Anda di halaman 1dari 1

BAB 1

PENDAHULUAN

Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit kulit kronik berulang yang terjadi
paling sering semasa awal bayi dan anak. Walaupun etiologi penyakit tidak
sepenuhnya dipahami, DA dianggap sebagai produk dari interaksi komplek antara
lingkungan host, gen-gen suseptibel, disfungsi fungsi sawar kulit, dan disregulasi
system imun lokal dan sistemik. Elemen utama dalam disregulasi imun adalah sel
Langerhans (LC), inflammatory dendritic epidermal cells (IDEC), monosit,
makrofag, limfosit, sel mast, dan keratinosit, semuanya berinteraksi melalui
rangkaian rumit sitokin yang mengarah ke dominasi sel Th2 terhadap sel Th1,
sehingga sitokin Th2 (IL-4, IL-5, IL-10, dan IL-13) meningkat dalam kulit dan
penurunan sitokin Th1 (IFN- dan IL-2).

Pada penderita DA 30% akan berkembang menjadi asma dan 35%


berkembang menjadi rhinitis alergi. Berdasarkan international Study Of Asthma
and Alergies in Children prevalensi gejala dermatitis atopic pada anak usia enam
atau tujuh tahun sejak periode tahun pertama bervariasi yakni kurang dari 2% di
Iran dan Cina sampai kira-kira 20% di Australia, Inggris dan Skandinavia.
Prevalensi yang tinggi juga ditemukan di Amerika, di Inggris pada survey
populasi pada 1760 anak-anak yang menderita DA dari usia satu sampai lima
tahun ditemukan kira-kira 84% kasus ringan, 14% kasus sedang, 2% kasus berat.
Menurut laporan kunjungan bayi dan anak di RS di Indonesia, dermatitis atopic
berada pada urutan pertama ( 611 kasus ) dari 10 penyakit kulit yang umum
ditemukan pada anak anak.