Anda di halaman 1dari 22

Tata Laksana Umum pada Penyakit Infeksi

& Panduan Penggunaan Antimikroba


di Ruang Anak RSUD Bojonegoro
BRONKIOLITIS (PPM IDAI jilid 1, 2010, hal 30)
Tata Laksana
Medikamentosa

Terapi suportif : pemberian oksigen, nasal suction


Fisioterapi dada dg fibrasi & perkusi dilakukan di ruang rawat intensif
Antiviral tidak direkomendasikan
Antibiotika tidak direkomendasikan
Inhalasi: 2-agonis, antikolinergik, kortikosteroid tidak direkomendasikan
Leukotriene receptor antagonist (montelukast) belum direkomendasikan

Indikasi Rawat di Ruang Intensif

SpO2 < 92% dg terapi oksigen


Perburukan status pernapasan
Apnea berulang

CAMPAK (PPM IDAI jilid 1, 2010, hal 33)


Tata Laksana
Medikamentosa
Secara Umum :
o Cairan
o Nutrisi
o Vitamin A
o Antibiotika, bila terjadi infeksi sekunder
o Antikonvulsan, bila terjadi kejang
Tanpa Komplikasi :
o Tirah baring
o Vitamin A 100.000 unit (bila malnutrisi: + 1.500 unit / hari)
o Kebutuhan cairan & nutrisi
Dengan Komplikasi: Ensefalopati
o Chloramphenicol (75 mg/kg/hari) & Ampicillin (100 mg/kg/hari) selama 710 hr
o Dexamethasone dosis awal (1 mg/kg/hari), & dosis lanjutan (0,5 mg/kg/hari) sampai
kesadaran membaik. Bila > 5 hari, lakukan tappering off
o Kebutuhan jumlah cairan dikurangi kebutuhan
o Koreksi terhadap gangguan elektrolit
Dengan Komplikasi: Bronkopneumonia
o Chloramphenicol (75 mg/kg/hari) & Ampicillin (100 mg/kg/hari) selama 710 hari
o Oksigen 2 liter / menit

.
DEMAM TIFOID (PPM IDAI jilid 1, 2010, hal 47)
Tata Laksana
Antibiotika
Chloramphenicol (drug of choice) 50 100 mg/kg/hari q24h, oral / iv, selama 10 14 hari
Amoxicillin 100 mg/kg/hari, oral / iv, selama 10 hari
Cotrimoxazole (TMP) 6 mg/kg/hari, selama 10 hari
Ceftriaxone 80 mg/kg/hari, iv / im, q24h, selama 10 hari
Cefixime 10 mg/kg/hari, oral, q12h, selama 10 hari

Kortikosteroid (pada kasus berat dengan gangguan kesadaran)


Dexamethasone 1 3 mg/kg/hari iv q8h hingga kesadaran membaik

Bedah
Pada penyulit perforasi usus

Rawat Inap (pada demam tifoid berat)


Cairan, elektrolit, & nutrisi
Antipiretik
Transfusi darah: pada perdarahan & perforasi saluran cerna

Penyulit
Intraintestinal: perforasi atau perdarahan saluran cerna
Ekstraintestinal: tifoid ensefalopati, hepatitis tifosa, meningitis, pneumonia, syok septik,
pielonefritis, endokarditis, osteomielitis, dll
.

DIARE AKUT (PPM IDAI jilid 1, 2010, hal 58)


Tata Laksana
Keseimbangan cairan, elektrolit, & asam basa
Zink
Nutrisi
Medikamentosa
o Obat anti-diare: tidak boleh diberikan
o Antibiotika***
o Antiparasit

***Antibiotik diberikan bila ada indikasi, misalnya disentri (diare berdarah) atau kolera.
Pemberian antibiotik yang tidak rasional akan mengganggu keseimbangan flora usus
sehingga dapat memperpanjang lama diare dan Clostridium difficile akan tumbuh yang
menyebabkan diare sulit disembuhkan. Selain itu, pemberian antibiotik yang tidak
rasional dapat mempercepat resistensi kuman terhadap antibiotik. Untuk disentri basiler,
antibiotik diberikan sesuai dengan data sensitivitas setempat, bila tidak memungkinkan
dapat mengacu kepada data publikasi yang dipakai saat ini, yaitu kotrimoksazole
sebagai lini pertama, kemudian ..... sebagai lini kedua. Bila kedua antibiotik tersebut
sudah resisten maka lini ketiga adalah sefiksim.

Metronidazole (50 mg/kgBB/hari dibagi dalam tiga dosis) merupakan obat pilihan untuk
amuba vegetatif
.

ENSEFALITIS & ENSEFALITIS HERPES SIMPLEKS (PPM IDAI jilid 1, 2010, hal 67 & 70)
Tata Laksana
Keseimbangan cairan & elektrolit
Tata laksana hiperpireksia
Tata laksana kejang
Tata laksana peningkatan tekanan intrakranial
Kortkosteroid (pada neuritis optika; mielitis; vaskulitis; inflamasi; ADEM) :
Tata laksana HSV (pada keadaan yang meragukan, pasien dapat diberikan tata laksana
HSV sampai terbukti bukan): Asiklovir (10 mg/kgBB/hari; dalam 100 ml NaCl 0,9%; dengan
kecepatan minimum 1 jam; setiap 8 jam; selama 1421 hari), bila alergi atau resisten dapat
diberikan: Vidaraabinn (15 mg/kgBB/hari selama 14 hari).
.

HEPATITIS AKUT (PPM IDAI jilid 1, 2010, hal 98)


Tata Laksana
Tata laksa suportif dengan asupan kalori yang cukup (tidak ada terapi spesifik)
.

INFEKSI SALURAN KEMIH (PPM IDAI jilid 1, 2010, hal 136)


Tata Laksana
MEDIKA MENTOSA
o Penyebab tersering ISK adalah Escherechia coli. Sebelum ada hasil biakan urin & uji
kepekaan, antibiotik diberikan secara empirik selama 710 hari untuk eradikasi infeksi akut.
Jenis antibiotik & dosis dapat dilihat pada lampiran.
o Anak yang mengalami dehidrasi, muntah, atau tidak dapat minum oral, berusia 1 bulan
atau kurang, atau dicurigai mengalami urosepsis sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk
rehidrasi dan terapi antibiotik intravena.
BEDAH
o Koreksi bedah sesuai dengan kelainan saluran kemih yang ditemukan.

SUPORTIF
o Asupan cairan yang cukup, perawatan higiene daerah perineum & periuretra, serta
pencegahan konstipasi.
PEMANTAUAN
o Dalam 2 x 24 jam setelah pengobatan fase akut dimulai, gejala ISK umumnya menghilang.
Bila belum menghilang, dipikirkan untuk mengganti antibiotik yang lain.
o Pemeriksaan kultur & uji resistensi urin ulang dilakukan 3 hari setelah pengobatan fase
akut dihentikan, dan bila memungkinkan setelah 1 bulan & setiap 3 bulan. Jika ada ISK
berikan antibiotik sesuai hasil uji kepekaan.
o Bila ditemukan adanya kelainan anatomik maupun fungsional yang menyebabkan
obstruksi, maka pengobatan fase akut dilanjutkan dengan antibiotik profilaksis (lihat tabel).
Antibiotik profilaksis juga diberikan pada ISK berulang, ISK pada neonatus, & pielonefritis
akut.
o ISK simpleks umumnya tidak mengganggu proses tumbuh kembang, sedangkan ISK
kompleks bila disertai dengan gagal ginjal kronik akan mempengaruhi proses tumbuh
kembang.

Tabel : Dosis antibiotik parenteral untuk pengobatan ISK

Obat Parenteral Dosis (mg/kgBB/hari) Frekuensi / (umur bayi)


Tiap 12 jam (bayi < 1 minggu)
Ampisilin 100
Tiap 68 jam (bayi > 1 minggu)
Sefotaksim 150 Dibagi tiap 68 jam
Tiap 12 jam (bayi < 1 minggu)
Gentamisin 5
Tiap 24 jam (bayi > 1 minggu)
Seftriakson 75 Sekali sehari
Seftazidim 150 Dibagi setiap 68 jam
Sefazolin 50 Dibagi setiap 8 jam
Tobramisin 5 Dibagi setiap 8 jam
Ticarsilin 100 Dibagi setiap 6 jam

Tabel : Dosis antibiotik oral untuk pengobatan ISK

Obat Dosis Frekuensi


Amoksilin 20 40 mg/kgBB/hari Q8h
Ampisilin 50 100 mg/kgBB/hari Q6h
Augmentin 50 mg/kgBB/hari Q8h
Sefaleksin 50 mg/kgBB/hari Q6-8h
Sefiksim 4 mg/kgBB Q12h
Nitrofurantoin* 6 7 mg/kgBB Q6h
Sulfisoksazole* 120 150 mg/kgBB Q6-8h
Trimetoprim* 6 12 mg/kgBB Q6h
Sulfametoksazole 30 60 mg/kgBB Q6-8h
*Tidak direkomendasikan utk neonatus & insufisiensi ginjal

Tabel : Dosis antibiotik profilaksis untuk pengobatan ISK

Obat Dosis Frekuensi


Nitrofurantoin* 1 2 mg/kgBB 1 x malam hari
Sulfisoksazole* 50 mg/kgBB 1 x malam hari
Trimetoprim* 2 mg/kgBB 1 x malam hari
Sulfametoksazole 10 mg/kgBB 1 x malam hari
*Tidak direkomendasikan utk neonatus & insufisiensi ginjal

INFEKSI VIRUS DENGUE (PPM IDAI jilid 1, 2010, hal 141)


Tata Laksana
DBD tanpa Syok
DBD disertai Syok
DBD Ensefalopati
.

MALARIA (PPM IDAI jilid 1, 2010, hal 179)


Tata Laksana
MEDIKAMENTOSA
SUPORTIF
ANTIPIRETIK
INDIKASI RAWAT INAP
PEMANTAUAN
KOMPLIKASI
.

MENINGITIS BAKTERIALIS (PPM IDAI jilid 1, 2010, hal 189)


Tata Laksana
ETIOLOGI
Usia 0 2 bulan: Streptococcus group B, Escherichia coli
Usia 2 bulan 5 tahun: S. pneumoniae, N. meningitidis, H. Influenzae
Usia > 5 tahun: S. pneumoniae, N. meningitidis

ANTIBIOTIK EMPIRIK (kemudian disesuaikan dengan hasil biakan & uji resistensi)
Usia 1 3 bulan:
o Ampisilin (200 400 mg/kg/hari iv q6h) + Sefotaksim (200 300 mg/kg/hari iv q6h)
ATAU
o Seftriakson (100 mg/kg/hari iv q12h)
Usia > 3 bulan:
o Sefotaksim (200 300 mg/kg/hari q6h atau q8h), ATAU
o Seftriakson (100 mg/kg/hari q12h), ATAU
o Ampisilin (200 400 mg/kg/hari q6h) + Kloramfenikol (100 mg/kg/hari q6h)
Selanjutnya disesuaikan dengan hasil kultur & uji resistensi
Lama pengobatan tergantung dari kuman penyebab, umumnya 10 14 hari.

DEKSAMETASON
Deksametason (0,6 mg/kg/hari q6h) iv dberikan selama 4 hari.
Diberikan 15 30 menit sebelum atau pada saat pemberian antibiotik.

BEDAH
Jika ada komplikasi seperti: empiema subdural, abses otak, atau hidrosefalus

SUPORTIF
Periode kritis pengobatan adalah hari ke 3 4. Tanda vital & evaluasi neurologis harus
dilakukan secara teratur. Guna mencegah muntah & aspirasi sebaiknya pasien dipuasakan
lebih dahulu pada awal sakit.
Lingkar kepala harus dimonitor setiap hari pada anak dengan UUB yang masih terbuka.
Peningkatan tekanan intrakranial, SIADH, kejang, & demam harus dikontrol dengan baik.
Restriksi cairan atau posisi kepala lebih tinggi tidak selalu dikerjakan pada setiap penderita.
Pada SIADH, beberapa ahli merekomendasikan pembatasan jumlah cairan dengan
memakai cairan isotoni, terutama jika Na serum < 130 mEq/L (130 mmol/L). Jumlah cairan
dapat dikembalikan ke cairan rumatan jika Na serum kembali normal.
Diagnosis SIADH ditegakkan jika:
o Na serum < 135 mEq/L (135 mmol/L)
o Na urin > 30 mEq/L (30 mmol/L)
o Osmolaritas serum < 270 mOsm/kg
o Osmolaritas urin > 2x osmolaritas serum
o Tanpa adanya tanda-tanda dehidrasi atau hipovolemia

PEMANTAUAN
Untuk memantau efek samping penggunaan antibiotik dosis tinggi, dilakukan pemeriksaan
darah perifer secara serial, uji fungsi hati, & uji fungsi ginjal bila ada indikasi.
Gangguan pendengaran sebagai gejala sisa meningitis bakterial terjadi pada 30% pasien,
karena itu uji fungsi pendengaran harus segera dikerjakan setelah pulang.
Gejala sisa yang lain: retardasi mental, epilepsi, kebutaan, spastisitas, & hidrosefalus.
Pemeriksaan penunjang & konsultasi ke departemen terkait disesuaikan dengan temuan
klinis pada saat follow-up.
.

MENINGITIS TUBERKULOSIS (PPM IDAI jilid 1, 2010, hal 193)


Tata Laksana
MEDIKAMENTOSA
o Pengobatan diberikan sesuai rekomendasi AAP 1994, yakni dengan pemberian 4 macam
obat (INH, RIF, PZA, ETH/STREP) selama 2 bulan, dilanjutkan dengan pemberian INH &
Rifampisin selama 10 bulan.
o Dosis obat antituberkulosis:
Isoniazid 10 20 mg/kg/hari, dosis maksimal 300 mg/hari
Rifampisin 10 20 mg/kg/hari, dosis maksimal 600 mg/hari
Pirazinamid 15 30 mg/kg/hari, dosis maksimal 2000 mg/hari
Ethambutol 15 20 mg/kg/hari, dosis maksimal 1000 mg/hari ATAU
Streptomisin im 20 30 mg/kg/hari, dosis maksimal 1000 mg/hari
o Kortikosteroid diberikan untuk menurunkan inflamasi & edema serebral
Prednison (1 2 mg/kg/hari) diberikan selama 6 8 minggu
Deksametason (0,3 0,5 mg/kg/hari) diberikan pada peningkatan tekanan intra-
kranial yang tinggi
o Medikamentosa untuk tata laksana kejang
o Medikamentosa untuk tata laksana peningkatan tekanan intrakranial
o Pada SIADH, beberapa ahli merekomendasikan pembatasan jumlah cairan dengan
memakai cairan isotoni, terutama jika Na serum < 130 mEq/L (130 mmol/L). Jumlah cairan
dapat dikembalikan ke cairan rumatan jika Na serum kembali normal.
BEDAH (hidrosefalus)
o Hidrosefalus terjadi pada 2/3 kasus dengan lama sakit > 3 minggu
o Dapat diterapi dengan asetazolamid (30 50 mg/kg/hari q8h)
o Perlu pemantauan thd asidosis metabolik pada pemberian asetazolamid
o Beberapa ahli hanya merekomendasikan VP-shunt jika terdapat hidrosefalus obstruktif
dengan gejala ventrikulomegali disertai peningkatan tekanan intraventrikel atau edema
periventrikuler
SUPORTIF
o Jika keadaan umum pasien sudah stabil, dapat dilakukan konsultasi ke Departemen
Rehabilitasi Medik untuk mobilisasi bertahap, mengurangi spastisitas, serta mencegah
kontraktur.
PEMANTAUAN (pasca rawat)
o Pemantauan darah tepi & fungsi hati tiap 3 6 bulan untuk mendeteksi adanya komplikasi
OAT
o Gejala sisa yang sering ditemukan: gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, palsi
serebral, epilepsi, retardasi mental, maupun gangguan perilaku.
o Konsultasi ke departemen terkait (Rehabilitasi Medik, Mata, THT, dll) sesuai indikasi

PENCEGAHAN
o Angka kejadian meningkat dengan meningkatnya jumlah pasien TB dewasa
o Imunisasi BCG dapat mencegah meningitis TB
o Faktor resiko adalah malnutrisi, pemakaian kortikosteroid, keganasan, & infeksi HIV

PENANGANAN BBL dari IBU HIV (PPM IDAI jilid 1, 2010, hal 221)
Tata Laksana
Di Kamar Bersalin
o Bayi sebaiknya dilahirkan dengan cara bedah kaisar
o Pertolongan persalinan menggunakan sesedikit mungkin prosedur infasiv
o Segera bersihkan bayi dengan mematuhi universal precaution
o Pilihan nutrisi bayi dilakukan berdasarkan konseling saat ANC

Pemberian ARV Profilaksis untuk Bayi


o Zidovudin (dosis lihat tabel)
Aterm : selama 4 minggu
Preterm : selama 6 minggu
o Nevirapin (dosis lihat tabel)

Tabel : Dosis ARV profilaksis untuk bayi

Obat Dosis
ZIDOVUDIN
Usia gestasi > 35 minggu 2 mg/kg/kali diberikan setelah lahir
(6 12 jam setelah kelahiran)
Usia gestasi 30 35 minggu 2 minggu pertama : 2 mg/kg/kali, setiap 12 jam
Setelah usia 2 minggu : 2 mg/kg/kali, setiap 8 jam
Usia gestasi < 30 minggu 4 minggu pertama : 2 mg/kg/kali, setiap 12 jam
Setelah usia 4 minggu : 2 mg/kg/kali, setiap 8 jam
NEVIRAPIN
Dalam 72 jam pertama : 2 mg/kg , dosis tunggal
Pemilihan Nutrisi
o Konseling nutrisi dilakukan sejak ANC
o Pilihan susu formula menghindarkan bayi terhadap resiko transmisi HIV melalui ASI
o Pemberian susu formula memenuhi persyaratan AFASS

Pemberian Imunisasi
o Diberikan sesuai jadwal, kecuali BCG
o BCG diberikan bila diagnosis HIV telah ditentukan

Pembeerian profilaksis untuk Infeksi Oportunistik


o Kotrimoxazole (dosis lihat bab Infeksi HIV pada Bayi & Anak) usia 4 6 minggu sampai
diagnosis HIV telah disingkirkan
Pemantauan Tumbuh Kembang
o Dilakukan pada setiap kunjungan seperti kunjungan bayi sehat lainnya

Penentuan Status HIV Bayi


o Penentuan status:
PCR RNA HIV pertama : usia 4 6 minggu
PCR RNA HIV kedua : usia 4 6 bulan
Pemeriksaan Antibodi HIV : usia 18 bulan (tidak dapat dilakukan sebelum usia tsb)
o Bila hasil PCR RNA HIV positif maka dilakukan pemeriksaan PCR RNA HIV konfirmasi.
o Bila hasil PCR RNA HIV konfirmasi poitif maka ditata laksana sebagai infeksi HIV

Prognosis

Angka transmisi bila pasangan ibu & anak menjalani program PMTCT lengkap : < 2%

INFEKSI HIV pada BAYI & ANAK (PPM IDAI jilid II, hal 143)
Tata Laksana
Tata Laksana Awal

Konseling pada orang tua mengenai infeksi HIV


Evaluasi & tata laksana infeksi oportunistik
Pemberian nutrisi yang cukup
Pengawasan tumbuh kembang
Imunisasi

Pencegahan Infeksi Oportunistik


1. Pneumonia Pneumocystis carinii
Pemberian kotrimoxazole (4 6 mg/kg/hari q24h), diberikan setiap hari pada :
o Bayi < 12 bulan yang statusnya belum diketahui
o Umur 1 5 tahun bila CD4 < 500 (< 15%)
o Umur 6 11 tahun bila CD4 < 200 (< 15%)
o Pernah didiagnosis PCP

Obat pengganti : dapson (2 mg/kg/hari, maksimal 100mg/hari)


2. Tuberkulosis
2. Tuberkulosis
o Secara aktif mencari kemungkinan kontak erat dengan penderita TB aktif
o Melakukan uji tuberkulin terdapat kecurigaan
o Pemberian profilaksis INH masih diperdebatkan untuk negara endemis TB
3. Infeksi yang bisa dicegah dengan imunisasi
Bila memungkinkan (setelah pengobatan ARV selama 6 bulan) dilakukan tindakan
imunisasi untuk melengkapi jadwal yang belum dipenuhi, tidak dengan vaksin hidup kecuali
campak.
Pemenuhan Nutrisi & Pemantauan Tumbuh Kembang
Infeksi HIV meningkatkan enteropati, karenanya asupan makro & mikronutrien perlu
diperhatikan. Pada stadium lanjut & sudah terjadi emasiasi, perbaikan nutrisi harus dilakukan
dengan hati-hati, secara individual. Perbaikan nutrisi terjadi lebih lambat dibandingkan dengan
penderita malnutrisi tanpa infeksi HIV.
Setelah manajemen awal nutrisi & penanganan infeksi oportunistik, penilaian & stimulasi
diperlukan untuk tumbuh kembang optimal. Penilaian menyeluruh diperlukan untuk
mengetahui apakah stimulasi mampu diberikan oleh orang tua atau penggantinya karena
pada kasus HIV dalam keluarga, masalah stigmatisasi & sosial dapat menyebabkan
pemberian stimulasi perkembangan terganggu.
Menilai Kemungkinan Pemberian ARV
1. Menilai kesiapan pasien & orang tua / wali
2. Menghindari resiko resistensi obat
3. Memperhitungkan kemungkinan resiko interaksi obat-obat
4. Memperhitungkan resiko obat-makanan
5. Posologi & formulari obat untuk anak
6. Memperhitungkan resiko pemberian obat pada koinfeksi TB & hepatitis

Tabel : Rekomendasi WHO untuk memulai ARV pada bayi & anak (modifikasi)

Rekomendasi menurut umur


Stadium
CD4 < 11 bulan > 12 bulan
klinis
4* CD4 : ada hasil Diobati Diobati
4* CD4 : tidak adahasil Diobati Diobati
Diobati, kecuali bila ada
3* CD4 : ada hasil Diobati
LIP, TB, trombopeni, OHL
3* CD4 : tidak ada hasil Diobati
2 Menurut nilai CD4 Menurut nilai CD4
1 Menurut nilai CD4 Menurut nilai CD4
* setelah stabilisasi infeksi oportunistik

Rekomendasi First Line Regimen (untuk kasus yang belum pernah dapat ARV sebelumnya)
Anak usia < 3 tahun :
Zidovudin (AZT) + Lamivudin (3TC) + Nevirapin (NVP) atau
Stavudine (D4T) + Lamivudin (3TC) + Nevirapin (NVP)
Anak usia > 3 tahun & BB > 10 kg :
Anak usia > 3 tahun & BB > 10 kg :
AZT + 3TC + NVP atau Evafirenz (EFV)
D4T + 3TC + NVP atau Efavirenz (EFV)

Pemantauan
Setelah pemberian ARV, pasien diharapkan datang setiap 1 2 minggu untuk pemantauan
gejala klinis, penyesuaian dosis, pemantauan efek samping, kepatuhan minum obat, & kondisi
lain.
Setelah pemberian ARV 8 minggu, pasien diharapkan datang setiap 1 bulan untuk pemantau-
an yang sama
Pemeriksaan laboratorium yang diulang adalah darah tepi, SGOT/SGPT, & CD4 setiap 3
bulan, dapat lebih cepat bila dijumpai kondisi yang mengindikasikan untuk dilakukan.
Dosis Obat ARV

Pediatrik : 6 7 mg/kg/dosis tiap 12 jam


Zidovudin (AZT)
Adolesen : 3 x 200 mg/hari atau 2 x 300 mg/hari
Pediatrik : 4 mg/kg/dosis tiap 12 jam
Lamivudin (3TC) Adolesen BB < 50 kg : 2 mg/kg/dosis tiap 12 jam
Adolesen BB > 50 kg : 2 x 150 mg
Pediatrik (s/d 8 tahun)
14 hari pertama : 5 mg/kg sekali sehari (max 200 mg)
14 hari kedua : 2 x 5 mg/kg
Nevirapin (NPV) Selanjutnya : 2 x 7 mg/kg
> 8 tahun adolesen
14 hari pertama : 1x 200 mg
Selanjutnya : 2 x 200 mg
Stavudin (D4T) 2 x 1 mg/kg (max 30 mg/dosis)
Anak > 3 tahun : (diberikan sebelum tidur)
10 < 15 kg : 1 x 200 mg
15 < 20 kg : 1 x 250 mg
Efavirenz (EFV)
20 < 25 kg : 1 x 300 mg
25 < 32,5 kg : 1 x 350 mg
32,5 < 40 kg : 1 x 400 mg
Kotrimoksazole Profilaksis : 1 x 4 6 (TMP) mg/kg
(TMP/SMX) Pengobatan : 2 x 20 30 (TMP) mg/kg

Indikasi Rawat Inap


o Gizi buruk
o Infeksi berat / sepsis
o Pneumonia
o Diare kronis dengan dehidrasi

Prognosis
Dengan pemberian ARV, angka morbiditas & mortalitas akan menurun.
.
PNEUMONIA (PPM IDAI jilid I, hal 250)
Tata Laksana
Kriteria Rawat Inap
Bayi :
o SaO2 < 92%, sianosis
o RR > 60 x/menit
o Distres pernapasan, apnea intermiten, atau grunting
o Tidak mau minum / menetek
o Keluarga tidak bisa merawat di rumah

Anak :
o SaO2 < 92%, sianosis
o RR > 50 x/menit
o Distres pernapasan, grunting
o Terdapat tanda dehidrasi
o Keluarga tidak bisa merawat di rumah

Tata Laksana Umum


o Terapi oksigen : untuk pasien dengan SaO2 < 92% pada udara kamar
o Cairan intravena : pada pneumonia berat atau asupan oral kurang & dilakukan balans
cairan ketat
o Fisioterapi dada : tidak direkomendasikan untuk anak dengan pneumonia
o Antipiretik & analgesik : dapat diberikan untuk menjaga kenyamanan pasien dan
mengontrol batuk
o Nebulasi 2 agonis &/ NaCl dapat diberikan untuk memperbaiki mucocilliary clearance

Pemberian Antibiotik
o Anak < 5 tahun : amoksilin merupakan pilihan pertama karena efektif melawan sebagian
besar patogen yang menyebabkan pneumonia pada anak, ditoleransi dengan baik, &
murah. Alternatifnya adalah co-amoxyclav, cefaclor, eritromisin, claritromisin, & azitromisin.
o Anak > 5 tahun : makrolid diberikan sebagai pilihan pertama secara empiris, karena
M.pneumoniae lebih sering terjadi pada anak yang lebih tua.
o Amoksisilin diberikan sbg pilihan pertama jika S.pneumoniae mungkin sbg penyebab.
o Makrolid diberikan jika M.pneumoniae atau C.pneumonia dicurigai sebagai penyebab.
o Makrolid atau kombinasi flucloxacillin & amoksisilin diberikan jika dicurigai S.aureus
sebagai penyebab.
o Antibiotik intravena diberikan pada pasien pneumonia yang tidak dapat menerima obat per
oral (misal karena muntah) atau termasuk dalam derajat pneumonia berat.
o Antibiotik intravena yang dianjurkan adalah : ampisilin & kloramfenikol, co-amoxiclav,
ceftriaxone, cefuroxime, & cefotaxime
o Antibiotik per oral harus dipertimbangkan jika terdapat perbaikan setelah mendapat
antibiotik intravena
Tabel : pilihan antibiotik intravena untuk pneumonia

Antibiotik Dosis Frekuensi Relative Cost Keterangan

Penisilin G 50.000 unit/kg/kali 1 Tiap 4 jam Rendah S pneumoniae


Ampisilin 100 mg/kg/hari Tiap 6 jam Rendah
Kloramfenikol 100 mg/kg/hari Tiap 6 jam Rendah
S pneumoniae
Ceftriaxone 50 mg/kg/kali 2 Tiap 24 jam Tinggi
H influenzae
S pneumoniae
Cefuroxime 50 mg/kg/kali 3 Tiap 8 jam Tinggi
H influenzae
S pneumoniae
Clindamycin 10 mg/kg/kali 4 Tiap 6 jam Rendah S pyogenes (GAS)
S aureus
S pneumoniae
Eritromisin 10 mg/kg/kali 5 Tiap 6 jam Rendah C pneumoniae
M Ppeumoniae
1
Penisilin G : dosis tunggal max 4.000.000 unit
2
Ceftriaxone : dosis tunggal max 2 gram
3
Cefuroxime : dosis tunggal max 2 gram
4
Clindamycin : dosis tunggal max 1,2 gram
4
Clindamycin : untuk yang alergi laktam, lebih jarang flebitis dibandingkan eritromisin
5
Eritromisin : dosis tunggal max 1 gram

Rekomendasi UUK Respirologi


o Antibiotik untuk community acquired pneumonia :
Usia < 2 bulan :
ampisilin + gentamisin
Usia > 2 bulan :
lini pertama : ampisilin (+ kloramfenikol**)
lini kedua : ceftriaxone
o Bila klinis perbaikan, antibiotik intravena dapat diganti preparat oral dengan antibiotik
golongan yang sama dengan antibiotik intravena sebelumnya.
**Bila 3 hari tidak ada perbaikan dapat ditambahkan kloramfenikol

Nutrisi
o Pada anak dengan distres pernapasan berat, pemberian makanan per oral harus dihindari.
Makanan dapat diberikab lewat NGT atau intravena. Tapi harus diingat bahwa pemasangan
NGT dapat menekan pernapasan, khususnya pada anak / bayi dengan ukuran lubang
hidung kecil. Jika memang dibutuhkan, sebaiknya menggunakan ukuran terkecil.
o Perlu dilakukan pemantauan balans cairan ketat agar anak tidak mengalami overhidrasi,
karena pada pneumonia berat terjadi peningkatan sekresi hormon antideuretik.
Kriteria Pulang
o Gejala & tanda pneumonia menghilang
o Asupan peroral adekuat
o Pemberian antibiotik dapat diteruskan di rumah (per oral)
o Keluarga mengerti & setuju untuk pemberian terapi & rencana kontrol
o Kondisi rumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan di rumah.
SEPSIS NEONATAL (PPM IDAI jilid I, hal 263)
Tata Laksana
ANTIBIOTIK
o Awal : ampisilin + gentamisin
o 48 jam tidak membaik & organisme belum ditemukan : cefotaxim + gentamisin
o Sepsis nosokomial : antibiotik disesuaikan dengan pola kuman setempat
o Meningitis gram positif : antibiotik 14 hari
o Meningitis gram negatif : antibiotik 21 hari
o Lanjutan terapi dilakukan berdasarkan hasil kultur & sensitivitas, gejala klinis, & lab serial

Tabel : Dosis antibiotik untuk sepsis & meningitis

. Cara Dosis
Antibiotik
Pemberian Hari 1 7 Hari 8 +

.
Ampisilin IV, IM 50 mg/kg setiap 12 jam 50 mg/kg setiap 8 jam
Ampisilin
IV 100 mg/kg setiap 12 jam 100 mg/kg setiap 6 jam
(meningitis)
.
Sefotaksim IV 50 mg/kg setiap 8 jam 50 mg/kg setiap 6 jam
Sefotaksim
IV 50 mg/kg setiap 6 jam 50 mg/kg setiap 6 jam
(meningitis)
. < 2 kg : 3 mg/kg sekali sehari 7,5 mg/kg setiap 12 jam
Gentamisin IV, IM
> 2 kg : 5 mg/kg sekali sehari 7,5 mg/kg setiap 12 jam

RESPIRASI
o Menjaga patensi jalan napas & terapi oksigen untuk mencegah hipoksia
o Pada kasus tertentu membutuhkan ventilator mekanik

KARDIOVASKULAR
o Pasang jalur iv & beri cairan dengan dosis rumatan
o Pantau tekanan darah & perfusi jaringan untuk deteksi dini adanya syok
o Bila syok : volume ekspander (PZ/darah/albumin) 10 ml/kg dlm 30 menit, bisa diulang
o Monitor keseimbangan cairan
o Bila perlu obat inotropik seperti dopamin atau dobutamin

HEMATOLOGI
o Transfusi komponen jika diperlukan
o Atasi kelainan yang terjadi

NUTRISI
o Tunjangan nutrisi adekuat

MANAJEMEN KHUSUS
o Pengobatan terhadap : kejang, gangguan metabolik, hematologi, respirasi, gastrointestinal,
kardiorespirasi, hiperbilirubin
o Kasus tertentu : imunoterapi dengan pemberian imunoterapi, antibodi monoklonal atau
transfusi tukar
o Transfusi tukar diberikan jika tidak terdapat perbaikan klinis & laboratorium setelah
pemberian antibiotik adekuat
BEDAH
o Pada hidrosefalus dengan akumulasi progesif
o Pada NEC

LAIN-LAIN
o Pengelolaan bersama dengan : Neurologi Anak, Pediatri Sosial, bagian Mata, Bedah
Syaraf, Rehabilitasi Anak
TUMBUH KEMBANG
o Gangguan tumbuh kembang akibat sepsis yang disertai meningitis

PENCEGAHAN
o Mencegah & mengobati ibu demam dengan kecurigaan infeksi berat atau infeksi intrauterin.
o Mencegah & pengobatan ibu dengan ketuban pecah dini
o Perawatan antenatal yang baik
o Mencegah aborsi yang berulang, cacat bawaan
o Mencegah persalinan prematur
o Melakukan pertolongan persalinan yang bersih & aman
o Melakukan resusitasi dengan benar
o Melakukan tindakan pencegahan infeksi : CUCI TANGAN !!!
o Melakukan identifikasi awal terhadap faktor resiko sepsis pengelolaan yang efektif

TETANUS NEONATORUM (PPM IDAI jilid I, hal 315)


Tata Laksana
INFUS
Beri cairan dengan dosis rumatan

DIAZEPAM
Drip dalam 24 jam : 10 mg/kg/hari ATAU
Bolus : 0,1 0,2 mg/kg/kali tiap 3 6 jam, max 40 mg/hari
Bila jalur iv tidak terpasang : per OGT atau per rektal (dosis = iv ?)
Bila perlu, beri tambahan dosis 10 mg/kg tiap 6 jam
Bila RR < 30 x/menit & tidak ada ventilator, hentikan obat walau masih spasme
Setelah 5 7 hari, kurangi dosis obat bertahap 5 10 mg/hari per OGT
Bila perlu : vencuronium dengan ventilator

HTIG / ATS & TT


Human Tetanus Immunoglobulin 500 U im
Antitoksin Tetanus Serum (equine serum) 5000 U im, setelah tes kulit
Tetanus Toksoid (TT) 0,5 mL im, pada tempat yang berbeda dengan HTIG / ATS
TT diberikan pada hari yang sama dengan HTIG / ATS (?) atau ditunda hingga 4 6
minggu kemudian (?)
TT 1 & TT 2 (selisih 1 bulan) 0,5 mL im untuk ibu, dapat melindungi ibu & bayi yang
dikandung berikutnya
ANTIBIOTIK
Lini 1 : metronidazole 30 mg/kg/hari q6h (oral/parenteral) selama 7 10 hari
Lini 2 : penisilin procain (PP) 100.000 U/kg im q24h selama 7 10 hari
Jika hipersensitif thd PP : tetrasiklin 50 mg/kg/hari (utk anak > 8 tahun)
Jika tdp sepsis / bronkopneumoni : berikan antibiotik yang sesuai
Omphalitis : antibiotik lokal & sistemik (bila perlu) yang efektif thd S. aureus & E. coli

TUBERKULOSIS (PPM IDAI jilid I, hal 323)


Medikamentosa
Terapi TB terdiri dari 2 fase : (terapi TB diberikan harian [daily])
o Fase intensif : 3 5 OAT selama 2 bulan awal
o Fase lanjutan : 2 OAT (isoniazidrifampisin) hingga 6 12 bulan

Beberapa jenis TB :
o TB paru :
o TB paru berat (milier, destroyed lung) :
o TB kelenjar superfisial :

Pada TB milier & efusi pleura TB, diberikan prednison :


o 2 minggu awal : 1 2 mg/kg/hari
o 2 minggu berikutnya : tappering off

Tabel : OAT yang lazim digunakan pada bayi, anak, & remaja

. Sediaan Dosis Dosis


Obat Efek Samping
(mg) (mg/kg) max
. Isoniazid Tab 100; 300 transaminase, hepatitis
5 15 300 mg
(INH / H) Syr 10 mg/mL neuritis perifer, hipersensitivitas
. Rifampisin Tab 150; 300; 450; 600 urin kuning, mual-muntah,
10 15 600 mg
(RIF / R) Syr 20 mg/mL hepatitis, flu-like reaction
. Pirazinamid Hepatotoksisitas
Tab 500 25 35 2g
(PZA / Z) Hipersensitivitas
. Etambutol Gangguan mata
Tab 500 15 20 2,5 g
(EMB / E) Gangguan sal cerna
. Streptomisin Ototoksisitas
Vial 1000 15 30 1g
(SM / S) Nefrotoksisitas

Beberapa istilah :
o (ada) Kontak TB : pasien mengalami kontak erat dg TB dewasa dg uji BTA positif
o Infeksi TB : pasien dengan uji tuberkulin positif
o Sakit TB : pasien terjangkit TB paru, TB kelenjar superfisial, dll

Terapi profilaksis TB :
o Profilaksis primer : pasien kontak TB dicegah agar tidak jadi infeksi TB
o Profilaksis sekunder : pasien infeksi TB dicegah agar tidak jadi sakit TB
o Profilaksis primer & sekunder : INH 5 10 mg/kg/hari

[kontak TB + (uji tuberkulin )] [terapi profilaksis primer 3 bulan] [infeksi TB +


(konversi uji tuberkulin jadi +)] [terapi profilaksis sekunder 6 1 2 bulan]

Tabel : Populasi manusia berdasarkan status TB

Kelas Kontak Infeksi Sakit Tata Laksana


0
I + Terapi profilaksis primer*)
II + + Terapi profilaksis sekunder*)
III + + + Terapi OAT
* Pada kelompok resiko tinggi
)

Tabel : kelompok resiko tinggi

Balita
. Faktor usia
Pubertas
Steroid sistemik jangka panjang
. Faktor obat
Sitostatika
. Faktor nutrisi Gizi buruk
Morbili
Varisela
Faktor penyakit
HIV AIDS
Malignansi

Tindakan Bedah
o TB paru dengan destroyed lung untuk lobektomi atau pneumektomi
o TB tulang seperti spondilitis TB, koksitis TB, atau gonitis TB
o Tindakan bedah dilakukan setelah OAT fase intensif selesai, kecuali jika terjadi kompresi
medula spinalis atau ada abses paravertebra perlu dilakukan lebih awa
Pemantauan Terapi
o RESPON KLINIS yang baik dapat dilihat dari perbaikan semua keluhan awal. Nafsu makan
membaik, berat badan meningkat cepat, hilangnya keluahan demam, batuk lama, tidak
mudah sakit lagi. Respon yang nyata biasanya terjadi dalam fase terapi intensif. Setelah itu
perbaikan klinis tidak lagi sedramatis fase intensif.
o EVALUASI RADIOLOGIS dilakukan pada akhir pengobatan, kecuali jika ada perburukan
klinis. Jika gambaran radiologis juga memburuk, evaluasi kepatuhan minum obat, &
kemungkinan kuman TB resisten obat. Terapi TB dimulai lagi dr awal dg paduan 4 OAT.
o EFEK SAMPING OAT jarang dijumpai pada anak jika dosis & cara pemberiannya benar.
Efek samping yang kadang muncul adalah hepatotoksisitas, dengan gejala ikterik yang bisa
disertai keluhan gastrointestinal lainnya. Keluhan ini biasanya muncul dalam fase intensif.
Pada kasus yang dicurigai adanya kelainan fungsi hepar, maka pemeriksaan transaminase
serum dilakukan sebelum pemberian OAT, & dipantau minimal tiap 2 minggu dalam fase
intensif.
o Jika timbul IKTERUS, OAT dihentikan & dilakukan uji fungsi hati (bilirubin & transaminase).
Bila ikterus telah menghilang & kadar transaminase < 3x batas atas normal, OAT dapat
dimulai lagi dengan dosis terendah. Yang perlu diingat, reksi hepatotoksisitas biasanya
muncul karena kombinasi dengan berbagai obat lain yang bersifat hepatotoksik seperti
parasetamol, fenobarbital, & asam valproat.
o Pada terapi TB & profilaksis TB, evaluasi dilakukan tiap bulan. Bila pada evaluasi profilaksis
TB timbul gejala klinis TB, profilaksis diubah menjadi terapi TB.
.

ENTEROKOLITIS NEKROTIKANS (EN) (PPM IDAI jilid II, hal 78)


Tata Laksana
Tata laksana EN adalah sesuai dengan tata laksana abdomen akut dengan ancaman peritonitis.
Tujuan tata laksana adalah mencegah progresivitas penyakit, perforasi usus, & syok.
Tata Laksana Umum
Tata laksana umum untuk semua pasien EN :
1. Puasa dan pemberian nutrisi parenteral total
2. Pasang sonde nasogastrik untuk dekompresi lambung
3. Pemantauan ketat :
o Tanda vital
o Lingkar perut (ukur setiap 12 24 jam), diskolorasi abdomen
4. Lepas kateter umbilikal (bila ada)
5. Antibiotik : ampisilin + gentamisin + metronidazole (RSCM : ampisilin diganti amoksiklav).
Pemberian antibiotik disesuaikan dengan kultur yang sudah diambil pada hari pertama &
mungkin berbeda untuk masing-masing RS.

Amoksiklav / Ampisilin : 50
mg/kg/dosis
Usia gestasi < 37 minggu
Usia < 28 hari : Setiap 12 jam
Usia > 28 hari : Setiap 8 jam
Usia gestasi > 37 minggu
Usia < 7 hari : Setiap 12 jam
Usia > 7 hari : Setiap 8 jam

Gentamisin : 5 mg/kg/dosis
Berat lahir < 1200 gram
Usia < 7 hari : Setiap 48 jam
Usia > 830 hari : Setiap 36 jam
Usia > 30 hari : Setiap 24 jam
Berat lahir > 1200 gram
Usia < 7 hari : Setiap 36 jam
Usia > 7 hari : Setiap 24 jam

Metronidazole, dosis loading : 15 mg/kg/dosis


Metronidazole, dosis pemeliharaan : 7,5 mg/kg/dosis
Interval dosis pemeliharaan
Usia < 28 hari : Setiap 12 jam
Usia > 28 hari : Setiap 8 jam
Interval antara dosis loading & dosis pemeliharaan
Usia koreksi < 37 minggu : 24 jam setelah dosis loading
Usia koreksi > 37 12 jam setelah dosis pemeliharaan
minggu :

6. Tes darah samar tiap 24 jam untuk memonitor perdarahan gastrointestinal


7. Jaga keseimbangan cairan & elektrolit. Pertahankan diuresis 1 3 mL/kg/hari
8. Periksa darah tepi lengkap & elektrolit tiap 24 jam sampai stabil
9. Foto polos abdomen serial tiap 8 12 jam
10. Konsultasi ke departemen Bedah Anak
Tata Laksana Khusus
Tata laksana khusus bergantung pada stadium
1. EN stadium I
o Tata Laksana Umum
o Pemberian minum dapat dimulai setelah 3 hari dipuasakan
o Antibiotik dapat dihentikan setelah 3 hari pemberian dengan syarat kultur negatif &
terdapat perbaikan klinis
2. EN stadium II & III
o Tata Laksana Umum
o Antibiotik selama 14 hari
o Puasa selama 2 minggu. Pemberian minum dapat dimulai 7 10 hari setelah perbaikan
radiologis pneumatosis
o Ventilasi mekanik bila dibutuhkan. Distensi abdomen progresif dapat mengganggu
pengembangan paru
o Jaga keseimbangan hemodinamik. Pada EN stadium III sering dijumpai hipotensi
refrakter
o Leukopenia progresif, granulositopenia, & trombositopenia menandakan perburukan

Tata Laksana Bedah


o Laparotomi eksplorasi dengan reseksi segmen yang nekrosis & enterostomi atau
anastomosis primer
o Drainase peritoneal umumnya dilakukan pada bayi dengan berat < 1000 g & kondisi tidak
stabil
Prognosis
o Angka kematian secara keseluruhan 9 28%, sedangkan EN dengan perforasi memiliki
angka kematian lebih tinggi, berkisar 20 40%
o Sekuele yang dapat terjadi :
Gagal tumbuh kembang
Striktur (25 35% pasien dengan atau tanpa bedah)
Fistula
Short bowel syndrome (pada 10 20% yang menjalani pembedahan)
Kolestasis akibat nutrisi parenteral jangka panjang

Pencegahan
o Mencegah kelahiran prematur
o ASI terbukti menurunkan resiko & insiden EN
o Induksi maturasi gastrointestinal. Insiden EN berkurang setelah pemberian steroid pranatal
(NNT = 32)
o Bayi dengan PDA dianjurkan menggunakan ibuprofen dibandingkan indometasin untuk
penutupan duktus
o Peningkatan volume minum enteral secara perlahan, tetapi bukti efektivitas strategi ini
masih kurang. Selain itu, kecepatan peningkatan volume minum yang terbaik masih
membutuhkan penelitian lebih lanjut
o Pemberian probiotik pada bayi dengan berat lahir < 1500 g terbukti mengurangi kejadian
EN. Walau demikian, bukti untuk mendukung pemberian ptobiotik pada bayi dengan berat
lahir < 1000 g masih belum cukup
o Pemberian antibiotik enteral dapat mengurangi insiden EN (RR 0,47 [IK 95% 0,28; 0,78]
NNT 10)
.

PERTUSIS (PPM IDAI jilid II, hal 224)


Tata Laksana
o Suportif umum (terapi oksigen & ventilasi mekanik jika dibutuhkan)
o Observasi ketat diperlukan pada bayi, untuk mencegah/mengatasi terjadinya apnea,
sianosis, atau hipoksia
o Pasien diisolasi (terutama bayi) selama 4 minggu, diutamakan sampai 5 7 hari selesai
pemberian antibiotik. Gejala batuk paroksismal setelah terapi antibiotik tidak berkurang,
namun terjadi penurunan transmisi setelah pemberian terapi hari ke-5
o Belum ada studi berbasis bukti untuk pemberian kortikosteroid, albuterol, 2-adrenergik
lainnya, serta belum terbukti efektif sebagai terapi pertusis
o Dilakukan penilaian kondisi pasien, apakah terjadi apnea, spel sianotik, hipoksia, &/
dehidrasi
o Terapi antibiotik bertujuan menghilangkan infeksi, mengurngi morbiditas, & mencegah
komplikasi

Tabel : Rekomendasi antibiotik & profilaksis pascapajanan pertusis

. yang direkomendasikan
Usia
Eritromisin Klaritromisin Azitromisin
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--
.
4050 mg/kg/hari 10 mg/kg/hari q24h
< 1 bulan Not recommended
q6h selama 14 hari selama 5 hari

15 mg/kg/hari q12h
. 1 5 bulan s.d.a s.d.a
selama 7 hari

s.d.a Hari 1 : a)
. > 6 bulan s.d.a
(max 2 g/hari) Hari 2 5 : b)

2 g/hari q6h 1 g/hari q12h Hari 1 : c)


. Remaja
Selama 14 hari Selama 7 hari Hari 2 5 : d)
a) 10 mg/kg/dosis q24h; max 500 mg
b) 5 mg/kg/dosis q24h; max 250 mg
c) 500 mg/hari q24h
d) 250 mg/hari q24h
Tabel : Alternatif pemberian antimikroba &
profilaksis pascapajanan pertusis

.
Usia Kotrimoxazole
.
< 2 bulan Kontraindikasi
.
TMP 8 mg/kg/hari; SMX 40 mg/kg/hari
2 5 bulan
Selama 14 hari
.
> 6 bulan s.d.a
.
TMP : 300 mg/hari; SMX 1.600 mg/hari
Remaja
Selama 14 hari
.

POLIO (PPM IDAI jilid II, hal 229)


............