Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rangka Manusia


Rangka manusia tersusun dari sekitar 206 tulang yang digolongkan menjadi
rangka aksial, yaitu rangka yang mendukung kepala, leher dan batang tubuh dan
rangka apendiculer, yaitu rangka anggota gerak. Rangka aksial berjumlah sekitar
80 tulang yang terdiri dari os cranium, columna vertebralis, os sternum. Rangka
apendiculer berjumlah sekitar 126 tulang yang terdiri dari tulang lengan dan
tungkai, os pectoral, dan os pelvis.
Menurut Snell (2006), punggung yang terbentang dari kranium sampai ke
ujung os coccygis dapat disebut sebagai permukaan posterior trunkus. Skapula
dan otot-otot yang menghubungkan skapula ke trunkus menutupi bagian atas
permukaan posterior toraks. Kolumna vertebralis merupakan pilar utama tubuh,
dan berfungsi menyanggah kranium, gelang bahu, ektremitas atas, dan dinding
toraks serta melalui gelang panggung meneruskan berat badan ke ekstremitas
inferior. Di dalam rongganya terletak medula spinalis, radix nervi spinales, dan
lapisan penutup meningen, yang dilindungi oleh kolumna vertebralis.
Kolumna vertebralis terdiri atas 33 vertebra, yaitu 7 vertebra servikalis, 12
vertebra torasikus, 5 vertebra lumbalis, 5 vertebra sakralis (yang bersatu
membentuk os sakrum), dan 4 vertebra coccygis (tiga yang di bawahnya
umumnya bersatu). Struktur kolumna ini fleksibel karena kolumna ini bersegmen-
segmen dan tersusun atas vertebrae, sendi-sendi, dan bantalan fibrocartilago yang
disebut diskus intervertebralis.
Diskus intervertebralis membentuk kira-kira seperempat panjang kolumna.
Vertebra L5 mungkin bergabung dengan os sakrum; biasanya tidak lengkap dan
terbatas pada satu sisi. Vertebra sakralis pertama dapat tetap terpisah atau sama
sekali teprisah dari os sakrum dan dianggap sebagai vertebra lumbalis keenam.
Vertebra tipikal terdiri atas korpus yang bulat di anterior dan arkus vertebra di
posterior. Keduanya, melingkupi sebuah ruang yang disebut foramen vertebralis,
yang dilalui oleh medula spinalis dan bungkus-bungkusnya.
Arkus vertebra terdiri atas sepasang pedikulus yang berbentuk silinder, yang
membentuk sisi-sisi arkus, dan sepasang lamina gepeng yang melengkapi arkus
dari posterior. Arkus vertebra mempunyai 7 processus, yaitu 1 processus spinosus,
2 processus transversus, dan 4 processus articularis. Proceccus spinosus atau
spina, menonjol ke posterior dari pertemuan kedua lamina. Processus transversus
menonjol ke lateral dari pertemuan lamina dan pedikulus. Processus spinosus dan
processus tranversus berfungsi sebagai pengungkit dan menjadi tempat
melekatnya otot dan ligamentum. Processus articularis superior terletak vertikal
dan terdiri atas dua processus articularis superior dan dua processus articularis
inferior. Processus ini menonjol dari pertemuan antara lamina dan pedikulus, dan
facies articularisnya diliputi oleh cartilago hyaline. Kedua processus articularis
superior dari sebuah arkus vertebra bersendi dengan kedua processus articularis,
inferior dari arkus yang ada di atasnya, membentuk sendi sinovial (Snell, 2006).
Pedikulus mempunyai lekuk pada pinggir atas dan bawahnya, membentuk
incisura vertebralis superior dan inferior.
Pada masing-masing sisi, insisura vertebralis superior sebuah vertebra dan
incisura vertebralis inferior dari vertebra di atasnya membentuk foramen
intervertebrale. Foramina ini pada kerangka yang berartikulasi berfungsi sebagai
tempat lewatnya nervi spinales dan pembuluh darah. Radix anterior dan posterior
nervus spinalis bergabung di dalam foramina ini, bersama dengan
pembungkusnya membentuk saraf spinalis segmentalis. Ciri-ciri vertebra lumbalis
tipikal:
a. Corpus besar dan berbentuk ginjal
b. Pediculus kuat dan mengarah ke belakang
c. Lamina tebal
d. Foramina vertebrale berbentuk segitiga
e. Processus transversus panjang dan langsing
f. Processus spinosus pendek, rata, dan berbentuk segiempat dan mengarah ke
belakang
g. Facies articularis processus articularis superior menghadap ke medial dan
facies articularis processus articularis inferior menghadap ke lateral.
Kecuali dua vertebra C1, semua vertebra lainnya saling bersendi satu dengan
yang lain dengan perantaraan articulation cartilaginea dan antar korpus dan
articulation synovial antar processus articularis. Permukaan atas dan bawah
korpus vertebra yang berdekatan dilapisi oleh lempeng tulang rawan hialin. Di
antara lempeng tulang rawan tersebut, terdapat diskus intervertebralis yang
tersusun atas jaringan fibrocartilago. Serabut-serabut kolagen diskus menyatukan
kedua korpus vertebra dengan kuat.
Diskus intervertebralis menyusun seperempat dari panjang columna
vertebralis. Diskus ini paling tebal di daerah servikal dan lumbal, tempat banyak
terjadinya gerakan kolumna vertebralis. Struktur ini dapat dianggap sebagai
diskus semielastis, yang terletak di antara korpus vertebra yang berdekatan dan
bersifat kaku. Ciri fisiknya memungkinkannya berfungsi sebagai peredam
benturan bila beban pada kolumna vertebralis mendadak bertambah, seperti bila
seseorang melompat dari tempat yang tinggi. Kelenturannya memungkinkan
vertebra yang kaku dapat bergeran satu dengan yang lain. Setiap diskus terdiri atas
bagian pinggir, annulus fibrosus, dan bagian tengah yaitu nukleus pulposus.
Annulus fibrosus terdiri atas jaringan fibrocartilago, di dalamnya serabutserabut
kolagen tersusun dalam lamel-lamel yang konsentris. Berkas kolagen berjalan
miring di antara korpus vertebra yang berdekatan, dan lamel-lamel yang lain
berjalan dalam arah sebaliknya. Serabut-serabut yang lebih perifer melekat
dengan erat pada ligamentum longitudinal anterius dan posterius kolumna
vertebralis.
Nukleus pulposus pada anak-anak remaja dan merupakan massa lonjong dari
zat gelatin yang banyak mengandung air, sedikit serabut kolagen, dan sedikit sel-
sel tulang rawan. Biasanya berada dalam tekanan dan terletak sedikit lebih dekat
ke pinggir posterior daripada pinggir anterior diskus. Permukaan atas dan bawah
korpus vertebrae yang berdekatan yang menempel pada diskus diliputi oleh
cartilago hyalin yang. Sifat nukleus pulposus yang setengah cair
memungkinkannya berubah bentuk dan vertebra dapat menjungkit ke depan atau
ke belakang di atas yang lain, seperti pada gerakan fleksi dan ekstensi kolumna
vertebralis.
Dengan bertambahnya umur, kandungan air di dalam nucleus pulposus
berkurang dan akan digantikan oleh fibrocartilago. Serabut-serabut kolagen
annulus berdegenerasi, dan sebagai akibatnya annulus tidak lagi berada dalam
tekanan. Pada usia lanjut, dismus ini tipis dan kurang lentur, dan tidak dapat lagi
dibedakan antara nukleus dan annulus. Ligamentum longitudinal anterius dan
posterius berjalan turun sebagai sebuah pita pada permukaan anterior dan
posterior columna vertebralis dari kranium sampai ke sakrum.
Ligamentum longitudinal anterius lebar dan melekat dengan kuat pada
pinggir depan, samping korpus vertebra, dan pada diskus intervertebralis.
Ligamentum longitudinal posterior lemah dan sempit dan melekat pada pinggir
posterior diskus. Ligamentum-ligamentum ini mengikat dengan kuat seluruh
vertebra, tetapi tetap memungkinkan sedikit pergerakan di antaranya. Berikut
adalah ligamentum yang terdapat pada vertebra:
a. Ligamentum supraspinale yang berjalan di antara ujung-ujung processus
spinosus yang berdekatan
b. Ligamentum interspinalia yang menghubungkan processus spinosus yang
berdekatan
c. Ligamentum intertransversaria yang berjalan di antara processus tranversus
yang berdekatan
d. Ligamentum flavum yang menghubungkan lamina dari vertebra yang
berdekatan
Sendi-sendi antar korpus vertebra dipersarafi oleh cabang kecil meningeal
masing-masing saraf spinal. Saraf ini berasal dari saraf spinal pada saat saraf ini
keluar dari foramen intervertebrale. Kemudian saraf ini masuk kembali ke dalam
kanalis vertebralis melalui foramen intervertebrale dan mempersarafi meningen,
ligamen, dan diskus intervertebralis. Sendi-sendi antar processus articularis
dipersarafi oleh cabang-cabang dari rami posterior saraf spinal. Sendi-sendi pada
setiap tingkat menerima serabut saraf dari dua saraf spinal yang berdekatan.
Kolumna vertebralis pada janin mempunyai satu lekukan ke anterior yang
utuh. Dengan bertambahnya perkembangan, terbentuklah angulus lumbosakralis.
Setelah lahir, pada waktu anak mampu mengangkat dan mempertahankan
kepalanya terhadap columna vertebralis, pars servikalis kolumna vertebralis
menjadi cekung ke posterior. Mendekati akhir tahun pertama, bila anak mulai
berdiri, pars lumbalis kolumna vertebralis menjadi konkaf ke posterior.
Pembentukan lengkung-lengkung sekunder ini sebagian besar disebabkan
oleh modifikasi bentuk diskus intervertebralis. Pada orang dewasa, pada posisi
berdiri, columna vertebralis memperlihatkan lengkung-lengkung regional pada
bidang sagital berikut ini: cekung posterior servikal, cembung posterior torakal,
cekung posterior lumbal, dan cembung posterior sakral. Pada orang tua diskus
intervertebralis mengalami atrofi, mengakibatkan bertambah pendeknya tubuh dan
secara perlahan-lahan kolumna vertebralis kembali ke dalam cekungan anterior
yang utuh (Snell, 2006).
Otot- otot punggung dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama yakni:
a. otot-otot superficial yang berhubungan dengan cingulum membri superior
b. otot-otot intermedia yang ikut dalam respirasi
c. otot-otot profunda yang dimiliki oleh kolumna vertebralis
Daerah lumbal didarahi oleh arteri yang merupakan cabang dari arteri
subkostalis dan lumbalis. Vena pada punggung dapat dibagi menjadi yang terletak
di luar kolumna vertebralis dan mengelilinginya membentuk pleksus venosus
vertebralis eksternus dan yang terletak di dalam kanalis vertebralis dan
membentuk pleksus vertebralis internus. Kulit dan otot-otot punggung dipersarafi
secara segmental oleh rami posteriors 31 pasang saraf spinalis. Rami posterior C1,
6, 7, dan 8 serta L4 dan 5 mempersarafi otot punggung profunda, tetapi tidak
mempersarafi kulitnya. Rami posterior berjalan ke bawah dan lateral dan
mempersarafi sebagian kulit, sedikit di bawah tempat keluarnya dari foramen
intervertebralis.
Terdapat beberapa gerakan dasar yang dapat dilakukan oleh semua columna
vertebralis yakni fleksio, ekstensio, laterofleksio, rotasio, dan sirkumdiksio.
Fleksio adalah gerakan ke depan, dan ekstensio adalah gerakan ke belakang.
Keduanya dapat dilakukan dengan leluasa di daerah cervical dan lumbal, tetapi
terbatas di daerah thoracal. Lateroflexio adalah melengkungnya tubuh ke salah
satu sisi. Gerakan ini mudah dilakukan di daerah cervical dan lumbal, tetapi
terbatas di daerah thoracal. Rotasio adalah gerakan memutar columna vertebralis.
Gerakan ini sangat terbatas di daerah lumbal. Sirkumdiksio adalah kombinasi dari
seluruh gerakan-gerakan sebelumnya (Snell, 2006).
Pada daerah lumbal, fleksio dilakukan oleh muskulus rectus abdominis dan
muskulus psoas. Ektensio dilakukan oleh muskulus postvertebrales. Lateroflekxio
dilakukan oleh muskulus postvertebralis, muskulus quardratus lumborum, dan
otot-otot serong dinding anterolateral abdomen. Muskulus psoas mungkin ikut
dalam gerakan ini. Rotasio dilakukan oleh otot-otot rotator dan otot-otot serong
dinding anterior-lateral abdomen (Snell, 2006).

2.2 Nyeri Punggung


2.2.1 Definisi
Nyeri punggung ialah nyeri yang dirasakan di punggung.
2.2.2 Macam Nyeri Punggung
a. Upper Back Pain

b. Lower Back Pain


2.2.3 Definisi Nyeri Punggung Bawah
Dalam bahasa kedokteran Inggris, nyeri pinggang dikenal sebagai low back
pain. Nyeri Punggung Bawah atau Nyeri Pinggang (Low Back Pain) adalah
nyeri di daerah lumbosakral dan sakroiliaka. Nyeri Punggung Bawah (NPB)
adalah nyeri yang dirasakan di daerah punggung bawah, dapat berupa nyeri lokal
(inflamasi), maupun nyeri radikuler atau keduanya. Nyeri yang berasal dari
punggung bawah dapat dirujuk ke daerah lain, atau sebaliknya nyeri yang berasal
dari daerah lain dirasakan di daerah punggung bawah (referred pain). NPB pada
hakekatnya merupakan keluhan atau gejala dan bukan merupakan penyakit
spesifik.
Masalah NPB meliputi banyak aspek, bukan hanya penderitaan akibat nyeri
yang dialami, tapi juga menimbulkan pemborosan ekonomi dan peningkatan biaya
kesehatan.

2.2.2. Asal dan Sifat Nyeri Pinggang


Nyeri punggung bawah dapat dibagi dalam enam jenis, yaitu:
1. Nyeri punggung lokal
Jenis ini paling sering ditemukan. Biasanya terdapat di garis tengah dengan
radiasi ke kanan dan ke kiri. Dapat berasal dari bagian-bagian di bawahnya
seperti fasia, otot-otot paraspinal, korpus vertebra, artikulasio dan ligamen
2. Iritasi pada radiks
Rasa nyeri dapat berganti-ganti dengan parestesi dan terasa pada dermatom
yang bersangkutan. Kadang-kadang dapat disertai hilangnya perasaan atau
gangguan fungsi motoris. Iritasi dapat disebabkan proses desak ruang yang bias
terletak pada foramen intervertebra atau dalam kanalis vertebra.
3. Nyeri acuan somatik
Iritasi serabut-serabut sensoris di permukaan dapat dirasakan di bagian lebih
dalam pada dermatom yang bersangkutan. Sebaliknya iritasi di bagian-bagian
lebih dalam dapat dirasakan di bagian lebih superfisial
4. Nyeri acuan
Adanya gangguan pada alat-alat retroperitoneum, intraabdomen atau di dalam
ruang panggul yang dirasakan di daerah punggung.
5. Nyeri karena iskemia
Rasa nyeri ini dirasakan seperti rasa nyeri pada klaudikasio intermitens yang
dapat dirasakan di pinggang bawah, di gluteus atau menjalar ke paha. Biasanya
disebabkan oleh penyumbatan pada percabangan aorta atau pada arteria iliaka
komunis.
6. Nyeri psikogen
Rasa nyeri tidak wajar dan tidak sesuai dengan distribusi saraf dan dermatom
dengan reaksi fasial yang sering berlebihan.

2.2.3 Klasifikasi Nyeri Punggung Bawah


a. Klasifikasi Menurut Penyebabnya
Nyeri punggung bawah menurut penyebabnya diklasifikasikan sebagai
berikut:
a. NPB traumatik
Lesi traumatik dapat disamakan dengan lesi mekanik. Pada daerah
punggung bawah, semua unsur susunan neuromuskoletal dapat terkena oleh
trauma.
1) Trauma pada unsur miofasial
Setiap hari beribu-ribu orang mendapat trauma miofasial, mengingat
banyaknya pekerja kasar yang gizinya kurang baik dengan kondisi
kesehatan badan yang kurang optimal. Juga di kalangan sosial yang
serba cukup atau berlebihan keadaan tubuh tidak optimal karena
kegemukan, terlalu banyak duduk dan terlalu kaku karena tidak
mengadakan gerakan-gerakan untuk mengendurkan urat dan ototnya.
NPB jenis ini disebabkan oleh lumbosakral strain dan pembebanan
berkepanjangan yang mengenai otot, fasia dan atau ligament.
2) Trauma pada komponen keras
Akibat trauma karena jatuh fraktur kompresi dapat terjadi di vertebrata
torakal bawah atau vertebra lumbal atas. Fraktur kompresi dapat terjadi
juga pada kondisi tulang belakang yang patalogik. Karena trauma yang
ringan (misal jatuh terduduk dari kursi pendek), kolumna vertebralis
yang sudah osteoporotik mudah mendapat fraktur kompresi. Akibat
trauma dapat terjadi spondilolisis atau spondilolistesis. Pada
spondilolisis istmus pars interartikularis vertebrae patah tanpa terjadinya
korpus vertebra. Spondilolistesis adalah pergeseran korpus vertebra
setempat karena fraktur bilateral dari istmus pars interartikularis
vertebra. Pergeserannya diderajatkan sampai IV. Kalau hanya 25% dari
korpus vertebra yang tergeser ke depan, maka spondolistesisnya
berderajat I. Pada pergeserannya secara mutlak, keadaannya dikenal
sebagai spondilolistesis derajat IV. Pada umumnya spondilolistesis
terjadi pada L.4 atau L.5.
b. NPB akibat proses
degeneratif
1) Spondilosis
Perubahan degeneratif pada vertebra lumbosakralis dapat terjadi pada
korpus vertebra berikut arkus dan prosesus artikularis serta ligament
yang menghubungkan bagian-bagian ruas tulang belakang satu dengan
yang lain. Dulu proses ini dikenal sebagai osteoatritis deformans, tapi
kini dinamakan spondilosis. Pada spondilosis terjadi rarefikasi korteks
tulang belakang, penyempitan discus dan osteofit-osteofit yang dapat
menimbulkan penyempitan dariforamina intervetebralis.
2) Hernia Nukleus Pulposus (HNP)
Perubahan degeneratif dapat juga mengenai annulus fibrosus discus
intervertebralis yang bila pada suatu saat terobek yang dapat disusul
dengan protusio discus intervertebralis yang akhirnya menimbulkan
hernia nukleus pulposus (HNP). HNP paling sering mengenai discus
intervertebralis L5-S1 dan L4-L5.
3) Osteoatritis
Unsur tulang belakang lain yang sering dilanda proses degeneratif ialah
kartilago artikularisnya, yang dikenal sebagai osteoatritis. Pada
osteoatritis terjadi degenerasi akibat trauma kecil yang terjadi berulang-
ulang selama bertahun-tahun. Terbatasnya pergerakan sepanjang
kolumna vertebralis pada osteoatritis akan menyebabkan tarikan dan
tekanan pada otot-otot/ ligament pada setiap gerakan sehingga
menimbulkan NPB.
4) Stenosis Spinal
Vertebrata lumbosakralis yang sudah banyak mengalami penekanan,
penarikan, benturan dan sebagainya dalam kehidupan sehari-hari
seseorang, sudah tentu akan memperlihatkan banyak kelainan
degeneratif di sekitar discus intervertebralis dan persendian fasetal
posteriornya. Pada setiap tingkat terdapat tiga persendian, yaitu satu di
depan yang dibentuk oleh korpus vertebra dengan discus intervertebralis
dan dua di belakang yang dibentuk oleh prosesus artularis superior dan
inferior kedua korpus vertebra yang ada di atas dan di bawah discus
intervertebralis tersebut. Kelainan degeneratif yang terjadi di sekitar
ketiga persendian itu berupa osteofit dan profilerasi jaringan kapsel
persendian yang kemudian mengeras (hard lesion). Bangunan
degeneratif itu menyempitkan lumen kanalis intervertebralis setempat
dan menyempitkan foramen intervertebra.
c. NPB akibat penyakit inflamasi
1) Artritis rematoid
2) Artritis rematoid termasuk penyakit autoimun yang menyerang persendian
tulang. Sendi yang terjangkit mengalami peradangan, sehingga terjadi
pembengkakan, nyeri dan kemudian sendi mengalami kerusakan. Akibat
sinovitis (radang pada sinovium) yang menahun, akan terjadi kerusakan
pada tulang rawan, sendi, tulang, tendon, dan ligament di sendi.
3) Spondilitis angkilopoetika
Kelainan pada artikus sakroiliaka yang merupakan bagian dari poliartritis
rematoid yang juga didapatkan di tempat lain. Rasa nyeri timbul akibat
terbatasnya gerakan pada kolumna vertebralis, artikulus sakroiliaka,
artikulus kostovertebralis dan penyempitan foramen intervertebralis.
d. NPB akibat gangguan metabolisme
Osteoporosis merupakan satu penyakit metabolik tulang yang ditandai
oleh menurunnya massa tulang, oleh karena berkurangnya matriks dan
mineral tulang disertai dengan kerusakan mikro arsitektur dari jaringan
tulang, dengan akibat menurunnya kekuatan tulang, sehingga terjadi
kecenderungan tulang mudah patah. Menurunnya massa tulang dan
memburuknya arsitektur jaringan tulang ini, berhubungan erat dengan
proses remodeling tulang.
Pada proses remodeling, tulang secara kontinyu mengalami penyerapan
dan pembentukan. Hal ini berarti bahwa pembentukan tulang tidak terbatas
pada fase pertumbuhan saja, akan tetapi pada kenyataannnya berlangsung
seumur hidup. Sel yang bertanggung jawab untuk pembentukan tulang
disebut osteoblas, sedangkan osteoklas bertanggung jawab untuk
penyerapan tulang.
Pembentukan tulang terutama terjadi pada masa pertumbuhan.
Pembentukan dan penyerapan tulang berada dalam keseimbangan pada
individu berusia sekitar 30-40 tahun. Keseimbangan ini mulai terganggu dan
lebih berat ke arah penyerapan tulang ketika wanita mencapai menopause.
Pada osteoporosis akan terjadi abnormalitas bone turnover, yaitu terjadinya
proses penyerapan tulang lebih banyak dari pada proses pembentukan
tulang.
Peningkatan proses penyerapan tulang dibanding pembentukan tulang
pada wanita pascamenopause antara lain disebabkan oleh karena defisiensi
hormon estrogen, yang lebih lanjut akan merangsang keluarnya mediator-
mediator yang berpengaruh terhadap aktivitas sel osteoklas, yang berfungsi
sebagai sel penyerap tulang.
Jadi yang berperan dalam terjadinya osteoporosis secara langsung
adalah jumlah dan aktivitas dari sel osteoklas untuk menyerap tulang, yang
dipengaruhi oleh mediator-mediator, yang mana timbulnya mediator-
mediator ini dipengaruhi oleh kadar estrogen. NPB pada orang tua dan
jompo, terutama kaum wanita, seringkali disebabkan oleh osteoporosis.
Sakitnya bersifat pegal, nyeri yang tajam atau radikular merupakan keluhan.
Dalam hal itu terdapat fraktur kompresi yang menjadi komplikasi
osteoporosis tulang belakang.
e. NPB akibat neoplasma
1) Tumor benigna
Osteoma osteoid yang bersarang di pedikel atau lamina vertebra dapat
mengakibatkan nyeri hebat yang dirasakan terutama pada malam hari.
Hemangioma merupakan tumor yang berada di dalam kanalis vertebralis
dan dapat membangkitkan NPB. Meningioma merupakan suatu tumor
intadural namun ekstramedular. Tumor ini dapat menjadi besar sehingga
menekan pada radiks-radiks. Maka dari itu tumor ini seringkali
membangkitkan nyeri hebat pada daerah lumbosakral.
2) Tumor maligna
Tumor ganas di vertebra lumbosakralis dapat bersifat primer dan
sekunder. Tumor primer yang sering dijumpai adalah mieloma multiple.
Tumor sekunder yaitu tumor metastatik mudah bersarang di tulang
belakang, oleh karena tulang belakang kaya akan pembuluh darah.
Tumor primernya bisa berada di mama, prostate, ginjal, paru dan
glandula tiroidea.
f. NPB akibat kelainan kongenital
Lumbalisasi atau adanya 6 bukan 5 korpus vertebra lumbalis
merupakan variasi anatomik yang tidak mengandung arti patologik.
Demikian juga sakralisasi, yaitu adanya 4 bukan 5 korpus vertebra lumbalis.
Pada lumbalisasi lumbosakral strain lebih mudah terjadi oleh karena
adanya 6 ruas lumbosakral, bagian lumbal kolum vertebral seolah-olah
menjadi lebih panjang, hingga tekanan dan tarikan pada daerah lumbal pada
tiap gerakan lebih besar daripada orang normal. Beban yang lebih berat pada
otot-otot dan ligament sering menimbulkan NPB.
g. NPB sebagai referred pain
Walaupun benar bahwa NPB dapat dirasakan seorang penderita ulkus
peptikum, pankreatitis, tumor lambung, penyakit ginjal dan seterusnya,
namun penyakit-penyakit visceral menghasilkan juga nyeri abdominal
dengan manifestasi masing-masing organ yang terganggu. NPB yang
bersifar referred pain memiliki ciri-ciri khas yaitu:
1) Nyeri hanya dirasakan berlokasi di punggung bawah
2) Daerah lumbal setempat tidak memperlihatkan tanda-tanda abnormal,
yakni tidak ada nyeri tekan, tidak ada nyeri gerak, tidak ada nyeri
isometrik dan motalitas punggung tetap baik. Walaupun demikian sikap
tubuh mempengaruhi bertambah atau meredanya referred pain.
3) Referred pain lumbal ada kalanya merupakan ungkapan dini satu-satunya
penyakit visceral.
4) Dalam tahap klinis dan selanjutnya, penyakit visceral mengungkapkan
adanya keadaan patologik melalui manifestasi gangguan fungsi dan
referred pain di daerah lumbal.
h. NPB psikoneurotik
Beban psikis yang dirasakan berat oleh penderita, dapat pula
bermanifestasi sebagai nyeri punggung karena menegangnya otot-ototnya.
NPB karena problem psikoneuretik misalnya disebabkan oleh histeria,
depresi, atau kecemasan. NPB karena masalah psikoneurotik adalah NPB
yang tidak mempunyai dasar organik dan tidak sesuai dengan kerusakan
jaringan atau batas-batas anatomis, bila ada kaitan NPB dengan patologi
organik maka nyeri yang dirasakan tidak sesuai dengan penemuan gangguan
fisiknya.
Ada tiga jenis keluhan NPB pada penderita psikoneurotik. Yang
pertama ialah seorang histerik. Ia sungguh-sungguh merasakan sakit di
pinggang, tetapi sakit pinggangnya merupakan ungkapan penderitaan
mentalnya kepada dunia luar. Yang kedua ialah seorang pengeluh. Dalam
hidupnya banyak waktu terbuang untuk merengek-rengek saja. Letaknya
nyerinya berubah ubah, misal di kepala, lain kali perutnya kembung,
punggung bawah sakit dan seterusnya. Penyakitnya adalah sekaligus
hobinya. Dan yang ketiga adalah seorang yang dengan keluhannya hendak
memperoleh uang ganti rugi. Dan sakit pinggangnya dikenal sebagai NPB
kompensantorik
i. Infeksi
Infeksi dapat dibagi ke dalam akut dan kronik. NPB yang disebabkan
infeksi akut misalnya kuman pyogenik (stafilokokus, streptokokus). NPB
yang disebabkan infeksi kronik misalnya spondilitis TB.

2.2.4 Macam Etiologi Nyeri Punggung


Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya nyeri punggung, ialah
sebagai berikut:
a. Tegangan di daerah lumbosakral, misalnya oleh sikap (postur) yang buruk,
trauma, obesitas, hamil. Perubahan tubuh secara gradual dan peningkatan
BB menyebabkan perubahan postur tubuhdan cara berjalan, tonus otot
menurun, pusat gravitasi bumil beralih kearah depan, peningkatan kurva
lumbosacral yang normal (lordosis) berkembang dan terjadi kompensasi
pada kurva area servikodorsal (fleksi anterior yang berlebihan pada kepala)
perlu untuk menjaga keseimbangan yang berakibat rasa nyeri, mati rasa dan
kelemahan pada ekstremitas, berjalan menjadi lebih sakit.
b. Penyakit degeneratif penyekat (diskus) antar tulang vertebra
Herniasi diskus intervertebralis (prolaps diskus intervertebralis) adalah suatu
kondisi medis yang memengaruhi tulang belakang yang terjadi karena
kerobekan pada lapisan terluar yaitu annulus fibrosus dari diskus
intervertebralis yang menyebabkan nucleus pulposus mendesak keluar dari
lapisan luar yang rusak. Kerobekan pada cincin diskus ini dapat
menyebabkan pelepasan mediator inlamasi kimiawi yang secara langsung
dapat menyebabkan sakit parah, bahkan tanpa adanya kompresi akar saraf.
c. Spondilosis di lumbal
Spondilosis lumbalis merupakan kondisi dimana telah terjadi degenerasi
pada sendi interverebral yaitu antara diskus dan corpus vertebra.
d. Osteoartritis permukaan persendian
e. Stenosis spinal (terowongan spinal menyempit)
f. Spondilolistesis (peranjakan vertebra)
g. Artritis (rematoid, ankilosing)
h. Fraktur kompresi
i. Osteoporosis
j. Gangguan di abdomen dan pelvis
k. Neoplasma atau oinfeksi pada vertebra atau jaringan sekitarnya

2.2.5 Mekanisme Terjadinya Nyeri Punggung