Anda di halaman 1dari 20

WATER BUDGET OF WETLAND

Program Studi Teknik Sipil


Bidang Kajian Utama Manajemen Sumberdaya Air
Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya

Diusulkan Oleh:
Septarianti Arini
03022681519013

Program Pasca Sarjana


Universitas Sriwijaya
Mei, 2016
WATER BUDGET LAHAN RAWA

Hidroperiod Lahan Rawa


Hidroperiod lahan rawa adalah waktu yang dibutuhkan secara berkala untuk pola musiman
dari permukaan air lahan basah. Untuk lahan basah yang tidak dipengaruhi pasang surut
atau banjir secara permanen, jumlah waktu pada genangan air disebut durasi banjir,
periode ini dikenal sebagai frekuensi banjir. Hidroperiod yang tidak sama setiap tahun,
tetapi bervariasi menurut iklim dan kondisi sebelumnya

Hidroperiod ada yang dipengaruhi oleh pasang surut dan tidak dipengaruhi pasang surut
berdasarkan sumber air penggenangannya. Hidroperiod atau hidrologi dari lahan rawa
yang terjadi karena adanya faktor-faktor berikut :
1. Keseimbangan antara arus masuk dan arus keluar air
2. Permukaan kontur lanskap
3. Bawah Permukaan kondisi tanah , geologi , dan air tanah
Kondisi pertama mendefinisikan water budget dari lahan basah . Kedua dan ketiga
menentukan kapasitas lahan basah untuk menyimpan air . Keseimbangan umum antara
penyimpanan air dan arus masuk dan arus keluar .

Gambar 1. Kondisi lahan wetland

Water budget lahan rawa diartikan nilai dari perubahan volume simpanan air dapat dilihat
pada persamaan 1 dan digambarkan pada gambar 2. Volume simpanan air dipengaruhi
oleh input dan output hidrologi pada lahan tersebut. Keseimbangan ini dilihat pada
perubahan volume air yang tersimpan per satuan waktu. Komponen utama water budget
lahan rawa termasuk curah hujan , evapotranspirasi, banjir di lahan tepi sungai, permukaan
arus, air tanah , pasang surut pada lahan.
P I ET

SO

Si
T

Gi GO

Gambar 2. Input dan Output Hidrologi

= Pn + Si + Gi ET So - Go T....................................................................................(1)

Keterangan : Pn = Presipitasi
Si = inflow aliran permukaan
Gi = inflow air tanah
ET = Evapotranspirasi
So = outflow aliran permukaan
Go = outflow aliran permukaan
T = pasang surut
Gambar 2 , dan Persamaan 1 dengan asumsi dimensi lahan yang akan dibangun diketahui,
ketersediaan air lahan rawa dapat dihitung dengan menggunakan parameter yang
tercantum. Beberapa komponen dari anggaran air lahan rawa yang mudah diukur seperti
curah hujan dan aliran keluar. Lainnya seperti evapotranspirasi dan air tanah merupakan
input dan output yang sulit diukur dan atau perkiraan. Semua wetland menerima air dari
satu atau lebih dari sumber-sumber seperti presipitasi ( hujan, salju dll ), aliran air tanah
dan aliran air permukaan. Air hilang dari proses outflow seperti aliran air tanah dan
penguapan.

Presipitasi
Lahan rawa paling banyak terdapat di daerah di mana curah hujan (termasuk hujan dan
salju) adalah lebih banyak dari kehilangan air akibat evapotranspirasi dan limpasan
permukaan. Beberapa presipitasi akan disimpan oleh tutupan vegetasi yang disebut
intersepsi (I). Total jumlah curah hujan yang benar-benar mencapai permukaan air atau
permukaan lahan rawa disebut presipitasi bersih (Pn) dan didefinisikan sebagai data curah
hujan. Data curah hujan (harian, musiman, tahunan) yang tercatat dapat digunakan untuk
prediksi hujan yang dimasa depan. Curah hujan didefinisikan sebagai hujan yang langsung
yang menggenangi lahan dikurang intersepsi yang terjadi akibat lahan rawa yang
bervegetasi.

Pn = P I.............................................................................................................................(2)

a. Intersepsi

Intersepsi (interception loss) adalah proses ketika air hujan jatuh pada permukaan
vegetasi di atas permukaan tanah tertahan beberapa saat, untuk kemudian diuapkan
kembali ke atmosfer atau diserap oleh vegetasi yang bersangkutan. Proses intersepsi
terjadi selama berlangsungnya curah hujan dan setelah hujan berhenti. Setiap kali hujan
jatuh di daerah bervegetasi, ada sebagian air yang tak pernah mencapai permukaan
tanah dan dengan demikian tidak berperan dalam membentuk kelembaban tanah, air
limpasan atau air tanah.

P = I +Tf + Sf...............................................................................................................(3)

Gambar 3. presipitasi dan intersepsi

Besarnya air yang tertampung di permukaan tajuk, batang dan cabang vegetasi
dinamakan kapasitas simpan intersepsi dan besarnya ditentukan oleh bentuk, kerapatan,
dan tekstur vegetasi. Air hujan jatuh lewat tajuk vegetasi melalui dua proses mekanis,
yaitu air lolos (throughfall) dan aliran batang (stemflow). Air lolos jatuh langsung ke
permukaan tanah melalui ruangan antar tajuk/daun atau menetes melalui daun, batang
dan cabang. Sedangkan aliran batang adalah air hujan yang dalam perjalanan mencapai
permukaan tanah mengalir melalui batang vegetasi.
Aliran Inflow dan Outflow
Jumlah aliran masuk dan keluar didasarkan beberapa faktor antara lain topografi lahan,
area drainase, jarak terdekat ke aliran air, kapasitas simpanan air, dan desain struktur
jaringan. Dua sumber utama dari aliran inflow adalah aliran permukaan dari kemiringan
yang terdekat dan air yang dialirkan dari sungai terdekat. Hujan paling banyak menjadi
pemasukan air pada lahan rawa.

Aliran arus masuk langsung ke rawa yang paling sederhana dihitung dengan menggunakan
daerah aliran penampang dan kecepatan rata-rata. Ukuran vegetasi dan jenis dapat sangat
mempengaruhi tingkat aliran permukaan.

Di lahan rawa alami, aliran air tanah bersih dapat menjadi ke dalam atau keluar dari lahan,
berdasarkan lokasi relatif dari air tanah dan air permukaan pada lahan tersebut. Arus
masuk air tanah terjadi ketika permukaan air rawa secara hidrologi adalah lebih rendah
dari permukaan air sekitarnya. Mata air merembes masuk air tanah karena lokasi mereka di
dasar lereng di mana air tanah umumnya memotong permukaan tanah. Ketika tingkat air di
rawa alami lebih tinggi dari tanah sekitarnya, air akan mengalir keluar dari rawa.
Tergantung pada jenis rawa dan sekitarnya, air tanah dapat memiliki dampak yang besar
atau kecil pada rawa hidrologi.

Untuk memperkirakan input air tanah di lokasi rawa, pola aliran bawah permukaan harus
dipahami dan dimonitor menggunakan serangkaian sumur observasi dan Piezometers.
Sifat-sifat tanah seperti porositas dan permeabilitas dapat mempengaruhi proses hidrologi
air tanah. Sebuah tanah rawa yang sangat berpori akan mengadakan sejumlah air besar.

a. Aliran inflow
Aliran permukaan adalah aliran bebas yang biasanya terjadi selama dan setelah hujan
atau sebagai pasang naik di lahan rawa dan sebagainya. Komponen aliran limpasan
langsung debit sungai mengacu pada curah hujan yang menyebabkan peningkatan
langsung dalam aliran sungai. Jika luas dari daerah aliran sungai kurang dari 80 ha,
puncak limpasan atau puncak banjir dapat diprediksi dengan persamaan 4:

Si(pk) = 0,278.C.I.Aw...................................................................................................(4)

Dimana : Si(pk) = puncak aliran permukaan ke rawa (m3/s)


C = koefisien aliran
I = Intensitas curah hujan (mm /h)
Aw = Luas daerah aliran sungai berupa rawa (km2)
Koefisien aliran permukaan tergantung pada lahan hulu dan jenis tanah.

b. Aliran Outflow
Aliran keluar dapat diperkirakan dengan persamaan fungsi dari tinggi air pada lahan
rawa, seperti pada persamaan 5:

S0=x.Ly....................................................................................................................(5)

Dimana : S0 = aliran keluar permukaan

L = tinggi air rawa

x,y = koefisien kalibrasi

c. Streamflow
Air yang mengalir ke aliran sungai diperoleh baik dari curah hujan dari daerang
tangkapan. Dalam rangka untuk mendapatkan air debit di rawa dari saluran, kecepatan
aliran harus diukur. Kecepatan rata-rata pada masing-masing bagian adalah pengukuran
dengan currentmeter dengan kedalaman yang berbeda.

Gambar 4. penampang melintang sungai


Source: Turner S. T .et al. (1984).

Air Tanah
Telah banyak kemajuan dalam mendeteksi dan pengukuran debit air tanah ke air
permukaan (dan resapan air tanah dari air permukaan) termasuk metode fisik seperti
mengukur debit sungai dan rembesan, kimia dan metode pemisahan hidrograf dan untuk
menentukan aliran masuk pada tanah.

Aliran air tanah dalam , melalui dan keluar dari lahan rawa sering dijelaskan dengan
hukum Darcy. Dalam bentuk persamaan hukum Darcy diberikan sebagai berikut:
G = k.a.s..................................................................................................................(6)
Dimana : G = nilai aliran tanah (volume per waktu)
k = hidrolik konduktifitas atau permeabilitas (panjang per waktu)
a = daerah air tanah cross sectional tegak lurus terhadap aliran arah
s = kemiringan hidrolik (kemiringan dari muka air atau aliran piezometric)

Evapotranspirasi
Beberapa teknik pengukuran langsung dapat digunakan di lahan rawa untuk menentukan
nilai evapotranspirasi. Salah satu metode yang digunakan adalah pengukuran evaporasi
dengan panci berisi air (Gambar 5) biasanya dengan mengukur berat, mengukur volume
yang dibutuhkan untuk menggantikan air yang hilang selama periode waktu , atau dengan
mengukur penurunan tinggi air .

Gambar 5. Panci Evapotranspirasi


Pasang Surut
Tide gauge digunakan untuk mengukur permukaan laut dan mendeteksi tsunami. Sensor
terus merekam ketinggian permukaan air. Air memasuki perangkat dengan pipa bawah dan
sensor elektronik mengukur tinggi dan merekamnya ke komputer.
KEBUTUHAN AIR TANAMAN

Dua faktor utama yang menentukan jumlah air yang dibutuhkan untuk irigasi adalah:
a. total kebutuhan air dari berbagai tanaman
b. jumlah air hujan yang tersedia untuk tanaman

Dengan kata lain, kebutuhan air irigasi adalah perbedaan antara total kebutuhan air
tanaman dan jumlah curah hujan yang tersedia untuk tanaman.
Akar tanaman menghisap air dari dalam tanah untuk hidup dan tumbuh. Air menguap ke
atmosfer melalui daun tanaman dan batang pada sian hari, proses ini disebut transpirasi.
Air dari permukaan yang terbuka lolos sebagai uap ke atmosfer siang hari sama seperti
yang terjadi pada air di permukaan tanah dan air pada daun dan batang tanaman. Proses ini
disebut evaporasi.

Gambar 6. Evaporasi dan Transpirasi

Kebutuhan air tanaman juga disebut "evapotranspirasi. Kebutuhan air tanaman biasanya
dinyatakan dalam mm/hari, mm/bulan atau mm/musim. Misalkan kebutuhan air tanaman
tertentu dalam iklim yang sangat panas adalah 10 mm / hari. Ini berarti bahwa setiap hari
tanaman membutuhkan lapisan air 10 mm di seluruh wilayah yang tanaman tumbuh. Ini
tidak berarti bahwa ini 10 mm harus memang dipasok oleh hujan atau irigasi setiap hari.
Tabel 1. Pengaruh Faktor Iklim pada Kebutuhan Air Tanaman
Crop water need
Faktor Iklim
High Low
Penyinaran Matahari Cerah (tidak berawan) Berawan
Suhu Panas Dingin
Kelembaban rendah (kering) Tinggi (lembab)
Kecepatan Angin Berangin Angin sedikit

Pengaruh Iklim
Sebuah tanaman tertentu tumbuh di iklim yang cerah dan panas perlu per hari air lebih
banyak dari tanaman yang sama tumbuh di iklim berawan dan dingin. Faktor lain yang
mempengaruhi adalah kelembaban dan kecepatan angin. Bila tanah kering dan berangin,
kebutuhan air tanaman lebih tinggi daripada saat lembab.

Gambar 7. Faktor yang mempenngaruhi kebutuhan air

Urutan kebutuhan air tanaman dari yang tertinggi yaitu yang terdapat didaerah yang panas,
kering, berangin dan cerah. Tanaman yang hidup di iklim berbeda akan memiliki
kebutuhan air yang berbeda, maka dari itu rumput dipilih sebagai referensi tanaman
evapotranspirasi. Kebutuhan air sehari-hari rumput tergantung pada zona iklim ( curah
hujan ) dan suhu harian.
Tabel 2. Kebutuhan Air Tanaman Rata-rata Dari Rumput Standar Selama Irigasi
Suhu harian rata-rata
Zona Iklim Rendah Sedang Tinggi
( <15C) (15-25C) (> 25C)
Kering 4-6 7-8 9-10
Semi kering 4-5 6-7 8-9
Sub-lembab 3-4 5-6 7-8
Lembab 1-2 3-4 5-6

Pengaruh Jenis Tanaman


Pengaruh jenis tanaman pada kebutuhan air tanaman jika ditanam didaerah yang sama
dapat dilihat dalam dua cara, yaitu:
1. Jenis tanaman memiliki pengaruh kebutuhan air sehari hari untuk tumbuh sepenuhnya
menjadi tanaman dewasa. Misalkan tanaman jagung membutuhkan lebih banyak air
dari tanaman bawang. Kebutuhan air tertinggi terjadi ketika tanaman sepenuhnya
tumbuh dan disebut dengan puncak perioede kebutuhan air.

Untuk berbagai tanaman lapangan perlu untuk menentukan berapa banyak air yang
dibutuhkan dibandingkan dengan rumput standar. Sejumlah tanaman membutuhkan air
kurang, lebih banyak, bakhan lebih sedikit dari rumput.

2. Jenis tanaman memiliki pengaruh pada durasi total musim pertumbuhan tanaman. Ada
tanaman durasi pendek, misalnya kacang polong, dengan durasi total musim tanam 90-
100 hari dan tanaman durasi yang lebih lama, misalnya melon, dengan durasi total
musim tanam dari 120-160 hari.

Tanaman padi di lapangan untuk 150 hari akan membutuhkan total air lebih dari
tanaman padi yang hanya di lapangan untuk 90 hari. Berbagai tanaman tertentu tumbuh
selama musim dingin akan membutuhkan air kurang dari tanaman sama yang tumbuh
selama musim panas.

Pengaruh Tahap Pertumbuhan Tanaman


Sebuah tanaman jagung dewasa akan membutuhkan lebih banyak air daripada tanaman
jagung yang baru saja ditanam. Gambar 8 menunjukkan dengan cara skema berbagai
perkembangan atau pertumbuhan tahap tanaman.
Gambar 8 . Tahap Pertumbuhan Tanaman

KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Kebutuhan air irigasi dari tanaman adalah perbedaan atau selisih antara kebutuhan air
tanaman dan curah hujan efektif yang diukur tiap bulan. Pada perencanaan irigasi
kebutuhan air tanaman ditentukan secara bulanan yang dinyatakan dalam mm lapisan air
per satuan waktu.

Gambar 9. Skema Kebutuhan Air Irigasi


Perhitungan kebutuhan air irigasi memberikan dasar untuk penentuan jadwal irigasi dan
desain skema irigasi, misalnya ukuran saluran.

a. Zona iklim

Faktor iklim utama yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah curah hujan. Di
daerah dengan curah hujan sedikit vegetasi alam terbatas, sementara di daerah dengan
hutan hujan tropis yang lebat curah hujan tahunan tinggi ditemukan.

Berdasarkan curah hujan tahunan, perbedaan dapat dibuat antara 6 zona iklim utama
seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 3. Zona Iklim


Annual Rainfall Wet period
Climatic Zone Vegetasi
(mm) (months)
Gurun < 100 0-1 Kecil atau tidak ada vegetasi
Kering 100-400 1-3 Beberapa semak dan rumput
Semak belukar dan padang
Semi-kering 400-600 3-4
rumput
Sub - lembab 600-1200 4-6 Semak belukar
Moist sub-lembab 1200-1500 6-9 Hutan
lembab > 1500 9-12 Hutan hujan tropis

Daerah Gurun dan Gersang


Curah hujan tidak dapat diandalkan di padang pasir dan gersang daerah. Curah hujan
biasanya datang dalam hujan lebat yang mengakibatkan kehilangan air yang tinggi akibat
limpasan.

Gambar 10. Sistem Penanaman Untuk Daerah Gurun dan Gersang


Daerah Semi Kering
Curah hujan tidak dapat diandalkan dan resiko gagal panen berikutnya kemungkinan akan
terjadi jika tanaman tidak tahan terhadap kering

.
Gambar 11. Sistem Penanaman Untuk Daerah Semi Kering

Daerah sub-lembab

Di daerah sub-lembab dan lembab sub-lembab, irigasi diperlukan hanya pada saat musim
kemarau. Pada prinsipnya, secara tahunan ada kelebihan curah hujan, sebab curah hujan
tahunan lebih tinggi dari evapotranspirasi tahunan.

Gambar 12. Sistem Penanaman Untuk Daerah Sub-Lembab

Daerah lembab
Di daerah irigasi yang lembab biasanya tidak diperlukan, kecuali mungkin untuk padi.
Selama lebih dari 9 bulan per tahun ada kelebihan curah hujan dan bahkan di musim
kering yang tersisa tanaman dapat menggunakan air yang telah disimpan di zona akar
selama musim hujan.
Gambar 13. Sistem Penanaman Untuk Daerah Lembab

KEBUTUHAN AIR TANAMAN

Kebutuhan air tanaman didefinisikan sebagai kedalaman atau jumlah air yang dibutuhkan
untuk memenuhi kehilangan air melalui evapotranspirasi. Air tanaman tergantung pada:
a. iklim
b. jenis tanaman
c. tahap pertumbuhan tanaman

ETo adalah tingkat evapotranspirasi dari area yang luas, tertutup oleh rumput hijau, 8
sampai 15 cm, yang tumbuh secara aktif, benar-benar terdapat pada tanah dan yang tidak
kekurangan air.

Gambar 14. Faktor yang mempengaruhi air tanaman


ETo adalah parameter iklim yang menjelaskan tentang penguapan lingkungan. Etc mengacu pada
evapotranspirasi dari dikelola , besar , pengariran lahan yang mencapai produksi penuh di bawah kondisi
iklim yang diberikan.

Gambar 16. Referensi Eto, Etc, dan Etc adj

Ada beberapa metode untuk menentukan ETo yaitu :

Lesimeter, pengukuran ini langsung mendapatkan ETp


eksperimental, menggunakan panci evaporasi
teoritis, dengan menggunakan data iklim diukur, misalnya metode Blaney-Criddle

Bila hanya data ketinggian lokasi daerah kajian yang tersedia maka perlu didapatkan data
suhu bulanan berdasarkan persamaan Oldeman sebagai berikut :
Tabel 4. Nilai Suhu Maksimum dan Minimum Berbagai Wilayah di Indonesia
SUHU MAKSIMUM SUHU MINIMUM
BULAN
(C) (C)
Januari T = 30.8 - 0.62 H T = 23.3 - 0.54 H
Februari T = 30.7 - 0.61 H T = 23.3 - 0.53 H
Maret T = 31.1 - 0.62 H T = 23.3 - 0.53 H
April T = 31.4 - 0.61 H T = 23.3 - 0.52 H
Mei T = 31.4 - 0.61 H T = 22.9 - 0.51 H
Juni T = 31.2 - 0.61 H T = 22.7 - 0.51 H
Juli T = 31.6 - 0.61 H T = 22.6 - 0.51 H
Agustus T = 31.6 - 0.61 H T = 22.0 - 0.52 H
September T = 32 - 0.61 H T = 22.3 - 0.54 H
Oktober T = 32.2 - 0.64 H T = 22.8 - 0.55 H
November T = 31.7 - 0.63 H T = 23.3 - 0.54 H
Desember T = 31.0 - 0.62 H T = 23.3 - 0.54 H

1. Metode Panci Evaporasi

Panci penguapan menyediakan pengukuran gabungan dari suhu, kelembaban, kecepatan


angin dan sinar matahari pada evapotranspirasi tanaman referensi ETo. Panci yang paling
terkenal adalah panci penguapan Kelas A (panci melingkar) dan panci Sunken Colorado
(panci persegi).

Gambar 17. Panci Melingkar

Gambar 18. Panci Persegi

Prinsip evaporasi panci adalah sebagai berikut:


a. panci dipasang di lapangan
b. panci diisi dengan kuantitas air yang diketahui (luas permukaan panci diketahui
dan kedalaman air diukur)
c. air dibiarkan menguap selama periode waktu tertentu (biasanya 24 jam). Misalnya,
setiap pagi pukul 7 pengukuran diambil.
d. setelah 24 jam, kuantitas sisa air atau kedalaman air diukur
e. jumlah penguapan per unit waktu perbedaan antara dua kedalaman air diukur
merupakan panci penguapan: E pan (mm/24 jam)
f. panci E dikalikan dengan koefisien panci (K pan) untuk mendapatkan ETo.

ETo = K pan E pan...........................................................................................................(7)

dengan: Eto = evapotranspirasi tanaman referensi


Kpan = koefisien panci
Epan = penguapan panci

Jika kedalaman air dalam panci terlalu banyak karena kurangnya hujan, air ditambahkan
dan kedalaman air diukur sebelum dan setelah air ditambahkan. Jika permukaan air naik
terlalu banyak karena hujan air diambil keluar dari panci dan kedalaman air sebelum dan
sesudah diukur.

Ketika menggunakan panci evaporasi untuk memperkirakan ETo, perbandingan dibuat


antara penguapan dari permukaan air dalam panci dan evapotranspirasi dari rumput
standar.

Koefisien panci, K pan, tergantung pada:


jenis panci yang digunakan
lingkungan panci, tergantung tempat meletakkan panci
iklim, kelembaban dan kecepatan angin

Untuk Kelas A panci penguapan, K pan bervariasi antara 0,35 dan 0,85. Rata-rata pan K =
0.70. Untuk pan Sunken Colorado, K pan bervariasi antara 0,45 dan 1,10. Rata-rata pan K
= 0.80.

2. Metode Blaney-Criddle
Jika tidak ada panci penguapan yang tersedia secara lokal, metode teoritis untuk
menghitung evapotranspirasi tanaman referensi ETo misalnya metode Blaney-Criddle
harus digunakan. Ada sejumlah besar metode teoritis untuk menentukan Eto, metode
teoritis yang paling umum digunakan adalah metode Penman.

Metode Blaney-Criddle sederhana, menggunakan data yang diukur pada suhu saja. Perlu
dicatat, bahwa metode ini sangat tidak akurat memberikan perkiraan kasar. Persamaan
yang diberikan oleh metode Blaney-Criddle yaitu :

ETo = p (0.46 T mean +8)...................................................................................................(8)


Dengan : ETo = evapotranspirasi tanaman acuan (mm/hari) rata-rata periode 1 bulan
T mean = suhu harian rata-rata (C)
p = persentasi rata-rata harian tahunan

3. Metode Pennman

Metode Pennman dapat dilihat pada persamaan :

ETo = c[W.Rn + (1-W).f(u).(ea-ed)]..................................................................................(9)

Dimana : ETo = evapotranspirasi tanaman (mm/hari)


W = temperature-related weighting factor
Rn = nilai radiasi evaporasi (mm/hari)
f(u) = fungsi kecepatan angin
(ea-ed) = perbedaan antara tekanan uap jenuh pada rata-rata suhu udara dan
rata-rata tekanan uap (mbar)
C = faktor penyesuaian efek kondisi cuaca

PENGARUH TIPE TANAMAN

Hubungan antara tanaman rumput referensi dan tanaman benar-benar tumbuh diberikan
oleh faktor tanaman, Kc, seperti yang ditunjukkan dalam rumus berikut:

ETo x Kc = ET................................................................................................................(10)

Dengan : ET tanaman = evapotranspirasi tanaman (mm / hari)


Kc = crop factor
ETo = referensi evapotranspirasi (mm / hari)
Kedua ET dan ETo tanaman disajikan dalam satuan yang sama, dalam mm/satuan waktu
Dengan demikian, untuk menentukan faktor tanaman Kc harus mengetahui total panjang
musim pertumbuhan dan panjang dari berbagai tahap pertumbuhan. Penentuan nilai Kc
untuk berbagai tahap pertumbuhan tanaman melibatkan beberapa langkah:

Langkah 1 - Penentuan total periode tumbuh masing-masing tanaman


Langkah 2 - Penentuan berbagai tahap pertumbuhan masing-masing tanaman
Langkah 3 - Penentuan nilai Kc untuk setiap tanaman untuk masing-masing tahap
pertumbuhan

Masa pertumbuhan total dibagi menjadi 4 tahap pertumbuhan yaitu:

1. Tahap awal: ini adalah periode menabur atau tanam sampai panen mencakup sekitar
10% dari tanah.

2. Tahap pengembangan tanaman: periode ini dimulai pada akhir tahap awal dan
berlangsung sampai penutup tanah penuh telah tercapai (tanah menutupi 70-80%).

3. Pertengahan - Tahap musim: periode ini dimulai pada akhir tahap pengembangan
tanaman dan berlangsung hingga jatuh tempo, termasuk berbunga dan biji-bijian-
pengaturan.

4. Tahap akhir musim: periode ini dimulai pada akhir pertengahan tahap musim dan
berlangsung sampai hari terakhir panen, termasuk pematangan.
DAFTAR PUSTAKA

Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta

Doorenbos,j. 1977. Crop Water Requirement. . FAO Irrigation and Drainage Paper.
Richard G. Allen. Crop Evapotranspiration. guidelines for computing crop water
requirements