kekambuhan setelah eksisi total sangat rendah
3. Hanya memerlukan satu terapi saja
4. Penyembuhan luka primer biasanya tercapai dengan memberikan hasil kosmetik
yang baik

Kerugian eksisi adalah sebagai berikut.


1. Diperlukan anestesi local
2. Diperlukan tehnik aseptik dengan menggunakan instrumen-instrumen bedah,
kain penyeka dan lap-lap yang steril
3. Diperlukan sedikit waktu dan tingkat keahlian tertentu operatornya

Teknik eksisi ada beberapa macam yaitu eksisisi elips simpel, eksisi wedge,
eksisi sirkular dan eksisi multipel.
1. Eksisi Elips (fusiform)
Merupakan bentuk eksisi dasar, dengan arah yang sejajar dengan garis dan
lipatan kulit. Perbandingan panjang dan lebar minimal 3:1 dengan sudut 30 derajat.
Irisan tegak lurus atau lebih meluas kedalam sampai dengan subkutis. Bila perlu
dapat dilakukan undermining yang kalau dimuka tepat dibawah dermis dan kalau di
skalp didaerah subgaleal. Perdarahan yang terjadi di kulit dapat ditekan beberapa saat
dan bila perlu dilakukan hemostasis dengan elektrokoagulasi, tetapi jangan berlebihan
terutama pada perdarahan dermis. Perdarahan dari pembuluh darah kecil dapat
dielektrokoagulasi tetapi yang besar harus diikat. Lesi-lesi yang dieksisi berbentuk
elips akan menghasilkan parut yang lebih panjang dari pada lesi aslinya.Tujuan utama
mengeksisi lesi berbentuk elips adalah mengurangi terbentuknya sisa kulit.

2. Eksisi wedge
Lesi-lesi yang terletak pada area bebas seperti bibir,sudut mata, cuping hidung
dan telinga dapat dieksisi dengan eksisiwedge. Karsinoma sel skuamosa pada bibir
22

disarankan untuk dilakukan eksisi V sehingga dapat mengangkat jaringan yang sama
kelenjar limfenya. Jika dilakukan eksisi wedge pada cuping hindung yang terlalu luas
untuk ditutup secara primer, maka dapat dilakukan graft dengan ukuran yang sama
dari telinga Sepertiga dari bibir bawah dan seperempat dari bibir atas dan kelopak
mata dapat dilakukan eksisi wedge dan dilakukan penutupan primer.

3. Eksisi sirkular
Pada kulit wajah yang terletak diatas jaringan kartilago seperti hidung
permukaan anterior telinga, lesi-lesi dapat dieksisi dengan bentuk sirkular dan defek
ditutup dengan skin graft full thickness. Tehnik ini juga dapat digunakan pada bagian
tubuh lain dengan lesi yang sangat luas. Jika terdapat keraguan dalam merencanakan
eksisi elips maka dapat dilakukan eksisi sirkular dengan kulit diregangkan dan
perhatikan lingkaran tersebut akan cenderung membentuk sebuah elips kalau kulitnya
dikendorkan.

4. Eksisi multiple
Eksisi serial atau ekspansi jaringan kadang diperlukan untuk lesi-lesi yang luas
seperti congenital naevi. Tehnik ini memungkin luka ditutup dengan skar yang lebih
pendek dibanding dengan eksisi elips satu langkah (Partogi,2008).

Teknik Operasi
Menjelang operasi
1. Penjelasan kepada penderita dan keluarganya mengenai tindakan operasi yang
akan dijalani serta resiko komplikasi disertai dengan tandatangan persetujuan
dan permohonan dari penderita untuk dilakukan operasi. (Informed consent).
2. Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi.
3. Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi.
4. Antibiotika profilaksis, Cefazolin atau Clindamycin kombinasi dengan
Garamycin, dosis menyesuaikan untuk profilaksis`
23

Tahapan operasi
1. Dilakukan dalam kamar operasi, penderita dalam narkose umum dengan
intubasi nasotrakheal kontralateral dari lesi, atau kalau kesulitan bisa
orotrakeal yang diletakkan pada sudut mulut serta fiksasinya kesisi
kontralateral, sehingga lapangan operasi bisa bebas. Posisi penderita
telentang sedikit head-up(20-250), ekstensi (perubahan posisi kepala setelah
didesinfeksi).
2. Desinfeksi intraoral dengan Hibicet setelah dipasang tampon steril di
orofaring.
3. Desinfeksi lapangan operasi luar dengan Hibitane-alkohol 70% 1:1000.
4. Posisikan penderita tengadah dengan mengganjal bantal pundaknya.
5. Dengan menggunakan mouth spreader, mulut dibukasehingga lapangan
operasi lebih jelas. Insisi dilakukan diluar tepi lesi pada jaringan yang sehat
dengan menggunakan couter-coagulation, lakukan rawat perdarahan, lakukan
pembersihan lebih lanjut dengan jalan mencabut gigi yang terlibat serta
lakukan kerokan pada sisa sekitar tumor.
6. Surat pengantar PA diberi keterangan klinis yang jelas.

Komplikasi operasi
1. Perdarahan
2. Infeksi
3. Residif

Perawatan Pascabedah
1. Infus Ringer Lactate dan Dextrose 5% dengan perbandingan 1 : 4 (sehari).
Antibiotik profilaksis diteruskan 1 hari.
24

2. Setelah sadar betul bisa dicoba minum sedikit-sedikit, setelah 6 jam tidak
mual bisa diberi makan.
3. Pada penderita yang dipasang kasa verband tampon steril pada saat operasi
untuk menghentikan perdarahan pada bekas akar gigi, bisa dilepas setelah 1
jam dari operasi atau ancaman perdarahan sudah berhenti.
4. Kumur-kumur/Oral hygiene penderita di teruskan terutama sebelum dan
sesudah minum/makan.
5. Penderita boleh pulang sehari kemudian.
25

BAB 3. PEMBAHASAN

3.1. Epulis Granulomatosa


Epulis granulomatosa adalah tumor jinak berupa hiperplasia jaringan. Faktor
penyebab lesi ini yaitu trauma dan iritasi kronik yang terkadang sulit diidentifikasi.
Daerah trauma akan terisi oleh gumpalan darah yang berisi sel-sel pertahanan,
neutrofil, dan makrofag yang berfungsi untuk fagositosis. Fungsi makrofag untuk
menghilangkan debris nekrotik dan akumulasi eksudat. Jika terjadi trauma terus
menerus, tahap awal proses penyembuhan akan terhambat. Komponen seluler yang
terdiri sel inflamasi akan berubah menjadi jaringan hiperplastik dan berlanjut menjadi
jaringan granulasi.

3.2. Penatalaksanaan
3.2.1. Prosedur Pre Operatif
Sebelum dilakukan prosedur operatif, pasien diminta untuk melakukan
pemeriksaan laboratorium lengkap. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan hematologi
lengkap, pemeriksaan fungsi hati dan kadar gula darah. Selanjutnya, pasien diberi
cairan infus sehari sebelum tindakan operatif. Pasien dipuasakan sejak pukul 22.00.

3.2.2. Prosedur Operatif


a. Infus dan Anestesi Umum
Sebelum dilakukan pengambilan epulis granulomatosa, pasien dilakukan anestesi
terlebih dahulu. Anestesi yang dilakukan adalah general anestesi dengan metode
inhalasi.
b. Ekstirpasi
Setelah pasien teranastesi, lidah difiksasi dengan dilakukan penjahitan pada
ujung lidah dan ditarik ke arah anterior. Selanjutnya, dilakukan insisi pada tepi
26

massa epulis hingga tepi lidah. Massa dipotong sampai dasarnya hingga terlihat
jaringan sehat.
c. Irigasi dan Hecting
Setelah dilakukan ekstirpasi, daerah operasi, terutama lidah dilakukan irigasi
menggunakan povidon iodin. Kemudian, dilakukan hecting pada daerah luka.
Jenis jahitan adalah jahitan simpul tunggal dengan jumlah 3 simpul.

3.2.3. Prosedur Post Operatif


a. Medikasi
R/ Cefotaxime 3x1
Cefotaxime adalah antibotik generasi ketiga golongan sefalosporin. Cefotaxime
bersifat bakterisidal. Ia bekerja dengan menghambat sintesis mukopeptida pada
dinding sel bakteri. Cefotaxime sangat stabil terhadap hidrolisis beta laktamease,
maka cefotaxime digunakan sebagai alternatif lini pertama pada bakteri yang resisten
terhadap penisilin. Cefotaxime memiliki aktivitas spektrum yang lebih luas terhadap
organisme gram positif dan gram negatif. Aktivitas cefotaxime lebih besar terhadap
bakteri gram negatif sedangkan aktivitas terhadap bakteri gram positif lebih kecil,
tetapi beberapa streptococci sangat sensitif terhadap cefotaxime.

R/ Ketorolac 3x1
Ketorolac termasuk golongan obat antiinflamasi non steroid (NSAID), obat ini
untuk penggunaan jangka pendek (tidak lebih dari 5 hari). Ketorolac adalah obat
golongan analgetik non-narkotik yang mempunyai efek antiinflamasi dan antipiretik.
Ketorolac bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin yang merupakan
mediator yang berperan pada inflamasi, nyeri, demam dan sebagai penghilang rasa
nyeri perifer. Ketorolac merupakan obat penghambat prostaglandin yang bekerja
dengan menghambat sintesis prostaglandin dan menghambat aksi prostaglandin pada
organ target.
27

R/ Dexamethason 3x1
Deksametason, seperti kortikosteroid lainnya memiliki efek anti inflamasi dan
anti alergi dengan pencegahan pelepasan histamin. Deksametason merupakan salah
satu kortikosteroid sintetis terampuh. Kemampuannya dalam menaggulangi
peradangan dan alergi kurang lebih sepuluh kali lebih hebat dari pada yang dimiliki
prednisone. Deksametason adalah kortikosteroid kuat dengan khasiat
immunosupresan dan antiinflamasi yang digunakan untuk mengobati berbagai
kondisi peradangan (Samtani, 2005). Menurut Mutschler (1991), makna terapeutik
kortikosteroid terletak pada kerja antiflogistiknya (antireumatik), antialergi, dan
imunsupresif, bila terapi substitusi pada insufiensi korteks adrenal diabaikan.
Kortikosteroid seperti deksametason bekerja dengan cara mempengaruhi kecepatan
sintesis protein. Molekul hormon memasuki sel jaringan melalui membran plasma
secara difusi pasif di jaringan target, kemudian bereaksi dengan reseptor protein yang
spesifik dalam sitoplasma sel jaringan dan membentuk kompleks reseptor steroid.
Kompleks ini mengalami perubahan konformasi, lalu bergerak menuju nukleus dan
berikatan dengan kromatin. Ikatan ini menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis
protein spesifik. Induksi sintesis protein ini merupakan perantara efek fisiologik
steroid.

R/ Fe
Zat besi merupakan mikroelemen yang esensial bagi tubuh. Zat ini terutama
diperlukan dalam hemopoboesis (pembentukan darah) yaitu sintesis hemoglobin
(Hb). Hemoglobin (Hb) yaitu suatu oksigen yang mengantarkan eritrosit berfungsi
penting bagi tubuh. Hemoglobin terdiri dari Fe (zat besi), protoporfirin, dan globin
(1/3 berat Hb terdiri dari Fe). Besi bebas terdapat dalam dua bentuk yaitu ferro
(Fe2+) dan ferri (Fe3+). Konversi kedua bentuk tersebut relatif mudah. Pada
konsentrasi oksigen tinggi, umumnya besi dalam bentuk ferri karena terikat
hemoglobin sedangkan pada proses transport transmembran, deposisi dalam bentuk
feritin dan sintesis heme, besi dalam bentuk ferro. Dalam tubuh, besi diperlukan
28

untuk pembentukkan kompleks besi sulfur dan heme. Kompleks besi sulfur
diperlukan dalam kompleks enzim yang berperan dalam metabolisme energi. Heme
tersusun atas cincin porfirin dengan atom besi di sentral cincin yang berperan
mengangkut oksigen pada hemoglobin dalam eritrosit dan mioglobin dalam otot.

b. Kontrol
Kontrol 1 Post Operatif
Subyektif
Setelah dilakukan operasi 6 hari yang lalu, pasien tidak ada keluhan. Pasien
mengatakan masih agak pelo jika berbicara, tetapi tidak ada rasa sakit. Pasien
masih dapat merasakan semua cita rasa dalam makanan dan minuman.
Obyektif
Kemerahan pada daerah jahitan (+)
Pembengkakan pada daerah jahitan (-)
Nyeri tekan pada daerah jahitan (-)
Jumlah simpul jahitan 3, tidak ada yang terlepas
Assasment
Penyembuhan luka post ekstirpasi
Planning
- Irigasi daerah luka
- Kontrol 1 minggu kemudian
- Instruksi menjaga kebersihan rongga mulut

BAB 4. PENUTUP
29

4.1. Kesimpulan
1. Epulis granulomatosa adalah tumor jinak berupa hiperplasia jaringan. Faktor
penyebab lesi ini yaitu trauma dan iritasi kronik yang terkadang sulit
diidentifikasi.
2. Penatalaksanaan epulis granulomatosa adalah eksisi.

4.2. Saran
1. Perlu adanya edukasi personal hygiene terkait kebiasaan yang dapat berperan
dalam penyebab epulis.
2. Perlu dilakukan pemeriksaan histopatologi untuk mengetahui gambaran epulis
granulomatosa.
30

DAFTAR PUSTAKA

Gnepp DR. Diagnostic Surgical Pathology. 4th ed. Philadelphia: Lippincott Williams;
2004. p. 205.

Greenberg, MS. 2003. Burkets Oral Medicine. 10th ed. Hamilton Ontario: Bc Decker
Inc,:94-101

Manovijay B., Rajathi P. , Saramma M., Sekar B. 2015. Recurrent epulis


granulomatosa: A second look. Journal of Advanced Clinical & Research
Insights: 2, 140142

Irianto Koes. 2012, Anatomi Dan Fisiologi Untuk Mahasiswa, Penerbit Alfabeta,
Bandung.

Sufitni. Anatomi (Lidah sebagai indera pengecap). Departemen Anatomi Fakultas


Kedokteran USU, 2008:87-8.

Don W, Fawcett. 2002, Buku Ajar Histologi, Penerjemah: dr.Jan Tambayong, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Evelyn Pearce. 2009, Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis 2, Penerjemah: dr.
Kartono Mohamad , Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Jacewicz M. 2008, Smell and taste disorders (Merck Manual Hand


Books).http://www.merckmanuals.com/home/print/ear_nose_and_throatdiso
r ders/ nose_sinus_and_taste_disorders/
smell_and_taste_disorders.html#index. Last Update 20 Juli 2008.

Guyton AC, Hall JE. Text book of medical physiology (Taste and smell). 11th Ed.
Mississippi: Elsevier Book Aid International, 2009:663-7.

C. Roland leeson, 1996, Buku Ajar Histologi, Penerjemah: Yan Tambayong, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Marya R K. A text book of phisiology for dental students (Taste and Smell). New
Delhi: CBS Publishers & Distributors, 2002: 256-9.
31

Jacob T. 2010,A tutorial on the sense of taste (Cardiff University,


UK).http://www.cf.ac.uk/biosi/staffinfo/jacob/teaching/sensory/taste.html#In
dex. Last Update 10 November 2010.

Greenberg, MS. Burkets Oral Medicine. 10th ed. HamiltonOntario: Bc Decker Inc,
2003:94-101
Australian Institute of Health and Welfare. Patterns of tooth loss in the Australian
population 2004 06. DSRU Research Report 2008; 38: 1-4.