Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Makan merupakan salah satu ciri suatu makhluk hidup. Makanan yang
diperoleh suatu makhluk hidup akan dicerna oleh sistem pencernaan dan akan
menghasilkan energi. Energi merupakan kebutuhan dasar suatu organisme dalam
menjalani kehidupannya. Setiap aktivitas yang dikerjakan oleh suatu organisme
memerlukan energi, sehingga energi harus dipasok setiap saat oleh tubuh.
Bioenergetika merupakan ilmu yang mengkaji mengenai kemampuan
suatu organisme dalam mengelola sumber daya energinya (Campbell et al., 2002).
Organisme merupakan suatu sistem yang terbuka, sehingga terdapat pengaruh
energi dari lingkungan terhadap energi dari organisme tersebut. Dalam
bioenergetika terdapat dua hukum yang mendasarinya yaitu hukum
termodinamika pertama dan hukum termodinamika kedua, dimana kesimpulan
dari kedua hukum ini adalah bahwa kuantitas energi di jagat raya adalah sama
namun kualitasnya berubah-ubah (Campbell et al., 2002). Oleh karena itu, perlu
adanya kajian mengenai bioenergetika agar dalam suatu reaksi dapat diketahui
besarnya energi yang menyertai reaksi-reaksi biokimia.
ATP merupakan suatu sumber energi pada organisme yang memanfaatkan
energi phosphatenya dalam membantu organisme melakukan aktivitasnya. Selain
itu ATP berperan penting dalam pengkopelan energi yang merupakan jembatan
yang menyatukan antara reaksi eksergonik dan endergonik sehingga tercipta
hubungan yang saling melengkapi atara kedua reaksi. Perlunya pembelajaran ini
adalah untuk mengetahui besarnya energi bebas dalam suatu reaksi sehingga dapat
menentukan jenis reaksi tersebut apakah reaksi spontan atau non-spontan dan
dapat mengetahui banyak energi yang dikonsumsi atau dihasilkan dari suatu
reaksi menggunakan dia hukum dasar bioenergetika yaitu hukum Termodinamika
pertama dan kedua.

II. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk:

1
1. Mengetahui dan memahami pengertian dari bioenergetika dan prinsip yang
mendasarinya.
2. Mampu memahami perbedaan penggunaan energi pada sistem biologis dan
non biologis.
3. Memahami dan menentukan reaksi eksergonik dan reaksi endergonik.
4. Memahami peran ATP dalam pemenuhan energi organisme secara teori
dan mekanismenya.

III. Rumusan Masalah

1. Menurut pendapat anda, mengapa makhluk hidup memerlukan energi?


2. Bioenergetika diterjemahkan sebagai suatu studi tentang perubahan energi
yang menyertai reaksi biokimia dalam sel. Dalam tinjauan tersebut
dapatkah anda menjelaskan pengertian sistem dan lingkungan, serta hal-
hal lain yang berkaitan dengannya?
3. Adakah perbedaan penggunaan energi untuk sistem biologi dan non-
biologi?
4. Dalam bioenergetika ini dikenal kaidah termodinamika dalam sistem
biologis yaitu hukum pertama dan hukum kedua termodinamika. Apa yang
anda ketahui tentang kedua hukum tersebut?
5. Apa yang anda ketahui tentang besaran-besaran termodinamika baik
besaran dasar maupun besaran turunan? Dan bagaimana pula penurunan-
penurunan persamaannya? Berikan salah satu contoh perhitungan
berkaitan denga besaran-besaran tersebut.
6. Apa yang Anda ketahui tentang reaksi yang berlangsung spontan?
Bilamana itu terjadi?
7. Apa yang Anda ketahui tentang reaksi eksergonik dan endergonik?
Dapatkah Anda memberikan contoh reaksi-reaksi yang terlibat di
dalamnya?
8. Terkait dengan bacaan diatas, menurut Anda mengapa senyawa fosfat
diperlukan dalam sistem biologis?
9. Sebagai senyawa pembawa energi, fosfat digolongkan sebagai Low
Energi Phosphates (LEP) dan High Energi Phosphates (HEP), apa yang
anda ketahui tentang keduanya?
10. Dalam sistem biologis, ATP memungkinkan reaksi terjadi dengan cara
memberikan energi fosfatnya. Dapatkah anda menjelaskan mekanisme rea
ksi yang terjadi?

2
3
BAB II

JAWABAN PERTANYAAN

1. Menurut anda, mengapa makhluk hidup membutuhkan energi?


Jawab :

4
Gambar 1. Siklus Energi pada Makhluk Hidup

(Sumber: hyperphysics.phy-astr.gsu.edu)

Makhluk hidup membutuhkan energi untuk melakukan aktivitas hidupnya.


Untuk mendapatkan energi, makhluk hidup memperolehnya dari sumber energi.
Sumber energi dapat diperoleh dari makanan, dimana melalui makanan makhluk
hidup menghasilkan energi berupa panas yang berperan dalam menghangatkan
suhu tubuh. Makhluk hidup juga memperoleh energi dari cahaya matahari.
Cahaya matahari dibutuhkan untuk menghangatkan tubuh makhluk hidup dan
khusus untuk organisme autotrof, cahaya matahari dibutuhkan untuk proses
fotosintesis. Dengan bantuan energi dari sinar matahari, organisme autotrof akan
mengubah zat-zat anorganik menjadi senyawa kompleks yang merupakan sumber
makanan dan nantinya akan menjadi sumber energi bagi organisme heterotrof.

Tanpa energi, makhluk hidup tidak dapat melakukan aktivitas hidupnya


karena apabila makhluk hidup tidak memiliki energi, maka tubuh makhluk hidup
tidak akan memiliki tenaga untuk berfungsi menjalankan kegiatan sehari-hari.
Energi digunakan untuk menggerakkan otot-otot yang ada sehingga makhluk
hidup dapat bergerak. Dengan demikian, hal-hal yang dilakukan sehari-hari
seperti berjalan, menulis, duduk, dan lain sebagainya tidak akan dapat dilakukan
tanpa adanya energi yang menggerakkan otot-otot tubuh.

5
Energi juga dibutuhkan untuk mengatur sistem-sistem yang ada di dalam
tubuh makhluk hidup. Makhluk hidup tersusun atas sistem-sistem yang kompleks
yang tidak luput dari kebutuhan energi. Sistem-sistem seperti sistem pernafasan,
sistem koordinasi, sistem pencernaan, sistem peredaran darah dan lain sebagainya
memerlukan energi untuk dapat bekerja dengan baik.

Selain itu, energi pada makhluk hidup digunakan untuk menjaga suhu
tubuh karena dengan suhu tubuh yang terjaga, maka sistem-sistem yang berada
dalam tubuh makhluk hidup menjadi tidak terganggu.

2. Bioenergetika diterjemahkan sebagai suatu studi tentang perubahan energi


yang menyertai reaksi biokimia dalam sel. Dalam tinjauan tersebut,
dapatkah anda menjelaskan pengertian sistem dan lingkungan, serta hal-hal
lain yang berkaitan dengannya?
Jawab:

Gambar 2. Sistem dan Lingkungan secara Umum

(Sumber: www.splung.com)

Secara umum, sistem adalah segala sesuatu yang menjadi pusat perhatian
dalam mempelajari perubahan energi dan berubah selama proses berlangsung.
Lingkungan adalah benda-benda yang berada di luar dari sistem tersebut. Diantara
sistem dan lingkungan, terdapat dinding pembatas yang lebih dikenal dengan
batas sistem (sistem boundary).

Sistem sendiri terdiri atas berbagai macam, antara lain:

Sistem Terbuka

6
Sistem terbuka merupakan sistem yang mengakibatkan terjadinya pertukaran
energi (panas dan kerja) dan benda dengan lingkungannya. Contoh dari sistem
terbuka adalah saat kita merebus air.
Sistem Tertutup
Sistem tertutup adalah sistem yang mengakibatkan terjadinya pertukaran energi
(panas dan kerja) akan tetapi tidak terjadi pertukaran zat dengan lingkungan.
Contoh dari sistem tertutup adalah air yang dibiarkan pada gelas tertutup.
Sistem Terisolasi
Sistem terisolasi adalah sistem yang tidak mengakibatkan terjadinya pertukaran
panas, zat atau kerja dengan lingkungannya. Contoh dari sistem terisolasi adalah
air yang disimpan dalam termos.

Pada energi, terjadinya perpindahan energi pada sistem dan lingkungan


dapat digambarkan seperti berikut:

Gambar 3. Perpindahan Energi pada Sistem dan Lingkungan. a.


Perpindahan energi dari sistem ke lingkungan, dan b. Perpindahan energi
dari lingkungan ke sistem.

(Sumber: Lewis, Thinking Chemistry)

Gambar (a), bahan bakar bereaksi dengan gas oksigen di udara dan
menimbulkan panas di sekelilingnya. Pada proses ini terjadi perpindahan energi
dari sistem ke lingkungan. Pada Gambar (b), daun yang berklorofil berfungsi
sebagai sistem akan menyerap sinar matahari dan CO2 dari lingkungan, karbon
dioksida bereaksi dengan air membentuk karbohidrat dan gas oksigen dalam
proses fotosintesis. Pada proses ini terjadi perpindahan energi dari lingkungan ke
sistem. Berdasarkan ini maka sistem adalah segala sesuatu yang dipelajari

7
perubahan energinya, sedangkan lingkungan adalah segala yang berada di
sekeliling sistem. Dalam ilmu kimia, sistem adalah sejumlah zat yang bereaksi,
sedangkan lingkungan adalah segala sesuatu di luar zat-zat tersebut misalnya
tabung reaksi.

Berdasarkan arah berpindahnya kalor dalam sistem dan lingkungan, maka


reaksi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu reaksi eksoterm dan reaksi endoterm.
Dikatakan reaksi eksoterm (berasal dari kata eks (keluar) dan therm (panas))
apabila kalor berpindah dari sistem ke lingkungan, artinya sistem melepas kalor.
Adapun reaksi endoterm terjadi apabila sistem menyerap kalor atau kalor
berpindah dari lingkungan ke sistem.

a. Reaksi Eksoterm
Setiap kali selesai makan nasi, badan akan menjadi gerah karena nasi yang
dimakan akan bereaksi dengan oksigen yang dihirup dengan reaksi seperti berikut:

Persamaan termokimianya:

Energi dalam bentuk panas yang dilepas tubuh inilah yang menyebabkan
gerah. Di dalam reaksi eksoterm, panas berpindah dari sistem ke lingkungan,
karenanya panas dalam sistem berkurang sehingga DH-nya bertanda negatif.
Secara matematis, DH dirumuskan sebagai berikut: DH = DH hasil reaksi DH
pereaksi Karena hasilnya negatif, berarti DH hasil reaksi lebih rendah dari DH
pereaksi, dan digambarkan dalam diagram berikut:

8
Gambar 4. Diagram Reaksi Eksoterm. Arah panah ke bawah menunjukkan
bahwa energi semakin berkurang karena sebagian terlepas.

(sumber: Lewis, Thinking Chemistry)

b. Reaksi Endoterm
Reaksi endoterm merupakan kebalikan dari reaksi eksoterm. Dalam reaksi
ini, sistem menyerap kalor dari lingkungan sehingga harga entalpi reaksinya
bertambah besar dan DH-nya berharga positif, atau DH hasil reaksi DH pereaksi
> 0. Karena hasilnya positif, berarti DH hasil reaksi lebih tinggi dari DH reaksi,
dan digambarkan dalam diagram berikut:

Gambar 5. Diagram Reaksi Endoterm. Arah panah ke atas menunjukkan


bahwa energi semakin bertambah karena sistem menyerap panas dari
lingkungan.

(sumber: Lewis, Thinking Chemistry)

3. Adakah perbedaan penggunaan energi untuk sistem biologi dan sistem non-
biologi?

9
Jawab:

Perbedaan antara sistem biologi dan sistem non biologi dapat dicermati dalam
tabel perbandingan berikut:
Sistem Biologi Sistem Non Biologi
Energi panas sebagian besar digunakan Energi panas digunakan dalam sistem seperti
untuk mempertahankan suhu yang dalam sistem isobarik, isokhorik, adiabatic
terbentuk dalam reaksi sehingga dan isotermal
kebanyakan bersifat isotermal
Energi panas tidak dapat diubah menjadi Energi panas dapat dikonversi menjadi energi
energi mekanik dan energi listrik seperti mekanik atau energi listrik
ATP dalam reaksi biokimia yaitu
metabolisme sel
Keterangan: Energi yang digunakan adalah energi bebas
Tabel 1. Perbandingan antara Sistem Biologi dan Sistem Non Biologi dalam
Pengambilan Energi

(Sumber: Dari berbagai sumber)

4. Dalam bioenergetika ini dikenal kaidah termodinamika dalam sistem


biologis yaitu hukum pertama dan hukum kedua termodinamika. Apa yang
anda ketahui tentang kedua hukum tersebut?

Jawab :

Hukum Termodinamika merupakan salah satu cabang fisika teoritik yang


berkaitan dengan hukum pergerakan panas dan perubahan energi panas menjadi
bentuk-bentuk energi yg lain. Prinsip pertama dari hukum termodinamika adalah
hukum kekekalan energi, yang mengambil bentuk hukum kesetaraan panas dan
kerja. Sedangkan prinsip yang kedua adalah panas tidak dapat berpindah dari
benda yang lebih dingin ke benda yang lebih panas tanpa adanya perubahan
diantara kedua benda tersebut.

4.1. Hukum I Termodinamika

Hukum I Termodinamika sendiri berbunyi Energi tidak dapat diciptakan


dan dimusnahkan tetapi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Asumsi ini
menyatakan bahwa energi di dalam suatu benda dapat bertambah dengan cara

10
meningkatkan atau menambahkan kalor ke bedan dengan melakukan usaha pada
benda. Hukum pertama tidak membatasi arah perpindahan kalor yang dapat
terjadi. Berdasarkan hukum kekekalan energi maka Hukum I Termodinamika
dirumuskan:
U =Q+W

U =U 2U 1 (2)

(1)
Dimana U adalah perubahan energi dalam sistem, Q adalah jumlah kalor
yang diserap sistem, dan W adalah kerja yang dlakukan sistem. Jadi, hukum
pertama termodinamika adalah prinsip yang diterapkan pada persamaan yang
mengandung koefisien berupan kalor, usaha dan energi dalam. Penerapan Hukum
Termodinamika I sendiri pada sistem biologis berlaku dimana total energi suatu
sistem termasuk lingkungannya adalah tetap (konstan), dan energi dapat berubah
dari satu bentuk ke bentuk lain. Sebagai contoh yaitu makanan yang kita makan
berupa energi kimia yang nantinya akan dicerna dan disimpan dalam ikatan fosfat
pada molekul ATP yang nantinya akan dipecah ketika kita melakukan aktivitas
fisik misalnya saat berlari energi yang dibebaskan melalui hidrolisis ATP akan
digunakan sebagai energi untuk berlari sisanya akan dilepaskan ke lingkungan
sebagai energi panas.

4.2. Hukum II Termodinamika

Hukum II merupakan pengembangan dari Hukum I Termodinamika yang


kemudian dalam penerapannya ditemukan banyak ketidaksesuaian dengan
kenyataan. Contohnya : Kalor tidak dapat kembai dari udara ke air secara spontan
padahal menerima perlakuan yang sama, hanya diletakkan pada ruangan terbuka.
Hukum II Termodinamika dibuat berdasarkan pernyataan-pernyataan yang
mendukung Hukum I Termodinamika. Rumusan pertama dari Hukum II
Termodinamika disampaikan oleh R.J.E Clausus yaitu Tidak mungkin membuat
mesin yang bekerja dalam suatu siklus mengambil kalor dari sebuah reservoir
rendah dan memberikan pada reservoir bersuhu tinggi tanpa memerlukan usaha
dari luar. Pernyataan ini menjelaskan sifat awal kalor yang tidak dapat
melakukan perpindahan apabila suhu dari sistem yang dituju lebih tinggi

11
dibandingkan suhu sistem awal. Kemudian Gagasan lain dari Hukum II
Termodinamika berasal dari Kelvin Planck yaitu Tidak mungkin membuat mesin
dalam suatu siklus, menerima kalor dari sebuah reservoir dan mengubah
seluruhnya menjadi energi atau usaha luas . Pernyataan ini didasarkan pada
mesin-mesin yang menghasil energi tidak sebanding dengan energi masukan. Hal
ini disebabkan oleh efisiensi mesin kalor tersebut. Pada hukum II termodinamika
dibuatlah suatu besaran baru yang disebut sebagai entropi, dimana entropi
merupakan besaran yang menyatakan banyaknya energi atau kalor yang tidak
dapat diubah menjadi usaha. Ketika suatu sistem menyerap sejumlah kalor dari
reservoir meningkat, maka entropi reservoirnya akan menurun. Perubahan entropi
dapat dinyatakan sebagai berikut :

Q (3)
S=
T

Dari persamaan tersebut, dapat dinyatakan bahwa Tidak ada sebuah alat
atau mekanisme yang dapat mengkonversikan seluruh kalor yang diserap menjai
kerja yang dilakukan oleh sebuah sistem. Hubungan antara hukum II
Termodinamika dibandingkan dengan Hukum I-nya adalah transformasi energi
yang dilakukan oleh sel tidak menghasilkan efisiensi 100%. Efisiensi Termal
dapat dihitung dengan persamaan :

Output Kerja Bersih W Q


Efisiensi Termal= = =1 out (4)
Total Input Panas Q Q

5. Apa yang anda ketahui tentang besaran-besaran termodinamika baik


besaran dasar maupun besaran turunan? Dan bagaimana pula penurunan-
penurunan persamaannya? Berikan salah satu contoh perhitungan berkaitan
denga besaran-besaran tersebut.

Jawab:

5.1. Besaran dasar Termodinamika.


a. Suhu

12
Suhu digunakan sebagai parameter kesetimbangan termal dan digunakan
dalam menghitung kalor yang dipindahkan, energi dalam dan entropi. Satuan
SI untuk suhu adalah Kelvin (K).

b. Tekanan
Tekanan terbagi menjadi 2 jenis :
i. Tekanan mutlak (absolute pressure) : tekanan yang diukur mulai dari acuan
tekanan vakum sempurna, dimana tekanan vakum sempurna 0 bar absolute (
0 bar absolute ).
ii. Tekanan gauge (bar g) : tekanan yang diukur mulai dari acuan tekanan udara
luar atmosfer, dimana tekanan udara luar atmosfer dianggap nol bar (0 bar
gauge) atau yang biasa hanya ditulis bar, yang biasanya kita kenal dengan
nilai 1 atm yaitu tekanan udara atmosfer pada permukaan laut dengan suhu
25oC. Satuan yang digunakan dalam pengukuran tekanan adalah barr, atm,
dan Pa. ( N/m2 adalah satuan SI )
c. Densitas dan Volume Jenis
Densitas adalah massa bahan per satuan volume. Volume jenis adalah
volume per satuan massa. Kemudian terdapat juga besaran yang disebut
specific gravity (berat jenis) yaitu perbandingan densitas bahan dengan densitas
air murni pada suhu dan tekanan (STP). Kondisi acuan ini yang digunakan
adalah tekanan udara luar dan suhu 0oC atau 25C yang disebut suhu tekanan
normal. Satuan SI dari densitas adalah kg/m 3, sedangkan untuk volume jenis
adalah m3/kg.
d. Energi, Kerja dan Panas
Energi adalah besaran yang menunjukkan kemampuan dalam melakukan
kerja. Energi keseluruhan atau total dari suatu sistem terdiri dari gabungan
energi dalam, potensial dan kinetik. Energi kinetik dan potensial sudah umum
kita dengarkan ketika mempelajari Fisika, dimana energi kinetik adalah energi
yang dipengaruhi oleh kecepatan dan energi potensial adalah energi yang
dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Energi dalam sendiri merupakan jumlah energi
total kinetik dari molekul-molekul dan energi potensial yang timbul akibat
adanya interaksi antara atom-atom penyusun suatu benda atau mahluk hidup.
e. Entalpi
Entalpi merupakan jumlah total dari energi potensial dan kinetik. Entalpi
dapat didefinisikan sebagai jumlah energi dalam dengan perkalian terhadap
tekanan dan volume sistem, yang dapat dinyatakan dengan:

(5)
13
H=U + PV

Dimana H adalah entalpi, U adalah energi dalam, P adalah tekanan dan V


adalah volume.
f. Entropi
Entropi (S) dianggap sebagai ukuran kuantitatif dari ketidakaturan. Entropi
total suatu sistem tertutup yang terisolasi hanya bisa tetap atau bertambah,
tetapi tidak pernah berkurang. Entropi total selalu tetap jika proses terjadi
secara reversible. Besarnya perubahan Entropi dalam suatu sistem dapat
dinyatakan dengan persamaan :
dQ
dS= (6)
T

g. Energi Bebas Gibbs


Energi bebas Gibbs (G) digunakan untuk menggambarkan perubahan
energi sistem. Energi Gibbs menunjukkan perubahan entropi total dari sistem.
Persamaan energi bebas Gibbs adalah
H = U + PV (7)

G = U + PV TS = H TS (8)
G= HT S (9)

Dimana U adalah energi internal, P tekanan, V volume, T temperatur dalam


Kelvin, S entropi, dan G adalah energi bebas.

5.2 Besaran Turunan Termodinamika


a. Kapasitas Panas
Kapasitas panas atau kapasitas kalor (biasanya dilambangkan dengan
kapital C, sering dengan subskripsi) adalah besaran terukur yang menggambarkan
banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu suatu zat (benda) sebesar
jumlah tertentu (misalnya 10C).
b. Koefisien Joule-Thomson
Koefisien Joule-Thomson yaitu koefisien yang menentukan laju perubahan
temperatur T terhadap tekanan P dalam proses Joule-Thomson (proses dengan
entalpi konstan), disimbolkan dengan MJ,T. Koefisien ini dapat dinyatakan dalam

14
volume gas, kapasitas panasnya dalam tekanan konstan, serta koefisien ekspansi
termal sebagai berikut:

(10)

Koefisien ini memiliki satuan C/bar (K/Pa). Koefisien Joule-Thomson


bergantung pada jenis gas, dan pada temperatur serta tekanan gas sebelum
ekspansi.

c. Koefisien Kompresabilitas
Kompresabilitas adalah ukuran dari perubahan volume relative dari cairan
atau padat sebagai respon terhadap tekanan
1 V
=
V p
(11)
Dimana V adalah volume dan P adalah tekanan
d. Koefisien Ekspansi Isobarik
Koefisien ekspansi isobarik adalah kecendrungan materi untuk mengubah
volume dalam merespons perubahan suhu
1 V
v= ( )
V T P
(12)
Subscript p mengindikasikan temperatur konstan selama ekspansi, dan subscript v
menekankan volumetrik (tidak linier).

Contoh soal :

2000/693 mol gas helium pada suhu tetap 27C mengalami perubahan volume
dari 2,5 liter menjadi 5 liter. Jika R = 8,314 J/mol K dan ln 2 = 0,693 tentukan
usaha yang dilakukan gas helium!

Diketahui :

n = 2000/693 mol

15
V2 = 5 L

V1 = 2,5 L

T = 27C = 300 K

Usaha yang dilakukan gas :

W = nRT ln (V2 / V1)

W = (2000/693 mol) ( 8,314 J/mol K)(300 K) ln ( 5 L / 2,5 L )

W = (2000/693) (8,314) (300) (0,693) = 4988,4 joule

6. Apa yang Anda ketahui tentang reaksi yang berlangsung spontan? Bilamana
itu terjadi?
Jawab :
Proses spontan didefinisikan sebagai suatu perubahan yang dapat terjadi
tanpa bantuan dari luar. Perubahan spontan dapat dimanfaatkan untuk melakukan
kerja. Sebagai contoh, air menuruni bukit dapat digunakan untuk memutar turbin.
Sedangkan proses non spontan adalah proses yang hanya aka terjadi jika suatu
energi ditambahkan ke dalam sistem tersebut. Sebagai contoh, air dapat menaiki
bukit jika ada mesin pemompa, sebuah sel mengeluarkan energi untuk mensintesis
protein dari asam amino. Proses spontan akan membuat suatu sistem lebih stabil.
Proses spontan terjadi hanya jika proses tersebut meningkatkan ketidakteraturan
(entropi) jagat raya. Energi bebas merupakan sebuah kriteria yang diperlukan
dalam sistem biologis untuk mengukur perubahan yang terjadi di sekeliling
sistem. Energi bebas adalah bagian dari energi suatu sitem yang dapat melakukan
kerja ketika suhu didalam sistem itu benar-benar seragam. Organisme dapat hidup
hanya dengan menggunakan energi bebas yang diperoleh dari sekelilingnya.

Jumlah energi bebas suatu sstem disimbolkan dengan huruf G . Terdapat dua

komponen G: total energi sistem ( H ) da entropinya ( S ).


(13)

16
G=H TS
T adalah suhu mutlak dalam Kelvin. T memperbesar nilai

entropi.Persamaan tersebut menjelaskan bahwa tidak semua energi yang ada di


dalam sistem dapat digunakan untuk melakukan kerja, sehingga harus dikurangi
dengan energi total dengan factor entropi untuk mendapatkan jumlah energi
bebas. Sistem yang cenderung berubah secara spontan menjadi lebih stabil adalah
sistem yang memiiki energi tinggi, entropi rendah, atau keduanya. Energi bebas
suatu sistem akan berkurang pada setiap proses spontan.
Perubahan energi bebas ketika sistem bergerak dari suatu keadaan ke

keadaan yang berbeda digambarkan oleh G :


G=G akhir Gawal
(14)
atau
G= HT S

Agar proses berjalan spontan maka sistem harus membebaskan (15)


energi

(penurunan H , membebaskan keteraturan (peningkatan S , atau

keduanya. Ketika perubahan H dan S dijumlahkan maka nilai G

harus bernilai negative. Semakin besar G , maka kerja maksimum yang dapat

dilakukan oleh proses spontan semakin besar.


Terdapat hubungan antara energi bebas dan kesetimbangan termasuk
kesetimbangan kimiawi. Ketika reaksi berjalan menuju kesetimbangan, energi
bebas campuran reaktan dan produk akan menurun. Energi bebas meningkat
ketika suatu reaksi bergerak menjauhi kesetimbangan. Untuk reaksi yang berada

dalam kondisi setimbang maka nilai G=0 , karena tidak ada perubahan netto

dalam sistem itu. Suatu proses adalah spontan dan dapat melakuka kerja ketika

menuju kesetimbangan ( G benilai negative) dan proses adalah non-spontan

ketika menjauhi kesetimbangan ( G bernilai positive).

17
7. Apa yang Anda ketahui tentang reaksi eksergonik dan endergonik?
Dapatkah Anda memberikan contoh reaksi-reaksi yang terlibat di
dalamnya?
Jawab :
Dalam metabolism reaksi kimiawi dibagi menjadi dua berdasarkan
perubahan energi bebasnya, yaitu reaksi eksergonik dan reaksi endergonik. Reaksi

eksergonik berlangsung dengan mengeluarkan energi bebas, dan nilai G

negatif karena campuran kimiawi kehilangan energi, sehingga reaksi eksergonik


adalah reaksi yan terjadi secara spontan. Contohnya adalah reaksi keseluruhan
dari respirasi sel.
C6H12O6 + 6 H2O 6 CO2 + 6 H2O
G = - 686 kkal/mol (- 2870 kJ/mol)

Untuk tiap mol glukosa yang dirombak melalui respirasi dihasilkan 686
kilokalori energi yang bias digunakan untuk melakukan kerja. Karena energi harus
kekal, maka produk hasil reaksi menyimpan lebih sedikit 686 kkal energi bebas
dibanding dengan reaktan, energi ini didapatkan dengan menyerap sebagian besar
energi bebas yang terdapat di dalam gula.
Sedangkan reaksi endergonik merupaka reaksi yang menyerap energi
bebas dari sekelilingnya. Reaksi ini menyimpan energi bebas dalam molekul,

sehingga nilai G adalah positif. Reaksi seperti itu adalah reaksi non spontan,

dan besar G adalah jumlah energi yang diperlukan untuk menggerakkan

reaksi itu. Contohnya adalah reaksi fotosintesis. Dalam proses fotosintesis, untuk
dapat menghasilkan gula dari karbondioksida dan air maka diperlukan nilai

G=+ 686 kkal/mol karena pada respirasi sel memiliki G=686

kkal/mol, sehingga dilakukan penyerapan energi cahaya matahari.


Ketidaksetimbangan metabolism merupakan ciri-ciri makhluk hidup, karena

apabila G=0, maka sel tidak dapat melakukan kerja, akibatnya sel akan mati.

8. Terkait dengan bacaan diatas, menurut Anda mengapa senyawa fosfat


diperlukan dalam sistem biologis?
Jawab :

18
Transformasi energi kehidupan berlangsusng menurut dua hukum
termodinamika.
Termodinamika adalah kajian mengenai transformasi energi yang terjadi
dalam suatu kumpulan materi. Sistem dinyatakan sebagai objek yang dipelajari,
sedangkan lingkungan adalah daerah diluar sistem. Organisme termasuk ke dalam
sistem terbuka, sehingga dapat melakukan transfer dari sistem ke lingkungan
ataupun sebaliknya.
Terdapat dua hukum termodinamika yang mengatur transformasi dalam
organisme dan kumpulan materi lainnya. Hukum Termodinamika pertama
menyatakan bahwa Energi dapat ditransfer dan ditransformasi, akan tetapi
tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.
Sedangkan hukum termodinamika dua menyatakan bahwa setiap
transfer atau transformasi energi akan meningkatkan entropi jagat raya. Setiap
transfer atau transformasi energi membuat jagat raya menjadi tidak terartur.
Kuantitas ketidakteraturan atau keacakan ini yang disebut denga entropi. Semakin
acak suatu kumpulan meteri maka semakin besar entropinya. Sebagian besar
bentuk teratur energi diubah menjadi energi panas.
Kesimpulan dari dua hukum adalah bahwa kuantitas energi di jagat raya
adalah sama namun kualitasnya tidak.
Dalam proses metabolisme terdapat ribuan reaksi kimiawi yang terjadi di
dalam sel. Enzim mengarahkan aliran materi melalui jalur-jalur metabolisme
dengan cara mempercepat tiap tahapan reaksi secara selektif. Beberapa jalur
metabolismemembebaskan energi degan mengubah molekul kompleks menjadi
molekul yang lebih sederhana yang disebut katabolisme, atau sebaliknya
membutuhkan energi yang disebut anabolisme. Dimana respirasi sel merupakan
proses utama dari katabolisme, sedangkan contoh dari anabolisme adalah sintesis
protein, karena merubah molekul sederhana menjadi molekul yang lebih
kompleks. Transfer energi dari katabolisme ke anabolisme disebut dengan
pengkopelan energi (energi coupling).
Bioenergetika adalah kajian tentang bagaimana organisme megelola
sumber daya energinya. Strategi kunci dari bioenergetika adalah pengkopelan
energi, penggunaan suatu proses eksergonik untuk menggerakkan suatu proses
endergonik. Molekul ATP berperan sebagai perantara untuk sebagian besar
pengkopelan energi di dalam sel.

19
Suatu sel melakukan tiga jenis kerja utama:

a. Kerja mekanis, seperti getaran slia, kontraksi sel otot, dll


b. Kerja transport, pemompaan bahan-bahan melewati membrane melawan arah
pergerakan spontan.
c. Kerja kimiawi, pendorongan reaks endergonik yang tidak akan terjadi secara
sponta, seperti sintesis polimer dari monomer.

Untuk menggerakkan kerja seluler, maka sumber energi ATP akan segera
bekerja. ATP memiliki suatu rantai yang mempunyai tiga fosfat yang berikatan
dengan ribose. Ikatan antara gugus fosfat pada ekor ATP dapat diputuskan melalui
hidrolisis, yang merupakan reaksi eksergonik, dan menghasilkan ADP karena
suatu molekul fosfat anorganik meninggalkan ATP, sehingga struktur ADP adalah
struktur yag lebih stabil dibandingkan dengan ATP.

Pelepasan energi bebas hanya sedikit memberi panas pada air


disekelilingnnya, namun pada sel keadaan seperti ini menjadi suatu penggunaan
sumberdaya energi yang tidak efisien dan berbahaya. Dengan bantua enzim
spesifik, maka sel itu akan mampu mengkopel energi hasil hidrolisis ATP secara
langsung ke proses endergonik dengan cara mentransfer suatu gugus fosfat dari
ATP ke beberapa molekul lain. Penerima gugus fosfat kemudian disebut
terfosforilasi. Kinci pengkopelan adalah pembentuka intermediet terfosforilasi
yang lebih reaktif jika dibandingkan molekul sebelumnya. Hampir semua kerja
seluler bergantung pada pemberian energi ATP ke molekul lain melalui transfer
gugus fosfat.

Contoh pada perubahan glutamate menjadi glitamin:

20
Gambar 6. Skema perubahan glutama menjadi glutamin dengan
menggunakan ATP
(Sumber: Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G. 2002. Biologi. Jilid 1. Edisi
ke-5. Penerjemah: Rahayu Lestari. Jakarta: Erlangga.)

Pada gambar diatas menunjukkan adanya proses hidrolisis ATP yang


menghasilkan ADP dan satu atom P, kemudia atom P berikatan dengan Glutamat
untuk memberikan energi. Kemudian P menjadi perantara untuk proses
penggabungan glutaman dan amonia menjadi glutamin.

9.Sebagai senyawa pembawa energi, fosfat digolongkan sebagai Low Energi


Phosphates (LEP) dan High Energi Phosphates (HEP), apa yang anda ketahui
tentang keduanya?
Jawab :
Pada umumnya, senyawa fosfat di dalam sel dapat dibagi menjadi dua
golongan senyawa berenergi, senyawa fosfat berenergi tinggi dan senyawa fosfat
O'
berenergi rendah. Hal ini tergantung dari besarnya harga negatif G nya

O'
yang dibandingkan dengan G ATP. Senyawa fosfat berenergi tinggi seperti

gliseroil fosfat dan fosfoenolpiruvat (senyawa antara dari glikolisis)

21
O' O'
mempunyai G hidrolisis lebih negatif daripada G ATP. Sedangkan

senyawa fosfat berenergi rendah seperti glukosa 1-fosfat dan fruktosa 1-fosfat,
O'
mempunyai G hidrolisis kurang negatif daripada GO ' ATP.

Di samping itu ada satu golongan lainnya yang termasuk senyawa


berenergi tinggi dan berperan sebagai cadangan energi kimia dalam sel otot,
yaitu fosfokreatin dan fosfoarginin. Kedua senyawa fosfat berenergi tinggi ini
terbentuk langsung dengan perantaraan enzim dari ATP bila konsentrasi ATP di

dalam sel cukup besar (berlebih). Dalam hal ini meskipun GO ' hidrolisis

O'
fosfokreatin dan fosfoarginin lebih negatif daripada G ATP reaksi

berlangsung ke kanan karena terdapatnya konsentrasi ATP yang berlebih di dalam


sel. Reaksi akan berlangsung ke kiri bila proses metabolisme dalam sel
memerlukan ATP.
9.1 Fosfat Berenergi Rendah
Tidak semua fosfat mengandung molekul yang mengandung energi cukup
untuk mengendalikan reaksi. Salah satu contoh fosfat berenergi rendah yaitu
AMP. Contoh lainnya yaitu hidrolisis glukosa 6 fosfat menjadi glukosa

Gambar 7. Reaksi Glukosa 6 fosfat menjadi Glukosa


(Sumber: Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G. 2002. Biologi. Jilid 1. Edisi
ke-5. Penerjemah: Rahayu Lestari. Jakarta: Erlangga.)

O' O'
G pada reaksi ini sekitar -14 Kj/mol. G menghasilkan nilai

negatif untuk reaksi hidrolisis dibawah kondisi fisik. Bagaimanapun, nilai negatif

GO ' biasanya tidak cukup untuk mengendalikan reaksi lain. Pada

22
O'
sel,reaksinya memiliki nilai negatif pada G . Fosfat yang terdapat pada

glukosa 6 fosfat diberikan oleh ATP.

9.2 Fosfat Berenergi Tinggi


Fosfat berenergi tinggi berperan sentral dalam pengambilan dan
pemindahan energi untuk mempertahankan proses-proses kehidupan, semua
organisme harus mendapat pasokan energi bebas dari lingkungannya. Organisme
autotrofik memanfaatkan proses-proses eksergonik sederhana, misalnya energi
sinar matahari. Di lain sisi, organisme heterotrofik memperoleh energi bebas
dengan menggabungkan metabolismenya dengan penguraian molekul-molekul
organik kompleks dalam lingkungan organisme tersebut. Pada semua organisme
ini, ATP berperan sentral dalam pemindahan energi bebas dari proses eksergonik.
ATP adalah suatu nukleosida trifosfat yang mengandung adenine, ribosa, dan tiga
gugus fosfat. Dalam reaksi reaksinya di dalam sel , senyawa ini berfungsi
sebagai kompleks Mg2+. Pentingnya fosfat dalam metabolisme perantara mulai
tampak jelas dengan ditemukannya peran ATP, adenosine difosfat ( ADP) dan
fosfat anorganik ( P ) dalam glikolisis.
Fosfat berenergi tinggi diwakili oleh simbol ~p. Simbol ~p menunjukkan
bahwa gugus yang melekat ke ikatan. Pada pemindahan energi ke akseptor yang
sesuai akan menyebabkan pemindahan energi bebas dalam jumlah besar. Oleh
sebab itu , sebagian orang lebih menyukai istilah grup transfer potensial daripada
ikatan berenergi tinggi. Dengan demikian, ATP mengandung dua gugus fosfat
berenergi tinggi, dan ADP mengandung satu gugus fosfat berenergi tinggi.
Sementara fosfat dalam adenosine monofosfat (AMP) adalah tipe berenergi
rendah karena fosfat merupakan ikatan ester.

Fosfat berenergi tinggi berfungsi sebagai alat tukar energi sel. ATP mampu
berfungsi sebagai donor fosfat berenergi tinggi untuk membentuk senyawa
senyawa di bawahnya. Demikian juga dengan enzim yang sesuai, ADP dapat
menerima fosfat berenergi tinggi untuk membentuk ATP dari senyawa yang
terletak di atas ATP. Pada akhirnya siklus ATP atau ADP menghubungkan proses-
proses yang menghasilkan ~p dengan proses-proses yang menggunakan ~p yang

23
secara terus menerus menggunakan dan membentuk kembali ATP. Hal ini terjadi
dengan kecepatan yang sangat tinggi karena kompartemen ATP atau ADP total
sangat kecil dan hanya cukup untuk mempertahankan suatu jaringan aktif selama
beberapa detik.

Terdapat tiga sumber utama ~p yang ikut serta dalam konservasi energi
atau penangkapan energi. Pertama adalah fosforilasi oksidatif yaitu sumber ~p
yang secara kuantitatif terbanyak dalam pernafasan dalam orghanisme aerob.
Energi bebas berasal dari oksidasi rantai pernafasan yang menggunakan O 2
molekular di dalam mitokondria. Kedua, glikolisis yaitu pembentukan netto dua
~p berasal dari pembentukan laktat dari satu molekul glukosa yang dihasilkan
dalam dua reaksi yang masing-masing di katalisis oleh fosfogliserat kinase dan
piruvat kinase. Ketiga adalah siklus asam sitrat yaitu satu ~p dihasilkan secara
langsung dalam siklus di tahap suksinil tirokinase.

Fosfogen berfungsi sebagai bentuk simpanan fosfat berenergi tingi dan


mencakup keratin fosfat. Bila ATP dengan cepat digunakan sebagai sumber energi
untuk kontraksi otot maka fosfogen memungkinkan konsentrasi ATP tersebut
dipertahankan, tetapi jika rasio ATP/ADP tinggi, konsentrasi ATP dapat meningkat
untuk berfungsi sebagai simpanan fosfat berenergi tinggi.

Berbagai faktor struktur kimia menunjang besarnya perubahan energi


bebas hidrolisis senyawa fosfat berenergi tinggi:
1. Jumlah bentuk resonansi struktur hasil reaksi hidrolisis lebih banyak daripada
jumlah bentuk resonansi struktur pereaksi. Dalam hal ini, proses hidrolisis
mengakibatkan naiknya energi resonansi dan menurunnya energi bebas dari
reaksi karena struktur hasil reaksi mempunyai energi bebas yang lebih kecil
daripada struktur pereaksi. Sebagai contoh, gugus karboksil asetat dan struktur
fosfat anorganik (Pi) mempunyai jumlah bentuk resonansi yang lebih besar
daripada struktur asetilfosfat.
2. Proses hidrolisis mengakibatkan turunnya tolakan elektrostatik yang terjadi
dalam struktur molekul.
3. Terjadinya mekanisme tautomerisasi keto-enol pada struktur hasil reaksi, tetapi
tidak pada struktur pereaksi, yang merupakan faktor penting yang menunjang

24
besarnya perubahan energi bebas dari hidrolisis suatu senyawa berenergi tinggi
seperti fosfoenolpiruvat.
4. Hidrolisis menghasilkan senyawa hasil reaksi dengan tanda muatan yang sama
seperti pada hidrolisis ATP pada pH 7,0 menghasilkan ADP dan Pi.
5. Faktor lainnya yang berhubungan dengan perbedaan konfigurasi elektron antara
struktur hasil reaksi dan struktur pereaksi adalah adanya sifat hidratasi yang
lebih besar pada hasil reaksi dibandingkan dengan pereaksi. Misalnya pada
hidrolisis ATP, ADP dan Pi mempunyai sifat berhidratasi lebih besar dari pada
ATP sehingga reaksi berlangsung lebih besar lagi ke kanan.

10.Dalam sistem biologis, ATP memungkinkan reaksi terjadi dengan cara me


mberikan energi fosfatnya. Dapatkah anda menjelaskan mekanisme reaksi y
ang terjadi?
Jawab :
Siklus Krebs
A. Definisi Siklus Krebs
Penemu siklus krebs adalah seorang ahli biokimia terkenal, ilmuwan
Jerman-Inggris, beliau bernama Mr. Hans Krebs. Krebs mendeskripsikan
sebagian besar jalur metabolik ini pada tahun 1930-an. Krebs juga
menemukan metabolisme karbohidrat. Siklus krebs adalah satu seri reaksi
yang terjadi di dalam mitokondria yang membawa katabolisme residu asetyl,
membebaskan ekuivalen hidrogen, yang dengan oksidasi menyebabkan
pelepasan dan penangkapan ATP sebagai kebutuhan energi jaringan. Residu
asetyl tersebut dalam bentuk asetyl-KoA (CH3-CO-S-CoA, asetat aktif),
suatu ester koenzim A (KoA). Koenzim A (KoA) mengandung vitamin asam
pantotenat. Siklus krebs ini terjadi didalam mitokondria.
Siklus krebs disebut juga siklus asam sitrat. Siklus asam sitrat
(bahasa Inggris: citric acid cycle, tricarboxylic acid cycle, TCA cycle, Krebs
cycle, Szent-Gyrgyi-Krebs cycle) adalah sederetan jenjang reaksi
metabolisme pernafasan selular yang terpacu enzim. Siklus asam sitrat juga
bisa didefinisikan sebagai jalur bersama terakhir untuk oksidasi karbohidrat,
lipid, dan protein karena glukosa, asam lemak, dan sebagian besar asam

25
amino dimetabolisme menjadi asetil koenzim A (KoA) atau zat-zat pada
siklus ini.
Siklus krebs disebut siklus asam sitrat karena menggambarkan
langkah pertama dari siklus tersebut, yaitu penyatuan asetil KoA dengan asam
oksaloasetat untuk membentuk asam sitrat. Siklus ini juga berperan sentral
dalam glukoneogenesis, liogenesis, dan interkonversi asam-asam amino.
Banyak proses ini berlangsung di sebagian besar jaringan, tetapi hati adalah
satu-satunya jaringan tempat semuanya berlangsung dengan tingkat yang
signifikan. Jadi,akibat yang timbul dapat parah, contohnya jika sejumlah sel
hati rusak, seperti pada hepatitis akut atau diganti oleh jaringan ikat (seperti
pada sirosis). Beberapa defek genetik pada enzim-enzim siklus asam sitrat
yang pernah dilaporkan menyebabkan kerusakan saraf berat karena sangat
terganggunya pembentukan ATP di sistem saraf pusat.
Selain disebut dengan siklus asam sitrat, siklus krebs juga disebut
siklus asam trikarboksilat (COOH) karena hampir di awal-awal siklus
krebs, senyawanya tersusun dari asam trikarboksilat. Trikarboksilat itu
merupakan gugus asam (COOH).

Gambar 8. Siklus Krebs


(Sumber: Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G. 2002. Biologi. Jilid 1. Edisi
ke-5. Penerjemah: Rahayu Lestari. Jakarta: Erlangga.)

26
Keterangan Gambar:
Substrat siklus krebs adalah asetyl Co-A.
Asetyl Co-A akan bereaksi dengan oksalo asetat (OAA) hasilnya sitrat
Asam sitrat rumusnya beda dengan asam askorbat (vitamin C), kalau vitamin
C itu rumusnya lebih mirip glukosa. Manusia tidak bisa menghasilkan
vitamin C karena ada suatu reaksi yang terputus dimana manusia itu tidak
mempunyai enzim L-glunoluase oksidase yang mengoksidasi glukosa
menjadi vitamin C.
Dari isositrat ke -ketoglutarat membebaskan CO2 dan NADH (koenzim).
Kalau menghasilkan NADH pasti membutuhkan NAD.
NAD dalam bentuk teroksidasi
NADH dalam bentuk tereduksi
NAD merupakan derivat vitamin B3.
B1 thiamin
B2 riboflavin
B3 niasin
Koenzim yang terkait dengan ATP hanya vitamin B2 dan B3.
Kekurangan vitamin B akan mengganggu metabolisme energi.
NADH enzimnya isositrat dehidrogenase.
NADH akan masuk ke rantai respirasi melepaskan hidrogen dan
menghasilkan 3 ATP. Sedangkan FADH menghasilkan 2 ATP
Dekarboksilasi oksidasi melepaskan CO2.
Dari -keto menjadi suksinil Co-A prosesnya dekarboksilasi oksidasi.
Dari succynyl Co-A menjadi succinate langsung dihasilkan ATP.
Reaksi yang menghasilkan ATP langsung: siklus krebs, glikolisis, fosforilasi
oksidatif, dan rantai respirasi.
Lemak penghasil ATP paling banyak tapi tidak menghasilkan ATP secara
langsung. Lemak banyak menghasilkan NADH dan FADH.
Dari succinate menjadi fumarate dihasilkan FADH2, membutuhkan koenzim
FAD (derivat vitamin B2), dihasilkan 2 ATP.
Dari malate ke oxaloacetat dihasilkan NADH 3 ATP.
Total ATP untuk 1 putaran (1 asetyl Co-A) siklus krebs 12 ATP.
Glikolisis 2 asetyl Co-A

27
Lemak 8 asetyl Co.A
1 mol glukosa 2 kali putaran
1 mol lemak 8 kali putaran
Karbohidrat disimpan di dalam becak-bercak sitoplasma di dalam hepar.
Hepar dapat bertahan menyimpan glikogen 0,5 gram
Dalam setiap siklus:
1 gugus asetil ( molekul 2C) masuk dan keluar sebagai 2 molekul CO2
Dalam setiap siklus : OAA digunakan untuk membentuk sitrat setelah
mengalami reaksi yang panjang kembali diperoleh OAA
Terdiri dari 8 reaksi : 4 mrpkn oksidasi dimana energi digunakan utk
mereduksi NAD dan FAD
Dihasilkan: 2 ATP, 8 NADH, 2 FADH2
Tidak diperlukan O2 pada TCA, tetapi digunakan pada Fosforilasi oksidatif
untuk memberi pasokan NAD, shg piruvat dapat di ubah menjadi Asetil
Co A.

BAB III
PENUTUP

I. Kesimpulan
1 Energi digunakan untuk menggerakkan otot-otot yang ada sehingga makhluk
hidup dapat bergerak. Energi juga dibutuhkan untuk mengatur sistem-sistem
yang ada di dalam tubuh makhluk hidup. Selain itu, energi pada makhluk
hidup digunakan untuk menjaga suhu tubuh karena dengan suhu tubuh yang
terjaga, maka sistem-sistem yang berada dalam tubuh makhluk hidup menjadi
tidak terganggu.
2 Sistem adalah segala sesuatu yang menjadi pusat perhatian dalam mempelajari
perubahan energi dan berubah selama proses berlangsung. Lingkungan adalah
benda-benda yang berada di luar dari sistem tersebut. Diantara sistem dan
lingkungan, terdapat dinding pembatas yang lebih dikenal dengan batas sistem
(sistem boundary).

28
3 Sistem terbuka merupakan sistem yang mengakibatkan terjadinya pertukaran
energi (panas dan kerja) dan benda dengan lingkungannya. Contoh dari sistem
terbuka adalah saat kita merebus air. Sistem tertutup adalah sistem yang
mengakibatkan terjadinya pertukaran energi (panas dan kerja) akan tetapi
tidak terjadi pertukaran zat dengan lingkungan. Contoh dari sistem tertutup
adalah air yang dibiarkan pada gelas tertutup.
4 Hukum Termodinamika merupakan salah satu cabang fisika teoritik yang
berkaitan dengan hukum pergerakan panas dan perubahan energi panas
menjadi bentuk-bentuk energi yg lain. Prinsip pertama dari hukum
termodinamika adalah hukum kekekalan energi, yang mengambil bentuk
hukum kesetaraan panas dan kerja. Sedangkan prinsip yang kedua adalah
panas tidak dapat berpindah dari benda yang lebih dingin ke benda yang lebih
panas tanpa adanya perubahan diantara kedua benda tersebut.
5 Besaran dasar termodinamika yaitu suhu, tekanan, densitas dan volume jenis,
energi, kerja, panas, entalpi, entropi, dan energi bebas gibbs.
6 Energi bebas merupakan sebuah kriteria yang diperlukan dalam sistem
biologis untuk mengukur perubahan yang terjadi di sekeliling sistem. Energi
bebas adalah bagian dari energi suatu sitem yang dapat melakukan kerja ketika
suhu didalam sistem itu benar-benar seragam.
7 Bioenergetika adalah kajian tentang bagaimana organisme megelola sumber
daya energinya. Strategi kunci dari bioenergetika adalah pengkopelan energi,
penggunaan suatu proses eksergonik untuk menggerakkan suatu proses
endergonik. Molekul ATP berperan sebagai perantara untuk sebagian besar
pengkopelan energi di dalam sel.
8 Senyawa fosfat di dalam sel dapat dibagi menjadi dua golongan senyawa
berenergi, senyawa fosfat berenergi tinggi dan senyawa fosfat berenergi
rendah. Senyawa fosfat berenergi tinggi seperti gliseroil fosfat dan
O'
fosfoenolpiruvat (senyawa antara dari glikolisis) mempunyai G hidro-

O'
lisis lebih negatif daripada G ATP. Senyawa fosfat berenergi rendah

seperti glukosa 1-fosfat dan fruktosa 1-fosfat, mempunyai GO ' hidrolisis

kurang negatif daripada GO ' ATP.

29
9 Siklus krebs adalah satu seri reaksi yang terjadi di dalam mitokondria yang
membawa katabolisme residu asetyl, membebaskan ekuivalen hidrogen, yang
dengan oksidasi menyebabkan pelepasan dan penangkapan ATP sebagai
kebutuhan energi jaringan.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G. 2002. Biologi. Jilid 1. Edisi ke-5.
Penerjemah: Rahayu Lestari. Jakarta: Erlangga.

Conn, E.E. 1987. Outlines of Biochemistry. New York USA: John Wiley & Sons.

Girindra, A. 1986. Biokimia. Jakarta: Gramedia

Kusnawidjaja, Karunia. 1987. Biokimia. Bandung: Alumni

Lehninger, A.L. 1982. Biochemistry. New york: Worth Publisher Inc.

Linder, Maria C. 2006. Biokimia Nutrisi Dan Metabolisme. Jakarta: UI-Press.

Robert I. Dryer dkk. 1993. Biokimia. Yogyakarta: UGM-Press.

30
31