Anda di halaman 1dari 23

DRAFT

PEDOMAN PENYELENGGARAAN
KLINIK KECANTIKAN
DAFTAR ISI
PEDOMAN PENYELENGARAAN KLINIK KECANTIKAN

Kata Sambutan
Kata Pengantar
Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan
C. Sasaran
D. Pengertian
E. Ruang Lingkup
F. Landasan Hukum

BAB II TATA LAKSANA PENYELENGGARAAN KLINIK KECANTIKAN

A. Upaya Pelayanan Kesehatan


B. Jenis / Katagori Klinik Kecantikan
C. Sarana Bangunan Fisik
D. Peralatan Klinik Kecantikan
E. Tenaga Pelaksana di Klinik Kecantikan

BAB III TATA CARA PERIZINAN PENYELENGGARAAN


A. Izin Penyelenggaraan
B. Tata Cara Permohonan
C. Sertifikasi
D. Kode Etik Profesi dan Peran Organisasi Profesi

BAB IV PENCATATAN DAN PELAPORAN


A. Pencatatan (Rekam Medik dan Inform Consent)
B. Pelaporan

BAB V PEMBINAAN DAN PENGAWASAN


A. Pembinaan
B. Pengawasan
C. Sanksi & Disiplin
D. Ketentuan Pidana

BAB VI MONITORING dan EVALUASI

PENUTUP
LAMPIRAN
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Di Indonesia saat ini semakin merebak sarana-sarana yang menyediakan


berbagai pelayanan di bidang kecantikan/estetika penampilan. Salah satu
dari sarana itu adalah salon kecantikan. Dulu umumnya salon kecantikan
hanya menyediakan pelayanan untuk pemotongan rambut dan makeup,
tetapi sekarang juga memberikan pelayanan yang menjurus ke arah tindakan
medik dan mempergunakan tenaga dokter. Begitu juga di berbagai media
cetak banyak ditemukan berbagai promosi tentang jenis jasa perawatan kulit,
wajah, badan dan rambut, yang ditawarkan oleh sarana-sarana yang
menamakan dirinya sebagai Skin Care, Skin Center, Skin Clinic, Skin Care
Center, Body Care Center, Beauty Clinic, Esthetic Clinic, Slimming Center,
Beauty Center atau Beauty Salon dan lain lain sebutan, tergantung jenis
pelayanan yang tersedia dan keinginan pemilik/pengelolanya, dengan tenaga
pelaksana yang berlatar pendidikan rendah/menengah sampai dengan yang
memiliki gelar dokter, malah ada yang telah menyandang gelar pasca sarjana
dan doktoral di bidang kecantikan/kosmetologi.

Dari hasil survey yang dilakukan di 4 klinik kecantikan di 4 propinsi ( Bali,


Yogjakarta, Menado, Pontianak ) diperoleh hasil :
1. Tenaga Pelaksana pelayanan medik di klinik kecantikan adalah dokter
yang tidak mempunyai kompetensi untuk tindakan medik tertentu
(melakukan tindakan spesialistik).
2. Jenis pelayanan di klinik kecantikan meliputi : perawatan wajah / facial,
suntikan pemutih, perawatan/pengobatan akne, pelangsingan dan
pembentukan tubuh (body slimming / firming), chemical peeling,
microdermabrasi, jet peel, cauter, terapi oksigen, mesoterapi, LAT
3. Jenis peralatan yang dimiliki klinik kecantikan : alat slimming, cauter,
mikrodermabrator, Laser, IPL dll )
4. Instansi Pemerintah yang memberikan izin opersional klinik kecantikan
berbeda antara satu daerah dengan daerah lain.

Dari hasil survey tersebut dapat disimpulkan bahwa klinik kecantikan telah
menyelenggarakan kegiatan pelayanan medik dan belum jelas siapa
penanggung jawab pengelolaannya. Sementara didalam Sistim Kesehatan
Nasional pelayanan Kosmetik merupakan bagian dari upaya kesehatan
perorangan strata pertama.
Departemen Kesehatan menyadari betul keadaan tersebut dengan
mempertimbangkan perkembangan masalah serta kecenderungan-
kecenderungan pembangunan kesehatan kedepan dan mewujudkan Visi
Depkes Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat dengan misi
Membuat Rakyat Sehat dengan nilai-nilai :
1. Berpihak pada rakyat
2. Bertindak cepat dan tepat
3. Kerjasama Tim
4. Integritas yang tinggi
5. Transparan dan akuntabilitas

Pembangunan kesehatan yang dapat berpihak pada masyarakat saat ini


haruslah diarahkan kepada pencapaian tujuan sebagai berikut :
1. Tersedianya tenaga yang professional / kompeten dan terampil sesuai
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam jumlah yang
memenuhi kebutuhan.
2. Tersedianya sarana pelayanan yang terjangkau semua lapisan
masyarakat.
3. Terlaksananya upaya pelayanan yang bermutu, termasuk terjaminnya
keamanan (safety) baik bagi pasien, petugas maupun lingkungan.

Guna mencapai hal-hal tersebut diatas, perlu dilakukan penataan dan


pembinaan penyelenggaraan Klinik Kecantikan. Untuk itu perlu disusun suatu
pedoman penyelenggaraan Klinik Kecantikan yang akan menjadi acuan para
penyelenggara klinik kecantikan, pihak pemerintah maupun organisasi profesi
terkait.

B. Tujuan

Pedoman ini disusun dengan tujuan untuk :

1. Terselenggaranya klinik kecantikan sebagai upaya meningkatkan


pelayanan kesehatan yang aman, bermanfaat, bermutu dan dapat
dipertanggung jawabkan.

2. Tersedianya acuan dalam pemberian izin operasional penyelenggaraan


klinik kecantikan.

3. Tersedianya panduan / acuan untuk melaksanakan pembinaan,


pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan Klinik Kecantikan di
propinsi dan kabupaten/kota.

4. Melindungi pasien/masyarakat/pemakai jasa dan tenaga pelaksananya


khususnya tenaga medik.
C. Sasaran

Pedoman ini disusun untuk digunakan bagi para pihak terkait yaitu :
- Departemen Kesehatan RI
- Dinas Kesehatan Propinsi / Kabupaten / Kota
- Instansi pemerintah terkait lainnya
- Pemilik, Penanggung Jawab dan Tenaga Pelaksana di Klinik Kecantikan
- Organisasi Profesi terkait

D. Pengertian

Agar untuk lebih memahami pedoman penyelenggaraan Klinik Kecantikan ini,


beberapa istilah yang tertulis dimaksudkan sebagai berikut :

- Klinik Kecantikan adalah satu sarana pelayanan kesehatan rawat jalan yang
menyediakan jasa pelayanan medik (konsultasi, pemeriksaan, pengobatan
dan tindakan medik) untuk mengatasi berbagai kondisi/penyakit yang terkait
dengan kecantikan (estetika penampilan) seseorang, yang dilakukan oleh
tenaga medik (dokter, dokter gigi, dokter spesialis dan dokter gigi spesialis)
sesuai keahlian dan kewenangannya.

- Salon Kecantikan adalah sarana pelayanan umum untuk pemeliharaan


kecantikan khususnya memelihara dan merawat kesehatan kulit, wajah,
badan, tangan dan kaki serta rambut, dengan menggunakan kosmetik secara
manual, preparatif, aparatif dan dekoratif yang dilakukan oleh ahli kecantikan
sesuai keahlian dan kewenangannya.

- Beautician / cosmetologist adalah orang yang berlatar belakang pendidikan /


telah mengikuti pendidikan dan pelatihan bidang kecantikan umum yang
diselenggarakan oleh institusi pendidikan nasional / internasional yang diakui
pemerintah serta dibukti dengan sertifkat.

- Dokter / dokter gigi plus adalah dokter / dokter gigi yang telah mengikuti
pendidikan dan pelatihan bidang kecantikan (estetika penampilan) medik
minimal 96 jam yang diselenggarakan oleh institusi pendidikan / organisasi
profesi terkait yang diakui oleh pemerintah serta dibuktikan dengan sertifikat.

- Dokter spesialis / dokter gigi spesialis adalah dokter spesialis/dokter gigi


spesialis yang berlatar pendidikan dengan bidang spesialisisasi yang diakui
oleh pemerintah dan ada hubungan dengan bidang kecantikan (estetika
penampilan) medik.

- Tindakan medik terbatas adalah semua tindakan yang bersifat medik untuk
bidang kecantikan (estika penampilan) yang bukan tindakan medik invasif
(operatif).
- Organisasi profesi terkait adalah organisasi profesi kedokteran yang berminat
dan ada hubungan dengan bidang kecantikan (estetik penampilan) medik
yang diakui pemerintah.

E. Ruang lingkup

Ruang lingkup Klinik Kecantikan:


1. Penyelenggaraan klinik kecantikan lebih menekankan pada upaya
meningkatkan kesehatan dan keindahan / estetika penampilan
2. Upaya pelayanan kesehatan di Klinik Kecantikan meliputi aspek
rejuvenasi dan estetika penampilan secara medik.

F. Landasan Hukum

1. Undang Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.


2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
3. Undang Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
4. Undang-Undang Nomor : 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 2001 tentang Pembinaan dan
pengawasan Atas Penyelenggaraan pemerintahan Daerah.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi
Perangkat Daerah.
7. Peraturan Menteri Kesehatan No 920 tahun 1986 tentang Upaya
Pelayanan Kesehatan Swasta di bidang Medik.
8. Peraturan Menteri Kesehatan No 1419 tahun 2005 tentang
Penyelenggaraan Praktik Dokter dan Dokter Gigi.
9. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor: 131/Menkes/SK/II/2004 tentang
Sistem Kesehatan Nasional.
10. Peraturan Menteri Kesehatan No 1184/Menkes/Per/X/2004 tentang
Pengamanan Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga.
Bab II

TATALAKSANA PENYELENGARAAN KLINIK KECANTIKAN

A. Upaya Pelayanan Kesehatan

Upaya pelayanan kesehatan di Klinik Kecantikan adalah pelayanan rawat


jalan. Jika diperlukan pelayanan rawat inap, harus dirujuk/dilakukan di rumah
sakit yang mempunyai fasilitas sarana yang memadai.

Upaya pelayanan kesehatan yang dilakukan di Klinik Kecantikan terdiri dari :

1. Penatalaksanaan Umum
2. Penatalaksanaan khusus :
2.1. Tindakan medik terbatas
Adalah tindakan rejuvenasi dan estetika penampilan secara medik
dengan bahan, obat dan peralatan yang telah teregistrasi di
Departemen Kesehatan.
2.2. Tindakan medik invasif (operatif) tanpa narkose

B. Jenis / Katagori Klinik Kecantikan

Istilah yang ditemukan untuk sarana yang menyediakan pelayanan kecantikan di


lapangan / masyarakat cukup banyak. Untuk mempermudah dan
menyamakankan istilah / nomenklatur untuk sarana-sarana tersebut, selanjutnya
digunakan istilah Salon Kecantikan untuk sarana yang memberikan pelayanan
kecantikan dilakukan oleh tenaga pelaksana dan penanggung jawab sarana dari
kalangan non medik. Dan isitilah Klinik Kecantikan digunakan untuk sarana
yang memberikan pelayanan kecantikan dilakukan oleh tenaga pelaksana dan
penanggung jawab sarana dari kalangan medik/dokter.

Untuk Salon Kecantikan diatur dalam pedoman tersendiri.

Untuk menjaga mutu penyelenggaraan Klinik Kecantikan dan pemberian upaya


pelayanan kesehatan yang profesional serta sesuai kompetensi, maka Klinik
Kecantikan dibagi dalam jenis/katagori dan tipe sebagai berikut :

Versi 1.
1. Klinik Kecantikan
1.1. Tipe Pratama
1.2. Tipe Utama

2. Klinik Kecantikan Spesialis


2.1. Tipe Pratama
2.2. Tipe Utama
Versi 2.
1. Klinik Kecantikan
2. Klinik Kecantikan Spesialis

Klinik Kecantikan adalah satu sarana Klinik Kecantikan yang menyediakan jasa
pelayanan tindakan medik terbatas yang dilakukan oleh seorang dokter/dokter
gigi plus dengan penanggung jawab klinik adalah minimal seorang dokter plus.

Klinik Kecantikan Spesialis adalah satu sarana Klinik Kecantikan yang


menyediakan jasa pelayanan tindakan medik terbatas dan tindakan medik invasif
(operatif) tanpa narkose yang dilakukan oleh seorang dokter spesialis/dokter gigi
spesialis dengan penanggung jawab klinik adalah minimal seorang dokter plus.

B. Sarana Bangunan Fisik

1. Persyaratan umum:

Klinik kecantikan harus mempunyai bangunan fisik yang permanen dan


tidak bergabung dengan tempat tinggal dengan luas sesuai jenis/katagori
sebagai berikut :

Luas ruangan Klinik Kecantikan Klinik Kecantikan


(minimal meter persegi) Spesialis
1 Ruang pendaftaran dan ruang 6 m 6 m
tunggu
2 Ruang pelayanan umum 9 m 18 m
3 Ruang tindakan 9 m 18 m
4 Ruang emergensi 9 m 9 m
5 Ruang Obat 6 m 6 m
6 Ruang Sterilisasi 4 m 4 m
7 Ruang administrasi 6 m 6 m
8 Ruang dokter 9 m 18 m
9 Utilisasi Kotor Disesuaikan Disesuaikan
10 Kamar Mandi / WC Disesuaikan Disesuaikan

2. Persyaratan khusus:

a. Ventilasi
Ventilasi dapat menjamin peredaran udara di dalam
kamar/ruangan dengan baik
Luas Ventilasi 1/3 x luas lantai ruangan
Ventilasi harus dilengkapi dengan ventilasi mekanis
(AC, kipas angin, exhause fan)
Besaran daya AC : 1 PK per 20 meter persegi

b. Pencahayaan
Intensitas cahaya yang memenuhi syarat untuk melakukan kegiatan
yang memerlukan sedikit ketelitian adalah 200 300 lux

c. Tingkat kebisingan : tidak melebihi 85 db

d. Tabung gas O2 harus tertutup, rapi dan bersih


Lokasi harus jauh dari saluran udara tegangan tinggi (kabel listrik
tegangan tinggi).

e. Dilengkapi APAR (Alat Pemadam Api Ringan) disesuaikan dengan luas


ruangan.

f. Stop kontak dan saklar dipasang minimal 125 cm dari lantai dilengkapi
tutup dan hubung pembumian < 5 ohm.

g. Kenyamanan: untuk suhu berkisar antara 18-20C dan kelembaban


berkisar antara 40 70%

h. Toilet/kamar mandi/jamban
Tersedia sarana sanitasi (toilet) yang dilengkapi tempat cuci tangan
dengan jumlah yang sesuai dan memenuhi syarat-syarat
kesehatan.
Harus selalu tersedia air bersih yang cukup dan memenuhi syarat
kesehatan, sabun cair, handuk disposable/bersih
Lantai kamar mandi/jamban kuat, permukaan rata, kedap air, tidak
licin dan mudah dibersihkan. Kemiringan yang cukup (2-3%) ke
arah saluran pembuangan air limbah.

i. Pembuangan limbah
Mempunyai sarana pembuangan air limbah yang memenuhi syarat
kesehatan (saluran penampungan air limbah/septic tank)
Limbah padat, cair, dan gas yang bersifat B3 (Bahan Beracun
berbahaya) harus di kelola sesuai dengan ketentuan yang berlaku
Limbah medik (padat dan cair) harus di kelola sesuai dengan
ketentuan yang berlaku
Limbah padat, cair dan gas tidak boleh melewati ambang batas
yang telah ditetapkan.
D. Peralatan Klinik Kecantikan

1. Peralatan medik
Peralatan medik yang dipakai di Klinik Kecantikan harus memadai,
terjamin mutu, manfaat, keselamatan dan kenyamanan serta sudah
terdaftar di Departemen Kesehatan.

Peralatan medik Klinik Klinik Kecantikan


(minimal) Kecantikan Spesialis
1 Peralatan facial
- Manual + +
- Mekanik + +
- Elektrik + +
2 Peralatan elektrik perawatan badan
- Manual + +
- Mekanik + +
- Elektrik + +
3 Alat timbang badan + +
4 Meteran
- Tinggi badan + +
- Lingkar badan + +
5 Alat Sterilisasi
- Sterilsasi basah + +
- Sterilisasi kering + +
- Autoclave +
6 Peralatan elektrik akupuntur + +
7 Meja dan lampu Operasi - +
8 Peralatan operasi - +
9 Laser / IPL - +
10 Dermabrator/Mikrodermabrator + +
11 Sedot lemak - +
12 Electric Cauter + +
13 Skin analyzer + +
14 Dental Unit
15 Panaromic rntgen -
16 Peralatan implan - +
17 Lampu Wood + +
18

2. Penggunaan dan pemeliharaan:


- Tersedianya peralatan sesuai dengan tujuan penyelenggaraan Klinik
Kecantikan
Penggunaan peralatan khusus harus dilakukan oleh tenaga yang
sudah terlatih dan bersertifikat yang dikeluarkan oleh institusi
pemerintah/organisasi profesi terkait.
Peralatan yang dipergunakan harus dijaga kebersihannya sesuai
prosedur pemeliharaan alat.
Untuk peralatan yang dapat dicuci, maka setiap habis dipergunakan
harus dicuci dengan menggunakan sabun, air bersih atau bahan
mengandung antiseptik atau desinfektan, kemudian dibilas dan
disterilkan.
Peralatan harus diperiksa keamanannya oleh tenaga pelaksana /
teknisi yang bekerja di klinik kecantikan setiap kali sebelum
penggunaan. Pemeriksaan dan pemeliharaan semua peralatan secara
menyeluruh harus dilakukan pengecekan secara periodik minimal 6
(enam) bulan.
Kalibrasi untuk instrumentasi tertentu harus dilakukan secara teratur
minimal 6 (enam) bulan sekali.

E. TENAGA PELAKSANA DI KLINIK KECANTIKAN

Jenis dan jumlah tenaga pelaksana di klinik kecantikan adalah :

Tenaga Pelaksana Klinik Kecantikan Klinik Kecantikan Spesialis


(minimal orang) Pratama Utama Pratama Utama
1 Customer service 1 1 1 1
2 Administrasi 1 1 1 2
3 Junior Beautician 1 2 2 3
4 Senior Beautician 1 1 1 2
5 Cosmetologist - 1 1 1
6 Perawat 1 1 1 2
7 Dokter (plus) 1 1 1 2
8 Dokter gigi (plus) - 1 1 1
9 Dokter spesialis - - 1 2
10 Dokter gigi spesialis - - 1 1

Tenaga medik yang ada hanya diperbolehkan melakukan tindakan medik


sesuai standar kompetensi yang dimilikinya

Penyelenggara (Kepemilikan) Klinik Kecantikan dapat dilakukan secara :


1. Perorangan
2. Badan usaha yang sah secara hukum
(Perseroan Terbatas, yayasan atau koperasi)
Setiap Klinik Kecantikan dan Klinik Kecantikan Spesialis wajib memiliki seorang
penganggung jawab teknis medik dengan latar belakang pendidikan minimal
dokter (plus).
Klinik Kecantikan harus memasang papan nama yang minimal memuat nama,
katagori/tipe dan nomor izin klinik kecantikan.
Klinik kecantikan wajib membantu program pemerintah di bidang pelayanan
kesehatan kepada masyarakat.
Iklan yang dilakukan oleh Klinik Kecantikan tidak boleh bertentangan dengan
norma yang berlaku dalam masyarakat serta peraturan perundangan yang
berlaku.
BAB III

TATA CARA PERIZINAN PENYELENGGARAAN KLINIK KECANTIKAN

Izin penyelenggaraan Klinik Kecantikan dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan


Kabupaten / Kota dengan tata cara sebagai berikut :

Izin penyelenggaraan Klinik Kecantikan baru

Pengelola Klinik kecantikan melengkapi persyaratan sbb:

1. Surat permohonan dari pemilik Klinik Kecantikan


2. Akte pendirian Klinik Kecantikan berbadan hukum / KTP (Kepemilikian
perorangan)
3. Fotokopi NPWP
4. Fotokopi Sertifikat tanah / IMB tempat.
5. Fotokopi Izin gangguan/HO dari Pemerintah Kabupaten/Kota.
6. Fotokopi Dokumen UKL/UPL yang telah disetujui (untuk Klinik Kecantikan
Spesialis)
7. Fotokopi perjanjian pemusnahan limbah medik dengan tempat yang
memiliki pengolahan limbah medik yang memenuhi syarat
8. Fotokopi surat perjanjian sewa menyewa (minimal 2 tahun)
9. Status pemilikan tanah/bangunan apabila menyewa minimal 2 tahun.
10. Surat Pengangkatan sebagai Penanggung jawab teknis medik disertai:
Fotokopi KTP setempat
Fotokopi Surat Tanda Registrasi Dokter
Fotokopi Sertifikat pendidikan ilmu kecantikan/estetik medik
11. Surat Pernyataan bersedia sebagai penanggung jawab teknis medik
12. Surat pernyataan bersedia mentaati peraturan yang berlaku
13. Daftar tarif dan jenis pelayanan
14. Daftar ketenagaan
15. Surat pernyataan dan fotokopi STR (Surat Tanda Registrasi) dan SIP
(Surat Izin Praktik) untuk Dokter / Dokter gigi / Dokter spesialis / Dokter
gigi spesialis
16. Surat pernyataan dan fotokopi Surat Izin Perawat dan Surat Izin Kerja
untuk perawat
17. Surat pernyataan dan fotokopi Surat Izin Ahli Kecantikan (Junior
Beautician, Senior Beautician, Cosmetologist)
18. Daftar Peralatan (disertai fotokopi surat terdaftar dari DEKPES RI)
19. Peta lokasi dan denah bangunan / ruangan
20. Daftar obat kosmetik yang digunakan (disertai surat daftar dari DEPKES
RI
21. Daftar obat-obatan (suntikan) dan implan
22. SOP (Standar Operation Prosedur)
23. Mempunyai Ikatan Kerjasama dengan RS Rujukan
24. Blanko Inform consent
Perpanjangan izin penyelenggaraan klinik kecantikan
1. Izin penyelenggaraan berlaku untuk masa waktu 5(lima) tahun
2. Persyaratan perpanjangan izin : sama seperti Pengurusan Izin baru
dengan melampirkan izin Penyelenggaraan yang lama.
3. Permohonan perpanjangan izin harus dilakukan selambat-lambatnya 4
(empat) bulan sebelum habis masa izin klinik kecantikan
Pergantian nama dan lokasi Klinik Kecantikan
Persyaratan sama seperti pengurusan izin baru
Pergantian nama penanggung jawab teknis medik Klinik Kecantikan
Persyaratan : Surat permohonan tentang penggantian penanggung jawab
teknis medik dengan melampirkan persyaratan sebagaimana disebut pada A.
10 dan 11 diatas.
Peningkatan atau perubahan katagori/tipe Klinik Kecantikan
Persyaratan sama seperti pengurusan izin baru

B. Tata Cara Permohonan izin Klinik Kecantikan

1. Permohonan izin Klinik Kecantikan diajukan Pimpinan Klinik Kecantikan


kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan
contoh Formulir Model KC-1;
2. Dengan menggunakan formulir KC-2 Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah
menerima permohonan (Berkas lengkap), menugaskan Tim Dinas
Kesehatan untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan
klinik kecantikan untuk melakukan kegiatan;
3. Tim Dinas Kesehatan selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah
penugasan dari Kepala Dinas Kesehatan, melaporkan hasil pemeriksaan
setempat dengan menggunakan formulir KC-3.
4. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan
hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada nomor 3, Kepala Dinas
Kesehatan mengeluarkan izin penyelenggaraan Klinik Kecantikan;
5. Dalam hal hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan dimaksud pada nomor
(3) masih belum memenuhi syarat, Kepala Dinas Kesehatan dalam waktu
12 (dua belas) hari kerja mengeluarkan surat penundaan;
6. Terhadap Surat Penundaan sebagaimana dimaksud dalam nomor (5),
Pimpinan Klinik Kecantikan diberi kesempatan untuk melengkapi
persyaratan yang belum dipenuhi setempat-lambatnya dalam jangka
waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal surat penundaan,
7. Terhadap permohonan Izin klinik Kecantikan yang ternyata tidak
memenuhi persyaratan dimaksud tersebut diatas, maka Kepala Dinas
Kesehatan dalam jangka waktu selambat-lambatnya selama 12 (dua
belas hari kerja wajib mengeluarkan Surat Penolakan disertai dengan alas
an -alasannya.

C. Sertifikasi

1. Kondisi/syarat
Memiliki sertifikat ijazah/diploma kursus yang relevan/sah dan diakui
oleh institusi pemerintah / organisasi profesi terkait.
Lulus ujian kompetensi
2. Harus selalu dibawa setiap saat atau dipasang di tempat praktik.
3. Dapat diperbaharui setiap 2 (dua) tahun sekali dengan syarat:
a. Memiliki bukti pengembangan diri baik melalui kursus, seminar, forum
diskusi, dan lain-lain, yang diselenggarakan oleh institusi pemerintah /
organisasi profesi terkait.
b. Tidak melakukan kesalahan yang melanggar Kode Etik Profesi

D. Kode Etik Profesi (ditentukan oleh Asosiasi profesi)


Bab IV

PENCATATAN DAN PELAPORAN

Kegiatan pencatatan dan pelaporan di klinik kecantikan merupakan suatu


proses untuk mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan untuk
kepentingan operasional penyelenggaraan klinik kecantikan pada umumnya.
Oleh karena itu data dan informasi yang dihasilkan harus akurat, tepat waktu,
dan dapat dipercaya.

4.1 Pencatatan

Adapun pencatatan yang diperlukan pada klinik kecantikan meliputi :

A. Rekam Medik

Rekam Medik merupakan data-data medik pasien tertulis, yang dapat


dipergunakan sebagai alat bukti yang sah menurut hukum. Oleh Karena itu
setiap pasien yang memerlukan tindakan medik kecantikan harus memiliki
rekam medik yang diisi secara singkat tetapi lengkap. Rekam Medik harus
disimpan sedemikian rupa sehingga tidak dapat dilihat atau dibaca oleh orang
yang tidak berhak, seperti oleh pasien lainnya, karena itu sebaiknya disimpan
di lemari tersendiri, tetapi mudah diambil kembali bila diperlukan.

Rekam Medik menjelaskan keterangan / informasi yang cukup, akurat dan


lengkap tentang :
1. Identitas (nama, tanggal lahir, jenis kelamin,
alamat, pekerjaan)
2. Anamnesa
3. Perjalanan penyakit
4. Hasil pemeriksaan klinis yang ditemukan
5. Hasil pemeriksaan penunjang yang dilakukan
6. Dokumentasi hasil pemeriksaan
7. Diagnosis penyakit dan rencana terapi
8. Terapi dan tindakan medik yang diberikan
serta proses pengobatan
9. Rujukan
10. Rencana tindak lanjut
11. Persetujuan tindakan medik (pada tindakan
medik yang berisiko tinggi / memerlukan biaya mahal dll. )
12. Hal-hal penting lainnya :
- Asupan pendapat dari sejawat lain second opinion bila
ada
- Tindakan yang pernah dilakukan Alergi, khususnya
terhadap obat/zat tertentu

B. Informed Consent /Persetujuan tindakan medik


Informed Consent adalah persetujuan untuk tindakan medik yang akan
dilakukan dokter terhadap pasien. Persetujuan diberikan oleh pasien setelah
yang bersangkutan mendapat penjelasan secara lengkap dari dokter yang
sekurang-kurangnya mencakup :
- Diagnosis dan tata cara tindakan medik
- Tujuan tindakan medik yang dilakukan
- Alternatif tindakan lain dan resikonya
- Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi dan
- Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan
Informed consent / Persetujuan tindakan medik dilakukan secara tertulis untuk
kasus-kasus yang memerlukan :
1. Tindakan medik yang berisiko tinggi
2. Tindakan medik invasif (operatif)
3. Memerlukan biaya mahal

Format Informed Consent : dapat dibuat oleh Organisasi Profesi

4.2. Pelaporan dan laporan bulanan

Jenis pelaporan bulanan yang harus diberikan oleh Klinik Kecantikan kepada
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang selanjutnya meneruskannya ke Dinas
Kesehatan Propinsi dan Direktorat Pelayanan Medik Dasar Dirjen Yanmed
DepKes R.I. sebagai berikut :

4.2.1. Laporan Kasus Penyakit menurut golongan umur

Golongan Umur (tahun)


No Kasus Penyakit 0-5 >5 - 15 > 15 - 40 >40 - 60 > 60

4.2.2. Laporan Kasus Penyakit menurut jenis kelamin


Jenis Kelamin
No Kasus Penyakit Laki-laki Perempuan

4.2.3. Laporan tindakan medik menurut golongan umur

Golongan Umur (tahun)


No Tindakan Medik 0-5 >5 - 15 > 15 - 40 >40 - 60 > 60

4.2.4. Laporan tindakan medik menurut jenis kelamin

Jenis Kelamin
No Jenis Tindakan Medik Laki-laki Perempuan
BAB V

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN KLINIK KECANTIKAN

A. Pembinaan

Dalam rangka terselenggaranya klinik kecantikan yang bermutu, profesional


dan pemberian perlindungan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangan yang berlaku perlu dilakukan pembinaan, baik
terhadap para pimpinan / tenaga pelaksana klinik kecantikan maupun
terhadap dokter-dokter yang memberikan kegiatan pelayanan klinik
kecantikan.

Pembinaan diarahkan untuk:


1. Meningkatkan mutu pelayanan klinik kecantikan.
2. Melindungi masyarakat atas tindakan medik yang diterimanya.
3. Memberikan kepastian hukum bagi masyarakat, dan dokter serta
pimpinan klinik kecantikan.

Pembinaan terhadap penyelenggaraan klinik kecantikan dilakukan oleh


pemerintah pusat (Departemen Kesehatan, Konsil Kedokteran Indonesia),
pemerintah daerah (Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota) dan organisasi profesi terkait sesuai dengan tugas dan
kewenangan masing-masing.

Dalam rangka pembinaan terhadap dokter yang menyelenggarakan


pelayanan medik di klinik kecantikan dapat dilakukan audit medik oleh
organisasi profesi terkait.

Cara-cara pembinaan yang diberikan dapat dalam bentuk :


1. Penyuluhan (Komunikasi Informasi dan Motivasi)
2. Penataran / Pelatihan
3. Supervisi

B. Pengawasan
Adalah kegiatan untuk memastikan dan menjamin bahwa tujuan dan kegiatan
penyelenggaraan Klinik Kecantikan akan dan telah terlaksana sesuai dengan
kebijakan, rencana, dan peraturan perundangan yang berlaku.

Pengawasan ini berguna untuk melindungi semua pihak supaya tetap


menjaga kualitas layanannya, sehingga bila terdapat ketidaksesuaian segera
dapat diketahui, dan diintervensi.
Pengawasan dilakukan terhadap tenaga pelaksana, jenis pelayanan, metode,
kemampuan keamanan peralatan (kalibrasi, bahan, bangunan dan sarana
pendukung lainnya.
Pengawasan dilaksanakan oleh pemerintah pusat (Departemen Kesehatan,
Konsil Kedokteran Indonesia), pemerintah daerah (Dinas Kesehatan Propinsi
dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota) sesuai dengan tugas dan
kewenangan masing-masing dan dapat berkoordinasi dengan organisasi
profesi terkait.
Agar pengawasan dapat berhasil guna dan berdayaguna, hasil pengawasan
harus dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk:

a.) Menghentikan dan meniadakan kesalahan, penyimpangan,


penyelewengan dan ketidaktertiban dalam penyelenggraan klinik
kecantikan.
b.) Mencegah terulangnya kembali kesalahan, penyimpangan dan
penyelewengan, serta ketidak tertiban dalam pelayanan medik di klinik
kecantikan.
c.) Mencari pemecahan dan cara yang lebih baik dalam meningkatkan
kegiatan pelayanan medik di klinik kecantikan.
d.) Perpanjangan izin penyelenggaraan Klinik Kecantikan

Penggunaan tenaga asing mengacukan pada peraturan perundangan yang


berlaku.

Dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan dapat dibentuk satu tim


khusus, yang minimal terdiri dari 2 3 unsur sebagai berikut :
1. Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan)
2. Konsil Kedokteran Indonesia
3. Pemerintah daerah ( Dinas Kesehatan Propinsi,Kabupaten/Kota)
4. Organisasi profesi terkait

Tugas dan wewenang tim pembina dan pengawas:


1. Memberikan pembinaan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan Klinik
Kecantikan
2. Memberi himbauan, teguran atau peringatan kepada tenaga medik yang
memberikan upaya pelayanan kesehatan tidak sesuai dengan standar
perizinan yang berlaku, peringatan diberikan paling banyak 3 (tiga) kali dan
bila tidak menunjukkan adanya perbaikan sikap, direkomendasikan untuk
pencabutan izin praktik
3. Merekomendasikan penundaan perpanjangan izin praktik
4. Merekomendasikan pencabutan izin praktik
5. Merekomendasikan untuk wajib mengikuti pendidikan atau pelatihan.
6. Merekomentasikan pencabutan izin penyelenggaraan Klinik Kecantikan untuk
jangka waktu tertentu (sementara) atau menetap (selamanya)

C. Sanksi adminstratif dan Sanksi Disiplin

Menteri Kesehatan, Ketua Konsil Kedokteran, kepala Dinas Kesehatan Propinsi


dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat memberikan sanksi baik
secara administratif maupun disiplin sesuai kewenangan masing-masing kepada
penyelenggara Klinik Kecantikan serta tenaga pelaksananya (tenaga medik &
non medik) yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam
pedoman ini.

Sanksi administratif dan sanksi disiplin dapat berupa :


1. Pemberian peringatan tertulis
2. Pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik
3. Pencabutan izin penyelenggaraan Klinik Kecantikan secara sementara
(untuk jangka waktu tertentu) atau menetap (selamanya)
4. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan
yang diakui pemerintah

Tata cara pemberian sanksi administrasi dan sanksi disiplin dilakukan sesuai
dengan peraturan perundangan yang berlaku dan juga dapat dilakukan setelah
mendapat rekomendasi dari organisasi profesi terkait.

D. Ketentuan Pidana

Kepada pelanggar terhadap ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini, baik


pemilik/pengelola/pelaksana dan tenaga medik & non medik, yang memenuhi
unsur pidana dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.
Bab VI

MONITORING DAN EVALUASI

Pelaksanaan penyelenggaraan Klinik Kecantikan menjamin adanya pelayanan


dengan aman, bermanfaat, bermutu dan nyaman, sesuai standar yang berlaku,
dan harus diusahakan secara terus menerus (kontinyu).

Kriteria yang dipergunakan dalam monitoring dan evaluasi adalah sebagai


berikut:

A. Adanya rencana tertulis untuk pengendalian mutu

B. Program pengendalian mutu, meliputi :


1. Pelayanan medik di klinik kecantikan terhadap prosedur yang telah
disepakati/ditetapkan
2. Kinerja seluruh tenaga pelaksana pelayanan, baik tenaga medik maupun
tenaga non medik
3. Proses dan hasil pelayanan yang menyangkut teknik pelaksanaan dan
ada tidaknya keluhan klien/pasien, adanya side effect atau gejala
sampingan, kecelakaan/cidera dan sebagainya.

C. Kegiatan pengendalian mutu meliputi hal sebagai berikut:


1. Pemantauan: pengumpulan informasi secara rutin tentang beberapa hal
yang penting dalam pelayanan klinik kecantikan
2. Pengkajian: hasil informasi yang dikumpulkan perlu dikalukan pengkajian
untuk mengidentifikasi masalah dan rencana mengatasinya.
3. Tindakan: bila ada masalah dan kemungkinan untuk dilakukan tindakan
perlu dilakukan.
4. Evaluasi: efektifitas tindakan yang telah diambil perlu dinilai untuk
dimanfaatkan dalam jangka panjang.
5. Umpan balik: hasil kegiatan di komunikasikan kepada staf secara teratur.

D. Daftar hadir dan risalah pertemuan dalam pemantauan dan evaluasi disimpan
dengan memuat secara rinci hasil pengendalian mutu.
E. Pengelola klinik kecantikan melaporkan secara periodic kegiatan nya setiap 6
bulan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, berdasarkan formulir
terlampir.