Anda di halaman 1dari 11

I.

Pendahuluan
Saat bekerja dengan mikrobia hal yang paling penting adalah
sterilisasi. Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua
organisme yang teradapat pada suatu benda. Proses sterilisasi dapat dibedakan
menjadi 3 macam, yaitu penggunaan panas (pemijaran dan udara panas);
penyaringan; penggunaan bahan kimia (etilena oksida, asam perasetat,
formaldehida dan glutaraldehida alkalin) (Plezar dan Chan, 2005).
Untuk mempelajari suatu jenis mikroorganisme dalam laboratorium,
mikroorganisme yang bersangkutan perlu dipisahkan (diisolasi) dari
keberadaannya dengan mikroorganisme lain di alam. Kegiatan isolasi biasanya
diikuti dengan kegiatan pemurnian dan perbanyakan. Mikroorganisme yang
bersifat saprofit benar, saprofit fakultatif, dan parasit fakultatif dapat diisolasi
dengan kultivasi pada medium kultur buatan. Pada mikroorganisme parasit
obligat, medium kultur yang digunakan berupa sel hidup, jaringan hidup atau
organism inangnya.
Isolasi adalah suatu cara untuk memisahkan satu mikrobia dari
mikrobia lainnya yangbertujuan untuk mendapatkan spesies tunggal dengan
sifat-sifat yang diinginkan. Untukmengetahui jenis mikroorganisme yang
hidup dalam bahan pangan dapat dilakukanisolasi mikrobia, dengan cara
menggoreskan suspensi campuran sel pada suatu mediapadat di dalam cawan
petri kemudian menginkubasikannya, sehingga setiap sel akantumbuh
membentuk koloni dan memudahkan untuk memisahkannya. (Cappuccino
&Sherman, 1983). Isolasi adalah suatu metode untuk memisahkan
mikroorganisme dalammedium menjadi sel yang individu yang disiapkan
untuk mendapatkan spesies tunggal.(Atlas, 1984). Pada prinsipnya percobaan
isolasi dimulai dengan membuat suspensibahan sebagai sumber mikrobia.
Lalu suspensi tersebut dituangkan atau digoreskan(dengan menggunakan
jarum ose steril) pada media yang sebelumnya telah disediakanterlebih dahulu.
(Hadioetomo,1993).
Dalam pengertian mikrobiologi secara umum, mengisolasi artinya
memisahkan suatuspesies mikroorganisme tertentu dari organisme lain
yang umum dijumpai dalamhabitatnya, lalu ditumbuhkan menjadi biakan
murni. Biakan murni ialah biakan yangsel-selnya berasal dari pembelahan satu
sel tunggal. Pengisolasian untuk mendapatkanbiakan murni ini diperlukan,
karena semua metode mikrobiologis yang digunakan untukmenelaah dan
mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri
kultural,morfologis, fisiologis, maupun serologis, memerlukan suatu populasi
yang terdiri darisatu macam mikroorganisme saja (Hadioetomo, 1993).
Mikroorganisme yang diisolasi dapat berupa biakan murni, atau
populasi campuran.Bila identifikasi ini tercemar, perlu dilakukan pemurnian
terlebih dahulu. Lazimnya,pemurnian dilakukan dengan suspensi mikrobia
digoreskan pada media agar lempeng,agar miring, atau media cair. Sifat
biakan dari suatu mikrobia tergantung padapenampilan pada berbagai
media. Dalam praktikum mikrobiologi, isolasi mikrobiadilakukan dengan
cara menumbuhkan mikroba dari bahan yang dikehendaki yangdiisolasi
pada suatu media selektif. Secara umum, untuk mendapatkan jamur dapat
digunakan media PDA sedangkan untuk menumbuhkan bakteri dan
khamir dapatdigunakan media NA (Lay, 1994).
Pertumbuhan mikroba hanya dimungkinkan apabila kondisi
fisik dan kimiawilingkungannya sesuai. Kondisi fisik contohnya suhu dan
struktur bahan. Sedangkankondisi kimiawi untuk pertumbuhan
ditentukan oleh komponen yang menyusunmedium pertumbuhan seperti
air, sumber karbon, sumber energi, sumber nitrogen,mineral, faktor
pertumbuhan, maupun konsentrasi ion hidrogen (pH). Flora mikroba
dilingkungan mana saja pada umumnya terdapat dalam populasi campuran.
Mikroba amatjarang ditemukan sebagai spesies tunggal di alam.
Untuk mencirikan danmengidentifikasi mikroorganisme harus dilakukan
dengan cara memisahkan suatuspesies mikroorganisme tertentu dari
mikroorganisme lain, lalu ditumbuhkan menjadibiakan murni. Biakan murni
adalah biakan yang sel-selnya berasal dari pembelahan satusel tunggal
(Hadioetomo, 1993).
Tujuan dari pemerataan suspensi media dengan spatel agar mikrobia
dapat tumbuhmembentuk koloni secara rata dengan bentuk yang wajar
sehingga mudah diamati dandipelajari sifat-sifatnya. (Hadioetomo,1993).
Prinsip dasar dari isolasi yaitu mikrobiayang berbeda sifat genetiknya akan
membentuk koloni dengan karakter yang berbeda-beda pula, meliputi ukuran,
bentuk, warna, tekstur, bentuk koloni, permukaan, danelevasi (Vancleave,
1991). Mikrobia yang berbeda sifat genetiknya akan membentukkoloni dengan
sifat yang berbeda. Sifat-sifat tersebut antara lain bentuk, ukuran,
warna,tekstur, permukaan dan beberapa sifat lain yang tampak (Lay, 1994).
Salah satu tindakan isolasi bakteri dapat dilakukan dengan metode
gores. Penggoresnya berupa jarum ose yang ujungnya membawa isolat
bakteri. Goresan harus dibuat sedemikian rupa sehingga medium kultur tidak
tergores dan bagian tersentuh dari goresan menimbulkan koloni bakteri yang
benar-benar terpisah antar koloni satu dengan lainnya. Arah goresan dapat
merupakan pembagian sektoral atau horizontal. Metode kultivasi untuk isolasi
bakteri yang paling popular adalah metode bentang rata (spreadplate method)
dan metode tuang rata (pour-plate method). Perbedaan utama dari kedua
metode ini yaitu bahwa metode bentang mengkultivasi sampel merata pada
permukaan medium padat, sedangkan metode tuang mengkultivasi sampel
merata ke seluruh medium. Metode bentang akan menuangkan medium lebih
dahulu kemudian setelah medium memadat ditetesi suspense sampel (biasanya
tidak lebih dari 0,1 mL) dan diratakan pada permukaan medium menggunakan
batang gelas steril bentuk huruf L. Metode tuang akan menaruh sampel
(biasanya 0,1 mL suspense atau 0,1 g padatan) lebih dahulu kemudian dituangi
medium yang sedang mencair. Hasil kultivasi dari kedua metode tersebut
biasanya juga berbeda. Metode bentang akan tumbuh koloni di permukaan
medium saja, sedangkan metode tuang akan tumbuh koloni baik di permukaan
maupun di bawah permukaan medium.
Tujuan mengkulturkan adalah untuk mempelajari suatu kultur
mikroorganisme tertentu.Dalam studi atau mempelajari mikroorganisme, maka
diperlukan tiga langkah yangmeliputi enumerasi, isolasi dan determinasi atau
identifikasi, dan langkah terakhir disinimerupakan cara untuk mengetahui ciri
pertumbuhan yang bisa juga dijumpai dalammakanan sehari-hari. Salah satu
tahap yang perlu diperhatikan adalah enumerasi atauperhitungan jumlah
mikroorganisme baik secara langsung maupun tak langsung.Sebelum
digunakan untuk studi yang meliputi beberapa tahap tersebut, namun pertama-
tama harus melakukan pemindahan kultur mikroorganisme ke dalam medium
yang telahdibuat sebelumnya.(Trihendrokesowo, 1989).
Pada saat mengambil mikroba dari medium padat yang telah
ditumbuhimikroorganisme, jarum ose tidak boleh menggores permukaan
medium terlalu keras.Hal ini penting untuk diperhatikan supaya medium
tidak ikut terambil dan tidakmengalami kesulitan pada saat menghitung
jumlah mikrobanya. Teknik penggoresanpada agar atau medium padat
dilakukan dengan satu kali gerakan yang makin lamagoresannya makin tipis
sehingga didapat hasil goresan garis yang berliku-liku (sepertiular) dan semua
permukaannya dapat ditumbuhi mikroorganisme (Lay, 1994).
Pemindahan suatu biakan mikroorganisme harus dilakukan secara
aseptis. Hal ini sangatpenting untuk menghindari terjadinya kontaminasi
oleh organisme yang tidak dikehendaki dalam biakan murni yang akan
dibuat, dan menghindari tersentuhnyamedia atau permukaan tabung
bagian dalam oleh benda yang tidak steril.Mikroorganisme luar yang
tidak dikehendaki dapat masuk melalui kontak langsungdengan permukaan
atau tangan yang tercemar (Hadioetomo, 1993).
Cara aseptik yang harus dilakukan dalam pekerjaan mikrobiologi
merupakan suatu carakerja dimana terjadinya kontaminasi oleh mikrobia lain
yang tidak dikehendaki dicegahsemaksimum mungkin, sedangkan
mikrobia yang dikehendaki dipertahankansemaksimum mungkin. Untuk
memindahkan sel-sel mikrobia dari satu medium kemedium lainnya
digunakan suatu kawat yang diberi batang pemegang di
bagianpangkalnya, yang disebut jarum ose atau loop. Loop harus dipijarkan
sampai berwarnamerah sesaat sebelum dan sesudah digunakan. Dengan cara
ini, bagian jarum dari looptersebut menjadi steril untuk sementara karena
mikrobia yang ada pada permuaakn loopakan mati. Selama pemijaran, jarum
ose harus dipegang sedemikian rupa di atas apisehingga seluruh ujung loop
hingga bagian dekat tangkai pemegang menyala secarabersamaan. Sebelum
digunakan untuk inokulasi, loop yang telah menyala harusdidinginkan
dalam waktu beberapa detik untuk mencegah kematian mikrobia yang
akandiinokualsikan (Volk & Wheeler, 1993).

II. Hasil Pengamatan


Pengamatan Mikroskopis :

Setelah di inkubasi selama 2 hari :


Keterangan:

Pada pengamatan mikroskopis digunakan perbesaran 10X100. Bakteri yang


terdapat adalah yeast. Pada pengamatan makroskopis terdapat koloni yeast dan
sedikit bercak kuning.

III. Pembahasan
Saat bekerja dengan mikrobia hal yang paling penting adalah
sterilisasi. Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua
organisme yang teradapat pada suatu benda. Proses sterilisasi dapat dibedakan
menjadi 3 macam, yaitu penggunaan panas (pemijaran dan udara panas);
penyaringan; penggunaan bahan kimia (etilena oksida, asam perasetat,
formaldehida dan glutaraldehida alkalin) (Plezar dan Chan, 2005).
Teknik aseptik sangat diperlukan untuk menghindarkan
mikroorganisme dari kontaminan yang dapat menghambat pertumbuhan
mikroba. Teknik aseptis digunakan sepanjang kegiatan berlangsung baik alat,
bahan, lingkungan sekitar maupun praktikannya, untuk alat dan bahan
praktikum dapat diterapkan metode sterilitas. Penguasaan teknik aseptic ini
sangat diperlukan dalam keberhasilan laboratorium mikrobiologi dan hal
tersebut merupakan salah satu metode permulaan yang dipelajari oleh ahli
mikrobiologi (Oram, 2001).
Media agar ini memungkinkan untuk dilakukannya isolasi bakteri dari
suatu sampel, karakterisasi morfologi, sampai penghitungaan bakteri yang
dikenal dengan nama total plate count. Bentuk koloni bakteri dan warna-
warninya mudah sekali dikenali dengan media ini dengan cara mengubah
komposisi nutrien atau menambahkan indikator. Mengapa Media harus di
sterilisasi ? agar Media ketika di tuang medium agar dan di biakkan tidak
terdapat biakkan yang lain atau agar medium tidak terkontaminasi.

Ada beberapa metode yang digunakan dalam isolasi bakteri, yaitu :

1. Metode pour plate

Metode ini dilakukan dengan menginokulasikan suspensi bahan


yang mengandung bakteri dengan bantuan mikropipet untuk
disemprotkan ke dalam medium agar yang sedang mencair dan
menuangkannya pada petridish. Pada metode ini, volume suspensi
yang digunakan lebih dari 0,1 ml, biasanya 1 ml. Suspensi bakteri
tersebut diambil dengan mikropipet dan disemprotkan ke dalam
petridish yang berisi medium. Setelah diinkubasi akan terlihat koloni
bakteri yang bermacam-macam, kemudian satu koloni dipilih dan
diambil dengan ose, kemudian dilanjutkan dengan pengecatan gram.
Kelebihan metode pour plate ini adalah mudah diamati, tidak ada
persaingan antarbakteri untuk mengambil O2 karena letaknya tersebar,
koloninya terpisah. Kekurangan bakteri ini adalah boros waktu dan
bahan, mudah terkontaminasi.

2. Metode streak plate

Streak plate yaitu suatu cara pengisolasian bakteri yang cara


inokulasinya dengan menggoreskan suspensi bahan yang mengandung
bakteri pada permukaan medium dengan kawat ose dan digoreskan
sesuai dengan petridish. Kultur media untuk menumbuhkan atau
mengisolasikan bakteri dengan metode streak merupakan suatu teknik
untuk memisahkan sel bakteri secara individual. Setelah inkubasi,
maka pada bekas goresan akan tumbuh koloni-koloni terpisah yang
mungkin berasal dari satu sel bakteri. Kelebihan metode goresan
adalah menghemat waktu dan bahan, serta dapat menghasilkan bakteri
yang diinginkan jika isolasi bakteri dilakukan dengan tepat dan teliti.
Kekurangan metode ini adalah diperlukan keterampilan yang khusus
untuk mendapatkan koloni yang terpisah.

3. Metode spread plate

Spread plate adalah metode isolasi bakteri dengan cara


menginokulasikan suspensi bahan yang mengandung bakteri ke atas
medium agar lalu diratakan dengan menggunakan trigalski. Setelah
diinokulasikan akan terlihat koloni-koloni bakteri yang tumbuh
tersebar dipermukaan medium agar sehingga dapat diisolasi lebih
lanjut untuk mendapatkan biakan murni. Kelebihan metode ini adalah
diperoleh koloni bakteri yang terpisah, labih mudah dilakukan dan
membutuhkan medium yang sedikit. Kekurangannya adalah waktu
yang digunakan lebih lama dan mudah terkontaminasi.

Pada pengenceran digunakan pengenceran 10-3- 10-4, hal ini


bertujuan agar pertumbuhan mikroba atau biaakan di dalam media
tidak terlalu rapat dan pada saat ingin di amati mudah. Hal ini juga
mempengaruhi biakkan yang tumbuh tidak terlalu cepat. Pengenceran
ini bertujuan untuk mempermudah dalam perhitungan jumlah koloni
mikroba yang utmbuh, baik warna maupun karakteristik lainnya.

Pada percobaan kultur yang mau di biakkan adalah bakteri


saccharomyces cerevisiae yang didapat dari bahan pembuat makanan
yaitu fermipan. Pembuatan kultur ini berguna untuk pengamatan secara
makroskopis maupun mikroskopis pada biakkan yang terdapat dalam
media. Ciri-ciri makroskopis koloni yang ada di cawan petri adalah
timbulnya kekeruhan dan adanya endapan putih. Timbulnya
kekeruhan dan terbentuknya endapan putih terjadi sebagai
tandapertumbuhan mikroorhanisme karena mikroba tidak
menggerombol melainkan menyebar pada seluruh bagian dari
medium. Lama kelamaan sebagian dari sel-sel yang menyebar tersebut
mengendap di dasar tabung, sehingga terbentuklah endapan. Yeast,
memiliki ciri kultur sebagai berikut : ada yang berwarnamerah atau
bercak berwarna pada medium; ada yang membentuk film atau
lapisanpada permukaan medium; umumnya kering dan berlendir;
berwarna putih ataukrem; umumnya kering, kecil, dan keriput; serta
tidak berbau.

sifat-sifat koloni yang tumbuh pada agar-agar lempengan, pada


agar-agar miring dan pada tusukan gelatin adalah sebagai berikut :

1. Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan mengenai


bentuk, permukaan dan tepi. Bentuk koloni dilukiskan sebagai titik-
titik, bulat berbenang, tak teratur, serupa akar, serum kumparan.
Permukaan koloni dapat datar, timbul mendatar, timbul melengkung,
timbul mencembung, timbul membukit dan timbul berkawah. Tepi
koloni ada yang utuh, ada yang berombak, ada yang berbelah-belah,
ada yang bergerigi, ada yang berbenang-benang dan ada yang keriting.

2. Sifat-sifat koloni pada agar-agar miring. Sifat ini berkisar


pada bentuk dan tepi koloni dan sifat itu dinyatakan dengan kata-kata
seperti : serupa pedang, serupa duri, serupa tasbih, serupa titik-titik,
serupa batang dan serupa akar.

3. Sifat koloni tusukan dalam gelatin. Ada bakteri yang dapat


mengencerkan gelatin. Karena itu, maka bentuk-bentuk koloninya juga
berbeda-beda. Lagipula bentuk koloni yang tidak dapat mengencerkan
gelatin. Bila dilihat dari samping koloni yang tidak mengencerkan
gelatin dapat serupa pedang, tasbih, bertonjol-tonjol dan berjonjot. Jika
bakteri mampu mengencerkan gelatin, maka bentuk koloninya dapat
serupa kawah, serupa mangkuk, serupa corong, pundi-pundi dan
berlapis.

Kondisi yang mendukung untuk membuat biakkan bertumbuh


seperti yang dinginkan adalah di tempatkan pada suhu kamar agar
biakkan dapat tumbuh secara stabil, Jauhkan dari pancaran sinar
matahari langsung hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan biakkan
menjadi lambat. Dan juga tempat biakkan maupun media harus di
sterilkan, paling efektif menggunakan sterilisasi autoclave 121C. Dan
pada tempat di beri alkohol 96%.

IV. Kesimpulan
Pada percobaan kali ini disimpulkan bahwa bakteri yang di biakkan
adalah saccharomyces cerevisiae. Metode yang digunakan dalam membiakkan
ada tiga yaitu metode pour, spread, dan streak. Dari ketiga metode tersebut
yang paling efektif dalam membiakkan adalah metode streak karena biakkan
yang didapati lebih sesuai dan lebih mudah ketika ingin dilakukan pengamatan
mikroskopis.
V. Daftar Pustaka
Cappucino, J. G. & N. Sherman. (1983). Microbiology: A Laboratory Manual.
Addison-Wesley Publishing Company: Massachusetts.
Hadioetomo, R. S., 1993, Mikrobiologi Dasar dalam Praktek, Gramedia : Jakarta.
Lay, B. W. (1994). Analisis Mikroba di Laboratorium. PT. Raja Grafindo Persada:
Jakarta
Oram, R.F. S., Paul. J. Hummer, Jr. 2001. Biology Living System. Glencoe
Division Mc Millan Company. Waterville.
Pelczar, M. J. dan Chan, E.C.S. 2005 Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit UI:
Jakarta
Vancleave, J.P. (1991). Gembira Bermain dengan Biologi. Pemprint: Jakarta.
Volk, W.A. & M.F. Wheeler. (1993). Mikrobiologi Dasar Edisi Kelima
Jilid 1.Erlangga. Jakarta.