Anda di halaman 1dari 14

BAB I

ILUSTRASI KASUS

1. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. M R
Umur : 7 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Tegalcaang 02/11 Parung Serab, Katapang, Bandung
Tanggal Pemeriksaan : 28 Juni 2012

2. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Mata kiri merah

Anamnesis Khusus :
Sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS), penderita mengeluhkan
mata kirinya merah. Keluhan mata kiri merah disertai mata terasa gatal, berair
dan keluar kotoran mata berwarna putih. Keluhan penglihatan menjadi buram,
dan silau disangkal. Karena keluhan tersebut, penderita berobat ke RSUD
Soreang.
Penderita baru pertama kali sakit seperti ini. Riwayat trauma atau
kemasukkan benda asing sebelumnya tidak ada. Riwayat menggunakan
kacamata, riwayat penyakit serupa pada keluarga, dan riwayat berobat
sebelumnya disangkal. Riwayat pengobatan TB diakui, tuntas selama 9 bulan,
2 tahun yang lalu.

3. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Generalis
Kesadaran : Compos mentis
Nadi : 80 kali/menit
Respirasi : 24 kali/menit
Suhu : 36,7 0C
Status generalis lain dalam batas normal
b. Status Oftalmologi
Pemeriksaan Subjektif
Visus tanpa pakai kacamata
VOD : 6/6 VOS : 6/6
Pemeriksaan Objektif
- Inspeksi

OD OS

1
Muscle Balance Orthotropia Orthotropia

Pergerakan Bola Mata Duksi : Baik Duksi : Baik

Versi : Baik

Palpebra Superior Tenang Tenang

Palpebra Inferior Tenang Tenang

Silia Trikiasis (-) Trikiasis (-)

Conjungtiva Tarsalis Tenang Hiperemis


Superior

Conjungtiva Tarsalis Tenang Hiperemis, papil (+)


Inferior

Conjungtiva bulbi Tenang Injeksi konjungtiva (+)

Cornea Jernih Flikten (+)

Camera Oculi Sedang Sedang


Anterior

Pupil Bulat, 3mm, RC +/+ Bulat, 3mm, RC +/+

Iris Sinekia (-) Sinekia (-)

Lensa Jernih Jernih

Pemeriksaan TIO Palpasi

Tekanan intraocular palpatoar dekstra dan sinistra normal

Pemeriksaan Objektif dengan alat-alat lain

Funduskopi : Tidak dilakukan

4. DIAGNOSA BANDING
a. Konjungtivitis flikten
b. Pinguekula inflamasi OS
c. Ulkus marginal OS

2
5. DIAGNOSA KERJA
Konjungtivitis flikten OS

6. USULAN PEMERIKSAAN
Pewarnaan gram pada secret

7. PENATALAKSANAAN
Umum
a. Menjaga hygiene mata
Khusus
a. Steroid eye drop 6 dd gtt 1 OS
b. Roboransia (vitamin A, B kompleks, C)
c. Rencana konsul ke bagian anak

8. PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang
menutupi belakang kelopak dan bola mata. Konjungtivitis merupakan penyakit
yang paling umum di dunia. Macam-macam konjungtivitis antara lain :
a. Konjungtivitis alergi (keratokonjungtivitis atopic, simple alergik
konjungtivitis, konjungtivitis seasonal, konjungtivitis vernal, giant
papillary conjunctivitis)
b. Konjungtivitis bacterial (hiperakut, akut, kronik)
c. Konjungtivitis virus (adenovirus, herpetic)
d. Konjungtivitis klamidia
e. Bentuk konjungtivitis lain (contact lens-related, mekanik, trauma, toksik,
neonatal, phlyctenular, sekunder)

Konjungtivitis flikten adalah suatu peradangan pada konjungtiva dengan


pembentukan satu atau lebih tonjolan kecil (flikten) yang diakibatkan oleh reaksi
alergi (hipersensitivitas tipe IV). Tonjolan sebesar jarum pentul yang terutama
terletak di daerah limbus, berwarna kemerah-merahan disebut flikten. Flikten
konjungtiva mulai berupa lesi kecil, umumnya diameter 1-3 mm, keras, merah,
menonjol dan dikelilingi zona hiperemis. Di limbus sering berbentuk segitiga
dengan apeks mengarah ke kornea. Disini terbentuk pusat putih kelabu yang
segera menjadi ulkus dan mereda dalam 10-12 hari. Flikten umumnya terjadi di
limbus namun ada juga yang terjadi di kornea, bulbus dan tarsus. Secara
histologis, flikten adalah kumpulan sel leukosit neutrofil yang dikelilingi sel
limfosit, makrofag dan kadang-kadang sel datia berinti banyak.
Konjungtivitis flikten biasanya terdapat pada anak-anak dan kadang-kadang
pada orang dewasa. Penyakit ini merupakan manifestasi alergi endogen, tidak
hanya disebabkan protein bakteri tuberkulosis tetapi juga oleh antigen bakteri lain
seperti stafilokokus. Dapat juga ditemukan pada kandidiasis, askariasis, dan
helmintiasis. Penderita biasanya mempunyai gizi yang buruk.

2.2. Anatomi Konjungtiva

4
Konjungtiva merupakan membran mukosa tipis yang membatasi permukaan
dalam dari kelopak mata dan melipat ke belakang membungkus permukaan depan
dari bola mata, kecuali bagian jernih di tengah-tengah mata (kornea). Membran ini
berisi banya pembuluh darah dan berubah menjadi merah saat terjadi inflamasi.
Konjungtiva terdiri dari tiga bagian, yaitu :
a. Konjungtiva palpebralis (menutupi permukaan posterior dari palpebra)
b. Konjungtiva bulbaris (menutupi sebagian permukaan anterior bola mata)
c. Forniks (bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian
posterior palpebra dan bola mata).

Meskipun konjungtiva agak tebal, konjungtiva bulbar sangat tipis.


Konjungtiva bulbar juga bersifat dapat digerakkan, mudah melipat ke belakang
dan ke depan. Pembuluh darah dengan mudah dapat dilihat di bawahnya. Di
dalam konjungtiva bulbar terdapat sel goblet yang mensekresi musin, suatu
komponen penting lapisan air mata pre-kornea yang memproteksi dan memberi
nutrisi bagi kornea.

5
Gambar 1. Anatomi konjungtiva

2.3. Epidemiologi
Di Indonesia penyakit ini masih banyak ditemukan dan paling sering
dihubungkan dengan penyakit tuberkulosis paru. Penderita lebih banyak pada
anak-anak dengan gizi kurang atau sering menderita radang saluran napas, serta
dengan kondisi lingkungan yang tidak hygiene. Pada orang dewasa juga dapat
dijumpai tetapi lebih jarang. Meskipun sering dihubungkan dengan penyakit
tuberkulosis paru, tapi tidak jarang penyakit paru tersebut tidak dijumpai pada
penderita dengan konjungtivitis flikten. Penyakit lain yang dihubungkan dengan
konjungtivitis flikten adalah helmintiasis.
2.4. Klasifikasi
Secara klinis konjungtivitis fliktenularis dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Konjungtivitis flikten
Tanda radang tidak jelas, hanya terbatas pada tempat flikten dan hampir
tidak ada secret.
b. Konjungtivitis kum flikten
Tanda radang jelas dengan sekretmucous sampai mukopurulen, biasanya
timbul karena infeksi sekunder pada konjungtivitis flikten.

2.5. Etiopatogenesis
Mekanisme pasti atau mekanisme bagaimana terbentuknya flikten masih
belum jelas. Secara histologis fliktenulosa mengandung limfosit, histiosit, dan
sel plasma. Leukosit PMN ditemukan pada lesi nekrotik. Bentuk tersebut
adalah hasil dari reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap protein

6
tuberculin, Staphylococcus aureus, Coccidiodes immitis, Chlamydia, acne
rosacea, beberapa jenis parasit interstisial dan fungus Candida albicans.
Keratitis flikten dapat berkembang secara primer dari kornea meskipun
seringkali biasanya menyebar ke kornea dari konjungtiva. Epitel yang
ditempati oleh flikten rusak, membentuk ulus dangkal yang mungkin hilang
tanpa pembentukan jaringan parut. Flikten khas biasanya unilateral pada atau
di dekat limbus, pada konjungtiva bulbar atau kornea, dapat satu atau lebih,
bulat, meninggi, abu-abu atau kuning, hiperemis, terdapat nodul inflamasi
dengan dikelilingi zona hiperemis pembuluh darah. Flikten konjungtiva tidak
menimbulkan jaringan parut. Jaringan parut fibrovaskular kornea bilateral
limbus cenderung membesar ke bawah daripada ke atas mungkin
mengindikasikan flikten sebelumnya. Flikten yang melibatkan kornea sering
rekuren, dan migrasi sentripetal lesi inflamasi mungkin berkembang.
Kadangkala, beberapa inflamasi menimbulkan penipisan kornea dan jarang
menimbulkan perforasi.

2.6. Diagnosis
Gejala Subjektif
Konjungtivitis flikten biasanya hanya menyebabkan iritasi dengan rasa
sakit dengan mata merah dan lakrimasi. Penyakit ini biasanya unilateral tapi
terkadang mengenai kedua mata. Khasnya pada konjungtivitis flikten apabila
kornea ikut terlibat akan terdapat fotofobia dan gangguan penglihatan. Keluhan
lain dapat berupa rasa berpasir. Konjungtivitis flikten biasanya dicetuskan oleh
blefaritis akut dan konjungtivitis bacterial akut. Bila infeksi bakteri sekunder
terjadi, akan terdapat nanah mukopurulen dengan kelopak mata yang saling
melekat (blefarospasme). Konjungtivitis fliktenularis biasanya tidak
meninggalkan parut.

Gejala Objektif
Dengan slit lamp akan tampak sebagai tonjolan bulat ukuran 1-3 mm,
berwarna kuning atau kelabu, jumlahnya satu atau lebih yang disekelilingnya
terdapat pelebaran pembuluh darah konjungtiva (hiperemis). Bisa unilateral atau
mengenai kedua mata.

7
Gambar 2. Flikten pada limbus
Konjungtivitis flikten simpel

Terlihat nodul putih kemerahan yang dikelilingi daerah hiperemis


(pelebaran pembuluh darah konjungtiva) pada daerah sekitar limbus dan
konjungtiva bulbar. Pada umumnya nodul hanya soliter namun dapat juga
tumbuh lebih dari satu

.
Gambar 3. Lesi soliter pada konjungtivitis flikten simpleks
Konjungtivitis flikten necrotizing
Terdapat flikten besar yang disertai proses nekrosis dan ulserasi sehingga
memungkinkan terjadinya severe pustular congjunctivitis.
Konjungtivitis flikten milier
Terdapat multipel flikten yang berbentuk lingkaran disekitar limbus ataupun
menyebar secara tidak merata.

8
Gambar 4. Flikten multipel di sekeliling limbus
Histopatologi
Flikten terlihat sebagai kumpulan sel leukosit neutrofil yang dikelilingi
oleh sel limfosit, sel makrofag dan kadang-kadang sel datia berinti banyak.
Pembuluh darah yang memperdarahi flikten mengalami proliferasi endotel dan sel
epitel di atasnya mengalami degenerasi.

Laboratorium
Pemeriksaan dengan pewarnaan gram pada secret untuk
mengidentifikasikan organisme penyebab maupun adanya infeksi sekunder.

2.7. Diagnosis Banding


Konjungtivitis fliktenularis harus dibedakan dengan kondisi serupa yang
superficial seperti pinguecula inflamasi, ulkus marginal dan konjungtivitis
vernalis.

2.8. Penatalaksanaan
Usahakan untuk mencari penyebab primernya dan apabila diketahui,
penyebab ini diobati dulu, misalnya pencarian infeksi local di telinga, hidung,
tenggorokan atau gigi. Pemeriksaan penunjang berupa pemriksaan darah, urin,
feses maupun foto thorax juga diperlukan.
Penanganannya dimulai dengan edukasi pasien untuk memperbaiki hygiene
kelopak mata. Pembersihan kelopak 2 sampai 3 kali sehari dengan artificial tears
dan salep dapat menyegarkan dan mengurangi gejala pada kasus ringan. Karena
dasar dari timbulnya konjungtivitis fliktenularis adalah hipersensitivitas lambat,
maka pada mata diberikan obat tetes mata atau salep mata kortikosteroid local
misalnya deksamethasone atau prednisolon. Pada kasus yang lebih berat
dibutuhkan steroid topical atau kombinasi antibiotik-steroid. Kombinasi
kortikosteroid dengan antibiotik, misalnya kloramfenikol lebih dianjurkan

9
mengingat banyak kemungkinan terdapat infeksi bakteri sekunder. Pada
pemberian kortikosteroid local dalam jangka waktu lama perlu diwaspadai
kontaindikasi dan adanya penyulit-penyulit, antara lain superinfeksi jamur atau
virus, munculnya glaucoma maupun katarak.
Dapat juga diberikan roboransia yang mengandung vitamin A, B kompleks,
dan vitamin C untuk memperbaiki keadaan umum. Sikloplegik hanya dibutuhkan
apabila dicurigai adanya iritis.
Dengan pengobatan yang baik umumnya konjungtivitis fliktenularis akan
sembuh spontan dalam 1-2 minggu dan tidak meninggalkan bekas kecuali flikten
pada limbus dan kornea atau terjadi infeksi sekunder sehingga timbul abses.

2.9. Prognosis
Dengan penatalaksanaan yang komprehensif, umumnya konjungtivitis flikten
akan sembuh sempurna dalam 1-2 minggu dan tidak meninggalkan bekas kecuali
flikten pada limbus.

Gambar 5. Bekas flikten pada limbus


Prognosis menjadi lebih buruk jika terjadi flikten pada kornea, abses
kornea pada infeksi sekunder bakteri, dan perforasi kornea dalan luas yang
terbatas.

10
BAB III
PEMBAHASAN

1. Mengapa pasien ini didiagnosis dengan konjungtivitis flikten OS ?


Pasien ini didiagnosis dengan konjungtivitis flikten dikarenakan pada mata
kiri pasien ini ditemukan keluhan-keluhan, antara lain :
a. Mata merah
b. Gatal
c. Berair
d. Adanya kotoran mata berwarna putih
e. Keluhan-keluhan tersebut terasa pada mata kiri

Hal ini sesuai dengan gejala-gejala subyektif yang biasanya ditemukan pada
pasien dengan konjungtivitis flikten.
Selain itu pada pemeriksaan oftalmologi, ditemukan :
a. Conjungtiva tarsal superior yang hiperemis
b. Conjungtiva tarsal inferior hiperemis
c. Injeksi konjungtiva pada conjungtiva bulbi
d. Flikten pada limbus
Hal ini sesuai dengan gejala-gejala objektif yang sering ditemukan pada
pasien dengan konjungtiva flikten.

Pada pasien ini ditemukan juga adanya riwayat pengobatan paru 2 tahun
yang lalu dan penderita berobat secara tuntas. Hal ini dapat menjadi salah satu
hal yang dapat menunjang diagnosa konjungtivitis flikten yang salah satunya
dapat diakibatkan karena alergi terhadap tuberkuloprotein.

2. Pada pasien ini diusulkan dilakukan pemeriksaan :


a. Pewarnaan gram pada secret
Pemeriksaan ini diusulkan untuk dilakukan karena melalui pemeriksan ini,
dapat diketahui mikroorganisme yang menyebabkan terjadinya konjungtivitis
flikten pada pasien ini.

3. Diagnosa banding pada pasien ini :


a. Pinguecula inflamasi OS
Pinguekula merupakan benjolan pada konjungtiva bulbi yang
ditemukan pada orang tua, terutama yang matanya sering mendapat
rangsangan sinar matahari, debu, dan angin panas. Letak bercak ini pada
celah kelopak mata terutama bagian nasal.

11
Pinguekula merupakan degenerasi hialin jaringan submukosa
konjungtiva. Pembuluh darah tidak masuk ke dalam pinguekula akan
tetapi bila meradang atau terjadi iritasi, maka sekitar bercak degenerasi ini
akan terlihat pembuluh darah yang melebar.
Pada pinguekula tidak perlu diberikan pengobatan, akan tetapi bila
terlihat adanya tanda peradangan (pinguekulitis), dapat diberikan obat-
obat antiradang.

Gambar 6. Pinguecula

b. Ulkus marginal OS
Ulkus marginal merupakan peradangan kornea bagian perifer berbentik
khas yang biasanya terdapat pada daerah jernih antara limbus kornea
dengan daerah kelainannya. Dasar dari kelainannya adalah suatu reaksi
hipersensitivitas, terhadap eksotoksin stafilokokus.
Perjalanan penyakit dapat berubah-ubah, dapat sembuh cepat, dapat pula
timbul atau kambuh dalam waktu singkat.
Gejala-gejala yang ditemukan pada pasien dengan ulkus marginal adalah
penglihatan yang menurun, rasa sakit pada mata, fotofobia dan lakrimasi.
Selain itu dapat juga ditemukan adanya infiltrat atau ulkus yang
memanjang dan dangkal, dapat juga ditemukan satu mata blefarospasme.
Terapi yang diberikan pada pasien dengan ulkus marginal antara lain
steroid local yang dapat diberikan sesudah kemungkinan infeksi virus

12
herpes simpleks disingkirkan. Pemberian steroid sebaiknya dalam waktu
yang singkat disertai dengan pemberian vitamin B dan C dosis tinggi.

Gambar 7. Ulkus marginal

4. Pada pasien ini diberika terapi berupa :


a. Terapi umum
Menjaga hygiene mata
Dengan menjaga hygiene mata, kemungkinan untuk terjadinya infeksi
sekunder dapat dicegah.

b. Terapi khusus
Steroid topical
Karena dasar dari timbulnya konjungtivitis fliktenularis adalah
hipersensitivitas lambat, maka pada mata diberikan obat tetes mata atau
salep mata kortikosteroid local misalnya dexamethasone, prednisolon.
Pada pemberian kortikosteroid local dalam jangka waktu lama perlu
diwaspadai komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi, antara lain super
infeksi jamur atau virus, munculnya glaucoma maupun katarak.
Roboransia (Vitamin A, B kompleks dan C)
Untuk memperbaiki keadaan umum
Rencana konsul ke bagian anak
Hal ini ditujukan untuk kemungkinan timbulnya kembali infeksi dari
kuman TB karena konjungtivitis flikten merupakan reaksi alergi dari
toksin berbagai macam mikrobiologi, salah satunya adalah kuman TB.
Oleh karena dasarnya adalah alergi, maka penyakit ini cepat sembuh,
tetapi cepat kambuh kembali, selama penyebabnya masih ada dalam tubuh.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S., 2006. Penuntun Ilmu Penyakit Mata Edisi ke-3. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI, hlm : 134-135.

2. Vaughan, Daniel G., 2000. Oftalmologi Umum Edisi ke-4. Jakarta : Penerbit
Widya Medika, hlm : 116-117.

3. Melvin I., 2008. Phlyctenular Keratoconjunctivitis. Available on :


http://www.merckmanuals.com/professional/eye_disorders/corneal_disorders/
phlyctenular_keratoconjunctivitis.html (Diakses Juni 2012)

4. Muthialu A, Jensen L, Wagoner M. 2009. Phlyctenular Keratoconjunctivitis :


12 year old Female with Staphylococcal Blepharitis. Available on :
http://webeye.ophth.uiowa.edu/eyeforum/cases/89_phlyctenular-
keratoconjunctivitis-staphylococcal-blepharitis.htm (Diakses Juni 2012)

14