Anda di halaman 1dari 170

Program Studi : Ilmu Pemerintahan

Nama Mata Kuliah.Kode : Ekologi Pemerintahan / 210 E 2113


Jumlah SKS : 3 (Tiga)
Pengajar : 1. Dr. A.M. Rusli, MSi
2. A. Lukman Irwan, SIP, MSi
Sasaran Belajar :
Mahasiswa diharapkan mampu menyebutkan
dan menjelaskan berbagai konsep-konsep
dasar ekologi pemerintahan, klasifikasi
lingkungan dan bentuk-bentuk ekosistem,
prinsip-prinsip dasar dan asas-asa ekologi,
melakukan identifikasi komponen-komponen
lingkungan pemerintahan, melakukan suatu
analisis berdasarkan pendekatan teoritik
terhadap perubahan-perubahan lingkungan,
factor-faktor perilaku dalam lingkungan
pemerintahan, dengan demikian mampu
membedakan antara ekologi pemerintahan
dengan ekologi tata pemerintahan, serta
melakukan suatu analisis tentang pengaruh
faktor lingkungan termasuk lingkungan
internasional terhadap lingkungan
pemerintahan Indonesia.
Mata Kuliah Prasyarat : Pengantar Ilmu Pemerintahan
Diskripsi Mata Kuliah :
Pemerintahan dengan berbagai dimensinya yang luas dan
kompleks sejak dahulu telah menjadi obyek penelitian dari hampir semua
ilmu sosial, namun tidak satupun dari ilmu tersebut yang dapat
mengangkat semua permasalahan secara menyeluruh, hanya melihat dan
memberi penjelasan sepotong-sepotong sesuai dengan bidang dan sudut
pandang masing-masing ilmu. Dengan munculnya ekologi sebagai ilmu

1
yang mempelajari saling hubungan antara ruang dengan unsur-unsurnya.
Pengaruh perubahan dan berbagai penyesuaian melalui proses interaksi.
Pengembangan teknologi denfgan cabang-cabangnya telah membuka
jalan untuk mempelajari pemerintahan secara lebih lengkap dan lebih utuh
melalui mata kuliah ekologi pemerintahan.

2
EKSISTENSI EKOLOGI PEMERINTAHAN
DALAM BIDANG KEILMUAN

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembelajaran
Materi ini merupakan pengantar untuk memahami konsep-konsep
dasar ekologi sebagai suatu ilmu yang relatif baru tumbuh dan
berkembang pada pertengahan abad ke-20, dan eksistensinya
diharapkan memberi kontribusi terhadap berbagai kalangan yang
berkecimpung dalam bidang keilmuan dan juga terhadap para praktisi di
bidang pemerintahan.
Ruang lingkup bahasan ekologi pemerintahan dapat dilihat dan
dianalisis dari semua dimensi pemerintahan, bukan saja dalam
keadaannya yang statis tetapi juga prosesnya baik masa lalu, masa kini,
dan berbagai kecenderungan pada masa datang. Ekologi pemerintahan
mempelajari hubungan antara Iingkungan dengan unsur-unsurnya dan
hubungan antar unsur sejenis dalam kehidupan dengan alam sekitarnya.
Oleh karena itu kajian ini sangatlah dinamis karena hakekat
penyelenggaraan pemerintahan yaitu dilaksanakan secara bersama-sama
oleh aparatur pemerintah dan masyarakat.
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa dapat
memahami eksistensi ekologi sebagai suatu ilmu, konsep-konsep dasar
dalam ekologi dan bagaimana bagaimana proses lahirnya ekologi
pemerintahan.
1.3 Urutan Pembahasan
Sistematika pembahasan akan diawali dengan eksistensi ekologi
sebagai ilmu, kemudian berbagai konsep-konsep dan peristilahan ekologi,
serta proses terbentuknya hibrida ekologi yang melahirkan ekologi
pemerintahan sebagai suatu kajian keilmuan.

3
2. MATERI PEMBELAJARAN
2.1 Hakikat Ilmu
Kalau kita mengkaji hakekat sesuatu ilmu akan menelusuri
bagaimana posisi ilmu tersebut sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri;
demikian pula halnya dalam menelaah hakikat ekologi, maka suatu hal
yang tak dapat dilepaskan daripadanya adalah bagaimana posisi "ekologi
sebagai suatu ilmu. Untuk itu sebagai awal perkenalan Anda dengan
hakekat ilmu perlu Anda pahami bahwa ada tiga kajian pokok dalam suatu
ilmu pengetahuan, yaitu: Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi
2.1.1 Ontologi
Keberadaan ilmu berawal dari diperlakukannya oleh umat manusia
untuk mengenal berbagai prinsip, dalil, dan rumus yang berulangkali
muncul dalam membahas suatu objek pada proses belajar mengajar
mencari kebenaran sehingga merupakan pengalaman dan pengetahuan-
pengetahuan yang harmonis serta teratur.
Salah satu ciri dari suatu ilmum yaitu sistematis dan memiliki objek
tertentu, baik objek formal maupun material, terminologi, metodologi
filsafat dan khas serta bersifat universal (umum). Jadi pertama-tama ilmu
harus dikenal dulu tentang ada dan apa dirinya, sehingga diketahui apa
yang menjadi objek materialnya, yang menjadi pokok persoalan (subject
matter), maupun objek formalnya yang menjadi pusat perhatian (focus of
interest).
2.1.2 Epistemologi
Berikutnya, setelah ontologi adalah epistemologi, yaitu
mempertanyakan bagaimana ilmu itu sendiri. Misalnya dengan membahas
masalah berikut ini:
a. Bagaimana terminologinya
b. Bagaimana metodologinya
c. Bagaimana filsafatnya
d. Bagaimana sistematikanya
e. Bagaimana teori atau tekniknya

4
f. Bagaimana asasnya
2.1.3 Aksiologi
Aksiologi adalah penerapan ilmu. Penerapan ilmu pengetahuan
tersebut dapat diketahui pertama-tama dari klasifikasinya, kemudian
dengan melihat tujuan ilmu itu sendiri, dan yang terakhjir
perkembangannya. Dalam penerapannya, ilmu dapat dibedakan atas ilmu
murni atau ilmu terapan, dan juga di antara kedua jenis tersebut.
Sedangkan dalam fungsinya ilmu dibedakan atas ilmu teoritis rasional
atau ilmu empiris praktis, dan juga yang berada di antra kedua jenis
tersebut.
Ekologi merupanan ilmu teoritis empiris, juga termasuk ilmu praktis
atau ilmu terapan, karena akan langsung diterapkan kepada masyarakat.
Untuk mengkaji hakikat ekologi sebagai ilmu, selanjutnya dilihat dari
pembagian ilmu berdasarkan penerapannya yang dapat dibedakan atas:
Ilmu murni (pure science), Ilmu praktis (applied science), dan Campuran
Ilmu murni adalah ilmu yang hanya berorientasi untuk
pengembangan ilmu itu sendiri, jadi murni hanya bermanfaat untuk ilmu itu
sendiri, dan berorientasi teoritis. Ilmu pengetahuan murni tersebut
bertujuan untuk membentuk dan pengembangan ilmu pengetahuan
secara abstrak, yaitu untuk meningkatkan kualitas ilmu itu sendiri,
misalnya matematika, fisika, sosiologi, dan sebagainya.
Ilmu praktis adalah ilmu yang secara praktis langsung dapat
diterapkan kepada masyarakat karena ilmu itu sendiri bertujuan untuk
mempergunakan hal ikhwal ilmu pengetahuan tersebut dlam masyarakat
banyak. Hal ini dimaksudkan untuk membantu masyarakat mengatasi
masalah-masalah yang dihadapinya, misalnya ilmu kedokteran, ilmu
teknik, sosiatri dan sebagainya.
Sedang ilmu yang termasuk dalam kategori campuran adalah suatu
ilmu selain termasuk ilmu murni juga merupakan ilmu terapan yang praktis
langsung dpat dipergunakan dalam kehidupan masyarakat umum,
misalnya psikologi, ilmu pemerintahan dan sebagainya.

5
Dewasa ini dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan
dan teknologi hampir-hampir sudah tidak dapat kita melakukan polarisasi
antara ilmu murni dan ilmu terapan, karena hampir semua ilmu murni yang
berkembang menuju ke arah ilmu terapan, hal ini dpat dimengerti hakikat
ilmu itu sebenarnya untuk kemaslahatan umat manusia. Misalnya ilmu
fisika yang dikatakan ilmu murni kemudian berkembang menjadi ilmu
fisika nuklir, fisika atom semuanya mengarah ke fisika terapan. Begitu pula
halnya ekologi merupakan ilmu campuran karena di samping berkembang
secara teoritis menurut ilmu murni juga berkembang secara praktis
(diterapkan) dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan.
2.2 Pengertian Ekologi
Ditinjau dari sudut peristilahan, ekologi berasal dari bahasa Yunani
yang terdiri dari dua kata, yaitu oikos dan logos. Kata oikos yang berarti
rumah atau tempat tinggal, dan logos berarti akal atau ilmu. Istilah
tersebut pertama kali digunakan oleh Naturalis Jerman, Ernest Haeckel
pada tahun 1869. Kemudian istilah ini juga digunakan Charles Darwin
dalam pengertian yang sempit, namum pada tahun-tahun selanjutnya
semakin menarik perhatian penulis-penulis Amerika.
Permulaan tahun 1990 pemikiran ekologi dikembangkan oleh ahli-
ahli naturalis Amerika yaitu Lois Agassiz, Henry Baldwin, Edward Forkes,
sehingga cepat menjadi ilmu yang mandiri. Pada abad ke-20 terdapat
perkembangan yang pesat yang berkaitan dengan ekologi tumbuhan,
karena didorong oleh kebutuhan manusia atas bahan makanan.
Pemahaman yang seksama tentang ekologi dalam dunia yang transparan
dan adanya pengaruh globalisasi sangat menguntungkan bagi kehidupan
manusia.
Ilmu pengetahuan ekologi merupakan suatu keseluruhan
pengetahuan yang berkaitan dengan hubungan-hubungan total antara
organisme dengan lingkungannya yang bersifat organik maupun
anorganik (Reitek). Perkembangan ekologi ini eksistensinya sangat
penting karena pengetahuan pada era globalisasi merupakan obyek

6
penting guna memahami organisme di alam jagat raya dari segala
aktivitas yang ada di dalamnya. Menurut Edward S. Rogers (dalam
Sitanggang, 1997): Ecology is the study of the relationship between
organism and their environment (Ekologi adalah studi tentang bagaimana
hubungan antara mahkluk hidup dengan lingkungannya). Menurut Ermaya
(1998): Ekologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai
kehidupan dalam hubungan dengan lingkungan baik dalam kehidupan
pada lingkup internal maupun hubungan dengan eksternal. Menurut
Prayudi Atmosudirdjo: Ekologi adalah tata hubungan total (menyeluruh)
dan mutual (timbal balik) yang berguna antara suatu organisme dan
lingkungan sekelilingnya. Sedangkan menurut H. Sitanggang, ekologi
ialah ilmu yang mempelajari saling hubungan antara lingkungan dengan
faktor-faktornya, saling hubungan antar faktor-faktor lingkungan sendiri
dan saling hubungan antar unsur sesuatu faktor dengan sesamanya, serta
saling hubungan dengan lingkungan.
Dari berbagai pandangan pakar di atas dapat disimpulkan bahwa
Ekologi adalah suatu kajian yang mempelajari keterhubungan antara
organisme dengan lingkungannya. Dasar empirisnya terletak dalam hasil
penelitian bahwa organisme-organisme yang hidup itu bervariasi menurut
lingkungannya.
Dari uraian-uraian tersebut di atas terlihat bahwa ekologi
berhubungan dengan mahluk. Ekologi selanjutnya menjadi suatu
pengetahuan yang dikenal di seluruh dunia dan berkembang menjadi
cabang ilmu ekologi. Hubungan ekologi dengan ilmu lainnya bersifat
interdisipliner karena untuk memahami dan mengerti hubungan antara
organisme dengan lingkungannya yaitu keterkaitan dengan bidang yang
lain.
Jadi ekologi sangat terkait antana lain dengan fisiologi, evolusi,
genetika, tingkah laku hewan dan manusia, anatomi bagian-bagian dalam.
Sedangkan ekosistem yaitu tatanan kesatuan secara utuh dan
menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling

7
mempengaruhi organisme dan lingkungannya yang meliputi (tanah, air,
udara, kimia, fisik) yang secara bersama-sama membentuk suatu sistem
ekologi.
Menurut Ermaya (1998: 20), cakupan untuk membahas ekologi
sangat khas, dan dapat digolongkan:
a. Autekologi yaitu ekologi yang mempelajari suatu jenis (spesies)
organisme yang berinteraksi dengan lingkungannya, ditekankan pada
aspek siklus hidup, adaptasi terhadap lingkungan parasitis atau non
parasitis. (Mengkaji seluk beluk ekologi orang di alam asli, dan
sebagainya).
b. Sinekologi yaitu ekologi yang mengkaji kelompok organisme sebagai
suatu kesatuan yang saling berinteraksi dalam suatu daerah tertentu
(ekologi jenis, populasi, komunitas, ekologi sistem).
c. Ekologi menurut habitat yaitu berdasarkan habitat, mencakup ekologi
bahari, perairan tawar, ekologi darat, ekologi padang rumput.
d. Pembagian menurut taksonomi, sesuai dengan sistematika mahluk
hidup yaitu ekologi tumbuhan, hewan, serangga, burung, dan ekologi
mikroba.
Ekologi sebagai ilmu pengetahuan sangat erat hubungannya
dengan ilmu alam, ilmu bumi antariksa dan ilmu sosial yang mempelajari
peranan ekosistem terhadap kehidupan manusia dan dalam
penyelenggaraan pemerintahan.
2.3 Hibrida Ekologi
Model ekologi digunakan untuk memahami gejala-gejala sosial
yang menjadi obyek formal disiplin lain: misalnya administrasi negara
mensubstitusi organisme dengan administrasi negara sebagai institusi dan
lingkungan dengan faktor alam dan faktor sosial (Pamudji), faktor ekonomi
dengan faktor sosial (F.W. Riggs). Produk pemahaman tersebut disebut
hibrida ekologi administrasi negara. Model ekologi administrasi negara
tersebut dan metodologinya digunakan oleh sejumlah penulis di bidang
pemerintahan untuk membentuk hibrida lain yaitu ekologi pemerintahan

8
menurut Martin Roosadijo dalam Ekologi Pemerintahan di Indonesia
(1982) dan Inu Kencana Syafiie dalam Ekologi Pemerintahan (1998).
Faktor ekologi yang mempengaruhi pemerintahan menurut Martin
Roosodijo yaitu ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya, sedangkan
menurut Inu Kencana Syafiie yaitu alam dan sosio kemasyarakatan.
3. PENUTUP
3.1 Rangkuman
Ekologi dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan karena
merupakan pengetahuan yang menjelaskan hubungan antara organisme
dan lingkungan. Banyak yang mengartikan tentang ekologi daripada
pendapat para ahli di antaranya dari Edward S. Rogers, Ermaya, Prayudi
Atmosudirdjo dan Komarudin yang kesemuanya menyatakan bahwa
ekologi berhubungan dengan mahluk.
Hubungan ekologi dengan ilmu lain bersifat interdisipliner karena di
samping hubungan organisme dengan lingkungan juga ada keterkaitan
dengan ilmu-ilmu lainnya. Ekologi terdiri dari beberapa golongan yaitu
autekologi, sinekologi, ekologi menurut habitat dan pembagian menurut
taksonomi. Hibrida ekologi merupakan model ekologi untuk memahami
gejala-gejala sosial yang menjadi obyek formal disiplin lain, misalnya
ekologi yang mempengaruhi pemerintahan menurut Martin yaitu ideologi,
politik, ekonomi, sosial budaya, sedangkan menurut Inu Kencana yaitu
alam dan sosio kemasyarakatan.
3.2 Latihan
Dalam rangka lebih memperdalam pemahaman mahasiswa
terhadap materi yang telah diuraikan, maka mahasiswa diharapkan untuk
menyelesaikan soal-soal latihan berikut ini.
1. Jelaskan dengan singkat bahwa ekologi dapat dikatagorikan sebagai
ilmu pengetahuan!
2. Kemukakan beberapa pengertian ekologi menurut pendapat para ahli?
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan hibrida ekologi dan berikan
contohnya!

9
3.3 Umpan Balik
Baca kembali materi kegiatan belajar 1 yang menyangkut tentang
ekologi sebagai ilmu pengetahuan dan berbagai pengertian ekologi.
Jawab dengan saksama, bahkan jika perlu lakukan diskusi dengan
sesama mahasiswa. Dengan demikian seluruh aktivitas pembelajaran
yang dilakukan untuk memahami materi ini, pada akhirnya mahasiswa
diharapkan mengetahui eksistensi ekologi sebagai sustu ilmu, pengertian
ekologi, dan hibrida ekologi.

3.4 Daftar Pustaka


Ermaya Sukadinata, 1998. Administrasi Lingkungan dan Ekologi
Pemerintahan dalam Pembangunan, Ramadhan Citra Grafika
Bandung

Frederickson, H. G. ,1997, The Spirit of Public Administration San


Franccisco : Jossey-Bass Publishers.

Fukuyama, Francis, 2001, The End of History and The Last Man, Penerbit
Qalam, Yogayakarta.

H. Sitonggang. 1997. Ekologi Pemerintahan. Pustaka Sinar Harapan


Jakarta
Inu Kencana Syafei. 2003. Ekologi Pemerintahan, Perca Jakarta.

____________ 2003. Ilmu Pemerintahan. Mandar Maju Bandung

Ndraha, Taliziduhu, 2000, Diktat Kuliah Ilmu Pemerintahan, Program


Pasca Sarjana UNPAD, Bandung.

Ndraha, Taliziduhu. 2003. Kyberndugi (Ilmu Pemerintahan Baru). Jakarta:


Rineka Cipta.

Nurdin, Ismail, dkk. 2010. Ekologi Pemerintahan, Institut Pemerintahan


Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

Rasyid, Ryass, 1996, Makna Pemerintahan: Tinjauan Dan Segi Etika Dan
Kepemimpinan, Yarsif Watampone, Jakarta.

S. Pamudji, 1986, Ekologi Administasi Negara, Bina Aksara Jakarta.

10
PEMERINTAHAN DALAM
PERSPEKTIF EKOLOGI

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembelajaran
Dalam perspektif ekologi, pemerintahan dapat dianalogikan
sebagai suatu organ yang memiliki fungsi-fungsi. Sinergitas antara fungsi-
fungsi tersebut melahirkan suatu gerak untuk mencapai suatu tujuan, yaitu
tujuan pemerintahan atau tujuan negara.
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa dapat
memahami dan menjelaskan pemerintahan dalam perspektif ekologi,
terutama melalui pendekatan teori organisme dan perkembangan
pemerintahan sebagai suatu dinamika yang merupakan tuntutan
masyarakat yang berada dalam suatu lingkungan yang selalu berubah.
1.3 Urutan Pembahasan
Dalam materi ini akan dibahas pemerintahan menurut pandangan
teori organisme, kemudian menguraikan perkembangan pemerintahan
melalui rangkaian pendapat dari berbagai pemikir atau teoritisi terdahulu.
2. MATERI PEMBELAJARAN
2.1 Pemerintahan dalam Perspektif Teori Organisme
Melalui pendekatan teori organisme, pemerintahan dapat dijelaskan
sebagai suatu sistem dari gerak semua fungsi yang ada di dalam
masyarakat dan negara yang mempunyai wilayah tertentu dan digunakan
sebagai alat kekuasaan untuk mencapai tujuan yang meliputi bidang-
bidang kejasmanian dan kerohanian. Fungsi-fungsi tersebut sangat
banyak dan selalu berkembang dalam proses penyesuaian dengan
lingkungannya. Cara mempelajari pemerintahan dengan menggunakan
teori organisme dari Aristoteles yang mengatakan bahwa negara atau
pemerintahan itu adalah kodrat dan merupakan ratu organisme yang
mempunyai kehidupan tersendirI.

11
Aristoteles (384-322 SM) dalam bukunya Politica menyatakan
negara adalah suatu masyarakat paguyuban yang paling tinggi di atas
masyarakat-masyarakat paguyuban lainnya yang bertujuan mencapai
kebaikan yang paling tinggi dan mulia di atas tujuan-tujuan masyarakat
paguyuban (gemeinschaft) di dalamnya.
Menurut Aristoteles, negara adalah masyarakat paguyuban yang
bersifat kodrat yang mempunyai semua sifat-sifat organisme yang terdapat
pada mahluk hidup. Kehidupan bernegara dapat membedakan antara
kehidupan manusia sebagai mahluk hidup dengan mahluk-mahluk lainnya.
Kehidupan bernegara sebagai kehidupan organisme, dalam upaya
mencapai tujuannya mempunyai alat-alat kelembagaan dengan fungsi
sendiri-sendiri mendukung kehidupan negara seutuhnya. Adanya teori
organisme ke dalam kehidupan bernegara dapat menjelaskan pengertian
pemerintahan sebagai kedaulatan negara yang selalu bergerak dan
berproses interaksi melalui aparat atau fungsi oleh beberapa aparat dan
saling hubungan semua fungsi dalam kehidupan keseluruhan
pemerintahan.
Gerak dan cara bergerak pemerintahan itu adalah proses upaya
menyesuaikan kedaulatan dengan pencapaian tujuan dalam kehidupan
bernegara, penyesuaian dengan lingkungannya yang internal dan
penyesuaian dengan faktor-faktor lingkungan yang eksternal. Dalam
proses penyesuaian dengan lingkungan tersebut kekuasaan
pemerintahan sebagai aktualisasi kedaulatan negara berupaya mencari
keseimbangan hubungan yang terbaik antara kelompok masyarakat
dengan yang lainnya, juga kelompok perseorangan dan hubungan antara
perseorangan yang satu dengan yang lainnya. Upaya mencapai
keseimbangan di antara bangsa-bangsa berbeda karena berbeda
lingkungan yang berakibat perbedaan perilaku pemerintahan sehari-hari.
2.2 Perkembangan Pemerintahan
Pemerintah tidak akan mempunyai peran manakala tanpa adanya
pemerintahan, karena pemerintah menunjukkan lembaga yang tidak

12
dinamis sedangkan pemerintahan merupakan kegiatan/ proses aktivitas
pemerintah. Pemerintahan mempunyai arti untuk menggerakkan sesuatu,
pemerintah sebagai kata benda, sesuatu kekuasaan untuk memerintah
suatu negara, sedangkan pemerintahan adalah suatu kegiatan proses
atau suatu produk bagaimana menjalankan perbuatan pemerintahan dari
suatu negara.
Pemerintah menurut bahasa Inggris dikatakan government yang
dikemukakan oleh C. F. Strong (1990: 6) yang menyatakan: Government
in the broader sense is than ged with maintenance of the peace and
security of state within and without, it must, therefore have first military
power, or the control of armed forces, secondly legislative power, or the
means of making laws, thirdly financial power, or the ability to extract
sufficient money from the community to detray the cost of defending of
state and of enforcing the law itu makes on the states behalf. Apabila
diterjemahkan bebas yaitu pemerintah dalam arti luas adalah mempunyai
kewenangan untuk memelihara kedamaian dan keamanan negara ke
dalam maupun keluar. Jadi pemerintah harus mempunyai :
a. Kekuatan tentara yaitu mengendalikan angkatan perang;
b. Mempunyai kekuatan legislatif yaitu membuat undang-undang;
c. Kekuatan financial yaitu kekuatan mengumpulkan uang atau menarik
pajak dari masyarakat untuk pembiayaan dalam pemerintahan negara
dan melaksanakan hukum atas nama negara.
Pendapat lain, Menurut W. S. Sayre (1970: 7): Government is best
defined as the organized agency of the state empressing and execing its
authority Artinya pemerintahan sebagai lembaga negara yang terorganisir
yang memperlihatkan dan menjalankan kekuasaannya.
Dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan kekuasaan
diperlukan untuk menggerakkan berbagai aktivitas baik di bidang eksekutif
dalam arti luas termasuk militer, legislatif maupun yudikatif, demikian juga
hubungannya dengan lingkungan dan ekologi. Organisme dan
pemerintahan, sehingga pemerintahan itu dapat diartikan sebagai
pemerintahan dalam arti luas dan arti sempit. Pemerintahan dalam arti

13
luas adalah keseluruhan kegiatan pengurusan negara oleh semua
lembaga pemegang kekuasaan negara dan dalam lingkup wilayah negara.
Pemerintahan dalam arti sempit yaitu pelaksanaan pengurusan negara
yang dilaksanakan oleh eksekutif.
Sedangkan pemikiran tentang fungsi negara dapat ditelusuri dari
pakar pemerintahan sejak jaman Yunani, tentang apa hakekat praktek
penyelenggaraan, kehidupan negara, kekuasaan pemerintah dan
hubungannya dengan lingkungan serta hubungan antar organisme. Negara
merupakan perserikatan yang melakukan suatu pemerintahan melalui
aturan yang mengikat dalam kehidupan masyarakatnya, dan pada wilayah
kehidupan sosial tertentu sehingga dapat membedakan kondisi masyarakat
dunia luar untuk ketertiban sosial.
Menurut pandangan Van Poelje sebaiknya pemerintahan itu
melakukan penyusunan lembaga-lembaganya (dalam bentuk dinas-dinas)
termasuk kepemimpinan dengan sebaik-baiknya. Pandangan Poelje
memberi indikasi tentang penyiapan infrastruktur untuk menyelesaikan
masalah yang beragam sehingga dibutuhkan dinas-dinas secara spesifik
serta bagaimana rotasi pada tingkat elite dapat dilakukan secara damai.
Kesimpulan secara sederhana berbicara tentang dua level utama yaitu
bagaimana memecahkan masalah yang diperintah dan bagaimana
masalah yang memerintah. Masalah yang diperintah dipecahkan dengan
membentuk dinas-dinas secara terspesialisasi, sedangkan masalah yang
memerintah dilakukan dengan rotasi kepemimpinan yang baik. Fenomena
tersebut menjadi sandaran yang kuat di mana antara gejala pemerintahan
dan politik menjadi suatu yang sulit untuk dielakkan.
Jadi ilmu pemerintahan merupakan suatu ilmu pengetahuan yang
bertujuan untuk memimpin hidup bersama manusia ke arah kebahagiaan
yang sebesar-besarnya tanpa merugikan orang secara sah.

3. PENUTUP

14
3.1 Rangkuman
Pemerintahan adalah suatu sistem dari gerak semua fungsi yang
ada di masyarakat negara yang mempunyai wilayah tertentu untuk
mencapai satu tujuan. Melalui pendekatan teori organisme dan Aristoteles
maka negara atau pemerintahan adalah kodrat dan merupakan satu
organisme yang mempunyai kehidupan tersendiri. Pemerintahan bergerak
merupakan proses upaya menyesuaikan kedaulatan dengan pencapaian
tujuan dalam kehidupan bernegara dan penyesuaian dengan
lingkungannya baik secara internal maupun dengan faktor-faktor
lingkungan eksternal. Sedangkan menurut Sayre, pemerintahan sebagai
lembaga negara yang terorgainisir yang memperlihatkan dan menjalankan
kekuasaannya.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan yang melaksanakan
kekuasaan dapat dilihat dari dua segi yaitu pemerintahan dalam arti luas
dan arti sempit. Dalam arti luas yaitu keseluruhan kegiatan pengurusan
negara oleh semua lembaga pemegang kekuasaan dalam wilayah
negara, sedangkan dalam arti sempit pengurusan negara oleh eksekutif.
Sedangkan hubungan antara negara dan pemerintahan yaitu negara
merupakan perserikatan yang melakukan suatu pemerintahan melalui
aturan yang mengikat dalam kehidupan masyarakatnya di suatu wilayah.
3.2 Soal Latihan
Dalam rangka lebih memperdalam pemahaman mahasiswa
terhadap materi yang telah diuraikan, maka mahasiswa diharapkan untuk
menyelesaikan soal-soal latihan berikut ini.
1) Bagaimana pemerintahan menurut pandangan teori organisme dari
Aristoteles?
2) Bagaimana pemerintahan bergerak dalam mencapai tujuan negara
atau pemerintah melalui penyesuaian dengan lingkungannya?
Jelaskan!
3) Apa hubungan antara negara dan pemerintahan? Jelaskan!
3.3 Umpan Balik

15
Baca lagi materi kegiatan belajar 2 yang menyangkut tentang
pemerintahan melalui pendekatan teori organisme, dan kaitkan dengan
pendekatan sistem. Kemudian fahami perbedaan antara pemerintah
dalam arti luas dan pemerintah dalam arti sempit. Untuk menjawab semua
soal di atas jawab dengan seksama hingga paham. Agar mahasiswa lebih
yakin, diskusikan dengan teman kuliah. Melalui aktivitas ini, mahasiswa
akan mengetahui pemerintahan sebagai suatu sistem dalam sudut
pandang ekologi dan bagaimana perkembangan pemerintahan yang
selalu bergerak ke arah perubahan sesuai dengan dinamika masyarakat.

3.4 Daftar Pustaka


Amirin, Tatang, 1984. Pokok-Pokok teori Sistem, CV. Rajawali. Jakarta.

Ermaya Sukadinata, 1998. Administrasi Lingkungan dan Ekologi


Pemerintahan dalam Pembangunan, Ramadhan Citra Grafika
Bandung

Frederickson, H. G. ,1997, The Spirit of Public Administration San


Franccisco : Jossey-Bass Publishers.

Fukuyama, Francis, 2001, The End of History and The Last Man, Penerbit
Qalam, Yogayakarta.

H. Sitonggang. 1997. Ekologi Pemerintahan. Pustaka Sinar Harapan


Jakarta
Inu Kencana Syafei. 2003. Ekologi Pemerintahan, Perca Jakarta.

____________ 2003. Ilmu Pemerintahan. Mandar Maju Bandung

Madia Thamrin, 2008. Ekologi Administrasi Negara, Alumni, Bandung.

Muhadam Labolo, 2007. Memahami Ilmu Pemerintahan, Raja Grafindo


Persada, Jakarta.

Ndraha, Taliziduhu, 2000, Diktat Kuliah Ilmu Pemerintahan, Program


Pasca Sarjana UNPAD, Bandung.

Ndraha, Taliziduhu. 2003. Kyberndugi (Ilmu Pemerintahan Baru). Jakarta:


Rineka Cipta.

16
Nurdin, Ismail, dkk. 2010. Ekologi Pemerintahan, Institut Pemerintahan
Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

Rasyid, Ryass, 1996, Makna Pemerintahan: Tinjauan Dan Segi Etika Dan
Kepemimpinan, Yarsif Watampone, Jakarta.

S. Pamudji, 1986, Ekologi Administasi Negara, Bina Aksara Jakarta

17
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
EKOLOGI PEMERINTAHAN

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembelajaran
Materi yang akan dibahas dalam bagian ini adalah menyajikan
pengertian ekologi pemerintahan untuk menemukan unsur-unsur dari
setiap definisi yang dikemukakan oleh para ahli. Berdasarkan definisi-
definisi tersebut, akan dikembangkan untuk merumuskan ruang lingkup
ekologi pemerintahan. Dengan demikian substansi kajian ekologi
pemerintahan akan lebih jelas dan dapat dibedakan dengan ilmu
pengetahuan lainnya.
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa diharapkan dapat
mengemukakan berbagai pengertian atau definisi ekologi pemerintahan,
dan dapat menjelaskan ruang lingkup ekologi pemerintahan.
1.3 Urutan Pembahasan
Pembahasan akan dimulai dengan menguraikan berbagai definisi
ekologi pemerintahan, kemudian menjelaskan ruang lingkup ekologi
pemerintahan.
2. MATERI PEMBELAJARAN
2.1 Pengertian Ekologi Pemerintahan
Ekologi pemerintahan merupakan ilmu pengetahuan yang
menjelaskan hubungan organisme dengan lingkungan fungsi-fungsi dan
penyelenggaraan pemerintahan. Ilmu dan teknologi yang dipergunakan
dalam penyelenggaraan tersebut sebagai bagian dari budaya dalam
struktur sosial suatu bangsa dan merupakan hasil hubungan interaksi
yang tercakup di dalamnya hubungan komunikasi dan koordinasi yang
dilakukan oleh manusia.
Menurut Inu Kencana (1998: 13) dalam ekologi pemerintahan
lingkungan mahluk hidupnya adalah lingkungan sosial kemasyarakatan

18
yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan
keamanan dan agama. Sedangkan lingkungan fisik alamiah meliputi
kondisi geografis, kekayaan alam (SDA), dan kependudukan (SDM).
Agama sebagai faktor yang mempengaruhi keberadaan pemerintah
karena agama yang kendatipun bersifat transdental spiritual dan sakral
namun sangat besar pengaruhnya sehingga tidak sedikit pemerintahan
negara yang berperang dengan dalih agama juga menempatkan
pemimpinnya pada dalih agama.
Sedangkan menurut Ermaya (1998: 54) dalam penyelenggaraan
pemerintahan ekologi pemerintahan dapat mewujudkan suatu keadaan
ketertiban keamanan, kesejahteraan dan kelancaran pelaksanaan tugas
bagi suatu negara. Ekologi pemerintahan maupun proses
penyelenggaraan pemerintahan dengan memanfaatkan segala aspek
yang ada dalam lingkungan demi tercapainya tujuan negara. Peran
ekologi pemerintahan dalam penyelenggaraan pemerintahan merupakan
faktor determinan dari kekuasaan pemerintahan negara atau pelaksanaan
kebijaksanaan pemerintahan, yang umumnya berupa peraturan
perundang-undangan, sebagian terbesar dari proses administrasi negara,
sehingga peran administrasi negara terhadap ekologi pemerintahan
sangat berpengaruh.
Menurut Tahziduhu Ndraha (2002: 464) ekologi pemerintahan
sebagai cabang ilmu pemerintahan yang mempelajari pengaruh
lingkungan ruang waktu terhadap pemerintahan, baik sebagaimana
adanya (das sein) maupun sebagaimana diharapkan (normatif, das
sollen). Nilai-nilai lingkungan ruang waktu yang ditransfer, dipertukarkan
atau ditransformasikan dari lingkungan ke bidang pemerintahan, searah
atau timbal balik.
Beberapa faktor yang mempengaruhi analisis ekologi pemerintahan
(Ermaya, 1995: 35) antara lain:

1. Faktor potensi fisik

19
a. Tanah, dalam arti sumber tambang, mineral dan tanaman yang
merupakan sumber mata pencaharian dan penghidupan
b. Air, dalam sumber air terkandung keadaan atau kualitas dan
airnya untuk irigasi, pertanian dan keperluan hidup lainnya
c. Iklim, yang merupakan peranan penting bagi desa agraris
d. Ternak, dalam arti fungsi ternak di desa sebagai sumber tenaga,
makanan, sumber keuangan
e. Manusia dalam arti tenaga kerja sebagai pengelola tanah dan
produsen
2. Faktor-faktor Non fisik
a. Masyarakat desa yang hidup berdasarkan gotong-royong dapat
merupakan kekuatan, berproduksi dan membangun
berdasarkan kerja sama dan saling pengertian
b. Lembaga sosial, pendidikan dan organisasi sosial desa yang
dapat memberikan bantuan sosial serta bimbingan positif
c. Aparatur atau pamong desa, yang kreatif dan disiplin, produktif
dan efisien, sumber kelancaran dan tertibnya pemerintahan
d. Sikap dan perbuatan lahiriah selaku manusia yang hidup
bermasyarakat
e. Ucapan dan tindakan serta jiwa hati nuraninya dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara
Faktor fisik dan non fisik dapat mempengaruhi misalnya
menambah sarana pendidikan juga mengubah keseimbangan
lingkungan, khususnya lingkungan sosial. Secara fisik pembangunan
fisik sekitarnya juga berpengaruh terhadap kehidupan lingkungan
sosial.
Manusia sebagai aparatur pemerintahan merupakan bagian dari
Iingkungan hidupnya karena secara ekologi manusia terbentuk oleh
lingkungan hidupnya dan sebaliknya manusia membentuk lingkungan
hidupnya.
Menganalisa ekologi pemerintahan, berarti memandang
organisme dan Iingkungan pemerintahan sebagai sumber daya yang
harus dimanfaatkan dan dikendalikan keseimbangannya sehingga

20
terjadi keserasian dan keselarasan antara organisme, lingkungan, dan
praktek penyelenggaraan pemerintahan.
Praktek penyelenggaraan pemerintahan ditinjau dari ekologi
pemerintahan pada hakekatnya adalah interaksi terhadap
keseimbangan organisme dan Iingkungan pemerintahan, yaitu usaha
sadar yang dilakukan oleh manusia untuk mengubah keseimbangan
lingkungan pemerintahan dan tingkat kualitas yang dianggap kurang
keseimbangan baru pada tingkat yang lebih baik. Usaha yang
dilakukan adalah keseimbangan agar lingkungan pemerintahan tetap
mampu untuk mendukung tingkat hidup kesejahteraan masyarakat
yang lebih baik.
Analisis ekologi pemerintahan bertujuan untuk terlaksananya
pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya
pemanfaatan sumber daya manusia, sumber daya alam secara
bijaksana dan dilakukan secara efektif dan efisien.
2.2 Ruang Lingkup Ekologi Pemerintahan
Ruang lingkup ekologi pemerintahan menurut Inu Kencana
(1998:14) dipengaruhi oleh trigatra dan pancagatra bukan saja untuk
Negara Kesatuan Republik Indonesia tetapi juga untuk negara lain yang
ada di dunia. Ruang lingkup ekologi pemerintahan yang dikaji antara lain :
a. Berbagai isme politik yang mempengaruhi ekologi pemerintahan mulai
dan kajian filsafatnya (kebenaran, kebaikan dan kiatnya) sehingga
menimbulkan berbagai mazhab seperti ekstensialisme, utiliatarisme,
hedonisme, sufisme, stoaisme, dan pragmatisme.
b. Berbagai kebijaksanaan hubungan internasional seperti politik luar
negeri, negara-negara industri dan negara-negara berkembang
organisasi politik baik intra struktur maupun supra struktur.

Trigatra dan pancagatra terdiri dari :


1. Aspek alamiah mempunyai 3 gatra (trigatra)
a. Geografi
b. Kependudukan
c. Kekayaan alam

21
2. Aspek kemasyarakatan mempunyai 5 gatra (pancagatra)
a. Politik
b. Ekonomi
c. Budaya
d. Agama
e. Pertahanan keamanan
Ruang lingkup ekologi pemerintahan menurut Taliziduhu Ndraha
(2003), dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel : Ruang Lingkup Ekologi Pemerintahan
Nilai Vehicles
Lingkungan Fisik Energi Iptek
Ruang-Waktu Sosial Vote Demokrasi
Ketuhanan Rahmat Imtak

Energi dari lingkungan fisik


Suara dari lingkungan sosial (vote, dukungan legitimasi kontrol)
Rahmat dari lingkungan transedental yaitu Tuhan Yang Maha Esa
Ketiga nilai tersebut dengan vehicles-nya masing-masing sehingga
melembaga menjadi alat-alat pendukung kehidupan pemerintah (dalam
arti lain ketuhanan bukan hanya pendukung, tetapi Maha Pencipta segala
sesuatu sumber kehidupan itu sendiri (Al-Khalik)).
Menurut H. Sitanggang (1997) ada 2 (dua) lingkungan yaitu
lingkungan fisik dan lingkungan sosial yang mempengaruhi perilaku
pemerintahan di berbagai bagian lingkungan dunia.
1. Lingkungan fisik pemerintahan
a. Geografis
b. Sumber daya dan kekayaan alam
c. Penduduk
2. Lingkungan sosial pemerintahan
a. Ideologi
b. Sosial budaya
c. Sosial politik
d. Sosial ekonomi

22
e. Keamanan sosial

3. PENUTUP
3.1 Rangkuman
Ekologi pemerintahan merupakan ilmu pengetahuan yang
menjelaskan hubungan organisme dengan lingkungan, fungsi-fungsi
dalam penyelenggaraan pemerintahan. Sedangkan faktor-faktor
lingkungan dalam ekologi pemerintahan yaitu lingkungan sosial
kemasyarakatan meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya,
pertahanan keamanan, agama dan lingkungan fisik alamiah meliputi
kondisi geografis, kekayaan alam (SDA) dan kependudukan (SDM).
Peran ekologi pemerintahan dalam penyelenggaraan pemerintahan
merupakan faktor determinasi dari kekuasaan pemerintahan negara atau
pelaksanaan kebijaksanaan pemerintahan berupa peraturan perundang-
undangan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan ada faktor-faktor yang
mempengaruhi analisis ekologi pemerintahan yaitu faktor fisik dan faktor
non fisik.
Dalam menganalisa ekologi pemerintahan artinya memandang
organisme dan lingkungan pemerintahan sebagai sumber daya yang
harus dimanfaatkan dan dikendalikan keseimbangannya sehingga ada
keserasian dan keselarasan antara organisme, lingkungan dan praktek
penyelenggaraan pemerintahan.
Ruang lingkup ekologi pemerintahan menurut Inu Kencana
dipengaruhi oleh trigatra dan pancagatra. Lingkungan trigatra yaitu aspek
alamiah yaitu geografis, kependudukan dan kekayaan sedangkan
pancagatra meliputi politik, ekonomi, budaya, agama, pertahanan
keamanan; sedangkan menurut Taliziduhu Ndraha yaitu energi dan
lingkungan fisik, suara dari lingkungan sosial yaitu dukungan legitimasi
kontrol dan ketuhanan. Menurut Sitanggang meliputi lingkungan fisik
pemerintahan meliputi geografis, sumberdaya dan kekayaan alam,
penduduk. Lingkungan sosial pemerintahan yaitu ideologi sosial budaya,

23
sosial politik, sosial ekonomi, keamanan sosial. Ketuhanan menurut
Taliziduhu Ndraha bukan saja sebagai pendukung tetapi Maha Pencipta
segala sesuatu sumber kehidupan.
3.2 Soal Latihan
Dalam rangka lebih memperdalam pemahaman mahasiswa
terhadap materi yang telah diuraikan, maka mahasiswa diharapkan untuk
menyelesaikan soal-soal latihan berikut ini.
1) Kemukakan beberapa pengertian ekologi pemerintahan!
2) Jelaskan faktor-faktor lingkungan dari ekologi pemerintahan!
3) Apa saja peran ekologi pemerintahan dalam penyelenggaraan
pemerintahan, jelaskan!
4) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi analisis ekologi
pemerintahan, jelaskan!
3.3 Umpan Balik
Baca kembali materi pembelajaran yang menyangkut tentang
ekologi pemerintahan sebagai ilmu pengetahuan dan faktor-faktor
lingkungan dari ekologi pemerintahan. Jika perlu ringkas kembali materi
kegaitan belajar di atas atau berdiskusi dengan teman kuliah. Melalui
aktivitas pembelajaran ini, mahasiswa akan mengetahui berbagai definisi
tentang ekologi pemerintahan dan mampu menjelaskan ruang lingkup
ekologi pemerintahan.

3.4 Daftar Pustaka


Ermaya Sukadinata, 1998. Administrasi Lingkungan dan Ekologi
Pemerintahan dalam Pembangunan, Ramadhan Citra Grafika
Bandung

Frederickson, H. G. ,1997, The Spirit of Public Administration San


Franccisco : Jossey-Bass Publishers.

Fukuyama, Francis, 2001, The End of History and The Last Man, Penerbit
Qalam, Yogayakarta.

24
H. Sitonggang. 1997. Ekologi Pemerintahan. Pustaka Sinar Harapan
Jakarta
Inu Kencana Syafei. 2003. Ekologi Pemerintahan, Perca Jakarta.

____________ 2003. Ilmu Pemerintahan. Mandar Maju Bandung

.Madia Thamrin, 2008. Ekologi Administrasi Negara, Alumni, Bandung.

Muhadam Labolo, 2007. Memahami Ilmu Pemerintahan, Raja Grafindo


Persada, Jakarta.

Ndraha, Taliziduhu, 2000, Diktat Kuliah Ilmu Pemerintahan, Program


Pasca Sarjana UNPAD, Bandung.

Ndraha, Taliziduhu. 2003. Kyberndugi (Ilmu Pemerintahan Baru). Jakarta:


Rineka Cipta.

Nurdin, Ismail, dkk. 2010. Ekologi Pemerintahan, Institut Pemerintahan


Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

Rasyid, Ryass, 1996, Makna Pemerintahan: Tinjauan Dan Segi Etika Dan
Kepemimpinan, Yarsif Watampone, Jakarta.

S. Pamudji, 1986, Ekologi Administasi Negara, Bina Aksara Jakarta

SISTEM DAN LINGKUNGAN PEMERINTAHAN

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembelajaran
Pemerintahan merupakan upaya mengelola kehidupan bersama
secara baik dan benar guna mencapai tujuan yang disepakati bersama.
Pemerintahan dapat ditinjau dari sejumlah struktur fungsional, maupun

25
tugas dan kewenangannya. Struktur fungsional menyangkut pemerintahan
sebagai seperangkat fungsi negara yang satu sama lain saling
berhubungan secara fungsional dan melaksanakan fungsinya atas dasar
tertentu demi tujuannya berhubungan dengan tugas dan kewenangannya,
dan itu merupakan suatu strategi.
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan mahasiswa dapat
mengetahui dan memahami; Pengertian sistem, Ciri-ciri utama sistem,
dan Pendekatan sistem dalam pemerintahan
1.3 Urutan Pembahasan
Materi pembahasan akan dimulai dengan memaparkan berbagai
pengertian tentang sistem, ciri-ciri suatu sistem dan menjelaskan
substansi teori sistem dalam kaitannya dengan lingkungan pemerintahan.
2. MATERI PEMBELAJARAN
2.1 Pengertian Sistem
Dalam hubungan kekuasaan konsep sistem pemerintahan sudah
sejak lama karena pemerintah sebagai perpaduan antara lembaga-
lembaga (eksekutif; legislatf yudikatiJ) yang berwenang mengelola
serangkaian kekuasaan ditambah dengan birokrat dan pejabat politik
sebagai penanggung jawab atas pelaksanaan kewenangannya.
Istilah sistem telah dikemukakan oleh banyak ahli secara berbeda
satu sama lain. Menurut Gabriel A. Almond :
Sistem sebagai suatu konsep ekologis yang menunjukkan adanya
suatu oraganisasi yang berinteraksi dengan suatu lingkungan yang
mempengaruhinya maupun yang dipengaruhinya.
Menurut Schoderbek dalam Management System Conceptual
Consyderation: Sistem yang sekaligus di dalamnya mengandung ciri-ciri
sistem. Ia mendefinisikan sistem sebagai seperangkat tujuan yang
bersama-sama dengan interaksi di antara tujuan dan di antara struktur-
strukturnya dihubungkan dengan lingkungan sedemikian rupa, sehingga
membentuk satu keseluruhan.

26
Menurut Pamudji, sistem adalah :
1. Suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks atau terorganisir,
suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang
membentuk suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks atau
utuh.
2. Suatu kebulatan atau keseluruhan yang utuh di mana di dalamnya
terdapat komponen-komponen yang pada gilirannya merupakan
sistem tersendiri yang mempunyai fungsi masing-masing saling
berhubungan satu sama lain menurut pola atau norma itu dalam
rangka mencapai satu tujuan.
Menurut Prayudi, sistem adalah:
Suatu jaringan daripada prosedur-prosedur yang berhubungan satu
sama lain menurut skema atau pola yang bulat untuk menggerakkan
suatu fungsi yang utama dan suatu usaha atau urusan.
Menurut Cleland dan King, sistem adalah:
Sebagai satu keseluruhan yang terorganisasi dan bersifat kompleks
satu kesatuan atau berhubungan dari berbagai bagian yang membentuk
keseluruhan yang kompleks dan utuh.
2.2 Teori Sistem
Berpikir secara sistem berarti secara menyeluruh hal-hal yang
didekati tidak lagi bermula dari bagian-bagian tetapi sebaliknya berasal
dari keseluruhan. Setiap organisasi dapat dilihat sebagai satu sosok yang
di dalamnya terdiri atas banyak bagian, dan masing-masing bagian
mempunyai sasaran yang tertentu pula.
Menurut Kart dan Rosenzweig (Organization and Management: A
System Approach): Teori sistem memberikan kerangka konseptual untuk
mendekati teori organiisasi dan manajemen lingkungannya yang bersifat
kompleks dan dinamis. Pemikiran sistem merupakan upaya untuk
menggambarkan kaitan di antara sub sistem, fakta interaksi antara sistem
dengan sub sistemnya. Pada dasarnya sistem adalah suatu kerangka
konseptual untuk memahami gejala-gejala dan organisasi dengan semua

27
kendala yang terkandung di dalam lingkungan eksternalnya. Akurasi
pendekatan sistem diletakkan dalam kegunaan sistem yang tidak hanya
menjamin pemecahan masalah untuk kehidupan lebih baik, tetapi juga
memungkinkan manusia mengendalikan gejala sosial yang ada.
Bulizar Buyung menyatakan ada empat pilar penyangga sistem
yang utama, yakni:
1. Organisme, yang menempatkan organisme di pusat kerangka
konseptual.
2. Holisme, yang memandang setiap fenomena sebagai satu organisme
yang memiliki keteraturan, keterbukaan dan teknologi, tetapi fokus
primernya ada pada keseluruhan, bukan pada bagian-bagian.
3. Modeling, yang dilakukan membuat abstraksi fenomena yang diamati.
4. Pemahaman berupa kesadaran bahwa kehidupan dalam sistem
organisme merupakan proses yang sinambung bahwa seseorang
memperoleh pengetahuan mengenai keseluruhan tidak dengan jalan
mengoreksi bagian-bagian tetapi sebaliknya pengetahuan itu didapat
melalui pengamatan terhadap keseluruhan proses yang terjadi.
Sistem sebagai suatu rangkaian tersusun secara mekanistik
berawal masukan dalam (input) kemudian proses (conversion) yang
menghasilkan keluaran (output), yang selanjutnya menjadi umpan balik
(feedback) kembali ke dalam (input). Penjelasan tentang sistem
sebagaimana gambar berikut ini.

Gambar: untuk sistem berdasarkan pada schoderbek

Menurut Schoderbek menunjukkan sepuluh karakteristik dari teori


sistem, yang terdiri atas :

28
1. Interrelasi dan interdepedensi
Setiap sistem mempunyai berbagai elemen atau sub sistem elemen-
elemen/ sub sistem ini akan saling bergantung satu sama lain.
2. Holisme
Setiap pendekatan sistem mengharapkan pengamatan dimulai dari
keseluruhan suatu elemen yang dipelajari dipandang sebagai unit yang
terpisah, sebaliknya elemen tersebut dilihat dalam kaitan dan
interdepedensinya dengan keseluruhan elemen sistem lainnya.
3. Sasaran-sasaran
Sistem mengakibatkan terjadinya interaksi antar sub sistem interaksi
ini akan menghasilkan sesuatu keadaan yang memungkinkan aktivitas
dalam sistem mencapai tujuan yang telah ditentukan.
4. Masukan dan Keluaran
Semua sistem memerlukan masukan untuk mencapai tujuanya hanya
dengan masukan sesuatu sistem itu bekerja. Juga sistem
menghasilkan keluaran yang diperuntukkan bagi sistem lagi. Dalam
sistem terhadap masukan untuk keseluruhan, sedangkan dalam sistem
terbuka ada tambahan masukan dan lingkungan.

5. Transportasi
Semua sistem selalu mengubah masukan menjadi keluaran. Jika yang
diterima oleh sistem akan diolah sehingga bentuknya akan berbeda
dari bentuk awal.
6. Entropy
Semua sistem memiliki batas kehidupan Bila dalam suatu sistem
adanya ketidakteraturan mencapai puncak dalam kehidupan entropy
berarti kematian dalam organisasi formal, entropy berarti diorganisasi.
7. Regulasi

29
Semua sistem menghendaki yang paling berkait dan bergantung
secara teratur agar tujuan tercapai, melalui perencanaan dan kontrol.
8. Hierarki
Semua sistem secara keseluruhan terdiri atas sub sistem-sub sistem
jaringan yang mencakup seluruh sub sistem dan sub sistem yang
paling kecil disebut hierarki.
9. Diferensiasi
Setiap sub sistem akan melaksanakan fungsi-fungsi tertentu masing-
masing memiliki fungsi yang berbeda.
10. Equtinaliti
Dalam sistem terbuka sesuatu keadaan dapat dicapai dengan
berbagai macam artinya sesuatu hasil dapat mempunyai sebab-sebab
yang berbeda.
Di samping itu berbagai suatu rangka dasar sistem yaitu dalam
sistem yaitu dalam sistem administrasi negara, sistem pemerintahan dan
lain-lain (Inputs), proses konversi (Conversion Process), keluaran-keluaran
(Outputs), dan umpan balik (Feedback) yang saling berhubungan dan
berinterasksi satu sama lain.

3. PENUTUP
3.1 Rangkuman
Ciri-ciri sebuah sistem terdiri dari masukan (input), proses
(converse), keluaran (output), dan umpan balik (feedback). Sedangkan
menurut Schodenbek ada 10 karakteristik dari teori sistem yaitu: Interaksi
dan Interdepedensi, Holisme, Sasaran, Masukan dan Keluaran
Transportasi, Entropy, Regulasi, Hierarki, Diferensiasi, Eguitinaliti dalam
rangka dasar dari suatu sistem yaitu dalam sistem admistrasi Negara,
sistem pemerintahan, dan kami mempunyai lingkungan (environment)

30
masukan (inputs), proses konversi (conversion process), keluaran
(outputs), umpan balik (Feedback), yang saling berhubungan dan
berinteraksi satu sama lain.
3.2 Soal Latihan
Untuk memperbedakan pemahaman mahasiswa mengenai materi yang
telah disajikan di atas, silahkan kerjakan soal latihan berikut ini:
1. Kemukakan ciri-ciri dari suatu sistem!
2. Terdapat 10 karakteristik dari teori sistem. Jelaskan!
3. Dalam rangka dasar dari suatu sistem baik sistem administrasi negara
atau sistem pemerintahan mempunyai 4 indikator dan saling
berhubungan satu sama lain Jelaskan apa saja indikator tersebut!
3.3 Umpan Balik
Baca kembali materi pembelajaran yang menyangkut ciri-ciri sistem,
karakteristik sistem, indikator-indikator sistem pemerintahan, sehingga soal-
soal tersebut di atas dapat dijawab dengan seksama dan memperoleh
pemahaman secara mendalam. Agar mahasiswa lebih yakin, silahkan
diskusikan dengan teman-temannya yang mengikuti mata kuliah ini.
3.4. Daftar Pustaka
Amirin, Tatang, 1984. Pokok-Pokok teori Sistem, CV. Rajawali. Jakarta.

Ermaya Sukadinata, 1998. Administrasi Lingkungan dan Ekologi


Pemerintahan dalam Pembangunan, Ramadhan Citra Grafika
Bandung

Frederickson, H. G. ,1997, The Spirit of Public Administration San


Franccisco : Jossey-Bass Publishers.

Fukuyama, Francis, 2001, The End of History and The Last Man, Penerbit
Qalam, Yogayakarta.

H. Sitonggang. 1997. Ekologi Pemerintahan. Pustaka Sinar Harapan


Jakarta
Inu Kencana Syafei. 2003. Ekologi Pemerintahan, Perca Jakarta.

____________ 2003. Ilmu Pemerintahan. Mandar Maju Bandung

.Madia Thamrin, 2008. Ekologi Administrasi Negara, Alumni, Bandung.

31
Muhadam Labolo, 2007. Memahami Ilmu Pemerintahan, Raja Grafindo
Persada, Jakarta.

Ndraha, Taliziduhu, 2000, Diktat Kuliah Ilmu Pemerintahan, Program


Pasca Sarjana UNPAD, Bandung.

Ndraha, Taliziduhu. 2003. Kyberndugi (Ilmu Pemerintahan Baru). Jakarta:


Rineka Cipta.

Nurdin, Ismail, dkk. 2010. Ekologi Pemerintahan, Institut Pemerintahan


Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

Rasyid, Ryass, 1996, Makna Pemerintahan: Tinjauan Dan Segi Etika Dan
Kepemimpinan, Yarsif Watampone, Jakarta.

S. Pamudji, 1986, Ekologi Administasi Negara, Bina Aksara Jakarta

32
PENDEKATAN SISTEM DALAM PEMERINTAHAN

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembelajaran
Materi ini akan membahas tentang perspektif ilmu pemerintahan,
pemahaman tentang pemerintahan dan sistem yang membentuknya mulai
dari lahirnya gejala pemerintahan itu sendiri. Artinya ketika suatu
komunitas masyarakat merasa penting untuk membentuk suatu
pemerintahan dalam rangka melayani kebutuhannya, tanpa dapat
dihindari lagi pemerintahan dan sistem yang membentuknya akan tercipta
secara alamiah sekalipun masih bersifat tradisional (Rasyid, 1999).
Dalam pandangan ilmu politik yang menitikberatkan pada
kekuasaan, sebaliknya suatu negara merupakan cikal bakal hadirnya
suatu sistem pemerintahan karena dalam perkembangannya masyarakat
atau warga negara membentuk sistem pemerintahan yang bersifat lebih
kompleks yang disebut sistem pemerintahan yang modern.
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa diharapkan mengetahui
tentang pemerintahan sebagai suatu sistem dengan lingkungan ytang
selalu berubah dan mampu menjelaskan perubahan-perubahan sistem
pemerintahan tersebut sebagai suatu diunamika lingkungan dalam
kehidupan bernegara.
1.3 Urutan Pembahasan
Pembahasan materi akan dimulaI dengan menguraikan trentang
konsep sistem pemerintahan menurut pendapat para ahli, kemudian
menjelaskan beberapa model sistem pemerintahan yang lazim digunakan
dalam kehidupan bernegara.

33
2. MATERI PEMBELAJARAN
2.1 Sistem Pemerintahan
Dalam sistem pemerintahan modern terjadi pemisahan atas
pemegang kekuasaan yang pada akhirnya membentuk cabang-cabang
kekuasaan yang penting, pelopornya yaitu John Loeke, Montesqueu
dalam ajaran Trias Politica. Dalam perkembangannya sistem
pemerintahan tersebut mengalami penyesuaian dalam bentuk yang kita
kenal dengan sistem pemerintahan parlementer dan sistem pemerintahan
ini dapat dilihat dari pertanggungjawaban pemerintahan suatu negara
terhadap rakyat yang diurusnya, karena tidak satu pun sistem
pemerintahan suatu negara benar-benar sama dengan negara lainnya.
Sistem parlementer pada hakekatnya merupakan hasil dari
penyesuaian sistem modern, sedangkan sistem presidensil merupakan
hasil metamorfosis dari sistem tradisional dengan kecenderungan
kekuasaan berada pada satu pemegang kendali pemerintahan.
Jadi konsep sistem pemerintahan, baik dari sudut ilmu
pemerintahan maupun ilmu politik merupakan suatu cara di mana
kekuasaan dijalankan dalam wujud pemerintahan dengan menitikberatkan
pada satu atau sejumlah orang melalui mekanisme check and balance
guna mencapai keseimbangan yang relatif dianggap stabil bagi
penyelenggaraan pemerintahan itu sendiri.
2.2 Model-Model Sistem Pemerintahan
Model-model sistem pemerintahan yang umum dapat dikemukakan
sebagai berikut:
1. Sistem Pemerintahan Parlementer
Dalam sistem pemerintahan parlementer dilakukan pengawasan
terhadap eksekutif oleh legislatif. Jadi kekuasaan parlemen yang besar
dimaksudkan untuk memberikan kesejahteraan pada rakyat, karena itu
pengawasan atas jalannya pemerintahan dilakukan oleh wakil rakyat yang
duduk dalam parlemen. Dengan begitu Dewan Menteri (kabinet) bersama
Perdana Menteri bertanggung jawab kepada parlemen (legislatif).

34
Lembaga eksekutif bertanggung jawab kepada lembaga legislatif seperti
ini dapat membuat lembaga eksekutif tersebut dijatuhkan oleh lembaga
legislatif melalui mosi tidak percaya. Contohnya yaitu kerajaan Inggris:
Raja atau Ratu hanya sebagai kepala negara, yang menyelenggarakan
pemerintahan adalah perdana menteri bersama kabinetnya.
Perdana menteri mempunyai kedudukan yang kuat karena
memimpin partai yang dominan, sehingga sulit untuk dijatuhkan oleh
parlemen, juga di Inggris Raja atau Ratu sebagai lambang persatuan.
2. Sistem Pemerintahan Presidensil
Dalam sistem pemerintahan Presidensil lembaga eksekutif dan
legistlatif memiliki kedudukan yang independen. Pemegang kewenangan
dipiih rakyat secara terpisah keduanya memiliki kewenangan membuat
undang-undang yang masing-masing bersifat saling melengkapi. Presiden
dan kabinetnya tidak dapat dibubarkan secara mudah oleh anggota
legislatif dengan alasan politik. Demikian pula sebaliknya, presiden tidak
dapat membubarkan legislatif.
Dalam praktek terdapat beberapa perbedaan fungsi dalam sistem
presidensial di berbagai negara. Contoh di Amerika Serikat kekuasaan
legislasi tidak dimiliki oleh Presiden. Presiden hanya memiiki hak veto
untuk menghindari pelaksanaan undang-undang jika dianggap sulit. Akan
tetapi 2/3 dari suara parlemen dapat menggagalkan hak veto presiden,
jika parlemen menganggap presiden tidak beralasan untuk menolak
menjalankan undang-undang.
Di Indonesia dan sebagian negara Amerika Latin presiden dan
anggota kabinetnya memiliki fungsi legislasi. Pemerintahan sebagai
rangkaian dari lembaga-lembaga memiliki banyak komponen organisasi
dengan berbagai kewenangan yang satu sama lain berbeda namun saling
berhubungan dan eksekutif yang paling banyak memiliki lembaganya.
Menurut Ermaya (1998:139): Membandingkan pemikiran sistem
dengan ekologi pemerintahan. Pemikiran sistem dengan ekologi
pemerintahan didasarkan pada lima pilar:

35
a. Keterlibatan dengan bagian eksternal atau fisikal dari universum
lingkungan.
b. Dititik beratkan pembagian dan komposisi bagian-bagian dari
fenomena yang diobservasi.
c. Kualifikasi hubungan-hubungan kausal dan akhirnya fanomena baru.
d. Ketentuan atau presisi sebagai ideal yang berkelanjutan setiap
pencapaian tujuan.
e. Interaksi dengan lingkungan dalam bentuk penyesuaian dan
perubahan sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang dimiliki.
Pandangan universum dalam ekologi pemerintahan mencakup
pemikiran :
a. Organisasi, maksudnya adalah falsafah memandang organisasi
pemerintahan pada pusat pemikiran kita.
b. Holisme (Wholisin) dalam hal memandang fenomena-fenomena
sebagai organisme yang melibatkan dan memperlihatkan adanya
keteraturan, keterbukaan, pengaturan diri sendiri dan tujuan hasil
keseluruhan dari pada bagian-bagian dari keseluruhan tersebut.
c. Kontruksi model menguraikan keseluruhan dalam bagian-bagian yang
terkait dari upaya untuk memetakan konsepsi tentang fenomena.
d. Pemahaman, maksudnya merealisasikan bahwa kehidupan dalam
sebuah sistem organisme merupakan sebuah proses yang
berlangsung terus. Yaitu memperoleh ketenangan, keseluruhan bukan
dengan jalan mengobservasi bagian-bagian, melainkan dengan
memperhatikan proses yang terjadi di dalam keseluruhan bahwa ada
yang diobservasi bukan realitas itu sendiri melainkan konsepsi tentang
realita.
e. Pendekatan sistem mencakup falsafah yaitu suatu cara berpikir yang
lebih bersifat global daripada lokal dan lebih bersifat makro daripada
mikro.
Latar belakang konsep ini mempunyai tujuan sub sistem-sub sistem
tingkat Iebih rendah, biasanya menemukan adanya pertentangan dan
untuk kebaikannya keseluruhan sistem dalam penyesuaiannya dianalisis
pada tingkat yang lebih atas.
3. PENUTUP

36
3.1 Rangkuman
Pemahaman Pemerintahan dan sistem dimulai dari lahirnya gejala
Pemerintahan dan dapat dilihat dari komunitas masyarakat yang merasa
penting untuk membentuk suatu pemerintahan dalam melayani
kebutuhannya. Sedangkan dalam pemerintahan ada dua sistem yang
dianut yaitu sistem Pemerintahan parlementer dan sistem pemerintahan
presidensil. Masing-masing negara tidak sama dengan negara lainnya
dapat dilihat dari pertanggung jawaban Pemerintah terhadap rakyatnya.
Pemerintahan perlu menggunakan sistem karena lembaga-lembaga
memiliki banyak komponen organisasi dan masing-masing mempunyai
kewenangan yang berbeda namun harus saling berhubungan dan menjadi
satu kesatuan yang utuh.
3.2 Soal Latihan
Untuk memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai materi yang telah
disajikan di atas, silakan kerjakan soal latihan berikut ini.
1) Jelaskan pengertian dari sistem pemerintahan Parlementer dan sistem
pemerintahan Presidensil.
2) Mengapa dalam pemerintahan perlu menggunakan pendekatan
sistem, jelaskan.
3) Ada lima pilar untuk membandingkan antara sistem dengan ekologi
pemerintahan. Jelaskan.
3.3 Umpan Balik
Baca kembali materi pembelajaran 5 yang menyangkut penbgertian system
pemerintahan, dan model-model system pemerintahan. Kemudian fahami
bagaimana keterkaitannya dengan lingkungan Agar mahasiswa lebih yakin,
silahkan diskusikan dengan teman-temannya yang mengikuti mata kuliah
ini. Dengan demikian diharapkan bahwa setelah tuntas mempelajari materi
ini, maka mahasiswa sudah mengetahui tentang konsep system
pemerintahan dan berbagai model-model system pemerintahan, serta
bagaimana keterkeitannnya dengan lingkungan.

3.4 Daftar Pustaka

37
Ermaya Sukadinata, 1998. Administrasi Lingkungan dan Ekologi
Pemerintahan dalam Pembangunan, Ramadhan Citra Grafika
Bandung

Frederickson, H. G. ,1997, The Spirit of Public Administration San


Franccisco : Jossey-Bass Publishers.

Fukuyama, Francis, 2001, The End of History and The Last Man, Penerbit
Qalam, Yogayakarta.

H. Sitonggang. 1997. Ekologi Pemerintahan. Pustaka Sinar Harapan


Jakarta
Inu Kencana Syafei. 2003. Ekologi Pemerintahan, Perca Jakarta.

____________ 2003. Ilmu Pemerintahan. Mandar Maju Bandung

.Madia Thamrin, 2008. Ekologi Administrasi Negara, Alumni, Bandung.

Muhadam Labolo, 2007. Memahami Ilmu Pemerintahan, Raja Grafindo


Persada, Jakarta.

Ndraha, Taliziduhu, 2000, Diktat Kuliah Ilmu Pemerintahan, Program


Pasca Sarjana UNPAD, Bandung.

Ndraha, Taliziduhu. 2003. Kyberndugi (Ilmu Pemerintahan Baru). Jakarta:


Rineka Cipta.

Nurdin, Ismail, dkk. 2010. Ekologi Pemerintahan, Institut Pemerintahan


Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

Rasyid, Ryass, 1996, Makna Pemerintahan: Tinjauan Dan Segi Etika Dan
Kepemimpinan, Yarsif Watampone, Jakarta.

S. Pamudji, 1986, Ekologi Administasi Negara, Bina Aksara, Jakarta

38
KEKUASAAN SEBAGAI
LINGKUNGAN PEMERINTAHAN

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembelajaran
Perhatian terhadap kekuasaan biasanya diidentikkan dengan ilmu
politik, namun dalam pembahasan ini difokuskan pada bagaimana
kekuasaan dalam pemerintahan. Tentunya tak dapat dilepaskan tautannya
dari bahasan ilmu politik karena esensinya sama walaupun cara
memandangnya tidak selalu sama. Dalam hal ini tidak ada polarisasi
antara ilmu, karena fokus perhatian pada bagaimana esensi kekuasaan
dalam menjalankan pemerintahan suatu negara. Materi ini secara khusus
akan menjelaskan tentang: Hakikat kekuasaan dalam pemerintahan yang
meliputi: negara, kedaulatan negara, dan kekuasaan negara.
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa diharapkan dapat
menjelaskan tentang hakikat kekuasaan dalam pemerintahan yang
meliputi: negara, kedaulatan negara dan kekuasaan dalam negara.
1.3 Urutan Pembahasan
Materi pembahasan akan dimulai dengan menguraikan pengertian
negara, hakikat negara dan kedaulatan negara. Pada bagian akhir
pembahasan akan dikemukakan tentang kekuasaan dalam negara
sebagai faktor lingkungan sosial pemerintahan.
2. MATERI PEMBELAJARAN
2.1 Pengertian Negara
Tentu Anda sudah paham apa itu negara? Karena Anda sudah sering
menggunakan kata negara dalam perbincangan sehari-hari seperti:
kepala negara, warga negara, lambang negara, istana negara, dasar
negara, dan sebagainya. Dengan demikian Anda sudah mempunyai
bayangan persepsi tentang negara.

39
Negara adalah suatu organisasi masyarakat dalam suatu wilayah
yang dapat memaksakan kekuasaannya secara sah terhadap semua
golongan kekuasaan lainnya dan yang dapat menetapkan tujuan-tujuan
dari kehidupan bersama. Negara merupakan integrasi dari kekuasaan
politik, ia adalah organisasi pokok dari kekuasaan politik. Negara adalah
alat dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur
hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-
gejala kekuasaan dalam masyarakat. Negara menetapkan cara-cara dan
batas-batas sampai di mana kekuasaan dapat digunakan dalam
kehidupan bersama, baik oleh individu, golongan, asosiasi, maupun oleh
negara itu sendiri.
Untuk memberikan pemahaman yang luas kepada Anda, berikut akan
diuraikan beberapa definisi negara dari para ahli:
a. Aristoteles (dalam Inu Kencana, 1994 : 99);
Negara adalah persekutuan daripada keluarga dan desa, guna
memperoleh hidup yang sebaik-baiknya.
b. Jean Bodin
Negara adalah suatu persekutuan daripada keluarga-keluarga
dengan segala kepentingannya yang dipimpin oleh akal dari suatu kuasa
yang berdaulat.
c. Hugo de Groot
Negara adalah suatu persekutuan yang sempurna, daripada orang-
orang yang merdeka untuk memperoleh perlindungan hukum.
d. Bluntschli
Negara adalah suatu susunan pergaulan hidup bersama dengan tata
paksa.
e. Sumantri
Negara adalah suatu organisasi kekuasaan, oleh karena dalam
setiap organisasi yang bernama negara, selalu menjumpai adanya organ
atau alat perlengkapan yang mempunyai kemampuan untuk memaksakan

40
kehendaknya kepada siapa pun juga yang bertempat tinggal di dalam
wilayah kekuasaannya.
f. Prof. Kranenburg
Negara adalah suatu sistem daripada tugas-tugas umum dan
organisasi-organisasi yang diatur, dalam usaha negara untuk mencapai
tujuannya, yang juga menjadi tujuan rakyat/masyarakat yang diliputi, maka
harus ada pemerintah yang berdaulat.
g. Roger H. Soltau
Negara adalah alat (agency) atau wewenang (authority) yang
mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama, atas nama
masyarakat.
h. Harold J. Laski
Negara adalah suatu masyarakat yang diintegrasikan karena
mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah
lebih agung daripada individu atau kelompok yang merupakan bagian dari
masyarakat itu. Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang hidup
dan bekerjasama untuk mencapai terkabulnya keinginan-keinginan
mereka bersama. Masyarakat merupakan negara kalau cara hidup yang
harus ditaati baik oleh individu maupun oleh asosiasi-asosiasi ditentukan
oleh suatu wewenang yang bersifat memaksa dan mengikat.
i. Max Weber
Negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam
penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam sesuatu wilayah.
j. Robert M. MacIver
Negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan penertiban di
dalam suatu masyarakat dalam suatu wilayah dengan berdasarkan sistem
hukum yang diselenggarakan oleh suatu pemerintah yang untuk maksud
tersebut diberi kekuasaan memaksa.
k. Prof. Hoegerwerf
Negara adalah suatu kelompok yang terorganisasi, yaitu suatu
kelompok yang mempunyai tujuan-tujuan yang sedikit banyak

41
dipertimbangkan, pembagian tugas dan perpaduan kekuatan-kekuatan.
Anggota-anggota kelompok ini para warga negara, bermukim di suatu
daerah tertentu. Negara memiliki kekuasaan tertinggi yang diakui kedau-
latannya di daerah ini. Ia menentukan bila perlu dengan jalan paksa dan
kekerasan, batas-batas kekuasaan dari orang-orang dan kelompok dalam
masyarakat di daerah ini. Hal ini tidak menghilangkan kenyataan bahwa
kekuasaan negara pun mempunyai batas-batas, umpamanya disebabkan
kekuasaan dari badan-badan internasional dan supranasional. Kekuasaan
negara diakui oleh warga negara dan oleh warga negara lain, dengan kata
lain kekuasaan tertinggi disahkan menjadi wewenang tertinggi. Maka ada
suatu pimpinan yang diakui oleh negara, yaitu pemerintah.
Dari beberapa pengertian negara tersebut dapat dikemukakan ciri-ciri
yang melekat pada negara yaitu:
a. Bentuk persekutuan hidup.
b. Berfungsi mengatur masyarakat.
c. Mempunyai hak monopoli/hak memaksa.
d. Alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
2.2 Hakikat Negara
Mungkin Anda pernah bertanya dalam hati, mengapa negara itu
muncul? Bukankah negara itu abstrak, kita tidak pernah melihat wujud
negara Inggris, Prancis dan Indonesia, yang kita lihat hanyalah
benderanya, orangnya, peta wilayahnya, susunan pemerintahannya,
lambangnya atau mendengar bahasa nasionalnya, lagu kebangsaannya
serta merasakan ideologinya.
Dalam perjalanan hidup manusia, sejak zaman dahulu kala;
manusia dalam melawan bahaya dan bencana, mempertahankan hidup,
mencari makan serta melanjutkan keturunan, tidak dapat seorang diri.
Manusia ingin hidup berkelompok dan bermasyarakat (sosial), dorongan
nalurinya yang menghendaki demikian.
Dalam rumusan teori tentang asal mula negara dibuat berdasarkan
telaah atas peristiwa sejarah suatu negara, kemudian diambil garis

42
besarnya secara induktif. Negara adalah kelompok terbesar, jadi bukan
perserikatan bangsa-bangsa (PBB) bukan ASEAN, bukan pula
persekutuan beberapa negara, karena ikatan negaralah yang paling
dominan menguasai batin manusia.
Untuk negaranya manusia mau berjuang mati-matian, para
olahragawan dan olahragawati berjuang hanya untuk kebanggaan
negaranya, para pahlawan bertempur hanya untuk mempertahankan
negaranya, bahkan untuk hari lahir negaranya, manusia mau
mengorbankan waktunya untuk berdiri tegak menghormati dalam upacara-
upacara yang sengaja dibuat untuk memperingati. Sebaliknya hanya
negaralah yang mempunyai wewenang untuk menindak warganya bila
melanggar peraturan negara tersebut tanpa bantahan.
Dalam beberapa literatur banyak dijumpai teori yang
mengemukakan asal-usul negara, di antaranya sebagai berikut:
a. Teori Kenyataan
Yaitu teori yang menganggap bahwa memang sudah kenya-
taannya, berdasarkan syarat-syarat yang dipenuhi, negara itu dapat
timbul. Syarat tertentu misalnya yaitu adanya pemerintah, adanya wilayah,
adanya penduduk dan adanya pengakuan dari dalam dan luar negeri.
b. Teori Ketuhanan
Yaitu teori yang menganggap bahwa memang sudah kehendak
Allah Yang Maha Kuasa negara itu timbul. Anggapan ini berawal dari
determinisme religious, yaitu bahwa segala sesuatunya ini sudah
ditakdirkan Allah, hal ini terlihat misalnya di Indonesia dalam Pembukaan
UUD 1945, yaitu: Atas Berkat Rahmat Allah ..... dan seterusnya.
c. Teori Perjanjian
Yaitu teori yang menganggap bahwa sesuatu negara itu terbentuk
berdasarkan perjanjian bersama, baik antara orang-orang yang sepakat
mendirikan negara, maupun antara orang-orang yang menjajah dengan
yang dijajah.

43
d. Teori Penaklukan
Yaitu teori yang menganggap bahwa negara itu timbul karena
serombongan manusia mengalahkan rombongan manusia yang lain.
Dengan demikian pembentukan negara dapat karena proklamasi,
peleburan dan penguasaan, atau pemberontakan. Teori ini disebut juga
teori kekuatan (force theory) karena dalam teori ini kekuatan memuat
hukum (might makes right). Kekuatan adalah pembenaran dan Raison
detre-nya negara.
e. Teori Patrilineal dan Matrilineal
Yaitu teori yang menganggap bahwa negara itu timbul karena
dalam suatu kelompok keluarga yang primitif, ayahlah yang berkuasa dan
garis keturunan ditarik dari pihak ayah. Keluarga kemudian berkembang
biak dan terjadilah beberapa keluarga yang kesemuanya dipimpin oleh
kepala induk (ayah). Inilah benih-benih pertama negara, sampai dibentuk
pemerintahan yang disentralisir. Teori ini disebut teori patrilinial,
sedangkan teori matrilinial adalah apabila keadaan ini berlangsung pada
kelompok suku, yang menarik garis keturunan melalui ibu.
f. Teori Organis
Yaitu teori yang menganggap bahwa negara sebagai manusia (laki-
laki). Pemerintah dianggap sebagai tulang, undang-undang dianggap
sebagai syaraf, kepala negara dianggap sebagai kepala, masyarakat
dianggap sebagai daging. Dengan begitu negara itu dapat lahir, tumbuh,
berkembang dan mati.
g. Teori Daluwarsa
Yaitu teori yang dianggap bahwa negara terbentuk karena memang
kekuasaan raja (baik diterima maupun ditolak oleh rakyat) sudah
daluwarsa memiliki kerajaan (sudah lama memiliki kekuasaan, akhirnya
menjadi hak milik oleh karena kebiasaan).
h. Teori Alamiah
Yaitu teori yang menganggap bahwa negara adalah ciptaan alam,
karena manusia dianggap sebagai makhluk sosial, sekaligus juga makhluk

44
politik. Oleh karenanya manusia ditakdirkan untuk hidup bernegara. Jadi
dengan situasi dan kondisi setempat negara terbentuk dengan
sendirinya.
i. Teori Filosofis
Yaitu teori yang menganggap bahwa berdasarkan renungan-
renungan tentang negara, memikirkan bagaimana negara itu seharusnya
ada, negara sebagai kesatuan yang mistik, yang bersifat supranatural,
namun memiliki hakikat sendiri yang terlepas dari komponen-
komponenya.
j. Teori Historis
Yaitu teori yang menganggap bahwa lembaga-lembaga sosial
kenegaraan tidak dibuat, tetapi tumbuh secara evolusioner sesuai dengan
kebutuhan-kebutuhan manusia. Oleh karenanya lembaga-lembaga sosial
kenegaraan itu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi dari lingkungan
setempat, waktu dan tuntutan zaman. Sehingga secara historis
berkembang menjadi negara-negara sebagaimana yang kita lihat seperti
sekarang ini.
Dalam sekelompok manusia yang hidup bersama memang pada
umumnya ada sejumlah orang yang mengatur dan melakukan usaha guna
menciptakan serta memelihara ketertiban. Mereka merupakan pimpinan
dalam masyarakat negara. Golongan orang-orang yang berwenang dan
bertugas untuk mengatur serta memimpin ini disebut pemerintah.
3.3 Kedaulatan Negara
Kedaulatan merupakan unsur mutlak adanya suatu negara, karena
kedaulatanlah yang menentukan eksistensi dan absahnya suatu negara,
tanpa kedaulatan tidak pernah akan terwujud suatu negara secara pasti.
Dalam teori kedaulatan negara dikemukakan tentang bagaimana orang-
orang tertentu didaulat menjadi penguasa (pemerintah) suatu negara,
sehingga kita kenal teori-teori terbentuknya kedaulatan sebagai berikut:

45
1. Teori Kedaulatan Tuhan
Dalam teori ini kepala negara dianggap anak Tuhan, atau
raja/kepala negara dianggap sebagai refresentasi wakil Tuhan sehingga
tidak ada kemungkinan untuk membantahnya.
2. Teori Kedaulatan Rakyat
Yaitu kepala negara dipilih dari rakyat karena rakyatlah yang
mempunyai kedaulatan tertinggi. Dalam hal ini rakyatlah yang
menentukan siapa yang berhak mengatur negara.
3. Teori Kedaulatan Negara
Yaitu segalanya demi negara, karena negara yang menurut
kodratnya mempunyai kekuasaan mutlak. Segala sesuatu yang berkaitan
atas nama negara mempunyai kedaulatan mutlak terhadap segala
sesuatu yang ada dalam negara itu.
4. Teori Kedaulatan Hukum
Yaitu segalanya berdasarkan hukum, karena yang berdaulat adalah
hukum, kekuasaan diperoleh melalui hukum. Dalam hal ini hukumlah yang
merupakan sumber dan sahnya kedaulatan dalam suatu negara.
3.4 Kekuasaan Dalam Negara
Dalam kehidupan kita sehari-hari tentunya sering berhubungan
dengan kekuasaan. Misalnya kita disuruh oleh ayah untuk membelikan
rokok di warung, dan kita menuruti perintah itu; berarti ayah kita
mempunyai kekuasaan atas diri kita. Dalam hal ini kekuasaan berarti
kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi
tingkah laku seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga
tingkah laku itu menjadi sesuai dengan keinginan dengan tujuan dari
orang yang mempunyai kekuasaan.
Gejala kekuasaan adalah gejala yang lumrah terdapat dalam
kehidupan masyarakat, dalam semua bentuk hidup bersama; karena
salah satu bentuk interaksi manusia adalah transaksi kekuasaan.Secara
filosofis kekuasaan itu senantiasa ada dalam kehidupan masyarakat,
karena setiap interaksi antara manusia biasanya terdapat unsur

46
kekuasaan. Misalnya Anda mengikuti tutorial dari salah seorang dosen,
walaupun di situ terjadi interaksi antara mahasiswa dengan dosen tetapi
ada unsur kekuasaannya di mana sang dosen mempunyai kekuasaan
untuk memberikan kuliah, tugas, dan ujian. Salah satu pengertian
kekuasaan dari Max Weber (dalam Soerjono Sukanto1985 : 296) yang
mengemukakan bahwa kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau
sekelompok orang untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan-
kemauannya sendiri, dengan sekaligus menerapkannya terhadap
tindakan-tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan-golongan
tertentu.
Kekuasaan senantiasa ada di dalam setiap masyarakat baik yang
masih bersahaja, maupun yang sudah maju; baik yang masih kecil,
maupun yang sudah besar atau rumit susunannya. Akan tetapi walaupun
selalu ada kekuasaan tidak dapat dibagi rata kepada semua anggota
masyarakat. Justru karena pembagian yang tidak merata tadi timbul
makna yang pokok dari kekuasaan, yaitu kemampuan untuk
mempengaruhi pihak lain untuk kehendak yang ada pada pemegang
kekuasaan.
Jadi kekuasaan dapat didefinisikan sebagai hasil pengaruh yang
diinginkan seseorang atau sekelompok orang, sehingga dengan demikian
dapat merupakan suatu konsep kuantitatif, karena dapat dihitung hasilnya.
Misalnya berapa luas wilayah jajahan seseorang, berapa banyak orang
yang berhasil dipengaruhi, berapa lama yang bersangkutan berkuasa,
berapa banyak uang dan barang yang dimilikinya dan lain-lain.
Dari uraian tersebut, berarti secara filsafati kekuasaan dapat
meliputi ruang, waktu, barang dan manusia. Tetapi pada ghalibnya
kekuasaan itu ditujukan pada diri manusia, terutama kekuasaan
pemerintahan dalam negara. Akan halnya kekuasaan negara dalam
menguasai masyarakat, memiliki otoritas dan kewenangan. Otoritas dalam
arti hak untuk memiliki legitimasi kekuasaan, sedangkan kewenangan
dalam arti hak untuk ditaati.

47
Sebagai suatu kekuasaan yang dilembagakan, pemerintahan suatu
negera, tidak hanya tampak bagaikan kenyataan memiliki kekuasaan,
tetapi juga diakui mempunyai hak untuk menguasai. Perhatikanlah
bagaimana pemerintah suatu negara memiliki hak untuk memungut pajak
secara paksa, memaksa memasukkan orang ke dalam penjara, bahkan
pemerintah dapat menjatuhi hukuman mati, menciptakan peraturan dan
keputusan yang disebut perundang-undangan.
Seluruhnya ini bermula dari keinginan sekelompok orang dalam
mengorganisir masyarakat, lalu mereka bersedia bila ada seseorang atau
sekelompok orang yang akan melaksanakan kewibawaan memelihara
mereka, disebut pemimpin pemerintahan. Pemimpin pemerintahan
tersebut sudah barang tentu tidak dapat begitu saja berasal dari luar,
sehingga dengan sendirinya lahirlah pemimpin pemerintahan dari salah
seorang di antara mereka, yaitu mereka yang dapat menguasai
masyarakat lainnya, mempunyai kekuatan, memiliki wibawa yang melebihi
pihak lainnya, inilah kekuasaan.
Wewenang yang dimiliki suatu pemerintahan negara, dapat saja
dipertanyakan apakah memiliki keabsahan atau tidak. Misalnya bisa ada
kabinet demisioner pada suatu sistem pemerintahan negara, lalu berdiri
kabinet tandingan sebagai kabinet bayangan apakah masyarakat
mempercayainya dan mengakuinya.
Mempertanyakan keabsahan wewenang dari seseorang atau
sekelompok orang, berarti membicarakan pula norma, nilai dan budaya.
Apakah sekelompok orang-orang yang berkuasa, lalu dengan begitu saja
pada akhirnya dianggap bangsawan yang berdarah biru. Kasta-kasta dan
derajat keningratan adalah salah satu akibat yang dihasilkan kekuasaan
turun-temurun yang muncul dalam masyarakat.
3. PENUTUP
3.1 Rangkuman
Negara adalah suatu organisasi masyarakat dalam suatu wilayah
yang dapat memaksakan kekuasaannya secara sah terhadap semua

48
golongan kekuasaan lainnya dan yang dapat menetapkan tujuan-tujuan
dari kehidupan bersama. Negara merupakan integrasi dari kekuasaan
politik, ia adalah organisasi pokok dari kekuasaan politik. Negara adalah
alat dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur
hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-
gejala kekuasaan dalam masyarakat.
Dari berbagai definisi tentang negara yang dikemukakanoleh para
ahli, maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri yang melekat pada negara
yaitu:
a. Bentuk persekutuan hidup.
b. Berfungsi mengatur masyarakat.
c. Mempunyai hak monopoli/hak memaksa.
d. Alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Gejala kekuasaan adalah gejala yang lumrah terdapat dalam
kehidupan masyarakat, dalam semua bentuk hidup bersama; karena
salah satu bentuk interaksi manusia adalah transaksi kekuasaan.Secara
filosofis kekuasaan itu senantiasa ada dalam kehidupan masyarakat,
karena setiap interaksi antara manusia biasanya terdapat unsur
kekuasaan.
Kekuasaan senantiasa ada di dalam setiap masyarakat baik yang
masih bersahaja, maupun yang sudah maju; baik yang masih kecil,
maupun yang sudah besar atau rumit susunannya. Akan tetapi walaupun
selalu ada kekuasaan tidak dapat dibagi rata kepada semua anggota
masyarakat. Justru karena pembagian yang tidak merata tadi timbul
makna yang pokok dari kekuasaan, yaitu kemampuan untuk
mempengaruhi pihak lain untuk kehendak yang ada pada pemegang
kekuasaan.
3.2 Soal Latihan
Untuk memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap materi ini, maka
mahasiswa diharapkan menyelesaikan soal-soal latihan berikut ini.
1) Apa yang dimaksud dengan negara ?

49
2) Kemukakan beberapa teori terbentuknya negara !
3) Sebutkan beberapa ciri yang melekat pada negara!
4) Jelaskan dengan contoh bahwa kekuasaan itu selalu ada dalam setiap
interaksi manusia!
3.4 Daftar Pustaka
Adrain, Charles F., Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial, Tiara
Wacana, Yogyakarta, 1992.
Alfian, Pemikiran Umum dan Prospek Demokrasi Pancasila dalam
Muchtar Masoed, Perbandingan Sistem Politik, Gajahmada
Univesity Press, Yogyakarta.
Budiardjo, Miriam, Dasar-dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, 1977.
HAndayaningrat, Soewarno, Administrasi Pemerintahan dalam
Pembangunan Nasional, Gunung Agung, Jakarta, 1983.
Iver, Mac, Jaring-jaring Pemerintahan, Aksara Baru, Jakarta, 1985: 11-32.
Kansil. Cst., Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945; PT. Pradnya
Paramita, Jakarta.
Kattsoff, Louis O., Pengantar Filsafat, Tiara Wacana Yogya, 1992.
Kumorotomo, Wahyudi, Etika Administrasi Negara, Rajawali Press,
Jakarta, 1994.
Musanef, Sistem Pemerintahan di Indonesia, CV. Haji Masagung, Jakarta,
1983.
Ndraha, Taliziduhu, Metodologi Pemerintahan Indonesia. Bina Aksara,
1983.
Suryaningrat, Bayu, Mengenal Ilmu Pemerintahan, Aksara Baru, 1987: 1-
52.
Suseno, Frans Magnis, Etika Politik, Gramedia, Jakarta, 1987: 167-179.
Syafiie, Inu Kencana, Pengantar Ilmu Pemerintahan, PT. Eresco, Jakarta,
1992.
----------------, Etika Pemerintahan, PT. Eresco, Jakarta, 1993.
----------------, Ilmu Pemerintahan, Manadar Maju, Bandung, 1994.
Widjaya, A.W., Etika Pemerintahan, Bumi Aksara, Jakarta, 1991.

50
PELAYANAN PUBLIK SEBAGAI
VARIABEL LINGKUNGAN

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembelajaran
Setiap negara di manapun serta apapun bentuk pemerintahannya
selalu membutuhkan pelayanan publik. Pelayanan publik merupakan
suatu keharusan bagi negara atau pemerintahan untuk melayani warga
negaranya. Pelayanan publik tidak mudah dilakukan, dan banyak negara
yang gagal melakukan pelayanan publik yang baik bagi warganya.
Pelayanan publik (public service), merupakan salah satu pembahasan
yang cukup aktual dalam kajian birokrasi.
Pelayanan publik menjadi ujung tombak interaksi antara
masyarakat dan pemerintah. Kemampuan birokrasi dapat dinilai salah
satunya dengan melihat sejauh mana kualitas pelayanan publik. Sebagai
implementasi kebijakan birokrasi di lapangan, pelayanan publik pun
menarik minat tersendiri untuk dipelajari. Penilaian terhadap kemampuan
birokrasi publik tidak cukup hanya dilakukan dengan menggunakan
indikator-indikator yang melekat pada birokrasi seperti efisiensi dan
efektifitas, tetapi harus dilihat pula dari indikator-indikator yang melekat
pada pengguna jasa, seperti kepuasan pengguna jasa, akuntabilitas dan
responsivitas (Dwiyanto dkk, 2002).
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa diharapkan mengetahui
pengertian pelayanan publik, dan mampu menjelaskan perbedaan anatara
konsep publik dan privat, serta kriteria-kriteria dari pelayanan publik dan
privat tersebut.
1.3 Urutan Pembahasan
Dalam materi ini, pembahasan akan dimulai dengan memaparkan
berbagai pengertian tentang pelayanan publik. Kemudian akan dijelaskan
perbedaan antara pelayanan publik dan pelayanan privat dengan
membedakan antara konsep publik dan privat. Pada akhir penyajian, akan
dikemukakan kriteria-kriteria pelayanan publik.
2. MATERI PEMBELAJARAN
2.1 Pengertian Pelayanan Publik

51
Dalam sejarah perjalanan administrasi publik, pelayanan publik
semula difahami secara sederhana sebagai pelayanan yang
diselenggarakan oleh pemerintah. Konsep pelayanan publik terdiri dari
rangkaian dua kata, yaitu pelayanan dan publik. Pelayanan adalah cara
melayani, membantu menyiapkan, dan mengurus, menyelesaikan
keperluan, kebutuhan seseorang atau kelompok orang, artinya obyek
yang dilayani adalah individu, pribadi-pribadi dan kelompok organisasi
(Sianipar, 1998). Sedangkan publik secara umum diartikan sebagai
masyarakat atau rakyat. Berdasarkan pengertian itu, maka secara
sederhana pelayanan publik dapat diartikan sebagai suatu pelayanan atau
pemberian terhadap masyarakat yang berupa penggunaan fasilitas-
fasilitas umum, baik jasa maupun non jasa yang dilakukan oleh organisasi
publik dalam hal ini adalah suatu pemerintahan. Dalam pemerintahan,
pihak yang memberikan pelayanan adalah aparatur pemerintahan beserta
segenap kelengkapan kelembagaannya. Semua barang dan jasa yang
diselenggarakan oleh pemerintah kemudian disebut sebagai pelayanan
publik.
Pelayanan publik juga dapat diartikan sebagai pemberian layanan
(melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai
kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tatacara
yang telah ditetapkan (Kurniawan dalam Sinambella, 2008). Selanjutnya
dalam Kepmenpan No.63/KEP/M.PAN/7.2003), pelayanan publik diartikan
sebagai segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh
penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan
penerima layanan maupun pelaksanaan ketentuan perundang-undangan.
Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan
Publik, pelayanan publik diartikan sebagai kegiatan atau rangkaian
kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk
atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh
penyelenggara pelayanan publik. Sementara penyelenggara pelayanan

52
publik yang selanjutnya disebut penyelenggara adalah setiap institusi
penyelenggara negara, korporasi, lembaga independen yang dibentuk
berdasarkan undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan
hukum lain yang semata-mata dibentuk untuk kegiatan pelayanan publik.
Berdasarkan berbagai pengertian tersebut di atas, maka secara
sederhana pelayanan publik dapat diartikan sebagai segala kegiatan
dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar sesuai dengan hak-hak dasar
setiap warga negara dan penduduk atas suatu barang, jasa dan atau
pelayanan administrasi yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan
yang terkait dengan kepentingan publik. Adapun penyelenggaranya
adalah lembaga dan petugas pelayanan publik, baik Pemerintah Daerah
maupun Badan Usaha Milik Daerah yang menyelenggarakan pelayanan
publik. Sedangkan penerima pelayanan publik adalah orang perseorangan
dan atau kelompok orang dan atau badan hukum yang memiliki hak, dan
kewajiban terhadap suatu pelayanan publik.
2.2 Memahami Konsep Publik dan Privat
Dalam memahami konsep pelayanan publik, makna publik perlu
difahami, baik dalam perkembangan historis atau latar belakang
munculnya dan aplikasinya di dalam manajemen publik. Dalam
perkembangan ilmu administrasi publik, konsep publik bermakna luas
daripada hanya government (pemerintah saja). Sebagai akibat
meluasnya makna konsep publik tersebut, milai-nilai keadilan,
kewarganegaraan, (citizenship), etika, patriotisme, dan responsiveness
menjadi kajian penting di samping nilai-nilai efisiensi dan efektivitas
(Nurmandi, 2010:1)
Pemahaman terhadap sektor publik dan sektor privat menjadi
perdebatan dalam diskursus ilmiah. Perdebatan itu antara lain
menganggap bahwa kajian public sector merupakan bidang studi
administrasi negara, sedangkan private sector merupakan kajian disiplin
menajemen. Secara substansial diskursus mengenai isu-isu sektor privat
dan publik sudah lama diperdebatkan di Amerika Serikat. Sebagai
kesimpulan umum yang sangat relevan dapat dilihat pada uraian berikut

53
(Bruce McCallum, 1984). Pertama, ada persamaan praktik-praktik
manajemen pada sektor publik dan privat, sehingga yang lebih ditekankan
adalah peranan respektif para manajer dibidangnya masing-masing.
Kedua, ada persamaan praktik-praktik manajemen pada sektor publik dan
privat ke arah meningkatkan over time. Ketiga, persamaan-persamaan
dan perbedaan sektor publik dan privat relatif tidak penting, artinya tidak
menghasilkan sifat-sifat yang fundamental. Keempat, karena peranan dan
keahlian antara manajer sektor publik dan privat berbeda, maka training-
training yang digunakan juga berbeda, manajer sektor publik mungkin
akan gagal bila menjalankan sektor privat begitu juga sebaliknya. Kelima,
gaya manajemen sektor publik berbeda dengan sektor privat. Mungkin
prinsip atau teknik manajemen dapat diterapkan di dalam kedua sektor
tersebut, tetapi dalam tataran praktis tetap berbeda. Keenam, ada
pertukaran nilai antara manajer sektor publik dan sektor privat dalam
menentukan program-program pelayanan kepada publik.
Beberapa dimensi yang dapat dijabarkan dalam melihat perbedaan
antara sektor publik dan sektor privat seperti yang dikemukakan oleh
Bruce McCallum (1984), yaitu dalam hal tujuan dan sasaran, akuntabilitas,
merit system, jaminan kerja, koordinasi, keterlibatan politik dalam
pembuatan keputusan, konsistensi dalam pengambilan keputusan,
personalitas antara manajer publik dan privat.
Perbedaan antara manajemen sektor publik dan sektor privat
dalam hal dimensi tujuan, yaitu sektor publik memiliki tujuan yang sangat
banyak, seragam, bahkan terkadang kabur dan tidak nyata. Hal ini
disebabkan karena ada polarisasi aspek politis dan ekonomis yang berarti
public sector goal itu tidak begitu nampak seperti halnya private sector
goal.
Akuntabilitas dalam sektor publik dan privat juga berbeda, dalam
sektor privat kebebasan untuk memilih pekerjaan guna meraih tujuan yang
dbebankan kepadanya akan dipertanggungjawabkan kepada komisaris
dan pemegang saham. Dalam sektor publik atasan vertical bertanggung
jawab pada institusi yang berwenang. Tanggung jawab itu mencakup

54
finansial, administratif, politis serta pelaksanaan program kerja sesuai
dengan yang ditetapkan. Ini merupakan konsekuensi peran administrator
publik. Orang yang ditunjuk pada pelayanan publik adalah orang-orang
yang memiliki kriteria tertentu dan dinilai berdasarkan keahlian, kualifikasi
khusus, loyalitas secara politis. Sedangkan pada sektor privat, prinsip
kepantasan sesuai dengan kualifikasi keahlian yang berdasarkan prinsip-
prinsip manajemen modern, sehingga maximized profit yang dicapai akan
terwujud.
Perbedaan lain adalah masalah jaminan kerja. Dalam sektor privat
cenderung untuk meningkatkan jaminan dari jabatan yang diembannya.
Dalam hal ini, sektor publik juga mengikuti trend demikian. Walaupun ada
kecenderungan ke arah security of tenure dari masing-masing sektor,
akan tetapi dalam praktiknya, jumlah imbalan yang diberikan berbeda.
Kenyataan ini disebabkan oleh pengelolaan pada masing-masing sektor.
Sektor privat selalu menggunakan sumber dana, sumber daya dan
sumber-sumber lainnya mengikuti prosedur dan proses atau standar yang
efektif dan efisien. Segala sesuatunya dihitung dari berapa jumlah biaya
yang harus dikeluarkan dan profit yang akan diterima. Hasil keuntungan
bersih organisasi privat itulah yang akan didistribusikan kepada pekerja
sesuai dengan proporsi masing-masing. Fenomena yang terjadi pada
sektor privat tersebut tidak terjadi pada sektor publik. Rumitnya jalur
birokrasi serta tujuan yang bersifat sosial mengakibakan tidak efisiennya
pengelolaan organisasi. Hal tersebut berdampak pada jaminan yang
diberikan juga terbatas. Sektor publik memiliki koordinasi
antardepartemen dan lembaga publik, sementara sektor privat
koordinasinya antara pimpinan dan bawahan serta komisaris organisasi.
Mendefinisikan pelayanan publik tidak lagi dapat ditentukan dengan
hanya melihat lembaga penyelenggaranya, yaitu pemerintah atau swasta.
Pelayanan publik tidak lagi tepat untuk difahami sebagai pelayanan dari
pemerintah, begitu juga pelayanan swasta yang tidak dapat difahami
hanya sebagai pelayanan yang diberikan oleh lembaga non-pemerintah.
Pelayanan publik harus dilihat dari karakteristik dan sifat dari pelayanan

55
itu sendiri, bukan dari karakteristik lembaga penyelenggaranya atau
sumber pembiayaannya semata. Kriteria yang selama ini secara
konvensional digunakan untuk membedakan antara pelayanan publik dan
pelayanan privat tidak dapat lagi digunakan dengan mudah untuk
mendefinisikan pelayanan publik.
Berbagai pemikiran yang berkaitan dengan itu, antara lain
dikemukakan oleh Frederickson (1997: 31-32), dengan membedakan
berbagai perspektif dalam mendefinisikan publik, yaitu:
1. Publik sebagai kelompok kepentingan (perspektif pluralis);
2. Publik sebagai pemilih rasional (perspektif pilihan publik);
3. Publik sebagai pihak yang diwakili (perspektif perwakilan);
4. Publik sebagai pelanggan (perspektif penerima layanan publik)
5. Publik sebagai warganegara.
Dalam perspektif pluralis, publik difahami sebagai kelompok
kepentingan sebagaimana yang dikembangkan oleh ilmuan politik.
Kepentingan (interest) publik disalurkan sedemikian rupa oleh kelompok
kepentingan, baik dalam bentuk artikulasi kepentingan maupun agregasi
kepentingan. Dalam demokrasi, sebuah atau beberapa kelompok
kepentingan melakukan aliansi dengan partai politik untuk
mengartikulasikan kepentingannya.
Pemahaman publik dalam perspektif pemilih rasional
dikembangkan oleh Buchanan dan Tullock. Mereka mengembangkan
model ekonomi untuk memformulasikan perilaku individu dalam sistem
politik. Salah satu karya yang menerapkan model Buchanan dan Tullock
adalah Down (dalam Frederickson, 1997:34) pada perilaku birokrat dalam
mengkalkulasi preferensi pribadinya. Teori Down tentang instansi
pemerintah adalah: Pertama, menekankan benefit positif pada kegiatan
instansi pemerintah dan mengurangi biaya; Kedua, menunjukkan bahwa
perluasan pelayanan instansi akan lebih memenuhi harapan dan
pengiritan akan kurang memenuhi harapan; Ketiga, instansi lebih
memberikan pelayanan pada kepentingan masyarakat dalam arti luas
daripada kepentingan yang spesifik; Keempat, menekankan pada efisiensi
pada instansi tingkat atas; Kelima, menekankan pada prestasi dan
kemampuan, sementara mengabaikan kegagalan dan ketidakmampuan.

56
Perspektif ketiga adalah perspektif perwakilan, yang melihat publik
sebagai pihak yang diwakili oleh elected officials (politisi). Dalam
perspektif ini, kepentingan publik diasumsikan telah diwakili oleh wakilnya
yang duduk di lembaga-lembaga perwakilan. Kelemahan utama perspektif
ini adalah pada kenyataannya politisi tidak menyuarakan kepentingan
publik, dan politisipun tidak pernah melibatkan masyarakat dalam
perumusan kebijakan.
Perspektif keempat, melihat publik sebagai pelanggan (customer)
pelayanan publik yang diselenggarakan oleh birokrasi publik. Lipsky
mengembangkan konsep street level bureaucracy untuk menunjukkan
interaksi yang erat antara aparat pelayanan publik dengan masyarakat
yang dilayani. Namun iapun mensinyalir bahwa birokrasi lebih melayani
kepentingannya daripada kepentingan masyarakat, dan street level
bureaucracy lebih memfungsikan dirinya sebagai kelompok kepentingan.
Perspektif terakhir melihat publik sebagai warganegara. Sebagai
warganegara, seseorang tidak hanya mewakili kepentingan individu
namun juga kepentingan publik. Model-model partisipasi publik dalam
pengambilan keputusan lebih banyak menerapkan perspektif ini.
2.3 Kriteria Pelayanan Publik
Atas dasar itu, maka muncul suatu pertanyaan, apa yang kemudian
dapat digunakan untuk menentukan suatu pelayanan dapat dikategorikan
sebagai pelayanan publik dan kapan pelayanan itu kehilangan sifatnya
sebagai pelayanan publik?. Menurut Dwiyanto (2010:18-19) terdapat
banyak kriteria untuk menentukan sebuah pelayanan (barang, jasa dan
administratif) termasuk sebagai pelayanan publik atau bukan. Adapun
kriteria tersebut dapat dilihat pada uraian berikut.
Kriteria pertama yang biasanya digunakan adalah sifat dari barang
dan jasa itu sendiri (Stiglitz, 2000:128; Ostrom, Gradner & Walker:1994:7).
Barang dan jasa yang termasuk dalam kategori barang publik atau
barang yang memiliki ekternalitas tinggi biasanya tidak dapat
diselenggarakan oleh korporasi atau diserahkan kepada pasar, karena
mereka tidak dapat mengontrol siapa yang mengkonsumsi barang dan

57
jasa tersebut, sementara barang dan jasa tersebut sangat penting bagi
kehidupan warga dan masyarakat luas. Karena pelayanan ini sangat
penting dan harus disediakan oleh negara, sehingga pelayanan tersebut
seharusnya menjadi bagian dari pelayanan publik.
Kriteria kedua yang dapat digunakan untuk mendefinisikan
pelayanan publik adalah tujuan dari pelayanan barang dan jasa.
Penyediaan barang dan jasa yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan
misi negara, walaupun barang dan jasa itu bersifat privat, dapat dikatakan
sebagai pelayanan publik. Tujuan dan misi negara biasanya diatur dalam
konstitusi atau peraturan perundangan lainnya.
Semua pelayanan yang memenuhi salah satu dari kedua kriteria,
yaitu merupakan jenis barang atau jasa yang memiliki eksternalitas tinggi
dan sangat diperlukan oleh masyarakat serta penyediaannya untuk
mencapai tujuan atau misi negara, baik dalam rangka memenuhi hak dan
kebutuhan dasar warga, maupun tujuan strategis pemerintah, seharusnya
dikategorikan sebagai pelayanan publik. Ketika sebuah pelayanan
menjadi pelayanan publik, maka negara tidak dapat lepas tangan dan
menyerahkan penyelenggaraannya kepada mekanisme pasar atau
assosiasi sukarela sepenuhnya. Meskipun keterlibatan pasar untuk
berpartisipasi telah meringankan beban pemerintah, namun untuk
menghgindari agar keterlibatan tersebut tidak merugikan kepentingan
warga pengguna, maka keterlibatan pasar atau assosiasi sukarela dalam
penyelenggaraan layanan publik harus diatur dalam peraturan
perundangan.
Berdasarkan kedua kriteria seperti yang telah disebutkan di atas,
maka perbedaan ciri pelayanan publik dengan pelayanan privat dapat
dijelaskan. Pelayanan privat dapat didefinisikan sebagai kegiatan untuk
memenuhi kebutuhan perseorangan, yang bukan menjadi hajat hidup
orang banyak, bukan menjadi kebutuhan bersama secara kolektif, dan
tidak menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk memenuhi
kebutuhan minimal warganya agar dapat hidup secara layak. Lembaga

58
pemerintah dan swasta yang terlibat dalam penyelenggaraan layanan itu,
tidak menjadi bagian dari lembaga penyelenggara layanan publik.
Sedangkan suatu pelayanan didefinisikan sebagai pelayanan
publik, maka tanggung jawab penyediaannya menjadi tanggung jawab
negara. Tentu hal ini tidak berarti pemerintah atau unsur penyelenggara
negara lainnya harus melakukannya sendiri. Negara dapat melibatkan
lembaga non pemerintah untuk menyelenggarakan pelayanan publik.
Dalam penyelenggaraannya, negara harus menyediakan anggaran atau
subsidi untuk menjamin semua warga memiliki akses terhadap pelayanan
tersebut.
3. PENUTUP
3.1 Rangkuman
Konsep pelayanan publik terdiri dari rangkaian dua kata, yaitu
pelayanan dan publik. Pelayanan adalah cara melayani, membantu
menyiapkan, dan mengurus, menyelesaikan keperluan, kebutuhan
seseorang atau kelompok orang, artinya obyek yang dilayani adalah
individu, pribadi-pribadi dan kelompok organisasi (Sianipar,1998).
Beberapa dimensi yang dapat dijabarkan dalam melihat perbedaan
antara sektor publik dan sektor privat seperti yang dikemukakan oleh
Bruce McCallum (1984), yaitu dalam hal tujuan dan sasaran, akuntabilitas,
merit system, jaminan kerja, koordinasi, keterlibatan politik dalam
pembuatan keputusan, konsistensi dalam pengambilan keputusan,
personalitas antara manajer publik dan privat.
Menurut Dwiyanto (2010:18-19) terdapat banyak kriteria untuk
menentukan sebuah pelayanan (barang, jasa dan administratif) termasuk
sebagai pelayanan publik atau bukan. Beberapa kriteria tersebut anatara
lain; sifat dari barang dan jasa itu sendiri, dan tujuan dari pelayanan
barang dan jasa tersebut.
3.2 Soal Latihan
Untuk memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai materi yang telah
disajikan di atas, silakan kerjakan soal latihan berikut ini.
1) Apa yang dimaksud dengan pelayanan publik?
2) Jelaskan perbedaan anatara pelayanan publik dan privat?

59
3) Jelaskan kriteria-kriteria pelayanan publik!
3.3 Umpan Balik
Baca kembali materi kegiatan belajar yang menyangkut tentang
pengertian pelayanan publik, pahami perbedaan antara konsep publik dan
privat, dan berbagai kriteria pelayanan publik Untuk menjawab semua soal
di atas jawab dengan seksarna hingga paham, agar mahasiswa lebih
yakin dapat berdiskusi dengan teman kuliah.

3.4 Daftar Pustaka


Cooper,P.J. 1998. Public Administration for the Twenty-first Century.
Orlando, Florida, : Harcourt Brace.
Davis, Keith dan John W. Newstrom. 1985. Perilaku dalam Organisasi,
Penerbit Erlangga

Denhardt Robert B. dan Denhardt Janet V. 2006. Public Administration:


An Action Overview, Fifth Edition. Thomson Wadsworth,
United States of America

---------------, 2003. The New Public Service Serving, not Steering, M.E.
Sharpe, Armonk New York, London England.

Donovan, F. & A.C. Jackson. 1991. Managing Human Service


Organization. New York, N.Y. Prentice Hall.

Dwiyanto Agus (editor), 2006. Mewujudkan Good Governance Melalui


Pelayanan Publik, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

---------------, 2010. Manajemen Pelayanan Publik: Peduli, Inklusif, dan


Kolaboratif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

---------------, 2011. Mengembalikan Kepercayaan Publik Melalui


Reformasi Birokrasi. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Henry Nicholas, 1995. Administrasi Negara dan Masalah-Masalah


Publik, RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Lipsky, Michael, 1980. Street Level Bureaucracy; Dilemas of The


Individual in Public Service. Russel Sage Foundation,
New York.

60
Nurmandi, Achmad, 2010. Manajemen Pelayanan Publik. Yogyakarta:
Sinergi Visi Utama.

61
FUNGSI PEMERINTAHAN
DALAM PELAYANAN PUBLIK

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembelajaran
Dalam suatu negara, pelayanan publik menjadi salah satu indikator
penilaian kualitas administrasi pemerintahan dalam melakukan tugas dan
fungsinya. Baik tidaknya administrasi publik atau pemerintahan dilihat dari
seberapa jauh pelayanan publiknya sesuai dengan tuntutan, kebutuhan
dan harapan masyarakat (Thoha, 1997:2).
Kecenderungan rendahnya kualitas pelayanan yang diberikan
birokrasi di Indonesia, terjadi di semua organisasi atau birokrasi
pemerintahan (Rasyid, 1997), sebagaimana juga yang sering kali dimuat
dan diiput dalam berbagai media massa. Kecenderungan tersebut terjadi
baik di tingkat pemerintah pusat maupun daerah, termasuk pada
organisasi birokrasi pemerintahan daerah, pemerintah kota maupun
pemerintah kabupaten, kecamatan dan kelurahan/desa.
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa diharapkan memahami
konsep dan metode pelayanan, serta filosofi pelayanan masyarakat, serta
dapat menjelaskan dimensidimensi pelayanan publik sebagai komponen
lingkungan pemerintahan.
1.3 Urutan Pembahasan
Materi pembelajaran ini akan dimulai dengan menguraikan konsep
dan metode pelayanan, kemudian menjelaskan filosofi pelayanan
masyarakat, dan pada akhir penyajian akan diuraikan tentang kualitas
pelayanan dan dimensi-dimensi pelayanan publik.
2. MATERI PEMBELAJARAN
2.1 Konsep Dan Metode Pelayanan
Pelayanan publik menjadi salah satu indikator penilaian kualitas
administrasi pemerintahan dalam melakukan tugas dan fungsinya. Baik

62
tidaknya administrasi publik atau pemerintahan dilihat dari seberapa jauh
pelayanan publiknya sesuai dengan tuntutan, kebutuhan dan harapan
masyarakat (Thoha, 1997:2).
Kecenderungan rendahnya kualitas pelayanan yang diberikan
birokrasi di Indonesia, terjadi di semua organisasi atau birokrasi
pemerintahan (Kumorotomo, 1996, Rasyid, 1997), sebagaimana juga
yang sering kali dimuat dan diliput dalam berbagai media massa.
Kecenderungan tersebut terjadi baik di tingkat pemerintah pusat maupun
daerah, termasuk pada organisasi birokrasi pemerintahan daerah,
pemerintah kota maupun pemerintah kabupaten, kecamatan dan
kelurahan/ desa.
Hal ini menjadi krusial ketika UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan di Daerah dan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah ditetapkan
dengan salah satu tujuannya adalah mendekatkan pelayanan kepada
masyarakat dan bisa memberikan pelayanan yang lebih prima kepada
masyarakat.
Timbul pertanyaan apakah birokrasi sudah membawakan fungsi
pelayanan dan perlindungan kebutuhan dan kepentingan masyarakat/
publik? Realitas empirik saat ini menunjukan bahwa sikap dan tindakan
birokrasi dalam pelayanan kepada masyarakat cenderung belum sesuai
dengan yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari sinyalemen, keluhan,
kritik dan sorotan tajam berbagai kalangan terhadap birokrasi.
Untuk itu birokrasi pemerintahan terutama Pemerintah Daerah dan
perangkatnya, untuk saatnya berusaha meningkatkan kualitas
pelayanannya, hal yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi siapa
pelanggan atau yang memerlukan produk pelayanan dan pada saat yang
sama juga mengidentifikasi apa kebutuhan pelanggan atau yang
memerlukan pelayanan, setelah itu diidentifikasi jenis-jenis pelayanan
pada suatu organisasi/unit organisasi.

63
2.2 Filosofi Pelayanan Masyarakat
Kegiatan pelayanan pada dasarnya menyangkut pemenuhan suatu
hak, ia melekat pada setiap orang, baik secara pribadi maupun
berkelompok (organisasi) dan dilakukan secara universal. Hal ini seperti
yang diungkapkan oleh Moenir (1995: 41) bahwa: hak atas pelayanan itu
sifatnya sudah universal, berlaku terhadap siapa saja yang
berkepentingan atas hak itu, dan oleh organisasi apapun juga yang
tugasnya menyelenggarakan pelayanan.
Dilihat dari sisi pemerintahan maka pelayanan adalah proses
kegiatan pemenuhan kebutuhan masyarakat berkenaan dengan hak-hak
dasar dan hak pemberian, yang wujudnya dapat berupa jasa dan layanan.
Bagi pemerintah, masalah pelayanan menjadi semakin menarik untuk
dibicarakan karena menyangkut salah satu dari tiga fungsi hakiki
pemerintah, disamping fungsi pemberdayaan dan pembangunan (Rasyid,
1997: 48).
Masalah yang terjadi dalam proses hubungan atau pelayanan
antara birokrasi pemerintah dan masyarakat, berdasarkan beberapa
sinyalemen atau kritikan di atas, memberi gambaran bahwa keberadaan
birokrasi secara eksplisit dan implisit menjadi salah satu penyebab rendah
dan kurangnya kualitas dalam pelayanan. Realitas empirik menunjukkan
bahwa keberadaan birokrasi pemerintah belum menyadari fungsinya
sebagai pelayan masyarakat, tapi ingin dilayani masyarakat (Kumorotomo,
1996, Rasyid, 1996).
Dalam konteks hubungan antara pemerintah dan masyarakat,
dimana ada masyarakat di sana ada (diperlukan) governance (Ndraha,
1997b:68). Pemerintahan adalah semua badan yang memproduksi,
mendistribusi, atau menjual alat pemenuh kebutuhan rakyat berbentuk
jasa-publik dan Iayanan civil (Ndraha, 1997b:73).
Dalam kaitan itu, kegiatan pelayanan publik dalam prosesnya
menunjukkan hubungan dan interaksi antara pemberi pelayanan
(pemerintah) dan penerima pelayanan (rakyat/masyarakat). Oleh karena itu

64
Hubungan tersebut, menurut Ndraha (1997b:86) adalah hubungan yang
sejajar dengan hubungan antara produser/penjual/distributor dengan
konsumen/pembeli/distributee. Dengan bertolak pada konsep putting
people first, maka dalam hubungan tersebut tolok ukur atau standar
pelayanan. Lebih lanjut Ndraha (1997b:88) mengatakan ibarat orang yang
makan di mana yang menilai enak tidaknya suatu hidangan pada akhirnya
bukan juru masak tetapi orang yang makan (konsumer) masakan yang
bersangkutan secara pribadi, sadar dan individual.
Baik buruknya pelayanan, menurut Kotler (dalam Tjiptono, 1996:61)
dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan.
Dengan demikian, kualitas pelayanan ditentukan sejauh mana persepsi
masyarakat sebagai pelanggan atau konsumen terhadap pelayanan yang
diterimanya. Dengan kata lain, kualitas selalu berfokus pada pelanggan
atau masyarakat.
Untuk dapat memberikan pelayanan yang berkualitas, maka
organisasi publik atau pemerintah harus mengetahui dan memahami
segala tuntutan, keinginan, harapan atau tingkat kepuasan pelanggan.
Secara praktis, kualitas pelayanan antara lain berkaitan dengan
pelayanan yang lebih cepat, hemat, murah, responsif, akomodatif, inovatif
dan produktif, marketable (memuaskan) dan profesional (Pamungkas,
1996:207; Rasyid,1997:100; Supriatna,1997: 56).
Setelah mengetahui standar kualitas pelayanan publik, selanjutnya
adalah bagaimana mewujudkan kualitas pelayanan publik tersebut. Untuk
menuju pada kualitas pelayanan yang baik, maka hal penting yang perlu
dikaji adalah faktor-faktor apakah yang mempengaruhi terwujudnya
pelayanan publik yang berkualitas ? Telah dikemukakan bahwa kualitas
pelayanan publik adalah pelayanan yang diberikan oleh birokrasi
pemerintahan yang sesuai atau melebihi persepsi, tuntutan, keinginan,
kebutuhan, harapan, situasi dan kondisi masyarakat yang menciptakan
kepuasan masyarakat. Dari batasan itu menunjukkan bahwa keberadaan

65
birokrasi sebagai pemberi pelayanan merupakan aspek yang penting dan
menentukan dalam perwujudan pelayanan publik yang berkualitas.
Penyelenggaraan pelayanan publik sangat terkait dengan birokrasi
pemerintahan. Kualitas pelayanan sebagai ekspresi dari pelaksanaan
tugas dan fungsi birokrasi menurut Thoha (1987:185) adalah bagaimana
sikap dan aktivitas birokrasi, yang secara eksplisit berdasarkan
pendekatan psikologi dan perilaku organisasi.
2.3 Kualitas Pelayanan Publik
a. Pengertian Kualitas
Goetsch dan Davis (dalam Tjiptono, 1996:51) mendefinisikan
kualitas secara lebih luas cakupannya: Kualitas merupakan suatu kondisi
dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan
lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
Selanjutnya Triguno (1997: 76) mengartikan kualitas sebagai :
Standar yang harus dicapai oleh seorang/kelompok/lembaga/ organisasi
mengenai kualitas sumber daya manusia, kualitas cara kerja, proses dan
hasil kerja atau produk yang berupa barang dan jasa. Berkualitas
mempunyai arti memuaskan kepada yang dilayani atas
tuntutan/persyaratan pelanggan/ masyarakat.
Kualitas pada dasarnya terkait dengan pelayanan yang terbaik,
yaitu suatu sikap atau cara karyawan dalam melayani pelanggan atau
masyarakat secara memuaskan. Menurut Triguno (1997: 78) pelayanan/
penyampaian terbaik, yaitu melayani setiap saat, secara cepat dan
memuaskan, berlaku sopan, ramah dan menolong, serta profesional dan
mampu.
Menurut Wycof (dalam Tjiptono, 1996: 59) kualitas jasa/layanan
adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat
keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Ini berarti
bila jasa/layanan yang diterima (perceived service) sesuai dengan yang
diharapkan maka kualitas layanan/jasa dipersepsikan baik dan
memuaskan. Jika jasa yang diterima melampaui harapan pelanggan maka

66
kualitas jasa/layanan dipersepsikan sebagai kualitas yang ideal,
sebaliknya bila jasa/layanan yang diterima lebih rendah dari pada yang
diharapkan, maka kualitas jasa/layanan akan dipersepsikan buruk.
Dengan demikian baik tidaknya kualitas jasa/layanan tergantung
pada kemampuan penyediaan jasa/layanan dalam memenuhi harapan
pelanggan secara konsisten dan berakhir pada persepsi pelangan.
b. Pelayanan Masyarakat
Salah satu tugas pokok pemerintah yang terpenting adalah
memberikan pelayanan umum kepada masyarakat. Oleh karena itu,
organisasi pemerintah sering disebut sebagai Pelayan Masyarakat
(public service). Dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat, belum
sepenuhnya dapat diselenggarakan dengan baik, masih banyak aparat
pelaksanan pemberi pelayanan kurang memahami betapa pentingnya
pelayanan yang baik kepada masyarakat atau mungkin tahu tapi tidak
mau dan mampu untuk memberikan pelayanan yang baik.
Dalam pemberian pelayanan oleh aparatur ini, bahkan sering
muncul ungkapan kalau dapat dipersulit, mengapa dipermudah ?, dan ini
banyak yang dianut oleh aparat, gejala ini menunjukkan bahwa betapa
aparat pemerintah yang bertugas memberikan pelayanan belum sadar
mengenai posisinya sebagai pelayan masyarakat.
Apa yang dimaksud dengan pelayanan ? Menurut Munir (1995:16-
17) pelayanan adalah proses perubahan melalui aktivitas orang yang
langsung dinamakan pelayanan, arti pelayanan dapat digambarkan
menurut contoh berikut : A memerlukan surat keterangan tentang jati diri
sebagai pegawai di perusahaan X. B dalam hal ini petugas yang
berwenang di perusahaan X tersebut membuat (memproses) surat
dimaksud oleh A. Apa yang dilakukan oleh B inilah disebut pelayanan.
Kegiatan pelayanan pada dasarnya menyangkut pemenuhan suatu
hak, ia melekat pada setiap orang, baik secara pribadi maupun
berkelompok (organisasi) dan dilakukan secara universal. Hal ini seperti
yang diungkapkan oleh Moenir (1995: 41) bahwa: hak atas pelayanan itu

67
sifatnya sudah universal, berlaku terhadap siapa saja yang
berkepentingan atas hak itu, dan oleh organisasi apapun juga yang
tugasnya menyelenggarakan pelayanan.
Dilihat dari sisi pemerintahan maka pelayanan adalah proses
kegiatan pemenuhan kebutuhan masyarakat berkenaan dengan hak-hak
dasar dan hak pemberian, yang wujudnya dapat berupa jasa dan layanan.
Bagi pemerintah, masalah pelayanan menjadi semakin menarik untuk
dibicarakan karena menyangkut salah satu dari tiga fungsi hakiki
pemerintah, disamping fungsi pemberdayaan dan pembangunan (Rasyid,
1997: 48).
Pengelompokan jenis pelayanan umum pada dasarnya dilakukan
dengan melihat jenis jasa yang dihasilkan oleh suatu institusi. Jasa itu
sendiri menurut Kotler (194) adalah setiap tindakan ataupun perbuatan
yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada
dasarnya bersifat tidak berwujud fisik (intagible) dan tidak menghasilkan
kepemilikan sesuatu. Produksi jasa dapat berhubungan dengan produk
fisik maupun tidak
Berdasarkan definisi jasa sebagaimana dikemukakan di atas,
Tjiptono (1996:8-13) menyimpulkan pendapat berbagai ahli mengenai
jenis-jenis jasa sebagai berikut:
1. Dilihat dari pangsa pasarnya, dibedakan antara:
a. Jasa kepada konsumen akhir
b. Jasa kepada konsumen organisasional
2. Dilihat dari tingkat keberwujudannya (tangibility), dibedakan antara :
a. Jasa barang sewaan (rented goods service)
b. Jasa barang milik konsumen (owned goods service)
c. Jasa untuk bukan barang (non goods service)
3, Dilihat dari keterampilan penyedia jasa, dibedakan antara :
a. Pelayanan profesional (profesional service)
b. Pelayanan non profesional (non profesional service)
4. Dilihat dari tujuan organisasi, dibedakan menjadi :

68
a. Pelayanan komersional (commercial of profit service)
b. Pelayanan nirlaba (nonprofit service)
5. Dilihat dari pengaturannya, dibedakan menjadi :
a. Pelayanan yang diatur (regulated service)
b. Pelayanan yang tidak diatur (nonregualted service)
6. Dilihat dari intensitas karyawan dibedakan menjadi :
a. Pelayanan yang berbasis pada alat (equipment based service)
b. Pelayanan yang berbasis pada orang (people based service)
7. Dilihat dari kontak penyedia jasa dan pelanggan, dibedakan menjadi
antara :
a. Pelayanan dengan kontrak tinggi (high contact service)
b. Pelayanan dengan kontrak rendah (low contact service)
Berkaitan dengan pengertian dan jenis pelayanan umum tersebut di
atas, dan dikaitkan dengan tugas dan fungsi pemerintahan, secara
derivatif tugas-tugas pelayanan pemerintah kepada masyarakat dapat
dijabarkan antara lain sebagai berikut :
1) pelayanan yang berkaitan dengan kependudukan;
2) pelayanan yang berkaitan dengan persoalan-persoalan ketertiban dan
keamanan,
3) pelayanan yang berkaitan dengan perijinan;
4) pelayanan yang berkaitan dengan kesejahteraan;
5) pelayanan yang berkaitan dengan pengawasan kegiatan masyarakat;
6) pelayanan yang berkiatan dengan pengembangan perekonomian
masyarakat;
7) pelayanan yang berkaitan pembinaan pemuda, wanita dan persatuan
dan kesatuan bangsa;
8) pelayanan yang berkaitan dengan pembinaan sosial budaya;
9) pelayanan yang berkaitan dengan tugas pembantuan seperti
pembayaran PBB;
10)pelayanan administrasi surat menyurat bagi kepentingan masyarakat;
dan pelayanan lainnya.

a. Dimensi Kualitas Layanan Publik


Menurut Pararusman dan kawan-kawan (dalam Tjiptnono, 1996 :
70), ada lima dimensi dalam menilai kualitas jasa atau pelayanan, yaitu :

69
1. Tangibles; tercermin pada fasilitas fisik, peralatan, personil dan bahan
komunikasi.
2. Realibility; kemampuan memenuhi pelayanan yang dijanjikan secara
terpercaya, tepat
3. Responsiveness; kemampuan untuk membantu pelanggan dan
menyediakan pelayanan yang tepat
4. Assurance; pengetahuan dari para pegawai dan kemampuan mereka
untuk menerima kepercayaan dan kerahasiaan
5. Emphathy; perhatian individual diberikan oleh perusahaan kepada
para pelanggan.
Lebih lanjut menurut Kotler (dalam Supranto,1994: 561) terdapat
lima determinan kualitas pelayanan yang dapat dirinci sebagai berikut :
1. Keterandalan (realibility); kemauan untuk melaksanakan jasa yang
dijanjikan dengan tepat dan terpercaya
2. Keresponsifan (responsiveness); kemampuan untuk membantu
pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat atau ketanggapan
3. Keyakinan (confidence); pengetahuan dan kesopanan karyawan serta
kemampuan mereka untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan
atau assurance
4. Empati (empathy); syarat untuk peduli, memberikan perhatian, pribadi
bagi pelanggan
5. Berwujud (tangible); penampilan fasilitas fisik, peralatan, personil dan
media komunikasi.
Dari pendapat yang dikemukakan oleh Pararusman, dan Kotler,
terdapat 5 dimensi untuk mengukur kualitas pelayanan. Dalam penelitian
ini dimensi tersebut dirumuskan dengan menggabungkan kedua pendapat
tersebut.
Dari pendapat yang dikemukakan oleh Parausman dan Kotler
terdapat lima dimensi untuk mengukur kualitas pelayanan. Dalam
penelitian ini dirumuskan dengan menggabungkan kedua pendapat
tersebut, yakni:
1) sarana pelayanan dalam menunjang pemberian pelayanan,
2) keandalan terhadap metode sistem pelayanan yang efektif dan efisien,
3) jaminan akan keamanan dan privacy terhadap produk pelayanan,
4) harga produk layanan yang terjangkau dan proporsi serta adil,

70
5) ampati atau tingkat hubungan yang intens dan saling menghargai serta
menghormati antara pemberi pelayanan dengan publik yang dilayani.

3 PENUTUP
3.1 Rangkuman
Salah satu tugas pokok pemerintah yang terpenting adalah
memberikan pelayanan umum kepada masyarakat. Oleh karena itu,
organisasi pemerintah sering disebut sebagai Pelayan Masyarakat
(public service). Dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat, belum
sepenuhnya dapat diselenggarakan dengan baik, masih banyak aparat
pelaksanan pemberi pelayanan kurang memahami betapa pentingnya
pelayanan yang baik kepada masyarakat atau mungkin tahu tapi tidak
mau dan mampu untuk memberikan pelayanan yang baik.
Berkaitan dengan pengertian dan jenis pelayanan umum tersebut di
atas, dan dikaitkan dengan tugas dan fungsi pemerintahan, secara
derivatif tugas-tugas pelayanan pemerintah kepada masyarakat dapat
dijabarkan antara lain sebagai berikut:
1) pelayanan yang berkaitan dengan kependudukan;
2) pelayanan yang berkaitan dengan persoalan-persoajan ketertiban dan
keamanan,
3) pelayanan yang berkaitan dengan perijinan;
4) pelayanan yang berkaitan dengan kesejahteraan;
5) pelayanan yang berkaitan dengan pengawasan kegiatan masyarakat;
6) pelayanan yang berkaitan dengan pengembangan perekonomian
masyarakat;
7) pelayanan yang berkaitan pembinaan pemuda, wanita dan persatuan
dan kesatuan bangsa;
8) pelayanan yang berkaitan dengan pembinaan sosial budaya;
9) pelayanan yang berkaitan dengan tugas pembantuan seperti
pembayaran PBB;
10)pelayanan administrasi surat menyurat bagi kepentingan masyarakat;
dan pelayanan lainnya.
3.2 Soal Latihan

71
Untuk memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai materi di
atas silakan kerjakan latihan berikut ini.
1) Jelaskan pengertian pelayanan umum pemerintahan?
2) Sebutkan dan jelaskan dimensi-dimensi kualitas pelayanan publik?
3) Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis pelayanan?
3.3 Umpan Balik
Baca kembali materi kegiatan belajar yang menyangkut tentang
peran dan fungsi pelayanan publik oleh pemerintah. Untuk menjawab
semua soal di atas jawab dengan seksarna hingga paham, agar
mahasiswa lebih yakin dapat berdiskusi dengan teman kuliah.

3.4 Daftar Pustaka


Denhardt Robert B. dan Denhardt Janet V. 2006. Public Administration: An
Action Overview, Fifth Edition. Thomson Wadsworth, United
States of America.

---------------, 2003. The New Public Service Serving, not Steering, M.E.
Sharpe, Armonk New York, London England.

Donovan, F. & A.C. Jackson. 1991. Managing Human Service


Organization. New York, N.Y. Prentice Hall.

Dwiyanto Agus (editor), 2006. Mewujudkan Good Governance Melalui


Pelayanan Publik, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

-----------, 2010. Manajemen Pelayanan Publik: Peduli, Inklusif, dan


Kolaboratif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

-----------, 2011. Mengembalikan Kepercayaan Publik Melalui Reformasi


Birokrasi. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Ermaya Sukadinata, 1998. Administrasi Lingkungan dan Ekologi


Pemerintahan dalam Pembangunan, Ramadhan Citra Grafika
Bandung

Frederickson, H. G. ,1997, The Spirit of Public Administration San


Franccisco : Jossey-Bass Publishers.

Fukuyama, Francis, 2001, The End of History and The Last Man, Penerbit
Qalam, Yogayakarta.

72
H. Sitonggang. 1997. Ekologi Pemerintahan. Pustaka Sinar Harapan
Jakarta
Inu Kencana Syafei. 2003. Ekologi Pemerintahan, Perca Jakarta.

____________ 2003. Ilmu Pemerintahan. Mandar Maju Bandung

Madia Thamrin, 2008. Ekologi Administrasi Negara, Alumni, Bandung.

Muhadam Labolo, 2007. Memahami Ilmu Pemerintahan, Raja Grafindo


Persada, Jakarta.

Ndraha, Taliziduhu, 2000, Diktat Kuliah Ilmu Pemerintahan, Program


Pasca Sarjana UNPAD, Bandung.

Ndraha, Taliziduhu. 2003. Kyberndugi (Ilmu Pemerintahan Baru). Jakarta:


Rineka Cipta.

Nurdin, Ismail, dkk. 2010. Ekologi Pemerintahan, Institut Pemerintahan


Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

Rasyid, Ryass, 1996, Makna Pemerintahan: Tinjauan Dan Segi Etika Dan
Kepemimpinan, Yarsif Watampone, Jakarta.

S. Pamudji, 1986, Ekologi Administasi Negara, Bina Aksara, Jakarta

73
E- GOVERNMENT SEBAGAI
LINGKUNGAN PEMERINTAHAN

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembahasan
Seiring dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat
penetrasinya, muncul berbagai istilah electronic, mulai dari electronic
mail, electronic business, electronic payment sampai dengan electronic
government atau yang akhir-akhir ini sangat populer dengan istilah E-Gov.
E-Government menjadi sesuatu yang mendapat perhatian yang
luas (buzzword). Layanan informasi e-government mendesak
pengembangannya. Hal itu selain karena meningkatnya kebutuhan
informasi, juga disebabkan pertumbuhan kesadaran sistem sosial dan
pembelajaran (social and learning awareness) masyarakat dalam hal
partisipasi dan transparansi serta tuntutan pemerintahan yang akuntabel
(accountable).
Birokrasi publik sebagai pelaku kebijakan dari pelayan publik
dituntut untuk bertanggung jawab (responsible) terhadap apa yang
menjadi sikap, perilaku dan berbagai tindakannya kepada publik dalam
rangka pelaksanaan tugas, kewenangan dan kewajibannya, karena dalam
pemerintahan yang demokratis publik (rakyat) merupakan pemegang
kedaulatan. Rakyat adalah poros segala kebijakan negara. Dengan
demikian birokrasi pemerintahan harus mampu mempertanggung
jawabkan segala sikap, dan perilaku dari tindakan serta kebijakannya
kepada publik. Dalam studi pemerintahan disebut dengan akuntabilitas
(accountability)
Di Indonesia, topik ini semakin menjadi populer setelah semakin
menguatnya otonomi daerah. Apa definisi dari e-government itu ?, apa
pengertian akuntabilitas publik?, apa manfaat government itu?, keterkaitan
e-government dengan akuntabilitas pemerintahan dan bagaimana

74
membangun e-government. Tulisan ini mencoba membahas hal ini secara
singkat.
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa diharapkan mengetahui dan
mampu menjelaskan konsep-konsep E-Government dan kaitannya
dengan akuntabilitas Publik, serta dapat menjelaskan transformasi E-
Government.
1.3 Urutan Pembahasan
Materi Pembahasan akan diawali dengan menguraikan tentang hubungan
antara akuntabilitas publik dengan E-Government. Kemudian
menguraikan tentang penerapan E-Government dalam pemerintahan.
2 MATERI PEMBELAJARAN
2.4 Akuntabilitas Publik dan E-Government
a. Konsep Akuntabilitas Publik
Candler dan Plano (1982) mengartikan akuntabilitas sebagai
refers to the institution of chencks and balances in an administrative
system. Akuntabilitas menunjuk pada institusi tentang check and
balance dalam sistem adninistrasi. Akuntabiitas berati menyelenggarakan
perhitungan (account) terhadap sumber daya atau kewenangan yang
digunakan. Sedangkan akuntabilitas menurut The Oxpord Advance
Leanerss Dictionary yang dikutip Lembaga Administrasi Negara (2000)
diartikan sebagai requred or excpected to give an explanation for ones
action . Akuntabilitas diperlukan atau diharapkan untuk memberikan
penjelasan atas apa yang yang telah dilakukan. Dengan demikian
akuntabilitas merupakan kewajiban untuk memberikan
pertanggungjawaban atau menjawab menerangkan kinerja atas tindakan
badan hukum atau organisasi/birokrasi kepada pihak yang memiliki hak
atau kewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggung jawaban
(Lembaga Administrasi Negara, 2000).
Finner dalam Darwin (1993) menjelaskan akuntabiitas merupakan
konsep yang berkenaan dengan standar eksternal yang menentukan

75
kebenaran suatu tindakan oleh administrasi negara (birokrasi publik).
Akuntabilitas dapat disimpulkan sebagai kewajiban seseorang atau unit
organisasi untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan
pengendalian sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang
dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan melalui media pertanggungjawaban secara periodik (Lembaga
Admnistrasi Negara, 2000)
Birokrasi publik dikatakan accountable manakala mereka dinilai
secara obyektif oleh masyarakat atau melalui wakilnya dapat
mempertanggungjawabkan segala macam perbuatan, sikap dan sepak
terjangnya kepada pihak mana kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki
itu berasal. Materi pertanggungjawaban harus transparan dan akurat dan
media untuk meyampaikan pertanggung jawaban tersebut mudah untuk
diakses oleh pihak yang berhak menilai pertanggungjawaban.
Penggunaan teknologi informasi merupakan salah satu media yang efektif
dan efisien untuk menyampaikan materi pertanggungjawaban tersebut. E-
government dengan berbagai aplikasinya dapat memudahkan berbagai
penyelenggaraan admnisitrasi negara, mulai dari proses perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi berbagai kebijakan Pemerintahan, yang
kesemuanya dalam rangka semakin berkualitasnya iayanan pemerintahan
terhadap publik.

b. Konsep E-Government
E-Government merupakan kependekan dari elektronik pemerintah.
E-Governtment biasa dikenal e-gov, pemerintah digital, online pemerintah
atau pemerintah transformasi. E-Government adalah Suatu upaya untuk
mengembangkan penyalenggaraan kepemerintahan yang berbasis
elektronik. Suatu penataan system manajemen dan proses kerja di
lingkungan pemerintah dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi. Atau E-Goverment adalah penggunaan
teknologi informasi oleh pemerintah untuk memberikan informasi dan
pelayanan bagi warganya, urusan bisnis, serta hal-hal lain yang

76
berkenaan dengan pemerintahan. e-Government dapat diaplikasikan pada
legislatif, yudikatif, atau administrasi publik, untuk meningkatkan efisiensi
internal, menyampaikan pelayanan publik, atau proses kepemerintahan
yang demokratis.
Definisi E-Goverenment adalah penggunaan teknologi informasi
oleh pemerintah untuk memberikan informasi dan pelayanan bagi
warganya, urusan bisnis, serta hal-hal lain yang berkenaan dengan
pemerintahan. e-Government dapat diaplikasikan pada legislatif, yudikatif,
atau administrasi publik, untuk meningkatkan efisiensi internal,
menyampaikan pelayanan publik, atau proses kepemerintahan yang
demokratis. Model penyampaian yang utama adalah Government-to-
Citizen atau Government-to-Customer (G2C), Government-to-Business
(G2B) serta Government-to-Government (G2G). Keuntungan yang paling
diharapkan dari e-government adalah peningkatan efisiensi, kenyamanan,
serta aksesibilitas yang lebih baik dari pelayanan publik.
Pemerintahan elektronik atau e-government (berasal dari kata
Bahasa Inggris electronics government, juga disebut e-gov, digital
government, online government atau dalam konteks tertentu
transformational government) adalah penggunaan teknologi informasi oleh
pemerintah untuk memberikan informasi dan pelayanan bagi warganya,
urusan bisnis, serta hal-hal lain yang berkenaan dengan pemerintahan. e-
Government dapat diaplikasikan pada legislatif, yudikatif, atau administrasi
publik, untuk meningkatkan efisiensi internal, menyampaikan pelayanan
publik, atau proses kepemerintahan yang demokratis. Model penyampaian
yang utama adalah Government-to-Citizen atauGovernment-to-Customer
(G2C), Government-to-Business (G2B) serta Government-to-Government
(G2G). Keuntungan yang paling diharapkan dari e-government adalah
peningkatan efisiensi, kenyamanan, serta aksesibilitas yang lebih baik dari
pelayanan publik.

77
2.2 Pemicu Utama (Drivers) E-Government dan Penerapannya dalam
Pemerintahan
Mencermati akselerasi kemajuan peradaban masyarakat dan
sejarahnya, konsep e-Government berkembang setidaknya karena
adanya 4 (empat) pemicu utama (drivers), yaitu:
1. Era globalisasi yang datang lebih cepat dari yang diperkirakan telah
membuat isu-isu semacam civil society, demokratisasi, HAM, law
enpowercement, tranparansi dan akuntabilitas, good governance,
perdagangan bebas, pasar terbuka dan lain sebagainya, Dalam format
ini, pemerintah mereposisi peranannya di dalam negara dan dalam
konstalasi bernegara, dan bersifat internal dan fokus terhadap
kebutuhan dan berbagai masalah dalam negeri, menjadi lebih
berorientasi kepada eksternal dan fokus kepada bagaimana
memposisikan masyarakat dan negaranya di dalam sebuah pergaulan
global. Jika dahulu di dalam sebuah negara kekuasaan lebih berpusat
pada sisi pemerintahan (supply side), maka dewasa ini bergeser ke
arah masyarakat (demand side), sehingga tuntutan masyarakat
terhadap kinerja pemerintahnya menjadi semakin tinggi (karena untuk
bergaul dengan mudah dan efektif dengan masyarakat negara lain,
masyarakat di sebuh negara harus memiiki sebuah lingkungan yang
kondusif-dimana hal ini merupakan tanggung jawab pemerintah.
2. Kemajuan teknologi informasi (komputer dan telekomunikasi) terjadi
sedemikan pesatnya sehingga data, informasi, dan pengetahuan dapat
diciptakan dengan teramat sangat cepat dan dapat segera disebarkan
ke seluruh lapisan masyarakat di berbagai belahan di dunia dalam
hitungan second. Hal ini berarti bahwa setiap individu diberbagai
negara di dunia dapat saling berkomunikasi secara langsung kepada
siapapun yang dikehendaki tanpa dibutuhkan perantara (mediasi)
apapun. Tentu saja buah dari teknologi ini akan sangat mempengaruhi
bagaimana pemerintah di masa modern harus bersikap dalam
melayani masyarakatnya, karena banyak aspek-aspek dan fungsi-

78
fungsi pemerintah konvensional yang secara tidak langsung telah
diambil alih oleh masyarakatnya sendiri (misalnya masalah pers,
sosial, agama, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya) karena
adanya teknologi ini. Inilah alasan lain mengapa pemerintah dipaksa
untuk mulai mengkaji fenomena yang ada agar yang bersangkutan
dapat secara benar dan efektif mereposisikan peranan dirinya.
3. Meningkatnya kualitas kehidupan masyarakat di dunia tidak terlepas
dari semakin membaiknya kinerja industri swasta dalam melakukan
kegiatan ekonominya. Keintiman antara masyarakat (sebagai
pelanggan) dengan pelaku ekonomi (pedagang, investor, perusahaan
dan lain-lain telah membuat terbentuknya standar pelayanan yang
semakin membaik dan waktu ke waktu. Percepatan peningkatan
kinerja di sektor swasta ini tidak diikuti dengan percepatan yang sama
disektor publik, sehingga masyarakat dapat melihat adanya
kepincangan dalam standar kualitas pemberian pelayanan, dengan
kata lain, secara tidak langsung tuntutan masyarakat agar pemerintah
meningkatkan kinerjanya semakin tinggi; bahkan jika terbukti terjadinya
penyimpangan-penyimpangan dalam pengelolalaan uang rakyat,
masyarakat tidak segan-segan untuk mengevaluasi kinerja pemerintah
melalui demonstrasi atau jalur-jalur lainnya.
4. Pada saat ini Indonesia tengah mengalami perubahan kehidupan
berbangsa dan bernegara secara fundamental, dan sistem
kepemerintahan yang otoriter dan setralistik menuju ke sistem
kepemerintahan yang demokratis, dan menerapkan perimbangan
kewenangan pusat dan daerah otonom. Perubahan yang tengah
terjadi tersebut menuntut terbentuknya kepemerintahan yang bersih,
transparan, dan mampu menjawab tuntutan perubahan secara efektif.
Sistem manajemen pemerintah yang selama ini merupakan sistem
hirarki kewenangan dan komando sektoral yang mengerucut dan
panjang, harus dikembangkan menjadi sistem manajemen organisasi
jaringan yang dapat memperpendek lini pengambilan keputusan serta
memperluas rentang kendali.

79
2.3 Konsep Transformasi E-Government
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada dasarnya implementasi
konsep e-government merupakan sebuah tantangan transformasi. Fungsi
teknologi informasi di dalam kerangka ini adalah tidak sekedar sebagai
penunjang manajemen pemerintahan yang ada, tetapi justru merupakan
driver of change atau sebagai hal yang justru menawarkan terjadinya
perubahan-perubahan mendasar sehubungan dengan proses
penyelenggaraan pemerintahan di era modern.
Setidak-tidaknya secara evalusi ada empat tahapan di dalam
proses transformasi sehubungan dengan jenis aplikasi e-government yang
dipergunakan. Tahap tersebut diprediksi perkembangannnya oleh United
kingdom Office, dalam Indrajit (2001), perkembangan tahap tersebut
dapat digambarkan sebagai berikut.

Pada tahap presence yang terjadi hanyalah sebuah komunikasi


pasif satu arah antara pemerintah dengan masyarakat dan mereka yang
berkepentingan dengan menggunakan teknologi internet semacam
websites. Masyarakat yang ingin mendapatkan informasi mengenai
pemerintahan dapat melakukannya sendiri melalui teknik browsing di
internet.
Pada tahap interaction, mulai terjadi komunikasi langsung dua arah
antara pemerintah dengan mereka yang berkepentingan dengan
menggunakan teknologi semacam intranet dan fasilitas multimedia
(seperti e-mail, teleconfrence, chatting, dan lain sebagainya). Pada
lingkungan ini, setiap individu dapat berhubungan dengan siapa saaja
wakil dipemerintahan one-on-one, namun tetap efektif dan efisien.

80
Pada tahap transaction, di mana aplikasi teknologi informasi
menawarkan sebuah kemungkinan terjadinya transaksi melalui internet.
Pada tahap ini terjadi sebuah transaksi yang merupakan proses
pertukaran barang atau jasa melalui dunia maya, yang melibatkan sumber
daya financial (uang), manusia, informasi dan lain sebagainya.
Fase yang keempat adalah integration, dimana pemerintah sebagai
sebuah entiti telah menyediakan dirinya untuk dihubungkan atau
diintegrasikan dengan entiti-entiti lain seperti perusahaan (bisnis),
perguruan tinggi, lembaga-lembaga non pemerintah, organisasi politik,
pemerintah negara lain, institusi internasional, dan lain sebagainya. Yang
dimaksud dengan integrasi disini tidak hanya terbatas pada dibukanya
jalur-jalur komunikasi digital antara pemerintah dengan lembaga-lembaga
tersebut, namun lebih jauh lagi terjadinya integrasi pada level proses, data
dan teknologi. Disinilah proses transformasi tersulit dilakukan, karena
dibutuhkan adanya perubahan-perubahan paradigma dan pola pikir pada
seluruh jajaran birokrat di suatu negara.
Pada skema tahap perkembangan penerapan e-gov tersebut di
atas bahwa dalam kurun waktu dari tahun 1996 sampai dengan 2005,
penerapan e-gov di Eropa terutama di Inggris Raya sudah pada tahap
interaction. Kalau pada negara-negara tersebut bisa saja target tersebut
dapat tercapai, hal ini didukung karena berbagai faktor pendukungnya
sudah siap, mulai dari kebijakan pemerintah dengan standarisasi aplikasi
yang diikuti oleh semua unit birokrasi, kalangan bisnis bahkan lebih dulu
menerapkannya, dan masyarakat juga sudah siap karena masyarakat
mereka melek teknologi bahka teknologi informatika merupakan
pelengkap keseharian dalam beraktivitas.

2.4 Implementasi E-Government dalam Membangun Pemerintahan


yang Akuntabel

81
Pemerintah dan instansi pelayan kepentingan publik harus
mengaplikasikan e-government sebagai layanan informasi untuk
kebutuhan transparansi akuntabilitasnya dan manajemen
pemerintahannya. Saat ini terdapat berbagai aplikasi e-government dalam
bentuk sistem impormasi manajemen (SIM), sistem informasi tersebut
antara lain, sebagai berikut :
c. SIM Keuangan Daerah (SIMKEUDA)
d. SIM Aset Daerah (SIMASDA)
e. SIM Pendapatan Daerah (SIMPDA)
f. SIM Kepegawaian (SIMPEG)
g. SIM Kependudukan (SIMDUK)
h. SIM Eksekutif Daerah (SIMEDA)
i. SIM Promosi Daerah (SIMPRODA)
j. SIM Perencanaan Pembangunan (SIMRENBANG)
k. SIM Pelayanan Umum Terpadu (SIMPUT)
E-Government ini dapat diimplementasikan dalam berbagai cara,
Contoh-contohnya antara lain :
- Penyediaan sumber informasi, khususnya informasi yang sering
dicari oleh masyarakat. Informasi ini dapat diperoleh langsung dari
tempat kantor pemerintahan, dan kios info (info kios), ataupun dari
Internet (yang dapat diakses oleh masyarakat dimana pun dia
berada). Informasi ini dapat berupa informasi potensi daerah
sehingga calon investor dapat mengetahui potensi tersebut.
Tahukah anda berapa pendapatan daerah anda? Komoditas apa
yang paling utama? Bagaimana kualitas Sumber Daya Manusia di
daerah anda? Berapa jumlah perguruan tinggi di daerah anda? Di
era otonomi daerah, fungsi penyedia sumber informasi ini dapat
menjadi penentu keberhasilan.
- Penyediaan mekanisme akses melalui kios informasi yang tersedia
di kantor pemerintahan dan juga di tempat umum. Usaha
penyediaan akses ini dilakukan untuk menjamin kesetaraan
kesempatan untuk mendapatkan informasi.
- E-procurement dimana pemerintah dapat melakukan tender secara
on-line dan transparan.

82
E-Government memberikan manfaat dari berbagai kemudahan yang
akan diperoleh baik oleh pemerintah dan aparatnya, masyarakat luas
dan kalangan bisnis antara lain :
- Pelayanan servis yang lebih baik kepada masyarakat. Informasi
dapat disediakan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, tanpa
harus menunggu dibukanya kantor. Informasi dapat dicari dari
kantor, rumah, tanpa harus secara fisik datang ke kantor
pemerintahan.
- Peningkatan hubungan antara pemerintah, pelaku bisnis, dan
masyarakat umum. Adanya keterbukaan (transparansi) maka
diharapkan hubungan antara berbagai pihak menjadi lebih baik.
Keterbukaan ini menghilangkan saling curiga dan kekesalan dari ke
semua pihak.
- Pemberdayaan masyarakat melalui informasi yang mudah
diperoleh. Dengan adanya informasi yang mencukupi, masyarakat
akan belajar untuk dapat menentukan pilihannya. Sebagai contoh,
data-data tentang sekolahan (jumlah kelas, daya tampung murid,
passing grade, dan sebagainya) dapat ditampilkan secara online
dan digunakan oleh orang tua untuk memilihkan sekolah yang pas
untuk anaknya.
- Pelaksanaan pemerintahan yang lebih efisien. Sebagai contoh,
koordinasi pemerintahan dapat dilakukan melalui email atau
bahkan video conferencing. Bagi Indonesia yang luas areanya
sangat besar, hal mi sangat membantu. Tanya jawab, koordinasi,
diskusi antara pimpinan daerah dapat dilakukan tanpa kesemuanya
harus berada pada lokasi fisik yang sama. Tidak lagi semua harus
terbang ke Jakarta untuk pertemuan yang hanya berlangsung satu
atau dua jam, misalnya.
- Penyusunan Rencana Strategis Daerah dapat memberikan ruang
yang cukup bagi publik untuk turut berpartisipasi dengan melalui
internet secara online pemerintah mensosialisasikan rancangan
Renstra untuk publik dapat memberikan tanggapan atau merespon
dalam bentuk pertanyaan atau masukan-masukan.

83
- Rancangan APBD tidak mesti hanya eksekutif dan legislatif belaka
yang tahu dan menentukan, tapi juga publik berhak untuk turut
tahu. Pemerintah dapat menguraikan dan membuka kesempatan
bagi terjadinya interaksi tanya jawab melalui situs daerah yang
sudah terbangun.
Seringkali Pemerintah kebingungan ingin memulai dari mana
dikarenakan minimnya sumber daya (manusia, finansial) yang oleh
Pemerintah. Berbagai hal pun dapat dijadikan alasan untuk tidak mulai
melangkah. Namun sebetulnya langkah awal yang harus dimulai adalah
memberikan komitmen kepada peningkatan pelayanan kepada
masyarakat. Pelayanan melalui media elektronik (seperti Internet)
merupakan salah satu bentuk peningkatan pelayanan.
Salah satu contoh inisiatif yang paling mudah adalah
mengumpulkan dan menayangkan informasi tentang kemampuan
(potensi) daerah setempat. Informasi yang disediakan dapat berupa :
- informasi umum seperti pemerintahan (siapa Gubernur, Walikota,
alamat kantor pemerintahan, dan seterusnya);
- Informasi perniagaan (komoditas apa saja yang ada, bagaimana
syarat untuk membuka usaha, penyuluhan, perpajakan, informasi
bagi investor asing, statistik bisnis setempat),
- Informasi pendidikan (daftar perguruan tinggi, sekolah, tempat
pelatihan dan kursus),
- Informasi tentang kultur (bahasa yang digunakan sehari-hari,
kesenian tradisional, hal-hal yang tabu dalam kehidupan setempat)
- dan bahkan informasi yang sederhana seperti tentang tempat
rekreasi (dimana tempat memancing, snorkling).
- Dan untuk selanjutnya dapat memberikan berbagai informasi
tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah (kebijakan daerah
yang termuat dalam rencana strategis, uraian APBD) serta
berbagai agenda dan kegiatan wakilnya (legislatif).
Jenis-jenis informasi di atas masih harus diuji kembali
kebutuhannya dan prioritasnya. (Informasi apa yang paling dicari oleh
masyarakat? Jawabannya dapat dilihat dari daftar servis yang paling

84
sering dikurungi,) Mengimplementasikan hal ini tidak susah karena
informasi sudah tersedia. Tinggal ada atau tidaknya kemauan untuk
mengorganisir informasi ini secara online. Memang sebelum melakukan
hal di atas, sebaiknya dilakukan kegiatan perencanaan (planning).
Langkah selanjutnya bisa diteruskan dengan menyediakan fasilitas
umpan balik (feedback) bagi masyarakat untuk bertanya dan mengirimkan
kritik. Misalnya, masyarakat dapat melaporkan jalan yang rusak di tempat
tertentu. Hal ini dapat pula ditanggapi oleh kelompok masyarakat yang lain
yang dapat berbagi informasi atau pengalaman mereka dalam mengelola
lingkungannya. Dengan demikian pemerintah memberdayakan
masyarakat. Langkah-langkah ini dapat ditingkatkan kepada hal-hal yang
lebih canggih seperti layanan transaksi (mendaftarkan perusahaan,
membayar pajak) sampai ke layanan pemilihan umum secara online.
Namun untuk mencapai hal ini harus dimulai dengan langkah kecil dahulu.
E-government juga tidak hanya menjadi tanggung jawab dari
pemerintah saja. Masyarakat umum dapat membantu pemerintah dalam
hal mengumpulkan data dan mengorganisirnya (atau bahkan ikut serta
dalam meng-online-kannya). Tenaga teknis yang handal dapat membantu
pemerintah setempat dalam setup server dan access point di berbagai
tempat.
3 PENUTUP
3.1 Rangkuman

Berbagai manfaat e-government dan berbagai aplikasinya dalam


mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan lebih khusus dalam
rangka menuju pemerintahan yang akuntabel. Pertanggungjawaban
pemerintah dalam berbagai tidak saja diketahui pada kalangan terbatas
tapi harus mudah diakses oleh publik secara luas. Sentuhan teknologi
dalam manajemen pemerintahan melalui penerapan e-government sudah
sangat mendesak. Pemerintah Daerah sudah saatnya untuk memulai
pengembangan e-government. Pengembangan e-government menuntut
penyediaan dan kesiapan berbagai sumber daya baik sumber daya

85
manusia maupun financial. Pembangunan dan pengembangan
e-government dapat saja melibatkan dan mengikutkan stageholder lainnya
yaitu kalangan usaha dan masyarakat luas. Pembangunan e-government
membutuhkan dana yang cukup besar oleh perlu melibatkan pihak lain
dalam hal ini usahawan dengan melakukan privatisasi. Penerapan e-
government juga menuntut kesiapan mental dari kultur masyarakat,
karena tidak sedikit pada beberapa Daerah penerapan e-government
menghadapi kendala dengan masalah mental dan kultur masyarakat.

3.2 Soal Latihan

Untuk memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai materi di


atas silakan kerjakan soal latihan berikut ini.
1. Apa peran e-government dalam penyelenggaraan pemerintahan?
Jelaskan!
2. Sebutkan dan jelaskan tahapan pengembangan e-government?
3. Uraikan penjelasan saudara tentang berbagai implementasi e-
government dalam pemberian pelayanan pemerintahan?

3.3 Umpan Balik

Baca kembali materi kegiatan belajar yang menyangkut tentang


E-govemment dalam penyelenggaraan pelayanan pemerintahan. Untuk
menjawab semua soal di atas jawab dengan seksama hingga paham,
agar mahasiswa lebih yakin dapat berdiskusi dengan teman kuliah.

3.4 Daftar Pustaka

Budi Raharjo, Berbagai Manfaat Penerapan E-Government Makalah


dipresentasikan pada Seminar Nasional Jaringan Komputer II,
yang diselenggarakan oleh Technic Study Club, STMIK
Dipanegara Makassar, 19 Mei 2001.

86
Ermaya Sukadinata, 1998. Administrasi Lingkungan dan Ekologi
Pemerintahan dalam Pembangunan, Ramadhan Citra
Grafika Bandung

H. Sitonggang. 1997. Ekologi Pemerintahan. Pustaka Sinar Harapan


Jakarta.

Inu Kencana Syafei. 2003. Ekologi Pemerintahan, Perca Jakarta.

Joko Widodo, Good Governance: Akuntabilitas dan Kontrol Birokrasi


Pada Era Desentralisasi dan Otonomi daerah, 2001, Insan
Cendekia, Surabaya

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2000, Pedoman


Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah, Lembaga Admnistrasi Negara dan Badan
Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan, Jakarta

Lembaga Admnistrasi Negara Republik Indonesia dan Badan Pemeriksa


Keuangan dan Pembangunan, 2000, Akuntabilitas dan Good
Governance, Lembaga Admnistrasi Negara dan Badan
Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan, Jakarta

Nurdin, Ismail, dkk. 2010. Ekologi Pemerintahan, Institut Pemerintahan


Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

Richardus Eko Indrajit, Dr. Ir, Msc. MBA, E-Government, Strategi


Pembangunan dan Pengembangan Sistem Pelayanan Publik
Berbasis Teknologi Digital, Andi Yogyakarta, 2002.

87
DAMPAK E-GOVERNMENT TERHADAP
PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembahasan
Penggunaan teknologi informasi yang dapat meningkatkan
hubungan antara pemerintah dengan pihak-pihak lain disebut e-
government. Penggunaan hubungan ini dapat dibedakan menjadi 3
bentuk, yaitu: 1) G2C (Government to citizen), hubungan antara
pemerintah dengan masyarakat; 2) G2B (Government to bussines),
hubungan antara pemerintah dengan pengusaha dan 3) G2G
(Government to Government), hubungan antara pemerintah dengan
pemerintah. Konsep e-government mengacu pada penggunaan teknologi
informasi dan komunikasi oleh pemerintahan, misalnya menggunakan
jaringan internet. E-government dapat meningkatkan hubungan antara
pemerintah dengan penduduk, bisnis dan kegiatan lainnya.

1.2 Sasaran Pembelajaran


Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa dapat menjelaskan
tentang manfaat penggunaan e-government dalam penyelenggaraan
pemerintahan, dan memahami model-model penyampaian e-government,
serta mengetahui dampak positif dan negatif penggunaan e-government
bagi masyarakat.
1.3 Urutan Pembahasan
Materi yang akan disajikan dalam pembahasan ini,antara lain:
manfaat e-government, model penyampaian e-government, keuntungan
dan kerugian penggunaan e-gornment bagi rakyat. Uraian ini akan
memberikan gambaran secara umum tentang bagaimana e-government
dapat meningkatkan kinerja di satu sisi, sementara di sisi yang lain
menimbulkan efek-efek negatif, terutama dalam hal penyalahgunaan
teknologi informasi.

88
2. MATERI PEMBELAJARAN
2. 1 Manfaat Elektonic Government
Disamping prestasi pemerintah dalam penyelenggaraan
pemerintah yang lebih baik sejak reformasi, tentunya penerapan e-
government ini dapat memberikan tambahan manfaat yang lebih kepada
masyarakat:
a. Melibatkan penggunaan teknologi informasi (terutama internet); dengan
tujuan Memperbaiki kualitas pelayanan pemerintah kepada para
stakeholder-nya (masyarakat, kalangan bisnis, dan industri) terutama
dalam hal kinerja efektivitas dan efisiensi di berbagai bidang kehidupan
bernegara;
b. Meningkatkan transparansi, kontrol, dan akuntabilitas penyelenggaraan
pemerintahan dalam rangka penerapan konsep Good Governance di
pemerintahan (bebas KKN);
c. Mengurangi secara signifikan total biaya administrasi, relasi, dan
interaksi yang dikeluarkan pemerintah maupun stakeholdernya untuk
keperluan aktivitas sehari-hari;
d. Memberikan peluang bagi pemerintah untuk mendapatkan sumber-
sumber pendapatan baru melalui interaksinya dengan pihak-pihak yang
berkepentingan;
e. Menciptakan suatu lingkungan masyarakat baru yang dapat secara
cepat dan tepat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi
sejalan dengan berbagai perubahan global dan trend yang ada;
f. Memberdayakan masyarakat dan pihak-pihak lain sebagai mitra
pemerintah dalam proses pengambilan berbagai kebijakan publik
secara merata dan demokratis.
g. Merupakan suatu mekanisme interaksi baru (moderen) antara
pemerintah dengan masyarakat dan kalangan lain yang berkepentingan
(stakeholder);
h. Pelayanan servis yang lebih baik kepada masyarakat. Informasi dapat
disediakan 24 jam, 7 hari dalam seminggu, tanpa harus menunggu

89
dibukanya kantor. Informasi dapat dicari dari kantor, rumah, tanpa harus
secara fisik datang ke kantor pemerintahan.
i. Peningkatan hubungan antara pemeritah, pelaku bisnis, dan masyarakat
umum. Adanya keterbukaan [transparansi ] maka diharapkan hubungan
antara berbagai pihak menjadi lebih baik. Keterbukaan ini
menghilangkan saling curiga dan kekesalan dari semua pihak.
j. Pemberdayaan msyarakat melalui informasi yang mudah diperoleh.
Dengan adanya informasi yang mencukupi, masyarakat akan belajar
untuk dapat menentukan pilihannya. Sebagai contoh, data-data tentang
sekolah; jumlah kelas, daya tampung murid, passing grade, dan
sebagainya, dapat ditampilkan secara online dan digunakan oleh orang
tua untuk memilih sekolah yang pas untuk anaknya.
k. Pelaksanaan pemerintahan yang lebih efisien . Sebagai contoh,
koordinasi pemerintahan dapat dilakukan melaluji e-mail atau bahkan
video confrence
2.2. Model Penyampaian E-Government
Ada tiga model penyampaian E-Government, antara lain :
a. Government-to-Citizen atau Government-to-Customer (G2C): Adalah
penyampaian layanan publik dan informasi satu arah oleh pemerintah
ke masyarakat, Memungkinkan pertukaran informasi dan komunikasi
antara masyarakat dan pemerintah, Contohnya G2C : Pajak online,
mencari Pekerjaan, Layanan Jaminan sosial, Dokumen pribadi
(Kelahiran dan Akte perkawinan, Aplikasi Paspor, Lisensi Pengarah),
Layanan imigrasi, Layanan kesehatan, Beasiswa, penanggulangan
bencana.
b. Government-to-Business (G2B): Adalah transaksi-transaksi elektronik
dimana pemerintah menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan
bagi kalangan bisnis untuk bertransaksi dengan pemerintah.Mengarah
kepada pemasaran produk dan jasa ke pemerintah untuk membantu
pemerintah menjadi lebih efisien melalui peningkatan proses bisnis dan
manajemen data elektronik. Aplikasi yang memfasilitasi interaksi G2B

90
maupun B2G adalah Sistem e-procurement. Contoh : Pajak perseroan,
Peluang Bisnis, Pendaftaran perusahaan, peraturan pemerintah
(Hukum Bisnis), Pelelangan dan penjualan yang dilaksanakan oleh
pemerintah, hak paten merk dagang, dll
c. Government-to-Government (G2G): Adalah Memungkinkan komunikasi
dan pertukaran informasi online antar departemen atau lembaga
pemerintahan melalui basisdata terintegrasi. Contoh : Konsultasi secara
online,blogging untuk kalangan legislative, pendidikan secara online,
pelayanan kepada masyarakat secara terpadu.
2.3 Keuntungan Dan Kerugian E-Government Bagi Rakyat
a. Keuntungan E-Goverment bagi rakyat
Pelayanan servis yang lebih baik kepada masyarakat.
Informasidapat disediakan 24 jam, 7 hari dalam seminggu, tanpa
harus menunggu dibukanya kantor . Informasi dapat dicari dari
kantor, rumah, tanpa harus secara fisik datang ke kantor
pemerintahan.
Peningkatan hubungan antara pemeritah, pelaku bisnis, dan
masyarakat umum. Adanya keterbukaan [transparansi ] maka
diharapkan hubungan antara berbagai pihak menjadi lebih baik.
Keterbukaan ini menghilangkan saling curiga dan kekesalan dari
semua pihak.
Pemberdayaan masyarakat melalui informasi yang mudah diperoleh.
Dengan adanya informasi yang mencukupi, masyarakat akan belajar
untuk dapat menentukan pilihannya. Sebagai contoh, data-data
tentang sekolah; jumlah kelas, daya tampung murid, passing grade,
dan sebagainya, dapat ditampilkan secara online dan digunakan oleh
orang tua untuk memilih sekolah yang pas untuk anaknya.
Pelaksanaan pemerintahan yang lebih efisien. Sebagai contoh,
koordinasi pemerintahan dapat dilakukan melaluji e-mail atau
bahkan video confernce.

91
Teknologi Informasi dan Komunikasi yang dikembangkan dalam
pemerintahan atau yang disebut e-government membuat masyarakat
semakin mudah dalam mengakses kebijakan pemerintah sehingga
program yang dicanangkan pemerintah dapat berjalan dengan
lancar.
E-government juga dapat mendukung pengelolaan pemerintahan
yang lebih efisien, dan bisa meningkatkan komunikasi antara
pemerintah dengan sektor usaha dan industri.
Masyarakat dapat memberi masukan mengenai kebijakan-kebijakan
yang dibuaat oleh pemerintah sehingga dapat memperbaiki kinerja
pemerintah. Selain tampilan dan paduan warna yang menarik,
informasi-infromasi yang disajikan sangatlah lengkap dan up to date.
- Terdapatnya informasi transportasi, informasi valuta asing, serta info
tentang tinggi muka air.
- Website ini mencakup banyak aspek seperti hukum, agama, sosial
dan budaya, bisnis dan kawasan bisnisnya, pendidikan, dan
sebagainya.
- Semua terbuka untuk pemerintah dan masyarakat.
b. Kerugian E-Goverment bagi rakyat
Semakin bebasnya masyarakat mengakses situs pemerintah akan
membuka peluang terjadinya cyber crime yang dapat merusak
system TIK pada e-government. Misalnya kasus pembobolan situs
KPU ketika penyelenggaraan Pemilu oleh seorang cracker.
Kurangnya interaksi atau komunikasi antara admin (pemerintah)
dengan masyarakat, karena e- government dibuat untuk saling
berinteraksi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak lain yang
berkepentingan.
Kelemahan utama tentang e-government adalah kurangnya
kesetaraan dalam akses publik untuk keandalan, internet informasi di
web, dan agenda tersembunyi dari kelompok pemerintah yang dapat
mempengaruhi dan bias opini publik.

92
Pelayanan yang diberikan situs pemerintah belum ditunjang oleh
system manajemen dan proses kerja yang efektif karena kesiapan
peraturan,prosedur dan keterbataasan SDM sangat membatasi
penetrasi komputerisasi k dalam system pemerintahan.
Belum mapannya strategi serta tidak memaadainya anggaran yang
dialokasikan untuk pengembanngan e-government.
Inisiatif merupakan upaya instansi secara sendiri-sendiri, dengan
demikian sejumlah faktor seperti standardisasi, keamanan informasi,
otentikasi, dan berbagai alikasi dasar yang memungkinkkan
interoperabilitas antar situs secara andal, aman, dan terpercaya
kurang mendapat perhatian.
Kesenjangan kemampuan masyarakat untuk mengakses jaringan
internet

3. PENUTUP
3.1 Rangkuman
E-Government dapat diaplikasikan pada legislatif, yudikatif, atau
administrasi public yaitu:
- Untukmenyampaikan pelayanan public.
- Untuk meningkatkan efisiensi internal.
- Proses kepemerintahan yang demokratis.
Model penyampaian yang utama pada E-government adalah
- Government-to-Citizen atau Government-to-Customer (G2C).
- Government-to-Business (G2B).
- Government-to-Government (G2G).
Keuntungan yang paling diharapkan dari e-government adalah
aksesibilitas yang lebih baik dari pelayanan publik, kenyamanan,
peningkatan efisiensi.
3.2 Soal Latihan
Untuk memperdalam materi ini, maka mahasiswa diharapkan
mengerjakan soal-soal berikut ini.

93
1) Jelaskan manfaat e-government dalam penyelenggaraan
pemerintahan ?
2) Jelaskan keuntungan dan kerugian penggunaan e-government bagi
rakyat?
3.3 Umpan Balik
Baca kembali materi kegiatan belajar yang menyangkut tentang
manfaat E-govemment dalam penyelenggaraan pemerintahan, dan
keuntungan serta kerugian penggunaan e-government bagi rakyat. Untuk
menjawab semua soal di atas jawab dengan seksama hingga paham,
agar mahasiswa lebih yakin dapat berdiskusi dengan teman kuliah.

3.4 Daftar Pustaka


Budi Raharjo, Berbagai Manfaat Penerapan E-Government Makalah
dipresentasikan pada Seminar Nasional Jaringan Komputer II,
yang diselenggarakan oleh Technic Study Club, STMIK
Dipanegara Makassar, 19 Mei 2001.

Ermaya Sukadinata, 1998. Administrasi Lingkungan dan Ekologi


Pemerintahan dalam Pembangunan, Ramadhan Citra
Grafika Bandung

H. Sitonggang. 1997. Ekologi Pemerintahan. Pustaka Sinar Harapan


Jakarta.

Inu Kencana Syafei. 2003. Ekologi Pemerintahan, Perca Jakarta.

Joko Widodo, Good Governance: Akuntabilitas dan Kontrol Birokrasi


Pada Era Desentralisasi dan Otonomi daerah, 2001, Insan
Cendekia, Surabaya

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 2000, Pedoman


Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah, Lembaga Admnistrasi Negara dan Badan
Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan, Jakarta

Lembaga Admnistrasi Negara Republik Indonesia dan Badan Pemeriksa


Keuangan dan Pembangunan, 2000, Akuntabilitas dan Good
Governance, Lembaga Admnistrasi Negara dan Badan
Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan, Jakarta

94
Nurdin, Ismail, dkk. 2010. Ekologi Pemerintahan, Institut Pemerintahan
Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

Richardus Eko Indrajit, Dr. Ir, Msc. MBA, E-Government, Strategi


Pembangunan dan Pengembangan Sistem Pelayanan Publik
Berbasis Teknologi Digital, Andi Yogyakarta, 2002.

KESIMPULAN
Pengertian E-goverment adalah istilah mengenai kegiatan
pemerintahan yang menggunakan media teknologi
dan informasi, dalam memberikan

95
REINVENTING GOVERNMENT DAN
EFISIENSI PEMERINTAHAN

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembahasan
Menghadapi kenyataan-kenyataan yang muncul kepermukaan
dalam era globalisasi, khususnya dalam menghadapi era perdagangan
bebas, yaitu WTO tahun 2020, yang diawali untuk lingkungan Asia
Tenggara (AFTA 2003) dan untuk lingkungan Asia-Afrika yang tergabung
dalam kelompok negara yang berkembang (APEC) pada tahun 2010,
maka manajemen stratejik dalam pelayanan publik oleh pemerintah suatu
negara perlu mengakomadasi kebijakan publik yang antisipatif.
Salah seorang pemikir yang turut memberikan alternatif kebijakan
publik yang menjadi pilihan pemerintah suatu negara yakni David Osborne
dan Ted Gaebler, yang menuangkan idenya dengan lugas dalam buku
yang diberinya judul Reinventing Government. Gagasan menata ulang
pemerintahan mungkin tampak berani bagi mereka yang melihat
pemerintahan sebagai sesuatu yang mapan, sesuatu yang tidak berubah.
Tetapi dalam kenyataannya, pemerintah secara konsisten berubah.
Perubahan global yang berlangsung begitu cepat menggiring pemerintah
untuk mereposisi dirinya dalam mengambil peran.
Materi ini memberikan gambaran bentuk reposisi yang dapat
ditempuh oleh pemerintah dalam menghadapi berbagai perubahan yang
cepat tersebut. Terdapat sedikitnya 10 (sepuluh) prinsip yang terstruktur
menuju pemerintahan wirausaha. Gambaran ini bukanlah merupakan
sebagai kata akhir dari suatu langkah penyesuaian diri pemerintah, tapi
merupakan langkah awal menata ulang posisi pemerintahan.
2. MATERI PEMBELAJARAN
2.1 Mewirausahakan Birokrasi
Prinsip pemerintah wirausaha ini mengharapkan adanya
peningkatan di masa mendatang kinerja pemerintahan, di tengah ekonomi

96
dunia yang saling mengait, di mana peran pemerintah sangat strategis
dalam mengkondisikan suasana yang menguntungkan bagi dunia usaha.
Pada saat ekonomi dunia saling mengait semakin terasa, maka pada saat
itu peran pemerintah bergeser pada bagaimana memberikan akses yang
seluas-luasnya bagi investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri
untuk melakukan aktivitas ekonominya, dan pada saat yang sama
menjamin semua orang atau konsumen utuk mendapatkan barang atau
jasa yang mudah didapatkan dengan kualitas yang baik serta dengan
harga yang relatif murah.
Dalam materi ini dibahas dan diulas secara dalam bagaimana
organisasi publik harus menggeser paradigmanya dalam melaksanakan
perannya di era yang kompetitif, dengan harus meningkatkan daya
saingnya, namun esensi yang dasar dari gagasan Reinventing
Government ini adalah mewirausahakan birokrasi dan memberdayakan
masyarakat atau publik.
Adapun konsep reinventing government tersebut adalah :
a. Catalytic government
Artinya pemerintahan katalis maksudnya adalah bahwa tugas
pemerintah mengarahkan dan bukan mengayuh atau steering the
boat and not rowing. Caranya peran pemerintah lebih pada peran
pengaturan dan menciptakan suasana yang kondusif terhadap
lembaga non pemerintah dalam memberikan dan memenuhi
kebutuhan akan pelayanan kepada masyarakat.
b. Community owned government
Yaitu membuat masyarakat memiliki pemerintah. Caranya adalah
melalui empowering rather serving, artinya memberdayakan
masyarakat dan bukan melayani sehingga ketergantungan kepada
pemerintah menjadi berkurang.
c. Competitive government
Artinya pemerintah harus memiliki daya saing. Caranya adalah
injecting competiton into service delivery, yaitu mendorong

97
kemampuan bersaing dalam memberikan pelayanan sehingga tidak
kalah oleh sektor swasta
d. Mission driven government
Artinya pemerintah yang disetir oleh misi atau tujuan. Caranya
dengan transforming rule driven organization, maksudnya
mengubah organisasi lembaga, badan, instansi yang berorientasi
ketat, patuh pada peraturan sebagai policy
e. Result oriented government
Artinya menjadikan pemerintah bersemangat wirausaha. Caranya
adalah earning rather than serving atau menggali pemasukan dan
bukan melulu memberikan pelayanan
f. Enterprising government
Artinya menjadikan pemerintah yang bersemangan wirausaha.
Caranya adalah earning rather than serving atau menggali
pemasukan dan bukan melulu memberikan pelayanan.
g. Anticipatory government
Artinya pemerintahan yang memiliki daya antisipatif, karena masa
depan yang penuh dengan ketidakpastian, maka diperlukan
kemampuan mengantisipasi perubahan-perubahan yang beriseka.
Caranya adalah mengacu pada konsep prevention rather than cure,
mencegah ketimbang mengobati.
h. Costumer-driven government
Yaitu pemerintah yang mengutamakan kepentingan umum.
Caranya adalah meeeting needs of cus turner, not the bureucracy,
artinya memenuhi kebutuhan pelanggan dan bukan birokrasi.
Dalam hal ini birokrasi harus berperan sebagai abdi masyarakat
dan abdi negara, bukan sebaliknya.
i. Decentraliced government
Yaitu pemeritah yang terdesentralisasi. Caranya adalah from
hierarchy to partisiption and team work artinya dari hirarki ke
partisipasi dan tim kerja, ini dimaksudkan melonggarkan ketatnya

98
hubungan hirarkis lewat pelimpahan wewenang sehingga tumbuh
peran serta dari tim kerja yang kuat dan kondusif terhadap
pencapaian hasil.
j. Market oriented government
Artinya pemerintah yang berorientasi pasar. Kedudukan pasar
adalah pelanggan atau interaksi masyarakat dimana demand
memerlukan supply sehingga tidak terjadi gap. Caranya adalah
leveraging change throught the market, maksudnya mendongkrak
perubahan lewat pasar artinya perubahan-perubahan yang terjadi
bukan dibuat-buat, melainkan sepenuhnya karena interaksi yang
terjadi dalam masyarakat itu sendiri.

2.5 Pergeseran Paradigma Peran Pemerintah dalam Era Globalisasi


Materi ini memberikan gambaran dalam rangka penataan ulang
pemerintahan dan antisipasi terhadap munculnya suatu ekonomi industri
yang berkembang dahsyat di mana pada saat itu kompetisi begitu sangat
ketat antar pelaku bisnis, lembaga non pemerintah dan birokrasi
pemerintah itu sendiri, agar tidak menjadi pecundang, agar pemerintahan
tidak ditinggalkan oleh rakyatya.
Osborne dan Gaebler menawarkan gagasannya, yang ditujukan
kepada pemerintahan di bumi mana pun mempraktekkan birokrasi, bahwa
beberapa peran pemerintah yang diselenggarakan dan dengan patuh
tetap dipertahankan hingga saat, maka seiring dengan perkembangan
teknologi informasi, telekomunikasi dan transportasi, menjadikan dunia
semakin sempit dijelajahi, interaksi sesama warga bangsa dunia semakin
mudah untuk dilakukan, yang pada akhirnya membawa perubahan-
perubahan besar dalam praktek perekonomian dan pelayanan dan
pemenuhan kebutuhan publik.
Saatnya pemerintah harus menggeser paradigmanya dari yang
mengambil peran dominan dalam pelayanan publik dan menjadi
organisasi yang kaku dalam bentuknya yang birokratis menjadi

99
pemerintah yang mengambil peran mengarahkan, memberdayakan,
orientasi pelayanan, orientasi wirausaha, memiliki visi untuk
mengantisipasi perubahan masa depan, serta pendelegasian kewenangan
melalui penyelenggaraan pemerintahan desentralisasi.
Sejalan dengan itu Keniche Ohma dalam bukunya The Boardless
Word atau Dunia tanpa batas, akibat globalisasi dimana informasi begitu
cepat, transportasi yang dapat menghubungan belahan dunia yang satu
dengan belahan dunia Iainnya dalam waktu yang relatif setingkat, maka
perekonomian pada saat itu juga sudah menjadi milik dunia, artinya semua
orang atau pelaku bisnis apakah ia sebagai produsen atau ia sebagai
konsumer, mereka punya hak dan kesempatan yang sama untuk menjual
dan membeli produk yang dibutuhkannya dengan kualitas yang lebih serta
harga yang tentunya lebih murah.
Oleh karena pelaku bisnis harus mampu menangkap peluang dan
memanfaatkan peluang tersebut untuk kebesaran bisnisnya, betupula
konsumen harus mampu memanfaatkan keadaan tersebut untuk
mendapatkan produk yang lebih baik. Konsumen pada belahan dunia
manapun dapat menentukan pilihan dan menggunakan hak tersebut.
Pada saat sistem perekonomian berlangsung seperti ini maka
peran pemerintahpun mau tidak mau harus bergeser kalau menginginkan
produk dari dalam negerinya dapat hidup dan menghasilkan profit. Peran
pemerintah yang tradisional seperti memberikan proteksi terhadap produk
dalam negerinya, tidak menjadi populer lagi, memberikan proteksi tidak
mendidik bahkan menjerumuskan, karena dengan proteksi produsen yang
diberikan proteksi tersebut tidak terbiasa dengan persaingan, dan ketika
persaingan pada saatnya tiba produsen tersebut akan tergusur kalah
bersaing.
Peran pemerintah lebih banyak pada peran bagaimana menjaga
kelestarian lingkungan agar keseimbangan dan daya dukung lingkungan
dapat dipertahankan. Pada era persaingan bebas satu hal yang dapat
menjadi masalah adalah pada saat produsen melakukan eksploitasi dan

100
eksplorasi secara tidak wajar, yang dapat merusak lingkungan. Karena
bisa jadi produsen atau kalangan bisnis karena berupaya untuk mengejar
keuntungan yang sebesar-besarnya tidak jarang mereka mengabaikan
ekses yang terjadi seperti misalnya kerusakan lingkungan yang
disebabkan oleh pencemaran.
Peran pemerintah yang lain adalah bagaimana menyiapkan
sumberdaya manusia yang handal, karena hanya dengan sumber daya
manusia yang berkualitas dan kuantitas yang baiklah yang akan
mendukung industrialisasi, dengan sumber daya yang berkualitas
menghasilkan tenaga kerja yang mampu mencipta dan melakukan
penemuan-penemuan baru. Dengan sumber daya manusia yang
berkualitas dan terdidik membuat tenaga kerja menjadi lebih arif, sehingga
walaupun dituntut untuk produktif tapi tidak meninggalkan nilai-nilai sosial
dan lingkungan alam yang juga menjadi perhatiannya.
Uraian dari penulis kedua buku tersebut, kalau dicermati lebih jauh,
pesan yang digagasnya memang relevan untuk diadopsi oleh pemerintah
dan lembaga non pemerintah yang ingin tetap eksis di tengah ketatnya
persaingan. Terutama kalangan negara-negara yang sudah terlanjur maju
dan ingin tetap berada pada posisi unggul.
Menghadapi era globalisasi mempersyaratkan warga dunia,
pemerintah lembaga organisasi publik untuk menyiapkan diri dengan
bekal, yakni teknologi dan kemampuan manajemen, bagi negara-negara
yang sudah dulu maju bekal tersebut dengan sendirinya sudah melekat
dan dimilikinya, sehingga mereka tinggal menyesuaikan diri dan
memperbaharui dengan teknologi dan kemampuan manajemen yang lebih
handal.
Pada negara-negara yang masih terkebelakang bahkan pada
negara-negara berkembang sekalipun, mereka rata-rata masih minim
kalau tidak mau dikatakan miskin akan teknologi dan kemampuan
manajemen, tentunya keterbatasan ini menjadikan mereka tidak siap.
Makanya pada saat mereka masuk dalam persaingan di era globalisasi

101
bisa dipastikan mereka akan keteteran dan akan tertinggal, produk
mereka akan ditinggalkan oleh pasar dunia, bahwa bisa jadi juga
ditinggalkan oleh pasar domestiknya sendiri, sebagai akibat dari kalah
bersaing dengan produk yang sama tapi dari negara lain dengan kualitas
dan harga yang relatif lebih murah. Pada saat yang sama mereka akan
menjadi pasar yang potensial bagi negara maju, yang pada akhirnya
menjadikan produsen negara maju bertambah besar.
Globalisasi yang gemerlap dan menjanjikan harapan, akan
menjadikan peluang dan kesempatan bagi negara-negara bangsa untuk
lebih maju, tentunya mereka yang siap. Tapi bagi negara-negara yang
tidak siap seperti negara-negara terkebelakang termasuk juga negara-
negara berkembang seperti Indonesia, akan menjadi bulan-bulanan,
bahkan lebih buruk bisa terjadi. Oleh karena, peran pemerintah bagi
negara-negara belum siap seperti negara-negara terkebelakang dan
negara berkembang tidak bisa tiba-tiba bergeser begitu saja, seperti
meninggalkan sistem perekonomian pada mekanisme pasar. Pada
beberapa hal terutama menyangkut kebijakan penguatan ekonomi dalam
negeri masih harus ditangani oleh pemerintah.
Perusahaan dalam negeri dalam batas-batas tertentu masih perlu
dilindungi dalam kerangka pemikiran untuk kepentingan nasional bukan
dalam arti untuk kepentingan perusahaan tersebut, seperti dalam rangka
untuk kestabilan harga dan persedian atau stock barang.
Pada negara-negara terkebelakang lembaga non pemerintah
belum banyak yang dapat diandalkan untuk mengambil sebahagian peran
pemerintah seperti peran pelayanan kepada masyarakat. Kalau peran
tersebut diserahkan begitu saja kepada pihak lain lembaga non
pemerintah sementara infrastruktur mereka tidak siap, maka dapat
dipastikan wujud pelayan tidak akan maksimal.

102
3. PENUTUP
3.1 Rangkuman
Gagasan untuk menggeser peran pemerintah dan peran yang
dominan menjadi peran pada katalis, perlu melihat kultur negara dan
pemerintahan itu sendiri. Pada kultur masyarakat yang lebih maju dan
pemeritahan yang Iebih modern dan demokratis, maka pergeseran peran
tersebut akan menjadi pemicu untuk kemajuan bangsa atau negara
bersangkutan.
Pergesaran peran permerintah tersebut di atas kalau dilakukan
pada negara dan kultur yang belum mendukung dan kondusif. Globalisasi
yang menjanjikan harapan, maka bisa jadi harapan itu akan menjadi buyar
dan sebaliknya akan menuai keterpurukan karena akan tertindas dan
terlindas oleh negara yang sudah maju.
Sebagai tindakan yang arif dan pengelola pemerintahan adalah
mengadopsi nilai-nilai gobalisasi yang dapat memacu pertumbuhan dan
laju perkembangan ekonominya. Namun secara selektif menentukan yang
mana nilai-nilai tersesebut sesuai dengan kultur negaranya Karena
globalisasi dan pasar bebas merupakan peluang dan kesempatan lebih
luas bagi negara dan pemerintah serta pelaku bisnis untuk menjadi lebih
besar dan semakin menguasai perekonomian. Tapi bagi negara-negara,
pemerintah sserta pelaku bisnis yang tidak siap, maka globalisasi dan
pasar bebas merupakan ancaman yang siap menerkam yang pada
akhirnya membuat keterpurukan dengan berbagai eksesnya bagi negara
yang tidak siap tersebut.

3.2 Soal Latihan

Untuk memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai materi di atas


silakan mengerjakan soal latihan berikut ini.
1. Jelaskan pergeseran paradigma penyelenggaraan pemerintahan?
2. Dalam era globalisasi pemerintah seharusnya mengambil posisi
sebagai katalis !, Jelaskan

103
3. Sebutkan nilai-nilai globaslisasi ? Jelaskan!
4. Bagaimana seharusnya suatu pemerintahan Negara menyikapi
tuntutan globalisasi?
3.3 Umpan Balik
Baca kembali materi kegiatan belajar yang menyangkut tentang
Globalisasi sebagai lingkungan pemerintahan. Untuk menjawab semua
soal di atas jawab dengan seksama hingga paham, agar mahasiswa lebih
yakin dapat berdiskusi dengan teman yang mengikuti mata kuliah ini.

3.4 Daftar Pustaka

Davidow H. , William & Uttal, Bro, 1989, Total Customers Service The
Ultimate Weapon. The Free Press, New York.

Denhardt, Janet V., and Robert B. Denhardt, 2003, The New Public
Services, Armonk, New York: M. E. Sharpe.

Denhardt, Robert B. , 2004, Theories of Public Organization (Fifth Edition),


Thomson Wadsworth.

DeVxy, Catherine, Good Service is Good Business, 7 Simple Strategies


for Success, Competitive Edge Management Series, ATM
1994:8

Fitzsimmons, James A., and Fitzsimmons, Mona A.,1994, Service


Management for Competitive Advantage, Mc Graw Hill, London.

Frederickson, H. G. ,1997, The Spirit of Public Administration San


Franccisco : Jossey-Bass Publishers.

Joiner, Brian L., 1994, Fourth Generation Management - The New


Business Conciousness, Mc Graw-Hill Inc. , Singapore;

Nashold, Friede dan Daley, Glenn, 1999, Learning From The Pioneers:
Modernizing Local Government. Part One, International Public
Management Journal 2 (1).

Nurdin, Ismail, dkk. 2010. Ekologi Pemerintahan, Institut Pemerintahan


Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

104
Osborne, David, dan Ted Gaebler, 1996, Mewirausahakan Birokrasi
Menfransformasi Semangat Birokrasi ke dalam Sektor Publik
(seri Umum No. 17), Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta;

Rosen, et al, 1993, Improving Public Sector Productivity, Concept and


Practice London: Sage Publication.

Roth, Gabriel, 1987, The Private Provision of Public Services in


Develuping Countries, EDI Series in Economic Development,
Published for the World Bank, Oxford University Press.

Salomo, Roy Valiant. 2006. Scenario Planning Reformasi Administrasi


Pemerintah Subnasional di Indonesia: Sebuah Grand Strategy
Menuju Tahun 2025 Disertasi. Ilmu Administrasi FISIP-Ul.

Schedler, Kuno and Felix, Jurg, 2000, Quality in Public Management: the
Customer Perspective, Institute for Public Service and Turism,
University of St. Gallen, Vambuelstrasse 19, St. Gallen,
International Public Management Journal 3.

Schmidtz, David, 1991, The Limits of Government, An Essay the Public


Goods Argument. New York: West View Press.

Skeicher, Chris, 1992, Managing for Service Quality London: Longman.

Tjiptono, Fandy, 1997, Total Quality Service, ANDI, Yogyakarta.

Widodo, Joko, 2001, Good Governance, Telaah dan Dimensi Akuntabilitas


dan Kontrol Birokrasi Pada Era Desentralisasi dan Otonomi
Daerah, Insan Cendekia, Surabaya.

Joko Widodo, Good Governance: Akuntabilitas dan Kontrol Birokrasi


Pada Era Desentralisasi dan Otonomi daerah, 2001, Insan
Cendekia, Surabaya

105
PERKEMBANGAN IPTEK
SEBAGAI LINGKUNGAN PEMERINTAHAN

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembelajaran
Seperti yang kita ketahui, teknologi kini telah merembes dalam
kehidupan kebanyakan manusia bahkan dan kalangan atas hingga
menengah ke bawah sekali pun. Di mana upaya tersebut merupakan cara
atau jalan di dalam mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan harkat
martabat manusia.
Atas dasar kreativitas akalnya, manusia mengembangkan Iptek
dalam rangka untuk mengolah SDA yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha
Esa. dimana dalam pengembangan Iptek harus didasarkan terhadap
moral dan kemanusiaan yang adil dan beradab, agar semua masyarakat
mengecam Iptek secara merata. Begitu juga diharapkan SDM-nya bisa
lebih baik lagi, apalagi banyak kemudahan yang kita dapatkan. Namun,
berbanding terbalik dengan realita yang ada karena semakin canggih
perkembangan teknologi, telah membuat masyarakat menjadi malas yang
disebabkan oleh kemudahan-kemudahan yang ada tersebut. Ambil saja
salah satu contoh perkembangan Iptek di bidang telekomunikasi di mana
zaman dahulu handphone itu sangat langka karena harganya yang mahal,
berbeda dengan sekarang harga handphone sudah sangat murah dan
menjangkau lapisan menengah ke bawah.
Di satu sisi telah terjadi perkembangan yang sangat baik sekali di
aspek telekomunikasi, namun pelaksanaan pembangunan Iptek masih
belum merata. Masih banyak masyarakat kurang mampu yang putus
harapannya untuk mendapatkan pengetahuan dan teknologi tersebut. Hal
itu dikarenakan tingginya biaya pendidikan yang harus mereka tanggung.
Maka dari itu, pemerintah perlu menyikapi dan menanggapi masalah-
masalah tersebut, agar peranan Iptek dapat bertujuan untuk
meningkatkan Sumber Daya Manusia yang ada.

106
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa dapat mengetahui
dapat menjelaskan perkembangan iptek di Indonesia, dan bagaimana
dampaknya terhadap penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.
1.3 Urutan Pembahasan
Pembahasan akan diawali dengan menguraikan pelaksanaan dan
pengembangan iptek di Indonesia, kemudian akan dijelaskan berbagai
dampak yang ditimbulkan oleh perkembangan iptek sebagai suatu faktor
ekologis.
2. MATERI PEMBELAJARAN
2.1 Pelaksanaan dan Pengembangan Iptek di Indonesia
Peradaban bangsa dan masyarakat dunia di masa depan sudah
dipahami dan disadari akan berhadapan dengan situasi serba kompleks
dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, sebut saja antara lain;
cloning, cosmology, cryonics, cyberneties, exobiology, genetic,
engineering dan nanotechnology. Cabang-cabang Iptek itu telah
memunculkan berbagai perkembangan yang sangat cepat dengan
implikasi yang menguntungkan bagi manusia atau sebaliknya.
Untuk mendayagunakan Iptek diperlukan nilai-nilai luhur agar dapat
dipertanggungjawabkan. Rumusan 4 (empat) nilai luhur pembangunan
Iptek Nasional, yaitu :
1. Accountable, penerapan Iptek harus dapat dipertanggung
jawabkan baik secara moral, lingkungan, finansial, bahkan dampak
politis
2. Visionary, pembangunan Iptek memberikan solusi strategis dan
jangka panjang, tetapi taktis dimasa kini, tidak bersifat sektoral dan
tidak hanya memberi implikasi terbatas.
3. Innovative, asal katanya adalah innovere yang artinya temuan
baru yang bermanfaat. Nilai luhur pembangunan Iptek artinya
adalah berorientasi pada segala sesuatu yang baru, dan
memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya untuk memproduksi

107
inovasi baru dalam upaya inovatif untuk meningkatkan
produktivitas.
4. Excellence, keseluruhan tahapan pembangunan Iptek mulai dari
fase inisiasi, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi,
implikasi pada bangsa harus baik, yang terbaik atau berusaha
menuju yang terbaik.
Pesatnya kemajuan Iptek memerlukan penguasaan, pemanfaatan,
dan kemajuan Iptek untuk memperkuat posisi daya saing Indonesia dalam
kehidupan global.

2.2 Dampak Perkembangan Iptek di Indonesia


Perkembangan Iptek di samping bermanfaat untuk kemajuan hidup
Indonesia juga memberikan dampak negatif. Hal yang perlu diperhatikan
dalam penerapan Iptek untuk menekan dampaknya seminimal mungkin,
antara lain :
1) Menjaga keserasian dan keseimbangan dengan lingkungan
setempat.
2) Teknologi yang akan diterapkan hendaknya betul-betul dapat
mencegah timbulnya permasalahan di tempat itu.
3) Memanfaatkan seoptimal mungkin segala sumber daya alam dan
sumber daya manusia yang ada.
Beberapa dampak iptek yang dapat dikemukakan, antara lain:
a. Penyediaan Pangan
Perkembangan Iptek dalam bidang pangan dimungkinkan karena
adanya pendidikan, penelitian dan pengembangan di bidang pertanian
terutama dalam peningkatan produktivitas melalui penerapan varitas
unggul, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit, pola
tanaman dan pengairan. Namun di sisi lain perkembangan tersebut
berdampak fatal, misalkan saja penggunaan pestisida dalam
pemberantasan hama ternyata dapat menyebabkan penyakit dalam
tubuh manusia.
b. Penyediaan Sandang

108
- Pada awalnya bahan sandang dihasilkan dari serat alam seperti
kapas, sutra, woll dan lain-lain
- Perkembangan teknologi matrial polimer menghasilkan berbagai
serat sintetis sebagai bahan sandang seperti rayon, polyester,
nilon, dakron, tetoron dan sebagainya
- Kulit sintetik juga dapat dibuat dari polimer termoplastik sebagai
bahan sepatu, tas dan lain-lain
- Teknologi pewarnaan juga berkembang seperti penggunaan zat
azo dan sebagainya.
c. Penyediaan Papan
- Teknologi papan bersangkut paut dengan penyediaan lahan dan
bidang perencanaan seperti city planning, kota satelit, kawasan
pemukiman dan sebagainya yang berkaitan dengan perkembangan
penduduk
- Awalnya bahan pokok untuk papan adalah kayu selanjutnya
dikembangkan teknologi matrial untuk mengatasi kekurangan kayu
- Untuk mengatasi kekurangan akan lahan dikembangkan teknologi
gedung bertingkat, pembentukan pulau-pulau baru, bahkan tidak
menutup kemungkinan pemukiman ruang angkasa.
d. Peningkatan Kesehatan
- Perkembangan ilmu Kedeokteran seperti: ilmu bedah dan lain-lain
- Penemuan alat-alat kedokteran seperti: stetoskup, USG, dan lain-
lain
- Penemuan obat-obatan seperti anti biotik, vaksin dan lain- lain
- Penemuan radio aktif untuk mendeteksi penyakit secara tepat
seperti tumor dan lain-lain
- Penelitian tentang kuman-kuman penyakit dan lain-lain.

e. Penyediaan Energi
- Kebutuhan akan energi
- Sumber-sumber energi
- Sumber energi konvensional tak dapat diperbaharui
- Sumber energi pengganti yang tak habis pakai
- Konversi energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain.

3 PENUTUP
3,1 Rangkuman

109
Dengan memperhatikan perkembangan dan kemajuan zaman
dengan sendirinya pemanfaatan dan penguasaan Iptek mutlak diperlukan
untuk mencapai kesejahteraan bangsa. Visi dan misi Iptek dirumuskan
sebagai panduan untuk mengoptimalkan setiap sumber daya Iptek yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia, Undang-Undang No.18 Tahun 2002
tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan ilmu
Pengetahuan dan Teknologi yang telah diberlakukan sejak 29 Juli 2002,
merupakan penjabaran dari visi dan misi Iptek sebagaimana termaksud
dalam UUD 1945 Amandemen pasal 31 ayat 5, agar dapat dilaksanakan
oleh pemerintah beserta seluruh rakyat dengan sebaik-baiknya. Selain itu
pula perkembangan Iptek di berbagai bidang di tengah perkembangan
zaman yang semakin pesat semestinya dapat meningkatkan kualitas SDM
di tengah bermunculannya dampak negative dan adanya perkembangan
Iptek, sehingga diperlukan pemikiran yang serius dan mantap dalam
menghadapi permasalahan dalam penemuan-penemuan baru tersebut.
3.2 Soal latihan
Untuk memperdalam materi pembelajaran yang telah disajikan dalam
pembahasan ini, mahasiswa diharapkan menyelesaikan soal-soal latihan
berikut ini.
1) Jelaskan perkembangan iptek di Indonesia !
2) Jelaskan dampak dari perkembangan iptek tersebut terhadap
penyelenggaraan pemerintahan!
3.3 Umpan Balik
Baca kembali materi kegiatan belajar yang menyangkut tentang
perkembangan iptek dan dampak dari perkembangan iptek tersebut.
Untuk menyelesaikan semua soal di atas jawab dengan seksama hingga
paham, agar mahasiswa lebih yakin dapat berdiskusi dengan teman yang
mengikuti mata kuliah ini.

3.4 Daftar Pustaka

110
Fukuyama, Francis, 2001, The End of History and The Last Man, Penerbit
Qalam, Yogayakarta.

__________ 2001, Transparansi Pemerintahan, Mencari Format dan


Konsep Transparansi Dalam Praktik Penyelenggaraan
Pemerintahan Yang Baik, Forum Inovasi November 2001.

Huntington, Samuel P., 1991, Gelombang Demokrasi Ketiga, Terjemahan


oleh: Asril Marjohan, Penerbit PT Pustaka Grafiti, Jakarta;

Indrajit, Richardus Eko. , 2002, E-Government - Strategi Pembangunan


dan Pengembangan Sistem Pelayanan Publik Berbasis
Teknologi Digital, Andi Yogyakarta;

Mc. Lean, Lain, 1987, Public Choice an Introduction, New York.

Moenir, H. A. S. , 1992, Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia, Bumi


Aksara, Jakarta.

Ndraha, Taliziduhu, 2000, Diktat Kuliah Ilmu Pemerintahan, Program


Pasca Sarjana UNPAD, Bandung

Nurdin, Ismail, dkk. 2010. Ekologi Pemerintahan, Institut Pemerintahan


Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

Rasyid, Ryass, 1996, Makna Pemerintahan: Tinjauan Dan Segi Etika Dan
Kepemimpinan, Yarsif Watampone, Jakarta.

Rosen, et al, 1993, Improving Public Sector Productivity, Concept and


Practice London: Sage Publication.

Roth, Gabriel, 1987, The Private Provision of Public Services in


Develuping Countries, EDI Series in Economic Development,
Published for the World Bank, Oxford University Press.
Salomo, Roy Valiant. 2006. Scenario Planning Reformasi Administrasi
Pemerintah Subnasional di Indonesia: Sebuah Grand Strategy
Menuju Tahun 2025 Disertasi. Ilmu Administrasi FISIP-Ul.

Widodo, Joko, 2001, Good Governance, Telaah dan Dimensi Akuntabilitas


dan Kontrol Birokrasi Pada Era Desentralisasi dan Otonomi
Daerah, Insan Cendekia, Surabaya.

S Pamudi, 1986, Ekologi Administasi Negara, Bina Aksara Jakarta.

H. Sitonggang. 1997. Ekologi Pemerintahan. Pustaka Sinar Harapan


Jakarta.

111
Ermaya Sukadinata, 1998. Administrasi Lingkungan dan Ekologi
Pemerintahan dalam Pembangunan, Ramadhan Citra Grafika
Bandung.

Pandi Santosa, 2008. Administrasi Public,Teori dan Aplikasi Good


Govermance.

Inu Kencana Syafei. 2003. Ekologi Pemerintahan, Perca Jakarta.

____________ 2003. Ilmu Pemerintahan. Mandar Maju Bandung.

112
PERKEMBANGAN MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK
SEBAGAI FAKTOR EKOLOGIS

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembahasan
Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh aparatur pemerintah
baik di tingkat nasional maupun daerah pada umumnya belum dapat
memenuhi kualitas yang diharapkan masyarakat. Hal ini ditandai dengan
masih adanya berbagai keluhan yang datang dari masyarakat sebagai
obyek penerima pelayanan, sehingga menimbulkan citra yang kurang baik
terhadap aparatur pemerintah. Mengingat fungsi utama pemerintah adalah
melayani masyarakat, maka pemerintah perlu terus berupaya
meningkatkan kualitas pelayanan.
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa dapat
memahami secara lebih mendalam mengenai tahapan perkembangan
manajemen, dan dapat menjelaskan perkembangan paradigma baru
dalam pelayanan publik;

2. MATERI PEMBELAJARAN
2.1 Tahapan Perkembangan Manajemen
Salah satu sebab ketertinggalan suatu negara dibanding negara
lain adalah karena ketertinggalan dari segi manajemennya. Hal ini sejalan
dengan pemikiran Osborne dan Gaebler (1992) yang mengatakan bahwa
persoalan utama yang dihadapi oleh pemerintah dewasa ini bukan terletak
pada apa yang dikerjakan, melainkan terletak pada bagaimana
mengerjakannya (Wasistiono, 2004:4). Artinya permasalahan utama yang
dihadapi oleh organisasi pemerintah terletak pada kemampuan
manajerialnya. Hal ini sejalan dengan pandangan Peter F. Drucker (1995)
yang menolak menggunakan istilah under developed country untuk
negara-negara yang terbelakang. Drucker lebih cocok menggunakan

113
istilah undermanaged country, sebab keterbelakangan suatu negara
lebih banyak disebabkan oleh ketertinggalan di bidang manajemennya.
Hal tersebut di atas akan semakin nampak apabila dikaitkan
dengan perkembangan manajemen pada umumnya dan manajemen
pemerintahan pada khususnya. Berikut diuraikan 5 (lima) tahapan
perkembangan manajemen sebagaimana dikemukakan Wasistiono
(2004: 4 -5).
a. Manajemen Generasi Pertama (MG1)
Manajemen sebagai sebuah kemahiran (know-how) lahir bersama
dengan hadirnya peradaban manusia. Sedangkan sebagai ilmu, kelahiran
manajemen sulit ditetapkan secara pasti karena sifatnya yang evolutif dan
inkremental. Manajamen generasi pertama disebut juga sebagai Jungle
Management.
Ciri utama manajemen generasi pertama ialah pekerjaan yang ada
lebih banyak dikerjakan sendiri. Catatan tertulis mengenai apa yang telah,
sedang dan akan dikerjakan dapat dikatakan tidak ada. Semua hanya
dicatat dalam ingatan orang-orang yang menjalankan kerja sama.
Pekerjaan dijalankan secara naluriah tanpa perencanaan, mengalir
bersama-sama kehidupan orang-orang yang saling bekerja sama. Dalam
menjalankan organisasi digunakan prinsip : doing things by ourself
b. Manajemen Generasi Kedua (MG2)
Seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi, manajemen sebagai
kemahiran maupun sebagai ilmu sudah mulai menampakkan sosoknya
yang utuh. Salah satu pelopor manajemen sebagai sebuah ilmu adalah F.
W. Taylor (1856-1915) yang dikenal sebagai bapak Manajemen Ilmiah. Ciri
utama manajemen generasi kedua adalah penggunaan kewenangan dan
kepemimpinan untuk mengarahkan anggota organisasi mencapai
tujuannya. Anggota organisasi Iebih banyak diposisikan sebagai alat
produksi sehingga kurang memiliki kebebasan untuk berkreasi. Kepuasan
pelanggan maupun kepuasan anggota organisasi belum diperhitungkan

114
dalam proses manajerial. Pada generasi ini, berkembang teori-teori
kepemimpinan, oleh karena itu manajemen generasi kedua dinamakan
pula Management by Direction. Dalam menjalankan organisasi digunakan
prinsip: doing things through by the other people.
c. Manajemen Generasi Ketiga (MG3)
Sebagai reaksi dari kelemahan manajemen generasi kedua, para
ahli manajemen kemudian rnengembangkan konsep-konsep yang baru.
Agar anggota organisasi memiliki daya inovasi dan kreativitas, mereka
perlu diberi kebebasan. Akan tetapi kebebasan tersebut perlu diimbangi
dengan pemenuhan target-target pekerjaan secara kuantitatif. Dalam
kenyataannya target-target kuantitas yang terlampau berat justru
membelenggu kebebasan anggota organisasi dan kemudian menimbulkan
ketegangan jiwa. Manajemen generasi ketiga dinamakan pula sebagai :
Management by Targetting atau Management By Objectives (MBO). Nilai
yang diutamakan pada manajemen generasi ketiga adalah produktivitas
yang bersifat kuantitas. Tokohnya antara lain Peter F. Drucker.
d. Manajemen Generasi Keempat (MG4)
Perubahan dan perkembangan jaman yang berjalan sangat cepat
dan seringkali sulit diperkirakan temyata telah membuat berbagai konsep
dan teori manajemen yang telah dikembangkan pada dekade 1980-an
dirasakan tidak sesuai lagi. Munculnya gelombang demokratisasi ketiga
(tesis Samuel P. Huntington) mendorong meningkatnya kesadaran
konsumen akan hak-haknya. Konsumen yang selama ini dalam posisi
pasif menerima produk yang dihasilkan oleh suatu organisasi, mulai
bangkit kesadarannya dan ikut memainkan peran penting di dalam
menentukan bentuk, jenis serta kualitas suatu produk. Berbagai ahli
kemudian melakukan penelitian dan kajian yang kemudian dituangkan
dalam bentuk tulisan maupun jurnal manajemen. Salah satu di antaranya
adalah Brian L Joiner (1994) yang menulis buku berjudul Fourth
Generation Management - The New Business Conciousness. Tulisan

115
tersebut dapat dikatakan sebagai bibit lahirnya manajemen generasi
keempat.
Ciri utama manajemen generasi keempat adalah memadukan
pendekatan ilmiah serta kerja tim untuk mencapai kualitas. Manajemen
generasi keempat mempunyai fokus pada kualitas produk yang dihasilkan
dalam rangka memberikan kepuasan pada pelanggan (cusstomer
satisfaction) disertai kepuasaan anggota organisasinya. Kualitas di sini
adalah sebagaimana yang didefinisikan oleh para pelanggannya, bukan
sepihak oleh produsennya.
Pencapaian kualitas tersebut dilakukan melalui berbagai
pendekatan ilmiah berdasarkan hasil penelitian. Pendekatan ilmiah
merupakan suatu proses pembelajaran mengelola suatu organisasi
sebagai sebuah sistem, pengembangan proses berpikir serta mengambil
keputusan dengan berdasarkan data.
Pada generasi keempat ini, manajemen berangkat dari rasa saling
percaya pada setiap orang dengan memperlakukan manusia berdasarkan
harga dirinya, kepercayaan dan rasa hormat serta bekerja atas dasar
pendekatan menang-menang (win-win approach).
Manajemen mutu total (total quality management atau TQM)
termasuk ke dalam manajemen generasi keempat karena mempunyai
fokus yang sama yaitu mengutamakan kualitas.
e. Manajemen Generasi Kelima (MG5)
Manajemen generasi keempat yang belum lama muncul dan baru
digunakan di kalangan terbatas khususnya dunia bisnis ternyata telah
disusul dengan embrio lahirnya manajemen generasi kelima. Tokohnya
antara lain Charles M. Savage (1990) melalui bukunya berjudul : Fifth
Generation Management - Integrating Enterprises Through Human
Networking.
Ciri utama manajemen generasi kelima adalah bagaimana
mengintegrasikan organisasi melalui jaringan manusia. Unsur manusia di
dalam organisasi dihargai sangat tinggi sebagai individu yang memiliki

116
keahlian tertentu. Individu anggota organisasi bukan sekedar alat
produksi.
Untuk masuk ke dalam manajemen generasi kelima, Savage
(1990)
menawarkan lima macam transisi yaitu :
1) transisi dan era industrialisasi ke era ilmu pengetahuan;
2) transisi dan kegiatan rutin pada kegiatan yang kompleks;
3) transisi dan kegiatan sekuensial pada kegiatan paralel;
4) transisi pada prinsip-prinsip konseptual;
5) transisi pada struktur barn.
Manajemen pemerintahan sebagai salah satu derivat manajemen
secara umum juga mengalami perkembangan seperti yang dikemukakan
di atas. Hanya saja, manajemen pada organisasi pemerintah umumnya
tertinggal dibandingkan kalangan bisnis, karena pada sektor pemerintah
tidak terdapat iklim kompetisi yang mampu menjadi daya dorong untuk
melakukan pembaruan. Pekerjaan di sektor pemerintah umumnya bersifat
monopoli dan berbasis kewenangan. Monopoli berarti tidak ada kompetisi,
tanpa kompetisi tidak akan tercapai efisiensi dan inovasi.
Di Indonesia, manajemen sektor pemerintah pada umumnya baru
masuk pada generasi kedua ataupun ketiga. Masih sangat jarang yang
masuk pada generasi keempat ataupun kelima. Hierarki dalam bentuk
eselonering, orientasi kepada atasan karena faktor budaya serta pengaruh
manajemen militer selama masa dwifungsi ABRI, menjadi kendala utama
mengembangkan manajemen pemerintahan di Indonesia. Hal tersebut
menghambat penggunaan paradigma baru berpemerintahan yang
mensyaratkan adanya hubungan yang Iebih legaliter dan heterarkis.
Tanpa adanya strategi besar untuk mengubah secara mendasar
dan menyeluruh manajemen pemerintahan, maka organisasi pemerintah
akan menjadi penghambat bagi kemajuan bangsa. KKN di Indonesia ang
seharusnya menjadi musuh bersama bangsa (common enemy), bermula

117
dari kelemahan manajemen, baik mulai dari manajemen perencanaannya
sampai pada manajemen kolaborasi dan konflik.
2.2 Paradigma Baru Pelayanan Publik
Terminologi pelayanan berasal dari kata service. DeVrye
mengatakan ada dua pengertian yang terkandung di dalamnya, yakni the
attendance of an inferior upon a superior atau to be useful (DeVrey,
1994:8). Pengertian pertama mengandung unsur ikut serta atau tunduk,
dan pengertian kedua mengandung suatu kebermanfaatan atau
kegunaan. Pengertian kedua dari pendapat DeVrey tersebut sejalan
dengan pendapat Davidow dan Uttal yang memberikan pengertian lebih
luas yaitu .whatever enhances customer satisfaction(Davidow & Uttal,
89:19). Dengan demikian, dikatakan bahwa pelayanan merupakan suatu
usaha untuk mempertinggi kepuasan pelanggan.
Di sisi lain, terminologi publik sering diartikan sebagai sekelompok
masyarakat. Masyarakat itu sendiri dapat dipandang dari berbagai
pengertian. Frederickson (1997:21) mengungkapkan pengertian public
dan bahasa Yunani, yakni: .. . The public as a political community-the
polis-in which all citizens (that is adult males and nonslaves) participated.
artinya, publik merupakan suatu masyarakat-polis dan semua penduduk
berpartisipasi di dalamnya. Kemudian berkembang di Inggris modern
bahwa.. . the public to mean all the people in a society, without
distinguish tween them. Kedua pengertian ini saling memperkuat
pengertian publik atau masyarakat, yakni semua penduduk tanpa kecuali
dalam suatu komunitas yang ikut berpartisipasi di dalam pemerintahan.
Terminologi pelayanan dan publik di atas, memberikan dasar pengertian
terhadap pelayanan publik. Pelayanan publik didefinisikan oleh Roth
(1987:1) sebagai any services available to the public whether provided
publicly (as is a museum) or privately (as is a restaurant meal). Any
services yang diungkapkan oleh Roth berkaitan dengan barang dan jasa
dalam pelayanan. Pelayanan publik yang dimaksud adalah segala bentuk
kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau individu

118
dalam bentuk barang jasa kepada masyarakat baik secara individu
maupun kelompok atau organisasi.
Dalam penyediaan kebutuhan secara berkelompok dipengaruhi
oleh adanya perbedaan secara filosofis barang layanan. Barang dan jasa
dalam pelayanan publik oleh Olson dan Lean (1987) dikategorikan ke
dalam dua kelompok besar yaitu barang publik (public goods) dan barang
privat (private goods). Barang yang satu dengan barang yang lain
mempunyai karakteristik yang berbeda. Lean (1987:11-12) mendifinisikan
barang publik adalah A pure public good is defined as a good requiring
indivisibility of production and consumption, non rivalness, and non-
excludability. Dengan demikian, barang publik murni dikonsumsi secara
bersama dan setiap orang tidak dapat dicegah untuk mengkonsumsinya.
Di samping itu, tidak dapat dipisahkan antara konsumen dan produsen.
Akibatnya tidak ada seorang pun yang mau memproduksi, sehingga tidak
mengundang adanya persaingan.
Kedua jenis barang dengan tiga karakteristik yang berbeda tersebut
kemudian dikembangkan oleh Savas (1987:38) menjadi empat, yaitu:
private goods, toll goods, common pool goods and collective goods.
Pemisah yang digunakan adalah consumptions and exclusion, baik yang
bersifat individual maupun joint. Dalam mengkonsumsi dan memproduksi
barang, terdapat empat persoalan yaitu adanya altruism, anarchy, the
market, and government (McLean, 1987:12). Barang privat (private goods)
tidak menimbulkan persoalan bagi pemerintah karena pasar menjadi
media untuk pelayanannya. Kejelasan konsumsi dan produksi
menyebabkan setiap orang mau menyediakannya. Dampaknya adalah
adanya price and quality competition di pasar. Demikian juga dalam
pelayanan pendidikan peran masyarakat dapat menumbuhkan kualitas
pelayanan itu sendiri.
Paradigma administrasi publik tradisional dipengaruhi secara kuat
oleh 3 (tiga) aliran utama yang berkembang pada masa gerakan
administrasi modern, yaitu Weberian dengan tokoh utamanya Max Weber

119
(1864-1820), the Scientific Management yang dimotori oleh Frederick
Taylor (1911), dan teori Human Relations dan Elton Mayo (1930).
Pertama, Aliran Weberian berpendapat bahwa birokrasi yang ideal adalah
yang menekankan pada prinsip efisiensi. Prinsip tersebut meliputi :
otoritas bersumber pada hukum formal, birokrasi dibangun dengan
struktur hierarki, konsistensi dalam menerapkan peraturan dan
impersonal, profesionalisme, kerja penuh waktu, dan segala sesuatu
dicatat dan diatur dalam perundang-undangan. Kedua, aliran manajemen
ilmiah (the scientific management) mengenal dua prinsip yaitu time and
motion studies yang digunakan sebagai penentu standar kinerja dan
sistem insentif. Ketiga, aliran human relations menekankan pentingnya
hubungan informal dalam bekerja selain hubungan formal (Solomo, 2006).
Paradigma New Public Management (NPM) berkembang sebagai
bentuk kekecewaan terhadap birokrasi yang semakin tidak efisien,
birokrasi yang sangat besar dan kaku dan kinerja yang semakin menurun.
Aliran NPM diawali dengan kemunculan teori public choice yang dimotori
oleh Buchanan dan Tullock pada tahun 1960-1970-an. Pada intinya aliran
ini menekankan pentingnya kekuatan pasar atau kompetisi dalam
birokrasi yang didasari kekhawatiran apabila alokasi sumber daya
dilakukan melalui mekanisme politik. Pada era ini ide tentang contracting
out, privatisasi dan kompetisi antar departemen gencar disuarakan.
Berdasarkan aliran public choice ini berkembang NPM pada era 1980-an
yang menekankan paham managerialism yang didasarkan pada metode
dan praktik sektor swasta. Secara makro pendekatan ini berorientasi pada
struktur birokrasi negara yang ramping (slimming the state) dengan
contracting-out dan swastanisasi, sedangkan secara mikro dilakukan
dengan manajemen stratejik, manajemen dan anggaran kinerja dan
sistem kompetisi dalam penyediaan pelayanan publik. Pada prinsipnya
paradigma ini menekankan pentingnya efisiensi birokrasi dengan
pendekatan manajerial.

120
Paradigma kepemerintahan yang baik (Good Governance/GG)
berkembang sebagai bentuk kekecewaan terhadap dominasi negara dan
pasar yang sangat kuat dalam pelayanan publik. Sementara itu
masyarakat sebagai penerima layanan jasa dianggap sebagai objek
semata. Gerakan yang muncul pada tahun 1990-an ini, menempatkan tiga
pilar yaitu pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat (civil society) yang
mempunyai peran dan posisi sama penting dalam pelayanan publik.
Masyarakat perlu mengetahui pelayanan yang transparan, akuntabel,
efektif, efisien, dan partisipatif dalam mekanisme pelayanan publik.
Pada perkembangan terakhir muncul paradigma The New Public
Service Management (NPSM) sebagai penyempurnaan terhadap aliran
GG. Aliran ini memadukan prinsip-prinsip dalam NPM dan GG. Dengan
mengusung prinsip serving than steering. Aliran ini menegaskan bahwa
pemerintah tetap harus berperan membuat regulasi dan melakukan
pelayanan publik pada masyarakat tetapi masyarakat juga diberi peran
untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan tersebut. Perpaduan
pergerakan pemerintahan subnasional dengan pergerakan paradigma
administrasi publik melahirkan model-model pelayanan yang beragam
pada unit-unit yang berada di dalam organisasi subnasional (Denhardt,
2008:174).
3 PENUTUP
3.1 Rangkuman
Salah satu sebab ketertinggalan suatu negara dibanding negara
lain adalah karena ketertinggalan dari segi manajemennya. Hal ini sejalan
dengan pemikiran Osborne dan Gaebler yang mengatakan bahwa
persoalan utama yang dihadapi oleh pemerintah dewasa ini bukan terletak
pada apa yang dikerjakan, melainkan terletak pada bagaimana
mengerjakannya.
Dari berbagai literatur telah diuraikan perkembangan manajemen,
mulai dari generasi pertama sampai dengan generasi kelima. Di
Indonesia, manajemen sektor pemerintah pada umumnya baru masuk

121
pada generasi kedua ataupun ketiga. Masih sangat jarang yang masuk
pada generasi keempat ataupun kelima. Hierarki dalam bentuk
eselonering, orientasi kepada atasan karena faktor budaya serta pengaruh
manajemen militer selama pemerintahan Orde baru, menjadi kendala
utama mengembangkan manajemen pemerintahan di Indonesia.
Paradigma administrasi publik tradisional dipengaruhi secara kuat
oleh 3 (tiga) aliran utama yang berkembang pada masa gerakan
administrasi modern, yaitu Weberian dengan tokoh utamanya Max Weber
(1864-1820), the Scientific Management yang dimotori oleh Frederick
Taylor (1911), dan teori Human Relations dan Elton Mayo (1930).
Paradigma New Public Management (NPM) berkembang sebagai bentuk
kekecewaan terhadap birokrasi yang semakin tidak efisien, birokrasi yang
sangat besar dan kaku dan kinerja yang semakin menurun. Paradigma
kepemerintahan yang baik (Good Governance/GG) berkembang sebagai
bentuk kekecewaan terhadap dominasi negara dan pasar yang sangat
kuat dalam pelayanan publik. Pada perkembangan terakhir muncul
paradigma The New Public Service Management (NPSM) sebagai
penyempurnaan terhadap aliran GG. Aliran ini memadukan prinsip-prinsip
dalam NPM dan GG. Dengan mengusung prinsip serving than steering
3.2 Soa Latihan
Untuk mendalami materi yang telah disajikan pada pembahasan ini,
mahasiswa diharapkan dapat mengerjakan soal-soal latihan berikut ini.
1) Jelaskan lima tahapan perkembangan manajemen!
2) Jelaskan perkembangan paradigma pelayanan publik!
3) Untuk masuk ke dalam manajemen generasi kelima, Savage
menawarkan lima macam transisi. Jelaskan!
3.3 Umpan Balik
Baca kembali materi kegiatan belajar yang menyangkut tentang
tahapan perkembangan manajemen dan perkembangan paradigma
pelayanan publik. Untuk menyelesaikan semua soal di atas jawab dengan

122
seksama hingga paham, agar mahasiswa lebih yakin dapat berdiskusi
dengan teman yang mengikuti mata kuliah ini.

3.4 Daftar Pustaka

Daft, Richard L. , 1994, Organization Theory and Design, Fourth Edition,


Info Access Distributor Pte. Ltd, Singapore.

Davidow H. , William & Uttal, Bro, 1989, Total Customers Service The
Ultimate Weapon. The Free Press, New York.

Denhardt, Janet V., and Robert B. Denhardt, 2003, The New Public
Services, Armonk, New York: M. E. Sharpe.

Denhardt, Robert B. , 2004, Theories of Public Organization (Fifth Edition),


Thomson Wadsworth.

DeVxy, Catherine, Good Service is Good Business, 7 Simple Strategies


for Success, Competitive Edge Management Series, ATM 1994:
8

Drucker, Peter F. ,2001, The Organization of the Future, Elex Media,


Jakarta;

Fukuyama, Francis, 2001, The End of History and The Last Man, Penerbit
Qalam, Yogayakarta.

__________ 2001, Transparansi Pemerintahan, Mencari Format dan


Konsep Transparansi Dalam Praktik Penyelenggaraan
Pemerintahan Yang Baik, Forum Inovasi November 2001.

Huntington, Samuel P., 1991, Gelombang Demokrasi Ketiga, Terjemahan


oleh: Asril Marjohan, Penerbit PT Pustaka Grafiti, Jakarta;

Indrajit, Richardus Eko. , 2002, E-Government - Strategi Pembangunan


dan Pengembangan Sistem Pelayanan Publik Berbasis
Teknologi Digital, Andi Yogyakarta;

Inu Kencana Syafei. 2003. Ekologi Pemerintahan, Perca Jakarta.

____________ 2003. Ilmu Pemerintahan. Mandar Maju Bandung.

123
Mc. Lean, Lain, 1987, Public Choice an Introduction, New York.

Moenir, H. A. S. , 1992, Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia, Bumi


Aksara, Jakarta.

Ndraha, Taliziduhu, 2000, Diktat Kuliah Ilmu Pemerintahan, Program


Pasca Sarjana UNPAD, Bandung

Nurdin, Ismail, dkk. 2010. Ekologi Pemerintahan, Institut Pemerintahan


Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

Rasyid, Ryass, 1996, Makna Pemerintahan: Tinjauan Dan Segi Etika Dan
Kepemimpinan, Yarsif Watampone, Jakarta.

Rosen, et al, 1993, Improving Public Sector Productivity, Concept and


Practice London: Sage Publication.

Roth, Gabriel, 1987, The Private Provision of Public Services in


Develuping Countries, EDI Series in Economic Development,
Published for the World Bank, Oxford University Press.

Salomo, Roy Valiant. 2006. Scenario Planning Reformasi Administrasi


Pemerintah Subnasional di Indonesia: Sebuah Grand Strategy
Menuju Tahun 2025 Disertasi. Ilmu Administrasi FISIP-Ul.

Widodo, Joko, 2001, Good Governance, Telaah dan Dimensi Akuntabilitas


dan Kontrol Birokrasi Pada Era Desentralisasi dan Otonomi
Daerah, Insan Cendekia, Surabaya.

S Pamudi, 1986, Ekologi Administasi Negara, Bina Aksara Jakarta.

Sitonggang. H. 1997. Ekologi Pemerintahan. Pustaka Sinar Harapan


Jakarta.

Sukadinata, Ermaya. 1998. Administrasi Lingkungan dan Ekologi


Pemerintahan dalam Pembangunan, Ramadhan Citra Grafika
Bandung.

Santosa, Pandi 2008. Administrasi Public,Teori dan Aplikasi Good


Govermance.

124
KUALITAS DAN MODEL PELAYANAN PUBLIK
SEBAGAI RESPONSIVITAS LINGKUNGAN

1. PENDAHULUAN
1.1 Ruang Lingkup Materi Pembahasan
Pada dasarnya pemerintah tidaklah diadakan untuk melayani
dirinya sendiri, tetapi untuk melayani masyarakat serta menciptakan
kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyarakat mengembangkan
kemampuan dan kreativitasnya demi mencapai tujuan bersama.Oleh
karena itu birokrasi publik berkewajiban dan bertanggung jawab untuk
memberikan layanan baik dan profesional.
Tuntutan kebutuhan masyarakat akan kualitas pelayanan publik
saat ini merupakan tantangan utama bagi negara atau pemerintah dengan
birokrasinya. Seiring dengan perkembangan tersebut, maka sebagai
respons pemerintah berupaya menerapkan berbagai model pelayanan
publik yang secara teoritik berhasil diterapkan di berbagai negara, namun
yang menjadi persoalan adalah, apakah model itu cocok untuk kondisi
Indonesia atau tidak. Oleh karena itu, melalui materi ini akan dikemukakan
beberapa model pelayanan publik.
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa diharapkan mengetahui
dan dapat menjelaskan berbagai bentuk pelayanan yang baik, serta
berbagai model dan teori pelayanan publik.
1.3 Urutan Pembahasan
Pembahasan akan diawali dengan menguraikan tentang kualitas
pelayanan dengan mengemukakan beberapa ciri-ciri pelayanan yang baik
atau pelayanan profesional. Kemudian akan diuraikan berbagai teori dan
model pelayanan yang lazim digunakan, termasuk di Indonesia.

2. MATERI PEMBELAJARAN
2.1.Kualitas Pelayanan
Pelayanan publik dapat diartikan sebagai pemberian layanan
(melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai

125
kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata
cara yang telah ditetapkan. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya
bahwa tugas pokok pemerintah pada hakekatnya adalah memberikan
pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah tidaklah diadakan untuk
melayani dirinya sendiri, tetapi untuk melayani masyarakat serta
menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyarakat
mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya demi mencapai tujuan
bersama (Rasyid, 1998). Karenanya birokrasi publik berkewajiban dan
bertanggung jawab untuk memberikan layanan baik dan profesional.
Pelayanan publik (public services) oleh birokrasi publik merupakan
salah satu perwujudan dan fungsi aparatur negara sebagai abdi
masyarakat di samping sebagai abdi negara. Pelayanan publik (public
services) oleh birokrasi publik dimaksudkan untuk menyejahterakan
masyarakat (warga negara) dan suatu negara kesejahteraan (welfare
state). Menurut Lembaga Administrasi Negara (1998):
Pelayanan umum diartikan sebagai segala bentuk kegiatan
pelayanan umum yang dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah di
Pusat, di Daerah dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara/
Daerah dalam bentuk barang dan atau jasa baik dalam rangka
upaya kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik


menyebutkan bahwa Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian
kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk
atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh
penyelenggara pelayanan publik.
Dengan demikian pelayanan publik dapat diartikan sebagai
pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang
mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok
dan tata cara yang telah ditetapkan.

126
Menurut Effendi dalam Widodo (2001), mengatakan bahwa:
Pelayanan publik yang profesional, artinya pelayanan publik yang
dicirikan oleh adanya akuntabilitas dan responsibilitas dari pemberi
layanan (aparatur pemerintah). Ciri sebagai berikut:
1. Efektif, lebih mengutamakan pada pencapaian apa yang menjadi
tujuan dan sasaran
2. Sederhana, mengandung arti prosedur/tata cara pelayanan
diselenggarakan secara mudah, cepat, tepat, tidak berbelit-belit,
mudah dipahami dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang
meminta pelayanan
3. Kejelasan dan kepastian (transparan), mengandung akan arti adanya
kejelasan dan kepastian mengenai:
a. Prosedur/ tata cara pelayanan
b. Persyaratan pelayanan, baik persyaratan teknis maupun
persyaratan administratif
c. Unit kerja dan atau pejabat yang berwenang dan bertanggung
jawab dalam memberikan pelayanan
d. Rincian biaya/tarif pelayanan dan tata cara pembayarannya
e. Jadwal waktu penyelesaian pelayanan.
4. Keterbukaan, mengandung arti prosedur/tata cara persyaratan, satuan
kerja/pejabat penanggung jawab pemberi pelayanan, waktu
penyelesaian, rincian waktu/tarif serta hal-hal lain yang berkaitan
dengan proses pelayanan wajib diinformasikan secara terbuka agar
mudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat, baik diminta maupun
tidak diminta.
5. Efisiensi, mengandung arti:
a. Persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal berkaitan
langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap
memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk
pelayanan yang berkaitan
b. Dicegah adanya pengulangan pemenuhan persyaratan, dalam hal
proses pelayanan masyarakat yang bersangkutan
mempersyaratkan adanya kelengkapan persyaratan dari satuan
kerja/instansi pemerintah lain yang terkait.

127
6. Ketepatan waktu, kriteria ini mengandung arti pelaksanaan pelayanan
masyarakat dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah
ditentukan
7. Responsif, lebih mengarah pada daya tanggap dan cepat menanggapi
apa yang menjadi masalah, kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang
dilayani
8. Adaptif, cepat menyesuaikan terhadap apa yang menjadi tuntutan,
keinginan dan aspirasi masyarakat yang dilayani yang senantiasa
mengalami tumbuh kembang.
Secara teoritis sedikitnya ada tiga fungsi utama (Rasyid, 1996)
yang harus dijalankan oleh pemerintah tanpa memandang tingkatannya,
yaitu fungsi pelayan masyarakat (public service), fungsi pembangunan
(development) dan fungsi pemberdayaan (empowerment).
Buku Delivering Quality Services karangan Zeithami, Valarie A. (et.
al), 1990, membahas tentang bagaimana tanggapan dan harapan
masyarakat pelanggan terhadap pelayanan yang mereka terima, baik
berupa barang maupun jasa. Tujuan pelayanan publik pada umumnya
adalah bagaimana mempersiapkannya sesuai kebutuhan publik, dan
bagaimana menyatakan dengan tepat kepada publik mengenai pilihannya
dan cara memperolehnya. Konsepsi terkini tentang pelayanan publik
dikemukakan oleh Denhardt and Denhardt (2003) tentang New Public
Service (NPS) yang mengemukakan bahwa NPS adalah sebuah alternatif
terhadap konsep administrasi publik yang lama dan konsep New Public
Management (NPM). Menurut pandangan mereka ada dua tema pokok
yang mendasar NPS yaitu untuk meningkatkan martabat dan manfaat dari
pelayanan publik, serta untuk menegaskan kembali nilai-nilai demokrasi,
kewanganegaraan dan kepentingan publik sebagai nilai-nilai unggul dari
administrasi publik. Menurut Denhardt and Denhardt (2004:181), ada
7 (tujuh) prinsip-prinisip kunci dari NPS, yaitu:
1. Serve citizens, not customers
2. Seek the people interest
3. Value citizenship and public service above entrepeneurship
4. Think strategically, act democratically

128
5. Recognize that accountability is not simple
6. Serve rather than steer and
7. Value people, not just productivity.
Menurut Moenir (2001:28) antara masyarakat, pelayanan umum
dan hak asasi merupakan tiga hal yang saling terkait dan tidak
terpisahkan. Oleh karena itu pemerintah memiliki peran yang amat besar
dalam rangka memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat
sesuai dengan tuntutan, kebutuhan dan harapan mereka. Namun secara
faktual kecenderungan yang terjadi adalah rendahnya kualitas pelayanan
yang diberikan birokrasi di Indonesia. Kecenderungan ini terjadi di semua
organisasi atau birokrasi pemerintahan, baik di tingkat Pemerintahan
Pusat maupun di tataran pemerintahan daerah (Rasyid, 1996:125). Ada
beberapa alasan mengapa perhatian terhadap arti pentingnya manajemen
pelayanan umum masih relatif terbatas (Wasistiono, 2001:49), antara lain :
a. Instansi pemerintah pada umumnya menyelenggarakan kegiatan
yang bersifat monopoli sehingga tidak terdapat iklim kompetisi di
dalamnya. Padahal tanpa kompetisi tidak akan tercipta efisiensi dan
peningkatan kualitas.
b. Dalam menjalankan kegiatannya, aparatur pemerintah lebih
mengandalkan kewenangan daripada kekuatan pasar ataupun
kebutuhan konsumen.
c. Belum atau tidak diadakan akuntabilitas terhadap kegiatan suatu
instansi pemerintah, baik akuntabilitas vertikal ke bawah, ke
samping maupun ke atas. Hal ini disebabkan karena belum adanya
tolak ukur kinerja setiap instansi pemerintah yang dibakukan secara
nasional berdasarkan standar yang dapat diterima secara umum.
d. Dalam aktivitasnya, aparat pemerintah seringkali terjebak pada
pandangan etic, yakni mengutamakan pandangan dan keinginan
mereka sendiri (birokrasi), daripada pandangan emie, yakni
pandangan dari mereka yang menerima jasa layanan pemerintah.
e. Kesadaran anggota masyarakat akan hak dan kewajibannya
sebagai warga negara maupun sebagai konsumen masih relatif
rendah, sehingga mereka cenderung menerima begitu saja layanan

129
yang diberikan oleh instansi pemerintah. Terlebih lagi, apabila
layanan yang diberikan bersifat cuma-cuma.
f. Penyelenggaraan pemerintahan yang tidak demokratis dan
cenderung represif seperti yang selama ini dipraktekkan, selalu
berupaya menekan adanya kontrol sosial dari masyarakat.
Osborne dan Cacbler (1996:68) memberikan pendapat bahwa
Cara program pelayanan sosial yang efektif berjalan akrab, agresif,
menggunakan perasaan. Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan
bahwa sikap dan perilaku petugas pelayanan harus dapat menciptakan
suasana yang nyaman dan menyenangkan bagi masyarakat, dengan
demikian akan memperlancar kegiatan pelayanan.
Masalah yang terjadi dalam proses pelayanan antara pemerintah
dengan masyarakat menunjukkan bahwa keberadaan birokrasi
pemerintah belum menyadari fungsinya sebagai pelayan masyarakat, tapi
ingin dilayani masyarakat (Rasyid, 1996:126). Adanya berbagai keluhan
dari masyarakat sebagai pelanggan atas layanan dari proses pelayanan
publik yang dilakukan oleh pemerintah, secara faktual merupakan
gambaran dari rendahnya kualitas pelayanan yang diberikan oleh
birokrasi. Padahal perilaku aparat birokrasi ini, sangat menentukan proses
pelayanan yang diberikan.
Salah satu tujuan kebijakan otonomi daerah adalah peningkatan
pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik,
pengembangan kehidupan demokratisasi, keadilan dan pemerataan serta
pemeliharaan hubungan yang serasi antara pemerintah pusat dan daerah
serta antar daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Menurut Ndraha (1997:73), pemerintahan adalah
semua badan yang memproduksi, mendistribusi, atau menjual alat
pemenuh kebutuhan rakyat yang berbentuk jasa publik dan layanan civil.
Dalam kaitan ini, kegiatan pelayanan publik dalam prosesnya
menunjukkan hubungan dan interaksi antara pemberi pelayanan
(pemerintah) dan penerima pelayanan (rakyat/ masyarakat). Oleh karena

130
itu hubungan tersebut simetris dengan hubungan antara produser/penjual/
distributor dengan konsumen/ pembeli/distributee.
Terdapat beberapa pandangan tentang publik dalam pelayanan.
Publik dalam pelayanan dibedakan menjadi publik sebagai citizens
(Stewart, 1988:59) dan publik sebagai customers (Skeicher, 1992:11).
Publik sebagai citizens adalah masyarakat yang dapat berperan aktif
dalam pelayanan. Peran masyarakat di sini adalah sebagai pemilik
kedaulatan (stakeholder). Itulah sebabnya mereka dapat memainkan
peran (1) memenuhi kewajiban sebagai warga negara seperti membayar
pajak, (2) menikmati pelayanan yang diberikan oleh pemerintah, dan (3)
berperan aktif melaksanakan kontrol sosial terhadap pemerintah. Oleh
karena itu, masyarakat dapat ikut serta memberikan penilaian pelayanan
yang dilakukan pemerintah. Sementara itu, Skeicher membedakan publik
dan pelanggan.
Publik diidentifikasi sebagai kelompok umum yang memiliki
keterbatasan kekuasaan, sehingga asumsi pelayanannya bersifat
patemalistik. Publik sebagai pelanggan diidentifikasikan sebagai individu
yang spesifik, mempunyai kekuasaan yang luas dalam menetapkan
kualitas pelayanan sehingga asumsi dalam pelayanan berorientasi pada
kualitas (Skeicher, 1992:1).
Bertolak pada konsep putting people first (pembeli adalah raja,
pelanggan adalah maharaja), maka dalam hubungan tersebut tolok ukur
atau standar pelayanan terletak pada kepuasan pelanggan. Baik buruknya
pelayanan berbanding lurus dengan kepuasan pelanggan yang menurut
Kotler (dalam Tjiptono, 1996:102) bahwa kepuasan pelanggan adalah
tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja yang ia
rasakan dibandingkan dengan harapannya. Jadi kepuasan pelanggan
dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan.
Dengan demikian kualitas pelayanan ditentukan sejauh mana persepsi
masayarakat sebagai pelanggan atau konsumen terhadap pelayanan

131
yang diterimanya. Dengan kata lain, kualitas selalu berfokus pada pada
pelanggan atau masyarakat.
Untuk dapat memberikan pelayanan yang berkualitas, maka
organisasi publik atau pemerintah harus mengetahui dan memahami
segala tuntutan, keinginan, harapan atau tingkat kepuasan pelanggan.
Secara praktis kualitas pelayanan akan terlaksana dengan baik dan
memuaskan apabila didukung oleh faktor-faktor antara lain kesadaran
para pejabat, pimpinan dan pelaksana, adanya aturan yang memadai,
organisasi dengan mekanisme sistem yang dinamis, pendapatan pegawai
yang cukup, kemampuan dan keterampilan yang sesuai, dan tersedianya
sarana dan prasarana pelayanan (Moenir, 2001:124).
Untuk mengembangkan konsep pelayanan yang berkualitas atau
Service Quality menurut Zethami, et.al. (1990), harus dihilangkan empat
kesenjangan yang sering terjadi antara pemberi pelayanan dengan
pelanggannya. Kesenjangan yang perlu dieliminir tersebut antara lain :
1. Tidak mengetahui apa yang diinginkan pelanggan
2. Kesalahan menentukan standar kualitas pelayanan
3. Kesenjangan kinerja pelayanan
4. Terjadi kesenjangan antara janji yang diberikan dengan pelayanan
yang diterima.
Selanjutnya Zeithami, Parasuraman dan Berry juga
mengemukakan lima dimensi dalam menilai kualitas jasa atau pelayanan
(Tjiptono, 1997:14), yaitu:
1. Tangibles, tercermin pada fasilitas fisik, peralatan, personil dan
sarana komunikasi.
2. Realibility, kemampuan memenuhi pelayanan yang dijanjikan
secara terpercaya, tepat.
3. Responsiveness, kemauan untuk membantu pelanggan dan
menyediakan pelayanan yang tepat.
4. Assurance, pengetahuan dari para pegawai dan kemampuan
mereka untuk menerima kepercayaan dan kerahasiaan.
5. Emphaty, perhatian individual diberikan oleh perusahaan kepada
para pelanggan.

132
Sejalan dengan pandangan tersebut di atas, lebih lanjut menurut
Fitzsimmons dan Fitzsinimons (1994:190) terdapat lima determinan
kualitas pelayanan yang dapat dirinci sebagai berikut:
1. Keterandalan (realibility) kemampuan untuk memberikan secara
tepat dan benar, jenis pelayanan yang telah dijanjikan kepada
konsumen/pelanggan.
2. Keresponsifan (responsiveness) kesadaran atau keinginan untuk
membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat.
3. Pengetahuan atau wawasan (assurance) pengetahuan dan
kesopan santunan, kepercayaan diri dan pemberi pelayanan serta
respek terhadap konsumen
4. Empati (emphaty) kemauan pemberi layanan untuk melakukan
pendekatan, memberi perlindungan, serta berusaha untuk
mengetahui keinginan dan kebutuhan konsumen.
5. Berwujud (tangible) penampilan para pegawai dan fasiitas fisik
lainnya, seperti peralatan atau perlengkapan yang menunjang
pelayanan.
Fitzsimmons dan Fitzsimmons (1994:196) lebih lanjut
menambahkan bahwa perspektif yang dapat diukur dari kualitas
pelayanan antara lain adalah muatan (content), proses (process), struktur
(structure), hasil atau keluaran (outcome) dan dampak pelayanan
(impact). Adapun Ndraha (2003) berpendapat bahwa: Dimensi-dimensi
penilaian terhadap kualitas pelayanan di sektor privat atau bisnis, tidak
dapat digunakan begitu saja di sektor publik, lebih-lebih lagi di sektor sipil.
Dalam kondisi no choice sektor publik, tolok ukur penilaian kualitas
bukan kepuasan, tetapi pengertian (understanding, verstehen),
penerimaan (legitimasi), dan kepercayaan (yang bersumber pada
pengetahuan bahwa pertanggungjawaban pemerintah atas pelayanan
jelas dan faktual: saya tahu, maka saya percaya) konsumer. Pengertian,
penerimaan, dan kepercayaan itu dapat ditumbuhkan dikalangan
konsumer jika siklus pelayanan kepada masyarakat terbuka dan informasi
berakses penuh. Jadi Ndraha kiranya yang menilai tinggi tingkat

133
keterbukaan proses pelayanan, berpendapat kualitas pelayanan itu lebih
ditentukan oleh tingkat transparansi dan acessability di mata publik.
Ndraha nampaknya melihat hubungan yang kuat antara ada
tidaknya pilihan dengan tingkat kepuasan. Semakin banyak pilihan,
semakin memenuhi harapan barang yang dipilih, semakin tinggi
kepuasan, sebaliknya semakin sedikit piihan, semakin kurang memenuhi
harapan, semakin sedikit pilihan semakin kurang memenuhi harapan,
semakin rendah tingkat kepuasan. Semakin bebas memilih, semakin
nyata kepuasan, semakin tiada pilihan, semakin merasa dipaksa atau
terpaksa, kepuasan bagi seseorang semakin abstrak. Proses memilih itu
sendiri bergantung kemampuan (tingkat keberdayaan) pemilih.
Penetapan sebuah layanan yang berkualitas, terdapat 3 (tiga)
landasan pemikiran seperti dikatakan Schedler & Felix (2000:125) bahwa :
Legitimation may be considered to have three layers: basic
legitimation is a product of social contract and refers to the state
analist structures in general terms; institutional legitimation relates
to public management as an institution, arid to its outward
manifestations; and individual legitimation is the product of specific
contact between management and customers.

Pemikiran di atas dijelaskan perbedaan ketiga dalam penetapan


kualitas pelayanan yang dielaborasi dalam tiga sudut pandang. Pertama,
pengaruh kebijakan pemerintah yang melaksanakan mandat dari
masyarakat untuk melayani (amanah). Kedua, kualitas yang ditetapkan
dari kacamata pemerintah. Ketiga, penilaian terhadap birokrasi yang
melakukan pelayanan dan kacamata masyarakat sebagai konsumen.
Sementara itu Skeicher (1992:10) membagi pelanggan dalam
pelayanan publik menjadi dua bagian, yaitu pelanggan internal dan
eksternal. Perhatian pelayanan sering terfokus pada pelanggan eksternal,
yaitu masyarakat sebagai stakeholder. Dalam membangun kualitas
sebuah layanan tidak hanya dilakukan oleh pelanggan eksternal saja,
tetapi juga ikut ditentukan oleh pelanggan internal. Dikatakan oleh
Skeicher (1992:12) bahwa increasingly local authorities are organized in

134
terms of internal clients or purchasers and contractors or providers. Hal
ini sejalan dengan pendapat Rosen (1993:43) pelaku pelayanan adalah
pemerintahan daerah, maka pelaku perbaikan pelayanan umum berasal
dari para stakeholder, yakni pihak-pihak yang memiliki kepentingan
(vested interest) dan peran penting. Para pelakunya dapat digolongkan
menjadi dua bagian besar yaitu: eksternal organisasi dan internal
organisasi pemerintah daerah. Pelaku pelayanan ekternal pada umumnya
para pembayar pajak, pemilih, pejabat negara, media massa, dan federasi
tenaga kerja. Pelaku pelayanan internal terdiri atas top manager, middle
manager dan para pekerja teknis. Kevitt (1998:9) memasukkan organisasi
profesi di dalamnya agar peduli pada standar-standar pelayanan publik.

2.2 Teori Dan Model Pendekatan Pelayanan


Dalam negara kesatuan yang terdesentralisasi, di samping
pemerintah pusat terdapat pemerintahan subnasional yakni pemerintah
daerah yang keduanya mempunyai tugas utama melaksanakan pelayanan
kepada masyarakatnya. Hal tersebut dinyatakan oleh Roth (1987:1)
bahwa that are generally considered the responsibility of government
whether central, regional or local.
Tugas yang diemban oleh pemerintah terutama pemerintah daerah
dalam pelayanan, dapat dipisahkan ke dalam beberapa alternatif pemberi
layanan. Alternatif tersebut menyangkut pilihan kewenangan pemerintah
pusat dan pemerintah daerah. Menurut Leach, et. al. (1994:238), terdapat
4 (empat) model alternatif kewenangan yang digunakan dalam
memberikan pelayanan, yaitu traditional bureaucratic authority, residual
enabling authority, market oriented authority, dan community oriented
enabler.
Pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah dengan menganut
traditional bureaucratic authority, merupakan pelayanan yang dilakukan
secara langsung oleh pemerintah daerah. Pemerintah daerah merasa

135
mampu untuk melakukan pelayanan yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Pelayanan dengan cara ini pada umumnya kebutuhan publik
dliinterpretasikan oleh pegawai professional pada organisasi pemberi
layanan. Hal ini sangat berbeda dengan pandangan Stewart yang
menyatakan bahwa pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah daerah
sebaiknya sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai masyarakat setempat.
Sementara itu pemerintah daerah yang melakukan pelayanan
dengan menggunakan residual enabling authority, adalah pelayanan yang
dilakukan dengan dasar kewenangan terbatas. Pada umumnya pelayanan
yang dilakukan lebih banyak menggunakan mekanisme pasar. Pemerintah
daerah hanya melakukan pelayanan yang spesifik. Pelayanan cara ini
dianggap ideal dan lebih akuntabel.
Pemerintah daerah yang melaksanakan pelayanan dengan dasar
market oriented authority, merupakan kegiatan pemerintah daerah dalam
pelayanan yang hampir sama dengan residual enabling authority.
Perbedaannya adalah dalam market oriented authority peran pemerintah
daerah lebih aktif dan sebagai kunci perencanaan serta agen koordinasi
untuk pengembangan ekonomi lokal. Hal ini akan memampukan
masyarakat dalam melayani dirinya sendiri. Sementara itu residual
enabling authority peran pasar lebih aktif dari peran pemerintah daerah.
Pelayanan yang dilakukan oleh pemermntah daerah dengan dasar
kewenangan yang bersifat community oriented enabler, mendasarkan
pelayanan pada asumsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang
bervariasi. Pelayanannya sendiri dilakukan dengan menggunakan
berbagai saluran, misalnya pelayanan yang dilakukan secara langsung
oleh pemerintah daerah, sektor privat, sukarela, atau yang dilihat paling
pantas. Pelayanan yang dilakukan dengan cara ini menekankan
pentingnya partisipasi komunitas (publik) dan akuntabiitas.
Keempat alternatif di atas memberikan peluang bagi setiap
pemerintah daerah untuk memilih cara pemberian pelayanan pada
masyarakatnya. Pemilihan kewenangan itu berpengaruh pada penyediaan

136
barang dan jasa yang menjadi tanggung jawab baik pemerintah maupun
pemerintah daerah. Pada dasarnya kegiatan yang dilakukan pemerintah
sesuai penjelasan Olson dalam Schmidtz (1991:1) merupakan a state
is first of all an organization that provides public goods for its members the
citizens Dengan demikian pemerintah merupakan organisasi yang
bertanggung jawab penuh terhadap pelayanan.
Teori di atas memberikan gambaran tentang berbagai alternatif
pemberian pelayanan. Namun implementasi pelayanan yang dilakukan di
Indonesia tidak sepenuhnya menggunakan alternatif-alternatif di atas.
Pelayanan di Indonesia menggunakan pendekatan sentralisasi dan
desentralisasi. Kedua pendekatan merupakan kontinum dan tidak
dikhotomi (Hoessein, 2001:9).
Pendekatan sentralisasi dalam pelayanan dapat mencerminkan
adanya negara dan bangsa sebagai refleksi konsepsi Negara Kesatuan.
Sedangkan pendekatan desentralisasi dapat merepresentasikan
kemajemukan masyarakat serta sekaligus menggambarkan adanya
pendemokrasian.
Pelayanan yang dilakukan dengan pendekatan desentralisasi,
dijelaskan oleh Hoessein (2000:12) bertujuan untuk efisiensi dan
demokrasi. Tujuan efisiensi biasanya berpasangan dengan nilai-nilai
komunitas politik yang disebut dengan kesatuan bangsa. Sementara itu,
tujuan demokrasi berpasangan dengan kemandirian sebagai penjelmaan
dari otonomi, efisiensi, dan pembangunan sosial ekonomi. Dengan kata
lain, dalam desentralisasi terkandung makna mengakomondasikan nilai-
nilai yang ada pada masyarakat untuk tujuan politik dan birokrasi dalam
rangka menciptakan efisiensi birokrasi.
Diterapkannya kebijakan impelementasi otonomi daerah, telah
mengubah model pemerIntahan di Indonesia yang semula menganut
model efisiensi struktural menjadi model demokratik (Hoessein, 2000:13).
Manan (2001:107) mengatakan bahwa dengan undang-undang ini,
masyarakat diberi kesempatan yang luas untuk berinovasi,

137
mengembangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai, serta
menghasilkan bentuk pemerintah otonom (Manan, 2001:107). Dengan
demikian pemenuhan kebutuhan publik dapat dipenuhi sesuai dengan
nilai yang berkembang di masyarakat.
Sementara itu Sudarsono dalam Martani (2000) memaknai otonomi
daerah di atas sebagai inovasi dan kreativitas yang lebih besar
dipusatkan di daerah otonom dan juga terkandung makna pemberdayaan
potensi masyarakat. Pemberdayaan ini apabila berjalan dengan baik
akan memperkuat mutu penyelenggaraan pelayanan publik dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Alasan lain yang memperkuat pelayanan publik akan lebih efektif
apabila dilakukan oleh pemerintah daerah karena ia dapat
mengakomodasikan kebutuhan-kebutuhan pelayanan sesuai dengan nilai-
nilai masyarakat. Sejalan dengan hal tersebut Stewart (1988:3)
menjelaskan bahwa :
Management in Local Government has to be understood as part of
the public domain, but also with its own special purposes and
conditions. The purposes and condition reflect the nature authorities
as political institution constituted for local choice in government and as
organization for the delivery of public services.

Lebih lanjut ditegaskannya pula bahwa A local authority should


provide service for the public not to the public. In that simple statement
lies a challenge to past and present working. Pelayanan yang berorientasi
pada kepentingan masyarakat menjadi komitmen dan concern pelayanan
yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mengakomodasi kebutuhan
yang bervariasi dari satu lokalitas ke lokalitas yang lain.
Pada umumnya pelayanan dalam bentuk public good, terdapat
proposisi lebih atau sama efisiennya jika disediakan oleh pemerintah
daerah daripada disediakan oleh pemerintah Pusat. Lebih-lebih lagi bila
pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan di wilayahnya, spesifik serta
uniform. Seperti ditegaskan oleh Oates (dalam Watt, 1996:15) bahwa :

138
it will always be more efficient (or at least as efficient)for local
government to provide the locally preferred levels of output for their
respective jurisdictions than for central government to provide any
specified and uniform level of output across all jurisdiction.

Dengan demikian penyelenggaraan pelayanan publik yang


dilakukan di Indonesia, pada setiap wilayah akan berbeda-beda.
Pelayanan publik yang sangat beragam untuk mengakomodasikan nilai-
nilai yang berkembang di masyarakat, menyebabkan adanya standar
pelayanan secara nasional tidak dapat berlaku sepenuhnya. Alasan inilah
yang menyebabkan adanya ketidakefisienan terhadap pelayanan publik.
Solusi untuk memberikan pelayanan secara efektif dan efisien,
ditawarkan oleh Tiebout dengan menerapkan mekanisme pasar untuk
menyelenggarakan pelayanan bagi pemerintah daerah. Secara lengkap
Watt (1996:15) mengatakan bahwa .a form of market could operate for
local government which would allow individuals to obtain a close match
between what their local government provided and what they wanted.
Penerapan model mekanisme pasar memungkinkan individu
mendapatkan kecocokan antara pelayanan yang disediakan pemerintah
daerah dengan kebutuhan yang mereka inginkan. Hal ini berkaitan erat
dengan upaya meningkatkan kemandirian sebagai bagian dari tujuan
pelaksanaan otonomi daerah. Berkaitan dengan daerah otonom, Leach,
et. al. (1994:4) mengingatkan :
Local authorities are not only providers of services; they are also
political institution for local choice and local voice. The key issue for
management of local government is how one achieves an
organization that not merely out one role but carries out both roles,
not separately but in interaction.

Dengan demikian pemerintah daerah sampai dengan kecamatan


dan kelurahan/Desa memiliki tugas utama yaitu pelayanan dan juga
sebagai institusi politik sebagai saluran adanya local choice and local
voice. Local choice dan local voice dalam pelayanan publik dimaknai oleh
Hoessein (2001:31) sebagai ..otonomi daerah terkandung otonomi
masyarakat setempat. Artinya, masyarakat yang berada dalam teritori

139
tertentu memiliki kemampuan, kekhususan prakarsa dan kemandirian
membangun dirinya sendiri.
Pendapat di atas memperkuat tekanan bahwa pelayanan publik
sebaiknya berorientasi untuk masyarakat dan bukan kepada masyarakat.
Oleh karena itu, orientasi dalam pelayanan publik adalah pada
kemampuan dan kemandirian sesuai dengan niiai-nilai masyarakat
setempat. Di samping itu, pemerintah daerah sampai dengan Kecamatan
dan Kelurahan/desa juga mempunyai fungsi melayani dan mengatur
seluruh kepentingan masyarakat. Vickers (dalam Stewart, 1988:4)
menyebut sebagai multi valued choice. Artinya, dimnana pemerintah
daerah dipandang sebagai organisasi yang menampung nilai-nilai
masyarakat lokal yang dapat menyalurkan suara dan menentukan pilihan
secara bebas.
Dalam konteks ini, Stewart (1988:4) mengatakan pemerintah
daerah menjadi multipurpose organization. Hal ini memberikan gambaran
bahwa pekerjaan yang menjadi beban pemerintah daerah secara
kuantitas jumlahnya cukup banyak dan beragam. Keragaman dan
kuantitas beban pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh pemerintah
daerah, dalam praktiknya, pemerintah daerah membentuk dinas-dinas
daerah sebagai unit operasional. Pembentukan dinas-dinas tersebut
dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan. Pendekatan pertama
disebut oleh Daft (1994:194) sebagai self-contained product groups atau
oleh Hatch (1997:184) disebut sebagai multi divisional structure.
Pendekatan kedua oleh Daft dan Hatch disebut sebagai functional
structure. Kedua pendekatan ini digunakan untuk membedakan berbagai
bentuk dinas yang ada pada pemerintah daerah sesuai dengan
karakteristik masing-masing. Karakteristik tersebut dapat dicermati dari
setiap dinas dalam melakukan pelayanan.
Pada praktiknya di Indonesia, kegiatan dinas dapat dikelompokkan
menurut fungsi yang hendak dicapai. Penelitian yang dilakukan oleh Tim
Peneliti di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) dan Tim

140
Peneliti di Lembaga Administrasi Negara (2001), memisahkan fungsi
organisasi yang dipraktikkan pada pemerintah daerah menjadi tiga
kelompok yang dilakukan oleh dinas-dinas di daerah, yaitu: (1) dinas yang
berfungsi dan menjalankan tugasnya hanya memberi pelayanan saja.
Dinas ini memberi pelayanan kepada masyarakat, baik yang dilakukan
melalui unit pelaksana teknis maupun yang langsung oleh dinas
bersangkutan, (2) dinas yang berfungsi ganda melaksanakan kegiatan
pelayanan secara langsung kepada masyarakat dan mengumpulkan dana
sebagai sumber PADS, dan (3) dinas yang hanya berfungsi untuk
mengumpulkan PADS. Hal ini memberikan gambaran yang jelas terhadap
fungsi-fungsi dinas dalam menjalankan tugasnya. Melalui fungsi-fungsi ini
diharapkan dapat memberikan kejelasan akuntabilitas dalam pemberian
pelayanan.
Tugas-tugas pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah daerah
termasuk kecamatan kelurahan/ desa secara langsung dimaksudkan
untuk memperdekat pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah daerah
kepada masyarakatnya. Dalam kontek otonomi daerah yang sedang
dikembangkan di Indonesia, pelayanan dengan model di atas dapat
memperkuat semangat otonomi. Dengan demikian pemerintah daerah
mendapatkan otoritas lebih besar untuk meningkatkan kinerjanya. Dari sisi
Pemerintah berharap agar daerah makin akuntabel, ekonomis, dan
efisien, dan di sisi lain pemerintah daerah juga perlu mengakomodasi
tuntutan dan kebutuhan masyarakat lokal.
Pelajaran yang diberikan oleh Amerika Serikat dalam pelayanan
publik di tahun 1980-an adalah dengan meningkatkan peran sektor publik,
yaitu adanya pergeseran filosofi dan gaya manajemen. Pergeseran itu
ditandai oleh lunturnya dikotomi publik dan sektor swasta. Sebelumnya,
filosofi, gaya, dan prosedur manajemen sektor swasta sering dicurigai
oleh pemerintah daerah. Namun, pada tahun 1980-an pemerintah daerah
mulai merujuk sektor swasta sebagai model manajemen. Langkah drastis
yang dilakukan oleh Margareth Tatcher di Inggris dengan mengimpor

141
manajer senior dari sektor swasta untuk melakukan reformasi organisasi
dan manajemen sektor publik, merupakan salah satu contoh perubahan
radikal dalam sektor publik. Dasar pemikiran ini digunakan untuk
melakukan reformasi sektor publik. Hal itu merupakan upaya menuju
close to the costumer.
Perubahan di atas dalam tataran akademis dikemukakan oleh
Pallach & Prohi (dalam Nashold dan Daley, 1999:27), bahwa organisasi
pemerintah daerah modern melakukan perubahan orientasi pelayanan
publik dengan memberikan beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.
Terdapat tujuh kriteria pembentuk profil analitis-normatif dan sistem yang
berorientasi kinerja untuk pemerintah daerah, yaitu :
(1) Performance under democratic control; (2) citizens and
customerorientation (3) cooperation between politicians and
administration; (4) decentralized management; (5) controlling and
reporting, planning, coordination, and controlling systems allow
continuous improvement and adaptation of services to local
needs; (6) employee potential; and (7) capacity for
innovation and evaluation secured by competition.

Performance under democratic control, diartikan pemerintah daerah


merupakan alat bagi masyarakat untuk menyelenggarakan dan
menyelesaikan masalah-masalah lokal. Pemerintah daerah tidak hanya
menyediakan pelayanan, tetapi juga harus mengetahui kualitas dan
tingkat keefektifan penyelenggaraan pelayanan. Di samping itu juga harus
akuntabel terhadap publik.
Citizens and customer orientation diartikan pemerintah daerah dapat
melihat dirinya sebagai suatu perusahaan. Untuk itu, pelayanan yang
dilakukan harus bersahabat, penduduk-pelanggan sebaiknya cukup
mempunyai informasi tentang pilihan mereka, umpan balik dan
masyarakat sebagai pelanggan digunakan untuk mengetahui keefektifan
pelayanan. Di samping itu, sebaiknya masyarakat ikut berpartisipasi
dalam perencanaan dan penyediaan pelayanan.
Cooperation between politicians and administration diartikan politisi
merupakan perwakilan yang terpilih. Ia berhak menentukan target dan

142
mengawasi kinerja administrasi yang menyediakan pelayanan, baik yang
berupa nasihat sebagai ahli maupun informasi untuk pengoparasian
pemerintah yang terpilih. Decentralized management diartikan hubungan
antara administrasi dan politisi atau pelimpahan wewenang yang
dilakukan dan organisasi pelaksana di atas ke organisasi pelaksana di
bawahnya. Hal ini diikuti dengan delegasi tanggung jawab dengan
pengawasan terhadap pencapaian hasil (outcome).
Controlling and reporting, planning, coordination, and controlling
systems allow continuous improvement and adaptation of services to local
needs. Hal ini merupakan satu set pekerjaan yang harus dilakukan dalam
pelaksanaan desentralisasi. Setelah kegiatan tersebut adalah sistem
pelaporan yang berorientasi pada produk, kemudian menginformasikan
kepada instansi di atasnya antara lain departemen fungsional, unit
pengawas di tingkat Pusat, dan lembaga politik. Employee potential
diartikan karyawan merupakan sumber daya yang paling berharga, sensitif
dan dapat dikembangkan untuk meningkatkan kinerja setiap organisasi.
Oleh karena itu karyawan didorong untuk berpikir bahwa capacity for
innovation and evaluation secured by competition. Ketujuh kriteria di atas
merupakan kebutuhan bagi setiap pemerintahan daerah dalam
mengadakan perubahan guna menjawab tuntutan pembahan yang ada.
Dalam praktek penyelenggaraan pelayanan menurut Wasistiono
(2009) terdapat 4 (empat) macam model pelayanan, yaitu: (1) Spread
system, (2) One Roof System (ORS), (3) One Stop System (OSS) dan (4)
OSS dengan Cabang Online.
Model pertama menekankan pentingnya daerah otonom sebagai
pelayanan masyarakat, dan masyarakat secara langsung melalui dinas-
dinas secara terpencar, sedangkan model kedua menekankan pelayanan
itu melalui unit samsat mengumpulkan berkas, tapi penyelesaian perijinan
tetap di dinas masing-masing. Model ketiga, ijin diberikan oleh kepala unit
dan dinas memberikan konsultasi teknis. Sedangkan model keempat,
merupakan modofikasi dari model ketiga dan memanfaatkan kecamatan

143
sebagai cabang online, memanfaatkan teknologi e-government. Keempat
pendekatan ini bukan merupakan dikhotomi tetapi senantiasa bergerak
secara kontinum di antara satu pendekatan ke pendekatan lainnya. Titik
berat tujuan desentralisasi sangat tergantung pada kesepakatan dalam
menentukan arah tujuan yang akan dicapai yang dibangun bukan saja
oleh unsur utama pemerintahan tetapi juga melibatkan masyarakat lokal.
Penekanan terhadap arah tujuan desentralisasi akan berpengaruh
terhadap kuantitas dan kualitas pelayanan serta institusi yang akan
melaksanakan fungsi pelayanan tersebut.
Adanya tarik menarik antara keempat pendekatan tersebut dalam
penyelenggaraan pelayanan publik pemerintah tidak dapat dilepaskan dari
paradigma administrasi publik yang terus berkembang dari waktu ke
waktu. Pendekatan pelayanan efisiensi misalnya, dipengaruhi oleh
paradigma administrasi publik tradisional dan The New Public
Management (NPM). Sedangkan pendekatan demokrasi lokal banyak
diwarnai oleh paradigma Good Governance (GG) dan The New Public
Service Management (NPSM).
Pemerintah memiliki kewenangan yang luas dalam pengaturan dan
penyelenggaraan pelayanan. Kewenangan pemerintah dalam penyediaan
secara mandiri disebut sebagai discretionary services. Artinya pemerintah
mempunyai diskresi yang luas untuk mengatur dan melaksanakan
pelayanan publik (Prasojo, dkk, 2002:19). Mengacu kepada luasnya
kewenangan tersebut, maka kualitas jenis pelayanan yang diberikan
pemerintah sangat tergantung pada komitmen dan kemampuan keuangan
pemerintah. Sehubungan dengan tersebut keberadaan kecamatan
sebagai perangkat daerah dapat dijadikan instrumen untuk melaksanakan
kewenangan penyelenggaraan pelayanan yang efektif, efisien, responsif
dan akuntabel.
3. PENUTUP
3.1 Rangkuman

144
Pelayanan publik dapat diartikan sebagai pemberian layanan
(melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai
kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata
cara yang telah ditetapkan. Menurut Moenir, antara masyarakat,
pelayanan umum dan hak asasi merupakan tiga hal yang saling terkait
dan tidak terpisahkan. Oleh karena itu pemerintah memiliki peran yang
amat besar dalam rangka memberikan pelayanan yang terbaik kepada
masyarakat sesuai dengan tuntutan, kebutuhan dan harapan mereka.
Dalam rangka memberikan pelayanan secara efektif dan efisien,
Tiebout menawarkan penerapkan mekanisme pasar untuk
menyelenggarakan pelayanan bagi pemerintah daerah. Penerapan model
mekanisme pasar memungkinkan individu mendapatkan kecocokan
antara pelayanan yang disediakan pemerintah daerah dengan kebutuhan
yang mereka inginkan. Hal ini berkaitan erat dengan upaya meningkatkan
kemandirian sebagai bagian dari tujuan pelaksanaan otonomi daerah.
Menurut Wasistiono, dalam praktek penyelenggaraan pelayanan
terdapat 4 (empat) macam model pelayanan, yaitu: (1) Spread system, (2)
One Roof System (ORS), (3) One Stop System (OSS) dan (4) OSS
dengan Cabang Online. Model pertama menekankan pentingnya daerah
otonom sebagai pelayanan masyarakat, dan masyarakat secara langsung
melalui dinas-dinas secara terpencar, sedangkan model kedua
menekankan pelayanan itu melalui unit samsat mengumpulkan berkas,
tapi penyelesaian perijinan tetap di dinas masing-masing. Model ketiga,
ijin diberikan oleh kepala unit dan dinas memberikan konsultasi teknis.
Sedangkan model keempat, merupakan modofikasi dari model ketiga dan
memanfaatkan kecamatan sebagai cabang online, memanfaatkan
teknologi e-government.
3.2 Soa Latihan
Untuk mendalami materi yang telah disajikan dalam pembahasan ini,
maka mahasiswa diharapkan mengerjakan soal-soal berikut ini.

145
1) Menurut Efendi kualitas pelayanan yang baik adalah pelayanan yang
professional. Sebutkan beberapa ciri pelayanan yang professional
tersebut!
2) Menurut Fitzsimmons dan Fitzsinimons terdapat lima determinan
kualitas pelayanan. Jelaskan!
3) Kemukakan dan jelaskan salah satu teori dan model pendekatan
pelayanan publik yang anda ketahui!

3.3 Umpan Balik


Baca kembali materi kegiatan belajar yang menyangkut tentang
kualitas pelayanan publik, serta berbagai teori dan model pelayanan
publik. Untuk menyelesaikan semua soal di atas jawab dengan seksama
hingga paham, agar mahasiswa lebih yakin dapat berdiskusi dengan
teman yang mengikuti mata kuliah ini.
3.4 Daftar Pustaka
Barzelay, 1982, Breaking Through Bureaucracy, University of California,
Berkeley.

Daft, Richard L. , 1994, Organization Theory and Design, Fourth Edition,


Info Access Distributor Pte. Ltd, Singapore.

Denhardt, Janet V., and Robert B. Denhardt, 2003, The New Public
Services, Armonk, New York: M. E. Sharpe.

Denhardt, Robert B. , 2004, Theories of Public Organization (Fifth Edition),


Thomson Wadsworth.

DeVxy, Catherine, Good Service is Good Business, 7 Simple Strategies


for Success, Competitive Edge Management Series, ATM
1994:8

Fitzsimmons, James A., and Fitzsimmons, Mona A.,1994, Service


Management for Competitive Advantage, Mc Graw Hill, London.

Frederickson, H. G. ,1997, The Spirit of Public Administration San


Franccisco : Jossey-Bass Publishers.

Hatch, Marry Jo, 1997, Organization Theory, Modern Symbolic and Post
Modern Perspectives, Oxford University Press, New York.

146
Hoessein, Bhenyamin, 2000, Hubungan Penyelenggaraan Pemerintahan
Pusat dengan Pemerintahan Daerah dalam Bisnis & Birokrasi,
Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi Nomor : I/Volume
I/Juli/2000:12

____________ 2000, Hubungan Penyelenggaraan Pemerintahan Pusat


dengan Pemerintahan Daerah dalam Bisnis & Birokrasi, Jurnal
Ilmu Administrasi dan Organisasi, Nomor : 1/Volume 1/Juli/
2000 2000:13.

___________ 2001, Hubungan Penyelenggaraan Pemerintahan Pusat


dengan Daerah, Jurnal Bisnis Birokrasi No. : 1/Vol 1, Juli.

__________ 2001, Transparansi Pemerintahan, Mencari Format dan


Konsep Transparansi Dalam Praktik Penyelenggaraan
Pemerintahan Yang Baik, Forum Inovasi November 2001.

Leach, Stewart, and Walsh. 1994. The Changing Organization and


Management of Local Government, MacMillian Press Ltd.,
London.

Mc. Lean, Lain, 1987, Public Choice an Introduction, New York.

Moenir, H. A. S. , 1992, Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia, Bumi


Aksara, Jakarta.

Nurdin, Ismail, dkk. 2010. Ekologi Pemerintahan, Institut Pemerintahan


Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor.

Osborne, David, dan Ted Gaebler, 1996, Mewirausahakan Birokrasi


Menfransformasi Semangat Birokrasi ke dalam Sektor Publik
(seri Umum No. 17), Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta;

Roth, Gabriel, 1987, The Private Provision of Public Services in


Develuping Countries, EDI Series in Economic Development,
Published for the World Bank, Oxford University Press.

Salomo, Roy Valiant. 2006. Scenario Planning Reformasi Administrasi


Pemerintah Subnasional di Indonesia: Sebuah Grand Strategy
Menuju Tahun 2025 Disertasi. Ilmu Administrasi FISIP-Ul.

Schmidtz, David, 1991, The Limits of Government, An Essay the Public


Goods Argument. New York: West View Press.

147
Wasistiono, Sadu, 2001, Kapita Selekta Manajemen Pemerintahan
Daerah, Alqaprint, Jatinangor.

Widodo, Joko, 2001, Good Governance, Telaah dan Dimensi Akuntabilitas


dan Kontrol Birokrasi Pada Era Desentralisasi dan Otonomi
Daerah, Insan Cendekia, Surabaya.

Ndraha, Taliziduhu. 2003. Kyberndugi (Ilmu Pemerintahan Baru). Jakarta:


Rineka Cipta.

S Pamudi, 1986, Ekologi Administasi Negara, Bina Aksara Jakarta.

Sitanggang. 1997. Ekologi Pemerintahan. Pustaka Sinar Harapan Jakarta.

Pandi Santosa, 2008. Administrasi Public,Teori dan Aplikasi Good


Govermance.

Madia Thamrin, 2008. Ekologi Administrasi Negara, Alumni, Bandung.

Ryaas Rasyid, 2000, Makna Pemerintahan, Mutiara Sumber Widya,


Jakarta.

Paimin Napitupulu, 2007, Pelayanan Publik a Customer Satisfacition,


Alumni Bandung.

148
PATOLOGI BIROKRASI SEBAGAI VARIABEL
INSTABILITAS LINGKUNGAN PEMERINTAHAN

1. PENDAHULUAN

1.1 Ruang Lingkup Materi Pembelajaran


Kajian tentang birokrasi merupakan suatu hal yang kompleks
karena berkaitan dengan berbagai aspek, seperti sumber daya manusia
atau aparatur birokrasinya, organisasi pemerintahan, mekanisme dan
prosedur, kebijakan pemerintah yang dibuat dan dijalankan oleh birokrasi,
serta aspek pembaharuan birokrasi yang lazim disebut dengan reformasi
birokrasi. Birokrasi merupakan instrumen penting dalam masyarakat yang
kehadirannya tidak mungkin terelakkan.
Dalam kenyataannya, keberadaan birokrasi pemerintah seringkali
dipandang secara dikotomis, selain dibutuhkan untuk melaksanakan
urusan pemerintahan sehari-hari, birokrasi juga seringkali dianggap
sebagai sistem yang menyebabkan jalannya pemerintahan dan layanan
publik menjadi lamban dan bertele-tele.
Gejala patologi (penyakit) birokrasi tersebut telah lama
menggerogoti sistem birokrasi pemerintahan di Indonesia. Patologi
birokrasi merupakan suatu hal yang kompleks, karena memiliki keterkaitan
dengan berbagai aspek organisasional, baik yang menyangkut struktur
maupun kultur.
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa diharapkan mengetahui
dan memahami peran birokrasi, serta dapat menjelaskan berbagai bentuk
patologi birokrasi dan penyebab terjadinya patologi birokrasi tersebut.
1.3 Urutan Pembahasan
Materi pembahasan akan disajikan selama dua kali pertemuan.
Pembahasan akan dimulai dengan menguraikan peran birokrasi sebagai
slah satu unsur penting dalam lingkungan pemerintahan. Kemudian akan
dikemukakan berbagai bentuk patologi birokrasi dan faktor-faktor
penyebabnya, serta mengemukakan beberapa solusi untuk mengatasi
patologi birokrasi tersebut.

149
2. MATERI PEMBELAJARAN
2.1 Urgensi Birokrasi
Birokrasi adalah sebuah konsekuensi logis dari diterimanya suatu
asumsi bahwa negara mempunyai kewajiban mulia yaitu untuk
mensejahterakan rakyatnya melalui media birokrasi. Sebagai perwujudan
dari kewajiban tersebut, maka negara dituntut untuk terlibat langsung
menyediakan barang dan jasa publik yang diperlukan oleh rakyatnya.
Negara secara aktif terlibat dalam kehidupan sosial rakyatnya, bahkan jika
perlu negara yang memutuskan apa yang terbaik bagi rakyatnya. Dalam
rangka itulah, maka negara membangun suatu sistem administrasi yang
bertujuan untuk melayani kepentingan rakyatnya yang disebut dengan
istilah birokrasi.
Sekalipun tingkat sosial dan ekonomi suatu masyarakat telah
meningkat, peran pemerintah tetap diperlukan untuk melaksanakan fungsi
regulasi, alokasi, distribusi, pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.
Fungsi-fungsi ini harus dilaksanakan oleh pemerintah agar tercapai
keadilan dan pemerataan dalam masyarakat. Inti pemerintahan adalah
sistem birokrasi yang diharapkan dapat menjalankan perannya secara
optimal melalui fungsi-fungsi tersebut.
Berkaitan dengan pelayanan publik dalam rangka mewujudkan
kesejahteraan rakyat, birokrasi publik tentunya memberikan kontribusi
yang sangat besar, karena semua yang termasuk dalam lingkup
penyelenggaraan negara tidak terlepas dari koteks public service dan
public affairs. Barang dan jasa publik hendaknya dapat dikelola secara
efisien dan efektif. Sedangkan konsekuensi dari pengelolaan tersebut
menjadi tanggung jawab birokrasi. Dengan demikian peran pemerintah
yang sangat strategis tersebut akan banyak ditopang oleh bagaimana
birokrasi publik mampu melaksanakan tugas dan fungsinya.
Tantangan besar yang dihadapi birokrasi adalah bagaimana
mereka mampu melaksanakan kegiatan secara efisien dan efektif, karena
selama ini birokrasi diidentikkan dengan kinerja yang berbelit-belit, struktur
yang terlalu besar, penuh dengan kolusi, korupsi dan nepotisme, serta
tidak ada standar yang pasti. Sejumlah patologi birokrasi tersebut menjadi

150
hambatan yang sangat berarti dalam rangka perwujudan suatu pelayanan
yang memuaskan masyarakat. Atas dasar itulah sehingga birokrasi
Indonesia sangat jauh dari apa yang disebut good governance.
Dalam Ilmu Administrasi Publik, birokrasi memiliki sejumlah
makna diantaranya adalah pemerintahan yang dijalankan oleh suatu biro
yang biasanya disebut dengan officialism, badan eksekutif pemerintah
(the executive organs of government), dan keseluruhan pejabat publik
(public officials), baik itu pejabat tinggi ataupun rendah (Albrow, 1989:116-
117). Diantara ketiga makna tersebut, karakteristik umum yang melekat
pada birokrasi adalah keberadaannya sebagai suatu lembaga pemerintah.
Makna birokrasi sebagai lembaga pemerintah muncul karena lembaga
pemerintah pada umumnya selalu berbentuk birokrasi. Skala organisasi
pemerintah yang besar dan luas cakupannya mendorong mereka untuk
memilih birokrasi yang memiliki karakteristik sebagai birokrasi Weberian.
Dalam konteks Indonesia, lembaga pemerintah pada umumnya
memiliki hierarki yang panjang, prosedur dan standar operasi yang tertulis,
spesialisasi yang rinci, dan pajabat karier yang menjadi karakteristik
birokrasi Weberian. Oleh karena itu, lembaga pemerintah sering disebut
sebagai birokrasi pemerintah. Karena kinerja birokrasi pemerintah pada
umumnya cenderung buruk dan mengecewakan, khususnya yang
berkaitan dengan pelayanan publik, sehingga pandangan masyarakat
terhadap birokrasi pemerintah cenderung negatif yang pada akhirnya
menimbulkan stereotif yang negatif tentang konsep birokrasi Weberian.
Robbins (1994: 338) mengutip konsep birokrasi ideal dari Weber yang
terdiri dari 7 elemen, sebagai berikut:
a. Spesialisasi pekerjaan, yaitu semua pekerjaan dilakukan dalam
kesederhanaan, rutinitas dan mendefinisikan tugas dengan baik.
b. Hierarki kewenangan yang jelas, yaitu sebuah struktur multi tingkat
yang formal, dengan posisi hierarki atau jabatan, yang memastikan
bahwa setiap jabatan yang lebih rendah berada di bawah supervisi
dan kontrol dari yang lebih tinggi.

151
c. Formalisasi yang tinggi, yaitu semua anggota organisasi diseleksi
dalam basis kualifikasi yang didemonstrasikan dengan pelatihan,
pendidikan atau latihan formal.
d. Pengambilan keputusan mengenai penempatan pegawai yang
didasarkan atas kemampuan, yaitu keputusan tentang seleksi dan
promosi didasarkan atas kualifikasi teknis, kemampuan dan prestasi
para calon.
e. Bersifat tidak pribadi (impersonalitas), yaitu sanksi-sanksi diterapkan
secara seragam dan tanpa perasaan peribadi untuk menghindari
keterlibatan dengan keperibadian individual dan freferensi peribadi
para anggota.
f. Jejak karier bagi para pegawai, yaitu para pegawai diharapkan
mengejar karier dalam organisasi. Sebagai imbalan atas komitmen
terhadap karier tersebut, para pegawai mempunyai masa jabatan,
artinya mereka akan dipertahankan meskipun mereka kehabisan
tenaga atau jika kepandaiannya tidak terpakai lagi.
g. Kehidupan organisasi yang dipisahkan dengan jelas dari kehidupan
peribadi, yaitu pejabat tidak bebas menggunakan jabatannya untuk
keperluan dan kepentingan pribadinya termasuk keluarganya.
Tipe ideal birokrasi Weber tersebut di atas, sampai saat ini belum
sepenuhnya dapat diimplementasikan di Indonesia sebagaimana yang
diharapkan pencetusnya. Bahkan Weber mempertegas dalam teorinya
bahwa satu-satunya cara bagi masyarakat modern untuk mengoperasikan
secara efektif konsep ideal tersebut di atas ialah dengan
mengorganisasikan spesialis-spesialis birokrasi yang fungsional dan
terlatih. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh LeMay (2006:65),
bahwa sebagai organisasi yang cenderung semakin besar, membutuhkan
pembagian kerja yang lebih kecil atau bersifat khusus.
Weber sebenarnya memperhitungkan tiga elemen pokok dalam
konsep birokrasinya, yaitu: (1) birokrasi dipandang sebagai instrumen
teknis. (2) birokrasi dipandang sebagai kekuatan independen. (3) birokrasi
dipandang mampu keluar dari fungsinya yang sebenarnya karena
anggotanya cenderung berasal dari kelas sosial yang particular (Thoha,

152
2005:19). Konsep birokrasi Weberian berasumsi bahwa birokrasi dibentuk
independen dari kekuatan politik. Ia berada di luar atau di atas aktor-aktor
politik yang saling berkompetisi satu sama lain. Birokrasi pemerintah
diposisikan sebagai kekuatan yang netral, lebih mengutamakan
kepentingan negara dan rakyat secara keseluruhan, sehingga siapapun
kekuatan politik yang memerintah birokrat dan birokrasinya memberikan
pelayanan terbaik kepadanya.
2.2 Pengertian Patologi Birokrasi
Istilah patologi dalam ilmu kedokteran diartikan sebagai ilmu
tentang penyakit. Pentingnya patologi ialah agar diketahui berbagai jenis
penyakit yang mungkin diderita oleh manusia, meskipun sekaligus
dimaklumi bahwa tidak ada manusia yang menderita semua jenis penyakit
dalam waktu yang bersamaan. Analogi itulah yang berlaku pula bagi suatu
birokrasi. Artinya agar seluruh birokrasi pemerintah negara mampu
menghadapi berbagai tantangan yang mungkin timbul, baik yang sifatnya
politis, ekonomi, sosio-kultural dan teknologikal, berbagai penyakit yang
mungkin sudah dideritanya atau mengancam akan menyerangnya
perlu diidentifikasikan untuk kemudian dicarikan terapi pengobatannya
yang paling efektif (Siagian,1994:35).
Patologi birokrasi dalam konteks ini difahami sebagai kajian dalam
Ilmu Administrasi Publik untuk memahami berbagai penyakit yang melekat
dalam suatu birokrasi, sehingga menyebabkan birokrasi mengalami
disfungsi. Bahkan para ilmuan administrasi publik sudah sejak lama
menggunakan istilah patologi birokrasi untuk menjelaskan berbagai
bentuk penyakit birokrasi, seperti Gerald E. Caiden (1991) menggunakan
istilah bureaupathologies untuk mengemas berbagai bentuk penyakit
birokrasi dan Barry Bozeman (2000) menggunakan bureaucratic
pathology untuk menjelaskan red-tape sebagai salah satu penyakit
birokrasi, serta Sondang P. Siagian (1994) yang meskipun diawal bukunya
menjelaskan patologi sebagai ilmu tentang penyakit yang melekat pada
organ manusia, namun pada bagian-bagian selanjutnya Siagian

153
menggunakan istilah itu seolah sebagai penyakit dari birokrasi itu sendiri
(Dwiyanto, 2011:59)
Berbagai jenis atau bentuk penyakit birokrasi yang sudah sangat
dikenal dan dirasakan masyarakat, antara lain ketika setiap mengurus
sesuatu di kantor pemerintah merasakan prosedur yang berbelit-belit,
lamban atau membutuhkan waktu yang lama, membutuhkan biaya yang
besar termasuk biaya-biaya tambahan, pelayanan yang kurang ramah,
terjadinya praktek kolusi, korupsi dan nepotisme, dan lain-lain.
Menghadapi berbagai penyakit birokrasi tersebut menyebabkan kinerja
birokrasi sampai dewasa ini belum menunjukkan perubahan yang
signifikan.
Kenyataan ini memberi suatu isyarat bahwa reformasi birokrasi
memang perlu dilakukan dalam rangka perubahan yang sesuai dengan
tuntutan dan perkembangan masyarakat. Menurut Hughes, bahwa alasan
untuk melakukan reformasi adalah dalam rangka: (1) merealisasikan
pendekatan baru untuk menjalankan fungsi pelayanan publik yang lebih
baik ke arah manajerial daripada sekedar administratif, (2) sebagai respon
terhadap skala penanganan dan cakupan tugas pemerintah,
(3) perubahan dalam teori dan masalah ekonomi, dan (4) perubahan
peran sektor swasta dalam penyelenggaraan pelayanan publik
(Widaningrum, 2009:355).
Belum optimalnya perubahan pada tubuh birokrasi dikarenakan
secara internal masih menghadapi beberapa kendala antara lain;
Pertama, dalam sudut pandang aparatur birokrasi, terutama pola karier
tidak berjalan dengan semestinya yaitu masih banyak penempatan
pejabat tidak menggunakan prinsip knowledge and basic competention,
tetapi lebih kental dengan orientasi kedekatan atau nepotisme. Kedua,
perkembangan dewasa ini cenderung semakin marak praktek politisasi
birokrasi, menyebabkan terjadi disorientasi terhadap professionalisme
dan kompetensi. Ketiga, desain organisasi pemerintahan masih
cenderung berbadan gemuk, sehingga tidak efisien dan efektif. Keempat,
struktur organisasi pemerintahan yang kecil dan ramping, berbentuk flat

154
yang lebih mengandalkan keahlian dan kompetensi sebagai tenaga
fungsional, sampai saat ini belum juga dilaksanakan sebagai kebijakan
nasional dalam reformasi birokrasi bidang kelembagaan. Kelima, seiring
dengan arah kebijakan perbaikan remunerasi pegawai, belum
menunjukkan keseriusan pemerintah menetapkan perubahan remunerasi
di setiap unit instansi pemerintah. Keenam, penataan alokasi fasilitas kerja
pada semua jabatan negeri secara adil dan merata, belum menjadi
landasan kebijakan yang komprehensif dalam mengelola sumber daya
aparatur yang profesional dan kompetens (Istianto,2011:143).
Patologi birokrasi dan kendala internal birokrasi sebagaimana
diuraikan di atas, merupakan faktor hambatan yang saling berpengaruh
dan bersifat kausalitas. Walaupun sesungguhnya pemerintah telah lama
berupaya melakukan penyempurnaan dan pembaharuan birokrasi, namun
dampak buruk dari patologi birokrasi kenyataannya telah menghambat
upaya pelaksanaan pembangunan di segala bidang. Menelusuri sejarah
penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia, berbagai upaya yang telah
ditempuh oleh pemerintah dalam rangka pembaharuan birokrasi, antara
lain; Sejak pemerintahan Orde Lama., dengan program retooling
aparatur. Kemudian pada jaman periode pemerintahan Orde Baru,
dengan melalui program Pengawasan dan Penertiban serta
Pendayagunaan Aparatur. Bahkan di era reformasi dan pada Kabinet
Indonesia Bersatu Jilid II, kementerian yang menangani pembinaan
aparatur birokrasi telah berubah nomenklaturnya menjadi Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Hal ini
menunjukkan bahwa fokus perhatian pemerintah kearah perbaikan dalam
pembinaan aparatur birokrasi sudah menjadi kebijakan yang lebih
prioritas. Meskipun demikian upaya pemerintah yang sudah menunjukkan
keseriusan tersebut belum memperlihatkan hasil yang optimal, sehingga
melahirkan pertanyaan ada apa dengan birokrasi pemerintah Indonesia?.
Pertanyaan ini juga menjadi suatu hal yang mendorong untuk mengkaji
dan menelusuri berbagai problematika yang dihadapi birokrasi pemerintah

155
di Indonesia, meskipun dalam lingkup lembaga birokrasi pemerintah yang
terbatas yaitu birokrasi pelayanan administrasi pertanahan, khususmya
dalam hal pelayanan sertifikat tanah sebagai bahagian dari sistem
kelembagaan birokrasi publik.
2.3 Bentuk-Bentuk Patologi Birokrasi
Bentuk-bentuk patologi dan berbagai penyebabnya pada dasarnya
dapat diidentifikasi, namun terapi atau solusi untuk mengatasinya
bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini seperti yang dialami di Indonesia,
dimana reformasi birokrasi telah lama dilakukan oleh pemerintah, namun
sampai saat ini sistem birokrasi belum mampu mengatasi berbagai
permasalahan yang dihadapi.
Identifikasi terhadap bentuk-bentuk patologi birokrasi telah
dilakukan oleh beberapa pakar administrasi, seperti yang diuraikan secara
rinci pada bagian tinjauan pustaka. Beberapa pemikiran yang berkaitan
dengan itu antara lain Caiden (dalam Jurnal Public Administration Review
Vol. 51 No. 6, hal.492) yang secara alfabetikal merinci adanya 175
penyakit dalam organisasi termasuk birokrasi.
Tabel : Common Bureaupathologie
Abuse of authority/ Fear of change, Lack of creativity/ Reductance to
power/position innovation, risk experimentation delegate
Account padding Finagling Lack of credibility Reductance to take
Allenation Footdragging Lack of imagination decisions
Anorexia Framing Lack of initiative Reductance to take
Arbitrarines Fraud Lack of responsibility
Arogance Fudging/fuzzing performance Remoteness
Bias (issues) indications Rigidity/brittleness
Burring Issues Gamesmanship Lack of vision Rip-offs
Boondogles Gattopardisno Lawiesness Ritualism
Bribery (superficiality) Laxity Rudeness
Bureaucratese Ghost Eployees Leadership Sabotage
(unintelligibility) Gobbledygook/jargon vacuums Scams
Busywork Highhandedness Malfeasance Secrecy
Carelessnes Ignorance Malice Self-perpetution
Chiseling Illegality Malignity Self-serving
Coersion Impervious to Meaningless/make Slick bookkeeping
Complacency criticism/suggestion work Sloppiness
Compulsiveness Improper motivation Mediocrity Social astigmatism
Complicts of Inability to lern Mellownization (failure to see
interest/objectives Inaccessibility Mindless job problems)
Confusion Inaction performance Soul-destroying
Conspiracy Inadequate rewards Miscommunication work
Corruption and incentives Misconduct Spendthrift
Counter- Inadequate working Misfeasance Spoils
productiveness conditions Misinformation Stagnation

156
Cowardice Inappropriateness Misplaced zeal Stalling
Criminality Incompatible task Negativism Stonewalling
Deadwood Incompetence Negligence/neglect Suboptimization
Deceiut and Inconvenience Nepotism Sycophancy
deception Indecision Neuroticism Tail-chasing
Dedication to (decidophobia) Nonaccountability Tempering
status quo Indifference Obscurity Territorial
Defective goods Indicipline Obstruction imperative
Delay Inefectiveness Officiousness Theft
Deterioration Ineptitude Pression Tokenism
Discountesy Inertia Overkill Tunnel vision
Discrimination Inferior quality Oversight Unclear objectives
Diseconomies of Inflexibility Overspread Unfairness
size Inhumanity Overstaffing Unnecessary work
Displacement of Injustice Paperasserie Unprofessional
goals/ objectives Insensitivity Paranoia conduct
Dogmatism Insolence Patronage Unreasonableness
Dramaturgy Intimidation Payoffs and Unsafe conditions
Empire-building Irregularity kickbacks Unsuitable
Excessive social Irrelevance Perversity premises and
cost/ complexity Irresolution Phony contracts equipment
Exploitation Irresponsibility Pointless activity Usurpatory
Extortion Kleptocracy Procrastination Vanity
Extravagance Lack of commitment Punitive supervision Vested interest
Failure to Lack of coordination Red-tape Vindictiveness
acknowledge/act/ Waste
answer/respond Whim
Favoritism Xenophobia
Sumber:Gerald E. Caiden, What Really is Public Administration? dalam Public
Admnistration Review, Vol.51, No. 6 (Nov-Dec 1991), Hal. 492.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka Siagian (1994: 36-145),
mengidentifikasi berbagai patologi birokrasi yang dikategorikan ke dalam
lima kelompok, yaitu:
1) Patologi yang timbul karena persepsi dan gaya manajerial para pejabat
di lingkungan birokrasi.
2) Patologi yang disebabkan karena kurangnya atau rendahnya
pengetahuan dan keterampilan para petugas pelaksana berbagai
kegiatan operasional.
3) Patologi yang timbul karena tindakan para aparat birokrasi yang
melanggar norma-norma hukum dan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
4) Patologi yang dimanifestasikan dalam perilaku para birokrat yang
bersifat disfungsional atau negatif.
5) Patologi yang merupakan akibat situasi internal dalam berbagai instansi
dalam lingkungan pemerintahan.

157
Klasifikasi tersebut akan membantu menemu-kenali berbagai
masalah yang dihadapi birokrasi selama ini. Secara lengkap berbagai
penyebab munculnya patologi dan bentuk-bentuk patologi birokrasi
tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel : Penyebab dan Bentuk-bentuk Patologi Birokrasi
PERSEPSI DAN RENDAHNYA PELANGGA- PERILAKU YANG SITUASI
GAYA PENGETA- RAN BERSIFAT INTERNAL
MANAJERIAL HUAN DAN TERHADAP DISFUNGSIO- DALAM
PPARA PEJABAT KETERAMPIL- NORMA NAL BERBAGAI
BIROKRASI AN PETUGAS HUKUM INSTANSI
PEMERIN-
TAHAN
Penyalahgunaan Ketidakmampu- Penggemukan Bertindak Penempatan
wewenang dan an menjabarkan pembiayaan; sewenang-wenang; tujuan dan
jabatan; kebijakan Menerima Pura-pura sibuk; sasaran yang
Persepsi yang pimpinan; sogok; Paksaan; tidak tepat;
didasarkan pada Ketidaktelitian; Ketidakjujur- Konspirasi;
prasangka; Rasa puas diri; an; Sikap takut;
Kewajiban
Pengaburan Bertindak tanpa Korupsi; Penurunan mutu; sosial sebagai
masalah; pikir; Tindakan Tidak sopan; beban;
Menerima sogok; Kebingungan; kriminal; Diskriminasi; Eksploitasi;
Pertentangan Tindakan yang Penipuan; Cara kerja yang Ekstorsi;
kepentingan; counter Kleptokrasi; legalistil; Tidak tanggap;
Kecenderungan productive; Kontrak fiktif; Dramatisasi; Pengangguran
mempertahankan Tidak adanya Sabotase; Sulit dijangkau; terselubung;
status quo; kemampuan Tatabuku yang Sikap tidak acuh; Motivasi yang
Empire Building; berkembang; tidak benar; Tidak disiplin;
Sikap bermewah- Mutu hasil Pencurian. Inersia;
tidak tepat;
mewah; pekerjaan yang Sikap kaku (tidak Imbalan yang
Pilih kasih; rendah; fleksibel) tidak memadai;
Ketakutan pada Kedangkalan; Tidak Kondisi kerja
perubahan, Ketidakmampua berperikemanusiaan yang kurang
inovasi dan n belajar; ; memadai;
resiko; Ketidaktepatan Tidak peka; Pekerjaan
Penipuan; tindakan; Sikap tidak sopan; yang tidak
Sikap sombong; Inkompetensi; Sikap lunak; kompatibel;
Ketidakpedulian Ketidakcekatan; Tidak peduli mutu
pada kritik dan Ketidakteraturan; kinerja;
Inconvenience
saran; Melakukan Salah tindak; ;
Jarak kekuasaan; kegiatan yang Semangat yang Tidak adanya
Tidak mau tidak relevan; salah tempat; indikator
bertindak; Sikap ragu-ragu; Negativisme; kinerja;
Takut mengambil Kurangnya Melalaikan tugas; Kekuasaan
keputusan imajinasi; Rasa tanggung kepemimpin-
Sikap Kurangnya jawab yang rendah; an;
menyalahkan prakarsa; Lesu darah Miskomunika-
orang lain; Kemampuan (anorexia)
Tidak adil; rendah; Paperasserie;
si;
Intimidasi; Bekerja tidak Melaksanakan Misinformasi;
Kurangnya produktif; kegiatan yang tidak Beban kerja
komitmen; Ketidakrapian; relevan; yang terlalu
Kurangnya Stagnasi. Cara kerja yang berat;
koordinasi; berbelit-belit (red Terlalu banyak
Kurangnya tape) pegawai;
kreativitas dan Kerahasiaan; Sistem pilih
eksperimentasi; Pengutamaan kasih (spoil

158
Kreativitas yang kepentingan sendiri; system);
rendah; Suboptimasi Sasaran yang
Kurangnya visi Sycophancy; tidak jelas;
yang imajinatif; Tampering; Kondisi kerja
Kedengkian; Imperatif wilayah
Nepotisme; kekuasaan;
yang tidak
Tindakan yang Tokenisme; aman;
tidak rasional; Tidak professional; Sarana dan
Bertindak di luar Sikap tidak wajar; prasarana
wewenangnya; Melampaui yang tidak
Paranoia; wewenang; tepat;
Sikap Opresif; Vasted interest; Perubahan
Patronase; Pertentangan sikap yang
Penyeliaan kepentingan; mendadak.
dengan Pemborosan;
pendekatan
punitive;
Keengganan
mendelegesai-
kan;
Keengganan
memikul
tanggung jawab;
Ritualisme;
Astigmatisme;
Xenophobia;

Sumber: Siagian, 1994. Patologi Birokrasi: Analisis, Identifikasi dan Terapinya. Jakarta,
Ghalia Indonesia: Hal. 35-145.

Istilah patologi lazim digunakan dalam wacana akademis di


lingkungan administrasi publik untuk menjelaskan berbagai praktik
penyimpangan dalam birokrasi, seperti; paternalisme, pembengkakan
anggaran, prosedur yang berlebihan, fragmentasi birokrasi, dan
pembengkakan birokrasi (Dwiyanto, 2011:59). Untuk keperluan teoritik,
maka dimensi-dimensi patologis yang disebutkan terakhir akan diuraikan
secara singkat seperti berikut.
1. Birokrasi Paternalistis
Perilaku birokrasi paternalistis adalah hasil dari proses interaksi
yang intensif antara struktur birokrasi yang hierakis dan budaya
paternalistis yang berkembang dalam masyarakat. Struktur birokrasi
yang hierarkis cenderung mebuat pejabat bawahan menjadi sangat
tergantung pada atasannya. Ketergantungan itu kemudian mendorong
mereka untuk memperlakukan atasan secara berlebihan dengan
menunjukkan loyalitas dan pengabdian yang sangat tinggi kepada

159
pimpinan dan mengabaikan perhatiannya kepada para pengguna
layanan yang seharusnya menjadi perhatian utama (Mulder, 1985).
Struktur birokrasi yang hierarkis mendorong pejabat bawahan
untuk menunjukkan loyalitas dan penghormatan kepada atasan secara
berlebihan, karena seorang pejabat bawahan hanya memiliki satu
atasan. Pejabat atasan memiliki peran yang penting dalam
pengembangan karier pegawai, karena informasi mengenai kinerja
pegawai sangat ditentukan oleh atasannya. Bahkan penilaian kinerja
pegawai itu dilakukan oleh atasan langsung. Informasi mengenai
kinerja pegawai atau pejabat itu kemudian diteruskan oleh atasan
langsung kepada pejabat atasan yang lebih tinggi.
Peranan atasan langsung dalam penilaian kinerja menjadi
sangat penting sehingga wajar apabila para pejabat birokrasi
cenderung memperlakukan atasannya secara berlebihan. Mereka
cenderung menunjukkan perilaku ABS, yaitu meberikan laporan yang
baik dan menyenangkan atasan dengan menciptakan distorsi informasi.
Akibatnya, para pejabat atasan seringkali menjadi kurang memahami
realitas masalah yang dihadapi oleh masyarakat (Harmon, 1995).
Berbagai persoalan yang dikeluhkan oleh pengguna layanan tidak
tersampaikan pada pejabat atasan, namun tidak diatasi sendiri oleh
petugas pelayanan karena mereka tidak memiliki kewenangan yang
memadai untuk meresponsnya. Mereka beranggapan bahwa
menyampaikan persoalan yang terkait dengan pelaksanaan tugasnya
dapat menciptakan penilaian buruk dari pejabat atasan terhadap kinerja
mereka. Akibatnya responsivitas birokrasi dan pejabatnya terhadap
dinamika lingkungannya menjadi sangat rendah.
2. Prosedur Yang Berlebihan
Prosedur yang berlebihan merupakan bentuk penyakit birokrasi
publik yang menonjol di berbagai instansi pelayanan publik di
Indonesia. Birokrasi publik bukan hanya mengembangkan prosedur
yang rigid dan kompleks, tetapi juga mengembangkan ketaatan
terhadap prosedur secara berlebihan. Dalam birokrasi publik, prosedur

160
bukan lagi sebagai fasilitas yang dibuat untuk membantu
penyelenggaraan layanan tetapi sudah menjadi seperti berhala yang
harus ditaati oleh para pejabat birokrasi dalam kondisi apapun. Bahkan
prosedur sudah menjadi tujuan birokrasi itu sendiri dan menggusur
tujuan yang semestinya, yaitu melayani publik sexcara professional dan
bermartabnat. Apapun penyebabnya, pelanggaran terhadap prosedur
selalu dianggap sebagai penyimpangan dan karena itu pelanggarnya
harus diberi sanksi.
Dalam birokrasi Weberian pengembangan prosedur yang rinci
dan tertulis dilakukan untuk menciptakan kepastian pelayanan.
Prosedur tertulis yang jelas dan rinci sebenarnya diperlukan oleh
pejabat birokrasi sebagai penyelenggara layanan ataupun oleh para
pengguna layanan. Para pejabat birokrasi memerlukan prosedur yang
rinci dan tertulis karena dengan prosedur seperti itu mereka terhindar
dari keharusan mengambil keputusan. Keberadaan prosedur pelayanan
sangat membantu mereka dalam menentukan tindakan yang harus
dilakukan untuk merespon berbagai persoalan yang muncul dalam
penyelenggaraan layanan. Resiko melakukan kesalahan dalam
mengambil keputusan bisa dihindari dengan adanya prosedur
pelayanan yang tertulis dan rinci.
Prosedur yang tertulis dan rinci juga menguntungkan bagi para
pengguna layanan, karena mereka dapat lebih mudah memahami hak
dan kewajibannya dalam mengakses pelayanan. Mereka juga menjadi
semakin mudah mengetahui apakah hak-haknya sebagai warga negara
dilanggar oleh para pejabat birokrasi atau tidak pada saat mereka
mengakses pelayanan publik. Para pengguna layanan juga menjadi
lebih mudah untuk turut serta mengontrol proses penyelenggaraan
layanan publik. Tanpa prosedur yang jelas dan rinci maka sangat sulit
bagi para pengguna layanan untuk memahami hak dan kewajibannya
ataupun menjalankan peran kontrol terhadap proses penyelenggaraan
layanan publik. Oleh karena itu, prosedur yang rinci dan tertulis
sebenarnya diperlukan oleh pejabat birokrasi dan pengguna layanan.

161
Tidaklah mengherankan jika prosedur kemudian berkembang semakin
banyak sehingga menjadikan birokrasi mengalami over regulation yang
juga merupakan salah satu penyakit birokrasi.
3. Pembengkakan Birokrasi
Mengamati sejarah perkembangan berbagai birokrasi
pemerintah di Indonesia dengan mudah dapat dilihat perkembangan
sejumlah birokrasi yang semula dibentuk dengan misi yang jelas dan
struktur yang ramping, tetapi dalam waktu singkat birokrasi tersebut
sudah berubah menjadi kerajaan birokrasi yang besar. Kecenderungan
seperti ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga
terjadi di negara-negara lainnya. Fenomena ini lazim terjadi karena
memang ada kecenderungan dari internal birokrasi untuk
mengembangkan diri seiring dengan kegiatan untuk memperbesar
kekuasaan dan anggaran.
Menurut Dwiyanto (2011:97) terdapat dua cara yang biasanya
ditempuh untuk membengkakkan birokrasi. Cara pertama dilakukan
dengan memperluas misi birokrasi. Pada saat pemerintah membentuk
satuan birokrasi tertentu biasanya pemerintah memiliki gambaran yang
jelas mengenai misi yang akan diemban oleh satuan birokrasi itu. Misi
itu juga yang menjadi alasan dibentuknya sebuah atau beberapa
satuan birokrasi. Namun, setelah terbentuk, para pejabat di birokrasi itu
untuk selanjutnya cenderung memperluas misi birokrasi. Alasan utama
yang mendorong mereka memperluas misi birokrasi tidak lain adalah
keinginan para pejabat itu untuk dapat mengakses kekuasaan dan
anggaran yang lebih besar.
Cara kedua untuk membengkakkan birokrasi adalah dengan
melakukan kegiatan di luar misinya. Tindakan seperti ini banyak sekali
dilakukan oleh satuan-satuan birokrasi, baik di pemerintah pusat
maupun daerah. Munculnya inisiatif untuk membengkakkan birokrasi
juga disebabkan oleh cara pengalokasian anggaran yang berorientasi
pada input. Karena alokasi anggaran didasarkan pada input, maka
birokrasi dan para pejabatnya yang ingin memperoleh anggaran besar

162
cenderung memperbesar input. Cara termudah untuk memperbesar
input adalah dengan menciptakan banyak kegiatan.
4. Fragmentasi Birokrasi
Fragmentasi adalah pengkotat-kotakan birokrasi ke dalam
sejumlah satuan yang masing-masing memiliki peran tertentu.
Fragmentasi birokrasi memiliki beberapa interpretasi. Pragmentasi
birokrasi dapat menunjukkan derajat spesialisasi dalam birokrasi.
Dalam konteks ini pembentukan satuan-satuan birokrasi didorong oleh
keinginan untuk mengembangkan birokrasi yang mampu merespons
permasalahan publik yang cenderung semakin kompleks. Namun,
fragmentasi birokrasi yang tinggi juga dapat disebabkan oleh sejumlah
motif lainnya. Pemerintah mengembangkan satuan birokrasi dalam
jumlah banyak bisa saja bukan karena keinginan pemerintah untuk
merespon kebutuhan dan aspirasi masyarakat secara efisien dan
efektif, malainkan karena adanya tujuan tertentu.
Mencermati berbagai uraian tentang patologi birokrasi seperti
yang dipaparkan di atas, secara umum memberi gambaran bahwa
patologi birokrasi merupakan suatu kondisi dimana birokrasi mengalami
suatu keadaan yang tidak normal atau berada pada situasi yang tidak
dikehendaki menurut prinsip dan tujuan birokrasi itu sendiri.
2.4 Penyebab Patologi Birokrasi
Patologi birokrasi di berbagai negara, terutama pada negara-
negara berkembang menunjukkan adanya kecenderungan seperti
mengutamakan kepentingan sendiri, mempertahankan status-quo,
resisten terhadap perubahan, cenderung terpusat (centralized), dan
dengan kewenangannya yang besar seringkali memanfaatkan
kewenangannya itu untuk kepentingan sendiri. Hal ini merupakan suatu
tantangan besar bagi administrasi negara dan birokrasi pada umumnya.
Menurut Kartasasmita (1995), dari berbagai penelitian diketahui betapa
tidak mudahnya melakukan pembaharuan di bidang administrasi negara.
Sebabnya adalah pendekatan yang sering kali bersifat formal struktural,
yaitu kepada penataan organisasi dan fungsi-fungsi.

163
Solusi untuk mengatasi patologi birokrasi adalah dengan
melakukan perubahan. Menurut Widaningrum (2009:368), sistem
administrasi dan manajemen dalam birokrasi publik memang tidak didisain
untuk sering berubah. Namun demikian, kenyataannya menunjukkan
bahwa stabilitas seringkali bersifat sebaliknya (counter-productive). Dalam
era yang penuh dengan perubahan seperti sekarang ini, sistem yang tidak
dapat berubah justeru akan menemui banyak kegagalan.
Berkaitan dengan perubahan, yang sesungguhnya amat penting,
tetapi lebih sulit dilakukan adalah pembaharuan pada sisi nilai-nilai yang
membentuk manusia-manusia birokrat. Internalisasi nilai-nilai ini yang oleh
Riggs (1996) disebut introfection, merupakan kunci terhadap peningkatan
kinerja birokrasi. Terutama yang perlu menjadi perhatian adalah
memperbaiki sikap birokrasi dalam hubungan dengan masyarakatnya.
Secara teoritik, disadari bahwa konsep birokrasi yang dirumuskan
oleh Weber dengan berbagai karakteristiknya diyakini bahwa proses
administrasi dalam kegiatan pemerintahan itu hanya dapat menjadi
efisien, rutin dan nonpartisan apabila cara kerja organbisasi pemerintah itu
dirancang sedemikian rupa sehingga menyerupai cara kerja sebuah mesin
(Morgan, 1986). Persoalannya adalah mengapa ketika model ini
diterapkan di beberapa negara, termasuk Indonesia justru menimbulkan
berbagai fenomena yang menunjukkan adanya perilaku birokrasi yang
bersifat patologis, bahkan dapat dianggap sebagai pengingkaran terhadap
jiwa birokrasi itu sendiri.
Salah satu aspek birokrasi yang paling banyak disoroti adalah
struktur birokrasi. Struktur birokrasi Weberian memiliki berbagai masalah
internal yang pada tingkat tertentu berpotensi menyebabkan birokrasi
mengalami disfungsi (Caiden, 1991). Setiap aspek dan struktur birokrasi ,
selain memiliki manfaat dan kontribusi terhadap efisiensi dan kinerja
birokrasi, juga memiliki potensi untuk menciptakan penyakit birokrasi.
Suatu variabel struktur birokrasi dapat menghasilkan penyakit birokrasi
jika intensitas dari variabel itu sudah menjadi berlebihan. Hal ini dijelaskan

164
oleh Caiden dalam teorinya yang disebut dengan Parabolic Theory of
Bureaucracy.
Sebagai contoh, hierarki dalam suatu organisasi sangat bermanfaat
karena membantu pimpinan melakukan kontrol dan juga dapat membuat
arus perintah dan informasi menjadi lebih jelas, sehingga mempermudah
koordinasi. Namun, ketika hierarki semakin panjang, maka berbagai
persoalan dalam organisasi akan muncul. Hierarki yang panjang
menyebabkan arus perintah dan informasi menjadi semakin panjang dan
cenderung mengalami distorsi, Proses pengambilan keputusan menjadi
semakin lamban dan terkotak-kotak (fragmented). Bahkan hierarki juga
dapat memperbesar ketergantungan bawahan terhadap atasan (Pye,
1978). Akibatnya seringkali muncul perilaku para pejabat birokrasi yang
ABS (asal bapak senang), dan menunjukkan loyalitas secara berlebihan
pada atasan.
Birokrasi publik di Indonesia yang memiliki hierarki ketat, panjang
dan cenderung mendorong para pejabatnya untuk mengembangkan
perilaku ABS memperoleh justifikasi dari lingkungannya karena budaya
masyarakat yang paternalistis tidak bisa menjadi sensor bagi perilaku
negatif yang muncul dari hierarki yang berlebihan. Sebaliknya budaya
paternalistis itu justru mengajarkan kepada para pegawai untuk
memberikan perlakuan istimewa kepada pimpinan. Budaya paternalistis
mengajarkan mengenai suatu pola hubungan tertentu antara rakyat dan
penguasa, serta antara bawahan dan atasan. Dalam budaya paternalistis
bawahan harus memberikan pelayanan kepada atasan (Eisantadt, 1973).
Mereka harus menunjukkan dedikasi dan loyalitas kepada atasannya.
Bahkan dedikasi dan loyalitas itu cenderung mereka tunjukkan secara
berlebihan, dengan maksud agar atasannya memberikan keistimewaan
tertentu. Mereka meyakini bahwa yang menentukan nasib mereka dalam
berkarier adalah atasan. Hal inilah yang menyebabkan para pejabat
birokrasi memiliki ketergantungan yang sangat tinggi kepada atasan.
Perilaku ABS di kalangan pejabat birokrasi ini terbentuk sebagai hasil

165
interaksi antara budaya paternalistis dan struktur birokrasi Weberian yang
selanjutnya menghasilkan penyakit birokrasi.
Dalam sistem politik yang tidak demokratis, penyakit birokrasi tidak
mudah untuk dicegah, karena kekuasaan terkonsentrasi pada pemerintah
dan birokrasi. Masyarakat tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk
mengontrol perilaku birokrasi. Oleh karena itu masyarakat tidak dapat
berbuat banyak ketika para pejabat birokrasi publik hanya memikirkan
kepentingan birokrasi, atasan, dan dirinya sendiri serta mengabaikan
kebutuhan dan kepentingan publik. Pengguna layanan birokrasi berada
pada posisi yang sangat lemah ketika berhadapan dengan birokrasi dan
pejabatnya. Apalagi jika kapasitas dari unsur dan komponen masyarakat
madani, seperti media, NGO, dan kelompok-kelompok madani lainnya
masih sangat lemah, maka kontrol terhadap perilaku birokrasi menjadi
sangat tidak efektif, sehingga penyakit birokrasi terus tumbuh dengan
sangat subur.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor yang
menyebabkan terjadinya patologi birokrasi adalah adanya interaksi antara
struktur birokrasi yang salah dan variabel-variabel lingkungan yang salah.
Struktur birokrasi yang hierarkis berinteraksi dengan budaya masyarakat
yang paternalistis, sistem politik yang tidak demokratis dan
ketidakberdayaan kelompok masyarakat madani cenderung melahirkan
perilaku birokrasi paternalistis yang merugikan kepentingan publik.
Patologi birokrasi bukan hanya disebabkan oleh struktur birokrasi yang
salah dan tidak tepat, seperti hierarki yang berlebihan, prosedur yang
rigid, fragmentasi birokrasi yang terlalu banyak, dan masalah struktural
lainnya. Selain masalah struktural, patologi birokrasi disebabkan juga oleh
interaksi berbagai variabel yang saling terkait antara satu dengan yang
lainnya, baik yang terdapat dalam struktur birokrasi, budaya birokrasi,
maupun variabel-variabel lain yang terdapat dalam lingkungan.

3. PENUTUP
3.1 Rangkuman

166
Berkaitan dengan pelayanan publik dalam rangka mewujudkan
kesejahteraan rakyat, birokrasi publik tentunya memberikan kontribusi
yang sangat besar, karena semua yang termasuk dalam lingkup
penyelenggaraan negara tidak terlepas dari koteks public service dan
public affairs. Barang dan jasa publik hendaknya dapat dikelola secara
efisien dan efektif. Sedangkan konsekuensi dari pengelolaan tersebut
menjadi tanggung jawab birokrasi.
Bentuk-bentuk patologi dan berbagai penyebabnya pada dasarnya
dapat diidentifikasi, namun terapi atau solusi untuk mengatasinya
bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini seperti yang dialami di Indonesia,
dimana reformasi birokrasi telah lama dilakukan oleh pemerintah, namun
sampai saat ini sistem birokrasi belum mampu mengatasi berbagai
permasalahan yang dihadapi. Bentuk-bentuk dan penyebab patologi
birokrasi dapat dilihat dari pendapat berbagai ahli, antara lain; Caiden,
Siagian, dan Dwiyanto.
Solusi untuk mengatasi patologi birokrasi adalah dengan
melakukan perubahan. Menurut Widaningrum (2009:368), sistem
administrasi dan manajemen dalam birokrasi publik memang tidak didisain
untuk sering berubah. Namun demikian, kenyataannya menunjukkan
bahwa stabilitas seringkali bersifat sebaliknya (counter-productive). Dalam
era yang penuh dengan perubahan seperti sekarang ini, sistem yang tidak
dapat berubah justeru akan menemui banyak kegagalan.
Sebagai contoh, hierarki dalam suatu organisasi sangat bermanfaat
karena membantu pimpinan melakukan kontrol dan juga dapat membuat
arus perintah dan informasi menjadi lebih jelas, sehingga mempermudah
koordinasi. Namun, ketika hierarki semakin panjang, maka berbagai
persoalan dalam organisasi akan muncul. Hierarki yang panjang
menyebabkan arus perintah dan informasi menjadi semakin panjang dan
cenderung mengalami distorsi, Proses pengambilan keputusan menjadi
semakin lamban dan terkotak-kotak (fragmented).

167
3.2 Soal Latihan

Untuk memperdalam materi pembelajaran yang telah disajikan di atas,


mahasiswa dapat mengerjakan soal-soal latihan berikut ini.
1) Jelaskan letak pentingnya birokrasi dalam kehidupan bernegara !
2) Apa yang dimaksud dengan patologi birokrasi?
3) Sebutkan dan jelaskan beberapa bentuk patologi birokrasi ytang anda
ketahui !
4) Jelaskan faktor-faktor yang menjadi penyebab patologi birokrasi!
5) Menurut pendapat anda, bagaimana cara mengatasi patologi birokrasi
di Indonesia.
6) Berikan beberapa contoh patologi birokrasi dalam praktek
penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia !

3.3 Umpan Balik

Baca kembali materi kegiatan belajar yang menyangkut tentang


patologi birokrasi sebagai variabel instabilitas lingkungan pemerintahan.
Untuk menjawab semua soal di atas jawab dengan seksama hingga
paham, agar mahasiswa lebih yakin dapat berdiskusi dengan teman yang
mengikuti mata kuliah ini.

3.4 Daftar Pustaka

Albrow, Martin. 1989. Birokrasi, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yokya.

Caiden,G.E, 1991. Administrative Reforms Comes of Age, New York,


Walter de Gruyter.

Caiden, G.E., 1991. What Really is Public Administration? dalam


Public Admnistration Review, Vol.51, No. 6.
Denhardt Robert B. dan Denhardt Janet V. 2006. Public Administration:
An Action Overview, Fifth Edition. Thomson Wadsworth,
United States of America

---------------, 2003. The New Public Service Serving, not Steering, M.E.
Sharpe, Armonk New York, London England.

168
Dwiyanto Agus, dkk. 2003. Reformasi Tata Pemerintahan dan Otonomi
Daerah, Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan
Kebijakan Universitas Gajah Mada.

---------------, 2006. Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia, Seri Kajian


Birokrasi: Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Dwiyanto Agus (editor), 2006. Mewujudkan Good Governance Melalui


Pelayanan Publik, Yogyakarta: Gajah Mada University
Press.

---------------, 2010. Manajemen Pelayanan Publik: Peduli, Inklusif, dan


Kolaboratif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

---------------, 2011. Mengembalikan Kepercayaan Publik Melalui


Reformasi Birokrasi. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Istianto, Bambang.2011. Demokratisasi Birokrasi. Jakarta: Mitra


Wacana Media.

Keban, T. Yeremias, 2008. Enam Dimensi Strategis Administrasi


Publik: Konsep Teori dan Isu. Yogyakarta: Gaya Media.

169
170