Anda di halaman 1dari 20

1.

Definisi Cedera Kepala

Cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan


bersifat congential ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh
serangan / benturan fisik dari luar yang dapat mengurangi atau
mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan
kemampuan kognitif dan fungsi fisik (Langlois, Rutland-Brown,
Thomas, 2006).

Cedera kepala adalah suatu bentuk trauma yang dapat


mengubah kemampuan otak dalam dalam menghasilkan
keseimbangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan pekerjaan
atau dapat dikatakan sebagai bagian dari gangguan traumatik yang
dapat menimbulkan perubahan perubahan fungsi otak (Black,
2005).
Sedangkan pada kasus cedera kepala sendiri merupakan
penyumbang besar dari penyebab utama kematian dan kecacatan
dimana sebagian besar kasus tersebut disebabkan karena
kecelakaan lalu lintas sebanyak 28%, sedankan untuk kasus jatuh
sebanyak 20%, karena hantaman benda tumpul 19% dan 11%
lainnya adalah karena serangan. Kasus ini sering terjadi pada laki-
laki dari pada wanita dengan perbandingan 2:1 (Langloes, 2006).
Penelitian pada IGD RS. Panti Nugroho Yogyakarta juga
menunjukan prevalensi jenis cedera, dimana didapatkan data 76%
kasus terjadi dengan Cedera Kepala Ringan, 15% kasus terjadi
dengan Cedera Kepala Sedang dan 9% kasus terjadi dengan Cedera
Kepala Berat (Wijanaka, 2005).
Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Woro
Riyadina (2005) di Instalasi Gawat Darurat (IGD) di 5 rumah sakit di
wilayah DKI Jakarta didapatkan jumlah kasus sebanyak 425 orang .
Korban yang mengalami cidera parah 41,9% dan meninggal 7,04%.
Cidera utama adalah cidera kepala 53,4% dengan comosio cerebri
10,59%. Jenis luka meliputi lecet 86,8%, luka terbuka 58,35% dan
patah tulang 31.29%.

2. Etiologi Cedera Kepala


Menurut Brain Injury Association of America, penyebab
utama cedera kepala adalah karena terjatuh sebanyak 28%,
kecelakaan lalu lintas sebanyak 20%, karena disebabkan
kecelakaan secara umum sebanyak 19% dan kekerasan sebanyak
11% dan akibat ledakan di medan perang merupakan penyebab
utama trauma kepala (Langlois, Rutland-Brown, Thomas, 2006).
Kecelakaan lalu lintas dan terjatuh merupakan penyebab
rawat inap pasien trauma kepala yaitu sebanyak 32,1 dan 29,8
per100.000 populasi. Kekerasan adalah penyebab ketiga rawat
inap pasien trauma kepala mencatat sebanyak 7,1 per100.000
populasi di Amerika Serikat ( Coronado, Thomas, 2007). Penyebab
utama terjadinya cedera kepala adalah seperti berikut:
a. Kecelakaan Lalu Lintas
Kecelakaan lalu lintas adalah dimana sebuah kenderan bermotor
bertabrakan dengan kenderaan yang lain atau benda lain
sehingga menyebabkan kerusakan atau kecederaan kepada
pengguna jalan raya.

b. Jatuh
Menurut KBBI, jatuh didefinisikan sebagai (terlepas) turun atau
meluncur ke bawah dengan cepat karena gravitasi bumi, baik
ketika masih di gerakan turun maupun sesudah sampai ke
tanah.

c. Kekerasan
Menurut KBBI, kekerasan didefinisikan sebagai suatu perihal
atau perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan
cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan
fisik pada barang atau orang lain (secara paksaan).

Menurut Cholik Harun Rosjidi & Saiful Nurhidayat, (2009 : 49)


etiologi cedera kepala adalah:
a) Kecelakaan lalu lintas
b) Jatuh
c) Pukulan
d) Kejatuhan benda
e) Kecelakaan kerja atau industri
f) Cedera lahir
g) Luka tembak
3) Klasifikasi cedera kepala

3. Factor Resiko Cedera Kepala


Jenis kelamin menjadi faktor risiko terjadinya cedera kepala
akibat kecelakaan lalu lintas. Keadaan tersebut sesuai teori yang
menyatakan bahwa 73% dari korban kecelakaan lalu lintas yang
fatal adalah laki-laki. Hal tersebut dapat dijelaskan karena
adanya faktor mobilitas yang lebih tinggi,disamping itu, jumlah
pengendara sepeda motor laki-laki di jalan lebih tinggi daripada
perempuan (Woro Riyadina, 2007:70)
Populasi secara keseluruhan, laki-laki dua kali ganda lebih
banyak mengalami trauma kepala dari perempuan. Namun,
pada usia lebih tua perbandingan hampir sama. Hal ini dapat
terjadi pada usia yang lebih tua disebabkan karena terjatuh.
Mortalitas laki-laki dan perempuan terhadap trauma kepala
adalah 3,4:1 (Jagger, Levine, Jane et al., 1984). Menurut Brain
Injury Association of America, laki-laki cenderung mengalami
trauma kepala 1,5 kali lebih banyak daripada perempuan (CDC,
2006).

Kelompok umur yang berisiko terhadap terjadinya kecelakaan


lalu lintas adalah usia 21-30 tahun yang merupakan umur
produktif (Woro, 2007:70). Separuh kecelakaan lalu lintas yang
terjadi dikarenakan pada usia dewasa muda terdapat sikap
tergesa-gesa dan kecerobohan. Selain itu, kelompok umur
tersebut merupakan pengemudi pemula dengan tingkat emosi
yang belum stabil serta belum berhati-hati dalam mengendarai
kendaraannya (Donald Hunter, 1975:17) Orang-orang yang
berusia 30 tahun atau lebih cenderung memiliki sikap hati-hati
dan menyadari adanya bahaya dibandingkan dengan berusia
muda (Metta Kartika, 2009:17). Hal tersebut dapat terjadi
karena umur <25 tahun mempunyai sifatsifat seperti
keingintahuan yang tinggi, agresif, ingin diketahui, dan lain-lain
yang menyebabkan mereka dalam mengendarai kendaraan
cenderung dengan kecepatan tinggi dan kurang kehatihatian
(Budiharto, 1987:54).
Resiko trauma kepala adalah dari umur 15-30 tahun, hal ini
disebabkan karena pada kelompok umur ini banyak terpengaruh
dengan alkohol, narkoba dan kehidupan sosial yang tidak
bertanggungjawab (Jagger, Levine, Jane et al., 1984). Menurut
Brain Injury Association of America, dua kelompok umur
mengalami risiko yang tertinggi adalah dari umur 0 sampai 4
tahun dan 15 sampai 19 tahun (CDC, 2006).
Tingginya pengaruh konsumsi alkohol untuk terjadinya cedera
mengatakan bahwa alkohol dalam tubuh akan menyebabkan
penekanan pada sistem syaraf sehingga dapat mempengaruhi
pusat pengendalian diri serta perubahan dalam menilai sesuatu
atau dapat mengakibatkan ketidakmampuan untuk
mengkoordinasi visual scanning dan kemampuan psikomotor
(Rusdihardjo, 1994:78).

4. Klasifikasi Cedera Kepala


Pada Umumnya, cedera kepala dibagi berdasarkan mekanisme
terjadinnya cedera, tingkat kesadaran dan morfologinnya.
Klasifikasi cedera kepala berdasarkan mekanismenya :
Cedera Kepala Tumpul
Hal ini dapat disebabkan karena kecelakaan dengan mobil-
motor, bisa juga karena jatuh dari ketinggian atau dipukul
dengan benda tumpul.
Cedera Kepala Tembus
Hal ini dapat disebabkan karena cedera peluru atau cedera
tusukan.

Klasifikasi cedera kepala berdasarkan morfologi :


Fraktur Kranium
Terjadi pada atap atau dasar tengkorak yang terbgai menjadi :
a. Fraktur Klavikula :
Bisa berbentuk bintang / garis
Depresi / non depresi
Terbuka / tertutup

b. Fraktur Dasar Tengkorak :


Dengan/ tanpa paralisis n VII\Dengan / tanpa kebocoran
cairan serebrospinal

Lesi Intrakranium
Dapat digolongkan menjadi :
- Lesi Fokal
a. Perdarahan Epidural
Perdarahan Epidural adalah akumulasi darah di atas
durameter dan biasannya terjadi secara akut. Gejala yang
dapat dijumpai adalah adanya suatu lucid interval (masa
sadar setelah pingsan sehingga kesadaran menurun lagi),
tensi yang semakin bertambah tinggi, nadi yang semakin
bertambah tinggi, nadi yang semakin bertambah lambat,
hemiparesis, dan terjadi anisokori pupil.

b. Perdarahan Subdural
Perdarahan Subdural adalah akumulasi darah dibawah
durameter tetapi diatas membran araknoid yang bisa
terjadi secara cepat (Hematoma subdural akut), secara
lambat (Hematoma subdural subakut) dan terjadi pada
lansia serta peminum alkohol yang terjadi secara lambat
tanpa menunjukan gejala sampai ia membesar
(Hematoma Kronis).

c. Perdarahan Intrakranial
Perdarahan Intrakranial adalah perdarahan yang terjadi di
jaringan otak karena pecahnya arteri yang besar dalam
otak Gejala-gejala yang ditemukan adalah :
Hemiplegi, Papilledema serta gejala-gejala lain dari
tekanan intrakranium yang meningkat. Arteriografi
karotius dapat memperlihatkan suatu peranjakan dari
arteri perikalosa ke sisi kontralateral serta gambaran
cabang-cabang arteri serebri media yang tidak normal.

Klasifikasi Cedera Otak Berdasarkan GCS / tingkat kesadaran


Cedera Kepala Ringan
Apabila nilai GCS berdada pada rentan 13-15, dimana pada
tahap ini pasien bisa kehilangan kesadaran kurang dari 30
menit, fraktur tengkorak (-), terdapat kontusio atau hematom.

Cedera Kepala Sedang


Apabila nilai GCS berdada pada rentan 9-12, dimana pasien
dapat kehilangan kesadaran selama 30 menit 24 jam, fraktur
tengkorak (+) yang disertai disorientasi ringan.

Cedera Kepala Berat


Apabila nilai GCS berdad pada rentan 3-8, dimana pasien bisa
kehilangan kesadaran lebih dari 24 jam, biasannya disertai
kontusio, laserasi atau hematom dan edema serebral (Lionel
Ginsberg, 2007).

Cedera Kepala juga dibedakan berdasarkan kerusakan jaringan


otak, yaitu :
Komosio Serebri (Gegar Otak)
Gangguan fungsi neurologi ringa tanpa adannya kerusakan
struktur otak, terjadi hilangnya kesadaran kurang dari 10 menit
atau tanpa disertai retrograde amnesia, mual muntah dan nyeri
kepala
Kontusio Serebri
Gangguan fungsi neurologi disertai kerusakan jaringan otak
tetapi kontinuitas otak masih utuh, hilangmya kesadaran lebih
dari 10 menit
Laserasio Serebri
Gangguan fungsi neurologi disertai kerusakan otak yang berat
dengan fraktur tengkorak terbuka. Massa otak terkelupas keluar
dari rongga intracranial
(Tarwoto : 2007)

5. Patofisiologi Cedera Kepala


(terlampir)

6. Manifestasi klinis Cedera Kepala


1. Secara umum pasien yang mengalami cedera kepala terjadi
penurunan kesadaran (GCS dari rentang 15-3).
2. Gejala : amnesia (lebih dari satu jam), pusing, sakit kepala mulai
ringan sampai parah, mual-muntah, pasien merasa lemah dan
bisa terjadi paresthesia jika cedera yang dialami sangat parah.
3. Tanda :
CSF otorrhea atau rhinorrhea.
Seizure adalah bentuk umum dari keadaan kejang yang
condong akan diklasifikasikan lagi nantinya (Adam&Victors
Principe of Neurology,8th.ed)
Mental status : rapid deterioration.
Tanda-tanda vital :
o Pola pernafasan abnormal (apnea, Cheyne-stoke atau
tachypnea).
o Tekanan darah meningkat (hipertensi).
o Bradycardi.
(Dipiro et al, 2008)

Menurut Brunner & Suddarth (2010) tanda dan gejala pasien yang
mengalami cedera kepala adalah :
Penurunan tingkat kesadaran.
Konfusi/kebingunan
Kelainan pada pupil (terjadi perubahan bentuk, ukuran dan
respon terhadap cahaya).
Tidak ada reflex gag.
Tidak ada reflex kornea.
Perubahan tanda-tanda vital (pola pernafasan berubah, tekanan
darah tinggi, bradikardi, takikardi, hipotermia atau hipertermia).
Disfungsi sensorik.
Sakit kepala.
Gangguan pendengaran dan penglihatan.
Vertigo.

7. Komplikasi Cedera Kepala


a. Edema pulmonal
Komplikasi yang serius adalah terjadinya edema paru, etiologi
mungkin berasal dari gangguan neurologis atau akibat sindrom
distress pernafasandewasa.Edema paru terjadi akibat reflex
cushing/perlindungan yang berusaha mempertahan kantekanan
perfusi dalam keadaan konstan. Saat tekanan intracranial
meningkat tekanan darah sistematik meningkat untuk memcoba
mempertahankan aliran darah ke otak, bila keadaan semakin
kritis, denyut nadi menurun bradikardi dan bahkan frekuensi
respirasi berkurang, tekanan darah semakin meningkat.
Hipotensi akan memburuk keadan, harus dipertahankan tekanan
perfusi paling sedikit 70 mmHg, yang membutuhkan tekanan
sistol 100-110 mmHg, pada penderita kepala. Peningkatan
vasokonstriksi tubuh secara umum menyebabkan lebih banyak
darah dialirkan keparu, perubahan permiabilitas pembulu darah
paru berperan pada proses berpindahnya cairan ke alveolus.
Kerusakan difusi oksigen akan karbondioksida dari darah akan
menimbulkan peningkatan TIK lebih lanjut.

b. Peningkatan TIK
Tekanan intracranial dinilai berbahaya jika peningkatan hingga
15 mmHg, dan herniasi dapat terjadi pada tekanan diatas 25
mmHg. Tekanan darah yang mengalir dalam otak disebut
sebagai tekan perfusi cererebral. Yang merupakan komplikasi
serius dengan akibat herniasi dengan gagal pernafasan dan
gagal jantung serta kematian.
c. Kejang
Kejang terjadikira-kira 10% dari klien cedera otak akut selama
fase akut. Perawat harus membuat persiapan terhadap
kemungkinan kejang dengan menyediakan spatel lidah yang
diberi bantalan atau jalan nafas oral disamping tempat tidur
klien, juga peralatan penghisap. Selama kejang, perawat harus
memfokuskan pada upaya mempertahankan, jalan nafas paten
dan mencegah cedera lanjut. Salah satunya tindakan medis untu
kmengatasi kejang adalah pemberian obat, diazepam
merupakan obat yang paling banyak digunakan dan diberikan
secara perlahan secara intavena.Hati-hati terhadap efek pada
system pernafasan,pantau selama pemberian diazepam,
frekuensi dan irama pernafasan.

d. Kebocoran cairan serebrospinalis


Adanya fraktur di daerah fossa anterior dekatsinus frontal atau
dari fraktur tengkorak basilar bagian petrosus dari tulangan
temporal akan merobek meninges, sehingga CSS akan keluar.
Area drainase tidak boleh dibersihkan, diirigasi atau dihisap,
cukup diberi bantalan steril di bawah hidung atau telinga.
Instruksikan klien untuk tidak memanipulasi hidung atau telinga.

e. Infeksi
Faktur tengkorak atau luka terbuka dapat merobekan membran
(meningen) sehingga kuman dapat masuk. Infeksi meningen
inibiasanya berbahaya karena keadaan ini memiliki potensial
untuk menyebar ke system saraf yang lain. Seperti Meningitis
(radang selaput otak) dan Encephalitis (radangotak)

f. Perdarahan Subarakhnoid
Insidennya bervariasi 14,3% hingga 40% dan semakin
meningkat mengikuti angka kejadian kecelakaan kendaraan
bermotor. Dalam keadaan normal rongga ini terisi oleh cairan
serebrospinal yang jernih dan tidak berwarna serta jaringan
penunjang pada trabekula.

g. Koma
Penderita tidak sadar dan tidak memberikan respon disebut
coma. Pada situasi ini, secara khas berlangsung hanya beberapa
hari atau minggu, setelah masa ini penderita akan terbangun,
sedangkan beberapa kasus lainya memasuki vegetative state
atau mati penderita pada masa vegetative state sering
membuka matanya dan mengerakkannya, menjerit atau
menunjukan respon reflek. Walaupun demikian penderita masih
tidak sadar dan tidak menyadari lingkungan sekitarnya. Keadaan
ini dapat berkembang menjadi

h. Kerusakan
Cedera pada basis tengkorak dapat menyebabkan kerusakan
pada nervus facialis. Sehingga terjadi paralysis dari otot-otot
facialis atau kerusakan dari saraf untuk pergerakan bola mata
yang menyebabkan terjadinya penglihatan ganda.

i. Hilangnya kemampuan kognitif


Berfikir, akal sehat , penyelesaian masalah, proses informasi dan
memori merupakan kemampuan kognitif. Banyak penderita
dengan cedera kepala berat mengalami masalah kesadaran.

j. Penyakit Alzheimer dan Parkinson


Pada kasus cedera kepala resiko perkembangan terjadinya
penyakit Alzheimer tinggi dan sedikit terjadi Parkinson. Resiko
akan semakin tinggi tergantung frekuensi dan keparahan
cedera.

8. Pemeriksaan Diagnostik Cedera Kepala


Pemeriksaan diagnostik pada pasien cedera kepala secara umum
meliputi pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan neurologis dan
pemeriksaan radiologi, pemeriksaan tanda-tanda vital juga
dilakukan yaitu kesadaran, nadi, tekanan darah, frekuensi dan jenis
pernafasan serta suhu badan. Pengukuran tingkat keparahan pada
pasien cedera kepala harus dilakukan yaitu dengan Glasgow Coma
Scale (GCS) yang pertama kali dikenalkan oleh Teasdale dan Jennett
pada tahun 1974 yang digunakan sebagai standar internasional.

Pemeriksaan Diagnostik
Pada pemerikasaan neurologis respon pupil, pergerakan mata,
pergerakan wajah,
respon sensorik dan pemeriksaan terhadap nervus cranial perlu
dilakukan. Pupil
pada penderita cedera kepala tidak berdilatasi pada keadaan akut,
jadi jika terjadi perubahan dari pupil dapat dijadikan sebagai tanda
awal terjadinya herniasi otak. Kekuatan dan simetris dari letak
anggota gerak ekstrimitas dapat dijadikan dasar untuk mencari
tanda gangguan otak dan medula spinalis. Respon sensorik dapat
dijadikan dasar menentukan tingkat kesadaran dengan memberikan
rangsangan pada kulit penderita.

Glasgow Coma Scale


Respon membuka mata (E)
a) Buka mata spontan 4
b) Buka mata bila dipanggil/rangsangan suara
3
c) Buka mata bila dirangsang nyeri
2
d) Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun
1

Respon verbal (V)


a) Komunikasi verbal baik, jawaban tepat 5
b) Bingung, disorientasi waktu, tempat, dan orang
4
c) Kata-kata tidak teratur
3
d) Suara tidak jelas 2
e) Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun
1

Respon Motorik
a) Mengikuti perintah 6
b) Dengan rangsangan nyeri, dapat mengetahui tempat
rangsangan 5
c) Dengan rangsangan nyeri, menarik anggota badan 4
d) Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi fleksi abnormal 3
e) Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi ekstensi abnormal
2
f) Dengan rangsangan nyeri, tidak ada reaksi 1

Penilaian GCS = ( E+V+M)


Pemeriksaan Radiologi
a. CT Scan
Untuk mengevaluasi pasien yang diduga menderita cedera
intracranial.
Hasil dari gambar cross-sectional dari struktur anatomi
kepalan meliputi :
1. struktur cranial internal
2. jaringan otak
3. cairan cerebrospinal
4. gambar axial dari kepala

Immediate CT scan
Indikasi :
1. Pasien dengan koma, GCS 8
2. Pasien depresi dengan level kesadaran GCS 9 13 (scull
fracture)
3. Pasien dengan kondisi yang semakin buruk dengan
mengarah ke kondisi koma

Urgent CT scan
Indikasi :
1. Pasien disorientasi dengan GCS 14-15(scull fracture)
2. Pasien dengan tanda neurologi abnormal bersamaan
dengan scull fracture
3. Pasien depresi dengan GCS 9 13 dengan defisit
neurologi fokal.

Pasien yang akan menjalani CT scan harus mempunyai


persyaratan-persyaratan / kondisi sebagai berikut :
1. Jalan nafas yang paten
2. Ventilasi yang adekuat
3. Tidak ada defisit cairan
4. Perdarahan yang terkontrol

Yang perlu diperhatikan :


1. Alergi terhadap bahan contrast , ex : Iodine.
2. Reaksi pasien selama dan setelah prosedur.
3. Apakah pasien calustrophobia.
4. Tanyakan apakah pasien sedang hamil atau tidak.
5. Tanyakan apakah pasien sedang dalam terapi obat-obatan
tertentu.
6. Kaji tingkat pengetahuan klien dan informasikan hal-hal yang
boleh dan tidak boleh dilakukan selama pemeriksaan.
7. Anjurkan klien untuk banyak minum air agar menghilangkan
kadar kontras.

b. X Ray
Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (faktur
pergeseran struktur dan garis tengah (karena perdarahan
edema dan adanya fragmen tulang).

c. MRI ( Magneting Resonance Imaging)


Sama dengan CT Scan dengan atau tanpa kontraks.

d. Angiography
Menunjukkan kelainan sirkulasi serebral seperti pergeseran
jaringan otak akibat edema, perdarahan dan trauma.

e. EEG
Memperlihatkan keberadaan/ perkembangan gelombang.

f. PET (Positron Emission Tomografi)


Menunjukkan aktivitas metabolisme pada otak.

g. GDA (Gas Darah Arteri)


Mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang akan
dapat meningkatkan TIK.

9. Penatalaksanaan Medis
a. Survei Primer
Jalan napas. Memaksimalkan oksigenasi dan ventilasi. Daerah
tulang servikal harus dimobilisasi dalm posisi netral
menggunakan stiffneck, head block, dan diikat pada las yang
kaku pada kecurigaan fraktur servikal.
Pernapasan. Pernapasan dinilai dengan menghitung laju
pernapasan, memperhatikan kesimetrisan gerakan dinding
dada, penggunaan otot-otot pernapasan tambahan, dan
auskultasi bunyi napas di kedua aksila.
Sirkulasi. Resusitasi cairan intravena, yaitu cairan isotonik
seperti Ringer Laktat atau Normal Saline (20 ml/kgBB) jika
pasien syok, transfusi darah 10-15 ml/kgBB harus
dipertimbangkan.
Defisit neurologis. Status neurologis dinilai dengan menilai
tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil. Tingkat
kesadaran dapat diklasifikasikan menggunakan GCS.
Anak dengan kelainan neurologis yang berat, seperti anak
dengan nilai GCS 8, harus diintubasi.
Hiperventilasi, menurunkan pCO2 dengan target 35-40
mmHg.
Penggunaan manitol dapat menurunkan tekanan intrakranial.
Kontrol pemaparan/lingkungan. Semua pakaian harus dilepas
sehingga semu luka dapat terlihat. Anak2 sering datang
dengan keadaan hipotermi sehingga lingkungan harus
dimodifikasi misalnya pemberian selimut atau pemberian
cairan intravena (yang telah dihangatkan sampai 39 C).

b. Survei Sekunder
Observasi ketat pada jam-jam pertama sejak kejadian cedera.
Bila pasien dipastikan tidak memiliki masalah dengan jalan
napas, pernapsan, dan sirkulasi darah, maka tindakan
selanjutnya adalah penanganan luka disertai observasi tanda
vital dan defisit neurologis.
Pemakaian penyangga leher diindikasikan jika:
Cedera kepala berat, terdapat fraktur klavikula dan jejas di
leher
Nyeri pada leher atau kekakuan pada leher
Rasa baal pada leher
Gangguan keseimbangan atau berjalan
Kelemahan umum

Indikasi bedah:
Indikasi bedah pada perdarahan epidural (EDH):
o EDH simtomatik
o EDH asimtomatik akut berukuran paling tebal > 1cm
o EDH pada pasien pediatri

Indikasi bedah pada perdarah subdural (SDH):


o SDH simtomatik
o SDH dengan ketebalan > 1 cm pada dewasa atau > 5 mm
pada pediatri
DAFTAR PUSTAKA

1. Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC


2. Ginsberg, Lionel. 2005. Neurology. Jakarta : Erlangga
3. Jual, Lynda. 2007. Buku Saku Diagnostik Keperawatan. Jakrta : EGC
4. Saiful, Nurhidayat. 2009. Perawatan Cedera Kepala dan Stroke.
Jogjakarata : Ardana Media
5. Priguna sidharta & Mardjono. 2008. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta :
Dian Rakyat
6. Dewanto, George, dkk. 2009. PANDUAN PRAKTIS DIAGNOSIS &
TATA LAKSANAN PENYAKIT SARAF. Jakarta: EGC
7. Felice Su,Neurointensive Care for Traumatic Brain Injury in
Children:E Medicine. March 1, 2005
8. Unnes Journal of Public Health http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujp

BAB I
LATAR BELAKANG

A. Latar Belakang
Cidera kepala meliputi trauma kulit kepala, tengkorak, dan otak.
Cidera kepala paling sering dan penyakit neurologis yang paling
serius diantara penyakit neurologi, dan merupakan proposi
epidemic sebagai hasil kecelakaan jalan raya. Diperkiran
100.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat cidera kepala,
dan lebih dari 700.000 mengalami cukup berat yang
memerlukan perawatan dirumah sakit. Pada kelompok ini,
antara 50.000 dan 90.000 orang tiap tahun mengalami
penurunan intektual atau tingkah laku yang menghambat
kembalinya mereka menuju kehidupan normal. Dua per tiga dari
kasusu ini berusia dibawah 30 tahun, dengan jumlah laki-laki
lebih banyak dari wanita. Adanya kadar alcohol dalam darah
dideteksi lebih dari 50 % pasien cidera kepala yang diterapi
diruang darurat. Lebih dari setengah semua pasien cidera kepala
berat mempunyai signifikansi terhadap cidera bagian tubuh
lainnya. Adanya syock hipovolemia pada pasien cidera kepala
biasanya karena cidera bagian tubuh lainnya.
Resiko utama pasien yang mengalami cidera kepala adalah
kerusakan otak akibat perdarah atau pembengkakan otak
sebagai respon terhadap cidera dan menyebabkan peningkatan
tekanan intracranial ( Suzanne C. Smletzer, 2001. Hal 2001).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas semester pendek FP
Neuro 2013. Diharapkan setelah membaca makalah ini
mahasiswa dapat mengetahui lebih dalam tentang fundamental
patologi cedera kepala.

2. Tujuan Khusus
Diharapkan setelah membaca makalah ini, pembaca dapat
mengetahui definisi, etiologi, factor risiko, klasifikasi,
patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan
diagnostic, dan penatalaksanaan medis cidera kepala dari
beberapa teori yang ada.

LAPORANPENDAHULUAN CEDERA KEPALA


Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Keperawatan Emergensi

di Ruang IGD Rumah Sakit Umum Dr.Saiful Anwar Malang

Oleh:

Edwina Narulita Sari Agustin J.

NIM: 140070300011128

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2015