Anda di halaman 1dari 3

Nama : Retnoningsih Suharno

NIM : 7516167256
Kelas : PAUD A PPS UNJ

KASUS ANAK USIA DINI YANG BERKAITAN DENGAN ASPEK SOSIAL


EMOSIONAL: ANAK SUKA MARAH SAMPAI MENGAMUK

Kasus:
Kasus ini saya angkat dari lingkungan dimana saya tinggal. Saya tinggal di Cilangkap,
Jakarta Timur dimana para tetangga mayoritas adalah orang Betawi Asli. Tetangga
saya punya 1 orang anak laki-laki yang diberi nama Rian (Botak) sekarang berusia 32
bulan. Anaknya ini aktif sekali, benar-benar tidak bisa diam. Orangtuanya merasa
bahwa anaknya aktif berarti dia sehat, cerdas, dan sedang proses eksplorasi. Yang
mengkhawatirkan adalah lebih ke emosinya. Ketika si anak ini marah (tidak
mendapatkan apa yang dia inginkan, dilarang atau dia tidak berhasil melakukan
sesuatu, dia selalu berteriak-teriak). Orangtuanya masih berpikir mungkin karena dia
belum lancar berbicara/ berkomunikasi, jadi dia mengekspresikannya dengan teriak-
teriak. Tapi, lama-lama mengkhawatirkan juga karena bisa lama sekali nangis dan
teriak-teriak. Padahal ketika berteriakpun orangtua tidak menuruti kemauannya.

Penanganan:
Setiap anak membawa kesempurnaan setiap perilakunya, dan sebenarnya Tuhan
memberikan tanda-tanda akan potensi yang tersimpan dalam diri buah hati kita.
Sebagai orangtua melihat perilaku anak yang aktif sebagai pertanda anak sehat dan
cerdas sungguh sangat baik sekali, begitu juga dengan emosinya yang meledak-ledak
serta suka teriak itu juga sesungguhnya sebuah pertanda bahwa anak adalah tipe anak
yang verbal dan memiliki tekat yang kuat sebagai seorang pemimpin. Namun
demikian, anak juga perlu kita ajari bagaimana mewujudkan perilakunya sebagai
calon pemimpin masa depan dengan cara yang lebih positif.
1. Anak yang aktif pada dasarnya adalah anak yang memiliki energi fisik diatas anak
rata-rata, yang dia butuhkan adalah bukannya larangan demi larangan dari orang
tuanya, melainkan ide-ide kreatif untuk menyalurkan energi kreatifnya tersebut,
oleh karena itu setiap saat orangtua harus mencari ide-ide kreatif apa yang cocok
untuk menyalurkan energi anak, supaya aktifitas pembelajarannya menjadi jauh
lebih positif dan sehat. Berikanlah kesempatan kepada anak untuk melakukan ide
kreatif di rumah. Yang dilakukan dirumah adalah membuat kesepakatan bersama
antara suami dan istri bahwa rumah akan dijadikan sebagai lahan ekplorasi bagi
anak dari bangun pagi hingga tidur malam hari, jadi untuk sementara rumah akan
jauh dari keindahan dan kerapihan.
2. Cara berikutnya adalah dengan membawanya ke tempat Kids Play Ground yang
belakangan ini marak di sediakan di pusat-pusat perbelanjaan dsb.
3. Masalah emosinya yang sering meledak-ledak dengan teriakan, pada dasarnya
berkaitan dengan tipe sifat dasarnya yakni Verbal & Keras (Watak Seorang
Pemimpin), yang biasanya diwarisi dari salah satu orang tuanya. Oleh karena itu
cara mendidikpun harus di sesuaikan dengan tipenya yang pemimpin, yaitu bicara
singkat, tidak perlu panjang lebar, gunakan metoda reward and punishment
(hadiah dan hukuman).
4. Melihat usia anak yang baru 32 bulan, sebenarnya apa yang terjadi adalah proses
yang sangat alamiah yang dialami setiap anak yang sedang berada di fase Ego
Sentris, dimana dia merasa bahwa dirinya adalah pusat kehidupan sehingga orang-
orang disekitarnya harus mengikutinya. Pada fase ini anak juga belum begitu jelas
memahami komunikasi, dia sedang dalam upaya mempelajari lingkungannya dan
berusaha untuk menyesuaikan diri dengan respon yang diterima dari
lingkungannya. Oleh karena itu cara mendidik kita terhadap perilakunya akan
membuat dia memilih apakah akan mengulangi lagi perilaku yang sama atau
menggantinya dengan prilaku baru. Sebagai contoh pada saat ia teriak-teriak akan
sesuatu apakah orangtua segera terpancing untuk memenuhinya? jika Ya maka
ia akan belajar bahwa cara itu efektif dan akan diulanginya lagi. Kemudian pada
saat ia teriak-teriak sementara orangtua berusaha tidak memenuhinya dengan
tujuan untuk mendidiknya, namun sayangnya lama kelamaan karena tidak tega
akhirnya ibu mengalah. Apa kira-kira yang di pelajarinya? Yadia berpikir..., jadi
kalo kemauanya tidak dipenuhi maka harus menangis dan kalo menangis juga
belum di kabulkan maka aku tambah dengan berteriak-teriak yang keras. Dan bisa
sampai disini biasanya ibu tidak tega dan mengalah maka ia akan berfikir bahwa
cara ini ternyata sangat efektif. Tentu saja anak akan mengulanginya lagi dalam
banyak kesempatan.
5. Apabila orangtua, terutama ibu sudah mengambil sikap untuk tidak menurutinya
maka tetaplah konsisten, biarkan dia menangis hingga akhirnya berhenti sendiri
dan mulai menunjukkan tanda-tanda berdamai dengan kita. Katakan pada anak
jika kamu seperti ini lagi, tidak akan mendapat apa yang kamu inginkan, tapi jika
kamu mau berbicara baik-baik maka ibu akan pertimbangkannya. Arahkan selalu
anak kita yang berteriak-teriak untuk bicara dan mau menyampaikan secara baik-
baik. Jika orangtua tidak cepat mengetahui cara mendidik yang tanpa sadar
ternyata keliru, maka perilaku buruk ini akan terus terbawa oleh anak hingga
besar, dan semakin bertambah usianya akan semakin sulit untuk mengubahnya.
Kuncinya adalah jika kita mau pasti bisa, betapapun sulitnya mengubah perilaku
kita sendiri dalam mendidik anak.