Anda di halaman 1dari 63

Prose

10

LAPORAN PRAKTIKUM PERANCANGAN SISTEM TERINTEGRASI II

MODUL 1 PERENCANAAN PROSES

Kelompok 1:

1. Bela Fista

(13413081)

2. Nabila R. Ardhyafani

(13414026)

3. Aisha Firdausy C.

(13414073)

4. David Yusuf P.

(13414050)

5. Mega Fortuna

(13413098)

Yusuf P. (13414050) 5. Mega Fortuna (13413098) LABORATORIUM SISTEM PRODUKSI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI

LABORATORIUM SISTEM PRODUKSI

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2016

5. Mega Fortuna (13413098) LABORATORIUM SISTEM PRODUKSI PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2016

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

LEMBAR PENGESAHAN

Asisten Laboratorium Sistem Produksi ( LSP ITB ) yang bertandatangan di bawah ini mengesahkan Laporan Praktikum Perancangan Sistem Terintegrasi II Modul 1 : Perencanaan Proses Kelompok 1 yang beranggotakan :

1. Bela Fista

(13413081)

2. Nabila R. Ardhyafani

(13414026)

3. Aisha Firdausy C.

(13414073)

4. David Yusuf P.

(13414050)

5. Mega Fortuna

(13413098)

Dan menyetujui untuk dikumpulkan pada :

Hari

Tanggal : 9 September 2016

Waktu : 12.00 WIB.

: Jumat

Angga Ratna Sari 13413064

Bandung, 09/09/2016

Angga Ratna Sari

13413064

i

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Angga Ratna Sari 13413064

LEMBAR ASISTENSI

ii

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

DAFTAR ISI

LEMBAR

PENGESAHAN

i

LEMBAR

ASISTENSI

ii

DAFTAR

ISI

iii

DAFTAR

GAMBAR

v

DAFTAR

TABEL

vi

BAB I PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Tujuan Praktikum

1

1.3 Alur Praktikum

1

BAB II PENGOLAHAN DATA

3

2.1

Data Mesin dan Material

3

2.1.1 Data Material

3

2.1.2 Data Mesin

3

2.2

Tools

8

2.2.1 Bill Of Material

8

2.2.2 Data Lembar Rencana Proses

10

2.2.3 Data Operation Process chart

25

2.2.4 Data Precedence Diagram

28

2.2.5 Data Assembly Chart

29

2.3

Urutan Perencanaan Proses

30

BAB III ANALISIS

33

3.1

Analisis Tools

33

3.1.1 Multilevel Tree

33

3.1.2 Bill of Materials

34

3.1.3 Precendence Diagram

35

3.1.4 Assembly Chart

35

3.1.5 Lembar Rencana Proses

36

3.1.6 Operation Process Chart

41

3.2 Analisis Penerapan Tools Pada Sistem Manufaktur

44

3.3 Analisis Modul Perencanaan Proses

45

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

47

 

4.1 Kesimpulan

47

4.2 Saran

47

iii

Angga Ratna Sari 13413064

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

4.2.1 Saran untuk praktikum

47

4.2.2 Saran untuk asisten

47

DAFTAR PUSTAKA

48

LAMPIRAN

49

LAMPIRAN 1. LRP Bracket Lower Arm

50

LAMPIRAN 2. LRP Lower Arm

51

LAMPIRAN 3. LRP Bush Shaft

52

LAMPIRAN 4. LRP Bolt Shaft

53

LAMPIRAN 5. LRP Bracket Handle

54

LAMPIRAN 6. LRP Bush Nylon

55

LAMPIRAN 7. LRP Pin Arm

56

LAMPIRAN 8. MLT PRAKTIKUM………………………………………………………………………………………………………….57

LAMPIRAN 9. BOM PRAKTIKUM…………………………………………………………………

……………………………………58

LAMPIRAN 10. PD PRAKTIKUM…………………………………………………………………

……………………………………

59

LAMPIRAN 11. AC PRAKTIKUM…………………………………………………………………

…………………

………………

60

LAMPIRAN 12. LRP PRAKTIKUM…………………………………………………………

LAMPIRAN 13. GAMTEK PRAKTIKUM……………………………………………………………

………

Angga Ratna Sari 13413064

………………………………….61

63

………………………………

iv

Modul 1 Perencanaan Proses Prose

10

Kelompok 1

DAFTAR GAMBAR

 

2

Gambar 1 Flowchart Pengerjaan Praktikum Gambar 2 Mesin Milling

4

Gambar 3 Mesin Milling Vertikal

4

Gambar 4 Mesin Milling Universal

5

Gambar 5 Mesin Drilling

5

Gambar 6 Mesin Bubut

6

Gambar 7 Mesin Press

7

Gambar 8 Multi Level tree Dongkrak

9

Gambar 9 Kalpakjian

12

Gambar 10 OPC Bracket Handle

27

Gambar 11 Precedence Diagram pada Dongkrak

28

Gambar 12 Assembly Chart Dongkrak

30

Gambar 13 Gambar teknik Dongkrak

31

Gambar 14 Multi Level Tree Dongkrak

33

Gambar 15 Bagian Level 1 dan 2

33

Gambar 16 BOM dongkrak

34

Gambar 17 Precedence Diagram Dongkrak

35

Gambar 18 Gambar Teknik Bolt Shaft

36

Gambar 19 Proses Face Turning

37

Gambar 20 Gambar Teknik Bracket Lower Arm

38

Gambar 21 Gambar Teknikk Bracket Handle

39

Gambar 22 OPC Bracket Handle - Pengukuran

42

Gambar 23 OPC Bracket Handle End Milling Finishing

42

Gambar 24 OPC Bracket Handle - End Miling Roughing

43

Gambar 25 OPC Bracket Handle - Drilling dan Reaming

43

Gambar 26 OPC Bracket Handle - Filleting

44

Gambar 27 Siklus Manufactur

45

v

Angga Ratna Sari 13413064

Modul 1 Perencanaan Proses Prose

10

Kelompok 1

DAFTAR TABEL

 

3

Tabel 1 Raw Material Tabel 2 Contoh Single Level Bill Of Material

9

Tabel 3 Bill Of Material Dongkrak

10

Tabel 4 Penjelasan Perhitungan LRP

12

Tabel 5 Contoh Perhitungan Proses Milling Pada LRP Bracket Handle

13

Tabel 6 Penjelasan Perhitungan Proses Drilling dan Reaming

15

Tabel 7 Contoh perhitungn proses drilling pada LRP Bracket Handle

16

Tabel 8 Penjelasan Perhitungan pada LRP Proses Turning

18

Tabel 9 Contoh Perhitungan LRP proses Face Turning pada Pin Arm

19

Tabel 10 Penjelasan Perhitungan Proses Blanking

20

Tabel 11 Contoh Perhitungan proses Blanking Pada Lower Arm

20

Tabel 12 Penjelasan Perhitungan Proses Punching pada LRP

21

Tabel 13 Contoh Proses Perhitungan proses Punching pada Lower Arm

22

Tabel 14 Penjelasan Perhitungan proses Embossing pada LRP

22

Tabel 15 Penjelasan Perhitungan Proses embossing pada LRP Lower Arm

23

Tabel 16 Tabel perhitungan LRP lower arm

23

Tabel 17 Penjelasan Perhitungan Proses Bending pada LRP

24

Tabel 18 Contoh Perhitungan proses bending pada Lower Arm

24

Tabel 19 Simbol-simbol pada OPC

25

Tabel 20 LRP Bracket Handle

40

Tabel 21 Awal Operasi Permesinan

40

Tabel 22 Proses ke-17 Operasi

41

vi

Angga Ratna Sari 13413064

Pro Modul 1 Perencanaan Proses

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelompok 1

Pada zaman sekarang ini, banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, salah satunya produk-produk

hasil permesinan. Perusahaan-perusahaan berkompetisi mengatur harga pokok produksi mereka

sehingga mendapatkan suatu produk dengan harga penjualan serendah-rendahnya.

Dalam merancang produk tersebut agar sesuai keinginan konsumen, diperlukan pemahaman

mendalam yang tidak hanya mengerti, namun juga dapat mengimplementasikan langkah-langkah

perencanaan proses. Pada kasus ini salah satu konsumen yang memesan produk hasil permesinan

adalah PPST Manufacturing.

PPST Manufacturing adalah sebuah perusahaan manufaktur yang akan membuat dongkrak.

Perusahaan ini sedang membutuhkan bantuan dalam perencanaan proses untuk produksi dongkrak

mereka. Untuk itu, perusahaan tersebut membuka tender bagi para konsultan yang bisa membantu

meningkatkan efisiensi dan produktifitas dalam proses pembuatan dongkrak. Pada bagian ini

mahasiswa Teknik Industri dituntut untuk dapat menyusun perencanaa yang akan dibuat dengan

proses-proses permesinan yang efketif dan efisien.

1.2 Tujuan Praktikum

1. Memahami konsep urutan aliran komponen perakitan suatu produk dan menyusunnya ke dalam

bentuk Assembly Chart (AC).

2. Memahami dan menyusun struktur dari suatu produk berupa Bill Of Material (BOM).

3. Memahami konsep ketergantungan operasi kerja dan menyusunnya ke dalam bentuk

Precedence Diagram (PD).

4. Memahami konsep urutan operasi kerja dan menyusun Operation Process Chart (OPC) dari

suatu produk.

5. Memahami proses produksi pembuatan part dari suatu produk dan menyusun Lembar Rencana

Proses (LRP) dari part tersebut.

1.3 Alur Praktikum

Kegiatan praktikum Modul 1 PPST 2 diawali dengan responsi yang menjelaskan praktikum dan

materi yang diperlukan pada modul 1 ini. Kegiatan selanjutnya yaitu praktikum dimana praktikan

membongkar dongkrak dan membuat Bill Of Material, Multilevel Tree, gambar teknik part, dan

Lembar Rencana Proses secara bersamaan. Setelah membuat hal-hal tersebut dongkrak dirakit

kembali dan praktikan membuat Assembly Chart dan Presedence Diagram Dongkrak. Kegiatan

praktikum diakhiri dengan diadakannya asistensi 0 yang berisi hal-hal yang harus dikumpulkan pada

pengumpulan awal.

Angga Ratna Sari 13413064

1

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Setelah itu praktikan meng-scan gambar teknik yang dibuat pada saat praktikum, membuat Presedence Diagram, Assembly Chart, BOM, LRP 2 part kritis dan 2 part bebas, dan OPC di Ms. Office untuk dikumpulkan pada pengumpulan awal.

Lalu praktikan melakukan asistensi 1 yang berisi feedback dan hal-hal yang harus dikumpulkan pada pengumpulan akhir. Revisi terhadap pengumpulan awal dilakukan dan dilanjutkan dengan membuat LRP 3 part lainnya. Kemudian praktikan melakukan penggabungan LRP dan OPC dengan kelompok 2. Setelah semua file yang dibutuhkan didapatkan, kegiatan dilanjutkan dengan membuat laporan akhir.

Berikut flowchart pengerjaan Modul 1 PPST 2:

Start Responsi Modul 1 PPST 2 Praktikum Modul 1 PPST 2
Start
Responsi Modul 1
PPST 2
Praktikum Modul 1
PPST 2

Diassembly

Dongkrak

1 PPST 2 Praktikum Modul 1 PPST 2 Diassembly Dongkrak MembuatMulti Level Tree Dongkrak Membuat LRP
1 PPST 2 Praktikum Modul 1 PPST 2 Diassembly Dongkrak MembuatMulti Level Tree Dongkrak Membuat LRP
MembuatMulti Level Tree Dongkrak Membuat LRP 2 part Membuat 4 Gambar kritis Teknik Produk Membuat
MembuatMulti
Level Tree Dongkrak
Membuat LRP 2 part
Membuat 4 Gambar
kritis
Teknik Produk
Membuat Bill of
Material Dongkrak
Assembly Dongkrak
Membuat
Presedence Diagram
Dongkrak
Membuat Assembly
Chart Dongkrak
Asistensi 0
Dongkrak Membuat Assembly Chart Dongkrak Asistensi 0 Membuat LRP 4 part dongkrak di Ms. Excel Membuat
Membuat LRP 4 part dongkrak di Ms. Excel
Membuat LRP 4 part
dongkrak di Ms.
Excel
Membuat AC di Ms. Visio
Membuat AC di Ms.
Visio
Membuat PD di Ms. Visio
Membuat PD di Ms.
Visio
Membuat BOM di Ms. Excel
Membuat BOM di
Ms. Excel
Visio Membuat PD di Ms. Visio Membuat BOM di Ms. Excel A Gambar 1 Flowchart Pengerjaan
Visio Membuat PD di Ms. Visio Membuat BOM di Ms. Excel A Gambar 1 Flowchart Pengerjaan
A
A

Gambar 1 Flowchart Pengerjaan Praktikum

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

BAB II PENGOLAHAN DATA

2.1 Data Mesin dan Material

2.1.1 Data Material

Dongkrak yang merupakan objek pada praktikum kali ini disusun oleh beberapa part kecil. Berikut merupakan tabel yang menyajikan jenis material, jumlah, dan juga dimensi raw material setiap part dalam dongkrak.

Tabel 1 Raw Material

material setiap part dalam dongkrak. Tabel 1 Raw Material Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa mayoritas

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa mayoritas material part penyusun dongkrak adalah SS41. SS41 merupakan salah satu jenis baja. SS41 yang merupakan golongan Carbon steel memiliki kandungan karbon antara 0.122.0%. Tensile Strength untuk baja jenis SS41 ini berkisar antara 400 sampai 500 MPa.

Bush Nylon merupakan satu-satunya part penyusun dongkrak yang terbuat dari bahan Nylon. Nylon merupakan polimer sintetik yang dikenal umum sebagai poliamida. Karakteristik dari Nylon ini diantaranya adalah kuat dan tahan gesekan.

2.1.2 Data Mesin

Dalam melakukan proses pemesinan terdapat beberapa mesin yang dibutuhkan. Mesin tersebut diantaranya mesin milling, mesin drilling, mesin bubut, dan mesin press. Berikut merupakan penjelasan masing-masing mesin tersebut.

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

1. Mesin Milling Proses milling merupakan operasi pemesinan dimana benda kerja “dimakan” oleh pahat berbentuk silinder dengan satu atau banyak sisi untuk memotong yang berotasi. Tujuan dari proses ini adalah untuk menghasilkan benda kerja dengan permukaan yang datar, rata, atau

bentuk-bentuk lain seperti radius dan silindris. Secara umum operasi milling terbagi menjadi dua, yaitu peripheral milling dan face milling. Untuk melakukan proses milling dibutuhkan suatu alat yaitu milling machine (mesin milling). Bedasarkan spindelnya, terdapat tiga jenis milling machine, yaitu sebagai berikut.

a. Mesin milling horizontal Merupakan mesin milling yang poros utamanya berfungsi sebagai pemutar dan pemegang alat potong pada posisi mendatar.

pemutar dan pemegang alat potong pada posisi mendatar. Gambar 2 Mesin Milling b. Mesin milling vertikal

Gambar 2 Mesin Milling

b. Mesin milling vertikal Sesuai dengan namanya, yang dimaksud mesin milling vertikal adalah poros spindelnya yang dikonstruksikan dalam posisi tegak. Semua bagian yang terdapat pada mesin ini sama seperti seperti mesin milling horizontal hanya saja posisi spindelnya tegak.

mesin milling horizontal hanya saja posisi spindelnya tegak. Gambar 3 Mesin Milling Vertikal Angga Ratna Sari

Gambar 3 Mesin Milling Vertikal

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

c. Mesin milling universal

Mesin milling universal merupakan mesin milling yang dapat digunakan pada posisi mendatar (horizontal) dan tegal (vertikal). Mesin ini juga dilengkapi dengan meja yang dapat digeser atau diputar pada kapasitas tertentu.

2. Mesin Drilling

atau diputar pada kapasitas tertentu. 2. Mesin Drilling Gambar 4 Mesin Milling Universal Mesin drilling merupakan

Gambar 4 Mesin Milling Universal

Mesin drilling merupakan sebuah alat atau perkakas yang digunakan untuk melubangi suatu benda. Cara kerja mesin drilling ini adalah dengan memutar mata pisau (pahat) dengan kecepatan tertentu, lalu menekan pahat ke suatu benda kerja. Fungsi utama dari mesin bor ini adalah unutk melubangi benda kerja dengan ukuran yang dikehendaki. Secara umum terdapat dua jenis mesin drilling yakni mesin bor duduk dan mesin bor tangan.

jenis mesin drilling yakni mesin bor duduk dan mesin bor tangan. Gambar 5 Mesin Drilling Angga

Gambar 5 Mesin Drilling

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

3. Mesin Bubut

Mesin bubut merupakan perkakas yang digunakan untuk memotong benda kerja yang berputar. Proses pembubutan sendiri adalah suatu proses pemesinan yang menggunakan pahat untuk membuang material dari permukaan benda kerja yang berputar. Perbandingan kecepatan rotasi benda kerja dengan kecepatan translasi pahat dapat diatur sedemikian rupa sehingga akan menghasilkan macam-macam ulir dengan ukuran yang berbeda. Proses pemesinan yang dapat dilakukan dengan menggunakan mesin bubut diantaranya pembubutan tepi, turning, grooving, chamfering, dan threading (pembubutan ulir).

Mesin bubut terdiri atas beberapa bagian, yakni kepala tetap, kepala lepas, alas mesin, dan eretan. Mesin bubut ringan, mesin bubut sedang, mesin bubut standar, dan mesin bubut meja panjang merupakan 4 klasifikasi umum jenis-jenis mesin bubut.

merupakan 4 klasifikasi umum jenis-jenis mesin bubut. 4. Mesin Press Gambar 6 Mesin Bubut Mesin press

4. Mesin Press

Gambar 6 Mesin Bubut

Mesin press merupakan mesin yang digunakan untuk melakukan proses pemesinan pada lembaran logam. Mesin press ini biasanya digunakan bersama dengan cetakan (dies). Terdapat beberapa jenis mesin press, diantaranya sebagai berikut.

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

a. Mesin O.B.I Press

Modul 1 Perencanaan Proses Kelompok 1 a. Mesin O.B.I Press Gambar 7 Mesin Press Mesin O.B.I

Gambar 7 Mesin Press

Mesin O.B.I press yang merupakan singkatan dari Open-back Inclunable, Punch Press

merupakan mesin yang banyak dijumpai di pasaran. Mesin ini cocok untuk pengerjaan

blanking, forming, embossing, notching, dan drawing.

b. Mesin GAP Press

Mesin GAP press digunakan untuk mengerjakan plat berukuran besar yang menyediakan

ruang disekitar dies. GAP Press digunakan untuk operasi stamping biasa.

c.

Horning Press

Horning Press menangani objek yang berbentuk silinder. Mesin ini digunakan untuk

melakukan seaming, punching, dan embossing.

d.

Mesin Hidrolik Press

Mesin ini digunakan untuk melalukan operasi drawing. Kelemahan mesin ini yaitu

lambatnya pengoperasian mesin yang membuat mesin ini tidak cocok untuk kegiatan

produksi.

e. Mesin Press Brake

Mesin press brake dapat menangani lembaran logam lebar dan menampung beberapa dies.

Adapun operasi yang cocok digunakan untuk melakukan operasi embossing, witing,

seaming, dan notching.

5. Kerja Bangku

Kerja bangku merupakan pekerjaan membuatan benda kerja dengan menggunakan alat tangan

dan dilakukan di bangku kerja. Pekerjaan kerja bangku meliputi menggambar, mengikir

(gerinda), mengebor, dan mengetap. Pada pembuatan dongkrak, kerja bangku yang dilakukan

diantaranya filleting.

Proses pemesinan menggunakan mesin-mesin diatas memerlukan alat bantu. Dua alat bantu

yang sering digunakan adalah ragum, Three jaw chuck, dan Four jaw chuck. Ragum merupakan alat

bantu yang digunakan untuk menjepit benda kerja ketika proses machining dilakukan. Dengan

adanya ragum, benda kerja akan diam dan tidak berubah posisi ketika drilling, milling, ataupun

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

operasi lain dilakukan. Jika dalam proses machining tidak menggunakan ragum dikhawatirkan hasil pemotongan dengan pahat melenceng dan tidak sesuai dengan lembar rencana proses.

Three jaw chuck dan four jaw chunk digunakan sebagai alat bantu proses pemesinan dengan menggunakan mesin bubut. Three jaw chuck berfungsi untuk memegang atau mencengkram benda kerja yang berbentuk bulat, segitiga, atau segienam. Four jaw chuck digunakan untuk memegang benda kerja yang berbentuk segi empat dan bentuk eksentrik.

2.2 Tools

2.2.1 Bill Of Material

Bill Of Material (BOM) adalah daftar dari semua material, part, subassembly, dan kuantitas yang dibutuhkan untuk merakit, mencampur atau memproduksi produk akhir atau parent assembly. Dalam proses desain, BOM dibuat oleh manufacturing engineer untuk menentukan item mana yang harus dibeli atau diproduksi. Selain itu, terdapat beberapa kegunaan lain dari BOM, diantaranya sebagai berikut.

Alat pengendali produksi baik untuk bahan maupun jumlah produk

Peramalan (forecasting) barang yang keluar-masuk dan inventori

Menghitung berapa banyak benda yang dapat diproduksi dengan segala keterbatasan sumber daya yang ada

Pada praktikum kali ini, BOM dibuat dalam bentuk tabel di microsoft excel yang setiap kolomnya memuat informasi mengenai :

1.

Part Number (nomor part),

2.

Description (nama part dan keterangan lain yang perlu dicantumkan),

3.

Quantity for Each Assembly (kuantitas part untuk setiap satu produk jadi),

4.

Unit of Measure (unit ukuran part), dan

5.

Decision (keputusan untuk membeli atau memproduksi part tersebut).

Secara umum Bill Of Material terbagi menjadi dua jenis. Single Level Bill Of Material dan juga Multilevel Bill Of Material. Perbedaan dari kedua jenis Bill Of Material ini adalah dilihat dari ada atau tidaknya subassembly dalam produk. Produk yang mempunyai subassembly menggunakan multilever Bill Of Material. Pada praktikum Modul 1 PPST II objek yang digunakan adalah dongkrak. Setelah dibongkar, dapat dilihat bahwa dongkrak dapat dibagi-bagi menjadi beberapa subassembly. Oleh karena itu, pada pembuatan BOM dongkrak, akan digunakan Multilevel Bill Of Material.

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Tabel 2 Contoh Single Level Bill Of Material

Kelompok 1 Tabel 2 Contoh Single Level Bill Of Material Untuk produk yang memiliki subassembly ,

Untuk produk yang memiliki subassembly, digunakan Multilevel Bill Of Material dan juga Multilevel tree adalah “pohon” dengan beberapa tingkat yang menggambarkan struktur parents dan child dari sebuah produk. Produk yang berada pada tingkat/level 0 merupakan produk akhir atau parents dari subassembly. Nomor level akan bertambah untuk setiap child dari parentnya. Penulisan setiap tingkat pada Multilevel Bill Of Material ditandai dengan penulisan nomor part yang menjorok ke dalam sesuai dengan levelnya. Semakin besar tingkat part tersebut, maka posisi penulisannya akan semakin menjorok kedalam.

maka posisi penulisannya akan semakin menjorok kedalam. Gambar 8 Multi Level tree Dongkrak Angga Ratna Sari

Gambar 8 Multi Level tree Dongkrak

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Tabel 3 Bill Of Material Dongkrak

Proses Kelompok 1 Tabel 3 Bill Of Material Dongkrak Pada gambar 8 dan tabel 3 diatas

Pada gambar 8 dan tabel 3 diatas merupakan Multilevel Tree dan Multilevel Bill Of Material dari dongkrak. Dongkrak memiliki 3 buah subassembly yaitu A100 (Shaft Assembly), B200 (Lower Arm Assembly), dan juga C300 (Upper Arm Assembly). Dilihat dari kolom keputusan, terdapat dua hasil yaitu membeli (buyI atau memproduksi (makeI).

2.2.2 Data Lembar Rencana Proses

Lembar rencana proses adalah representasi dalam bentuk tabular yang menyarakan urutan operasi beserta parameternya dalam pembuatan part dari suatu produk. Pada praktikum kali ini, kelompok 01 PPST II 2016 membuat lembar rencana proses untuk Part nomor 1 (Bracket Lower Arm), 2 (Lower Arm), 7a (Bolt Shaft), 7b (Bracket Handle), 5 (Bush Shaft), 8 (Bush Nylon), dan 10 (Pin Arm). Tabel-tabel dibawah ini merupakan lembar rencana proses dari ketujuh part dongkrak.

Setiap proses pemesinan mempunyai parameter dan perhitungan yang berbeda dalam lembar rencana proses. Pehitungan ini dilakukan guna mendapatkan waktu proses, persen scrap terbuang, MRR, dan lain-lain. Waktu setup sudah ditentukan sebelumnya, yaitu sebagai berikut.

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Ganti mesin : 60 detik

Ganti pahat : 60 detik

Positioning pahat : 30 detik

Positioning benda : 30 detik

Kerja bangku : 240 detik

Inspeksi : 0 detik

Pengukuran : 0 detik

Pehitungan pada beberapa proses pemesinan seperti drilling dan turning juga memerlukan data yang diambil dari file kalpakjian. lembar rencana proses pada 7 mesin yang digunakan dalam praktikum modul 1 terlampir pada lampiran.

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Modul 1 Perencanaan Proses Kelompok 1 1. Gambar 9 Kalpakjian Milling Tabel berikut menyajikan penjelasan pehitungan

1.

Gambar 9 Kalpakjian

Milling Tabel berikut menyajikan penjelasan pehitungan pada LRP untuk proses milling.

Tabel 4 Penjelasan Perhitungan LRP

Simbol

Satuan

Keterangan

D

Milimeter (mm)

Diameter pahat

D

Milimeter (mm)

Kedalaman potong

L

Milimeter (mm)

Panjang lintasan milling

V

 

Kecepatan potong

Milimeter per menit (mm/min)

Dengan melihat tabel kalpakjian, dapat dilihat bahwa

v

roughing = 17000 mm/min

v

finishing = 22000 mm/min

W

Millimeter (mm)

Lebar lintasan milling

Fr

 

Feed rate

Milimeter per menit (mm/min)

Dengan melihat tabel kalpakjian, dapat

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

   

dilihat bahwa

 

fr

roughing = 50 mm/min

fr finishing = 120 mm/min

A

 

Kelonggaran

 

Milimeter (mm)

 

= ( − ) , jika w D

 

A

=

, jika w = D

 

2

Tm

Menit

 

Waktu permesinan + 2

 

=

MRR

Milimeter kubik per

Material Removal Rate

menit (mm 3 /min)

=

 

Volume

Milimeter

kubik

Volume benda kerja

(mm

3 )

Volume = panjang x tinggi x lebar

Scrap

Milimeter

kubik

Scrap = MRR x Tm

(mm

3 )

%Scrap

Persen

 

% =

100%

Pc

 

Cutting Power

 

N-m/menit

 

Pc

= U x MRR

 

Dengan U = 2,8 N-m/mm 3

HPc

 

Cutting Horsepower

N-m/menit

 

HPc = Pc/33000

Pg

 

Gross Power

 

N-m/menit

 

Pg = Pc/0.9

HPg

N-m/menit

 

Gross Horsepower

 

HPg = Pg/33000

Berikut merupakan contoh perhitungan proses milling pada LRP Bracket Handle proses nomor 2.

Tabel 5 Contoh Perhitungan Proses Milling Pada LRP Bracket Handle

 

Perhitungan

D

 

6 mm

d

 

1 mm

L

27 mm

v

22000 mm/min (finishing)

w

6

mm

fr

120 mm/min (finishing)

A

Karena D = w = 6 mm maka

A = D/2

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

 

= 6/2

 

= 3 mm

Tm

 

+ 2

 

=

27+6

=

 

120

=

0.275 menit

 

=

16.5 detik

MRR

=

 
 

= 6 x 1 x 120

= 720 mm 3 /min

Volume

Volume Bracket Handle adalah

Volume = panjang x lebar x tinggi

 

= 27 x 24 x 35

= 22680 mm 3

Scrap

Scrap = MRR x Tm

 
 

= 720 x 0.275

= 198 mm 3

 

%Scrap

% =

100%

198

 

=

100%

 

22680

 

= 0.87 %

 

Pc

Pc = U x MRR

 

= 2.8 x 720

= 2016 N-m/menit

HPc

HPc = Pc/33000

 

= 2016/33000

= 0.0611 N-m/menit

Pg

Pg = Pc/E

 

= 2016/0.9

 

= 2240 N-m/menit

HPg

HPg = Pg/33000

 

= 2240/33000

= 0.06788 N-m/menit

2. Drilling dan Reaming

Tabel berikut menyajikan penjelasan pehitungan pada LRP untuk proses drilling dan reaming.

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Tabel 6 Penjelasan Perhitungan Proses Drilling dan Reaming

Simbol

Satuan

 

Keterangan

 

D

Milimeter (mm)

 

Diameter pahat

d

Milimeter (mm)

 

Kedalaman potong

f

Milimeter

per

Feed

putaran (mm/rev)

Nilai feed ini didapat dengan melihat

tabel kalpakjian (up to 40 kg/ mm 2 ).

Jika feed untuk dengan diameter pahat

tertentu tidak tersedia harus dilakukan

interpolasi dengan membandingkan

feed untuk diameter diatas diameter

pahat dan juga dengan diameter di

bawah diameter pahat.

v

Milimeter per menit

Kecepatan potong

(mm/min)

 
 

Nilai kecepatan ini didapat dengan

melihat tabel kalpakjian (up to 60 kg/

mm 2 )

Jika kecepatan potong untuk

dengan diameter pahat tertentu tidak

tersedia harus dilakukan interpolasi

dengan membandingkan kecepatan

untuk diameter diatas diameter pahat

dan juga dengan diameter di bawah

diameter pahat.

N

Putaran

per

menit

Kecepatan spindle

=

(rev/menit)

fr

Milimeter per menit

Feed rate

 

(mm/min)

 

fr = Nf

Tm

Menit

 

Waktu permesinan

 

=

 

MRR

Milimeter kubik per

Material Removal Rate

menit (mm 3 /min)

= 2

4

Volume

Milimeter

kubik

Volume benda kerja

(mm

3 )

Volume = panjang x tinggi x lebar

Scrap

Milimeter

kubik

Scrap = MRR x Tm

(mm

3 )

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

%Scrap

Persen

% =

100%

Pc

N-m/menit

Cutting Power

Pc = U x MRR

Dengan U = 2,8 N-m/mm 3

HPc

N-m/menit

Cutting Horsepower

HPc = Pc/33000

Pg

N-m/menit

Gross Power

Pg = Pc/0.9

HPg

N-m/menit

Gross Horsepower

HPg = Pg/33000

Berikut merupakan contoh perhitungan proses drilling pada LRP Bracket Handle proses nomor

19.

Tabel 7 Contoh perhitungn proses drilling pada LRP Bracket Handle

 

Perhitungan

 

D

6

mm

 

d

4

mm

 

f

Karena diameter pahat 6 mm maka harus dilakukan

interpolasi.

 

Pahat dengan diameter 5 memiliki nilai feed sebesar

0.1 mm/rev.

 

Pahat dengan diameter 10 memiliki nilai feed sebesar

0.18 mm/rev.

 

Dengan interpolasi didapatkan nilai feed untuk pahat

berdiameter 6 adalah

 

f

= (0.18−0.1)(6−5)

+ 0.1 = 0.116 /

 

(10−5)

v

Karena diameter pahat 6 mm maka harus dilakukan

interpolasi.

 

Pahat dengan diameter 5 memiliki nilai kecepatan

potong sebesar 13000 m/min.

Pahat dengan diameter 10 memiliki nilai feed sebesar

16000 m/min.

 

Dengan interpolasi didapatkan nilai feed untuk pahat

berdiameter 6 adalah

 

f

= (16000−13000)(6−5)

+ 13000 = 13600/ min

 

(10−5)

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

N

 

=

13600

 

=

3.14 6 = 721.87 /

 

fr

fr = Nf

= 721.87 x 0.116

 

= 84 mm/min

 

Tm

 

4

=

=

84 = 0.047

MRR

= 2

4

 
 

=

3.14 6 6 84

 
 

4

 

=

2368.5 mm 3 /min

 

Volume

Volume Bracket Handle adalah

Volume = panjang x lebar x tinggi

 

= 27 x24x 35

 

= 22680 mm 3

Scrap

Scrap = MRR x Tm

 
 

= 2368.5 x 0.047

 

= 113.14 mm 3

%Scrap

% =

100%

113.14

 
 

=

100%

 

22680

 

= 0.5 %

 

Pc

Pc = U x MRR

 

= 2.8 x 2368.5

 

= 6631.9 N-m/menit

 

HPc

HPc = Pc/33000

 

= 6631.9/33000

 

= 0.2009 N-m/menit

Pg

Pg = Pc/E

 

= 6631.9/0.9

 

= 7368.83 N-m/menit

 

HPg

HPg = Pg/33000

 

= 7368.83/33000

 

= 0.2233 N-m/menit

3.

Turning

Tabel berikut menyajikan penjelasan pehitungan pada LRP untuk proses turning.

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Tabel 8 Penjelasan Perhitungan pada LRP Proses Turning

Simbol

Satuan

 

Keterangan

 

Do

Milimeter (mm)

 

Diameter awal

Df

Milimeter (mm)

 

Diameter akhir

d

Milimeter (mm)

 

Kedalaman potong

L

Milimeter (mm)

 

Panjang silinder benda kerja

v

Milimeter per menit

Kecepatan potong

(mm/min)

 

Dapat dilihat melalui tabel kalpakjian

N

 

Kecepatan putar

Putaran

(rev/min)

per

menit

=

 

f

Milimeter

per

feed,

putaran (mm/rev)

Dapat dilihat melalui tabel kalpakjian.

fr

Milimeter per menit

Feed rate

 

(mm/min)

 

=

Tm

Menit

 

Waktu permesinan

 

=

MRR

Milimeter kubik per

Material Removal Rate

menit (mm 3 /min)

=

Volume

Milimeter

kubik

Volume benda kerja

(mm

3 )

Volume = panjang x tinggi x lebar

Scrap

Milimeter

kubik

Scrap = MRR x Tm

(mm

3 )

%Scrap

Persen

 

% =

100%

Pc

 

Cutting Power

N-m/menit

 

Pc = U x MRR

 

Dengan U = 2,8 N-m/mm 3

HPc

 

Cutting Horsepower

N-m/menit

 

HPc = Pc/33000

Pg

 

Gross Power

N-m/menit

 

Pg = Pc/0.9

 

HPg

N-m/menit

 

Gross Horsepower

 

HPg = Pg/33000

Berikut merupakan contoh perhitungan proses face turning pada LRP Pin Arm operasi nomor 2.

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Tabel 9 Contoh Perhitungan LRP proses Face Turning pada Pin Arm

 

Perhitungan

 

Do

12 mm

 

Df

8

mm

d

2

mm

L

1

mm

v

45000 mm/min

 

N

 

45000

 

=

 

=

3.14 12 = 1194.27

f

0.4 mm/rev

 

fr

=

 
 

= 1194.27 0.4

 

= 477.7 3 /

Tm

 

=

 

1

 

=

 

477.7

 
 

= 0.00209

 

= 0.1256

MRR

=

 
 

= 4500 x 0.4 x 2

 

= 36000 mm 3 /min

Volume

Volume Pin Arm adalah

 

Volume = 2

 
 

= 3.14 x 6 x 6 x 47.5

= 5369.4 mm 3

 

Scrap

Scrap = MRR x Tm

 
 

= 36000 x 0.00209

= 75.36 mm 3

%Scrap

% =

100%

75.35

 
 

=

100%

 

5369.4

 

= 0.87 %

 

Pc

Pc = U x MRR

 
 

= 2.8 x 36000

 

= 100800 N-m/menit

 

HPc

HPc = Pc/33000

 
 

= 100800/33000

 

= 3.054 N-m/menit

Pg

Pg = Pc/E

 

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

 

= 100800/0.9

= 112000 N-m/menit

HPg

HPg = Pg/33000

= 112000/33000

= 3.394 N-m/menit

4.

Blanking

Tabel berikut menyajikan penjelasan pehitungan pada LRP untuk proses blanking.

Tabel 10 Penjelasan Perhitungan Proses Blanking

Simbol

Satuan

Keterangan

L

 

Keliling permukaan yang hendak

Milimeter (mm)

dilakukan proses blanking

TS

 

Tensile Strength untuk material SS41

Megapaskal (Mpa)

adalah 401,8 Mpa

t

Milimeter (mm)

Ketebalan lembar logam

F

 

Cutting Force

Newton (N)

F = 0.7 x L x TS x t

SPM

Stroke per Minute

Stroke per Minute

Tm

 

Waktu permesinan

Menit

 

1

=

Berikut merupakan contoh perhitungan proses blanking pada LRP Lower Arm operasi nomor 2.

Tabel 11 Contoh Perhitungan proses Blanking Pada Lower Arm

 

Perhitungan

L

L

=

= 3.14 x 21

= 65.9 mm

A

A

1

= 4 2

1

= 4 3.14 21 21

= 346.185 mm 2

TS

401.8 Mpa

t

1.5 mm

F

F

= 0.7 x L x TS x t

= 0.7 x 65.9 x 401.8 x 1.5

= 27819.4266

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

SPM

150

Tm

 

1

=

= 0.01

Scrap

Scrap = A x t

= 346.185 x 1.5

= 591.2775

Volume

V = 142.37 x 103 x 1.5

= 21996.17 mm 3

%Scrap

% =

100%

591.2775

= 21996.17 100%

= 0.024 %

5.

Punching

Tabel berikut menyajikan penjelasan pehitungan pada LRP untuk proses punching.

Tabel 12 Penjelasan Perhitungan Proses Punching pada LRP

Simbol

Satuan

Keterangan

Db

Milimeter (mm)

Diameter lubang punching

L

Milimeter (mm)

Keliling lubang puncing

L

= (lingkaran)

A

Milimeter kuadrat

Luas muka punching

(mm

2 )

A

1

= 4 2

 

TS

 

Tensile Strength untuk material

Megapaskal (Mpa)

SS41 adalah 401,8 Mpa

t

Milimeter (mm)

Ketebalan lembar logam

F

Newton (N)

Cutting Force

 

F

= 0.7 x L x TS x t

SPM

Stroke per Minute

Stroke per Minute

Tm

 

Waktu permesinan

Menit

 

1

=

 

Scrap

Milimeter kubik

Scrap = A x t

 

(mm

3 )

 

Volume

Milimeter kubik

V

= panjang x lebar x tinggi

(mm

3 )

 

%Scrap

Persen

% =

100%

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Berikut merupakan contoh perhitungan proses punching pada LRP Lower Arm operasi nomor 3.

Tabel 13 Contoh Proses Perhitungan proses Punching pada Lower Arm

   

Perhitungan

L

L

=

= 3.14 x 21

= 65.9 mm

A

A

1

= 4 2

1

= 4 3.14 21 21

= 346.185 mm 2

TS

401.8 Mpa

t

1.5 mm

F

F

= 0.7 x L x TS x t

= 0.7 x 65.9 x 401.8 x 1.5

= 27819.4266

SPM

 

150

Tm

 

1

=

= 0.01

Scrap

Scrap = A x t

 

= 346.185 x 1.5

= 591.2775

Volume

V

= 142.37 x 103 x 1.5

= 21996.17 mm 3

%Scrap

% =

100%

 

=

591.2775

21996.17 100%

=

0.024 %

6.

Embossing

Tabel berikut menyajikan penjelasan pehitungan pada LRP untuk proses embossing.

Tabel 14 Penjelasan Perhitungan proses Embossing pada LRP

Simbol

Satuan

Keterangan

L

 

Keliling permukaan yang hendak

Milimeter (mm)

dilakukan proses embossing

TS

 

Tensile Strength untuk material SS41

Megapaskal (Mpa)

adalah 401,8 Mpa

t

Milimeter (mm)

Ketebalan lembar logam

F

 

Cutting Force

Newton (N)

F = 0.7 x L x TS x t

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

SPM

Stroke per Minute

Stroke per Minute

Tm

Menit

Waktu permesinan

=

1

Berikut merupakan contoh perhitungan proses embossing pada LRP Lower Arm operasi nomor 7.

Tabel 15 Penjelasan Perhitungan Proses embossing pada LRP Lower Arm

Simbol

Satuan

Keterangan

L

 

Keliling permukaan yang hendak

Milimeter (mm)

dilakukan proses embossing

TS

 

Tensile Strength untuk material SS41

Megapaskal (Mpa)

adalah 401,8 Mpa

t

Milimeter (mm)

Ketebalan lembar logam

F

 

Cutting Force

Newton (N)

F = 0.7 x L x TS x t

SPM

Stroke per Minute

Stroke per Minute

Tm

 

Waktu permesinan

Menit

 

1

=

Berikut merupakan contoh perhitungan proses embossing pada LRP Lower Arm operasi nomor 7.

Tabel 16 Tabel perhitungan LRP lower arm

   

Perhitungan

L

245.37 mm

 

TS

Tensile Strength untuk material SS41

adalah 401,8 Mpa

t

1.5 mm

 

F

F = 0.7 x L x TS x t

=

0.7 x 245.37 x 401.8 x 1.5

=

1035109.15

SPM

150

Tm

 

1

=

= 0.01

7.

Bending

Tabel berikut menyajikan penjelasan pehitungan pada LRP untuk proses bending.

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Tabel 17 Penjelasan Perhitungan Proses Bending pada LRP

Simbol

Satuan

Keterangan

D

Milimeter (mm)

 

α( o )

rad

Derajat lekukan

w

Milimeter (mm)

 

t

 

Tensile Strength untuk material

Milimeter (mm)

SS41 adalah 401,8 Mpa

Kbf

 

Konstanta bending

TS

 

Tensile Strength untuk material

Megapaskal (Mpa)

SS41 adalah 401,8 Mpa

R

Milimeter (mm)

Stroke per Minute

F

 

Cutting Force

Newton (N)

F =

2

 

SPM

Stroke per Minute

Stroke per Minute

Tm

 

Waktu permesinan

Menit

 

1

=

Berikut merupakan contoh perhitungan proses bending pada LRP Lower Arm operasi nomor 9.

Tabel 18 Contoh Perhitungan proses bending pada Lower Arm

   

Perhitungan

D

4.5

mm

α( o )

90

o

w

103 mm

 

t

1.5

mm

Kbf

0.33

 

TS

401.8 MPa

 

R

1 mm

 

F

 

2

 

F =

401.8 103 1.5 1.5

 
 

=

 

4.5

 

= 20692.7 N

 

SPM

150

 

Tm

 

1

=

= 0.01

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

2.2.3 Data Operation Process chart

Operation Process Chart (OPC) adalah peta kerja yang menggambarkan urutan kerja dengan membagi pekerjaan-pekerjaan ke dalam elemen-elemen operasi secara rinci. OPC menjelaskan langkah- langkah operasi yang dilakukan mulai dari raw material hingga menjadi produk jadi. Dalam OPC juga dicantumkan waktu, mesin yang digunakan, serta jumlah scrap terbuang. Selain proses operasi, proses inspeksi dan penyimpanan juga dimasukkan kedalam OPC. Terdapat beberapa manfaat dari OPC, diantaranya sebagai berikut.

1. Mengetahui kebutuhan penggunaan mesin dan penganggarannya

2. Memperkirakan kebutuhan bahan baku

3. Memperkirakan lama waktu pembuatan produk

4. Membantu dalam menentukan tata letak pabrik

5. Salah satu alat untuk melakukan perbaikan cara kerja

6. Sebagai alat untuk latihan kerja

Adapun symbol-simbol khusus yang perlu diperhatikan dalam membaca OPC adalah sebagai berikut.

Tabel 19 Simbol-simbol pada OPC

Simbol

 

Keterangan

 
Lambang ini menandakan proses operasi. Pada bagian samping lambang dicantumkan nama proses, waktu operasi, mesin

Lambang ini menandakan proses operasi. Pada bagian samping lambang dicantumkan nama proses, waktu operasi, mesin yang digunakan dalam operasi, dan persen scrap terbuang.

Lambang ini menandakan proses inspeksi. Pada bagian samping lambang dicantumkan nama kegiatan inspeksi beserta lama

Lambang ini menandakan proses inspeksi. Pada bagian samping lambang dicantumkan nama kegiatan inspeksi beserta lama waktu melakukan inspeksi

 

Lambang segitiga terbalik ini

melambangkan proses

melambangkan

proses

penyimpanan.

 

Lambang

ini

diletakkan

di

akhir

setalah

 

seluruh

proses

selesai

dilakukan.

 

Kedua

garis

ini

menandakan

nx
nx

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

pengunlangan sebagian proses pada material, dengan n yang merupakan jumlah pengulangan.

pada material, dengan n yang merupakan jumlah pengulangan. Garis bergelombang digunakan sebagai tanda pengulangan

Garis bergelombang digunakan sebagai tanda pengulangan seluruh proses pada suatu material, sebelum material tersebut disassembly dengan material lainnya.

Dibawah ini merupakan salah satu OPC dari dongkrak, yaitu Bracket Handle.

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Modul 1 Perencanaan Proses Kelompok 1 Gambar 10 OPC Bracket Handle Angga Ratna Sari 13413064 27

Gambar 10 OPC Bracket Handle

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

2.2.4 Data Precedence Diagram

Precedence Diagram atau PD adalah suatu diagram / gambaran grafis yang menggambarkan suatu proses aktivitas-aktivitas perakitan/assembly suatu produk. Precedence diagram berfungsi untuk memberikan informasi ketika melakukan aktiitas perakitan, seperti urutan proses, menunjukan proses mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu atau bersamaan, serta aktivitas yang dikerjakan diakhir. Dengan dibuatnya precedence diagram diharapkan dapat mempersingkat waktu aktivitas perakitan karena memberi informasi mengenai urutan proses tersebu, memudahkan proses pengawasan, evaluasi, dan perencanaan aktivitas kerja yang terkait. Proses pembuatan diagram ini dapat dilakukan bersama-sama denan aktivitas pembuatan multi level tree. Berikut ini adalah tanda/symbol yang digunakan dalam menyusun suatu precedence diagram:

a. Simbol lingkaran yang tertera nomor di dalamnya untuk mengidentifikasi suatu proses operasi.

b. Tanda panah yang menunjukkan ketergantungan dari urutan tiap proses operasi, dengan aturan operasi yang berada pada pangkal panah berarti mendahului operasi kerja yang terdapat diujung pangkal panah.

Berikut ini merupakan Precedence diagram dari perakitan dongkrak pada praktikum modul 1:

 

PRECEDENCE DIAGRAM

Nama Objek

 

: Dongkrak

Nomor Peta

: 1

Sekarang

v
v

Usulan

Sekarang v Usulan

Dipetakan oleh

: Kelompok 1

Tanggal dipetakan

: 2 September 2016

2 5 8 10 1 3 6 9 11 12 13 14 15 16 17
2
5 8
10
1
3
6 9
11
12
13
14
15
16
17
18
19
4
7
1. Start
2. Menggabungkan upper base dengan upper arm sebelah kanan menjadi S9A2

3. Menggabungkan bracket lower arm dengan lower arm sebelah kanan menjadi S9A1

4. Menggabungkan bolt shaft dengan bracket handler menjadi S9A3

5. Memasang pin arm ke lubang pada S9A2 kemudian dikencangkan dengan fastener bolt hex socket M5x10 dan ring M5 menjadi S8A2

6. Memasang pin arm ke lubang pada S9A1 kemudian dikencangkan dengan fastener bolt hex socket M5x10 dan ring M5 menjadi S8A1

7. Memasang bush nylon ke S9A3 menjadi S8A3

8. Menggabungkan S8A2 dengan upper arm sebelah kiri menjadi S7A2

9. Menggabungkan S8A1 dengan lower arm sebelah kiri menjadi S7A1

10. Memasang pin arm ke lubang pada S7A2 kemudian dikencangkan dengan fastener bolt hex socket M5x10 dan ring M5 menjadi S6A2

11. Memasang pin arm ke lubang pada S7A1 kemudian dikencangkan dengan fastener bolt hex socket M5x10 dan ring M5 menjadi S6A1

12. Menggabungkan S6A1 dan S6A2 menjadi S5A1

13. Memasang nut shaft pada S5A1 dengan fastener bolt hex socket M8x10 dan ring M8 menjadi S4A1

14. Memasang bush shaft pada S4A1 dengan fastener bolt hex socket M8X10 dan ring M8 menjadi S3A1

15. Menggabungkan stopper bush dengan S3A1 menjadi S2A1

16. Memasukkan S8A3 ke lubang S2A1 kemudian dikecangkan dengan bolt L M4x15 menjadi S1A1

17. Memasang handle rod pada S1A1

18. Dongkrak selesai di-assembly

Gambar 11 Precedence Diagram pada Dongkrak

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

2.2.5 Data Assembly Chart

Proses selanjutnya adalah melakukan pembuatan assembly chart atau AC. Assembly chart merupakan suatu diagram yang menunjukan komponen-komponen yang menyusun suatu sub-assembly hingga assembly utuh AC juga menjelaskan urutan perakitan suatu produk melalui perakitan komponen- komponen tersebut. Dengan begitu, hubungan antar komponen penyusun suatu produk akan terlihat dengan lebih jelas dan informative, karena selain itu, AC juga mampu menjelaskan pada bagian manakah yang membutuhkan fastener serta jumlah yang dibutuhkan. Pada pembuatan Assembly Chart, biasanya sering terjadi berbagai kesalahan, seperti kesalahan penulisan fastener dan sub-assembly.

Cara melakukan penulisan yang benar dalam proses penyusunan ACadalah sebagai berikut:

- Tulisan diposisi kiri sebelum lingkaran-lingkaran paling kiri diisi dengan nama komponen yang akan di rakit

- Pada lingkaran-lingkaran di samping tulisan nama komponen adalah tempat nama komponen tertera.

- Untuk lingkaran lingkaran lain, tulisan di dalamnya menunjukkan nama sub-assemblynya dengan format penulisan pada lingkaran-lingkaran SiAj, nilai i bertambah dari kanan ke kiri dan nilai j bertambah dari atas ke bawah.

- Berikan nama fastener dan kuantitasnya di antara komponen jika memang dalam proses perakitan kedua komponen tersebut membutuhkan fastener Berikut ini adalah Assembly Chart pada proses perakitan dongkrak modul 1

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

ASSEMBLY CHART Nama Objek : Dongkrak Nomor Peta : 1 Sekarang v Usulan Dipetakan oleh
ASSEMBLY CHART
Nama Objek
: Dongkrak
Nomor Peta
: 1
Sekarang
v
Usulan
Dipetakan oleh
: Kelompok 1
Tanggal dipetakan
: 2 September 2016
Bracket Lower
1
Arm
S9A1
Bolt Hex Socket M5x10
Ring M5
2
Lower Arm
S8A1
10
Pin Arm
S7A1
Bolt Hex Socket M5x10
Ring M5
Lower Arm
2
S6A1
10
Pin Arm
4
Upper Base
S5A1
S9A2
Bolt Hex Socket M5x10
Upper Arm
3
Ring M5
S8A2
10
Pin Arm
Bolt Hex Socket M8x10
S7A2
Ring M8
Bolt Hex Socket M5x10
S4A1
Ring M5
3
Upper Arm
S6A2
Bolt Hex Socket M8x10
Pin Arm
10
Ring M8
S3A1
Nut Shaft
6
S2A1
Bush Shaft
5
Stopper Bush
9
Bolt L M4x15
S1A1
7a
Bolt Shaft
S9A3
7b
Bracket Handler
A
S8A3
Bush Nylon
8
11
Handle Rod

Gambar 12 Assembly Chart Dongkrak

2.3 Urutan Perencanaan Proses

Dalam membuat suatu benda kerja, perencanaan proses yang baik sangat dibutuhkan. Perencanaan proses yang baik membawa berbagai manfaat seperti kepresisian benda kerja, variasi antarbenda kerja yang kecil, dan berakhir pada befungsinya benda kerja secara maksimal. Pada praktikum kali ini, dongkrak merupakan alat yang hendak dibuat perencanaan prosesnya. Pada awalnya dongkrak akan di bongkar menjadi bagian-bagian kecil. Setelahnya, masing-masing part dalam dongkrak akan diidentifikasi untuk dapat membuat rencana proses. Pembuatan rencana proses dongkrak memerlukan bantuan berbagai tools seperti Bill Of Material, multilevel tree, lembar rencana proses, operation process chart, precedence diagram, dan assembly chart.

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Modul 1 Perencanaan Proses Kelompok 1 Gambar 13 Gambar teknik Dongkrak Penggunaan tools diatas tidak langsung

Gambar 13 Gambar teknik Dongkrak

Penggunaan tools diatas tidak langsung digunakan sekaligus pada waktu bersamaan. Antar tools tersebut memlilki keterkaitan satu sama lain dan dibuat secara bertahap. Berikut urutan penggunaan tools pasca pembongkaran dongkrak.

1.

Bill Of Material Setelah dilakukan pembongkaran dongkak menjadi part-part kecil, dilakukan pendataan jumlah part dan subassembly dengan mengunakan Bill Of Material. Dongkrak memiliki subassembly, sehingga multilevel tree juga diperlukan untuk mengetahui level-level setiap part untuk kemudian dihubungkan dengan multilevel Bill Of Material. Dalam BOM ini juga akan ditentukan apakah part tersebut akan diproduksi sendiri atau dibeli dari pihak lain.

2.

Gambar Teknik Pada tahap ini, masing-masing part akan dibuat gambar tekninya. Selain fungsi visual, gambar teknik dibutuhkan untuk mengetahui dimensi rinci serta dari setiap part. Dimensi ini nantinya akan berguna dalam pembuatan lembar rencana proses.

3.

Lembar Rencana Proses (LRP) Langkah selanjutnya adalah membuat lembar rencana proses. Pada lembar rencana proses akan ditentukan operasi pemesinan apa saja yang akan dilakukan terhadap material awal. Hasil dari LRP yaitu waktu operasi setiap pemesinan dan persen scrap terbuang menjadi data yang akan disajikan pula dalam OPC.

4.

Operation Process Chart (OPC)

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

Berbekal data pada lembar rencana proses, langkah selanjutnya adalah pembuatan OPC. OPC yang merupakan gambaran urutan kerja, nantinya akan memberikan penomoran pada setiap operasi pemesinan untuk mengetahui urutan operasi tersebut dalam proses produksi sebuah part. OPC juga nantinya akan menambahkan kegiatan lain seperti inspeksi dan penyimpanan.

5. Precedence Diagram Pada OPC telah diketahui urutan pembuatan masing-masing part, selanjutnya akan dibuat precedence diagram untuk mengetahui urutan pemasangan (assembly) hingga menjadi satu produk yang utuh. Oleh karena itu, setelah dongkrak dibongkar, akan dilakukan penyusunan kembali. Satu persatu part akan dipasang dan diperhatikan urutan pemasangannya.

6. Assembly Chart Setelah precedence diagram, selanjutnya akan digambarkan urutan aliran part dan subassembly yang akan dirakit menjadi produk. Pada Assembly Chart ini, informasi komponen penyusun produk hingga jumlah fastener yang dibutuhkan dapat diketahui. Dengan adanya assembly chart ini, proses perakitan akan lebih terstruktur dan jelas.

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1

3.1 Analisis Tools

3.1.1 Multilevel Tree

BAB III ANALISIS

Multilevel Tree adalah salah satu tools yang digunakan dalam proses praktikum ini. Multilevel Tree digunakan untuk memudahkan dalam merancang Bill of Material dari dongkrak. Multilevel Tree sendiri berupa “pohon” dengan beberapa level yang menggambarkan hubungan parent dan child dari suatu produk.

LEVEL 0 LEVEL 1 LEVEL 2
LEVEL 0
LEVEL 1
LEVEL 2

Gambar 14 Multi Level Tree Dongkrak

Produk dongkrak dibongkar menjadi beberapa komponen yaitu shaft assembly, lower arm assembly, upper arm assembly, handle rod, nut shaft, bush shaft, serta fastener dan ring. Dari pembongkaran pertama ini, produk dongkrak merupakan parent dari komponen-komponen tersebut sehingga produk dongkrak berada di level 0 dan komponen-komponen tersebut sebagai child dari dongkrak berada di level 1 dari Multilevel Tree. Selanjutnya, beberapa komponen dari level 1 tersebut masih dapat dibongkar menjadi beberapa komponen kecil, seperti shaft assembly dibongkar menjadi bolt shaft, bracket handle, stopper bush, bush nylon, dan bolt L M4x15; lower arm assembly dibongkar menjadi bracket lower arm, pin arm, lower arm, bolt hex socket M5x10, dan ring M5; upper arm assembly dibongkar menjadi upper base, upper arm, pin arm, bolt hex socket M5x10, dan ring M5. Hasil bongkaran dari part level 1 merupakan child dan diletakkan pada level 2.

part level 1 merupakan child dan diletakkan pada level 2. Gambar 15 Bagian Level 1 dan

Gambar 15 Bagian Level 1 dan 2

Penomoran part untuk level 1 diawali dengan huruf lalu diikuti oleh 3 digit angka dibelakangnya seperti A100, B200, C300, dst. Untuk penomoran part pada level 2 langsung dituliskan dengan 4 digit nomor. Penomoran untuk fastener dan ring masing-masing diawali dengan F dan R. Fastener dan ring pada setiap level dan parent diletakkan di paling kanan.

Modul 1 Perencanaan Proses

Kelompok 1