Anda di halaman 1dari 2

Nama : Irva Farahdiva

NIM : 7516167716
Kelas : PAUD A PPS UNJ

KASUS ANAK USIA DINI YANG BERKAITAN DENGAN ASPEK SOSIAL


EMOSIONAL: ANAK YANG PEMALU DISEKOLAH

Kasus :

Kasus ini saya angkat dari lingkungan dimana saya mengajar. Saya mengajar di
Kelompok B Taman Kanak-kanak Islam Nusantara, Sempu, Serang, Banten. Di
kelompok saya mengajar ada anak yang bernama Sari dia berumur 5,3 tahun, Sari
dikenal guru sebagai seorang yang sangat pemalu. Sari tidak mau berbicara
dengan guru dan teman-temannya di sekolah. Sari hanya diam. Peristiwa ini sudah
terjadi lebih dari 1 tahun sejak Sari masuk di kelas TK A. Ketika diberi
pertanyaan pun Sari seringkali diam, atau kadangkala menjawab satu, dua
kata, meski membutuhkan waktu yang lama. Ketika saya berdiskusi dengan
orangtuanya ternyata sikap tersebut sangat berbeda saat Sari berada di rumah. Sari
justru terlihat cerewet dan banyak bicara.

Penanganan :

Orang tua tentu merasa khawatir ketika anaknya menunjukkan perilaku yang
berbeda antara di sekolah dan di rumah. Di rumah anak terlihat lancar berbicara,
tetapi di sekolah hanya diam saja. Biasanya anak dengan kondisi seperti di atas
akan diam ketika diajak berbicara dengan orang asing, orang dewasa atau orang
yang belum akrab dengannya. Anak ini juga sering menghindari situasi keramaian
atau tempat-tempat yang banyak orangnya. Di sekolah, ketika menginginkan
sesuatu, anak menggunakan bahasa non verbal seperti mengangguk,
menggelengkan kepala, menempelkan badan atau menarik-narik baju. Kondisi di
atas sering terjadi pada anak pemalu yang ekstrim.

1. Lebih banyak berinteraksi


Orangtua dapat melatih anak untuk lebih banyak berinteraksi dan
berkomunikasi dengan orang lain, mulai dari anggota keluarga yang paling
dekat dan akrab dengan anak atau tetangga dekat
2. Melibatkan pada situasi
Orangtua dapat melibatkan anak pada situasi di mana ada orang lain selain
orangtuanya dan belajar untuk berinteraksi dengan orang lain, misalnya makan
di restoran, mengunjungi tempat bermain, berbelanja dan lain-lain.
3. Melibatkan teman sebayanya
Orangtua dapat mengundang dan melibatkan teman sebaya untuk anak datang
ke rumah. Anak dapat belajar berkomunikasi dengan nyaman mulai dari
situasi rumah kemudian di situasi yang lain seperti luar rumah.
4. Pendekatan secara individual
Guru dapat melakukan pendekatan secara individual pada anak.
5. Berbincang di tempat yang tidak ramai
Jika suasana yang ramai membuat anak menjadi malu, maka guru dapat
mengajak anak untuk berbicara ketika tidak ada teman-teman yang lain,
misalnya saat pulang sekolah sebelum dijemput oleh orangtuanya atau saat
waktu istirahat.
6. Berbincang ditempat yang ramai
Jika anak sudah nyaman berbicara dengan guru, maka guru dapat memulai
untuk mengajak anak bicara ketika ada teman-temannya sehingga anak dapat
merasa nyaman dan terbiasa berbicara di antara banyak orang.
7. Memberikan reward
Guru juga dapat memberikan reward atau pujian jika anak terlihat
menunjukkan peningkatan, misalnya sudah mau bicara dengan guru walaupun
dengan suara yang pelan.

8. Dirujukan pada para ahli


Memaksa anak berbicara ketika anak belum siap, merupakan tindakan yang
sia-sia dan kurang bijaksana. Dibutuhkan kesabaran dan waktu untuk
menanganinya. Jika berbagai tindakan di atas sudah dilaksanakan, tetapi anak
tidak menunjukkan kemajuan, maka perlu dirujuk ke profesional, seperti
psikolog