Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN KASUS UJIAN

SEORANG ANAK 13 TAHUN DENGAN DEMAM TYPOID DAN


STATUS GIZI BAIK

Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Anak

Pembimbing :

Dr. dr. Moedrik Tamam, Sp.A (K)

Disusun oleh :
Mualimatul Kurniyawati
01.211.6451

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG

2016

0
LATAR BELAKANG
Demam tifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh Samonella typhi atau
Salmonella paratyphi. Tanda klinis klasik yang muncul pada penderita berupa demam,
malaise, nyeri perut, dan konstipasi. Demam tifoid yang tidak segera ditangani akan
memberat dan mengakibatkan delirium, perdarahan intestinal, perforasi usus, dan
kematian dalam jangka waktu 1 bulan.
Penularan terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi kuman S.
typhi dari tinja dan urine penderita atau carier. Di beberapa negara pencemaran terjadi
karena mengkonsumsi kerang-kerangan yang berasal dari air yang tercemar, buah-
buahan dan sayur-sayuran mentah yang dipupuk dengan kotoran manusia. Lalat dapat
juga berperan sebagai perantara penularan memindahkan mikroorganisme dari tinja ke
makanan. Di dalam makanan mikrorganisme berkembang biak memperbanyak diri
mencapai dosis infektif.
Demam Tifoid tersebar merata di seluruh dunia. Insidensi penyakit Tifoid
menurut WHO mencapai 17 juta orang dengan jumlah kematian sebanyak 600.000
orang setahun dan 70 % kematian terjadi di benua Asia.(3) Angka kematian Demam
Tifoid menurut WHO mencapai 10 20 %, sebelum ditemukan antibiotik yang tepat,
tetapi setelah ditemukan antibiotik yang tepat angka kematian berkurang sampai 1 %.
Pada penderita Demam Tifoid yang berat, S. typhi menyerang usus, yang selanjutnya
juga akan menyerang organ lain yang menyebabkan adanya komplikasi pada organ lain
seperti hati, limpa atau kantung empedu.
Penegakan diagnosis Demam Tifoid dilakukan dengan menggunakan
pemeriksaan laboratorium. Adapun metoda pemeriksaan yang dilakukan antara lain
pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan serologis dan metoda biakan kuman.
Penanganan yang tepat dan komprehensif akan dapat memberikan kesembuhan
terhadap pasien. Tidak hanya dengan pemberian antibiotika, namun perlu juga asuhan
keperawatan yang baik dan benar serta pengaturan diet yang tepat agar dapat
mempercepat proses penyembuhan pasien dengan Demam Tifoid.

1
I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : An. A
Umur : 13 tahun
Berat Badan : 46 kg
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Sumberejo Tembalang, Semarang
Bangsal : Bima (RSUD Kota Semarang)
Masuk RS : 1 Desember 2016

Nama Ayah : Tn. A


Umur : 37 tahun
Pekerjaan : Karyawan swasta
Pendidikan : SMA

Nama Ibu : Ny. N


Umur : 34 tahun
Pekerjaan : Karyawan swasta
Pendidikan : SMA

II. DATA DASAR


I. Anamnesis ( Alloanamnesis )
Autoanamnesis dan alloanamnesis dengan pasien dan dengan ibu pasien
dilakukan pada tanggal 4 Desember 2016 pukul 10.00 WIB di Bangsal BIMA
(RSUD Kota Semarang) dan didukung dengan catatan medis.

a. Keluhan Utama : Demam


b. Riwayat Penyakit Sekarang
Sebelum masuk rumah sakit :
- 7 hari SMRS ibu pasien mengatakan pasien demam, demam naik
turun. Demam dirasakan lebih tinggi pada saat malam hari kemudian
mulai turun pada pagi hari meskipun tidak sampai suhu normal. Saat
demam muncul pasien tidak mengigau, tidak didahului dengan

2
mengggigil. Pasien tampak lemah dan mengeluh pusing. Pasien
mengatakan setiap kali makan merasa mual tapi tidak sampai muntah.
Tidak ada riwayat kontak dengan orang dewasa yang mengalami batuk
lama, batuk darah atau mendapatkan pengobatan batuk selama 6 bulan.
Tidak ada riwayat batuk lama. Pasien dan anggota keluarga lainnya
tidak berasal dari daerah endemis malaria dan tidak pernah bepergian
ke daerah endemis malaria. Pasien tinggal di lingkungan rumah yang
bersih, tidak ada tikus, tidak pernah banjir. BAB seperti biasa sekali
sehari, warna kekuningan, konsistensi lunak, tidak ada lendir dan
darah. BAK lancar seperti biasa dan tidak ada keluhan nyeri saat
BAK. Pasien mengaku sering jajan sembarangan, tidak mencuci tangan
sebelum makan. Riwayat imunisasi dasar, ibu hanya mengingat sesuai
jadwal puskesmas. Riwayat imunisasi tifoid tidak dilakukan karena ibu
pasien tidak mengetahuinya.
- 3 hari SMRS ibu pasien mengatakan pasien masih demam naik turun,
tampak lemah, nyeri disekitar pusar, dan nafsu makan menurun. Oleh
ibunya, pasien diperiksakan ke klinik 24 jam dan diberi obat. Pasien
minum obat dan demamnya sempat turun namun naik kembali. BAB
dan BAK tidak ada keluhan
- 1 hari SMRS ibu pasien mengatakan pasien masih demam naik turun,
demam lebih tinggi, masih ada keluhan nyeri perut, tampak lemah,
nafsu makan menurun dan mual muntah setiap makan minum. Pasien
mengeluh belum BAB selama 1 hari, tidak ada keluhan BAK. Sesuai
anjuran dokter di klinik, ibu membawa anak ke IGD RSUD Kota
Semarang.

c. Riwayat Penyakit Dahulu :


- Riwayat keluhan serupa sebelumnya disangkal
- Riwayat di rawat di rumah sakit disangkal
- Riwayat sering jajan sembarangan dan tidak cuci tangan.
- Riwayat pasien dan anggota keluarga berkunjung ke daerah endemis
malaria disangkal.
- Riwayat anak nyeri saat kencing disangkal.

3
- Riwayat batuk lebih dari 3 minggu disangkal, riwayat demam lebih dari 2
minggu disangkal, riwayat berat badan tidak naik-naik atau turun
disangkal, riwayat kontak dengan penderita TBC disangkal.
- Riwayat alergi disangkal.

d. Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita


Morbili : (-) Diare : (+)
Pertusis : (-) Disentri basiler : (-)
Varisela : (-) Disentri amuba : (-)
Difteri : (-) Demam tifoid : (-)
Malaria : (-) Kecacingan : (-)
Tetanus : (-) Operasi : (-)
Fraktur : (-) Faringitis/tonsilitis : (-)
Pneumonia : (-) Tuberkulosis : (-)
Bronkitis : (-) Alergi obat/makanan : (-)
Kejang : (-) Hepatitis : (-)
Batuk dan pilek : (+) Demam berdarah : (-)

e. Riwayat Penyakit Keluarga :


- Keluarga pasien tidak memiliki keluhan yang sama
- Keluhan serupa pada teman sekolah dan tetangga pasien disangkal

f. Riwayat Sosial Ekonomi & Lingkunga:

Pasien tinggal bersama kedua orang tua dan adiknya. Pasien anak pertama dari
2 bersaudara. Adik pasien berusia 8 tahun. Ayah bekerja sebagai karyawan
swasta dan Ibu juga sebagai katyawan swasta, penghasilan rata-rata Ayah dan
Ibu sesuai UMR. Menanggung 2 orang anak yang belum mandiri. Biaya
pengobatan dengan BPJS non PBI
Kesan : Tingkat sosial ekonomi cukup.

Lingkungan

4
Kepemilikan rumah : rumah sendiri
Keadaan rumah : Luas rumah yang dihuni pasien dan keluarganya 180
m2. Di huni oleh 4 orang ( Ayah, Ibu, Pasien dan Adik). Rumah dengan 3
kamar tidur, 1 ruang tamu dan 1 kamar mandi di dalam rumah terletak di
dekat dapur. Dinding rumah dari tembok, berlantaikan keramik beratapkan
genteng. Rumah saling berdampingan dengan tetangga lainnya. Terdapat
tempat sampah terbuka di depan rumah yang banyak lalat. Ibu pasien jarang
menggunakan tudung saji untuk menutupi makanan di meja makan. Air untuk
minum berasal dari air galon dan air untuk keperluan sehari-hari berasal dari
PAM

g. Riwayat Persalinan dan Kehamilan :


Anak laki-laki lahir dari ibu P2A0, hamil 38 minggu, lahir spontan di
rumah sakit, langsung menangis, berat badan lahir 2800 gram, panjang badan
saat lahir 49 cm, lingkar kepala dan lingkar dada saat lahir ibu tidak ingat,
tidak ada kelainan bawaan.
Kesan : neonatus aterm, lahir spontan per vaginam, vigorous baby

h. Riwayat Pemeliharaan Prenatal :


Ibu memeriksakan kandungannya secara teratur ke puskesmas terdekat.
Mulai saat mengetahui kehamilan hingga usia kehamilan 9 bulan pemeriksaan
dilakukan 1x/bulan. Selama hamil ibu telah mendapat suntikan TT. Ibu
mengaku tidak pernah menderita penyakit selama kehamilan. Riwayat
perdarahan dan trauma saat hamil disangkal. Riwayat minum obat tanpa resep
dokter ataupun minum jamu disangkal. Obatobat yang diminum selama
kehamilan adalah vitamin dan tablet penambah darah
Kesan : riwayat pemeliharaan prenatal baik

i. Riwayat Pemeliharaan Postnatal :


Pemeliharaan postnatal dilakukan di bidan dan anak dalam keadaan sehat.
Kesan : riwayat pemeliharaan postnatal baik

j. Riwayat Perkembangan dan Pertumbuhan Anak :


Pertumbuhan :

5
Berat badan lahir 2800 gram. Berat badan sekarang 46 kg, tinggi badan
sekarang 150 cm.
Perkembangan :
- Senyum : Ibu tidak ingat
- Miring : Ibu tidak ingat
- Tengkurap : Ibu tidak ingat
- Duduk : Ibu tidak ingat
- Berdiri : Ibu tidak ingat
- Berjalan : 16 bulan
- Berbicara 1 kata : 12 bulan
- Menyusun kalimat : 2 tahun
Saat ini anak berusia 13 tahun, pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai
dengan teman seumuran. Tidak ada keterlambatan perkembangan. Interaksi
anak dengan teman-teman baik.
Kesan : pertumbuhan dan perkembangan sesuai umur.

k. Riwayat Makan dan Minum Anak


ASI diberikan dari lahir sampai sekarang.
- 0-4 bulan
Anak mendapatkan ASI ( 2 jam sekali)
- 4 bulan - sekarang
ASI semau anak, 6 8 kali dalam sehari
Susu formula SGM 2 dengan frekuensi 3-4x sehari
Usia 6-8 bulan : Bubur susu serelac rasa kacang hijau dan beras
merah 2x sehari sejak usia 6 bulan @ mangkok kecil habis
dimakan.
Usia 9 bulan sekarang: Nasi tim, wortel, kentang, bayam,
brokoli, telur 1 diberikan 2x seharipagi dan sore @ 1/2
mangkok kecil habis dimakan.

Kesan: ASI tidak eksklusif, kualitas dan kuantitas makanan dan minuman
cukup

l. Riwayat Imunisasi :
BCG : Tidak ingat, scar (+)

6
DPT : Tidak ingat
Polio : Tidak ingat
Hepatitis B : Tidak ingat
Campak : 1x (9 bulan)
Tifoid : Tidak dilakukan
Kesan : Imunisasi dasar kurang jelas

m. Riwayat Keluarga Berencana :


Ibu menggunakan pil KB 1 bulan

n. Pemeriksaan Status Gizi


Anak laki-laki usia 13 tahun
Berat badan 46 kg
Tinggi badan 150 cm
Pemeriksaan status gizi (Z score) :
IMT = Berat Badan (Kg) = 46 = 20,4

(Tinggi Badan (m))2 (1,5)2


HAZ = TB - Median = 150 156 = - 0,8 SD (normal)
SD 156 - 148,6
WHZ = BB - Median = 20,4 18,2 = - 0,8 SD (normal)
SD 20,8- 18,2
Kesan : status gizi baik

7
Kesan: Tinggi normal

Kesan: Status gizi baik

8
II. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 4 Desember 2016 pukul 10.00 WIB. Anak laki-
laki usia 13 tahun, berat badan 46 kg, tinggi badan 150 cm.
1. Keadaan Umum : composmentis, lemah, tampak sakit ringan.
2. Tanda vital :
- Nadi : 113 x/ menit, reguler, isi dan tegangan cukup, equal
kanan kiri.
- Laju nafas : 24x/ menit
- Suhu : 37,8 C ( aksila )
3. Status Internus
a. Kepala : Normocephale, rambut hitam dan distribusi merata
b. Kulit : Tidak sianosis, turgor kembali cepat <2 detik, petechie (-)
c. Mata : Pupil bulat, isokor, sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-)
d. Hidung : Tidak ada deformitas, sekret (-/-)
e. Telinga : Bentuk normal, serumen (-/-), discharge (-/-), nyeri (-/-)
f. Mulut : Bibir kering (+), lidah kotor di tengah (+), tepi lidah hiperemis (+),
lidah tremor (-)
g. Tenggorok : tonsil ukuran T1-T1, permukaan rata, kripte tonsil tidak melebar,
tonsil hiperemis (-), faring hiperemis (-)
h. Leher : simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe
i. Thorax
Paru
- Inspeksi : Hemithoraks dextra et sinistra simetris dalam keadaan statis
maupun dinamis, retraksi suprasternal, intercostal dan
epigastrial (-).
- Palpasi : stem fremitus dextra et sinistra simetris
- Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
- Auskultasi : suara dasar : vesikuler
suara tambahan : ronki (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
- Inspeksi: Ictus cordis tampak
- Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V, 2 cm medial linea mid clavicula
sinistra, tidak melebar,tidak kuat angkat

9
- Perkusi batas jantung :
atas : ICS II linea parasternalis sinistra
pinggang : ICS III linea parasternalis sinistra
kanan bawah : ICS V linea sternalis dextra
kiri bawah : ICS V, 2 cm medial linea mid claviculasinistra
- Auskultasi :BJ I-IInormal, murmur (-), gallop (-), bising (-)
j. Abdomen :
- Inspeksi : datar
- Auskultasi : BU (+) normal
- Perkusi : timpani (+)
- Palpasi : supel, defense muscular (-), nyeri tekan pada regio epigastrium,
hepar dan lien dalam batas normal
k. Genitalia : Laki-laki
l. Ekstremitas :

Superior Inferior
Akral Dingin -/- -/-
Akral Sianosis -/- -/-
Udem -/- -/-
Petechie -/- -/-
Capillary Refill Time <2" <2"

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tanggal pemeriksaan 1 /12 /2016 2 /12 /2016 3 /12 /2016 4 /12 /2016

Laboratorum Darah

Hb 12,7 11,4 12,7 11,4

Ht 37,30 (L) 33,90 (L) 36,60 33,0

Trombosit 208.000 164.000 178.000 221.000

Leukosit 8.100 5000 8.700 6.900

Widal

S Typhi O (+) 1/160

S Typhi H (+) 1/80

Salmonella Typoid

10
Ig M (+) 5

Ig G

IV. RESUME
Telah diperiksa seorang anak laki-laki usia 13 tahun, BB 46 kg, TB 150 cm
dengan keluhan demam naik turun sejak 7 hari SMRS. Demam dirasakan lebih tinggi
pada saat malam hari kemudian turun pada pagi hari tapi tidak sampai normal. Ibu
mengatakan pasien tampak lemas. Pasien juga mengeluhkan pusing dan terdapat nyeri
perut di sekitar pusar. 1 hari SMRS ibu pasien mengatakan pasien masih demam naik
turun, tampak lemah, nyeri perut disekitar pusar, terdapat mual, dan nafsu makan
menurun. Pasien belum BAB 1 hari, tidak ada keluhan BAK. Riwayat sering jajan
sembarangan diakui.

Hasil Pemeriksaan Fisik


- Keadaan Umum : composmentis, lemah, tampak sakit ringan, gizi baik
- Tanda vital :
Nadi : 113 x/ menit, reguler, isi dan tegangan cukup, equal
kanan kiri
Laju nafas : 20x/ menit
Suhu : 37,8 C ( aksila )
- Status Internus
Mulut : lidah kotor di tengah, tepi hiperemis.
Abdomen : nyeri tekan epigastrium

Hasil Pemeriksaan Penunjang


Widal : S. typhi O 1/160
: S. typhi H 1/80
Serologi Salmonella Typoid : IgM (+) 5
V. DAFTAR MASALAH
a. Masalah Aktif : masalah diagnosis dengan adanya demam 7 hari, lebih tinggi
pada saat malam hari kemudian turun pada pagi hari tapi tidak sampai normal, lemas,
pusing, nyeri perut di sekitar pusar dan belum BAB 1 hari. Dari pemeriksan fisik
didapatkan lidah kotor di tengah, tepi hiperemis, abdomen nyeri tekan epigastrium.

11
Hasil pemeriksaan darah rutin didapatkan hematokrit rendah, pemeriksaan widal S.
typhi O 1/160, S. typhi H 1/80, serta Serologi Salmonella Typoid IgM (+) 5, sehingga
masalah akti harus segera dicegah agar tidak terjadi komplikasi.
b. Masalah Pasif : Pasien sering jajan sembarangan, tidak ada kebiasaan cuci
tangan sebelum makan, adanya tempat sampah terbuka di depan rumah yang banyak
lalat, ibu pasien jarang menggunakan tudung saji pada makanan di atas meja.

VI. DIAGNOSIS BANDING


Observasi febris 7 hari :
1. Demam tifoid
2. ISK
3. TBC
4. Leptospirosis
5. Malaria
Status gizi baik

VII. DIAGNOSIS SEMENTARA


1. Demam tifoid
2. Status gizi baik
VIII. DIAGNOSIS KERJA
o Diagnosis Utama : Demam Tipoid
o Diagnosis Etiologi : Bakteri
o Diagnosis Komorbid :-
o Diagnosis Komplikasi :-
o Diagnosis Gizi : Gizi baik
o Diagnosis Sosial Ekonomi : Cukup
o Diagnosis Imunisasi : Imunisasi Dasar Kurang Jelas
o Diagnosis Pertumbuhan : Garis pertumbuhan tidak dapat dinilai
o Diagnosis Perkembangan : Sesuai umur
IX. TERAPI
a. Medikamentosa
1. Antipiretik
o Paracetamol syr 3 x 500 (jika demam)
2. Antibiotik
o Inj. Klomramfenikol 4 x 500 mg

12
3. Infus KAEN 3B 24 tpm

b. Non-medikamentosa
1. Istirahat dan perawatan : tirah baring dan perawatan profesional bertujuan
untuk pencegahan komplikasi. Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di
tempat seperti makan, minum, mandi, buang air kecil, dan buang air besar akan
membantu dan mempercepat masa penyembuhan. Dan sangat perlu sekali di
jaga kebersihannya.
2. Diet dan terapi penunjang : diet merupakan hal yang cukup penting dalam
proses penyembuhan penyakit demam tifoid, karena makanan yang kurang
dapat mempengarui kondisi pasien demam tifoid, di masa lampau penderita
demam tifoid hanya diberi bubur saring, kemudian ditingkatkan menjadi bubur
kasar dan akhir nya di berikan nasi. Pemberian bubur saring bertujuan untuk
menghindari komplikasi perdarahan saluran cerna atau perforasi usus.

X. USULAN
- Cek widal ulang
- Hitung jenis leukosit

XI. EDUKASI
1. Tirah baring dan istirahat cukup.
2. Minum obat teratur
3. Menjaga higiene personal, keluarga dan sanitasi lingkungan termasuk cuci tangan
sebelum dan sesudah makan, memotong kuku, setelah BAB dan BAK.
4. Makan makanan rendah serat,lunak (bubur), lalu berangsur-angsur pindah ke
makanan biasa (nasi) atau boleh makan nasi tetapi dikunyah lembut.
5. Mengurangi jajan sembarangan.
6. Menjelaskan kepada keluarga mengenai perjalanan penyakit dan komplikasi yang
bisa terjadi.

XII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad sanationam : ad bonam

13
PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF DAN HOLISTIK

Sesuai dengan prinsip pengelolaan pasien secara komprehensif dan holistik, maka
pada pasien tidak hanya diperhatikan dari segi kuratifnya saja, tetapi juga meliputi upaya
promotif, preventif, rehabilitatif, dan psikososial. Upaya promotif dan preventif dilakukan

14
agar anak tidak sakit kembali, sedang upaya kuratif dan rehabilitatif dilakukan agar anak
sembuh dan tidak cacat atau kembali pada lingkungannya semula dengan memperhatikan
faktor psikososial anak.

1. Preventif

Adalah usaha-usaha untuk mencegah timbulnya suatu penyakit dan mencegah


terjangkitnya penyakit tersebut. Ada tiga tingkat upaya pencegahan yang dapat
dilakukan yaitu pencegahan primer, sekunder dan tertier. Pencegahan primer
merupakan tingkat pencegahan awal untuk menghindari atau mengatasi faktor risiko.
Pencegahan sekunder untuk deteksi dini penyakit sebelum penyakit menimbulkan
gejala yang khas. Pencegahan tertier dengan melakukan tindakan klinis untuk
mencegah kerusakan lebih lanjut atau mengurangi komplikasi setelah penyakit tersebut
diketahui.

Terdapat beberapa upaya preventif yang perlu diedukasikan kepada orangtua


mengenai Tifoid. Pencegahan primer dapat ditujukan pada faktor penyebab,
lingkungan, dan faktor pejamu. Untuk faktor penyebab dilakukan berbagai upaya agar
mikroorganisme penyebab tifoid dihilangkan. Peningkatan air bersih dan sanitasi
lingkungan ,perbaikan lingkungan biologis dilakukan untuk memodifikasi lingkungan.
Untuk meningkatkan daya tahan tubuh dari pejamu maka dapat dilakukan peningkatan
status gizi dan pemberian imunisasi.

a. Pencegahan primer pada tifoid antara lain :

A. Pengaruh Makanan dan Minuman terhadap penyakit tifoid


Makanan dapat terkontaminasi mikroba karena beberapa hal:
- Mengelola makanan atau makan dengan tangan kotor
- Memasak sambil bermain dengan hewan peliharaan
- Menggunakan lap kotor untuk membersihkan meja, perabotan bersih dan lain-
lainnya
- Dapur, alat masak dan makan kotor
- Makan yang jatuh ketanah masih dimakan
- Makanan disimpan tanpa tutup sehingga serangga dan tikus dapat
menjangkaunya
- Makanan matang dan mentah disimpan bersama-sama

15
- Makanan dicuci dengan air kotor
- Makanan terkontaminasi dengan kotoran hewan yang berkeliaran disekitarnya
- Sayuran dan buah ditanam ditanah yang terkontaminasi
- Memakan sayur dan buah-buah yang terkontaminasi
- Pengolah makanan yang sakit atau carier
Pencegahan penyakit bawaan makanan:
- Pemilihan bahan baku yang sehat, tidak bususk dan warna yang segar
- Penyimpanan bahan baku jangan sampe terkena serangga, tikus atau jangan
sampai membususk
- Pengolahan makanan yang higenis serta prosesnya dapat mematikan penyebab
penyakit, peralatan masak harus bersih
- Pengelola makanan bukan carier penyakit dan tidak sakit
- Penyajian makanan tidak terkena lalat, debu, dan udara kotor, peralatan yang
higenis
- Penyajian makanan harus mendapat keterangan sehat
- Penyimpanan makanan matang jangan sampai terkontaminasi dan membusuk
B. Pengaruh penyediaan air minum terhadap penyakit tifoid
- Air sebagai penyebar mikroba patogen
- Air sebagai sarang infeksi penyebar penyakit
- Jumlah air bersih yang tersedia tidak mencukupi
- Air sebagai sarang hospes sementara penyakit
C. Pengaruh sampah terhadap penyakit tifoid
- Sampah yang dapat membususk seperti: sisa makanan, daun, sampah kebun
dan pertanian
- Sampah yang berupa debu atau abu
- Sampah yang berbahaya terhadap kesehatan seperti berasal dari industry yang
mengandung zat kimia maupun zat fisis yang berbahaya
D. Imunisasi tifoid
Vaksin polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux. Vaksin diberikan secara
intramuscular dan booster setiap 3 tahun. Kontraindikasi pada hipersensitif, hamil,
menyusui, sedang demam dan anak umur 2 tahun. Indikasi vaksinasi adalah bila
hendak mengunjungi daerah endemik, orang yang terpapar dengan penderita
karier tifoid dan petugas laboratorium/mikrobiologi kesehatan.

16
b. Pencegahan sekunder dapat berupa :

Penemuan penderita maupun carrier secara dini melalui peningkatan usaha


surveilans demam tifoid.

Perawatan umum dan nutrisi

Anak demam tifoid, dengan gambaran klinis jelas sebaiknya dirawat di rumah
sakit atau sarana kesehatan lain yang ada fasilitas perawatan. Penderita yang
dirawat harus tirah baring dengan sempurna untuk mencegah komplikasi,
terutama perdarahan dan perforasi. Bila klinis berat, penderita harus istirahat
total. Bila penyakit membaik, maka dilakukan mobilisasi secara bertahap,
sesuai dengan pulihnya kekuatan penderita. Nutrisi pada penderita demam
tifoid dengan pemberian cairan dan diet. Anak harus mendapat cairan yang
cukup, baik secara oral maupun parenteral. Cairan parenteral diindikasikan
pada penderita sakit berat, ada komplikasi penurunan kesadaran serta yang
sulit makan. Cairan harus mengandung elektrolit dan kalori yang optimal.
Sedangkan diet harus mengandung kalori dan protein yang cukup. Sebaiknya
rendah serat untuk mencegah perdarahan dan perforasi. Diet untuk penderita
tifoid biasanya diklasifikasikan atas : diet cair, bubur lunak, tim dan nasi
biasa.

Pemberian anti mikroba (antibiotik)

Anti mikroba (antibiotik) segera diberikan bila diagnosa telah dibuat.


Kloramfenikol masih menjadi pilihan pertama, berdasarkan efikasi dan harga.
Kekurangannya adalah jangka waktu pemberiannya yang lama, serta cukup
sering menimbulkan karier dan relaps.

c. Pencegahan tersier
adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi keparahan akibat komplikasi.
Apabila telah dinyatakan sembuh dari penyakit demam tifoid sebaiknya tetap
menerapkan pola hidup sehat, sehingga imunitas tubuh tetap terjaga dan dapat
terhindar dari infeksi ulang demam tifoid. Anak yang carier perlu dilakukan
pemerikasaan laboratorium pasca penyembuhan untuk mengetahui kuman masih
ada atau tidak.

17
2. Promotif

Adalah upaya penyuluhan yang bertujuan untuk merubah kebiasaan yang kurang
baik dalam masyarakat agar berperilaku sehat dan ikut serta berperan aktif dalam
bidang kesehatan. Dalam kasus ini, upaya promotif yang dapat dilakukan yaitu:

1. Tindakan penyebaran vektor


- Intensifikasi pemberantasan sarang seperti perbaikan saluran drainase,
kebersihan saluran dan reservoir air, menghilangkan genangan, mencegah
pembusukan sampah
- Mobilisasi masyarakat untuk berperan serta dalam pemberantasan dengan
memelihara kebersihan lingkungan masing-masing

2. Menciptakan lingkungan yang bersih


- Perumahan: perumahan yang berdekatan dan kumuh rentan menimbulkan
penularan penyakit
- Penyediaan air bersih meliputi: syarat fisik, bakteriologis, kimia
- Pembuangan kotoran manusia: dengan bertambahnya penduduk yang tidak
sesuai dengan area pemukiman, masalah pembuangan kotoran manusia
meningkat. Sedangkan kotoran manusia merupakan sumber penyebaran
penyakit.

3. Kuratif
Adalah upaya untuk mendiagnosis seawal mungkin dan mengobati secara tepat
dan rasional terhadap individu yang terserang penyakit. Upaya kuratif yang dilakukan
pada penderita ini meliputi:

a. Medikamentosa
- Antipiretik
o Paracetamol syr 3 x 500 (jika demam)
- Antibiotik
o Inj. Klomramfenikol 4 x 500 mg
- Infus KAEN 3B 24 tpm
b. Non-medikamentosa

18
- Istirahat dan perawatan : tirah baring dan perawatan profesional bertujuan
untuk pencegahan komplikasi. Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di
tempat seperti makan, minum, mandi, buang air kecil, dan buang air besar akan
membantu dan mempercepat masa penyembuhan. Dan sangat perlu sekali di
jaga kebersihannya.
- Diet dan terapi penunjang : diet merupakan hal yang cukup penting dalam
proses penyembuhan penyakit demam tifoid, karena makanan yang kurang
dapat mempengarui kondisi pasien demam tifoid, di masa lampau penderita
demam tifoid hanya diberi bubur saring, kemudian ditingkatkan menjadi bubur
kasar dan akhir nya di berikan nasi. Pemberian bubur saring bertujuan untuk
menghindari komplikasi perdarahan saluran cerna atau perforasi usus.
4. Rehabilitatif

Adalah upaya untuk menolong atau membantu anak terhadap


ketidakmampuannya dengan berbagai usaha, agar anak sedapat mungkin kembali
pada lingkungannya baik lingkungan sosial maupun keluarga. Untuk menjaga anak
tetap sehat, maka orang tua diberitahu untuk:

- Menjaga kualitas dan kuantitas gizi anak sehari-hari di rumah agar kebutuhan
gizi anak tetap terpenuhi dengan baik dan anak memiliki daya tahan tubuh yang
baik pula.

5. Psikososial

Aspek psikososial adalah aspek yang berkaitan dengan emosi, sikap,


pengetahuan, perilaku, keterampilan, nilai-nilai sosial budaya, kepercayaan, dan adat
istiadat di lingkungan sekitar anak. Meliputi mikrosistem, mesosistem, eksosistem dan
makrosistem.

Mikrosistem meliputi interaksi anak dengan ibunya. Ibu berperan dalam


pendidikan, gizi, dan pengobatan sederhana pada anak. Ibu adalah orang pertama di
rumah yang memegang peranan penting terhadap proses tumbuh kembang anak dan
perawatan anak ketika anak sakit. Rendahnya pengetahuan ibu tentang kesehatan juga
mempengaruhi sikap yang diambil ketika anak sakit, seperti usaha mengobati sendiri

19
atau terlambat membawa anak ke tempat pelayanan kesehatan. Edukasi dan informasi
mengenai penyakit pasien menjadi sangat penting agar dapat ditangani segera dan
tidak menimbulkan komplikasi.

Mesosistem meliputi interaksi anak dengan anggota keluarga lain, lingkungan,


tetangga, keadaan rumah dan suasana rumah dimana anak tinggal.

- Interaksi sesama anggota keluarga


Keluarga yang tinggal serumah dengan pasien adalah ayah dan ibu. Anak lebih
dekat dengan ibu karena ayahnya bekerja hingga sore hari. Pasien memperoleh
kasih sayang lebih banyak dari ibu pasien.

- Melaksanakan 3M di rumah
Air dapat menjadi sumber penularan penyakit. Peran air dalam terjadinya
penyakit menular dapat berupa air sebagai penyebar mikroba patogen. Untuk
mencegah terjadinya demam berdarah maka tempat-tempat penampungan air
harus rutin dikuras dan selalu tetutup untuk mencegah nyamuk berkembang
biak

Eksosistem merupakan lingkungan yang meliputi wilayah yang lebih luas.


Meliputi kebijaksanaan pemerintah daerah maupun informasi yang bisa diperoleh
seperti dari surat kabar maupun televisi.

- Pada kasus ini kurangnya pengetahuan mengenai penyakit, pencegahan, dan


penanganannya menyebabkan ketidaktahuan orang tua dan keterlambatan dalam
penanganan.
Makrosistem yaitu berkaitan dengan kebijakan pemerintah, sosial budaya
masyarakat, dan lembaga non pemerintahan yang ikut andil dalam usaha tumbuh
kembang anak yang optimal. Pentingnya pemerintah memperhatikan tata kota dan
daerah pemukiman penduduk, serta penyediaan sumber air bersih guna meningkatkan
kesehatan warga dan mencegah penyakit menular.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilmu kesehatan anak FK UI jilid 2


2. Buku saku Pelayanan kesehatan anak dirumah sakit WHO

20
3. Hasan, Rusepno. 2000, Buku Kuliah 2, Ilmu Kesehatan Anak, Infomedika, Jakarta.
Pedoman Pelayanan Medis 2010
4. Loho T, Sutanto, Silman E. 2000. Dalam: Demam tifoid peran mediator, diagnosis
dan terapi. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbit bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI,
p. 22-24

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Defenisi Demam Tifoid

21
Demam tifoid disebut juga dengan Typus abdominalis atau typoid fever.

Demam tipoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran
pencernaan (usus halus) dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai
gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.

2.2. Infectious Agent

Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi
dari Genus Salmonella. Bakteri ini berbentuk batang, gram negatip, tidak membentuk
spora, motil, berkapsul dan mempunyai flagella (bergerak dengan rambut getar).
Bakteri ini dapat hidup sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di dalam air,
es, sampah dan debu. Bakteri ini dapat mati dengan pemanasan (suhu 60 oC) selama
15 20 menit, pasteurisasi, pendidihan dan khlorinisasi.

Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen, yaitu :

1. Antigen O (Antigen somatik), yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman.
Bagian ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga endotoksin.
Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan terhadap formaldehid.

2. Antigen H (Antigen Flagella), yang terletak pada flagella, fimbriae atau pili dari
kuman. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap
formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.
3. Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat melindungi
kuman terhadap fagositosis.

Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita akan menimbulkan
pula pembentukan 3 macam antibodi yang lazim disebut aglutinin.

2.3. Patogenesis

22
Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi masuk kedalam tubuh manusia
melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan oleh
asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan berkembang biak.
Bila respon imunitas humoral mukosa IgA usus kurang baik maka kuman akan
menembus sel-sel epitel terutama sel M dan selanjutnya ke lamina propia. Di lamina
propia kuman berkembang biak dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh
makrofag. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan
selanjutnya dibawa ke plaque Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah
bening mesenterika. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di
dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakterimia
pertama yang asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh
terutama hati dan limpa. Di organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan
kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke
dalam sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya dengan
disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik, seperti demam, malaise,
mialgia, sakit kepala dan sakit perut.

2.4. Gejala Klinis

Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibanding dengan
penderita dewasa. Masa inkubasi rata-rata 10 20 hari. Setelah masa inkubasi maka
ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala,
pusing dan tidak bersemangat.
Kemudian menyusul gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
a. Demam
Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris
remiten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-
angsur meningkat setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi
pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua, penderita terus berada dalam
keadaan demam. Dalam minggu ketiga suhu tubuh beraangsur-angsur turun dan
normal kembali pada akhir minggu ketiga.

b. Ganguan pada saluran pencernaan

23
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecah-pecah
(ragaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya
kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan
perut kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada
perabaan. Biasanya didapatkan konstipasi, akan tetapi mungkin pula normal
bahkan dapat terjadi diare.
c. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu
apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah.

2.5. Epidemiologi Demam Tifoid


2.5.1. Distribusi dan Frekwensi
- Orang
Demam tifoid dapat menginfeksi semua orang dan tidak ada perbedaan yang
nyata antara insiden pada laki-laki dan perempuan. Insiden pasien demam
tifoid dengan usia 12 30 tahun 70 80 %, usia 31 40 tahun 10 20 %,
usia > 40 tahun 5 10 %. Menurut penelitian Simanjuntak, C.H, dkk (1989)
di Paseh, Jawa Barat terdapat 77 % penderita demam tifoid pada umur 3
19 tahun dan tertinggi pada umur 10 -15 tahun dengan insiden rate 687,9 per
100.000 penduduk. Insiden rate pada umur 0 3 tahun sebesar 263 per
100.000 penduduk.16
- Tempat dan Waktu
Demam tifoid tersebar di seluruh dunia. Pada tahun 2000, insiden rate
demam tifoid di Amerika Latin 53 per 100.000 penduduk dan di Asia
Tenggara 110 per 100.000 penduduk.6 Di Indonesia demam tifoid dapat
ditemukan sepanjang tahun, di Jakarta Utara pada tahun 2001, insiden rate
demam tifoid 680 per 100.000 penduduk dan pada tahun 2002 meningkat
menjadi 1.426 per 100.000 penduduk.17
2.5.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi (Determinan)
a. Faktor Host
Manusia adalah sebagai reservoir bagi kuman Salmonella thypi.
Terjadinya penularan Salmonella thypi sebagian besar melalui
makanan/minuman yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau
carrier yang biasanya keluar bersama dengan tinja atau urine. Dapat juga

24
terjadi trasmisi transplasental dari seorang ibu hamil yang berada dalam
bakterimia kepada bayinya.
Penelitian yang dilakukan oleh Heru Laksono (2009) dengan desain
case control , mengatakan bahwa kebiasaan jajan di luar mempunyai resiko
terkena penyakit demam tifoid pada anak 3,6 kali lebih besar dibandingkan
dengan kebiasaan tidak jajan diluar (OR=3,65) dan anak yang mempunyai
kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan beresiko terkena penyakit
demam tifoid 2,7 lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan mencuci tangan
sebelum makan (OR=2,7).20
b. Faktor Agent
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi. Jumlah
kuman yang dapat menimbulkan infeksi adalah sebanyak 105 109 kuman
yang tertelan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Semakin
besar jumlah Salmonella thypi yang tertelan, maka semakin pendek masa
inkubasi penyakit demam tifoid.
c. Faktor Environment
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai secara luas di
daerah tropis terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak
memadai dengan standar hygiene dan sanitasi yang rendah. Beberapa hal yang
mempercepat terjadinya penyebaran demam tifoid adalah urbanisasi,
kepadatan penduduk, sumber air minum dan standart hygiene industri
pengolahan makanan yang masih rendah.
Berdasarkan hasil penelitian Lubis, R. di RSUD. Dr. Soetomo (2000)
dengan desain case control , mengatakan bahwa higiene perorangan yang
kurang, mempunyai resiko terkena penyakit demam tifoid 20,8 kali lebih besar
dibandingkan dengan yang higiene perorangan yang baik (OR=20,8) dan
kualitas air minum yang tercemar berat coliform beresiko 6,4 kali lebih besar
terkena penyakit demam tifoid dibandingkan dengan yang kualitas air
minumnya tidak tercemar berat coliform (OR=6,4) .
2.6. Sumber Penularan (Reservoir)
Penularan penyakit demam tifoid oleh basil Salmonella typhi ke
manusia melalui makanan dan minuman yang telah tercemar oleh feses atau
urin dari penderita tifoid. Ada dua sumber penularan Salmonella typhi, yaitu :
13

25
2.6.1. Penderita Demam Tifoid
Yang menjadi sumber utama infeksi adalah manusia yang selalu
mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit, baik ketika ia sedang
menderita sakit maupun yang sedang dalam penyembuhan. Pada masa
penyembuhan penderita pada umumnya masih mengandung bibit penyakit di
dalam kandung empedu dan ginjalnya.
2.6.2. Karier Demam Tifoid.
Penderita tifoid karier adalah seseorang yang kotorannya (feses atau
urin) mengandung Salmonella typhi setelah satu tahun pasca demam tifoid,
tanpa disertai gejala klinis. Pada penderita demam tifoid yang telah sembuh
setelah 2 3 bulan masih dapat ditemukan kuman Salmonella typhi di feces
atau urin. Penderita ini disebut karier pasca penyembuhan.
Pada demam tifoid sumber infeksi dari karier kronis adalah kandung
empedu dan ginjal (infeksi kronis, batu atau kelainan anatomi). Oleh karena
itu apabila terapi medika-mentosa dengan obat anti tifoid gagal, harus
dilakukan operasi untuk menghilangkan batu atau memperbaiki kelainan
anatominya.
Karier dapat dibagi dalam beberapa jenis.21
a. Healthy carrier (inapparent) adalah mereka yang dalam sejarahnya tidak
pernah menampakkan menderita penyakit tersebut secara klinis akan tetapi
mengandung unsur penyebab yang dapat menular pada orang lain, seperti
pada penyakit poliomyelitis, hepatitis B dan meningococcus.
b. Incubatory carrier (masa tunas) adalah mereka yang masih dalam masa tunas,
tetapi telah mempunyai potensi untuk menularkan penyakit/ sebagai sumber
penularan, seperti pada penyakit cacar air, campak dan pada virus hepatitis.
c. Convalescent carrier (baru sembuh klinis) adalah mereka yang baru sembuh
dari penyakit menulat tertentu, tetapi masih merupakan sumber penularan
penyakit tersebut untuk masa tertentu, yang masa penularannya kemungkinan
hanya sampai tiga bulan umpamanya kelompok salmonella, hepatitis B dan
pada dipteri.
d. Chronis carrier (menahun) merupakan sumber penularan yang cukup lama
seperti pada penyakit tifus abdominalis dan pada hepatitis B.

2.7. Komplikasi

26
Komplikasi demam tifoid dapat dibagi atas dua bagian, yaitu :
2.7.1. Komplikasi Intestinal
a. Perdarahan Usus
Sekitar 25% penderita demam tifoid dapat mengalami perdarahan minor yang
tidak membutuhkan tranfusi darah. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga
penderita mengalami syok. Secara klinis perdarahan akut darurat bedah
ditegakkan bila terdapat perdarahan sebanyak 5 ml/kgBB/jam.
b. Perforasi Usus
Terjadi pada sekitar 3% dari penderita yang dirawat. Biasanya timbul pada
minggu ketiga namun dapat pula terjadi pada minggu pertama. Penderita
demam tifoid dengan perforasi mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di
daerah kuadran kanan bawah yang kemudian meyebar ke seluruh perut. Tanda
perforasi lainnya adalah nadi cepat, tekanan darah turun dan bahkan sampai
syok.
2.7.2. Komplikasi Ekstraintestinal
a. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (syok, sepsis),
miokarditis, trombosis dan tromboflebitis.

b. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, koaguolasi


intravaskuler diseminata, dan sindrom uremia hemolitik.

c. Komplikasi paru : pneumoni, empiema, dan pleuritis

d. Komplikasi hepar dan kandung kemih : hepatitis dan kolelitiasis

e. Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis

f. Komplikasi tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis

g. Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningismus, meningitis, polineuritis


perifer, psikosis, dan sindrom katatonia.

27
2.8. Pencegahan Demam Tifoid
Pencegahan dibagi menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan perjalanan
penyakit, yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.23
2.8.1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang
sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit.
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan cara imunisasi dengan vaksin yang dibuat
dari strain Salmonella typhi yang dilemahkan. Di Indonesia telah ada 3 jenis vaksin
tifoid, yaitu :

a. Vaksin oral Ty 21 a Vivotif Berna. Vaksin ini tersedia dalam kapsul yang diminum
selang sehari dalam 1 minggu satu jam sebelum makan. Vaksin ini kontraindikasi
pada wanita hamil, ibu menyusui, demam, sedang mengkonsumsi antibiotik .
Lama proteksi 5 tahun.

b. Vaksin parenteral sel utuh : Typa Bio Farma. Dikenal 2 jenis vaksin yakni, K
vaccine (Acetone in activated) dan L vaccine (Heat in activated-Phenol
preserved). Dosis untuk dewasa 0,5 ml, anak 6 12 tahun 0,25 ml dan anak 1 5
tahun 0,1 ml yang diberikan 2 dosis dengan interval 4 minggu. Efek samping
adalah demam, nyeri kepala, lesu, bengkak dan nyeri pada tempat suntikan.
Kontraindikasi demam,hamil dan riwayat demam pada pemberian pertama.

c. Vaksin polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux. Vaksin diberikan secara


intramuscular dan booster setiap 3 tahun. Kontraindikasi pada hipersensitif, hamil,
menyusui, sedang demam dan anak umur 2 tahun. Indikasi vaksinasi adalah bila
hendak mengunjungi daerah endemik, orang yang terpapar dengan penderita
karier tifoid dan petugas laboratorium/mikrobiologi kesehatan.

Mengkonsumsi makanan sehat agar meningkatkan daya tahan tubuh,


memberikan pendidikan kesehatan untuk menerapkan prilaku hidup bersih dan
sehat dengan cara budaya cuci tangan yang benar dengan memakai sabun,
peningkatan higiene makanan dan minuman berupa menggunakan cara-cara yang
cermat dan bersih dalam pengolahan dan penyajian makanan, sejak awal
pengolahan, pendinginan sampai penyajian untuk dimakan, dan perbaikan sanitasi
lingkungan.

28
2.8.2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan cara mendiagnosa penyakit secara dini
dan mengadakan pengobatan yang cepat dan tepat. Untuk mendiagnosis demam tifoid
perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Ada 3 metode untuk mendiagnosis
penyakit demam tifoid, yaitu :
a. Diagnosis klinik
Diagnosis klinis penyakit ini sering tidak tepat, karena gejala kilinis yang khas
pada demam tifoid tidak ditemukan atau gejala yang sama dapat juga ditemukan
pada penyakit lain. Diagnosis klinis demam tifoid sering kali terlewatkan karena
pada penyakit dengan demam beberapa hari tidak diperkirakan kemungkinan
diagnosis demam tifoid.
b. Diagnosis mikrobiologik/pembiakan kuman
Metode diagnosis mikrobiologik adalah metode yang paling spesifik dan lebih
dari 90% penderita yang tidak diobati, kultur darahnya positip dalam minggu
pertama. Hasil ini menurun drastis setelah pemakaian obat antibiotika, dimana
hasil positip menjadi 40%. Meskipun demikian kultur sum-sum tulang tetap
memperlihatkan hasil yang tinggi yaitu 90% positip. Pada minggu-minggu
selanjutnya hasil kultur darah menurun, tetapi kultur urin meningkat yaitu 85%
dan 25% berturut-turut positip pada minggu ke-3 dan ke-4. Organisme dalam tinja
masih dapat ditemukan selama 3 bulan dari 90% penderita dan kira-kira 3%
penderita tetap mengeluarkan kuman Salmonella typhi dalam tinjanya untuk
jangka waktu yang lama.
c. Diagnosis serologik
1. Uji Widal
Uji Widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap Salmonella typhi terdapat dalam
serum penderita demam tifoid, pada orang yang pernah tertular Salmonella
typhi dan pada orang yang pernah mendapatkan vaksin demam tifoid.
Antigen yang digunakan pada uji Widal adlah suspensi Salmonella typhi yang
sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji Widal adalah
untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita yang diduga
menderita demam tifoid. Dari ketiga aglutinin (aglutinin O, H, dan Vi), hanya
aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosis. Semakin tinggi
titer aglutininnya, semakin besar pula kemungkinan didiagnosis sebagai

29
penderita demam tifoid. Pada infeksi yang aktif, titer aglutinin akan
meningkat pada pemeriksaan ulang yang dilakukan selang waktu paling
sedikit 5 hari. Peningkatan titer aglutinin empat kali lipat selama 2 sampai 3
minggu memastikan diagnosis demam tifoid. Interpretasi hasil uji Widal
adalah sebagai berikut :
Titer O yang tinggi ( > 160) menunjukkan adanya infeksi akut
Titer H yang tinggi ( > 160) menunjukkan telah mendapat imunisasi
atau pernah menderita infeksi
Titer antibodi yang tinggi terhadap antigen Vi terjadi pada carrier.
Beberapa faktor yang mempengaruhi uji Widal antara lain :
Faktor-faktor yang berhubungan dengan Penderita
Keadaan umum gizi penderita
Gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
Waktu pemeriksaan selama perjalanan penyakit
Aglutinin baru dijumnpai dalam darah setelah penderita mengalami
sakit selama satu minggu dan mencapai puncaknya pada minggu
kelima atau keenam sakit.
Pengobatan dini dengan antibiotik
Pemberian antibiotik dengan obat antimikroba dapat menghambat
pembentukan antibodi.
Penyakit-penyakit tertentu
Pada beberapa penyakit yang menyertai demam tifoid tidak terjadi
pembentukan antibodi, misalnya pada penderita leukemia dan
karsinoma lanjut.
Pemakaian obat imunosupresif atau kortikosteroid dapat menghambat
pembentukan antibodi.
Vaksinasi
Pada orang yang divaksinasi demam tifoid, titer aglutinin O dan H
meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1
tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1
atau 2 tahun. Oleh karena itu titer aglutinin H pada seseorang yang
pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik.

30
Infeksi klinis atau subklinis oleh Salmonella sebelumnya
Keadaan ini dapat menyebabkan uji Widal positif, walaupun titer
aglutininnya rendah. Di daerah endemik demam tifoid dapat dijumpai
aglutinin pada orang-orang yang sehat.
Faktor-faktor teknis
Aglutinasi silang
Karena beberapa spesies Salmonella dapat mengandung antigen O dan
H yang sama, maka reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat juga
menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies lain. Oleh karena itu
spesies Salmonella penyebab infeksi tidak dapat ditentukan dengan uji
widal.
Konsentrasi suspensi antigen
Konsentrasi suspensi antigen yang digunakan pada uji widal akan
mempengaruhi hasilnya. Strain salmonella yang digunakan untuk
suspensi antigen.
Daya aglutinasi suspensi antigen dari strain salmonella setempat lebih baik
daripada suspensi antigen dari strain lain.
2. Uji Enzym-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
a. Uji ELISA untuk melacak antibodi terhadap antigen Salmonella typhi
belakangan ini mulai dipakai. Prinsip dasar uji ELISA yang dipakai umumnya
uji ELISA tidak langsung. Antibodi yang dilacak dengan uji ELISA ini
tergantung dari jenis antigen yang dipakai.

b. Uji ELISA untuk melacak Salmonella typhi

Deteksi antigen spesifik dari Salmonella typhi dalam spesimen klinik (darah
atau urine) secara teoritis dapat menegakkan diagnosis demam tifoid secara
dini dan cepat. Uji ELISA yang sering dipakai untuk melacak adanya antigen
Salmonella typhi dalam spesimen klinis, yaitu double antibody sandwich
ELISA. Pencegahan sekunder dapat berupa :

Penemuan penderita maupun carrier secara dini melalui penigkatan usaha


surveilans demam tifoid.

31
Perawatan umum dan nutrisi

Penderita demam tifoid, dengan gambaran klinis jelas sebaiknya dirawat di


rumah sakit atau sarana kesehatan lain yang ada fasilitas perawatan. Penderita
yang dirawat harus tirah baring dengan sempurna untuk mencegah komplikasi,
terutama perdarahan dan perforasi. Bila klinis berat, penderita harus istirahat
total. Bila penyakit membaik, maka dilakukan mobilisasi secara bertahap,
sesuai dengan pulihnya kekuatan penderita. Nutrisi pada penderita demam
tifoid dengan pemberian cairan dan diet. Penderita harus mendapat cairan
yang cukup, baik secara oral maupun parenteral. Cairan parenteral
diindikasikan pada penderita sakit berat, ada komplikasi penurunan kesadaran
serta yang sulit makan. Cairan harus mengandung elektrolit dan kalori yang
optimal. Sedangkan diet harus mengandung kalori dan protein yang cukup.
Sebaiknya rendah serat untuk mencegah perdarahan dan perforasi. Diet untuk
penderita tifoid biasanya diklasifikasikan atas : diet cair, bubur lunak, tim dan
nasi biasa.

Pemberian anti mikroba (antibiotik)

Anti mikroba (antibiotik) segera diberikan bila diagnosa telah dibuat.


Kloramfenikol masih menjadi pilihan pertama, berdasarkan efikasi dan harga.
Kekurangannya adalah jangka waktu pemberiannya yang lama, serta cukup
sering menimbulkan karier dan relaps. Kloramfenikol tidak boleh diberikan
pada wanita hamil, terutama pada trimester III karena dapat menyebabkan
partus prematur, serta janin mati dalam kandungan. Oleh karena itu obat yang
paling aman diberikan pada wanita hamil adalah ampisilin atau amoksilin.

2.8.3. Pencegahan Tersier


Pencegahan tersier adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi keparahan
akibat komplikasi. Apabila telah dinyatakan sembuh dari penyakit demam
tifoid sebaiknya tetap menerapkan pola hidup sehat, sehingga imunitas tubuh
tetap terjaga dan dapat terhindar dari infeksi ulang demam tifoid. Pada
penderita demam tifoid yang carier perlu dilakukan pemerikasaan

32
laboratorium pasca penyembuhan untuk mengetahui kuman masih ada atau
tidak.
DAFTAR PUSTAKA

1. Aru WS, Bambang S, Idrus A, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Interna
Publishing. Edisi 5. Jakarta, 2009. Hal 2797-2805.
2. Islam, Butler, Kabir, Alam. Treatment of Typhoid Fever with Ceftriaxone for 5 Days
or Chloramphenicol for 14 Days: a Randomized Clinical Trial. Antimicrobial Agents
and Chemotherapy. Vol. 37. No. 8. Hal 1572-1575. Bangladesh: 1993.
3. Siti FS. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
364/MENKES/SK/V/2006 Tentang Pedoman Pengendalian Demam Tifoid. Jakarta:
2006..
4. Chin, J. 2006. Pemberantasan Penyakit Menular Edisi 17. Jakarta: Infomedika
5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2008. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis 2nd Ed.
Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

33