Anda di halaman 1dari 37

WRAP UP SKENARIO 2

BLOK RESPIRASI
BATUK DARAH

KELOMPOK: B-13
KETUA : RAMZY KUSWIJAYANTO 1102014219
SEKRETARIS : NORA SAPUTRI 1102014197
ANGGOTA : NADIA ANUGRAH 1102014184
NUR RAHMADINA 1102014200
PAMOR FAIZAL GHANI 1102014208
RAFA ASSIDIQ 1102014218
PUTRI PRIMA RAMADHAN 1102012218
SINTA DWI MAHARANI 1102013273

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
JAKARTA
2015/2016
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...........................................................................................................2
SKENARIO............................................................................................................3
KATA-KATA SULIT..............................................................................................4
PERTANYAAN......................................................................................................5
JAWABAN..............................................................................................................5
HIPOTESIS............................................................................................................6
SASARAN BELAJAR...........................................................................................7
Anatomi saluran pernafasan bawah......................................................................
Anatomi makro saluran pernafasan bawah..............................................................8
Anatomi mikro saluran pernafasan bawah.............................................................12
Fisiologi saluran pernafasan bawah...................................................................16
Memahami Dan Menjelaskan Tuberculosis paru.................................................
Definisi TB paru.....................................................................................................19
Klasifikasi TB paru................................................................................................19
Etiologi TB paru.....................................................................................................20
Epidemiologi TB paru............................................................................................22
Pathogenesis TB paru.............................................................................................22
Manifestasi klinis TB paru.....................................................................................24
Diagnosis dan Diagnosis banding TB paru............................................................24
Tatalaksana TB paru...............................................................................................27
Komplikasi TB paru...............................................................................................32
Pencegahan TB paru..............................................................................................32
Prognosis TB paru..................................................................................................33
Memahami Dan Menjelaskan tentang P2M......................................................34
Memahami Dan Menjelaskan etika batuk dalam pandangan Islam..............36
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................37

SKENARIO

2
BATUK DARAH

Seorang laki-laki, umur 50 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan batuk


berdahak yang bercampur darah lebih kurang 3 sendok makan setiap batuk sejak 3
hari yang lalu. Keluhan baru pertama kali dirasakan pasien. Dalam keluarga tidak ada
yang menderita dengan keluhan yang sama.
Pemeriksaan fisik : tanda vital dalam batas normal, bentuk habitus asthenikus,
konjungtiva palpebra pucat dan ada ronkhi basah halus nyaring pada apeks paru
kanan. Pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia, laju endap darah tinggi.
Pemeriksaan sputum didapatkan bakteri tahan asam (BTA). Pemeriksaan foto toraks :
ada infiltrat di apeks paru kanan.
Dokter memberi terapi obat anti tuberculosis (OAT) kategori I dan menunjuk
seorang keluarganya sebagai pengawas minum obat (PMO). Dokter juga
menganjurkan anggota keluarga yang serumah untuk melakukan pemeriksaan dan
mengajarkan etika batuk untuk mencegah penularan penyakit.

KATA SULIT

3
1. Habitus asthenikus
Bentuk tubuh tinggi, kurus, dada cekung, dan angulus costae tidak tumbuh dengan
baik.

2. Konjungtiva palpebra
Permukaan belakang kelopak mata yang melekat erat pada tarsus.

3. Ronkhi basah halus nyaring


Suaraa berisik dan terputus akibat aliran udara yang melewati cairan umumnya
terdengar saat inspirasi.

4. Infiltrate
Gambaran densitas paru yang abnormal, berbentuk bercak-bercak kecil dengan
densitas sedang dan batas tidak tegas.

5. Sputum
Lendir dan materi lainnya yang dibawa dari paru-paru, bronkus, dan trakea yang di
batukkan / dimuntahkan.

6. Batuk darah
Eksplorasi darah akibat perdarahan pada saluran nafas di bawah laring.

PERTANYAAN

4
1. Mengapa terdapat darah pada sputum?
2. Apa yang menyebabkan habitus asthenikus?
3. Mengapa pada pemeriksaan foto toraks terdapat infiltrat di apeks paru kanan?
4. Mengapa pada pemeriksaan laboratorium terdapat anemia dan LED tinggi?
5. Apa diagnosis skenario?
6. Mengapa terapi OAT harus diawasi?
7. Mengapa terdapat ronkhi basah halus dan terdapat di apeks paru kanan?
8. Mengapa keluarga pasien dianjurkan melakukan pemeriksaan?
9. Mengapa diberi OAT kategori I?
10. Berapa lama pemberian OAT?
11. Bagaimana etika batuk dalam Islam?

JAWABAN

1. Karena batuk yang terus menerus mengakibatkan pembuluh darah pecah.


2. Karena nafsu makan menurun membuat tubuh menjadi kurus dan karena kebiasaan
batuk.
3. Karena ada bakteri di apeks yang menyebabkan nekrosis perkejuan.
4. Karena batuk berdarah menyebabkan paru-paru terserang mikroba dan selanjutnya
paru-paru inefektif mengangkut O2.
5. TB paru.
6. Karena pasien lama kelamaan akan merasakan bosan sehingga harus diawasi dan
untuk memutuskan rantai penyebaran.
7. Karena di apeks kaya akan O2, dan bakteri TB bersifat aerob sehingga bisa hidup di
bagian apeks. Apeks kanan paru memiliki saluran bronkus yang lebih pendek dan
sudut lebih curam.
8. Karena penularan melalui droplet sehingga penyakit cepat menular jadi pemeriksaan
dapat mencegah tertularnya penyakit ke anggota keluarga lainnya.
9. Karena pasien baru pertama kali terserang gejala TB paru.
10. 6 bulan.
11. Jangan membuang sputum sembarangan dan mebggunakan masker.

HIPOTESIS

5
TB paru disebabkan oleh M.tuberculosis yang bersifat aerob dan tahan asam
sehingga lebih sering menyerang apeks paru kanan. Penularan melalui droplet yang
ditandai dengan batuk berdarah, habitus asthenikus, ronkhi basah halus nyaring. TB
paru dapat didiagnosis melalui pemeriksaan sputum, LED, foto toraks. TB dapat
diobati dengan OAT selama 6 bulan dengan PMO dan dapat dicegah dengan deteksi
dini serta etika batuk yang baik umtuk menghindari penularan ke orang lain.

SASARAN BELAJAR

6
LI.1 Memahami Dan Menjelaskan anatomi saluran pernafasan bawah
LO.1.1 Anatomi makro saluran pernafasan bawah
LO.1.2 Anatomi makro saluran pernafasan bawah
LI.2 Memahami Dan Menjelaskan Fisiologi saluran pernafasan bawah
LI.3 Memahami Dan Menjelaskan TB paru
LO.3.1 Definisi TB paru
LO.3.2 Klasifikasi TB paru
LO.3.3 Etiologi TB paru
LO.3.4 Epidemiologi TB paru
LO.3.5 Patogenesis TB paru
LO.3.6 Manifestasi klinis TB paru
LO.3.7 Diagnosis dan Diagnosis banding TB paru
LO.3.8 Tatalaksana TB paru
LO.3.9 Komplikasi TB paru
LO.3.10 PencegahanTB paru
LO.3.11 Prognosis TB paru
LI.4 Memahami Dan Menjelaskan tentang P2M
LI.5 Memahami Dan Menjelaskan etika batuk dalam pandangan Islam

SASARAN BELAJAR

7
LI.1 Memahami Dan Menjelaskan anatomi saluran pernafasan bawah
LO.1.1 Anatomi makro saluran pernafasan bawah
Trachea
Terdiri dari tulang rawan dan otot yang berbentuk pipa yang terletak di tengah
tengah leher sampai incisura jugularis di belakang manubrium sternum masuk
mediastinum superior. Dimulai dari bagian bawah cartilago cricoid setinggi cervical
V1 sampai bercabang menjadi bronchus dextra dan sinistra setinggi vertebrae thoracal
ke IV V. Percabangan tersebut dikenal dengan bifurcatio trachea.
Panjang trachea (10-12 cm), pria (12 cm), dan wanita (10 cm) yang terdiri dari (16-20
cincin) yang berbentuk lingkaran, berhubungan dengan daerah larynx melalui
cartilago cricoid dengan ligamentum cricotrachealis. Diantara tulang rawan terdapat
jaringan ikat ligamentum intertrachealis (ligamentum annulare). Trachea adalah
saluran napas yang penting dalam penyumbatan saluran napas terutama daerah larynx
dengan membuat tracheostomi (membuat lubang pada trachea terutama obstruksi
larynx mendadak) 1-2 cm di atas incisura jugularis sterni.

Persarafan trachea
Saraf-sarafnya adalah cabang-cabang nervus vagus, nervus laryngeus recurrens, dan
truncus symphaticus. Saraf-saraf ini mengurus otot trachea dan membrana mucosa
yang melapisi trachea.

Bronchus

8
Percabangan trachea setinggi batas vetebra thoracal iv-v disebut bifurcatio trachea.
Bifurcatio trachea memberi cabang 2 buah brochus, yaitu brochus primarius dextra
dan sinistra. Selanjutnya, bronchus primarius akan memberikan cabang-cabang ke
setiap lobus paru, disebut bronchus secunderius. Broncus secunderius bercabang lagi
menjadi bronchus tersier (bronchus segmentalis).

Bronchus dextra (terdapat 10 cabang bronchus segmentalis)


1 Lobus superior: Segmen apical, anterior, dan segmen posterior.
2 Lobus media: Segmen medial dan lateral.
3 Lobus inferior: Segmen superior, medial basal, lateral basal, anterior basal, dan
posterior basal.
Bronchus sinistra (terdapat 9 cabang bronchus segmentalis)
1 Lobus superior: Segmen apico posterior, anterior, lingularis superior, dan lingularis
inferior.
2 Lobus inferior: Segmen superior, mediobasal, laterobasal, anterobasal, dan
posterobasal.

Diantara lobus pulmo (paru) terdapat pembatas, yaitu fissure horizontal yang
membatasi antar lobus superior dengan lobus media pada pulmo dextra, dan fissure
obliq yang membatasi lobus media dengan lobus inferior pada pulmo dextra atau
antara lobus superior dengan lobus inferior pada pulmo sinistra.

Perbedaan bronchus dextra dan sinistra

9
1 Lumen bronchus dextra lebih luas dibandingkan sinistra.
2 Bronchus dextra lebih pendek dengan panjang 2,5 cm dan terdiri dari 6-8 buah
cincin, sedangkan sinistra panjangnya 5 cm dengan 9-12 buah cincin.
3 Bronchus dextra membentuk sudut 25 dengan garis tengah, sedangkan sinistra 45
sehingga posisi bronchus kanan lebih curam.
*Oleh karena itu, bronchus dextra lebih sering terkena infeksi.

Pulmo
Paru adalah organ utama untuk proses pernafasan yang berbentuk kerucut, dimana
bagian apex terdapat dibagian atas dan basal pada bagian bawah. Paru terletak dalam
cavum thorax yang mengisi ruangan dibagian lateral dari mediastinum.
Pulmo dibungkus oleh jaringan ikat kuat yaitu pleura.

Pleura dibagi menjadi 2, yaitu :


1 Pleura parietalis
Lapisan luar yang melapisi dinding dada yang terletak dibawah fascia
endothoracica.
2 Pleura visceralis
Bagian pleura yang melekat ke paru-paru.
Pada kedua lapisan pleura tersebut terdapat rongga / ruangan yang disebut dengan
cavum pleura dimana rongga tersebut mengandung sedikit cairan pleura yang
dihasilkan oleh lapisan pleura parietalis yang berfungsi sebagai pelumas untuk
mengurangi friksi antara kedua lapisan pleura.

Berdasarkan letaknya pleura parietalis tebagi atas :


1 Pleura costalis yaitu pleura yang melapisi iga.
2 Pleura diaphragmatica yaitu pleura yang melapisi diaphragma.
3 Pleura mediastinalis yaitu pleura yang melapisi mediastinum.
4 Pleura cervicalis (cupula pleura) yaitu pleura yang melapisi bagian apex paru.

Recessus pleura adalah kantong pleura yang terdapat pada lipatan pleura parietalis,
disebabkan paru tidak sepenuhnya mengisi cavum pleura. Fungsi recessus ini adalah
pada waktu inspirasi paru akan mengembang dan akan mengisi recessus tersebut.
Pada kedua hillus paru kedua lapisan pleura berhubungan dan bergantung longgar
diatas hillus dan disebut dengan ligamentum pulmonale. Ligamentum pulmonale
berfungsi untuk mengatur pergerakan alat dalam hillus selama proses respirasi.

Pulmo terdiri dari 2 buah, yaitu :


1 Pulmo dextra
Terdiri dari 3 lobus : lobus superior, lobus media dan lobus inferior.
2 Pulmo sinistra
Terdiri dari 2 lobus : lobus superior dan lobus inferior.

Alat alat penting yang terdapat pada hillus pulmonis :


1 Alat-alat yang masuk pada hillus pulmonis :
Bronchus primer, A. Pulmonalis, A. Bronchialis, dan syaraf.
2 Alat-alat yang keluar dari hillus pulmonis :
2 buah vena pulmonalis,vena bronchialis, dan limfonodus.

10
Pada jaringan paru bagian posterior didapatkan alur :
1 impresio cardiaca.
2 sulcus vena cava.
3 sulcus aorta thoracalis.
4 sulcus oesophagia

Pendarahan Paru
Bronchi, jaringan ikat paru, dan pleura visceralis menerima darah dari arteriae
bronchiales yang merupakan cabang aorta ascendens. Venae bronchiales (yang
berhubungan dengan venae pulmonales) mengalirkan darahnya ke vena azygos dan
vena hemiazygos.

11
Alveoli menerima darah terdeoksigenasi dari cabang-cabang terminal arteriae
pulmonales. Darah yang teroksigenasi meninggalkan kapiler-kapiler alveoli masuk ke
cabang-cabang venae pulmonales yang mengikuti jaringan ikat septa intersegmentalis
ke radix pulmonis. Dua venae pulmonales meninggalkan setiap radix pulmonis untuk
bermuara ke dalam atrium sinistrum cor.
Persarafan Paru
Pada radix setiap paru terdapat plexus pulmonalis yang terdiri atas serabut eferen dan
aferen saraf otonom. Plexus ini dibentuk dari cabang-cabang truncus symphaticus dan
menerima serabut-serabut parasimpatis dari nervus vagus.
Serabut-serabut eferen simpatis mengakibatkan bronchodilatasi dan vasokonstriksi.
Serabut-serabut eferen parasimpatis mengakibatkan bronchokonstrinksi, vasodilatasi,
dan peningkatan sekresi kelenjar.
Impuls aferen yang berasal dari mucosa bronchus dan dari reseptor regang pada
dinding alveoli berjalan ke susunan saraf pusat dalam saraf simpatis dan parasimpatis.

LO.1.2 Anatomi makro saluran pernafasan bawah


Bronkus
- Trakea bercabang menjadi 2 bronkus primer
- Bronkus primer masuk ke jaringan melalui hilus dan bercabang menjadi 2
bronkiolus sekunder (sisi kiri) dan 3 bronkiolus
sekunder sisi kanan
- Tiap bronkus sekunder utk satu lobus paru
- Bronkus sekunder/bronkus lobaris bercabang
menjadi bronkiolus
- Bronkus sebelum masuk ke paru bronkus
ekstrapulmonal (struktur = trakea , diameter lebih
kecil)
- Masuk ke paru bronkus intrapulmonal (masih
ada tulang rawan), lumen diliputi epitel bertingkat
torak bersilia dengan sel goblet
- Terdapat kelenjar campur di lamina propria
- Otot polos mengelilingi bronkus (spiral)

Bronkiolus
- Diameter kurang 1 mm
- Tidak terdapat tulang rawan
- Epitel selapis torak bersilia dengan beberapa sel
goblet
- Tanpa kelenjar
- Ada otot polos
- Makin kecil bronkiolusnya ( 0,3 mm) epitelnya
selapis kubis bersilia tanpa sel goblet

12
Bronkiolus terminalis
- Bronkiolus yg terkecil disebut BRONKIOLUS
TERMINALIS (selapis torak bersilia atau kubis bersilia
atau tanpa silia tanpa sel goblet)
- Bronkiolus terminalis saluran terakhir dr konduksi
- Pada epitel bronkiolus tdpt SEL CLARA tdk tdpt
silia tetapi punya mikrovili Sitoplasma bergranula kasar
- Lamina propria tipis
- Otot polos tipis
- Tdk ada kelenjar
- Diduga mempunyai fungsi sekresi SURFAKTAN
Sintesa surfaktan dapat diinduksi, sehingga penanganannya akan lebih singkat
- Mempermudah transport gas antara udara dan cairan
- Penemuan terakhir mempunyai efek bakterisid terhadap bakteri yg sampai ke
alveoli

Bronkiolus Respiratorius
- Tiap bronkiolus terminalis bercabang menjadi 2 atau lebih B.
respiratorius
- Diameter B. respiratorius pd orang dewasa 0,5 mm
- Merupakan saluran yg pendek
- Peralihan antara bagian konduksi dan bagian respirasi
- Dilapisi oleh epitel selapis kubis bersilia dan terdapat sel clara
- Terdapat alveolus
- Terdapat adanya serat kolagen, elastin dan otot polos yang terputus-
putus
- Jadi, ciri B. respiratorius adalah diantara alveoli terdapat epitel
selapis kubis
- Disini alveoli merupakan pertukaran gas yg pertama

Duktus Alveolaris
- Saluran yamg berdinding tipis dan putus-putus
- Dilanjutkan saluran yang panjang berkelok-kelok dan bercabang banyak
- D. alveolaris biasanya dikelilingi oleh sakus alveolaris
- Dinding D. alveolaris diantara mulut alveoli diliputi oleh serat elastin, serat
kolagen dan sedikit otot polos seperti titik2 diantara alveoli berdekatan

Sakus Alveolaris
- Merupakan kantong yang dibentuk oleh dua alveoli atau lebih

Alveoli atau Alveolus


- Kantung-kantung kecil yang dibentuk oleh selapis sel (spt sarang tawon)
- Mudah terjadi difusi oksigen dan karbondioksida antara udara dan darah
- Melekat satu sama lain dan dipisahkan oleh septum interalveolaris/dinding alveolus
- Antara dinding alveoli yg berdekatan terdapat lubang kecil dg diameter 10-15 mm
stigma alveoli (porus alveolaris) sirkulasi udara (keuntungan)
- Kerugiannya : memudahkan bakteri menyebar
- Setiap septum berisi satu atau lebih stigma alveoli
- Septum interalveolaris terdiri atas 2 lapis epitel gepeng di dalamnya terdapat
kapiler, serat elastin, kolagen, fibroblast, serat retikulin

13
Lobulus Paru
- Merupakan struktur dasar paru yang berbentuk piramid
- Basisnya menghadap ke permukaan pleura dan apexnya menuju ke hilus

Lung Unit
Lung unit mrp satu kesatuan fungsional paru, terdiri atas :
- Bronkiolus respiratorius
- Duktus alveolaris
- Sakus alveolaris
- Alveoli
- Arteri pulmonalis
- Vena pulmonalis
- Kapiler limf
- Serat-serat saraf dan anyaman
penyambungnya
Pada septum interalveolaris terdapat macam sel yang hanya dapat dibedakan
dengan mikroskop elektron yaitu :
- Sel pneumosit tipe I / sel epitel alveoli / alveolar cell :
95 % sel dinding alveoli
Inti gepeng
Sitoplasma tipis mengelilingi dinding alveoli
Pneumosit tipe II / sel septal / sel alveolar besar / sel sekretoris
- Bentuk kubis, inti bulat
- Sel menonjol ke arah lumen alveoli
- Berkelompok 2-3 sel
- Sitoplasma mengandung multilamellar bodies, zat ini dilepaskan ke permukaan
sebagai surfaktan

Sel alveolar fagosit / sel debu / dust cell


- Berasal dr monosit yang dihasilkan oleh sumsum tulang
- Sel agak besar berbentuk bulat dengan inti bulat
- Sitoplasma mengandung vakuola / yang tidak bervakuola ttp
bergranula
- Yang bervakuola berasal dari sel darah yang telah memfagosit
lipid atau kolesterol sehingga terlihat selnya bervakuola .

Endotel kapiler
- Sel ini melapisi kapiler darah
- Inti sel gepeng
- Kromatin inti halus
- Relatif banyak ditemukan

14
Sel interstitial
- Termasuk fibroblast dan sel mast
- Blood air barrier : Merupakan struktur yang mempunyai tebal 0,2-0,5 m,
memisahkan udara dalam alveolus dengan darah dalam kapiler.
- Struktur ini terdiri dari :
1 Sitoplasma sel epitel alveoli
2 Lamina basalis sel epitel alveoli
3 Lamina basalis sel endotel, sitoplasma sel endotel kapiler tipe kontinyu
4 Pd beberapa tempat lamina basalis sel epitel dan lamina basalis sel endotel
saling melekat satu sama lain, shg mengurangi Blood air barrier
5 Paru mempunyai sekitar 300 juta alveoli, shg permukaan alveoli untuk
pertukaran gas tdpt sekitar 70-80 m

Pembuluh Darah Paru, terdapat dua pembuluh darah :


A. Pulmonalis dan A. Bronkialis
- Pulamonalis : arteri tipe elastis berisi darah venosa yang berasal dari ventrikel
kanan jantung
- Arteri bercabang2 berjalan bersama cabang bronkus sampai bronkiolus
respiratorius
- Bagian akhir arteriolnya akan membentuk jala-jala kapiler yg mengelilingi alveolus
dan terletak di septum interalveolaris
- Venula yg berasal dari pleksus bersama dg cabang dr pleura akan berjalan dlm
septum interlobularis kmdn membentuk V. Pulmonalis yg akan masuk ke atrium
kiri jantung
- A. bronkialis lebih kecil dr A. Pulmonalis berisi darah arteri yg berasal dr aorta
atau A. interkostalis
- Cabang2nya akan memasuki dinding bronkus dan jaringan sekitarnya
- Di daerah duktus alveolaris tdpt anastomosis antara kapiler-kapiler dari A.
Pulmonalis dan A. Bronkialis
- Darah venosa akan kembali melalui V. Bronkialis dan bermuara ke V. Pulmonalis

Pembuluh Limf Paru


- Terdapat 2 sistem aliran getah bening , yaitu aliran di permukaan / pleura dimana
pembuluh limf yg tdpt di bawah pleura viseralis membentuk anyaman dan
menyalurkan ke kelenjar getah bening di hilus paru
- Aliran di bagian dalam paru merupakan pembuluh limf di tepi lobulus dan isinya
dialirkan melalui bagian tepi paru ke hilus
- Semua limf yang lebih dalam berjalan bersama-sama bronkus , A. Pulmonalis dan
V. Pulmonalis dialirkan ke kelenjar limf di hilus

Persarafan Paru
- Serat saraf yg berasal dari N. Vagus membentuk pleksus di sekitar bronkus dan
pembuluh darah dan akan menyebabkan BRONKOKONSTRIKSI
- Sel saraf yg berasal dr cabang : stimulasi simpatis dilatasi bronkus

15
Pleura
- Merupakan membran serosa yg
membungkus paru
- Terdiri atas 2 lapisan : parietal dan
viseral yg saling berhubungan di daerah
hilus
- Terdiri atas : serat kolagen, serat elastin,
fibrobalas dan makrofag
- Dilapisi oleh sel mesotel spt pd
peritonium
- Yg melekat pd paru pleura viseral
- Yg melekat pd toraks pleura prietalis
- Dalam keadaan normal rongga pleura
berisi sedikit cairan yg bekerja sbg agen
pelumas
- Pada keadaan patologis tertentu, rongga pleura dpt mjd rongga sesungguhnya yg
mengandung cairan atau udara di dalamnya
- Dinding rongga pleura seperti rongga serosa yg lain, sangat permiabel utk air dan
substansi lain
- Cairan ini berasal dr plasma darah melalui eksudasi
- Sebaliknya pd keadaan tertentu cairan atau gas cepat diabsorbsi

LI.2 Memahami Dan Menjelaskan Fisiologi saluran pernafasan bawah

Mekanisme Inspirasi
Sebelum inspirasi, otot-otot pernapasan melemas, tidak ada udara yang mengalir,
dan tekanan intra alveolus setara dengan tekanan atmosfer. Pada awal inspirasi,
otot-otot inspirasi terangsang untuk berkontraksi, sehingga terjadi pembesaran
rongga toraks. Diafragma bergerak ke bawah dan memperbesar volume toraks.
Pada saat rongga toraks mengembang, paru juga dipaksa mengembang untuk
mengisi rongga toraks yang membesar. Sewaktu paru mengembang, tekanan intra
alveolus menurun, karena molekul dalam jumlah yang sama kini menempati
volume paru yang lebih besar. Karena tekanan intra alveolus sekarang lebih rendah

16
daripada tekanan atmosfer, udara mengalir masuk ke paru mengikuti penurunan
gradient tekanan dari tinggi ke rendah.

Mekanisme Ekspirasi
Pada akhir inspirasi, otot-otot melemas. Saat melemas diafragma kembali ke
bentuknya, sewaktu paru menciut dan berkurang volumenya, tekanan intra alveolus
meningkat, karena jumlah molekul udara yang lebih besar yang terkandung di
dalam volume paru yang besar, pada akhir inspirasi sekarang terkompresi ke dalam
volume yang lebih kecil. Udara sekarang keluar paru mengikuti penurunan gradient
tekanan, dari tekanan intra alveolus yang tinggi ke tekanan atmosfer yang rendah.
Dalam keadaan normal, ekspirasi adalah suatu proses pasif, karena terjadi akibat
penciutan elastic paru saat otot-otot inspirasi melemas tanpa memerlukan kontraksi
otot atau pengeluaran energi.
Sistem respirasi bekerja melalui 3 tahapan yaitu :
1. Ventilasi
Terdapat 3 tekanan berbeda yang penting dalam ventilasi :
1 Tekanan Atmosfer
Tekanan yang ditimbulkan oleh berat udara di atmosfer terhadap benda-benda
dipermukaan bumi. Tekanan ini 760 mmHg. Tekanan atmosfer berkurang seiring
dengan penambahan ketinggian diatas permukaan laut.
2 Tekanan Intra-alveolus
Tekanan di dalam alveolus
3 Tekanan Intrapleura
Tekanan dalam kantung pleura, dikenal juga sebagai tekanan Intra toraks, yaitu
tekanan yang terjadi diluar paru. Tekanan intra pleura biasanya lebih kecil daripada
tekanan atmosfer, 756mmHg saat istirahat
Ventilasi terjadi karena adanya perubahan tekanan intra pulmonal, pada saat
inspirasi tekanan intra pulmonal lebih rendah dari tekanan atmosfer sehingga udara
dari atmosfer akan terhisap ke dalam paru-paru. Sebaliknya pada saat ekspirasi
tekanan intrapulmonal menjadi lebih tinggi dari atmosfer sehingga udara akan
tertiup keluar dari paru-paru. Perubahan tekanan intrapulmonal tersebut disebabkan
karena perubahan volume thorax akibat kerja dari otot-otot pernafasan dan
diafragma.
Fleksibilitas paru sangat penting dalam proses ventilasi. Fleksibilitas paru dijaga
oleh surfaktan. Surfaktan merupakan campuran lipoprotein yang dikeluarkan sel
sekretori alveoli pada bagian epitel alveolus dan berfungsi menurunkan tegangan
permukaan alveolus yang disebabkan karena daya tarik menarik molekul air &
mencegah kolaps alveoli dengan cara membentuk lapisan monomolekuler antara
lapisan cairan dan udara.

2. Difusi
Difusi dalam respirasi merupakan proses pertukaran gas antara alveoli dengan
darah pada kapiler paru. Proses difusi terjadi karena perbedaan tekanan, gas
berdifusi dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Salah satu ukuran difusi adalah
tekanan parsial.

17
Volume gas yang berdifusi melalui membran respirasi per menit untuk setiap
perbedaan tekanan sebesar 1 mmHg disebut kapasitas difusi. Kapasitas difusi
oksigen dalam keadaan istirahat sekitar 230 ml/menit.

3. Transportasi
Transportasi oksigen ke sel-sel yang membutuhkan melalui darah dan
pengangkutan karbondioksida sebagai sisa metabolisme ke kapiler paru.
4. Regulasi
Mekanisme adaptasi sistem respirasi terhadap perubahan kebutuhan oksigen tubuh
sangat penting untuk menjaga homeostastis dengan mekanisme sebagai berikut :
Sistem respirasi diatur oleh pusat pernafasan pada otak yaitu medula oblongata.
Pusat nafas terdiri dari daerah berirama medulla (medulla rithmicity) dan pons.
Daerah berirama medula terdiri dari area inspirasi dan ekspirasi. Sedangkan pons
terdiri dari pneumotaxic area dan apneustic area. Pneumotaxic area menginhibisi
sirkuit inspirasi dan meningkatkan irama respirasi. Sedangkan apneustic area
mengeksitasi sirkuit inspirasi.

Volume paru dan kapasitas paru ( jumlah dari dua atau lebih volume paru) dapat
ditentukan :
Tidal Volume (TV). Volume udara yang masuk atau keluar paru selama 1 kali
bernapas. Nilai rata-rata pada keadaan istirahat = 500 ml.
Volume cadangan inspirasi (VCI). Volume tambahan yang dapat secara
maksimal dihirup melebihi tidal volume istirahat. VCI dihasilkan oleh kontraksi
maksimum diafragma, otot antar iga eksternal, dan otot inspirasi tambahan. Nilai
rata-ratanya = 3.000 ml.
Kapasitas inspirasi (KI). Volume maksimum udara yang dapat dihirup pada akhir
ekspirasi normal tenang (KI = VCI + TV). Nilai rata-rata = 3.500 ml.
Volume cadangan ekspirasi (VCE). Volume tambahan udara yang tepat secara
aktif dikeluarkan oleh kontraksi maksimum melebihi udara yang dikeluarkan
secara pasif pada akhir tidal volume biasa. Nilai rata-rata = 1.000 ml.
Volume residual (VR). Volume minimum udara yang tersisa di paru bahkan
setelah ekspirasi maksimum. Nilai rata-rata = 1.200 ml.
Kapasitas residual fungsional (KRF). Volume udara di paru pada akhir ekspirasi
pasir normal (KRF = VCE + VR). Nilai rata-rata = 2.200 ml.
Kapasitas vital (KV). Volume maksimum udara yang dapat dikeluarkan selama 1
kali bernapas setelah inspirasi maksimum. Subyek mula-mula melakukan inspirasi
maksimum, kemudian melakukan ekspirasi maksimum ( KV = VCI + TV + VCE).
Nilai rata-ratanya = 4.500 ml.
Kapasitas paru total (KPT). Volume udara maksimum yang dapat ditampung
oleh paru (KPT = KV + VR). Nilai rata-ratanya = 5.700 ml.
Volume ekspirasi paksa dalam 1 detik. Volume udara yang dapat diekspirasikan
selama detik pertama ekspirasi pada penentuan KV.

18
LI.3 Memahami Dan Menjelaskan TB paru
LO.3.1 Definisi TB paru
Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan oleh
Mycobakterium tuberculosis yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada
jaringan yang terinfeksi. Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang
dapat hidup terutama di paru / berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan parsial
tinggi. Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi dapat menyebar ke
hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges, ginjal, tulang, nodus limfe. Infeksi
awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan. Individu kemudian dapat
mengalami penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun.

LO.3.2 Klasifikasi TB paru


Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:
1 Tuberkulosis paru. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan
(parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
2 Tuberkulosis ekstra paru. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain
paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe,
tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.

Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu pada TB


Paru:
1 Tuberkulosis paru BTA positif.
a Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
b 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan
gambaran tuberkulosis.
c 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.
d 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada
pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah
pemberian antibiotika non OAT.
2 Tuberkulosis paru BTA negatif
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Kriteria diagnostik
TB paru BTA negatif harus meliputi:
a Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif
b Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
d Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.

19
Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit
1 TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto toraks
memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses far
advanced), dan atau keadaan umum pasien buruk.
2 TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu:
a TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral,
tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
b TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis
eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih dan alat
kelamin.

Klasifikasi berdasarkan Tipe Pasien


Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada
beberapa tipe pasien yaitu:
1 Kasus baru : Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
2 Kasus kambuh (Relaps) : Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah
mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan
lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
3 Kasus setelah putus berobat (Default ) : Adalah pasien yang telah berobat dan
putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.
4 Kasus setelah gagal (failure) : Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya
tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama
pengobatan.
5 Kasus Pindahan (Transfer In) : Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang
memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.
6 Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam
kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan
masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan.

LO.3.3 Etiologi TB paru


Mycobacterium tuberculosis pertama kali dideskripsikan pada tanggal 24 Maret 1882
oleh Robert Koch. Maka untuk mengenang jasa beliau, bakteri tersebut diberi nama
baksil Koch. Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri penyebab penyakit
tuberkulosa (TB).
Bahkan penyakit TB pada paru-paru pun dikenal juga sebagai Koch Pulmonum (KP).
Robert Koch, penemu bakteri Mycobacterium tuberculosis
Taksonomi
Kingdom : Bacteria
Filum : Actinobacteria
Ordo : Actinomycetales

20
Upaordo : Corynebacterineae
Famili : Mycobacteriaceae
Genus : Mycobacterium
Spesies: Mycobacterium tuberculosis

Bentuk
a. berbentuk batang lurus atau agak bengkok dengan ukuran 0,2- 0,4 x 1-4 um.
b. Pewarnaan Ziehl-Neelsen dipergunakan untuk identifikasi bakteri tahan asam.
c. Tidak dapat digolongkan gram negatif atau gram positif S Biakan
d. Kuman ini tumbuh lambat, koloni tampak setelah lebih kurang 2 minggu bahkan
kadangkadangsetelah 6-8 minggu.
e. Suhu optimum 37C, tidak tumbuh pada suhu 25C atau lebihdari 40C.
f. Medium padat yang biasa dipergunakan adalah Lowenstein- Jensen. PH optimum
6,4-7,0.
g. Terdapat 3 formulasi umum yang dapat di gunakan:
1. medium agar semi sintetik. Medium ini mengandung garam, vitamin, kofaktor,
asam oleat, albumin, katalase, gliserol, glukosa, dan malakit hijau. Medium ini
digunakan untuk mengobservasi morfologi koloni, untuk uji sensitifitas, dan
menambahkan antibiotik sebagai medium selektif.
2. medium telur inspissated. Medium ini mengandung garam, gliserol, dan substansi
organik kompleks. Medium ini digunakan sebagai medium selektif dengan
menambahkan antibiotic
3. medium kaldu medium ini mendorong prolifersi inokulum kecil.

Sifat-sifat
a. Mycobacterium tidak tahan panas, akan mati pada 6C selama 15- 20 menit.
b. Biakan dapatmati jika terkena sinar matahari lansung selama 2 jam.
c. Dalam dahak dapat bertahan 20-30p jam.
d. Basil yang berada dalam percikan bahan dapat bertahan hidup 8-10 hari.
e. Biakan basil inidalam suhu kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam
lemari dengan suhu20C selama 2 tahun.
f. Myko bakteri tahan terhadap berbagai khemikalia dan disinfektanantara lain phenol
5%, asam sulfat 15%, asam sitrat 3% dan NaOH 4%.
g. Basil ini dihancurkanoleh jodium tinctur dalam 5 minit, dengan alkohol 80 % akan
hancur dalam 2-10 menit.
h. Bersifat aerob obligat

21
LO.3.4 Epidemiologi TB paru
Indonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan beban TB
tertinggi di dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000
(WHO, 2010) dan estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah
kematian akibat TB diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya. Indonesia merupakan
negara dengan percepatan peningkatan epidemi HIV yang tertinggi di antara negara-
negara di Asia. HIV dinyatakan sebagai epidemik terkonsentrasi (a concentrated
epidemic), dengan perkecualian di provinsi Papua yang prevalensi HIVnya sudah
mencapai 2,5% (generalized epidemic). Secara nasional, angka estimasi prevalensi
HIV pada populasi dewasa adalah 0,2%. Sejumlah 12 provinsi telah dinyatakan
sebagai daerah prioritas untuk intervensi HIV dan estimasi jumlah orang dengan
HIV/AIDS di Indonesia sekitar 190.000 - 400.000. Estimasi nasional prevalensi HIV
pada pasien TB baru adalah 2.8%. Angka MDR-TB diperkirakan sebesar 2% dari
seluruh kasus TB baru (lebih rendah dari estimasi di tingkat regional sebesar 4%) dan
20% dari kasus TB dengan pengobatan ulang. Diperkirakan terdapat sekitar 6.300
kasus MDR TB setiap tahunnya.
Meskipun memiliki beban penyakit TB yang tinggi, Indonesia merupakan
negara pertama diantara High Burden Country (HBC) di wilayah WHO South-East
Asian yang mampu mencapai target global TB untuk deteksi kasus dan keberhasilan
pengobatan pada tahun 2006. Pada tahun 2009, tercatat sejumlah sejumlah 294.732
kasus TB telah ditemukan dan diobati (data awal Mei 2010) dan lebih dari 169.213
diantaranya terdeteksi BTA+. Dengan demikian, Case Notification Rate untuk TB
BTA+ adalah 73 per 100.000 (Case Detection Rate 73%). Rerata pencapaian angka
keberhasilan pengobatan selama 4 tahun terakhir adalah sekitar 90% dan pada kohort
tahun 2008 mencapai 91%. Pencapaian target global tersebut merupakan tonggak
pencapaian program pengendalian TB nasional yang utama.
Proporsi kasus TB dengan BTA negatif sedikit meningkat dari 56% pada tahun
2008 menjadi 59% pada tahun 2009. Peningkatan jumlah kasus TB BTA negatif yang
terjadi selama beberapa tahun terakhir sangat mungkin disebabkan oleh karena
meningkatnya pelaporan kasus TB dari rumah sakit yang telah terlibat dalam program
TB nasional. Jumlah kasus TB anak pada tahun 2009 mencapai 30.806 termasuk
1,865 kasus BTA positif. Proposi kasus TB anak dari semua kasus TB mencapai
10.45%. Angka-angka ini merupakan gambaran parsial dari keseluruhan kasus TB
anak yang sesungguhnya mengingat tingginya kasus overdiagnosis di fasilitas
pelayanan kesehatan yang diiringi dengan rendahnya pelaporan dari fasilitas
pelayanan kesehatan.

LO.3.5 Patogenesis TB paru


Tuberkulosis Primer
Penularan TB paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar
menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat menetap
dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada-tidaknya sinar ultraviolet,
baik-buruknya ventilasi, dan tingkat kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap,
kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan.

22
Bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada saluran
pernapasan atau jaringan paru. Partikel dapat masuk alveolar bila ukuran partikel < 5
m. Kuman pertama kali akan dihadapi oleh neutrofil, kemudian baru oleh makrofag.
Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar dari
percabangan tracheobronchial bersama gerakan silia dengan sekretnya. Kuman
menetap di jaringan paru dan berkembang biak dalam sitoplasma di makrofag. Kuman
dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru
akan berbentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer/efek
primer/sarang (fokus) Ghon. Sarang primer ini dapat terjadi di setiap bagian paru.
Bila menjalar ke pleura, maka terjadi efusi pleura. Kuman dapat juga masuk melalui
saluran pencernaan, jaringan limfe, oropharynx, dan kulit, terjadi limfadenopati
regional kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar ke seluruh bagian paru
menjadi TB milier.
Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus
(limfangitis lokal), dan juga diikuti pembesaran KGB hilus (limfadenitis regional).
Sarang primer limfangitis lokal + limfadenitis regional = kompleks primer
(Ranke). Proses ini memakan waktu 3-8 minggu, kompleks primer ini selanjutnya
dapat menjadi:
- Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat (ini banyak terjadi).
- Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, klasifikasi
hilus, + 10% di antaranya dapat terjadi reaktivasi lagi karena kuman yang dormant.
- Berkomplikasi dan menyebar secara:
- per kontinuitatum, yakni menyebar ke sekitarnya
- secara bronchogen pada paru yang bersangkutan maupun paru disebelahnya.
Kuman dapat juga tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus
- secara limfogen ke organ tubuh lainnya,
- secara hematogen ke organ tubuh lainnya.

Tuberkulosis Pasca-primer (Tuberkulosis Sekunder)


Kuman yang dormant (tidur) pada TB primer akan muncul bertahun-tahun
kemudian sebagai infeksi TB dewasa (tuberkulosis post-primer/TB pasca-primer/TB
sekunder). Mayoritas reinfeksi mencapai 90%. Tuberkulosis sekunder terjadi karena
imunitas menurun seperti malnutrisi, alcohol, penyakit maligna, diabetes, AIDS, dan
gagal ginjal. TB pasca primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di region
atas paru. Invasinya adalah daerah parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiler paru.
Sarang dini ini mula-mula berbentuk sarang pneumonia kecil. Dalam 3-10 minggu
sarang ini menjadi tuberkel, yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel histiosit
dan sel Datia-Langhans yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan berbagai jaringan
ikat.
TB pasca primer juga dapat berasal dari infeksi eksogen dari usia muda menjadi TB
usia tua. Tergantung dari jumlah kuman, virulensinya, dan imunitas pasien, secara
keseluruhan akan terdapat 3 jenis sarang, yakni:
a Sarang yang dapat sembuh. Jika sudah sembuh tidak perlu pengobatan lagi.
b Sarang aktif eksudatif. Sarang bentuk ini perlu pengobatan yang lengkap dan
sempurna.
c Sarang yang berada antara aktif dan sembuh. Sarang bentuk ini dapat sembuh
spontan, tetapi mengingat kembali kemungkinan terjadinya eksaserbasi kembali,
sebaiknya diberi pengobatan yang sempurna juga.

23
LO.3.6 Manifestasi klinis TB paru
Gejala Umum TB
1. Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari
disertai keringat malam. Dipengaruhi oleh daya tahan tubuh dan berat ringannya
kuman TB yang masuk
2. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
3. Penurunan nafsu makan dan berat badan.
4. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
5. Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
6. Nyeri dada akibat infiltrasi radang sampai pleura

Gejala Khusus TB
1 Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian
bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah
bening yang membesar, akan menimbulkan suara mengi, suara nafas melemah
yang disertai sesak.
2 Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan
keluhan sakit dada.
3 Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada
suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada
muara ini akan keluar cairan nanah.
4 Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut
sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya
penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

LO.3.7 Diagnosis dan Diagnosis banding TB paru


Pemeriksaan dahak mikroskopis
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan
pengobatan dan menentukan potensi penularan.Pemeriksaan dahak untuk penegakan
diagnosis dilakukan denganmengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan
dalam dua harikunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS),
1. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datangberkunjung pertama
kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan
dahak pagi pada hari kedua.
2. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun
tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.
3. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan
dahak pagi.

Pemeriksaan Biakan
Peran biakan dan identifikasi M.tuberkulosis pada penanggulangan TB khususnya
untuk mengetahui apakah pasien yang bersangkutan masih peka terhadap OAT yang
digunakan. Selama fasilitas memungkinkan, biakan dan identifikasi kuman serta bila
dibutuhkan tes resistensi dapat dimanfaatkan dalam beberapa situasi:
1. Pasien TB yang masuk dalam tipe pasien kronis
2. Pasien TB ekstraparu dan pasien TB anak.

24
3. Petugas kesehatan yang menangani pasien dengan kekebalan ganda.
Pemeriksaan Tes Resistensi
Tes resistensi tersebut hanya bisa dilakukan di laboratorium yang mampu
melaksanakan biakan, identifikasi kuman serta tes resistensi sesuai standar
internasional, dan telah mendapatkan pemantapan mutu (Quality Assurance) oleh
laboratorium supranasional TB. Hal ini bertujuan agar hasil pemeriksaan tersebut
memberikan simpulan yang benar sehinggga kemungkinan kesalahan dalam
pengobatan MDR dapat di cegah.

1. Pemeriksaan Fisik.
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan
konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu tubuh yang subfebris,
badan kurus atau berat badan menurun. Pemeriksaan fisik sering tidak diperoleh
hasil yang memuaskan terutama apabila sarang penyakit terletak di dalam akan
sulit dinilai secara palpasi, perkusi dan auskultasi. Tempat kelainan lesi TB paru
yang paling dicurigai adalah bagian apeks paru. Bila dicurigai adanya infiltrat agak
luas mungkin ditemukan perkusi yang redup dan auskultasi suara bronkhial dan
suara tambahan ronkhi basah kasar yang nyaring. Namun bila infiltrat diliputi
penebalan pleura, suara tambahan menjadi vesikular melemah. Bila terdapat
kavitas yang cukup besar, pada perkusi akan diperoleh hasil hipersonor atau
timpani dan suara auskultasi amforik. Pada TB paru lanjut dengan fibrosis luas
sering ditemukan atrofi dan retraksi otot interkostal. Bagian paru yang sakit
menciut dan menarik isi mediastinum atau paru yang lain. Paru yang sehat jadi
hiperinflasi. Keadaan lanjut TB paru dapat meningkatkan tekanan arteri pulmonalis
(hipertensi pulmonalis) yang diikuti terjadinya kor pulmonale dan gagal jantung
kanan sehingga akan dapat ditemukan tanda-tanda kor pulmonale dengan gagal
jantung kanan seperti takipnea, takikardi, sianosis, right ventrikular lift, right
artikular gallop, murmur Graham Steel, bunyi P2 yang mengeras, tekanan vena
jugularis yang meningkat, hepatomegali, ascites dan edem.
Dalam penampilan klinis, TB paru sering asimptomatik dan penyakit baru dicurigai
dengan didapatkan adanya kelainan radiologis dada pada pemeriksaan rutin atau uji
tuberkulin positif. Radiologis.
2. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radilogis merupakan cara yang praktis untuk menemukan lesi
tuberkulosis. Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru tetapi dapat
juga mengenai bagian inferior atau daerah hilus yang menyerupai tumor paru. Pada
awal penyakit saat lesi masih menyerupai sarang pneumonia, gambaran radiologis
berupa bercak seperti awan dan dengan batas yang tidak tegas. Bila lesi sudah
diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas tegas.
Pada kavitasi bayangan berupa cincin berdinding tipis. Pada kalsifikasi bayangan
tampak bercak padat dengan densitas tinggi. Pada ateletaksis terlihat fibrosis luas
dengan penciutan pada sebagian, satu lobus atau satu bagian paru. Gambaran
tuberkulosis miliar tampak berupa bercak halus yang umumnya tersebar rata di
seluruh lapang paru. Pemeriksaan radiologis lain yang dapat dilakukan adalah
bronkografi, CT scan dada atau juga MRI.

25
3. Pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada darah, sputum dan tes tuberkulin. Darah.
Pemeriksaan tidak sensitif dan tidak spesifik. Pada TB baru akan didapatkan
leukosit meninggi dengan hitung jenis bergeser ke kiri, jumlah limfosit masih
normal dan LED mulai meningkat. Sputum. Pemeriksaan sputum adalah penting
untuk menemukan kuman BTA. Pemeriksaan sputum juga dapat memberikan
evaluasi terhadap pengobatan yang telah diberikan. Kriteria sputum BTA positif
adalah bila paling tidak ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan. Untuk
pemeriksaan BTA, bahan selain sputum dapat juga diambil dari bilasan bronkus,
jaringan paru, pleura, cairan pleura, cairan lambung, jaringan kelenjar, cairan
serebrospinal, urin atau tinja.

4. Tes tuberkulin.
Pemeriksaan ini dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis
terutama pada anak-anak (balita). Tes ini dilakukan dengan menyuntikan 0,1 cc
tuberkulin secara intrakutan. Tes ini hanya menyatakan apakah seseorang sedang
atau pernah terinfeksi kuman TB atau mendapat vaksinasi BCG. Tes tuberkulin
(mnataoux) dinyatakan posotif apabila diperoleh indurasi 10 mm setelah 48-72 jam
tuberkulin disuntikkan.

26
LO.3.8 Tatalaksana TB paru
Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok, yaitu:
a. Obat primer/ Lini pertama: Isoniazid (INH), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin,
Pirazinamid. Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih
dapat ditolerir, sebagian besar dapat dipisahkan dengan obat-obatan ini.
b. Obat sekunder/ Lini kedua: Etionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin,
Kapreomisin, Kanamisin.

Isoniazid (INH)
Efek antibakteri: bersifat tuberkulostatik dan tuberkulosid. Efek bakterisidnya hanya
terlihat pada kuman yang sedang tumbuh aktif. Isoniazid dapat menembus ke dalam
sel dengan mudah.
Mekanisme kerja: menghambat biosintesis asam mikolat (mycolic acid) yang
merupakan unsur penting dinding sel mikobakterium.
Farmakokinetik: mudah diabsorbsi pada pemberian oral maupun parenteral. Mudah
berdifusi ke dalam sel dan semua cairan tubuh. Antar 75-95% diekskresikan melalui
urin dalam waktu 24 jam dan hampir seluruhnya dalam bentuk metabolit.
Efek samping: reaksi hipersensitivitas menyebabkan demam, berbagai kelainan kulit.
Neuritis perifer paling banyak terjadi. Mulut terasa kering, rasa tertekan pada ulu hati,
methemoglobinemia, tinnitus, dan retensi urin.
Indikasi: Obat ini diindikasikan untuk terapi semua bentuk tuberculosis aktif,
disebabkan kuman yang peka dan untuk profilaksis orang beresiko tinggi
mendapatkan infeksi.
Kontraindikasi: Kontraindikasinya adalah riwayat hipersensitifitas ataureaksi
adversus, termasuk demam, artritis, cedera hati, kerusakan hati akut, tiap etiologi,
kehamilan.
Sediaan dan posologi: terdapat dalam bentuk tablet 50, 100, 300, dan 400 mg serta
sirup 10 mg/mL. Dalam tablet kadang-kadang telah ditambahkan B6. biasanya
diberikan dalam dosis tunggal per orang tiap hari. Dosis biasa 5 mg/kgBB, maksimum
300 mg/hari. Untuk TB berat dapat diberikan 10mg/kgBB, maksimum 600 mg/hari,
tetapi tidak ada bukti bahwa dosis demikian besar lbih efektif. Anak < 4 tahun
dosisnya 10mg/kgBB/hari. Isoniazid juga dapat diberikan secara intermiten 2 kali
seminggu dengan dosis 15 mg/kgBB/hari.

Rifampisin
Aktivitas antibakteri: menghambat pertumbuhan berbagai kuman gram-positif dan
gram-negatif.
Mekanisme kerja: terutama aktif terhadap sel yang sedang tumbuh. Kerjanya
menghambat DNA-dependent RNA polymerase dari mikrobakteria dan
mikroorganisme lain dengan menekan mula terbentuknya (bukan pemanjangan) rantai
dalam sintesis RNA.

27
Farmakokinetik: pemberian per oral menghasilakn kadar puncak dalam plasma setelah
2-4 jam. Setelah diserap dari saluran cerna, obat ini cepat diekskresi melalui empedu
dan kemudian mengalami sirkulasi enterohepatik. Penyerapannya dihambat oleh
makanan. Didistribusi ke seluruh tubuh. Kadar efektif dicapai dalam berbagai organ
dan cairan tubuh, termasuk cairan otak, yang tercermin dengan warna merah jingga
pada urin, tinja, ludah, sputum, air mata, dan keringat.
Efek samping: jarang menimbulkan efek yang tidak diingini. Yang paling sering ialah
ruam kulit, demam, mual, dan muntah.
Indikasi: untuk obat anti tuberkulosis yang dikombinasikan dengan anti tuberkulosis
lain untuk terapi awal maupun ulang.
Kontraindikasi: Sindrom syok, anemia hemolitik akut, dan gangguan hati.
Sediaan dan posologi: tersedia dalam bentuk kapsul 150 mg dan 300 mg. Terdapat
pula tablet 450 mg dan 600 mg serta suspensi yang mengandung 100 mg/5mL
rifampisin. Beberapa sediaan telah dikombinasi dengan isoniazid. Biasanya diberikan
sehari sekali sebaiknya 1 jam sebelum makan atau dua jam setelah makan. Dosis
untuk orang dewasa dengan berat badan kurang dari 50 kg ialah 450 mg/hari dan
untuk berat badan lebih dari 50 kg ialah 60 mg/hari. Untuk anak-anak dosisnya 10-20
mg/kgBB/hari dengan dosis maksimum 600 mg/hari.

Etambutol
Aktivitas antibakteri: menghambat sintesis metabolit sel sehingga metabolisme sel
terhambat dan sel mati. Hanya aktif terhadap sel yang tumbuh dengan khasiat
tuberkulostatik.
Farmakokinetik: pada pemberian oral sekitar 75-80% diserap dari saluran cerna. Tidak
dapat ditembus sawar darah otak, tetapi pada meningitis tuberkulosa dapat ditemukan
kadar terapi dalam cairan otak.
Efek samping: jarang. Efek samping yang paling penting ialah gangguan penglihatan,
biasanya bilateral, yang merupakan neuritis retrobulbar yaitu berupa turunnya
ketajaman penglihatan, hilangnya kemampuan membedakan warna, mengecilnya
lapangan pandang, dan skotom sentral maupun lateral. Menyebabkan peningkatan
kadar asam urat darah pada 50% pasien.
Indikasi: Etambutol digunakan sebagai terapi kombinasi tuberculosis dengan obat
lain, sesuai regimen pengobatan jika diduga ada resistensi. Obat ini tidak dianjurkan
untuk anak-anak usia kurang 6 tahun, neuritis optik,gangguan visual.
Kontraindikasi: Hipersensitivitas terhadap etambutol seperti neuritisoptik.
Sediaan dan posologi: tablet 250 mg dan 500 mg. Ada pula sediaan yang telah
dicampur dengan isoniazid dalam bentuk kombinasi tetap. Dosis biasanya 15
mg/kgBB, diberikan sekali sehari, ada pula yang menggunakan dosis 25 mg/kgBB
selama 60 hari pertama, kemudian turun menjadi 15 mg/kgBB.

Pirazinamid
Aktivitas antibakteri: mekanisme kerja belum diketahui.
Farmakokinetik: mudah diserap usus dan tersebar luas ke seluruh tubuh. Ekskresinya
terutama melalui filtrasi glomerulus.

28
Efek samping: yang paling umum dan serius adalah kelainan hati. Menghambat
ekskresi asam urat. Efek samping lainnya ialah artralgia, anoreksia, mual, dan muntah,
juga disuria, malaise, dan demam.
Indikasi: Digunakan untuk terapi tuberkulosis dalam kombinasi dengan OAT lain.
Kontraindikasi: terhadap gangguan fungsi hati parah, porfiria, Hipersensitivitas.
Sediaan dan posologi: bentuk tablet 250 mg dan 500 mg. Dosis oral 20-35 mg/kgBB
sehari (maksimum 3 g), diberikan dalam satu atau beberapa kali sehari.

Streptomisin
Aktivitas antibakteri: bersifat bakteriostatik dan bakterisid terhadap kuman TB.
Mudah masuk kavitas, tetapi relatif sukar berdifusi ke cairan intrasel.
Farmakokinetik: setelah diserap dari tempat suntikan, hampir semua streptomisin
berada dalam plasma. Hanya sedikit sekali yang masuk ke dalam eritrosit. Kemudian
menyebar ke seluruh cairan ekstrasel. Diekskresi melalui filtrasi glomerulus.
Efek samping: umumnya dapat diterima dengan baik. Kadang-kadang terjadi sakit
kepala sebentar atau malaise. Bersifat nefrotoksik. Ototoksisitas lebih sering terjadi
pada pasien yang fungsi ginjalnya terganggu.
Indikasi: Sebagai kombinasi pada pengobatan TBC bersama isoniazid, rifampisin, dan
pirazinamid, atau penderita yang kontraindikasi dengan 2 atau lebih obat tersebut.
Kontraindikasi: Hipersensitivitas terhadap streptomisin sulfat atauaminoglikosida
lain.
Sediaan dan posologi: bubuk injeksi dalam vial 1 dan 5 gram. Dosisnya 20 mg/kgBB
secara IM, maksimum 1 gr/hari selama 2 sampai 3 minggu. Kemudian frekuensi
berkurang menjadi 2-3 kali seminggu.

Etionamid
Aktivitas antibakteri: in vitro, menghambat pertumbuhan M. tuberculosis jenis human
pada kadar 0.9-2.5 g/mL.
Farmakokinetik: pemberian per oral mudah di absorpsi. Kadar puncak 3 jam dan
kadar terapi bertahan 12 jam. Distribusi cepat, luas, dan merata ke cairan dan jaringan.
Ekskresi cepat dalam bentuk utama metabolit 1% aktif.
Efek samping: paling sering anoreksia, mual da muntah. Sering terjadi hipotensi
postural, depresi mental, mengantuk dan asthenia.
Sediaan dan posologi: dalam bentuk tablet 250 mg. Dosis awaln 250 mg sehari, lalu
dinaikan setiap 5 hari dengan dosis 125 mg 1 g/hr. Dikonsumsi waktu makan untuk
mengurangi iritasi lambung.

Paraaminosalisilat
Aktivitas bakteri: in vitro, sebagian besar strain M. tuberculosis sensitif dengan kadar
1 g/mL.
Farmakokinetik: mudah diserap melalui saluran cerna. Masa paruh 1 jam. Diekskresi
80% di ginjal dan 50% dalam bentuk asetilasi.

29
Efek samping: gejala yang menonjol mual dan gangguan saluran cerna. Dan kelianan
darah antara lain leukopenia, agranulositopenia, eosinofilia, limfositosis, sindrom
mononukleosis atipik, trombositopenia.
Sediaan dan posologi: dalam bentuk tablet 500 mg dengan dosis oral 8-12 g sehari.

Sikloserin
Aktifitas bakteri: in vitro, menghambat M.TB pada kadar 5-20 g/mL dengan

menghambat sintesis dinding sel.


Farmakokinetik: baik dalam pemberian oral. Kadar puncak setelah pemberian obat 4-
8 jam. Ditribusi dan difusi ke seluruh cairan dan jaringan baik. Ekskresi maksimal
dalam 2-6 jam, 50% melalui urin dalam bentuk utuh.
Efek samping: SSP biasanya dalam 2 minggu pertama, dengan gejala somnolen, sakit
kepala, tremor, vertigo, konvulsi, dll.
Sediaan dan posologi: bentu kapsul 250 mg, diberikan 2 kali sehari. Hasil terapi
paling baik dalam plasma 25-30 g/mL.

Kanamisin dan Amikasin


Menghambat sintesis protein bakteri. Efek pada M. tb hanya bersifat supresif.
Farmakokinetik: melalu suntikan intramuskular dosis 500 mg/12 jam (15mg/kgBB/hr,
atau dengan intravena selama 5 hr/mgg selama 2 bulan,dan dilanjutkan dengan 1-1.5
mg 2 atau 3 kali/mgg selama 4 bulan.

Kapreomisin
Efek samping: nefrotoksisitas dengan tanda nnaiknya BUN, menurunnya klirens
kreatinin dan albuminuria. Selain itu bisa terjadi hipokalemia, uji fungsi hati buruk,
eosinogilia, leukositosis, leukopenia, dan trombositopenia.

Efek samping ringan OAT:


Efek Samping Penyebab Penatalaksanaan
Tidak nafsu makan, Semua OAT diminum
Rifampisin
mual, sakit perut malam sebelum tidur
Nyeri sendi Pirasinamid Beri Aspirin
Kesemutan s/d rasa Beri Vitamin B6 (Piridoxin)
INH
terbakar pada kaki 100mg/hr
Kemerahan pada
Rifampisin
air seni Perlu penjelasan ke pasien

Efek samping berat OAT


Efek Samping Penyebab Penatalaksanaan
Gatal dan Semua jenis
Kemerahan OAT Ikuti petunjuk pelaksanaan
Tuli streptomisin Hentikan,ganti dengan

30
Etambutol
Gangguan Hentikan,ganti dengan
streptomisin
Keseimbangan Etambutol
Ikterus tanpa sebab Hampir Hentikan,sampai
lain semua OAT menghilang
Bingung dan Hampir Hentikan,segera tes fungsi
muntah-muntah semua OAT hati
Gangguan
Etambutol
Penglihatan Hentikan
Purpura dan
Rifampisin
renjatan (syok) Hentikan

Program Nasional Penanggulangan TBC di Indonesia menggunakan panduan OAT:


1. Kategori I (2HRZE / 4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirasinamid (Z), dan
Etambutol (E). Obat-obat tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan (2HRZE).
Kemudian diteruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari Isoniasid (H) dan
Rifampsin (R), diberikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan (4H3R3).
Obat ini diberikan untuk :
o Penderita baru TBC Paru BTA Positif
o Penderita TBC Paru BTA negatif Rontgen Positif yang sakit berat dan
o Penderita TBC Ekstra Paru berat

2. Kategori II (2HRZE / HRZE / 5H3R3E3)


Tahap intensif diberikan selama 3 bulan, yang terdiri dari 2 bulan dengan Isoniasid
(H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), Etambutol (E) dan suntikan streptomisin
setiap hari. Dilanjutkan 1 bulan dengan Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid
(Z), Etambutol (E) setiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan selama
5 bulan dengan HRE yang diberikan tiga kali dalam seminggu.
Perlu diperhatikan bahwa suntikan streptomisin diberikan setelah penderita selesai
menelan obat.
Obat ini diberikan untuk:
o Penderita kambuh (relaps)
o Penderita gagal (failure)
o Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default)

3. Kategori III (2HRZ / 4H3R3)


Tahap intensif terdiri dari HRZ diberikan setiap hari selama 2 bulan (2HRZ),
diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari HR selama 4 bulan diberikan 3 kali
seminggu.

31
LO.3.9 Komplikasi TB paru
Komplikasi :
1. Hemoptisis berat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang mengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
3. Bronkietaksis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan
ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
4. Pneumotorak (adanya udara didalam rongga pleura) spontan: kolaps spontan
karena kerusakan jaringan paru.
5. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan
sebagainya.
6. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

LO.3.10 PencegahanTB paru


Pencegahan Primer :
Pencegahan primer merupakan upaya yang dilaksanakan untuk mencegah timbulnya
penyakit pada populasi yang sehat.
Pengendalian melalui perundang-undangan (legislative control) :
Undang-Undang No. 14 tahun 1969 Tentang ketentuan-ketentuan pokok tenaga
kerja.
Undang-Undang No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan kerja
Undang-Undang No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan
Peraturan Menteri Kesehatan tentang hygiene dan saniasi lingkungan
Pengendalian melalui administrasi/organisasi (administrative control):
Pesyaratan penerimaan tenaga kerja
Pencatatan pelaporan
Monitoring dan evaluasi
Pengendalian secara teknis (engineering control), antara lain :
Sistem ventilasi yang baik
Pengendalian lingkungan keja
Pengendalian melalui jalur kesehatan (medical control), antara lain : Pendidikan
kesehatan : kebersihan perorangan, gizi kerja, kebersihan lingkungan, caraminum
obat dll.
Pemeriksaan kesehatan awal, berkala & khusus (anamnesis, pemeriksaan
fisik,pemeriksaan laboratorium rutin, tuberculin test)-
Peningkatan gizi pekerja
Penelitian kesehatan

32
Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya untuk menemukan penyakit TBC sedini
mungkinmencegah meluasnya penyakit, mengurangi bertambah beratnya penyakit,
diantaranya:
Pengawasan dan penyuluhan untuk mendorong pasien TBC bertahan pada
pengobatanyang diberikan (tingkat kepatuhan) dilaksanakan oleh seorang
Pengawas Obat atau juru TBC
Pengamatan langsung mengenai perawatan pasien TBC di tempat kerja-
Case-finding secara aktif, mencakup identifikasi TBC pada orang yang dicurigai
danrujukan pemeriksaan dahak dengan mikroskopis secara berkala.
Membuat Peta TBC, sehingga ada gambaran lokasi tempat kerja yang
perluprioritas penanggulangan TBC bagi pekerja
Pengelolaan logisti

Pencegahan Tersier
Rehabilitasi merupakan tingkatan terpenting pengontrolan TBC. Dimulai dengan
diagnosis kasus berupa trauma yang menyebabkan usaha penyesuaian diri secara
psikis, rehabilitasi penghibur selama fase akut dan hospitalisasi awal pasien,
kemudian rehabilitasi pekerjaan yang tergantung situasi individu. Selanjutnya,
pelayanan kesehatan kembali dan penggunaan media pendidikan untuk mengurangi
cacat sosial dari TBC, serta penegasan perlunya rehabilitasi.

Selain itu, tindakan pencegahan sebaiknya juga dilakukan untuk mengurangi


perbedaan pengetahuan tentang TBC, yaitu dengan jalan sebagai berikut :
1 Perkembangan media.
2 Metode solusi problem keresistenan obat.
3 Perkembangan obat Bakterisidal baru.
4 Kesempurnaan perlindungan dan efektifitas vaksin.
5 Pembuatan aturan kesehatan primer dan pengobatan TBC yang fleksibel.
6 Studi lain yang intensif.
7 Perencanaan yang baik dan investigasi epidemiologi TBC yang terkontrol.

LO.3.11 Prognosis TB paru


Bila tidak menerima pengobatan spesifik :
- 25% meninggal dunia dalam 18 bulan
- 50% meninggal dalam 5 tahun
- 8-12.5 % menjadi chronic exeretors, yakni terus-menerus mengeluarkan basil TB
dalam sputumnya (sumber penularan)
Sisanya mengalami kesembuhan dengan spontan dengan bekas berupa proses
fibrotik dan perkapuran

Bila diberikan pengobatan spesifik (sesuai aturan sebenarnya) :


Pengobatan spesifik hanya membunuh basil TB saja, namun kelainan paru yang sudah
ada pada saat pengobatan spesifik dimulai tidak akan hilang sehingga keluhan-
keluhan yang disebabkannya belum tentu hilang secara sempurna saat terapi spesifik
selesai, bahkan dapat bertahan selama hidup. Bila diberikan pengobatan spesifik

33
(tidak memenuhi syarat) penderita tidak akan sembuh, dan basil TB yang tadinya
resisten terhadap obat-obatan yang dipakai akan menjadi resisten. Akibatnya
penderita sukar disembuhkan dan menularkan basil-basil resisten pada sekelilingnya.
LI.4 Memahami Dan Menjelaskan tentang P2M
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular dan tidak menular yaitu program
pelayanan kesehatan Puskesmas untuk mencegah dan mengendalikan penular
penyakit menular/infeksi (misalnya TB, DBD, Kusta dll).
Tujuan program: menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan akibat
penyakit menular dan penyakit tidak menular. Prioritas penyakit menular yang akan
ditanggulangi adalah Malaria, demam berdarah dengue, diare, polio, filaria,
kusta tuberkulosis paru, HIV/AIDS, pneumonia, dan penyakit-penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi. Prioritas penyakit tidak menular yang ditanggulangi adalah
penyakit jantung dan gangguan sirkulasi, diabetes mellitus, dan kanker.
Strategi Penemuan Kasus TB

Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek, diagnosis, penentuan


klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Penemuan pasien merupakan langkah pertama
dalam kegiatan program penanggulangan TB. Penemuan dan penyembuhan pasien TB
menular, secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB,
penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan
TB yang paling efektif di masyarakat.
Sumber dan Cara Penularan
Sumber penularan infeksi Mycobacterium tuberculosis adalah pasien TB dengan BTA
positif. Penularan ini terjadi secara inhalasi, yaitu bila pasien tersebut batuk atau
bersin, pasien akan menyebarkan kuman udara dalam bentuk percikan dahak (droplet
nuclei). Sekali penderita TB BTA (+) batuk, akan dapat menghasilkan sekitar 3000
percikan dahak (Depkes RI, 2006).
Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam
waktu yang lama. Percikan ini dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan
ruangan yang gelap dan lembab. Sedangkan ventilasi yang baik, akan dapat
mengurangi jumlah percikan, dan sinar matahari langsung dapat membunuh
kumanTB. (Depkes RI, 2006)

34
FAKTOR RISIKO
Faktor risiko pada Tuberkulosis dibagi menjadi dua, yaitu:
1 Infeksi Tuberkulosis
a Orang-orang yang lahir di negara asing dari negara-negara yang berinsiden tinggi.
b Orang-orang miskin dan sangat miskin, terutama di kota-kota besar.
c Penghuni penjara sekarang atau sebelumnya.
d Orang tunawisma.
e Pengguna obat injeksi.
f Pekerja perawat kesehatan yang merawat penderita berisiko tinggi.
g Anak yang terpajan pada orang dewasa berisiko tinggi.

2 Penyakit Tuberkulosis bila Terinfeksi


a Koinfeksi dengan virus imunodefisiensi manusia (HIV).
b Penyakit gangguan imun lain, terutama keganasan.
c Pengobatan imunosupresif.
d Bayi dan anak < 3 tahun.

Prinsip dasar program P2M


a Pelaksana program adalah Kelompok Puskesmas Pelaksana yang terdiri dari
Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM) dan Puskesmas Satelit (PS). Diagnosis
hanya dilakukan di PRM, PS hanya membuat slide serta memfiksasi saja.
b Pencarian penderita dilakukan secara pasif di sarana kesehatan. Diagnosis BTA
secara mikroskopis bila ditemukan kuman dengan 3 kali pemeriksaan
dahak yang berbeda (dahak sewaktu, pagi dan sewaktu) dan paling sedikit 2 kali
positif disebut kasus BTA(+).
c Kasus BTA() bila 3 kali pemeriksaan dahak hasilnya semua Negative tapi pada
pemeriksaan Rntgen terdapat tanda TB aktif di parunya.
d Pengecatan dengan Ziehl Neelsen dan pemeriksaan kuman dengan
mikroskop binokuler.
e Tipe kasus dibedakan kasus banu, kasus kambuh/gagal, kasus BTA() tapiRontgen
f Follow up pengobatan dilakukan secara ketat pada akhir fase intensif dan
dua bulan sebelum akhir pengobatan dan akhir pengobatan, setiap follow up pemer
iksaan dahak dilakukan dua kali (dahak sewaktu dari pagi).
g Supervisi pelaksanaan program dilakukan oleh petugas tingkat II secara ketat (3
bulan sekali).
h Pengawasan langsung keteraturan berobat (DOTS : Directly ObservedTreatment
Short- Course) oleh petugas kesehatan atau keluarganya.

Persyaratan PMO:
1. Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui baik oleh petugas kesehatan
maupun penderita
2. Disegani dan dihormati oleh penderita
3. Seseorang yang tinggal dekat dengan penderita dan bersedia membantu penderita
dengan sukarela
4. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan penderita

35
Tugas PMO
1. Mengawasi penderita TBC agar menelan obat secara teratur sampai selesai
pengobatan
2. Memberi dorongan kepada penderita agar mau berobat teratur
3. Mengingatkan penderita untuk pemeriksaan ulang dahak pada waktu yang
ditentukan
4. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga penderita TBC yang punya gejala-
gejala

Siapa yang bisa jadi PMO? Sebaiknya adalah petugas kesehatan ,misalnya bidan di
desa, perawat, pekarya sanitarian, juru imunisasi. Bila tidak petugas kesehatan yang
memungkinkan. PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru anggota PPTI, PKK,
atau tokoh masyarakat atau anggota keluarga.

LI.5 Memahami Dan Menjelaskan etika batuk dalam pandangan Islam


Cara Batuk yang Benar yaitu :
a Langkah 1 : Sedikit berpaling dari orang disekitar anda dan tutup hidung dan mulut
atau hidung saat batuk dan bersin dengan menggunakan tissu, sapu tangan atau
lengan baju.
b Langkah 2 : Segera buang tisu yang sudah dipakai ke dalam tempat sampah.
c Langkah 3 : Cuci tangan dengan mengunakan sabun atau menggunakan gel
pembersih tangan.
d Langkah 4 : Gunakan masker. Bersin pada lengan baju bagian dalam adalah cara
penting untuk membantu mengurangi penyebaran penyakit udara di seluruh dunia.
Jika menggunakan tissue, itu hanya boleh digunakan sekali dan diikuti segera
dengan mencuci tangan dan membuang tissue pada tempat sampah.

Etika batuk menurut islam


Rasulullah saw. Bersabda:
Jika salah seorang dan kalian bersin, maka hendaklah ia berkata, Segala puji bagi
Allah, dan hendaklah saudaranya mengatakan padanya, Semoga Allah
merahmatimu, dan jika saudaranya telah mengatakan, Semoga Allah merahmatimu,
maka hendaklah orang yang bersin berkata, Semoga Allah memberi petunjuk
kepadamu, dan memperbaiki hatimu. (Diriwayatkan Al-Bukhari).
Abu Hurairah ra berkata, Jika Rasulullah SAW. bersin, beliau meletakkan tangannya,
atau pakaiannya di mulutnya, dan merendahkan suaranya. (Muttafaq Alaih).

36
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta.
Eroschenko, VP. 2010. Atlas Histologi diFiore. Ed. 11.Jakarta : EGC

Ethel, Sloane. Anatomi dan Fisiologi Pemula. EGC. Jakarta

Gunawan SG, Setiabudi R, Nafraldi. 2008. Farmakologi dan Terapi ed. 5. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.
Kumar, Vinay, dkk. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins Volume 2 Edisi 7. Jakarta:
EGC.

Mikrobiologi Kedokteran ed.23, ab. Huriawati Hartanto, dll. Jakarta: EGC

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2006. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis dan


Penata-laksanaan di Indonesia. Available at:
http://www.klikpdpi.com/konsensus/tb/tb.html
Snell. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran

Sudoyo W, Aru, dkk. 2006. Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid II edisi IV. Jakarta : FKUI

37