Anda di halaman 1dari 8

BAB I

LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
Nama : Nn. F
Umur : 16 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : BT Manai
Agama : Islam
Masuk RS : 21 juni 2016

II. PEMERIKSAAN
1. ANAMNESIS
Alloanamnesis dari ibu pasien:
Keluhan utama : Nyeri dan sulit menggerakkan tungkai kanan setelah
kecelakaan lalu lintas.
Anamnesis Terpimpin :
Pasien dibawa ke rumah sakit dengan keluhan Nyeri dan sulit
menggerakkan tungkai kanan setelah kecelakaan lalu lintas 2 minggu
yang lalu, mual (-), muntah (-), pingsan (-).

2. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : sakit sedang
Tekanan Darah : 110/80 mmhg
Nadi : 80x/menit
Pernapasan : 19x/menit
Suhu : 36,50C
GCS : E4 M6 V5 = 15
Status Lokalis : Regio cruris dextra
Inspeksi : tidak tampak luka robek, deformitas (+)
Palpasi : nyeri tekan (+)

3. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Pemeriksaan Laboratorium
WBC : + 11,6
RBC : 4,02
HGB : - 11,3 g/dl
PLT : 432x103
Hct : -32,7%
LED : 23 mm/jam
LYM% : -19,9%
NEUT% : 75,2%

b. Pemeriksaan Radiologi
Rontgen Tibia-Fibula sinistra AP/Lateral

Tampak fraktur tibia fibula dextra 1/3 distal


4. DIAGNOSIS KERJA
Fraktur Tibia Fibula Dextra 1/3 Distal

5. PENATALAKSANAAN
- IVFD RL 20 tetes/menit
- Cefotaxime 1gr iv/12 jam
- Metronidazole 5 gr iv/8 jam
- Gentamicin iv/8 jam
- Ketorolac iv/8 jam
- Ranitidine iv/12 jam
- Rencana operatif
6. Prognosis

Quo ad vitam : bonam


Quo ad functionam: bonam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi dan Penyebab Fraktur


Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan epifisis dan
atau tulang rawan sendi. Fraktur dapat terjadi akibat peristiwa trauma tunggal,
tekanan yang berulang-ulang, atau kelemahan abnormal pada tulang (fraktur
patologik).
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan,
yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan, pemuntiran, atau
penarikan. Fraktur dapat disebabkan trauma langsung atau tidak langsung. Trauma
langsung berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu.
Trauma tidak langsung bila titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur
berjauhan.
Tekanan yang berulang-ulang dapat menyebabkan keretakan
pada tulang. Keadaan ini paling sering ditemui pada tibia, fibula,
atau metatarsal. Fraktur dapat pula terjadi oleh tekanan yang
normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau kalau
tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit paget).

2. Anatomi

Fraktur cruris merupakan akibat terbanyak dari kecelakaan lalu lintas. Hal ini
diakibatkan susunan anatomi cruris dimana permukaan medial tibia hanya ditutupi
jaringan subkutan, sehingga menyebabkan mudahnya terjadi fraktur cruris terbuka
yang menimbulkan masalah dalam pengobatan.
Secara anatomi terdapat 4 grup otot yang penting di cruris:
1. otot ekstensor
2. otot abductor
3. otot triceps surae
4. otot fleksor
Keempat grup oto tersebut membentuk 3 kompartemen
Grup I : memebentuk kompartemen anterior
Grup II :membentuk kompartemen lateral
Grup III+IV :membentuk kompartemen posterior yang terdiri dari
kompartemen superficial dan kompartemen dalam.
Arteri:
1. arteri tibialis anterior
2. arteri tibialis posterior
3. arteri peroneus

Saraf:
1. n.tibialis anterior dan n.peroneus mempersarafi otot ekstensor dan abductor.
2. n.tibialis posterior dan n.poplitea untuk mempersarafi otot fleksor dan otot
triceps surae.
3. Klasifikasi Fraktur

a. Komplit - tidak komplit


- Fraktur komplit : garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui
kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
- Fraktur tidak komplit : garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang
seperti:
1. Hairline fracture (patah retak rambut)
2. Buckle fracture atau torus fracture (terjadi lipatan dari satu
korteks dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya).
3. Greenstick fracture (mengenai satu korteks dengan angulasi
korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak)

b. Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma


- garis patah melintang
- garis patah oblique

- garis patah spiral

- fraktur kompresi

c. Jumlah garis patah


- fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan
- fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak
berhubungan. Bila dua garis patah disebut pula fraktur
bifokal.
- fraktur multipel : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang
berlainan tempatnya.

Pada anamnesis didapatkan data bahwa penderita berusia 16 tahun beralamat di BT


Manai yang datang berobat ke RSUD Syekh Yusuf dengan keluhan nyeri dan sulit
menggerakkan tungkai kanan setelah kecelakaan lalu lintas. Dari anamnesis lebih
lanjut diketahui bahwa 2 minggu yang lalu pasien mengalami kecelakaan lalulintas.
Pada pemeriksaan fisik, status generalis didapatkan pernafasan, nadi, tekanan darah
dan suhu dalam batas normal. Dari hasil pemeriksaan fisik, pada status lokalis
didapatkan pada regio tibia-fibula dextra tampak adanya deformitas yang
menyingkirkan trauma jaringan lunak, NVD baik dan ROM aktif pasif terbatas, yaitu
penderita kesulitan menggerakkan secara aktif dan pasif sendi lutut dan adanya nyeri
tekan. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan berupa pemeriksaan radiologis dengan
hasil rontgen tibia fibula dextra AP/Lateral didapatkan adanya fraktur tibia fibula
dextra 1/3 distal.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang telah
dilakukan disimpulkan bahwa pasien ini didiagnosa dengan fraktur tibia fibula dextra
1/3 distal. Penatalaksanaan pada pasien ini berupa terapi konservatif dengan
pemberian antibiotik dan analgetik dilanjutkan terapi operatif. Prognosis pasien ini
adalah Quo ad vitam bonam dan quo ad fungtionam bonam.