Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

CEDERA KEPALA BERAT

1; Pengertian

a; Cedera kepala adalah kerusakan neurologi yang terjadi akibat adanya trauma pada
jaringan otak yang terjadi secara langsung maupun efek sekunder dari trauma yang
terjadi. (Sylvia & Price, 2006).
b; Suatu keaadaan di mana struktur lapisan otak dari lapisan kulit kepala,tulang
tengkorak,durameter,pembulu darah,serta otaknya mengalami cidera,baik yang
trauma tertutup maupun trauma tembus.
c; Suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala,tulang tengkorak atau otak yang
terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala.

( Suriadi dan Rita Yuliadi ,2001 )

2; Anatomi Fisiologi sistem saraf

Sistem persarafan terdiri dari otak, medulla spinalis, dan saraf perifer. Struktur struktur ini
bertanggung jawab untuk control dan koordinasi aktvasi sel tubuh melalui impuls impuls
elektrik.

1; Otak
Otak dibagi menjadi tiga bagian besar serebrum, serebelum, dan batang
otak. Semua berada dalam satu bagian struktur tulang yang disbeut tengkorak, yang
juga melindungi otak dari cedera. Ada empat tulang yang berhubungan membentuk
tulang tengkorak, yaitu tulang frontal,parietal, temporal dan oksipital. Pada dasar
tengkorak terdiri dari tiga bagian fossa fossa. Bagian fossa anterior Berisi lobus frontal
serebral bagisn hemisfer , bagian tengah fossa berisi lobusparietal, temporal dan
oksipital, dan bagian fossa posterior berisi batang otak dan medulla.

2; Meningen
Selaput menigen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan otak yaitu:
a; Duramater
Lapisan paling luar, menutup motak dan medulla spinalis, sifat duramater
liat,tebal, tidak elastic, berupa serabut berwarna abu- abu . Bagian pemisah dura
adalah falx serebri yang memisahkan kedua hemisfer di bagian longitudinal dan
tentorium, yang merupakan lipatan dari dura yang membentuk jaring-
jaringmembrane yang kuat. Jaring ini mendukung hemisfer dan memisahkan
hemisfer dengan bagan bawah otak (fossa posterior , jika tekanan di dalam
rongga otak meningkat, jaringan otak tertekan ke arah tentorium atau berpindah
ke bawah, keadaan ini disebut herniasi.
b; Arakhnoid
Merupakan membrane bagian tengah , membrane yang bersifat tipis dan lembut
ini menyerupai sarang laba laba , membrane ini tidak teraliri darah. Pada dinding
arakhnoid terdapat pleksus khoroid, yang bertanggung jawab memproduksi
cairan serebrospinal (css) . Membrane yang mempunyai bentukseperti jari
tangan ini disebut arakhnoid villi, yang mengabsorbsi cairanserebrospinal. Pada
usia dewasa , normal css diproduksi 500 ml perhari, tetapi150 ml di absorbsi
oleh villi.
c; Piamater
Membrane yang paling dalam, berupa dinding yang tipis, transparan , dan
menutupi otak, meluas ke setiap lapisan daerah otak, juga mengandung banyak
pembuluh darah untuk menyuplai darah ke otak.

3; Cairan Serebrospinalis
Di hasilkan oleh plexus khoroideus dengan kecepatan produksi sebanyak 20 ml/
jam.Cairan ini mengalir dari ventrikel lateral melalui foramen monro menuju ventrikel
III. Cairan ini akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid
yang terdapat pada sinus sagitalis superior.

3; Etiologi

Menurut Hudak dan Galo, 2008, penyebab cedera kepala adalah karena adanya trauma
rudapaksa yang di bedakan menjadi 2 faktor yaitu :
1; Trauma Primer.
Trejadi karena benturan langsung atau tidak langsung ( ekselerasi dan Deselerasi )
2; Trauma Sekunder.
Terjadi akibat dari trauma saraf yang meluas, hipertensi intracranial,hipoksia,
hiperkapnea. atau hipotensi sistemik.

Ada juga beberapa factor yang menyebabkan cedera kepala berat yaitu:

a; Kecelakaan atau jatuh kendaraan bermotor atau sepeda,dan mobil.


b; Kecelakaan pada saat olahraga,anak dengan ketergantungan.
c; Cedera akibat kekerasan.

4; Patofisiologi

Cedera kepala berat akan menyebabkan tengkorak dan isinya bergetar,kerusakan terjadi
tergantung pada besarnya geteran makin besar getaran makin besar kerusakan yang
timbul,getaran dari benturanakan di teruskan menuju Galia aponeurotika sehingga banyak
energy yang di serap oleh perlindungan otak,hal itu menyebabkanpembulu darah robek
sehingga akan menyebabkan haematoma epidural,subdural maupun intracranial,perdarahan
tersebut akan mempengaruhi sirkulasi darah ke otak menurun sehingga suplay oksigen
berkurang dan terjadi hipoksia jaringan akan menyebabkan odema serebral.
Akibat darihaematoma di atas akan menyebabkan distorsi pada otak,karena isi otak
terdorong ke arah yang berlawanan yang berakibat apda kenaikan takanan intracranial
(TIK ) merangsang kelenjar pituitary dan steroid adrenal sehingga sekresi asam lambung
meningkat akibat timbul rasa mual dan muntah,dan anoreksia sehingga masukan nutrisi
kurang.

5; Tanda dan Gejala

a; Mengantuk dan sukar dibangunkan


b; Mual, mutah dan pusing hebat
c; Kacau/ bingung tidak dapat berkonsentrasi
d; Perubahan denyut nadi atau pola pernapasan
e; Salah satu pupil melebar atau ada gerakan mata yang tidak biasa
f; Nyeri kepala akan segera muncul.
g; Menurunnya kesadaran
h; Terdapat Hematoma.
6; Komplikasi

a; Koma
Secara khas berlangsung hanya beberapa minggu atau hari,setelah masa ini penderita
akan terbangun.Sedangkan pada kasus lain memasuki vegetative state atau
mati.Penderita pada masa ini sering membuka matanya dan menggerakannya.menjerit
atau menunjukan respon reflek.
b; Seuzure atau kejang adalah suatu temuan fisik atau suatu keadaan perubahan perilaku
pada seseorang setelah terjadi perubahan abnormal pada aktivitas elektrik di otak.
c; Kerusakan Neuromuskular.
d; Hilangnya kemampuan kognitif.
e; Penyakit Alzheimer dan parkinzon.

7; Pemeriksaan Diagnostik.

a; CT Scan ( Computer Tomography Scan ) = Untuk mengidentifikasi adanya


hemoragic,ukuran ventrikuler,infark pada jaringan mati.
b; Foto tengkorak atau cranium =Untuk mengetahui adanya fraktur pada tengkorak.
c; MRI ( Magnetic Resonan Imaging ) = Untuk pengindraan yang mempergunakan
gelombang elektromagnetik.
d; Laboratorium.
Kimia darah :Mengetahui ketidakseimbangan elektrolit.
e; Pemeriksaan Visual =Ketajaman,lapang pandang,membantu menentukan diagnosa
banding.
f; Pungsi Lumbal : Untuk mengevaluasi atau mencatat peningkatan tekanan CSS,adanya
sel-sel abnormal,adanya darah atau infeksi.

8; Penatalaksanaan Medik

Penatalaksanaan awal penderita cedera kepala bertujuan untuk memantau sedini mungkin.
Untuk penatalaksanaan penderita cedera kepala,Adveanced cedera Life Support telah
menempatkan standar yang sesuai dengan tingkat keparahan cedera. Penatalaksanaan
penderita cedera kepala meliputi Survei primer yang di prioritaskan adalah: A (airway ), B
(Breathing ),C (Circulation ),D (Disability),dan E (Exposure/environmental Control)
kemudian di lanjutkan dengan resusitasi. Pada penderita cedera kepala berat Survei primer
sangatlah penting untuk mecegah cedera otak sekunder dan menjaga homeostasis otak.
Secara umum penatalaksanaan therapeutic pasien cedera kepala berat adalah dengan :

a; Observasi 24 jam.
b; Jika pasien masih muntah sementara di puasakan terlebih dahulu.
c; Berikan terapi intervena bila ada indikasi.
d; Tirah baring.
e; Pemberian obat-obat analgetik.
f; Pembedahan bila ada indikasi.

Pengkajian Keperawatan.

a; Aktivitas atau istirahat.


Gejalah :Merasa lemah,letih,lesu,hilang keseimbangan, perubahan kesadaran,
keterbatasan keadaan.
b; Sirkulasi.
Gejalah : Perubahan tekanan darah atau normal perubahan frekwensi jantung,
riwayat hipertensi.
Tanda : Hipertensi ,pucat,wajah tampak kemerahan.
c; Neurosensori.
Gejalah : Pening, disorientasi,kehilangan kesadaran,riwayat kejang,trauma infeksi
Intracranial, perubahan penglihatan.
Tanda : Preubahan dalam pola bicara dan proses piker,kehilangan sensasi sebagian
tubuh, penurunan reflek tendon.
d; Nyeri/Kenyamanan.
Gejalah : Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda.
Tanda : Wajah menyeringai,respon menarik pada rangsangan,nyeri yang hebat,
gelisah, pucat, otot-otot daerah leher menegang.
e; Keamanan.
Gejalah : Riwayat alergi, trauma baru akibat kecelakaan.
Tanda : Demam (sakit kepala meningeal ),gangguan cara berjalan,gangguan
penglihatan dan gangguan kognitif.

9; Diagnosa Keperawatan.
a; Resiko tidak efektifnya bersihan jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas
berhubungan dengan gagal nafas,adanya sekresi dan meningkatnya tekanan
intracranial.
b; Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan
peningkatan tekanan intracranial.
c; Kurangnya perawatan diri berhubungan dengah tirah baring dan menurunnya
kesadaran.
d; Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.
e; Nyeri berhubungan dengan trauma kepala.
f; Resiko infeksi berhubungan dengan kondisi penyakit akibat cedera kepala.
g; Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi.
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional


Keperawatan
1. Nyeri b/dSetelah melakukan tindakan selama 24 jam di1. Ajarkan teknik relaksasi1.Melancarkan peredaran darah
Cedera kepala harapkan nyeri dapat berkurang atau teratasidan distrasi. dan mengalihkan nyeri ke hal-hak
dengan criteria : yang menyenangkan dapat
- Klien mengatakan nyeri berkurang mengurangi respon terhadap
- Klien tidak gelisah.
nyeri.
- Mengidentifikasi aktivitas yang
meningkatkan/mengurangi nyeri.
2.Ciptakan lingkungan2.Istirahat merelaksasi semua
yang tenang jaringan sehingga akan
meningkatkan kenyamanan.

3.Kolaborasi dengan dokter3.Analgesik memblok lintasan


dalam pemberian analgesicnyeri sehingga nyeri akan
seperti asetaminofen berkurang.

2 Resiko InfeksiSetelah di lakukan tindakan keperawatan1.Kaji dan pantau luka1.Mendeteksi secara dini
b/d Kondisiselama 3x24 jam di harapkan infeksi tidak setiap hari. gejalgejala inflamasi yang
penyakit akibatterjadi selama perawatan dengan kriteria : mungkin timbul.
cedera kepala. - Klien mengenal faktor-faktor resiko.
- Mengenal tindakan pencegahan faktor
2.Lakukan perawatan luka2Teknik perawatan luka secara
resiko infeksi.
secara steril dan hati-hati. steril dapat mengurangi
kontaminasi kuman
3.Pantau atau batasi
kunjungan. 3.Mengurangi kontak infeksi
dengan orang lain.

3 Kurang merawatSetelah di lakukan tindakan keperawatan1.Kaji mobilitas yang ada1.Mengetahui tingkat pasien dalam
diri b/d tirahselama 3x24 jam di harapkan pasien dapatdan observasi adanyaberaktivitas.
baring danmandiri dengan criteria : peningkatan kerusakan.
penurunan - Pasien dapat mandiri dalam
kesadaran. beraktivitas. 2.Perawatan kateter bila
terpasang 2.Mencegah agar tidak terjadi
iritasi pada kulit.

3.Berikan makanan via3.Menjaga agar berat badan stabil


parental bila ada indikasi. dan kebutuhan cairan terpenuhi.

4.Kemampuan mobilisasi dapat di


4.Kolaborasi dengan ahlitingkatkan dengan latihan fisik
fisioterapi untuk melatihyang di berikan oleh tim
fisik pasien. fisioterapi.