Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada masa ini, bioteknologi berkembang sangat maju. Kemajuan ini ditandai dengan
ditemukannya produk bioteknologi di berbagai bidang. Bioteknologi bisa diartikan sebagai
cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (Bakteri,fungi,virus dan lain-
lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim,alkohol) dalam proses produksi untuk
menghasilkan barang dan jasa. Bioteknologi secara umum berarti meningkatkan kualitas
suatu organisme melalui aplikasi teknologi. Aplikasi teknologi tersebut dapat memodifikasi
fungsi biologis suatu organisme dengan menambahkan gen dari organisme lain atau
merekayasa gen pada organisme tersebut. Bioteknologi dikembangkan melalui pendekatan
multidisipliner dalam wacana molekuler. Ilmu-ilmu dasar merupakan tonggak utama
pengembangan bioteknologi maupun industri bioteknologi.
Penerapan bioteknologi dilakukan dengan tujuan memenuhi kebutuhan manusia.
Beberapa penerapan bioteknologi diberbagai bidang antara lain: rekayasa genetika, kultur
jaringan, dan kloning . Di bidang pangan, dengan menggunakan teknologi rekayasa genetika,
kultur jaringan dan DNA rekombinan, dapat dihasilkan tanaman dengan sifat dan produk
unggul karena mengandung zat gizi yang lebih jika dibandingkan tanaman biasa, serta juga
lebih tahan terhadap hama maupun tekanan lingkungan. Penerapan bioteknologi pada masa
ini juga dapat dijumpai pada pelestarian lingkungan hidup dari polusi .Sebagai contoh, pada
penguraian minyak bumi yang tertumpah ke laut oleh bakteri, dan penguraian zat-zat yang
bersifat toksik (racun) di sungai atau laut dengan menggunakan bakteri jenis baru.
Bioteknologi pengelolahan limbah menghasilkan produk biogas dan kompos Di bidang
medis, penerapan bioteknologi pada masa lalu dibuktikan antara lain dengan penemuan
vaksin, antibiotik, dan insulin. Bioteknologi dapat menghasilkan bahan bakar dengan
pengelolahan biommasa menjadi etanol (cair) dan metana (gas). Bioteknologi di bidang
industri dapat menghasilkan makanan dan minuman, antara lain pembuatan roti, nata decoco,
brem dan sebagainya. Namun sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, banyak
dampak yang ditimbulkannya terutama bagi lingkungan.
Bioteknologi juga dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi dalam
lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia tersebut.Oleh karena itu, dalam makalah

1
ini kami akan membahas tentang bioteknologi khususnya dibidang lingkungan, tentang
bioteknologi untuk meningkatkan kualitas lingkungan dalam arti menciptakan produk ramah
lingkungan maupun bioteknologi untuk mengurangi permasalahan lingkungan seperti limbah.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian dan jenis- jenis Bioteknologi?
2. Apasajakah produk bioteknologi dalam bidang lingkungan?
3. Bagaimanakah produk bioteknologi dibidang lingkungan tersebut tercipta ?
4. Bagaimanakah bioteknologi berperan dalam mengatasi permasalahan lingkungan?

1.3 Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini antara lain :
1. Mendeskripsikan pengertian dan jenis-jenis bioteknologi.
2. Mendeskripsikan produk bioteknologi dalam bidang lingkungan
3. Mendeskripsikan cara kerja produk bioteknologi dalam bidang lingkungan
4. Mendeskripsikan peran bioteknologi dalam mengatasi permasalahan lingkungan

1.4 Manfaat
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain:
1. Dapat memberikan pengetahuan tentang produk bioteknologi dalam bidang
lingkungan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita dapat
memanfaatkan produk bioteknologi untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
2. Dapat memberikan pengetahuan tentang penanggulangan dampak bioteknologi
sehingga dapat meningkatkan kualitas lingkungan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1Pengertian Bioteknologi
Istilah bioteknologi pertama kali dikemukakan oleh Karl Erekty, seorang insinyur
Hongaria pada tahun 1917 untuk mendeskripsikan produksi babi dalam skala besar dengan

2
menggunakan bit gula sebagai sumber pakan. Pada perkembangannya sampai pada tahun
1970 bioteknologi selalu berasosiasi dengan rekayasa biokimia (biochemical engineering).
Definisi bioteknologi apabila dapat dilihatdari akar katanya berasal dari bio dan
teknologi maka kalau digabung pengertiannya adalah penggunaan organisme atau system
hidup untuk memecahkan suatu masalah atau untuk menghasilkanproduk yang berguna.
Pada tahun 1981, Federasi Bioteknologi Eropa mendefinisikan bioteknologi sebagai
berikut, bioteknologi adalah aplikasi terpadu biokimia, mikrobiologi, dan rekayasa kimia
dengan tujuan untuk mendapatkan aplikasi teknologi dengan kapasitas biakan mikroba, sel,
atau jaringan di bidang industri, kesehatan, dan pertanian. Sedangkan
menurut Sardjoko (1991), boteknologi didefinisikan sebagai proses-proses biologi oleh
mikroorganisme yang dimanfaatkan oleh dan untuk kepentingan manusia.
Definisi bioteknologi yang lebih luas dinyatakan oleh Bul,et,al, (1982), yaitu
penerapan prinsip-prinsip ilmiah dan rekayasa pengolahan bahan oleh agen-agen biologi
seperti makroorganisme, sel tumbuhan, sel hewan, manusia, dan enzim untuk menghasilkan
barang dan jasa.

2.2 Jenis - Jenis Bioteknologi


Bioteknologi dibedakan menjadi dua, yaitu :
1) Bioteknologi Konvensional
Bioteknologi konvensional adalah paraktik bioteknologi yang dilakukan dengan cara
dan peralatan yang sederhana. Contoh produknya bir, wine, tuak, sake, yoghurt, roti,
keju, tempe,dan lain-lain.
2) Bioteknologi Modern
Bioteknologi modern merupakan bioteknologi yang didasarkan pada manipulasi atau
rekayasa DNA, selain memanfaatkan dasar Mikrobiologi dan Biokimia. Penerapan
bioteknologi modern juga mencakup berbagai aspek kehidupan. Bioteknologi modern
antara lain berupa kultur jaringan, rekayasa genetika dan lain-lain.

Sedangkan menurutcabang ilmu bioteknologi diantaranya diasosiasikan dengan warna,


yaitu:
1) Bioteknologi Merah (red biotechnology)
Merupakan cabang ilmu bioteknologi yang mempelajari aplikasi bioteknologi dibidang
medis. Cakupannya meliputi seluruh spektrum pengobatan manusia, mulai dari tahap

3
preventif, diagnosis dan pengobatan. Contohnya adalah pemanfaatan organisme untuk
menghasilkan obat dan vaksin.
2) Bioteknologi Putih/ Abu-abu (white/ grey biotechnology)
Adalah bioteknologi yang diaplikasikan dalam bidang industri seperti pertambangan
dan produksi senyawa baru serta pembuatan sumber energi terbarukan. Dengan
memanipulasi mikroorganisme seperti bakteri dan khamir atau ragi , enzim-enzim dan
organisme yang lebiuh baik telah tercipta untuk memudahkan proses produksi dan
pengolahan limbah industri.
3) Bioteknologi Hijau (green biotechnology)
Merupakan bioteknologi yang mempelajari aplikasi bioteknologi dibidang pertanian
dan peternakan.
4) Bioteknologi Biru (blue biotechnology)
Bioteknologi ini disebut juga bioteknologi akuatik atau perairan yang mengendalikan
proses-proses yang terjadi di lingkungan akuatik. Contohnya adalah akuakultura dan
salmon transgenik.

2.3 Bioteknologi dalam bidang lingkungan


2.3.1 Pohon Bercahaya

Maraknya gerakan hemat energi membuat desainer asal Belanda, Daan Roosegaarde, tertarik
menciptakan sumber pencahayaan tanpa menggunakan listrik. Bekerja sama dengan para ilmuwan di
State University of New York dan sebuah perusahaan bernama Bioglow, ia membuat 'pohon
bercahaya' yang terinspirasi dari bioluminescent ubur-ubur dan kunang-kunang.
Akhirnya dia berkerjasama dengan Alexander Krichevsky, yang telah menciptakan rekayasa
genetik tanaman menyala dalam gelap dan telah dipasarkan. Dr. Krichevsky membuatnya dengan
cara mengombinasikan gen dari bakteri bercahaya dengan klorofil tanaman dalam pot untuk
menciptakan "Starlight Avatar". Ini bisa memancarkan cahaya mirip yang dihasilkan kunang-kunang.

4
Starlight Avatar, tanaman pot pertama yang bisa memancarkan cahaya.

Sejauh ini proyek tanaman bercahaya masih dalam tahap uji coaba, jikasukses dalam ujicoba
pada saatnya nanti keberadaan lampu jalan akan bisa digantikan oleh pohon-pohon yang
memancarkan cahayanya.

2.3.2 Biomassa
Biomassa adalah material yang berasal dari organisma hidup yang meliputi tumbuh-
tumbuhan, hewan dan produk sampingnya seperti sampah kebun, hasil panen dan sebagainya.
Tidak seperti sumber-sumber alamiah lain seperti petroleum, batubara dan bahan bakar
nuklir, biomassa adalah sumber energi terbarukan yang berbasis pada siklus
karbon.Biomassa bisa digunakan secara langsung maupun tidak langsung sebagai bahan
bakar. Briket arang, briket sekam padi, briket ranting dan daun kering adalah contoh bahan
bakar biomassa yang dapat digunakan secara langsung sebagai bahan bakar pemanas atau
sumber tenaga.

Nilai kalor bakar biomassa bervariasi tergantung kepada sumbernya. Pemakaian


biomassa dapat memberi kontribusi yang signifikan kepada managemen sampah, ketahanan
bahan bakar dan perubahan iklim. Di pedesaan, utamanya di negara-negara berkembang,
biomassa dari kayu, daun, sekam padi dan jerami merupakan bahan bakar utama untuk
pemanasan dan memasak. Catatan dariInternational Energy Agency menunjukkan bahwa
energi biomassa menyediakan 30% dari suplai energi utama di beberapa berkembang.
Dewasa ini lebih dari 2 juta penduduk dunia masih tergantung kepada bahan bakar biomassa
sebagai sumber energi primer. Pemakaian biomassa secara langsung dapat menghemat bahan
bakar fosil, akan tetapi disisi lain jika dipakai dalam ruang tanpa ventilasi yang memadai
bahan bakar biomassa yang digunakan secara langsung dapat membahayakan kesehatan.
Laporan International Energy Agency dalam World energy Outlook 2006 menyebutkan

5
bahwa 1.3 juta orang di seluruh dunia meninggal karena pemakaian biomassa secara
langsung. Selain pennggunaan secara langsung sebagai bahan bakar padat, biomassa dapat
diolah menjadi berbagai jenis biofuel cair dan gas.

a) Biofuel
Biofuel merupakan bahan bakar terbarukan yang cukup menjanjikan. Biofuel dapat
secara luas didefinisikan sebagai padatan, cairan atau gas bakar yang mengandung atau
diturunkan dari biomassa. Definisi yang lebih sempit mendefinisikan biofuel sebagai cairan
atau gas yang berfungsi sebagai bahan bakar transportasi yang berasal dari biomasssa.
Biofuel dipandang sebagai bahan bakar alternatif yang penting karena dapat mengurangi
emisi gas dan meningkatkan ketahanan energi.
Penggunaan minyak nabati (BBN) sebagai bahan biofuel sebenaranya sudah dimulai
pada tahun 1895 saat Dr. Rudolf Christian Karl Diesel mengembangkan mesin motor yang
dijalankan dengan BBN. BBN saat itu adalah minyak yang didapatkan langsung dari
pemerasan biji sumber minyak, yang kemudian disaring dan dikeringkan. Bahan bakar
minyak nabati mentah yang digunakan pada mesin diesel buatan Dr. Rudolf Christian Karl
Diesel tersebut berasal dari minyak sayur. Namun karena pada saat itu produksi minyak bumi
berlimpah dan murah, maka BBN untuk mesin diesel tersebut secara perlahan-lahan diganti
dengan minyak solar dari minyak bumi. Selain itu BBN yang didominasi oleh trigliserida
memiliki viskositas dinamik yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan solar. Viskositas
bahan bakar yang tinggi akan menyulitkan pengaliran bahan bakar ke ruang bakar sehingga
dapat menurunkan kualitas pembakaran dan daya mesin. Oleh karena itu, untuk penggunaan
BBN secara langsung mesin diesel harus dimodifikasi terlebih dahulu, misalnya dengan
penambahan pemanas BBN untuk menurunkan viskositas. Pemanas dipasang sebelum sistem
pompa dan injektor bahan bakar.

Saat ini biofuel telah digunakan di berbagai negara, industri biofuel tersebar di Eropa,
Amerika dan Asia. India, misalnya mengembangkan biodiesel dari tanaman jarak pagar
(Jatropha). Kebanyakan biofuel dipakai untuk transportasi otomotif. India mentargetkan
penggunaan 5% bioetanol sebagai bahan bakar transportasi, sementara cina sebagai prodesen
utama etanol di Asia mentargetkan 15% bioetanol sebagai bahan bakar transportasinya pada
tahun 2010. Biofuel dapat diproduksi dari sumber-sumber karbon dan dapat diproduksi
dengan cepat dari biomassa. Sebagai Negara agraris Indonesia sangat potensial
mengembangkan industri biofuel nya sendiri. Pertama, bahan baku berupa tanaman energi
tersebar di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Produksi tanaman energi

6
dari tahun ke tahun juga cenderung meningkat sehingga kita tidak perlu kawatir kekurangan
sumber energi nabati ini. Sebagai contoh luas perkebunan tebu dan ubi kayu dari tahu
ketahun meningkat dengan tajam. Kedua jenis tanaman tersebut merupakan bahan baku
pembuatan bioetanol.

Tabel 1. Potensi EBT (Biofuel) di Indonesia

(diolah dari Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 20052025, Lampiran B, Jakarta, 2005)

b) Bioetanol

Bioetanol saat ini merupakan biofuel yang paling banyak digunakan. Di USA pada
tahun 2004 produksi etanol (termasuk bioetanol) mencapai 3 sampai dengan 4 billion gallons
dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Bioetanol adalah bahan bakar alternatif yang
prospektif karena beberapa alasan seperti tidak member kontribusi pada pemanasan global,
dapat dicampur dengan gasoline sampai 10% (E10) dapat dibuat dari bahan-bahan alami
(biomassa) yang dapat diperbaharui (renewable) seperti ubi kayu, jagung dan buah-buahan.
Sebagai pengganti MTBE (methyl tertiary butyl ether) yang potensial. MTBE adalah aditif
bahan bakar (fuel additive) yang bersifat toksik dan dewasa ini banyak digunakan di beberapa
negara.

Bioetanol pada prinsipnya adalah etanol yang diperoleh melalui proses fermentasi
sehingga dinamakan bioetanol. Bioetanol dihasilkan dari distilasi bir hasil fermentasi.
Bioetanol merupakan bahan bakar nabati yang relatif mudah dan murah diproduksi sehingga
industri rumahan sederhana pun mampu membuatnya. Biasanya bioetanol dibuat dengan
teknik fermentasi biomassa seperti umbi-umbian, jagung atau tebu dan dilanjutkan dengan
destilasi. Bioetanol dapat digunakan secara langsung maupun tidak langsung sebagai bahan

7
bakar. Untuk bahan bakar kendaraan bermotor terlebih dahulu bioetanol harus dicampur
dengan premium dengan perbandingan tertentu. Hasil pencampuran ini kemudian disebut
dengan Gasohol (Gasoline Alcohol). Gasohol memiliki performa yang lebih baik daripada
premium karena angka oktan etanol lebih tinggi daripada premium. Selain itu gasohol juga
lebih ramah lingkungan daripada premium. Penguapan bioetanol dari cair ke gas juga tidak
secepat bensin. Karena itu pemakaian bioetanol murni pada kendaraan dapat menimbulkan
masalah. Tetapi masalah dapat diatasi dengan mengubah desain mesin dan reformulasi bahan
bakar.

c) Biodiesel

Biodiesel atau alkil ester bersifat sama dengan solar, bahkan lebih baik
nilai cetanenya. Riset tentang biodiesel telah dilakukan di seluruh dunia khususnya di
Austria, Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat. Bahan baku utamanya antara lain minyak
kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari. Di Hawaii biodiesel dibuat dari
minyak goreng bekas dan di Nagano, Jepang bahan baku dari restoran-restoran cepat saji
telah dipakai sebagai bahan baku biodiesel. Saat ini biodiesel telah merebut 5% pangsa pasar
ADO (automotive diesel oil) di Eropa. Pada tahun 2010 Uni-Eropa mentargetkan pencapaian
sampai 12%. Malaysia telah mengembangkan pilot plant biodiesel berbahan baku minyak
sawit dengan kapasitas berkisar 3000 ton/hari yang telah siap memenuhi kebutuhan solar
transportasi. Secara keseluruhan Saat ini di dunia telah terdapat lebih dari 85 pabrik biodiesel
berkapasitas 500 120.000 ton/tahun dan pada 7 tahun terakhir ini 28 negara telah menguji-
coba biodiesel sebagai pengganti BBM, 21 di antaranya kemudian memproduksi. Amerika
dan beberapa negara Eropa bahkan telah menetapkan Standar Biodiesel yang kemudian
diadopsi di beberpa Negara berkembang.

Di Indonesia biodiesel biasanya menggunakan bahan baku minyak sawit mentah


(Crude Palm Oil), minyak nyamplung, minyak jarak, minyak kelapa, palm fatty acid
distillate (PFAD) dan minyak ikan. Biodiesel dapat digunakan pada mesin diesel tanpa
modifikasi. Biodiesel dibuat dengan berbagai metode. Transesterifikasi adalah salah satu
teknik pembuatan biodiesel yang paling popular dewasa ini karena aman, murah dan mudah
dilakukan. Biodiesel bersifat ramah lingkungan karena tidak memberi kontribusi kepada
pemanasan global, mudah didegradasi, mengandung sekitar 10% oksigen alamiah yang
bermanfaat dalam pembakaran dan dapat melumasi mesin. Keuntungan-keuntungan lain pada
penggunaan biodiesel adalah mudah dibuat sekalipun dalam sekala rumah tangga (home

8
industry) dan menghemat sumber energi yang tidak terbarukan (bahan bakar fosil) serta dapat
mengurang biaya biaya kesehatan akibat pencemaran udara. Pemanfaatan sumber-sumber
nabati seperti minyak kelapa dan CPO (Crude Palm Oil) baik minyak segar maupun bekas
(jelantah) sebagai bahan baku produksi biodiesel juga merupakan keuntungan karena dapat
membuka peluang usaha bagi petani dan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menegah (UMKM).

d) Biogas

Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-
bahan organik termasuk diantaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik, sampah
atau limbah biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah
metana dan karbon dioksida. Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun
untuk menghasilkan listrik. Metana yang terkandung di dalam biogas, bila terbakar akan
relatif lebih bersih daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih besar dengan
emisi karbon dioksida yang lebih sedikit. Pemanfaatan biogas memegang peranan penting
dalam manajemen limbah karena metana merupakan gas rumah kaca yang lebih berbahaya
dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan karbon dioksida. Saat ini, banyak negara
maju mulai meningkatkan penggunaan biogas yang dihasilkan baik dari limbah cair, padat
atau yang dihasilkan dari sistem pengolahan limbah. Komposisi gas di dalam biogas yang
dihasilkan bervariasi tergantung dengan asal proses anaerobik yang terjadi. Rata-rata biogas
memiliki konsentrasi metana sekitar 50%, sedangkan sistem pengolahan limbah modern
dapat menghasilkan biogas dengan kadar metana berkisar dari 55-75%.

Biogas merupakan Energi terbarukan yang dapat dihasilkan dengan teknologi tepat
guna yang relatif lebih sederhana dan sesuai untuk daerah pedesaan. Energi biogas
memproses limbah bio atau bio massa di dalam alat kedap udara yang disebut digester.
Biomassa berupa limbah dapat berupa kotoran ternak bahkan tinja manusia, sisa-sisa panenan
seperti jerami, sekam dan daun-daunan sortiran sayur dan sebagainya.
Biogas adalah suatu gas methan yang terbentuk karena proses fermentasi secara
anaerobik (tanpa udara) oleh bakteri methan atau Methanobacterium disebut juga bakteri
anaerobic.

9
Bakteri biogas yang mengurangi sampah-sampah yang banyak mengandung bahan organik
(biomassa) sehingga terbentuk gas methan (CH4) yang apabila dibakar dapat menghasilkan
energi panas.Gas methan sama dengan gas elpiji (liquidified petroleum gas/LPG),
perbedaannya adalah gas methan mempunyai satu atom C, sedangkan elpiji lebih banyak.

MEMBUAT INSTALASI BIOGAS SEDERHANA


Bangunan utama dari instalasi biogas adalah Digester yang berfungsi untuk
menampung gas metan hasil perombakan bahan bahan organik oleh bakteri. Jenis digester
yang paling banyak digunakan adalah model continuous feeding dimana pengisian bahan
organiknya dilakukan secara kontinu setiap hari. Besar kecilnya digester tergantung pada
kotoran ternak yamg dihasilkan dan banyaknya biogas yang diinginkan. Lahan yang
diperlukan sekitar 16 m2. Untuk membuat digester diperlukan bahan bangunan seperti pasir,
semen, batu kali, batu koral, bata merah, besi konstruksi, cat dan pipa prolon.

Gambar: Unit pengolahan kotoran sapi menjadi biogas


Lokasi yang akan dibangun sebaiknya dekat dengan kandang sehingga kotoran ternak
dapat langsung disalurkan kedalam digester. Disamping digester harus dibangun juga
penampung sludge (lumpur) dimana slugde tersebut nantinya dapat dipisahkan dan dijadikan
pupuk organik padat dan pupuk organik cair.

10
Setelah pengerjaan digester selesai maka mulai dilakukan proses pembuatan biogas dengan
langkah langkah sebagai berikut:
1. Mencampur kotoran sapi dengan air sampai terbentuk lumpur dengan perbandingan 1:1
pada bak penampung sementara. Bentuk lumpur akan mempermudah pemasukan
kedalam digester
2. Mengalirkan lumpur kedalam digester melalui lubang pemasukan. Pada pengisian
pertama kran gas yang ada diatas digester dibuka agar pemasukan lebih mudah dan
udara yang ada didalam digester terdesak keluar. Pada pengisian pertama ini
dibutuhkan lumpur kotoran sapi dalam jumlah yang banyak sampai digester penuh.
3. Melakukan penambahan starter (banyak dijual dipasaran) sebanyak 1 liter dan isi rumen
segar dari rumah potong hewan (RPH) sebanyak 5 karung untuk kapasitas digester 3,5 -
5,0 m2. Setelah digester penuh, kran gas ditutup supaya terjadi proses fermentasi.
4. Membuang gas yang pertama dihasilkan pada hari ke-1 sampai ke-8 karena yang
terbentuk adalah gas CO2. Sedangkan pada hari ke-10 sampai hari ke-14 baru terbentuk
gas metan (CH4) dan CO2 mulai menurun. Pada komposisi CH4 54% dan CO2 27%
maka biogas akan menyala
5. Pada hari ke-14 gas yang terbentuk dapat digunakan untuk menyalakan api pada
kompor gas atau kebutuhan lainnya. Mulai hari ke-14 ini kita sudah bisa menghasilkan
energi biogas yang selalu terbarukan. Biogas ini tidak berbau seperti bau kotoran sapi.
Selanjutnya, digester terus diisi lumpur kotoran sapi secara kontinu sehingga dihasilkan
biogas yang optimal
Pengolahan kotoran ternak menjadi biogas selain menghasilkan gas metan untuk
memasak juga mengurangi pencemaran lingkungan, menghasilkan pupuk organik padat dan
pupuk organik cair dan yang lebih penting lagi adalah mengurangi ketergantungan terhadap
pemakaian bahan bakar minyak bumi yang tidak bisa diperbaharui.
Dengan teknologi tertentu, gas methan dapat dipergunakan untuk menggerakkan turbin
yang menghasilkan energi listrik, menjalankan kulkas, mesin tetas, traktor, dan mobil. Secara
sederhana, gas methan dapat digunakan untuk keperluan memasak dan penerangan

2.3.3 Bioteknologi pengolahan limbah (Bioremediasi)

Pada tahapan ini akan disampaikan beberapa proses bioremidiasi yang dilakukan untuk
mengatasi limbah yang terjadi.
a) Bioremediasi Tanah yang Tercemar Limbah Pengilangan Minyak Bumi

11
Peningkatan kebutuhan bahan bakar minyak mengakibatkan peningkatan
eksplorasi dan pengolahannya. Eksplorasi dan pengolahan minyak bumi selain
memberikan keuntungan juga memberikan dampak yang buruk bagi lingkunganyaitu
berupa limbah (residu). Limbah hasil pengolaha minnyak bumi memiliki komposisi
berupa aspal, lilin, logam berat, lumpur bercampur minyak sisa pengilangan (oil
sludge) dan hidrokarbon.Tanah yang tercemar limbah hidrokarbon akan membahayakan
organisme yang terdapat padanya. Hal ini dikarenakan senyawa hidrokarbon bersifat
toksik dan karsinogenik sehingga dapat menyebabkan kematian terhadap organisme
tersebut.
Pada umumnya remediasi cemaran limbah minyak bumi dilakukan secara fisika
dengan cara penyaringan, penyerapan, pembakaran atau secara kimia dengan
menggunakan pengemulsi. Cara-cara ini memang dapat menghilangkan limbah dengan
cepat, akan tetapi biayanya mahal dan tidak ramah lingkungan. Salah satu cara untuk
pengelolaan dan pemanfaatan limbah dilakukan sengan mengunakan agen biologi yang
disebut bioremediasi.
Bioremediasi merupakan suatu prose pemulihan (remediasi) lahan yang tercemar
limbah organik maupun limbah anorganik dengan pemanfaatan organisme. Bakteri
umumnya digunakan dalam proses bioremediasi limbah pengilangan minyak bumi
adalah bakteri hidrokarbonoklastik. Secara alami, mikroorganisem ini memiliki
kemampua untuk mengikat, mengemulsi, mentranspor dan mendegradasi hidrokarbon.
Bakteri ini mendegradasi senyawa hidrokarbon dengan memotong rantai hidrokarbon
tersebut menjadi lebih pendek dengan melibatkan beberapa enzim. Karakteristik
mikroorganisme hidrokarbonoklastik sebagai berkut:
1) Menghasilkan enzim oksigenase yang terikat membran
2) Memiliki mekanisme untuk mengoptimumkan kontak antara permukaan sel
mikroorganisme dengan hidrokarbon yang tidak larut dalam air.
3) Mampu mendegradasi komponen minyak bumi
4) Stabil secara genetis
5) Memiliki viabilitas yang tinggi selama penyimpanan
6) Masih memiliki laju pertumbuhan yang tinggi selama penyimpanan
7) Memiliki aktivitas enzimatik dan pertumbuhan yang tinggi di lapangan
8) Tidak bersifat patogen
9) Tidak menghasilkan senyawa toksik.
Biodegradasi senyawa hidrokarbon yang terdapat dalam limbah pengilangan
minyak bumi dipengaruhi oleh faktor fisika, kimia dan biologi. Faktor fisika-kimia
yang berpengaruh antara lain komposisi dan struktur kimia hidrokarbon, konsentrasi
hidrokarbon, suhu, oksigen, salinitas, pH, nutrisi, cahaya dan tekananosmotik.

12
Umumnya kecepatan degradasi minyak bumi oleh bakteri berlangsung optomum pada
suhu berkisar antara 15-30oC. Suhu yang lebih tinggi dapat menyebabkan peningkatan
kecepatan degradasi hidrokarbon secara maksimum (30-40oC). Namun suhu yang
melebihi ini dapat menyebabkan meningkatkan toksisitas membran mirkoorganisme.
Faktor biologis meliputi karakter,jumlah sel, serta enzim yang dimiliki oleh organisme
tersebut.
Bakteri pendegradasi minyak bumi akan menghasilkan bioproduk seperti asam
lemak, gas, surfaktan dan biopolimer yang dapat meningkatkan porositas dan
permeabilitas batuan reservoir formasi klastik dan karbonat apabila bakteri ini
menguraikan minyak bumi. Proses awal degradasi adalah dengan pembentukan pro-to-
ca-techua-te atau catechol atau senyawa yang secara struktur berhubungan dengan
senyawa ini. selanjutnya senyawa ini akan didegradasi menjadi senyawa yang dapat
masuk ke dalam siklus Krebs (siklus asam sitrat) yaitu suksinat, asetil Ko A dan
piruvat.
Berdasarkan hasil penelitian Syukria Ikhsan Zam, dengan menggunakan bakteri
antara lain Acinetobacter baumannii, Alcaligenes eutrophus, Bacillus sp 1., Bacillus
sp2., Morococcus sp., Pseudomonas diminuta, Xanthomonas albilineans, Bacillus
cereus dan Flavobacterium branchiophiia. didapatkan bahwa pH optimum untuk
proses bioremediasi sebesar 7,5 dimana pada proses ini dapat berlangsung baik pada
kondisi pH 6,5 sampai 8. Organisme tersebut mampu mendegradasi TPH (Total
Petroleum Hydrocarbon) sebesar 73,241% dan COD (Chemycal Oxygen Demand) naik
sebesar 86,28%.

b) Bioremediasi Perairan Akibat Limbah Rumah Tangga


Meningkatnya aktivitas manusia di lingkungan rumah tangga menyebabkan
semakin besarnya volume limbah yang dihasilkan dari waktu ke waktu. Volume limbah
rumah tangga meningkat 5 juta m3 pertahun dengan peningkatan kandungan sebesar
50%. Konsekuensinya adalah beban badan air yang dijadikan tempat pembuangan
limbah rumah tangga menjadi semakin berat. Keadaan ini menyebabkan terjadinya
pencemaran yang banyak menimbulkan kerugian bagi manusia dan lingkungan.
Belum adanya teknik pengolahan, biaya mahal serta penerapan pengolahan
limbah yang sulit membuat lingkungan merasakan dampaknya. Hal ini dikuatkan
dengan asumsi dan pemikiran masyarakat bahwa membuang limbah rumah tangga
langsung ke lingkungan tidak akan menimbulkan dampak yang serius. Salah satu

13
pemikiran yang dapat dikembangkan adalah dengan memamfaatkan sumber daya alam
yang telah diketahui memiliki kaitan erat dengan proses penjernihan limbah rumah
tangga. Salah satu contohnya adalah tanaman air yang tumbuh di kolam atau genangan
air di sekitar pemukiman. Ada 4 jenis tanaman air dilihat dari sifat dan posisi hidupnya
yaitu:
1) Marginal aquatic plant; tanaman air yang hidup di bagian tepian peraian
2) Floating aquatic plant; tanaman air yang hidup di bagian permukaan peraian
3) Submerge aquatic plant; tanaman air yang hidup melayang di dalam peraian
4) The deep aquatic plant; tanaman air yang hidup di dasar peraian
Kemampuan tanaman air untuk menjernihkan limbah cair akhir-akhir ini banyak
mendapat perhatian. Penataan tanaman air dalam suatu bedengan-bedengan kecil dalam
kolam pengolahan dapat berfungsi sebagai saringan hidup bagi limbah cair yang
dilewatkan pada bedengan. Proses yang terjadi adalahpenyerapan dan penyaringan oleh
akar dan batang tanaman air, pross pertukaran dan penyerapan ion.
Tanaman yang pernah dijadikan bahan penelitian dalam bioremediasi limbah cair
rumah tangga adalah mendong (Iris sibirica), Teratai (Nymphaea firecrest), Kiambang
(Spirodella polyrrhiza) dan Hidrilla (Hydrilla verticillata). Keadaan limbah cair rumah
tangga setelah dialirkan pada kolam yang diberi tanaman air tadi memiliki efek dari
segi fisik limbah yaitu terjadi penurunan kekeruhan sebesar 27,99 NTU (kondisi normal
kekeruhan perairan <20 NTU) dan penurunan padatan yang tersuspensi sebesar
66,95%, terjadi penurunan suhu sampai 10,7%. pH awal limbah rumah tangga
kebanyakan bersifat asam, dengan menggunakan bioremediasi tanaman air ini dapat
ditingkatkan sebesar 2,5-7,46% dari suhu limbah sebelumnya. Peningkatan pH ini
semakin membuat pH limbah menuju pH aman bagi lingkungan yang berkisar antara 6-
9. Faktor lain yang juga mengalami peningkatan adalah kandiungan oksigen terlarut
yang semakin meningkat.
Dalam limbah rumah tangga biasanya terdapat mikroorganisme yang bernama
Coliform yang jumlahnya dalam keadaan normal dalam perairan adalah 20.000 sel/ 100
ml air. Bioremediasi dengan menggunakan tanaman air ini menyebabkan jumlah
Coliform semakin sedikit dengan semakin banyaknya ragam tanaman air dalam kolam
yang digunakan sebagai kolam penyaringan.

c) Pengurangan Dampak Lingkungan Akibat Pestisida Pertanian


Penggunaan yang berlebihan terhadap herbisida, pestisida, fungisida dan pupuk
pertanian menyebabkan bahaya bagi lingkungan yang menghasilkan semakin
berkurangnya kemampuan biodegradasi. Penggunaan varietas tanaman dengan

14
modifikasi genetik yang resisten terhadap serangga atau penyakit memiliki pengaruh
yang lebih besar daripada dengan menggunakan pestisida.
Biopestisida (yang sering isebut dengan pestisida biologi) merupakan turunan
dari bahan alami (hewan, tumbuhan, bakteri, mineral) dan mengandung sedikit racun
dibandingkan dengan pestisida konvensional. Menurut USEPA (2008), ia
mengindikasikan bahwa pada akhir tahun 2001 akan ada sekitar 195 biopestisida yang
teregistrasi yang mengandung bahan aktif dan sebanyak 780 produk yang dihasilkan.
Mereka mengklasifikasikannya kedalam kelompok sebagai berikut:
1) Pestisida mikrobial, mengandung mikroorganisme (bakteri, jamur, virus atau
protozoa) sebagai bahan aktifnya (Tabel 1).
2) Tanaman yang digabung dengan pelindung, yang berarti bahwa pestisida aktif
diproduksi oleh tanaman dengan bahan genetik yang dimasukkan ke dalam
tanaman.
3) Pestisida biokimia, mengandung bahan yang mengontrol hama dengan
menggunakan mekanisme nontoksik.

Tabel 1. Organisme penyusun biopestisida beserta target kontrolnya (MCD 2008)


Target Organisme Contoh
Serangga Bakteri Bacillus thuringensis
Bacillus sphaericus
Paenibacillus popiliae
Serratia entomophila
Virus Nuclear polyhedrosis viruses
Granulosis viruses
Non-occluded baculoviruses
Jamur Beauveria spp.
Metharizium
Entomorphaga
Zoopthora
Paecilomyces fumosoroseus
Nornuraea
Lecannicillium lecanii
Protozoa Nosema
Thelohania
Vairimorpha
Entomopathogenic Steinernema spp
Nematoda Heterorhabditid spp

15
Lainnya Pheromones
Parasitoids
Predator
Microbial byproducts
Pengontrol Jamur Colletotrichum gloeosporioides
tanaman saat Chondrostereum purpureum
menyiangi
Cylindrobasidium laeve
Xanthomonas campestris
Pengontrol Jamur Ampelomyces quisqualis
penyakit Candida spp.
tanaman
Clonostachys rosea
Inokulan kompetitif Coniothyrium minitans
Pseudozyma flocculosa
Tricoderma spp.
Kompos, inokulan Bacillum pumilus
tanah Bacillus subtilis
Pseudomonas spp.
Streptomyces griseoviridis
Burkholderia cepacia
Nematisida Nematoda penangkap Myrothecium verrucaria
jamur Paecilomyces lilacinus
Bakteri Bacillus firmus
Pasteruria penetrans
Molusca pemakan Phasmarhabitis hermaphrodita
nematoda
Biopestisida selalu efektif dalam jumlah sedikit dan selalu menjadi kompos
dengan sangat cepat dan pencahayannnya sedikit, sehingga jika mereka digunakan
dapat menghasilkan semakin berkurangnya resiko terhadap kesehatan manusia dan
lingkungan. Sementara itu, penggunaan tanaman yang memiliki modifikasi genetik
resisten terhadap serangga atau penyakit dapat digunakan untuk mengurangi secara
besar dari penggunaan pestisida. Tanaman yang dilindungi serangga (insect-protected
crop) memberikan dampak penurunan nilai potensial yang didapat oleh petani dan air
tanah terhadap residu kimia oleh pestisida tersebut.

d) Pengolahan Limbah Ikan menjadi Biodiesel


Cadangan bahan bakar yang berasal dari fosil semakin lama semakin berkurang
sementara itu jumlah konsumsinya semakin lama semakin meningkat, sehingga perlu

16
adanya alternatif bahan bakar pengganti dari bahan bakar yang terbarukan. Salah satu
alternatifnya adalah dengan adanya biodiesel untuk menggantikan solar.
Selama ini, pengolahan ikan hanya menimbulkan masalah limbah yang dapat
mencemari lingkungan. Kegiatan pengolahan ikan ini hanya selalu menimbulkan
limbah karena yang dimbil hanya berupa dagingnya saja, sementara kepala, isi perut
dan kulitnya dibuang. Bagian ikan yang dibuang inilah yang disebut dengan limbah
ikan.
Limbah ikan jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan pencemaran
terutama bau yang sangat menyengat dikarenakan terjadinya proses dekomposisi
protein ikan. Proses penguraian protein ikan ini yang dilakukan oleh bakteri
menghasilkan pecahan-pecahan protein sederhana dan berbau busuk seperti adanya gas
H2S, amonia, indol, skatol dan lain-lain. Pada saat ikan mati, enzim yang terkandung
dalam tubuh ikan akan merombak bagian-bagian tubuh ikan dan mengakibatkan
perubahan rasa, bau, rupa dan tekstur. Hal ini ditambah dengan perubahan secara
kimiawi dengan terjadinya oksidasi lemak daging ikan oleh oksigen di udara sehingga
menimbulkan bau tengik. Hal ini membuat bakteri pembusuk semakin cepat mengalami
pertumbuhan.
Limbah pengolahan ikan masih banyak yang belum dimanfaatkan. Untuk
mendukung kegiatan Zero Waste, maka perlu dilakukan terobosan baru dalam
pemanfaatannya. Pengolahan ikan patin termasuk salah satu pengolahan ikan yang
banyak menghasilkan limbah. Limbah yang ditimbulkan menghasilkan bau busuk dan
akan berakibat pada terganggunya kesehatan manusia yang dapat ditularkan oleh lalat.
Ikan patin yang mengandung banyak protein (dalam limbahnya juga demikian)
memungkinkan untuk dilakukan pengolahan menjadi biodiesel sebagai alternatif
pensubstitusian bahan bakar fosil. Dengan banyaknya ikan sebesar 1 ton menghasilkan
limbah ikan sebanyak 150-200 kg untuk sekali penyalaian atau sekali kegiatan. Oleh
karena itu, jika limbah ikan ini tidak dilakukan proses daur ulang, akan banyak sekali
limbah yang menumpuk dilingkungan.
Pengolahan limbah ikan patin menjadi biodiesel dilakukan dengan memanfaatkan
minyak ikan yang berasal dari limbah perut ikan patin. Proses awal dilakukan berupa
pengukusan limbah perut ikan patin sehingga diperoleh minyak ikan. Kemudian
minyak tersebut diolah menjadi biodiesel (Gambar 1)

17
Tahap berikutmya yaitu pembuatan biodiesel dari minyak ikan yang dihasilkan
(Diagram 1)

Penggunaan katalis CaCO3 pada reaksi alkoholis minyak atau lemak akan
menghasilkan biodiesel yang baik. Pemisahan niodiesel dari produknya (gliserol) dapat
dilakukan dengan teknik penyaringan. Hasil pengolahan limbah ikan menjadi biodiesel

18
ini memiliki karakteristik yang memenuhi standart karakteristik biodiesel yang ada
seperti massa jenisnya sebesar 857 (SNI 850-890 kg/m 3), viscositas kinematik sebesar
2,66 (SNI 2,3-6,0 mm2/s), titik nyala 138oC (SNI min 100oC), kadar air 0,04% (SNI
maksimal 0,05), angka asam mg-KOH sebesar 0,068 g (SNI maksimal 0,06 g), angka
Iod sebesar 22,23 g/100 (SNI maksimal 115 g/100) dan angka Setana sebesar 54,206
(SNI minimal 51).

e) Bioremediasi Limbah Pengolahan Ikan


Meningkatnya industrialisasi dan aktivitas manusia, khususnya dibidang
perikanan memebrikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat dan memberikan
peningkatan nilai sektor industri perikanan. Dampak negatif juga sering terjadi karena
industri pengolahan ikan ini belum menerapkan prinsip pengelolaan lingkungan yang
baik. Hal ini semakin menambah jumlah limbah yang masuk ke lingkungan khususnya
perairan. Pada konsentrasi tertentu limbah ini memberikan dampak negatif bagi kualitas
air dan kelangsungan hidup organisme yang ada di perairan tersebut.
Salah satu pengolahan limbah yang cukup murah dan aman adalah pengolahan
secara biologi dengan memanfaatkan tanaman tertentu sebagai biofilter . tanaman
memiliki kemampuan untuk mengikat unsur-unsur dari lingkungan sekitar dan sensitif
terhadap perubahan habitat lingkungan baik fisik maupun kimia.
Tanaman apu-apu (Pistia sp.) merupakan tanaman air yang biasanya dianggap
gulma oleh masyarakat. Namun tumbuhan tersebut dapat memebrikan keuntungan bagi
perairan yang tercemar. Tanaman apu-apu merupakan jenis gulma air yang sangat cepat
tumbuh dan mempunyai daya adaptasi terhadap lingkungan baru. tanaman pengganggu
ini dapat digunakan untuk menyerap unsur-unsur toksik pada air limbah.
Tanaman apu-apu yang digunakan sebagai bioremediator alami, akarnya akan
semakin bertambah panjang dan semakin banyak jumlahnya. Perairan yang diberi
tanaman ini akan mengalami perubahan warna dari keruh menjadi jernih yang diduga
dikarenakan semakin berkembangnya akar sehingga penyerapan limbah organik di
perairan semakin tinggi. Dengan semakin panjang dan banyaknya akar yang ada,
tanaman ini juga mampu mencengkram lumpur dengan berkas-berkas akarnya sehingga
perairan ini menjadi bersih. Kemampuan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai
pembersih sungai yang kotor.
Kemampuan tanaman ini dalam pengikat limbah organik terlihat dari semakin
jernihnya perairan dan juga semakin berkurangnya kandungan bahan organik dengan
semakin banyaknya penutupan tang dilakukan terhadap perairan. Kemampuan ini
merupakan hasil simbiosis antara tanaman apu-apu dengan bakteri rizofera yang

19
terdapat di bagian akarnya. Tumbuhan ini memiliki 3 mekanisme dalam bioremediasi
yaitu :
1) Fitostabilisasi sebagai proses imobilisasi kontaminan dalam air disebabkan oleh
terbawa aliran air tanah melalui pori kapiler.
2) Rizofiltrasi yang berhubungan dengan absorbsi kontaminan yang ada di akar.
3) Rizodegradasi dimana terjadi penguraian kontaminan dalam air oleh aktivitas
mikroba pada perakaran tanaman air.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pemanfaatan bioteknologi yang tepat akan sangat menunjang pembangunan di segala
bidang, termasuk juga dalam hal penanganan masalh limbah.
2. Pemanfaatan bioteknologi di bidang lingkungan antara lain dengan sudah dilakukannya
bioremediasi terhadap limbah rumah tangga, limbah minyak bumi maupun limbah akibat
pestisida pertanian.

B. Saran
Penerapan bioteknologi, sebaiknya tidak hanya dari segi menghasilkan suatu produk saja
namun juga perlu diperhatikan dampak yang akan terjadi dengan dihasilkannya produk
tersebut sehingga limbah yang dihasilkan dapat dikelola dengan baik sehingga lingkungan
dapat menjadi sehat.

20
Daftar Pustaka.

Gavrilescu, Maria. 2010. Enviromental Biotechnology: Achievements, Opportunities and


Challenges. Dynamic Biochemistry, Process Biotechnology and Molecular Biology. Vol 4 (1)
p. 1-36.

Harahap, M,. F,. Thamrin dan Bahri, Saiful. 2013. Pengolahan Limbah Ikan Patin menjadi
Biodiesel. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Riau. P. 113-122.

Lasari, Dhama Peni. Tt. Bakteri, Pengolah limbah Minyak Bumi yang Ramah lingkungan.

Nima, Niniek dan Ruswahyuni. 2014. Kemampuan Apu-apu (Pistia sp.) sebagai
Bioremediator Limbah Pabrik Pengolahan Hasil Perikanan (Skala Laboratorium).
Diponegoro Journal Of Maquares. Vol. 3 No. 4 p. 257-264.

Yusuf, Guntur. 2008. Bioremediasi Limbah Rumah Tangga dengan Sistem Simulasi Tanaman
Air. Jurnal Bumi Lestari. Vol. 8 no. 2 p. 136-144.

Zam, Syukria. 2011. Bioremediasi Tanah yang Tercemar Limbah Pengilangan Minyak Bumi
secara In Vitro pada Konsentrasi pH Berbeda. Jurnal Agroteknologi. Vol 1 no. 2 p. 1-8

http://www.anneahira.com/manfaat-bioteknologi.htm
https://id.wikipedia.org/wiki/Bioteknologi

21