Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN PADA NEW AIRPORT

KUALA LUMPUR

Laporan ini mengenai Enviromental Impact Assessment (EIA) atau dampak


lingkungan (AMDAL) untuk evaluasi dan pertimbangan pembangunan bandara
baru Kuala Lumpur Malaysia untuk menggantikan bandara yang telah ada
sebelumnya yaitu bandara Sultan Abdul Aziz Shah. Bandara baru yang diusulkan
terletak di Sepang, Selangor. Laporan ini disusun oleh kelompok konsulan dari
Syaszee & Co. yang ditunjuk oleh pemerintah untuk melaksanakan studi tentang
EIA pada proyek bandara baru di Malaysia. Laporan ini mengikuti EIA
pemerintah Malaysia dan metodologi seperti yang dijelaskan pada Enviromental
Assessment Requirements and Enviromental Review Procedures of the Asian
Development Bank (1993) dan Enviromental Guidelines for Selected
Infrastructure Projects (1990). Penyusunan laporan ini merupakan hasil dari
berbagai diskusi dengan para pemangku kepentingan, akademisi, pemerintah
daerah, pembuat kebijakan dan konsultan swasta untuk memberikan pendapat dan
gambaran mengenai dampak dan kelayakan proyek bandara baru ini. Berbagai
metode uang digunakan untuk mengumpulkan informasi sebagai berikut:
1. Kajian literatur yang tersedia
2. Pertemuan dengan pejabat pemerintah daerah dan nasional
3. Kunjungan lapangan ke bandara baru dan sekitarnya
4. Diskusi dengan penduduk sekitar lokasi bandara baru
5. Kajian yang berkenaan dengan lingkungan meliputi kebisingan dan
kualitas udara, sample kualitas air permukaan serta pengujian di lapangan
dan laboraturium
6. Penerapan pengetahuan profesional dan pengalaman

Persyaratan melakukan analisis mengenai dampak lingkungan setiap


proyek oleh negara-negara tercermin dalam:
1. Principle 17 of the Rio Declaration on Enviromental and Development
2. Article 5 of the Legal Principle for Environmental Protection and
Sustainable Development
3. Principle of Environmental Impact Assessment developed under the UNEP
Selain itu, EIA umumnya mencakup aspek-aspek berikut yaitu:
a. Definisi proyek
b. Screening proyek dan Scoping Assessment
c. Identifikasi stakeholder
d. Identifikasi dan pengumpulan data dasar sosial dan lingkungan
e. Identifikasi dampak dan analisis
f. Pengembangan mitigasi dan /atau tindakan manajemen
g. Keterbukaan informasi publik

a. Definisi Proyek
Definisi proyek adalah penjelasan proyek yang diusulkan, yaitu
menggambarkan fasilitas bandara yang ada dan operasi bersama dengan usulan
pembangunan fasilitas baru dan rencana untuk operasi pembangunan fasilitas baru
yang dibutuhkan untuk kenyamanan pengguna. Fasilitas yang diusulkan harus
memenuhi standar persyaratan bandara internasional dan dapat menampung lebih
banyak pesawat di bandara.
b. Screening proyek dan Scoping Assessment
Proyek ini ditinjau terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan kebijakan
pemerintah yang diberlakukan untuk pengembangan bandara baru di Kuala
Lumpur. Hasil akhirnya digunakan untuk mengidentifikasi dampak dan setiap
penilaian lebih lanjut yang perlu mempertimbangkan sebelum melanjutkan
proyek.
c. Identifikasi stakeholder
Yaitu organisasi dan individu yang harus diwawancarai untuk
mengidentifikasi dampak lingkungan. Mereka diminta untuk mengidentifikasi isu-
isu atau masalah apapun dengan proyek, mengidentifikasi standar yang sesuai dan
mengidentifikasi pihak lanjut untuk konsultasi. Misalnya, perwakilan dari
berbagai departemen dan lembaga seperti Departemen Sumber Daya Alam dan
Lingkungan Hidup, Kementerian Transportasi, Kementerian Informasi,
Komunikasi dan Kebudayaan, Kementerian Pekerjaan, Kementerian Energi,
Teknologi Hijau dan Air, Departemen Perencanaan Kota dan Otoritas Bandara.
d. Identifikasi dan pengumpulan data dasar sosial dan lingkungan
Data dasar dikumpulkan untuk menggambarkan kondisi fisik dan sosial-
ekonomi yang ada. Studi teknis berikut dilakukan untuk mengumpulkan data
dasar tambahan:
1.) Dasar Penilaian
Membangun kondisi dasar dan kepatuhan dengan persyaratan.
2.) Penilaian Situs
Membangun sifat dan tingkat kontaminasi dalam wilayah proyek.
3.) Flora dan Fauna Assessment
Mengidentifikasi resiko apapun dalam area proyek dan mengumpulkan
informasi untuk mendukung pengembangan rencana satwa liar dan
pengelolaan habitat untuk mengurangi resiko interaksi pesawat dengan
satwa liar.
4.) Bahan Bangunan Berbahaya Assessment
Mengidentifikasi resiko bahan bangunan berbahaya di gedung-gedung
yang ada.
5.) Pertimbangan Stormwater atau Pertimbangan
Mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan drainase yang ada dan
menampung beban drainase tambahan dari proyek perluasan.
e. Identifikasi dampak dan analisis
Semua resiko dan dampak akan didokumentasikan dan dianalisis. Semua
tahapan proyek termasuk desain, konstruksi, operasi dan dekomisioning akan
dipertimbangkan.
f. Pengembangan mitigasi dan /atau tindakan manajemen
Pembangunan bandara baru pada dasarnya telah digariskan di dalam Rencana
Nasional Jangka Panjang. Rencana tersebut menguraikan hal-hal yang perlu
dipertimbangkan, termasuk dampak lingkungan dan dampak kepada masyarakat.
Selain itu, proyek bandara sudah ditegaskan untuk masing-masing Kementerian
untuk menunjuk kontraktor yang bertanggung jawab membangun mega proyek
ini. Semua rencana garis besar dan laporan kemajuan harus ditangani ke
Kementerian masing-masing yang merupakan Departemen Pekerjaan dan
Kementerian Transportasi. Selain itu, kontraktor akan diminta untuk
mengembangkan dan mengimplementasikan Envromental Managemen Plan
(EMP) sesuai dengan kontrak untuk memastikan mitigasi yang digariskan dalam
EIA.
Seorang konsultan lingkungan independen akan dipertahankan untuk
melakukan pemantauan secara teratur untuk memastikan kepatuhan terhadap
EMP dan EIA. Laporan harus diserahkan kepada komite pemantauan yang
ditetapkan oleh pemerintah setiap bulan selama masa konstruksi.
g. Keterbukaan informasi publik
Setelah proyek selesai, pertemuan umum akan diselenggarakan dan
diiklankan di surat kabar lokal.

Persoalan Lingkungan Bandara Baru Kuala Lumpur


Menurut Enviromental Health and Savety (EHS) Guidelines yang dihasilkan
oleh Finance Corporation dari Bank Dunia, semua proyek yang perlu
pengembangan diwajibkan untuk mengikuti panduan ini sesuai dengan kebijakan
dan standar yang ditetapkan oleh organisasi. Untuk tujuan pengembangan
bandara, langkah-langkah lingkungan berikut harus dipertimbangan:
1. Kebisingan dan getaran
2. Stormwater dan air limbah
3. Manajemen bahan berbahaya
4. Limbah padat
5. Gas emisi
6. Konsumsi energi dan air

1. Kebisingan dan getaran


Kebisingan dapat menjadi signifikan selama pembangunan dan
pengembangan proyek bandara. Sebuah standar yang digunakan untuk mengukur
kebisingan adalah LA10, A-weihgted level dalam desibel yang melebihi 10% dari
waktu. Standar kebisingan biasanya berhubungan dengan dampak pada manusia.
Oleh karena itu, sumber yang paling signifikan dari kebisingan dan getaran dari
operasi bandara pesawat selama siklus pendaratan dan lepas landas (LTO).
Kebisingan juga bisa berasal dari peralatan operasi darat termasuk aircraft taxing,
operasi kendaraan di darat misalnya bus penumpang, mobile lounges, truk bahan
bakar, kapal tunda pesawat, traktor pesawat dan bagasi, pesawat unit daya
tambahan (APUS) dan kegiatan pengujian mesin pesawat di bandara serta
kegiatan perawatan pesawat. Sumber tidak langsung lainnya dari kebisingan
termasuk lalu lintas kendaraan darat dari akses jalan menuju bandara.
Untuk mengendalikan kebisingan, tindakan pencegahan harus
dipertimbangkan yang hampir tidak tergantung pada kegiatan perencanaan
penggunaan lahan dan manajemen penerbangan. Manajemen kebisingan yang
dapat dilakukan direkomendasikan sebagai berikut:
1.) Lokasi strategis untuk pengembangan bandara yang jauh dari masyarakat
dan tempat usaha perumahan, sehingga akan meminimalkan gangguan
dari daerah sekitarnya.
2.) Untuk pesawat mendarat dan lepas landas (LTO), pelaksanaan prosedur
dan rute penting untuk meminimalkan kebisingan terutama di daerah
sensitif-kebisingan. Prosedur ini dapat mencakup petunjuk tentang
penggunaan descent profiles atau "noise preferensial" routes (SNPK),
seperti "continuous descent approach" untuk menghindari daerah-daerah
sensitif-kebisingan, penggunaan "Low Power/Low Drag" (LPLD)
Procedure untuk menerbangkan terbang pesawat dalam kondisi 'bersih'
seperti tidak ada lipatan atau roda dikerahkan selama mungkin untuk
meminimalkan kebisingan badan pesawat, dan petunjuk tentang
meminimalkan dorong terbalik saat mendarat.
3.) Pembatasan operasi dan kegiatan pesawat di malam hari.
4.) Mengurangi kebisingan pada operasi dan aktivitas penerbangan, atau
gunakan hambatan suara dan deflektor untuk menghilangkan dan
mengurangi kebisingan.

2. Stormwater dan air limbah


Situasi ini terjadi dapat dikaitkan dengan kebocoran dan tumpahan minyak, disel
dan bahan bakar jet selama operasi dan pemeliharaan kendaraat di darat, serta
penyimpanan bahan bakar dan menangani kegiatan pesawat. Stratergi yang
diusulkan untuk mengontrol dampak yang terkait dengan stormwater dan air
limbah adalah sebagai berikut:
1.) Meningkatkan drainase di lokasi strategis yang berpotensi mengalami
kebocoran dan tumpahan bahan bakar serta kimia.
2.) Pengelolaan limbah sanitasi untuk pesawat dan bandara harus dilakukan
secara efisien dalam rangka mengontrol air limbah.
3.) Pemantauan limbah sangat penting untuk menghindari kecelakaan
pesawat.

3. Manajemen bahan berbahaya


Operasi dari setiap bandara di dunia akan menghadapi barang berbahaya atau
bahan yang mudah terkontaminasi, meliputi penyimpanan dan penanganan bahan
bakar seperti bahan bakar jet, disel, dan bensin terutama terkait dengan kegiatan
pengisian bahan bakar pesawat serta dengan dukungan kendaraan darat. Bahan
bakar dapat disimpan dalam tangki penyimpanan di atas tanah atau bawah tanah
dan disalurkan ke lokasi melalui sistem perpipaan di atas tanah atau bawah tanah.
Bahan berbahaya yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan harus
dikelola secara efisien untuk mencegah kebakaran atau ledakan. Pelatihan dalam
menangani dengan limbah berbahaya harus dilakukan lebih sering sebagai
persiapan jika terjadi sesuatu. Pengetahuan tentang penanganan bahan kimia
adalah suatu keharusan bagi operator.

4. Limbah padat
Pada dasarnya, sebuah Bandara Internasional akan menerima berbagai jenis
pesawat mendarat di bandara. Semua pesawat ini akan menghasilkan limbah yang
perlu ditangani oleh operator bandara. Misalnya, penumpang di bandara komersial
dapat menghasilkan limbah makanan dari perusahaan makanan, bahan kemasan
dari fasilitas ritel, dan kertas koran, serta berbagai wadah makanan sekali pakai
dari kantor dan area penumpang umum. Sisa makanan dari penerbangan
internasional dianggap sebagai bahan infeksius oleh beberapa yurisdiksi nasional.
Beberapa maskapai penerbangan juga dapat membuang bantal setelah selesainya
setiap penerbangan. operasi bandara juga dapat menghasilkan limbah berbahaya
cair atau padat seperti minyak pelumas yang digunakan dan pelarut dari perawatan
pesawat dan layanan dasar kendaraan. Strategi pengelolaan sampah yang
direkomendasikan meliputi:
1.) Mendorong program daur ulang atau menggunakan bahan biodegradable
yang akan mudah dibuang terutama wadah makanan, kantong plastik dan
sebagainya. Selain itu limbah makanan dapat digunakan sebagai pupuk
pertanian dan pakan ternak.
2.) Awak airline dan operator cuci dapat memisahkan semua sampah dengan
memisahkan koleksi melalui program daur ulang sesuai dengan
karakteristik seperti kertas, plastik dan wadah logam. Bantal yang
digunakan juga dapat didaur ulang.
3.) Kebersihan dan kesehatan dari penyiapan makanan adalah suatu keharusan
untuk menghindari penyakit. Limbah katering makanan harus dikelola
sesuai dengan aturan dan peraturan yang ditetapkan oleh organisasi
kesehatan untuk melindungi manusia.

5. Gas emisi
Sumber polusi lain pada pengembangan bandara baru adalah udara. Polusi ini
termasuk hasil pembakaran dari pesawat saat mendarat dan lepas landas serta
operasi kendaraan darat. Oleh karena itu, dalam rangka untuk mengurangi polusi
emisi udara dari pesawat, berbagai langkah dapat diambil sebagai berikut:
1.) Mengoptimalkan dan meningkatkan infrastruktur pelayanan dasar untuk
mengurangi pergerakan kendaraan pesawat di darat.
2.) Meminimalkan emisi udara dari jet minyak tanah dan kegiatan
penyimpanan bahan bakar dan penanganan lainnya.
3.) Dalam latihan pemadam kebakaran, pilih bahan bakar bersih seperti gas
minyak cair untuk digunakan dan memilih lokasi bor pemadam kebakaran
dan kondisi atmosfer yang terbaik menghindari dampak jangka pendek
terhadap kualitas udara daerah terdekat yang dihuni.
4.) Penggunaan insinerator dapat membantu mengurangi polusi. Dalam
pengendalian pencemaran emisi udara, pengabuandari kegiatan limbah
dapat dilanjutkan.

6. Konsumsi energi dan air


Pengoperasian bandara mungkin memerlukan energi yang signifikan untuk
menjalankan mesin, ventilasi, pendingin ruang dan pemanas di terminal,
pencahayaan dan pengoperasian sistem bagasi kendaraan. Konsumsi air mungkin
tergantung pada jenis layanan penumpang dan pemeliharaan pesawat yang
ditawarkan dan dapat mencakup pengoperasian fasilitas sanitasi untuk sejumlah
besar transit penumpang atau kegiatan pembersihan pada umumnya. Strategi
direkomendasikan dan metode untuk energi dan konservasi air disajikan dalam
General EHS Guidlines.

Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, pengembangan Bandara Internasional Kuala Lumpur
baru merupakan salah satu mega proyek pemerintah Malaysia. Diperlukan
dukungandari semua pihak untuk memastikan bahwa pelaksanaan proyek ini
berhasil. Namun, berbagai aspek terutama dalam dampak lingkungan perlu
dipertimbangkan sebelum proyek dapat dilanjutkan. Dengan pembangunan
bandara baru di Kuala Lumpur, diharapkan akan memberikan manfaat lebih bagi
negara dalam hal hubungan diplomatik, peningkatan ekonomi dan pertumbuhan
yang cepat dalam semua aspek ekonomi.