Anda di halaman 1dari 3

Klirens Hepatik

Klirens merupakan volume darah atau plasma yang dibersihkan dari obat per satuan
waktu. Konsep klirens sangat penting dalam farmakokinetik dan dapat diterapkan pada setiap
organ dan digunakan sebagai ukuran dari eliminasi obat oleh organ. Klirens plasma dirumuskan
dengan:

Klirens hepatik adalah volume darah yang mengaliri (perfusi) hati yang terbersihkan dari
obat per satuan waktu. Klirens hepatik (Cl h) juga sama dengan klirens tubuh total (Cl T) dikurangi
klirens klirens ginjal (Clr):

Kadang-kadang klirens ginjal tidak diketahui dan klirens hepatik dapat dihitung dari
presentase obat yang ditemukan kembali dalam urin:

Faktor-faktor yang mempengaruhi klirens hepatik obat yaitu aliran darah ke hati, klirens
intrinsik, dan fraksi obat terikat protein. Bila darah arterial yang mengandung obat melewati hati,
maka satu bagian tertentu obat hilang oleh metabolisme atau ekskresi biker. Oleh karena itu
konsentrasi obat dalam vena lebih kecil dibandingkan konsentrasi obat dalam arteri. Klirens
intrinsik digunakan untuk menggambarkan kemampuan hati untuk menghilangkan obat dalam
keadaan tidak adanya pembatasan aliran, sebagai pencerminan aktivitas yang melekat
dari mixed-function oxidase. Obat-obat yang berikatan dengan protein tidak dapat melewati
membran sel dengan mudah. Obat-obat bebas dalam plasma dapat melewati dinding sel dan
mencapai tempat dari mixed-function oxidase. Sering dianggap bahwa konsentrasi obat dalam
hati di sekitar mixed-function oxidase sama dengan konsentrasi obat bebas dalam darah. Oleh
karena itu kenaikan konsentrasi obat bebas dalam darah akan membuat obat lebih tersedia untuk
ekstraksi hepatik.
Konsep klirens dapat diterapkan pada setiap organ dan digunakan sebagai ukuran dari
eliminasi obat oleh organ. Klirens hepatik juga sama dengan klirens tubuh total dikurangi
klirens ginjal.
antara
Hubungan aliran
darah, klirens Intrinsik, dan klirens Hepatik
Faktor- faktor yang mempengaruhi klirens hepatik obat antara lain
1. Aliran darah ke hati
2. Klirens intrinsik
3. Fraksi Obat terikat protein
Klirens Hepatik dari obat yang terikat Protein
Pada obat-obat yang mengalami eksresi tinggi oleh hati sampai pada suatu derajat yang
lur biasa, prosen obat yang terikat protein plasma tidak akan mempengaruhi laju metabolisme
secara bermakna, karena obat hilang dari tempat ikatan plasma selama sirkulasi melewati
hati.

Interaksi Dalam Mekanisme Metabolisme Hepatik


Ada 2 kategori utama reaksi metabolisme yaitu fase I dan Fase II. Reaksi Fase I adalah
serangkaian reaksi yang menimbulkan perubahan kimia yang relative kecil, membuat
lebih banyak senyawa menjadi hidrofilik. Metabolisme fase I bias terjadi selama proses
absorbsi
o Metabolisme obat dipercepat
Berbagai interaksi obat terjadi karena adanya suatu obat yang merangsang
metabolisme obat lain. Di samping itu pemberian secara kronis obat-obat tertentu dapat
pula merangsang metabolisme selanjutnya. Interaksi ini terjadi akibat meningkatnya
aktivitas enzim hepatik yang terlibat dalam metabolisme obat tersebut.peningkatan
aktivitas enzim ini dapat disebabkan oleh :
Peningkatan sintesis enzim sehingga jumlahnya meningkat, yang disebut induksi enzim
Penurunan kecepatan degradasi enzim
Senyawa yang dapat menginduksi enzim hepatik digolongkan atas dua golongan yaitu :
Golongan fenobarbital dan senyawa-senyawa yang kerjanya mirip fenobarbital.
Golongan ini yang paling banyak berperan untuk berbagai obat.
Golongan hidrokarbon polisiklik, hanya untuk beberapa obat.
Akibat induksi enzim adalah peningkatan metabolisme obat, yang terjadi karena 3
kemungkinan, yaitu :
Obat merangsang metabolismenya sendiri, karena pemberian kronis. Obat-obat yang
memiliki gejala ini antara lain barbiturat, antihistamin, fenitoin, meprobamat, tolbutamid,
fenilbutazon, dan probenesid
Obat mempercepat metabolisme obat lain yang diberikan bersamaan
Obat merangsang metabolisme sendiri dan juga metabolisme obat lain.
Akibat farmakologis dari induksi enzim ini adalah :
peningkatan bersihan ginjal
penurunan kadar obat di dalam plasma