Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anemia

Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah Hemoglobin dalam darah kurang

dari normal.

Menurut WHO (1997) seseorang dinyatakan anemia bila kadar hemoglobin pada

laki-laki dewasa < 13 g/dl, pada anak umur 12-13 dan wanita dewasa tidak hamil <

12 g/dl, pada umur 6 bulan sampai 5 tahun dan wanita hamil < 11 g/dl. Pada anak

umur 5-11 tahun dinyatakan anemia bila kadar hemoglobin < 11.5 g/dl.

Menurut data WHO (2005) prevalensi anemia pada ibu hamil secara global

mencapai 41,8% atau sekitar 56 juta ibu hamil.

2.2. Klasifikasi Anemia

Berdasarkan penyebab terjadinya anemia, secara umum anemia dapat diklasifikasikan

sebagai berikut:

2.2.1 Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya

cadangan besi tubuh, sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang

yang pada akhirnya pembentukan hemoglobin berkurang.Anemia defisiensi besi

dapat disebabkan oleh rendahnya masukan besi, gangguan absorpsi serta

kehilangan besi akibat perdarahan menahun.Anemia jenis ini merupakan anemia


yang paling sering terjadi.Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besi,

sehingga cadangan besi makin menurun. Apabila cadangan kosong, maka

keadaan ini disebut iron depleted state. Jika kekurangan besi berlanjut terus

maka penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang sehingga dapat menimbulkan

anemia.Pada saat ini juga terjadi kekurangan besi pada epitel serta pada beberapa

enzim yang dapat menimbulkan gejala pada kuku, epitel mulut dan faring serta

berbagai gejala lainnya.

Gejala yang khas pada anemia jenis ini adalah kuku menjadi rapuh dan

menjadi cekung sehingga mirip seperti sendok, gejala seperti ini disebut

koilorika. Selain itu, anemia jenis ini juga mengakibatkan permukaan lidah

menjadi licin, adanya peradangan pada sudut mulut dan nyeri pada saat menelan.

Selain gejala khas tersebut pada anemia defisiensi besi juga terjadi gejala umum

anemia seperti lesu, cepat lelah serta mata berkunang-kunang.

Anemia akibat kekurangan zat besi (Fe) ini paling sering dijumpai oleh ibu

hamil, Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang intake unsur zat besi ke

dalam tubuh melalui makanan, karena gangguan absorbsi, gangguan penggunaan

atau terlalu banyak zat besi yang keluar dari badan, misalnya pada perdarahan.

Keperluan zat besi akan bertambah dalam kehamilan, terutama dalam trimester

II hal ini disebabkan meningkatnya kebutuhan janin yang dikandung oleh ibu.

2.2.2. Anemia Hipoplastik


Anemia hipoplastik disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu

membuat sel-sel darah baru.Penyebabnya belum diketahui, kecuali yang

disebabkan oleh infeksi berat (sepsis), keracunan dan sinar rontgen atau radiasi.

Mekanisme terjadinya anemia jenis ini adalah karena kerusakan sel induk

dan kerusakan mekanisme imunologis.Anemia jenis ini biasanya ditandai dengan

gejala perdarahan seperti petikie dan ekimosis (perdarahan kulit), perdarahan

mukosa dapat berupa epistaksis, perdarahan sub konjungtiva, perdarahan gusi,

hematemesis melena dan pada wanita dapat berupa menorhagia. Perdarahan

organ dalam lebih jarang dijumpai , tetapi jika terjadi perdarahan pada otak

sering bersifat fatal.

Komplikasi yang dapat terjadi adalah gagal jantung akibat anemia berat dan

kematian akibat infeksi yang disertai perdarahan.

2.2.3. Anemia Megaloblastik

Anemia megaloblastik adalah anemia yang disebabkan defisiensi vitamin

B12 dan asam folat.Anemia jenis ini ditandai dengan adanya sel megaloblast

dalam sumsum tulang belakang.Sel megaloblast adalah sel prekursor eritrosit

dengan bentuk sel yang besar.

Timbulnya megaloblast adalah akibat gangguan maturasi inti sel karena

terjadi gangguan sintesis DNA sel-sel eritoblast akibat defiensi asam folat dan

vitamin B12 dimana vitamin B12 dan asam folat berfungsi dalam pembentukan

DNA inti sel dan secara khusus untuk vitamin B12 penting dalam pembentukan
myelin. Akibat gangguan sintesis DNA pada inti eritoblast ini maka maturasi inti

lebih lambat,sehingga kromatin lebih longgar dan sel menjadi lebih besar karena

pembelahan sel yang lambat. Sel eritoblast dengan ukuran yang lebih besar serta

susunan kromatin yang lebih longgar disebut sebagai sel megaloblast.Sel

megaloblast ini fungsinya tidak normal, dihancurkan saat masih dalam sumsum

tulang sehingga terjadi eritropoesis inefektif dan masa hidup eritrosit lebih

pendek yang berujung pada terjadinya anemia.

Kekurangan asam folat berkaitan dengan berat lahir rendah, ablasio plasenta

dan Neural Tube Defect (NTD).NTD yang terjadi bisa berupa anensefali, spina

bifida (kelainan tulang belakang yang tidak menutup), meningo-ensefalokel

(tidak menutupnya tulang kepala).Kelainan-kelainan tersebut disebabkan karena

gagalnya tabung saraf tulang belakang untuk tertutup.

Anemia defisiensi vitamin B12 dan asam folat mempunyai gejala yang

samaseperti terjadinya ikterus ringan dan lidah berwarna merah.Tetapi pada

defisiensi vitamin B12 disertai dengan gejala neurologik seperti mati rasa.

2.2.4. Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik disebabkan oleh proses hemolisis. Hemolisis adalah

penghancuran atau pemecahan sel darah merah sebelum waktunya. Hemolisis

berbeda dengan proses penuaan yaitu pemecahan eritrosit karena memang sudah

cukup umurnya. Pada dasarnya anemia hemolitik dapat dibagi menjadi dua

golongan besar yaitu anemia hemolitik karena faktor di dalam eritrosit sendiri
(intrakorpuskular) yang sebagian besar bersifat herediter dan anemia hemolitik

karena faktor di luar eritrosit (ekstrakorpuskular) yang sebagian besar bersifat

didapatkan seperti malaria dan transfusi darah.

Proses hemolisis akan mengakibatkan penurunan kadar hemoglobin yang

akan mengakibatkan anemia. Hemolisis dapat terjadi perlahan-lahan, sehingga

dapat diatasi oleh mekanisme kompensasi tubuh tetapi dapat juga terjadi tiba-tiba

sehingga segera menurunkan kadar hemoglobin. Seperti pada anemia lainnya

pada penderita anemia hemolitik juga mengalami lesu, cepat lelah serta mata

berkunang-kunang. Pada anemia hemolitik yang disebabkan oleh faktor genetik

gejala klinik yang timbul berupa ikterus, splenomegali, kelainan tulang dan ulkus

pada kaki.

2.3. Anemia Defisiensi Besi Dan Kehamilan

Anemia dalam kehamilan adalah suatu kondisi ibu dengan kadar nilai hemoglobin

di bawah 11 gr% pada trimester satu dan tiga, atau kadar nilai hemoglobin kurang

dari 10,5 gr% pada trimester dua (Centers for Disease Control, 1998). Perbedaan nilai

batas diatas dihubungkan dengan kejadian hemodilusi (Cunningham, 2007).

Menurut Tarumingkeng (2003) dalam Kusumah (2009), anemia adalah salah satu

dari empat masalah gizi utama di Indonesia yang dialami oleh sekitar 51 % ibu

hamil.Sebagian besar anemia pada ibu hamil adalah anemia defisiensi besi. WHO

(1992) dalam Abel (1998) melaporkan bahwa prevalensi ibu-ibu hamil yang
mengalami defisiensi besi sekitar 35-75% serta semakin meningkat seiring dengan

pertambahan usia kehamilan.

2.4. Fisiologi Kehamilan

Pada kehamilan kebutuhan oksigen lebih tinggi sehingga memicu peningkatan

produksi eritropoetin.Akibatnya, volume plasma bertambah dan sel darah merah

meningkat.Namun, peningkatan volume plasma terjadi dalam proporsi yang lebih

besar jika dibandingkan dengan peningkatan eritrosit sehingga terjadi penurunan

konsentrasi hemoglobin akibat hemodilusi (Abdulmuthalib, 2009). Peningkatan

produksi sel darah merah ini terjadi sesuai dengan proses perkembangan dan

pertumbuhan masa janin yang ditandai dengan pertumbuhan tubuh yang cepat dan

penyempurnaan susunan organ tubuh (Sadler, 1988). Pada trimester pertama

kehamilan, zat besi yang dibutuhkan sedikit karena peningkatan produksi eritropoetin

sedikit, oleh karena tidak terjadi menstruasi dan pertumbuhan janin masih

lambat.Sedangkan pada awal trimester kedua pertumbuhan janin sangat cepat dan

janin bergerak aktif, yaitu menghisap dan menelan air ketuban sehingga lebih banyak

kebutuhan oksigen yang diperlukan (Wiknjosastro, 2009).Akibatnya kebutuhan zat

besi semakin meningkat untuk mengimbangi peningkatan produksi eritrosit dan

rentan untuk terjadinya anemia, terutama anemia defisiensi besi.

2.5. Konsentrasi Hemoglobin Pada kehamilan


Konsentrasi hemoglobin normal pada wanita hamil berbeda dengan wanita yang

tidak hamil. Hal ini disebabkan karena pada kehamilan terjadi proses hemodilusi atau

pengenceran darah, yaitu terjadi peningkatan volume plasma dalam proporsi yang

lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatan eritrosit.

Ekspansi volume plasma di mulai pada minggu ke-6 kehamilan dan mencapai

maksimum pada minggu ke-24 kehamilan, tetapi dapat terus meningkat sampai

minggu ke-37. Hemodilusi berfungsi agar suplai darah untuk pembesaran uterus

terpenuhi, melindungi ibu dan janin dari efek negatif penurunan venous return saat

posisi terlentang (supine), dan melindungi ibu dari efek negatif kehilangan darah saat

proses melahirkan (Cunningham, 2007).

2.6. Patogenesis Perubahan Nilai Hemoglobin

Pada Kehamilan Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan, antara

eelain adalah oleh karena peningkatan oksigen, perubahan sirkulasi yang makin

meningkat terhadap plasenta dan janin, serta kebutuhan suplai darah untuk

pembesaran uterus, sehingga terjadi peningkatan volume darah yaitu peningkatan

volume plasma dan sel darah merah. Namun, peningkatan volume plasma terjadi

dalam proporsi yang lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatan eritrosit

sehingga terjadi penurunan konsentrasi hemoglobin akibat hemodilusi

(Abdulmuthalib, 2009). Volume plasma meningkat 45-65 % dimulai pada trimester II

kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan ke-9 yaitu meningkat sekitar 1000 ml,

menurun sedikit menjelang aterem serta kembali normal tiga bulan setelah partus.
Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta, yang

menyebabkan peningkatan sekresi aldosteron.Volume plasma yang terekspansi

menurunkan hematokrit, konsentrasi hemoglobin darah, dan hitung eritrosit, tetapi

tidak menurunkan jumlah absolut Hb atau eritrosit dalam sirkulasi.Penurunan

hematokrit, konsentrasi hemoglobin, dan hitung eritrosit biasanya tampak pada

minggu ke-7 sampai ke-8 kehamilan, dan terus menurun sampai minggu ke-16

sampai ke-22 ketika titik keseimbangan tercapai. Sebab itu, apabila ekspansi volume

plasma yang terus-menerus tidak diimbangi dengan peningkatan produksi eritropoetin

sehingga menurunkan kadar Ht, konsentrasi Hb, atau hitung eritrosit di bawah batas

normal, timbullah anemia. Umumnya ibu hamil dianggap anemia jika kadar

hemoglobin di bawah 11 g/dl atau hematokrit kurang dari 33 % (Abdulmuthalib,

2009).

Adapun perubahan pertama yang terjadi selama perkembangan kekurangan besi

adalah deplesi cadangan zat besi. Cadangan besi wanita dewasa mengandung 2 gram,

sekitar 60-70 % berada dalam sel darah merah yang bersirkulasi, dan 10- 30 % adalah

besi cadangan yang terutama terletak didalam hati, empedu, dan sumsum tulang.

Deplesi cadangan besi kemudian diikuti dengan menurunnya besi serum dan

peningkatan TIBC, sehingga anemia berkembang (Bakta, 2006).

Kehamilan membutuhkan tambahan zat besi sekitar 800-1000 mg untuk

mencukupi kebutuhan yang terdiri dari :


1. Terjadinya peningkatan sel darah merah membutuhkan 300-400 mg zat besi

dan mencapai puncak pada 32 minggu kehamilan.


2. Janin membutuhkan zat besi 100-200 mg.
3. Pertumbuhan plasenta membutuhkan zat besi 100-200 mg.
4. Sekitar 190 mg hilang selama melahirkan. Selama periode setelah melahirkan

0,5-1 mg besi perhari dibutuhkan untuk laktasi, dengan demikian jika

cadangan pada awalnya direduksi, maka pasien hamil dengan mudah bisa

mengalami kekurangan besi (Riswan, 2003).

2.7. Kelainan Akibat Anemia Defisiensi Pada Kehamilan

Anemia defisiensi besi pada wanita hamil mempunyai dampak buruk, baik pada

ibunya maupun terhadap janinnya.Ibu hamil dengan anemia berat lebih

memungkinkan terjadinya partus prematur dan memiliki bayi dengan berat badan

lahir rendah serta dapat meningkatkan kematian perinatal.Menurut WHO 40%

kematian ibu-ibu di negara berkembang berkaitan dengan anemia pada

kehamilan.Menurut Allen (2000) kematian ibu terkait anemia lebih dikarenakan

perdarahan dan diagnosa yang terlambat daripada efek dari kondisi prenatal yang

anemia. Menurut Hidayat (1994) dalam Riswan (2003) disamping pengaruhnya

kepada kematian, anemia pada saat hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin,

berat bayi lahir rendah dan peningkatan kematian perinatal. Merchan dan Agarwal

(1991) dalam Riswan (2003) melaporkan bahwa hasil persalinan pada wanita hamil

yang menderita anemia defisiensi besi adalah 12-28 % angka kematian janin, 30 %

kematian perinatal, dan 7-10 % angka kematian neonatal. Mengingat besarnya

dampak buruk dari anemia defisiensi zat besi pada wanita hamil dan janin, oleh
karena itu perlu kiranya perhatian yang cukup, dan dengan diagnosa yang cepat serta

penatalaksanaan yang tepat komplikasi dapat diatasi serta akan mendapatkan

prognosa yang lebih baik.

2.8. Diagnosis Anemia Defisiensi Besi Dalam Kehamilan

Untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi diperlukan metode

pemeriksaan yang akurat dan kriteria diagnosis yang tegas.Para peneliti telah

menyetujui bahwa diagnosis anemia defisiensi besi ditegakkan berdasarkan gambaran

klinis dan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan darah dan sumsum tulang.

Nasution (1985) dalam Riswan (2003) mengutip kriteria WHOuntuk

memudahkan dan keseragaman diagnosis anemia defisiensi besi (Tabel 2.4).

Tabel 2.1. Diagnosa Anemia Defisiensi Besi

Pemeriksaan Anemia Defisiensi Besi Normal


Hemoglobin
Laki-laki dewasa < 13 gr/dl 15 gr/dl
Wanita dewasa (tidak hamil) < 12 gr/dl 13 14 gr/dl
Wanita dewasa (hamil) < 11 gr/dl 12 gr/dl
MCHC < 31 % 32 35 %
Serum Iron (SI) < 50 ugr% 80 160 ugr%
TIBC > 400 ugr% 250 400 ugr%
Jenuh Transferin < 15 % 30 35 %
Serum Feritin < 12 ugr/l 12 200 ugr/l

Thanglela (1994) dalam Riswan (2003) menyebutkan bahwa WHO juga

menggolongkan hasil pemeriksaan hemoglobin menurut derajat keparahan anemia

pada kehamilan (Tabel 2.2).


Kriteria Anemia Kadar Hemoglobin
Anemia ringan 10 11 gr/dl
Anemia sedang 7 10 gr/dl
Anemia berat < 7 gr/dl
Tabel 2.2.Kriteria Anemia Berdasarkan Kadar Hemoglobin.

2.9. Penatalaksanaan Anemia Pada Kehamilan

Ada sejumlah kasus anemia dapat memperburuk kehamiln, apabila hasil

pengkajian riwayat atau uji laboratorium menunjukkan kelainan maka perlu

mengevaluasi wanita tersebut untuk menentukan etiologi anemian dan kemudian

menyusun rencana penatalaksanaan (Varney, 2006). Oleh karena itu perlu segera

Dilakukan terapi anemia dengan tujuan untuk mengoreksi kurangnya massa

hemoglobin dan mengembalikan simpanan besi. Pada saat hamil kebutuhan tubuh ibu

terhadap besi meningkat untuk memenuhi kebutuhan fetal, plasenta dan pertambahan

massa eritrosit. Bila cadangan besi ibu tidak mencukupi pada waktu belum dan

sesudah kehamilan serta asupan gizi yang tidak adikuat selama kehamilan maka

mengakibatkan ibu mengalami anemia defesiensi besi.

Oleh karena itu perlu segera dilakukan terapi anemia dengan tujuan untuk

mengoreksi kurangnya massa hemoglobin dan mengembalikan simpanan besi. Terapi

yang dilakukan yaitu:

2.9.1 Diet Kaya Zat Besi dan Nutrisi yang Adekuat

Diet yang dianjurkan pada pasien yang anemia adalah diet kaya zat besi.

Pada dasarnya zat besi dari makanan didapat dalam dua bentuk yaitu zat besi
heme (yang didapati pada hati, daging, ikan) zat besi non heme (yang didapati

pada padi-padian, buncis, kacang polong yang dikeringkan, buah-buahan dan

sayuran berwarna hijau seperti bayam, daun ubi dan kangkung). Zat besi heme

menyumbangkan sejumlah kecil zat besi (hanya sekitar 10-15%). Namun

demikian zat besi heme diserap dengan baik dimana 10-35% yang di makan akan

masuk kedalam peredaran darah. Zat besi non heme atau zat besi yang berasal

dari tumbuh-tumbuhan merupakan bagian terbesar yang dikonsumsi sehari-hari,

namun diserap dengan buruk (hanya sekitar 2-8%) (Tan, 1996).

Makanan yang dapat mengganggu penyerapan zat besi seperti the dan kopi

sebaiknya dihindari. Sedangkan makanan yang mengandung vitamin C seperti

buah-buahan sebaiknya diberikan untuk membantu peningkatan penyerapan zat

besi (Riswan, 2003).

2.9.2. Pemberian zat besi oral

Preparat zat besi oral yang biasa diberikan pada ibu hamil adalah : Ferrous

sulfonat, glukonat dan fumarat. Prinsip pemberian terapi zat besi oral ini tidak

hanya untuk mencapai nilai hemoglobin yang normal tetapi juga memperbaiki

cadangan besi didalam tubuh. Cara pemberian zat besi oral ini berbeda-beda

pendapat. Maurer menganjurkan pemberian zat besi selama 2-3 bulan setelah

hemoglobin menjadi normal.

Beutler mengemukakan bahwa yang penting dalam pengobatan dengan zat

besi adalah agar pemberiannya terus dilakukan sampai morfologi darah tepi
menjadi normal dan cadangan besi dalam tubuh terpenuhi. Pendapat yang lain

mengatakan biasanya dalam 4-6 minggu perawatan hematokrit meningkat

sampai nilai yang diharapkan, peningkatan biasanya dimulai minggu kedua.

Peningkatan retikulosit 5-10 hari setelah pemberian terapi besi bisa memberikan

bukti awal untuk peningkatan produksi sel darah merah.

Sebelum dilakukan pengobatan harus dikalkulasikan terlebih dahulu jumlah

zat besi yang dibutuhkan. Misalnya hemoglobin sebelumnya adalah 6 gr/dl,

maka kekurangan hemoglobin adalah 12 6 = 6gr/dl, sehingga kebutuhan zat

besi adalah : 6 x 200 mg. kebutuhan besi untuk mengisi cadangan adalah 500

mg, maka dosis Fe secara keseluruhan adalah 1200 + 500 = 1700 mg. maka

pemberian dapat berupa Fero sulfat : 3 tablet / hari, @ 300 mg mengandung 600

mg Fe atau Fero glukonat: 5 tablet/hari, @ 300 mg mengandung 37 mg Fe atau

bisa juga Fero Fumarat : 3 tablet / hari, @ 200 mg mengandung 67 mg Fe. Maka

respon hasil yang tercapai adalah Hb meningkat 0,3-1 gr perminggu. Pemberian

zat besi oral ini juga member efek samping berupa konstipasi, berak hitam, mual

dan muntah (Riswan, 2003).

Berdasarkan hasil penelitian Werdiningsih Tahun 2001 di Yogyakarta,

melaporkan bahwa ibu hamil yang mengkonsumsi tablet Fe kurang dari 90 tablet

selama kehamilan mempunyai resiko 2 kali menderita anemia kkurangan zat besi

dibandingkan dengan ibu hamil yang mengkonsumsi lebih dari 90 tablet.


2.9.3. Pemberian zat besi parenteral

Metode sederahana 250 mg besi elemental sebanding dengan 1 gram Hb.

Pemberian zat besi secara parenteral jarang dilakukan karena mempunyai efek

samping yang banyak seperti; nyeri, inflamasi, phlebitis ,demam,atralgia,

hipotensi,dan reaksi analfilaktik. Indikasi dari pemberian parenteral yaitu anemia

devfisiensi berat, mempunyai efek samping pada pemberian oral, gangguan

absorbs. mempunyai efek samping pada pemberian oral ,gangguan adsorbs.

Pemberiannya dapat diberikan secara intramuscular maupun intravena

(Riswan,2003)
DAFTAR PUSTAKA

1.Schrier SL. Approach to the adult patient with anemia. January 2011. [cited 2011,

June 9 ]. Available from: www.uptodate.com