Anda di halaman 1dari 16

VAKSIN HUMAN PAPILOMA VIRUS (HPV)

UNTUK PENCEGAHAN KANKER SERVIKS UTERI


Harry kurniawan Gondo
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRAK

Kanker serviks merupakan penyakit keganasan fatal yang dapat dicegah. Penyebab kanker serviks
adalah human papillomavirus (HPV) onkogenik risiko tinggi, terutama HPV-16 dan 18. Secara
struktural, HPV dibagi atas URR, ER,dan LCR dimana ER mengkode protein E1, E2, E3, E4, E5, E6,
dan E7 yang bersifat onkogenik dan LCR mengkode L1 dan L2 yang bersifat imunogenik. Infeksi
HPV mengakibatkan displasia yang dapat berkembang menjadi kanker serviks in situ dan invasif.
Vaksin dapat mencegah 65% infeksi, 95% infeksi persisten, 100% keadaan abnormalitas epitel.
Vaksin HPV rekombinan lebih baik diberikan pada mereka yang belum melakukan hubungan seksual
aktif dan dapat pula pada umur 9-55 tahun. Regimennya sebanyak 3 kali suntikan 0,5 ml pada otot
deltoideus mediolateral pada bulan pertama, kedua, ke enam. Kemampuan proteksi adalah 5 tahun dan
tidak ditemukan reaksi serius sebagai komplikasi vaksinasi.

Kata kunci: vaksin HPV, kanker serviks.

VACCINES HUMAN PAPILLOMA VIRUS (HPV)


CERVICAL CANCER PREVENTION FOR UTERI
Harry kurniawan Gondo
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRACT

Cervix cancer represent disease of fatal ferocity able to be prevented. Cause of cervix cancer is
papillomavirus human (high Onkogenik risk HPV), especially HPV-16 and 18. Structurally, HPV
divided of URR, ER,DAN LCR where ER protein code of E1, E2, E3, E4, E5, E6, and E7 having the
character and oncogenic of LCR code of L1 and L2 having the character of imunogenik. Infection of
HPV result displasia able to round into cervix cancer in situ and of invasif. Vaccine can prevent 65%
infection, 95% infection of persisten, 100% situation of epitel abnormalitas. Vaccine of HPV passed
to better rekombinan of them which not yet conducted active sexual relation and earn also at age 9-55
year. Its counted 3 times injection 0,5 ml at muscle of deltoideus mediolateral first, second, to six
month. Ability of proteksi 5 year and not be found by serious reaction as vaccination complication.

Keyword: Vaccine of HPV, cervix cancer.

I. Latar Belakang Masalah akan terjadi 9 juta kematian akibat kanker,


sebagian besar 75-80% terdapat di negara
Sampai saat ini, kanker serviks masih berkembang. Padan negara maju, kanker
merupakan masalah kesehatan perempuan serviks menempati urutan kedua setelah
Indonesia sehubungan dengan insiden dan kanker mamma, sedangkan di Indonesia,
mortalitas yang tinggi. World Health kanker serviks menempati urutan pertama
Organization (WHO) memperkirakan dan prevalensinya relative stabil dalam
pada tahun 2000, di seluruh dunia terdapat tiga dasa warsa. Hingga saat ini kanker
6,25 juta kanker baru pertahun dan dalam serviks merupakan penyebab kematian
waktu 10 tahun mendatang diperkirakan
terbanyak akibat penyakit kanker di bersifat memicu terjadinya perubahan
negara berkembang. genetik. HPV berbentuk ikosahedral
dengan ukuran 50-55 nm, 72 kapsomer,
Pajanan Human Pappiloma Virus (HPV) dan 2 protein kapsid. HPV merupakan
dianggap sebagai promoter dan mungkin suatu virus yang bersifat non enveloped
inisiator, sedangkan faktor resiko lainnya yang mengandung double stranded
sebagai inisiator. Manifestasi klinis dari DNA. Virus ini juga bersifat
proses molukuler dan seluler adalah epiteliotropik yang dominan menginfeksi
metaplasia dan displasia di mana hal ini kulit dan selaput lendir dengan
dapat dideteksi baik dengan dengan karakteristik proliferasi epitel pada tempat
pemeriksaan sitologis dari bahan pap infeksi. Infeksi virus HPV telah
smear maupun dengan pemeriksaan dibuktikan menjadi penyebab lesi
histopatologis dari bahan biopsi serviks. prekanker, kondiloma akuminata, dan
Penemuan vaksin ini merupakan salah kanker. Meskipun HPV menyerang
satu terobosan yang sangat besar dalam wanita, virus ini juga mempunyai peran
bidang ilmu kedokteran khususnya bidang dalam timbulnya kanker anus, vulva,
onkologi ginekologi. Diharapkan pada vagina, penis, dan beberapa kanker
tahun-tahun mendatang dengan semakin orofaring.
disebarluaskannya informasi dan
penggunaan vaksin Human Papilloma Virus ini menginfeksi membrana basalis
Virus, angka kejadian kanker mulut rahim pada daerah metaplasia dan zona
dapat ditekan dan mungkin dieradikasi transformasi serviks. Setelah menginfeksi
terutama pada negara berkembang seperti sel epitel serviks sebagai upaya untuk
negara kita ini. berkembang biak, virus ini akan
meninggalkan sekuensi genomnya pada
sel inang. Genom HPV berupa episomal
(bentuk lingkaran dan tidak terintegrasi
II. ETIOLOGI KANKER SERVIKS dengan DNA inang) dijumpai pada
II.1 Human Papilloma Virus (HPV) Carcinoma Insitu (CIN) dan berintegrasi
dengan DNA inang pada kanker invasif.
HPV termasuk golongan pavovavirus Pada percobaan invitro HPV terbukti
yang merupakan virus DNA yang dapat mampu mengubah sel menjadi immortal.

Gambar 1. Human Papilloma Virus


Hasil pemeriksaan sekuensi DNA yang seperti jengger ayam pada tipe 6 dan 11
berbeda hingga saat ini dikenal lebih dari atau dikenal sebagai kondiloma
200 tipe HPV.Kebanyakan infeksi HPV akuminata. Beberapa penelitian
bersifat jinak. Tigapuluh diantaranya mengemukakan bahwa lebih dari 90 %
ditularkan melalui hubungan seksual kanker serviks disebabkan oleh HPV dan
dengan masing-masing kemampuan 70 % diantaranya disebabkan oleh tipe 16
mengubah sel epital serviks. Tipe risiko dan 18, Dari kedua tipe ini HPV 16
tinggi seperti tipe 16, 18, 31, 33, 35, 39, menyebabkan lebih dari 50 % kanker
45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 69 dan mungkin serviks. Apabila seseorang yang sudah
tipe yang lain berhubungan dengan terkena infeksi HPV 16 memiliki
displasia sedang sampai karsinoma in situ. kemungkinan terkena kanker serviks
Tipe virus resiko tinggi biasanya sebesar 5 %. Kanker serviks yang di
menimbulkan lesi rata dan tak terlihat jika sebabkan HPV umumnya berjenis
dibandingkan dengan tipe tipe resiko keganasan sel gepeng.
rendah yang menimbulkan pertumbuhan

Gambar 2 Genom HPV , Invasi dan Replikasi Virus

Siklus hidup HPV belum diketahui secara pematangan dari partikel partikel virus.
sempurna, tetapi proses timbulnya lesi Pada fase ini kelainan struktur sel tidak
sudah banyak diketahui. Tempat infeksi ditemukan dan HPV hanya bias dideteksi
pertama adalah pada sel basal atau sel dengan metode biomolekuler.
basal dari epitel gepeng yang belum 2. Fase produktif, yakni terjadinya
matur. Infeksi HPV yang terjadi pada sel pembentukan DNA virus dan membentuk
basal tersebut dibagi menjadi 2 jenis DNA yang infeksiosus yang disebut
yaitu: virion. Pembentukan DNA virus ini
terjadi di sel intermediet dan permukaan
1. Infeksi Virus laten, yakni infeksi epitel sel gepeng. Virion kemudian
virus yang tidak menghasilkan virus yang menjadi banyak jumlahnya dan
infeksius. Pada saat ini yang terjadi adalah membentuk efek merusak sel yang bias
virus tidak berhasil melekat pada dideteksi dengan cara sitologi dan
permukaan sel tetapi gagal melakukan histopatologi.
perkembangbiakan dan tidak terjadi
Gambar 3 Patogenesis HPV

Terjadinya keganasan akibat infeksi dari URR juga adalah bagian regulator yang
HPV harus memahami terlebih dahulu sangat kompleks di mana peranan dan
tentang genom dari HPV. Bangun HPV fungsi yang pasti dalam siklus hidup virus
terdiri atas 3 subbagian yaitu: URR belum diketahui dengan jelas. Bagian ini
(Upstein Regulatory Region), ER ( Early mengandung tempat ikatan berbagai
Region), dan LR (Late Region). URR faktor transkrip seperti protein activator,
adalah bagian nonkode yang berperan faktor transkrip keratinositik spesifik, dan
penting pada pengaturan pembentukan faktor transkrip lainnya. Ikatan-ikatan ini
dan transkrip pada rangkaian ER (Early diatur oleh Early Region ORFs.
region). ER dan LR mengandung cetakan
bacaan yang terbuka ( Open Reading Early Region ORFs mengkode protein
Frame = ORFs) yaitu bagian genom yang yang diperlukan pada proses kerja dari
punya kemampuan untuk membaca jenis protein E1, E2, E4, E5, E6, dan E7. E1
protein. ER terbentuk pertama kali pada dan E2 mengkode protein DNA dan
siklus hidup virus dan mengkode protein mengatur proses transkripsi. E4
yang sangat berperan pada pembentukan mengkode rangkaian protein yang penting
virus, sedangkan LR dibentuk kemudian pada proses pematangan dan
untuk mengkode struktur protein virus. pembentukan virus. E5 mengkode protein
dan punya daya transformasi pada HPV.

Tabel 1 : Fungsi E dan L Protein pada transformasi gen

E Perananya
Protein

E1 Mengontrol pembentukan DNA virus dan mempertahankan efisomal

E2 Mengontrol pembentukan / transkripsi / transformasi

E4 Mengikat sitokeratin

E5 Transformasi melalui reseptor permukaan (epidermal growt factor, platelet


derivat growth factor, p123)

E6 Immortalisasi / berikatan dengan p 53, trans activated / kontrol transkripsi

E7 Immortalitas / berikatan dengan Rb1,p107,p130


L Peranannya
Protein

L1 Protein sruktur / mayor Viral Coat Protein

L2 Protein sruktur / minor Viral Coat Protein

Peranan E6 dan E7 ORFs sangat penting Protein E1 berperan dalam proses inisiasi
dalam proses transformasi gen. Hal ini dan elongasi dari pembentukan DNA,
dapat dibuktikan dengan penemuan E6 sedangkan E2 berperan dalam regulasi
dan E7 HPV tipe onkogenik tinggi seperti positif dan negatif dari ekspresi gen
16 dan 18 pada kultur jaringan sel yang melalui interaksi dengan early promoter.
telah mengalami proses transformasi Protein E6 dan E7 berperan dalam
invitro. E6 dan E7 selalu ditemukan pada proliferasi melalui mekanisme yang
kenker serviks. Hal ini menunjukan mengganggu sistem kontrol siklus sel
peranan E6 dan E7 diperlukan untuk target dan aktivasi sintesis DNA.
proses pembentukan kanker. Bila kontrol
E6 dan E7 hilang, maka akan terjadi Zona peralihan pada kanker serviks
ekspresi yang berlebihan dari E6 dan E7 merupakan tempat utama dari infeksi
yang sangat berperan dalam proses HPV. Setelah terjadi infeksi HPV virus
pembentukan kanker. akan menuju ke sel basal dari epitel
serviks dan mengadakan pembentukan di
Infeksi primer dari HPV terjadi pada sel sitoplasma sel basal serta
lapisan basal dan parabasal. Setelah mengekspresikan protein virus E1, E2,
terjadi penetrasi dari virus maka partikel E4, E5, E6, E7. Sel basal yang terinfeksi
virus yang terdiri atas L1 dan L2 ini berdiferensiasi dan melakukan migrasi
berinteraksi dengan molekul di ke permukaan dan mulai mengekspresikan
permukaan sel target sehingga protein L1 dan L2. Pada sel-sel epitel
mempermudah masuknya DNA virus ke yang terinfeksi HPV tersebut, virus akan
sel target. E1 dan E2 masing-masing terintegrasi pada kromosom penjamu dan
mengkode DNA binding protein yang mengekspresikan protein E6 dan E7 yang
berfungsi untuk menjaga stabilitas virus. akan mengikat protein p53 dan Rb.
Gambar 4. Filogenetik HPV

Pada HPV yang menyebabkan keganasan, satu-satunya penyebab terjadinya kanker


protein yang berperan banyak adalah E6 serviks. HPV tipe 16 dan 18
dan E7. mekanisme utama protein E6 dan menyebabkan 68% keganasan tipe
E7 dari HPV dalam proses perkembangan skuamosa dan 83% tipe adenokarsinoma.
kanker serviks adalah melalui interaksi Meskipun infeksi HPV biasanya tanpa
dengan protein p53 dan retinoblastoma gejala infeksi pada serviks bisa
(Rb). Protein E6 mengikat p 53 yang menghasilkan perubahan secara histologi
merupakan suatu gen supresor tumor yang digolongkan dalam Cervikal intra-
sehingga sel kehilangan kemampuan epitelial Neoplasma (CIN) derajat 1, 2, 3
untuk mengadakan apoptosis. Sementara didasarkan pada derajat kerusakan dari sel
itu, E7 berikatan dengan Rb yang juga epitel pada serviks atau adenokarsinoma
merupakan suatu gen supresor tumor insitu. CIN 1 biasanya sembuh spontan (
sehingga sel kehilangan sistem kontrol 60% dari seluruh kasus) dan beberapa
untuk proses proliferasi sel itu sendiri. berkembang ke arah keganasan ( 1% ).
Protein E6 dan E7 pada HPV jenis yang CIN 2 dan 3 memiliki persentase sedikit
resiko tinggi mempunyai daya ikat yang untuk sembuh spontan dan memiliki
lebih besar terhadap p53 dan protein Rb, persentase yang tinggi untuk berkembang
jika dibandingkan dengan HPV yang ke arah keganasan.
tergolong resiko rendah.
b. Kanker Vulva dan Vagina

Tidak semua keganasan pada vulva dan


II.2 Beberapa Penyakit yang vagina disebabkan infeksi HPV. HPV tipe
ditimbulkan oleh infeksi HPV 16 adalah yang terbanyak ditemukan pada
keganasan vulva dan vagina. HPV
a. Kanker servik dihubungkan dengan sekitar setengah dari
penyebab keganasan dari vulva dan
HPV berperan dalam menyebabkan vagina. Beberapa penelitian , HPV tipe 16
terjadinya kanker serviks tetapi bukan
dan 18 terdeteksi pada 76% dari berbagai rekayasa. Vaksin dibuat dengan
keganasan intraepitelial vagina dann 42% teknologi rekombinan, vaksin berisi VLP
dari kanker vulva. (virus like protein) yang merupakan hasil
cloning dari L1 (viral capsid gene) yang
c. Kanker Anal mempunyai sifat imunogenik kuat.
Dengan diketahuinya infeksi HPV sebagai
HPV dihubungkan pula dengan sekitar penyebab kanker serviks , maka terbuka
90% dari keganasan anal jenis sel peluang untuk menciptakan vaksin dalam
skuamosa . upaya pencegahan kanker serviks. Dalam
d. Kondiloma Akuminata hal ini dikembangkan 2 jenis vaksin:

Semua kondiloma akuminata disebabkan 1. Vaksin pencegahan untuk memicu


oleh infeksi HPV, dan 90% dihubungkan kekebalan tubuh humoral agar dapat
dengan infeksi HPV tipe 6 dan tipe 11. terlindung dari infeksi HPV.
Kondiloma biasanya terjadi setelah 2 3 2. Vaksin Pengobatan untuk
bulan terjadinya infeksi HPV pada daerah menstimulasi kekebalan tubuh seluler
anogenital, tetapi tidak semua wanita yang agar sel yang terinfeksi HPV dapat
terinfeksi HPV menimbulkan kondiloma dimusnahkan.
pada daerah anogenital. Kondiloma bisa
diobati meskipun pada beberapa kasus Respon imun yang benar pada infeksi
bisa hilang dengan sendirinya. Angka HPV memiliki karakteristik yang kuat,
kekambuhan pada kondiloma cukup bersifat lokal dan selalu dihubungkan
tinggi yaitu 30% dengan pengurangan lesi dan bersifat
melindungi terhadap infeksi HPV genotif
e. Respiratori Papillomatosis Berulang yang sama . Dalam hal ini, antibodi
humoral sangat berperan besar dan
Infeksi HPV yang resiko rendah, yaitu antibodi ini adalah suatu virus
tipe 6 dan 11 bisa menyebabkan neutralising antibodi yang bisa mencegah
papillomatosis respiratori yang berulang. infeksi HPV dalam percobaan invitro
Penyakit ini ditandai dengan timbulnya maupun invivo. Kadar serum neutralising
papiloma pada daerah laring. Biasanya hanya setelah fase seroconversion dan
timbul pada usia muda. Papillomatosis ini kemudian menurun. Kadar yang rendah
dipercaya sebagai akibat transmisi vertikal ini berhubungan dengan infeksi dari virus.
dari ibu yang terinfeksi ke bayinya saat HPV yang bersifat intraepitelial dan tidak
melahirkan. adanya fase keberadaan virus di darah
pada infeksi ini. Selanjutnya protein L1
diekspresikan selama infeksi produktif
dari virus HPV dan partikel virus tersebut
III. VAKSIN HUMAN PAPPILOMA
akan terkumpul pada permukaan sel epitel
VIRUS (HPV)
tanpa ada proses kerusakan sel dan proses
Vaksin kanker pada awal radang dan tidak terdeteksi oleh antigen
perkembangannya dimulai dari lisan presenting cell dan makropag. Oleh
tumor sendiri, kemudian berkembang karena itu partikel virus dan kapsidnya
dengan sasaran tumor associated antigen, terdapat dalam kadar yang rendah pada
yaitu molekul yang diekspresikan oleh kelenjar limfe dan limpa, di mana kedua
tumor dan tidak oleh sel normal. organ tersebut adalah organ yang sangat
Selanjutnya digunakan peptida atau DNA berperan dalam proses kekebalan tubuh.
sebagai antigen. Antigen DNA biasanya Meskipun dalam kadar yang rendah,
lemah dan untuk memperkuat potensi antibodi tersebut bersifat protektif
imunogeniknya dilakukan dengan terhadap infeksi virus HPV, sehingga
dikembangkan suatu vaksin yang hidup. Ketika virus memasuki suatu sel ,
didasarkan pada mekanisme kerja virus hal ini berarti pengambil alihan terhadap
neuralising antibodi terhadap protein pembentukan dari aparatus sel penjamu.
kapsid yang bersifat mencegah terhadap Protein virus diproduksi secara endogen
infeksi HPV. oleh sel yang terinfeksi dan dirusak secara
intraseluler menjadi peptida-peptida
Imunodominant neutralising epitopes sekitar sembilan asam amino. Peptida-
terlokalisasi pada protein kapsid L1, yang peptida ini kemudian dihadirkan pada
kemudian bergabung menjadi suatu permukaan sel penjamu yang terinfeksi
kapsid yang kosong atau virus like oleh molekul molekul dari Major
particle yang secara bentuk dan antigenik Histocompatibility Complex (MHC) yang
sangat identik dengan virion aslinya. juga dikenal sebagai Human Leukocyte
Kemudian dengan bantuan teknologi yang Antigen (HLA).
canggih, dikembangkan suatu HPV L1
VLP subunit vaksin. Kompleks gen MHC ini adalah
suatu polimorphic dan merupakan HLA
kelas I yang terdapat sekitar 50 alel pada
lokus A dan C dan 100 alel B yang
III.1 Respon Imunologi Terhadap berbeda. Molekul HLA kelas 1 terdiri atas
Infeksi HPV 2 rantai protein, yaitu MHC yang
Sistem kekebalan tubuh terdiri menyandi rantai alfa dan yang sangat
atas dua bagian besar, yaitu sistem berhubungan dengan rantai beta 2
kekebalan humoral dan sistem kekebalan mikroglobulin. Pada bagian atas dari
seluler yang keduanya berperan pada molekul HLA kelas 1 adalah suatu alur
respon imunologis terhadap infeksi HPV. tempat protein virus terikat. Terdapat 3
Sistem kekebalan humoral banyak gambaran penting pada sistem ini, yaitu:
diperankan oleh sel B dengan
pembentukan imunoglobulin, sedangkan
sistem kekebalan seluler benyak 1. Molekul HLA menghadirkan /
diperankan oleh sel T, baik sel T memberikan peptida asing ke limpisit T
sitotoksis maupun sel T helper. Pada yang memiliki kemampuan untuk
sistem kekebalan humoral antigen yang menghancurkan sel-sel yang terinfeksi
masuk akan berinteraksi dengan antibodi virus
dan selanjutnya akan mengaktivasi sel B 2. Dikenalnyan HLA yang mengikat
menjadi sel plasma yang membentuk peptida oleh reseptor sel T adalah HLA
antibodi (imunoglobulin), proses aktivasi yang tertentu saja. Peptida asing hanya
ini dibantu oleh sel T helper. Sementara dapat dikenali jika sel target memiliki
itu, pada sistem kekebalan seluler (cell molekul HLA yang sama dengan sel T itu
mediated imunity) antigen terlebih dahulu sendiri.
diproses oleh Antigen Presenting Cell 3. Peptida yang tepat dihadirkan oleh
(APC) dan tergantung dari Major molekul HLA kelas I adalah spesifik alel
Histocompatibility Complex (MHC). saja.
Virus sebagai partikel obligat intraseluler
dengan menginfeksi sel dan berperan Pada respon kekebalan tubuh seluler yang
sebagai imunogen yang memberikan efek diperantarai oleh sel T, terdapat 2 kelas
sitopatik dan nonsitopatik pada sel. utama sel T yaitu CD 8 yang
Reaksi tubuh melawan imunogen virus mengekspresikan Cytotoxic T
adalah dari tanpa pembentukan antibodi Lymphocytes (CTL) dan CD 4
sampai dengan respon imun seumur menghasilkan antibodi dan tidak dapat
mengenali antigen yang dapat larut kelas II yang akan merangsang
(soluble antigen). Reseptor sel T (TCR) perpindahan CD3 dan 4 dari thymus,
dari kedua kelas tersebut berhubungan selanjutnya terikat pada reseptornya dan
secara langsung dengan antigen peptida CD3 dan 4 tersebut menjadi Th-0 dan Th-
yang dihadirkan oleh molekul HLA pada 1 yang menghasilkan IL-2, IF-, TNF-
permukaan sel yang lain. CTL ini dan juga diproduksi oleh sel NK. Th-1
berinteraksi dengan HLA kelas I, memperluas pengaruh reaksi delayep type
sedangkan T helper cell mengenali hypersensitivity dengan mengatur
antigen yang dihadirkan oleh molekul peredaran makrofag,limfosit dan neutrofil
kelas II. Molekul kelas II MHC ke area infeksi. Selain itu, IFN- akan
diekspresikan pada antigen penting cell menstimulasi sel NK untuk berproliferasi
(APC) dari sistem imunologi seperti dan selanjutnya melepaskan IFN- yang
makropag dan sel dendrit. Sel T tertentu akan merangsang sel makropag untuk
hanya akan mengenali suatu peptida asing melepaskan IL-2 lebih banyak lagi. IL-2
tertentu. Ikatan spesifik pada peptida ini akan menstimulasi sel NK untuk
menyebabkan sel T mengalami memproduksi IFN- sehingga akan
pengembangan klonal yang cepat, terjadi mekanisme umpan balik antara IL-
mengalami proliferasi dan membentuk 2 yang dihasilkan oleh makropag dengan
suatu klon dari sel T yang identik dengan IFN- dari sel NK yang pada akhirnya
spesifitas yang sama untuk masing- mengakibatkan kerusakan dan kematian
masing target antigen. CTLs yang sudah sel terinfeksi virus. Sel Ts mengontrol
diaktifkan dapat menempel pada sel target keseimbangan respon kekebalan tubuh
selularnya dan menyebabkan lisis dengan melalui penekanan fungsi sel Th dan
cara melepaskan cytotoxin. T sel helper reaksi langsung ke sel B. Sel Ts
yang aktif mensekresi sitokin yang mengekspresi CD8 dan spesifik untuk
merupakan molekul protein dengan efek epitop antigen spesifik atau untuk petanda
perangsangan terhadap sel-sel lain dari idiotipe pada reseptor antigen-antibodi sel
sistem kekebalan tubuh. B atau Ts di mana sel Ts dan regulasi
idiotipenya bekerja sama satu dengan
Antigen presenting cell (APC) sangat yang lain.
penting untuk sistem kekebalan yang
efektif. APC mengambil alih protein
eksogen atau produknya lalu diproses
menjadi peptida peptida dan III.2 Respon kekebalan tubuh pada
dipindahkan ke nodus limfa regional yang kanker serviks terhadap pajanan HPV
nantinya akan berinteraksi dengan T
helper cell. Antigen yang dihadirkan oleh Secara umum respons cell
APC dapat mencapai seribu kali lebih mediated immunity memainkan peran
merangsang sistem imun dibandingkan yang penting dalam mengatasi infeksi
antigen yang asli. virus. Tidak terdapat penurunan kejadian
lesi yang dihubungkan dengan HPV pada
Imunogen yang masuk dalam tubuh akan pasien dengan humoral imunodifeciency.
dilawan oleh tubuh melalui sel NK, T Hal ini mengidentifikasi bahwa walaupun
helper cell-CD4, T sitotoksik selCD 8. respons antibodi mungkin memainkan
Sel T sitotoksik (Ts) sebagai sub bagian peran, mekanisme cell mediated immunity
limfosit memberikan respons kekebalan (CMI) penting dalam melawan HPV.
tubuh seluler dan humoral. Respon Selain itu mekanisme CMI yang penting
kekebalan tubuh seluler melalui reaksi adalah terdapat infiltrasi seluler
hipersensitivitas tipe lambat (delayed type menyerupai reaksi hipersensitifitas tipe 4
hypersensitivity) dan sitolitik yaitu pada pasien dengan warts. Saat respons
aktivasi antigen yang terikat pada MHC kekebalan tubuh yang efektif menurun
terjadi peningkatan resiko persisten virus sehingga selama tidak terjadi pecahnya sel
dan perkembangan neoplasma . Faktor penjamu, infeksi ini tidak menyebar.
lain yang ikut berperan adalah infeksi Dengan demikian, CTL akan menjadi
tidak menyebabkan hal yang berbahaya mekanisme yang lebih efektif pada
bagi penjamu sehingga sering diabaikan . pertahanan awal melawan HPV
Hanya pada stadium akhir dari lesi saat dibandingkan dengan antibody penetral
lesi yang lebih besar berkembang, antigen yang berperan dalam mencegah infeksi
mungkin terlepas dalam melawan infeksi ulang. Protein target virus untuk kedua
secara aktif. Dengan demikian, kegagalan mekanisme tersebut dinyatakan dalam
respons kekebalan tubuh telah diduga level yang berbeda pada lapisan epitel
sebagai faktor utama dalam selama siklus sel normal. CTL akan
perkembangan neoplasia serviks. menargetkan sel yang utuh dari lapisan sel
yang intermediate di mana terjadi
Sel Langerhans, suatu antigen transkripsi dan pembentukan protein virus
presenting cell (APC) terdapat pada epitel E1, E2, E5, E6, dan E7 yang ditemukan
serviks yang berperan untuk mengambil, pada lapisan sel tersebut. Protein kapsid
memproses dan mentransportasi antigen L1 dan L2 adalah target relevan untuk
ke kelenjar getah bening pelvis kemudian antibodi penetral.
menuju ke serviks. Di sini terjadi induksi
sel T dan respons CTL melawan HPV Virion HPV adalah suatu partikel
secara umum. Peptida antigen protein ikosahedral yang terdiri dari kapsid
virus dipresentasikan oleh APC dalam protein yang bersifat tidak beramplop dan
kaitannya dengan HLA kelas II terhadap double stranded DNA. Genomnya kira-
sel Th dan dengan HLA kelas I terhadap kira sepanjang 8000 pasang basa dan
CTL. Dengan demikian, ekspresi HLA mengandung 6 ORFs (open reading
kelas I pada sel target penting bagi CTL frame) awal dan 2 ORFs akhir yang
untuk mengatur dan sekaligus mengkode protein HPV (E1,E2, E4, E5<
menghancurkannya. Sel Th tipe 1 (Th-1) E6, E7, L1 dan L2)
mensekresi IFN- , TNF , IL-2, yang
berperan dalam respons CTL dalam HPV secara khusus merupakan
delayed type hypersensitivity sel Th tpe 2 patogen pada lapisan epitel dengan cara
mensekresi IL-4, IL-5 dan IL 10 yang menginfeksi sel-sel parabasal pada
penting untuk induksi respons antibodi Ig permukaan epitel serviks yang secara
G dan Ig E. normal tumbuh ke permukaan dan
berdiferensisi menjadi sel gepeng yang
Sel T yang berasal dari sitokin matur. Ketika terjadi infeksi HPV, protein
anti viral IFN- bersama dengan antibodi virus awalnya diekspresikan pada lapisan
penetral akan mengontrol infeksi virus yang lebih bawah dan kemudian terjadilah
yang menyebabkan pecahnya sel dengan pembentukan virus. Jika sel-sel yang
menghambat penbentukan virus yang terinfeksi mencapai lapisan permukaan,
menginfeksi sel penjamu sebelum infeksi maka L1 dan L2 ORFs akan
virion baru dapat diproduksi adalah diekspresikan. Protein-protein ini
mekanisme yang paling efektif untuk membentuk kapsid virus dan melepaskan
mengontrol virus yang tidak virion matur melalui sel-sel yang
menyebabkan pecahnya sel. Namun terkelupas. Infeksi HPV pada serviks
antibody penetral mungkin juga penting biasanya merupakan suatu proses yang
untuk mencegah infeksi dengan melepas bervariasi mulai dari yang jinak sampai
virion setelah sel terinfeksi pecah. ganas.

Pada prinsipnya HPV adalah virus HPV bersifat patogen murni


yang tidak menyebabkan pecahnya sel, intraepitelial, di mana tidak menyebabkan
suatu penyebaran virus di darah atau pencegahan dan pengendalian infeksi
manifestasi ke seluruh tubuh, tidak primer. Sementara itu didapatkan
bersifat merusak sel, infeksi virus dan beberapa penelitian yang melaporkan
pembentukannya tidak disertai radang . hubungan dari antibodi melawan capsid
Tipe dari infeksi kronik ini tidak terjadi HPV tipe 16.
kerusakan jaringan dan pengaktipan
respons radang. Kemampuan lesi HPV Virus Neutralising antibodies
untuk bertahan selama bertahun-tahun dapat mencegah infeksi. Pada kadar
adalah sesuai dengan keberadaan HPV tertentu, serum spesifik IgG memberikan
sebagai suatu agen infeksi yang secara perlindungan dengan cara mengeksudasi
ilmiah imunogenitasnya rendah. Akan ke permukaan dan mengaktifasi patogen.
tetapi seperti yang telah dibahas Pada kasus infeksi HPV, vaksinasi
sebelumnya, selalu terdapat sistem pencegahan yang efektif dibutuhkan untuk
kekebalan tubuh dalam membatasi dan membangkitkan antibodi yang spesifik
memberantas infeksi HPV. pada epitel serviks yang secara langsung
melawan kapsid protein L1 dari HPV (
Virus yang patogen lebih rentan yang memainkan peran dalam masuknya
dalm netralisasi oleh antibodi yang virus ke sel host). Akan tetapi, jika sel
spesifik yang juga memainkan peran keratin serviks telah mengalami
dalam terjadinya infeksi oleh virus perubahan menjadi keganasan, proses
melalui antibodi yang tergantung pada diferensiasi tidak akan terjadi sehingga
sitotoksis seluler. Antibodi HPV dapat tidak akan terjadi pengikatan antibodi
berfungsi secara bermakna dan pada kadar spesifik pada epitel serviks yang secara
tertentu, antibodi tersebut bisa dijadikan langsung melawan capsid antigen.
marker dari status infeksi dan hal ini Ekspresi E6 dan E7 secara terus menerus
sebaiknya selalu dipantau untuk sangat dibutuhkan oleh sel dalam
mengetahui perjalanan penyakit. Beberapa perubahan ke arah keganasan, maka
penelitian telah menyelidiki hubungan pembangkitan CTLs spesifik secara
antara serum antibodi melawan protein langsung melawan peptida E6 dan E7
HPV tipe 16 pada kanker serviks dan akan menyebabkan penghancuran sel-sel
didapatkan seropositif yang lebih besar tumor yang terinfeksi virus.
secara bermakna pada pasien
dibandingkan dengan kontrol. Telah
dilaporkan bahwa seropositif terhadap E7
HPV tipe 16 kemungkinan berhubungan III.3 Efektifitas Vaksin
dengan stadium penyakit dan Pada penelitian didapatkan bahwa
berhubungan dengan prognosis yang lebih vaksin bivalen HPV 16/18 VLP sangat
buruk . Terbentuknya kekebalan humoral efektif menurunkan angka kejadian
terhadap HPV dalam hubungannya dalam infeksi HPV dan infeksi menetap HPV
perjalanan penyakit mengandung 16/18 pada individu yang sudah mendapat
pengertian bahwa antibodi yang terbentuk vaksinasi lengkap HPV ada wanita muda.
akibat dari pemaparan yang Efektifitas vaksin juga sangat tinggi pada
berkepanjangan terhadap antigen dan wanita yang tidak mendapatkan protokol
peningkatan muatan virus. Dalam hal ini vaksin secara lengkap.
sistem kekebalan memainkan peran yang
penting dalam menghancurkan sel sel Efektifetas vaksin dihubungkan dengan
yang terinfeksi virus walaupun masih infeksi menetap HPV 16 dan 18,
tetap ada kemungkinan bahwa antibodi abnoramalitas dari pemeriksaan sel
akan melawan langsung capsid protein serviks yang dihubungkan dengan infeksi
HPV (terutama L1) yang dapat HPV 16 dan 18., dan angka kejadian CIN
menetralisir partikel virus dalam
yang dihubungkan dengan infeksi HPV 16 antibodi menurun setelah mencapai
dan 18. Vaksin HPV 16/18 VLP ini akan puncaknya setelah imunisasi dan
merangsang produksi antibodi yang kemudian menetap (plateau), tetapi masih
kadarnya masih lebih tinggi jika lebih tinggi dibandingkan dengan respons
dibandingkan dengan kadar antibodi yang kekebalan tubuh yang timbul pada infeksi
dihasilkan oleh tubuh sebagai respons alami dari virus HPV dan kadar tersebut
alami dari infeksi virus HPV, respons menetap pada 48 bulan setelah vaksinasi.
kekebalan tubuh yang ditimbulkan
memiliki daya perlindungan yang lebih infeksi HPV bisa terjadi berulang setelah
lama jika dibandingkan dengan respons beberapa tahun dan resiko mendapat
kekebalan tubuh yang ditimbulkan oleh infeksi baru sangat bergantung pada
infeksi alami HPV. perilaku seksual dari individu tersebut.
Oleh karena itu, natural booster pada
Vaksin bivalen HPV 16 dan 18 individu yang telah mendapat vaksin dan
sangat aman dan ditoleransi oleh wanita kemudian mendapat paparan terhadap
yang mendapatkan vaksin tersebut. infeksi virus HPV setelah masa
Vaksin HPV ini sangat baik untuk perlindungan vaksin belum bisa
memberikan perlindungan terhadapa dibuktikan. Kadar antibodi kapsid pada
infeksi HPV pada populasi yang rutin infeksi alami dari virus HPV biasanya
dilakukan pemeriksaan rutin serviks stabil pada beberapa tahun dan bila
maupun yang tidak rutin melakukan diikuti, sebesar 50% dari wanita akan
pemeriksaan. Pada negara yang sudah menghasilkan seropositif pada 10 tahun
menjalankan program pemeriksaan rutin setelah ditemukannya infeksi virus HPV
serviks secara berkala dengan benar, pada daerah cervico genital.
vaksin ini juga memiliki efektifitas yang
sangat tinggi terhadap upaya pencegahan
abnormalitas dari hasil pemeriksaan sel
serviks yang dihubungkan dengan infeksi III.5 Sasaran dan Waktu pemberian
HPV tipe 16 dan 18. Di Amerika serikat Vaksin
telah dihitung preventable unit cost dari Vaksin profilaksis akan bekerja
vaksin ini berkisar jutaan dolar tiap efisien bila vaksin tersebut diberikan
tahunnya. sebelum individu terpapar infeksi HPV.
Proteksi NIS 2/3 karena HPV 16 Vaksin mulai dapat diberikan pada wanita
dan 18 pada yang di vaksinasi mencapai usia 10 tahun. Berdasarkan pustaka vaksin
100%, dan proteksi 100% dijumpai dapt diberikan pada wanita usia 10-26
sampai 2-4 tahun pengamatan. Pemberian tahun (rekomendasi FDA-US), penelitian
vaksinasi pada populasi, menurunkan memperlihatkan vaksin dapat diberikan
kejadian infeksi HPV 16/18 (infeksi HPV sampai usia 55 tahun. Infeksi HPV yang
persisten berkisar 85-100%. Vaksin menyerang organ genetalia biasanya
bivalen (HPV tipe 16 dan 18) mempunyai ditularkan melalui hubungan seksual, dan
proteksi silang terhadap HPV tipe 45 imunisasi diberikan untuk melakukan
(dengan efektifitas 94%) dan HPV tipe 31 perlindungan terhadap sejumlah besar
( dengan efektifitas 55%). penyakit yang dihasilkan oleh infeksi
virus tersebut. Selain itu vaksin diberikan
pada usia tersebut maka respon kekebalan
tubuh yang dihasilkan akan lebih besar
III.4 Masa Perlindungan dibandingkan bila diberikan setelah
pubertas, baik pada wanita maupun pada
Data tentang percobaan tentang pria. Vaksinasi pada pria belum
HPV vaksin ditunjukkan bahwa kadar
menghasilkan efektifitas yang dan 6 (Dianjurkan pemberian tidak
memuaskan. melebihi waktu 1 tahun). Pemberian
booster (vaksin ulangan), respon antibodi
pada pemberian vaksin sampai 42 bulan,
untuk menilai efektifitas vaksin
III.6 Sediaan dan Komposisi diperlukan deteksi respon antibodi. Bila
Terdapat dua jenis vaksin HPV respon antibodi rendah dan tidak
L1 VLP yang sudah dipasarkan melalui mempunyai efek penangkalan maka
uji klinis, yakni Cervarik dan Gardasil : diperlukan pemberian Booster.

a. Cervarix Vaksin profilaksis akan bekerja


Adalah jenis vaksin bivalen HPV 16/18 efisien bila vaksin tersebut diberikan
L1 VLP vaksin yang diproduksi oleh sebelum individu terpapar infeksi HPV.
Glaxo Smith Kline Biological, Rixensart, Infeksi HPV yang menyerang organ
Belgium. Pada preparat ini, Protein L1 genitalis biasanya ditularkan melalui
dari HPV diekspresikan oleh recombinant hubungan seksual dan, dan imunisasi
baculovirus vector dan VLP dari kedua siberikan untuk melakukan perlindungan
tipe ini diproduksi dan kemudian terhadap sejumlah besar penyakit yang
dikombinasikan sehingga menghasilkan dihasilkan oleh infeksi virus tersebut.
suatu vaksin yang sangat merangsang Sebagai target populasi dari imunisasi ini
sistem imun . Preparat ini diberikan secara adalah wanita sebelum puber dan usia
intramuskuler dalam tiga kali pemberian remaja. Hal ini disebabkan pada usia
yaitu pada bulan ke 0, kemudian usia tersebut dimulainya aktivitas seksual
diteruskan bulan ke 1 dan ke 6 masing- seseorang.
masing 0,5 ml Sebaiknya vaksiniasi secara rutin
b. Gardasil diberikan untuk wanita umur 11 12
Adalah vaksin quadrivalent 40 g protein dengan dosis pemberian. Serial vaksin
HPV 11 L1 HPV ( GARDASIL yang bisa dimulai saat wanita tersebut berumur
diproduksi oleh Merck) Protein L1 dari 9 tahun. Selain itu vaksin juga
VLP HPV tipe 6/11/16/18 diekspresikan direkomendasikan untuk diberikan pada
lewat suatu rekombinant vektor umur 13 26 tahun yang tidak mendapat
Saccharomyces cerevisiae (yeast). Tiap pengulangan vaksin atau tidak
0,5 cc mengandung 20g protein HPV 6 mendapatkan vaksin secara lengkap.
L1, 40 gprotein HPV 11 L1, 20 g Idealnya vaksin diberikan sebelum usia
protein HPV18 L1. Tiap 0,5 ml yang rentan kontak dengan HPV yaitu
mengandung 225 amorph aluminium wanita yang akan memasuki usia seksual
hidroksiphosphatase sulfat. Formula aktif sehingga wanita yang mendapat
tersebut juga mengandung sodium borat. vaksinasi tersebut bisa merasakan
Vaksin ini tidak mengandung timerasol keuntungan dari pemberian vaksin. Selain
dan antibiotika. Vaksin ini seharusnya itu apabila vaksin siberikan pada usia
disimpan pada suhu 20 80 C. tersebut, respons kekebalan tubuh yang
dihasilkan akan lebih besar dibandingkan
bila diberikan setelah pubertas. Vaksin
dikocok lebih dahulu sebelum dipakai dan
III.7 Dosis dan Cara Pemberian diberikan secara muskuler sebanyak 0,5
dan sebaiknya disuntikkan pada lengan
Vaksin ini diberikan (otot deltoid)
intramuskuler 0,5 cc diulang tiga kali,
produk Cervarix diberikan bulan ke 0,1
dan 6 sedangkan Gardasil bulan ke 0, 2
DAFTAR PUSTAKA bagian obstetri dan ginekologi FK
Brawijaya/RS Saiful Anwar. Malang
1. Andrijono,2007 . kanker Serviks, 10. Jorma Paavonen, David jenkins et
Jakarta. subbagian onkologi bagian all, 2007. Efficacy of a prophylactic
obstetric dan ginekologi FK UI/RS Cipto adjuvanted bivalent L1 virus-like-particle
Mangunkusumo. vaccine against infection with human
2. Anonymous. 2007 Human papillomavirus types 16 and 18 in young
Papillomavirus. Diakses dari women; an interim analysis of a phase III
http;//www.wikipedia.com double- blind, randomised controlled
3. Aziz MF. 2005 Vaksin Human trial.www.thalancet.com.
papillomavirus ; suatu alternatif dalam 11. Kwane A. 2005 Carcinoma Of
pengendalian kanker serviks di masa The Cervix : The role of Human
depan disampaikan dalam Pidato papillomavirus and prospect for primary
Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap prevention. University Of Gnana Medical
dalam Ilmu Obstetri dan Ginekologi. School.
FKUI. 12. Kouttsky LA, Ault KA, Wheeler
4. Family Comprehensive Centre. C M et al, 2002 A controlled trial of a
University Of Callifornia. Irvine Orenge Human papillomavirus Type 16 vaccine.
California. USA.GLOBOCAN 2002 The New York Journal Of Medicine Vol
http;/www-dep.iarc.fr, Last accessed 24 th 347: 1645-1650
August 2006. 13. Kalpana devaraj. 2003
5. Geahart PT. 2006 Human Development of HPV vaccine for HPV.
papilloma virus. Departement Of Associated head and neck squamous cell
Obstetric and Gynecology, Pennyslvannia carcinoma. Departement of Pathology,
Hospital. Oncology, Obstetric And Gynecology.
6. Gianni S L, Hanon E, Morris P et The John Hopkins Medical Instittion.
al. 2006 Enhanced and memory B cellular Baltimore.USA.
imunity using HPV 16 and 18 L1 vlp 14. Koutsky LA and Harper DM.
vaccine formulated with theMPL / 2006 Current finding from prophylactic
aluminium salt combination ( ASO 4 ) HPV vaccine trials. Departement of
compared to alluminium salt only. Glaxo Epidemiology, School of Public Health.
Smith Kline Biological. Belgium. University of Washington. Seattle.USA
7. Harper DM, Franco EL, Wheeler 15. Kane MA, Sherris J, Coursaget P
C et al. 2004 Efficacy of bivalent L! Virus et al. 2006 HPV vaccine use in
like particle vaccine in prevention of developing world. Departement Of
infection with Human papilloma virus Immunization, Vaccine And Biologicals.
type 16 and type 18 in young women : a World Health Organization . Geneva.
randomised controlled trial . Departement Switzerland
of Obstertic and Gynecology And 16. Lynette denny, Hextan Y.S Ngan.
Community Of Family Medicine. Norris 2006 Prevention and Treatment of HPV
Cotton Cancer Centre, Darmouth Medical Associated Disease in the HPV Vaccine
School, Hanover, USA. Era. International Journal Of Gynecology
8. Inglis S, Shaw A, Koenig S. 2006 & Obstetrics vol 94.
HPV vaccine : commercial research and 17. LL Villa, RLR Costa et all. 2006
development. National Institute for Hight susteined efficacy of a prophylactic
Biological Standards And Control Mims quadrivalent human papilomavirus type
Potter Bar. Hert Fordshire. USA. 6/11/16/18 L1 virus-like particle vaccine
9. Imam R,Henry S,2007. Vaksin through 5 years of follow up.British
Human Papilloma Virus dan Eradikasi Journal of Cancer . 1459-66
Kanker Mulut Rahim.subbagian onkologi
18. Lacey CJN, Lowndes CM, Shah Biologicals. An AS04-containing human
KV. 2006 Burden and management of papillomavirus (HPV) 16/18 vaccine for
non-cancerous HPV-related condition: prevention of cervical cancer is
HPV 6/11 disease. immunogenic and well tolerated in
19. Lowy RD and Schiller JT. 2006 women 15-55 years old. Journal of clin
Prophylactic Human papilloma virus Oncol. ASCO Annual Meeting
vaccines. Laboratory of cellular Oncology Proceeding Part I;24.
Center for Cancer Research, National 28. Sjamsudin S,2000. Inspeksi
Cancer Institute, NIH, Bethesda, Visual dengan aplikasi asam asetat (IVA),
Maryland. USA. Suatu metode alternative skrining kanker
20. Lowy DR and Schiller JT. 1998 serviks. Jakarta: subbagian onkologi
Papillomavirus and cervical cancer : bagian obstetric dan ginekologi FK UI/RS
pathogenesis and vaccine development. Cipto Mangunkusumo.
Journal Of The National Cancer Institute 29. Surya Negara K, Suwiyoga K,
Monograph No 23; 27-30 Surya IGP, 2002. Human Papillomavirus
21. Moscicki Ab, Schiffman M, Kjaer pada kanker serviks dan Penyakit Menular
S, Villa LL. 2006 Updating the natural Seksual, thesis. Lab Obstetri dan
history of HPV and anogenital cancer. Ginekologi FK Unud Denpasar.
22. Munoz N, Castellsague X 30. Schiller JT and Lowy DR. 2000
Gonzales AB, Gissmann L. 2006 HPV in Papillomavirus like particle vaccine.
the Etiology of human cancer. Institute Journal of The National Cancer Institute
Catala dOncologia. Quai Fulchiron. Monograph, No;28; 50 54
Lyon. France. 31. Taira A, Neukermans CP, Sanders
23. Markowitz LE, Dunne FE, GD. 2004 Evaluating Human
Saraiya M, et all. 2007 Quadrivalent Papillomavirus vaccination programs.
Human Papilloma Virus Vaccine : Stanford School Of Medicine, Stanford
Recommendation of the Advisory University. Stanford. California. USA
Committee on Immunonization Practices ( 32. Wrigth TC, Bosch FX, Franco
ACIP ). Departement Of Healt and EL, Cuzick J, Schiller JT, Garnett GP,
Human Service Centre for Disease Meheus A. 2006 HPV vaccines and
Control and Prevention. Atlanta USA. screening in the prevention of cervical
24. Mahdavi Ali and Monk BJ. 2005 cancer; conclusions from a 2006
Vaccine against Human Papillomavirus workshop of international experts.
and cervical cancer: promise and Vaccine;24S3;S3251-61.
challenges. Division Of Gynecology
Oncology Chao Family Comprehensive
Centre. University Of Callifornia. Irvine
Orenge California. USA.
25. Putra D, Moegni EM. 2006 Lesi
prakanker serviks. Buku Acuan Nasional
Onkologi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta ;399-411
26. Smith PG. 2006 Studies to assess
the long-term efficacy and effectiveness
of HPV vaccination in develop and
developing countries. Vaccine.
;24S3;S3233-41
27. Schwarz TF, Dubin GO, 2006
HPV Vaccine Study Investigation for
Adulth Women Glaxo Smith Kline